Anda di halaman 1dari 8

STEP 1

1. Setengah baya :
a. Ini adalah awal babak kedua kehidupan - secara psikologis maupun fisiologis.
Setengah baya biasanya dimulai antara usia 35 dan 50.
2. Tindakan penyelamatan pertama :
a. Pertolongan Pertama merupakan tindakan pertolongan yang diberikan terhadap
korban dengan tujuan mencegah keadaan bertambah buruk sebelum si korban
mendapatkan perawatan dari tenaga medis resmi.
b. upaya pertolongan dan perawatan sementara terhadap korban kecelakaan oleh
orang awam (non-medis) di tempat kejadian secara cepat dan tepat, dengan
menggunakan sarana yang tersedia di tempat kejadian dengan tujuan
menyelamatkan nyawa korban, meringankan penderitaan, mengurangi risiko
bertambah parahnya cidera yang diderita korban sebelum ditangani oleh tenaga
medis (dokter).
3. Primary survey :
4. Circulation :
5. Airway :
6. Breathing :
7. Dissability :
8. Call for help :
9. Basic Life Support :
a. Bantuan Hidup Dasar (Basic Life Support, disingkat BLS) adalah suatu tindakan
penanganan yang dilakukan dengan sesegera mungkin dan bertujuan untuk
menghentikan proses yang menuju kematian. Langkah BLS yaitu Memeriksa
respon pasien termasuk ada/tidaknya nafas secara visual, Melakukan panggilan
darurat, Circulation (Kompresi dada dilakukan sebanyak satu siklus 30 kompresi,
sekitar 18 detik), Airway (Head Tilt, Chin Lift), Breathing ( memberikan ventilasi
sebanyak 2 kali, Kompresi jantung + nafas buatan (30 : 2)), Defribilasi. Skema
dari Emergency Medical Service yaitu Injury, Pre Hospital stage, Hospital Satge,
dan Rehabilitation.
10. Resusitasi Jantung Paru :
11. AED :
STEP 3
1. Perbedaaan Langkah-Langkah BLS Sistem ABC dengan CAB
No ABC CAB
1 Memeriksa respon pasien Memeriksa respon pasien termasuk
ada/tidaknya nafas secara visual.
2 Melakukan panggilan darurat dan
mengambil AED
Melakukan panggilan darurat
3 Airway (Head Tilt, Chin Lift) Circulation (Kompresi dada dilakukan
sebanyak satu siklus 30 kompresi,
sekitar 18 detik)
4 Breathing (Look, Listen, Feel,
dilanjutkan memberi 2x ventilasi
dalam-dalam)
Airway (Head Tilt, Chin Lift)
5 Circulation (Kompresi jantung +
nafas buatan (30 : 2))

Breathing ( memberikan ventilasi
sebanyak 2 kali, Kompresi jantung +
nafas buatan (30 : 2))
6 Defribilasi




Manajemen Airway, Breathing dan Circulation
Pengertian : Tindakan yang dilakukan untuk membebaskan jalan napas.
Tujuan : Membebaskan jalan napas untuk menjamin jalan masuknya udara ke paru secara normal
sehingga menjamin kecukupan oksigenase tubuh.
Pertama kali yang harus kita lakukan adalah :
Pemeriksaan Jalan Napas dengan metode (Look, Listen, Feel)
Look : Lihat gerakan nafas ada atau tidak
Listen : Dengarkan ada atau tidak suara nafas tambahan yang keluar
Feel : Rasakan adanya aliran udara atau nafas yang keluar melalui mulut atau hidung.
Cara pemeriksaan Look-Listen-Feel Cara ini dilakukan untuk memeriksa jalan nafas dan pernafasan.

Jenis-jenis suara nafas tambahan disebabkan karena hambatan sebagian jalan nafas :
A. Snoring : suara seperti ngorok, kondisi ini menandakan adanya kebuntuan jalan napas bagian atas
oleh benda padat, jika terdengar suara ini maka lakukanlah pengecekan langsung dengan cara cross-
finger untuk membuka mulut (menggunakan 2 jari, yaitu ibu jari dan jari telunjuk tangan yang digunakan
untuk chin lift tadi, ibu jari mendorong rahang atas ke atas, telunjuk menekan rahang bawah ke bawah).
Lihatlah apakah ada benda yang menyangkut di tenggorokan korban (eg: gigi palsu dll). Pindahkan
benda tersebut
Tindakan Cross-Finger
B. Gargling : suara seperti berkumur, kondisi ini terjadi karena ada kebuntuan yang disebabkan oleh
cairan (eg: darah), maka lakukanlah cross-finger(seperti di atas), lalu lakukanlah finger-sweep (sesuai
namanya, menggunakan 2 jari yang sudah dibalut dengan kain untuk menyapu rongga mulut dari
cairan-cairan).

Tindakan Finger Sweep
C.Crowing : suara dengan nada tinggi, biasanya disebakan karena pembengkakan (edema) pada
trakea, untuk pertolongan pertama tetap lakukan maneuver head tilt and chin lift atau jaw thrust saja.
Bila pemeriksaan yang sudah kita lakukan seperti keterangan di atas dan kita menemukan adanya
sumbatan pada jalan nafas langkah atau tindakan selanjutnya yang harus kita lakukan adalah membuka
jalan nafas tersebut dengan berbagai macam metode di antaranya adalah :
1. Head Tilt maneuver (tindakan menekan dahi)
2. Chin Lift maneuver (tindakan mengangkat dagu)
3. Jaw thrust maneuver (tindakan mengangkat sudut rahang bawah)
perlu di ingat!! Ingat! Pada pasien dengan dugaan cedera leher dan kepala, hanya dilakukan maneuver
jaw thrust dengan hati-hati dan mencegah gerakan leher yang berlebihan yang memungkinkan
terjadinya cidera servikal yang lebih berat.
1. Head Tilt maneuver (tindakan menekan dahi)
Dilakukan bila jalan nafas tertutup oleh lidah pasien, Ingat! Tidak boleh dilakukan pada pasien dugaan
fraktur servikal.

Caranya : letakkan satu telapak tangan di dahi pasien dan tekan ke bawah sehingga kepala menjadi
tengadah dan penyangga leher tegang dan lidahpun terangkat ke depan.
2. Chin Lift Manuver (Tindakan mengangkat dagu)
Dilakukan dengan maksud mengangkat otot pangkal lidah ke depan

Caranya : gunakan jari tengah dan telunjuk untuk memegang tulang dagu pasien kemudian angkat.
3. Jaw thrust maneuver (Tindakan mengangkat sudut rahang bawah)
Tindakan ini dilakukan untuk menghindari adanya cedera lebih lanjut pada tulang belakang bagian leher
pasien.

Caranya : dorong sudut rahang kiri dan kanan ke arah depan sehingga barisan gigi bawah berada di
depan barisan gigi atas


d. Lima macam komplikasi yang dapat terjadi pada RJP :
1. Patah tulang dada/ iga
2. Bocornya paru-paru ( pneumothorak)
3. Perdarahan dalam paru-paru/ rongga dada ( hemothorak )
4. Luka dan memar pada paru-paru
5. Robekan pada hati
KESALAHAN AKIBAT
1. Penderita tdk berbaring pd bidang keras PJL kurang efektif
2. Penderita tidak horisontal Bila kepala lbh tinggi, darah yg ke otak berkurang
3. Tekan dahi angkat dagu, kurang baik Jalan napas terganggu
4. Kebocoran saat melakukan napas buatan Napas buatan tidak efektif
5. Lubang hidung kurang tertutup rapat dan Napas buatan tidak efektif
mulut penderita kurang terbuka
6. Tekanan terlalu dalam/ terlalu cepat Patah tulang, luka dalam paru-paru
7. Rasio PJL dan napas buatan tidak baik Oksigenasi darah kurang

III. PRIMARY SURVEY
Primary survey adalah penilaian awal terhadap pasien, bertujuan untuk mengidentifikasi secara
cepat dan sistematis dan mengambil tindakan terhadap setiap permasalahan yang mengancam
jiwa(European Resusitasion, 2005)
Primary survey harus dilakukan dalam waktu tidak lebih dari 2-5 menit. Penanganan yang
simultan terhadap trauma dapat terjadi bila terdapat lebih dari satu keadaan yang mengancam
jiwa(Wilkinson, 2000).
Hal tersebut mencakup:
Airway
Nilai jalan napas. Dapatkah pasien berbicara dan bernapas dengan bebas? Bila ada sumbatan,
langkah-langkah yang harus dipertimbangkan adalah:
- Chin lift/jaw thrust (lidah melekat pada rahang)
- Suction (bila tersedia)
- Guedel airway/nasopharyngeal airway
- Intubasi. Pertahankan posisi leher dalam keadaan immobile pada posisi netral.
Breathing
Breathing dinilai sebagai bebasnya airway dan adekuatnya pernapasan diperiksa kembali. Bila
tidak adekuat, langkah-langkah yang perlu dipertimbangkan adalah:
- Dekompresi dan drainase dari tension pneumothorax/haemotrhorax
- Penutupan trauma dada terbuka
- Ventilasi artificial
- Berikan oksigen bila tersedia
Circulation
Nilai sirkulasi, sebagai supplai oksigen dan bebasnya airway, dan adekuatnya pernapasan
diperiksa kembali. Bila tidak adekuat, langkah-langkah yang perlu dipertimbangkan adalah:
- Hentikan perdarahan eksternal
- Pasang 2 IV line berkaliber besar (14 atau 16 G) bila memungkinkan
- Berikan cairan bila tersedia
Disability
Penilaian neurologis cepat (apakah pasien sadar, member respon suara terhadap rangsang nyeri,
atau pasien tidak sadar). Tidak ada waktu untuk melakukan pemeriksaan Glasgow Coma Scale,
maka sistem AVPU pada keadaan ini lebih jelas dan cepat:
- Awake (A)
- Verbal response (V)
- Painful response (P)
- Unresponsive (U)
Exposure
Tanggalkan pakaian pasien dan cari apakah ada luka. Bila pasien disangkakan mengalami trauma
leher maupun spinal, immobilisasi dalam suatu garis lurus sangat penting(Wilkinson, 2000)


Manajemen Airway
Prioritas utama adalah membuat atau memelihara airway yang bebas.
- Berbicara pada pasien
Seorang pasien yang dapat berbicara dengan jelas pasti memiliki airway yang bebas. Pasien yang
tidak sadar mungkin saja membutuhkan bantuan airway dan ventilasi. Vertebra cervical harus
dilindungi selama dilakukannya intubasi endotracheal bila diduga adanya trauma kepala, leher
atau dada. Penyumbatan airway paling sering disebabkan oleh obstruksi lidah pada pasien-pasien
yang tidak sadarkan diri(Wilkinson, 2000).
check response shout for help