Anda di halaman 1dari 20

Penentuan distribusi ukuran partikel dilakukan pada sediaan yang berupa sistem

dispersi atau sediaan yang memiliki syarat mengenai keberadaan partikel dengan
ukuran tertentu. Sediaan dengan sistem dispersi contohnya adalah suspensi,
sedangkan sediaan yang dipersyaratkan keberadaan partikel dengan ukuran
tertentu contohnya adalah salep mata.

Untuk sediaan suspensi, penentuan distribusi ukuran partikel bukanlah syarat
resmi (bukan persyaratan yang ditetapkan oleh kompendia/Farmakope). Apa
tujuan penentuan distribusi ukuran partikel ini? Sebenarnya saya juga kurang
paham. Berdasarkan buku Pharmaceutical Dosage Forms, Dispersed System,
Vol.2, ukuran dan distribusi ukuran partikel ini penting dalam formulasi untuk
menghasilkan suspensi yang stabil secara fisik. Ukuran partikel ini akan
mempengaruhi penampilan produk, settling rates (saya ragu apakah ini
terjemahan ini tepat: laju pengendapan), absorpsi in vivo, kemampuan resuspensi,
dan stabilitas secara keseluruhan.
Pengertian Uji Kruskal-Wallis
Uji Kruskal-Wallis (H Test) pertama kali diperkenalkan Willian H.Kruskall dan
Allen Wallis pada tahun 1952. Uji Kruskal-Wallis dikenal juga sebagai uji H.
Uji Kruskal-Wallis merupakan pengembanan dari uji Mann-Whitney.
Metode ini merupakan metode nonparametrik dengan menpergunakan teknik rank
(urutan). Uji ini digunakan untuk menguji asumsi pertama yang menjelaskan
adanya sifat kenormalan dari distribusi data. Uji ini digunakan untuk
membandingkan rata-rata tiga sample atau lebih, sehingga merupakan alternatif
dari analisis varian untuk 1 arah (ANOVA) atau pengujian hipotesa 3 rata-rata
atau lebih dengan mengunakan distribusi F untuk satu arah dari uji parametrik.
Uji Kruskal-Wallis membutuhkan pemenuhan asumsi yang lebih longgar dari pada
ANOVA satu arah, yaitu:
Sampel-sampel berasal dari populasi independen. Pengamatan satu dan yang
lainya independen.
Sampel dicuplik secara acak dari populasi masing-masing.
Data diukur minimal dalam skala ordinal.
Jadi, uji Kruskal-Wallis adalah uji yang digunakan untuk menguji kemaknaan
perbedaan (jika memang ada perbedaan) beberapa (k) sampel independen dengan
data berskala ordinal.

2.2 Fungsi Uji Kruskal-Wallis
Uji H atau Kruskal-Wallis adalah suatu uji statiska yang dipergunakan untuk
menetukan apakah k sample independen berasal dari populasi yang sama ataukah
berbeda. Sampel-sampel yang yang diambil dari populasi dapat berbeda, hal ini
dapat terjadi karena populasi yang berbeda atau populasi yang sama. Apabila
populasi yang sama, maka perbedaan itu hanyalah karena faktor kebetulan saja.
Metode Kruskal-Wallis atau uji H menguji suatu hipotesa Null yang menyatakan
bahwa k sampel berasal dari populasi yang sama atau identik.










CARA KERJA SKEMATIS
A. Mengukur diameter partikel secara mikroskopis
1. Kalibrasi Alat
Ditempatkan mikrometer di bawah mikroskop

Dihimpitkan garis awal skala okuler dengan garis awal skala obyektif

Ditentukan garis kedua skala yang tepat berimpit

Ditentukan harga skala okuler
2. Dibuat suspensi encer partikel yang akan dianalisis di atas obyek glass
3. Ditentukan ukuran partikel monodispers atau polydispers:
a. Ditentukan ukuran partikel sebanyak 20-25 partikel dari seluruh sediaan
b. Ditentukan harga logaritma masing-masing ukuran partikel
c. Ditentukan harga logaritma ukuran partikel dan harga standard deviasi (SD)
purata yang bersangkutan
d. Ditentukan harga antilogaritma purata ukuran partikel (dgeometrik) dan
antilog SD
e. Disebut siste polidispers jika harga antilog SD 1,2 dan sistem disebut
monodispers jika antilog < 1,2
4. Jika monodispers tentukan ukuran partikel sebanyak 300 partikel dan jika
sistem polydispers tentukan sebanyak 500 partikel.
Dilakukan grouping :
Ditentukan ukuran partikel yang terkecil dan yang terbesar

Dibagi jarak ukur yang diperoleh menjadi beberapa bagian yang gasal (paling
sedikit 5 bagian)

Diukur partikel dan digolongkan kedalam group yang telah ditentukan
5. Dibuat kurva distribusi ukuran partikel dan tentukan harga diameter-diameter
berikut ini:
Length-Number Mean : d
ln
=


Surface Number Mean : d
sn
=
Volume number Mean : d
vn
=
Volume Surface Mean : d
vs
=
Volume Weight Mean : d
wm
=

Dimana n = jumlah partikel dalam tiap range ukuran partikel (size range)
d = rata-rata range ukuran partikel (mid size) dalam mikron
bahan yang dipakai : amylum / lycopodium
6. Ditentukan arti dari harga diameter-diameter diatas


HASIL PERCOBAAN
A. Metode mikroskopi
a) Kalibrasi Alat
= 0,1 mm = 100 m
1 skala obyektif = skala okuler
b) Penentuan Monodispers atau Polydispers
No Ukuran partikel
(m)
Log ukuran
partikel
Rata-rata log ukuran
partikel (x)
SD Antilog X Antilog
SD
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
3
5
8
10
11
14
17
18
21
24
25
28
31
33
34
37
38
40
42
43
45
47
48
50
50
0,47
0,69
0,90
1
1,04
1,14
1,23
1,25
1,32
1,38
1,39
1,44
1,49
1,51
1,53
1,56
1,57
1,60
1,62
1,63
1,65
1,67
1,68
1,69
1,69
1,36 0,34 22,90 2,18

Sistem tersebut adalah : Polydispers
c) Penentuan ukuran partikel
Size
Range
Mid
Range (d)
Jumlah
partikel
(n)
n.d n.d
2
n.d
3
n.d
4

1-5
6-10
11-15
16-20
21-25
26-30
31-35
36-40
41-45
46-50
3
8
13
18
23
28
33
38
43
48
47
56
54
49
52
50
48
50
53
41
141
448
702
882
1196
1400
1584
1900
2279
1968
423
3584
8694
15876
27508
39200
52272
72200
97997
94464
1269
28672
93312
285768
632684
1097600
1724976
2743600
4213871
4534272
3807
229376
1542294
5143824
14551732
30732800
56924208
104256800
181196453
217645056

255 n = 500
nd =
12500
nd
2
=
412218
nd
3
=
15356024
nd
4
=
612226350



Pada percobaan penentuan ukuran partikel ini bertujuan untuk mengukur partikel
zat dengan metode mikroskopi dan pengayakan (shieving).
Pada metode mikroskopi yang dilakukan pertama kali adalahkalibrasi alat
yang bertujuan untuk menentukan ukuran skala okuler. Kalibrasi alat dilakukan
dengan cara menempelkan mikrometer dibawah mikroskop, dihimpitkan garis awal
skala okuler dengan skala obyektif. Kemudian menentukan garis kedua skala yang
tepat berhimpit dan diketahui harga skala okuler setelah dilihat dibawah
mikroskop maka akan terdapat kotak dengan ukuran 10 x 10.
Kemudian dilakukan preparasi sampel dengan membuat suspensi encer
dianalisa di atas obyek glass dan dilihat di bawah mikroskop sehingga akan
terlihat partikel-partikel yang ada di setiap kotak.
Setelah itu dilakukan perhitungan, pada percobaan yang dilakukan
termasuk polydispers karena harga SD > 1,2 yaitu 2,18. Tujuan pembuatan
suspensi yang encer adalah untuk mempermudah dalam perhitungan partikel,
karena bila suspensi tidak encer maka pertikel yang terjadi akan berhimpitan dan
menyulitkan dalam perhitungan.
Keuntungan dari metode mikroskopi dapat mendeteksi aglomerat dan
partikel partikel yang terdiri lebih dari satu komponen. Sedangkan kelemahan
kelemahannya adalah diameternya hanya dapat dilihat secara dua dimensi yaitu
panjang dan lebar. Selain itu metode ini agak lambat dan melelahkan karena
harus menghitung sekitar 500 partikel (polydispers).

Metode Mikrometik
1. Rata-rata ukuran partikel (x) = 1,36
2. SD = 0,34
3. Antilog SD = 2,18
4. Antilog x = 22,90
Harga antilog SD > 1,2 maka sistem pada percobaan ini adalah polydispers
Perhitungan berbagai diameter
a. Length Number Mean (d
ln
)
d
ln
= = = 25 m
b. Surface Number Mean (d
sn
)
d
sn =

c. Volume Number Mean (d
vn
)
d
vn =

d. Volume Surface Mean (d
vs
)
d
vs
= = = 37, 2530 m
e. Volume Weight Mean (d
wm
)
d
wm
= = = 39, 8688 m


















Pengertian Suspensi
Suspensi merupakan sistem heterogen yang terdiri dari dua fase yaitu
fase luar dan kontinue umumnya merupakan cairan atau semi padat dan fase
terdispersi atau fase dalam terbuat dari partikel partikel kecil yang pada
dasarnya tidak larut tapi terdispersi seluruhnya pada fase kontinue (Patel dkk,
1994). Suspensi secara umum dapat didefinisikan sebagai sediaan yang
mengandung obat padat dalam bentuk halus dan tidak larut terdispersi dalam
cairan pembawa. Zat yang terdispersi harus halus dan tidak boleh cepat
mengendap dan bila dikocok perlahan lahan endapan harus segera terdispersi
kembali (Anief, 2007).
Suspensi dalam farmasi digunakan dalam berbagai cara yaitu:
a. Intramuskular inject
b. Tetes mata
c. Peroral
d. Rektal
Suspensi oral adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat yang
terdispersi dalam pembawa cairdengan bahan pengaroma yang sesuai dan
ditujukan untuk penggunaan oral (Depkes RI, 1995).
Ada beberapa alasan pembuatan sedian supensi oral salah satunya adalah
karena obat obat tertentu tidak stabil secara kimia bila ada dalam larutan tapi
stabil bila disuspensi. Selain itu, untuk banyak pasien bentuk cairan lebih banyak
disukai daripada bentuk padat (tablet dan kapsul). Karena mudahnya menelan
cairan dan keluwesan dalam pemberian dosis aman dan mudah diberikan untuk
anakanak (Ansel, 1989).
Adapun sifatsifat spesifik yang untuk suspensi farmasi (Ansel, 1989):
a. Suatu suspensi farmasi yang dibuat dengan tepat dan mengendap secara
lambat dan harus rata lagi bila dikocok
b. Karakteristik suspensi harus sedemikian rupa sehingga
ukuran partikel suspensi tetap agak konstan untuk waktu lama pada penyimpanan
c. Supensi harus bisa dituang dari wadah dengan cepat dan homogen
Formula Suspensi Oral
Formulasi sedian suspensi terdiri dari:
R/ Zat aktif
Pensuspensi
Zat tambahan
Zat pengawet
Pendapar
Pembasah
Zat penambah rasa
Zat penambah warna
Zat penambah bau
Zat pembawa
Tabel 1. Contoh Formula Suspensi
No Formula Konsentrasi
1 Parasetamol 5gr
2 Asam sitrat 0,5%
3 Natrium sitrat 0,5%
4 Kollidon CL-M 5%
5 Dextrosa 30%
6 Essence orange 0,1%
5 Aquadest Ad 100ml

a. Zat aktif
Yaitu zat yang berkhasiat dalam suspensi
b. Pensuspensi (Suspending agent)
Merupakan bahn yang dapat meningkatkan viskositas dari suspensi sehingga
pengendapan dapat diperlambat.
Menurut Aulton (1989), bahan pensuspensi dapat dikelompokkan menjadi:
1) Polisakarida
Yang termasuk golongan polisakarida yaitu:
a) Acacia/ Gom
Merupakan bahan alam yang berasal dalam getah eksudat dari tanaman
acasia serbuk berwarna putih. Mudah terkontaminasi oleh sebab itu perlu
disterilisasi terlebih dahulu sebelumnya (Aulton, 1989). Biasanya digunakan
dalam bentuk mucilagodengan 35% terdispersi dalam air (King, 1984)
b) Tragacant
Merupakn ekstrak kering dari tanaman semak Astragalus, umumnya tidak
larut dalam air danbaik untuk membuat kekentalan yang sedang. Secara umum
penggunaannya lebih sulit dari padaacacia. Biasanya digunakn dalam bentuk
mucilago 6% (King, 1984).
c) Na Alginat
Berasal dari rumput laut, mengandung bagian asan dan bagian garam. Bagian
asam dan garam kalsiumnya tidak larut dalam air sebaliknya garam natrium,
garam kalium dan garam ammonium alginat larut dalam air. Penggunaan 3-6% akan
membentuk gel seperti salep (Voight, 1995).
d) Starch
Digunakan dalam bentuk kombinasi bersama Caboxymethilcellulose sebanyak
2,5% dalam air akan menghasilkan produk kental (Aulton, 1989)



e) Xanthan Gum
Merupakan polisakarida semisintesis mengandung garam natrium, kalsium
dan kalium dengan berat molekul tinggi. Larut dalam air panas dan dingin,
digunakan dengan kadar 0,5% (Aulton, 1989).
f) Povidon
Larut dalam air dan etanol. Memilki pH 3-7, digunakan dalam sediaan
suspensi sebagaisuspending agent dengan kadar >5% (Wade, 1994).
2) Cellulose larut dalam air
a) Methylsellulose
Larut dalam air dingin tetapi tidak larut dalam air panas (King, 1984)
konsentrasi methylsellulose >1% memberi larutan air yang jernih, sedangkan pada
konsentrasi 5-10% mengarah pada pembentukan gel yang bersifat plastis yang
digunakan untuk terapi kutan (Voight, 1995).
b) Hidroksietilcellulose
Larut dalam air dingin dan panas, memiliki aktivitas permukaan yang rendah,
bereaksi netral dan menunjukkan koagualsi bolak-balik (Aulton, 1989). Pada
konsentrasi 10-15% membentuk gek seperti salep (Voight, 1995).
c) Natriumcarboksimethylsellulose
Larut dalam air dingin dan panas menghasilkan larutan jernih. Lebih sensitf
terhadap pH dibandingkan dengan metilselulosa. Stabil pada pH 5-10. Digunakan
pada konsentrasi antara 0,25-1% (Aulton, 1989). Menghasilkan empat kekentalan
yang rendah, sedang, tinggi dan ekstra tinggi (Jenkins dkk, 1995). Pembuatan
mucilago dengan menaburkan Na CMC diatas air panas sebanyak 20 kalinya.
Biarkan sampai mengembang kemudian gerus sampai homogen.
3) Tanah Liat (Clay)
Menurut Jankins (1995) ada 2 jenis tanah liat yang digunakan sebagai
pensuspensi, yaitu:
a) Bentonit
Suatu clay yang tidak dapat larut dalam air tetapi dapat menyerap air dalam
membetuk suatu suspensi yang kental.
b) Veegum
Merupakan gabungan dari magnesium dan aluminium silikat yang digunakan
sebagai pengental dengan kadar 0,25-2%.



c. Zat Tambahan, terdiri dari:
1) Pengawet
Menurut Boylan (1994) ada tiga kriteria pengawet yang ideal yaiu:
a) Pengawet harus efektif terhadap mikroorganisme spektrum luas.
b) Pengawet harus stabil fisika kimian dan mikribiologisselama masa berlaku
produk tersebut.
c) Pengawet harus tidak toksis, mensesitasi, larut dengan memadai, dapat
bercampur dengm komponen-komponen formulasi lain dan dapat diterima dilihat
dari rasa dan bau pada konsentrasi yang digunakan (Boylan, 1994).
Adapun pengawet yang umum digunakan dalam sediaan farmasi yaitu: asam
benzoat 0,1%, Natrium benzoat 0,1%, atau kombinasi dari metilparaben (0,05%)
dan propilparaben (0,03) (Jenkins dkk, 1995).
2) Larutan dapar (Buffer)
Menurut Boylan (1994) untuk dapat menjaga kelarutan obat, maka suatu
sistem harus didapar secara memadai. Pemilihan suatu dapar harus konsisten
dengan kriteria sebagai berikut:
a) Dapar harus mempunyai kappasitas memadai dalam kisaran pH yang
diinginkan.
b) Dapar harus aman secara biologis untuk penggunaan yang dimaksud.
c) Dapar hanya mempunyai sedikit atau tidak mempinyai efek merusak
terhadap stabilitas produk akhir.
d) Dapar harus memberikan rasa dan warna yang dapat diterima produk.

3) Zat Pembasah (wetting agent)
Dalam pembuatan suspensi penggunaan zat basah sangat berguna dalam
penurunan tegangan antar muka partikel padat dan cairan pembawa (Anief,
1994). Zat pembasah yang sering digunakan dalam pembuatan suspensi adalah
air, alkohol, gliserin (Ansel, 1989).
Zat-zat hidrofilik (sukar pelarut) dapat dibasahi dengan mudah oleh air
atau cairan-cairan polar lainnya sehingga dapat meningkatkan viskositas
suspensi-suspensi air dengan besar. Sedangkan zat-zat hidrofobik (tidak sukar
pelarut) menolak air, tetapi dapat dibasahi oleh cairan-cairan nonpolar. Zat pada
hidrofilik biasanya dapat digabungmenjadi suspensi tanpa zat pembasah (Patel
dkk, 1994).

4) Zat Penambah Rasa
Ada empat rasa sensasi dasar yaitu: asin, pahit, manis dan asam. Suatu
kombinasi zat pemberi rasa biasanya diperlukan untuk menutupi sensasi rasa ini
secara efektif. Menthol kloroform dan berbagai garam sering kali digunakan
sebagai zat pembantu pemberi rasa (Patel dkk, 1994).
Menurut Aulton (1989), ada tiga tipe penambahan rasa yaitu:
a) Zat pemanis, contohnya: sorbitol, saccharin dan invert syrup.
b) Syrup Berasa, contohnya: blackcurant, rasoberry dan chererry.
c) Minyak Beraroma / Aromatic Oils, contohnya: anisi, cinnamon lemon dan
pepermint.
d) Penambahan Rasa Sintetik, contohnya: kloroform, vanillin, benzaldehid, dan
berbagai senyawa organik lain (alkohol, aldehid, ester dan keton).

5) Zat Penambah Warna
Ada beberapa alasan mengapa farmasi perlu ditambahkan zat pewarna yaitu
menutupi penampilan yang tiadak enak dan untuk menambah daya tarik pasien.
Zat pewarna harus aman, tidak berbahaya dan tidak memilikiefek farmakologi.
Selain itu tidak bereaksi dengan zat aktif dan dapat larut baik dalam sediaan
(Ansel, 1989).
Pemilihan warna biasanya dibuat konsisten dengan rasa misalnya merah
untuk strawbery dan warna kuning untuk rasa jeruk (Ansel, 1989). Beberapa
contoh yang bisa digunakan yaitu Tartazin (kuning), amaranth (merah), dan
patent blue V (biru). Clorofil (hijau) (Aulton, 1989).
6) Zat Penambah Bau
Tujuan penambahan bau adalah untuk dapat menutupi bau yang tidak enak
yang ditimbulkan oleh zat aktif atau obat. Bau sangat mempengauhi rasa dari
suatu preparat pada bahan makan (Ansel, 1989). Dapat digunakan penambah bau
berupa essense dari buah-buahan yang disesuaikan dengan rasa dan warna
sediaan yang akan dibuat.
7) Zat Pembawa
Zat pembawa yang bisa digunakan dalam pembuatan suspensi oral adalah air
murni (Ansel, 1989).

1. Stabilitas Suspensi
Salah satu masalah yang dihadapi dalam proses pembuatan suspensi adalah
cara untuk memperlambat penimbunan partikel serta menjaga homogenitas dari
partikel ini merupakan salah satu cara untuk menjaga stabilitas suspensi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi suspensi:
a. Kekentalan (viskositas)
Kekentalan suatu cairan mempengaruhi pola kecepatan aliran dari suatu
cairan tersebut. Makin kental kecepatan alirannya makin turun kecepatan aliran
dari cairan tersebut akan mempengaruhi pula gerakan turunnya partikel yang
terdapat didalamnya dengan menambah viskositas cairan. Gerakan turun dari
partikel yang dikandungnya akan diperlambat (Ansel, 1989). Viskositas
suspensi menurut SNI adalah 37cp-396cp
Hal ini dibuktikan dengan rumus:
Dimana:
: kekentalan cairan
: kekentalan air pada suhu penetapan
tc : waktu cair aliran (dtk)
dc : kerapatan cairan (g/ml)
ta : waktu alir air (dtk)
da : kerapatan air (gr/ml)
Istilah rheologi digunakan untuk menggambarkan aliran cairan dan Isaac
newton yang menyatakan bahwa tahanan terhadap aliran adalah sebanding dengan
kecepatan geser. Istilah newton tentang tahanan terhadap aliran sekarang
dikenal dengan kekentalan atau viskositas yang didefinisikan sebagai tetapan
perbandingan antara tekanan geser (Shering stress) dengan kecepatan geser
(Rate of share). Tekanan geser adalah gaya per luas area yang digeser
(dyne/cm). Kecepatan geser adalah kecepatan dibagi ketebalan film (detik-1).
Viskositas= (dyne/cm2) / (1/detik)= poise (P)= 100centipoise (cps)
Rheologi dari suatu zat tertentu dapat mempengaruhi penerimaan obat bagi
pasien, stabilitas fisik obat, bahkan ketersediaan hayati dalam tubuh
(bioavailability). Sehingga viskositas telah terbukti dapat mempengaruhi laju
absorpsi obat dalam tubuh.
b. Ukuran Partikel
pengecilan ukuran partikel berguna untuk kestabian supensi karena laju
endap dari partikel padat berkurang kalu ukuran partike dikurangi. Pengurangan
kuran partikel menghasilkan laju pengendapan yang lambat dan lebih beragam.
c. Volume Sedimentasi
Endapan yang terbentuk harus dengan mudah didispersikan kembali dengan
pengocokan sedangkan agar menghasilkan suatu sistem homogen maka penguurn
volume endapan dan mudah mendispersi membentuk dua prosedur evaluasi dasar
yang paling umum (Patel dkk, 1994)
Volume sedimentasi yaitu mempertimbangkan rasio tinggi akhir endapan
(Hu) terhadap tinggi awal (Ho) pada waktu suspensi mengendap dalam suatu
kondisi standar.
F = Hu/Ho
Makin besar fraksi ini, makin baik kemampuan suspensinya (Lachman, 1994)
d. pH
pH merupakan suatu penentu utama adalam kestabilan suatu obat yang
cenderung penguraian hidrolitik. Untuk kembanyakan obat pH kestabilan optimum
adalah pada situasi asam antara pH 5-6. Oleh karena itu, melalui penggunakan zat
pendapar yang tepat kestabilan senyawa yang tidak stabil dapat ditinggikan
(Ansel, 1989). pH standar suspensi menurut Kulshreshta, Singh, dan Wall
(2009) antara 5-7.
e. Redispersibilitas
Daya kocok sedimen dapat dilakukan dengan gerak membalik susupensi yang
mengandung sedimen sebasar 90
0
kemudian dapat diukur waktunya atau jumlah
gerak membalik, yang dibutuhkan untuk mendispersikan kembali seluruh partikel
(Voight, 1995).
Kemampuan suspensi untuk menjaga agar dosis obat terdispersi secara
merata diukur berdasarkan kemampuannya untuk mendispersikan kembali suatu
suspensi yang mengendap. Endapan yang terbentuk selama penyimpanan harus
mudah didispersikan kembali bila wadahnya dikocok, membentuk suspensi yang
homogen. Oleh karena itu pemeriksaan kemampuan redispersi sangat penting
dalam evaluasi stabilitas fisik suspensi.
Penentuan redispersi dapat ditentukan dengan cara mengkocok
sediaannya dalam wadahnya secara konstan dengan menggunakan pengocok
mekanik. Kemempuan redispersi baik bila suspensi telah terdispersi sempurna
dengan tangan maksimum 15 kali pengocokan.

4. Pembuatan Suspensi
Menurut Patel dkk (1994), ada beberapa metode dalam pembuatan suspensi,
yaitu:
a. Metode pengendapan
1) Pengendapan Dengan Pelarut Organik
Obatobatan yang tidak larut dalam air dapat diendapkan dengan
melarutkannya dalam pelarut organik yang bercmpur dengan air dan kemudian
menambah fase organik ke air murni dibawah kondisi standar.
2) Pengendapan yang dipengaruhi oleh perubahan pH dan medium
Metode ini dapat lebih membantu dan tidak menimbulkan yang serupa dengan
endapan organik. Tetapi teknik ini hanya dapat diterapkan keobat obat yang
seharusnya tergantung pada pH.
3) Penguraian rangkap
Metode ini meliputi kimia sederhana, meskipun beberapa faktor fisis juga
ikut berperan
Menurut Anief (2007) dalam pembuatan suspensi stabil secara fisis yang
biasa dipakai sebagai pegangan pedekatan adalah:
a) Penggunaan pembawa tersusun untuk partikel deflokulasi dalam suspensi.
Pembawa tersusun pseudoplastis dan plastis. Pembawa tersusun bekerja dengan
cara penjeratan (calmpiping) partikelpartikel (umumnya deflokulasi) sedemikian,
hingga secara deal tidak terjadi pengendapan.
b) Penggunaan prinsip prinsip untuk membentuk flok, mskipun terjadi cepat
mengenap, tetapi dengan pengocokkan dengan mudah tersuspensi kembali.
Stabilitas fisis yang optimum dan bentuk rupanya yang baik akan terjadi
bila suspensi diformulasikan dengan patiklpartikel flokulasi dengan pembawa
tersusun dari tipe koloid hidrofil (flokulasi terkontrol). Menurut Hinds, untuk
membentuk flokulasi dalam suspensi digunakan elektrolit, surfaktan, dan polimer.
Pembuatan suspensi sistem flokulasi dapat dilakukan seperti berikut:
a) Partikel diberi pembasah dan dispersi medium
b) Lalu ditambah zat pemflokulasi dan diperolah suspensi flokulasi
c) Apabila dikehendaki agar flok yang terjadi tidak cepat mengenap maka
ditambah pembawa tersusun.

b. Metode Dispersing
Bahan tersebut dilarutkan dahulu dengan air sebelum dicampur dengan
dengan bahan bahan yang akan disuspensikan. Surfaktan dapat digunakan untuk
menjamin pembasahan zat padat pada hidrofobik engan seragam. Penggunaan zat
pensuspensi bisa iusulkan tergantung pada penggunaan spesifik. Metode
sebenernya dari pendispersi zat padat merupakan salah satu pertimbangan yang
ebih pentin, karena pengurangan ukuran prtikel mungkin dihasilkan atau mungkin
tidak dihasilkan dari proses dispersi.
5. Sistem Flokulasi dan Deflokulasi
Dalam sistem flokulasi, partikel terflokulasi adalah terikat lemah cepat
mengenap dan mudah tersuspensi kembali dan tidak membentuk cake. Sedangkan
pada sisitem deflokulasi, partikel terdeflokulasi mengenap perlahan lahan dan
akhirnya membentuk sedimen dan terjadi agregrasi dan selanjutnya cake yang
keras dan sukar tersuspensi kembali.
Pada sistem flokulasi biasanya mencegah pemisahan yang sungguh sungguh
tergantung pada kadar partikel padat dan derajat flokulasinya pada suatu waktu
sisitem flokulasi klihatan kasar akibat terjadinya flokul. Dalam sistem
deflokulasi, partikel terdispersi baik dn mengenap senderian, tapi lebih lamat
dari pada sistem flokulasi tapi partikel delokulasi berkehendak membentuk
sedimen atau cake yang sukar terdispersi kembali.

Tabel 2. Sifatsifat dari partikel flokulasi dan deflokulasi dalam susupensi menurut
Anief (2007)
No Deflokulasi Flokulasi
1 Partikel tersuspensi dalam keadaan terpisah
satu dengan lainnya
Partikel merupakan agregat yang bebas
2 Sedimentasi lambat,masing masing partikel
mengenap terpish dan ukuranya minimal
Sedimentasi cepat, partikel mengenap
sebagai flok yaitu kumpulan partikel
3 Sedimentasi terjadi lambat Sedimentasi terjadi cepat
4 Akhirnya sedimentasi akan membentuk cake
(agregat) yang sukar terdispersi kembali
Sedimentasi terbungkus bebas membentuk
cake yang keras dan padat dan mudah
terdispersi kembali seperti semula
5 Wujud suspensi menyenangkan karena zat
tetap tersuspensi dalam waktu relative lama,
meskipun ada endapan cairan atau tetap
berkabut
Wujud susupensi kurang menyenangkan
sebab sedimentasi terjadi cepat dan
diatasnya terjadi daerah cairan yang jernih


6. Pengemasan dan Penyimpanan
Semua suspensi harus dikemas dalam wadah mulut lebar yang mempunyai
ruang udara yang menandai di atas cairan sehingga dapat dikocok dan mudah
dituang. Kebanyakan suspensi harus disimpan dalam wadah yang tertutup rapat
dan terlindung dari pembekuan, panas berlebihan dan cahaya. Suspensi perlu
dikocok setiap kali sebelum digunakan untuk menjamin distribusi zat yang merata
dalam pembawa sehingga dosis yang diberikan setiap kali tepat dan seragam
(Ansel, 1989)

Larutan buffer adalah campuran asam/basa lemah dan basa/asam
konjugasinya yang dapat mempertahankan pH di sekitar daerah kapasitas buffer.
Larutan buffer dibuat dari senyawa sitrat dan fosfat. Contoh larutan bufer
adalah bufer karbonat dan bufer fosfat (Oxtoby 2001). Larutan buffer
berperan besar dalam mengatur kelarutan ion-ion dalam larutan sekaligus
mempertahankan pH dalam proses fisiologis dan biokimia. Untuk
mempertahankan pH optimum pada kerja enzim, diperlukan larutan buffer untuk
mempertahankan pH dalam tubuh. Kapasitas kerja buffer paling baik apabila
nilai pK sama dengan pH (Lehninger 1982).
Sel memiliki sistem pertahanan dalam menjaga perubahan pH yang terjadi
dari lingkungan berupa larutan buffer. Larutan buffer merupakan campuran dari
asam lemah dengan garamnya yang berasal dari basa kuat atau basa lemah
dengan garamnya yang berasal dari asam kuat. Seperti pada larutan Natrium
Asetat yang merupakan larutan yang dapat berdisosiasi secara sempurna. Namun,
pada larutan asam asetat tidak berdisosiasi secara sempurna. Dalam menyiapkan
suatu penyangga dengan pH yang diinginkan, analis harus memilih suatu sistem
asam-garam (atau basa-garam) dimana pKa asam tersebut sedekat mungkin ke
pH yang diinginkan (Underwood 1998)