Anda di halaman 1dari 5

EKSTRAKSI BUNGA KENANGA

1. Topik Percobaan :
Ekstraksi Bunga Kenanga Menggunakan Destilasi Uap

2. Tujuan Percobaan :
Memisahkan campuran dua larutan berdasarkan perbedaan titik didih

3. Dasar Teori :
Ekstraksi adalah metode pemisahan satu atau beberapazat terlarut atau solut di antara
dua pelarut yang tidak saling bercampur. Prinsip metode ini didasarkan pada distribusi zat
terlarut dengan perbandingan tertentu antara dua pelarut yang tidak saling bercampur.
Batasannya adalah zat terlarut dapat ditransfer pada jumlah yang berbeda dalam ke dua fase
pelarut.Proses ekstraksi bermula dari penggumpalan ekstrak dengan pelarut kemudian terjadi
kontak antara bahan dan pelarut sehingga pada bidang datar antarmuka bahan ekstraksi dan
pelarut terjadi pengendapan massa dengan cara difusi. Bahan ekstraksi yang telah tercampur
dengan pelarut yang telah menembus kapiler-kapiler dalam suatu bahan padat dan melarutkan
ekstrak larutan dengan konsentrasi lebih tinggi di bagian dalam bahan ekstraksi dan terjadi
difusi yang memacu keseimbangan konsentrasi larutan dengan larutan di luar bahan.
Ekstraksi dengan pelarut dapat dilakukan dengan cara dingin dan cara panas. Jenis-jenis
ekstraksi tersebut sebagai berikut:
Cara Dingin
o Maserasi, adalah ekstraksi menggunakan pelarut dengan beberapa kali pengadukan pada
suhu kamar. Secara teknologi termasuk ekstraksi dengan prinsip metode pencapaian
konsentrasi pada keseimbangan. Maserasi kinetik berarti dilakukan pengadukan kontinyu.
Remaserasi berarti dilakukan pengulangan penambahan pelarut setelah dilakukan ekstraksi
maserat pertama dan seterusnya.
o Perkolasi, adalah ekstraksi pelarut yang selalu baru sampai sempurna yang umumnya
pada suhu ruang. Prosesnya didahului dengan pengembangan bahan, tahap maserasi antara,
tahap perkolasi sebenarnya (penampungan ekstrak) secara terus menerus sampai diperoleh
ekstrak perkolat yang jumlahnya 1-5 kali bahan
Cara Panas
o Reflux, adalah ekstraksi pelarut pada temperatur didihnya selama waktu tertentu dan
jumlah pelarut terbatas yang relatif konstan dengan adanya pendingin balik
o Soxhlet, adalah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru menggunakan alat
khusus sehingga terjadi ekstraksi kontinyu dengan jumlah pelarut relative konstan dengan
adanya pendingin balik.
o Digesi, adalah maserasi kinetik pada temperatur lebih tinggi dari temperatur
kamar sekitar 40-50 C
o Destilasi uap, adalah ekstraksi zat kandungan menguap dari bahan dengan uap
air berdasarkan peristiwa tekanan parsial zat kandungan menguap dengan fase
uap air dari ketel secara kontinyu sampai sempurna dan diakhiri dengan
kondensasi fase uap campuran menjadi destilat air bersama kandungan yang
memisah sempurna atau sebagian.
o Infuse, adalah ekstraksi pelarut air pada temperature penangas air 96-98 C
selama 15-20 menit.
Pelarut yang baik untuk ekstraksi adalah pelarut yang mempunyai daya melarutkan
yang tinggi terhadap zat yang diekstraksi. Daya melarutkan yang tinggi ini berhubungan
dengan kepolaran pelarut dan kepolaran senyawa yang diekstraksi. Terdapat kecenderungan
kuat bagi senyawa polar larut dalam pelarut polar dan sebaliknya.
Pemilihan pelarut pada umumnya dipengaruhi oleh:
Selektivitas, pelarut hanya boleh melarutkan ekstrak yang diinginkan.
Kelarutan, pelarut sedapat mungkin memiliki kemampuan melarutkan ekstrak yang
besar.
Kemampuan tidak saling bercampur, pada ekstraksi cair, pelarut tidak boleh larut dalam
bahan ekstraksi.
Kerapatan, sedapat mungkin terdapat perbedaan kerapatan yang besar antara pelarut
dengan bahan ekstraksi.
Reaktivitas, pelarut tidak boleh menyebabkan perubahan secara kimia pada komponen
bahan ekstraksi.
Titik didih, titik didih kedua bahan tidak boleh terlalu dekat karena ekstrak dan pelarut
dipisahkan dengan cara penguapan, distilasi dan rektifikasi.
Kriteria lain, sedapat mungkin murah, tersedia dalam jumlah besar, tidak beracun, tidak
mudah terbakar, tidak eksplosif bila bercampur udara, tidak korosif, buaka emulsifier,
viskositas rendah dan stabil secara kimia dan fisik.
Karena tidak ada pelarut yang sesuai dengan semua persyaratan tersebut, maka untuk setiap
proses ekstraksi harus dicari jenis pelarut yang paling sesuai dengan kebutuhan.
Distilasi merupakan proses pemisahan komponen-komponen antara dua atau lebih
jenis zat yang memiliki karakteristik berbeda dalam suatu campuran. Pemisahan terjadi oleh
penguapan salah satu komponen dari campuran. Hal ini membuktikan bahwa beberapa
komponen lebih cepat menguap (volatil) dari komponen yang lain yang sukar menguap (non
volatil) atau bahwa setiap zat memiliki titik didih yang berbeda. Kegunaan destilasi atau
penyulingan larutan ialah untuk memisahkan atau memurnikan zat terlarut dari campuran
zat pelarut.
Macam-macam destilasi :
1. Distilasi sederhana (Non-Fraksionasi)
Distilasi ini digunakan bila sampel dikatakan hanya mengandung satu komponen yang
mudah menguap atau mempunyai perbedaan titik didih yang tinggi. Pemurnian dengan
distilasi sederhana dapat dilakukan dengan distilasi yang berulang-ulang (redistilasi)
2. Distilasi Vakum
Distilasi Vakum disebut juga distilasi dengan tekanan rendah. Untuk mencegah
penguraian senyawa-senyawa organik dianjurkan melakukan distilasi dengan metode ini.
Distilasi ini terutama digunakan untuk sampel-sampel dengan titik didih diatas 180oc.
Dengan bantuan aspirator air, tekanan dapat diturunkan sampai 12-15 mmHg. Sedangkan
dengan bantuan pompa vakum tekanan dapat diturunkan sampai 0.01 mmHg. Untuk
terakhir ini diperlukan cold trap untuk keamanan dan jangan sekali-kali melepaskan keadaan
vakum dengan melepaskan labu atau termometer.
Sampel dimasukkan ke dalam labu distilasi, selanjutnya masukkan batu didih agar
pendidihan berlangsung halus dan teratur. Pengontrolan suhu labu distilasi diperlukan
supaya pendidihan berlangsung dengan baik.
3. Distilasi Fraksionasi
Distilasi fraksionasi diperlukan untuk pemisahan dua atau lebih komponen yang mudah
menguap atau yang mempunyai perbedaan titik didih yang rendah. Kolom fraksionasi
memungkinkan adanya kesetimbangan antara turunnya cairan yang mengkondensasi dan
naiknya uap, sehingga menghasilkan siklus penguapan kondensasi dalam jumlah banyak.
Panjang dan jenis kolom fraksionasi yang diperlukan bergantung pada titik didih
komponen-komponen yang akan dipisahkan. Pemisahan yang sesuai untuk komponen-
komponen dengan perbedaan titik didih 15-20oc adalah dengan menggunakan vigorous.
Untuk komponen-komponen dengan titik didih yang lebih dekat diperlukan packed
column atau Spinning Band Column.
Kondisi kesetimbangan harus dijaga dalam kolom fraksionasi pada setiap saat untuk
memperoleh pemisahan yang baik. Istilahreflux digunakan untuk cairan yang menguap dan
kembali ke labu semula sebagai kondensat. Perbandingan distilat dengan jumlah kondensat
yang kembali ke labu distilasi (disebut refluks ratio) biasanya harus lebih besar dari satu dan
umumnya antara 5-10 untuk komponen yang relatif mudah dipisahkan. Untuk menjaga
refluks ratio dalam daerah ini diperlukan pengontrolan pemanasan labu distilasi.

4. Distilasi Uap
Distilasi ini digunakan untuk cairan-cairan yang sama sekali tidak mau bercampur
(immiscible) atau cairan yang bercampur (miscible) sangat terbatas. Campuran heterogen
dari dua cairan ini (A dan B) tidak mengikuti hokum Raoult, tetapi masing-masing.

4. Alat dan Bahan :
Alat :
a). Erlenmeyer
b). Mantel pemanas
c). Kondensor
d). Pipet tetes
e). Keramik
f). Penjepit
g). Corong
h). 2 buah selang
i). Corong pisah
j). Gelas ukur
k). Gelas kimia
l). Neraca digital
Bahan :
a). Bunga Kenanga
b). Air
c). N-Heksana

5. Prosedur Kerja :
a. Memotong bunga kenanga kemudian ditimbang dan dimasukkan ke dalam tabung distilasi
(steamer).
b. Menyalakan mantel pemanas dan mengatur besar panasnya.
c. Menjelang air mendidih, mengaktifkan pompa pendingin distilasi
d. Memasang erlenmeyer untuk menampung uap dan produk hasil distilasi.
e. Mencatat penambahan dan mengamati kejadian-kejadian yang terjadi selama proses
distilasi setiap 15 menit
f. Proses distilasi berakhir ketika tidak terjadipenambahan produk distilan lagi

Proses pemisahan hasil destilasi :
a. Memasukkan hasil destilasi ke dalam corong pisah sebanyak 10 ml
b. Menambahkan n-heksana sebanyak 5 ml ke dalam corong pisah, kemudian di kocok
beberapa kali dan membuka penutup corong pisah sebentar
c. Meletakkan gelas ukur di bawah corong pisah untuk menampung tetesan air yang
dikeluarkan
d. Perlahan-lahan memutar keran corong pisah agar air dapat keluar sedikit demi sedikit
sampai habis tepat batas air dan minyak yang terlihat pada corong tersebut
e. Setelah air habis dikeluarkan, maka diperolehlah minyak kenanga (minyak atsiri) itu.
6. Hasil Pengamatan :
Pada proses destilasi :
a). Suhu awal (T
0
) = 22
0
C
b). Massa bunga kenanga = 120 gram
c). Warna bunga yang digunakan = kuning
d). Volume air =
Berdasarkan panduan praktikum apabila massa bahan 100 gram maka air yang
diperlukan 400 ml, maka pada percobaan kami :
Massa bunga yang digunakan 120 gram jadi, volume air yang kami gunakan adalah 480 ml.

Anda mungkin juga menyukai