Anda di halaman 1dari 78
UNIVERSITAS JAYABAYA FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN Jalan Raya Bogor km 28, Jakarta Timur MATERI
UNIVERSITAS JAYABAYA
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
Jalan Raya Bogor km 28, Jakarta Timur
MATERI KULIAH
JALAN RAYA-1
(GEOMETRIK JALAN)
C L IR. DARMADI, MM STA. ELEV.
C L
IR. DARMADI,
MM
STA.
ELEV.

Laporan Proses

Pembelajaran Geometrik Jalan

1.

URAIAN MATERI

1.1.

DIAGRAM ALIR PEMILIHAN BENTUK LENGKUNG HORIZONTAL

FLOW CHART PERENCANAAN LENGKUNG HORIZONTAL

INPUT  Klasifikasi Fungsi Jalan  Klasifikasi Klas Jalan  Klasifikasi Medan Jalan DATA PERENCANAAN
INPUT
 Klasifikasi Fungsi Jalan
 Klasifikasi Klas Jalan
 Klasifikasi Medan Jalan
DATA PERENCANAAN
 KEC. RENCANA (Vr)
 en = 2% - 3%
 emaks = 8% - 10%
 fmaks
 lebar jalan dari VJP
HITUNG
ܸܴ²
ܴ݉݅݊ =
127 (݁݉ + ݂݉ )

Geometrik Jalan

PILIH NILAI R =rencana

Tabel 4.7 Untuk e max = 10% atau

Tabel 4.9 Untuk e max = 8%

Dari tabel tersebut didapat :

Superelevasi

LS standar (Ls’)

TIDAK JIKA e ≤ 3% SCS YA ATAU FULL SS CIRCLE (C) A B
TIDAK
JIKA
e ≤ 3%
SCS
YA
ATAU
FULL
SS
CIRCLE (C)
A
B

1

Laporan Proses

Pembelajaran Geometrik Jalan

A. Flow Chart Full Circle (C) A FULL CIRCLE (C) HITUNG Ls  Cara Short
A.
Flow Chart Full Circle (C)
A
FULL CIRCLE (C)
HITUNG Ls
 Cara Short (LS1)
 Cara Mod.Short (LS2)
 Cara bina marga/ASSHTO (Lr)
TIDAK
JIKA
Ls’ > Ls 1
Ls’ > Ls 2
Ls’ > Lr
Pilih LS
Paling besar antara
YA
Ls1, Ls2, atau Lr
Ls’
HITUNG
 Ec
 Lc
 Tc = Tt

Geometrik Jalan

Ls’ HITUNG  Ec  Lc  Tc = Tt Geometrik Jalan DATA LENGKUNG  STA

DATA LENGKUNG

STA

En

Superelevasi (e)

Ec, Lc, dan Tt

2

Laporan Proses

Pembelajaran Geometrik Jalan

B. Flow Chart Pilihan SCS dan SS

B INPUT  Ls , ࢤ HITUNG  ߠݏ  ߠܿ=ࢤ– 2 ߠݏ  Lc
B
INPUT
Ls , ࢤ
HITUNG
 ߠݏ
 ߠܿ=ࢤ– 2 ߠݏ
 Lc
TIDAK
JIKA
Lc > 20 M
YA
Lc = 0
SCS
SS
HITUNG Ls
Ls
 Cara Short (LS1)
 Cara Mod.Short (LS2)
 Cara bina marga (LS3) = Lr
JIKA
TIDAK
Ls > LS1
Pilih LS
Ls > LS2
Paling besar LS1,
LS2, atau LR
Ls > Lr
YA
LS Standar
Hitung
Geometrik Jalan
3

Laporan Proses

Pembelajaran Geometrik Jalan

Hitung

SS HITUNG  P  K  Lt = 2 Ls  Es, Ts
SS
HITUNG
 P
 K
 Lt = 2 Ls
 Es, Ts

SCS

HITUNG

P

K

Lt = LC + 2 Ls

Es, Ts

 P  K  Lt = LC + 2 Ls  Es, Ts JIKA p

JIKA

p > 0.25

YA

FULL

CIRCLE (C)

Ls  Es, Ts JIKA p > 0.25 YA FULL CIRCLE (C) DATA LENGKUNG  STA
Ls  Es, Ts JIKA p > 0.25 YA FULL CIRCLE (C) DATA LENGKUNG  STA

DATA LENGKUNG

STA

en, superelevasi (e)

p, k, Ls, dan Lc

ec , Lt, dan Tt

Geometrik Jalan

4

Laporan Proses

Pembelajaran Geometrik Jalan

1.2. CONTOH PERHITUNGAN PEMILIHAN BENTUK LENGKUNG HORIZONTAL

DAN DIAGRAM SUPERELEVASI

Diagram superelevasi menggambarkan pencapaian superelevasi dari lereng

normal ke superelevasi penuh, sehingga dapat ditentukan bentuk penampang

melintang pada setiap titik di suatu lengkung horizontal yang direncanakan.

setiap titik di suatu lengkung horizontal yang direncanakan. 1.2.1 Contoh perhitungan: Full Circle Diketahui :

1.2.1

Contoh perhitungan:

Full Circle

Diketahui :

 

Klasifikasi Fungsi Jalan

= Arteri

Klasifikasi Medan

= Bukit

Kecepatan rencana

= 60 km/jam

e maksimum

= 10%

β

= 20º

Lebar jalan

= 2 x 3,75 m (tanpa median)

Keniringan melintang total

= 2%

Ditanya: Rencanakan Alinyemen Horizontal trase di atas dan Belok Kanan!

Jawab:

Tahap I

Geometrik Jalan

ܴ݉݅݊ൌ

௏ோ

ଵଶ଻ሺ௘௠ା௙௠ሻ

ܴ݉݅݊ൌ

60

127(0,1 + 0,153) ͳͳʹǡͲͶ݉

5

Laporan Proses

Pembelajaran Geometrik Jalan

Tahap II Jadi R yang direncanakan harus lebih besar dari 112,04 m Direncanakan R= 716 m.

Tahap III Metode AASHTO Dari tebel metode AASHTO diperoleh e = 0,029 dan Ls’ = 40 m. Karena e = 2,9% ≤ 3% , maka bentuk lengkung yang digunakan adalah Full Circle

Tahap IV

Ls 1 = 0,022 . = 0, 022

Rumus Mod. SHORTT

଺଴

ଷଵ଼.= 7,47

Ls 2 = 0,022 . 2,727 . = 0, 022

Rumus SHORTT

ଷଵ଼.ଶ ଺଴ − 2,727 ଺଴ .,଴ଶଽ

L R =

.

,= ,

଺଴ .

= 33,3

Tahap V Ls’ = 40 > Ls 1 = 7,47 Ls’ = 40 > Ls 2 = 5,1 Ls’ = 40 > L R = 33,3 Jadi Ls yang digunakan adalah Ls’

Tahap VI

= 5,1

Tc

= R tg½β

= 716 tg10º

= 126,25 m.

Ec

= Tc tg¼β

= 126,25 tg5º

= 11,05 m.

Lc

= 0,01745.β.R = 0,01745 . 20 . 716

= 249,88 m.

Tahap VII Data lengkung untuk lengkung busur lingkaran sederhana tersebut diatas:

V

= 60 km/jam

Lc

= 249,88 m

β

= 20º

e

= 2,9%

R

= 716 m

Ec

= 11,05 m

Tc

= 126,25 m

Ls’

= 40 m

Geometrik Jalan

6

Laporan Proses

Pembelajaran Geometrik Jalan

Tahap VIII

Diagram Superelevasi bentuk lengkung Horizontal Full Circle

Diagram Superelevasi bentuk lengkung Horizontal Full Circle 1.2.2. Contoh perhitungan: Spiral-Circle-Spiral Diketahui :

1.2.2. Contoh perhitungan: Spiral-Circle-Spiral

Diketahui :

Kecepatan rencana

= 60 km/jam

e maksimum

= 10%

= 20º

Lebar jalan

= 2 x 3,75 m (tanpa median)

Kemiringan melintang total

= 2%

Ditanya: Rencanakan Alinyemen Horizontal trase di atas!

Jawab:

Tahap I

ܴ݉݅݊ൌ

௏ோ

ଵଶ଻ሺ௘௠ା௙௠ሻ

ܴ݉݅݊ൌ

60

127(0,1 + 0,153) ͳͳʹǡͲͶ݉

Tahap II

Jadi R yang direncanakan harus lebih besar dari 112,04 m

Direncanakan R= 318 m.

Geometrik Jalan

7

Laporan Proses

Pembelajaran Geometrik Jalan

Tahap III

Metode Bina Marga

Dari tabel metode Bina Marga diperoleh e = 0,059 dan Ls’ = 50 m.

Karena e = 0,059 ≤ 3% , maka bentuk lengkung yang digunakan adalah Spiral-

Circle-Spiral atau Spiral-Spiral

Dari tabel 4.6 diperoleh e = 0,059 dan Ls’ = 50 m.

Tahap IV

Ls 1 = 0,022. . = 0, 022.

Rumus Mod. SHORTT

଺଴

ଷଵ଼.= 7,47

Ls

2 = 0,022. . − 2,727. .

=

Rumus SHORTT

0, 022.

L R =

.

,= ,

଺଴ .

= 50

Tahap V

Ls’ = 50 > Ls 1 = 7,47

Ls’ = 50 > Ls 2 = 2,6

Ls’ = 50 > L R = 50

Jadi Ls yang digunakan adalah Ls’

ଷଵ଼.ଶ ଺଴ − 2,727. ଺଴ .,଴ହଽ

= 2,6

Tahap VI

maka diperoleh:

θs =

ܮݏ. 90 50 . 90

π . R

=

π . 318 = 4,504°

θc =

Lc =

β − 2 θs = 20 − 2 . 4,504 = 10,99°

θc

360

x 2 π Rc =

10,99

360

x 2 π 318 = 60,996 m (> 20 m)

Karena Lc yang di dapat > 20 m, maka digunakan bentuk lengkung horizontal

Spiral-Circle-Spiral

L

= Lc + 2 Ls= 60,996 + 100 = 160,996 m.

p

p

=

=

ܮݏ

Rc − Rc (1 − cosߠݏ)

6

50

. 318 − 318 (1 − cos 4,504)

6

p = 0,328 m

Jika mempergunakan table 4.10 diperoleh p* = 0,0065934

Geometrik Jalan

8

Laporan Proses

Pembelajaran Geometrik Jalan

p = p* x Ls = 0,0065934. 50 = 0,328 m

k

ܮݏ

= ܮݏ40 Rc − Rc sinߠݏ

50

k = 50 − 40 . 318 − 318 sin4,504

k = 24,99 ݉

Jika mempergunakan tabel 4.10 diperoleh k* = 0,4998970

k

= k* x Ls = 0,4998970. 50 = 24,99 m

Es

= (Rc + p) sec ½

- Rc

- Rc

= (318 + 0,328) sec 10 - 318

= (318 + 0,328) sec 10 - 318

=

5,239 m

Ts

= (Rc + p) tg ½

+ k

+ k

 

= (318 + 0,328) tg 10 + 24,99

= 81,12 m

½ + k   = (318 + 0,328) tg 10 + 24,99 = 81,12 m Tahap

Tahap VII

Datalengkunguntuklengkungspiral-lingkaran-spiraltersebutdiatas adalah

V = 60 km/jam

L = 160,996 m

V = 60 km/jam L = 160,996 m = 20° e = 5,9%

= 20°

e = 5,9%

= 4,504° Ls = 50 m Rc = 318 m Lc = 60,996 m

= 4,504°

Ls = 50 m

Rc = 318 m

Lc = 60,996 m

Es = 5,239 m

p = 0,328 m

Ts = 81,12m

k = 24,99 m

Tahap VIII

 

Diagram Superelevasi bentuk lengkung Horizontal Spiral-Circle-Spiral

= 24,99 m Tahap VIII   Diagram Superelevasi bentuk lengkung Horizontal Spiral-Circle-Spiral Geometrik Jalan 9

Geometrik Jalan

9

Laporan Proses

Pembelajaran Geometrik Jalan

1.2.3. Contoh perhitungan: Spiral-Spiral

Diketahui :

Kecepatan rencana

= 60 km/jam

e maksimum

= 10%

= 20º

Lebar jalan

Kemiringan melintang total

Ditanya: Rencanakan Alinyemen Horizontal trase di atas!

Jawab:

Tahap I

= 2 x 3,75 m (tanpa median)

= 2%

ܴ݉݅݊ =

௏ோ

ଵଶ଻(௘௠ା௙௠ )

ܴ݉݅݊ =

60

127(0,1 + 0,153) = 112,04 ݉

Tahap II

Jadi R yang direncanakan harus lebih besar dari 112,04 m

Direncanakan R= 318 m, Ls = 50 m. Ambil Lc = 0, maka bentuk lengkung yang

digunakan spiral-spiral.

Tahap III

Jika R = 318, maka e = 0,059 sesuai tabel 4.7 buku “Dasar-Dasar Perancanaan

Geometrik Jalan”, maka e > 3%.

Tahap IV

θs = ½ = 10 o

Ls =

=
=

= 111,00 m (>50m)

Jadi Ls yang digunakan = 111 m

Tahap V

θs = 10 o , p * = 0,01474 dan k * =0,4994880

Jadi p = p* x Ls = 0,0065934. 111 = 0,732 m

k = k* x Ls = 0,4998970. 111 = 55,49 m

L

= 2 Ls = 222

m

TS

= ( Rc + p ) tg ½β + k

= (318 + 0,732 ) tg 10 + 55,49

= 111,69 m

Es

= ( Rc + p ) sec ½β – Rc

= ( 318 + 55,49 ) sec 10 – 318 = 61,25 m

Geometrik Jalan

10

Laporan Proses

Pembelajaran Geometrik Jalan

Tahap VI Data lengkung dari lengkung horizontal berbentuk spiral-spiral adalah sebagai berikut:

 

V

= 60 km/jam

L = 222,0 m

= 20 o

e = 9,1 %

Ls = 111 m

Ls = 111 m

Rc

= 318 m

Lc = 0 m

Es = 61,25 m Ts = 111,69

p = 0,732 m k = 55,49 m

Tahap VII Diagram Superelevasi bentuk lengkung Horizontal Spiral-Spiral

p = 0,732 m k = 55,49 m Tahap VII Diagram Superelevasi bentuk lengkung Horizontal Spiral-Spiral

Geometrik Jalan

11

Laporan Proses

Pembelajaran Geometrik Jalan

LAMPIRAN

Laporan Proses Pembelajaran Geometrik Jalan LAMPIRAN Geometrik Jalan 12
Laporan Proses Pembelajaran Geometrik Jalan LAMPIRAN Geometrik Jalan 12
Laporan Proses Pembelajaran Geometrik Jalan LAMPIRAN Geometrik Jalan 12
Laporan Proses Pembelajaran Geometrik Jalan LAMPIRAN Geometrik Jalan 12
Laporan Proses Pembelajaran Geometrik Jalan LAMPIRAN Geometrik Jalan 12
Laporan Proses Pembelajaran Geometrik Jalan LAMPIRAN Geometrik Jalan 12

Geometrik Jalan

12

Laporan Proses

Pembelajaran Geometrik Jalan

Laporan Proses Pembelajaran Geometrik Jalan Geometrik Jalan 13

Geometrik Jalan

13

Laporan Proses

Pembelajaran Geometrik Jalan

Laporan Proses Pembelajaran Geometrik Jalan Geometrik Jalan 14

Geometrik Jalan

14

Laporan Proses

Pembelajaran Geometrik Jalan

2. Bagaimana seharusnya nilai fm, harus dihitung ?????? Nilai Fm pada rumus R minimum di semua contoh perhitungan yang ada di pembahasan kurang tepat. Seharusnya nilai Fm yang dipakai diambil grafik fm vs kecepatan. Jadi nilai Fm yang digunakan ialah 0,153 sehingga R minimum di peroleh 112,04 meter.

3. HASIL DISKUSI (PERTANYAAN dan JAWABAN)

a. Pertanyaan:

- Apa perbedaan Metode Bina Marga dan AASHTO

Jawaban:

Perbedaan Metode Bina Marga dan AASTHO ialah hanya perbedaan nilai pada tabel untuk menentukan Ls’ dan e berdasarkan R yang sudah di rencanakan. Komentar Dosen:

Untuk Metode AASTHO tabelnya jarang digunakan di Indonesia, karena kecepatannya masih di bawah 100 km/jam. Dan kalau menggunakan Metode Bina Marga untuk merencanakan suatu bentuk lengkung harus konsisten dengan tabel Bina Marga yg dipakai,

b. Pertanyaan:

Bagaimana anda tahu kalau pada bentuk lengkung SS nilai Lc pasti 0 ? Jawaban:

Nilai Lc pasti nol pada bentuk lengkung SS itu memang sudah ketentuan bentuk lengkung SS yaitu Spiral-Spiral. Jadi antara garis Spiral dan Spiral langsung bertemu tanpa dihubungkan oleh lingkaran atau Circle (Lc).

c. Pertanyaan:

Mengapa pada contoh perhitungan bentuk lengkung Full Circle mengambil angka 716 meter? Apakah boleh mengambil angka yang lain? Jawaban:

Pengambilan angka 716 meter pada perhitungan Full Circle itu berdasarkan R minimum yang telah didapat yaitu 112 meter. Jadi R yang direncanakan minimum 112 meter, karena pada contoh perhitungan akan merencanakan bentuk lengkung Full Circle, maka diambil R yang berada di atas garis batas e pada tabel 4.7 Buku “Dasar-Dasar Perencanaan Geometrik Jalan”.

d. Pertanyaan:

Pertanyaan:

Apa sebenarnya Ls’ (Ls Fiktif) tersebut , apakah manipestasi Ls fiktif di lapangan sebenarnya? Jawaban:

Ls fiktif berarti pada lapangan Ls fiktif tersebut tidak terlihat secara langsung. Komentar Dosen:

Ls Fiktif dikatakan fiktif karena seolah-olah tidak ada tapi sebenarnya ada di lapangan.

e. Pertanyaan:

Pertanyaan:

Apakah perhitungan yang didapatkan pada saat merencanakan lengkung harus sesuai pengaplikasiannya di lapangan atau ada toleransi tertentu? Jawaban:

Jika perhitungan sudah sesuai tabel-tabel Metode yang digunakan untuk merencanakan lengkung maka tidak dilakukan koreksi, namun jika tidak menggunakan tabel mungkin akan menggunakan koreksi tertentu. Dan nilai Data Bentuk Lengkung yang bernilai desimal akan dibulatkan. Komentar Dosen:

Implementasi di lapangan di lakukan dengan menggunakan koordinat X dan Y. Sehingga bisa terjadi toleransi, yaitu toleransi satuan ukuran. Menggunakan koordinat bertujuan untuk tercapainya nilai data lengkung yang telah dihitung secara tepat di lapangan.

Geometrik Jalan

15

07/08/2014

Klasifikasi Jalan

Sesuai Peruntukannya

– Jalan Umum

– Jalan Khusus

Jalan umum dikelompokan berdasarkan (ada 5)

– Sistem: Jaringan Jalan Primer; Jaringan Jalan Sekunder

– Status: Nasional; Provinsi; Kabupaten/kota; Jalan desa

– Fungsi: Arteri; Kolektor; Lokal; Lingkungan

– Kelas : (sesuai bidang lalu lintas dan angkutan jalan) :

: I; II; IIIA; IIIB; IIIC; IV

– Spesifikasi penyediaan prasarana:

1) jalan bebas hambatan;

2) jalan raya;

3) jalan sedang;

4) jalan kecil.

Klasifikasi & Spesifikasi Jalan berdasarkan Penyediaan Prasaran Jalan Sumber: PP 34/2006 tentang Jalan
Klasifikasi & Spesifikasi Jalan
berdasarkan Penyediaan Prasaran Jalan
Sumber: PP 34/2006 tentang Jalan

07/08/2014

Klasifikasi penggunaan jalan
Klasifikasi penggunaan jalan
Klasifikasi Penggunaan Jalan
Klasifikasi Penggunaan Jalan

07/08/2014

Persyaratan teknis jalan (PP34/2006)
Persyaratan teknis jalan (PP34/2006)
Matrik Klasifikasi Jalan (Proposed)
Matrik Klasifikasi Jalan (Proposed)

Tugas Besar

7

Perencanaan Geometrik

a. Jalan Arteri ( Utama ) adalah jalan raya utama adalah jalan yang melayani angkutan utama, dengan ciri- ciri perjalanan jarak jauh, kecepatan rata- rata tinggi dan jumlah jalan masuk dibatasi secara efisien. Dalam komposisi lalu lintasnya tidak terdapat kendaraan lambat dan kendaraan tak bermotor. Jalan raya dalam kelas ini merupakan jalan- jalan raya berjalur banyak dengan konstruksi perkerasan dari jenis yang terbaik.

b. Jalan Kolektor ( Sekunder ) adalah jalan kolektor adalah jalan raya yang melayani angkutan pengumpulan/ pembagian dengan ciri- ciri perjalanan jarak sedang, kecepatan rata- rata sedang dan jumlah jalan masuk dibatasi. Berdasarkan komposisi dan sifat lalu lintasnya dibagi dalam tiga kelas jalan, yaitu :

1. Kelas II A Merupakan jalan raya sekunder dua jalur atau lebih dengan konstruksi permukaan jalan dari lapisan aspal beton atau yang setara.

2. Kelas II B Merupakan jalan raya sekunder dua jalur dengan konstruksi permukaan jalan dari penetrasi berganda atau yang setara dimana dalam komposisi lalu lintasnya terdapat kendaraan lambat dan kendaraan tak bermotor.

3. Kelas II C

Merupakan jalan raya sekunder dua jalur denan konstruksi permukaan jalan dari penetrasi tunggal, dimana dalam komposisi lalu lintasnya terdapat kendaraan bermotor lambat dan kendaraan tak bermotor.

c. Jalan Lokal ( Penghubung )adalah jalan penghubung adalah jalan yang melayani angkutan setempat dengan cirri- cirri perjalanan yang dekat, kecepatan rata- rata rendah dan jumlah jalan masuk tidak dibatasi. Adapun tabel klasifikasi jalan raya adalah srbagai berikut :

 

JALAN RAYA

 

JALAN RAYA SEKUNDER

 

JALAN

KLASIFIKASI

 

UTAMA

 

PENGHUBUNG

JALAN

 
 

I (A1)

II A (A2)

 

II B (B1)

 

II C (B2)

 

III

KLASSIFIKASI MEDAN

D

B

G

D

B

G

D

B

G

D

B

G

D

B

G

Lalu lintas harian rata- rata (smp)

 

> 20. 000

6.000 - 20.000

1500 - 8000

 

< 20.000

 

-

Kecepatan Rencana (km/jam)

120

100

80

100

80

60

80

60

40

60

40

30

60

40

30

Lebar Daerah Penguasaan min.(m)

60

60

60

40

40

40

30

30

30

30

30

30

20

20

20

Lebar Perkerasan (m)

Minimum 2 (2x3,75)

2x3.50 atau 2(2x3.50)

2x 3.50

2 x 3.00

3.50 - 6.00

Lebar Median minimum (m)

 

2

 

1.5

-

-

 

-

Lebar Bahu (m)

3.50

3.00

3.00

3.00

2.50

2.50

3.00

2.50

2.50

2.50

1.50

1.00

3.50

- 6.00

Lereng Melintang Perkerasan

2%

2%

2%

3%

4%

Lereng Melintang Bahu

4%

4%

6%

6%

6%

Aspal beton ( hot mix )

 

Penetrasi Berganda/

Paling tinggi penetrasi tunggal

Paling tinggi pelebaran jalan

Jenis Lapisan Permukaan Jalan

Aspal Beton

 

setaraf

Miring tikungan maksimum

 

10%

 

10%

10%

 

10%

 

10%

Jari- jari lengkung minimum (m)

560

350

210

350

210

115

210

115

50

210

115

50

115

50

30

Landai Maksimum

3 %

5 %

6 %

4 %

6 %

7 %

5 %

7 %

8 %

6 %

8 %

10 %

6 %

8 %

10 %

07/08/2014

Tipikal Ruang Jalan Sumber: Penjelasan PP 34/2006
Tipikal Ruang Jalan
Sumber: Penjelasan PP 34/2006
Ruang Jalan Sumber: UU 38/2004 & PP 34/2006, tentang Jalan
Ruang Jalan
Sumber: UU 38/2004 & PP 34/2006, tentang Jalan

07/08/2014

Klasifikasi Medan Jalan

No

Jenis Medan

Notasi

Kemiringan

Medan

2

Datar

D

< 3%

3

Perbukitan

B

3%-25%

4

Pegunungan

G

> 25%

Kendaraan Rencana

Dimensi & Radius putar sbg dasar penyediaan ruang jalan

Ada 3 Kategori:

– Kendaraan Kecil

– Kendaraan Sedang: Truk 3As tandem atau Bus Besar 2 As

– Kendaraan Besar

: mobil penumpang

: Truk Tempelan (Trailer)

Ruang manuver kendaraan saat membelok di tikungan atau persimpangan sbg dasar penyediaan ruang

11 1

TTr rra aan nns ssi iit tti iio oon nn ccu uur rrv vve ees ss iin nn RRo ooa aad dd DDe ees ssi iig ggn nn

T

c

i

R

D

The purpose of this document is to provide details of various spirals, their characteristics and in what kind of situations they are typically used. Typical spirals (or transition curves) used in horizontal alignments are

a. clothoids (also called as ideal transitions),

b. cubic parabola,

c. sinusoidal and

d. cosinusoidal.

b. cubic parabola, c. sinusoidal and d. cosinusoidal. 1 1 1 1 C C l l

11

11

CCllootthhooiidd

1.1.1 Clothoid geometry

Details of an S-C-S fitting are presented in the following figure. Spiral before curve (points TCD) is of length 175 meters and spiral after the curve is of 125 meters.

Following are the key parameters that explain this geometry. LDT terms In the figure Description

Following are the key parameters that explain this geometry.

LDT terms

In the figure

Description

L1

TCD

Length of the spiral – from TS to SC

PI

V

Point of horizontal intersection point (HIP)

TS

T

Point where spiral starts

SC

D

Point where spiral ends and circular curve begins

i1

s1

Spiral angle (or) Deflection angle between tangent TV tangential direction at the end of spiral.

T1

TV

Total (extended) tangent length from TS to PI

X1

Total X=TD2

Tangent distance at SC from TS

Y1

Total Y= D2D

Offset distance at SC from (tangent at) TS

P1

AB

The offset of initial tangent in to the PC of shifted curve (shift of the circular curve)

K1

TA

Abscissa of the shifted curve PC referred to TS (or tangent distance at shifted PC from TS)

B

Sifted curve’s PC

LT1

TD1

Long tangent of spiral in

ST1

DD1

Short tangent of spiral in

RP

O

Center point of circular curve

c

c

Angle subtended by circular curve in radians

Total deflection angle between the two tangents

R

R

Radius of the circular curve

1.1.2

Expressions for various spiral parameters

Two most commonly used parameters by engineers in designing and setting out a spiral are L (spiral length) and R (radius of circular curve). Following are spiral parameters expressed in terms of these two.

Flatness of spiral =

A

LR
LR

Spiral deflection angle(from initial tangent) at a length l (along spira)l =

L

s 2 R

= Spiral angle (subtended by full length)

l

2

2 RL

= s1+ c+ s2 (where c is the angle subtended by the circular arc).

x

l *[1

 

l

4

l

8

 

40

R

2

2

L

4

3456 R L

4

]

At l = L (full length of transition)

TotalX

y

l

3

6 RL

[1

 

L *[1

l

4

2

L

4

L

40

R

2

l

3456 R

8

4

56

R

2

2

L

7040 R L

4

4

]

]

At l = L (full length of transition)

TotalY

tan

1

L

6 R

y

(

x

[1

)

2

2

L

4

L

56

R

2

7040 R

4

3

]

= Polar deflection angle

P = shift of the curve = AE – BE  

P = shift of the curve = AE – BE

 

P TotalY R

(1

cos

s

)

K = Total X – R*SINs (= TA. This is also called as spiral extension)

Total (extended) tangent = TV = TA + AV  

Total (extended) tangent = TV = TA + AV

 

Tangent (extended) length = TV =

(

R

P

) tan

2

K

In the above equation we used total deflection angle 

In the above equation we used total deflection angle 

P* TAN/2 is also called as shift increment;

 
 

Long Tangent = TD1 =

(Total X) – (Total Y)*COTs

 

Short Tangent = DD1 = (Total Y) *(COSECs)

 
Some cool stuff:- At shifted curve PC point length of spiral gets bisected. This curve

Some cool stuff:- At shifted curve PC point length of spiral gets bisected. This curve length TC = curve length CD.

11 22

CCuubbiicc SSppiirraallss

This is first order approximation to the clothoid.

If we assume that sin= , then dy/dl = sin= = l**2/2RL

On integrating and applying boundary conditions we get,

y

l

3

6 RL

l

2

3

6 R

1.2.1 Relationships between various parameters

Most of the parameters (Like A, P, K Etc…) for cubic spiral are similar to clothoid. Those which are different from clothoid are:

There is no difference in x and Total X values, as we haven’t assumed anything about cos.

x

L

0

x

l

2

cos(

2

2

) dl

 
 

l

4

l

8

 

 

40

R

2

2

L

4

3456 R L

4

2 L R

l *[1

]

At l = L (full length of transition)

TotalX

L *[1

 

2

L

4

L

40

R

2

3456 R

4

]

y

l

3

6 RL

At l = L (full length of transition)

TotalY

2

L

6 R

y tan   x      3
y
tan
 
x
 
3

= Polar deflection angle

 x      3 = Polar deflection angle Up to 15 degrees

Up to 15 degrees of deflection - Length along Curve or along chord (10 equal chords)?

11 33

CCuubbiicc PPaarraabboollaa

If we assume that cos= 1, then x = l.

Further if we assume that sin= , then

x = l and TotalX L

y

3

x

6 RL

and

TotalY

2

L

6 R

Cosine series is less rapidly converging than sine series. This leads to the conclusion that Cubic parabola is inferior to cubic spiral.

However, cubic parabolas are more popular due to the fact that they are easy to set out in the field as it is expressed in Cartesian coordinates.

Rest all other parameters are same as clothoid. Despite these are less accurate than cubic spirals, these curves are preferred by highway and railway engineers, because they are very easy to set.

1.3.1 Minimum Radius of Cubic Parabola

RL Radius at any point on cubic parabola is r  2sin  cos 5
RL
Radius at any point on cubic parabola is
r
2sin
cos
5 
1
A cubic parabola attains minimum r at
tan 
5
So,
r
1.39
RL
min
So cubic parabola radius decreases from infinity to r
1.39
RL
at 24 degrees, 5 min, 41
min
sec and from there onwards it starts increasing again. This makes cubic parabola
useless for deflections greater than 24 degrees.

11 44

SSiinnuussooiiddaall CCuurrvveess

These curves represent a consistent course of curvature and are applicable to transition between 0 to 90 degrees of tangent deflections. However these are not popular as they are difficult to tabulate and stake out. The curve is steeper than the true spiral.

Following is the equation for the sinusoidal curve

l

2

2 RL

L

4

2

R

 

cos   2 l   1

L

Differentiating with l we get equation for 1/r, where r is the radius of curvature at any given point.

r

2

LR

l

2

L

*

2

L

SIN

l

X and Y values are calculated dl*cos, and dl*sin.

1.4.1 Key Parameters

Radius equation is derived from the fact that

d

1

dl

r

l

2

L

* sin   2

l

L

2

LR

If we further differentiate this curvature again w.r.t length of curve we get

this curvature again w.r.t length of curve we get Rate of change of curvature = 2

Rate of change of curvature =

2

d

dl

2

 

1

LR

1

LR

cos  

2

L

 

 

Unlike clothoid spirals, this “rate of change of curvature” is not constant in Sinusoidal curves. Thus these “transition curves” are NOT true spirals – Chakri 01/20/04

Two most commonly used parameters by engineers in designing and setting out a “transition curve are L (spiral length) and R (radius of circular curve). Following are spiral parameters expressed in terms of these two.

Spiral angle at a length l along the spiral =

l

2

2

RL

 

L

4

2

R

L

 

s 2 R

= Spiral angle [subtended by full length (or) l = L]

 

cos   2 l   1

L

= s1+ c+ s2 (where c is the angle subtended by the circular arc).

1.4.2 Total X Derivation

subtended by the circular arc). 1.4.2 Total X Derivation  dx  dl cos  x

dx dl cos

x

dl cos, where

l

2

2

RL

L

4

2

R

 

cos   2 l   1

L

To simplify the problem let us make following sub-functions:

If

2*l

L

x

l

1

2

L

3

L

32

4

R

2

3840

5

R

2

3

5

20

3

30

240

60

2

sin

30cos

 

sin

120

* cos

At l = L (full length of transition); x=X and = . Substituting these in above equation we get:

 =  . Substituting these in above equation we get: TotalX  X  L

TotalX

X

L


1

96

4

160

2

420

*

2

L

R

2


   

3840

4

3

L

R

X

L

0.02190112582400869

2

i. Total Y Derivation

dy dl sin

y

dl sin, where

2

2

l

RL

4

L

2

R

 

cos   2 l

L

 1

TotalY

Y

L

   1

6

1

  *

L

  

1

1

5

209

 

  *

3

L

   

4

2

R

336

 

160

2

128

4

3

3072

6

R

3

X L

0.1413363707560822

L

R

0.0026731818162654

L

R

3

ii. Other Important Parameters

At l = L (full length of transition); becomes spiral angle = s. Substituting l=L in equation 20 we get:

angle =  s. Substituting l=L in equation 20 we get:   s l 

s

l

L

L

2 R

(deflection between tangent before and tangent after, of the transition curve)

arctan(

y

)

= Polar deflection angle (at a distance l along the transition)

 

x

TotalY

 

arctan(

TotalX

)

= Angle subtended by the spiral’s chord to the tangent before

P = shift of the curve = AE – BE

P TotalY R

K TotalX R sin

(1

cos

s

)

s (= TA. This is also called as spiral/transition extension)

Tangent (extended) length = TV =

(

R

P

) tan

2

K

In the above equation we used total deflection angle 

P* TAN/2 is also called as shift increment;

Long Tangent = TD1 =

Short Tangent = DD1 =

TotalX - TotalY * cot

TotalY * cos ec

s

s

Some cool stuff: - What is the length of spiral by shifted curve PC point. Is curve length TC = curve length CD.

11 55

CCoossiinnuussooiiddaall CCuurrvveess

Following is the equation for the Cosinusoidal curve

1

2 R

l

L

*sin

l  

 

L

Differentiating with l we get equation for 1/r, where r is the radius of curvature at any given point.

r

2 R

1 cos

l

L

1.5.1 Key Parameters

Previous equation is derived from the fact that

d

1

1

cos

l

L

dl

 

r

2 R

If we further differentiate this curvature again w.r.t length of curve we get

this curvature again w.r.t length of curve we get Rate of change of curvature = 2

Rate of change of curvature =

2

d

dl

2

2

RL

sin

l

L

Unlike clothoid spirals, this “rate of change of curvature” is not constant in Cosinusoidal curves. Thus these “transition curves” are NOT true spirals

Two most commonly used parameters by engineers in designing and setting out a “transition curve are L (spiral length) and R (radius of circular curve). Following are spiral parameters expressed in terms of these two.

Spiral angle at a length l along the spiral =

1

2 R

l

L

*sin

L

s 2 R

= Spiral angle [subtended by full length (or) l = L]

l  

 

L

= s1+ c+ s2 (where c is the angle subtended by the circular arc).

1.5.2 Total X Derivation

subtended by the circular arc). 1.5.2 Total X Derivation  dx  dl cos  x

dx dl cos

x

cosdl

To simplify the problem let us make following sub-functions:

From eqn. 43 we get ->

L

l

2

R

L

sin

l  

L

If

*l

L

x

 

l

2

L

*

8

2

R 2

L   

3

3

sin

*cos

  2

 

  

2

  2 sin

  

cos

At l = L (full length of transition); x=X and = . Substituting these in above equation we get:

 

TotalX

X

L

2

 

2

 

9

2 *

3

L

 

X

L

48

0.0226689447

3

L

R

2

 

R

2

1.5.3 Total Y Derivation

 
dy  dl sin   

dy dl sin

 

From eqn. 43 we have

L

l

sin

l  

 

*l

2

R

L

L

 

 

If

L

y

L *

L

(

2

2

2

R

2

cos

1)

L

3

4

sin

2

* cos

16 cos

48

4

R

3

4

3

3

3

2

cos

6

 

sin

3

2

3

sin 2

3 cos 2

137  

4

4

8

24

At l = L (full length of transition); x=X and = . Substituting these in above equation we get:

 


  1

4

 

1

*

2

L

   6

 

4

54

2

256   *

3

L

R 3

TotalY

Y

L

 

 

R

 

1152

4

 

L

3

L

R 3

Y L

* 0.1486788163576622

Y  L * 0.1486788163576622   R    0.0027402322400286 *  

R

0.0027402322400286 *


1.5.4 Other Important Parameters

At l = L (full length of transition); becomes spiral angle = s. Substituting l=L in equation 20 we get:

s

l

L