Anda di halaman 1dari 24

Mekanisme Infeksi Bakteri Rhizobium pada Akar Tanaman

Ridahati Rambey 2010


Sejarah
Penemuan fiksasi nitrogen yang konsisten dalam ekstrak yang bebas seldari Clostridium
pasteurianum oleh Carnahan dan kawan-kawan di laboratoriumDu Pont di Amerika Serikat pada tahun 1960,
merupakan tonggak sejarah dalam bidang fiksasi nitrogen secara biologi. Perluasan pengetahuan yang cepat
dalam genetika bakteri telah memberikan pengaruh besar dalam studi mengenai bakteri penambat N.
Genetika mikroorganisme penambat nitrogen dipelajari oleh Postgate dan kawan-kawan di Inggris dan gen
yang bertanggungjawab untuk fiksasi nitrogen sudah berhasil dipindahkan dari bakteri penambat nitrogen ke
bakteri yang bukan penambat nitrogen (Rao, 1994).
Pengertian Rhizobium
Bakteri rhizobium adalah salah satu contoh kelompok bakteri yang berkemampuan sebagai penyedia hara
bagi tanaman. Bila bersimbiosis dengan tanaman legum, kelompok bakteri ini kan menginfeksi akar tanaman
dan membentuk bintil akar di dalamnya. Rhizobium hanya dapat memfiksasi nitrogen atmosfer bila berada di
dalam bintil akar dari mitra legumnya. Peranan Rhizobium terhadap pertumbuhan tanaman khususnya
berkaitan dengan masalah ketersediaan hara bagi tanaman inangnya.
Suatu pigmen merah yang disebut leghemeglobin dijumpai dalam bintil akar antara bakteroid dan selubung
membrane yang mengelilinginya. Jumlah leghemeglobin di dalam bintil akar memeliki hubungan langsung
dengan jumlah nitrogen yang di fiksasi (Rao, 1994)
Rhizobium yang berasosasi dengan tanaman legume mampu menfiksasi 100-300 kg N/ha dalam satu musim
tanam dan meninggalkan sejumlah N untuk tanaman berikutnya. Permasalahan yang perlu diperhatikan
adalah efisiensi inokulan rhizobium untuk jenis tanaman tertentu. Rizobium mampu mencukupi 80%
kebutuhan nitrogen tanaman legume dan meningkatkan produksi anatara 10 % - 25%. Tanggapan tanaman
sangat bervariasi tergantung pada kondisi tanah dan efektifitas populasi asli (Sutanto, 2002 dalam Rahmawati
2005).
Klasifikasi Rhizobium
Bakteri bakteri yang termasuk dalam genus rhizobium hidup bebeas dalam tanah dan dalam daerah
perakaran tumbuh-tumbuhan legume maupunbukan legume. Walaupun demikian, bakteri rhizobium dapat
bersimbiosis hanya dengan tumbuh-tumbuhan legume, dengan menginfeksi akarnya dan membentuk bintil
akar di dalamnya; pengecualian satu-satunya adalah bintil akar pada trema (parasponia)
oleh Rhizobium sp. Bakteri bintil akar telah dibedakan berdasarkan pertumbuhan nya pada substrat tertentu,
sebagia cepat tumbuh dan lambat tumbuh.
Genus 1 : Rhizobium
R. leguminosarum, R meliloti, R Loti merupakan galur-gallur yang tumbuh cepat membentuk bintil.
Genus 2. Bradyrhizobium (spesies : Bradyrhizobium sp, B. japonicum)
Galur-galur yang tumbuh lambat, memiliki flagel polar atau subpolar yang membentuk bintil pada
kedelai, Lotus uliginosus, L. pendutulatus, dan vigna. Yang termasuk galur-galur yang tumbuh lambat
membentuk bintil pada cicer, sesbania, leucaena, mimosa, lablab dan acasia. (Rao,1994)
Struktur Bintil
Pusat dari bintil yang masuk membentuk zone bakteroid yang dikelilingi oleh beberapa lapis sel
korteks. Volume relative jaringan bakteroid (16 samapai 50% dari berat kering bintil) jauh lebih besar pada
bintil yang efektif dibanding pada bintil yang tidak efektif. Volume jaringan bakteroid dalam bintil yang efektif
memiliki hubungan langsung yang positif dengan jumlah nitrogen yang difiksasi. Bintil yang tidak efektif yang
dihasilkan oleh galur-galur yag tidak efektif umumnya kecil dan mengandung jaringan bakteroid yang tidak
berkembang baikyang berhubungan dengan keabnormalan strukturnya. Bintil yang efektif umumnya besar dan
berwarna merah muda (karena leghemoglobin) denganjaringan bakteroid yang berkembang dan terorganisasi
dengan baik (Rao, 2004).
Sebuah bakteroid yang berkembang baik tidak memiliki falgel dan di kelilingi oleh 3 unit membrane. Terdapat
suatu system membrane intrasitoplasmik di dalam jaringan bakteroid bintil akar semanggi bawah tanah.
Daerah inti bakteroidtampak terbagi-bagi dan berhubungan dengan sitoplasma granuler. Bakteroid-
bakteroiddapat dihasilkan secara in vitro pada suatu medium yang mengandungekstrak khamir 3,5 %. Kafein
beberapa alkaloid lain juga merrangsang dihasilkannya bakteroid pada medium buatan. Tergantung dari
legumnya, setiap bakteroid atau kelompok bakteroid dikelilingi oleh selubung membrane yang identatasnya
diinterpretasikan macam-macam, mungkin karena digunakannya teknik yangberbeda-beda dalam mempelajari
struktur halus ini (Rao, 2004).
Faktor yang mempengaruhi pembentukan bintil akar
Factor lingkungan yang mempengaruhi penamban N2 oleh rhizobium adalah keasaman tanah, kandungan
hara, fotosintesis, iklim dan pengelolaan tanaman.
1. Keasaman tanah. Kemasaman tanah sangat mempengaruhi infektifitas dan efektifitas rhizobium, pengeruhnya
nyata pada pembibitan dan fiksasi N2 udara. Rhizobia dan akar tanaman kacang-kacangan dapatt diruikan oleh
unsure meracun Al3+ dan H2PO4- tersedia. Sensitifitas rhizobium terhadap kemasaman tanah berbeda
menurut spesiesnya. Rhizobium meliloti pada perakaran alfalfa sangat berkurang populasinya pada tanah
dengan pH kurang dari 6. Hal ini menyebabkan bintil akar dan hasil alfafa sangat berkurang. Lain halnyya
dengan R trifoli dimana jumlah bintil akar dan hasil tanaman inang red clover tidak berpengaruh pada pH
berkisar 5,0-7,0.
2. Kandungan hara.
Maksimum penambatan N2 terjadi hanya bila ketersediaan N di dalam tanah minimum. Kelebihan konsentrasi
NO3- di dalam tanah dapat mengurangi aktifitas nitrogenase sehingga mengurangi aktivitas nitrogenase
sehingga mengurangi aktivitas rhizobium dan penambatan N2. Pengurangan penambatan N2 dihubungkan
dengan adanya kompetisi untuk fotosintat antara reaksi reduksi NO3- dan penambatan N2.
3. Fotosintsis dan iklim.
Pembentukan Simbiosis antara Rhizobium dengan Leguminose
Simbiosis antara Rhizobium dengan Leguminose dicirikan oleh struktur bintil akar pada tanaman
inang (leguminoseae). Pembentukan bintil akar dimulai dengan sekresi produk metabolism tanaman ke
daerah perakaran yang menstimulasi pertumbuhan bakteri. Proses pembentukan bintil akar di awaali dengan
kolonisasi bakteri bintil akar di rhizosfer tanaman kacang-kacangan. Penelitian Chebotar et al. (2001)
memperlihatkan kolonisasi B japonicum 5 hari setelah inokulasi pada tanaman kedelai terdapat pada ujung
akar dan permukaan akar dekat ujung akar. Tchebotar et al, (1998) mengatakan Koinokulasi antara A.
lipoferum T1371 dan R. leguminosarum pada tanaman clover white, menunjukkan terjadinya kolonisasi bakteri
pada pangkal akar, akar sekunder pada rambut akar (Rahmawati, 2005)
Setelah terjadi kolonisasi pada akar oleh galur rhizobium yang cocok, proses infeksi dan nodulasi terjadi lebih
kurang sebagai berikut:
1. Deformasi (perubahan bentuk) bulu akar (yaitu membelok atau bercabang), mungkin sebagai respon terhadap
etilen, yang dirangsang oleh IAA.
2. Pembentukan benang infeksi untuk mentransfer sel-sel bakteri ke dalam korteks akar
3. Pelepasan bakteri ke dalam sel-sel korteks
4. Pembentukan meristem bintil dan perluasan bintil dengan pembelahan sel-sel korteks.
5. Pembesaran sel-sel korteks yang terinfeksi di bagian dalam bintil
6. Dalam bintil yang lebih tua, hilangnya selubungg bakteroid (bakteri bintil) dan aktifitas nitrogenase dengan
dimulainya proses penuaan (Gardner, et al. 1991).
Mekanisme Infeksi Rhizobium pada Akar Tanaman
Rambut akar normal
Pengeluaran zat organic olehh akar
Akumulasi rhizobium dalam rhizosfer
Triptofan berubah menjadi asam indol asetat
Penggulungan dan deformasi rambut akar
Ikut sertanya lektin dalam pengenalan rhizobium
Penggabungan rhizobium ke dalam dinding sel dan partisipasinya dalam intussusepsi
Invaginasi sel rambut akar membentuk benang infeksi insipient (yang baru jadi)
Benang yang mengandung bakteri bentuk batang meluas ke dalam sel rambut akar yang dipandu oleh
nucleus rambut akar
Masuknya benang infeksi ke dalam korteks akar dan mengadakan percabangan (Rao, 2004).
Tampaknya terdapat suatu interaksi yang mendalam antara nucleus sel rambut akar dan benag infeksi
yang diawali pada ujung bagian rambut akar yang menggulung. Nukleus memberi petunjuk mengenai jalur
benang infeksi di dalam rambut akar yag menggulung. Nukleus memeberi petunjuk menegenai jalur benang
infeksi di dalam rambut yang terbukti dari adanya fakta bahwa apabila nucleus menjadi tidak terorganisasi,
pertumbuhan benang kan berhenti. Apabila nucleus bergerak ke ujung distal dari rambut dan kemudian
bergerak kea rah ujung proksimal dekat korteks, benang infeksi juga bergerak ke atas dan ke bawah sebelum
memasuki korteks. Jelaslah, bahwa suatu bentuk pesan atau impuls dipindahkan dari nucleus inang ke
kandungan dari benang infeksi.
Penelitian intensif terhadap kecambah semanggi telah menunjukkan butir-butir penting berikut
mengenai infeksi rambutt akar: (1) infeksi rambut akar tidak terjadi secara acak tetapi terjadi pada beberapa
titik yang terpisah jauh, (2) tempat-tempat infeksi primer ini membentuk daerah infeksi dengan adanya infeksi
berikutnya pada rambut akar, (3) jumlah rambut akar yang terinfeksi terus meningkat secara eksponensial
sampai bintil yang pertama terbentuk diikuti oleh berkurangnya jumlah infeksii setelah itu, dan (4) tidak semua
infeksi menghasilkan pembentukan bintil.
Ada dua cara masuk rhizobium ke dalam rambut akar (1) masuknya penerobos bentuk koloid kecil melalui
celah dalam mikrofibril selulosa dan (2) invaginasi langsung dari sel rambut akar. Hipotesis invaginasi
bertumpu pada landasan bahwa auksin dan enzim-enzim pektat pada permukaan perakaran berinteraksi untuk
menghasilkan daerah lunak yang terlokalisasi pada rambut akar yang memudahkan pertumbuhhan ke dalam
dinding sel rambut akar
Rhizobium tidak mampu menghasilkan pektinase atau selulose dalam media kultur yag di tambah dengan
pectin atau selulose
Rekayasa Genetik pada Rhizobium
Tampaknya bahwa ruang lingkup perbaikan simbiosis legume-rhizobium tidak terlepas dari upaya
perbaikan sifat genetic baik yang terdapat pada bakteri maupun pada tanaman inang. Penggabungan metode
rekayasa genetic merupakan cara yang paling produktif. Perlu makin dipahami bahwa peristiwaa pembentukan
signal yang terjadi selama perbaikan nodulasi, dalam rangka memanipulasi aspek simbiosis legume-rhizobium.
Perbedaan karakter antara Rhizobium, Bradyrhizobium, dan azorhizobium adalah kesemuanya mampu
memasuki ke dalam tanaman legume melalui simbiotik yang melangsungkan fiksasi nitrogen dari udara
(Rahmawati, 2005).
Secara umum, fiksasi nitrogen biologis sebagai bagian dari input nitrogen untuk mendukung
pertumbuhan tanaman telah menurun akibat intensifikasi pemupukan anroganik. Penurunan penggunaan
pupuk nitrogen yang nyata agaknya hanya dapat dicapai jika agen biologis pemfiksasi nitrogen diintegrasikan
dalam sistem produksi tanaman (Hindersah, 2004).
Tanah sehat dan subur merupakan system hidup dinamis yang dihuni oleh berbagai organism (mikro flora,
mikro fauna, serta meso dan makro fauna). Organisme tersebut saling berinteraksi membentuk suatu rantai
makanan sebagai manifestasi aliran energi dalam suatu ekosistem untuk membentuk tropik rantai makanan
(Simarmata et al,2003). Dalam ekosistem tanah, tropik rantai makanan dimulai dari tropik level pertama, yaitu
kelompok organisme (tanaman dan bakteri) produsen yang mampu memanfaatkan sinar matahari sebagai
sumber energinya. Selanjutnya diikuti oleh tropic kedua hingga ke tingkat tropik yang tertinggi. Hal ini berarti,
bahwa kehadiran suatu organisme akan mempengaruhi keberadaan organisme lain secara langsung maupun
tidak langsung. Kesehatan tanah dapat dievaluasi secara kualitatif maupun kuantitatif dengan menggunakan
indikator seperti kemampuan tanah sebagai media tumbuh tanaman maupun mikroba (Simarmata et al, 2003).
Secara umum, rizosfir ekosistem tanah yang sehat akan dihuni oleh organisme yang menguntungkan yang
memanfaatkan substrat organik dari bahan organik atau eksudat tanaman sebagai sumber energi dan
nutrisinya. Sejumlah mikroba memegang peran penting pada tanah yang normal dan sehat, dan merupakan
indikator dalam menentukan kualitas tanah. Mikroba tanah berperan dalam proses penguraian bahan organik,
melepaskan nutrisi ke dalam bentuk yang tersedia bagi tanaman, dan mendegradasi residu toksik (Sparling
1998). Selain itu, mikroba juga berperan sebagai agen peningkat pertumbuhan tanaman (plant
growth promting agents) yang menghasilkan berbagai hormon tumbuh, vitamin dan berbagai asam-asam
organik yang berperan penting dalam merangsang pertumbuhan bulu-bulu akar. Salah satu kelompok
organisme yang penting dalam ekosistem tanah dan berperan sebagai agen peningkat pertumbuhan tanaman
adalah rizobakteri yaitu bakteri yang hidup di rizosfir tanaman dan mengalami interaksi yang intensif dengan
akar tanaman maupun tanah. Kesehatan biologis suatu tanah akan banyak ditentukan oleh
dominasi (Hindersah, 2004).
DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, M. 2009. Studi Isolasi bakteri Rhizobium yang diinokulasikan ke dalam
Dolomit Sebagai Pembawa (Carrier) Serta Pemanfaatannya Sebagai Pupuk Mikroba. Departemen Kimia
FMIPA USU Medan.
Gardner, FP et al. Fisiologi Tanaman Budidaya. 1991. UI Press. Jakarta.
Hindersah, R dan Tualar Simarmata. 2004. Potensi Rizobakteri Azotobacter dalamMeningkatkan Kesehatan
Tanah. Fakultas Pertanian. Universitas Padjadjaran. Bandung. Jurnal natur Indonessia.
Rao, Subba. N. S. 1994. Mikroorganisme Tanah dan Pertumbuhan Tanaman. UI Press. Jakarta
Rahmawati, N. 2005. Pemamfaatan Biofertilizer Pada Pertanian Organik. Fakultas Pertanian Universitas
Sumatera Utara. Medan



STUDI PENDAHULUAN ISOLASI BAKTERI RHIZOBIUM DARI BINTIL AKAR KACANG TANAH (arachis
hypogaea.L) SERTA PEMANFAATANNYA SEBAGAI PUPUK MIKROBA ( BIOFERTILIZER)
PENDAHULUAN
Rhizobium merupakan bakteri yang mampu mengikat nitrogen dengan membentuk bintil akar pada tanaman
kacang kacangan, (Rahman, 2002).
Dalam fiksasi nitrogen, bakteri melakukan simbiosa mutualistis dengan tanaman (misalnya Leguminosa)
membentuk bintil bintil akar tanaman, bakteri mendapatkan makanannya dari tanaman inangnya, sedang
kepentingan nitrogen bagi tanaman itu disediakan oleh bakteri tadi. Hidup bersama antara bakteri dengan
tanaman yang saling menguntungkan disebut simbiosa mutualistis, (Mulyani,1996).
Rhizobium yang efektif pada bintil akar, mampu memenuhi seluruh atau sebagian kebutuhan nitrogen bagi
tanaman. Berdasarkan kemampuan tersebut, rhizobium memiliki andil yang cukup besar dalam peningkatan
produktivitas pertanian, terutama tanaman kacang kacangan, ( Rahman, 2002).
Menurut dinas pertanian Tingkat II Karo, 2005 bahwa penggunaan pupuk anorganik telah dimulai lima puluhan
tahun yang lalu. Untuk meningkatkan produksi, penggunaan pupuk juga selalu ditingkatkan, sehingga telah
melewati ambang batas dari yang disarankan oleh dinas pertanian. Akibatnya struktur tanah menjadi rusak,
misalnya pH tanah terlalu asam, padat dan berdebu pada saat musim kemarau dan berlumpur di musim hujan
sehingga tanaman sulit berkembang, bahkan sering terjadi pembentukan umbi pada akar. Akibatnya produksi
turun secara drastis.
Para petani juga menyadari hal ini, sehingga masyarakat petani berusaha beralih menggunakan pupuk organik
seperti kotoran hewan, kompos ataupun humus dari hutan hutan yang ada di sekitarnya. Untuk memperoleh
pupuk dalam bentuk kotoran hewan sudah sangat sulit sehingga salah satu alternatif yang mungkin adalah
menggunakan humus dari hutan hutan sekitarnya, (Motsara, 2001).
Penjarahan humus dari hutan juga telah berlangsung lama mengakibatkan humus di hutanpun habis.
Terjadinya penjarahan humus ini mengakibatkan fungsi hutan sebagai daerah tangkapan hujan menjadi rusak,
ekosistem terganggu sehingga sering terjadi banjir maupun tanah longsor, (Dinas Kehutanan Tingkat II Karo,
2005).
Pada tahun terakhir ini, penggunaan pupuk mikroba dalam bentuk isolat di dalam pembuatan pupuk telah
banyak dikembangkan, yang dikenal dengan pupuk mikroba. Penggunaan pupuk mikroba ini tidak
menimbulkan pencemaran dan aman untuk dipakai, disamping harga yang relatif lebih murah, (Subba,1994).
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian isolat rhizobium yang diisolasi
dari bintil akar tanaman kacang tanah ( arachis hypogaea) yang kemudian diaplikasikan pada tanaman jagung
di lapangan .

BAHAN DAN METODE PENELITIAN
Bahan
Sampel ( bintil akar kacang tanah), media YEMA ( Yeast Extract Manitol Agar), Media M Y ( Malt Yeast )
ekstrak, akuades steril, kristal KI, kristal I2, kongored, safranin, kristal violet, aseton, etanol 95%, akuades,
alkohol 96%, larutan H2O2 5%, (NH4)2C2O4, serbuk kayu steril.
Alat
Cawan petri, tabung reaksi, rak tabung, pipet volum, labu takar, gelas ukur, gelas beker,gelas erlenmeyer,
autoklaf, oven, hotplate, inkubator, mikroskop, water bath, alu dan mortir, gelas objek dan cover, neraca
analitis, alumunium foil, propipet, batang pengaduk, spatula, jarum ose, pipet tetes, plastik tahan panas,
pinset, bunsen, tungku segitiga, cawan porselin.
Prosedur
(1). Bintil akar kacang tanah dicuci dengan akuades steril. (2). Disterilisasi dengan alkohol 96% selama + 10
detik lalu diikuti dengan H2O2 5% selama + 15 menit. (3). Sampel yang telah steril digerus dalam 1 mL akuades
yang telah steril. (4). Sampel sebanyak 1 ose diinokulasi pada media YEMA yang dicampur kongored pada
cawan petri hingga diperoleh koloni rhizobium yang berwarna putih. (5). Dilakukan penanaman kembali
(replanting) untuk mendapatkan biakan murni. (6). Koloni rhizobium diinokulasi pada media M Y (Malt
Yeast) ekstrak sambil dishaker pada temperatur 25 30 oC selama + 4 hari hingga diperoleh starter kultur. (7).
Starter kultur diinokulasikan ke dalam serbuk gergajian kayu selama + 15 hari pada temperatur 25 30 oC. (8).
Dihitung jumlah sel rhizobium pada serbuk gergajian kayu dan diaplikasikan di lapangan pada tanaman jagung
dengan mengukur diameter batang, panjang daun dan lebar daun tanaman jagung. (9). Pengukuran diameter
batang, panjang daun dan lebar daun dilakukan setiap sekali seminggu sambil diamati hasilnya.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Dari hasil penelitian pupuk mikroba yang diaplikasikan pada tanaman jagung dapat dilihat bahwa
pertumbuhan jagung dengan menggunakan pupuk mikroba dan tanaman jagung tanpa penggunaan pupuk
mikroba (blanko) memberikan hasil yang berbeda. Hal ini dapat dilihat dari tabel berikut ini :
Tabel 1. Data Penghitungan Jumlah Sel Bakteri Rhizobium

Sampel Media Pengenceran Jumlah Koloni
Jumlah
sel
Blanko PCA 106 0 0 0
107 0 0
Kacang tanah PCA 106 1 1 3 x 106
107 1 0


Perhitungan Jumlah Sel Bakteri
CFU/mL= axdf/V
Keterangan :
a : rata rata jumlah koloni per petri agar
df : faktor pengenceran
V : volume suspensi biakan yang disebarkan
CFU : Colony Forming Unit

1. Untuk faktor pengenceran 106
CFUmL=(1 10^6)/1mL
CFU(mL=1 10^6 )

2. Untuk faktor pengenceran 107
CFU(mL=(0,5 10^7)/1mL@)
CFU(mL=510^6 )

jumlah sel=(110^6+510^6)/2
jumlah sel=310^6

Pembahasan
Pada penelitian ini, bahan pembawa ( carrier) yang digunakan adalah serbuk gergajian kayu, karena serbuk
gergajian kayu lebih ekonomis dan mudah didapat dibandingkan dolomit dan bentonit sehingga lebih efisien
disamping untuk pemanfaatan limbah. Bahan pembawa (carrier) serbuk gergajian kayu juga digunakan untuk
mengetahui apakah rhizobium di dalam serbuk gergajian kayu masih dapat memfiksasi nitrogen dari udara. Hal
ini dapat dilihat dari data hasil pengamatan yang menunjukkan bahwa tanaman jagung yang diberi pupuk
mikroba dengan isolat rhizobium dari bintil akar kacang tanah yang diinokulasikan pada serbuk gergajian kayu
memiliki pertumbuhan yang lebih subur daripada tanaman jagung tanpa penggunaan pupuk mikroba atau
yang diberi blanko.
Ini dibuktikan dari data pengamatan tanaman jagung pada 1 minggu dengan diameter batang pada sampel
adalah 1,5 ; 1,4 dan 1,2. Sedangkan diameter batang pada blanko adalah 1. Panjang daun sampel adalah 12; 9;
15 dan 15,5. Sedangkan panjang daun yang diberi blanko adalah 10. Serta lebar daun pada sampel adalah 2,1;
2,3 dan 1,6. Sedangkan lebar daun pada blanko adalah 1,5. Warna daun pada tanaman jagung yang diberi
pupuk mikroba berwarna hijau muda sedangkan warna daun tanaman jagung tanpa pemberian pupuk atau
pada blanko adalah berwarna hijau tua.
Pada minggu terakhir pengamatan ( minggu ke-6), diameter batang pada sampel adalah 4,8; 4,8 dan 4,8.
Sedangkan diameter batang pada tanaman jagung tanpa pupuk adalah 3. Panjang daun pada sampel adalah
71,5; 66,5 dan 4,8. Sedangkan lebar daun pada tanaman jagung tanpa pupuk adalah 57,9. Lebar daun pada
sampel adalah 5,2; 5,7 dan 4,8. Sedangkan lebar daun pada tanaman jagung tanpa pupuk atau pada blanko
adalah 3,2. Warna daun tanaman jagung yang diberi pupuk adalah berwarna hijau muda, sedangkan warna
daun tanaman jagung tanpa pemberian pupuk berwarna hijau tua. Ini berarti tanaman jagung dengan
menggunakan pupuk mikroba dengan isolat rhizobium dari bintil akar kacang tanah yang diinokulasikan pada
serbuk gergajian kayu masih dapat memfiksasi nitrogen dari udara, dimana nitrogen merupakan unsur hara
yang sangat dibutuhkan oleh tanaman jagung. Sedangkan tanaman jagung tanpa pemberian pupuk, unsur
haranya terbatas pada polibag tersebut.

KESIMPULAN

Dari hasil penelitian diperoleh simpulan sebagai berikut : (1). Rhizobium yang diisolasi dari bintil akar tanaman
kacang tanah dengan bahan pembawa (carrier) serbuk gergajian kayu dapat memfiksasi nitrogen dari udara
yang dibuktikan dari pengamatan diameter batang, panjang daun dan lebar daun tanaman jagung selama 6
minggu yang lebih besar daripada tanaman jagung tanpa penggunaan pupuk (blanko). (2). Biakan murni
rhizobium dapat diperoleh dengan menggunakan media selektif yaitu Yeast Ekstrak Manitol Agar (YEMA)
dengan kongo red.

DAFTAR PUSTAKA
AAK ( Aksi Agraris Kanisius), (2000), Kacang Tanah, Cetakan ke 2, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Dinas Pertanian Tingkat II, (2005), Karo.

Dinas Kehutanan Tingkat II, (2005), Karo.

Gaman & Sherrington, (1992), Ilmu Pangan: Pengantar Ilmu Pangan, Nutrisi danMikrobiologi, Edisi ke 2,
Gajah Mada University Press, Yogyakarta.

Motsara and Bisoyi, (2001), Corp. Demonstration on Biofertilizer, N.B.D. Center Ghaziabad, UP, New Delhi.

Mulyani, Mul, (1996), Mikrobiologi Tanah, Cetakan ke 2, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta.

Novizan, (2005), Petunjuk Pemupukan Yang Efektif, Edisi Revisi, Cetakan ke 6, PT. Agromedia Pustaka, Jakarta.

Pelczar, Michael.J., (1988), Dasar Dasar Mikrobiologi, Cetakan ke 1, Terjemahan Hadioetomo,Ratna,dkk,
Penerbit UI, Jakarta.

Rao, Subba,(1994), Mikroorganisme Tanah dan Pertumbuhan Tanaman, Edisi ke 2, Terjemahan Herawati,
Susilo, Penerbit UI, Jakarta.

Schlegel, Hans, (1994), Mikrobiologi Umum, Terjemahan Baskoro, Tedjo, UGM- Press, Yogyakarta.

Sutanto, Rachman, (2002), Penerapan Pertanian Organik, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Tilak, (1991), Bacterial Fertilizers, Indian Council of Agricultural Research, New Delhi.
simbiosis Rhizobium sp. dengan tanaman kacang-kacangan
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dunia ini sungguh menakjubkan. Tuhan menciptakan mahluk hidup yang ternyata ada tanaman yang
bersahabat kental dengan mikroba. Mereka hidup rukun saling berbagi dan saling membantu. Bahkan mereka
sangat setia kawan. Mereka adalah Rhizobium sp. yang bersahabat dengan akar kacang-kacangan.
Tanaman kacang-kacangan atau legum adalah tanaman yang unik,contoh tanaman ini adalah kacang tanah,
kedelai, kacang merah, kacang koro, kacang hijau, dll. Pada tanaman ini biasanya terdapat bintil-bintil kecil
pada akarnya.
Di bintil akar inilah sahabat kecil kacang-kacangan hidup. Namanya Rhizobium sp. mahluk kecil ini hidup
menumpang di akar kacang-kacangan. Tanaman kacang-kacangan menyediakan tempat tinggal dan memberi
makanan untuk sang sahabat, Sebagai gantinya Rhizobium sp. membantu kacang-kacangan untuk
mendapatkan sari-sari makanan N (nitrogen) yang berasal dari udara.Nitrogen merupakan salah satu makanan
utama tumbuhan.
Rhizobium memiliki kemampuan luar biasa yang tidak banyak dimiliki oleh mikroba lain, yaitu kemampuan
untuk menambat N langsung dari udara. Seperti kita tahu bahwa kandungan
utama udara adalah gas nitrogen yang lebih dari 70% kandungan udara. Meskipun melimpah tanaman tidak
bisa langsung menyerap kandungan N dari udara. N harus tetap diserap dari akar, Untunglah ada rhizobium
yang membantu tanaman kacang-kacangan mendapatkan N dari udara. Ternyata Persahabatan Rhizobium
dengan tanaman kacang-kacangan ini sangat kental sekali. Rhizobium hanya mau bersahabat dengan kacang-
kacangan. Di dunia jasad renik ini ada banyak jenis Rhizobium, demikian pula ada banyak jenis kacang-
kacangan. Ternyata setiap jenis kacang-kacangan memiliki sahabat Rhizobiumnya sendiri-sendiri dan saling
bersimbiosis mutualisme. Misalnya akar kacang kedelai bersimbiosis dengan Rhizobium japonicum.

B. Tujuan
Pentingnya di bidang pertanian
Mengurangi penggunaan pupuk khususnya pupuk N
Menambah kesuburan lahan petanian
Memberi Efek positif bagi tanaman yang akan ditanam selanjutnya

Oleh karena itulah, agar kita semua tahu bahwa bakteri Rhizobium sangat penting dalam pertanian, karena
dengan adanya bakteri Rhizobium dapat membantu tanaman untuk mengikat nitrogen di dalam tanah sebagai
kelangsungan hidup tanaman










KAJIAN PUSTAKA

1. Bakteri Rhizobium pada Legum
Peranan keberadaan bakteri rhizobium yang efektif pada tanaman legum:
Bakteri dapat mengurangi kebutuhan N tanaman karena dapat mensuplainya. N (urea, ZA) yang diberikan bisa
hilang karena pencucian, denitrifikasi, terangkut saat panen. Peran bakteri terjadi saat tanaman dalam kondisi
kekurangan N (proses simbiosis).
Faktor-faktor yang mempengaruhi keberadaan bakteri bintil akar:
1. Sumber makanan (BO dan perakaran)
untuk bertahan sebelum menginfeksi tanaman.
2. Mikroorganisme lain (sbg kompetitor di rizosfir)
terutama yang antagonis, karena dapat menghalangi infeksi
3. Lingkungan
yang mempengaruhi kegiatan fotosintesis untuk menyediakan kebutuhan energi bakteri (cahaya, luas daun,
CO2, pembentukan biji/ fase generatif)
4. pH
yang dikehendaki netral agak basa,
5. Suhu
yang disukai 20-28oC, masing-masing jenis isolat berbeda tanggapnya terhadap suhu
6. Ketersediaan air dan hara untuk fotosintesis
karena fotosintesis yang dihasilkan tanaman dimanfaatkan oleh bakteri
7. Senyawa racun
yang berasal dari herbisida, fungisida di tanah tidak disukai bakteri bintil, dapat berpengaruh terhadap
keberadaan bakteri, salinitas
8. Ketersediaan nutrisi
seperti N yang bisa menghambat bintil; P untuk supali energi; Mo untuk kerja nitrogenase, Fe dan Co utk
laghemoglobin dan transfer elektron
9. Kesesuian genetik antara bakteri dgn tan (utk keperluan infeksi)
(Idonkelor.blogspot.com/2009/08/bakteri-rhizobium-pada-legum.html.)






2. Mekanisme Infeksi Bakteri Rhizobiuam pada Akar



Sebagian besar dari N2 dihasilkan oleh simbiosis Rhizobium. Ada hubungan antara bintil-bintil Leguminose
dengan senyawa N2. Tanaman kacang-kacangan akan tetap tumbuh walaupun tidak ada Nitrogen kalau pasa
akarnya terdapat bintil-bintil ini, bintil-bintil ini timbul karena infeksi rambut akarnya dengan bakteri dari
dalam tanah.

Bintil- bintil Akar pada Tanaman Leguminosa
Bakteri-bakteri yang menimbulkan bintil pasa tanaman Leguminosa, yaitu bakteri bintil, dikelompokkan
dalam genus Rhizobium. Batang-batang Gram-negatif ini yang hidup bebas dalam tanah, tumbuh secara
anaerob ketat dengan senyawa organic sebagai nutrein.
Infeksi tumbuh-tumbuhan terjadi hanya pada rambut akar muda. Bakteri menerobos masuk pada / ketat
pada ujung rambut akar dan tumbuh sebagai benang infeksi sampai ke dasarnya. Benang infeksi ini yang
diliputi oleh membran selulosa kemudian menerobos dinding sel muda dari epidermis dan kulit akar. Kalau
bakteri ini berjumpa dengan sebuah sel tetraploid dan jaringan kulit, maka sel ini dan sel-sel diplois yang ada di
sekelilingnya terangsang untuk membelah, benang infwekinya bercabang dan membagi diri pada sel tetraplois.
Percabangan ini menyebabkan jaringan kortek membesar yang dapat dilihat sebagai bintil. Bintil-bintil ini
merupakan hasil poliferasi jaringan yang terangsang oleh Rhizobium dengan perantara sesuatu faktor
pertumbuhan. Bakteri-bakteri ini amat cepat memperbanyak diri, tumbuh menjadi sel dengan bentuk tidak
teratur ( bakterod ), dengan volume 10-12 kali lipat dari Rhizobium yang dapat bebas, dan akhirnya terletak
dalam sitoplasma sel-sel tumbuh-tumbuhan sebagai sel-sel individual/dalam kelompok yang diselubungi oleh
sebuah membrane. (Hans G. Schlegel,1994 )
Tipe bintil akar :
1. Globus
Ciri: berbentuk bulat, gampang lepas dari akar
2. Peanut
Ciri: berbentuk agak bulat, letaknya terbenam
3. Semi Globus
Ciri: bentuknya tidak beraturan, permukaannya ada yang kasar dan licin.
4. Memanjang
5. Koral
Seringkali bintil akar terdapat pada tanaman legum yang tumbuh pada tanah berpasir yang kurang subur
seperti tanah jenis PMK.
Bintil akar tidak selalu tumbuh di pangkal akar, ada juga yang tumbuh di ujung-ujung akar.
Tidak selalu bintil akar dihuni oleh bakteri rhizobium yang tepat dan efektif.
(Idonkelor.blogspot.com/2009/08/bakteri-rhizobium-pada-legum.html.)


Fungsi dan Ciri-ciri Bintil Akar yang Efektif
Timbulnya pigmen dan di mulainya fiksi N pada saatnya berjalan pararel. Pada pembongkaran
pigmen ini menjadi pigmen empedu hijau ( biliverdin ) hilang juga pengikatan N. Pigmen ini nampaknya
terletak dalam ruang antara bakteroid dengan membrane yang menyelubunginya.
Pembentukan pigmen ini merupakan hasil khusus dari simbiosis : Gugus prostetiknya yaitu
protohem disentris oleh bakteroid, sedangkan bagian proteinnya disentris dengan partisipasi tumbuhan.
Leghemoglobin mirip dengan mioglobin, dan dalam bintil zat ini terdapat terutama dalam bentuk oksi, besi (II)
dan mempunyai afinitas tinggi terhadap O. Dapat dianggap bahwa leghemoglobin mempermudah difusi
O dari membrane selubung melalui ruang tanpa konveksi ke permukaan bakteroid, dan demikaian
meningkatkan kecepatan transport O sifat lemoghlobin menjamin bahwa bakteroid mendapat persediaan
O untuk perolehan energy dan pertumbuhan, tanpa menimbulkan tekanan parsial O terlalu tinggi yang
menghambat fiksasi N oleh bakteroid.
( Sadikin Somaatmadja,1984 )

3. Mekanisme Penambatan Nitrogen oleh Bakteri Bintil Akar


Untuk menambat nitrogen, bakteri ini menggunakan enzim nitrogenase, dimana enzim ini akan
menghambat gas nitrogen di udara dan merubahnya menjadi gas amoniak. Gen yang mengatur proses
penambatan ini adalah gen nif (Singkatan nitrogen fixation). Gen gen nif ini berbentuk suatu rantai , tidak
terpencar kedalam sejumlah DNA yang sangat besar yang menyusun kromosom bakteri, tetapi semuanya
terkelompok dalam suatu daerah. Hal ini memudahkan untuk memotong bagian untaian DNA yang sesuai dari
kromoson Rhizobium dan menyisipkanya ke dalam mikroorganisme lain (Prentis, 1984).
Keuntungan memanfaatkan bakteri rhizobium :
1. Tidak mempunyai bahaya atau efek sampingan
2. Efisiensi penggunaan yang dapat ditingkatkan sehingga bahaya pencemaran lingkungan dapat dihindari
3. Harganya yang relatif murah
4. Teknologinya yang sederhana
Pada proses isolasi yang kita inginkan adalah memisahkan bakteri yang efektif dari koloninya. Untuk
mengetahui efektif atau tidaknya suatu koloni bakteri yang diisolasi maka kita dapat menggunakan media YMA
(Yeast Manitol Agar) yang ditambah dengan Bromtimol Red. Selama proses inkubasi setelah inokulasi
diharapkan berada di ruang gelap selama beberapa hari sampai bakteri tumbuh. Jika yang bakteri yang
tumbuh tersebut berwarna bening atau transparan maka bakteri tersebut efektif dalam memfixasi N dalam
bintil akar.
Ada 2 jenis bakteri rhizobium yaitu bakteri rhizobium yang menghasilkan senyawa. asam dan ada juga
bakteri rhizobium yang menghasilkan senyawa basa. Jenis ini dapat dibedakan dengan melakukan isolasi
bakteri rhizobium pada media YMA + BB. Bakteri yang menghasilkan senya asam, warnanya akan berubah
menjadi kuning sedangkan bakteri yang menghasilkan senyawa basa, warnanya akan semakin biru.

Keberadaan bakteri bintil akar dapat diuji daya infeksi bakteri rhizobium pada akar serta keefektivan
kerja bakteri dalam bintil akar terhadap tanaman melalui uji infektivitas dan uji efektivitas. Untuk melakukan
uji ini diperlukan koloni bakteri rhizobium yang besar.
Terdapat 2 cara dalam menularkan bakteri:
Lewat biji
Lewat tanah
Indikator infektif atau tidaknya suatu bakteri bintil akar dilihat dari jumlah dan berat bintil. Sedangkan
indikator efektivitas bakteri bintil akar berdasarkan berat tanaman dan warna hijau daunnya.

(En. Wikipedia.org/wiki/Rhizobia )
RANGKUMAN

A. Hubungan simbiosis antara tanaman legume dengan bintil akar :

Simbiosis mutualisme yang terjadi. Bakteri mendapatkan zat hara yang kaya energy dari tanaman inang,
sedangkan tanaman inang mendapatkan senyawa nitrogen dari bakteri untuk melangsungkan kehidupannnya.

B. Bintil Akar pada Tanaman Leguminosa

Bakteri-bakteri yang menimbulkan bintil pasa tanaman Leguminosa, yaitu bakteri bintil, dikelompokkan
dalam genus Rhizobium. Batang-batang Gram-negatif ini yang hidup bebas dalam tanah, tumbuh secara
anaerob ketat dengan senyawa organic sebagai nutrein.
Infeksi tumbuh-tumbuhan terjadi hanya pada rambut akar muda. Bakteri menerobos masuk pada / ketat
pada ujung rambut akar dan tumbuh sebagai benang infeksi sampai ke dasarnya. Benang infeksi ini yang
diliputi oleh membran selulosa kemudian menerobos dinding sel muda dari epidermis dan kulit akar. Kalau
bakteri ini berjumpa dengan sebuah sel tetraploid dan jaringan kulit, maka sel ini dan sel-sel diplois yang ada di
sekelilingnya terangsang untuk membelah, benang infwekinya bercabang dan membagi diri pada sel tetraplois.
Percabangan ini menyebabkan jaringan kortek membesar yang dapat dilihat sebagai bintil. Bintil-bintil ini
merupakan hasil poliferasi jaringan yang terangsang oleh Rhizobium dengan perantara sesuatu faktor
pertumbuhan. Bakteri-bakteri ini amat cepat memperbanyak diri, tumbuh menjadi sel dengan bentuk tidak
teratur ( bakterod ), dengan volume 10-12 kali lipat dari Rhizobium yang dapat bebas, dan akhirnya terletak
dalam sitoplasma sel-sel tumbuh-tumbuhan sebagai sel-sel individual/dalam kelompok yang diselubungi oleh
sebuah membran.

Tipe bintil akar :
v Globus
Ciri: berbentuk bulat, gampang lepas dari akar
v Peanut
Ciri: berbentuk agak bulat, letaknya terbenam
v SemiGlobus
Ciri: bentuknya tidak beraturan, permukaannya ada yang kasar dan licin.
v Memanjang
v Koral
Sering kali bintil akar terdapat pada tanaman legum yang tumbuh pada tanah berpasir yang kurang subur
seperti tanah jenis PMK.
Bintil akar tidak selalu tumbuh di pangkal akar, ada juga yang tumbuh di ujung-ujung akar.
Tidak selalu bintil akar dihuni oleh bakteri rhizobium yang tepat dan efektif.
Bintil-bintil ini timbul karena infeksi rambut akar dengan bakteri dari dalam tanah. Bakteri yang menimbulkan
bintil pada tanaman leguminosa, yaitu bakteri bintil, dikelompokan dalam genus Rhizobium.
C. Infeksi Bakteri Rhizobium pada Akar

Sejalan dengan masuknya bakteri akar membentuk benang infeksi yang didalamnaya ada bakterin bintil.
Benang infeksi terus bekembang sampai dikotreks dan mengadakan percabangan. Percabangan ini
menyebabakan jaringan korteks ini membesar yang dapat dilihat sebagai bintil. Ditempat ini terjadi fiksai N.
Fiksai N hanya terjadi dalam bakteroid, nitrogen yang difiksasi dilepaskan ke dalam sitoplasma sel-sel hospes
95% sebagai ion-ion ammonium.

D. Efektifitas Bintil Akar

Efektifitas bintil akar dinilai dari adanya warna merah pada bagian tengah bintil akar setelah dibelah dan dari
letak bintil akar pada system perakaran.









DAFTAR PUSTAKA

En. Wikipedia.org/wiki/Rhizobia
Idonkelor.blogspot.com/2009/08/bakteri-rhizobium-pada-legum.html.
http/isroi.wordpress.com/2009/01/14/Rhizobium-sahabat-kacang-kacangan
Schlegal, hans.G.1994.Mikrobiologi Umum.Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Somaatmadja, sadikin.1984.Kedelai.Bogor:Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.


isolasi Rhizobium
I . PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Semakin berjalannya laju pertambahan penduduk mendorong meningkatnya kebutuhan akan pangan,
hal ini harus diikuti dengan peningkatan produksi tanaman. Usaha untuk meningkatkan produksi tanaman
dilakukan dengan penambahan nutrisi N, P, K adalah solusi petani pada saat ini. Pada saat ini sejalan dengan
perkembangan jaman pengkayaan hara dengan penambahan pupuk buatan dapat menimbulkan efek negatif
terhadap lingkungan terutama pada tanah dan air, sehingga perlu dikembangkan penggunaan pupuk hayati
dan biofertilizer (kompos, sari limbah, dan inokulan jasad renik tanah). Hal ini didasari selain ramah lingkungan
dan berkelanjutan diharapkan hasilnya dapat menyamai penggunaan pupuk buatan.

Rhizobium sp merupakan bakteri yang mampu menambat N
2
dengan melakukan asosiasi terhadap
tanaman legum (kacang-kacangan), yakni dengan membentuk bintil akar. Bintil akar yang efektif, mampu
memenuhi sekitar 2/3 dari kebutuhan total terhadap N bagi tanaman.
Rhizobium sp dapat tumbuh dengan baik pada bintil akar bila tanaman inangnya mampu menyediakan
energi yang dibutuhkan. Oleh karena itu tanaman inang tersebut harus mendapatkan suplai unsur hara yang
lain seperti P, K dan unsur mikro dengan cukup. Bila suatu tanaman kahat unsur, maka tanaman tidak akan
mampu menyediakan energi yang dibutuhkan oleh bakteriRhizobium sp untuk melakukan aktifitas hidupnya,
termasuk didalamnya adalah melakukan fiksasi terhadap N bebas di udara, sehingga tersedia bagi tanaman.
Mengingat pentingnya bakteri Rhizobium sp bagi dunia pertanian dan utamanya untuk meningkatkan
hasil atau produksi tanaman legume, maka salah satu usaha yang patut dilakukan adalah melakukan isolasi
sebagai upaya untuk memperbanyak atau membudidayakan bakteri ini. Selain hal tersebut, pengaruh-
pengaruh dari pengaplikasian bakteri Rhizobium sp terhadap jenis tanaman legum, juga menjadi suatu hal yang
harus diketahui untuk kepentingan mengenali sifat dan karateristik dari pengaruh simbiosis mutualisme
tersebut.
Spesies Rhizobium sp dapat hidup bebas dalam tanah, artinya tidak dalam hubungan simbiosis dengan
tanaman. Bakteri Rhizobium sp yang hidup bebas dalam tanah mungkin berasal dari bintil-bintil akar yang
terdapat pada tanaman leguminosae yang tumbuh didaerah itu. Bila hidup bebas Rhizobium sp memenuhi
kebutuhan dari bahan organik dan anaerobik tanah.

1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui karakteristik dan perkembangan bakteri Rhizobium sp yang terdapat pada tanaman
legume.
2. Untuk mengetahui pengaruh bakteri Rhizobium sp pada tanaman legume.
3. Untuk mengetahui cara mengisolasi dan memperbanyak bakteri Rhizobium sp pada tanaman legume.

1.3 Manfaat
1. Mahasiswa dapat mengetahui karakteristik dan perkembangan bakteri Rhizobium sp yang terdapat pada
tanaman legume.
2. Mahasiswa dapat mengetahui pengaruh bakteri Rhizobium sp pada tanaman legume.

3. Mahasiswa dapat mengetahui cara mengisolasi dan memperbanyak bakteri Rhizobium sp pada tanaman
legume.

II. TINJAUAN PUSTAKA


Sebagian besar bakteri tanah merupakan khemoheterotropik yang tergantung pada karbon-organnik
dan bersifat non-fotosintetik, berperan besar dalam siklus energi dan hara. Meskipun berjumlah sedikit,
bakteri khemoototropik berperan vital bagi tanaman, karena merupakan bakteri yang berfungsi dalam
penyediaan ion-ion yang diserap akar tanaman. Bakteri tipe kedua ini memperoleh karbon dari CO
2
dan energi
dari oksidasi unsur/ senyawa anorganik atau senyawa campuran anorganik-organik sederhana. Misalnya,
proses oksidasi nitrogen menjadi nitrat atau sulfur menjadi sulfat merupakan bakteri ini (Hanafiah, 2005).
Penempatan organisme nodul akar dalam genus yang terpisah dengan Rhizobium sp dan memisahkan
bentuk-bentuk yang berbeda ke dalam 2 spesies yaitu ; Rhizobium Leguminosariumdengan
inokulasinya Pisum, Vicia, Latyrus dan Rhizobium Raadicola beij. Membentuk nodul pada trifolium, phaseolus
dan lainnya. Menurut fred, baldwin, mc coy menggolongkan bakteri ini ke dalam tujuh golongan
yaitu; Rhizobium Melitoti, Rhizobium Tifoli, Rhizobium Leguminosarium, Rhizobium Phaesoli, Rhizobium Lupini,
Rhizobium Japonicum, Rhizobium sp .(Nugroho, 2003).
Reaksi optimum bagi pertumbuhan dan perkembangan Rhizobium sp adalah pada pH 5.5-7.0 dengan
batas kecepatan reaksi pada pH 3.2-5.0 pada keadaan asam dan pH 9.0-10.0 pada keadaan alkaline. MASE
merupakan peneliti yang pertama memusatkan perhatian pada fakta bahwa bakteri nodul terdiri dari yang
peka akan asam. Temperatur pembatas bagi pertumbuhan bakteri nodul adalah 0
0
-50
0
C. Temperatur titik
kematian adalah pada 60
0
-62
0
C dan optimumnya bervariasi antara 18
0
-28
0
C. Bakteri tidak dirugikan dengan
penyebaran sinar matahari langsung dan cepat sinar matahari (Arimurti, 2000).
Simbiosis pada tanaman kedelai dengan inokulum yang tersedia sekarang umumnya tidak
mengandung strain Rhizobium sp yang mampu membentuk enzim hydrogenase, sehingga tidak memiliki
kemampuan untuk mendaur ulang hidrogen. Perbaikan kemampuan mendaur ulang hidrogen pada tanaman
akan dapat memperbaiki aktivitas biofertilisasi nitrogen. Hal ini dapat ditempuh melalui seleksi simbion yang
dapat menggunakan energi yang disediakan fotosintesis secara efisien. Pendekatan ini dimulai oleh schubert
dan evans (1976) dengan hasil yang positif. Pendekatan lain yang mungkin dapat dilakukan dengan
bioteknologi melalui introduksi segmen gen yang mengontrol sintesis enzim dari suatu jenis simbion ke yang
lain (Bahri ,2003).
Inokulasi rhizobium. Kedelai merupakan salah satu tanaman kacang-kacangan yang bersimbiose
dengan bakteri rhizobium yang membentuk koloni sebagai bintil akar dan berfungsi dalam penyediaan hara
nitrogen. Bakteri ini terdapat pada tanah-tanah yang pernah ditanami kedelai dan sebaliknya pada tanah yang
belum pernah ditanami kedelai atau kacang-kacangan lainnya. Untuk itu, pada tanah-tanah yang belum pernah
ditanami kedelai perlu dilakukan penularan (inokulasi) bakteri kedalam tanah dengan cara mencampurkan
benih kedelai kedalam inokulasi buatan (nitragin atau legin) sebanyak 5- 10 g inokulum/kg benih. Jika
inokulum buatan tidak tersedia, benih kedelai dapat dicampur dengan bekas tanah yang ditanami kedelai
sebanyak 100-250 g/kg benih. (Roja, 2005).






III. METODOLOGI


3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum Biologi Tanah ini dilaksanakan hari Jumat tanggal 1 Mei 2008 pukul 14.00 wib-selesai di
laboratorium Biologi Tanah jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Jember.

3.2 Bahan Dan Alat
3.2.1 Bahan
Bahan yang digunakan yaitu komposisi Media YEMA antara lain MgSO
4
.7H
2
O = 0,20gr,vKH
2
PO
4
= 0,50
gr, NaCl = 0,10 gr, Sumber C manitol atau sumber lain = 10,00 gr, Air Ragi = 100 ml, Agar = 15 gr, Air Destilasi
= 900 ml (Media ini di Autoklaf pada suhu 120
0
C selama 15 menit).Bintil akar dari tanaman legum (kacang
tanah, kedele, putri malu, kacang hijau), larutan fisiologis (8,5 gr NaCl/ lt Aquades), larutan peroksida
(H
2
O
2
5%).

3.2.2 Alat
Alat yang digunakan yaitu pipet 10 ml, Inkubator, Cawan Petri, petridish, jarum ose, pinset, Pemanas api,
Plastik, Spryer.

1.3 Cara Kerja
1. Menyiapkan 5 cawan petri steril yang masing-masing 3 diisi larutan fisiologis, 1 diisi larutan peroksida sisanya
biarkan kosong.
2. Mengambil bintil-bintil dan sedikit akar dari masing-masing tanaman dengan pinset secukupnya masukkan ke
dalam cawan petri 1 berisi larutan fisiologis dan biarkan selama 2 menit.
3. Mengambil bintil-bintil akar dengan pinset dan memasukkan ke dalam petri 2 yang berisi larutan peroksida,
biarkan selama 3 menit.
4. Mengambil kembali bintil-bintil dengan pinset dan memasukkan ke dalam cawan petri 3 dan kemudian ke
cawan 4 (keduanya berisi larutan fisiologis), biarkan selam 3 menit dan 2 menit.
5. Mengambil bintil-bintil ini dan memasukkan ke dalam cawan petri kosong dan lumatkan dengan alat
penggerus sampai halus secara aseptik diatas api.
6. Memanaskan jarum ose, setelah dingin putar-putarkan jarum ose ini dalam hasil gerusan, kemudian goreskan
tanpa melukai pada cawan berisi media YEMA, sumber carbon dari manitol atau yang lain dengan cara gores
untuk pemurnian.
7. Mengamati karakteristik koloni dilakukan 5-10 hari setelah inkubasi meliputi bentuk, warna, kecepatan
tumbuh dan ukuran.
8. Mengambil koloni yang terpisah dengan baik dengan menggunakan ose lalu memindahkan pada cawan berisi
media YEMA dengan cara digores, diinkubasi selama 4-6 hari.
9. Mengambil koloni yang tipikal dari penggoresan dan menggoreskan pada media YEMA.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil Pengamatan
Karakteristik Putri Malu Kedelai Kacang Tanah Kacang Hijau
Warna PK PK PS PS
Zona Pertumbuhan Sjg Sjg Mbr Mbr
Ukuran Bulat Bulat Bulat Bulat

Keterangan :
Warna
Pk = Putih Kekuningan
Ps = Putih susu
Pa = Putih abu-abu
P = Putih
Zona Pertumbuhan
Sjg = Sejajar garis
Spg = Sepanjang garis
Mbr = Menyebar

4.2 Pembahasan
Bakteri Rhizobium sp adalah salah satu contoh bakteri yang berkemampuan sebagai penyedia hara bagi
tanaman. Bila bersimbiosis dengan tanaman legum, kelompok bakteri ini akan menginfeksi akar tanaman dan
membentuk bintil akar di dalamnya. Bakteri Rhizobium sp hanya dapat memfikassi nitrogen di atmosfer bila
berada di dalam bintil akar dari mitra legumnya. Peranan bakteri Rhizobium sp terhadap pertumbuhan
tanaman khususnya berkaitan dengan masalah ketersediaan nitrogen bagi tanaman inangnya.
Bakteri Rhizobium sp termasuk Divisi Protophyta, Klas Schizomycetes, Order Eubacteriales,
Famili Rhizobiacea dan Genus Rhizobium. Beberapa spesies yang sering kali dibicarakan dalam bidang
pertanian beserta tanaman inangnya adalah sebagai berikut :
a. Rhizobium Leguminosarium menginfeksi tanaman kacang tanah
b. Rhizobium Japonicum menginfeksi tanaman kedelai
c. Rhizobium Phaseoli menginfeksi tanaman alfafa
d. Rhizobium Trifolli menginfeksi tanaman kacang panjang
e. Rhizobium Melitoti menginfeksi tanaman putri malu
f. Rhizobium Lupine menginfeksi tanaman lupini
Gb. Bakteri Rhizobium sp yang diaamati dengan mikroskop

Berbagai teori dikemukakan para ahli tentang pembentukan bintil akar, diantara teori tersebut
menyatakan bahwa pembentukan bintil akar yang mengeluarkan triptofan dan senyawa lain yang
menyebabkan peningkatan jumlah Rhizobium sp di sekitar akar. Triptofan digunakan oleh bakteri dan diubah
menjadi Asam Indo Asetat (IAA). Asam inilah yang menyebabkan bulu-bulu akar membengkak sebelum bakteri
masuk ke dalamnya.









Gb. Tanaman Leguminosae yang membentuk bintil akar dan berasosiasi
dengan Rhizobium sp
Peneliti lain berpendapat bahwa perubahan triptfan dan IAA dipengaruhi oleh asam-asam
ketoglutarat dan asam glutamat yang bertindak sebagai substrat. Bakteri Rhizobium sp mengelilingi bulu-bulu
akar, bulu akar menggulung dan Rhizobium sp menginfeksi bulu-bulu akar masuk mensuplai benang-benang.
Benang-benang infeksi masuk ke sel-sel korteks dan kadang-kadang masuk ke sel pericycle. Bakteri ini berada
dalam sitoplasma yang menghasilkan stimulan menyebabkan sel-selkoteks atau pericycle membelah.
Pembelahan ini menyebabkan pembengkakan jaringan, kemudian membentuk bintil-bintil yang mengandung
bakteri, menonjol sampai diluar akar.
Bintil mempunyai ciri berwarna merah-coklat yang menunjukkan adanya kandungan leghemoglobin.
Leghemoglobin berfungsi sebagai pembawa elektron (carrier electron), memasok oksigen ke bakteroid untuk
produksi ATP dan dalam waktu yang sama melindungi sistem nitrogenase terhadap oksigen.
Bakteri Rhizobium sp apabila diaplikasikan pada tanaman legum maka presentase bintil efektif dapat
mencapai 85% sehingga proses fiksasi nitrogen dapat berlangsung dan mampu memenuhi kebutuhan nitrogen
tanaman. Nitrogen hanya dapat ditambat pada bintil akar tanaman leguminosarium. Secara teoritis pada
tanaman legum yang terdapat bintil akar efektif maka mampu melakukan proses fiksasi nitrogen dan dapat
memperoleh tinggi tanaman mencapai 38 cm, sehingga tanaman dapat memperoleh sinar matahari dengan
lebih baik dan proses fisiologi akan dapat berjalan dengan lebih sempurna.
Rhizobium mempunyai sifat, karakteristik yang khas dan juga faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Faktor lingkungan seperti suhu, pH, unsur-unsur dan senyawa kimia tertentu pada umumnya
mempengaruhi Rhizobium sp disamping mereka ini mempunyai musuh alami yaitu berupa parasit dan bakteri.
Berkurangnya populasi Rhizobium sp dalam tanah dipengaruhi faktor fisik, kimia, dan biologi tanah juga
ditentukan oleh sifat-sifat genetiknya.
Suhu optimalnya untuk Rhizobium sp berkisar 18
0
-26
0
C, minimal 3
0
C dan maksimal 45
0
C.
Meningkatnya temperatur akar tanaman kedelai dari 28
0
C ke 40
0
C akan mempengaruhi jumlah bintil, berat
basah bintil dan aktivitas enzim nitrogenase oleh bakteri Rhizobium sp yang diinokulasikan. Kisaran pH optimal
untuk Rhizobium sp adalah sedikit di bawah netral hingga agak alkali. Pada pH 5,5 beberapa strain Rhizobium
sp masih dapat hidup. Pengaruh pH terhadapRhizobium sp merupakan masalah yang rumit, terutama pada pH
yang rendah sebab adanya masalah-masalah yang saling berhubungan.
Pada pH 4,4 kebanyakan strain Rhizobium sp tidak berkembang dalam tanah dan proses infeksi juga
terhambat, tetapi jika pH tanahnya dinaikkan mennjadi 5,4 maka infeksi olehRhizobium sp berlansung dan
terbentuk bintil akar. Selain berpengaruh langsung pada bakteriRhizobium sp, pH tanah berkaitan pula dengan
masalah ketersediaan hara tertentu yang mempengaruhi kehidupan Rhizobium sp, infeksi Rhizobium sp pada
akarnya, persyaratan pH bagi tanaman, dan ketahanan hidup bakteri Rhizobium sp.
Kelembaban tanah pada tingkat koefisien layu akan menghambat pembentukan bintil akar.
Penghambatan pertumbuhan akar dan akar rambut akan menghambat proses infeksi. Disamping itu,
kelembaban mempengaruhi gerakan Rhizobium sp dalam tanah.
Dari data pengamatan praktikum biologi tanah dimana tiap bakteri Rhizobium sp yang terdapat pada
tanaman leguminosae mempunyai karakteristik dan sifat-sifat tertentu. Pada karakteristik warna dimana
tanaman putri malu dan kedelai berwarna putih kekunigan sedangkan kacang tanah, kacang hijau berwarna
putih susu begitu juga zona pertumbuhan dimana putri malu dan kedelai sejajar garis tetapi pada kacang tanah
dan kacang hijau zona pertumbuhannya menyebar. Untuk ukuran semuanya bundar kecuali pada tanaman
kedelai yaitu panjang.
Diposkan oleh Riefqi Perwira di 08.31
https://id.scribd.com/doc/221521740/Pembentukan-Simbiosis-Antara-Rhizobium-Dan-Legume
https://id.scribd.com/doc/105807575/Acara-V-ABC


Keti ka j uml ah bakteri i ni banyak maka sebaran akan l ebi h merata dankefektifannya lebih besar
demikian pula sebaliknya. Sedangkan umlah danefektivitas bintil akar pada tanaman dipengaruhi oleh
beberapa factor juga,antara lain jenis tanaman (legume), jenis tanah (kimia dan fisika tanah) dan jenis
lahan.I s o l a s i m e r u p a k a n u s a h a u n t u k m e n g a s i n g k a n s u a t
u mi k r o or g a ni s me , da l a m me l a k uk a n i s o l a s i s a l a h s a t u ha l y a n g p er l u di perhati kan y
ai tu kesteri l an dari al at dan medi a yang
di gunakan untuk me n g h i n da r i t u mbuhn y a mi k r o bi a l a i n y a n g t i da k di i ng i n k a n . Pa d a
praktikum isolasi bakteri metode plate count, media yang digunakan adalahY E MA (
Y e a s t E x t r ac t Man i t ol Aga r
) , ba h a n y a n g di g u na k a n a da l a h segumpal tanah Rhizosphere dari beberapa tanaman. Rhizobium
yang kitaisolasikan setelah tumbuh akan kita ketahui morfologinya

sehingga
dapatki ta amati . Tanah Rhi zosphere tersebut di l arutkan ke dal am ai r hi nggah o mo g e n d a n t
e r b e n t u k l a r u t a n t a n a h . L a r u t a n t a n a h i n i k e mu d i a n di encerkan sehi ngga memi
l i ki 4 macam vari asi kepekatan l arutan tanahyang berbeda yaitu 10-4 dan 10-5 masing-masing 2 kali
ulangan. Larutantanah dengan kepekatan yang berbeda ini kemudian diinokulasi pada mediaYEMA dan diinkubasikan
beberapa hari sehingga muncul koloni bakteridalam
media.Hasi l pengamatan kel ompok kami , ada 1 ul angan yang terdapat bakteri yaitu 10-
4
ulangan 2.

Selain ulangan itu semuanya terkontaminasioleh jamur. Jamur yang ada pada media berbentuk bulat berserabut,
denganwarna abu-abu, kehijauan, dan kehitaman. Hal ini berkaitan erat dengan
carak e r j a da r i pr o s e s pe mb ua t a n bi a k a n mur n i y a n g t i da k s e s u a i de n g a n prosedur. Pen
yebab terjadinya kontaminan yaitu udara di sekitarnya,kelembaban tempat, cara penyimpanan yang
tidak sesuai dengan ketentuandan juga faktor manusia yang dalam bekerja kurang
steril.Berdasarkan pada pengamatan semua kel ompok, j uml ah kol oni bakteri pada tanah alfisol yang
ditanami legum lebih banyak daripada
yangti dak di tanami l egum, dengan ci ri ci ri kol oni bakteri adal ah berwarna

merah, bulat berserabut, bulat berbintik-bintik, dan berlendir. Jumlah koloni bakteri pada tanah vertisol yang ditanami legum
lebih banyak daripada yangtidak ditanami legum, dengan ciri ciri koloni bakteri adalah ada koloni yang berwarna merah, ada
yang putih, ada yang biru cerah, bulat berserabut dan berlendir. Jumlah koloni bakteri pada tanah vertisol
lebih banyak daripada jumlah bakteri pada tanah alfisol.
E . K e s i m p u l a n
Dari pembahasan di atas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1.
Pada tanaman Orok-orok (
Crotalaria striata
) d a n Ke de l a i (
Glycine max
) berumur 2-2,5 mempunyai tipe morfologi eksogen dengan jumlah masing-masing 5 dan 30 bintil.
2.
Juml ah bi nti l akar pada tanaman kacang umur 1-1,5 bul an l ebi h
sedi ki td i b a n d i n g k a n d e n g a n u m u r 2 -
2 , 5 b u l a n k a r e n a u m u r t a n a m a n mempengaruhi jumlah bintil akar dan efektivitas
bakteri Rhizobium dalammenambat nitrogen.
3.
Pada tanaman yang berbeda, maka j uml ah dan ti ngkat keefekti vi tasan
Rhizobium
dalam menambat nitrogen berbeda.
4.
Leghemoglobin merupakan pigmen warna merah yang berada pada bagiantengah bintil akar. Semakin merah
leghemoglobin menandakan semakinefektif bakteri dalam menambat nitrogen (N).5. Bi n t i l
a k a r l eb i h ba ny a k d i t emu k a n p a da t a na h v er t i s ol da r i pa d a t a n a h alfisol.
6.
Pada prakti kum i sol asi bakteri metode
plate count
, med i a y a n g digunakan adalah YEMA (
Yeast Extract Manitol Agar
) dengan hasil isolasiyang menghasilkan bakteri yaitu pada pengenceran 10
-4
ulangan 2.

DAFTARPUSTAKA
Anonim. 2005.
Manajemen Pemupukan
. Lembaga Ri set Perkebunan Indonesi a . Jakarta.Isroi . 2009. Rhi zobi um Sahabat Kacang-kacangan.
http://isroi.wordpress.com/
.Diakses pada 10 Juni 2010.Simarmata, T. 1995.
Strategi Pemanfaatan Mikroba Tanah (Pupuk Biologi) dalamera Bioteknologi untuk Meningkatkan Produktivitas Lahan
Marginal di Indonesia menuju Pertanian Berwawasan Lingkungan
. Fakultas PertanianUNPAD. Bandung.Soekartadiredja, E.M. 1992.
Perubahan Inefektivitas dan Efektivitas Penambatan Nitrogen pada Galur Rhizobium setelah Perlakuan Pasasi
in Vivo
.Universitas Pajajaran. Bandung.Purwaningsih, Sri. 2005.
Sel eksi Bi ak Rhi zobi um dari Wonogi ri , Jawa Tengahterhadap Pertumbuhan Tanaman Kedelai (Glycine
max L.) pada Media Pasir Steril di Rumah Kaca
. Biodiversitas Volume 6, Nomor 3.Vincent. J.M., 1992.
Nitrogen Fixation in Legumes
. Academic Press. Sidney.

Published by: Radit Bcl on Sep 13, 2012