Anda di halaman 1dari 13

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

(RPP)
Nama Sekolah : MAN Lab UIN Yogyakarta
Mata Pelajaran : Kimia
Kelas/Semester : X/1 (Satu)
Materi Pokok : Ikatan Kimia
Sub Materi Pokok : Kestabilan Unsur, Struktur Lewis, Ikatan
Ion
Alokasi Waktu : 40 x 3 JP

A. KOMPETENSI INTI
KI 1 : Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya
KI 2 : Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli
(gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif, dan proaktif dan
menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam
berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam
menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
KI 3 : Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual,
prosedural, berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi,
seni, budaya, dan humaniora, dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan,
kenegaraan, peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta
menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai
dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
KI 4 : Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait
dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan
mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.

B. KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR
1.1 Menyadari adanya keteraturan struktur partikel materi sebagai wujud kebesaran Tuhan
YME dan pengetahuan tentang struktur partikel materi sebagai hasil pemikiran kreatif
manusia yang kebenarannya bersifat tentatif.
Indikator:
1) Mengagungkan kebesaran Tuhan YME.
2) Mensyukuri adanya keteraturan partikel dalam ikatan kimia, sehingga dapat
mencapai kestabilan unsur sebagai wujud kebesaran Tuhan YME.
2.1 Menunjukkan perilaku ilmiah (memiliki rasa ingin tahu, disiplin, jujur, objektif,
terbuka, mampu membedakan fakta dan opini, ulet, teliti, bertanggung jawab, kritis,
kreatif, inovatif, demokratis, komunikatif) dalam merancang dan melakukan percobaan
serta berdiskusi yang diwujudkan dalam sikap sehari-hari.
Indikator:
1) Menunjukkan rasa ingin tahu dengan antusias dalam mengikuti pembelajaran
tentang ikatan kimia.
2) Melakukan kegiatan pembelajaran dengan jujur, teliti, dan bertanggung jawab.
3) Teliti dalam mengolah dan menganalisis data (melakukan pembuktian bahwa
suatu ikatan kimia bertujuan untuk mencapai kestabilan).
4) Ulet dalam mencari sumber pengetahuan yang mendukung penyelesaian masalah.
2.3 Menunjukkan perilaku responsif dan pro-aktif serta bijaksana sebagai wujud
kemampuan memecahkan masalah dan membuat keputusan.
Indikator:
1) Berperilaku responsif dan pro-aktif serta bijaksana dalam berdiskusi memecahkan
masalah tentang materi ikatan kimia.
3.5 Membandingkan proses pembentukan ikatan ion, ikatan kovalen, ikatan kovalen
koordinasi dan ikatan logam serta interaksi antar partikel (atom, ion, molekul) materi
dan hubungannya dengan sifat fisik materi.
Indikator:
1) Menjelaskan kecenderungan suatu unsur untuk mencapai kestabilannya.
2) Menggambarkan lambang Lewis unsur gas mulia (duplet dan oktet) dan unsur
bukan gas mulia.
3) Menjelaskan proses terbentuknya ikatan ion.
4) Menjelaskan sifat-sifat senyawa ion.
4.5 Mengolah dan menganalisis perbandingan proses pembentukan ikatan ion, ikatan
kovalen, ikatan kovalen koordinasi, dan ikatan logam serta interaksi antarpartikel
(atom, ion, molekul) materi dan hubungannya dengan sifat fisik materi.
Indikator:
1) Mengolah data percobaan atau informasi, sehingga mampu menjelaskan proses
pembentukan ikatan ion.

C. TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Dengan diskusi kelompok, siswa dapat menjelaskan konsep kestabilan unsur serta
hubungannya dengan pembentukan senyawa.
2. Dengan data-data dari referensi yang tersedia, siswa dapat menggambarkan susunan
elektron valensi Lewis berdasarkan nomor atom
3. Dengan diskusi kelompok, siswa dapat menggambarkan proses pembentukan ikatan
ion.
4. Berdasarkan diskusi yang dilakukan, siswa dapat menjelaskan sifat-sifat senyawa ionik.

D. MATERI PEMBELAJARAN
1. Kestabilan Unsur
Unsur-unsur pada umumnya tidak stabil. Untuk mencapainya maka unsur-unsur
tersebut harus berikatan dengan unsur lainnya.
a. Konfigurasi Elektron Gas Mulia
Golongan gas mulia pada system periodic terdiri dari unsur-unsur yang stabil dan
tidak reaktif. Gas mulia mempunyai electron pada kulit terluar, dua untuk He dan
delapan untuk Ne, Ar, Kr, Xe, dan Rn.
2
He = 2
10
Ne = 2 8
18
Ar = 2 8 8
36
Kr = 2 8 18 8
54
Xe = 2 8 18 18 8
96
Rn = 2 8 18 18 32 18 8
b. Teori Oktet dan Duplet
Pada tahun 1916, Walter Kossel dan Gilbert N. Lewis menemukan adanya hubungan
antara kestabilan gas mulia dan cara atom-atom saling berikatan. Kedua ilmuan itu
mengemukakan:
Jumlah elektron pada kulit terluar dari dua atom yang berikatan akan berubah
sedemikian rupa sehingga konfigurasi elektron kedua atom sama dengan konfigurasi
electron gas mulia (8 elektron pada kulit terluarnya) yang disebut aturan oktet.
Adapun yang membentuk konfigurasi elektron stabil dengan 2 elektron pada kulit
terluarnya disebut aturan duplet.
Pada umumnya eletron terluar dari suatu atom kurang dari 8. Atom-atom tersebut
membentuk konfigurasi electron yang stabil dengan melepaskan atau menangkap
dari atom lain atau menggunakan electron bersama-sama.
Unsur alkali dan alkali tanah dengan nomor atom yang lebih besar mencapai
kestabilannya dengan membentuk konfigurasi electron dengan melepas electron
membentuk ion positif (octet).
Contoh:
11
Na Na
+
+ e
-

(2 8 1) (2 8)
Untuk unsur golongan VIA dan VIIA cenderung menerima electron untuk mencapai
kestabilan electron dengan membentuk ion negative (octet).
Contoh:
19
Cl Cl
-

( 2 8 7) (2 8 8)
Penggunaan electron secara bersama-sama dapat terjadi pada atom yang memiliki
keelektronegatifan tinggi atau atom yang sukar melepas elektronnya. Hal ini terjadi
pada senyawa dengan ikatan kovalen/antarnonlogam, kedua atom kekurangan
sejumlah electron sehingga mencapai kestabilan dengan cara memakai bersama
electron valensinya. Contoh: ikatan antarsesama atom F.
c. Struktur Lewis
Struktur Lewis berguna untuk memahami penggunaan electron bersama pada ikatan.
Bentuk Struktur Lewis Beberapa Atom


Struktur ini merupakan lambang atom yang dikelilingi sejumlah electron valensinya
yang digambarkan dengan lingkaran kecil.

2. Ikatan Ion
Ikatan ion terbentuk akibat gaya elektrostatis antarion yang berlawanan muatan
(negative dan positif) sebagai akibat serah terima electron dari satu atom ke atom lain
yang biasa terjadi antara atom unsur logam dengan atom unsur nonlogam. Ion positif
terbentuk karena suatu atom melepaskan electron yaitu atom unsur logam. Ion negative
terbentuk karena suatu atom menerima electron yaitu atom unsur nonlogam. Pada
pembentukan ikatan ion, dimana atom logam melepaskan electron membentuk ion positif,
electron yang dilepaskan diterima oleh atom nonlogam yang kemudian membentuk
senyawa dengan ikatan ion.
Pada pembentukan garam NaCl, atom Na melepaskan electron membentuk ion positif,
electron yang dilepaskan tersebut diterima oleh unsur Cl membentuk ion negative. Reaksi:
Na
+
+ Cl
-
NaCl

Beberapa sifat senyawa ion antara lain:
a. Kristalnya keras tapi rapuh
Apabila senyawa ion dipukul, akan terjadi pergeseran posisi ion positif dan negatif,
dari yang semula berselang-seling menjadi berhadapan langsung. Hal ini
menyebabkan ion positif bertemu muka dengan ion positif dan terjadi gaya tolak
menolak. Inilah yang menyebabkan kristal senyawa ion bersifat rapuh.
b. Mempunyai titik lebur dan titik didih tinggi
Senyawa ion mempunyai titik lebur dan titik didih yang tinggi karena kuatnya gaya
elektrostatis yang ditimbulkan antara ion posistif dan ion negatif.
c. Mudah larut di dalam air
Pada saat krital senyawa ion dimasukkan ke dalam air, maka molekul-molekul air
akan memyusup di antara ion positif dan ion negatif sehingga gaya tarik-menarik
eletrostatis dari ion positif dan ion negatif akan melemah, dan akhirnya terpecah.
d. Dapat menghantarkan arus listrik
Ion positif dan ion negatif apabila bergerak dapat membawa muatan listrik. Apabila
senyawa ion terpecah menjadi ion positif dan ion negatif serta dapat bergerak secara
leluasa, maka senyawa ion dalam keadaan cair dan larutan dapat menghantarkan
listrik karena ion-ionnya dapat bergerak secara bebas. Akan tetapi dalam keadaan
padat, senyawa ion tidak dapat menghantarkan listrik karena ion-ionnya tidak dapat
bergerak.

E. MODEL, PENDEKATAN, STRATEGI, DAN METODE PEMBELAJARAN
Model : Cooperative Learning tipe Number Head Together
Pendekatan : Scientific Approach
Strategi : Induktif
Metode : Ceramah, diskusi, tanya jawab

F. MEDIA DAN SUMBER BELAJAR
1. Media
a. Powerpoint
b. LKPD
c. LCD Proyektor
d. Papan Tulis
e. Spidol
2. Sumber Belajar
a. Buku Kimia SMA Kelas X:
1) Sudarmo, Unggul. 2013. KIMIA untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta: Erlangga.
2) Buku Kimia SMA Kelas X lainnya yang relevan.
b. Internet, dll.

G. LANGKAH PEMBELAJARAN
1. Kegiatan Awal
a. Guru mengucapkan salam.
b. Guru memusatkan perhatian dan memotivasi siswa.
c. Guru menyampaikan apersepsi: Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk
sosial (makhluk yang tidak bisa hidup sendiri) yang harus berinteraksi dengan
makhluk lain.
d. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
e. Guru membagi siswa dalam kelompok.
2. Kegiatan Inti
a. Mengamati
1) Siswa mengamati struktur Lewis dari beberapa contoh unsur.
2) Siswa diminta membaca literatur mengenai aturan oktet dan struktur Lewis
b. Menanya
1) Siswa bertanya apakah penulisan struktur Lewis dari suatu unsur boleh
dilakukan sembarangan?
2) Guru menjelaskan mengenai susunan elektron valensi dalam orbital.
3) Guru mengenalkan peserta didik tentang menggambar awan elektron valensi
berdasarkan susunan elektron dalam orbital.
c. Mengumpulkan Data
1) Siswa berlatih menggambar awan elektron valensi berdasarkan nomor atomnya
melalui tabel periodik unsur.
2) Siswa diminta mencari tahu proses terbentuknya ikatan ion.
3) Guru memberikan penjelasan tentang terbentuknya ikatan ion dan pembentukan
senyawa ion.
d. Mengasosiasi
1) Melalui diskusi, siswa diminta untuk menganalisis pembentukan senyawa
berdasarkan pembentukan ikatan (berkaitan dengan kecenderungan atom untuk
mencapai kestabilan)
2) Menganalisis proses pembentukan ikatan ion.
3) Mengidentifikasi sifat-sifat senyawa ion.
e. Mengkomunikasikan
1) Siswa mempresentasikan hasil diskusi.
2) Guru memberikan umpan balik/penekanan terhadap materi.
3) Siswa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam diskusi kelas.
3. Kegiatan Akhir
a. Guru memberikan kesempatan siswa untuk bertanya mengenai materi yang belum
dipahami.
b. Guru memberikan tes kognitif untuk masing-masing siswa.
c. Guru melakukan tindak lanjut dengan pemberian tugas individu.
d. Guru menutup pembelajaran dengan mengucap salam.





H. TEKNIK PENILAIAN

I. LAMPIRAN
1. Soal Evaluasi
2. Lembar Pengamatan Sikap






Bantul, 24 Oktober 2014
Guru Pamong Mahasiswa PLP



Sri Dewi Subaroroh,. S.Pd. Marganing Tyas W













Teknik Bentuk Instrumen
Test Soal dalam LKPD
Nontest Pengamatan sikap (lembar observasi)

INSTRUMEN TES
LKPD
Kelompok :
Nama Anggota Kelompok :


1. Bagaimana kecendrungan atom-atom berikut dalam mencapai kestabilan ditinjau dari
konfigurasi elektronnya? Tunjukkan dan gambarkanlah struktur lewis untuk atom-atom
dibawah!
a.
9
F



b.
19
K



c.
12
Mg



d.
16
S



e.
17
Cl



f.
15
P



g.
14
Si
2. Tunjukan proses terbentuknya ikatan ion pada senyawa:
a. AlCl
3







b. MgCl
2







c. Al
2
O
3








d. MgO











Evaluasi Individu Pertemuan 1
Nama :
Kelas :

Kerjakan soal dibawah ini beserta pembuktiannya!

1. Diantara unsur-unsur di bawah ini yang paling stabil adalah
a.
8
P
b.
9
Q
c.
10
R
d.
12
S
e.
20
T


2. Unsur dengan nomor atom di bawah ini yang memiliki kecenderungan menyerap elektron
adalah
a.
11
A
b.
12
B
c.
19
C
d.
35
D
e.
38
E


3. Diketahui unsur-unsur dengan nomor atom sebagai berikut:
8
X,
9
Y,
11
Q,
16
R,
19
Z.
Pasangan unsur yang dapat membentuk ikatan ion adalah.
a. Y dan Q
b. Q dan Z
c. Y dan X
d. R dan X
e. Y dan R


4. Unsur A, B, C, D dan E berturut-turut dengan nomor atom 9, 10, 17, 19, 22. Yang paling
stabil adalah .
a. E
b. B
c. C
d. D
e. A


5. Unsur P memiliki konfigurasi elektron 2, 8, 6 dan unsur R memiliki konfigurasi elektron
2, 8, 8, 1. Bila P dan R bergabung maka dihasilkan .
a. Senyawa ionik PR
b. Senyawa ionik PR
6

c. Senyawa ionik P3R
d. Senyawa ionik P
2
R
e. Senyawa ionik PR
2



6. Nomor atom unsur-unsur P, Q, R, S dan T masing-masing: 9, 11, 16, 17 dan 18. Pasangan
unsur-unsur yang dapat membentuk senyawa ion adalah .
a. P dan R
b. P dan S
c. Q dan S
d. R dan T
e. S dan T

7. Unsur dengan nomor atom di bawah ini yang memiliki kecenderungan melepas elektron
adalah.
a.
16
A
b.
17
B
c.
18
C
d.
31
D
e.
34
E

8. Diantara unsur berikut ini manakah yang paling stabil (paling sukar bereaksi)?
a. Logam Alkali
b. Logam Alkali tanah
c. Golongan halogen
d. Golongan gas mulia
e. Golongan karbon

9. Unsur X dengan konfigurasi elektron: 2 8 7 dapat mencapai aturan oktet dengan cara .
a. Melepas 7 elektron
b. Menyerap 1 elektron
c. Memasangkan 1 elektron
d. Menyerap atau memasangkan 1 elektron
e. Menerima sepasang elektron

10. Atom
15
X dengan atom
11
Y membentuk suatu senyawa XY
3
maka ....
a. Atom pusat X menyerap 2 elektron
b. Atom pusat Y menyerap 2 elektron
c. Atom pusat X melepas 3 elektron
d. Atom pusat Y melepas 3 elektron
e. Atom pusat X menyerap 3 elektron


Penskoran :
Skor = 2 (jawaban benar, dengan cara yang benar)
Skor = 1 (jawaban benar, cara salah)
Skor = 0 (jawaban salah, tidak memakai cara)
Nilai : (skor yang diperoleh/skor maksimal) x 100



INSRTUMEN NONTEST
No.
Aspek yang
diamati
Rubrik Penilaian Skor
1. Rasa Ingin Tahu 3: Peserta didik sangat antusias mengikuti
pembelajaran
2: Peserta didik kurang antusias mengikuti
pembelajaran
1: Peserta didik tidak antusias mengikuti
pembelajaran

2. Kritis 3: Peserta didik sering mengajukan pendapat
dalam diskusi kelompok
2: Peserta didik jarang mengajukan pendapat
dalam diskusi kelompok
1: Peserta didik tidak pernah mengajukan
pendapat dalam diskusi kelompok

3. Demokratis 3: Peserta didik sering dapat menghargai
pendapat teman sekelompoknya
2: Peserta didik kurang menghargai pendapat
teman sekelompoknya
1: Peserta didik tidak menghargai pendapat
teman sekelompoknya

4. Teliti 3: Peserta didik teliti dalam mengerjakan soal
sehingga jawaban tepat
2: Peserta didik kurang teliti dalam mengerjakan
soal sehingga terdapat sedikit kesalahan
dalam jawaban
1: Peserta didik tidak teliti dalam mengerjakan
soal sehingga jawaban salah

JUMLAH

Nilai: (skor yang diperoleh/skor maksimal) x 100