Anda di halaman 1dari 35

BAB 1 PENDAHULUAN

  • 1. Latar Belakang

Pembelajaran berbagai materi pada subjek Bahasa Indonesia sangat dibutuhkan untuk kehidupan sehari-hari. Contohnya saat kita kelas 1 SMA, kita telah mempelajari berbagai materi yang berhubungan dengan kehidupan kita masing-masing. Seperti contohnya tentang :

Informasi dari berita, unsur intrinsik dan ekstrinsik dalam novel dan cerpen, tanggapan dalam diskusi, masalah dalam berita/artikel/buku, ringkasan, naratif, deskriptif, paragraf eksposisi, dan makna konotasi. Oleh karena itu, kami akan mengkaji ulang tentang materi-materi tersebut yang berada di kelas 1 SMA.

  • 2. Rumusan Masalah

Berdasarkan

latar

belakang

permasalahan

yang

telah

merumuskan masalah sebagai berikut.

dijelaskan,

maka

penyusun

  • 1. Bagaimana mendapat informasi dari isi berita?

  • 2. Apa saja unsur intrinsik dan ekstrinsik novel dan cerpen?

  • 3. Bagaimana tanggapan dalam diskusi?

  • 4. Bagaimana masalah dalam berita/artikel/buku?

  • 5. Bagaimana ringkasan sebuah teks?

  • 6. Bagaimana topik dalam naratif (kata ulang)?

  • 7. Bagaimana topik dalam deskriptif (frase)?

  • 8. Bagaimana isi paragraf eksposisi?

  • 9. Apa yang dimaksud makna konotasi (dalam cerpen/puisi)?

BAB 1 PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Pembelajaran berbagai materi pada subjek Bahasa Indonesia sangat dibutuhkan untuk

3.

Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah yang ada, maka pennyusunam makalah ini bertujuan sebagai berikut.

  • 1. Untuk mengetahui dan mengkaji isi berita.

  • 2. Untuk mengetahui dan mengkaji unsur intrinsik dan ekstrinsik novel dan cerpen

  • 3. Untuk mengetahui dan mengkaji tanggapan diskusi

  • 4. Untuk mengetahui dan mengkaji masalah dalam berita/artikel/buku

  • 5. Untuk mengetahui dan mengkaji ringkasan sebuah teks

  • 6. Untuk mengetahui dan mengkaji topik dalam naratif (kata ulang)

  • 7. Untuk mengetahui dan mengkaji topik dalam deskriptif (frase)

  • 8. Untuk mengetahui dan mengkaji paragraf eksposisi

  • 9. Untuk mengetahui dan mengkaji makna konotasi (dalam cerpen/puisi)

3. Tujuan Berdasarkan rumusan masalah yang ada, maka pennyusunam makalah ini bertujuan sebagai berikut. 1. Untuk

BAB 2 PEMBAHASAN

  • 10. Isi Berita

Kegiatan mendengarkan sudah sering kita lakukan baik dari siaran televisi maupun radio. Informasi yang kita dapatkan terkadang penting bagi kita terkadang juga tidak. Secara tidak langsung informasi yang kita dapatkan dapat kita identifikasi unsur-unsur pokoknya sehingga kita dapat menentukan informasi penting yang berupa inti berita pada informasi yang kita dengar. Berita adalah cerita atau keterangan mengenai kejadian atau peristiwa yang hangat. Berita adalah informasi seputar peristiwa yang terjadi pada suatu waktu. Unsur-unsur yang terdapat dalam berita adalah sebagai berikut.

  • a. Apa (what) yang menjadi pokok permasalahan dalam berita.

  • b. Siapa (who) yang terlibat dan menjadi inti pemberitaan itu.

  • c. Di mana (where) terjadinya peristiwa dalam pemberitaan itu.

  • d. Kapan (when) berlangsungnya peristiwa dalam pemberitaan itu.

  • e. Mengapa (why) peristiwa terjadi hingga menjadi bahan pemberitaan.

  • f. Bagaimana (how) proses penyelesaian atau akhir dari persitiwa yang diberitakan

tersebut. Pada dasarnya teks berita disusun dengan alur piramida terbalik. Itu artinya berita disajikan

dengan cara mendahulukan hal yang terpenting. Yang dianggap paling penting dan menarik disajikan pada awal dan dijadikan teras berita. Bagian-bagian berikutnya adalah penjelasan atas informasi utama yang disajikan. Hal inilah yang menjadikan perbedaan penyajian dalam teks berita. Masing-masing penulis berita (wartawan) tidak sama pendapatnya tentang pentingnya suatu hal.

BAB 2 PEMBAHASAN 10. Isi Berita Kegiatan mendengarkan sudah sering kita lakukan baik dari siaran televisi

Saat mendengarkan sebuah berita, hal terpenting yang harus diperhatikan adalah menemukan inti sari berita tersebut. Cara yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut.

  • a. Mendengarkan dengan penuh konsentrasi sehingga mampu merekam penyampaian berita tersebut.

    • b. Mendengarkan sambil melakukan pencatatan pokok-pokok isi berita.

    • c. Merekam dengan alat bantu, misalnya foto/kamera, video, tape recorder, dan sebagainya.

Jika disampaikan dengan cara dibacakan, baik melalui media televisi, radio, maupun

dibacakan oleh teman, berita tersebut merupakan ragam bicara yang diterima informasinya dengan cara didengarkan atau disimak.

Ciri - ciri sebuah berita yang baik antara lain menarik perhatian, aktual (terkini), segera, singkat, lugas, dan sederhana. Untuk dapat mengetahui pokok-pokok berita dengan mudah, perhatikanlah beberapa hal berikut ini.

  • a. Pokok berita atau berita utama biasanya disampaikan di awal pembacaan berita.

  • b. Pahamilah peristiwa yang terjadi, sebab peristiwa, tempat peristiwa, dan siapa saja yang

terlibat dalam peristiwa tersebut.

  • c. Apa akibat dari peristiwa tersebut karena akan menjelaskan pokok berita.

  • d. Pendapat seseorang atau seorang ahli biasanya juga menjelaskan pokok berita.

    • 11. Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Novel dan Cerpen

Unsur intrinsik adalah unsur yang membangun sebuah karya sastra dari dalam karya sastra itu sendiri. Sedangkan unsur yang membangun karya sastra dari luar karya sastra tersebut dinamakan unsur ekstrinsik.

  • 2.1 Macam-macam Unsur Intrinsik

    • a. Tema

Tema adalah permasalahan utama yang menjiwai seluruh cerita/karangan. Tema dapat ditemukan dengan mengidentifikasi konflik yang terdapat dalam cerita tersebut. Tema biasanya

dirumuskan dalam kalimat/pernyataan yang singkat & padat.

Saat mendengarkan sebuah berita, hal terpenting yang harus diperhatikan adalah menemukan inti sari berita tersebut. Cara

Misalnya :

Tema : percintaan, kehidupan sosial, lingkungan hidup, agama, dsb.

b. Tokoh

Tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berkelakuan (memiliki sifat/watak) di dalam berbagai peristiwa dalam cerita. Berdasarkan peranannya dalam cerita, tokoh dibedakan menjadi tiga yaitu tokoh utama, tokoh pembantu, dan figuran. Sedangkan berdasarkan wataknya, tokoh dibagi menjadi tiga yaitu tokoh protagonis (tokoh baik), tokoh antagonis (tokoh jahat), dan tokoh tritagonis (tokoh penengah).

c. Penokohan

Penokohan adalah cara pengarang dalam menyajikan/menggambarkan watak tokoh dan

penciptaan citra tokoh. Penokohan secara umum dibedakan menjadi dua yaitu :

  • Penokohan secara langsung (analitik)

Artinya pengarang secara langsung menjelaskan watak/citra dari tokoh tersebut dengan kata-kata. Misalnya bahwa tokoh A adalah orang yang cerewet dan suka mengadu domba atau bahwa fisik tokoh B adalah cantik, rambutnya hitam tergerai, dsb.

  • Penokohan secara tidak langsung (dramatik)

Artinya penggambaran watak/citra tokoh dilakukan secara tersamar.

Pada penokohan jenis ini, pembaca bisa menyimpulkan watak seorang tokoh dari :

  • 1. Pikiran tokoh

  • 2. Dialog/ucapan tokoh

  • 3. Tingkah laku/tindakan tokoh

  • 4. Lingkungan sekitar tokoh

  • 5. Reaksi/tanggapan dari tokoh lain

  • 6. Keadaan fisik tokoh

d. Alur

Alur adalah rangkaian/jalinan antar peristiwa/lakuan dalam cerita. Sebuah cerita sebenarnya terdiri dari berbagai peristiwa yang memiliki hubungan sebab -akibat. Misalnya

Misalnya : Tema : percintaan, kehidupan sosial, lingkungan hidup, agama, dsb. b. Tokoh Tokoh adalah individu

karena ada peristiwa 1 (pacarnya lari) maka akibatnya terjadilah peristiwa 2 (tokoh A frustasi). Jalinan itu yang dinamakan alur/plot.

  • Jenis Alur

    • - Alur maju (alur lurus)

Rangkaian peristiwanya bergerak maju dari awal ke akhir (kronologis)

  • - Alur mundur (alur flashback) Rangkaian peristiwanya bergerak mundur dari akhir ke awal (set back)

  • - Alur campuran (maju-mundur) Rangkaian peristiwa bergerak secara acak.

    • Pola/Tahapan Alur

karena ada peristiwa 1 (pacarnya lari) maka akibatnya terjadilah peristiwa 2 (tokoh A frustasi). Jalinan itu

e. Latar

Latar adalah segala keterangan mengenai waktu, ruang, dan suasana terjadinya

lakuan/peristiwa dalam cerita. Latar terbagi menjadi tiga yaitu :

  • Latar waktu

  • Latar tempat

  • Latar suasana

f. Sudut Pandang

Sudut pandang adalah posisi pengarang dalam ceritanya. Bisa jadi ia menjadi tokoh dalam ceritanya tersebut (pengarang berada di dalam cerita). Namun, bisa juga dia hanya menjadi pencerita saja (pengarang berada di luar cerita).

karena ada peristiwa 1 (pacarnya lari) maka akibatnya terjadilah peristiwa 2 (tokoh A frustasi). Jalinan itu

Sudut pandang dibagi menjadi dua yaitu :

  • Sudut pandang orang pertama

Pada sudut pandang orang pertama, posisi pengarang berada di dalam cerita. Ia terlibat dalam cerita dan menjadi salah satu tokoh dalam cerita (bisa tokoh utama atau tokoh pembantu).

Salah satu ciri sudut pandang orang pertama adalah penggunaan kata ganti „aku‟ dalam

cerita. Oleh karena itu, sudut pandang orang pertama sering disebut juga sudut pandang akuan. Sudut pandang orang pertama terbagi lagi menjadi dua yaitu :

  • - Sudut pandang orang pertama pelaku utama (Tokoh „aku‟ menjadi tokoh utama dalam

cerita.

  • - Sudut pandang orang pertama pelaku sampingan (Tokoh „aku‟ hanya berperan sebagai tokoh pendamping/pembantu saja.

    • Sudut pandang orang ketiga

Pada sudut pandang orang ketiga, pengarang berada di luar cerita. Artinya dia tidak terlibat

dalam cerita. Pengarang berposisi tak ubahnya seperti dalang atau pencerita saja. Ciri utama sudut pandang orang ketiga adalah penggunaan kata ganti „dia‟ atau „nama- nama tokoh‟. Oleh sebab itu, sudut pandang ini disebut pula sudut pandang diaan. Sudut pandang orang ketiga terbagi menjadi dua yaitu :

  • - Sudut pandang orang ketiga serba tahu (pengarang mengetahui segala tingkah laku, perilaku, keadaan lahir dan batin tokoh cerita).

  • - Sudut pandang orang ketiga terarah (pengarang hanya sebatas mengetahui kondisi lahiriah dari para tokohnya).

g. Konflik

Konflik mengacu pada pengertian sesuatu yang bersifat tidak menyenangkan yang terjadi dan atau dialami oleh tokoh-tokoh cerita, yang jika tokoh-tokoh itu mempunyai kebebasan untuk memilih, ia (mereka) tidak akan memilih peristiwa itu menimpa dirinya (Meredith & Fitzgerald, 1972:27). Konflik adalah sesuatu yang dramatik, mengacu pada pertarungan antara dua kekuatan yang seimbang dan menyiratkan adanya aksi dan aksi balasan. Dalam kehidupan nyata konflik merupakan sesuatu yang tidak menyenangkan.

Sudut pandang dibagi menjadi dua yaitu :  Sudut pandang orang pertama Pada sudut pandang orang

Namun, dalam sebuah cerita , tanpa adanya masalah yang memicu adanya konflik, dapat berarti ”tak akan ada cerita, tak akan ada plot”. Peristiwa kehidupan baru menjadi cerita (plot) jika memunculkan konflik, bersifat dramatik, dan karenanya menarik untuk diceritakan. Peristiwa dan konflik biasanya berkaitan erat, dapat saling menyebabkan terjadinya satu dengan yang lain, bahkan konflik pun hakikatnya merupakan peristiwa. Ada perstiwa tertentu yang dapat menimbulkan konflik atau bahkan sebaliknya. Bentuk konflik sebagai bentuk kejadian dapat dibedakan ke dalam dua kategori:

  • Konflik fisik (eksternal)

Konflik fisik adalah konflik yang terjadi antara seseorang tokoh dengan sesuatu di luar dirinya, mungkin dengan tokoh lain atau dengan alam. Misalnya, konflik dan atau

permasalahan yang dialami seorang tokoh akibat adanya banjir besar, gunung meletus, kemarau panjang, dan sebagainya. Konflik sosial, sebaliknya adalah konflik yang disebabkan oleh adanya kontak sosial antarmanusia, atau masalah-masalah yang muncul akibat hubungan antarmanusia. Konflik sosial berupa masalah peperangan, perburuhan, atau kasus-kasus hubungan sosial lainnya.

  • Konflik batin (internal)

Konflik batin adalah konflik yang terjadi dalam hati, jiwa seorang tokoh (atau tokoh-tokoh) cerita. Jadi ia merupakan konflik yang dialami manusia dengan dirinya sendiri, ia merupakan permasalahan intern seorang manusia. Misalnya, hal itu terjadi akibat pertentangan antara dua keinginan, keyakinan pilihan yang berbeda, harapan-harapan, atau masalah-masalah lainnya.Dapat disimpulkan bahwa beberapa konflik di atas saling berkaitan, saling menyebabkan terjadinya satu dengan yang lain, dan dapat terjadi secara bersamaan.

h. Amanat

Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca. Amanat dalam cerita bisa berupa nasihat, anjuran, atau larangan untuk melakukan/tidak melakukan sesuatu.

Misalnya :

  • - Hendaknya kita selalu berbakti kepada orang tua.

  • - Janganlah kita senang berbohong.

Namun, dalam sebuah cerita , tanpa adanya masalah yang memicu adanya konflik, dapat berarti ”tak akan

i. Gaya Bahasa

Gaya bahasa adalah cara pengarang mengungkapkan ceritanya melalui bahasa yang digunakan. Setiap pengarang memiliki gaya masing-masing. Ahmad Tohari, misalnya, dia banyak menggunakan kalimat-kalimat yang indah dan kuat untuk mendeskripsikan latar dalam ceritanya. Sedangkan Kuntowijoyo banyak menggunakan idiom-idiom Jawa dalam ceritanya.

2.2 Macam-macam Unsur Ekstrinsik

a. Nilai-nilai

1. Nilai Agama Nilai agama yaitu nilai-nilai dalam cerita yang berkaitan dengan aturan/ajaran yang bersumber dari agama tertentu. Contoh:

Ahim memperlama sujudnya. Ia banyak meminta di tiap sujud karena sujud adalah saat

dikabulkannya doa. Ia dengan sepenuh hati meminta kepada Allah agar dimudahkan menghadapi ujian nasional esok. Ahim telah mempersiapkan diri secara maksimal, tetapi ia yakin apa yang akan ia dapat adalah apa yang akan Ia karuniakan kepadanya.

Nilai agama yang terkandung dalam penggalan cerita di atas adalah meminta kepada Allah saat sujud dalam salat.

  • 2. Nilai Moral

Nilai moral yaitu nilai-nilai dalam cerita yang berkaitan dengan akhlak/perangai atau etika. Nilai moral dalam cerita bisa jadi nilai moral yang baik, bisa pula nilai moral yang buruk/jelek. Contoh 1:

Amak menatap orang itu dengan nanar. Apa yang diucapkan oleh mulut perempuan itu seperti sekeranjang sampah yang sudah sangat membusuk. Ini hal baru bagi Amak.

“Kau kerja di sini harus izin dulu, tak bisa sekehendak perutmu!”

Perempuan itu sudah paruh baya. Buruknya isi lidahnya mengimbas kepada keburukan wajahnya.

i. Gaya Bahasa Gaya bahasa adalah cara pengarang mengungkapkan ceritanya melalui bahasa yang digunakan. Setiap pengarang

Nilai moral yang terdapat dalam penggalan cerita di atas adalah nilai moral yang jelek, yaitu seorang perempuan yang sangat kasar mulutnya pada orang lain.

Contoh 2:

Adi mengangkat tubuh Haikal ke pundaknya. Hah…berat juga, katanya dalam hati. Ia

berjalan pelan menuruni bukit. Ia harus segera tiba di perkampungan terdekat agar nyawa sahabatnya ini bisa diselamatkan. Gigitan ular berbisa di tempat mereka berkemah semalam, tampak membuat kaki kanan Haikal membiru kehitaman.

Nilai moral yang terdapat dalam penggalan cerita di atas adalah nilai moral yang baik,

yaitu kesetiaan seorang sahabat yang berjuang menyelamatkan nyawa sahabatnya.

  • 3. Nilai Budaya

Nilai budaya adalah nilai-nilai yang berkenaan dengan kebiasaan/tradisi/adat-istiadat yang berlaku pada suatu daerah.

Contoh:

Pusing kepala Inop sekarang. Rasanya tumbuh sebuah uban sehari di kepalanya. Ke mana hendak dicarikannya uang tiga juta rupiah untuk diserahkan kepada keluarga calon mertuanya. Uang itu akan digunakan sebagai pengisi sudut namanya, suatu istilah untuk menamakan pemberian pihak calon mempelai laki-laki kepada keluarga calon mempelai perempuan.

“Apa yang harus aku lakukan sekarang, Mak?” tanya Inop agak melotot Kepada Amaknya.“Kau sudah aku bilang, tak usah buru-buru kawin. Kababini seperti orang sasak cirik sajo. Kini aden juo yang susah!” jawab Mak marah. Sekarang bukan satu, tiga puluh tiga uban sehari bertunas di kepala Inop.

Nilai budaya yang terdapat dalam penggalan cerita di atas adalah kebiasaan di suatu tempat di Ranah Minang, pihak calon mempelai laki-laki memberi sesuatu kepada pihak keluarga calon mempelai perempuan.

  • 4. Nilai Sosial

Nilai sosial yaitu nilai-nilai yang berkenaan dengan tata pergaulan antara individu dalam

masyarakat.

Nilai moral yang terdapat dalam penggalan cerita di atas adalah nilai moral yang jelek, yaitu seorang

Contoh:

Semua bersedih. Langit pun tampak mendung, seakan ikut bersedih. Jenazah Yuda terbaring kaku di ruang depan. Masyarakat datang berbondong-bondong memenuhi rumah duka. Mereka ikut kehilangan seseorang yang selama ini dikenal sangat rajin mengurus mesjid, ramah, dan ringan tangan dalam memberi bantuan. Sebagian masyarakat sudah berangkat ke pemakaman untuk menggali kuburan, dan mempersiapkan pemakaman.

Nilai sosial yang terdapat dalam penggalan cerita di atas adalah masyarakat yang dengan suka rela menjenguk orang yang kemalangan dan bergotong royong mempersiapkan pemakaman.

b. Latar Belakang Penciptaan Latar belakang penciptaan adalah kapan karya sastra tersebut diciptakan

c. Kondisi Masyarakat Saat Karya Sastra Diciptakan

Kondisi masyarakat saat karya sastra diciptakan adalah keadaan masyarakat baik itu

ekonomi, sosial, budaya,politik pada saat karya sastra diciptakan

d. Pandangan hidup pengarang/Latar belakang pengarang

Latar belakang pengarang ini sangat berpengaruh terhadap karya sastra hasil ciptaannya.

  • 12. Tanggapan Diskusi

    • 12.1 Menyampaikan Gagasan dan Tanggapan dalam Diskusi

Kemahiran berbicara dapat mengangkat citra seseorang dalam kehidupannya, baik secara personal maupun secara sosial. Banyak orang terkenal karena kemahirannya dalam menyampaikan gagasan dan tanggapan dalam berbagai kesempatan.

Sesuai dengan asal katanya discuti atau discusium (bahasa Latin) yang berarti ‟bertukar pikiran‟, diskusi merupakan ajang bertukar pikiran secara teratur dan terarah dengan tujuan

untuk mendapatkan suatu pengertian, kesepakatan, dan keputusan bersama mengenai suatu masalah. Arsjad dan Mukti (1991: 37) berpendapat bahwa ada beberapa syarat yang harus

dipenuhi dalam diskusi yakni:

1. Ada masalah yang dibicarakan;

Contoh: Semua bersedih. Langit pun tampak mendung, seakan ikut bersedih. Jenazah Yuda terbaring kaku di ruang

2.

Ada seseorang yang bertindak sebagai pemimpin diskusi;

  • 3. Ada peserta sebagai anggota diskusi;

  • 4. Setiap anggota mengemukakan gagasannya dengan teratur;

  • 5. Jika ada kesimpulan dan keputusan yang diambil harus disetujui bersama.

Pada saat menyampaikan suatu gagasan, hendaknya disampaikan secara jelas agar ruang lingkup pembahasannya terarah. Peserta diskusi dapat mengajukan pertanyaan dan tanggapan tentang hal yang dikemukakan. Tanggapan yang disampaikan dapat berupa persetujuan atau penolakan terhadap pendapat yang disampaikan. Agar tanggapan dapat diterima dan dipahami, sebaiknya berikan argumen logis yang dapat mendukung atau menentang pendapat pembicara.

Dengan sering melakukan kegiatan diskusi, akan melatih menyampaikan pendapat, mengajukan pertanyaan, dan menyampaikan tanggapan atau sanggahan dengan baik. Penyampaian pendapat, pertanyaan, tanggapan, sanggahan, persetujuan, atau penolakan harus disesuaikan dengan pokok masalah yang dibahas sehingga tidak akan terjadi penyimpangan makna dan keluar dari permasalahan.

Perhatikan ilustrasi berikut! Suatu diskusi membahas pentingnya Pendidikan Seks pada Usia Dini, akan muncul beberapa pertanyaan sebagai berikut.

Kalimat pertanyaan : Bagaimanakah cara menyampaikan pendidikan seks pada anak usia dini? Kalimat persetujuan : Saya setuju pendidikan seks diberikan sejak anak usia dini karena usia tersebut merupakan fondasi yang harus kuat untuk meniti masa depan. Kalimat penolakan : Saya tidak setuju bahwa pendidikan seks diberikan pada anak usia dini karena daya nalar mereka belum bekerja secara ptimal,lebih baik dimulai pada anak-anak usia sekolah dasar . Kalimat tanggapan : Menanggapi pendapat yang sudah disampai-kan teman-teman terdahulu, pendidikan seks memang sangat penting, tetapi kita harus mempertimbangkan siapa, apa, dan bagaimana cara menyampaikannya. Sebenarnya kita dapat saja mulai pada anak usia dini, tetapi cara menyampaikan dan topik yang disampaikannya harus sesuai dan dekat dengan kehidupan anak.

2. Ada seseorang yang bertindak sebagai pemimpin diskusi; 3. Ada peserta sebagai anggota diskusi; 4. Setiap

Dalam diskusi yang baik, setiap peserta diskusi hendaknya bersikap aktif selama diskusi berlangsung. Dengan kata lain, peserta diskusi harus aktif mengemukakan pendapat secara objektif dan mengandung kebenaran. Saat hendak mengungkapkan pendapat, usul, tanggapan, atau sekadar menginformasikan

sesuatu, baik lisan maupun tertulis, kadang-kadang kita mengalami kesulitan dalam memulai. Sebetulnya banyak hal yang hendak disampaikan, namun ternyata tidak dapat keluar, atau kalau toh keluar susunannya tidak sistematis. Informasi yang hendak disampaikan tidak mudah dipahami. Untuk itu, gagasan yang hendak disampaikan perlu terlebih dahulu dirumuskan. Cara merumuskan gagasan yang hendak disampaikan adalah sebagai berikut.

  • a. Apa yang hendak disampaikan?

  • b. Untuk tujuan apakah kita menyampaikan hal tersebut?

  • c. Bagaimana kita menyampaikannya?

  • d. Bagaimana pemilihan kata sehingga mempengaruhi struktur kalimat yang hendak kita

gunakan? Perhatikan contoh tanggapan kasus di bawah ini! Kasus:

Dalam sebuah rapat kita tidak setuju adanya pendapat tentang adanya rencana pembongkaran beberapa bangunan bersejarah yang berada di tengah kota. Kita juga bermaksud memberi solusi atas hal itu. Perumusan tanggapan yang kurang tepat:

Ah pendapat itu, seperti adanya rencana pembongkaran tidak setuju saya. Sebaiknya rencana tersebut kalau kita masih akan melihat sejarah bangsa kita saya setuju rencana tersebut dibatalkan.

Perumusan tanggapan yang tepat:

Saya kurang sependapat jika alasan penataan kota mengakibatkan hancurnya bangunan

bersejarah. Kita akan menjadi bangsa yang besar jika kita menghargai sejarah bangsa sendiri. Menurut pendapat saya, sebaiknya kebijakan tata kota ditinjau kembali tanpa harus mengorbankan nilai-nilai sejarah yang ada. Atau, dicarikan solusi yang lebih baik tanpa harus merusak nilai-nilai budaya yang ada.

Dalam berdiskusi kita dituntut untuk dapat menanggapi pembicaraan dengan tepat. Oleh karena itu, saat mengikuti diskusi kita harus:

Dalam diskusi yang baik, setiap peserta diskusi hendaknya bersikap aktif selama diskusi berlangsung. Dengan kata lain,

mencatat pokok-pokok pembicaraan; mencatat hal-hal yang masih kita pertanyakan (hal yang kurang jelas); dan mencatat masalah-masalah yang akan kita tanggapi dengan sanggahan. Dari hasil catatan tersebut kita akan mempunyai bahan untuk menyampaikan dukungan, sanggahan, maupun kritikan kepada pembicara. Untuk menyampaikan suatu sanggahan yang baik hendaknya:

menggunakan alasan/argumen yang logis untuk memperkuat gagasan; didukung dengan fakta; menggunakan kalimat efektif; dan memperhatikan santun berbahasa (tidak menyinggung lawan bicara).

3.2 Menulis Laporan Diskusi dengan Melampirkan Notula dan Daftar Hadir

Pada kegiatan pembelajaran, kita sering melakukan kegiatan diskusi untuk membahas berbagai hal. Dalam kegiatan diskusi tersebut ada teman yang berperan sebagai pembicara, moderator, dan ada notulis. Pembicara adalah orang yang menyampaikan dan membahas topik permasalahan yang didiskusikan. Moderator adalah orang mengatur jalannya diskusi. Notulis adalah orang yang bertugas untuk membuat ntula (catatan rapat/hasil diskusi). Menulis laporan hasil diskusi adalah salah satu tugas seorang notulis. Laporan yang disampaikan harus dapat menyajikan fakta secara objektif tentang keadaan atau kegiatan yang telah dilaksanakan. Fakta objektif yang disajikan menjadi tanggung jawab notulis yang membuat laporan diskusi tersebut. Menyusun laporan hasil diskusi adalah tugas notulis. Untuk itu, notulis harus mengikuti jalannya diskusi dengan cermat agar dapat mencatat segala hal yang berkaitan dengan kegiatan dan jalannya diskusi. Hal-hal yang perlu dicatat notulis antara lain: gagasan pokok yang disampaikan pembicara, pertanyaan, sanggahan, kmentar, atau saran dari peserta diskusi. Selain itu, notulis juga bertugas meresume pembicaraan, mencatat suasana jalannya diskusi, serta mengedarkan dan merekap daftar hadir diskusi. format berikut! Laporan Hasil Diskusi

1. Topik diskusi : …………………………………………….

2. Pelaksana kegiatan : …………………………………………….

– mencatat pokok-pokok pembicaraan; – mencatat hal-hal yang masih kita pertanyakan (hal yang kurang jelas); dan

3.

Hari, tanggal, waktu : …………………………………………….

  • 4. Penyaji makalah / Nara Sumber : …………………………………………….

  • 5. Peserta : ….orang (daftar hadir terlampir)

  • 6. Judul makalah : …………………………………………….

  • 7. Moderator : …………………………………………….

  • 8. Notulis : …………………………………………….

  • 9. Jalan diskusi : …………………………………………….

Seminar dibuka oleh moderator, pukul : ……………………

Penyampaian materi oleh penyaji : ……………………

Tanggapan peserta : ……………………

Nama Tanggapan/ Pertanyaan/ Tanggapan Balik

a ……………………………………………………………………

b ……………………………………………………………………

c ……………………………………………………………………

Diskusi ditutup oleh moderator pukul : ……………………

Dengan kesimpulan diskusi:

1) ……………………………………………………………………… ..

2) ……………………………………………………………………… ..

3) ……………………………………………………………………… ..

b. Saran-saran:

1) ……………………………………………………………………… ..

3. Hari, tanggal, waktu : ……………………………………………. 4. Penyaji makalah / Nara Sumber : ……………………………………………. 5. Peserta

2) ……………………………………………………………………… ..

3) ……………………………………………………………………… ..

Laporan hasil diskusi akan lebih lengkap jika diberi lampiran. Lampiran berupa makalah, notula, dan daftar hadir peserta.

  • 13. Masalah dalam Berita/Artikel/Buku

Setiap masalah yang ada di sekitar kita akan menimbulkan beragam tanggapan. Hal ini tentunya bergantung pada respons setiap orang. Misalnya,jika di kelas anda ada permasalahan, anda dan teman-teman biasanya mendiskusikan dan mencari jalan keluar atas berbagai permasalahan tersebut. Kegiatan mendiskusikan permasalahan tersebut berhubungan dengan cara pengungkapan pikiran, perasaan, dan informasi. Dengan demikian, akan ada timbal balik pembicaraan yang berlangsung secara dua arah. Begitu pula dengan permasalahan yang termuat dalam teks bacaan. Misalkan, anda pernah membaca artikel kesehatan yang memuat wabah demam berdarah di sekitar anda. Dalam pikiran anda mungkin muncul suatu kekhawatiran jika demam berdarah tersebut menyerang Anda atau teman sekelas Anda. Anda kemudian dapat mengajukan pertanyaan: Mengapa demam berdarah bisa mewabah? Hal-hal apa sajakah yang perlu dilakukan untuk menanggulanginya? Apakah upaya yang perlu dilakukan oleh pihak berwenang atau pemerintah. Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan memenuhi pikiran sehingga Anda ingin menemukan jawabannya. Sekarang, bacalah bacaan berikut dengan baik.

Menghadapi Rasa Marah

Kemarahan adalah suatu bentuk emosi yang sulit dihadapi karena beberapa alasan. Anda mungkin tumbuh dalam suatu keluarga di mana kemarahan diekspresikan dalam cara yang menyakitkan, agresif, atau kasar. Anda mungkin juga diajarkan bahwa ekspresi kemarahan adalah sesuatu yang tidak bisa diterima dan Anda belajar untuk menekan atau menyembunyikannya. Banyak di antara kita merasa marah, tetapi tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menghadapi kemarahan tersebut. Anda mungkin malah berpura-pura segala sesuatu baik-baik saja sementara di dalam diri Anda merasa penuh dengan amarah. Anda mengekspresikan kemarahan dengan meluapkannya keluar, menjerit, atau menyakiti mereka yang dekat dengan Anda. Marah adalah suatu emosi manusia yang normal. Kita pernah merasa marah dalam situasi tertentu, misalnya ketika kita terjebak dalam suatu kemacetan, jika orangtua mengkritik kita, atau ketika orang lain memperlakukan kita secara tidak hormat. Bagi sebagian besar orang, marah adalah suatu emosi perlindungan diri yang bertindak sebagai suatu bendera merah yang memperingatkan kita bahwa sesuatu sedang terjadi pada kita. Marah juga adalah emosi yang berguna bagi kita untuk bertanggung jawab, membuat perubahan, atau melindungi diri dalam suatu situasi.

Sumber: Majalah Tempo, Juni 2006 Sumber: www. kotacantik.info.com

Cermatilah, permasalahan apa saja yang menurut Anda dapat didiskusikan.

Apakah Anda sudah menemukan permasalahan yang terdapat dalam teks tersebut? Mungkin Anda berpendapat hal-hal berikut terhadap isi permasalahan dalam teks tersebut.

  • 1. Kemarahan dapat timbul pada sebagian orang tanpa terkendali.

  • 2. Kadang, kita tidak dapat menyadari penyebab kemarahan itu

2) ……………………………………………………………………… .. 3) ……………………………………………………………………… .. Laporan hasil diskusi akan lebih lengkap jika diberi lampiran. Lampiran

muncul.

  • 3. Kemarahan lebih banyak merugikan baik bagi diri sendiri

maupun orang lain. Hal-hal tersebut dapat Anda diskusikan dengan teman-teman.

Selanjutnya, Anda pun dapat mengajukan beberapa kiat agar kemarahan itu dapat dikendalikan dan membuat kita sehat. Berikut ini adalah beberapa pernyataan yang dapat Anda kemukakan tentang cara sehat menghadapi marah.

  • 1. Jangan mengesampingan rasa marah. Ambil tindakan untuk

segera memperbaiki situasi ketika Anda merasa terganggu sehingga perasaan marah tidak membubung. Misalnya, bicaralah pada teman jika Anda merasa tidak senang dengan sikapnya.

  • 2. Jangan melepaskan kemarahan. Anda mungkin merasa lebih baik,

tetapi orang yang terkena marah, akan merasa tidak nyaman. Cari

cara lain untuk melepaskan kemarahan, seperti menulis dalam suatu jurnal, atau menulis surat berisikan kemarahan untuk mencapai perasaan bebas.

  • 3. Bersikaplah proaktif. Jangan harap orang lain membaca pikiran

Anda atau mengetahui apa yang Anda inginkan. Bicaralah pada diri sendiri. Belajar jujur pada diri sendiri dan orang lain tentang apa yang Anda inginkan dan butuhkan pada suatu dasar

keseharian.

  • 4. Gunakan energi kemarahan untuk mendapatkan sesuatu yang

bermanfaat. Ini akan sangat baik terutama di tempat belajar.

Pikirkan dengan hati-hati sebelum Anda mengekspresikan kemarahan pada teman. Anda pun dapat berolah raga agar pikiran menjadi segar.

  • 5. Sisihkan waktu beberapa saat untuk menulis dan memikirkan

tentang perasaan orang lain yang mungkin menjadi sasaran kemarahan Anda. Kadang-kadang, kita mengekspresikan kemarahan ketika kita merasa sakit hati dan tidak puas. Cobalah

untuk menyelami dan mengekspresikan perasaan lebih dalam.

  • 14. Ringkasan Sebuah Teks

Ringkasan adalah penyajian suatu karangan yang panjang dalam bentuk yang singkat. Ringkasan adalah suatu bentuk penyajian yang singkat dari suatu karangan asli.

Dalam membuat ringkasan, hendaknya kamu tetap mempertahankan urutan isi. Penulis ringkasan juga harus berbicara dalam suara pengarang asli. Jadi, kamu harus langsung membuat ringkasannya. Tujuan membuat ringkasan adalah untuk memahami dan mengetahui isi sebuah karangan. Untuk dapat membuat ringkasan, hendaknya kita membaca karangan yang akan diringkas dengan cermat. Adapun cara membuat ringkasan adalah sebagai berikut.

  • 1. Membaca naskah asli seluruhnya secara berulang-ulang.

  • 2. Mencatat gagasan-gagasan utama.

muncul. 3. Kemarahan lebih banyak merugikan baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Hal-hal tersebut dapat

3.

Menyusun ringkasan berdasarkan gagasan-gagasan utama tersebut.

  • 4. Memperhatikan ketentuan-ketentuan tambahan sebagai berikut.

Ringkasan hendaknya disusun dalam kalimat tunggal dan hindari kalimat majemuk. Buang semua keterangan (jika mungkin). Pertahankan susunan gagasan asli.

Sekarang bacalah teks di bawah ini, buatlah ringkasanya sesuai dengan cara-cara seperti di atas !

3. Menyusun ringkasan berdasarkan gagasan-gagasan utama tersebut. 4. Memperhatikan ketentuan-ketentuan tambahan sebagai berikut.  Ringkasan hendaknya

Langkah pertama adalah menentukan gagasan utama dari teks tersebut :

  • 1. Wawasan para guru harus terus ditingkatkan untuk meningkatkan kualitas guru.

  • 2. Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) menargetkan 100.000 guru melek internet

selama tiga tahun ke depan.

  • 3. Guru yang tdak mengenal, memahami, dan tidak mengerti internet harus melek

internet

  • 4. Internet telah menjadi sumber belajar yang luar biasa

3. Menyusun ringkasan berdasarkan gagasan-gagasan utama tersebut. 4. Memperhatikan ketentuan-ketentuan tambahan sebagai berikut.  Ringkasan hendaknya

5.

Di internet banyak sekali sumber informasi dan sumber belajar yang dapat

diaplikasikan di dalam kelas

  • 6. Guru dituntut untuk terus belajar. IGI baru saja menyelenggarakan pelatihan agar

guru memiliki avatar di dunia maya melalui program Second Life Virtual (SLV).

Berdasarkan gagasan-gagasan utama di atas, maka dapat dibuat ringkasan sebagai berikut :

Wawasan para guru harus terus ditingkatkan untuk meningkatkan kualitas guru. Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) mendeklarasikan gerakan guru melek internet bekerja sama dengan PT Telkom. Program ini menargetkan 100.000 guru melek internet selama tiga tahun ke depan. Guru yang tdak mengenal, memahami, dan tidak mengerti internet harus melek internet.

Internet telah menjadi sumber belajar yang luar biasa .Di internet banyak sekali sumber informasi dan sumber belajar yang dapat diaplikasikan di dalam kelas. Dengan semakin

menariknya pembelajaran di kelas, interaksi guru-siswa dalam kegiatan belajar-mengajar juga semakin intens

Guru dituntut untuk terus belajar. IGI baru saja menyelenggarakan pelatihan agar guru memiliki avatar di dunia maya melalui program Second Life Virtual (SLV). Dalam program ini,

guru-guru di seluruh dunia bisa berinteraksi dan berbagi ilmu.

Perbedaan Rangkuman dan Ikhtisar

Rangkuman dapat diartikan sebagai suatu hasil merangkum atau meringkas suatu tulisan atau pembicaraan menjadi suatu uraian yang lebih singkat dengan perbandingan secara proporsional antara bagian yang dirangkum dengan rangkumannya (Djuharni, 2001). Rangkuman dapat pula diartikan sebagai hasil merangkai atau menyatukan pokok-pokok pembicaraan atau tulisan yang terpencar dalam bentuk pokok-pokoknya saja. Rangkuman sering disebut juga ringkasan, yaitu bentuk ringkas dari suatu uraian atau pembicaraan Pada tulisan jenis rangkuman, urutan isi bagian demi bagian, dan sudut pandang (pendapat) pengarang tetap diperhatikan dan dipertahankan.Ikhtisar adalah tulisan ringkas yang berisi pokok persoalan dalam sebuah bacaan. Dalam pembuatan ikhtisar, penulis dapat langsung mengungkapkan persoalan dari suatu bahan bacaan atau pembicaraan yang akan diikhtisarkan. Penulis dapat membuat catatan atau memberi tanda tertentu pada bagian-bagian penting dalam bacaan yang akan diikhtisarkan ketika membaca. Dalam membuat ikhtisar, urutan isi tidak perlu dipersoalkan dan bahasa disusun dengan gaya bahasa yang mudah sehingga dapat dipahami oleh pembacanya. Dalam membuat ikhtisar dapat pula dilakukan dengan cara menyesuaikan bahasa ikhtisar dengan pembaca atau yang akan memahami ikhtisar tersebut. Penulis dapat pula memberikan penafsiran isi bacaan sesuai dengan kajian ilmu yang didalaminya, namun tetap mempertahankan pokok persoalan yang diungkapkan.

  • 15. Topik dalam Naratif (Kata Ulang)

Karangan naratif adalah karangan berbentuk kisahan yang terdiri atas kumpulan yang disusun secara kronologis (menurut urutan waktu) sehingga menjadi suatu rangkaian. Dalam karangan naratif, kita harus bisa menghadirkan tulisan yang membawa pembaca pada petualangan seperti yang kita alami. Dengan demikian, para pembaca akan merasakan urutan waktu yang

5. Di internet banyak sekali sumber informasi dan sumber belajar yang dapat diaplikasikan di dalam kelas

digambarkan dalam tulisan. Urutan waktu yang diisi dengan berbagai kegiatan tersebut akan menghasilkan tulisan naratif yang menarik untuk dibaca. Kegiatan menulis karangan naratif dilakukan dengan langkahlangkah berikut. 1. Mendaftar topik-topik yang dapat dikembangkan menjadi paragraph naratif. Misalnya, topik kegiatan dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup.

  • 2. Menyusun kerangka paragraf naratif berdasarkan kronologi waktu dan peristiwa, misalnya:

Kerangka Karangan Judul: Susur Sungai Cikapundung,

Rekreasi Sekaligus Pembelajaran

  • 1. Waktu Pelaksanaan

    • - kegiatan acara susur Sungai Cikapundung

    • - satu jam kemudian pergi ke hulu sungai

    • - kegiatan penyusuran

2.

Konsep Acara

  • - tujuan acara

  • - peserta

3.

Pelaksana

  • - mahasiswa Teknik Planologi 2004 ITB

    • 4. Pelaksanaan Kegiatan

      • - penataan ruang di Daerah Aliran Sungai (DAS)

      • - membersihkan sampah

        • 5. Kegiatan lain

          • - diskusi

          • - kegiatan lanjutan

Sebagai contoh, berikut ini adalah sebuah hasil pengembangan kerangka karangan.

''Susur Sungai Cikapundung'' KMPAPSIK:

Rekreasi Sekaligus Pembelajaran Minggu, 23 April, Pukul 08.00 pagi, peserta perjalanan ''Susur Sungai Cikapundung'' sudah mulai berkumpul di sekretariat KMPA di Sunken Court W03. Satu jam kemudian, rombongan berangkat menuju Curug Dago, dengan sedikit naik ke arah hulu di mana perjalanan itu dimulai. Tanpa ragu, peserta mulai menyusuri Cikapundung meskipun ketinggian air hampir mencapai sebatas pinggang. Ketinggian air pun meningkat sekitar 50 cm setelah hujan deras mengguyur Bandung hampir sehari penuh kemarin, Sabtu 22 April 2006. Hari tersebut bertepatan dengan Hari Bumi. Derasnya air Sungai Cikapundung tidak mengecilkan hati para peserta yang mengikuti acara ''Susur Sungai Cikapundung''. Acara ''Susur Sungai Cikapundung'' ini merupakan salah satu acara dari serangkaian kegiatan Pekan Hari Bumi seITB yang diadakan oleh Unit Kegiatan KMPA (Keluarga) Mahasiswa Pecinta Alam) yang bekerja sama dengan PSIK (Perkumpulan Studi Ilmu Masyarakat). Acara ''Susur Sungai Cikapundung'' ini diikuti oleh 24 orang yang terdiri atas berbagai unit kegiatan ITB seperti PSIK, KMPA, Teknik Pertambangan, Nymphea, Planologi dan 3 orang pelajar dari SMP al-Huda dan satu pelajar dari SMK Dago. Para mahasiswa Teknik Planologi 2004, mengikuti kegiatan tersebut dengan semangat menggebu. Mereka tidak menyangka bahwa dengan menyusuri sungai dapat menjadi ajang rekreasi dari rutinitas seharihari. Beruntung, hari itu hujan tidak turun yang dapat menyebabkan acara menjadi kacau karena menyebabkan naiknya debit air dan menambah derasnya sungai sehingga dapat membahayakan diri peserta. Selain menyusuri sungai dan melihat secara langsung kondisi Cikapundung, peserta juga diberikan wacana dan ajang diskusi yang disampaikan oleh Andre, mahasiswa Teknik Planologi 2002, mengenai konsep penataan ruang di Daerah Aliran Sungai (DAS) yang tetap memerhatikan lingkungan. Selain itu, peserta juga diajak untuk mengambil sampah-sampah yang mencemari Sungai Cikapundung. Ajang diskusi ini menimbulkan banyak pertanyaan dari peserta tentang bagaimana seharusnya menata

digambarkan dalam tulisan. Urutan waktu yang diisi dengan berbagai kegiatan tersebut akan menghasilkan tulisan naratif yang

daerah sepanjang aliran sungai agar tidak merusak lingkungan dan sungai yang ada. Diharapkan dengan adanya acara ini para peserta yang ikut dapat mengetahui kondisi yang sebenarnya dari Sungai Cikapundung dan apa yang terjadi dengan lingkungan di DAS Cikapundung. Selain itu, mudahmudahan para peserta dapat tergerak hatinya untuk lebih memerhatikan masalah lingkungan yang terjadi di Bandung, khususnya Sungai Cikapundung. Setelah kurang lebih 4 jam menyusuri Sungai Cikapundung dan berbasah ria, sekitar pukul 14.20 acara menyusuri sungai tersebut selesai dan keluar di daerah Ciumbuleuit atas yang kemudian dilanjutkan dengan pawai spanduk dan poster sampai kampus.

Sumber: www.itb.ac.id

Dalam teks bacaan naratif "Susur Sungai Cikapundung, Rekreasi Sekaligus Pembelajaran," terdapat kalimat berikut.

Mereka tidak menyangka bahwa dengan menyusuri sungai dapat menjadi ajang rekreasi dari rutinitas

...

sehari-hari.

Kata yang dimiringkan (sehari-hari) termasuk kata ulang. Anda dapat menggunakan kata ulang dalam tulisan paragraf naratif yang Anda tulis. Proses pengulangan atau reduplikasi ialah pengulangan satuan gramatik baik seluruhnya maupun sebagiannya. Dalam hal ini ada yang berupa variasi fonem ataupun tidak. Hasil pengulangan itu disebut kata ulang. Setiap kata ulang memiliki bentuk dasar, contohnya kata ulang berjalanjalan dibentuk dari kata dasar berjalan. Adapun kata sia-sia, alun-alun, mondar-mandir, dan compang-camping tidak digolongkan kata ulang karena sebenarnya tidak ada satuan yang diulang.

  • A. Pengertian / Definisi Kata Ulang atau Kata Reduplikasi

Kata Ulang aau Reduplikasi adalah Kata jadian yang terbentuk dengan pengulangankata.

  • B. Bentuk kata ulang

  • a. Kata ulang murni atau pengulangan seluruh atau dwilingga, yaitu kata dasar.

pengulanganseluruh

Contoh :

  • a. ibu-ibu

  • b. hitam-hitam

  • c. kuda-kuda

  • d. danau-danau

  • b. Kata ulang berimbuhan atau kata ulang sebagian, yaitu bentuk pengulangan kata denga

mendapat awalan, sisipan, akhiran atau gabungan imbuhan sebelum atau sesudahkata dasarnya diulang.

Contoh :

  • a. berlari-lari

  • b. bermain-main

  • c. menari-nari

  • d. hormat-menghormati

  • e. bunga-bungaan

  • f. kekanak-kanakan

daerah sepanjang aliran sungai agar tidak merusak lingkungan dan sungai yang ada. Diharapkan dengan adanya acara

c.

Kata ulang berubah bunyi atau bervariasi fonem, baik vokal maupun konsonan.

Contoh :

a.

lauk-pauk

b.

serta-merta

c.

warna-warni

d.

gerak-gerik

e.

mondar-mandir

d.Kata ulang suku awal atau dwipurwa, yaitu bentuk pengulangan suku pertama katadasarnya, biasanya disertai variasi e pepet.

 

Contoh :

a.

lelaki = laki-laki ~ lalaki ~ lelaki

b.

sesama = sama-sama ~ sasama ~ sesama

c.

tetangga = tangga-tangga ~ tatangga ~ tetangga

Selain bentuk kata ulang di atas, terdapat kata ulang semu atau kata dasar berulang.

Contoh :

-

cumi-cumi

-

paru-paru

-

laba-laba

-

pura-pura

-

biri-biri

-

kura-kura

-

kupu-kupu

-

kunang-kunang

  • C. Makna kata ulang

    • 1. Menyatakan banyak tak tentu.

Contoh :

  • a. gunung-gunung

  • b. daerah-daerah

  • c. gerak-gerik

  • d. rumah-rumah

  • e. pepohonan

    • 2. Menyatakan sangat.

Contoh :

  • a. rajin-rajin

  • b. besar-besar

  • c. kuat-kuat

  • d. manis-manis

    • 3. Menyatakan saling, berbalasan atau pekerjaan dilakukan oleh dua pihak.

Contoh :

  • a. kunjung-mengunjungi

  • b. tuduh-menuduh

  • c. tolong-menolong

c. Kata ulang berubah bunyi atau bervariasi fonem, baik vokal maupun konsonan. Contoh : a. lauk-pauk

4.

Menyatakan paling atau intensitas.

Contoh :

  • a. sebaik-baiknya

  • b. setinggi-tingginya

  • c. sebanyak-banyaknya

    • 5. Menyatakan tiruan atau menyerupai.

Contoh :

  • a. orang-orangan

  • b. mobil-mobilan

  • c. kayu-kayuan

  • d. rumah-rumahan

    • 6. Menyatakan bersenang-senang atau santai.

Contoh :

  • a. duduk-duduk

  • b. minum-minum

  • c. membaca-baca

  • d. tidur-tiduran

  • e. berjalan-jalan

  • f. berbaring-baring

    • 7. Menyatakan dikenai sifat atau agak.

Contoh :

  • a. kebarat-baratan

  • b. kemalu-maluan

  • c. kehijau-hijauan

8.

Menyatakan himpunan pada kata bilangan.

Contoh :

  • a. dua-dua

  • b. lima-lima

  • c. banyak-banyak

  • 9. Menyatakan agak….(melemahkan arti).

Contoh :

  • a. Kepala pening-pening.

  • b. Badan sakit-sakit.

  • c. Jangan malu-malu.

    • 10. Menyatakan beberapa. Contoh :

      • a. bertahun-tahun ia menunggu.

      • b. berhari-hari ia menanti.

        • 11. Menyatakan terus-menerus.

Contoh :

  • a. bertanya-tanya

  • b. mencari-cari

4. Menyatakan paling atau intensitas. Contoh : a. sebaik-baiknya b. setinggi-tingginya c. sebanyak-banyaknya 5. Menyatakan tiruan

12.

Menyatakan waktu. Contoh :

  • a. Pagi-pagi minum es.

  • b. Datang-datang marah.

    • 13. Menyatakan makin atau bertambah. Contoh :

      • a. Lama-lama ia pingsan.

      • b. Meluap-luap amarahnya.

        • 14. Menyatakan berusaha … atau

Contoh :

penyebab.

  • a. menyabar-nyabarkan diri.

  • b. menguat-nguatkan hati.

  • c. menahan-nahan amarah.

  • D. Soal-soal pelatihan, Pembahasan dan Jawaban

o 1.

Ea berperilaku kebarat-baratan sehingga tidak disenangi oleh teman-temannya.Makna

kata ulang yang sama dengan kalimat tersebut adalah….

  • a. Buku-buku itu telah kusimpan dalam rak.

  • b. Halaman rumahku ditanami dengan pohon buah-buahan.

  • c. Sikap gadis itu masih kekanak-kanakan.

  • d. Wati tampak kurus karena sakit-sakitan.

Pembahasan:

Buku-buku bermakna banyak. Buah-buahan bermakna bermacam-macam. Kekanak-kanakan bermakna menyerupai. Sakit-sakitan bermakna intensitas atau sering.

Kebarat-baratan bermakna menyerupai, kata tersebut semakna dengan katakekanak- kanakan. Jawaban : C

No. 2

Yang merupakan kata ulang semu adalah….

  • a. buku-buku

  • b. kupu-kupu

  • c. pontang-panting

  • d. baris-berbaris

Jawaban : b

NO.3

Buah-buahan yang dibeli Inul di Pasar Baru masih tampak segar. Buah buahandalam kalimat tersebut tergolong kata ulang….

  • a. berubah bunyi

12. Menyatakan waktu. Contoh : a. Pagi-pagi minum es. b. Datang-datang marah. 13. Menyatakan makin atau
  • b. sebagian

  • c. murni

  • d. berimbuhan

NO. 4

Kata ulang yang menyatakan makna saling adalah….

  • a. Salah satu ciri khas bangsa Indonesia dalam bermasyarakat adalah tolong-menolong.

  • b. Anak itu melempar-lempar mainannya.

  • c. Paman tidur-tiduran di atas sofa.

  • d. Berbulan-bulan kakaknya tidak pulang dari perantauan.

Pembahasan :

Tolong-menolong artinya saling menolong Melempar-lempar artinya terus-menerus atau berulang-ulang. Tidur-tiduran artinya tindakan dilakukan dengan santai. Berbulan-bulan artinya menyatakan beberapa.

Jawaban : a

NO. 5

Pengulangan kata yang menyatakan paling terdapat pada kalimat….

  • a. Pemusik-pemusik di era Indonesia baru ini banyak bermunculan.

  • b. Mereka selalu berupaya untuk menciptakan lagu dengan sebaik-baiknya.

  • c. Penyanyi-penyanyi muda dan ceria selalu tampil dengan gaya yang berbeda.

  • d. Mereka kenal-mengenal sebelum mulai pertandingan.

Pembahasan :

Pemusik-pemusik maknanya banyak pemusik. Sebaik-baiknya maknanya paling baik. Penyanyi-penyanyi maknanya banyak penyanyi. Kenal-mengenal maknanya saling mengenal.

Jawaban : b

NO.6

Kata ulang yang bermakna menyatakan paling terdapat pada kalimat….

  • a. Mereka berusaha belajar sebaik- baiknya.

  • b. Ia hanya membaca buku-buku LKS.

  • c. Dia mendengarkan musik sambil tidur-tiduran.

  • d. Pemain-pemain sepak bola itu berkumpul di rumahnya.

Pembahasan :

Sebaik-baiknya bermakna paling. Buku-buku bermakna banyak. Tidur-tiduran bermakna santai.

b. sebagian c. murni d. berimbuhan NO. 4 Kata ulang yang menyatakan makna saling adalah…. a.

Pemain-pemain bermakna banyak.

Jawaban:A

  • 1. Cara menentukan bentuk dasar kata ulang

    • a. Sebagian kata ulang dengan mudah dapat ditentukan bentuk dasarnya misalnya, rumah-rumah bentuk dasarnya rumah.

    • b. Pengulangan pada umumnya tidak mengubah golongan kata. Misalnya,

bentuk dasar kata ulang benda menjadi kata benda.

contoh: sekolah sekolah-sekolah

  • c. Bentuk dasar selalu berupa satuan yang terdapat dalam penggunaan

bahasa. Misalnya, bentuk ulang memperkata-

katakan bentuk dasarnya memperkatakan bukan memperkata .

  • 2. Macam-macam pengulangan

    • a. Pengulangan seluruh, yaitu pengulangan bentuk dasar tanpa perubahan

fonem dan tidak berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks,

misalnya:

buku buku-buku

  • b. Pengulangan sebagian, yaitu pengulangan bentuk dasarnya secara

sebagian, misalnya:

membaca membaca-baca ditarik ditarik-tarik berjalan berjalan-jalan

berlarian berlari-larian

  • c. Pengulangan yang berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks.

Dalam golongan ini, bentuk dasar diulang seluruhnya dan berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks, misalnya menghubung-hubungkan, memata-matai.

  • d. Pengulangan dengan perubahan fonem misalnya:

gerak gerak-gerik lauk lauk-pauk sayur sayur-mayur

  • 16. Topik dalam Deskriptif (Frase)

Kata deskripsi berasal dari bahasa Inggris, yaitu verba to describe yang artinya menguraikan, memerikan, atau melukiskan. Paragraf ini bertujuan member kesan kepada pembaca terhadap objek, gagasan tempat, atau peristiwa yang ingin disampaikan penulis. Umumnya, gambaran tersebut diberikan secara visual. Pola pengembangan paragraf deskriptif biasa digunakan agar pembaca benar-benar bisa merasakan dan melihat tempat yang dideskripsikan secara langsung.

Pemain-pemain bermakna banyak. Jawaban:A 1. Cara menentukan bentuk dasar kata ulang a. Sebagian kata ulang dengan

Hal ini tentunya menuntut kepiawaian penulis dalam menggambarkan suasana dan objek yang dilihat atau dialami. Adapun hal-hal yang harus Anda perhatikan saat menulis paragraf deskriptif adalah sebagai berikut. 1. Mendaftar topik-topik yang dapat dikembangkan menjadi paragraf deskriptif berdasarkan hasil pengamatan. Misalnya, keadaan lingkungan tempat Anda tinggal sekarang. 2. Menyusun kerangka karangan. Misalnya:

Judul: Kekayaan Hutan Mangrove di Papua

  • 1. Lokasi dan ciri-ciri mangrove di Papua

    • - dekat sungai Ajkwa, Mimika, Papua

    • - hutan masih lestari

    • - untuk wisata

      • 2. Keadaan Pulau Ajkwa

        • - terbentuknya pulau

          • 3. Mangrove di Pulau Ajkwa

            • - ada beberapa spesies mangrove

            • - di sekitar mangrove ada spesies binatang lain

            • - hutan mangrove membentuk ekosistem baru

              • 4. Pulau Ajkwa untuk kawasan wisata

                • - keanekaragaman binatang

                • - jenis-jenis burung

Perhatikanlah contoh paragraf dengan pengembangan kerangka karangan deskriptif berikut.

Kekayaan Hutan Mangrove di Papua

Pulau Ajkwa yang berada di muara Sungai Ajkwa, Mimika, Papua, merupakan salah satu dari gugusan pulau dengan hutan mangrove di dalamnya. Hutan ini belum terjamah oleh keserakahan industri seperti yang dialami oleh hutan mangrove di daerah lain. Pulau yang mulai terbentuk pada awal 1990 ini memiliki kekayaan flora dan fauna yang bisa menambah wawasan setiap pengunjung melalui wisata sambil belajar. Masa-masa awal terbentuknya Pulau Ajkwa dimulai dari peningkatan sedimentasi yang tinggi di muara Sungai Ajkwa. Pengendapan yang intensif ini akibat dari aliran tailing yang lolos dari daerah pengendapan Ajkwa dan membentuk daratan- daratan bar di muara Sungai Ajkwa. Sebagian dari daratan ini telah ditumbuhi oleh tanaman mangrove. Berdasarkan data satelit, pulau ini mulai ditumbuhi tanaman mengrove sekitar 1997 dan baru menjadi pulau yang cukup stabil pada 2000. Tercatat dua spesies mangrove dalam kategori pohon, enam spesies mangrove dalam kategori belta, dan enam spesies mangrove dalam kategori anakan. Total spesies mangrove yang berada di pulau ini adalah empat belas spesies. Adapun kepadatan mangrove di pulau ini adalah 126 pohon/hektare, 1.051 belta/hektare, dan 643 anakan/hektare.Di samping tumbuhan, ternyata di pulau ini juga dihuni berbagai hewan air seperti crustasea (kepiting dan udang), molusca (keong), dan cacing. Selain itu, tercatat 30 spesies crustasea, empat spesies molusca, dan tujuh keluarga cacing, yang beranak-pinak di pulau ini. Hal ini menunjukkan bahwa hewan-hewan tersebut dapat hidup dan berkembang di daerah yang mengandung tailing. Hewan-hewan tersebut tidak memiliki tulang rangka tubuh sehingga tidak dapat menyelamatkan diri jika ada ancaman lingkungan di sekitarnya. Artinya, lingkungan pulau di sekitar Sungai Ajkwa tidak tercemari limbah seperti yang dialami oleh daerah lain. Bahkan, komunitas hewan ini terus bertambah setiap waktu. Hutan mangrove di Pulau Ajkwa telah membentuk sebuah ekosistem kehidupan. Biota-biota laut yang hidup di sana memancing kedatangan berbagai jenis burung. Burung-burung di sana berwarna indah. Oleh karena itu, jika Anda ke sana, jangan lupa membawa teropong. Dari lensa teropong, dapat diamati indahnya bentuk dan warna burung yang sedang bertengger di dahan pohon. Kicauan burung pun nyaring bersahut-sahutan seperti ingin meramaikan pulau yang tidak didiami oleh manusia ini. Ada yang bentuknya aneh seperti great-billed heron yang bertubuh kecil namun berparuh dan berleher panjang. Ada pula red-headed myzomela yang bulu kepala hingga buntutnya berwarna merah dengan sayap berwarna hitam. Ada juga yang seluruh anggota tubuhnya berwarna-warni milik burung rufous-night heron. Burung ini memiliki bulu kepala

Hal ini tentunya menuntut kepiawaian penulis dalam menggambarkan suasana dan objek yang dilihat atau dialami. Adapun

berwarna hitam dengan jambul berwarna putih. Bagian leher hingga perut berwarna putih namun sepasang sayapnya berwarna cokelat. Kedua kakinya berwarna kuning, semakin menambah warna-warni burung ini. Menariknya lagi, Pulau Ajkwa mungkin akan seperti pulau mati jika tidak ada burung nuri dan mangrove golden whistler. Kicauannya yang nyaring memecah kesunyian pulau ini. Mereka seperti saling bersahut-sahutan di pucuk pohon.

Sumber: www.infopapua.com

Frasa Adjektiva

Frasa lazim didefinisikan sebagai gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat. Perhatikan contoh kalimat berikut yang sesuai dengan isi teks Kekayaan Hutan Mangrove di Papua. Hutan Mangrove di Pulau Ajkwa telah membentuk sebuah ekosistem kehidupan. Biota-biota laut yang ada di sana memancing kedatangan berbagai jenis burung. Burungburung di sana berwarna indah. Sebelum membahas frasa adjektiva, ada baiknya kita mengenal adjektiva. Adjektiva adalah kata yang memberikan keterangan yang lebih khusus tentang sesuatu yang dinyatakan oleh nomina dalam kalimat. Perhatikan contoh berikut. Anak kecil meja bundar beban berat alam gaib baju merah pemain ganda. Adjektiva dapat juga merupakan inti frasa yang disebut frasa adjektival. Sebagai inti frasa, adjektiva dapat diwatasi dengan berbagai pemarkah, seperti pemarkah aspektualitas dan pemarkah modalitas yang ditempatkan di sebelah kirinya. contoh: tidak bodoh tidak keras kepala harus dapat memuaskan sudah harus tenang belum dapat tertarik akan tidak rapi

Adjektiva dalam frasa adjektival dapat diikuti pewatas yang berposisi di sebelah kanannya. contoh:

sakit gigi, bodoh kembali, kaya juga Frasa adjektiva ini dapat Anda gunakan dalam penulisan paragraf deskriptif. Jika ingin lebih memahami tentang adjektiva, Anda dapat membaca buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.

  • 17. Paragraf Eksposisi

Paragraf Eksposisi merupakan karangan yang bertujuan untuk menginformasikan tentang sesuatu sehingga memperluas pengetahuan pembaca. Karangan eksposisi bersifat ilmiah/nonfiksi. Sumber karangan ini dapat diperoleh dari hasil pengamatan, penelitian atau pengalaman. Paragraf Eksposisi tidak selalu terbagi atas bagian-bagian yang disebut pembukaan, pengembangan, dan penutup. Hal ini sangat tergantung dari sifat karangan dan tujuan yang hendak dicapai. ciri-ciri paragraf eksposisi, antara lain adalah :

berusaha menjelaskan tentang sesuatu gaya tulisan bersifat informatif fakta dipakai sebagai alat kontribusi fakta dipakai sebagai alt konkritasi

jenis-jenis paragraf eksposisi- Berikut ini jenis-jenis paragraf eksposisi beserta contoh :

Contoh Paragraf Eksposisi 1 (klasifikasi) Pemerintah akan memberikan bantuan pembangunan rumah atau bangunan kepada korban gempa. Bantuan pembangunan rumah atau bangunan tersebut disesuaikan dengan tingkat kerusakannya. Warga yang rumahnya rusak ringan mendapat bantuan sekitar 10 juta. Warga yang rumahnya rusak sedang mendapat bantuan sekitar 20 juta. Warga yang rumahnya rusak

berwarna hitam dengan jambul berwarna putih. Bagian leher hingga perut berwarna putih namun sepasang sayapnya berwarna

berat mendapat bantuan sekitar 30 juta. Calon penerima bantuan tersebut ditentukan oleh aparat desa setempat dengan pengawasan dari pihak LSM. Contoh Paragraf Eksposisi 2 (ilustrasi) Cengkeh, pohon yang tetap hijau.sysygium aromatikum (eugenia-carllophulinta), asli di kepualauan maluku. kuncup bunganya yang belum terbuka ialah rempahnya yang penting. disamping pengguanaan terpenting sebagai rempah-rempah, kuncup bunganya yang berbentuk paku. Jika sudah dikeringkan, dipakai di pulau jawa sebagai campuran tembakau, lebih-lebih sesudah tahun 1915 dengan pesatnya perusahaan rokok kretek di kudus dan di tempat-tempat selain itu. lalu, kadang-kadang sesudah digiling digunakan untuk mengharumkan kue, juga menghasilkan minyak uap yang digunakan sebagai bahan obat-obatan dan minyak wangi.

Contoh Paragraf Eksposisi 3 (perbandingan / pertentangan) Dilapangan, saat ini para petambak justru tengah memberikan benih udang vannamei. meski harganya lebih murah dari udang windu. tetapi, udang vannamei punya keunggulan, yaitu tahan dari berbagai penyakit, sedangkan udang windu sangat rentan dengan penyakit. Contoh Paragraf Eksposisi 4 (laporan) Sebenarnya, bukan hanya ITS yang menawarkan rumah instan sehat untuk Aceh atau dikenal dengan Rumah ITS untuk Aceh (RI-A). Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman Departemen Pekerjaan Umum juga menawarkan Risha alias Rumah Instan Sederhana Sehat. Modelnya hampir sama, gampang dibongkar-pasang, bahkan motonya Pagi Pesan, Sore Huni. Bedanya, sistem struktur dan konstruksi Risha memungkinkan rumah ini berbentuk panggung. Harga Risha sedikit lebih mahal, Rp 20 juta untuk tipe 36. akan tetapi, usianya dapat mencapai 50 tahun karena komponen struktur memakai beton bertulang, diperkuat pelat baja di bagian sambungannya. Kekuatannya terhadap gempa juga telah diuji di laboratorium sampai zonasi enam. Contoh Paragraf Eksposisi 5 (proses) Sampai hari ke-8, bantuan untuk para korban gempa Yogyakarta belum merata. Hal ini terlihat di beberapa wilayah Bantul dan Jetis. Misalnya, di Desa Piyungan. Sampai saat ini, warga Desa Piyungan hanya makan singkong. Mereka mengambilnya dari beberapa kebun warga. Jika ada warga yang makan nasi, itu adalah sisa-sisa beras yang mereka kumpulkan di balik reruntuhan bangunan. Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa bantuan pemerintah kurang merata. Contoh Paragraf Eksposisi 6 (definisi) Ozone therapy adalah pengobatan suatu penyakit dengan cara memasukkan oksigen ,urni dan ozon berenergi tinggi ke dalam tubuh melalui darah. Ozone therapy merupakan terapi yang sangat bermanfaat bagi kesehatan, baik untuk menyembuhkan penyakit yang kita derita maupun sebagai pencegah penyakit.

berat mendapat bantuan sekitar 30 juta. Calon penerima bantuan tersebut ditentukan oleh aparat desa setempat dengan

18.

Makna Konotasi (dalam Cerpen/Puisi)

Arti Definisi / Pengertian Makna Konotasi / Konotatif Makna konotasi adalah makna yang bukan sebenarnya yang umumnya bersifat sindiran dan merupakan makna denotasi yang mengalami penambahan. Contoh :

- Para petugas gabungan merazia kupu-kupu malam tadi malam (kupu-kupu malam = wts) - Bu Marcella sangat sedih karena terjerat hutang lintah darat (lintah darat = rentenir)

Makna Konotasi Kalau makna Denotasi adalah makna yang sebenarnya, maka seharusnya Makna Konotasi merupakan makna yang bukan sebenarnya dan merujuk pada hal yang lain. Terkadang banyak eksperts linguistik di Indonesia mengatakan bahwa makna konotasi adalah makna kiasan, padahal makna kiasan itu adalah tipe makna figuratif, bukan makna konotasi. Untuk itu, saya menyarankan anda membaca artikel saya yang berbahasa Inggris supaya lebih memahami mengenai makna konotasi dan denotasi .

Makna Konotasi tidak diketahui oleh semua orang atau dalam artian hanya digunakan oleh suatu komunitas tertentu. Misalnya Frase jam tangan.

(dikondisikan) Pak Slesh adalah seorang pegawai kantoran yang sangat tekun dan berdedikasi. Ia selalu disiplin dalam mengerjakan sesuatu. Pada saat rapat kerja, salah satu kolega yang hadir melihat kinerja beliau dan kemudian berkata kepada sesama kolega yang lain "Jam tangan pak Slesh bagus yah".

Dalam ilustrasi diatas, frase jam tangan memiliki makna konotasi yang berarti sebenarnya disiplin. Namun makna ini hanya diketahui oleh orang-orang yang bekerja di kantoran atau semacamnya yang berpacu dengan waktu. Dalam contoh diatas, Jam Tangan memiliki Makna Konotasi Positif karena sifatnya memuji.

Makna konotasi dibagi menjadi 2 yaitu :

1.Konotasi positif merupakan kata yang memiliki makna yang dirasakan baik dan lebih sopan. 2.Konotasi negatif merupakan kata yang bermakna kasar atau tidak sopan.

18. Makna Konotasi (dalam Cerpen/Puisi) Arti Definisi / Pengertian Makna Konotasi / Konotatif Makna konotasi adalah. Makna Konotasi tidak diketahui oleh semua orang atau dalam artian hanya digunakan oleh suatu komunitas tertentu. Misalnya Frase jam tangan. (dikondisikan) Pak Slesh adalah seorang pegawai kantoran yang sangat tekun dan berdedikasi. Ia selalu disiplin dalam mengerjakan sesuatu. Pada saat rapat kerja, salah satu kolega yang hadir melihat kinerja beliau dan kemudian berkata kepada sesama kolega yang lain " Jam tangan pak Slesh bagus yah ". Dalam ilustrasi diatas, frase jam tangan memiliki makna konotasi yang berarti sebenarnya disiplin. Namun makna ini hanya diketahui oleh orang-orang yang bekerja di kantoran atau semacamnya yang berpacu dengan waktu. Dalam contoh diatas, Jam Tangan memiliki Makna Konotasi Positif karena sifatnya memuji. Makna konotasi dibagi menjadi 2 yaitu : 1.Konotasi positif merupakan kata yang memiliki makna yang dirasakan baik dan lebih sopan. 2.Konotasi negatif merupakan kata yang bermakna kasar atau tidak sopan. Bahasa Indonesia Page 30 " id="pdf-obj-29-31" src="pdf-obj-29-31.jpg">

Penganalisisan puisi Angkatan Buta. Angkatan Buta

Mau apa datang kemari Hanya unjuk rai Ijazah harga serupiah Tak perlu bersusah bergelut berbuku

Dari jauh berlabuh Hanya pamer bentuk tubuh tak butuh Menjauh!

Jika otak angankan angka Tinggalkan pikir Plagiatkan diri

Hanya inginkan liur Mending mendengkur! Nglindur!

Tak mampu matamu lihat dunia Tangis! Bengis! Najis! Pengais! Tusukkan garpu makan Butakan sekalian!

Pundak punah perkasanya Sana! Sudahi saja sisa usia

Dalam puisi di atas ada beberapa kata yang memunyai makna denotatif dan konotatif yang akan kita bahas perbaris. 1) Baris pertama

Mau apa datang kemari

Kata tersebut di atas tergolong memunyai makna denotatif. Karena kata-kata tersebut di

atas merupakan sebuah pertanyaan yang ditujukan kepada pembaca tentang tujuannya datang ke sebuah tempat. 2) Baris kedua

Hanya unjuk rai

Dalam baris kedua tersebut terdapat makna konnotatif yang memunyai nilai negatif. Kata

unjuk rai yang berarti wajah (kasar) dalam bahasa jawa diartikan sebagai memperlihatkan diri, kelebihan, ataupun hartanya. 3) Baris ketiga

Ijazah harga serupiah

Kata ijazah dalam baris ketiga memunyai arti denotatif sekaligus arti konotatif. Arti

denotatif dari ijazah yaitu surat keterangan lulus ataupun sejenisnya. Sedangkan makna konotatifnya adalah ijazah bermakna gelar.

Penganalisisan puisi Angkatan Buta. Angkatan Buta Mau apa datang kemari Hanya unjuk rai Ijazah harga serupiah

Kata yang mengandung makna konotatif dalam baris ketiga yang lain adalah kata serupiah

yang diartikan tidak memunyai harga. Jadi, di baris ketiga ini bisa bermakna bahwa ijazah ataupun gelar tidak memunyai harga. 4) Baris ke empat

Tak perlu bersusah bergelut berbuku

Memunyai arti denotatif saja atau hanya makna asli yang terdapat di dalamnya, sebagai lanjutan dari kata-kata baris kedua. 5) Baris ke lima

Dari jauh berlabuh

Kata berlabuh dalam baris ke lima juga memunyai makna denotatif dan konotatif. Arti

denotatifnya adalah kata yang dipakai untuk mengungkapkan bahwa perahu akan bersandar di dermaga. Namun di baris ke lima ini kata berlabuh memunyai makna datang. 6) Baris ke enam

Hanya pamer bentuk tubuh

Kata tersebut di atas hanya memunyai makna denotatif. Yaitu datang hanya untuk pamer

bentuk tubuh. Bisa juga di artikan mejeng. 7) Baris ke tujuh dan delapan

tak butuh

Menjauh!

Baris ke tujuh dan delapan masih hanya memunyai makna denotatif saja. Kata-kata itu dipakai pengarang untuk meluapkan apa yang dirasakan oleh pengarang. 8) Baris ke sembilan

Jika otak angankan angka

Dalam baris ke sembilan ini pengarang mencoba menggambarkan bahwa seolah-olah yang di imajinasikan pengarang adalah mahasiswa yang hanya berpikiran tentang sebuah nilai yang

akan di dapat. Jadi, disini memunyai makna konotatif. 9) Baris ke sepuluh dan sebelas

Tinggalkan pikir Plagiatkan diri

Kata-kata yang terdapat di baris ke sepuluh dan sebelas memunyai kaitan makna dengan baris ke sembilan. Baris ke sepuluh dan sebelas bermakna tidak mau berpikir dan hanya bisa mengopy paste pekerjaan orang lain. Pada baris ke sepulih dan sebelas juga memunyai makna konotatif. 10) Baris ke dua belas

Hanya inginkan liur Kata hanya inginkan liur memunyai makna konotatif, yaitu hanya ingin bersantai saja. 11) Baris ke tiga belas

Mending mendengkur! Nglindur!

Baris ke tiga belas juga bermakna konotatif. Yakni memunyai arti mendingan sekalian bersantai sampai sesantai-santainya. 12) Baris ke empat belas dan lima belas

Tak mampu matamu lihat dunia Tangis! Bengis! Najis! Pengais!

Pada baris ke empat belas dan lima belas juga memunyai makna konotatif. Yaitu seolah- olah yang di imajinasikan oleh pengarang tak mampu melihat atau merasakan bagaimana

Kata yang mengandung makna konotatif dalam baris ketiga yang lain adalah kata serupiah yang diartikan tidak

kehidupan itu yang sebenarnya. Yang semula juga di imajinasikan hanya ingin bersantai. Tidak bisa merasakan tangisan, bengis, najis, ataupun melihat keadaan pengais. 13) Baris ke enam belas dan tujuh belas

Tusukkan garpu makan Butakan sekalian!

Makna konotatif juga muncul pada baris ke enam belas dan tujuh belas. Yaitu pada kata- kata Tusukkan garpu makan, butakan sekalian!. Makna dari kata-kata tersebut disini adalah berikan saja mereka kenyamanan sekalian. Karena biasanya orang desa yang makan memakai garpu adalah ketika memakan makanan enak, atau mungkin juga karena latar belakang pengarang yang juga orang desa. Sedangkan kata-kata butakan sekalian bermaksud agar mereka semua yang bersantai,tetap larut dalam kesantaian dan kenyamanan itu, tetap tidak memperdulikan semua trangisan, bengis, najis, dan pengais yang dikatakan oleh pengarang sebelumnya.

14) Baris ke delapan belas

Pundak punah perkasanya

Di baris ke delapan belas ini semuanya kata-katanya mengandung makna konotatif. Yang

dimaksud pundak disini adalah generasi muda. Jika dikaitkan dengan kata dan bait sebelumnya, maka arti disini adalah jika para pemuda semua sudah kehilangan semangat dan hanya bersantai-santai, hilanglah pula kekuatan atau keunggulan dari para generasi tersebut. 15) Baris ke sembilan belas

Sana! Sudahi saja sisa usia

Makna konotatif yang terkandung disini adalah seperti halnya kata “mati saja!”. Dengan

rincian jika dikaitkan dengan kata dan bait sebelumnya. Daripada menjadi generasi yang kurang bersemangat dan hanya bisa bersantai-santai saja, mendingan mati saja, daripada hidup

hanya menjadi benalu tanpa sumbangsih apapun dan tanpa kerja keras.

kehidupan itu yang sebenarnya. Yang semula juga di imajinasikan hanya ingin bersantai. Tidak bisa merasakan tangisan,

Kesimpulan

BAB 3 PENUTUP

Sesungguhnya, banyak materi pembelajaran saat kelas 1 SMA yang sangat penting

gunanya tetapi mungkin terlewatkan oleh kita sebagai contoh berikut :

  • 1. Informasi dari isi berita yang berguna untuk mengetahui dan mengkaji isi berita.

  • 2. Unsur intrinsik dan ekstrinsik novel dan cerpen yang berguna untuk mengetahui dan mengkaji unsur intrinsik dan ekstrinsik novel dan cerpen.

  • 3. Tanggapan dalam diskusi yang berguna untuk mengetahui dan mengkaji tanggapan diskusi.

  • 4. Masalah dalam berita/artikel/buku yang berguna untuk mengetahui dan mengkaji masalah dalam berita/artikel/buku.

  • 5. Ringkasan sebuah teks yang berguna untuk mengetahui dan mengkaji ringkasan sebuah teks.

  • 6. Topik dalam naratif (kata ulang) yang berguna untuk mengetahui dan mengkaji topik dalam naratif (kata ulang).

  • 7. Topik dalam deskriptif (frase) yang berguna untuk mengetahui dan mengkaji topik dalam deskriptif (frase).

  • 8. Isi paragraf eksposisi yang berguna untuk mengetahui dan mengkaji paragraf eksposisi.

  • 9. Makna konotasi (dalam cerpen/puisi) yang berguna untuk mengetahui dan mengkaji makna konotasi (dalam cerpen/puisi). Dalam materi-materi tersebut, salah satu yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari contohnya tanggapan dalam berdiskusi yang memberi tahu kita bagaimana cara memberi tanggapan baik itu saat berdiskusi atau sekedar memberi sarang kepada teman.

Kesimpulan BAB 3 PENUTUP Sesungguhnya, banyak materi pembelajaran saat kelas 1 SMA yang sangat penting gunanya