Anda di halaman 1dari 4

VI.

Hasil Percobaan
a. Memeriksa komponen saliva
Pengamatan pH normal saliva
pH normal saliva berkisar antara 0,8-7 dan pH krisis saliva adalah
< 5,5. Pengukuran pH saliva dengan pH indikator.
Dari hasil percobaan didapat nilai pH salivanya adalah pH 7, maka
dapat dinyatakan bahwa pH saliva adalah normal.
Membuktikan adanya mucin
Saliva + asam asetat 6% endapan putih
Mucin merupakan glikoprotein yang membasahi makanan dan
melindungi mukosa mulut. Asam asetat berfungsi untuk
mengendapkan mucin, karena mucin merupakan glikoprotein
didalamnya terdapat ikatan peptida sehingga menghasilkan
endapan putih.
Membuktikan adanya protein
Saliva + NaOH+Cu sulfat warna merah ungu.
Uji biuret dilakukan untuk mengetahui keberadaan gugus amida.
CuSO4 berfungsi sebagai penyedia ion Cu yang nantinya akan
membentuk kompleks protein. Penambahan NaOH berfungsi
untuk menyediakan basa. Hasil dari hasil praktikum sampel saliva
positif mengandung protein.
b. Pencernaan pati di mulut
Dari hasil percobaan didapat bahwa larutan memberikan hasil warna tetap
biru hal ini membuktikan bahwa enzim amilase belum sempurna
memecah pati menjadi glukosa. Yang seharusnya hasil yang didapat harus
mencapai titik akromik yaitu titik ketika pereaksi tidak memberikan
reaksi.
Uji pati dengan benedict.
Bertujuan untuk mengetahui adanya gula pereduksi. Hasil positif didapat
larutan warna merah, kuning, hijau berdasarkan kadar glukosa yang ada.
Waktu setelah
pencampuran pasta
amilum+saliva
Warna yang terjadi
pada iodium
Warna yang terjadi
pada benedict
1 menit
2 menit
3 menit
Biru
Biru
Biru
Biru
Endapan merah
Endapan merah

c. Pencernaan protein dilambung
Telur yang telah dipotong + pepsin + HCL kemudian diinkubasi. Larutan
diuji dengan reagen benedict menghasilkan warna ungu.
d. Kerja garam empedu terhadap lemak
Tabung 1 = 1 tetes minyak sayur + 5 ml air + pewarna sudan kocok
selama 15 menit.
Tabung 2 = 1 tetes minyak sayur + air + garam empedu 5 % + pewarna
sudan kocok selama 5-10 menit.
No Tabung Hasil pengamatan
1.

2.
Terdispersi, karena air dan minyak
tidak menyatu
Teremulsi, karena ada bantuan dari
garam empedu jadi dapat
melarutkan lemak dalam tubuh.

VII. Pembahasan
Sistem pencernaan pada tubuh manusia memiliki peranan sangat
penting dalam pemenuhan nutrisi bagi tubuh. Organ sistem pencernaan
dalam tubuh manusia meliputi mulut, faring, esofagus, lambung, usus halus,
usus besar, rectum, anus. Yang masing-masing organ tersebut menjalankan
tugas sesuai dengan fungsinya. Pada praktikum kali ini yang akan diamati
adalah fungsi dari enzim-enzim yang disekresikan dalam membantu proses
pencernaan.
Pada pengamatan prtama adalah memeriksa komponen saliva yang
diamati adalah membuktikan adanya mucin dalam saliva, pH saliva, dan
membuktikan adanya protein dalam saliva. Pada pengamatan pH saliva hasil
percobaan membuktikan bahwa pH saliva salah satu praktikan adalah
normal yaitu pH=7. Dimana pH normal adalah rentang antara pH 6,8-7.
Pada pengamatan adanya mucin menunjukkan bahwa sampel saliva
positif menunjukkan adanya mucin yang dibuktikan dengan terbentuknya
endapan putih setelah saliva direaksikan dengan asam asetat. Mucin sendiri
berfungsi sebagai pembasah makanan sehingga memudahkan ketika
menelan makanan. Asam asetat yang digunakan dalam pengujian adalah
berfungsi untuk mengendapkan mucin yang ada pada saliva.
Pada pengamatan adanya protein dalam saliva hasil percobaan
menunjukan hasil yang positif larutan biru. Pengujian dilakukan dengan
mereaksikan sampel saliva dengan larutan biuret. Adanya protein dalam
saliva ditunjukkan dengan terbentuknya larutan warna biru. Dimana CuSO4
yang terdapat dalam pereaksi biuret akan membentuk suatu kompleks warna
biru dengan protein.
Pada percobaan pencernaan pati dalam mulut, hal yang pertama
dilakukan adalah mencampurkan antara saliva dengan pati yang kemudian
diuji dengan uji iodium dan uji benedict. Pada pengujian dengan iodium
hasil reaksinya adlah warna biru hal ini menunjukkan bahwa sampel positif
mengandung pati. Yang seharusnya pada pengujian dengan iodium ini
sampai mencapai titik akromik. Yaitu titik dimana pereaksi tidak dapat
bereaksi lagi dengan sampel. Pada pengujian pati titik akromik ditunjukkan
dengan menjadi beningnya larutan sampel yang semula berwarna biru,
warna bening ini menunjukkan bahwa pati sudah dirubah menjadi
gulasederhana oleh enzim amilase. Tetapi hasil praktikum tidak sesuai
dengan teori hal ini mungkin dikarenakan waktu pengamatan yang kurang
lama.
Pada pegujian menggunakan pelarut benedict bertujuan untuk
mengetahui adanya gula pereduksi. Pada pengujian sampel dengan rentang
waktu pengujian yang berbeda menunjukkan hasil positif dengan
terbentuknya warna merah. Semakin lama waktu saliva kontak dengan
saliva maka polisakarida akan sempurna terpecah menjadi monomernya
yaitu glukosa yang ditunjukannya semakin pekat warna yang dihasilkan.
Pada pengujian pencernaan protein dilambung sampel menggunakan
telur yang telah dipotong kemudian ditambahkan dengan pepsin dan HCl
yang berfungsi untuk mempercepat reaksi. Kemudian larutan di inkubasi
pada suhu 37c karena enzim dapat bekerja pada suhu tersebut. Sampel yang
telah diinkubasi akan siuji dengan biuret hasil reaksi adalah positif warna
ungu. Maka menunjukkan bahwa protein dapat dipecah menjadi pepton.
Pada pengujian kerja empedu terhadap lemak menunjukkan bahwa
campuran antara air dan minyak tidak dapat menyatu. Sedangkan setelah
ditambahkan garam empedu minyak akan terbentuk menjadi emulsi yang
memudakan dalam pencernaan lemak. Empedu dalam tubuh berfungsi
dalam transport lemak dalam tubuh sehingga lemak mudah didistribusikan
kedalam sel.
VII. Kesimpulan
Dari hasil praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa
seluruh organ pencernaan memerankan fungsinya masing-masing dalam
membantu proses pencernaan.
XI. Daftar Pustaka