Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

ISOLASI KURKUMIN DARI KUNYIT


(Curcuma domestica Val.)

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Kimia Bahan Alam
Dosen : Ardi Rustamsyah, M.Si., Apt.


Disusun oleh :
KELOMPOK 1
Asep Ahmad Saepul Uyun
Gina Dwi Yayu Gustiana
Nuramalia
Vinastika

KELAS : C

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS GARUT
2014

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Illahi Robbi, karena berkat
rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan penyusunan Makalah yang
berjudul Isolasi Kurkumin dari Kunyit.
Adapun tujuan dari makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas
Praktikum Kimia Bahan Alam Fakultas MIPA jurusan Farmasi Universitas Garut.
Tidak lupa Shalawat beserta salam senantiasa tercurah limpahkan kepada Nabi
Muhamad saw beserta keluarganya, sahabatnya, dan tabiin tabiatnya yang taat
pada-Nya.
Keberhasilan penyusunan makalah ini tidak terlepas dari dukungan dan
dorongan serta bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu, pada kesempatan ini
penulis yang telah membantu dan membimbing dalam penyusunan Makalah ini.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada semua pihak yang tidak dapat
disebutkan satu per satu dalam lembaran ini, yang telah membantu penulis baik
secara moril maupun materil selama penulisan Makalah ini.
Penulis menyadari bahwa Makalah ini masih jauh dari sempurna, untuk itu
penulis berharap saran dan kritik yang membangun demi perbaikan dimasa yang
akan datang.
Akhirul kalam, penulis berharap semoga Makalah ini bermanfaat
khususnya bagi penulis dan umumnya bagi kita semua. Semoga amal baik semua
pihak yang telah diberikan kepada penulis memperoleh kebaikan dari Allah swt.

Garut, September 2014

Penulis





DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ................................................................................................................ i
DAFTAR ISI ............................................................................................................................... ii
LAMPIRAN GAMBAR ............................................................................................................ iv
PENDAHULUAN .......................................................................................................... 1
BAB I TINJAUAN PUSTAKA .................................................................................... 2
1.1 Tinjauan Botani Tanaman ............................................................................ 2
1.1.1 Morfologi ............................................................................................. 2
1.1.2 Klasifikasi Tanaman ............................................................................. 3
1.1.3 Pemerian ............................................................................................... 4
1.1.4 Ekologi dan Penyebaran ....................................................................... 6
1.1.5 Khasiat dan Penggunaan di Masyarakat ............................................... 6
1.1.6 Aktivitas Farmakologi .......................................................................... 6
1.2 Tinjauan Kimia ............................................................................................. 7
1.2.1 Struktur Kimia ...................................................................................... 7
1.2.2 Data Fisika dan Kimia .......................................................................... 8
1.2.3 Kandungan Kunyit ............................................................................... 8
1.2.4 Data Kromatografi ............................................................................... 9
1.2.5 Data Spekstroskopi ............................................................................... 10

BAB II RENCANA KERJA ......................................................................................... 11
2.1 Prosedur Kerja .............................................................................................. 11
2.1.1 Alat dan Bahan ..................................................................................... 11
2.1.2 Penafisan Fitokimia .............................................................................. 11
2.1.3 Sokletasi ................................................................................................ 14
2.1.4 Kromatografi Kolom ............................................................................ 15
2.1.5 Silica Gel Kromatografi Kolom ........................................................... 15
BAB III KESIMPULAN ............................................................................................... 16
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................. 17











Lampiran Gambar
Gambar 1.1 Struktur Kurkumin ......................................................................................... 7
Gambar 1.2 Struktur Desmetoksikurkumin ....................................................................... 7
Gambar 1.3 Struktur Bisdesmetoksikurkumin ................................................................... 8
Gambar 1.4 Data Spektroskopi HPLC ............................................................................... 10























PENDAHULUAN

Indonesia memiliki kekayaan keanekaragaman hayati yang luar biasa yaitu
sekitar 40.000 jenis tumbuhan, dari jumlah tersebut sekitar 1.300 diantaranya
digunakan sebagai obat tradisional. Berdasarkan potensi ini produk obat
tradisional dapat dikembangkan secara luas. Salah satu jenis tumbuhan yang
banyak digunakan sebagai obat tradisional adalah kunyit (Curcuma Domestica).
Kunyit termasuk salah satu tanaman suku temu-temuan (Zingiberaceae).
Bagian terpenting dalam pemanfaatan kunyit adalah rimpangnya, meskipun
demikian daun kunyit pun banyak dimanfaatkan untuk berbagai jenis masakan,
karena dapat menghilangkan bau anyir serta menambah aroma masakan.
Salah satu cara pengambilan kurkumin dari rimpangnya adalah dengan
cara ekstraksi. Ekstraksi merupakan salah satu metode pemisahan berdasarkan
perbedaan kelarutan. Ekstraksi dapat didefinisikan sebagai proses pemisahan dan
isolasi zat dari suatu zat dengan penambahan pelarut tertentu untuk mengeluarkan
komponen campuran dari zat padat atau zat cair. Kurkuminoid yang terkandung
dalam kunyit sebagai salah satu senyawa hasil isolasi maupun kurkuminnya
mempunyai aktifitas yang sangat luas, antara lain menghilangkan sumbatan
peluruh haid (emmenogue), antiradang (antiinflamasi), mempermudah persalinan,
peluruh kentut (carminative), antibakteri, memperlancar pengeluaran empedu
(kolagogum), dan pelembab (astringent).








BAB I
TINJAUAN PUSTAKA

1.1. TINJAUAN BOTANI TANAMAN
1.1.1 Morfologi
Tanaman kunyit merupakan terna menahun yang mempunyai ciri
khas tumbuh berkelompok membentuk rumpun. Tinggi tanaman
Tanaman kunyit tumbuh bercabang dengan tinggi 40-100 cm.
Morfologi kunyit selengkapnya sebagai berikut :
a. Batang
Batang kunyit memiliki batang semu yang tersusun dari
kelopak atau pelapah daun yang berpalutan atau saling menutupi,
dan batang kuyit bersifat basah karena mampu menyimpan air
dengan baik, berbentuk bulat dan berwarna hijau keunguan.
Tinggi batang kunyit mencapai 0,75-1 m.
b. Daun
Daun kunyit tersusun dari pelepah daun, gagang daun dan
helai daun. Daunnya memiliki panjang 31-84 cm, lebar daun
antara 10-18 cm. Daun kunyit berbentuk bulat telur memanjang
dengan peremukaan agak kasar. Pertulangan daun rata dan ujung
meruncing atau melengkung menyerupai ekor. Permukaan daun
berwarna hijau muda. Satu tanaman mempunyai 6-10 daun.
c. Bunga
Bunga kunyit berbentuk kerucut berwarna putih atau
kuning muda dengan pangkal berwarna putih. Setian bunga
mempunyai 3 lembar kelopak bungan, 3 l3mbar tajuk bunga dan
4 helai benang sari. Salah satu dari keempat benang sari itu
berfungsi sebagai alat pembiakan. Sementara itu, ketiga benang
sari lainnya berubah bentuk menjadi helai mahkota bunga.
Bunga muncul dari ujung batang semu dan biasanya mekar
bersamaan. Bunga ini memiliki daun pelindung bunga yang
berwarna putih. Di ujung bagian atas daun pelindung terdapat

garis-garis berwarna hijau atau merah jambu. Sementara itu,
bagaian bawah daun pelindung berwarna hijau muda.
Perbungaan bersifat majemuk. Tangkai bunga berambut dan
bersisik dengan panjang tangkai mencapai 16-40 cm.
d. Rimpang
Rimpang kunyit bercabang-cabang membentuk rumpun.
Rimpang berbentuk bulat panjang dan membentuk cabang
rimpang berupa batang yang berada di dalam tanah. Rimpang
kunyit terdiri dari rimpang induk atau umbi kunyit dan tunas atau
cabang rimpang. Rimpang utama ini biasanya ditumbuhi tunas
yang tumbuh ke arah samping, mendatar, atau melengkung.
Tunas berbuku-buku pendek. Lurus. Atau melengkung. Jumlah
tunas umumnya banyak. Tinggi anakan mencapai 10,85 cm.
Rimpang kunyit tumbuh dari umbi utama yang berbentuk
bulat panjang, pendek, tebal, lurus, dan melengkung. Warna kulit
rimpang jingga kecokelatan atau berwarna terang agak kuning
sampai kuning kehitaman. Warna daging rimpangnya jingga
kekuningan dilengkapi dengan bau khas yang rasanya agak pahit
dan pedas.
Rimpang cabang tanaman kunyit akan berkembang secara
terus-menerus membentuk cabang-cabang baru dan batang semu,
sehingga berbentuk sebuah rumpun. Lebar rumpun mencapai
24,10 cm. Panjang rimpang bisa mencapai 22,5 cm. Tebal
rimpang yang tua 4,06 cm dan rimpang muda 1,61 cm. Rimpang
kunyit yang sudah besar dan tua merupakan bagian yang
dominan sebagai obat. (Winarto, W.P. 2008)

1.1.2 Klasifikasi Tanaman
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta

Anak Devisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledoneae
Bangsa : Zingiberales
Suku : Zingiberaceae
Marga : Curcuma
Spesies : Curcuma domestica Val.
(Winarto, W.P. 2008)

1.1.3 Pemerian
Bau khas aromatik; rasa agak pahit, agak pedas, lama
kelamaan menimbulkan rasa tebal. Makroskopik. Kepingan : Ringan,
rapuh, warna kuning jingga, kuning jingga kemerahan sampai kuning
jingga kecoklatan; bentuk hampir bundar sampai bulat panjang,
kadang-kadang bercabang; lebar 0,5 cm sampai 3 cm, panjang 2 cm
sampai 6 cm, tebal 1 mm sampai 5 mm; umumnya melengkung tidak
beraturan, kadang-kadang terdapat pangkal upih daun dan pangkal
akar. Batas korteks dan silinder pusat kadang-kadang jelas. Bekas
patahan: Agak rata, berdebu, warna kuning jingga sampai coklat
kemerahan. Mikroskopik. Epidermis: Satu lapis sel, pipih berbentuk
poligonal, dinding sel menggabus. Rambut penutup: Berbentuk
kerucut, lurus atau agak bengkok ; panjang 250 m sampai 890 m,
dinding tebal. Hipodermis: Terdiri dari beberapa lapis sel terentang
tangensial; dinding sel menngabus. Periderm: Terdiri ari 6 lapis
sampai 9 lapis sel berbentuk segi panjang, dinding menggabus.
Korteks dan silinder pusat: Parenkimatik, terdiri dari sel-sel besar,
penuh berisi pati. Butir pati: Tunggal, bentuk lonjong atau bulat telur
dengan satu ujung mempunyai tonjolan atau berbentuk bulat sampai
hampir segitiga dengan satu sisi membulat; lamela kurang jelas; hilus

yang kurang jelas terdapat pada tonjolan di ujung butir; panjang 10
m sampai 60 m, umumnya 20 m sampai 40 m, lebar 10 m
sampai 28 m, umumnya 14 m sampai 20 m. Sel sekresi: Banyak
tersebar, bentuk bulat atau lonjong berisi minyak berwarna kuning
jingga yang sebagian mendamar dan berwarna coklat kekuningan;
pada penambahan besi (III) klorida LP warna menjadi lebih tua.
Berkas pembuluh: Kolateral, tersebar tidak beraturan pada korteks dan
pada silinder pusat, berkas pembuluh di bawah endodermis tersusun
dalam lingkaran, kadang-kadang berkas pembuluh dikelilingi sel
parenkim yang tersusun menjari; pembuluh kayu umumnya terdiri dari
pembuluh tangga dan pembuluh jala, lebar 20 m sampai 80 m, tidak
berlignin. Endodermis: Terdiri dari 1 lapis sel terentang tangensial,
dinding radial menebal, tidak terdapat pati. Serbuk: Warna kuning
sampai kuning jingga. Fragmen pengenal adalah butir pati: gumpalan
tidak beraturan zat berwarna kuning sampai kuning coklat; parenkim
dengan sel sekresi; fragmen pembuluh tangga dan pembuluh jala;
fragmen rambut penutup warna kuning; tidak terdapat serabut.
Kadar abu. Tidak lebih dari 9 %
Kadar abu yang tidak larut dalam asam. Tidak lebih dari 1,6 %
Kadar sari yang larut dalam air. Tidak kurang dari 15 %
Kadar sari yang larut dalam etanol. Tidak kurang dari 10 %
Bahan organik asing. Tidak lebih dari 2%
Penyimpanan. Dalam wadah tertutup baik
Isi. Minyak atsiri 3-5 %, kurkumin, pati, tanin, damar
Penggunaan. Kholagogum
(Depkes RI. 1977)


1.1.4 Ekologi dan Penyebaran
Tanaman kunyit tumbuh dengan baik di tanah yang baik tata
pengairannya, curah hujan yang cukup banyak 2000-4000 tiap tahun
dan di tempat yang sedikit kenaungan, tetapi untuk menghasilkan
rimpang yang lebih besar dan baik ditanam di tempat yang terbuka.
Tanah ringan seperti tanah lempung berpasir, baik untuk
pertumbuhan rimpang. (Depkes RI. 1997)


1.1.5 Khasiat dan Kegunaan di Masyarakat
Kunyit memiliki banyak khasiat dan kegunaan terutama
pada rimpangnya. Rimpang kunyit merupakan obat. Dalam
pengobatan herbal, sudah banyak jenis penyakit yang dapat
disembuhkan dengan rimpang kunyit seperti demam, pilek dengan
hidung tersumbat, rematik, diare, disentri, gatal-gatal pada kulit,
bengkak, bau badan, malaria, panas dalam atau sariawan usus atau
sariawan mulut. Di samping itu, kunyit juga dapat menurunkan kadar
lemak tinggi (hyperlipidemia), menyembuhkan nyeri dada, asma,
rasa tidak enak di perut (dispepsia), rasa baal di bahu, terlambat haid
karena darah tidak lancar, haid tidak teratur, sakit perut sehabis
melahirkan, radang hidung, radang telinga, radang gusi, radang
rahim, keputihan, radang usus buntu, radang amandel (tonsilitis),
penyakit kuning (jaudice), hepatitis, batu empedu (cholelithiasis),
dan tekanan darah tinggi. (Winarto, W.P. 2008)

1.1.6 Aktivitas Farmakologi
Menghilangkan sumbatan peluruh haid (emmenogue),
antiradang (antiinflamasi), mempermudah persalinan, peluruh kentut
(carminative), antibakteri, memperlancar pengeluaran empedu
(kolagogum), dan pelembab (astringent). (Winarto, W.P. 2008)



1.2 TINJAUAN KIMIA
1.2.1 Struktur Kimia


Gambar 1.1 Struktur Kurkumin

Nama IUPAC : Struktur kimia kurkumin [1,7-bis-(4'-
hidroksi-3'-metoksifenil)hepta-1,6-diena-3,5-dion].



Gambar 1.2 Struktur Desmetoksikurkumin
Nama IUPAC : (1E,6E)-1-(4-Hydroxy-3-methoxyphenyl)-7-(4
hydroxyphenyl)hepta-1,6-diene-3,5-dione
Nama lain : Curcumin II; Desmethoxycurcumin;
Monodemethoxycurcumin






Gambar 1.3 Struktur Bisdesmetoksikurkumin
Nama IUPAC : (1E,6E)-1,7-bis(4-hydroxyphenyl)hepta-1,6-
diene-3,5-dione
Nama lain : Curcumin III, bis(4-hydroxycinnamoyl)methane,
didemethoxycurcumin, bisdemethoxycurcumin, Bis(p-
hydroxycinnamoyl)methane, NSC687839

1.2.2 Data Fisika dan Kimia
Kurkumin mempunyai sifat fisika yaitu bentuknya
serbuk dan warna kuning terang atau kuning kemerahan.
Selain sifat fisika, kurkumin juga mempunyai sifat kimia
yaitu rumus strukturnya C
21
H
20
O
6,
titik lelehnya yaitu 361.4
0
F
(183C), massa Molar 368.38 g/mol, dan kelarutannya yaitu
tidak larut di dalam air dan eter tetapi larut di dalam alkohol.
1.2.3 Kandungan Kunyit
Rimpang kunyit juga mempunyai kandungan kimia
seperti minyak atsiri, phellandrene, sabinene, cineol, borneol,
zingiberene, curcumene, turmeron, camphene, camphor,
sesquiterpene, caprilic acid, methoxinnamic acid, dan
tholymethy carbinol. Selain itu, zat warna rimpang kunyit
mengandung alkoloid curcumin.
(Muhlisah, Ir. Fauziah. 2008)

1.2.4 Data Kromatografi
Fase Gerak : Kloroform P-metanol P (85:5)
Fase Diam : Silika gel 60 F
254

Larutan Uji : 5% dalam etanol P, gunakan larutan
uji KLT
Larutan Pembanding : Kurkumin 0,1% dalam etanol P
Volume Penotolan : Totolkan maing-masing 2L larutan
uji dan larutan pembanding
Deteksi : UV
366



Keterangan :
S : Simplisia rimpang kunyit
P : Pembanding kurkumin
R
f
: Pembanding kurkumin 0,62
R
f
1. 0,09
R
f
2. 0,24
R
f
3. 0,62

(Kemenkes RI. 2008)


1.2.5 Data Spektroskopi
Data Spektroskopi curcumin pada data HPLC

Gambar 1.4
Keterangan :
A. Kurkumin menunjukkan puncak tunggal pada waktu retensi 11,2
menit.
B. Desmethoxycurcumin menunjukkan puncak tunggal pada waktu
retensi 12,7 menit.
C. Bisdemethoxycurcumin menunjukkan puncak tunggal pada waktu
retensi 13,4 menit.
(Revathy, S, Elumalai, S, Benny Merina, and Antony, Benny. (2011)



BAB II
RENCANA KERJA
2.1. PROSEDUR KERJA
2.1.1 Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan seperti 1 set alat sokletasi, 1 set alat
Kromatografi Kolom, dan neraca digital. Bahan yang
digunakan seperti Curcuma domestica rhizome dan
pelarutnya yaitu aseton dan petroleum eter .
2.1.2 Penafisan Fitokimia
Penafisan fitokimia meliputi pemeriksaan golongan senyawa
kimia diantaranya alkaloid, steroid/triterpenoid, saponin,
flavonoid, tanin, kuinon. (Depkes RI, 1989)
2.1.2.1 Pemeriksaan Alkaloid
Sebanyak 2 g serbuk simplisia dilembabkan dengan
5 ml ammonia 25% dan digerus dalam mortir, kemudian
ditambahkan 20 ml kloroform dan digerus kuat-kuat.
Campuran disaring, filtratnya digunakan untuk percobaan
(larutan A). Larutan A diteteskan pada kertas saring,
ditetesi pereaksi dragendorf. Pengamatan positif bila
timbul warna merah jingga. Larutan B sebanyak 5 ml
dalam tabung reaksi diuji dengan penambahan pereaksi
Mayer dan Dragendorf. Pengamatan positif bila timbul
endapan merah bata pada penambahan pereaksi
Dragendorf dan endapan putih pada penambahan pereaksi
Mayer.

Diekstraksi dengan soxhlet dan pelarut
aseton selama 6 jam.

2.1.2.2 Pemeriksaan Steroid/Triterpenoid
Sebanyak 1 g serbuk simplisia dimaserasidengan
eter selama 2 jam, kemudian disaring, filtrat sebanyak 5
ml diuapkan dalam cawan penguap, kedalam residu
ditambahkan 2 tetes asam asetat anhidrat kemudian
ditambah beberapa tetes asam sulfat pekat. Bila
terbentukwarna ungu-biru/hijau kemungkinan terdapat
triterpenoid/steroid.
2.1.2.3 Pemeriksaan Saponin

Sebanyak 1 gram serbuk simplisia ditambahkan 100
ml air panas, dididihkan selama 15 menit kemudian
disaring. Sebanyak 100 ml filtrat dalam tabung reaksi
dikocok vertikal selama 10 detik, dan didiamkan selama
10 menit. Hasil positif ditunjukkan dengan terbentuknya
busa yang stabil, meskipun sudah ditambahkan beberapa
HCl 2 N.

2.1.2.4 Pemeriksaan Flavonoid

Sebanyak 1 gram simplisia ditambah 100 ml air
panas, didihkan selama 15 menit kemudian disaring.filtrat
sebanyak 5 ml ditambah serbuk Mg dan ditambah 2 ml
larutan alkohol-HCl (1:1). Dikocok kuat-kuat kemudian
dibiarkan memisah. Pengamatan positif bila timbul warna
merah/kuning/jingga pada lapisan amilalkohol.

2.1.2.5 Pemeriksaan Tanin

Sebanyak 1 gr serbuk simplisia ditambahkan air
panas 100 ml air, dididhkan selama 15 menit kemudian

disaring. Siapkan 3 tabung reaksi masing-masing berisi 5
ml larutan filtrat. Tabung 1 direaksikan dengan larutan
besi (III) klorida 1% (positif senyawa fenol bila terbentuk
warna biru tinta atau hitam), tabung kedua ditambahkan
gelatin (positif tanin bila terbentuk endapan putih), pada
tabung ketiga ditambah pereaksi stasny (formaldehid 30%
: HCl 2:1) kemudian dipanaskan dalam penangas air 90
o
C
(terbentuknya endapan merah muda menunjukkan
simplisia positif mengandung tanin katekat), selanjutnya
endapan pada tabung ketiga disaring dan filtrat dijenuhkan
dengan natrium asetat lalu ditambah dengan larutan besi
(III) klorida 1% (terbentuknya warna biru tinta atau hitam
menunjukkan simplisia positif menunjukkan adanya tanin
galat).

2.1.2.6 Pemeriksaan Kuinon

Sebanyak 1 gr serbuk ditambah 100 ml air panas
didihkan selama 15 menit kemudian disaring. Bila dalam
sampel tidak terdapat tanin, maka kedalam 5 ml filtrat
ditambah beberapa tetes NaOH 1 N. Hasil positif bila
terbentuk warna merah.
Jika ada tanin maka sejumlah 2 g serbuk sampel
dimaserasi dalam HCl 19% selama beberapa jam, lalu
larutan disaring dan dibagi 2, pada tabung 1 sebanyak 5
ml diekstraksi dengan benzen dan tabung 2 sebanyak 5 ml
diekstraksi dengan campuran eter-kloroform (2:1), kedua
fase organik masing-masing diuapkan sampai
sepersepuluh (0,5 ml). Kedua ekstrak masing-masing
dikocok dengan larutan NaOH 30%. Terjadinya warna
jingga/merah violet menunjukkan adanya kuinon.


2.1.3 Sokletasi
2.1.3.1 Ekstraksi Kurkumin

















Rimpang Segar
Rimpang kering
Dibersihkan
Dicuci dengan air tak berion
Diiris dan dijemur selama satu minggu
Dikeringkan pada 50 C dalam oven udara
panas selama 6 jam
Dipotong kecil-kecil
Dihaluskan
Ditimbang 20 gram
Dimasukkan ke dalam timble soklet diberikan
pelarut dan diekstraksi selama 6 jam
Ekstrak coklat gelap
Didinginkan
Disaring
Terkonsentrasi menggunakan evaporator
berputar kemudian oleh vakum hisap
Ekstrak kering mentah
yang berwana oren hitam

2.1.4 Kromatografi Kolom









2.1.5 Silika Gel Kromatografi Kolom


5 gr kurkumin mentah + 8 gr
silika gel
Dimasukan kedalam kolom 46x2 dan dielusi dengan
kloroform dan metanol (95:5) sebagai pengembang sistem
pelarut dan dideteksi sebagai bintik-bintik kuning
Hasil analisis dengan
Spektroskopi UV pada 420 nm
100 gram bubuk rimpang
Ekstrak
Disaring dan terkonsentrasi di evaporator
berputar
Olerosin
Kurkumin Demethoxycurcumin Bisdemethoxycurcumi
n
Diendapkan dengan petroleum eter dan
vakum kering, dihasilkan kurkuminoid mentah
Diekstraksi dengan soxhlet dan pelarut
aseton selama 6 jam.

BAB III
KESIMPULAN
Pada proses isolasi kurkumin dari tanaman kunyit digunakan metode
ekstraksi sokletasi dengan menggunkan pelarut aseton. Dan hasilnya dianalisis
menggunakan kromatografi kolom dimana 5 gram kurkumin mentah ditambah 8
gram silika gel, kemudian dimasukkan kedalam kolom 46x2 dan dielusi dengan
kloroform dan metanol (95:5) sebagai pengembang sistem pelarut dan dideteksi
sebagai bintik-bintik kuning dan hasilnya dianalisis oleh dengan Spektroskopi UV
pada panjang gelombang 420 nm.
















DAFTAR PUSTAKA
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1977. Materi Medika Indonesia Jilid
1. Jakarta: Ditjen POM
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2008. Farmakope Herbal Indonesia
Edisi I. Jakarta : Kementrian Kesehatan Republik Indonesia
Muhlisah, Ir. Fauziah. 2008. Tanaman Obat Keluarga (TOGA). Jakarta : Penebar
Swadaya
Revathy, S, Elumalai, S, Benny Merina, and Antony, Benny. (2011).Isolation,
Purification and Identification of Curcuminoids from Turmeric
(Curcuma longa L) by Column Cromatography. Journal of
Experimental Sciences 2011, 2(7):21-25 ISSN : 2218-1768
Simanjuntak, Partomuan. (2011). Studi Kimia dan Farmakologi Tanaman
Kunyit, (Curcuma longa L) Sebagai Tumbuhan Obat Serbaguna.
Jurnal Kimia Mulawarman Volume 9 No. 1, November 2011, ISSN :
1693-5616
Suharmiati dan Handayani, Lestari. 2007. Tanaman Obat dan Ramuan
Tradisional untuk Mengatasi Demam Berdarah Dengue. Jakarta : PT.
AgroMedia Pustaka
Winarto, W.P. 2008. Khasiat & Manfaat Kunyit. Jakarta: Tim Lentera.