Anda di halaman 1dari 17

A.

SKENARIO
Seorang perempuan, 52 tahun dirawat di RS dengan keluhan ,melepuh pada
telapak kaki kiri akibat direndam air panas untuk mengatasi kakinya yang baal
dan tidak merasakan panas. Pasien mengatakan sejak kira- kira 15 tahun yll
menderita DM. Akan tetapi pasien tersebut tidak kontrol secara rutin dan
mengkonsumsi bunga rosella. Hasil pemeriksaan fisik didapatkan BB 51kg, TB
150 cm, TD 130/90 mmHg, nilai ABI 5,9 mmHg, kaki berbentuk hammer toes,
terdapat kalus, teraba dingin, pucat saat elevasikan, rasa baal dikedua kaki, hasil
pemeriksaan laborat hari pertama GDS: 370 gr/dl, albumin 2,4 gr/dl, proteinuria,
pasien mendapatkan diit 1900 kalori (protein 60 gr, lemak 48gr, karbohidrat
299gr), ekstra putih telur, dan RI 3x25 Ui.
Pertanyaan minimal:
1. Bagaimana menentukan waktu, lokasi, cara pemberian dosis insulin?
2. Bagaimana evidence based bunga rosella untuk menurunkan gula darah
sewaktu?
3. Bagaimana menyusun menu diit harian sesuai dengan kebutuhan kalori
pasien

B. KEYWORD/ KATA-KATA SULIT
Elevasi
Kalus
Hammer toes
Baal
Abi
RI

C. MASALAH UTAMA
Diabetes Militus



D. DEFINISI KATA-KATA SULIT
1. Elevasi : saat di tinggikan/ posisi tinggi / vertical.
2. Kalus : Area kulit yang menebal karena tekanan atau gesekan yang terus-
menerus, atau daerah sekitar retakan tulang di mana tulang baru
terbentuk. sekumpulan sel amorphous (tidak berbentuk atau belum
terdiferensiasi) yang terbentuk dari sel-sel yang membelah terus menerus
secara invitro atau di dalam tabung.
3. Hammer toes: adalah foot problem yang cukup banyak ditemui,terutama
pada wanita. Gejala paling umum pada hammer toes adalah bentuk jari
kaki yang cenderung mengarah ke bawah dan membuat kaki sakit, bukan
kedepan. Jumlah penderita hammer toes memang kebanyakan wanita.
4. Baal : kebal, mati rasa, dimana permukaan tubuh tidak dapat merasakan
rangsangan dari luar tubuh contohnya, cubitan, sentuhan dan tusukan.
5. ABI adalah ( ankle bracial index )
6. RI adalah regular insulin Jenis insulin panjang

E. DAFTAR PERTANYAAN
1. Pengertian DM ?
2. Sebutkan Klasifikasi DM ?
3. Etiologi dari DM ?
4. Patofisiologi DM ?
5. Tanda dan gejala DM ?
6. Pemeriksaan fisik dan penunjang ?
7. Penatalaksanaan DM ?
8. Diagnosa DM ?
9. Komplikasi dari DM ?





Jawaban Masalah :
a) Pengertian DM :
Diabetes mellitus adalah penyakit dimana penderita tidak bisa
mengontrol kadar gula dalam tubuhnya. Tubuh akan selalu kekurangan
ataupun kelebihan gula sehingga mengganggu system kerja tubuh secara
keseluruhan (FKUI, 2001).

b) Klasifikasi DM
a. Diabetes Melitus Tipe 1 (DM Tipe 1)
Kekerapan DM Tipe 1 di negara barat + 10% dari DM Tipe 2. Di
negara tropik jauh lebih sedikit lagi. Gambaran kliniknya biasanya
timbul pada masa kanak-kanak dan puncaknya pada masa akil balig.
Tetapi ada juga yang timbul pada masa dewasa.
b. Diabates Melitus Tipe 2 (DM Tipe 2)
DM Tipe 2 adalah jenis yang paling banyak ditemukan (lebih dari
90%). Timbul makin sering setelah umur 40 dengan catatan pada
dekade ketujuh kekerapan diabetes mencapai 3 sampai 4 kali lebih
tinggi daripada rata-rata orang dewasa.
c. Diabetes Melitus Tipe Lain
Ada beberapa tipe diabetes yang lain seperti defek genetik fungsi sel
beta, defek genetik kerja insulin, penyakit eksokrin pankreas,
endokrinopati, karena obat atau zat kimia, infeksi, sebab imunologi
yang jarang dan sindroma genetik lain yang berkaitan dengan DM.
d. Diabetes Melitus Gestasional
Diabetes Melitus Gestasional adalah diabetes yang timbul selama
kehamilan. Jenis ini sangat penting diketahui karena dampaknya
pada janin kurang baik bila tidak ditangani dengan benar.
Tabel : Kadar glukosa darah sewaktu dan puasa dengan metode enzimatik
sebagai patokan penyaring


c) Etiologi DM
a) Virus dan Bakteri
b) Virus penyebab DM adalah rubela, mumps, dan human coxsackievirus B4.
Melalui mekanisme infeksi sitolitik dalam sel beta, virus ini
mengakibatkan destruksi atau perusakan sel. Bisa juga, virus ini
menyerang melalui reaksi otoimunitas yang menyebabkan hilangnya
otoimun dalam sel beta. Diabetes mellitus akibat bakteri masih belum bisa
dideteksi. Namun, para ahli kesehatan menduga bakteri cukup berperan
menyebabkan DM.
c) Bahan Toksik atau Beracun
d) Bahan beracun yang mampu merusak sel beta secara langsung adalah
alloxan, pyrinuron (rodentisida), dan streptozoctin (produk dari sejenis
jamur). Bahan lain adalah sianida yang berasal dari singkong.
e) Genetik atau Faktor Keturunan
f) Diabetes mellitus cenderung diturunkan atau diawariskan, bukan
ditularkan. Anggota keluarga penderita DM (diabetisi) memiliki
kemungkinan lebih besar terserang penyakit ini dibandingkan dengan
anggota keluarga yang tidak menderita DM. Para ahli kesehatan juga
menyebutkan DM merupakan penyakit yang terpaut kromosom seks atau
kelamin. Biasanya kaum laki-laki menjadi penderita sesungguhnya,
sedangkan kaum perempuan sebagai pihak yang membawa gen untuk
diwariskan kepada anak-anaknya.


d) Patifisiologi dari DM
Dalam proses metabolisme,insulin memegang peran yang sangat penting
yaitu bertugas memasukkan glukosa ke dalam sel. Insulin adalah suatu zat
yang dikeluarkan oleh sel beta di Pankreas.
1) Pankreas
Pankreas adalah sebuah kelenjar yang letaknya di belakang lambung.
Di dalamnya terdapat kumpulan sel yang disebut pulau-pulau
Langerhans yang berisi sel beta. Sel beta mngeluarkan hormon insulin
untuk mengatur kadar glukosa darah. Selain sel beta ada juga srl alfa
yang memproduksi glukagon yang bekerja sebaliknya dengan insulin
yaitu meningkatkan kadar glukosa darah. Juga ada sel delta yang
mngeluarkan somastostatin.
2) Kerja Insulin
Insulin diibaratkan sebagai anak kunci untuk membuka pintu
masuknya glukosa ke dalam sel, untuk kemudian di dalam sel, glukosa
itu dimetabolismekan menjadi tenaga.
3) Patofisiologi DM Tipe 1
Mengapa insulin pada DM Tipe 1 tidak ada? Ini disebabkan oleh
karena pada jenis ini timbul reaksi otoimun yang disebabkan karena
adanya peradangan pada sel beta insulitis. Ini menyebabkan timbulnya
anti bodi terhadap sel beta yang disebut ICA (Islet Cell Antibody).
Reaksi antigen (sel beta) dengan antibodi (ICA) yang ditimbulkannya
menyebabkan hancurnya sel beta.
4) Patofisiologi DM Tipe 2
Pada DM Tipe 2 jumlah insulin normal, malah mungkin lebih banyak
tetapi reseptor insulin yang terdapat pada permukaan sel kurang.
Reseptor inulin ini diibaratkan sebagai lubang kunci pintu masuk ke
dalam sel. Pada keadaan tadi jumlah lubang kuncinya yang kurang,
hingga meskipun anak kuncinya (insulin) banyak, tetapi karena lubang
kuncinya (reseptor) kurang, maka glukosa yang masuk sel akan
sedikit, sehingga sel akan kekurangan glukosa dan glukosa di dalam
darah akan meningkat. Dengan demikian keadaan ini sama dengan
pada DM Tipe 1. Perbedaanya adalah DM Tipe 2 disamping kadar
glukosa tinggi,juga kadar insulin tinggi atau normal. Keadaan ini
disebut resistensi insulin.
Faktor-faktor yang banyak berperan sebagai penyebab resistensi
insulin:
1. Obesitas terutama yang bersifat sentral (bentuk apel)
2. Diet tinggi lemak dan rendah karbohidrat
3. Kurang gerak badan
4. Faktor keturunan (herediter)



f) TANDA DAN GEJALA DARI DM
a. Poliuria ( byk mengeluarkan urin )
b. Polidipsi ( byk minum )
c. Polipagia ( cepat lapar )
d. Penurunan berat badan
e. Kelemahan, keletihan dan mengantuk
f. Malaise
g. Kesemutan pada ekstremitas
h. Infeksi kulit dan pruritus
i. Timbul gejala ketoasidosis & samnolen bila berat

Gejala diabetes
Gejala klasik diabetes adalah rasa haus yang berlebihan sering kencing
terutama malam hari, banyak makan serta berat badan yang turun dengan
cepat. Di samping itu kadang-kadang ada keluhan lemah, kesemutan pada
jari tangan dan kaki, cepat lapar, gatal-gatal, penglihatan jadi kabur, gairah
seks menurun, luka sukar sembuh dan pada ibu-ibu sering melahirkan bayi
di atas 4 kg.Kadang-kadang ada pasien yang sama sekali tidak merasakan
adanya keluhan, mereka mengetahui adanya diabetes karena pada saat
periksa kesehatan diemukan kadar glukosa darahnya tinggi.



g) PEMERIKSAAN FISIK DAN PENUNJANG DARI DM
Pemeriksaan fisik
Sirkulasi
Nadi pedalis dan pengisian kapiler ekstrimitas menurun atau lambat
pada diabetes yang lama.
Edema pada pergelangan kaki atau tungkai.
Peningkatan tekanan darah.
Nadi cepat, pucat, diaforesis atau hipoglikemi.
Eliminasi
Riwayat pielonefritis, infeksi saluran kencing berulang, nefropati
dan poliuri.
Nutrisi dan Cairan
Polidipsi.
Poliuri.
Mual dan muntah.
Obesitas.
Nyeri tekan abdomen.
Hipoglikemi.
Glukosuria.
Ketonuria.
Keamanan
Kulit : Sensasi kulit lengan, paha, pantat dan perut dapat berubah
karena ada bekas injeksi insulin yang sering
Riwayat gejala-gejala infeksi dan/budaya positif terhadap infeksi,
khususnya perkemihan atau vagina.
Mata
Kerusakan penglihatan atau retinopati.
Seksualitas
Uterus : tinggi fundus uteri mungkin lebih tinggi atau lebih rendah
dari normal terhadap usia gestasi.
Riwayat neonatus besa terhadap usia gestasi
(LGA),Hidramnion,anomaly congenital, lahir mati tidak jelas
Psikososial
Resiko meningkatnya komplikasi karena faktor sosioekonomi
rendah.
Sistem pendukung kurang dapat mempengaruhi kontrol emosi.
Cemas, peka rangsang dan peningkatan ketegangan.

Pemeriksaan diagnostic
Diagnosis DM umumnya akan dipikirkan dengan adanya gejala
khas DM berupa poliuria, polidipsia, lemas,dan berat badan turun. Gejala
lain yang mungkin dikemukakan oleh pasien adalah kesemutan, gatal,
mata kabur dan impotensia pada pasien pria,serta pruritus dan vulvae pada
pasien wanita. Jika keluhan dan gejala khas, ditemukannya pemeriksaan
glukosa darah sewaktu yang >200 mg/dl sudah cukup untuk menegakkan
diagnosis DM. Umumnya hasil pemeriksaan glukosa darah sewaktu yang
baru satu kali saja abnormal belum cukup untuk diagnosis klinis DM.
Kalau hasil pemeriksaan glukosa darah meragukan, pemeriksaan TTGO
diperlukan untuk konfirmasi diagnosis DM. Untuk diagnosis DM dan
gangguan toleransi glukosa lainnya diperiksa glukosa darah 2 jam setelah
beban glukosa. Sekurang-kurangnya diperlukan kadar glukosa pernah 2
kali abnormal untuk konfirmasi diagnosis DM, baik pada 2 pemeriksaan
yang berbeda ataupun adanya 2 hasil abnormal pada saat pemeriksaan
yang sama.
Cara pemeriksaan TTGO :
Tiga hari sebelumnya makan seperti biasa
Kegiatan jasmani cukup, tidak terlalu banyak
Puasa semalam, selama 10-12 jam
Glukosa darah puasa diperiksa
Diberikan glukosa 75 gram, dilarutkan dalam air 250 ml, dan diminum
selama / dalam waktu 5 menit
Diperiksa glukosa darah 1 (satu) jam dan 2 (dua) jam sesudah beban
glukosa
Selama pemeriksaan, pasien yang diperiksa tetap istirahat dan tidak
Pemeriksaan yang diperlukan adalah pemeriksaan kadar gula darah
atau skrining glukosa darah, ultrasonografi untuk mendeteksi adanya
kelainan bawaan dan makrosomia, Hemoglobin glikosida (HbA1c)
yang menunjukkan kontrol diabetik (HbA1c lebih besar dari 8,5%
khususnya sebelum kehamilan, membuat janin beresiko anomali
kongenital, Pemeriksaan kadar keton urin untuk menentukan status gisi,
Budaya urin untuk mengidentifikasi ISK asimtomatik, protein dan
kliren kreatinin (24 jam) untuk memastikan tingkat fungsi ginjal,
khusus pada diabetes durasi lama, tes`toleransi glukosa (GTT), kultur
vagina mungkin positif untuk candida albicans, Contraction stress test (
CST), Oxytocin challenge test (OCT) menunujukkan hasil positif jika
trjadi insufisiensi plasenta, Kriteria profil biofisik (BPP). Gula darah
meningkat Kriteria diagnostik WHO untuk DM pada dewasa yang
tidak hamil :Pada sedikitnya 2 x pemeriksaan.
- Glukosa plasma sewaktu/random > 200 mg/dl (11,1 mmol/L)
- Glukosa plasma puasa/nuchter > 140 mg/dl (7,8 mmol/L)
- Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian
sesudah mengkonsumsi 75 gr karbohidrat (2 jam post prandial)
> 200 mg/dl. Tes toleransi glukosa tes toleransi glukosa oral :
pasien mengkonsumsi makanan tinggi kabohidrat (150 300 gr)
selama 3 hari sebelum tes dilakukan, sesudah berpuasa pada
malam hari keesokan harinya sampel darah diambil, kemudian
karbohidrat sebanyak 75 gr diberikan pada pasien
(Brunner & Suddarth, 2003).
a) aseton plasma (keton) : positif secara mencolok. Asam
lemak bebas: kadar lipid dan kolesterol meningkat.
Osmolaritas serum: meningkat, < 330 mosm/dl.
b) Natrium : meningkat atau menurun
c) Kalium : (normal) atau meningkat semu (pemindahan
seluler) selanjutnya menurun.
d) Fosfor : lebih sering meningkat
e) Gas darah arteri : biasanya menunjukkan pH rendah dan Po
menurun pada HCO3 (asidosis metabolik) dengan
kompensasi alkolosis resperatorik.
f) Trombosit darah : H+ mungkin meningkat (dehidrasi)
leukositosis,hemokonsentrasi merupakan resnion terhadap
sitosis atau infeksi.
g) Ureum/kreatinin:meningkat atau normal (dehidrasi/menurun
fungsi ginjal).
h) Urine : gula dan aseton (+), berat jenis dan osmolaritas
mungkin meningkat. (Doengoes, 2000)


H. PENATALAKSANAAN DARI DM
Mengatur diet.
Diet yang dianjurkan pada bumil DMG adalah 30-35 kal/kg BB,
150-200 gr karbohidrat, 125 gr protein, 60-80 gr lemak dan
pembatasan konsumsi natrium. Penambahan berat badan bumil DMG
tidak lebih 1,3-1,6 kg/bln. Dan konsumsi kalsium dan vitamin D secara
adekuat. Makanan disajikan menarik dan mudah diterima. Diet
diberikan dengan cara tiga kali makan utama dan tiga kali makanan
antara (snack) dengan interval tiga jam. Buah yang dianjurkan adalah
buah yang kurang manis, misalnya pepaya, pisang, apel, tomat,
semangka, dan kedondong.
Dalam melaksanakan diit sehari-hari hendaknya mengikuti pedoman
3J yaitu ;
J1 : Jumlah kalori yang diberikan harus habis.
J2 : Jadwal diit harus diikuti sesuai dengan interval.
J3 : Jenis makanan yang manis harus dihindari.
Penentuan jumlah kalori Untuk menentukan jumlah kalori penderita
DM yang hamil/menyusui secara empirik dapat digunakan umus
sebagai berikut : ( TB 100 ) x 30 T1 + 100 T3 + 300 T2 + 200 L +
400
Keterangan :
TB : Tinggi badan. T3 : Trimester III
T1 : Trimester I L : Laktasi/menyusui
T2 : Trimester II

Terapi Insulin
Menurut Prawirohardjo, (2002) yaitu sebagai berikut :
Daya tahan terhadap insulin meningkat dengan makin tuanya
kehamilan, yang dibebaskan oleh kegiatan antiinsulin plasenta.
Penderita yang sebelum kehamilan sudah memerlukan insulin diberi
insulin dosis yang sama dengan dosis diluar kehamilan sampai ada
tanda-tanda bahwa dosis perlu ditambah atau dikurangi. Perubahan-
perubahan dalam kehamilan memudahkan terjadinya hiperglikemia
dan asidosis tapi juga menimbulkan reaksi hipoglikemik. Maka dosis
insulin perlu ditambah/dirubah menurut keperluan secara hati-hati
dengan pedoman pada 140 mg/dl.
Insulin yang dapat digunakan untuk terapi diantaranya:
1. Humulin
Komposisi: Humulin R regular soluble
human insulin(rekombinant DNA origin).Humulin N isophane
human insulin (rekombinant DNA origin). Humulin 30/70
reguler soluble human insulin 30% & human insulin suspensi
70% (recombinant DNA origin).
Indikasi : IDDM
Dosis : Dosis disesuaikan dengan kebutuhan individu. Diberikan
secara injeksi SK, IM, Humulin R dapat diberikan secara IV.
Humulin R mulai kerja jam, lamanya 6-8 jam, puncaknya 2-4
jam. Humulin N mulai kerja 1-2 jam, lamanya 18-24 jam,
puncaknya 6-12 jam. Humulin 30/70 mulai kerja jam,
lamanya 14-15 jam, puncaknya 1-8 jam.
Kontraindikasi : Hipoglikemik.
Peringatan : Pemindahan dari insulin lain, sakit atau gangguan
emosi, diberikan bersama obat hiperglokemik aktif.
Efek sampinng : Jarang, lipodistropi, resisten terhadap insulin,
reaksi alergi local atau sistemik.
Faktor resiko : pada kehamilan kategori B

2. Insulatard Hm/ Insulatard Hm Penfill
Komposisi : Suspensi netral isophane dari monokomponen
insulin manusia. Rekombinan DNA asli.
Indikasi : DM yang memerlukan insulin
Dosis : Jika digunakan sebagai terapi tunggal biasanya diberikan
1-2x/hari (SK). Onset: jam. Puncak: 4-12 jam. Terminasi:
setelah 24 jam. Penfill harus digunakan dengan Novo pen 3
dengan jarum Novofine 30 G x 8mm.
Kontraindikasi : Hipoglikemia.
Faktor resiko : pada kehamilan kategori B

3. Actrapid Hm/Actrapid Hm Penfill
Komposisi : Larutan netral dari monokomponen insulin
manusia. Indikasi : DM
Dosis : Jika digunakan sebagai terapi tunggal, biasanya
diberikan 3 x atau lebih sehari. Penfill SK, IV, IM. Harus
digunakan dengan Novo Pen 3 & jarum Novofine 30 G x 8 mm.
Tidak dianjurkan untuk pompa insulin. Durasi daya kerja setelah
injeksi SK: jam, puncak: 1-3 jam. Terminasi setelah 8 jam.
Kontraindikasi : hipoglikemia, insulinoma. Pengunaan pada
pompa insulin.
Peringatan : Stres psikis, infeksi atau penyakit lain yang
meningkatkan kebutuhan insulin. Hamil.
Efek samping : Jarang, alergi & lipoatrofi.
Interaksi obat : MAOI, alcohol, bloker meningkatkan efek
hipoglikemik. Kortikosteroid, hormon tiroid, kontrasepsi oral,
diuretic meningkatkan kebutuhan insulin.
Faktor resiko : pada kehamilan kategori B
4. Humalog/Humalog Mix 25
Komposisi : Per Humalog insulin lispro. Per Humalog Mix 25
insulin lispro 25%, insulin lispro protamine suspensi 75%.
Indikasi : Untuk pasien DM yang memerlukan insulin untuk
memelihara homeostasis normal glukosa. Humalog stabil awal
untuk DM, dapat digunakan bersama insulin manusia kerja lama
untuk pemberian pra-prandial
Dosis : Dosis bersifat individual. Injeksi SK aktivitas
kerja cepat dari obat ini, membuat obat ini dapat diberikan
mendekati waktu makan (15 menit sebelum makan)
Kontraindikasi : hipoglikemia. Humalog mix 25 tidak untuk
pemberian IV.
Peringatan : Pemindahan dari terapi insulin lain. Penyakit atau
gangguan emosional. Gagal ginjal atau gagal hati. Perubahan
aktivitas fisik atau diet. Hamil.
Efek samping : Hipoglikemia, lipodisatrofi, reaksi alergi local &
sistemik.
Interaksi obat : Kontrasepsi oral,kortikosteroid, atau terapi sulih
tiroid dapat menyebabkan kebutuhan tubuh akan insulin
meningkat. Obat hipoglikemik oral, salisilat, antibiotik sulfa,
dapat menyebabkan kebutuhan tubuh akan insulin menurun.
Faktor resiko : pada kehamilan kategori B
5. Mixtard 30 Hm/Mixtard Hm Penfill
Komposisi : Produk campuran netral berisi 30% soluble HM
insulin & 70% isophane HM insulin (monokomponen manusia).
Rekombinan DNA asli.
Indikasi : DM yang memerlukan terapi insulin.
Dosis : Jika digunakan sebagai terapi tunggal biasanya diberikan
1-2 x/hari. Onset: jam. Puncak 2-8 jam. Terminasi setelah 24
jam. Penfill harus digunakan dalam Novo Pen 2 dengan jarum
Novofine 30 G x 8 mm.
Kontraindikasi : Hipoglikemia, insulinoma.
Peringatan : Stres psikis, infeksi atau penyakit yang dapat
meningkatkan kebutuhan insulin. Hamil.
Efek samping : Jarang, alergi & lipoatrofi.
Interaksi obat : MAOI, alkohol, ? bloker meningkatkan efek
hipoglikemik.Kortikosteroid, hormon tiroid, kontrasepsi oral,
diuretic meningkatkan kebutuhan insulin.
Faktor resiko : pada kehamilan kategori B.

Olah Raga
Kecuali kontraindikasi, aktivitas fisik yang sesuai
direkomendasikan untuk memperbaiki sensitivitas insulin dan
kemungkinan memperbaiki toleransi glukosa. Olah raga juga dapat
membantu menaikkan berat badan yang hilang dan memelihara
berat badan yang ideal ketika dikombinasi dengan pembatasan
intake kalori.

I. DIAGNOSA KEPERAWATAN DM
Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotik,
kehilangan gastrik, berlebihan diare, mual, muntah, masukan dibatasi,
kacau mental.
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
ketidakcukupan insulin, penurunan masukan oral : anoreksia, mual,
lambung penuh, nyeri abdomen, perubahan kesadaran : status
hipermetabolisme, pelepasan hormon stress.
Risiko tinggi terjadi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya
pertahanan perifer, perubahan sirkulasi, kadar gula darah yang tinggi,
prosedur invasif dan kerusakan kulit.
Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energi metabolik,
perubahan kimia darah, insufisiensi insulin, peningkatan kebutuhan
energi, status hipermetabolisme/infeksi.
Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan
pengobatan berhubungan dengan salah interpretasi informasi / tidak
mengenal sumber informasi.




J. KOMPLIKASI DM
Komplikasi diabetes mellitus dapat muncul secara akut dan secara kronik,
yaitu timbul beberapa bulan atau beberapa tahun sesudah mengidap
diabetes mellitus.
Komplikasi Akut Diabetes Mellitus, dua komplikasi akut yang paling
penting adalah reaksi hipoglikemia dan koma diabetik.
1) Reaksi Hipoglikemia
Reaksi hipoglikemia adalah gejala yang timbul akibat tubuh
kekurangan glukosa, dengan tanda-tanda rasa lapar, gemetar,
keringat dingin, pusing, dan sebagainya. Penderita koma
hipoglikemik harus segera dibawa ke rumah sakit karena perlu
mendapat suntikan glukosa 40% dan infuse glukosa. Diabetisi yang
mengalami reaksi hipoglikemik (masih sadar), atau koma
hipoglikemik, biasanya disebabkan oleh obat anti-diabetes yang
diminum dengan dosis terlalu tinggi, atau penderita terlambat
makan, atau bisa juga karena latihan fisik yang berlebihan.
2) Koma Diabetik
Berlawanan dengan koma hipoglikemik, koma diabetik ini timbul
karena kadar darah dalam tubuh terlalu tinggi, dan biasanya lebih
dari 600 mg/dl. Gejala koma diabetik yang sering timbul adalah:
- Nafsu makan menurun (biasanya diabetisi mempunyai
nafsu makan yang besar)
- Minum banyak, kencing banyak
- Kemudian disusul rasa mual, muntah, napas penderita
menjadi cepat dan dalam, serta berbau aseton
- Sering disertai panas badan karena biasanya ada infeksi dan
penderita koma diabetik harus segara dibawa ke rumah
sakit.
Komplikasi Kronis Diabetes Mellitus : Komplikasi kronik DM pada
dasarnya terjadi pada semua pembuluh darah di seluruh bagian tubuh
(angiopati diabetik). Untuk kemudahan, angiopati diabetik dibagi 2 :
1. Makroangiopati (makrovaskular)
2. Mikroangiopati (mikrovaskular)
Walaupun tidak berarti bahwa satu sama lain saling terpisah dan
tidak terjadi sekaligus bersamaan.

Anda mungkin juga menyukai