Anda di halaman 1dari 19

0

Referat

MUMIFIKASI ALAMI DAN BUATAN
DAN ASPEK MEDIKOLEGAL






Oleh :

Dermaida 0810311024
Ervina 0810312026
Millah Fithriyah Z 1010312043
Rivo Armanda S 1010312056
Novia Purnama Sari 1010312098
Daulat Azhari 1010313028


Preseptor :

Dr.Rika Susanti, Sp.F




BAGIAN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
RS DR. M DJAMIL
PADANG
2014
1

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan pada Allah SWT, karena berkat karunianya Nya lah penulis
dapat menyelesaikan karya tulis yang berjudul Mumifikasi Alami dan Buatan serta Aspek
Medikolegalnya. Salawat dan salam penulis panjatkan kepada Nabi Muhammad SAW, beserta
keluarga, sahabat, dan pengikutnya.
Terima kasih kepada dr. Rika Susanti, SpF selaku pembimbin, rasa terima kasih sebesar-
besarnya disampaikan atas bimbingannya selama mengikuti kepaniteraan klinik pada bagian
Forensik RS. Dr. M. Djamil ini. Serta rekan-rekan dokter muda mata, rasa terima kasih penulis
berikan atas masukan dan sarannya dalam penulisan karya tulis ini.
Disadari karya tulis ini masih jauh dari sempurna, mengingat keterbatasan kemampuan
penulis. Oleh sebab itu, kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan untuk
kesempurnaan karya tulis ini. Mudah-mudahan karya tulis ini dapat memberikan manfaat bagi
kita semua, terutama bagi penulis yang masih dalam proses pembelajaran.
Padang, Juni 2014


Penulis



2

DAFTAR ISI
Halaman
Kata Pengantar.i
Daftar isi..ii
Bab I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang.1
1.2.Batasan masalah....3
1.3.Metode Penulisan......3
1.4.Tujuan Penulisan...3
Bab II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Defenisi Mumifikasi.4
2.2. Jenis Mumifikasi..4
2.2.1 Mumifikasi Alami5
2.2.2 Mumifikasi Buatan...7
2.3. Tahapan Mumifikasi.....8
2.4. Arti Mumifikasi dalam Kedokteran Forensik..10
2.5. Aspek Medikolegal mumifikasi...12
BAB III. PENUTUP..15
DAFTAR PUSTAKA...16




3

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Setelah kematian, tubuh mengalami proses dekomposisi yang merupakan proses
kompleks mulai dari proses autolisis sel akibat enzim-enzim autolisis, sampai proses
eksternal sel oleh bakteri dari usus, jamur, dan lingkungan termasuk binatang yang dapat
merusak mayat. Proses dekomposisi dapat berbeda dari satu tubuh dengan tubuh lain, dari
lingkungan satu dibandingkan dengan lingkungan yang lain, bahkan dari satu bagian
tubuh mayat dengan bagian tubuhnya yang lain. Perubahan-perubahan yang terjadi akibat
proses dekomposisi ini dapat dihambat dengan proses mumifikasi.
1
Mumifikasi secara harafiah berarti proses pembentukan mumi. Mumi merupakan
sebuah kata yang diambil dari catatan sejarah Yunani Kuno yang menggambarkan bangsa
persia yang menghormati mayat bangsawannya dengan melakukan pengawetan
menggunakan lilin. Mayat yang mengalami mumifikasi akan tampak kering, berwarna
coklat, kadang disertai bercak warna putih, hijau atau hitam, dengan kulit yang tampak
tertarik terutama pada tonjolan tulang, seperti pada pipi, dagu, tepi iga dan panggul.
Organ dalam umumnya mengalami dekomposisi menjadi jaringan padat berwarna coklat
kehitaman. Sekali mayat mengalami proses mumifikasi, maka kondisinya tidak akan
berubah, kecuali bila diserang oleh serangga.
1
Mumifikasi merupakan seluruh proses baik alami maupun buatan yang meliputi
pemeliharaan/ pengawetan tubuh tetap utuh dari pembusukan. Mumifikasi alami
dipengaruhi oleh factor intrinsic dan ekstrinsik dimana sangat dipengaruhi oleh kondisi
4

lingkungan yang kering sehingga banyak ditemukan mumi alami pada daerah seperti
Chili, Mesir, dan Peru.
2
Proses mumifikasi buatan yang paling terkenal adalah yang dilakukan oleh bangsa
Mesir Kuno dengan teknik embalmingnya dan dilakukan sejak zaman Kerajaan Lama
sampai masa Masehi. Bangsa Mesir Kuno percaya akan masih adanya eksistensi dari jiwa
yang telah meninggal, namun keabadian tersebut bersifat personal dan tergantung dari
bagaimana individu tersebut diawetkan, sehingga dilakukan mumifikasi buatan terhadap
orang-orang zaman itu dengan membuatnya semirip mungkin dengan masa hidupnya.
Menurut agama yang dianut oleh bangsa Mesir Kuno tersebut, tubuh yang diawetkan
sangatlah penting sebab akan menjadi tempat untuk kembalinya jiwa dari individu
tersebut dalam kehidupan setelah kematian. Kepercayaan tersebut muncul mulai dari
awal masa Neolitikum dan periode sebelum Dinasti, sekitar 5000-4000 SM.
3
Pada proses mumifikasi, mayat mengalami pengawetan akibat proses pengeringan
dan penyusutan bagian-bagian tubuh. Kulit menjadi kering, keras dan menempel pada
tulang kerangka. Mayat menjadi lebih tahan dari pembusukan sehingga masih jelas
menunjukkan ciri-ciri seseorang. Fenomena ini terjadi pada daerah yang panas dan
lembab, di mana mayat dikuburkan tidak begitu dalam dan angin yang panas selalu
bertiup sehingga mempercepat penguapan cairan tubuh. Lama terjadinya mummifikasi
adalah antara 4 bulan sampai beberapa tahun. Kepentingan medikolegal dari mumifikasi
adalah dapat menunjukkan tempat kematian (kering, panas atau tempat basah).
4

Mumifikasi memberikan kesempatan bagi banyak bidang ilmu untuk
mempelajarinya, baik kedokteran forensik, antropologi, dan lain sebagainya. Dengan
keunikan dari proses terjadinya mumi hingga hadirnya proses pembuatan mumi secara
5

buatan, banyak ahli yang mempelajari bagaimana terjadinya mumifikasi tersebut. Dalam
bidang kedokteran forensik, mumifikasi dapat dimanfaatkan untuk mengidentifikasi
identitas dengan melakukan pemeriksaan DNA maupun melihat langsung struktur tubuh
dan wajah yang terkesan menetap pada mumi tersebut, meskipun masih sedikit temuan
mumi yang ada di Indonesia.
1.2 Batasan Masalah
Materi pembahasan referat ini mencakup defenisi mumifikasi, jenis mumifikasi,
tahapan mumifikasi, arti mumifikasi dalam kedokteran forensik, serta aspek medikolegal
dari mumifikasi.
1.3 Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui defenisi mumifikasi.
2. Untuk mengetahui jenis-jenis mumifikasi.
3. Untuk mengetahui tahapan mumifikasi.
4. Untuk mengetahui arti mumifikasi dalam kedokteran forensik.
5. Untuk mengetahui aspek medikolegal dari mumifikasi.
1.4 Metode Penulisan
Referat ini merupakan tinjauan kepustakaan yang merujuk pada berbagai sumber/
literatur.





6

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Defenisi Mumifikasi
Mumifikasi secara bahasa berarti pengeringan jaringan.
5
Secara istilah,
mumifikasi adalah proses penguapan cairan atau dehidrasi jaringan yang cukup cepat
sehingga terjadi pengeringan jaringan yang selanjutnya dapat menghentikan pembusukan.
Jaringan berubah menjadi keras dan kering, berwarna gelap, berkeriput, dan tidak
membusuk karena kuman tidak dapat berkembang pada lingkungan yang
kering.mumifikasi terjadi bila suhu hangat, kelembaban rendah, aliran udara yang baik,
tubuh yang dehidrasi dan waktu yang lama (12-14 minggu). Mumifikasi jarang dijumpai
pada cuaca yang normal.
6

2.2 Jenis Mumifikasi
Mumifikasi dapat terjadi secara alami dan buatan. Mumifikasi yang terjadi oleh
pengaruh alami disebut mumifikasi alami, sedangkan mumifikasi yang terjadi karena
pengaruh campur tangan atau hasil interfensi manusia disebut mumi buatan.
3
Mumi alami
maupun buatan yang mana melalui proses pengawetan dengan pengeringan (kering,
dehidrasi) telah ditemukan di Mesir. Kemungkinan besar, mumi alami tercatat pada
orang-orang zaman proto-dinasti dimana saat itu mereka menemukan mumi saat akan
menguburkan jenazah baru di pasir. Mereka menganggap bahwa hal tersebut merupakan
kemampuan alami tubuh yang bisa bertahan tanpa terjadi pembusukan. Hal ini terbukti
dari adanya doa dalam kitab kematian Mesir Kuno yang disebut Book of Dead:
Tubuhku abadi, ia tidak akan binasa dan tidak akan membusuk oleh umur.
7
7

2.2.1 Mumifikasi Alami
Mumifikasi alami dapat terjadi pada kondisi yang spesifik, seperti udara
yang panas dan kering di padang pasir atau pada udara yang dingin dan kering
pada goa-goa di pegunungan. Kondisi seperti itu dapat mengawetkan jaringan
tubuh, dapat terjadi di beberapa tempat di dunia seperti Amerika Selatan,
Meksiko, Eropa, dan Mesir. Mumifikasi juga bisa terjadi pada tempat dengan
suhu sedang, terutama pada tempat dimana tubuh mayat tidak terganggu dengan
lingkungan di sekitarnya, seperti pada rumah yang tertutup, lemari, loteng
rumah.
2,8

Butuh beberapa minggu dalam proses mumifikasi. Pada tahap awal, proses
sering berlangsung bersamaan dengan derajat pembusukan yang telah terjadi,
terutama pada organ dalam. Yang pertama kali mengalami proses mumifikasi
adalah kulit, pada saat itu, organ-organ visceral telah mengalami dekomposisi saat
post mortem. Kecepatan pengeringan dapat mengurangi peran pembusukan dari
organism enterik, bakteri-bakteri tanah, dan organisme lain yang berperan dalam
pembusukan.Semakin cepat proses pengeringan, semakin bagus proses
mumifikasi karena hal ini dapat melindungi tubuh dari proses kolonisasi. Tubuh
yang kering juga menghalangi investasi dari larva serangga.
2
Faktor dalam tubuh mayat yang mendukung terjadinya mumifikasi antara
lain adalah keadaan dehidrasi premortal, habitus yang kurus dan umur yang muda,
dalam hal ini neonatus.
1
Pada tanggal 19 September 1991, pasangan Jerman yang sedang mendaki
di padang salju pegunungan Tyrolean menemukan sebuah mumi yang kemudian
8

memberitahukannya pada pihak berwenang Itali dan Austria. Pihak Itali kemudian
melakukan ekstraksi mumi yang saat lebih dikenal dengan julukan The Iceman.
Temperatur yang amat dingin yang menghambat pembusukan dan kelembaban
udara yang rendah pada ketinggian 10.000 kaki membuat mumi ini terbentuk
sejak 5300 tahun lalu. The Iceman saat ini dipamerkan di British Museum.
The Greenland Mummies yang terdiri dari bayi berumur enam bulan, anak
berumur empat tahun dan beberapa wanita dengan umur yang bervariasi yang
diperkirakan meninggal 500 tahun lalu di sebuah gua di Greenland. Tubuh mereka
mengalami mumifikasi akibat aliran udara kering dalam gua dan suhu di bawah
nol derajat Celcius yang menunda proses pembusukan. Suhu yang dingin
menghambat pembusukan, dan kelembaban udara yang rendah membantu
pengeringan jaringan tubuh. Pada ketinggian yang ekstrim seperti pada kasus
The Iceman, kadar oksigen yang rendah juga turut menghambat pertumbuhan
bakteri aerob dalm proses pembusukan.
1
Kasus mumifikasi dengan preservasi anatomi dan topografi yang cukup
baik di Indonesia ditemukan pada Januari 1988 di desa Cibitung kabupaten
Bekasi, Jawa Barat. Kasus ini adalah temuan kedua di Indonesia, mayat
ditemukan dalam sebuah kamar tertutup dengan suhu kamar 32 34
0
C dengan
kelembaban 62 67%. Mayat nenek ini ditemukan setelah sang nenek menurut
keluarga menghilang tujuh bulan sebelumnya. Saat ditemukan, mata, hidung dan
mulut sudah tidak ada. Sebagian pipi dan bibir tersisa kulit kering berwarna
kelabu. Leher kiri dan kanan terdapat kulit dan jaringan otot yang mengering.
Bagian depan masih ututh seluruhnya, berupa kulit dan otot yang mengering,
9

kaku dan keras. Pada bagian belakang hanya tulang iga saja yang masih utuh.
Rongga dada perut telah kosong seluruhnya. Lengan kanan berupa kulit berwarna
kelabu, telapak dan punggung tangan masih utuh dan mengering. Lengan kiri
mengering warna kuning kelabu dengan tangan kiri tinggal tulang-tulang saja.
Tungkai kanan dan kiri tampak sebagai kulit dan otot yang teloah kering berwarna
kuning coklat dengan bercak kelabu. Secara mikroskopis kulit masih
menunjukkan gambaran yang dapat dikenali sebagai kulit, otot tampak sebagai
serabut yang sedikit bergelombang berwarna eosinofilik dan homogen tanpa inti
sel.
1
Mumifikasi sering terjadi pada bayi yang meninggal ketika baru lahir.
Permukaan tubuh yang lebih luas dibanding orang dewasa, sedikitnya bakteri
dalam tubuh dibanding orang dewasa membantu penundaan pembusukan sampai
terjadinya pengeringan jaringan tubuh. Pada orang dewasa secara lengkap jarang
terjadi, kecuali sengaja dibuat oleh manusia.
1
2.2.2 Mumifikasi Buatan
Mumifikasi buatan yang paling popular adalah yang dilakukan di Mesir
selama beberapa generasi.
1
Mumifikasi merupakan salah satu sejarah yang paling
penting dalam peradaban Mesir Kuno. Mumi buatan yang pertama kali dibuat
pada Dinasti keempat selama masa Kerajaan Tua mencapai hingga puncak pada
masa Kerajaan Baru. Beberapa material diteliti telah digunakan dalam proses
pembentukan mumi, Maksoud et al., dalam penelitiannya menerangkan bahwa
garam natron merupakan bahan terpenting untuk mengawetkan jenazah, dan
10

bahan-bahan dari tumbuh-tumbuhan memiliki efek anti-bakterial yang dapat
menjaga tubuh dari serangan mikroba.
7
Bahan-bahan yang telah diidentifikasi digunakan dalam proses mumifikasi
buatan diantaranya: phenol, guaiacols, napthalenes, monoterpenes,
seswuiterpenoid, osidised diterpene resin acid dan triterphenoid. Bahan-bahan
tersebut juga memiliki efek antibacterial dan antifungal yang menjaga tubuh dari
perburukan kondisi tubuh akibat serangga.
7
2.3 Tahapan Mumifikasi
Mumi pertama kali dibuat secara alami pada zaman Mesir Kuno di Padang Pasir.
Seiring dengan kepercayaan mereka, mereka mulai membuat mumi buatan dengan cara
pengawetan atau juga disebut pembalseman. Butuh waktu hingga 70 hari bagi bangsa Mesir
Kuno untuk membuat mumi. Mumifikasi sejati (metode buatan) dapat diidentifikasi sebagai
suatu metode yang menggabungkan beberapa teknik yang cerdas dengan menggunakan
bahan kimia dan bahan lainnya. Bertahun-tahun dibutuhkan dalam studi eksperimen untuk
mengetahui metode tersebut. Pengawetan buatan dari mayat dipraktikkan di Mesir mulai
dari zaman Kerajaan Tua hingga masuk zaman sejarah.
7,8
Berdasarkan perhitungan Herodotus, ahli sejarah Yunani, terdapat orang-orang yang
melakukan dan menggunakan teknik mumifikasi sejati dan menjadikannya sebagai bisnis.
Ketika tubuh jenazah dibawa kepada mereka, para pengawet menunjukkan jenis peti kayu
yang mana yang diinginkan oleh pihak keluarga, sehingga mereka bisa menentukan tingkat
mumifikasi seperti apa yang akan digunakan, berdasarkan pada kasta dari keluarga si mayat
tersebut.
11

Teknik mumifikasi diklasifikasikan menjadi tiga tipe. Teknik pertama adalah yang
paling mahal, biasanya dilakukan pada keluarga kerajaan dan keluarga bangsawan. Teknik
kedua lebih rendah dari yang pertama dan tidak mencakup pembungkusan dari tubuh,
sedangkan teknik ketiga adalah teknik yang paling murah.
Teknik pertama dapat dijabarkan sebagai berikut:
7,8
a. Pencucian dan pembersihan tubuh dengan air yang berasal dari Sungai Nil
b. Pengangkatan organ dalam
- Otak dikeluarkan melalui hidung dan dibuang. Bangsa Mesir Kuno
menganggap bahwa otak bukanlah organ yang penting dan hanya sebagai
pengisi kepala.
- Jantung dibiarkan tetap berada di dalam tubuh. Bagi bangsa Mesir Kuno,
jantung merupkan organ yang paling penting. Mereka percaya bahwa
jantunglah yang mengontrol pikiran, emosi, dan tempat penyimpanan memori.
- Hati, lambung, paru-paru, dan usus dikeluarkan dan dilakukan pembalseman
secara terpisah. Organ-organ yang lain dibuang.
c. Tubuh kemudian ditutupi dengna sejenis garam yang disebut natron selama 40
hari, tujuannya adalah agar tubuh mongering sepenuhnya.
d. Mumi kemudian diisi dengan dupa atau kemenyan dan ditutupi dengan damar
untuk membuatnya tahan air.
e. Terakhir, mumi ditutupi dengan jimat dan dibalut dengan linen. Linen merupakan
material pakaian yang terbuat dari jerami halus (menyerupai katun). Jimat berukir
angka-angka atua gambar yang melambangkan kekuatan magis.
12

Metode kedua dalam pembuatan mumifikasi dijelaskan oleh Herodotus, dimana proses
ini tidak mencakup proses eviserasi lengkap. Metodenya yaitu minyak dari cedar
diinjeksikan ke anus. Hal ini untuk mencegah keluarnya cairan, kemudian tubuh diberi
natron. Setelah tahapan tersebut komplit, minyak tadi dikeringkan kemudian usus dan
lambung dikeluarkan bersama minyak tersebut, daging juga diawetkan, jadi hanya kulit dan
rangka yang tersisa.
Metode ketiga dalam pembuatan mumifikasi yaitu lambung dan organ dalam
dikeluarkan melalui insisi abdomen dari sisi kiri tubuh. Kemudian rongga tubuh disterilisasi
dengan etil alcohol. Selanjutnya seluruh tubuh dibenamkan dalam garam natron.
2.4 Arti Mumifikasi dalam Kedokteran Forensik
1

Dilihat dari sudut forensik, mummifikasi memberikan keuntungan dalam hal
bertahannya bentuk tubuh, terutama kulit dan beberapa organ dalam, bentuk wajah secara
kasar masih dapat diidentifikasi secara visual. Mumifikasi juga dapat mempreservasi bukti
terjadinya jejas yang menunjukkan kemungkinan sebab kematian.
Kepentingan forensik yang tak kalah penting pada mumifikasi adalah identifikasi.
Walau terjadi pengerutan namun struktur wajah, rambut dan beberapa kekhususan pada
tubuh seperti tato dapat bertahan sampai bertahun-tahun. Mumi Prazyryk dari Asia Tengah
berjenis kelamin perempuan yang diperkirakan berusia 2500-an tahun masih menunjukkan
gambaran tato pada kulitnya dengan jelas.
Terpeliharanya sebagian dari anatomi dan topografi jenazah pada proses mumifikasi
memungkinkan pemeriksaan radiologi yang lebih teliti. Dengan pemeriksaan radiologi,
jejas-jejas yang mungkin terlewatkan dalam pemeriksaan mayat dan bedah mayat dapat
ditunjukkan dengan jelas dan dieksplorasi kembali lewat pemeriksaan bedah jenazah. Jejas
13

yang nampak pada kulit mummi yang ditemukan pada tahun 1991 oleh dr.Rainer Henn MD
seorang ahli forensik dari Austria menunjukkan patahan pada ulnar ketika dilakukan
pemeriksaan X-foto anteroposerior. Pemeriksaan CT-scan pada mumi juga dapat
mengungkapkan jejas pada lokasi yang sulit dijangkau, bahkan dengan pemeriksaan bedah
mayat.
Proses mumifikasi juga memungkinkan dilakukannya pemeriksaan DNA, bahkan
pada jenazah yang berusia ratusan atau ribuan tahun. Lapisan kulit luar yang miskin akan
inti sel mungkin tidak cukup baik diambil sebagai sampel, namun tulang, akar rambut,
organ dalam dan sisa cairan tubuh yang mengering pada mumi dapat digunakan untuk
pemeriksaan DNA. Tzar Nicholas II dan ratu Alexandra Fyodorovna beserta tujuh jenazah
lain yang dikubur bersama, menjalani pemeriksaan DNA dan diambil kesimpulan bahwa
lima mumi berasal dari satu keluarga dan empat mumi lain tidak. Tiga dari lima jenazah tadi
diidentifikasi sebagai anak dari kedua jenazah lainnya. Sang ibu berhubungan darah dengan
keluarga kerajaan Inggris dan sang ayah berasal dari keluarga Romanov. Pemeriksaan DNA
mitokondria tulang dari Alexandra menunjukkan uturan T-loop yang identik dengan ketiga
anaknya dan Pangeran Philip, suami Ratu Elizabeth II yang neneknya adalah saudara
Alexandra. Pada Czar adalah anomali berupa heteroplasmi, dimana pada posisi basa 16169
secara konsisten terdapat basa C dan T ternyata identik dengan pemeriksaan DNA
mitokondria Georgij Romanov saudaranya. Para ilmuwan 99% yakin bahwa yang mereka
periksa adalah mayat dari Tzar dan keluarganya, 4 yang lain diyakini sebagai pengawalnya.
Yang harus diingat dalam pemanfaatan mumi untuk kepentingan forensik bahwa pada
mummifikasi terjadi pengerutan kulit yang dapat menimbulkan artefak pada kulit yang
menyerupai luka/jejas terutama pada daerah pubis, daerah sekitar leher, dan axilla
14

2.5 Aspek Medikolegal Mumifikasi
Pada prinsipnya pengawetan jenazah adalah suatu tindakan medis melakukan
pemberian bahan kimia tertentu pada jenazah untuk menghambat pembusukan serta
menjaga penampilan luar jenazah supaya tetap mirip dengan kondisi sewaktu hidup.
Pengawetan jenazah dapat dilakukan langsung pada kematian wajar, akan tetapi pada
kematian tidak wajar pengawetan jenazah baru boleh dilakukan setelah pemeriksaan jenazah
atau autopsi selesai dilakukan.
Pengawetan jenazah perlu dilakukan pada keadaan:
Adanya penundaan penguburan atau kremasi lebih dari 24 jam: Hal ini penting karena
di Indonesia yang beriklim tropis, dalam 24 jam mayat sudah mulai membusuk,
mengeluarkan bau, dan cairan pembusukan yang dapat mencemari lingkungan sekitarnya.
Jenazah perlu dibawa ke tempat lain: Untuk dapat mengangkut jenazah dari suatu tempat ke
tempat lain, harus dijamin bahwa jenazah tersebut aman, artinya tidak berbau, tidak
menularkan bibit penyakit ke sekitarnya selama proses pengangkutan. Dalam hal ini
perusahaan pengangkutan, demi reputasinya dan untuk mencegah adanya gugatan di
belakang hari, harus mensyaratkan bahwa jenazah akan diangkut telah diawetkan secara
baik, yang dibuktikan oleh suatu sertifikat pengawetan.
Jenazah meninggal akibat penyakit menular: Jenazah yang meninggal akibat penyakit
menular akan lebih cepat membusuk dan potensial menulari petugas kamar jenazah,
keluarga serta orang-orang di sekitarnya. Pada kasus semacam ini, walaupun penguburan
atau kremasinya akan segera dilakukan, tetap dianjurkan dilakukan pengawetan jenazah
untuk mencegah penularan kuman/ bibit penyakit ke sekitarnya.
15

Untuk mempertahankan bentuk dan penampilan: Anggota keluarga yang berduka
biasanya menginginkan almarhum(ah) diawetkan sedemikian rupa sehingga penampilannya
dipertahankan semirip mungkin dengan keadaannya sewaktu hidup. Sayangnya pengawetan
jenazah yang ada di Indonesia saat ini pada umumnya masih kurang memperhatikan aspek
kosmetik ini sehingga hasil pengawetannya masih jauh dari sempurna. Keluhan yang biasa
muncul pada pengawetan jenazah cara konvensional dengan formalin adalah muka yang
hitam, kulit yang kaku, obat yang perih dan meleleh dari mulut dan hidung. Dengan
pengembangan metode dan bahan kimia baru, pada saat ini telah berhasil dibuat pengawetan
jenazah yang tidak mengubah warna kulit, tekstur tidak keras, tidak meleleh dan tidak perih,
malahan dilengkapi dengan bau wangi yang dapat dipilih jenisnya.
Embalming pada umumnya dilakukan untuk menghambat pembusukan, membunuh
kuman, serta mempertahankan bentuk mayat. Pada prinsipnya embalming hanya boleh
dilakukan oleh dokter pada mayat yang meninggal secara wajar (natural death), sedangkan
pada mayat yang meninggal tidak wajar (akibat pembunuhan, bunuh diri, serta kecelakaan).
Embalming baru boleh dilakukan setelah proses pemeriksaan forensik selesai dilakukan.
Embalming sebelum otopsi dapat menyebabkan perubahan serta hilangnya atau
berubahnya beberapa fakta forensik. Dokter yang melakukan hal tersebut dapat diancam
hukuman karena melakukan tindak pidana menghilangkan barang bukti berdasarkan pasal
233 KUHP. Bunyi pasal 233 KUHP adalah Barang siapa dengan sengaja menghancurkan,
merusak, membikin tak dapat dipakai, menghilangkan barang-barang yang digunakan untuk
meyakinkan atau membuktikan sesuatu di muka penguasa yang berwenang, akta-akta, surat-
surat atau daftar daftar yang atas perintah penguasa umum, terus-menerus atau untuk
16

sementara waktu disimpan, atau diserahkan kepada seorang pejabat, ataupun kepada orang
lain untuk kepentingan umum, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun.
Di Indonesia, embalming sebaiknya dilakukan oleh orang yang mempunyai keahlian dan
kewenangan yaitu dokter spesialis forensik. Adapun alasannya adalah sebagai berikut:
1. Indonesia tidak menganut sistim koroner atau medical examiner yang bertugas memilah
kasus kematian wajar dan tidak wajar.
2. Embalmer di Indonesia, yang secara sengaja maupun tidak sengaja melakukan
embalming pada kasus kematian tidak wajar sebelum dilakukan otopsi, dapat
menyebabkan terjadinya kesulitan penyidikan karena adanya bukti-bukti tindak pidana
yang hilang atau berubah dan karenanya dapat dikenakan sanksi pidana penghilangan
benda bukti berdasarkan pasal 233 KUHP. Jika pada kasus ini dilakukan juga gugatan
perdata, maka pihak rumah duka pun dapat saja ikut dilibatkan sebagai pihak tergugat.
Kewenangan dan keahlian untuk melakukan embalming ada pada dokter spesialis
forensik, berdasarkan pendidikannya. Dalam hal telah dilakukan embalming tanpa sertifikat
dan hasilnya jelek dan merugikan keluarga, maka pihak rumah duka sebagai pihak yang
memfasilitasi embalming tersebut dapat turut digugat secara perdata berdasarkan pasal
1365 KUHPer.
Pasal 1365 KUHPer berbunyi:
Tiap perbuatan yang melanggar hukum dan membawa kerugian kepada orang lain,
mewajibkan orang yang menimbulkan kerugian itu karena kesalahannya untuk
menggantikan kerugian tersebut.


17

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Proses mumifikasi merupakan salah satu proses pengawetan mayat yang bisa terjadi
secara alami maupun buatan. Mumifikasi alami dapat terjadi akibat pengaruh lingkungan, dapat
terjadi pada lingkungan kering dengan kelembaban rendah namun juga dapat terjadi pada
lingkungan dengan suhu dingin. Sedangkan mumifikasi buatan dilakukan dengan interfensi
manusia dengan menggunakan bahan-bahan kimia untuk menghambat proses pembusukan.
Mumifikasi alami dapat terjadi akibat kondisi yang spesifik, seperti udara yang panas
dan kering di padang pasir atau pada udara yang dingin dan kering pada goa-goa di pegunungan.
Kondisi seperti itu dapat mengawetkan jaringan tubuh, dapat terjadi di beberapa tempat di dunia
seperti Amerika Selatan, Meksiko, Eropa, dan Mesir. Mumifikasi juga bisa terjadi pada tempat
dengan suhu sedang, terutama pada tempat dimana tubuh mayat tidak terganggu dengan
lingkungan di sekitarnya, seperti pada rumah yang tertutup, lemari, loteng rumah.
Proses mumifikasi buatan yang paling terkenal adalah yang dilakukan bangsa Mesir
Kuno, terbagi dalam tiga metode yang disesuaikan dengan status sosial dari mayat yang akan
dimumifikasi. Secara umum, proses mumifikasi dimulai dengan membersihkan tubuh mayat
dengan air Sungai Nil, pengeluaran organ-organ internal, kemudian ditutup dan diberi garam
natron lalu terakhir dimasukkan ke dalam peti dengan gambar kepala yang dibuat semirip
mungkin dengan wajah dari mumi tersebut.
Proses embalming menurut aspek hukum di Indonesia boleh dilakukan dengan
beberapa ketentuan, dan diatur dalam pasal 233 KUHP dan 1365 KUHPer.
18

DAFTAR PUSTAKA

1. Kristanto E, Hertian S, Atmadja DS. Mumifikasi. 2006 (Diakses pada tanggal 13 Juni
2014). Tersedia dari URL: http://forensicroom.blogspot.com/2006/06/mumifikasi.html

2. Campobasso CP, Falamingo R, Grattagliano I, Vinci F. The mummified corpse in
domestic setting. Am J Forensic Med Pathol. 2009: 30(3): 307 10.

3. Lynnerup N. Medical imaging of mummies and bog bodies. Gerontology. 2010: 56: 441
8.

4. Dewi. Tanatologi. 2010 (Diakses pada tanggal 13 Juni 2014).

5. Dorland, WAN. Kamus kedokteran dorland edisi 29. Jakarta: EGC. 2006.

6. Maksoud GA, El-Amin AR. A review on the materials used during the mummification
processes in ancient Egypt. Mediterranean Archaeology and Archaeometry. 2011: 11(2):
129 50.

7. Ilmu Kedokteran Forensik. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, 1997.

8. Mummification and the afterlife in ancient Egypt. 2005 (Diakses pada tanggal 13 Juni
2014)