Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dewasa ini, semakin banyak kasus pelecehan seksual dan perkosaan yang menimpa anakanak
dan remaja. Kasus pelecehan seksual dan perkosaan dimulai dari anak -anak yang masih di
bawah umur, pelecehan seks di sekolah, bahkan kepala sekolah yang seharusnya memberi contoh
pada murid-muridnya melakukan pelecehan seksual kepada siswi-siswinya, walikota yang
menghamili ABG, hingga personel tentara perdamaian pun melakukan pelecehan seksual.
Berdasarkan data Komisi Nasional Perlindungan Anak, pada tahun 2009 kasus kekerasan pada
anak sudah mencapai 1998 kasus, sekitar 65 persen diantaranya, merupakan kasus kekerasan
seksual. Padahal sebelumnya, pada tahun 2008 kasus kekerasan seksual pada anak sudah
meningkat 30 persen menjadi 1.555 kasus dari 1.194 kasus pada tahun 2007. Dengan kata lain
setiap harinya terdapat 4,2 kasus.
Faul kner, 2003, dan Zahra, 2007 mengemukakan sejumlah data bahwa 31%
narapidana perempuan di Amerika merupakan korban-korban kekerasan seksual di masa kecil
mereka, 95% pekerja seks remaja merupakan korban kekerasan seksual anak, 40%
penyerang seksual dan 76% pemerkosa berantai mengalami kekerasan seksual di masa
anak-anaknya. Kekerasan seksual pada dasarnya adalah setiap bentuk perilaku yang memiliki
muatan seksual yang dilakukan seseorang atau sejumlah orang namun tidak disukai dan tidak
diharapkan oleh orang yang menjadi sasaran sehingga menimbulkan akibat negatif, seperti: rasa
malu, tersinggung, terhina, marah, kehilangan harga diri, kehilangan kesucian, dan sebagainya,
pada diri orang yang menjadi korban (Supardi & Sadarjoen, 2006). Kekerasan seksual cenderung
menimbulkan dampak traumatis baik pada anak maupun pada orang dewasa (Faulkner, 2003
dalam Zahra, 2007). Kekerasan seksual yang menimpa para korban, terutama anak-anak dan
wanita, terkadang menjadi stressor yang tidak dapat diatasi dan menimbulkan masalah di
kemudian hari.
Kekerasan seksual (sexual violence) terhadap anak merupakan semua bentuk perlakuan
yang merendahkan martabat anak dan menimbulkan trauma yang berkepanjangan. Bentuk
perlakuan tersebut adalah digerayangi, diperkosa, dicabuli dan digauli. Adapun kekerasan yang
ditonjolkan merupakan pembuktian bahwa pelaku memiliki kekuatan fisik lebih. Kekuatan lain
yang dimiliki selain kekuatan fisik dijadikan alat untuk mempelancar usaha-usaha jahatnya.
Pelaku dapat dengan mudah memperdaya anak sehingga mau menuruti segala perintah orang
yang menyuruhnya. Apalagi jika perintah tersebut diiming-imingi, dijanjikan dengan sesuatu
atau dibujuk oleh pelaku. Kekerasan seksual terhadap anak juga dikenal dengan istilah child
sexual abuse. Dalam banyak kejadian, kasus kekerasan seksual terhadap anak sering tidak
dilaporkan kepada polisi. Kasus tersebut cenderung dirahasiakan, bahkan jarang dibicarakan baik
oleh pelaku maupun korban. Para korban merasa malu karena menganggap hal itu sebagai
sebuah aib yang harus disembunyikan rapat-rapat atau korban merasa takut akan ancaman
pelaku. Sedangkan si pelaku merasa malu dan takut akan di hukum apabila perbuatannya
diketahui.
Keengganan pihak keluarga korban melaporkan kasus child sexual abuse yang dialami,
bisa jadi merupakan salah satu sebab kasus tersebut menjadi seperti fenomena gunung es. Karena
yang tampak hanya sebagian kecilnya saja, sedangkan bagian besarnya tidak tampak. Apalagi
jika kasus tersebut menyangkut pelaku orang terkenal, tokoh masyarakat, dikenal dengan dekat
oleh korban atau ada hubungan keluarga antara korban dan pelaku. Kekerasan seksual terhadap
anak merujuk pada perilaku seksual yang tidak wajar dalam berhubungan seksual, merugikan
pihak korban yang masih anak-anak dan merusak kedamaian ditengah masyarakat. Adanya
kekerasan seksual yang terjadi, maka penderitaan korbannya telah menjadi akibat serius yang
membutuhkan perhatian.
Child Abuse antara lain dirumuskan sebagai suatu bentuk tindakan yang bersifat tidak
wajar pada anak dan biasanya dilakukan oleh orang dewasa. Para pakar umumnya memberikan
definisi ini menjadi suatu bentuk perlakuan salah terhadap anak baik secara fisik (physically
abused) seperti penganiayaan, pemukulan, melukai anak, maupun kejiwaan (mentally abused)
seperti melampiaskan kemarahan terhadap anak dengan mengeluarkan kata-kata kotor dan tidak
senonoh. Bentuk lain dari tindakan tidak wajar terhadap anak dapat juga berbentuk perlakuan
salah secara seksual (sexual abused). Contoh tindakan ini antara lain kontak seksual langsung
yang dilakukan antara orang dewasa dan anak berdasarkan paksaan (perkosaan) maupun tanpa
paksaan (incest). Tindakan perlakuan salah secara seksual lainnya adalah eksploitasi seksual
seperti prostitusi anak dan pelecehan seksual terhadap anak.Kekerasan dan abuse seksual pada
masa kanak sering tidak teridentifikasi karena berbagai alasan (terlewat dari perhatian, anak
tidak dapat memahami apa yang terjadi pada dirinya, anak diancam pelaku untuk tidak
melaporkan kejadian yang dialaminya, atau laporan anak tidak ditanggapi secara serius karena
berbagai alasan misalnya anak tidak dipercaya, ataupun reaksi denial, pengingkaran dari orang-
orang dewasa yang dilapori anak tentang kejadian sesungguhnya).
Hasil penelitian di Amerika Serikat yang dilakukan oleh Study of National Incidence and
Prevalence of Child Abuse and Neglect tahun 1986 menunjukkan bahwa 300.000 (tiga ratus
ribu) anak mengalami kekerasan fisik, 140.000 (seratus empat puluh ribu) anak mengalami
kekerasan seksual dan 700.000 (tujuh ratus ribu) anak lainnya ditelantarkan. Dari jumlah tersebut
tidak kurang dari 10.000 (sepuluh ribu) anak meninggal akibat kekerasan tersebut dan menjadi
penyebab kematian nomor enam pada anak-anak usia dibawah empat belas tahun. Sedangkan
World Health Organization (WHO) memperkirakan hampir 40 juta anak di dunia usia dibawah
14 tahun menderita akibat perlakuan salah atau ditelantarkan dan menuntut perhatian untuk
masalah kesehatan dan sosialnya. Jumlah tersebut termasuk sexual abuse.
Kekerasan seksual tersebut dapat terjadi dalam lingkungan keluarga maupun diluar
keluarga (masyarakat). Perbuatan tersebut dapat dilakukan oleh mereka yang mempunyai
hubungan sebagai anggota keluarga, kerabat, tetangga bahkan orang yang tidak dikenal oleh si
anak. Amerika Serikat yang merupakan Negara maju dengan segala perangkat hukumnya ,
ternyata masalah pelecehan dan kekerasan seksual terhadap anak-anak (sexual child abuse)
masih merupakan masalah besar, dan secara umum dikenal sebagai tragedi rumah tangga yang
tersembunyi.
1.2 Tujuan
1. Untuk dapat menganalisa kasus pasien pada skenario LBM 3.
2. Untuk dapat memahami dan mengetahui penyebab terjadinya kekerasan terhadap
perempuan dan anak.
3. Untuk dapat mengetahui cara pembuktian adanya persetubuhan dan kekerasan, Jenis,
deskripsi dan derajat luka.
4. Untuk dapat mengetahui cara pemeriksaan laboratorium korban dan pelaku kejahatan
seksual.
5. Untuk dapat mengatahui bagaimana penanganan terhadap kekerasan terhadap anak
dan perempuan

1.3 Manfaat
1. Mahasiswa dapat menganalisa kasus pasien pada skenario LBM 3.
2. Mahasiswa dapat memahami dan mengetahui penyebab kekerasan terhadap
perempuan dan anak
3. Mahasiswa dapat mengetahui cara pembuktian adanya persetubuhan dan
kekerasan, Jenis, deskripsi dan derajat luka.
4. Mahasiswa dapat mengetahui cara pemeriksaan laboratorium korban dan pelaku
kejahatan seksual.
5. Mahasiswa dapat mengatahui bagaimana penanganan terhadap kekerasan terhadap
anak dan perempuan

1.4 Rumusan Masalah
1. Penyebab kekerasan terhadap perempuan dan anak
2. Cara penentuan sudah atau belum waktunya untuk dikawin
3. Bagaimana cara pembuktian adanya persetubuhan dan kekerasan ?
4. Pemeriksaan laboratorium korban dan pelaku kejahatan seksual ?
5. Bagaimana cara menentukan jenis, deskripsi dan derajat luka ?
6. Bagaimana prosedur pemeriksaan VER pada skenario ?
7. Apa efek atau dampak dari kekerasan terhadap anak dan perempuan ?
8. Apakah tujuan dan tatalaksana audit ?
9. Bagaimana kekerasan terhadap perempuan dan anak ditinjau dari aspek
medikolegal?
10. Bagaimana penatalaksanaan kekerasan pada anak dan perempuan ?




BAB II
PEMBAHASAN
A. Skenario LBM 3
Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak
Seorang anak perempuan berusia 6 tahun dibawa ke rumah sakit oleh ibunya dengan keluhan
kejang-kejang. Pada pemeriksaan fisik ditemukan luka-luka memar dengan warna yang
berbedabeda terutama pada punggung dan perut anak. Ditemukan juga luka-luka memar kecil-
kecil berbentuk bulan sabit pada leher. Pada pemeriksaan kelamin dicurigai telah terjadi
pelecehan seksual, ditemukan lendir agak kental dan luka lecet pada fourcehet posterior ukuran
satu sentimeter kali satu sentimeter. Dan ditemukan bercak pada hymen arah jam 6 sesuai
dengan arah jarum jam.
Ibu korban langsung melapor ke polisi dan meminta agar anaknya dilakukan visum
(SPV). Pada heteroanamesis, orang tua korban menyatakan melihat anaknya dipangku dalam
keaadan telanjang oleh ayah tirinya sekitar empat jam sebelum ke rumah sakit. Setelah dirawat
selama 3 hari kondisi sang anak semakin memburuk dan akhirnya meninggal dunia. Untuk
mengevaluasi layanan yang telah diberikan pihak RS melakukan audit.
B. Keyword
anak perempuan berusia 6 tahun
keluhan utama kejang-kejang
Ditemukan luka-luka memar dengan warna yang berbedabeda terutama pada punggung
dan perut anak
Juga terdapat luka-luka memar kecil-kecil berbentuk bulan sabit pada leher
Pada pemeriksaan kelamin ditemukan lendir agak kental dan luka lecet pada fourcehet
posterior 1x1 cm, bercak hymen arah jam 6
Ibunya meminta pada polisi untuk dilakukan visum
Setelah dirawat 3 hari kondisinya semakin buruk dan meninggal dunia

C. Terminologi
Kekerasan terhadap perempuan dan anak
Fourcehet adalah lapisan jaringan transversal yang pipih dan tipis, terletak pada
pertemuan ujung bawah labia mayor dan minora digaris tengah di bawah orificium
vagina
Hymen
Audit


D. Permasalahan
1. Penyebab pelecehan seksual
Pergeseran nilai-nilai sosial dimasyarakat
Sex education yang kurang sejak dini baik dari orang tua maupun guru. Seharusnya
orang tua mengajarkan sejak dini apa itu seksualitas dan bagaimana menjaga diri
terhadap bahaya.
Pelaku pelecehan seksual pada anak sejak awal menderita sakit mental
Kegemaran melakukan seks pada anak (pedofili).
Pelaku pelecehan mempunyai prilaku antisosial akhirnya ia mencari kesempatan
untuk menyentuh anak kecil.
2. Cara penentuan sudah atau belum waktunya untuk dikawin
a. Secara biologis
Seorang perempuan dikatakan dapat kawin bila ia telah siap untuk dapat memberikan
keturunan, dimana hal ini dapat diketahui dari menstruasi, apakah ia belum pernah
mendapat menstruasi atau sudah pernah menstruasi.
b. Berdasarkan undang-undang perkawinan
Batas usia termuda bagi seorang perempuan yang diperkenankan melakukan
perkawinan yakni 16 tahun.

3. Cara pembuktian adanya persetubuhan dan kekerasan
a. Pembuktian adanya persetubuhan
Persetubuhan adalah suatu peristiwa dimana terjadi penetrasi penis ke dalam vagina,
penetrasi tersebut dapat lengkap atau tidak lengkap dan dengan atau tanpa disertai
ejakulasi. Dengan demikian hasil dari upaya pembuktian adanya persetubuhan
dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya yakni besarnya penis dan derajat
penetrasinya, bentuk dan elastisitas selaput dara (himen), ada tidaknya ejakulasi dan
keadaan ejakulat itu sendiri, posisi persetubuhan, dan keaslian barang bukti serta
waktu pemeriksaan.
Dengan demikian tidak terdapatnya robekan pada hymen, tidak dapat dipastikan
bahwa wanita tidak terjadi penetrasi; sebaliknya adanya robekan pada himen
merupakan pertanda adanya suatu benda (penis atau benda lain), yang masuk kedalam
vagina. Apabila pada persetubuhan tersebut disertai dengan ejakulasi dan ejakulat
tersebut mengandung sperma, maka adanya sperma didalam liang vagina merupakan
tandapasti adanya persetubuhan. Apabila ejakulat tidak mengandung sperma maka
pembuktian adanya persetubuhan dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan
terhadap ejakulat tersebut. Komponen yang terdapat di dalam ejakulat dan dapat
diperiksa yakni enzim asam fosfatase, kolin dan spermin. Dengan demikian apabila
pada kejahatan seksual yang disertai dengan persetubuhan itu tidak sampai berakhir
dengan ejakulasi, dengan sendirinya pembuktian adanya persetubuhan secara
kedokteran forensik tidak mungkin dapat dilakukan secara pasti.
Sperma di dalam liang vagina masih dapat bergerak dalam waktu 4-5 jam paska
koitus; sperma masih dapat ditemukan tidak bergerak sampai sekitar 24-36 jam paska
koitus dan bila wanitanya mati masih akan dapat ditemukan sampai 7-8 hari.
Perkiraan saat terjadinya persetubuhan juga dapat ditentukan dari proses
penyembuhan dan selaput dara yang robek.

b. Pembuktian adanya kekerasan
Pembuktian adanya kekerasan pada tubuh wanita korban tidak sulit, dalam hal ini
perlu diketahui lokasi luka-luka yang sering ditemukan yaitu didaerah mulut dan
bibir, leher, puting susu, pergelangan tangan, pangkal paha serta disekitar dan pada
alat genital. Luka-luka akibat kekerasan pada kejahatan seksual biasanya berbentuk
luka-luka lecet bekas kuku, gigitan, serta luka-luka memar.
Perlu diketahui di dalam hal pembuktian adanya kekerasan bahwa tidak
selamanya kekerarasan itu meninggalkan jejak atau bekas yang berbentuk luka.
Dengan demikian tidak ditemukan luka tidak berarti bahwa pada wanita tidak terjadi
kekerasan. Misalnya pada tindakan pembiusan. Meskipun tidak didapatkan luka tetapi
hal ini termasuk tindakan kekerasan, maka dengan sendirinya diperlukan pemeriksaan
untuk menentukan ada tidaknya obat-obat atau racun yang kiranya dapat membuat
wanita menjadi pingsan. Oleh karena itu hendaknya pada kejahatan seksual dilakukan
pemeriksaan toksikologik.
Pada kasus skenario pada pemeriksaan fisik ditemukan luka-luka memar dengan
warna yang berbeda-beda terutama pada punggung dan perut anak. Ditemukan juga
luka-luka memar kecil-kecil berbentu bulan sabit pada leher. Hal ini membuktikan
bahwa pada korban telah terjadi tindakan kekerasan.

4. Pemeriksaan laboratorium korban dan pelaku kejahatan seksual
Pemeriksaan untuk kekerasan fisik :
Anamnesis
a. Anamnesa Umum
Nama dan alamat korban
Umur
Agama dan suku bangsa
Status marital
Kehamilan persalinan, abortus
Haid (menarche, lamanya tiap had, keteraturan siklus, hari pertama, haid
terakhir)
Rwayat persetubuhan
Riwayat penyakit atau pemakaian obat
b. Anamnesa Khusus
Kronolog kejadian
Waktu kejadian
Tempat kejadian
Bukti medis persetubuhan

Pemeriksaan Fisik
a. Pemeriksaan Umum
Penampakan dan emosi
Pakaian dan perhiasan
Parameter pertumbuhan
Tanda-tanda vital
Luka-luka
Kuku jari
Benda asing
Rambut pubis
Rambut kepala
Kulit

Pemeriksaan Khusus
Tanda-tanda persetubuhan
Tanda-tanda penetrasi: pemeriksaan selaput dara, bekas kekerasan pada vulva
dan vagina, epitel vagina pada penis pelaku.
Ejakulat (usap vagina)
Tanda-tanda kekerasan.

Pemeriksaan laboratorium korban kekerasan seksual.
a) Tujuan: menentukan adanya sperma.
Bahan pemeriksaan: cairan vagina.
Metode:
Tanpa pewarnaan, satu tetes cairan vaginal ditaruh pada gelas objek dan
kemudian ditutup; pemeriksaan dibawah mikroskop dengan pembesaran 500
kali. Hasil yang diharapkan: sperma yang masih bergerak.
Dengagn pewarnaan, menggunakan Malachite-green. Dibuat sediaan apus dari
cairan vagina pada gelas objek, keringkan di udara, fiksasi dengan api, warnai
dengan Malachite-green 1% dalam air, tunggu 10-15 menit, cuci dengan air,
warnai dengan Eosin-yellowish 1% dalam air, tunggu 1 menit, cuci dengan
air, keringkan dan periksa dibawah mikroskop. Hasil yang diharapkan: bagian
basis kepala sperma berwarna ungu, bagian hidung merah muda.

b) Tujuan: menentukan adanya sperma
Bahan pemeriksaan: pakaian.
Metode:
Pakaian yang mengandung bercak diambil sedikit pada bagian tengahnya
(konsentrasi sperma terutama di bagian tengah).
Warnai dengan pewarnaan BAEECHI selama 2 menit.
Cuci dengan HCL 1%.
Dehidrasi dengan alkohol.
Bersihkan dengan Xylol.
Keringkan dan letakkan pada kertas saring.
Dengan jarum, pakaan yang mengandung bercak diambil benangnya 1-2 helai
kemudian diurai sampai menjadi serabut-serabut pada gelas objek.
Teteskan canada balsem, ditutup dengan gelas penutup, lhat dibawah mikroskop
dengan pembesaran 500 kali. Hasil yang diharapkan: kepala sperma berwarna
merah, bagian ekor biru muda; kepala sperma tampak menempel pada serabut-
serabut benang.

Pembuatan pewarnaan BAEECHI:
Acid-fuchsin 1% (1 tetes atau 1 ml)
Methylene blue 1% (1 tetes atau 1 ml)
HCL 1% (40 tetes atau 40 ml

c) Tujuan: menentukan adanya air mani (asam fosfatase).
Bahan pemeriksaan: cairan vagina.
Metode:
Cairan vagina ditaruh pada kertas Whatman, diamkan sampai kering.
Semprot dengan reagensia.
Perhatikan warna ungu yang timbul dan catat dalam beberapa detik warna ungu
tersebut timbul. Hasil yang diharapkan: warna ungu timbul dalam waktu kurang
dari 30 detik, berarti asam fosfatase berasal dari prostat, yang berarti indikas
besar; warna ungu timbul kurang dari 65 detik, indkasi sedang.


d) Tujuan: menentukan adanya air mani ( kristal kolin)
Bahan pemeriksaan: cairan vagina.
Metode:
Florence.
Cairan vagina ditetes larutan iodium.
Kristal yang terbentuk dilihat dibawah mikroskop.
Hasil yang diharapkan: kristal-kristal kholin-periodida tampak berbentuk jarum-jarum
yang berwarna coklat.

e) Tujuan: menentukan adanya air mani (kristal spermin)
Bahan pemeriksaan: cairan vagina.
Metode:
Berberio.
Cairan vagina ditetesi larutan asam pikrat, kemudian lihat dibawah mikroskop.
Hasil yang dharapkan: kristal-kristal spermin pikrat akan berbentuk rombik atau
jarum kompas yang berwarna kuning kehijauan.
f) Tujuan: menentukan adanya air mani
Bahan pemeriksaan: pakaian
Metode:
Inhibisi asam fosfatase dengan L (+) asam tartrat
Pakaan yang diduga mengandung bercak air mani dipotong kecl dan diekstraksi
dengan beberapa tetes aquades.
Pada dua helai kertas saring diteteskan masing-masing 1 tetes ekstrak; kertas
saring pertama disemprot dengan reagen 1, yang kedua disemprot dengan
reagensia 2.
Bila pada kertas saring pertama timbul warna ungu dalam waktu satu menit
sedangkan pada yang kedua tidak terjadi warna ungu, maka dapat disimpulkan
bahwa bercak pada pakaan yang diperiksa adalah bercak air mani.
Bila dalam jangka waktu tersebut warna ungu timbul pada keduanya maka bercak
pada pakaan bukan bercak air mani, asam fosfatase yang terdapat berasal dari
sumber lain.
Reaksi dengan asam fosfatase
Kertas saring yang sudah dibasahi dengan akuaes diletakkan pada pakaian atau
bahan yang akan diperiksa selama 5-10 menit, kemudian kertas saring diangkat
dan dikeringkan.
Semprot dengan regensia, jika timbul warna ngu berarti pakaian atau bahan
tersebut mengandung air mani.
Bila kertas saring tersebut diletakkan pada pakaian atau bahan seperti semula,
maka dapat diketahui letak dari air man pada bahan yang diperiksa.

Sinar ultra violet; visual; taktil dan penciuman
Pemeriksaan dengan sinar UV: bahan yang akan diperiksa ditaruh dalam ruang
yang gelap, kemudian disinari dengan sinar UV bila terdapat air mani terjadi
fluoresensi.

g) Tujuan: menentukan adanya kuman N. Gonorrheae (GO)
Bahan pemeriksaan: sekret uretra dan sekret serviks uteri.
Metode: pewarnaan gram.
Hasil yang diharapkan: kuman N. Gonorrhoeae.

h) Tujuan: menentukan adanya kehamilan
Bahan pemeriksaan: urine
Metode:
Hemagglutinaton inhibition test (Pregnosticon)
Agglutination inhibition test (Gravindex)
Hasil yang diharapkan: terjadi aglutinasi pada kehamilan.

i) Tujuan: menentukan adanya racun (toksikologi)
Bahan pemeriksaan: darah dan urine

5. Jenis, deskripsi dan derajat luka?
a. Jenis jenis luka
Menurut tipenya luka dibedakan menjadi 4 tipe luka yaitu :
Clean wound/luka bersih
Clean wound atau luka bersih adalah luka yang dibuat oleh karena tindakan
operasi dengan tehnik steril , pada daerah body wall dan non contaminated
deep tissue ( tiroid, kelenjar, pembuluh darah, otak, tulang).
Clean contaminated wound
Merupakan luka yang terjadi karena benda tajam, bersih dan rapi, lingkungan
tidak steril atau operasi yang mengenai daerah small bowel dan bronchial.
Contaminated wound
Luka ini tidak rapi, terkontaminasi oleh lingkungan kotor, operasi pada
saluran terinfeksi (large bowel/rektum, infeksi broncial, infeksi perkemihan).
Infected wound
Jenis luka ini diikuti oleh adanya infeksi, kerusakan jaringan, serta kurangnya
vaskularisasi pada jaringan luka.
Jenis luka menurut penyebab yaitu :
Vulnus excoriasi (Luka lecet)
Penyebab luka karena kecelakaan atau jatuh yang menyebabkan lecet pada
permukaan kulit merupakan luka terbuka tetapi yang terkena hanya daerah
kulit.
Vulnus punctum (Luka tusuk)
Penyebab adalah benda runcing tajam atau sesuatu yang masuk ke dalam
kulit, merupakan luka terbuka dari luar tampak kecil tapi didalam mungkin
rusak berat, jika yang mengenai abdomen/thorax disebut vulnus
penetrosum(luka tembus).
Vulnus contussum (luka kontusio)
Penyebabnya yakni benturan benda yang keras. Luka ini merupakan luka
tertutup, akibat dari kerusakan pada soft tissue dan ruptur pada pembuluh
darah menyebabkan nyeri dan berdarah (hematoma) bila kecil maka akan
diserap oleh jaringan di sekitarya jika organ dalam terbentur dapat
menyebabkan akibat yang serius.
Vulnus insivum (Luka sayat)
Penyebab dari luka jenis ini adalah sayatan benda tajam atau jarum
merupakan luka terbuka akibat dari terapi untuk dilakukan tindakan invasif,
tepi luka tajam dan licin.

Vulnus schlopetorum
Penyebabnya adalah tembakan, granat. Pada pinggiran luka tampak kehitam-
hitaman, bisa tidak teratur kadang ditemukan corpus alienum.
Vulnus morsum (luka gigitan)
Penyebab adalah gigitan binatang atau manusia, kemungkinan infeksi besar
bentuk luka tergantung dari bentuk gigi.
Vulnus perforatum
Luka jenis ini merupakan luka tembus atau luka jebol. Penyebab oleh karena
panah, tombak atau proses infeksi yang meluas hingga melewati selaput
serosa/epithel organ jaringan.
Vulnus amputatum
Luka potong, pancung dengan penyebab benda tajam ukuran besar/berat,
gergaji. Luka membentuk lingkaran sesuai dengan organ yang dipotong.
Perdarahan hebat, resiko infeksi tinggi, terdapat gejala pathom limb.
Vulnus combustion (luka bakar)
Penyebab oleh karena thermis, radiasi, elektrik ataupun kimia Jaringan kulit
rusak dengan berbagai derajat mulai dari lepuh (bula carbonisasi/hangus).
Sensasi nyeri dan atau anesthesia.

b. Deskripsi luka meliputi
Jumlah luka
Lokasi luka, meliputi:
Lokasi berdasarkan regio anatomiknya.
Lokasi berdasarkan garis koordinat atau berdasarkan bagian-bagian
tertentu dari tubuh. Menentukan lokasi berdasarkan garis koordinat
dilakukan untuk luka pada regio yang luas seperti di dada, perut,
penggung. Koordinat tubuh dibagi dengan menggunakan garis khayal
yang membagi tubuh menjadi dua yaitu kanan dan kiri, garis khayal
mendatar yang melewati puting susu, garis khayal mendatar yang
melewati pusat, dan garis khayal mendatar yang melewati ujung tumit.
Pada kasus luka tembak harus selalu diukur jarak luka dari garis
khayal mendatar yang melewati kedua ujung tumit untuk kepentingan
rekonstruksi. Untuk luka di bagian punggung dapat dideskripsikan
lokasinya berdasarkan garis khayal yang menghubungkan ujung
bawah tulang belikat kanan dan kiri.
Bentuk luka, meliputi :
Bentuk sebelum dirapatkan
Bentuk setelah dirapatkan
Ukuran luka
Ukuran luka meliputi sebelum dan sesudah dirapatkan ditulis dalam bentuk
panjang x lebar x tinggi dalam satuan sentimeter atau milimeter.

c. Derajat luka
Berdasarkan berat ringannya akibat yang ditimbulkan, luka dapat dibedakan menjadi
tiga yaitu :
luka derajat pertama, yakni luka yang tidak berakibat penyakit atau halangan
untuk menjalankan pekerjan.
luka derajat kedua, yakni luka yang menimbulkan penyakit atau halangan
untuk melakukan pekerjaan tetapi hanya untuk sementara waktu.
luka derajat ketiga adalah apabila penganiayaan atau kekerasan
mengakibatkan luka berat.

BAB III
KESIMPULAN






































DAFTAR PUSTAKA

1. Amir, Prof. Dr. Amri. 2005. Rangkaian Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi Kedua. Percetakan
Ramadhan: Medan.
2. Budiyanto A, Widiatmaka W, sudiono S, dkk. 1997. Ilmu Kedokteran Forensik. Bagian
Kedokteran Forensik Universitas Indonesia: Jakarta.
3. Hanafiah, M.J.& Amir, A., 1999. Etika Kedokteran & Hukum Kesehatan, Edisi 3, Penerbit
Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
4. Idries, Dr. Abdul Munim. 1997. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi Pertama.
Binapura Aksara: Jakarta Barat.