Anda di halaman 1dari 3

Nama : Salman Alfarisi

Nim : 1011101020043
Jurusan : Ilmu Kelautan
MARINE SONAR
A. Latar Belakang
Sonar (Singkatan dari bahasa Inggris: sound navigation and ranging), yang berarti
penjarakan dan navigasi suara, adalah sebuah teknik yang menggunakan penjalaran
suara dalam air untuk navigasi atau mendeteksi kendaraan air lainnya. Sonar di
definisikan sebagai suatu metode yang memanfaatkan perambatan suara didalam air
untuk mengetahui keberadaan obyek yang berada dibawah permukaan kawasan
perairan. Sehingga sonar merupakan salah satu alat Hydro-acoustic yang merupakan
suatu teknologi pendeteksian bawah air dengan menggunakan perangkat akustik
(acoustic instrument).
Hydro-acoustic merupakan suatu teknologi pendeteksian bawah air dengan
menggunakan perangkat akustik (acoustic instrument), beberapa antara lain:
ECHOSOUNDER, FISHFINDER, dan SONAR. Teknologi ini menggunakan suara atau
bunyi untuk melakukan pendeteksian. Sebagaimana diketahui bahwa kecepatan suara di
air adalah 1.500 m/detik, sedangkan kecepatan suara di udara hanya 340 m/detik,
sehingga teknologi ini sangat efektif untuk deteksi di bawah air. Beberapa langkah dasar
pendeteksian bawah air adalah adanya transmitter yang menghasilkan listrik dengan
frekwensi tertentu. Kemudian disalurkan ke transducer yang akan mengubah energi
listrik menjadi suara, kemudian suara tersebut dalam berbentuk pulsa suara dipancarkan
(biasanya dengan satuan ping).
Suara yang dipancarkan tersebut akan mengenai obyek (target), kemudian suara
itu akan dipantulkan kembali oleh obyek (dalam bentuk echo) dan diterima kembali
oleh alat transducer. Echo tersebut diubah kembali menjadi energi listrik; lalu
diteruskan ke receiver dan oleh mekanisme yang cukup rumit hingga terjadi
pemprosesan dengan menggunakan echo signal processor dan echo integrator.
Pemrosesan didukung oleh peralatan lainnya; komputer; GPS (Global
Positioning System), Colour Printer, software program dan kompas. Hasil akhir berupa
data siap diinterpretasikan untuk bermacam-macam kegunaan yang diinginkan. Bila
dibandingkan dengan metode lainnya dalam hal estimasi atau pendugaan, teknologi
hydro- acoustic memiliki kelebihan, antara lain. Informasi pada areal yang dideteksi
dapat diperoleh secara cepat (real time). Dan secara langsung di wilayah deteksi (in
situ).


Saat ini hydro-acoustic memiliki peran yang sangat besar dalam sektor kelautan
dan perikanan, salah satunya adalah dalam pendugaan sumberdaya ikan (fish stock
assessment). Teknologi hydro-acoustic dengan perangkat echosounder dapat
memberikan informasi yang detail mengenai kelimpahan ikan, kepadatan ikan sebaran
ikan, posisi kedalaman renang, ukuran dan panjang ikan, orientasi dan kecepatan renang
ikan serta variasi migrasi diurnal-noktural ikan. Saat ini instrumen akustik berkembang
semakin signifikan, dengan dikembangkannya varian yang lebih maju, yaitu Multibeam
dan Omnidirectional. Perangkat Echosounder memiliki berbagai macam tipe, yaitu
single beam, dual beam.
Metode hydro-acoustic merupakan suatu usaha untuk memperoleh informasi
tentang obyek di bawah air dengan cara pemancaran gelombang suara dan mempelajari
echo yang dipantulkan. Dalam pendeteksian ikan digunakan sistem hidroakustik yang
memancarkan sinyal akustik secara vertikal, biasa disebut echo sounder atau fish finder
(Burczynski, 1986). Penggunaan metode hydro-acoustic mempunyai beberapa
kelebihan, diantaranya :
1. Berkecepatan tinggi,
2. Estimasi stok ikan secara langsung dan wilayah yang luas dan dapat memonitor
pergerakan ikan,
3. Akurasi tinggi tidak berbahaya dan merusak sumberdaya ikan dan lingkungan,
karena frekwensi suara yang digunakan tidak membahayakan bagi si pemakai alat
maupun obyek yang disurvei.

1. Jenis Sonar
1. Sonar aktif yaitu mentransmisikan gelombang suara, dan menerima pantulannya
(echo) kembali.
2. Sonar pasif yaitu hanya menerima sinyal gelombang suara (noise) yang
ditransmisikan oleh suatu objek.

3. Mamfaat Sonar

1. Dapat mengetahui daerah diduga mempunyai kelimpahan/kepadatan ikan yang
tinggi.
2. Memberikan Informasi kepada Nelayan setempat sekaligus mengevaluasi kinerja
unit penangkapan yang digunakan sehingga dapat dihasilkan hasil tangkapan
yang optimum.
3. Memberikan informasi kepada pelayaran agar terhindar dari bahaya-bahaya
kapal kandas dikarenakan dangkalnya suatu perairan.
4. Dapat mempermudah unit penelitian laut beserta sumberdaya laut tersebut.




B. Pembahasan
a. Echosounder
Echosounder merupakan salah satu alat yang penting untuk mengetahui
kedalaman laut dan dapat juga sebagai pengukur jarak dengan ultr sonic.
Kedalaman dasar laut dapat dihitung dari perbedaan waktu antara pengiriman
dan penerimaan pulsa suara. Echosounder memiliki beberapa pertimbangan
sistem, diantaranya Side-Scan Sonar, Sub-Bottom Profling, Single-Beam
Echosounder, dan Multi-Beam Echosunder.

b. Fish Finder
Fish Finder bekerja berdasarkan pemantulan gelombang suara yang
dipancarkan dari permukaan perairan sampai dasar lautan. Ketika bunyi yang
dipancarkan kedasar lautan tersebut membentur suatu benda dan kembali ke
penerima sonar, maka jaraknya yang ditempuh oleh bunyi tersebut dapat diukur,
maka dapat diketahui letak benda tersebut dibawah permukaan laut.

c. Sonar
Sonar (Sound Navigation and Ranging) merupakan suatu peralatan atau
piranti yang digunakan dalam komunikasi di bawah laut, sonar sendiri bekerja
untuk mencari atau mendeteksi suatu benda yang ada di bawah laut dengan cara
mengirim gelombang suara yang nantinya gelombang suara tersebut dipantulkan
kembali oleh benda yang akan dideteksi. Sonar biasa dimanfaatkan dalam
mengukur kedalaman laut (Bathymetry), pengidentifikasian jenis-jenis lapisan
sedimen dasar laut (Subbottom Profilers), pemetaan dasar laut (Sea Bed
Mapping), mendeteksi kapal selam dan ranjau, analisa dampak lingkungan
didasar laut, menangkap ikan serta berbagai kegiatan komunikasi di bawah laut.
Sebuah sonar terdiri dari sebuah pemancar, transducer, penerima/receiver, dan
layar monitor. Sonar sendiri pada awalnya diinspirasi dari lonceng bawah air
yang digunakan untuk mengukur kecepatan suara dalam air, kemudian
berkembang dan dimanfaatkan dalam mendeteksi gunung es yang ada dalam laut
ketika kapal laut melintas. Seiring dengan perkembangan waktu, sonar
dimanfaatkan dalam perang dunia I untuk mendeteksi kapal selam. Semenjak itu
sonar benar-benar dikembangkan dan dimanfaatkan dalam dunia militer dan
perang.