Anda di halaman 1dari 25

Laporan Kimia Dasar I Pembuatan Larutan

11:22 Laporan Kimia Dasar I 2 comments



BAB 1
PENDAHULUAN
<!--[if !supportLists]-->1.1. <!--[endif]-->Latar Belakang
Ketika mempelajari kimia dikenal adanya larutan. Larutan pada dasarnya adalah fase yang
homogen yang mengandung lebih dari satu komponen. Komponen yang terdapat dalam jumlah
besar disebut pelarut atau solvent. Sedangkan komponen dalam jumlah sedikit disebut zat
terlarut atau solute. Konsentrasi dalam suatu larutan didefinisikan sebagai jumlah solute yang
ada dalam sejumlah larutan atau pelarut. Konsentrasi dapat dinyatakan dalam beberapa cara.
Antara lain molaritas, molalitas, normalitas dan sebagainya.
Dalam ilmu kimia, pengertian larutan ini sangat penting. Karena hampir semua reaksi kimia
terjadi dalam bentuk larutan. Larutan didefinisikan sebagai campuran homogen antara dua atau
lebih zat yang terdispersi dengan baik sebagai molekul, atom maupun ion yang komposisinya
dapat berpariasi. Contohnya dalam pembuatan larutan H
2
SO
4
dengan konsentrasi yang lebih
rendah. Maka larutan H
2
SO
4
pekat dilarutkan dengan H
2
O sehingga larutan H
2
SO
4
menjadi lebih
encer.
Dalam praktikum ini diharapkan kita dapat mengetahui bagaimana kita membuat larutan
dengan konsentrasi sesuai yang diperluakan.
<!--[if !supportLists]-->1.2. <!--[endif]-->Tujuan Percobaan
<!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Mengetahui cara pembuatan larutan dengan konsentrasi tertentu;
<!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Mengetahui cara pembuatan larutan dari zat cair;
<!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Mengetahui cara pembuatan larutan dari zat padat.


BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
<!--[if !supportLists]-->2.1. <!--[endif]-->Larutan
Larutan didefinisikan sebagai campuran homogen antara dua atau lebih zat yang terdispersi
baik sebagai molekul, atom maupun ion yang komposisinya dapat berpariasi. Larutan dapat
berupa gas, cairan, atau padatan. Larutan encer adalah larutan yang mengandung sebagian kecil
solute, relative terhadap jumlah pelarut. Sedangkan larutan pekat adalah larutan yang
mengandung sebagian besar solute. Solute adalah zat terlarut. Sedangkan solvent (pelarut) adalah
medium dalam mana solute terlarut (Baroroh, 2004).
Pada umumnya zat yang digunakan sebagai pelarut adalah air (H2O), selain air yang
berfungsi sebagai pelarut adalah alcohol, amoniak, kloroform, benzena, minyak, asam asetat,
akan tetapi kalau menggunakan air biasanya tidak disebutkan (Gunawan, 2004).
Larutan gas dibuat dengan mencampurkan suatu gas dengan gas lainnya. Karena semua gas
bercampur dalam semua perbandingan, maka setiap campuran gas adalah homogen ia merupakan
larutan.
Larutan cairan dibuat dengan melarutkan gas, cairan atau padatan dalam suatu cairan. Jika
sebagian cairan adlah air, maka larutan disebut larutan berair.
Larutan padatan adalah padatan-padatan dalam mana satu komponen terdistribusi tak
beraturan pada atom atau molekul dari komponen lainnya (Syukri, 1999).
Suatu larutan dengan jumlah maksimum zat terlarutpadatemperatur tertentu disebut larutan
jenuh. Sebelum mencapai titik jenuh larutan tidak jenuh.
Kadang-kadang dijumpai suatu keadaan dengan zat terlarut dalam larutan lebih banyak
daripada zat terlarut yang seharusnya dapat melarut pada temperature tersebut. Larutan yang
demikian disebut larutan lewat jenuh.
Banyaknya zat terlarut yang dapat menghasilkan larutan jenuh, daalam jumlah tertentu
pelarut pada temperatur konstan disebut kelarutan. Kelarutan suatu zat bergantung pada sifat zat
itu, molekul pelarut, temperature dan tekanan. Meskipun larutan dapat mengandung banyak
komponen, tetapi pada tinjauan ini hanya dibahas larutan yang mengandung dua komponen.
Yaitu larutan biner. Komponen dari larutan biner yaitu pelarut dan zat terlarut.
Contoh larutan biner
Zat terlarut Pelarut Contoh
Gas Gas Udara, semua campuran gas
Gas Cair Karbondioksida dalam air
Gas Padat Hydrogen dalam platina
Cair Cair Alcohol dalam air
Cair Padat Raksa dalam tembaga
Padat Padat Perak dalam platina
Padat Cair Garam dalam air

Faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan yaitu temperatur, sifat pelarut, efek ion
sejenis, efek ion berlainan, pH, hidrolisis, pengaruh kompleks dan lain-lain (Khopkar, 2003).
<!--[if !supportLists]-->2.2. <!--[endif]-->Konsentrasi Larutan
Untuk menyatakan komposisi larutan secara kuantitatif digunakan konsentrasi.
Konsentrasi didefinisikan sebagai jumlah zat terlarut dalam setiap satuan larutan atau pelarut,
dinyatakan dalam satuan volume (berat, mol) zat terlarut dalam sejumlah volume (berat , mol)
tertentu dari pelarut. Berdasarkan hal ini muncul satuan-satuan konsentrasi, yaitu fraksi mol,
molaritas, molalitas, normalitas, ppm serta ditambah dengan persen massa dan persen volume
(Baroroh, 2004).
Satuan konsentrasi
Lambang Nama Definisi
Satuan Fisika

% w/w Persen berat

% v/v Persen volume

% w/v Persen berat volume

ppm Parts per million

ppb Parts per billion

Satuan kimia

X Fraksi mol

F Formal

m Molal

N Normal

m Eq Mili ekuivalen Seper seribu mol larutan
Osm Osmolar

M Molar


(hiskia Achmad, 2001)
<!--[if !supportLists]-->1. <!--[endif]-->Fraksi mol adalah perbandingan dari jumlah mol dari suatu komponen
dengan jumlah total mol dalam larutan. Contoh, dalam larutan yang mengandung 1 mol alkohol
dan 3 mol air, maka fraksi mol alkohol adalah dan air (syukri, 1999).
Jumlah kedua fraksimol (fraksi mol zat terlarut + fraksi mol pelarut) sama dengan 1 (Hoskia
Achmad, 2007).
<!--[if !supportLists]-->2. <!--[endif]-->Molaritas dari solute adalah jumlah mol solute perliter larutan dan
biasanya dinyatakan dengan huruf besar M. larutan 6,0 molar HCl ditulis 6,0 M, bararti bahwa
larutan dibuat dengan menambahkan 6,0 mol HCl pada air yang cukup dan kemudian volume
larutan dibuat menjadi satu liter.
<!--[if !supportLists]-->3. <!--[endif]-->Molalitas dari suatu solute adalah jumlah mol solute per satu kilogram
solvent. Molalitas biasanya ditulis dengan hurup kecil m. Tulisan 6,0 m HCl dibaca 6,0 molal,
dan menyatakan suatu larutan yang dibuat dengan menambahkan 6,0 mol HCl pada satu
kilogram air.
<!--[if !supportLists]-->4. <!--[endif]-->Normalitas dari suatu solute adalah jumlah gram ekuivalen solute per
liter larutan. Biasanya ditulis dengan huruf besar N. Tulisan 0,25 N KMnO
4
dibaca 0,25 normal,
dan menyatakan larutan yang mengandung 0,25 gram ekuifalen dari kalium permanganat per
liter larutan.
<!--[if !supportLists]-->5. <!--[endif]-->Persen dari solute dapat dinyatakan sebagai persen berat atau persen
volume. Sebagai contoh, 3% berat H
2
O
2
adalah 3 gram H
2
O
2
tiap 100 gram larutan. Sedangkan
12% volulme adlah suatu larutan yang dibuat dari 12 ml alkohol dan solvent ditambahkan hingga
volume menjadi 100 ml (syukri, 1999).

<!--[if !supportLists]-->2.3. <!--[endif]-->Suspensi
Suspensi adalah campuran heterogen yang terdiri dari partikel-partikel kecil padat atau cair
yang terdispersi dalam zat cair atau gas.
<!--[if !supportLists]-->2.4. <!--[endif]-->Koloid
Koloid adalah campuran heterogen antara dua dua zat atau lebih dimana partikel-partikel zat
berukuran koloid (1-100 nm) tersebar merata dalam zat lain.
<!--[if !supportLists]-->2.5. <!--[endif]-->Ciri-ciri larutan, suspensi dan koloid
<!--[if !supportLists]-->2.5.1. <!--[endif]-->Larutan (dispersi molekul)
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->1 fase
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Jernih
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Homogen
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Diameter partikel : < 1 nm
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Tidak dapat disaring
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Tidak memisah jika didiamkan
<!--[if !supportLists]-->2.5.2. <!--[endif]-->Suspensi (dispersi kasar)
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->2 fase
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Keruh
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Heterogen
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Diameter partikel : > 100 nm
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Dapat disaring dengan kertas saring
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Memisah jika dididamkan
<!--[if !supportLists]-->2.5.3. <!--[endif]-->Koloid (dispersi koloid)
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->2 fase
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Keruh
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Antara homogen dan heterogen
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Diameter partikel : 1 nm < d > 100 nm
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Tidak dapat disaring dengan kertas saring biasa melainkan penyaring
ultra
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Tidak memisah jika didiamkan



BAB 3
METODOLOGI PERCOBAAN
<!--[if !supportLists]-->3.1. <!--[endif]-->Alat dan Bahan
<!--[if !supportLists]-->3.1.1. <!--[endif]-->Alat-alat
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Neraca analitik
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Labu takar 250 ml
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Gelas kimia 100 ml
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Labu takar 100ml
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Batang pengaduk
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Pipet tetes
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Corong kaca
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Gelas ukur
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Botol kratingdaeng
<!--[if !supportLists]-->3.1.2. <!--[endif]-->Bahan-bahan
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->H
2
SO
4
1 M
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->BaCl
2
(padatan)
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Akuades
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Alumunium foil
<!--[if !supportLists]-->3.2. <!--[endif]-->Prosedur percobaan
<!--[if !supportLists]-->3.2.1. <!--[endif]-->Pengenceran
Pembuatan larutan H
2
SO
4
0,5 M
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Dihitung volume H
2
SO
4
1 M yang dibutuhkan untuk membuat larutan
H
2
SO
4
0,5 M
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Diambil H
2
SO
4
sesuai perhitungan
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Dilarutkan dengan akuades dalam labu takar 100 ml
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Dikocok

<!--[if !supportLists]-->3.2.2. <!--[endif]-->Pelarutan
Pembuatan larutan BaCl
2
0,1 M
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Dihitung gr BaCl
2
yang diperlukan untuk membuat larutan BaCl
2
0,1
M
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Ditimbang BaCl
2
sesuai dengan perhitungan menggunakan alumunium
foil dengan menggunakan alat ukur neraca analitik
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Dimasukkan BaCl
2
yang telah ditimbang kedalam gelas kimia 100 ml
dan kemudia ditambahkan akuades secukupnya kemudian diaduk hingga BaCl
2
larut
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->BaCl
2
yang telah larut dimasukkan ke dalam labu takar 250 ml,
kemudian ditambahkan akuades hingga volume larutan menjadi 250 ml



BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
<!--[if !supportLists]-->4.1. <!--[endif]-->Hasil Pengamatan
No Perlakuan Pengamatan
1 Pembuatan larutan H
2
SO
4
0,5 M
Dihitung volume H
2
SO
4
0,1 M

V = 50 ml

Diambil H
2
SO
4

Dilarutkan dengan akuades dalam labutakar 100
ml
Dikocok
Larutan H
2
SO
4
menjadi 0,5 M
Larutan bening
Larutan homogen
2 Pembuatan larutan BaCl
2
0,1 M
Dihitung gram BaCl
2

Dimasukkan BaCl
2
ke dalam gelas kimia 100 ml
Ditambahkan akuades secukupnya
Diaduk
Dimasukkan BaCl
2
yang telah larut ke dalam labu
takar 250 ml
Dikocok

gr = 5,2 gram


BaCl
2
menjadi larut
Larutan BaCl
2
menjadi 0,1 M
Larutan bening
Larutan homogen

<!--[if !supportLists]-->4.2. <!--[endif]-->Reaksi
<!--[if !supportLists]-->1. <!--[endif]-->NaCl
(s)
+ H
2
O
(l)
Na+ + Cl- +H
2
O
<!--[if !supportLists]-->2. <!--[endif]-->H
2
SO
4
+ H
2
O HSO
4
-
+ H
+
+ H
2
O
HSO
4
-
+H
2
O SO
4
2-
+ H
+
+ H
2
O
<!--[if !supportLists]-->3. <!--[endif]-->BaCl
2(s)
+ H
2
O
(l)
Ba
2+
+ 2Cl
-
+ H
2
O
<!--[if !supportLists]-->4. <!--[endif]-->NaOH
(s)
+ H
2
O
(l)
Na
+
+ OH
-
+ H
2
O
<!--[if !supportLists]-->4.3. <!--[endif]-->Perhitungan
<!--[if !supportLists]-->4.3.1. <!--[endif]-->Pembuatan larutan H
2
SO
4
0,5 M
M1 = 1 M
M2 = 0,5 M
V2 = 100 ml
V1 = ..?


<!--[if !supportLists]-->4.3.2. <!--[endif]-->Pembuatan larutan BaCl
2
0,1 M
M = 0,1 M
V = 250 ml
gr BaCl2 = .?



<!--[if !supportLists]-->4.4.<!--[endif]-->Pembahasan
Pada praktikum kali ini, terdapat dua percobaan. Percobaan yang dilakukan adalah
pembuatan larutan. Percobaan pertama adalah pembuatan dengan berdasarkan konsentrasi
tertentu dari campuran zat cair dengan zat cair, dimana digunakan H
2
SO
4
sebagai zat terlarut dan
akuades sebagai pelarut. Dan percobaan kedua adalah pembuatan larutan dari campuran zat
padat dari zat cair, dimana zat padat yang digunakan adalah BaCl
2
juga sebagai zat terlarut dan
zat cair sekaligus pelarut adalah akuades. Yang dimaksud dengan campuran adalah komponen
yang tersusun dari dua zat atau lebih yang berada dalam satu wadah. Campuran sendiri dibagi
menjadi dua yaitu campuran homogen dan campuran heterogen. Campuran homogen adalah
campuran yang pembatas antara zat pembentuknya tidak tampak dan partikel-partikel zat
pembentuknya tersebar merata ke seluruh bagian. Sedangkan campuran heterogen adalah
campuran dari beberapa zat yang tidak dapat bercampur secara sempurna dan masih dapat dilihat
sifat-sifat zat pembentuknya. Campuran juga dibagi menjadi larutan, suspensi dan koloid.
Larutan adalah campuran homogen antara pelarut dan zat terlarut, dimana zat terlarut disebut
fasa terdispersi dan pelarut disebut fase pendispersi. Suspensi adalah campuran heterogen yang
terdiri dari partikel-partikel kecil padat atau cair yang terdispersi dalam zat cair atau gas. Dan
koloid adalah campuran heterogen antara dua zat atau lebih dimana partikel berukuran koloid (1
100 nm) tersebar merata dalam zat lain. Perbedaan antara larutan, suspensi dan koloid adalah
ketampakkan partikel zat terkarut. Dimana pada larutan partikel zat terlarut tidak tampak, pada
suspensi tampak dan pada koloid tampak apabila menggunakan mikroskop ultra dan tidak
tampak apabila dari kasat mata.
Untuk menyatakan konsentrasi suatu larutan, dapat digunakan berbagai cara:
<!--[if !supportLists]-->1. <!--[endif]-->Fraksi mol : Perbandingan antara jumlah mol dari suatu komponen
dengan jumlah total mol dalam larutan

<!--[if !supportLists]-->2. <!--[endif]-->Molaritas : jumlah mol zat terlarut perliter larutan

<!--[if !supportLists]-->3. <!--[endif]-->Molalitas : jumlah mol zat terlarut per sati kilogram pelarut

<!--[if !supportLists]-->4. <!--[endif]-->Normalitas : Jumlah gram ekuifalen solute per liter larutan

<!--[if !supportLists]-->5. <!--[endif]-->Persen berat : Jumlah massa zat terlarut dibagi jumlah larutan dikali
100%

<!--[if !supportLists]-->6. <!--[endif]-->Persen volume : persen dari volume zat terlarut dalam dalam suatu
volume larutan

<!--[if !supportLists]-->7. <!--[endif]-->Persen berat volume : menyatakan massa zat terlarut dalam suatu
volume larutan

<!--[if !supportLists]-->8. <!--[endif]-->Part per million : menyatakan satu milligram zat terlarut dalam satu
liter larutan

<!--[if !supportLists]-->9. <!--[endif]-->Part per billion : menyatakan satu microgram zat terlarut dalam satu
liter larutan


Pada percobaan pertama dilakukan pengenceran larutan. Pengenceran merupakan perlakuan
untuk mendapatkan konsentrasi larutan yang lebih rendah dari yang sebelumnya. Percobaan ini
menggunakan H
2
SO
4
sebagai larutan yang akan diencerkan sekaligus merupakan zat terlarut dan
menggunakan akuades sebagai pelarut. Percobaan ini dilakukan untuk mendapatkan H
2
SO
4
0,5
M sebanyak 100 ml dari H
2
SO
4
1 M. berdasarkan perhitungan volume H
2
SO
4
yang dibutuhkan
adalah 50 ml. Kemudian 50 ml H
2
SO
4
dimasukkan kedalam labu takar 100 ml dan ditambahkan
akuades hingga larutan menjadi 100 ml. Fungsi penambahan akuades adalah untuk menurunkan
konsentrasi dari H
2
SO
4
. Setelah ditambahkan, labu takar dikocok agar larutan menjadi homogen
dan didapatkan larutan H
2
SO
4
0,5 M sebanyak 100 ml. Faktor kesalahan dari praktikum ini
adalah ketika pengukuran volume larutan tidak pas pada meniskus bawah.
Pada percobaan kedua adalah dilakukan pelarutan zat padat pada zat cair untuk
mendapatkan konsentrasi larutan dengan nilai tertentu. Pada percobaan ini menggunakan padatan
BaCl
2
sebagai zat yang akan dilarutkan. Dan menggunakan akuades sebagai pelarut. Percobaan
ini dilakukan untuk mendapatkan larutan BaCl
2
0,1 M 250 ml. Berdasarkan perhitungan, massa
BaCl
2
yang dibutuhkan adalah 5,2 gr. Kemudian BaCl
2
ditimbang menggunakan neraca analitik.
Pada saat penimbangan tidak digunakan gelas kimia sebagai wadah, melainkan alumunium foil.
Hal ini dilakukan karna Gekas kimia terlalu berat, sedangkan alumunium foil lebih ringan
sehingga bisa didapatkan hasil yang lebih akurat. Setelah ditimbang, BaCl
2
yang masih berupa
padatan dimasukkan kedalam gelas kimia dan ditambahkan akuades secukupnya lalu diaduk agar
BaCl
2
dapat larut dalam akuades. Kemudian BaCl
2
yang sudah larutdimasukkan kedalam labu
takar 250 ml dan ditambahkan akuades hingga larutan menjadi 250 ml, kemudian diaduk agar
larutan menjadi homogen dan didapatkan larutan BaCl
2
0,1 M sebanyak 250 ml. Faktor
kesalahan pada peercobaan ini adalah pengukuran menggunakan neraca analitik yang kurang
tepat dan pengukuran volume larutan yang kurang pas pada meniscus bawah.



BAB 5
PENUTUP
<!--[if !supportLists]-->5.1. <!--[endif]-->Kesimpulan
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Untuk membuat larutan dengan zat cair digunakan metode
pengenceran. Metode ini dilakukan untuk mendapatkan larutan dengan kond=sentrasi yang lebih
rendah. Contohnya pada percobaan ini adalah pada larutan H2SO4 1 M dibuat menjadi 0,5 M
dengan penambahan H2O
<!--[if !supportLists]-->- <!--[endif]-->Untuk membuat larutan dari zat padat dilakukan dengan cara
menimbang zat sesuai yang drperlukan kemudian dilarukan dengan H2O hingga homogen
kemudian ditambahkan H2O sehingga konsentrasinya sesuai yang diperlukan.
<!--[if !supportLists]-->5.2. <!--[endif]-->Saran
Ketika mengukur volume larutan, pada saat cairan hampir mendekati titik batas ukur,
sebaiknya kita menambahkan larutan yang kita buat menggunakan pipet tetes sehingga didapat
larutan yang memiliki volume yang lebih akurat.


DAFTAR PUSTAKA
Achmad, Hiskia. 2001. Kimia Larutan. Citra Aditya Bakti : Bandung
Baroroh, Umi L.U. 2004. Diktat Kimia Dasar 1. Universitas Lambung Mangkurat : Banjar
Baru
Gunawan, Adi dan Roeswati. 2004. Tangkas Kimia. Kartika : Surabaya
Khopkar, S.M. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Universitasn Indonesia : Jakarta







laporan tetap pembuatan larutan (as a e.g)
LAPORAN TETAP
Praktikum Kimia Analisis Dasar

(LOGO POLTEK)

Disusun oleh :
Atika Oktavianti 061140411542
Gali Nur Pajar 061140411545
Grace Reza s. 061140411546
M Maulidan Septiandy 061140411551
Mutiara Maulia 061140411552
Ridho Nendra 061140411555
Tunjung Feti Sari 061140411560
Wijaya Agustria 061140411563
Kelas : IEGB
Instruktur : Zurohaina S.T, M.T
Judul Percobaan : Pembuatan Larutan
Politeknik Negeri Sriwijaya
2011/2012

Titrasi Asam Basa (Penentuan Karbonat bikarbonat)

Tujuan
Mahasiswa mampu melakukan penentuan karbonat dan bikarbonat dalam cuplikan dengan cara titrasi menggunakan dua indicator.
Rincian Percobaan
Standarisasi larutan baku HCl dengan borak
Titrasi cuplikan untuk menentukan kadar karbonat dan bikarbonat dengan menggunakan dua indicator.
Dasar Teori
Ion karbonat dapat ditentukan dengan cara titrasi dua langkah yaituh dengan menggunakan dua indicator :
CO3 +

H
3
O
+
HCO
3
-
+ H
2
O (Fenolftalein)
HCO3
-
+ H3O
+
H2CO3 + H2O (Metil Orange)
Fenolftalein bekerja sebagai indicator untuk titrasi tahap pertama dengan perubahan warna dari merah ke tidak berwarna, metal
orange bekerja sebagai indicator tahap kedua dengan perubahan warna dari kuning menjadi jingga Fenolftalein dengan jangkauan
pH 8.0 sampai 9,0merupakan indicator yang cocok untuk titik akhir pertama karena pH larutan NaHCO3 Berjumlah 8,35 metil orange
dengan jangkauan Ph 3,1 sampai 4,4 cocok untuk titik akhir kedua suatu larutan jenuh CO2 mempunyai pH Kira-kira 3,9. Kedua titik
akhir tersebut tidak satupun membentuk patahan yang sangat tajam. Campuran karbonat dan bikarbonat, atau karbonat hidroksida
dapat dititrasi dengan HCl standar sampai kedua titik akhir tersebut diatas. Dalam table 1
V1 adalah volume asam dalam ml yang digunakan dari permulaan sampai tiitk akhir Fenolftalein. Dan V2 merupakan volume dan titik
akhir Fenolftalein sampai titik akhir metal orange. Hal ini membuktikan bahwa NaOH secara lengkap bereaksi dalam tahap pertama,
NaHCO3 hanya bereaksi dalam tahap kedua, dan Na2CO3 bereaksi dalam kedua tahap dengan menggunakan volume titran yang
sama dalam kedua tahap.
Zat Hub. Untuk identifikasi
kualitatif
Milimol zat
NaOH
NaHCO3
Na2CO3
V2 = 0
V1 = V2
V1 = 0
M x V1
M x V1
M x V2
NaOH + Na2CO3

NaHCO3 + Na2CO3
V1 > V2

V1 < V2
NaOH = M(V1 - V2)
Na2CO3 = M x V2
NaHCO3 = M (V2 V1)
Na2CO3 = M




Alat Yang Digunakan
Neraca analitis
Kaca Arloji
Erlenmeyer
Buret
Pipet Ukur
Pipet Volume
Pipet Kimia
Labu Takar
Penggaduk, spatula
Bola karet
Gambar Alat (Terlampir)
Bahan Yang Digunakan
Cuplikan Yang mengandung Karbonat Bikarbonat
HCl
Na2CO3
Indicator Fenolftalein
Indicator Metil Orange
Aquadest
Prosedur Percobaan
7.1 Standarisai larutan baku HCl dengan Na2CO
Membuat larutan 0,1 M HCl dengan Volume 250 ml
Menimbang dengan teliti 0,4 Na2CO3 larutan dengan aquadest sampai 100 ml
Membuat 3 buah Erlenmeyer
Mengambil alikot sebnayak 25 ml untuk masing-masing Erlenmeyer
Menambahkan 2 tetes Indicator meti orange
Menitrasi dengan HCl
7.2 Penentuan Karbonat Bikarbonat
Menimbang dengan teliti 0,50 gr cuplikan yang mengandung 0,15 gr Na2CO3 dan NaHCO3 0,35 gr. dan juga yang menggandung
0,35 gr NaCO3 dan 0,15 NaHCO3, juga cuplikan yang mengandung 0,3 gr Na2CO3 Dan 0,2 gr NaOH, dan 0,2 Na2CO3 dan 0,3
NaOH.
Melarutkan dalam 100 ml air
Menyiapkan 6 buah Erlenmeyer isi masing-masing dengan 25 ml alikot, tiap cuiplikan ada 3 Erlenmeyer
Menambahkan 2 tetes Indicator Fenolftalein
Menitrasi dengan HCl hingga berubah dari warna merah untuk cuplikan pertama dan warna ungu untuk cuplikan ke 2 menjadi tidak
berwarna.
Catat volume titran
Tambahkan 2 tetes Indicator metal orange
Mentitrasi dengan HCl hinga berubah warna dari kuning menjadi jingga
Perhitungan
8.1
Standarisai Larutan HCl (pertama)
No. Percobaan Volume HCl (ml)
1
2
3
15,7 ml
16,5 ml
16,9 ml
Jumlah 49,1 ml

= = 16,36 ml
Standarisai Larutan HCl (ke-dua)
No. Percobaan Volume HCl (ml)
1
2
3
19.5 ml
18,8 ml
18,5 ml
Jumlah 56,8 ml

= = 18,93 ml
8.2
Penentuan Karbonat Bikarbonat (pertama)
Untuk NaCO3 (0,15 gr) + NaHCO3(0.35 gr)
No. Percobaan Volume HCl (ml)
pada Titrasi I (pp)
Volume HCl (ml)
pada Titrasi II (m.o)
1
2
2 ml
2,2 ml
8,5 ml
8 ml
3 2 ml 9,2 ml
Jumlah 6,4 ml 27,5 ml
Volume HCl (pp) = = 2,13 ml 9,16 ml 2,13 ml
Volume HCl (m.o) = = 9,16 ml = 7, 03 ml



Penentuan Karbonat Bikarbonat (ke-dua)
Untuk NaCO3 (0,35 gr) + NaHCO3(0.15 gr)
No. percobaan Volume HCl (ml)
Pada titrasi I (pp)
Volume HCl (ml)
Pada Titrasi II (m.o)
1
2
3
4,9 ml
5,1 ml
5,5 ml
10,2 ml
10,2 ml
10,2 ml
Jumlah 15,5 ml 30,6 ml
Volume HCl (pp) = = 5,16 ml 10,2 5,16 ml
Volume HCl (m.o) = = 10,2 ml = 5,04 ml


Untuk Na2CO3(0,3 gr) + NaOH(0,2 gr)
No. Percobaan Volume HCl (ml)
Pada Titrasi I (pp)
Volume HCl (ml)
Pada Titrasi II (m.o)
1
2
3
4,1 ml
4,8 ml
4,2 ml
15,3 ml
15,9 ml
16,1 ml
Jumlah 13,1 ml 47,3 ml
Volume HCl (pp) = = 4,36 ml 15,76 4,36 ml
Volume HCl (m.o) = = 15,76 ml = 11,4 ml










Perhitungan
9.1 Menentukan Normalitas hcl
Standarisasi larutan HCl (pertama)
DIk ; massa Na2CO3 =0,4 gr . . 1000
BE Na2CO3 = 53 gr/mol
V HCL = 16,36 ml

Dit : N.. ?
gr Na2CO3/ BE Na2CO3 = V HCl x N HCl
0,4 gr. 0,25. 1000 = 53 gr/mol x 16,36 ml x N HCl
100 = 867,08 ml/mol xN HCl
N HCl = = 0,11 ml/mol


Standarisari larutan HCl (ke-dua)
Dik : massa Na2CO3 = 0,4 gr
BE Na2CO3 = 53 gr/mol
V HCl = 10,83 ml

Dit .?
gr Na2CO3/ BE Na2CO3 = V HCl x N HCl
0,4 gr. 0,25. 1000 = 53 gr/mol x 10,83 ml x N HCl
100 = 573,99 x N HCl
N HCl = 0,1742 ml/mol


9.2 Menentukan % Na2CO3
Penentuan Karbonat Bikarbonat Dengan HCl (pertama)
% Na2CO3 = x 100%
= x 100%
= x 100%
=0,29 x 100% = 29%

% NaHCO3 = x 100%
=
= 0,519 x 100% = 51,9%

Penentuan Karbonat Bikarbonat Dengan HCl
% Na2CO3 =
=
=
=0,38 x 100% = 38%
% NaHCO3 =
= 0,58 x 100% = 58%



Untuk campuran Na2CO3 + NaOH
% Na2CO3 =
=
= 0,61 x 100% = 61%
% NaOH =
= x 100% = 0,400 x 100%
= 40%

% Kesalahan penentuan karbonat bikarbonat (pertama)
% kesalahan Na2CO3 =
=
= 3,3%
% kesalahan NaHCO3 =
= 25%


% Kesalahan penentuan karbonat bikarbonat (ke-dua)
% Kesalahan Na2CO3 =
= 5%
% kesalahan NaHCO3 = %
= 3%


Untuk campuran Na2CO3 + NaOH
% kesalahan Na2CO3 =
= 1,6 %
% kesalahan NaOH =
= 0%

















Analisa Percobaan
Dari percobaan karbonat dan bikarbonat ini, didapatkan bahwa pada titrasi 1 volume HCl yang merubah larutan dari warna kuning
yang telah diberi indicator m.o menjadi larutan berwarna jingga mencapai volume 15,7 ml dan 19,5 ml. titrasi kedua mencapai
16,5ml dan 18,8ml. dan yang ketiga 16,9ml dan 18,5ml. jadi rata-ratanya adalah 16,36ml dan 18,93ml larutan.
Kemudian dari cuplikan Na2CO3 dan NaHCO3 sebanyak 0,5gr yang dilarutkan dalam air atau yang sering disebut alikot dan
ditambah 2 tetes pp dan kemudian dititrasi dengan Larutan HCl hingga tidak berwarna. Dan menghabiskan larutan rata-rata 2,13ml
dan 5,16ml, dan ditambah 2 tetes indicator (m.o) juga dititrasi Dengan HCl hingga berubah warna dari merah menjadi jingga. Rata-
rata menghabiskan 9,16ml dan 10,2ml larutan.
Begitu juga pada larutan Na2CO3 + NaOH larutan HCl pada titrasi 1 rata-rata 4,36ml dan pada titrasi ke-dua 15,76ml.


Kesimpulan
Rata-rata Volume HCl pada titrasi 1 = 2,13ml pada percobaan pertama dan 5,16ml pada percobaan ke-dua
Rata-rata volume HCl pada titrasi 2 = 9.16ml pada percobaan pertama dan 10,2ml pada percobaan ke-dua
Rata-rata Volume HCl pada titrasi 1 untuk Na2CO3 + NaOH = 4,36ml dan titrasi ke 2 15,76ml
Titrais II Titrasi I = 7,03ml untuk percobaan pertama, dan 5,04 untuk percobaan ke-dua
Normalitas HCl = 0,11 ml/mol untuk percobaan pertama dan 0,1742 untuk percobaan ke-dua
%Na2CO3 = untuk percobaan pertama 29% dengan %kesalahan 3,3%. Dan untuk percobaan ke-dua 38% dengan %kesalahan 5%.
%NaHCO3 = untuk percobaan pertama 51,9% dengan %kesalahan 25% dan untuk percobaan ke-dua 58% dengan %kesalahan
3%.
Untuk campuaran Na2CO3 + NaOH
%Na2CO3 = 61% dengan %kesalahan 1,6%.
%NaOH = 40% dengan %kesalahan 0%.







Daftar Pustaka
Kepala Seksi Laboratorium Kimia Analisis Dasar, 2011, Penuntun Praktikum Kimia terapan, Politeknik Negeri Sriwijaya, Palembang