Anda di halaman 1dari 4

1

TUGAS 2
MANAJEMEN KEUANGAN 2 (MANAJEMEN ASET NEGARA)
TRI WIDODO
C1G014010
Kelas StarBPKP

DUALISME PARADIGMA ANGGARAN

A. FUNGSI ANGGARAN SEBAGAI ALAT PERENCANAAN DAN KEBIJAKAN FISKAL
Anggaran memiliki berbagai macam fungsi. Dari beberapa fungsi anggaran, terdapat dua
fungsi yang menjadi aktual pada saat ini yaitu sebagai alat perencanaan dan kebijakan
fiskal. Sebagai alat perencanaan, anggaran disusun untuk memenuhi kebutuhan pelayanan
publik dan pembangunan, yang setiap tahun disiapkan oleh Pemerintah dalam format
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). APBN disusun di tengah keterbatasan
sumber daya finansial, sementara kebutuhan pelayanan dan pembangunan tidak terbatas.
Di sini para manajer keuangan Pemerintah dituntut kepiawaiannya dalam menggali sumber
penerimaan serta menentukan jumlah alokasi yang tepat bagi program dan kegiatan yang
telah direncanakan (how to get and how to allocate). Dengan demikian pelayanan publik
yang menjadi kewajiban Pemerintah dapat di deliver dengan baik serta pembangunan bisa
dilaksanakan secara optimal.
APBN dalam ranah makro, juga berfungsi sebagai instrumen kebijakan fiskal yang dapat
mengarahkan kondisi perekonomian dengan jalan mengubah penerimaan dan pengeluaran
pemerintah. Sebagaimana ditargetkan dalam Masterplan Percepatan dan Peluasan
Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), pada tahun 2025 Indonesia akan masuk dalam
kelompok negara maju (developed country).
Target tersebut tentu perlu ditopang dengan angka pertumbuhan ekonomi yang sustainable,
yang salah satunya bisa dilakukan dengan instrumen kebijakan fiskal. Fungsi fiskal meliputi
tiga aspek penting yang mencerminkan peran pemerintah dalam perekonomian yaitu
sebagai fungsi alokasi, distribusi, dan stabilisasi. Secara simultan fungsi fiskal bertujuan
untuk menciptakan kondisi makro ekonomi kondusif dalam mencapai pertumbuhan ekonomi,
penciptaan tenaga kerja yang sekaligus menekan jumlah pengangguran, pengendalian
tingkat inflasi, dan mendorong distribusi pendapatan yang semakin merata. Secara
sederhana, jika pemerintah menurunkan target penerimaan atau menaikkan jumlah
pengeluaran, hal ini akan mendorong tumbuhnya perekenomian, dan sebaliknya. Oleh
karena itu, kebijakan yang ditempuh pemerintah dalam penyusunan APBN selama ini
adalah expansif dengan menerapkan defisit pada anggaran pada tingkat yang diperkirakan
aman (UU No. 17 tahun 2003, maksimal 3% PDB) dalam menjaga kesinambungan fiskal.


2

B. ANGGARAN BERBASIS KINERJA
Sebelum berlakunya sistem Anggaran Berbasis Kinerja, metode penganggaran yang
digunakan adalah metoda tradisional atau item line budget. Cara penyusunan anggaran ini
tidak didasarkan pada analisa rangkaian kegiatan yang harus dihubungkan dengan tujuan
yang telah ditentukan, namun lebih dititikberatkan pada kebutuhan untuk
belanja/pengeluaran dan sistem pertanggung jawabannya tidak diperiksa dan diteliti apakah
dana tersebut telah digunakan secara efektif dan efisien atau tidak. Tolok ukur keberhasilan
hanya ditunjukkan dengan adanya keseimbangan anggaran antara pendapatan dan belanja
namun jika anggaran tersebut defisit atau surplus berarti pelaksanaan anggaran tersebut
gagal. Dalam perkembangannya, muncullah sistematika anggaran kinerja yang diartikan
sebagai suatu bentuk anggaran yang sumber-sumbernya dihubungkan dengan hasil dari
pelayanan.
Anggaran kinerja mencerminkan beberapa hal. Pertama, maksud dan tujuan permintaan
dana. Kedua, biaya dari program-program yang diusulkan dalam mencapai tujuan ini. Dan
yang ketiga, data kuantitatif yang dapat mengukur pencapaian serta pekerjaan yang
dilaksanakan untuk tiap-tiap program. Penganggaran dengan pendekatan kinerja ini
berfokus pada efisiensi penyelenggaraan suatu aktivitas. Efisiensi itu sendiri adalah
perbandingan antara output dengan input. Suatu aktivitas dikatakan efisien, apabila output
yang dihasilkan lebih besar dengan input yang sama, atau output yang dihasilkan adalah
sama dengan input yang lebih sedikit. Anggaran ini tidak hanya didasarkan pada apa yang
dibelanjakan saja, seperti yang terjadi pada sistem anggaran tradisional, tetapi juga
didasarkan pada tujuan/rencana tertentu yang pelaksanaannya perlu disusun atau didukung
oleh suatu anggaran biaya yang cukup dan penggunaan biaya tersebut harus efisien dan
efektif.
Berbeda dengan penganggaran dengan pendekatan tradisional, penganggaran dengan
pendekatan kinerja ini disusun dengan orientasi output. Jadi, apabila kita menyusun
anggaran dengan pendekatan kinerja, maka mindset kita harus fokus pada "apa yang ingin
dicapai". Kalau fokus ke "output", berarti pemikiran tentang "tujuan" kegiatan harus sudah
tercakup di setiap langkah ketika menyusun anggaran. Sistem ini menitikberatkan pada segi
penatalaksanaan sehingga selain efisiensi penggunaan dana juga hasil kerjanya diperiksa.
Jadi, tolok ukur keberhasilan sistem anggaran ini adalah performance atau prestasi dari
tujuan atau hasil anggaran dengan menggunakan dana secara efisien. Dengan membangun
suatu sistem penganggaran yang dapat memadukan perencanaan kinerja dengan anggaran
tahunan akan terlihat adanya keterkaitan antara dana yang tersedia dengan hasil yang
diharapkan. Sistem penganggaran seperti ini disebut juga dengan Anggaran Berbasis
Kinerja (ABK).
C. PERMASALAHAN PENYERAPAN ANGGARAN
Banyak para pengamat ekonomi menyoroti masalah rendahnya tingkat penyerapan
anggaran sebagai salah satu indikator kegagalan birokrasi. Kegagalan target penyerapan
anggaran akan berakibat hilangnya manfaat belanja. Dana yang telah dialokasikan dalam
belanja negara ternyata tidak semuanya dapat dimanfaatkan, ini berarti terjadi iddle money.
Bisa dibayangkan seandainya uang yang tersimpan tersebut bisa dimanfaatkan untuk
kepentingan yang lebih besar. Tentu pencapaian tujuan nasional kita akan mudah untuk
3

dilakukan. Penyerapan anggaran belanja yang rendah dikhawatirkan tidak mendukung
target pertumbuhan.
Kalau kita lihat data tentang penyerapan anggaran di setiap tahun, rata-rata penyerapan
anggaran sangat rendah di awal tahun dan bahkan ketika melewati triwulan kedua, realisasi
belanja negara masih rendah. Sayangnya, banyak instansi pemerintah yang terlalu berhati-
hati ketika melakukan pengeluaran anggarannya. Sehingga terkesan lambat dan tidak
optimal dalam memanfaatkan waktu. Tahun anggaran yang dua belas bulan seakan akan
hanya efektif selama 5 - 6 bulan. Banyak satuan kerja yang baru bekerja pada triwulan
kedua.
Kementerian Keuangan (Kemkeu) mengeluarkan aturan pengenaan sanksi dan pemberian
penghargaan alias reward atas pelaksanaan belanja K/L.
Aturan tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor
158/PMK.02/2014 tentang Tata Cara Pemberian Penghargaan dan Pengenaan Sanksi Atas
Pelaksanaan Anggaran Belanja Kementerian Negara/Lembaga. Bagi K/L yang mempunyai
hasil optimalisasi atas pelaksanaan anggaran belanja tahun sebelumnya di mana target
sasaran telah dicapai akan mendapat penghargaan. Persentase penyerapan anggaran pun
minimal 95%.
Penghargaan yang diberikan berupa tambahan alokasi anggaran K/L pada tahun anggaran
berikutnya, menjadi prioritas dalam mendapatkan dana atas inisiatif baru yang diajukan,
serta menjdi prioritas dalam mendapatkan anggaran belanja tambahan apabila kondisi
keuangan negara memungkinkan.
Sedangkan bagi K/L yang tidak dapat mempertanggungjawabkan sisa anggaran belanja
tahun anggaran sebelumnya mendapat sanksi. Sisa anggaran yang tidak dapat
dipertanggungjawabkan tersebut nilainya lebih besar dari hasil optimalisasi yang belum
digunakan pada tahun anggaran sebelumnya. Laporan keuangan K/L tersebut pun harus
mendapatkan predikat wajar tanpa pengecualian.
D. DUALISME PARADIGMA ANGGARAN
Seperti diketahui bahwa penganggaran yang dianut oleh APBN/APBD adalah Anggaran
Berbasis Kinerja dimana Indikator Kinerja, ukuran kuantitatif yang menggambarkan tingkat
pencapaian suatu sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan, harus merupakan suatu yang
akan dihitung dan diukur serta digunakan sebagai dasar untuk menilai atau melihat tingkat
kinerja baik dalam tahapan perencanaan, tahap pelaksanaan maupun tahap setelah
kegiatan selesai dan bermanfaat (berfungsi).
Dengan keluarnya PMK Nomor 158/PMK.02/2014 tentang Tata Cara Pemberian
Penghargaan dan Pengenaan Sanksi Atas Pelaksanaan Anggaran Belanja Kementerian
Negara/Lembaga, Kementerian Negara/Lembaga dituntut secara legal dan formal untuk
berfokus pada tingkat penyerapan anggaran, bahkan jika tidak terpenuhi maka akan ada
konsekuensi logisnya yaitu sanksi. Sanksi jika penyerapan anggaran tidak mencapai
persentase yang ditetapkan yaitu 95% adalah pemotongan anggaran belanja dalam
penetapan alokasi anggaran tahun berikutnya.
4

Hal inilah yang menjadikan paradigma anggaran menjadi kontradiktif dimana mekanisme
anggaran yang ditetapkan adalah Anggaran Berbasis Kinerja dimana ukuran
keberhasilannya adalah pencapaian tujuan menjadi Anggaran Berbasis Penyerapan
Anggaran. Dimana hal inilah yang menjadikan terancamnya pencapaian sasaran dan tujuan
yang ditetapkan menjadi pencapaian realisasi anggaran yang penting cair. Apalagi tingkat
akselerasi penyerapan anggaran ngebut setelah semester pertama tahun anggaran yang
semakin menguatkan dugaan ini. Tingkat efektifitas dan efisien dalam penggunaan
anggaran dalam pencapaian tujuan juga menjadi sesuatu yang dilematis dengan keluarnya
PMK di atas.
Sebagai contoh dilema efisiensi dan efektifitas dari sanksi ketidaktercapaian realisasi
anggaran adalah jika Kemerterian X dianggarkan kegiatan A mendapat dana Rp1000
untuk kuantitas 10, maka jikapun kegiatan A dapat dicapai dengan harga Rp750 untuk
kuantitas 10 atau dengan anggaran Rp1000 untuk kuantitas 13, Kementerian X akan tetap
mengusahkan agar tingkat realisasi anggaran adalah Rp1000 dengan kuantitas 10.
Mengapa? Jika Kementerian Lembaga merealisasikan anggaran senilai Rp1000 dengan
kuantitas 13 (asumsi kebutuhan Kementerian Lembaga adalah 10) maka anggaran
Kementerian X kemungkinan besar akan terpotong. Apalagi jika Kementerian X
mencapai kegiatan A untuk kuantitas 10 dengan dana Rp750 maka akan mendapat sanksi
sesuai PMK di atas yaitu pemotongan anggaran.
Oleh karena itu, demi mewujudkan amanat Anggaran Berbasis Kinerja dengan konsisten,
pemerintah perlu menentukan Indikator Kinerja anggaran yang tidak sebatas pada tingkat
penyerapan anggaran.

DAFTAR PUSTAKA
Imam Yunarto, PARIS REVIEW Majalah Perwakilan BPKP Provinsi D.I. Yogyakarta:
Memahami Proses Penganggaran untuk Mendorong Optimalisasi Penyerapan
Anggaran,Yogyakarta:Desember 2011
http://www.anggaran.depkeu.go.id/web-content-list.asp?ContentId=628
Ridwan Syarif, Makalah Realisasi Penyerapan Anggaran,
https://www.academia.edu/5462312/Makalah_Realisasi_Penyerapan_Anggaran
http://nasional.kontan.co.id/news/simak-sanksi-dan-reward-penyerapan-anggaran-kl
UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 158/PMK.02/2014 tentang Tata Cara Pemberian
Penghargaan dan Pengenaan Sanksi Atas Pelaksanaan Anggaran Belanja Kementerian
Negara/Lembaga