Anda di halaman 1dari 11

1

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi Ambliopia
Ambliopia berasal dari bahasa Yunani amblys yaitu kabur, dan ops
adalah penglihatan. Ambliopia adalah suatu keadaan mata dimana tajam
penglihatan tidak mencapai optimal sesuai dengan usia dan intelegensinya
walaupun sudah dikoreksi kelainan refraksinya dan pada pemeriksaan secara
oftalmoskopi tidak ditemukan kelainan patologis/struktural. Anak-anak rentan
menderita ambliopia hingga usia 7 tahun dan biasanya terjadi pada satu mata,
namun dapat juga terjadi pada kedua bola mata. Keadaan ini tidak
berhubungan langsung dengan kelainan struktur mata atau kelainan pada jalur
visual posterior. Kurangnya tajam penglihatan pada ambliopia tidak dapat
dikoreksi dengan kaca mata dan tidak ditemukan kausa organik pada
pemeriksaan fisik mata. Pada kasus yang keadaannya baik dapat dikembalikan
fungsi penglihatan dengan pengobatan.
1,3,4

2.2. Epidemiologi Ambliopia
Prevalensi ambliopia sulit untuk dinilai dan dibedakan pada setiap
literatur, sekita 1-3,5% pada anak yang tidak memiliki kelainan pada mata dan
4-5,3% pada anak dengan kelainan mata. Ambliopia terjadi selama critical
period dari perkembangan penglihatan yaitu dibawah usia 2 tahun. Tingginya
angka kejadian ambliopia terdapat pada anak dengan perkembangan
terlambat, prematur, dan memiliki riwayat keluarga yang menderita
ambliopia.
5



2

2.3. Patofisiologi dan Klasifikasi Ambliopia
2.3.1 Patofisiologi Ambliopia
Ambliopia merupakan masalah perkembangan pada otak, bukan
merupakan kelainan organik yang terdapat pada mata (meskipun kelainan
organik pada mata menyebabkan ambliopia yang menetap setelah kelainan
organik tersebut disembuhkan). Bagian dari otak yang berhubungan dengan
sistim penglihatan pada mata yang terganggu dan tidak diransang dengan
benar nantinya akan berkembang menjadi abnormal. Pada ambliopia terjadi
penurunan tajam penglihatan unilateral atau bilateral disebabkan karena
kehilangan pengenalan bentuk (kurang tegasnya bayangan yang jatuh di
fovea), interaksi binokular abnormal, atau keduanya pada masa perkembangan
penglihatan.
Perkembangan tajam penglihatan mata normal pada bayi dimulai sejak
bayi baru lahir dimana bayi akan menggerakkan kepala ke sumber penerangan
yang kuat. Pada usia 6 minggu mulai melakukan fiksasi, 3 bulan dapat
menggerakkan mata kearah benda yang bergerak, 4-6 bulan terjadi koordinasi
penglihatan dengan gerakan mata selanjutnya 6-8 bulan dapat melihat dan
mengambil objek.
1
Pada masa perkembangan penglihatan anak-anak sensitif terhadap
stimulus abnormal yang disebabkan deprivasi stimulus, strabismus, atau
kelainan refraksi yang signifikan. Secara umum, periode kritis pada ambliopia
deprivasi stimulus terjadi lebih awal daripada strabismus atau anisometropia.
Selain itu, waktu yang diperlukan untuk terjadi ambliopia lebih singkat pada
deprivasi stimulus daripada strabismus atau anisometropia. Mekanisme
ambliopia secara neurofisiologi masih belum jelas.


3

Tabel 2.1. Tahapan Perkembangan Penglihatan.
4

2.3.2 Klasifikasi Ambliopia
1. Ambliopia Strabismik
Ambliopia yang terjadi akibat juling lama (biasanya juling ke
dalam pada anak sebelum penglihatan tetap). Ambliopia strabismik ini
merupakan salah satu bentuk ambliopia yang paling sering ditemukan
dengan onset dini (usia <6 8 tahun). Pada ambliopia strabismik
terjadi supresi pada mata untuk mencegah gangguan penglihatan
(diplopia), dimana kedudukan bola mata tidak sejajar sehingga hanya
satu mata yang diarahkan pada benda yang dilihat.
1,2

Ambliopia strabismik terjadi pada sekitar 50% pasien dengan
esotropia kongenital (konstan tropia), tetapi sangat jarang pada pasien
dengan strabismus intermiten (misal, eksotropia intermiten) atau pada
pasien strabismus yang disertai penyakit lain (misal, Duanes sindrom)

4

karena mereka dapat mengkompensasi dengan cara memalingkan
wajah saat melihat. Ambliopia strabismik dapat menjadi berat dan
pada beberapa kasus visusnya 20/200 bahkan bisa lebih buruk.
3,4
2. Ambliopia Anisometropia
Ambliopia anisometropia merupakan jenis ambliopia
terbanyak kedua setelah ambliopia strabismus. Ambliopia
anisometropia berkembang ketika terjadi kelainan refraksi yang tidak
sama pada dua mata yang menyebabkan bayangan pada satu retina
tidak fokus secara berkesinambungan. Kondisi ini sebagian dihasilkan
dari efek langsung bayangan kabur pada perkembangan tajam
penglihatan pada mata yang dipengaruhi dan sebagian dari kompetisi
interokular atau hambatan yang sama (tapi tidak perlu identik)
bertanggungjawab untuk ambliopia strabismus. Secara relatif
hiperopia derajat ringan atau anisometropia astigmat (1-2 D) dapat
memicu ambliopia ringan. Anisometropia miopia ringan (kurang dari -
3 D) biasanya tidak menyebabkan ambliopia, tapi miopia tinggi
unilateral (-6 D atau lebih) sering menghasilkan kehilangan
penglihatan ambliopia berat. Kalau strabismus ada, mata anak dengan
ambliopia isometrik terlihat normal pada keluarga dan dokter layanan
primer, secara khas menyebabkan terlambat dideteksi dan diobati.
3

3. Ambliopia deprivasi
Ambliopia deprivasi dulu disebut dengan ambliopia ex anopsia
dan ambliopia nirpakai kadang masih digunakan, yang disebabkan
oleh obstruksi visual aksis. Penyebab terbanyak adalah katarak
kongenital atau katarak didapat dini, tapi kekeruhan kornea,
perdarahan vitreus mungkin terlibat. Ambliopia deprivasi paling
sedikit terjadi tetapi paling merusak dan paling sulit diobati.
Kehilangan penglihatan ambliopia merupakan hasil dari oklusi

5

unilateral aksis visual cenderung lebih buruk daripada yang dihasilkan
dari deprivasi bilateral dengan derajat yang sama karena efek
interokular menambahkan pengaruh perkembangan langsung
degradasi bayangan berat. Bahkan pada kasus bilateral, bagaimanapun,
ketajaman penglihatan dapat 20/200 atau lebih buruk.
3
Pada anak yang lebih kecil dari 6 tahun, densitas katarak
kongenital yang menempati daerah sentral, 3 mm atau lebih dianggap
dapat menyebabkan ambliopia berat. Kepadatan lensa yang sama
didapat pada usia lebih dari 6 tahun secara umum sedikit lebih
berbahaya. Small polar katarak, dapat dilihat dengan retinoskopi, dan
katarak lamelar dapat dilihat gambaran fundusnya dengan baik, dapat
menyebabkan ambliopia ringan sampai sedang atau dapat juga tidak
berefek pada perkembangan penglihatan. Ambliopia oklusi adalah
bentuk dari ambliopia deprivasi yang bisa dilihat dari terapi oklusi.
3

2.4. Deteksi Dini Ambliopia
Deteksi dan pengobatan terbaik pada ambliopia adalah pada saat awal
kehidupan. Berbagai macam program deteksi dini banyak dilakukan pada
masa prasekolah. Para skreeners menggunakan berbagai macam metode
pemeriksaan seperti penilaian ketajaman penglihatan, tes stereopsis, dan
autorefraksi. Deteksi dini ambliopia pada masa prasekolah dapat mendeteksi
90% anak yang menderita ambliopia. Penelitian Donahue mengatakan bahwa
ada hubungan antara usia tua dengan keparahan ambliopia dan deteksi dini
ambliopa dapat memperlihatkan hasil yang baik setelah pengobatan.
Ambliopia didiagnosis ketika penurunan ketajaman penglihatan tidak
dapat dijelaskan berdasarkan abnormalitas pemeriksaan fisik dan ditemukan
berkaitan dengan penemuan kondisi yang bisa menyebabkan ambliopia.

6

Karakteristik penglihatan tidak dapat dibedakan secara nyata antara ambliopia
dengan kehilangan penglihatan lainnya. Sebagai contoh crowding
phenomenon bukan suatu patognomonik pada ambliopia.
3

Beberapa pemeriksaan digunakan untuk menegakkan diagnosis dan
derajat ambliopia. Pemeriksaan untuk mengetahui perkembangan tajam
penglihatan sejak bayi sampai usia 9 tahun perlu untuk mencegah keadaan
terlambat untuk melakukan perawatan. Pemeriksaan kedudukan mata dan
adanya reaksi pupil selain pemeriksaan fundus.
1. Penilaian ketajaman penglihatan
a. Ketajaman penglihatan jauh
Menentukan tajam penglihatan mata ambliopia pada anak-anak sangatlah
penting. Walaupun pemeriksaan dan hasil yang didapat kebanyakan kurang
penuh dipercaya. Anak yang sudah mengetahui huruf balok,dapat dilakukan
pemeriksaan Snellen chart. Untuk non-verbal snellen, yang banyak
digunakan tes E atau HOTV. Tes lain berupa dengan simbol LEA.
Bentuk ini mudah bagi anak usia sekitar 1 tahun (toddler) karena huruf ini
mirip dengan konfigurasi huruf Snellen.
b. Ketajaman penglihatan dekat
Ketajaman penglihatan dekat baik dikoreksi atau tidak dikoreksi harus
ditentukan, dan juga harus disesuaikan dengan usia. Bila ketidakakuratan
dalam melihat dekat, ketajaman penglihatan dekat tidak dapat dibedakan
dengan ketajaman penglihatan jauh pada anak-anak. Pengukuran ketajaman
penglihatan dekat pada anak-anak dengan pengurangan visual menentukan
bagaimana fungsinya disekolah.



7

2 . Tes crowding phenomenon
Telah diketahui bahwa penderita ambliopia sulit untuk
menhidentifikasi huruf yang tersusun linier dibandingkan huruf yang
terisolasi, maka dapat kita lakukan dengan meletakkan balok disekitar huruf
tunggal. Terkadang mata ambliopia dengan tajam penglihatan 6/6 pada huruf
isolasi dapat turun hingga 6/30 bila ada interaksi bentuk (countur
interaction). Perbedaan yang besar ini terkadang muncul juga sewaktu pasien
yang sedang diobati kontrol, dimana tajam penglihatannya jauh lebih baik
pada huruf isolasi dibanding huruf linier. Oleh karena itu ambliopia belum
bisa dikatakan sembuh hingga penglihatan huruf linier kembali normal.
Penderita diminta membaca huruf kartu snellen sampai huruf terkecil
yang dibuka satu persatu atau yang diisolasi, kemudian isolasi huruf dibuka
satu persatu dan pasien diminta membaca sebaris huruf yang sama. Bila
terjadi penurunan ketajaman penglihatan dari huruf isolasi ke huruf dalam
baris maka ini disebut adanya fenomena crowding pada mata tersebut. Mata
ini menderita ambliopia.
3.Uji densiti filter netral
Tes ini digunakan untuk membedakan ambliopia fungsional dan
organik. Filter Densitas Netral (FDN) dengan densitas yang cukup untuk
menurunkan tajam penglihatan normal 6/6 menjadi 6/12 yang diletakkan di
depan mata ambliopia. Bila pasien menderita ambliopia tajam penglihatan
dengan FDN tetap sama dengan visus sebelumnya atau bisa sedikit membaik.
Jika pasien menderita ambliopia organik maka tajam penglihatan menurun
secara nyata, contoh dari visus 6/30 menjadi hitung jari atau lambaian
tangan. Tes ini sangat penting dilakukan dalam screening cepat sebelum
dilakukannya tes oklusi, apabila penyebab ambliopia tidak jelas.


8

Contoh keterangan :
a. pada saat mata yang sehat ditutup, filter ditempatkan di depan mata
yang ambliopia selama 1 menit sebelum diperiksa visusnya
b. tanpa filter pasien bisa membaca 20/40
c. dengan filter, visus tetap 20/40 atau membaik satu baris pada
ambliopia fungsional
d. dengan filter, visus menurun 3 baris atau lebih pada ambliopa
organik
Dasar uji adalah diketahuinya bahwa pada mata yang ambliopia secara
fisiologik berada dalam keadaan beradaptasi gelap, sehingga bila pada mata
ambliopia dilakukan uji penglihatan dengan intensitas sinar yang direndahkan
(memakai filter densiti netral) tidak akan terjadi penurunan ketajaman
penglihatan.
Dilakukan dengan memakai filter yang perlahan-lahan digelapkan
sehingga tajam penglihatan pada mata normal turun 50% pada mata ambliopia
fungsional tidak akan atau hanya sedikit menurunkan tajam penglihatan pada
pemeriksaan sebelumnya.
Bila ambliopia adalah fungsional maka paling banyak tajam penglihatan
berkurang satu baris atau tidak terganggu sama sekali. Bila mata tersebut
ambliopia organik maka tajam penglihatan akan sangat menurun dengan
pemakaian filter tersebut.
4. Uji Worths Four Dot
Uji untuk melihat penglihatan binokular, adanya fusi, korespondensi
retina abnormal, supresi pada satu mata dan juling. Penderita memakai
kacamata dengan filter merah pada mata kanan dan filter biru pada mata kiri
lalu melihat pada objek 4 titik dimana satu berwarna merah, 2 hijau, 1 putih.

9

Lampu atau titik putih akan terlihat merah oleh mata kanan dan hijau oleh
mata kiri. Lampu merah hanya dapat dilihat oleh mata kanan dan lampu hijau
hanya dapat dilihat oleh mata kiri. Bila fusi baik maka akan terlihat 4 titik dan
sedang lampu putih terlihat sebagai lampu campuran hijau dan merah. 4 titik
juga akan dilihat oleh mata juling akan tetapi telah terjadi korespondensi
retina yang tidak normal. Bila terdapat supresi maka akan terlihat hanya 2
merah bila mata dominan kanan atau 3 hijau bila mata kiri dominan. Bila
terlihat 5 titik (3 merah dan 2 hijau yang saling bersilangan) berarti mata
dalam keadaan eksotropia dan bila tidak bersilangan berarti mata
berkedudukan esotropia.




10

BAB III
PENUTUP

3.1. KESIMPULAN
Ambliopia adalah keadaan berkurangnya tajam penglihatan tetapi tidak
disertai kelainan organik pada mata dan tidak ada perbaikan dengan koreksi
refraksi.
Ambliopia terjadi selama kritikal period yakni dimasa perkembangan
penglihatan yaitu dibawah umur 2 tahun.
Pembagian ambliopia berdasarkan penyebab dapat dibagi menjadi ambliopia
strabismik, ambliopia anisometropia, dan ambliopia deprivasi.
Deteksi dini ambliopia dapat mendeteksi 90% anak-anak yang menderita
ambliopia. Hasil yang baik dari koreksi ambliopia ini sangat berhubungan
dengan umur.
Ambliopia didiagnosis ketika penurunan ketajaman penglihatan tidak bisa
dijelaskan berdasarkan kelainan yang ditemukan pada pemeriksaan fisik.
Untuk medeteksi dini ambliopia dilakukan beberapa pemeriksaan yakni
ketajaman penglihatan, tes crowding phenomenon, uji densiti filter netral, dan
uji worths four dot.


11

DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas, Prof. Dr. H. Sidarta. 2006. Ilmu Penyakit Mata. Edisi Ketiga. Balai
Penerbit FKUI. Jakarta.
2. Krieglstein GK, Weinreb RN . 2006. Essential in Ophtalmology: Pediatric
Ophtalmology, Neuro-Ophtalmology, Genetics. Springer: New York
3. American Academy Ophtalmology. 2006. Pediatric Ophtalmology. San
Fransisco.
4. Wright, Kenneth W, et.al. 2006. Handbook of Pediatric Ophtalmology and
Strabismus. Springer: New York.
5. Wallace, David K. 2009. Pediatric Ophtalmology. Springer: New York