Anda di halaman 1dari 6

PEMBAHASAN

PEMIKIRAN POLITIK ISLAM INDONESIA M. AMIEN RAIS


Konsep-Konsep Tauhid, Syariat, dan Agama
Paradigma pemahaman keagamaan yang berkaitan dengan pemikiran politik islam Indonesia
M. Amien Rais berorientasi pada konsep-konsep tauhid, syariat dan Agama.
a. Tauhid : sumber dan dasar penegakkan keadilan sosial
Menurut Amien Rais, ada dua jenis tauhid yakni tauhid aqidah (tuhidullah) dan tauhid sosial.
Tauhid aqidah merupakan dua kategori yang dikenal dalam ilmu ushuluddin yakni tauhid
uluhiyyah dan tauhid rubiyyah. Sedngkan tauhid sosial adalah dimensi sosial dari tauhid
aqidah. Konsep tauhid sosila dimaksudkan agar tauhid aqidah yang sudah tertanam dalam
pemikiran umat islam dapat direalisasikan kedalam realitas sosial secara kongkret.
1

Menurut Amien Rais, seorang politisi haruslah bersandar pada moralitas dan etika yang
bersumber pada ajaran tauhid. Bila moralitas dan etika tauhid dilepaskan dari politik, maka
politik itu akan chaos tanpa arah, sehingga berdampak pada kesengsaraan rakyat. Amien Rais
mengungkapkan bahwa:
.Politik merupakan salah satu kegiatan penting, mengingat bahwa suatu masyarakat
hanya bisa hidup secara teratur kalau ia hidup dan tinggal dalam sebuah negara dengan
segala perangkat kekuasaannya. Sedemikian penting peranan politik dalam masyarakat
modern, sehingga banyak orang berpendapat bahwa politik adalah panglima. Artinya,
politik sangat menentukan corak sosial, ekonomi, budaya, hukum, dan berbagai aspek
kehidupan lainnya.
2

Konsep tauhid memiliki pengaruh sosial yang sangat signifikan. Melalui konsep tauhid
sosial, Amien Rais tergerak untuk menerapkan keadilan sosial. Artinya, tujuan awal dari
gagasan tauhid sosial adalah terwujudnya masyarakat yang adil serta mendapatkan ridha
Tuhan. Konsep ini didasarkan pada pemahaman bahwa benang merah Islam itu adalah

1
M. Amien Rais, Tauhid Sosial, op.cit, hal. 107-108; lihat juga Membangun Politik Adiluhung, op.cit,
hal 127. (dalam uinsgd.ac.id/_multimedia/document/20121003/20121003161148_pandangan-m.-
amien-rais-tentang-politik-islam-indonesia-solihin_.pdf)
2
(Amien, 1995:81-85)
keadilan.
3
Bahkan secara tegas Amien Rais mengatakan bahwa hal pertama yang harus
ditegakkan menurut al-Quran adalah kedilan baru kemudian berbuat kebajikan.
4

Penegakkan keadilan sosial menurut Amien Rais dapat dilakukan dengan dua cara, yakni:
1. bersifat jangka pendek (sementara), yaitu dengan cara menyantuni orang-orang serba
kekurangan.
2. uapaya-upaya yang berdimensi jangka panjang, yaitu penyelesaian persoalan melalui cara
pelacakan dan pembongkaran terhadap fondasi dan bangunan yang menjadi sumber persoalan
ketidakadilan sosial tersebut.
Dalam hal tersebut menunjukan begitu pentingnya tauhid sosial dalam pemikiran Amien
Rais. Tauhid sosial merupakan sentrum dan esensi dari seluruh ajaran Islam.
5
Oleh karena itu,
seluruh kehidupan umat muslim harus besandar terhadap tauhid. Karena dengan hal tersebut,
umat Islam dapat mencapai suatu kesatuan monoteistik (monotheistic unity) yang meliputi
semua bidang dan kehidupan termasuk kehidupan berbangsa dan berpemerintahan.
6

b. Syariah sebagai sistem hukum
Sebagai hukum Tuhan Syariat menempati posisi yang sangat penting dalam masyarakat
Islam. Sebab Syariat mencakup moaral, prilaku, tata aturan, mulai dari peribadatan hingga
urusan kenegaraan, yang secara keseluruhan sangat bergantung pada kesadaran manusia.
7

Sebagai sistem hukum, syariat menurut Amien Rais merupakan hukum yang lengkap dan
terpadu.
8
Pemikiran yang berawal atau ebrpusat dari tauhid kemudian melahirkan teori-teori
yang ebrtumpu kepada syariat. Syariat merupakan prinsip-prinsip atau aturan universal
yang mendedukasi tauhid ke dalam sistem ajaran yang menjadi jalan hidup (ways of life) bagi
umat Islam. Syariat yang termuat dalam Al-Quran dan Hadits telah memberikan skema
kehidupan (scheme of life) yang sangat jelas.

3
M. Amien Rais, Tauhid Sosial,op.cit, hal. 110
4
Dedy Djamaluddin Malik dan Idi Subandy Ibrahim, Zaman Baru Islam Indonesia, op.cit., hal. 10;
M. Amien Rais, Membangun Politik Adiluhung, op. cit., hal 127
5
Umaruddin Masdar, Membaca Pikiran Gusdur dan Amien Rais, op.cit., hal. 88-89.
6
M. Amien Rais , Cakrawala Islam, op.cit., hal.42
7
Mustolah Maufur, Pengantar Penerjemah, dalam salim Ali Al-Bahnasawi, Pustaka Al-
kautsar, Jakarta, 1996, cet. I, hal. ii
8
M. Amien Rais, Cakrawala Islam, op.cit., hal. 52
Menurut pemikiran Amien Rais, syariat bukan hanya menunjukan apa yang termasuk
marufat dan apa yang tegolong dalam munkara, melainkan juga menentukan skema
kehidupan untuk menumbuhkan marufat dan mencegah munkarat. Syariat adalah kode
kehidupan yang fleksibel serta dinamis yang diberiakn Islam kepada manusia untuk mengatur
kehidupannya. Bagi Amien Rais, Syariat merupakan sistem hukum yang lengkap dan telah
meletakkan dasar-dasar, tidak hanya bagi hukum konstitusional, tetapi juga hukum
administratif, pidana, perdata, bakan hukum internasional.
Menurut Amien Rais ada dua kategori hukum, yakni:
1. kategori hukum Islam yang tidak berubah dan tidak dapat diubah, yang sifatnya sangat
menentukan nasib dan kehidupan manusia.
2. elemen-elemen hukum yang dapat dimodifiaksi sesuai dengan dinamika zaman dan
perekembangan masyarakat.
c. Agama: antara cita (normativitas) dan fakta (historisitas)
Islam pada hakekatnya adalah suatu agama, juga suatu budaya dalam dirinya sendiri dan
peradaban yang menopang dirinya sendiri.
9
Oleh karena itu, prinsip agama Islam terdiri dari
dua pilar, yakni: nilai spiritualitas tauhid dan nilai-nilai keadilan dalam kehidupan sosial
kemasyarakatan.
10
Proses dialog antara agama dengan realitas dalam bentuk penghadapan
secara dialogis antara normativitas wahyu di satu sisi dan historisitas berupa pemahaman
manusia terhadap wahyu.
Menurut Amien Rais, paling tidak ada lima agenda utama terkait dengan pembaruan Islam
yang harus direalisasikan secara serius.
1. pembaruan aqidah
2. pembaruan teologi Islam
3. pembaruan ilmu pengetahuan dan teknologi
4. pembaruan organisasi dan manajemen

9
M. Amien Rais , Cakrawala Islam, Ibid., hal. 92-93 dan 94-95
10
M. Amin Abdullah, Dinamika Isam Kultural Pemetaan Atas Wacana Keislaman Kontemporer,
Mizan, Bandung, 2000, Cet. I, hal. 203.
5. pembaruan etos kerja.
Menurut Amien Rais, umat Islam berada dalam kesenjangan antara wilayah normativitas-
idealitas wahyu sebagai sumber ajaran, denagn wilayah historisitas-realitas sebagai praktek
keberagaman umat. Dalam kata lain adanya Islam Ideal adalah Islam dalam teori dan
Islam Sejarah adalah Islam dalam praktek.
Konsep Politik dan Kekuasaan menurut Pemikiran M. Amien Rais
Amien Rais menegaskan bahwa partisipasi politik yang berujung pada pencapaian kekuasaan
bukan merupakan hak monopoli kalangan tertentu saja, melainkan terbuka untuk siapa saja.
Dalam pandangannya, masyarakat muslim pun sejatinya harus berpartisipasi aktif dalam
kegiatan itu. Hal tersebut karena Islam merupakan agama yang bersifat komprehensif,
menyentuh segala bidang kehidupan, termasuk di dalamnya menganjurkan umat Islam untuk
terlibat dalam kegiatan politik. Akan tetapi, menurut Amien Rais, politik yang dikehendaki
oleh Islam adalah politik yang wajar, konstitusional, legal, terbuka, demokratis dengan
mengindahkan akhlak dan moral agama itu sendiri. Kegiatan politik menurutnya harus
menjadi bagian integral bagi kehidupan seorang muslim.
Politik selalu berkaitan dengan kekuasaan (power). Menurut Amien Rais, politik kepartaian,
proses rekruitment pejabat atau pegawai, proses agregasi dan artikulasi kepentingan, proses
pemecahan konflik kepentingan antargolongan dalam masyarakat, proses pembuatan
keputusan politik domestik maupun luar negeri dan lain sebagainya, adalah contoh-contoh
kegiatan politik yang tidak dapat dilepaskan dari fondasi moral dan etika yang dianut.
11

Dalam kaca mata Islam menurutnya ada dua jenis politik yaitu politik berdimensi moral dan
etis (high politics) dan politik kualitas rendah atau politik cenderung nista (low politics).
Amien Rais mencontohkan: Bila sebuah organisasi menunjukan sikap yang tegas terhadap
korupsi, mengajak masyarakat luas untuk memerangi ketidakadilan, mengimbau pemerintah
untuk terus menggelindingkan proses demokrasi dan keterbukaan, maka organisasi tersebut
pada hakikatnya sedang memainkan high politics. Sebaliknya, bila sebuah organisasi
melakukan gerakan maneuver politik untuk memperebutkan kursi DPR, minta bgian di
lembaga eksekutif, membuat kelompok penekan, membangun lobi, serta berkasak-kusuk
untuk mempertahankan atau memperluas vested interest, maka organisasi tesebut sedang
melakukan low politics.

11
Ibid.
Bagi Amien Rais, membangun suatu negara yang terlepas dari fundamental ajaran Islam
berarti membangun negara yang sekularistis, yang kehilangan dimensi spiritual dan menjurus
pada kehidupan yang serba material, yang di dalamnya petunjuk wahyu hanya disebut-sebut
secara berkala dalam kesempatan-kesempatan tertentu.
KESIMPULAN
Dalam konteks pemikiran politik Islam Indonesia saat ini, khususnya pasca reformasi yang
melahirkan banyak partai Islam, pemikiran politik Islam Abdurahman wahid (Gusdur) dan
M. Amien Rais ini sangat relevan untuk dijadikan bagian dari pemikiran politik Islam di
Indonesia. Hal ini menjadi kesinambungan historis dari wacana politik Islam masa Orde
Baru. Dalam Pemikirannya, Amien Rais menegaskan bahwa hukum Allah yang terdapat
dalam Al-Quran merupakan hukum yang lengkap dan terpadu, yang tidak dapat dikalahkan
oleh hukum buatan manusia. Begitu juga hubungan politik antara Islam dan negara
menurutnya, bahwa politik merupakan media dakwah dalam kemaslahatan umat. Berkenaan
dengan hubungan antara Islam dan negara, paradigma yang dibangun dan dikembangkan oleh
Amien Rais lebih ditekankan pada aspek substansi daripada bentuk.












DAFTAR PUSTAKA
M. Amien Rais, 1991, Cakrawala Islam antara Cita dan Fakta, Mizan, Bandung, Cet. III.
M. Amien Rais, 1998, Tauhid Sosial Formula Menggempur Kesenjangan, Mizan, Bandung,
Cet. III.
M. Amin Abdullah, 2000, Dinamika Isam Kultural Pemetaan Atas Wacana Keislaman
Kontemporer, Mizan, Bandung, Cet. I,
uinsgd.ac.id/_multimedia/document/20121003/20121003161148_pandangan-m.-amien-rais-tentang-
politik-islam-indonesia-solihin_.pdf
http://pemikiranislam.files.wordpress.com/2007/07/makalah-ilmiah.doc