Anda di halaman 1dari 1

NASEHAT SEKITAR PROBLEMATIKA WANITA DAN DOKTER LAKI-LAKI

Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Baz

Pertanyaan.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya : "Apa pendapat yang mulai Syaikh Abdul
Aziz
bin Baz dalam masalah wanita yang sering dipertanyakan dan menyulitkan kaum
muslimin, yaitu masalah wanita dengan dokter laki-laki. Apa nasehat anda
bagi
para saudari-saudari muslimah tentang masalah ini ? Dan apa saran anda
untuk
pemerintah ?

Jawaban.
Tidak diragukan lagi bahwa problematika seorang wanita dengan dokter laki-
laki
adalah problematika yang penting dan sesungguhnya hal tersebut banyak
menyulitkan. Tetapi apabila Allah memberi ketakwaan dan akal kepadaseorang
wanita, maka tentulah ia akan berhati-hati untuk menjaga dirinya dan
memperhatikan masalah ini. Maka ia tidak boleh berdua-duan dengan dokter
laki-laki dan seorang dokter laki-laki tidak diperbolehkan untuk berdua-
duan
dengannya.

Sesungguhnya telah ada peraturan pemerintah yang mengatur hal itu. Maka
seorang
wanita hendaknya memperhatikan masalah ini dan berusaha semampunya untuk
mencari dokter wanita. Apabila ia bisa menemukan dokter wanita, maka
-segala
puji bagi Allah- dan dokter laki-laki tidak lagi dibutuhkan. Apabila ada
kepentingan yang mengharuskannya mendatangi dokter laki-laki karena
ketiadaan
dokter wanita maka tidak ada larangan -ketika ada kepentingan- untuk
membuka
aurat dan mengobatinya dan ini termasuk perkara-perkara yang diperbolehkan
ketika ada kebutuhan mendasar. Tetapi membuka aurat tidak bisa dilakukan
hanya
dengan berduaan namun harus ditemani mahramnya atau suaminya apabila yang
dibuka adalah anggota badan yang luar seperti kepala, tangan, kaki, dan
semisalnya.

Dan apabila yang dibuka adalah aurat, maka harus disertai dengan suaminya,
apabila ia mempunyai suami atau wanita lain, dan ini lebih baik dan lebih
selamat. Atau dengan kehadiran seorang perawat atau dua orang perawat,
tetapi
apabila ditemukan seorang wanita selain perawat maka hal tersebut akan
lebih
baik dan lebih terpelihara dari keraguan. Adapun berkhalwat dengan alasan
yang
demikian tidaklah diperbolehkan.

[Majmu' Fatawa wa Maqalat Mutanawwi'ah, Syaikh Bin Baz, 5/392]