Anda di halaman 1dari 3

Poligami

"Hanya di Islam Poligami dibolehkan, Agama lain melarang Poligami!"


Hampir jungkir balik saya mendengar komentar seorang teman (padahal dia Muslimah)
seperti ini.
Sepertinya program pengrusakan keyakinan terhadap Islam mulai menampakkan hasilnya.
Memang kelompok yang memusuhi Islam telah memprogramkan hal ini. Untuk
menghancurkan Islam tidak bisa dengan memerangi Islam, tapi rusak moral generasi
mudanya dan hilangkan keyakinan mereka terhadap ajaran agama mereka.

Saya hanya bisa menghela nafas dengan berat. Saya minta kepada kawan tersebut untuk
membawakan satu ayat saja dalam Kitab suci manapun yang melarang Poligami. Mungkin
dia malah belum pernah memegang Al Kitab (Bibel), Wedha atau Tripitaka. Jadi, yang
dikatakannya itu adalah apa yang didengarnya dari musuh Islam. Semoga dia mau
mempelajari lebih banyak.

Dari 2 kitab suci yang pernah saya baca, baru Al Quran lah yang secara tegas melakukan
pembatasan jumlah istri sebanyak 4, tetapi bila TIDAK MAMPU berlaku ADIL kawini 1
saja. Sedangkan di kitab lainnya, tidak ada batasan jelas, walaupun ada larangan bercerai.
Jadi sangat dimungkinkan terjadi Poligami bukan??? Lihatlah dari kisah2 setiap Agama
dimana para orang pilihan pun ber-poligami.

Beristri lebih dari 1 (dengan batas 4) memang dibolehkan, tapi bagi saya itu bukan anjuran
apalagi perintah. Bagi mereka yang merasa mampu berlaku adil, silahkan. Saya angkat topi
dengan keyakinan mereka. Tapi jangan kawin sembunyi2 dengan dalih poligami, karena itu
menimbulkan fitnah. Padahal Rasulullah memerintahkan untuk mengabarkan pernikahan.

Memang banyak kalangan (terutama dari kaum feminis) yang menentang keras poligami.
Mereka beralasan, poligami menyakiti hati wanita. Oke, saya tau mungkin sangat sedikit
wanita yang ikhlas dimadu (bukan berarti tidak ada seperti kata mereka). Tapi saya heran,
mereka menentang keras poligami bahkan memboikot usaha pelaku poligami, tapi kok tidak
ada penentangan keras terhadap pelaku zina dan pemboikotan dari pergaulan dengan para
pezina. Padahal para pezina itu menyakiti hati seorang wanita yang seharusnya paling kita
muliakan di dunia ini yaitu IBU. Saya mau bertanya, sakit mana hati seorang Ibu yang
anaknya berzina dan di-zinahi dibandingkan dengan hati seorang wanita yang dimadu (secara
terus-terang/poligami). Oke kalau mereka - atas nama HAM dan emansipasi wanita -
menentang/memboikot para POLIGAMER. Tapi saya minta mereka fair dengan
menentang/memboikot dari pergaulan para ZINAHER (he..he.. istilah baru nih).

Laki-laki tidak akan bisa berlaku adil, bahkan di dalam Al Quran ditegaskan "Kau tak akan
bisa berlaku adil walaupun kau SANGAT INGIN BERLAKU ADIL". Benar, keadilan di
dunia ini bersifat relatif dan subyektif. Bagaimanapun usaha seorang suami untuk adil, istri
yang dimadu pasti akan ada rasa cemburu. Bahkan Rasul yang paling mulia pun tidak bisa
terhindar dari hal ini. Tapi ingat, di dalam Islam yang diutamakan adalah usahanya. Bila
seseorang berusaha sungguh-sungguh, dia akan dianggap sudah berlaku adil (Ingat, usaha
sungguh-sungguh). Bukankah seorang yang berusaha sungguh-sungguh dalam ijtihad, bila
dia benar mendapat 2 pahala sedangkan bila salah mendapat 1 pahala? Selain itu, bila
penegasan Allah bahwa manusia tidak akan bisa berlaku adil menjadi alasan untuk menasakh
(menghapus/membatalkan) pembolehan poligami, ini juga salah. Sebab dalam Al Quran juga
dikatakan "Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu tidak berlaku adil
terhadap mereka". Apakah berarti perintah ini batal? Apakah kita jadi boleh menganiaya
golongan yang kita benci tanpa alasan? Tolong dipikirkan.

Serangan lain yang ditujukan bagi ’sedikit’ wanita yang rela dimadu adalah dengan alasan
Ekonomi dan Dogma Agama. Alasan Ekonomi mungkin benar. Tapi apa salahnya?
Bukankah yang bermonogami juga banyak karena alasan ekonomi (bahkan sangat
keterlaluan/matre)? Seorang wanita rela dimadu karena dia menggantungkan hidupnya dari
nafkah suami adalah lebih terhormat dari pada wanita yang mau mandiri secara ekonomi
dengan menjual tubuh (Baik melacur secara harfiah, maupun melacur atas nama seni).

Bagaimana dengan Dogma Agama (bahwa akan disediakan sorga bagi wanita yang rela
dimadu)? Mungkin ini perlu penjelasan mendalam. Di dalam Al Quran dikatakan "Tidak lah
Kami (Allah) timpakan ujian/cobaan bagi manusia dengan apa yang tidak mampu
ditanggungnya". Jadi, bila seorang wanita berhasil lulus dalam ujian ini, derajatnya di mata
Allah meningkat. Wajar bukan dengan janji sorga dari Allah? Bagi mereka yang tidak
mampu menanggung ujian poligami ini, berarti kemampuannya hanya sampai disitu. Untuk
mencari sorga masih juga tersedia jalan-jalan yang lain dengan ujian yang berbeda. Jadi
jangan risau (Tenanglah istriku, masih banyak jalan).

Kalau kita mau fair, mereka yang menolak poligami juga disebabkan Dogma pihak yang mau
menjelek-jelekkan Islam. Dogma itu seperti : "Poligami menyakiti hati wanita", "Laki-laki
tak akan bisa adil", "Hanya Islam yang membolehkan Poligami (sebagai bentuk penindasan
terhadap wanita kata mereka)". dan lain-lain. Teman tadi juga pernah mengatakan bahwa
banyak contoh rumah tangga yang hancur karena poligami. Pertanyannya, tidak banyakkah
rumah tangga monogami yang hancur? Apakah berarti kita tinggalkan saja perkawinan
(Monogami maupun poligami), dan mulai kumpul kebo? Justru Kumpul Kebo adalah bentuk
pelecehan terhadap wanita menurut saya. Dengan model ini, si wanita bebas di’pake’ tanpa
tanggung jawab. Ini benar-benar pelecehan serendah-rendahnya terhadap wanita,
na’udzubillah mindzalik. Bagi saya, perkataan seorang Poligamer lebih bisa saya percaya
(Sebab dia berani menanggung resiko dengan berpoligami) dari pada seorang Zinaher,
Kumpul-keboer, selingkuher dan er-er lainnya yang tidak siap bertanggung jawab (Tidak siap
menerima resiko). Bagi saya, prinsip High Risk High Gain adalah benar.

Kesimpulannya, seperti dikatakan di dalam Al Quran, "Tidaklah patut bagi laki-laki beriman
dan perempuan beriman, bila Allah dan Rasulnya menetapkan sesuatu bai urusan mereka
akan ada pilihan lain bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang mendurhakai Allah,
mereka di dalam kesesatan yang nyata". Dan di lain ayat, "Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kau HARAMKAN sesuatu yang baik yang di HALALKAN Allah bagimu dan
janganlah BERLEBIH-LEBIHAN. Sesungguhnya Allah membenci orang yang berlebih-
lebihan".

This entry was posted on Sunday, April 23rd, 2006 at 10:36 pm and is filed under Religion. You can follow any
responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can skip to the end and leave a response. Pinging is
currently not allowed.

One Response to “Poligami”

1. rai Says:
May 2nd, 2006 at 8:22 pm
Pada dasarnya, saya sependapat dengan saudara Bobeto mengenai poligami. Dulu,
orang-orang sebelum Islam mengawini wanita sesuka hati mereka tanpa ada aturan
dan ikatan. Maka ketika Islam datang ditetapkanlah batasan dalam jumlah dan
ditentukan pula persyaratannya.
Dari segi jumlah: ditetapkan maksimal sampai empat dan sama sekali tidak boleh
lebih dari itu.
Sedang persyaratannya: tercermin pada keyakinan seorang pria tentang adanya sikap
adil pada dirinya, sebab kalau tidak, diharamkan baginya untuk kawin dengan wanita
lain.
Selain itu, harus pula memenuhi syarat-syarat lain, seperti kemampuan untuk
memberikan belanja dan kemampuan membentengi diri sendiri.
Islam mentolerir hal itu karena ia merupakan agama yang merupakan realitas, tidak
berputar pada tataran ide-ide yang hanya menjanjikan mimpi, sementara persoalan-
persoalan kehidupan dibiarkan tanpa ada solusi yang mampu dijalankan.
Perkawinan kedua terkadang dapat mengatasi permasalahan yang sering menimpa
kaum laki-laki yang istrinya tidak mampu memberi keturunan, atau yang istrinya
mengalami masa haid yang panjang sedangkan dirinya seorang pria yang memiliki
naluri biologis yang besar, atau yang istrinya mengidap suatu penyakit sedang mereka
tidak menghendaki perpisahan, dan sebagainya.
Terkadang merupakan solusi pula bagi problematika yang dihadapi para janda yang
ditinggal mati suaminya, yang tidak berambisi untuk menikah dengan pemuda yang
tidak mempunyai istri. Sama seperti wanita muda yang dicerai oleh suaminya, terlebih
lagi apabila ia memiliki seorang anak balita atau lebih.
Kadangkala juga menjadi solusi bagi problematika seluruh masyarakat, pada masa di
mana populasi wanita yang telah memasuki usia perkawinan meningkat jauh di atas
populasi kaum pria yang mampu untuk hidup berumah tangga. Persoalan ini akan
terus berlanjut, kian meluas pada masa-masa perang dan sebagainya.
Lantas apa yang kita lakukan terhadap jumlah kaum wanita yang melimpah itu?
Tentunya salah satu dari tiga alternatif berikut:
1. Mereka menghabiskan seluruh umur dalam keadaan terlarang dari kehidupan
perkawinan dan keibuan. Ini jelas merupakan kezhaliman terhadap mereka.
2. Memuaskan dorongan biologis mereka dengan cara di luar norma agama dan
moralitas. Ini juga jelas merupakan kerusakan bagi mereka.
3. Memilih menerima kawin dengan pria beristri yang mampu memenuhi kebutuhan
belanja dan sanggup membentengi diri sendiri serta dipercaya memiliki sikap adil,…
dan sepertinya inilah pemecahan yang pantas.
Adapun sering terjadinya penyalahgunaan keringanan atau hak ini, banyak hak-hak
yang lain disalahgunakan dan diselewengkan, namun tidak menyebabkan
pengguguran dan pembatalannya. Bahkan perkawinan pertama itu sendiri, berapa
banyak yang disalahgunakan dan diselewengkan, apakah kita harus menghapusnya?
Selain itu, hak kebebasan misalnya: berapa banyak yang disalahgunakan, apakah kita
harus meniadakan pula? Juga pemilihan-pemilihan umum, seringkali pula
diselewengkan, maka apakah kita harus menghapuskan kekuasaan? Bagaimanapun
bentuk dari penyalahgunaan dan penyelewengan itu, apakah itu kita harus
menghapuskan pemerintahan dan membiarkan kehidupan ini mengalami kekacauan?
Jadi, jalan terbaiknya daripada kita harus menghapuskan hak, lebih baik membuat
aturan-aturan dalam penggunaannya, dengan tidak lupa menjatuhkan sanksi terhadap
siapa pun yang mencoba melanggarnya sesuai dengan kemampuan kita.