Anda di halaman 1dari 15

5

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi Tanaman Padi
Menurut van Steenis (2005), tanaman padi (Oryza sativa L)
mempunyai klasifikasi sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Subdivisio : Angiospermae
Class : Monocotyledoneae
Ordo : Poales
Familia : Poaceae
Genus : Oryza
Species : Oryza sativa L

2.2 Deskripsi Tanaman padi
Tanaman padi (Oryza sativa) termasuk keluarga padi-padian atau
Poaceae. Tanaman ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : batangnya beruas-
ruas yang didalamnya berongga, tingginya 1 sampai 1,5 meter. Pada tiap buku
batang tumbuh daun yang berbentuk pita dan berpelepah, tulang daun sejajar,
helaian daun berbentuk garis, panjang 15-80 cm, kebanyakan dengan tepi
kasar, akarnya serabut. Malai panjang 15-40 cm, tumbuh ke atas ujung
menggantung, cabang malai kasar. Anak bulir sangat aneka ragam; tidak

5
6

berjarum, berjarum pendek atau panjang, berjarum licin atau kasar, hijau atau
coklat, gundul atau berambut; panjang 7-10 mm. Bunga majemuk dengan
satuan bunga berupa floret, floret tersusun dalam spikelet. Buah dan biji sulit
dibedakan karena merupakan bulir atau kariopsis. Pada waktu masak buah
kuning rontok atau tidak. Buah berbeda, kadang-kadang kaya pati, kadang-
kadang kaya perekat (ketan). Dipelihara atau liar ; kebanyakan di tempat yang
basah atau rawa (van Steenis, 2005).
Padi gogo aromatik tahan terhadap penyakit blast dan tahan rebah,
mempunyai sifat lebih adaptif terhadap lahan kering serta sifat nasi yang pulen
dan wangi (Yuwanda, 2008).

2.3. Syarat Tumbuh Tanaman Padi
2.3.1 Iklim
Tanaman padi dapat tumbuh di daerah tropis/subtropis pada 45
o

LU dan 45
o
LS dengan cuaca panas dan kelembaban tinggi. Rata-rata
curah hujan yang baik adalah 200 mm/bulan atau 1500-2000 mm/tahun.
Ada dua tipe tanaman padi yaitu padi pada daerah dataran rendah
dengan ketinggian 0-650 m dpl dengan temperatur 2227
o
C dan padi di
dataran tinggi dengan ketinggian 6501500 m dpl dengan temperatur
1923
o
C. Tanaman padi memerlukan penyinaran matahari penuh tanpa
naungan. Angin berpengaruh pada penyerbukan dan pembuahan tetapi
jika terlalu kencang akan merobohkan tanaman.
7

2.3.2 Media tanam
a. Padi Sawah
Padi sawah ditanam di tanah berlempung yang berat atau
tanah yang memiliki lapisan keras 30 cm di bawah permukaan
tanah. Menghendaki tanah lumpur yang subur dengan ketebalan
18-22 cm. Keasaman tanah antara pH 4,0 sampai 7,0.
b. Padi Gogo
Padi gogo harus di tanam di lahan yang humus, struktur
remah dan cukup mengandung air dan udara. Memerlukan
ketebalan tanah 25 cm, tanah yang cocok bervariasi mulai dari
yang berliat, berdebu halus, berlempung halus sampai tanah yang
kasar dan air yang tersedia diperlukan cukup banyak. Sebaiknya
tanah tidak berbatu, jika ada harus <50 %. Keasaman tanah
bervariasi dari 4,0 sampai 8,0.

2.4 Perkembangan Padi Gogo
Indonesia memiliki lahan kering dengan luasan lebih dari 55,6 juta
hektar yang sampai saat ini belum dimanfaatkan secara optimal. Salah satu
cara pemanfaatan lahan kering yaitu dengan budidaya padi gogo. Data deptan
(2008) sepuluh tahun terakhir menunjukan bahwa luas pertanaman dan
produksi padi gogo dari tahun ke tahun relativ tetap (Tabel 2.1). Disisi lain,
produktivitas padi gogo juga masih rendah dibandingkan padi sawah. Tahun
2007, produktivitas padi gogo hanya 2,67 ton/ha lebih rendah dari padi sawah
8

yang mencapai 4,89 ton/ha . Akibatnya, kontribusi padi gogo terhadap padi
nasional sampai saat ini hanya pada kisaran 5 6 % saja.
Perkembangan padi gogo di Indonesia tidak secepat perkembangan
padi sawahnya. Hal ini tercermin dari peningkatan produktivitas padi gogo
dan padi sawah dari tahun 1970 sampai 2007. Selama kurun waktu 37 tahun
produktivitas padi gogo hanya meningkat 1,56 ton/ha yaitu dari 1,11 ton/ha
menjadi 2,67 ton/ha, sedangkan peningkatan produktivitas padi sawah
mencapai 3,18 ton/ha yaitu dari 1,71 ton/ha menjadi 4,89 ton/ha (Deptan,
2008). Hal ini tidak lepas dari perhatian pemerintah yang lebih
menitikberatkan pada pengembangan padi sawah dibandingkan padi gogo.
Pengembangan padi gogo yang pelan juga tercermin dari varietas
unggul padi gogo. Beberapa varietas unggul padi gogo adalah Batur, Danau
Atas, Poso, Laut Tawar, C22 dan Danau Tempe yang dilepas pada periode
tahun 19881993. Namun demikian, varietas padi gogo berdaya hasil tinggi
tersebut memiliki kelemahan, yaitu pada mutu beras yang rendah. Periode
tahun 2001 2003 telah dilepas empat varietas padi gogo yaitu Danau Gaung,
Batutugi, Situ Patenggang dan Situ Bagendit. Keempat varietas tersebut
dinyatakan memiliki nasi pulen tetapi hanya satu yang beraroma wangi, yaitu
Situ Patenggang. Akan tetapi, keempat varietas tersebut masih berstatus non
komersial (Haryanto, 2009)
9

Tabel 2.1 Luas panen, Produksi, Produksi Padi Nasional, Produktivitas dan
Kontribusi Padi Gogo Terhadap Padi Nasional Periode 1997 2007.

Tahun
Luas
(J uta ha)
Produksi
(J uta ton)
Produksi
Padi Nasional
(J uta ton)
Produk-
tivitas
t/ha
Kontribusi
Padi Gogo terhadap
Padi Nasional (%)
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
1.26
1.25
1.17
1.18
1.08
1.06
1.09
1.12
1.11
1.07
1.10
2.79
2.75
2.67
2.69
2.57
2.59
2.76
2.88
2.83
2.81
2.93
49.38
49.24
50.87
51.90
50.46
51.49
52.14
54.09
54.15
54.45
57.05
2.21
2.20
2.28
2.29
2.37
2.43
2.52
2.56
2.56
2.62
2.67
5.64
5.59
5.24
5.19
5.08
5.03
5.29
5.32
5.23
5.16
5.14

Sumber : Deptan 2008
Sejak tahun 2000, di Laboratorium Pemuliaan Tanaman Fakultas
Pertanian Unsoed Purwokerto mulai dilakukan riset. Beberapa jenis padi
disilangkan di antaranya mentik wangi, poso, dan padi jenis danau tempe.
Perkawinan silang tersebut mampu mengubah padi gogo menjadi beras yang
memiliki aroma dan sama nikmatnya dengan beras yang dihasilkan dari lahan
basah. Mentik wangi adalah padi aromatik, sedangkan padi gogo poso dan
danau tempe adalah padi gogo dengan hasil tinggi. Dari persilangan itulah
didapatkan sembilan galur potensial dengan hasil tinggi dan punya aroma,
salah satunya yaitu padi gogo aromatik galur Unsoed G136 (Haryanto, 2009).
Pengembangan padi gogo berdaya hasil tinggi dan bermutu tinggi, rasa dan
aroma pada lahan kering ibarat memanfaatkan mutiara yang terlupakan untuk
meningkatkan ketahanan pangan.
10

Padi aromatik merupakan bagian kecil yang istimewa dari kelompok
padi karena memiliki mutu beras yang baik. Mutu beras (terutama mutu kimia
beras), satu varietas sangat mempengaruhi penerimaan petani dan luas areal
tanam varietas tersebut. Beras dengan mutu kimia yang baik, yaitu aromatik
dan tekstur nasi pulen sangat disukai oleh konsumen dan mempunyai harga
yang tinggi. Oleh karena itu, selain produksi tinggi, meningkatkan mutu beras
pada varietas unggul baru merupakan salah satu tujuan utama para pemulia
tanaman (Haryanto, 2009).
Aroma pada padi disebabkan oleh senyawa kimia yang mudah
menguap. Hasil penelitian menunjukkan terdapat lebih dari 114 senyawa
terdapat pada padi aromatik. Namun demikian, hasil penelitian yang telah
dilakukan menyatakan bahwa senyawa utama yang menyebabkan aroma
wangi pada padi adalah 2-acetyl 1 Pyrroline. Aroma padi aromatik tidak
hanya dapat dicium pada nasi. Seringkali aroma dapat tercium saat tanaman
padi berbunga di lahan. Selain itu, senyawa aromatik, ditemukan pada bagian
tanaman padi yang lain seperti daun (Haryanto, 2009)

2.5 Permasalahan Budidaya Padi Gogo
Kendala yang menghambat pengembangan budidaya padi gogo yaitu:
(1) Tidak tersedianya varietas unggul padi gogo yang telah dilepas oleh
lembaga atau instansi terkait di tingkat pasar atau petani. Hal ini sebagai
akibat lemah dan lambannya alih teknologi padi gogo serta pengusaha
perbenihan kurang respon terhadap pengembangan padi gogo. (2)Kondisi
11

sosial ekonomi petani di lahan kering kurang memadai. (3) Kemiskinan karena
keterbatasan petani dalam memperoleh sumber-sumber pendapatan. Hal ini
terlihat dari ketidakmampuan dalam menyediakan biaya proses produksi
pertanian dan biaya-biaya lain yang berkaitan dengan upaya peningkatan
produktiitas lahan yang rendah.

2.6 Kebutuhan Unsur Hara Pada Tanaman
Tanaman padi membutuhkan unsur hara untuk tumbuh dan
berkembang. Unsur hara dibedakan menjadi dua macam, yaitu unsur
benefisial dan unsur hara esensial. Unsur hara benefisial adalah unsur
tambahan yang diperlukan oleh tumbuhan tertentu, tetapi tidak oleh tumbuhan
yang lain, seperti Al, Si, Au, Sn dan lain-lain. Unsur esensial adalah unsur
yang dibutuhkan oleh tanaman dan fungsinya oleh tanaman tidak dapat
digantikan, sehingga apabila kekurangan unsur esensial maka akan
mengakibatkan tumbuhan tersebut tidak tumbuh optimal bahkan mati. Unsur
esensial dibedakan menjadi dua jenis, yaitu unsur hara makronutrien dan unsur
hara mikronutrien (Salisbury & Ross, 1995).
2.6.1 Makronutrien
Makronutrien adalah unsur hara yang dibutuhkan tanaman
dalam jumlah banyak (konsentrasi dalam jaringan lebih dari 1000
mg/kg berat kering). Unsur-unsur yang terdapat dalam kelompok unsur
hara makro adalah C, H, O, N, S, P, K, Ca, Mg (Salisbury & Ross,
1995).
12

a. Unsur C, H, O
Unsur C, H, dan O diserap dalam bentuk molekul yaitu
CO
2
, H
2
O dan O
2
. Ketiga unsur tersebut diperoleh dari udara dan
air serta menyusun sekitar 95% tubuh tanaman (Salisbury & Ross,
1995)
b. Unsur Nitrogen (N)
Tanaman menyerap nitrogen dalam bentuk nitrogen
teroksidasi (NO
3
) dan nitrogen tereduksi (NH
4
+
). Tanaman yang
kekurangan unsur N akan mengalami gejala terbatasnya
pembesaran dan pembelahan sel (Salisbury & Ross, 1995).
c. Unsur Fosfor (P)
Fosfor diserap dalam bentuk H
2
PO
4
+
dan kurang diserap
dalam bentuk HPO
4
dan dapat didistribusikan dari bagian yang tua
ke bagian yang muda. Sebagian besar, fosfor berperan sebagai gula
fosfat yang penting dalam proses fotosintesis, respirasi, dan proses
metabolisme lainnya. Defisiensi P menyebabkan tanaman berwarna
hijau gelap, seringkali menghasilkan warna merah dan ungu
kemerahan. Apabila defisiensi terjadi pada fase pertumbuhan maka
tanaman akan mmpunyai batang pendek dan kurus (Sutedjo, 2008).
d. Unsur Sulfur (S)
Sulfur diserap tanaman dalam bentuk anion yaitu SO4
2-
.
Defisiensi S meliputi klorosis yang menyerang urat daun, sehingga
menyebabkan daun berwarna hijau terang atau hijau gelap. Pada
13

daun yang muda, urat daun dan jaringan di antara urat daun
berwarna hijau terang (Sutedjo, 2008).
e. Unsur Kalium (K)
Unsur K diserap dalam bentuk kation K
+
. Tanaman yang
kekurangan unsur K akan menunjukan gejala berupa bintik
nekrotik atau klorosis pada daun dengan noda pada jaringan yang
mati (Salisbury & Ross, 1995).
f. Unsur Magnesium (Mg)
Unsur Mg diserap dalam bentuk kation Mg
+
. Magnesium
penting untuk reaksi-reaksi metabolisme energi. Defisiensi unsur
Mg pertama kali ditunjukkan dengan adanya klorosis pada daun-
daun tua. Bercak atau klorosis pada daun dicirikan berwarna
merah, kadang-kadang dengan noda-noda mati, ujung dan tepi
daun menggulung ke bawah atau keatas dengan batang kurus
(Salisbury & Ross, 1995).
g. Unsur Kalsium (Ca)
Unsur Ca diserap sebagai kation bivalen Ca
2+
. Kalsium
penting untuk fungsi membran pada semua sel normal. Tanaman
yang kekurangan unsur Ca menyebabkan pertumbuhan ujung dan
bulu-bulu akar akan terhenti, sedangkan bulu-bulu akar yang telah
terbentuk akan mati dan berwarna coklat kemerah-merahan
(Sutedjo, 2008).
14

2.6.2 Mikronutrien
Mikronutrien adalah unsur hara yang dibutuhkan dalam
jumlah sedikit (kosentrasi dalam jaringan kurang dari 100 mg/kg
berat kering). Unsur-unsur yang terdapat dalam kelompok
mikronutrien adalah Mn, Mo, Fe, Cu, B, Zn, dan Cl (Salisbury &
Ross, 1992).
a. Unsur Mangan (Mn)
Unsur Mn diserap sebagai ion bivalen Mn
2+
. Mn
diperlukan oleh tanaman untuk pembentukan zat protein dan
vitamin. Gejala defisiensi Mn menunjukkan bintik nekrotik pada
daun muda atau daun yang lebih tua (Salisbury & Ross, 1995).
b. Unsur Molibdenum (Mo)
Unsur Mo diserap dalam bentuk anion bivalen Mo
4
2+
.
Fungsi utama Mo pada tanaman adalah menjadi bagian enzim
reduktase yang berfungsi mereduksi ion nitrat dan ion nitrit.
Gejala defisiensi Mo adalah klorosis pada urat daun, gejala awal
muncul pada daun tua atau tengah-tengah tangkai daun kemudian
menuju kedaun-daun yang lebih muda (Salisbury & Ross, 1995).
c. Unsur Besi (Fe)
Unsur Fe terutama dalam bentuk Fe
2+
. Peranan besi
dalam tanaman adalah sebagai activator enzim untuk reaksi
sintesis klorofil. Defisiensi unsur Fe ditandai dengan klorosis
pada tulang daun yang mirip dengan Mg, tetapi gejala dimulai
15

pada daun-daun muda. Gejala klorosis kadang-kadang diikuti
oleh klorosis urat daun sehingga urat daun menjadi kuning
(Salisbury & Ross, 1995).
d. Unsur Boron (B)
Boron seringkali diserap dalam bentuk H
2
BO
3
. Boron
berperan dalam pembentukan sel terutama pada titik tumbuh
pucuk, pertumbuhan tepung sari dan pertumbuhan akar.
Kekurangan unsur B dapat menyebabkan kematian pada titik
tumbuh (Salisbury & Ross,1995).
e. Unsur Seng (Zn)
Zn diserap dalam bentuk ion bivalen Zn
2+
. Seng berperan
dalam mencegah kekurangan klorofil dan pembentukan auksin
(Salisbury & Ross, 1992). Defisiensi Zn dapat menyebabkan
pertumbuhan vegetatif terhambat, daun menjadi kecil-kecil dan
menghambat pertumbuhan biji (Sutedjo, 2008).
f. Unsur Tembaga (Cu)
Unsur Cu diserap dalam bentuk Cu
2+
. Tembaga berperan
sebagai katalitik khusus untuk enim-enzim penting seperti
polifenol oksidase dan asam askorbat oksidase. Cu juga berperan
penting dalam pembentukan klorofil. Defisiensi Cu
menyebabkan nekrotik pada ujung daun, kemudian diikuti daun
menjadi layu dan berwarna hijau gelap (Salisbury & Ross, 1995).
16

g. Unsur Klor (Cl)
Unsur Cl diserap dalam bentuk ion Cl
-
. Cl berfungsi
dalam oksidasi H
2
O selama fotosintesis. Cl juga berperan penting
untuk pembelahan sel di daun dan untuk menjaga tekanan
osmotik sel. Defisiensi unsur Cl ditandai dengan layunya daun
dan diikuti klorosis serta noda nekrotik (Salisbury & Ross, 1995).

2.7 Pupuk
Salah satu usaha untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi
tanaman adalah intensifikasi berupa usaha pemupukan. Pemupukan adalah
pemberian dan penambahan bahan-bahan atau zat kompleks kepada tanah
dan tanaman untuk melengkapi keadaan makanan atau unsur hara dalam
tanah yang tidak cukup terkandung didalamnya. Oleh karena itu kekurangan
zat-zat pada tanah dapat terpenuhi guna pertumbuhan dan perkembangan
tanaman, sehingga dapat meningkatkan produksi tanaman tersebut
(Engelstad, 1997). Berdasarkan pembuatannya, pupuk dapat dibedakan
menjadi 2 yaitu pupuk organik dan anorganik.
Pupuk organik merupakan hasil pelapukan sisa-sisa mahkluk hidup,
seperti tanaman, hewan, dan tumbuhan. Pupuk organik umumnya merupakan
pupuk lengkap, artinya mengandung unsur makro dan mikro meskipun dalam
jumlah sedikit. Walaupun demikian pupuk organik lebih unggul
dibandingkan dengan pupuk anorganik. Penggunaan pupuk organik memiliki
beberapa kelebihan, di antaranya dengan penggunaan pupuk tersebut tidak
17

terjadi pencemaran tanah akibat penggunaan bahan-bahan kimia, begitu juga
dengan tanamannya.
Pupuk anorganik merupakan pupuk yang dibuat oleh pabrik dengan
meramu bahan-bahan kimia berkadar hara tinggi (Lingga & Marsono, 2000).
Berdasarkan kandungan jenis unsur haranya, pupuk anorganik terbagi
menjadi pupuk tunggal dan pupuk majemuk. Pupuk tunggal adalah pupuk
yang hanya mengandung satu unsur hara saja seperti nitrogen yang terdapat
pada pupuk urea. Urea merupakan campuran dari amoniak dan CO
2
yang
menghasilkan kandungan nitrogen mencapai 46 %. Pupuk yang mempunyai
kandungan utamanya fosfor terdapat dalam pupuk TSP. Pupuk ini terbuat
dari kombinasi antara fosfat alam dan asam belerang yang mengandung zat
fosfat mencapai 20 %. Pupuk yang mengandung unsur kalium dapat
ditemukan pada pupuk KCl atau kalium klorida. Pupuk KCl mengandung
K
2
O sebanyak 53% dan bersifat higroskopis atau mudah dalam menarik uap
air di udara. Pupuk N digunakan untuk pembentukan bagian vegetatif
tanaman seperti daun, batang, dan akar serta berperan dalam pembentukan
klorofil, sedangkan pemberian pupuk P dapat merangsang pertumbuhan dan
mempercepat pembungaan, pemasakan buah dan biji (Sutejo, 1999) dan
unsur K yang cukup akan meningkatkan hasil, menekan kerusakan karena
penyakit, dan meningkatkan ketahanan terhadap kekeringan (Setyamidjaja,
1986). Pupuk majemuk adalah pupuk yang mengandung lebih dari satu unsur
hara atau campuran zat yang berbeda seperti N, P, dan K kedalam satu
ramuan pupuk. J enis pupuk majemuk yang paling diminati oleh para petani
18

adalah pupuk NPK, karena merupakan kombinasi dari tiga unsur hara
sekaligus yaitu nitrogen, fosfat, dan kalium yang mudah terserap oleh akar
tanaman meskipun harganya cenderung lebih mahal jika dibandingkan
dengan pupuk tunggal.

2.8 Pemupukan Untuk Tanaman Padi
Memupuk berarti memberikan unsur hara ke dalam tanah untuk
keperluan tanaman. Unsur hara N, P, dan K merupakan hara utama yang
diperlukan tanaman dalam jumlah besar dan sering merupakan pembatas
produksi. Pada kebanyakan lahan padi gogo perlu dilakukan pemupukan
nitrogen. Pemberian pupuk N anorganik (urea) memberikan hasil lebih baik
pada varietas IET-144 bila disertai pupuk organik (kompos dan pupuk
kandang) (Suhendrata, 2007). Pupuk anorganik merupakan sumber yang
biasa digunakan mensuplai N, dan lebih menguntungkan petani dibandingkan
menggunakan pupuk N organik. Sumber pupuk organik N tersedia di lahan
pertanian seperti pupuk kandang dan kompos bisa efektif guna memenuhi
kebutuhan padi akan N (Immanudin, 2007).
Peranan P dalam tanaman padi adalah untuk perkembangan akar,
anakan, berbunga awal, dan pematangan. Pupuk P diberikan sebelum tanam,
dengan cara diaduk merata dengan tanah. Dari hasil-hasil percobaan
pemupukan P dapat dianjurkan pemberian P antara 30-45 kg P
2
O
5
/ha
tergantung dari sifat tanahnya. Pupuk P diberikan sebagai dasar dengan cara
19

pemberian dalam alur, dekat dengan benih yang ditugalkan. (Suhendrata,
2007)
Peranan K dalam tanaman yaitu untuk meningkatkan perkembangan
akar, ketahanan terhadap kerebahan dan hama/penyakit. Kalium seringkali
merupakan unsur pembatas untuk memperoleh hasil padi yang tinggi setelah
nitrogen. Pupuk K perlu diberikan dalam jumlah mencukupi pada hampir
semua lahan sawah irigasi. Pada hara tanaman optimum, tanaman padi
mengambil sekitar 19 kg K
2
O (16 K) untuk setiap ton hasil gabah (2,2 kg
K
2
O pada gabah dan 16,8 kg K
2
O pada jerami). (Immanudin, 2007).