Anda di halaman 1dari 226

i

LAPORAN AKHIR

KAJIAN BENTUK PELAYANAN LANJUT USIA
DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA


TIM PENYUSUN

INTERDISCIPLINARY ISLAMIC STUDIES-KESEJAHTERAAN SOSIAL
PROGRAM PASCASARJANA UIN SUNAN KALIJAGA




DINAS SOSIAL
DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
2014






ii



Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas perkenan-Nya,
sehingga kami bisa menyelesaikan laporan akhir Kajian Bentuk Pelayanan Lanjut
Usia. Dalam konteks kajian bentuk pelayanan lanjut usia ini, metode kualitatif
dianggap relevan dengan harapan mampu menangkap bagaimana partisipan riset
yakni lanjut usia dan stakeholder lansia di D.I. Yogyakarta memandang dan
memberi makna terhadap kebijakan dan program pelayanan kesejahteraan yang di
terima dari pemerintah atau pihak lain. Pengalaman, persepsi dan interpretasi para
partisipan dalam menerima pelayanan sosial menjadi fokus dalam penelitian ini,
untuk kemudian dibangunlah sebuah model pelayanan kesejahteraan yang dianggap
tepat dan efektif berdasarkan persepsi dan pengalaman tadi.
Pada Bab I disampaikan latar belakang, rumusan masalah, tujuan kegiatan,
hasil kajian (output), manfaat kegiatan dan sistematika laporan. Pada Bab II
disampaikan mengenai landasan konseptual teori, arah kebijakan, dan bentuk
program untuk lansia. Dijelaskan pula mengenai definisi lanjut usia, teori sosial
lansia, prinsip dan arah kebijakan, gambaran program pelayanan sosial lansia dan
kesimpulan. Pada Bab III disampaikan mengenai metodologi penelitian yang meliputi
jenis penelitian, lokasi dan peserta penelitian, teknik pengumpulan data dan analisis
data.
KATA PENGANTAR







iii
Pada Bab IV disampaikan mengenai evaluasi terhadap penyelenggaraan
program kesejahteraan sosial lanjut usia. Di dalamnya meliputi kerangka evaluasi dan
hasil evaluasi. Hasil evaluasi terdiri dari Pelayanan Kesejahteraan Sosial di dalam
Panti, Bantuan Permakanan, Jaminan Sosial lanjut Usia (JSLU), Program Pelayanan
Sosial Home Care, Program Bantuan Investasi Sosial Melalui Usaha Ekonomi
Produktif (UEP) Lanjut usia dan Program Pengembangan Kelembagaan dan
Organisasi Lanjut Usia.
Selanjutnya, pada Bab V disampaikan mengenai Pengembangan Program
Pelayanan Sosial Lanjut Usia, yang meliputi pembahasan tentang PrinsipPrinsip
Pelayanan; Pelayanan yang Inklusif dan Holistik, Pelayanan Berbasis Keluarga dan
Masyarakat, Twin-Track Approach: Perlindungan Sosial dan Pemberdayaan
Keluarga, Regulasi Pelayanan Sosial Lanjut Usia. Dan, Pengembangan Program
Pelayanan Sosial Lanjut Usia; Pengembangan Program Pelayanan Dalam Panti,
Program Perlindungan Sosial, Program Bantuan Permakanan (Food Stamp), Program
Home Care dan Bedah Rumah, Day Care-Posyandu Lansia, Program Pengembangan
Ekonomi Bagi Lanjut Usia Dan Keluarga, Fasilitasi Perkumpulan Lanjut Usia dan
LKS yang Bekerja dalam Bidang Pelayanan Sosial Lanjut Usia, Advokasi Desa dan
Kota Ramah Lanjut Usia, Program Penguatan Jalinan Lintas Generasi, Pelayanan
Sosial Pada Situasi Bencana, dan Layanan Sosial Paripurna. Kemudian, pada Bab VI
Penutup disampaikan mengenai kesimpulan dan rekomendasi bentuk program
pelayanan kesejahteraan sosial lanjut usia.
Akhirnya tim kajian berharap semoga laporan akhir ini dapat digunakan
sebagai bahan masukan Pemerintah Daerah dalam upaya untuk dijadikan
rekomendasi kebijakan pelayanan sosial bagi lanjut usia pada umumnya di Dinas
Sosial Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta.
Yogyakarta, Juli 2014






iv
Tim Penyusun
DAFTAR ISI

Halaman Sampul .............................................................................................. i
Kata Pengantar ................................................................................................. ii
Daftar Isi........................................................................................................... iv

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ..................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................ 10
C. Tujuan Kegiatan ................................................................................... 10
D. Hasil Kajian (Output) ........................................................................... 12
E. Manfaat Kegiatan ................................................................................. 13
F. Sistematika Laporan ............................................................................. 17

BAB II LANDASAN KONSEPTUAL TEORI, ARAH KEBIJAKAN
dan BENTUK PROGRAM UNTUK LANSIA
A. Definisi Lanjut Usia ............................................................................. 20
B. Teori Sosial Lansia ............................................................................... 22
C. Prinsip dan Arah Kebijakan ................................................................. 32
D. Gambaran Program Pelayanan Sosial Lansia ...................................... 38
1. Perlindungan Sosial (Social Protection) ........................................ 38
2. Layanan Kesehatan ........................................................................ 44
3. Perawatan Non Medis .................................................................... 48
4. Aksesibilitas fisik ........................................................................... 55
5. Program Antar Generasi (Intergenerational Program) ................. 56
E. Kesimpulan .......................................................................................... 60






v

BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian ..................................................................................... 62
B. Lokasi dan Peserta Penelitian .............................................................. 62
C. Teknik Pengumpulan Data ................................................................... 64
D. Analisa Data ......................................................................................... 70

BAB IV EVALUASI TERHADAP PENYELENGGARAAN PROGRAM
KESEJAHTERAAN SOSIAL LANJUT USIA
A. Kerangka Evaluasi ................................................................................ 73
B. Hasil Evaluasi ....................................................................................... 74
1. Pelayanan Kesejahteraan Sosial di dalam Panti ............................ 75
2. Bantuan Permakanan ..................................................................... 76
3. Jaminan Sosial lanjut Usia (JSLU)................................................ 98
4. Program Pelayanan Sosial Home Care.......................................... 121
5. Program Bantuan Investasi Sosial Melalui Usaha
Ekonomi Produktif (UEP) Lanjut usia .......................................... 128
6. Program Pengembangan Kelembagaan dan
Organisasi Lanjut Usia .................................................................. 143

BAB V PENGEMBANGAN PROGRAM PELAYANAN SOSIAL
LANJUT USIA
A. PrinsipPrinsip Pelayanan .................................................................... 148
1. Pelayanan yang Inklusif dan Holistik............................................ 148
2. Pelayanan Berbasis Keluarga dan Masyarakat.............................. 151
3. Twin-Track Approach: Perlindungan Sosial dan
Pemberdayaan Keluarga ................................................................ 155






vi
4. Regulasi Pelayanan Sosial Lanjut Usia ......................................... 157
B. Pengembangan Program Pelayanan Sosial Lanjut Usia ....................... 160
1. Pengembangan Program Pelayanan Dalam Panti ......................... 160
2. Program Perlindungan Sosial ........................................................ 163
3. Program Bantuan Permakanan (Food Stamp) ............................... 166
4. Program Home Care dan Bedah Rumah ....................................... 168
5. Day Care-Posyandu Lansia ........................................................... 172
6. Program Pengembangan Ekonomi Bagi
Lanjut Usia dan Keluarga .............................................................. 173
7. Fasilitasi Perkumpulan Lanjut Usia dan LKS yang Bekerja
dalam Bidang Pelayanan Sosial Lanjut Usia................................. 177
8. Advokasi Desa dan Kota Ramah Lanjut Usia ............................... 180
9. Program Penguatan Jalinan Lintas Generasi ................................. 183
10. Pelayanan Sosial Pada Situasi Bencana ........................................ 184
11. Layanan Sosial Paripurna .............................................................. 192

BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
A. Kesimpulan .......................................................................................... 194
B. Rekomendasi ........................................................................................ 196

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 197






1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tumbuhnya populasi lansia dan bertambahnya usia harapan
hidup di berbagai masyarakat di dunia telah melahirkan apa yang
sering disebut dalam literatur sebagai population aging atau aging
societydalam istilah Indonesia disebut masyarakat struktur tua
yakni melonjaknya proporsi jumlah lanjut usia dibandingan dengan
kelompok muda. Perubahan demografi ini kerap diasosiasikan
sebagai fenomena negara maju seperti Jepang, Amerika, Jerman
dan negara-negara Skandinavia. Data tahun 2005 di Amerika
(USA), misalnya, menunjukan bahwa penduduk USA yang berusia
lebih dari 65 tahun mencapai 12 persen dari keseluruhan populasi.
Menurut prediksi majalah Time edisi Mei 2014, pada 2050 angka
ini akan melonjak tajam mencapai 27 persen dari populasi total.
Prediksi yang sama menyatakan bahwa pada tahun yang sama






2
Jepang akan memiliki jumlah populasi lansia sebesar 42% dari
total populasi.
Perkembangan akhir menunjukan bahwa fenomena aging
ternyata juga dialami negara-negara berkembang, termasuk
Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun
2010 angka lanjut usia di Indonesia mencapai 18,04 juta jiwa atau
sekitar 7,6 % dari total populasi (Kementerian Sosial, 2011).
Sumber lain menyebutkan bahwa dari tahun 2000 sampai 2010
jumlah lansia Indonesia meningkat dari 7,1% menjadi 9,77 % dan
prediksi tahun 2020 angkanya bahkan mencapai 11,34% dari total
populasi. Perkembangan jumlah lansia di atas terefleksi dalam
perubahan primida struktur demografi sebagaimana di gambarkan
dibawah ini.













3




Piramida Penduduk Indonesia
Perbandingan Tahun 1970 dan 2010
____________________________________________________
1970 2010

Menariknya, masih menurut data BPS 2011 diantara semua
propinsi di Indonesia, Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan
propinsi dengan jumlah lansia tertinggi, yakni mencapai 13,7
persen dari total populasi. Jumlah ini jauh lebih tinggi misalnya
dari Papua yang hanya 1,97 % atau Jakarta yang hanya mencapai
5,24%, sebagaimana dapat dilihat pada tabel di bawah ini.






4

Studi menunjukkan bahwa tajamnya peningkatan populasi
lansia sangat erat kaitannya dengan meningkatnya usia harapan
hidup (life expectancy). Dalam konteks ini, Daerah Istimewa
Yogyakarta persepsi ini terbukti. Angka harapan hidup di propinsi
ini lebih tinggi dibandingkan dengan propinsi lain di Indonesia.
Hasil proyeksi dasar sensus penduduk (SP) pada 2010 menunjukan
usia harapan hidup orang di Yogyakarta mencapai 74,2 tahun,
diikuti oleh Kalimantan Timur (72,9 tahun), Jawa Tengah (72,7
tahun), dan DKI Jakarta (71,4 tahun). Sementara itu, SP 2010 juga
menunjukan bahwa pada 2035 nanti, diproyeksikan usia harapan
hidup Yogyakarta mencapai 75,5 tahun, masih tertinggi dibanding






5
provinsi yang lain. Disamping tingginya usia harapan hidup
sebagaimana dicantumkan di atas, Yogyakarta juga disinyalir
menjadi kota tujuan pensiun. Biaya hidup yang masih relatif
rendah, suasana kota yang tenang, serta keramahan alam dan
budayanya menarik lansia dari berbagai daerah untuk
menghabiskan masa tuanya di Yogyakarta. Faktor-faktor inilah
yang menjelaskan tinggi angka lansia di Yogyakarta.
Meningkatnya populasi lansia jelas memiliki implikasi
penting pada hampir semua sektor kehidupan dan karenanya
negara perlu merespon dengan kebijakan yang tepat. Berita yang
banyak muncul dari negara-negara maju misalnya menyebutkan
salah satu konsekuensi dari aging society adalah tingginya
anggaran kesehatan dan sosial bagi pelayanan lansia. Hal ini
dianggap menjadi beban ekonomi yang signifikan bagi negara,
terutama karena meningkatnya jumlah lansia berarti menurunnya
usia produktif yang menjadi roda ekonomi bagi negara. Di
Indonesia, termasuk juga DIY, lansia sangat erat dengan isu






6
kemiskinan, kesehatan atau penyakit dan difabilitas. Tidak heran
jika target utama dari program-program pelayanan kesejahteraan
sosial yang sekarang adalah lansia miskin atau terlantar. Padahal,
tingginya populasi lansia di DIY dan proyeksi meningkatnya
jumlah mereka ke depan, mengindikasikan bahwa lansia bukanlah
populasi homogen; mereka tidak bisa direduski dalam satu
kelompok yakni lansia miskin. Kondisi tersebut mengindikasikan
pentingnya sebuah kebijakan dan pelayanan sosial yang tepat dan
efektif bagi kelompok ini. Dalam kacamata yang lebih luas,
meningkatnya populasi lansia menuntut semua pihak untuk
memikirkan cara yang efektif bagi pemenuhan hak- hak lanjut usia
baik terkait aspek ekonomi, kesehatan, kesejahteraan dan kualitas
hidup serta aspek sosial lain.
Selama ini beberapa kebijakan yang secara khusus mengatur
lansia sudah ditetapkan oleh pemerintah melalui Kementerian
Sosial. Diantara yang paling signifikan adalah Undang-undang no.
13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia. Undangundang






7
ini juga sudah dilengkapi dengan peraturan pendukung yakni PP
no. 43 tahun 2004 tentang Pelaksanaan Upaya Peningkatan
Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia. Peraturan tersebut mengatur
secara cukup detail upaya pemenuhan hak lansia dari berbagai
aspek; mulai dari pelayanan spiritual, pendidikan dan ketrampilan,
kesehatan, perluasan lapangan kerja, kemudahan mengakses
layanan umum, sampai pada perlindungan sosial dan bantuan
hukum.
Dalam implementasinya, kebijakan di atas diterjemahkan
dalam berbagai program dan layanan sosial, baik yang secara
spesifik di tujukan untuk lansia, maupun layanan yang ditargetkan
kepada kelompok rentan atau miskin, dimana lansia menjadi salah
satu targetnya. Kementerian sosial misalnya memiliki beberapa
program pokok seperti:
Asistensi Lanjut Usia ( Aslut)
Jaminan Sosial Lanjut Usia ( JSLU)
Home care






8
Posyandu Lansia
Usaha Ekonomi Produktif
Pelayanan lansia berbasis panti
Bantuan Makanan
Bedah Rumah
Pelayanan berbasis masyarakat
Tentu saja dalam pelaksanan program layanan di atas, ada
banyak permasalahan atau setidaknya dinamika yang terjadi.
Penelitian awal menunjukkan bahwa program-program pelayanan
sosial di atas belum semuanya bisa dijalankan dengan efektif dan
belum mampu menjawab kebutuhan serta pemenuhan hak lansia di
DIY. Salah satu isu yang kerap muncul adalah terbatasnya
jangkauan program, atau dengan kata lain, ketidaksesuaian antara
jumlah lansia yang memerlukan layanan dengan jumlah penerima
yang bisa diberikan oleh pemerintah. Hal ini disebabkan antara
lain oleh minimnya anggaran yang dimiliki pemerintah untuk
program-program tersebut. Dalam dua tahun terakhir misalnya






9
terdapat penurunan jumlah (nominal) bantuan atau pengurangan
jumlah penerima beberapa program seperti home care dan JSLU.
Isu lain yang muncul terkait dengan masih minimnya bentuk
layanan yang ditawarkan serta ketidak sesuai antara bentuk
layanan dengan kebutuhan lansia. Layanan yang ada misalnya
sangat terfokus untuk lansia miskin, sementara populasi lansia di
DIY bukanlah populasi yang homogen melainkan kelompok
heteregon dari segi gender, kondisi fisik, kondisi sosial ekonomi
dan sebagainya sehingga membutuhkan program dan layanan yang
beragam pula.
Dalam rangka mewujudkan sebuah model layanan yang
efektif, tepat sasaran, berkualitas dan mampu memenuhi hak
lansia, dibutuhkan sebuah kajian yang mendalam. Inilah maksud
dari diadakannya kajian ini. Dengan menganalisa pelaksanaan
program dan pelayanan lansia yang sudah ada di DIY dalam
berbagai aspeknya kajian ini diharapkan mampu mengidentifikasi
kebutuhan lansia dan menganalisa kekuatan dan tantangan dalam






10
implementasi program untuk kemudian dijadikan landasan dalam
menyusun desain program dan pelayanan kesejahteraan sosial
yang tepat.

B. Rumusan Masalah
Sebagaimana yang telah disebutkan di atas, kajian ini
berupaya untuk menjawab paling tidak dua pertanyaan penting,
yakni:
1) Bagaimana implementasi program layanan lanjut usia di DIY
Yogyakarta baik yang ditawarkan oleh dinas sosial dan
SKPD lain? Pertanyaan ini dimaksudkan untuk menganalisa
cakupan program, target sasaran dan prosedur pelaksanaan.
2) Apa dan bagaimana bentuk program dan layanan yang
dibutuhkan dan dianggap efektif dalam rangka pemenuhan
hak, peningkatan kesejahteraan, dan kualitas hidup lansia di
Yogyakarta?







11
C. Tujuan Kegiatan
Kajian ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran
masalah, kebutuhan dan kepentingan lanjut usia di DIY. Kajian ini
akan mereview pelaksanaan program-program pelayanan
kesejahteraan sosial lansia yang ada di DIY, bagaimana
cakupannya, mekanisme penyelenggaraan dan hambatan serta
tantangan yang dihadapi. Berdasar evaluasi tadi akan didapatkan
gambaran mengenai hak dan pelayanan yang seharusnya diterima
dan pelayanan yang telah diterima sampai saat ini.
Informasi yang di dapatkan dari evaluasi tadi akan dijadikan
sebagai bahan untuk merumuskan rekomendasi mengenai desain
dan bentuk pelayanan kesejahteraan yang efektif dan memenuhi
kebutuhan lansia DIY. Selanjutnya rekomendasi dari kajian ini
diharapkan dapat membantu Dinas Sosial dan SKPD terkait untuk
menyelenggaraan pelayanan kesejahteraan sosial bagi lansia yang
lebih baik. Diharapkan juga kajian ini bisa mendorong terciptanya
koordinasi dan sinergi antar stakeholder lansia, sehingga program-






12
dan kegiatan dapat dilaksanakan lebih efektif dan efisien.
Partisipasi lansia juga semakin meningkat, dan di masyarakat
terjadi perubahan persepsi dan praktek sosial yang lebih baik
terhadap lansia. Dengan demikian DIY tidak hanya pelopor dalam
formulasi kebijakan progresif dan afirmatif, tetapi juga dapat
menjadi best practices dalam penyelenggaraan pelayanan bagi
perlindungan dan pemenuhan hak-hak dan kesejahteraan lansia.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji implementasi
program-program Pelayanan Sosial bagi Lansia di DIY. Secara
spesifik penelitian ini ingin mengungkap, pertama, bagaimana
cakupan atau tingkat keterjangkauan program-program sosial yang
ada dan bagaimana prosedur implementasinya. Kedua, bagaimana
persepsi penerima manfaat, pendamping dan petugas pelaksana
terhadap program-program yang diberikan? Ketiga, bentuk dan
desain layanan seperti apa yang dibutuhkan oleh lansia?

D. Hasil Kajian (Output)






13
Kajian ini akan menghasilkan beberapa temuan yang
berupa:
1. Gambaran permasalahan, kebutuhan dan kepentingan lansia
DIY.
2. Gambaran program dan kegiatan pelayanan kesejahteraan
sosial lansia yang telah diselenggarakan berikut hasil-hasil dan
permasalahannya.
3. Rencana Aksi, pentahapan, roadmap (milestone) untuk
perencanaan program dan kegiatan (jangka pendek, jangka
menengah dan jangka panjang).

E. Manfaat Kegiatan
Hasil-hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi
sumber masukan penting dalam melakukan perencanaan program,
baik perencanaan strategis maupun perencanaan program tahunan.
Sebagaimana di singgung di atas, lansia belum sepenuhnya
menjadi perhatian serius dalam upaya kebijakan dan kesejahteraan






14
sosial di Indonesia, termasuk di DIY, padahal secara demografis
jumlah mereka semakin signifikan.
Faktor yang juga menjadi aspek penting dalam kajian ini
adalah penegasan terhadap perlunya perubahan perspektif tentang
lansia. Pertama, perlu disadari bahwa lansia bukanlah kelompok
tunggal, melainkan populasi yangsebagaimana kelompok sosial
lainmemiliki keragaman identitas sosial: gender, latar belakang
ekonomi dan sosial bahkan keragaman kondisi fisik. Melihat
program dan pelayanan kesejahteraan sosial yang masih sangat
terfokus pada lansia miskin mengindikasikan bahwa fakta ini
masih belum terlalu disadari. Kedua, filofosi penting yang diusung
oleh masyarakat internasional terkait lansia adalah perspektif
positif tentang ketuaan (aging). Paradigma lama yang
mengasosiasikan lansia sebagai kelompok lemah baik secara fisik
maupun sosial, pasif atau tidak bisa/perlu diharapkan
partisipasinya dalam proses pembangunan atau kehidupan, dinilai
tidak lagi tepat. Munculah paradigma baru lansia yang






15
menawarkan nilai-nilai positif seperti: active aging (lansia aktif),
partisipasi, anti diskriminasi, kemandirian dan sebagainya. Nilai-
nilai ini sudah diadopsi oleh lembaga-lembaga internasional seperti
PBB dalam menentukan arah kebijakan dan programprogram
kesejahteraan bagi lanjut usia. Dalam konteks Indonesia, UU no.
13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Sosial Lansia belum secara
tegas dan eksplisit mengadopsi nilai dan prinsip tersebut. Untuk
itu, kajian ini juga diharapkan mampu menerjemahkan nilai,
prinsip dan paradigma baru di atas dalam program-program
pelayanan kesejahteraan lansia DIY yang akan di susun.
Aspek lain yang juga akan menjadi perhatian dalam kajian
ini adalah pelayanan terpadu atau pelayanan integratif. Populasi
lansia, sebagaimana di singgung di atas, adalah populasi beragam
dan karenanya memerlukan pendekatan yang beragam pula. Di
dalam UU no. 13 tahun 1998, keragaman lansia yang diakui masih
sebatas kategori potensial dan non potensial dengan kriteria
apakah lansia yang bersangkutan masih mampu bekerja atau tidak.






16
Meski kriteria ini penting namun ada berbagai identitas lain dari
lansia yang akan berpengaruh terhadap bentuk dan jenis program
pelayanan yang dibutuhkan misalnya identitas gender, sosial
budaya dan sebagainya. Persoalan lansia juga persoalan yang
menyentuh semua domain kehidupan, sehingga pelayanan
kesejahteraan bagi populasi harus dari berbagai aspek: sosial,
ekonomi, kesehatan, pelayanan publik dan sebagainya. Hal ini
meniscayakan pentingnya pelayanan terpadu dari berbagai SKPD
mulai dari kesehatan, sosial, pendidikan, perhubungan umum dan
semua penyedia layanan publik. Dalam perspektif yang berbeda,
upaya-upaya kesejahteraan dan pemenuhan hak lansia
meniscayakan perspektif yang lebih luas dengan tidak hanya
menfokuskan terhadap lansia itu sendiri, namun dengan
mempertimbangkan lingkungan sosial serta struktur masyarakat
yang vital bagi pemenuhan hak dan kesejahteraan lansia tersebut.
Permasalahan aksesibilitas sarana dan prasarana publik, serta
kesadaran masyaraat khususnya generasi muda tentang lansia






17
misalnya, merupakan dua aspek penting bagi pemenuhan
kesejahteraan dan hak-hak lansia. Kajian ini akan mencoba untuk
mengakomodir faktor-faktor sosial, sistem dan struktural tersebut
ke dalam model pelayanan program lansia yang disusun.
Dengan latar belakang seperti di atas kajian mengenai
program pelayanan kesejahteraan lansia perlu dilakukan. Hasil-
hasil kajian diharapkan bernilai strategis bagi peningkatan dan
pelakaaan program yang sudah ada ataupun pengembangan
program baru, tidak hanya di Dinas Sosial DIY namun juga semua
SKPD terkait. Berdasarkan hasil kajian ini, pemerintah DIY dapat
melakukan scanning kelembagaan dan menyusun rencana strategis.
Inilah manfaat utama dan strategis dari penelitian ini.

F. Sistematika Laporan
Sistematika laporan yang digunakan dalam Kajian Desain
Program Pelayanan Kesejeahteraan Sosial Bagi Lanjut Usia
Daerah Istimewa Yogyakarta adalah sebagai berikut:






18
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang
Rumusan Masalah
Tujuan Kegiatan
Hasil Kajian (Output)
Manfaat Kegiatan
Sistematika Laporan

BAB II LANDASAN KONSEPTUAL TEORI, ARAH
KEBIJAKAN dan BENTUK PROGRAM UNTUK
LANSIA
Definisi Lanjut Usia
Teori Sosial Lansia
Prinsip dan Arah Kebijakan
Gambaran Program Pelayanan Sosial Lansia
Kesimpulan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN
Jenis Penelitian
Lokasi dan Peserta Penelitian
Teknik Pengumpulan Data
Analisa Data







19
BAB IV EVALUASI TERHADAP PENYELENGGARAAN
PROGRAM KESEJAHTERAAN SOSIAL LANJUT USIA
Kerangka Evaluasi
Hasil Evaluasi

BAB V PENGEMBANGAN PROGRAM PELAYANAN
SOSIAL LANJUT USIA
PrinsipPrinsip Pelayanan
Pengembangan Program Pelayanan Sosial Lanjut Usia


BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Kesimpulan
Rekomendasi









20
BAB II
LANDASAN KONSEPTUAL
TEORI, ARAH KEBIJAKAN dan BENTUK PROGRAM UNTUK LANSIA

A. Definisi Lanjut Usia
Bagaimana kita memandang dan memperlakukan lanjut usia
(selanjutnya disebut lansia) sangat berpengaruh terhadap kebijakan dan
program pelayanan terhadap populasi ini. Hal tersebut mengindikasikan
bahwa lansia merupakan sebuah konsep yang dikonstruksi/dibangun oleh
masyarakat (socially constructed). Tidak heran jika bagaimana lansia di
pandang dan definisikan berubah seiring perkembangan peradaban manusia
itu sendiri. Secara umum, definisi legal formal lansia yang banyak di temui
di berbagai belahan dunia saat ini, adalah definisi yang didasarkan pada faktor
biologis yakni usia. PP. No. 43 tahun 2004 tentang Pelaksanaan Upaya
Peningkatan Kesejahteraan Lanjut Usia misalnya menetapkan bahwa Lansia
adalah mereka yang sudah mencapai umur 60 tahun. Di negara lain seperti
Kanada, AS, Jerman usia minimal yang mendefinisikan lansia sedikit lebih
tinggi, yakni 65 tahun. Usia minimal inilah biasanya menjadi standar pensiun,
tunjangan serta kebijakan dan program untuk populasi lansia. Batasan usia 65
juga dianut oleh masyarakat dan badan internasional seperti PBB.






21
Semakin di sadari bahwa batasan biologis (berdasarkan usia) di atas
semakin sulit untuk dipertahankan sebagai satu-satunya faktor definitif yang
menjadi landasan kebijakan dan program terutama karena individu dengan
umur 60 atau 65 tahun akan menunjukkan kondisi dan kebutuhan yang
berbeda. Sebagai ilustrasi, di bawah ini adalah beberapa kondisi yang tim
penulis temui dilapangan:
Pak Alex (bukan nama sebenarnya) seorang pensiunan guru besar di
sebuah PT di Yogyakarta, berusia 70 masih terlihat segar dan sehat. Ada
beberapa keluhan kesehatan yang beliau miliki seperti darah tinggi,
namun dengan kemampuan pak Alex mengkontol diet dan nutrisi serta
pemeriksaan rutin ke dokter keluarga, kesehatan fisik pak Alex masih
terjaga. Beliau aktif menjadi anggota Komis Daerah Lansia DIY dan juga
aktif di Muhammadiyah serta menjadi dewan penasehat di sebuah
Yayasan pendidikan. Beliau masih sibuk menjadi pembicara di berbagai
seminar dan asosiasi ptofesi. Setiap dua atau 3 bulan dia juga berkunjung
secara bergantian ke rumah anak-anaknya yang tinggal di kota Jakarta,
Riau dan satunya bahkan di Kuala Lumpur. Dengan segala aktivitas
profesional dan sosialnya, pak Alex berkata saya sadar sekali bahwa usia
saya sudah 70 tahun tapi saya tidak pernah merasa tua ( Interview, 24
Mei 2014)

Sementara bapak Wagiyo, juga berusia 70, dari Pajangan Bantul harus
banyak berdiam diri di rumah, bahkan di atas tempat tidur karena
gangguan jantung dan pernafasan yang di deritanya. Mbah Wagiyo jarang
sekali keluar dari lingkungan rumah, aktivitas yang dilakukan hanya
seputar ke kamar mandi yang berada 3 meter dari rumah, itupun dengan
bantuan tongkat. Saat tubuhnya sedikit sehat, dan itu sangat jarang, dia
memaksakan diri mencari rumput dibelakang rumah anaknya. Sebagai
pensiunan buruh tani, dia tidak pernah mampu membeli tanah dan
semasa muda tinggal di rumah yang dibangun di tanah majikannya
(megarsari). Kini dia harus tinggal dengan salah satu anak perempuannya
yang juga memiliki 3 anak usia sekolah, suami yang memiliki difabilitas
dan tidak bekerja sehingga mengharuskan anak perempuannya ini
menjadi penjual pecel keliling. Penghasilan anaknya sebagai penjual






22
pecel tidak selalu cukup mencukupi kebutuhan makan sehari, sementara
bantuan ASLUT yang diterima Mbah Wagiyo hanya sekitar 200 ribu,
tidak selalu cukup untuk membeli susu dan makanan bergizi lainnya.
Terlebih Mbah Wagiyo harus sering memanggil mantri atau dokter ke
rumahnya untuk jantungnya karenameski dia memilik kartu
Jamkesmas/JSNhambatan mobilitas yang dia miliki tidak
memungkinkannya pergi ke Puskesmas yang jaraknya 15 km dari rumah
anaknya. (Visitasi di kediaman pak Wagiyo 13 Juni 2014)

Ilustrasi di atas menunjukkan bahwa usia serta karakter-karakter yang
biasanya diasosiasikan dengan lansia seperti kondisi fisik lemah, tidak
mandiri/butuh bantuan, linglung dan lainnya tidak selalu bisa diaplikasikan
untuk semua lansia. Lansia adalah kelompok yang beragam, dan karenanya
apa itu tua dan siapa lansia tidak bisa didefinisikan secara tunggal. Kondisi
individu lansia akan dipengaruhi oleh berbagai faktor: gender, kondisi sosial
ekonomi, dan latar belakang pendidikan dan budaya, kondisi fisik dan
kesehatan serta aspek lain. Dalam kacamata yang lebih luas, Lansia
merupakan konsep yang selalu berubah dan berkembang sesuai
perkembangan masyarakat.

B. Teori Sosial Lansia
Literatur tentang lansia menawarkan banyak teori yang mencoba
menangkap bagaimana manusia mengkonsepsikan lansia. Di masa lalu
misalnya konsep usia emas (golden age) merupakan perspektif dominan
yang banyak di anut berbagai budaya. Dalam pandangan ini individu lanjut






23
usia dianggap lebih dekat kepada Tuhan, dan karenanya, perilaku dan posisi
mereka di masyarakat mencerminkan kedekatan ini. Kebijaksanaan (wisdom),
spiritualitas dan kekuatan magis merupakan beberapa keistimewaan yang
dimiliki oleh lansia karena pengalaman panjang mereka menjalani hidup atau
karena kedekatan mereka dengan tahap akhir kehidupan: kematian.
Kemudian muncullah teori modernitas (Cogwill and Holmes, 1972)
yang berargumen bahwa munculnya materialism, industrialisasi, urbanisasi
dan westernisasi dalam panggung peradaban manusia sedikit banyak
berimplikasi pada runtuhnya otoritas keagamaan dan solidaritas keluarga yang
kemudian menyebabkan menurunnya penghargaan terhadap keistimewaan-
keistimewaan yang diasosiasikan dengan usia lanjut tadi. Perubahan cara
pandang ini sangat wajar muncul karena pertimbangan material yakni
berubahnya otoritas dan kontrol yang dimiliki oleh lansia terhadap sumber
daya (resources). Ketika lansia menguasai sumber daya: tanah, rumah hunian
keluarga, dan asset keluarga lain serta memegang otoritas dalam semua aspek
kehidupan sosial: pernikahan, status sosial, informasi dan lainnya maka
sangat wajar generasi muda menghargai mereka. Namun ketika perubahan
zaman dan struktur masyarakat memungkinkan generasi muda mencari
pekerjaan di luar komunitas, pergi ke kota, dan browsing di internet, maka
kebutuhan dan alasan menghargai lansia menurun bahkan hilang. Tentu saja,






24
teori ini banyak mendapatkan kritik terutama karena idenya yang sangat
simplistik. Peran orang tua dalam masyarakat tradisional sekalipun beragam:
mereka tidak selalu mendapatkan posisi istimewa dalam masyarakat, dan
tidak sedikit yang hidup dalam kondisi kemiskinan dan jauh dari sejahtera
tanpa ada dukungan keluarga atau masyarakat. Namun bagi para politisi dan
pemegang kebijakan, teori materialist ini cukup menarik karena menjustifikasi
mereka untuk menetapkan kebijakan tentang perlunya melestarikan nilai
tradisional yang meletakkan lansia dalam posisi superior dan karenanya,
kebijakan serta support dari pemerintah terhadap lansia tidak
dibutuhkan.
Kajian tentang lansia dalam konteks gerontologi sosial berawal pada
akhir 1940 an ketika muncul perubahan demografik dan sosial yang
diakibatkan perang dunia ke II. Negara-negara Eropa dan Amerika Serikat
pada kurun waktu itu mulai melihat isu aging sebagai fenomena sosial yang
penting dan karenanya perlu dikaji dengan serius (Vincent. 1996). Mulai saat
itulahuntuk pertama kalidunia politik dan ekonomi memandang lansia
sebagai masalah atau problem sosial (Jones, 1993). Tidak heran jika literatur
gerontologi di Baratyang kurang lebih merepresentasikan pandangan
modern masyarakat baratmencerminkan adanya persepsi negatif terhadap
lansia.






25


Mazhab Fungsional: Teori Disengagement, Teori Aktif dan Teori
Kontinuitas
Salah satu teori yang berpengaruh dalam dunia gerontologi adalah
teori disenggagment yang di gagas oleh Elaine Cummins and William Henry
(1961). Mengadopsi paradigma fungsionalis-struktural yang sangat dominan
di Amerika pada kurun 19301960an, teori ini berasumsi bahwa lansia perlu
menarik diri (disengage) dari kehidupan ekonomi dan sosial dalam
masyarakat untuk menyiapkan diri memasuki pensiun abadi (ultimate
disengagement) yakni kematian. Proses ini merupakan proses yang tidak saja
tak terhindarkan dan bersifat universal, tapi juga berguna dan dibutuhkan
oleh kedua belah pihak yakni lansia sendiri dan masyarakat di sekitarnya.
Bagi lansia, proses ini merupakan masa peralihan yang mengantarkan
hilangnya peran yang harus mereka emban sebagai orang tua atau professional
yang secara aktif bekerja. Proses penarikan diri ini juga dimaksudkan untuk
memberi kesempatan kepada lansia melakukan refleksi diri sambil
menyerahkan tanggung jawabnya kepada generasi muda. Bagi masyarakat,
disengagement yang dilakukan lansia memungkinkan beralihnya tanggung
jawab, pengetahuan, kekayaan (wealth-resources) dan kekuasaan (power)






26
yang mereka miliki kepada generasi muda, yang pada gilirannya
memungkin generasi ini memiliki fungsi signifikan dalam masyarakat.
Dengan kata lain, proses penarikan diri lansia dari kehidupan sosial ekonomi
dimaksudkan sebagai upaya mengurangi disrupsi (gangguan) sosial dan
menjaga keseimbangan sosial, lebih tegasnya, memungkinkan masyarakat
tetap berfungsi ketika anggota senior mereka harus meninggal (Neurgarten,
1998). Selanjutya teori ini juga menyatakan bahwa proses penarikan diri
tersebut dianggap natural karena menurunnya kemampuan fisik dan mental-
psikologis yang dialami oleh individu lanjut usia.
Banyak yang berargumen bahwa teori ini jelas memiliki implikasi
pada kebijakan dan realitas kehidupan lansia. Misalnya saja pada dekade 60an
komunitas lansia di negara-negara industri sangat di dukung untuk
melakukan disengagement dalam bentuk pensiun dan tidak melakukan
intervensi terhadap proses pembanguan dan pengembangan yang sedang
dilakukan masyarakat. Bahkan di setting pedesaandimana lansia masih
diharapkan untuk berpatisipasi melalui pengetahuan dan skillnyakemajuan
tekhnologi telah mengurangi penghargaan masyarakat terhadap pengalaman
dan skill lansia.
Seiring dengan berkembangnya demografi lansia secara signifikan,
serta kehadiran mereka yang kian terlihat jelas di wilayah publik, klaim






27
universalitas dari teori disengagement mendapatkan perlawanan dan kritik.
Salah satunya adalah fungsi positif penarikan diri sebagaimana yang
dijelaskan di atas, dalam realitas sosial tidak selalu terjadi. Alih-alih, ketika
individu harus menjalani masa pensiun dalam waktu yang signifikan maka
yang terjadi adalah isolasi baik secara sosial maupun finansial yang berakibat
pada hilangnya martabat lansia. Kritik ini kemudian memunculkan apa yang
sering disebut sebagai teori aktif (activity theory). Dalan teori aktif, usia tua
dipandang sebagai fase yang terhubung dengan usia pertengahan (middle age)
bukan sebagai fase yang sama sekali terpisah baik dalam pengertian biologis
maupun psikologis sebagaimana digagas teori disengagement (Havighurst
and Albrecht, hal. 953 sebagaimana di kutip Katz 1996). Bagi pengusung
teori aktif, usia tua bisa menjadi pengalaman yang dinamis dan kreatif. Peran
sosial yang hilang akibat usia tua atau pensiun harus digantikan dengan peran
dan aktifitas baru yang bisa memastikan tercapainya kebahagiaan,
penghargaan dan kesejahteraan bagi lansia. Pendeknya persepsi aktif
menawarkan solusi yang sangat efektif bagi masyarakat yang semakin
menua. Dapat dilihat bahwa teori ini dibangun beradarkan asumsi bahwa
proses biologis menjadi tua bisa dimodifikasi melalui layanan kesehatan
modern, sehingga satu-satunya yang membedakan antara usia pertengahan
dengan usia tua adalah proses biologis yang bisa dimodifikasi tersebut, dan






28
bukan kebutuhan dan keinginan masyarakat. Dalam kacamata lain teori ini
menegaskan adanya korelasi positif antara aktivitas dan kepuasan hidup;
semakin besar hilangnya aktifitas pada lansia, semakin kecil kepercayaan dan
rasa berharga yang dimiliki, dan demikin sebaliknya. Lebih singkatnya, harkat
dan martabat lansia sangat dipengaruhi peran yang mereka emban dalam
masyarakat. Dalam konteks teori ini pensiun menjadi sesuatu yang tidak
membahayakan, jika individu tersebut masih menjaga peran dan fungsinya
dalam keluarga dan masyarakat.
Dua teori besar di atas dikritik menggunakan pendekatan yang terlalu
makro. Teori aktif misalnya gagal menyentuh isu heteroginitas kelompok
lansia dan karenanya tidak mampu merespon isu ketidaksetaraan individu.
Artinya, tidak semua lansia memiliki kondisi sosial-biologis yang sama,
sehingga sebuah persepsi yang menyamakan semua lansia tanpa memandang
kebutuhan dan kondisi individu lansia dianggap tidak tepat. Whilst Phillipson
(1998) berpendapat bahwa paradigma fungsionalist dalam dua teori di atas
memaksaan penjelasan kausalitas dan menempatkan lansia dalam posisi yang
sangat terpolarisasi: pensiun atau aktif. Kritik-kritik tersebut di atas
kemudian melahirkan lagi sebuah teori baru yang disebut teori kontinuitas
masih dari kubu fungsionalis structural. Teori kontinuitas ini mencoba
menawarkan jalan tengah dengan mengemukakan bahwa ketika beranjak tua






29
individu akan menunjukkan pola perilaku yang konsisten dengan mengganti
peran yang hilang (akibat usia dan pensiun) dengan peran serupa. Pada saat
yang sama, individu ini pun akan menjaga pola adaptasi yang constant atau
berkelanjutan dengan lingkungan sosial. Dengan demikian, teori ini
menggaris bawahi bahwa kepuasan hidup ditentukan oleh adanya konsistensi
antara aktivitas atau pola hidup seorang lansia di saat sekarang dengan pola
hidupnya di masa lampau (Neugarten, Havinghurst, Tobin 1968).
Mazhab KritisStrukturalis
Sama yang terjadi pada disiplin ilmu lain, mazhab fungsionalisme
dalam gerontologi yang telah melahirkan teori-teori besar di atas harus
mengakhiri masa kejayannya dengan munculnya ide marxis yang menggugat
kapitalisme sebagai nafas masyarakat modern. Marxisme dalam gerontology
tereflkesi dalam teori ekonomi politik (political economy of old age); sebuah
teori makro yang memberikan fokus pada faktor-faktor sosial yang
membentuk dan mendefinisikan ketuaan atau ageing. Dalam teori ini usia
lansia merupakan produk dari konstruksi masyarakat yang dibangun agar
sesuai dengan kebutuhan ekonomi masyarakat modern (Estes 1979). Secara
sederhana ini bisa diartikan bahwa seseorang atau satu kelompok
didefinisikan tua karena secara ekonomis mereka harus menjadi tua. Yang
menjadi berbeda dalam teori ini dengan teori-teori sebelumnya adalah






30
berubahnya fokus dalam menjelaskan fenomena lansia dari faktor individu
kepada faktor sosial, ekonomi dan politik. Dengan kata lain, faktor utama
yang menentukan lansia dan pengalaman menjadi lansia bukanlah faktor
individu, tapi faktor sosial ekonomi termasuk kelas sosial, usia, gender, ras
dan orientasi seksual.
Menurut Phillipson (1998) implikasi dari pandangan ini di Inggris dan
negara-negara industri lainnya, adalah diasosiasikannya lansia dengan
pengeluaran sosial (social expenditure); mereka tidak hanya dipandang dalam
kacamata medis saja tapi juga sumberdaya pemerintah. Pandangan inilah yang
mendorong munculnya persepsi masyarakat modern bahwa lansia merupakan
BEBAN bagi masyarakat modern. Phillipson (1998: 17) mengatakan:
'Older people came to be viewed as a burden on western economies, with
demographic change... seen as creating intolerable pressures on public
expenditure'.

Fokus utama dalam teori politik ekonomi adalah relasi antara aging
dan struktur ekonomi. Di Amerika, teori ini tercermin dalam karya-karya
Estes (1979), dan Estes, Swan and Gerard (1982). Di Inggris, tokohnya antara
lain Walker (1981), Townsend (1981) dan Phillipson (1982). Estes misalnya
menyuarakan kembali ide Marxist dengan mengatakan bahwa martabat
sesorang sangat ditentukan oleh fungsi produksinya, dan persepsi inilah yang
melandasi semua kebijakan dan persepsi masyarakat tentang lansia.






31
Pandangan negatif tentang lansia serta kemiskinan dan problem lansia lain
bisa dijelaskan oleh hilangnya harkat dan martabat mereka akibat hilangnya
fungsi produksi. Estes (1979) juga mengklaim bahwa teori inilah yang
memapankan peran negara pada kelompk lansia; karena negaralah yang
memiliki wewenang mengalokasikan sumber daya, maka negara juga yang
berhak mengatur alokasi dana pensiun yang kemudian menjadi kunci dalam
menentukam harkat dan martabat lansia.
Lebih jauh, Phillipson (1982) berargumen bahwa kebijakan pensiun
merupakan pemaksaan untuk undur diri dari aktivitas kerja yang ditujukan
sebagai upaya mereduksi biaya dan pengeluaran negara. Untuk itudia bicara
lebih lanjutnegaralah yang sesungguhnya punya peran untuk menentukan
bagaimana posisi sosial dan masa depan warga negara senior ini, negara juga
yang secara tidak langsung membentuk perilaku sosial dan kultural tehadap
lansia. Dalam konteks inilah semua wacana terkait perubahan welfare state
(secara sederhana bisa definisikan dengan berkurangnya peran negara dalam
program kesejahteraan masyarakat) menjadi justifikasi dari persepsi bahwa
lansia merupakan beban negara. Meniru cara berfikir ini, Townsend (1981)
menegaskan bahwa masyarakat menciptakan problem sosial lansia melalui
pola pikir ageism yang diinstitusionalkan melalui kebijakan pensiun, melalui
langkanya sumber daya yang dialokasikan kepada komunitas ini, serta






32
jeleknya kualitas layanan panti (residential care) dan juga layanan masyarakat
terhadap lansia, Lebih jelasnya ada perspektif structural serta aturan sumber
daya yang mengatur lansia dalam masyarakat modern (Townsend 1981: 9).
Ada banyak teori dalam lain disiplin gerontologi yang menawarkan
cara pandang dan mencoba menjelaskan dimana letak permasalahan dalam
isu lansia. Perspektif femisnime dan postodernisme yang muncul belakangan
juga menawarkan cara pandang mereka yang tentu saja memperkaya spectrum
perspektif mengenai lansia. Selain ranah sosial, lansia juga bisa dilihat dari
teori-teori medis biologis atau psikologis. Jelasnya, terus munculnya berbagai
teori tentang lansia merefleksikan perubahan cara pandang masyarakat
terhadap komunitas ini sesuai dengan perubahan budaya, struktur sosial serta
kemajuan peradaban manusia. Kalau mungkin digaris bawahi ada beberapa
isu utama yang muncul dari teori-teori sosial di atas. Diantaranya adalah
bagaimana lansia diposisikan oleh negara dan masyarakat? Bagaimana posisi
atau persepsi tadi terefleksi dalam kebijakan dan program kesejahteraan
lansia?

C. Prinsip dan Arah Kebijakan
Sebagaimana sudah disebutkan, perkembangan demografi pada
populasi lansia telah menyebabkan hampir semua negara memberi perhatian






33
serius kepada populasi ini meski kemudian persepsi, ideologi dan bentuk
kebijakan serta program yang berbeda antara satu negara dengan negara lain.
Tentu saja perlu dipahami bahwa teori tidak bisa secara langsung
diterjemahkan ke dalam kebijakan, atau lebih tepatnya, penyusunan sebuah
kebijakan dan program pelayanan lansia merupakan proses politik yang
dipengaruhi banyak hal dimana teori hanyalah salah satunya. Dalam konteks
itu, ada beberapa prinsip dan aspek yang mungkin bisa ditarik dari teori dan
persepsi di atas yang mempengaruhi kebijakan dan program lansia di berbagai
negara. Pertama, adanya kesadaran bahwa lansia tidak bisa di anggap sebagai
kelompok yang homogen atau tunggal, melainkan sebuah populasi yang
beragam. Meski masih umum dipakai, batasan usia tidak bisa lagi dianggap
sebagai satu-satunya faktor penentu (defining factor) dalam mendefiniskan
lansia serta kebutuhannya. Kedua, semakin disadari oleh masyarakat
internasional bahwa lansia adalah konsep yang dibangun oleh
masyarakat/budaya, dan sayangnya pemahaman yang ada tentang lansia
selama ini didominasi oleh potret negatif, yang berimplikasi negatif bagi
lansia itu sendiri maupun kondisi sosial ekonomi negara. Untuk itu, perubahan
kepada persepsi yang lebih positif tentang lansia menjadi hal yang mulai
disosialisasikan oleh masyarakat internasional. Ketiga, terkait dengan
pertanyaan tentang siapa yang bertanggung jawab menyediakan program dan






34
layanan untuk lansia; negara, atau keluarga dan masyarakat? Aspek ketiga
inilah yang mendominasi perbincangan dan wacana tentang lansia dan
kebijakan lansia di berbagai negara. Ada dua kunci penting yang menjadi
fokus dari aspek ini yaitu kompetisi ekonomi dan solidaritas sosial. Sebagian
negara berpendapat bahwa dalam dunia yang secara ekonomi semakin
kompetitif, solidaritas sosial terhadap lansia yang diwujudkan dalam peran
sentral pemerintah dalam menyediakan layanan dan program yang maksimal
untuk lansia tidak mungkin lagi dipertahankan. Dana untuk pelayanan dan
program-program kesejahteraan lansia dianggap terlalu besar untuk
ditanggung negara sendiri, sehingga keterlibatan keluarga, masyarakat
termasuk kelompok industri dan privat menjadi sangat penting. Pandangan
inilah yang menjadi topik utama dalam wacana perubahan welfare state; yang
dalam kasus lansia diwujudkan dalam berkurangnya peran negara terutama
melalui pengurangan budget untuk pembiayaan program dan pelayanan
kesejahteraan sosial terhadap lansia. Sementara sebagian negara lain, seperti
negara-negara Skandinavia, tetap berpendapat bahwa kompetisi ekonomi
masih bisa berjalan secara harmonis dengan solidaritas sosial. Untuk itu,
negara tetap menjadi aktor sentral dalam pemenuhan hak dan kesejahteraan
lansia sementara peran keluarga dan masyarakat lebih bersifat pelengkap
(suplementary).






35
Terkait dengan landasan konseptual dan arah kebijakan tentang lansia,
PBB sebagai lembaga internasional sudah menetapkan beberapa prinsip
kebijakan yang mulai dibangun sejak Konggres Dunia pertama tentang lansia
(the first UN World Assembly on Ageing) tahun 1982, kemudian dituangkan
sebagai konsep yang matang pada pertemuan Majelis Umum tahun 1991,
dengan nama UN Principle for Elderly. Ada 5 prinsip yang diharapkan PBB
untuk diadopsi semua negara dalam kebijakan dan program-program lansia
yang diselenggarakan, yaitu:
1) Kemandirian
Dalam dokumen tersebut dijelaskan bahwa untuk mencapai
kemandirian lansia ada beberapa aspek penting yang harus ada yakni:
a) tercukupinya kebutuhan dasar: makanan, air, tempat tinggal,
pakaian dan pelayanan kesehatan yang memadai, b) Memiliki
kesempatan bekerja dan mendaatkan penghasilan, c). Memiliki
kesempatan penuh untuk berpartisipasi dalam proses pengambilan
keputusan terkait kapan dan bagaimana proses pensiun akan diatur, d).
Lansia harus memiliki kesempatan memperoleh pendidikan dan
pelatihan serta, 5). Bisa hidup dalam lingkungan yang aman dan diatur
sesuai dengan kebutuhan dan perubahan kemampuan yang dimiliki
lansia.






36
2) Partisipasi
Partisipasi yang dimaksudkan di sini adalah kesempatan
melakukan kegiatan sosial politik yang meliputi: kesempatan untuk
tetap tinggal dan aktif di masyarakat serta terlibat dalam semua
pengambilan keputusan dan kebijakan terkait lansia, kesempatan untuk
terlibat dalam pelayanan masyarakat termasuk menjadi relawan serta
kesempatan untuk berorganisasi dan membentuk gerakan lansia.

3) Care/ Perawatan
Terkait dengan perawatan dokumen PBB ini menegaskan
bahwa lansia berhak mendapatkan perawatan dan perlindungan dari
keluarga dan masyarakat yang sesuai dengan sistem dan nilai yang
dianut masyarakat tersebut. Lansia juga harus bisa mendapatkan akses
perawatan kesehatan secara optimal sehingga mereka bisa
mempertahankan dan menjaga kesehatan fisik, psikologis dan spiritual
serta terhindar dari penyakit. Termasuk dalam perawatan yang di
maksud disini adalah perlindungan hukum, serta akses kepada
pelayanan institusi/panti yang memberikan perlindungan, rehabilitasi
dan program-program stimulatif. Secara lebih jelas ditegaskan dalam
dokumen PBB bahwa lansia berhak untuk menikmati pemenuhan Hak






37
Asasi, kebebasan, pelayanan penuh serta terjaga harkat dan
martabatnya sebagai manusia.
4) Dignity/Harkat dan Martabat Lansia
Point tentang harkat dan martabat yang sudah disebutkan
dalam poin care di atas ditegaskan dalam poin tersendiri mengenai
dignity yang menyebutkan bahwa lansia berhak hidup secara
terhormat dan aman dari segala bentuk ekploitasi dan kekerasan fisik
maupun psikologis. Mereka juga harus dihargai sebagai manusia tanpa
melihat latar belakang agama, ras dan etnis, gender, disabilitas atau
status sosial lainnya.
5) Pencapaian Individu ( personal fulfillment)
Kembali ditegaskan dalam prinsip ini bahwa lansia berhak
mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan dan
akses kepada sumber-sumber pendidikan, budaya, spiritual dan
rekreasional.
Disamping 5 prinsip di atas, pada tahun 1999 PBB melakukan langkah
lebih jauh dengan menetapkan apa yang mereka sebut sebagai konsep dasar
(conceptual framework of aging) yang memuat beberapa hal penting yang
belum termuat dalam UN Principles. Dua di antara konsep yang penting untuk
dicatat disini adalah persepsi yang positif tentang aging dan hubungan antar






38
generasi (intergenerational relationship), yakni upaya memupuk pemahaman
dan kepedulian antara lansia dengan generasi muda. Penting juga untuk
dicatat bahwa badan internasional lain seperti WHO juga memberikan
perhatian kepada isu lansia, misalnya dengan merumuskan konsep sehat lansia
(healthy ageing) sebagai bagian dari HEALTH For All 21 (kesehatan untuk
semua abad 21). Dalam konsep tersebut ditekankan bahwa kesehatan lansia
merupakan proses yang harus dipupuk sepanjang siklus kehidupan individu,
artinya untuk menjadi lansia sehat perlu dimulai dari bayi dan balita sehat.
Healthy aging juga menekan perlunya beberapa hal yang sudah di singgung
dalam UN principles seperi partisipasi sosial lansia dalam kehidupan
bermasyarakat, termasuk yang paling penting adalah keikutsertaan mereka
dalam pengambilan keputusan (WHO: Healthy 21) Selain nilai-nilai diatas,
perkembangan wacana lansia kini juga diwarnai oleh beberapa pendekatan
penting lain seperti pemenuhan hak dan inklusi sosial.
Dalam konteks Indonesia, kebijakan lansia juga sudah cukup
mengalami perubahan. Secara ringkas, bisa dipahami bahwa fenomena
meningkatnya populasi aging sudah disadari masyarakat internasional sebagai
isu penting yang harus di respon. Prinsip dan konsep di atas ditawarkan
sebagai nilai-nilai dasar yang perlu disepakati dan harus dijadikan landasan






39
bagi penyusunan kebijakan dan program pelayanan dan perlindungan untuk
lansia.

D. Gambaran Program Pelayanan Sosial Lansia
Mengamati praktek yang dilakukan berbagai negara, kebijakan,
program dan pelayanan kesejahteraan lansia biasanya diwujudkan dalam
beberapa skema pokok yakni:
1. Perlindungan Sosial ( Social Protection)
Secara luas, perlindungan sosial bisa didefinisikan sebagai upaya
untuk mencegah, mengatur dan menanggulangi kondisi-kondisi yang
mempengaruhi kesejahteraan individu. Untuk itu biasanya perlindungan
sosial berisi kebijakan dan program yang dimaksudkan untuk mengurangi
kemiskinan, kerentanan atau resiko sosial seperti kehilangan pekerjaan,
sakit atau kecelakaan, disabilitas, dan menjadi tua. Bentuk perlindungan
sosial beragam, namun yang paling umum dijumpai adalah: 1) intervensi
pemerintah terhadap lapangan kerja mulai dari perluasan kesempatan
kerja termasuk pendidikan dan pelatihan maupun perlindungan pekerja, 2)
asuransi sosial yakni asuransi yang ditujukan untuk mengurangi resiko
akibat pengangguran, sakit, kecelakaan kerja, disabilitas maupun ketuaan,
3) bantuan sosial yakni bantuan yang diberikan kepada mereka yang tidak






40
memiliki pendapatan, atau pendapatannya tidak cukup untuk memenuhi
kebutuhan dasar. Bantuan sosial biasanya berbentuk tunai, makanan atau
kebutuhan dasar lain.
Dari definisi di atas jelas bahwa ketuaan merupakan kondisi
rentan yang menjadi salah satu target utama perlindungan sosial, dan
karenanya hampir semua negara memiliki skema perlindungan sosial
untuk lansia meski model dan jangkauannya (coverage) sangat beragam.
Salah satu skema perlindungan sosial yang paling umum dijumpai adalah
pensiun hari tua, yang biasanya masuk dalam kategori asuransi sosial.
Sebagai sebuah bentuk asuransi, perolehan pensiun mensyaratkan adanya
pembayaran premi, yang biasanya diambil dari gaji penerima semasa dia
bekerja. Secara garis besar ada tiga model pensiun yang ada di dunia yang
perbedaannya terletak pada siapa yang berhak mendapatkan (coverage):
a) Universal Age Pension yakni pensiun yang keikutsertaanya
dilandaskan hanya pada faktor usia. Artinya siapapun yang sudah
memasuki usia tuabervariasi antara 60 sampai 70dan merupakan
warga negara berhak mendapatkan pensiun tersebut. Negara seperti
New Zeland dan Brunei Darussalam termasuk yang mengadopsi
system ini.






41
b) Universal Mean Pension. Mirip dengan skema di atas, model pensiun
ini mentargetkan hampir semua waranegara yang mencapai usia
tertentu (60 ke atas), namun ada sedikit test (pension test) yang
mengiliminir beberapa lansia dengan kriteria tertentu (misalnya yang
memiliki income di atas rata-rata). Thailand, Switzerland, Swedia,
Finlandia adalah beberapa negara yang mengaplikasikan model ini.
c) Means- tested Pension. Cukup berbeda dengan dua model di atas,
pensiun ini hanya menjangkau sedikit warga negara lansia karena
keikutsertaanya didasarkan pada kriteria yang lebih detail, seperti
hanya diperuntukkan pada sektor formal dan sangat tergantung
jumlah penghasilan.
Indonesia merupakan negara yang menganut mean tested pension,
untuk itu coveragenya masih sangat terbatas untuk pegawai negeri atau
sedikit pegawai di perusahaan besar saja. Data dari World Labour Report
1999 misalnya memaparkan bahwa di Indonesia hanya 6-7 persen lansia
yang memiliki pensiun. Angka ini sangat kecil dibanding China yang
memiliki coverage sebesar 21 persen atau Filipina yang bahkan mencapai
53 %. Adapun negara Asia lain yakni Singapura, Jepang dan Malaysia
memiliki model pensiun universal sehingga hampir 100 persen warga
memiliki pensiun.






42
Dibandingkan dengan negara maju, negara di Asia cenderung
memiliki batasan usia pensiun yang lebih rendah yakni antara 50 sampai
65 tahun. Singapura misalnya usia wajib pensiun adalah 55. Terkait
dengan semakin panjangnya angka harapan hidup, maka usia wajib
pensiun yang rendah memiliki konsekuensi dibutuhkannya biaya pasca
pensiun lebih banyak. Memperpanjang usia pensiun merupakan solusi
yang dipikirkan oleh banyak negara untuk menanggulangi beban ekonomi
masyarakat ageing sekaligus memberi ruang partisipasi bagi lansia.
Finlandia misalnya pada tahun 2005 meningkatkan usia wajib pensiun
sebanyak tiga tahun dari 65 ke 68. Ada beberapa cara yang dilakukan
oleh berbagai negara yang mungkin bisa menjadi pilihan bagi Indonesia.
Diantaranya adalah menghilangkannya usia wajib pensiun. Dengan
kebijakan ini lansia bisa memutuskan sendiri kapan atau di usia berapa
dia akan mulai pensiun. Jalan lain adalah dengan menetapkan kebolehan
pensiun secara bertahap, misalnya dengan menetapkan jam kerja yang
fleksibel atau membolehkan pekerja lansia untuk bekerja separuh waktu
sebelum dia berhenti total.
Menarik untuk di catat, dalam konteks Asia kecenderungan yang
muncul justru memperpendek usia wajib pensiun. Trend ini muncul
karena budaya senioritas dalam dunia kerjasemakin senior maka gaji






43
semakin tinggitidak lagi dianggap tepat, terutama karena adanya
asumsi kuat bahwa produktifitas pekerja akan menuru seiring penambahan
usia. Untuk merespon kondisi ini, beberapa negara seperti Korea Selatan
mulai mendorong warganya untuk pensiun lebih dini dengan cara
mengembangkan skema-skema perlindungan sosial. Memang penelitian di
beberapa negara Asia menunjukkan bahwa semakin luas skema
perlindungan sosial yang diberikan pemerintah, semakin tinggi keinginan
masyarakat untuk pensiun lebih dini. Rendahnya usia pensiun di Asia juga
dirangsang oleh kebijakan mekanisme perbankan yang menawarkan
skema investasi serta simpanan yang menjajikan. Indonesa, bersama
dengan Korea Selatan, Singapura dan Thailand dilaporkan sebagai negara
yang dalam 30 tahun terakhir menunjukkan peningkatan angka investasi
yang tinggi dan menyebabkan warganya melakukan pensiun dini.
Hal lain yang perlu di catat, di beberapa negara asuransi sosial
terkait lansia sudah diperluas cakupannya sampai ke caregiver atau
mereka yang merawat lansia, bisa pasangan (suami/istri), anak maupun
anggota keluarga lain. Bentuknya bervariasi seperti hak cuti kerja,
pengurangan dan pengembalian pajak ataupun pembayaran yang
dilakukan oleh negara atas jasa perawatan yang diberikan. Di Kanada
misalnya individu yang tinggal bersama dan merawat anggota keluarga






44
yang memiliki hambatan fisik atau mental, termasuk orang tua yang sudah
tidak bisa mandiri, berhak menerima pengembalian pajak (tax return).
Ketika individu ini harus berhenti bekerja atau cuti karena orang tua atau
anggota keluarga tersebut sakit keras atau sekarat maka dia juga berhak
menerima tunjangan yang disebut Compassionate Care Benefit sebagai
bagian dari Asuransi kerja (Employment Insurace). Dengan tunjangan ini
individu yang bersangkutan bisa menerima $ 50/minggu, dalam waktu
maksimal 6 minggu.
Bentuk lain dari perlidungan sosial untuk lansia adalah bantuan
sosial (social assistance) yakni bantuan yang diberikan oleh pemerintah
kepada lansia miskin yang tidak memiliki pendapatan atau pendapatannya
tidak cukup untuk hidup. Berbeda dengan asuransi atau pensiun yang
meniscayakan pembayaran atau kontribusi dari penerima, bantuan sosial
tidak mensyaratkan pembayaran premi dan merupakan subsidi yang
diberikan negara kepada masyarakat miskin. Bantuan sosial umumnya
diberikan dalam bentuk pembayaran tunai (cash transfer) atau pemberian
makanan (misalnya kupon makanan/food stamp) dan bertujuan agar lansia
tersebut bisa memenuhi kebutuhan dasar. ASLUT (Asistensi Lanjut Usia )
dan JSLU (Jaminan sosial Lanjut Usia), bedah rumah, bantuan makanan
dan program pelayanan kesejahteraan lansia lainnya yang ditetapkan






45
Kementerian Sosial Indonesia semua masuk kategori bantuan sosial
sehingga target groupnya adalah lansia miskin atau terlantar. Di beberapa
negara seperti Amerika dan Kanada bantuan sosial kepada lansia diberi
nama tambahan pendapatan (supplement security income).
2. Layanan Kesehatan
Asuransi atau jaminan kesehatan merupakan bentuk lain dari
perlindungan sosial yang bisa ditemui di hampir semua negara. Ada
banyak negara yang memilik model asuransi kesehatan universal, dimana
semua warga tanpa kecuali, memiliki asuransi kesehatan yang dibayar
oleh pemerintah, yang dananya diambil dari uang pajak. BPJS yang baru
saja mulai diaplikasikan di Indonesia merupakan langkah pemerintah
menuju universalisasi jaminan kesehatan meski saat ini beberapa
komponen masyarakat masih belum memiliki.
Terkait secara spesifik dengan lansia, jaminan kesehatan menjadi
isu serius karena besarnya anggaran yang dikeluarkan negara bagi
perawatan kesehatan lansia. Data dari pemerintah Kanada tahun 1998
2009 misalnya menunjukan bahwa pengeluaran pemerintah pusat dan
propinsi untuk kesehatan satu lansia usia 65 ke atas berkisar antara $
6.375/tahun, 5 kali lipat lebih tinggi dari anggaran kesehatan untuk usia
2064 yang hanya seputar $ 1,282. Mahalnya anggaran kesehatan untuk






46
lansia membuat banyak negara mempertanyakan sustainabilitas jaminan
kesehatan mereka, dan pada beberapa kasus melahirkan tumbuhnya sektor
swasta.
Beberapa komponen penting yang menjadi fokus dalam pelayanan
kesehatan lansia adalah home care dan pelayanan kesehatan jangka
panjang (long term atau residential care). Konsep perawatan berbasis
rumah (home care) biasanya terdiri dari perawatan medisseperti
perawatan dokter, perawat dan terapisserta non medis yakni bantuan
personal mulai dari memandikan, membersihkan rumah, memasak dan
lainnya. Di sebagian negara perawatan home care medis dikelola dan
diberikan oleh kementerian kesehatan, sementara yang perawatan non
medis diselenggarakan oleh kementerian (di Indonesia melalui dinas
sosial). Namun disebagian negara lain menggabungkan komponen medis
dan non medis dibawah satu pengelolaan. Di propinsi Quebec, Kanada
misalnya, sejak 1974 pelayanan sosial dan kesehatan diintegrasikan dalam
satu atap, sehingga pelayanan home care terdiri dari komponen medis dan
non medis diberikan melalui Center for Health and Social Services,
dikenal dengan nama CSSS atau CLSCs, Sementara di Skandinavia,
Dermark dan Norwegia, pelayanan home careyang juga meliputi dua






47
aspek diatasmenjadi tanggung jawab pemerintah lokal,
kota/municipalities.
Bagi negara yang mengaplikasikan jaminan kesehatan universal,
home care services biasanya sudah termasuk dalam skema jaminan yang
ada. Namun negara seperti Amerika (sebelum kebijakan terahir Obama),
yang jaminan kesehatannya belum menyeluruh, home care merupakan
pelayanan yang berada di luar jaminan kesehatan dan karenanya pasien
harus membayar ekstra atau menanggung sebagian biaya, kecuali bagi
mereka yang miskin.
Lansia yang sudah tidak memungkinkan lagi tinggal di rumah
karena beberapa kondisi seperti; 1) Menurunnya kemampuan kognitif,
misalnya karena dementia, 2) Hilangnya kemampuan menjalankan
aktivitas sehari-hari, 3) Tidak adanya support keluarga atau masyarakat, 4)
Tingginya stress yang dihadapi keluarga atau caregiver; maka perawatan
jangka panjang berbasis institusi menjadi pilihan terakhir. Namun dengan
perkembangan tekhnologi, kecenderungan de-institusionalisi dan
pelayanan berbasis masyarakat (community based), kini pelayanan jangka
panjang juga mulai diberikan dalam setting rumah baik itu rumah hunian,
tempat tinggal yang diawasi (assisted living) atau nursing home (rumah






48
perawatan). Inilah kemudian yang memunculkan istilah residential care
(perawatan berbasis hunian).
Perawatan jangka panjang dikenal cukup mahal dan menjadi beban
signifikan bagi jaminan kesehatan. Data dari Amerika menyebutkan
bahwa pada tahan 2009, anggaran untuk perawatan jangka panjang bagi
lansia mencapai $ 119 juta. Dari angka ini ada perbedaan antara tipe
hunian yang dipilih. Untuk nursing home, biaya satu kamar mencapai $
81,030/tahun , atau lebih dari $ 7 ribu/bulan. Anggaran rata-rata tahunan
untuk nursing home diprediksi melebihi simpanan pensiun setahun yang
bisa dikumpulkan seorang warga Amerika. Jika prediksi pertambahan
populasi lansia sebanyak 14 % di tahun 2040 terbukti benar, bisa
dipastikan bahwa negara tidak akan sanggup membayar biaya perawatan
jangka panjang, padahal sampai saat ini biaya long term care di Amerika
tidak sepenuhnya dibebankan pada negara, melainkan gabungan antara
negara, asuransi privat dan juga pengeluaran pribadi. Adapun negara-
negara Eropa sudah selangkah lebih maju dengan menetapkan skema-
skema pembiayaaan yang menjadi bagian dari asuransi kesehatan
pemerintah. Belanda sejak 1967 sudah menetapkan Exceptional Medical
Expenses Act yang diantaranya membiayai long term care. Jerman
memiliki kebijakan serupa dengan mengintegrasikan komponen long term






49
care di dalam asuransi kesehatan yang wajib diikuti warganya.
Mekanisme pembiayaan perawatan jangka panjang di Norwegia sedikit
berbeda. Sejak 1988 negara ini menetapkan kebijakan untuk membayar
caregiver informal yakni keluarga yang melakukan perawatan jangka
panjang bagi anggota keluarga lansia. Langkah ini diikuti negara-negara
tetangganya seperti Denmark, Finlandia, Sweden dan negara Nordic lain.
Di Indonesia, pelayanan jangka panjang belum menjadi bagian
dari program kesejahteraan lansia, sehingga beban dan biaya perawatan
jangka panjang masih sepenuhnya menjadi tanggung jawab. Pada
beberapa aspek, panti lansia (Panti Sosial Werdha) sedikit mirip dengan
konsep long term care. Namun ada perbedaan yang sangat signifikan
mengingat panti menuntut kemandirian lansia sebagai salah satu kriteria
masuk, sementara long term care dalam teorinya diperuntukkan bagi
lansia yang sudah kehilangan kemandirian total. Kriteria inilah yang
mungkin perlu dikaji kembali, karena jika pantiyang seringkali menjadi
pilihan satu-satunya bagi lansia miskin dan terlantarmenuntut
penerimanya memiliki kemandirian, lalu kemanakah lansia terlantar yang
sudah tidak bisa mandiri dan membutuhkan perawatan jangka panjang?
3. Perawatan Non Medis






50
Di samping perawatan kesehatan sebagaiman dijelaskan di
atas, pelayan sosial atau non medis merupakan aspek pokok dalam
pelayanan kesejahteraan sosial lansia di berbagai negara. Bentuk dan jenis
program pelayanan non medis sangat bervariatif, diantara yang umum
dijumpai adalah
a. Home Care
Pelayanan home care yang kini ada di berbagai negara
diberikan kepada lansia yang masih memiliki kemampuan untuk
mandiri dan bisa tinggal di rumah sendiri, meskipun lansia tersebut
membutuhkan bantuan untuk melakukan aktifitas harian seperti mandi,
memasak dan lainnya. Bahkan di beberapa negara yang sudah
memiliki pengalaman panjang seperti Swedia, lansia dalam kondisi
sakit keras atau memiliki disabilitas bisa diberikan home care berupa
pengawasan ketat 24 jam.
Home care dianggap salah satu pilihan yang bisa menekan
biaya perawatan kesehatan, dibanding misalnya dengan perawatan
rumah sakit atau panti. Yang lebih penting lagi, home care dianggap
lebih sesuai dengan prinsip-prinsip pelayanan lansia seperti
menghormati independensi dan inklusi sosial. Dengan kata lain home
care diyakini lebih menjamin kenyamanan, kebahagiaan dan






51
kemandirian lansia. Data dari berbagai negara misalnya
mengindikasikan bahwa 87-93 persen lansia lanjut, diatas 65 tahun,
memilih tetap tinggal di rumah sendiri, tidak tercerabut dari
komunitas.
Sebagaimana disebutkan di atas, jenis pelayanan yang
ditawarkan home care bervariasi atau lebih tepatnya memiliki beberap
komponen:
a) pelayanan medis oleh dokter, perawat atau terapi
b) pelayanan non medis : bantuan perawatan diri seperti mandi,
makan, minum obat, mengukur tekanan darah atau gula.
c) pelayanan seputar rumah: memasak, mencuci, membersihkan
atau memperbaiki rumah, membayarkan tagihan bulanan.
Spektrum pelayanan home care sebagaimana dikemukakan di
atas masih belum sepenuhnya di temui di Indonesia. Home care yang
kini ditawarkan dinas sosial Yogyakartadan juga propinsi lain
masih lebih tepat disebut home visit karena bentuknya hanyalah
kunjungan sosial tanpa ada layanan medis atau non medis yang
diberikan. Meski dari pengamatan di lapangan home care memiliki arti
penting sebagai dukungan moral dan psikologis bagi lansia dan
meminimalisir apa yang dalam literature sering disebut sebagai isolasi






52
atau eksklusi sosial (social isolation). Kunjungan pendamping dengan
sepotong roti atau sebungkus teh manis serta 30-60 menit percakapan
ringan bisa menjadi satu-satunya jendela bagi lansia yang sudah bed-
ridden dengan dunia luar. Peran ini sangat signifikan untuk menjaga
kesejahteraan psikologis lansia (well being), dan perlu tetap menjadi
komponen penting dalam pelaksanaan home care di Indonesia.
b. Day program/Day care Lansia
Day care lansia adalah program yang diselenggarakan secara
kelompok yang ditujukan sebagai sarana sosial bagi lansia dan juga
pelayanan kesehatan, nutrisi dan aktivitas keseharian yang diberikan
oleh professional. Di negara-negara maju, day care juga berfungsi
sebagai perawatan transisi atau rehabilitasi jangka pendek bagi lansia
yang baru saja keluar dari rumah sakit. Day care beroperasi di siang
hari dalam jangka waktu antara 1012 jam dengan aktivitas beragam
sesuai dengan 2 fungsi yang dimiliki day care, yakni fungsi perawatan
sosial dan medis. Dari aspek sosial, day care merupakan ajang
sosialisasi lansia dengan aktivitasaktivitas bermanfaat dan menghibur
mulai dari minum kopi bersama, book club, kelas kerajinan atau
komputer sampai rekreasi bersama. Dari fungsi medisnya day care
melakukan aktivitas assessment, terapi atau program rehabilitasi






53
lainnya termasuk diet dan nutrisi serta pengecekan rutin kondisi gula,
darah serta detak jantung. Beberapa day care bahkan dispesifikan
untuk lansia dengan kondisi medis tertentu, yang paling umum adalah
penderita Alzeimer atau gangguan dementia lainnya. Untuk menjawab
permasalahan tantangan mobilitas dan kondisi fisik lansia day care
juga di lengkapi dengan pelayanan transportasi (antar jemput) dan
pelayanan individu yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing
lansia. Penelitian membuktikan bahwa partispasi dalam program day
care bisa mencegah lansia kembali di opname (re-hospitalization) atau
memperlambat mereka masuk perawatan jangka panjang (residential
long term care). Stimulasi sosial dan aktivitas rekreasi serta hiburan
sangat diyakini bisa meningkatkan atau menjaga kondisi fisik dan
kognitif lansia. Pada saat yang sama, day care memberi peluang
kepada keluarga atau caregiver untuk bekerja atau istirahat.
Dengan variasi kegiatan tersebut, sebuah day care biasanya
dilengkapi tim staf professional terdiri dari perawat, atau pekerja sosial
serta caregiver atau pendamping. Data dari Penelitian Nasional
MetLife tahun 2010 menyebutkan bahwa day care di Amerika
memiliki ratio ratarata satu pendamping bagi 6 lansia. Di samping
pendamping, 80 persen fasilitas day care juga memiliki perawat, 50






54
persen memiliki pekerja sosial dan 60 % memiliki pelayanan case
management.
Day care adalah program yang biasanya dikategorikan berbasis
masyarakat (community based) sehinga mayoritas penyelenggaranya
adalah organisasi not profit, dengan biaya yang juga dibayar bersama
antara kantong pribadi, sumbangan dan pemerintah. Masih dari
Amerika, 71% day care dikelola lembaga non profit are dan hanya 16
% yang diselenggarakan oleh pemerintah. Perlu dicatat bahwa day
care menjadi salah satu program yang semakin dianggap penting tidak
saja karena manfaatnya yang penting untuk menjaga kesehatan fisik
dan kognisi lansia, namun juga karena biaya day care dianggap lebih
murah dibanding dengan home care atau nursing home.
c. Respite care
Merawat orang sakit, anak difabel dan orang tua yang sudah
tidak independen merupakan tugas berat baik secara fisik atau mental,
dan karenanya sangat gampang menimbulkan stress pada caregiver.
Intensitas perawatan juga terbukti menjadikan caregiver terisolasi dari
masyarakat. Riset menunjukan adanya kebutuhan dan tuntutan yang
tinggi dari masyarakat di berbagai negara agar pemerintah
menyediakan apa yang di sebut respite care (Pearson & Moore 2001).






55
Respite care adalah perawatan jangka pendek yang diberikan oleh
caregiver sementara untuk memberikan waktu bagi caregiver tetap
beristirahat dari tugas rutinnya. Respite care ditujukan untuk
mencegah atau mengurangi stress dan memberikan keseimbangan
psikologis bagi caregiver (Nicoll, 2002). Studi juga menunjukan
bahwa berkurangnya stress pada caregiver karena respite mampu
meningkatkan kualitas interaksi antara caregiver dan pasien, yang pada
gilirannya akan mengurangi kemungkinan adanya kekerasan pada
lansia atau dependen lain ( Nicoll, 2002: 479).
Ada berbagai model respite care, salah satunya adalah day
program yang telah dijelaskan di atas. Model lain yang umum
dijumpai adalah asistensi berkala di dalam rumah, baik secara informal
oleh keluarga, tetangga, teman atau asistensi yang diberikan oleh
petugas professional: perawat atau tenaga kesehatan terlatih. Banyak
negara yang juga sudah memiliki pusat perawatan respitesering
disebut residential atau nursing caresehingga memungkin pengguna
mendapatkan perawatan inap untuk jangka waktu tertentu. Mekanisme
pelayanan respite care yang diterapkan negara bervariasi. Mekanisme
yang banyak di jumpai adalah pemberian uang respite secara cash
kepada keluarga sehingga mereka bisa mencari sendiri respite care






56
yang dibutuhkan. Di beberapa negara seperi Inggris, pelayanan
diberikan oleh pemerintah melalui pengiriman tenaga caregiver untuk
in home service. Bentuk lain adalah akses gratis ke out of home atau
lembaga residential care yang dimiliki oleh pemerintah. Beberapa
negara berhasil mengajak pihak swasta (industri) untuk berpartisipasi
dalam memberikan layanan respite kepada yang membutuhkan, dan
biasanya model yang ditawarkan sedikit berbeda dengan model
konvesional di atas. Beberapa perusahaan besar di Amerika, Kanada,
dan Inggris misalnya memiliki program paket liburan gratis yang
diberikan kepada keluarga caregiver sebagai bentuk respite.
4. Aksesibilitas fisik
Seiring dengan bertambahnya usia dan juga gangguan kesehatan
yang kerap dialami, tidak sedikit lansia yang menjadi difabel atau
penyandang disabilitas. Mereka mengalami hambatan mobilitas,
kehilangan fungsi sensori atau bahkan mengalami penurunan kondisi
mental dan kognitif yang signifikan. Kondisi tersebut bisa menghambat
partisipasi sosial lansia dan kesempatan mereka menikmati . Misalnya,
karena harus memakai kursi roda lansia tidak lagi leluasa keluar rumah
apalagi bepergian jauh. Kurangnya penglihatan dan pendengaran juga
mampu membuat lansia kurang mendapatkan informasi. Menyadari hal






57
tersebut, maka upaya menciptakan aksesibilias pada lingkungan fisik dan
layanan publik menjadi langkah yang harus dan sudah dilakukan sebagian
negara.
Transportasi merupakan contoh yang paling signifikan. Berbagai
negara sudah melakukan investasi dengan menyediakan sarana
transportasi umum seperti bus dan kereta yang aksesibel bagi lansia.
Misalnya, bus umum dilengkapi dengan alat hidrolik yang bisa
menurunkan posisi bus sangat rendah dan memungkinkan kursi roda atau
walker masuk dengan mudah. Bus atau kereta juga dilengkapi dengan
tempat duduk khusus yang diprioritaskan untuk lansia, difabel atau wanita
hamil. Kelengkapan lain seperti tersedianya lift pada stasiun kereta bawah
tanah (subway atau underground) atau monorail (atas) merupakan fasilitas
lain yang juga memudahkan lansia menggunakan transportasi publik.
5. Program Antar Generasi (I ntergenerational Program)
Masyarakat internasional sudah menyadari bahwa salah satu nilai
penting yang harus dimunculkan dalam upaya menciptakan kesejahteran
lansia adalah penerimaan dan kesadaran masyarakat, khususnya generasi
muda untuk menghargai dan menghormati mereka. Bagi masyarakat kita
konsep menghargai lansia bukanlah nilai baru. Budaya jawanya misalnya
mengenal filosofi mikul duwur mendem jero. Falsafah yang secara harfiah






58
berarti menyimpan rapat-rapat kesalahan yang dilakukan orang tua atau
pemimpin, dipahami sebagai anjuran budaya untuk menghargai dan
menjunjung tinggi harkat dan martabat generasi tua. Nilai ini kemudian
dipertegas dalam ajaran agama. Islam misalnya secara ekplisit
menganjurkan nilai penghargaan terhadap orang tua yang dalam Al Quran
sering disebut dengan istilah birr al walidain. Dalam literature
gerontologi, negara-negara Asia Timur seperti China dan Korea juga
dikenal memegang tinggi falsafah filial piety yang secara luas bisa
diartikan berbuat baik atau taat kepada orang tua. Nilai inilah yang sering
dianggap memegang peranan penting dalam masih tingginya peran
keluarga, terutama anak, dalam menciptakan kesejahteraan untuk lansia di
negara-negara tersebut.
Dalam konteks modern, nilai-nilai penghargaan terhadap lansia
kembali dimunculkan, meski penekanannya lebih kepada terciptanya
relasi dan komunikasi yang baik antara generasi muda dan generasi tua.
Inilah yang mendorong PBB mensosialisikan istilah relasi antargenerasi
(intergenerational relationship) sebagai salah satu dimensi penting yang
harus ada dalam mengkonseptualiasikan dan memberi arah bagi kebijakan
dan program lansia. Dalam prakteknya di negara-negara Barat, prinsip
intergenerational diterjemahkan dalam berbagai bentuk yang beragam,






59
namun bermuara pada terciptanya sebuah media yang memungkinkan
generasi muda dan tua berinterkasi, menjalankan aktivitas dan
bekerjasama untuk sebuah tujuan atau program tertentu misalnya isu
penggunaan obat terlarang dan alkohol, kekerasan dalam rumah tangga
dan sebagainya. Melalui program ini dua geneasi yang berbeda berbagi
pengalaman dan mendukung satu sama lain, terciptalah rasa saling
menghormati dan menyayangi yang bermanfaat bukan saja buat mereka
namun juga masyarakat secara luas. Salah satu bentuk intergenerational
program yang banyak di jumpa di US misalnya adalah penitipan anak
yang disatukan dengan day care lansia. Day care model ini diyakini tidak
hanya sebagai media menumbuhkan pemahaman antargenerasi tapi juga
mendorong partisipasi dan peran serta lansia dalam perawatan anak
sehingga mampu menekan biaya dan kebutuahn seumber daya. Memang
peran lansia sebagai sumber daya (resource) masyarakat sudah banyak
terbukti. Penelitian di US misalnya menunjukkan bahwa 96 persen lansia
usia 65 keatas melakukan kerja kerelawanan lebih banyak dari golongan
umur lain, rata-rata 97 jam pertahun. Data tahun 2000 menunjukkan
bahwa jika di kalkulasi, peran lansia dalam perawatan keluarga (anak)
maupun kerja relawan lansia di sektor lain mencapai nilai $ 239 juta
dollar.






60
Kerelawanan memang menjadi sektor yang menempatkan lansia
sebagai aktor penting, dan karenanya bentukbentuk program
antargenerasi berbasis pada program kerelawanan tersebut. Diantara
bentukbentuk program antargenerasi yang banyak dikembangkan:
o Lansia melayani Remaja: tutorial atau bantuan belajar, perawatan
anak, kelas parenting untuk orang tua remaja, telfon pengaduan
(hotline) untuk bullying dan penguatan psikologi anak dan remaha
dimana mereka bisa menceritakan masalah yang dihadapi baik
terkait sekolah, teman maupun keluarga.
o Remaja melayani Lansia: layanan visitasi sosial dari remaja,
bantuan pengurusan rumah (bersih-bersih, memasak atau belanja),
mengajari lansia mengenal computer, internet dan tehknologi.
o Remaja dan lansia kerja bersama dalam sebuah program: pelayanan
masyarakat seperti penyediaan makanan untuk masyarakat miskin,
program pelestarian lingkungan (sampah, pembuatan area hijau),
advokasi anti pemakain obat dan alkohol, isu kekerasan dalam
rumah tangga dan lainnya.
Programprogram antargenerasi di atas diyakini membawa
manfaat tidak hanya bagi dua belah pihak, tapi masyarakat secara umum.
Bagi lansia misalnya melakukan aktivitas di dalam program antargenerasi






61
diyakini mampu meningkatkan sosialisasi dan partisipasi sosial mereka
dan meminimalisir isolasi dan eksklusi sosial terhada lansia, menstimulasi
otak dan fungsi kognitif sehingga mengurangi resiko dementia, serta
penguatan kesehatan fisik dan psikologis. Sementara bagi generasi muda
programprogram di atas terbukti mampu meningkatkan prestasi
akademik, meningkatkan skill sosial, menurunkan perilaku negatif dan
meningkatkan stabilitas emosional adan psikologis. Bagi masyarakat
program antargenerasi mampu memperkuat ikatan dalam masyarakat,
memaksimalkan sumber daya manusia sehingga menekan biaya pelayanan
sosial, dan menguatkan pertukaran budaya.
Dengan fakta-fakta tersebut diatas maka menjadi penting bagi
pemerintah DIY untuk menegaskan dan mensistematisasikan kembali
program intergenerasi dalam pelayanan kesejahteraan lansia. Secara non
formal, kerelawanan lansia dan aktivitas antar generasi sudah banyak
dilakukan di masyarakat kita. Bukan pemandangan langka di DIY melihat
nenek merawat cucunya di rumah sementara orang tua si anak bekerja,
atau lansia menjadi kader masyarakat dari posyandu sampai pendamping
ASLUT. Yang masih perlu ditingkatkan adalah menformulasikan
aktivitas-aktivitas tersebut dalam program yang terstruktur dan menjadi
bagian dari program pelayanan kesejahteraan lansia atau program






62
masyarakat lain. Contoh sederhana adalah bagaimana melibatkan karang
taruna dalam aktivitas home visit atay layanan home care bagi lansia, dan
sebaliknya melibatkan lansia dalam program program karang taruna dan
anak.

E. Kesimpulan
Dari pemaparan di atas dapat dilihat bahwa persepsi dan teori tentang
lansia berpengaruh terhadap bagaimana kebijakan serta program dan
pelayanan kesejahteraan sosial yang di berikan negara atau masyarakat
terhadap populasi ini. Meski teori tidak memiliki kaitan langsung dengan
kebijakan, namun memahami teori membantu kita memahami kenapa sebuah
kebijakan dimunculkan dan bagaiman prediksi kebijakan ke depan.
Teori tentang lansia menunjukkan terjadinya pergeseran persepsi
masyarakat terhadap kelompok ini. Sebelumnya lansia selalu diasosiakan
sebagai individu lemah, butuh pertolongan dan pasif dari kehidupan
masyarakat, pandangan tersebut digugat dengan pandangan yang lebih positif
yang mengendapkan nilai-nilai seperti aktif dan mandiri. Pergeseran inipun
terefleksi dalam arah kebijakan dan program yang ditawarkan berbagai negara
terhadap lansia yang mengusung nilai dan prinsip tadi. Dalam konteks
penyusunan desain program pelayanan kesejahtreaan DIY yang menjadi fokus






63
kajian ini, penting untuk mengamati perubahan persepsi tersebut dan
mengadopsi nilai dan prinsip diatas yang sudah disepakati oleh masyaraat
internasional. Namun tidak juga kalah pentingnya menggali nilai dan prinsip
budaya DIY sebagai landasan bagi penyusunaa desain program ini sehingga
program yang ditawarkan akan lebih tepat sasaran dan sesuai dengan budaya
masyarakat DIY, dan mampu menjamin penghargaan dan pemenuhan hak
lansia.








62
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dasar dengan sifat
exploratory, yang ditujukan untuk mengeskplorasi sebuah model
pelayanan kesejahteraan sosial bagi komunitas lanjut usia yang tepat dan
efektif. Pendekatan kualitatif kerap dipandang sebagai pendekatan yang
menitikberatkan pada upaya interpretatif terhadap makna sosial yang
dikonstruksi oleh individu dalam interkasi sosialnya (Sherman, 2002: 3).
Dalam konteks penelitian ini, metode kualitatif dianggap relevan dengan
harapan mampu menangkap bagaimana partisipan riset yakni lanjut usia
dan stakeholder lansia di D.I. Yogyakarta memandang dan memberi
makna terhadap kebijakan dan program pelayanan kesejahteraan yang di
terima dari pemerintah atau pihak lain. Pengalaman, persepsi dan
interpretasi para partisipan dalam menerima pelayanan sosial menjadi
fokus dalam penelitian ini, untuk kemudian dibangunlah sebuah model
pelayanan kesejahteraan yang dianggap tepat dan efektif berdasarkan
persepsi dan pengalaman tadi.

B. Lokasi dan Peserta Penelitian
Penelitian mengambil lokasi di wilayah Daerah Istimewa
Yogyakarta yakni lima kabupaten/kota: Bantul, Sleman, Kulonprogo,






63
Gunung Kidul dan Kota Yogyakarta. Peserta penelitiandisebut juga
dalam penelitian ini sebagai informan atau partisipanberjumlah 100
orang yang merupakan representasi dari berbagai stakeholder lanjut usia di
lima kabupaten/kota di atas. Diantaranya adalah:
Lanjut usia sebagai penerima manfaat atau keluarga yang
mewakili.
Pendamping program layanan lansia: JLSU, ASLUT, Home care,
Panti Werdha dan lainnya.
LKS, KOMDA Lansia dan lembaga atau organisasi oleh dan untuk
lansia lainnya.
SKPD dari beragai sektor yang terkait dengan isu lansia seperti:
Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Dinas Pekerjaan Umum dan
sebagainya.
Partisipan penelitian dipilih menggunakan sistem purposive
(bertujuan) dengan kriteria utama bahwa mereka merupakan wakil
(representasi) dari kelompok-kelompok stakeholder lansia yang disebutkan
di atas. Perekrutan informan di fasilitasi oleh Dinas Sosial D.I. Yogyakarta
berdasarkan data penerima manfaat pada program layanan yang dimiliki
Dinas seperti: JLSU, ASLUT, Home care, Posyandu Lansia, Bedah
Rumah, Usaha Ekonomi Produktif (UEP), dan Panti Lansia (Wredha).
Selain dari kelompok ini, partisipan juga direkrut melalui metode
convenient (pilihan nyaman) yakni dengan mencari mereka di berbagai






64
fasilitas layanan publik seperti puskesmas, unit geriatrik rumah sakit, bank
dan beberapa tempat lain.
C. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengambilan data dalam kajian ini dilakukan dengan
berbagai cara yakni Diskusi Kelompok Terfokus atau FGD, wawancara
mendalam dan Studi Dokumentasi.
1. Diskusi Kelompok Terfokus atau Focus Group Discussion ( FGD)
FGD dilakukan sebanyak 6 kali dengan mengundang
berbagai komponen stakeholder isu lansia di atas baik pada level
propinsi maupun kabupaten/kota. Di tingkat propinsi, FGD
dilakukan satu kali dan difokuskan untuk mendapatkan data
pelayanan lansia dari masing-masing stakeholder baik terkait
jumlah penerima, jenis program serta implementasinya di
lapangan. FGD dilanjutkan di masing-masing kabupaten dan kota
dalam waktu yang berlainan, meski tetap melibatkan elemen
stakeholder yang sama yakni lansia sebagai penerima manfaat,
pendamping dan petugas pelayanan program, SKPD terkait dan
LKS. Fokus dalam FGD kabupaten/kota sama dengan FGD
propinsi hanya dikontekskan secara lebih spesifik pada
kabupaten/kota yang bersangkutan. Secara umum pertanyaan
dalam FGD ditujukan untuk mengindentifikasi beberapa isu pokok
yakni : 1). Bagaimana implementasi program dan layanan yang






65
ada: JLSU, ASLUT, UEP, Homecare, Posyandu, Bantuan
makanan, Program Panti dan lain-lain, 2). Apa yang menjadi
tantangan dan hambatan dilapangan terkait mekanisme
penyelenggaraan program-program tersebut? 3). Apakah bentuk
dan model program yang masih belum ada dan dianggap sebagai
kebutuhan oleh lansia, pendamping, keluarga maupun stakeholder
lainnya?
Dalam prakteknya, FGD baik di tingkat propinsi maupun
kabupaten/kota, dilakukan dengan membagi peserta kepada
beberapa kelompok/kluster sesuai dengan fungsi dan tugas
informan dalam pelayanan sosial lansia. Kluster yang terbentuk
adalah: 1). Kelompok lansia penerima manfaat atau keluarganya,
2). Kelompok LKS termasuk KOMDA, 3). Pendamping dari
berbagai program pelayanan sosial yang ada baik ASLUT, JLSU,
Home Care, dan yang lain, 4). Kluster SKPD. Diskusi kluster di
fasilitasi oleh seorang asisten peneliti, kemudian di akhir diskusi
kluster, dilakukanlah diskusi besar (panel) untuk menyeleraskan
data dan mempertajam informasi yang masih perlu di gali. Dengan
cara ini, data dan informasi yang didapatkan lebih terfokus dan
terstruktur.

2. I nterview Mendalam






66
Informasi yang didapatkan dari berbagai elemen stakeholder
dalam FGD mampu memberikan gambaran umum terkait
pelaksanaan pelayanan kesejahteraan sosial bagi Lansia di DIY.
Namun gambaran mendalam dalam beberapa aspek misalnya detail
mekanisme penyaluran bantuan, kondisi sosial dan fisik penerima
manfaat tidak bisa didapatkan dalam forum FGD. Untuk itulah,
wawancara mendalam dilakukan dengan informan, terutama dengan
lansia sebagai penerima manfaat.
Wawancara mendalam difokuskan untuk memahami lebih
lanjut bagaimana kondisi fisik, ekonomi dan sosial lansia sebagai
penerima manfaat. Informasi mengenai konteks atau latar belakang
personal ini penting untuk memberikan gambaran mengenai
beberapa aspek lansia di DIY, seperti: tingkat kesejahteraan, kondisi
rumah, pemenuhan kebutuhan sehari-hari; kesehatan fisik seperti:
apa penyakit yang di derita dan bagaimana akses lansia terhadap
pengobatan; kondisi keluarga: apakah ada keluarga yang merawat
lansia dan bagaimana perawatan atau perlakuan yang diberikan
keluarga; kondisi lingkungan dan masyarakat sekitar: bagaimana
relasi lansia dengan masyarakat sekitarnya dan apakah ada support
yang diberikan oleh masyarakat baik support formal maupun non
formal.






67
Aspek lain yang di gali dalam wawancara mendalam dengan
informan adalah kebermanfaatan bantuan, artinya apakah program
pelayanan yang diterima sudah cukup membantu lansia dan
keluarganya untuk bisa memenuhi kebutuhan dasar atau menciptakan
kesejahteraan lansia. Dengan pertanyaan ini bisa digali lebih lanjut
apa sebenarnya kebutuhan yang dihadapi lansia dalam
kesehariannya, untuk kemudian bisa ditarik gambaran mengenai
program dan layanan yang dibutuhkan. Sebagai contoh, aksesibilitas
pelayanan kesehatan merupakan permasalahan penting yang dihadapi
oleh mayoritas lansia. Dengan kondisi fisiknya banyak diantara
lansia yang tidak mampu lagi mengunjungi pusat pelayanan
kesehatan tingkat dasar apalagi tingat lanjut. Bahkan pelayanan
kesehatan keliling yang disediakan pemerintah tidak selalu bisa
dijangkau karena biasanya dipusatkan di kelurahan yang tidak jarang
berjarak puluhan kilo dari tempat tinggal lansia. Dengan kondisi
tersebut, keluarga harus memangggil manteri atau dokter ke rumah,
meski dengan konsekwensi bahwa mereka tidak bisa menggunakan
skema Jaminan Kesehatan yang sudah mereka miliki. Wawancara
juga dilakukan dengan pendamping program pelayanan untuk
menggali lebih dalam mekanisme penyaluran atau pelaksanaan
program bantuan serta hambatan dan tantangan yang di hadapi di
lapangan.






68
Karena keterbatasan waktu, wawancara dengan sebagian
besar informan dilakukan hanya satu kali, dengan durasi antara 1-2
jam. Wawancara dilakukan dalam beberapa setting. Sebagian
dilakukan setelah FGD dengan lansia yang hadir saat FGD
dilakukan. Sebagian lain di lakukan di kediaman informan melalui
visiatisi yang dilakukan tima kajian, dengan diantar oleh pegawai
oleh dinas sosial daerah atau pendamping program di wilayah yang
bersangkutan.
3. Observasi
Dalam literatur mengenai metode penelitian, observasi
biasanya dimaksudkan sebagai cara untuk melihat fakta atau
kenyataan di lapangan. Dalam konteks kajian ini, observasi
dilakukan melalui kunjungan ke beberapa lansia terpilih di rumah
tinggal mereka. Pemilihan lansia yang dikunjungi berdasarkan pada
informasi dari petugas Dinas Sosial dan petugas pendamping. Dalam
realitas di lapangan, observasi ini sangat penting mengingat FGD dan
bahkan wawancara yang dilakukan tidak selalu memberikan
informasi yang lengkap, karena beberapa hal yang disebutkan
sebelumnya. Pertama adalah keterbatasan waktu, wawancara yang
dilakukan hanya sekali tidak bisa memberikan semua informasi yang
dibutuhkan. Kedua, kerahasiaan informasi dari informan tidak bisa
sepenuhnya terjaga karena di hampir semua wawancara dengan






69
lansia atau keluarganya, di dampingi oleh pendamping atau petugas,
atau paling tidak mereka hadir diarea wawancara meski tidak terlibat
di dalamnya. Kondisi tersebut jelas tidak selalu bisa memberikan
keleluasaan kepada lansia atau keluarganya untuk bercerita secara
detail dan jujur, apalagi ditambah faktor kultural yakni rasa segan
terhadap pihak yang autoritatif (baca: petugas). Sedikitnya informasi
yang dimiliki oleh penerima manfaat terhadap program pelayanan
yang diterima juga berkonstribusi terhadap terbatasnya informasi
yang bisa disampaikan.
Karena beberapa aspek itulah observasi langsung kepada
lansia di rumah tinggalnya merupakan cara yang efektif untuk
memperoleh gambaran yang lebih detail terkait informan. Observasi
juga berguna untuk memverifikasi data dan informasi yang sudah
diterima dalam interview atau FGD. Sebagai salah satu contoh, salah
satu informan yang di wawancara adalah keluarga penerima program
home care di kabupaten Gunung Kidul. Dalam wawancara yang
dilakukan pasca FGD , semua informasi terlihat positif, atau paling
tidak, tidak ada aspek yang spesial dan perlu dikaji lebih lanjut selain
bahwa lansia penerima manfaat sudah cukup lanjut. Namun tim
kajian merasa terkejut mendapati bahwa lansia yang di maksud
tinggal atau tidur satu ruangan dengan hewan ternak yang di miliki
keluarga tersebut. Meski kondisi tersbut cukup wajar dijumpai,






70
namun fakta ini bisa menjadi catatan penting dalam pengumpulan
data.
4. Studi Dokumen
Selanjutnya, Studi dokumentasi digunakan untuk
mengumpulkan data tercatat baik terkait jumlah dan profil penerima
manfaat, buku panduan pelaksanaan program layanan, laporan
kegiatan atau program serta dokumen lain. Digunakannya berbagai
sumber datayang dalam literatur kerap disebut triangulasi
merupakan upaya untuk menciptakan reabilitas dan otentisitas dalam
penelitian kualitatif. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan
keabsahan data dengan memanfaatkan penggunakan sesuatu yang
lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai
pembanding terhadap data yang telah ada (Lexy Moleong, 2000;
178). Untuk itu, peneliti akan melakukan trianggulasi dengan cara
melakukan cross-check terhadap hasil wawancara dengan hasil studi
dokumen. Selain itu, peneliti akan membandingkan hasil wawancara
diantara berbagai stakeholder: antara lansia dan pendamping , antara
SKPD dan LKS serta dan sebagainya.

D. Analisa Data
Analisa yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa
kualitatif, yaitu analisa dengan cara data yang dihimpun, disusun secara






71
sistematis, diinterpretasikan, dan dianalisa sehingga dapat menjelaskan
pengertian dan pemahaman tentang gejala yang diteliti. Tiga jalur untuk
melakukan analisis adalah:
a. Reduksi data (data reduction) merupakan proses seleksi,
pemfokusan, penyederhanaan dan abstraksi data kasar yang ada
dalam field note. Reduksi data dilakukan selama penelitian
berlangsung, hasilnya data dapat disederhanakan, dan
ditransformasikan melalui seleksi ketat, ringkasan serta
penggolongan dalam satu pola.
b. Penyajian data (data display) adalah rakitan organisasi informasi
yang memungkinkan kesimpulan riset yang dilakukan, sehingga
peneliti akan mudah memahami apa yang sedang terjadi dan apa
yang harus dilakukan.
c. Penarikan kesimpulan (conclusion drawing). Proses ini dilakukan
dari awal pengumpulan data, peneliti harus mengerti apa arti dari
hal-hal yang ditelitinya, dengan cara pencatatan peraturan, pola-
pola, pernyataan konfigurasi yang mapan dan arahan sebab-akibat
sehingga memudahkan dalam pengambilan kesimpulan (Miles dan
Huberman, 1992; 15-19).
Ketiga komponen analisis data di atas membentuk interaksi dengan
proses pengumpulan yang berbentuk siklus, dimana sifat interaksi






72
ketiganya berjalan terus menerus semenjak turun lapangan sampai selesai
penelitian (HB Sutopo, 1988; 37).









73
BAB IV
EVALUASI TERHADAP PENYELENGGARAAN PROGRAM
KESEJAHTERAAN SOSIAL LANJUT USIA

A. Kerangka Evaluasi
Tim Kajian telah melakukan evaluasi terhadap penyelenggaraan Program
Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia yang dilaksanakan oleh pemerintah Daerah
Istimewa Yogyakarta. Evaluasi dilakukan terhadap 4 indikator, yaitu: input, proses,
output dan benefit. Indikator masukan merupakan segala potensi yang dapat
dijadikan sumber daya untuk melaksanakan program, yang meliputi ketersediaan
sumber daya manusia, sarana prasarana, anggaran dan pemanfaatannya serta
norma, standar, prosedur, dan kriteria (NSPK).
Indikator ketersediaan sumber daya manusia kesejahteraan sosial meliputi
segala potensi dan kemampuan yang dimiliki baik pegawai maupun tenaga
kesejahteraan sosial yang melaksanakan program pelayanan dan rehabilitasi
sosial. Dalam mengevaluasi kinerja sumber daya manusia sebagai bagian dari
indikator input (masukan), maka akan dilihat melalui ketersediaan Pekerja Sosial
Profesional, Tenaga Kesejahteraan Sosial terlatih. Selain itu, ketersediaan tenaga
profesional lain yang mendukung proses pelayanan, seperti instruktur
ketrampilan, psikolog, maupun tenaga medis. Secara kuantitatif akan dilihat
proporsi jumlah sumber daya manusia dengan jumlah klien atau warga binaan






74
yang diyalani. Selain itu secara kualitatif juga akan dilihat latar belakang
pendidikan dan pengalaman kerja dalam bidang pelayanan kesejahteraan sosial.
Indikator Proses menunjukkan serangkaian aktivitas atau kegiatan yang
diselenggarakan dalam rangka pelaksanaan program Pelayanan Kesejahteraan
Sosial lanjut usia. Indikator output atau keluaran menunjukkan sejauhmana
program pelayanan kesejahteraan sosial dapat menjangkau kelompok sasaran
yang dalam hal ini adalah lanjut usia. Indikator output diformulasikan dengan
beberapa komponen yang meliputi jumlah (kuantitas) warga binaan sosial yang
dapat dijangkau dan kualitas atau mutu pelayanan yang dapat diberikan.
Indikator manfaat menunjuk pada sejauhmana keluaran dapat berpengaruh
positif atau berfungsi bagi warga binaan sosial, keluarga maupun lingkungan
sosial. Di dalam Peraturan Menteri Sosial, indikator manfaat dilihat dari apakah
program dapat mengubah dan meningkatkan keberfungsian sosial. Keberfungsian
sosial merupakan dalam memenuhi kebutuhan dasar, mengatasi masalah, dan
menampilkan peran sesuai dengan statusnya.

B. Hasil Evaluasi
Kajian ini telah mengevaluasi sejumlah program pelayanan kesejahteraan
sosial lanjut usia dalam panti maupun luar panti. Selain itu juga program-program






75
perlindungan sosial dan program pengembangan kelembagaan lanjut usia. Sub
bahasan ini akan mendeskripsikan hasil evaluasi tersebut.
1. Pelayanan Kesejahteraan Sosial di dalam Panti
Di Daerah Istimewa Yogyakarta Penyelenggaraan program pelayanan
kesejahteraan sosial lanjut usia di dalam panti dilaksanakan oleh Pemerintah
Propinsi, Pemerintah Kota dan Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS). Pada
Pemerintah DIY, program tersebut dilaksanakan oleh UPTD Dinas Sosial,
yaitu Panti Sosial Tresna Werdha Abiyoso di Pakem Sleman dan Panti Sosial
Tresna Werdha Budi Luhur di Kasongan Bantul. Sedangkan pada Pemerintah
Kota, pelayanan kesejahteraan sosial lanjut usia dalam panti dilakukan oleh
UPTD Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi, yaitu melalui Panti
Sosial Tresna Werdha Budidarma Giwangan.
a. Indikator Input
1) Sumber Daya Manusia
Pelayanan kesejahteraan sosial di dalam panti membutuhkan
ketersediaan sumber daya manusia yang memadai, baik dari aspek
jumlah maupun kualitasnya. Pelayanan di dalam panti dilakukan
selama 24 jam dan terus menerus untuk waktu yang tidak ditentukan
batasnya. Artinya pada setiap saat harus ada staf atau karyawan yang
berada di dalam panti untuk memberikan pelayanan. Kompetensi






76
khusus sumber daya manusia juga dibutuhkan dalam pelayanan lanjut
usia, khususnya di bidang perawatan kesehatan.
Dari hasil observasi dan data sekunder menunjukkan bahwa
ketersediaan sumber daya manusia tidak sebanding atau tidak
proporsional dengan jumlah klien yang dilayani. Bahkan pada Panti
Sosial Tresna Werdha yang dikelola oleh Pemerintah DIY juga
mengalami kendala tersebut. Sebagai ilustrasi, PSTW Abiyoso dan
PSTW Budiluhur yang melayani klien sebanyak 226 orang hanya
memiliki 47 orang pegawai dan 42 orang tenaga honorer. Mayoritas
pegawai menempati posisi sebagai tenaga administrasi, sedangkan
tenaga honorer justru yang secara langsung melayani dan merawat
klien. Dari 42 orang tenaga honorer, 23 di antaranya pramurukti.
Hanya 11 orang pegawai yang memiliki jabatan fungsional (Pekerja
Sosial) yang secara langsung melayani lanjut usia. Beban kerja ini
masih ditambah dengan program layanan day care dan home care yang
juga harus dilakukan oleh tenaga fungsional PSTW.
Kekurangan sumber daya manusia juga dialami oleh PSTW
yang dikelola oleh Pemerintah Kota Yogyakarta, yaitu PSTW
Budidarma. Bahkan disana hanya terdapat 2 orang pekerja sosial dan 2
perawat untuk melayani kurang lebih 80 orang lanjut usia. Kekurangan






77
tenaga ini kemudian diatasi dengan memanfaatkan mahasiswa dari
berbagai sekolah tinggi kesehatan yang melakukan praktikum di
PSTW.
Pelayanan dalam panti juga dilakukan oleh lembaga sosial
yang dikelola masyarakat. Panti Sosial Hana adalah salah satunya.
Panti ini hanya melayani lanjut usia dalam jumlah yang relatif kecil, di
bawah 50 orang. Namun sumber daya manusia yang memberi
pelayanan justru mencukupi karena mendapat dukungan dari para
relawan sosial. Meskipun kurang memiliki tenaga profesional di
bidang kesehatan dan pekerja sosial namun pelayanan dilakukan
dengan mekanisme rujukan, sesuai dengan kebutuhan dan masalah
yang dialami lanjut usia.
Dari gambaran di atas menujukkan bahwa pemerintah pada
akhirnya juga belum mampu menyediakan tenaga yang memadai
untuk memberi pelayanan bagi lanjut usia di dalam panti, dan
mengandalkan tenaga honorer.
2) Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana PSTW yang dikelola Pemerintah DIY
cukup memadai. Terdapat 2 unit layanan, PSTW Budiluhur di
Kasongan Kabupaten Bantul yang memiliki kapasitas tampung






78
sebanyak kurang lebih 100 orang dan PSTW Abiyoso di Pakem
Kabupaten Sleman dengan daya tampung yang lebih besar kurang
lebih 150 orang. Sementara itu PSTW yang dikelola Pemerintah Kota
Yogyakarta memiliki daya tampung yang lebih terbatas yaitu kurang
lebih 80 orang. Dan PSTW yang dikelola lembaga Kesejahteraan
Sosial lebih kecil lagi yaitu di bawah 50 orang.
Bangunan asrama atau wisma/cottage yang ditempati oleh
lanjut usia juga memadai. 1 wisma/cottage diisi 4-6 orang. Sarana lain
juga tersedia seperti Mushola, Aula sebagai ruang pertemuan,
Poliklinik, Ruang Isolasi, Gudang, Dapur dan Ruang Makan. Secara
umum sarana dan prasarana yang tersedia di PSTW Abiyoso dan
Budiluhur memadai.
PSTW Budidarma masih membutuhkan penambahan sarana
dan prasarana. Bangunan yang digunakan sebagai Wisma belum
menyerupai bentuk rumah, tetapi asrama bangunan panjang yang
dihuni oleh belasan orang lanjut usia. Telah tersedia Mushola serta
aula kecil yang dapat digunakan untuk kegiatan lanjut usia. Masih
terdapat lahan yang mencukupi apabila akan digunakan untuk aktivitas
harian lanjut usia seperti berkebun. Sarana dan prasarana yang
dsediakan PSTW yang dikelola oleh yayasan sosial kurang memadai,






79
kantor dan asrama berada dalam satu bangunan, dan tidak tersedia
bangunan lain sebagai tempat kegiatan lanjut usia.
Namun demikian, aksesibilitas pada bangunan dan lingkungan
di semua PSTW belum memadai. Jalan-jalan di sekitar Panti tidak rata
bahkan ada yang berundak-undak. Kamar mandi juga belum aksesibel
bagi lanjut usia. Sering terjadi kasus lanjut usia jatuh ketika jalan dan
melakukan kegiatan di Panti.
PSTW yang dikelola Pemerintah DIY juga memiliki fasilitas
lain yang mencukupi untuk mendukung pelayanan lanjut usia, seperti
seperangkat alat musik/kesenian, dan sarana transportasi untuk
memfasilitasi pelayanan lanjut usia, khususnya rujukan ke fasilitas
kesehatan. Meskipun belum memiliki seperangkat gamelan, tetapi
PSTW Budidarma juga sudah mempunyai sarana yang dapat memberi
aktivitas hiburan. Tersedia juga 1 ambulan untuk pelayanan rujukan
dan tindakan emergency lainnya. Sedangkan Panti Sosial yang
dikelola Lembaga Kesejahteraan Sosial kurang memiliki fasilitas
pendukung yang lebih baik.
3) Anggaran
Sumber anggaran utama Pelayanan lanjut Usia di dalam panti
adalah pemerintah, dalam hal ini adalah APBD. Pelayanan dalam panti






80
membutuhkan dukungan anggaran yang memadai, dan alokasi terbesar
adalah untuk pemenuhan kebutuhan permakanan. Pembiayaan
pelayanan dalam panti memang berbiaya tinggi, dan Pemerintah DIY
harus mengeluarkan kurang lebih Rp. 3,3 milyar setiap tahun untuk
melayani lanjut usia di 2 unit PSTW.
Panti yang dikelola Lembaga Kesejahteraan Sosial
menyandarkan sumber pembiayaan dari pada donatur, baik donatur
tetap maupun sumbangan dari masyarakat dan lembaga lain.
Sumbangan masyarakat dapat berbentuk logistik makanan maupun
non makanan serta dana tunai. Selain itu juga mendapat subsidi dari
pemerintah berupa permakanan, meskipun jumlahnya sangat tidak
memadai.
Anggaran lebih banyak dialokasikan untuk pemenuhan
kebutuhan makan dan perawatan kesehatan, sementara untuk
membiayai aktivitas lain masih belum memadai, khususnya kegiatan
yang dapat mengintegrasikan lanjut usia dengan masyarakat lain di
ruang-ruang publik.
4) Norma, Standard, Prosedur, Dan Kriteria (NSPK)
Kementerian Sosial RI sebagai lembaga pemerintah yang
secara teknis memiliki kewenangan dalam menyusun kebijakan dan






81
instrumen kebijakan telah menetapkan NSPK beserta seluruh
instrumennya terkait dengan pelayanan kesejahteraan sosial lanjut
usia. Sejak tahun 2007 Kementerian Sosial telah menyusun Buku
pedoman pelayanan sosial lanjut usia dalam panti. Namun tidak semua
panti menggunakan pedoman ini sebagai rujukannya. PSTW yang
dahulu merupakan UPT Kantor Wilayah Departemen Sosial (sebelum
otonomi) yang telah lebih dahulu menerapkan instrumen praktek
kebijakan pelayanan sosial lanjut usia. PSTW yang dikelola
Pemerintah Kota dan Lembaga Kesejahteraan Sosial memiliki
panduan internal yang digunakan sebagai pedoman dalam memberikan
pelayanan bagi lanjut usia.
NSPK memang meniscayakan tersedianya sumber daya yang
memadai sehingga pelayanan yang diberikan sesuai dengan standar.
Bagi Pemerintah Kabupaten/Kota atau LKS penerapan NSPK
membutuhkan pentahapan karena keterbatasan berbagai sumber daya.
b. Indikator Proses
1) Penjangkauan Sasaran
Lanjut Usia yang menerima layanan berasal dari rujukan
keluarga, masyarakat atau pihak lain maupun dari hasil penjangkauan






82
petugas PSTW. Namun tidak semua rujukan dapat diterima. PSTW
merumuskan beberapa kriteria sasaran pelayanan, yaitu :
a. telah berumur 60 tahun ke atas
b. sehat jasmani dan rohani yang ditunjukkan dengan surat
keterangan sehat dari Dokter (masih dapat melakukan aktifitas
sendiri seperti : mencuci pakian sendiri, mencuci piring,
membersihkan tempat tidur).
c. tidak punya sanak keluarga/terlantar
d. ada yang bertanggung jawab
e. bersedia tinggal dipanti
Panti sosial mensyaratkan adanya kemandirian bagi para lanjut
usia dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Persyaratan ini membatasi
akses bagi lanjut usia yang sudah tidak mampu mandiri dan banyak
tergantung pada bantuan orang lain dalam beraktifitas. Di sisi lain
masih banyak lanjut usia terlantar yang sudah tidak bisa mandiri yang
justru sangat membutuhkan perlindungan dan pelayanan dari negara.
Dari sisi aksesibilitas dan eligibilitas, persyaratan atau kualifikasi
lanjut usia yang dapat menerima pelayanan kesejahteraan sosial lanjut
usia di dalam panti justru menghambat mereka yang seharusnya






83
mendapatkan hak-nya, yaitu lanjut usia yang tidak lagi bisa hidup
mandiri dan renta.
Pada aspek yang lain, sebagian besar klien lanjut usia yang
menerima pelayanan di dalam panti juga memiliki keluarga. Hal ini
juga menunjukkan bahwa sebenarnya panti belum menentukan sasaran
pelayanan yang paling tepat, yaitu lanjut usia yang tidak memiliki
keluarga dekat dan hidupnya sangat terlantar. Meskipun klien lanjut
usia dalam panti berasal dari keluarga miskin, namun hal ini masih
bisa dilayani dengan model pelayanan di luar panti. Panti diperlukan
bagi lanjut usia yang memang benar-benar terlantar, tidak bisa mandiri
dan pada usia yang sudah sangat lanjut. Mereka inilah yang
membutuhkan pelayanan yang intensif dan jangka panjang. Seorang
lanjut usia di Desa Kebonrejo, Kecamatan Temon, Kabupaten
Kulonprogo, misalnya hidup sendiri tanpa pendamping. Suaminya
sudah meninggal dan tidak memiliki anak. Saudara yang tersisa hidup
di Sumatra. Penglihatannya sudah kabur, meskipun masih bisa jalan
tetapi terseok-seok. Rumahnya sangat sempit dan kumuh. Kebutuhan
makan sehari-harinya dibantu oleh pedagang warung sayur di dekat
rumahnya. Beberapa piring kotor terserak, sisa-sisa nasi kering juga
tercecer di banyak tempat. Tumpukan pakaian di banyak sudut yang






84
tidak dicuci. Tidak ada tempat buang air besar. Tempat mandi juga
sangat tidak layak. Ia hidup sendiri tanpa pendamping. Kasus seperti
ini dijumpai di banyak tempat di wilayah Daerah Istimewa
Yogyakarta.
Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) memang berupaya untuk
menyatukan kembali klien lanjut usia dengan keluarganya. Para
pimpinan panti sudah memahami bahwa tempat terbaik bagi lanjut
usia adalah di dalam keluarga. Namun menurut mereka, banyak
keluarga yang menolak apabila orang tuanya dikembalikan. Keluarga
merasa tidak bisa mengurus, karena harus bekerja dan tidak mampu
memenuhi kebutuhan lanjut usia. Pimpinan panti, termasuk para
pekerja sosial yang sehari-hari mendampingi lanjut usia merasa
khawatir lanjut usia yang dikembalikan kepada keluarga-nya akan
diterlantarkan. Namun dekimian dalam setahun sekitar 10 15 orang
lanjut usia bisa disatukan kembali dengan keluarganya. Pergantian
klien panti sosial baru dimungkinkan ketika klien meninggal atau
kembali kepada keluarga. Pergantian dilakukan dengan
memprioritaskan mereka yang sudah masuk daftar tunggu. Dalam 1
tahun kurang lebih 20 -30-an orang lanjut usia meninggal dan sebagian
besar diambil oleh keluarganya. Hal ini juga menunjukkan bahwa






85
keluarga klien Panti Sosial memang menitipkan orang tua atau
saudaranya sampai di penghujung usianya. Artinya tanggung jawab
untuk merawat orang tua sangat kurang, di atas fondasi nilai agama,
dan budaya yang mengajarkan tentang kewajiban dan darma bhakti
anak pada orang tua.
2) Jenis Pelayanan dalam Panti
a) Pelayanan Fisik
Pemenuham kebutuhan dasar permakanan menjadi bagian
utama pelayanan dalam panti. Makanan disajikan 3 kali dalam
sehari, ditambah snack 2 kali sehari. Selain itu pada hari-hari
tertentu juga disediakan makanan tambahan untuk pemenuhan gizi
lanjut usia. Di antara sejumlah layanan yang diberikan, layanan
permakanan sudah mencukupi kebutuhan gizi lanjut usia.
Meskipun demikian makanan khusus yang harus diberikan pada
lanjut usia yang harus melakukan diet tertentu, atau alergi dengan
makanan tertentu belum disajikan secara khusus.
Selain pemenuhan kebutuhan makan, pelayanan fisik juga
diselenggarakan melalui kegiatan senam otak, senam pagi
seminggu 4 5 kali. Kegiatan ini memberikan kesegaran dan
kegembiraan bagi warga lanjut usia di Panti Sosial. Pada setiap






86
hari Jumat juga dilaksanakan kegiatan Jumat bersih dengan kerja
bhakti bersama membersihkan Wisma dan lingkungan panti.
Kegiatan ini juga merupakan ajang sosialisasi bagi sesama lanjut
usia yang menghuni Panti Sosial, baik yang reguler maupun
mandiri.
b) Pelayanan Kesehatan
Pelayanan kesehatan diberikan melalui upaya yang bersifat
preventif, kuratif dan rehabilitatif. Pelayanan yang bersifat
preventif dilakukan melalui pemeriksaan kesehatan secara rutin,
pengendalian penyakit degeneratif serta pemenuhan nutrisi.
Pemeriksaan dilakukan oleh Dokter seminggu sekali, bekerja sama
dengan Puskesmas terdekat, karena PSTW belum memiliki tenaga
Dokter. Pemberian obat dan pemeriksaan ringan dilakukan oleh
perawat yang melakukan konsultasi dengan Dokter apabila ada
kasus emergency.
Upaya yang bersifat kuratif diberikan kepada lanjut usia
yang sakit, dengan membawa ke Puskesmas dan Rumah Sakit.
PSTW sudah memiliki mekanisme rujukan yang jelas sehingga
penanganan lanjut usia yang sakit dapat segera dilakukan sesuai
kebutuhan dan kondisinya. Semua pelayanan ini sudah






87
menggunakan skema jaminan kesehatan sehingga PSTW tidak lagi
harus menanggung biaya pengobatan.
Pelayanan yang bersifat rehabilitatif belum diberikan
secara optimal. Lanjut usia yang membutuhkan fisioterapi secara
berkelanjutan belum diberikan secara memadai. PSTW belum
memiliki tenaga fisioterapis yang dapat memberikan pelayanan
tersebut secara profesional.
c) Pelayanan Psikis
Pemenuhan kebutuhan psikis diberikan melalui kegiatan
bimbingan mental dan bimbingan psikologis yang dilakukan oleh
Pekerja Sosial. Bimbingan dilakukan sebulan dua kali. Bimbingan
dilakukan secara individual maupun kelompok. Pelayanan ini
dirasakan kurang optimal karena intensitasnya yang sangat sedikit.
Banyak lanjut usia penghuni Panti yang mengalami problem
psikologis seperti kesepian, sedih, menarik diri dari pergaulan dan
kegiatan, pasif, murung serta ada pula yang mengalami emosi
negatif tinggi seperti cemburu, marah-marah, bermusuhan bahkan
cekcok dengan sesama penghuni panti.
Pekerja Sosial yang jumlahnya tak lebih dari 12 orang
harus melayani ratusan lanjut usia. Selain itu Panduan atau manual






88
Bimbingan Psikologis juga belum ada sehingga kegiatan
bimbingan belum terstruktur dengan baik. Pekerja sosial baru
mengandalkan pengalaman pendampingan yang telah dilakukan
selama ini karena Panduannya juga belum tersedia. Meskipun
PSTW sering mejadi tempat praktikum mahasiswa Psikologi dari
berbagai Perguruan Tinggi namun tidak terjadi transfer
pengetahuan dan ketrampilan yang selanjutnya dapat digunakan
oleh Pekerja Sosial dalam melakukan pendampingan. Sementara
itu Program pelatihan ataupun bimbingan teknis kurang fokus pada
praktek peningkatan skill dalam pendampingan, dan tidak
dilaksanakan secara berkelanjutan.
d) Pelayanan Rohani
Pelayanan Rohani diwujudkan dalam bentuk kegiatan
keagamaan. Secara rutin pengajian atau peribadatan dilakukan 2
kali dalam seminggu. Selain itu juga melalui peringatan hari besar
agama. Pelayanan rokhani dilakukan oleh rohaniawan dari
Kementerian Agama, Pondok Pesantren di sekitar panti yang
didampingi oleh pekerja sosial.
Pelayanan ini dinilai sudah sangat memadai karena
dilakukan lebih intensif. Meskipun demikian ada yang berlebihan






89
karena di bagi warga lanjut usia yang beragama Islam ada
pemantauan terhadap klien yang berjamaah di masjid. Artinya
bimbingan keagamaan lebih diarahkan pada kegiatan ritual, bukan
penghayatan spiritual dan media komunikasi untuk menjalin
kedekatan dengan Tuhan yang menjadi keyakinannya.
Kegiatan di tempat peribadatan di luar panti juga jarang
dilakukan. Misalnya setiap hari minggu tidak juga didampingi
untuk pergi ke gereja bagi lanjut usia yang beragama nasrani. Bagi
penghuni muslim juga jarang dilibatkan dalam pengajian akbar
bersama dengan komunitas warga masyarakat lain di luar panti.
e) Pelayanan Sosial
Meskipun menjadi salah satu mandate inti dari pelayanan
sosial lanjut usia, bimbingan sosial belum diberi penjelasan
operasional yang jelas. Bimbingan sosial diartikan sebagai
pendampingan. Bimbingan sosial dipraktekan hampir seperti
bimbingan psikologis. Pekerja sosial melakukannya secara
individu di Wisma maupun secara berkelompok. Kegiatan yang
dilakukan seperti konseling, percakapan sosial secara berkelompok
serta teknik lainnya. Tidak adanya panduan yang jelas juga
mengakibatkan pekerja sosial menerjemahkan bimbingan sosial ke






90
dalam kegiatan sesuai dengan pengetahuan, ketrampilan dan
pengalaman yang telah dimiliki.
Bimbingan sosial belum diarahkan untuk memfasilitasi
interaksi dan komunikasi antar penghuni panti sosial maupun
dengan warga masyarakat lainnya. Melalui bimbingan sosial ini
sebenarnya permasalahan yang bersifat psikis bisa diatasi.
Bimbingan sosial juga belum mampu menjawab kebutuhan lanjut
usia untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan keluarga.
Pekerja sosial lebih fokus pada pelayanan internal dan individual,
sedangkan kebutuhan afiliasi dengan keluarga belum terpenuhi.
Ranah bimbingan sosial yang harusnya lebih luas menjadi sangat
sempit karena lebih banyak dilakukan di dalam panti.
f) Bimbingan Ketrampilan
Bimbingan ketrampilan bagi lanjut usia lebih dimaknai
sebagai aktivitas rekreasional (pengisi waktu luang) daripada
sebagai sebuah upaya untuk tujuan produktif. PSTW telah
menyelenggarakan berbagai aktivitas ketrampilan rekreasional, di
antaranya pembuatan Sulak, Sapu Rayung, Keset, Rajutan,
Menjahit. PSTW mendatangkan instruktur yang memiliki






91
kompetensi untuk memberikan bimbingan, dengan didampingi
pekerja sosial.
Dalam pelaksanaannya, bimbingan ketrampilan lebih mirip
kursus ketrampilan biasa, karena belum ada modifikasi kelas
kursus yang memiliki karakter rekreatif, seperti bagaimana cara
membimbing agar para lanjut usia melakukannya dengan senang
hati, merasa masih memeliki kemampuan utnuk menghasilkan
sebuah karya, dan semua ini dirasakan menjadi kegiatan yang
membuat rilek dan nyaman.
Instruktur terlalu fokus produk yang akan dihasilkan atau
ketrampilannya itu sendiri, sedangkan pekerja sosial justru lebih
banyak membantu bagaimana pra lanjut usia bisa menyelesaikan
produk yang dihasilkan, bukan memodifikasi kegiatan yang
membuat para partisipan nyaman dan gembira.
Selain itu, bimbingan ketrampilan tidak harus sebats
dipahami untuk tujuan rekreasional. Di berbagai negara,
bimbingan ketrampilan juga dilakukan untuk tujuan yang lebih
produktif. Para pengelola panti bekerja sama dengan dunia usaha
untuk mengerjakan proses produksi yang ringan untuk kegiatan
lanjut usia seperti packaging, menyampul, mengelem suatu






92
produk. Hasil yang diperoleh kemudian menjadi pendapatan lanjut
usia. Upaya ini juga akan dapat menjaga harga diri para lanjut usia,
karena meskipun sudah tua namun masih produktif dan mampu
menghasilkan pendapatan.
g) Pelayanan Rekreasional
Pelayanan rekreasional melekat pada Pelayanan dalam
panti lanjut usia. PSTW melaksanakan kegiatan kesenian berupa
Kerawitan, organ tunggal untuk karaoke, Menari, rebana,
Panembromo dan lain sebagainya. Kegiatan tersebut dilakukan
secara rutin dan mendatangkan praktisi seni yang kompeten. Bagi
sebuah layanan dalam panti yang memiliki waktu yang tidak
terbatas kegiatan hiburan dapat mengatasi rasa bosan dan
kejenuhan.
Kegiatan kesenian dilaksanakan cukup efektif untuk
menimbulkan rasa gembira bagi para warga panti lanjut usia.
Namun demikian, belum semua lanjut usia bermain atau terlibat
dalam kegiatan seni tersebut. Masih banyak yang hanya duduk
menonton saja di pinggir dengan ekspresi yang datar, dan belum
menunjukkan adanya eskpresi emosi yang lebih positif. Bahkan
ada yang tetap duduk diam di wisma. Meskipun pekerja sosial






93
aktif terlibat dalam aktivitas tersebut, mereka belum mampu
mendorong lanjut usia yang pasif terlibat langsung dalam aktivitas-
aktivitas rekresional seperti kesenian.
Selain melalui kesenian, kegiatan rekreasional juga
dilakukan dengan kegiatan outdoor di lokasi pariwisata 2 kali
dalam 1 tahun. Kegiatan ini juga bisa mengatasi rasa jenuh yang
dirasakan lanjut usia warga panti untuk dapatmenghirup udara
bebas di ruang terbuka.
PSTW yang memiliki sumber dana yang lebih besar
memiliki kemampuan untuk memberikan pelayanan yang lebih
bervareasi dan lebih lengkap dibanding PSTW yang mengandalkan
dana dari sumbangan masyarakat atau sumbangan pemerintah,
namun dengan alokasi yang lebih kecil.
h) Layanan Mandiri/Swadaya
Terdapat Panti Sosial Tresna Werdha yang
mengembangkan layanan swadana atau layanan mandiri, yaitu
PSTW Abiyoso dan PSTW Budiluhur. Layanan mandiri ini
mensyaratkan adanya biaya yang harus ditanggung oleh lanjut usia
atau keluarganya. Pada tahun 2014 dua unit ini melayani 25 orang






94
lanjut usia. Jenis pelayanan yang diberikan sama, namun di tiap-
tiap Wisma disediakan Perawat/Pramurukti.
Dana yang terkumpul dari layanan mandiri digunakan
untuk menambah pembiayaan pada kegiatan-kegiatan pelayanan
reguler yang bersumber dari dana APBD. Layanan mandiri
mendapat sambutan yang baik dari masyarakat, namun kurang
tersosialisasi dengan baik, khususnya pada segmen masyarakat
menengah yang mampu membiayai pelayanan dalam panti. Belum
ada strategi promosi yang terencana dengan baik atas program
layanan mandiri.
Pada tahun 2008-2009 ada seorang Tenaga Medis senior
yang mencoba menyediakan layanan Rumah sehat lanjut Usia
yang juga dengan model biaya mandiri. Namun layanan tersebut
kurang peminat sehingga saai ini sudah tidak ada lagi.
i) Layanan Day Care
Pelayanan day care adalah layanan yang menyerupai
penitipan anak, yaitu dilakukan secara harian, yaitu di waktu siang
hari selama maksimal 8 jam. PSTW yang dikelola Pemerintah DIY
telah menyelenggarakan layanan day care dengan menjangkau






95
sebanyak 130 orang lanjut usia, 80 orang unit Budi Luhur dan 50
orang Unit Abiyoso.
Layanan yang diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan
gizi (makanan dan minuman), pemeriksaan kesehatan, pelayanan
psiko sosial. berbagai aktivitas disediakan bagi warga lanjut usia
yang menerima layanan day care, seperti kegiatan bimbingan
ketrampilan, keagamaan, kegiatan kesenian, kegiatan penyuluhan,
seminar dan edukasi lainnya. Selama satu hari, warga lanjut usia
dapat bersosialisasi dengan sesama lanjut usia, baik yang berasal
dari keluarga maupun para warga Panti Sosial.
c. Indikator Output
Lanjut usia yang mendapat pelayanan di dalam panti menerima
lebih banyak pelayanan sosial dari pemerintah, sehingga kondisinya lebih
baik dan terjaga. Panti Sosial memberikan pelayanan yang lengkap, mulai
dari pemenuhan kebutuhan pangan, hunian, kesehatan hingga kebutuhan
psiko sosial. Kebutuhan gizi para lanjut usia terjaga, termasuk diet bagi
mereka yang mempunyai masalah kesehatan khusus. Perawatan kesehatan
juga lebih terjamin karena secara teratur mendapat pemeriksaan dan
pengobatan.






96
Namun kebutuhan lanjut usia yang tinggal di dalam panti
kehilangan kelekatan dengan keluarganya, khususnya anak-anaknya,
sehingga meskipun secara material tercukupi tetapi belum mampu
mengatasi perasaan keterpisahan dengan keluarga. Bahkan mayoritas
keluarga sudah sangat jarang mengunjungi orang tuanya, bahkan lebih
parah lagi ada yang pernah lagi dikunjungi oleh keluarganya. Hal ini
secara faktual mengakibatkan problem psiko sosial, misalnya kesepian,
kecemasan, depresi, atau malah kemarahan, mudah tersinggung dan
melakukan tindakan berlebihan untuk menarik perhatian para pramurukti
atau pekerja sosial. hal ini tampak ketika peneliti lapangan melakukan
kunjungan dalam rangka observasi, bagaimana kemudian para lanjut usia
penghuni panti saling berebut perhatian, saling berlomba membuat cerita
dan sangat ingin diajak berkomunikasi dan didengarkan terus menerus.
Manajemen Panti Sosial belum mengembangkan sebuah program
yang mampu mengatasi segregasi fisik dan psiko sosial, dengan
meningkatkan intensitas komunikasi dan interaksi dengan masyarakat.
Semua aktivitas fisik, bimbingan agama, kegiatan seni, bahkan bimbingan
sosial yang harusnya berwatak komunal tetap dilakukan secara indoor di
dalam panti. Hanya sekali dalam setahun lanjut usia dapat menikmati






97
udara luar panti dan berganti suasana, yaitu ketika mereka diajak rekreasi
bersama.
Kegiatan seni, berupa kerawitan, karaoke, mocopat sebenarnya
dapat diintegrasikan dengan even lain yang diselenggarakan di ruang
publik atau-pun di media radio, Televisi atau bermain bersama dengan
kelompok masyarakat yang lain sehingga terjadi interaksi sosial dengan
warga masyarakat yang lain. Demikian pula senam lanjut usia juga bisa
dilakukan secara bersama dengan kelompok senam yang lain ataupun juga
dapat dilakukan di tempat publik. Kendala mobilitas dapat diatasi dengan
penyediaan sarana dan prasarana yang memadai dan ini menjadi prioritas
untuk disediakan karena menjadi sara utama untuk memberikan pelayanan
yang inklusif dan berkualitas.
Bimbingan agama selama ini dilakukan dengan mengajak lanjut
usia melakukan kegiatan ibadah. Bahkan Lanjut Usia yang beragama
Islam juga diajari membaca Buku Iqro. Lanjut usia yang harusnya sudah
memasuki fase kontemplatif malah dipandu dengan kegiatan yang sifatnya
instrumentatif. Maka upaya untuk menggapai makna hidup yang paling
tinggi dan untuk memiliki kedalaman iman yang paling hakiki malah
berjalan mundur.
2. Bantuan Permakanan






98
Bantuan permakanan dimaksudkan untuk menjamin taraf
kesejahteraan sosial lanjut usia. Melalui bantuan ini diharapkan kebutuhan
gizi lanjut usia dapat terpenuhi sehingga dapat hidup lebih sehat dan
berkualitas. Lanjut Usia dapat menikmati hari tuanya dengan aman, tenteram
dan sejahtera, usia harapan hidupnya semakin meningkat. Bantuan
permakanan diwujudkan dalam bentuk bahan makanan yang disalurkan setiap
bulan. Permakanan disalurkan melalui LKS yang memiliki klien lanjut usia di
dalam panti maupun di luar panti.
Sasaran program pelayanan bantuan permakanan adalah Lanjut usia
tidak potensial/jompo/sakit-sakitan, usia 60 tahun ke atas, dari keluarga
miskin/kurang mampu, dan tidak sedang menerima bantuan permanen yang
berbentuk jaminan sosial /asistensi sosial.
Dari tahun ke tahun bantuan permakanan semakin luas daya
jangkauanya. Seleksi terhadap penerima manfaat belum didasarkan atas data
populasi lanjut usia tidak potensial yang miskin dan terlantar, sehingga jumlah
dari tiap-tiap kabupaten/kota sama. Setiap tahun program bantuan permakanan
rata-rata dapat menjangkau sebanyak 200- 300 orang lanjut usia. Jumlah ini
memang belum sebanding dengan populasi lanjut usia terlantar dari keluarga
sangat miskin.






99
Jumlah bantuan yang diberikan masih belum memadai jika digunakan
untuk menjamin makanan yang berkualitas. Apalagi bantuan tidak datang
pada setiap bulan karena proses lelang yang membutuhkan waktu panjang
sehingga pada bulan-bulan tertentu manakan disediakan seadanya oleh
keluarga. penyediaan makanan khusus yang dibutuhkan sesuai dengan status
kesehatannya belum terpenuhi. Namun demikian keluarga lanjut usia
penerima manfaat menyatakan, minimal bantuan yang diterima dapat
mengurangi belanja keluarga untuk kebutuhan makan. Perlu dipikirkan
apakah bantuan permakanan memang diarahkan pada jenis bahan makanan
dasar atau makanan khusus yang diperlukan bagi lanjut usia.
Sasaran bantuan permakanan pada lanjut usia di LKS perlu ditinjau
kembali. LKS seperti Panti Werdha lebih memiliki jaringan sumber, donatur
yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Dengan
demikian pemenuhan kebutuhan permakanan bukan menjadi msalah kritis
yang perlu diprioritaskan oleh pemerintah.
3. Jaminan Sosial lanjut Usia (JSLU)
Program jaminan sosial lanjut usia mulai diintroduksi tahun 2006 oleh
Departemen Sosial RI. DIY menjadi salah satu lokasi pilot project program
tersebut. Program ini diwujudkan dalam bentuk bantuan uang untuk






100
memenuhi kebutuhan dasar lanjut usia yang tidak potensial guna menjamin
taraf kesejahteraan sosialnya.
Bantuan uang pada awalnya sebanyak Rp. 300.000,- per orang per
bulan. Bantuan tersebut disalurkan melalui Kantor Pos langsung kepada lanjut
usia dan keluarganya melalui Pendamping. Bantuan diaksudkan untuk
memenuhi kebutuhan dasar lanjut usia. Pada tahun 2006 DIY mendapat
alokasi sebanyak 400 orang lanjut usia seluruh Kabupaten/kota di 10
kecamatan dan 32 desa/kalurahan.
Seperti hal-nya program bantuan langsung tunai lainnya, program
tersebut disambut baik oleh warga masyarakat dan keluarganya. Namun
karena hanya bersifat pilot project, daya jangkaunya masih sangat terbatas.
Pada tahun-tahun berikutnya sasaran program JSLU terus bertambah dan pada
tahun 2013 berjumlah sekitar 500 orang.
Program JSLU sendiri pada tahun 2011 telah menjangkau semua
wilayah Propinsi, dan nama program berubah menjadi Asistensi Sosial Lanjut
Usia (ASLUT). Tidak banyak perubahan substantif dari perubahan tersebut,
kecuali jumlah bantuan yang sekarang berkurang menjadi Rp. 250.000,-,
meskipun semakin banyak lanjut usia yang memperoleh bantuan melalui
program jaminan sosial tersebut.
a. Indikator Input






101
1) Lanjut Usia Sebagai Penerima Manfaat
Sasaran program JSLU/ASLUT adalah Lanjut usia,
diutamakan yang berusia di atas 70 tahun yang mengalami sakit
menahun dan hidupnya sangat tergantung pada bantuan orang lain atau
hidupnya hanya bisa berbaring di tempat tidur, tidak mampu
melakukan aktivitas sehari-hari, tidak memiliki sumber penghasilan,
miskin dan terlantar.
Penerima manfaat program JSLU/ASLUT sudah sesuai dengan
kriteria yang ditetapkan, namun demikian daya jangkauanya masih
terbatas bila dibandingkan dengan jumlah lanjut usia yang sebenarnya
memenuhi persyaratan tersebut. Pendamping menyusun data lanjut
usia yang akan menjadi daftar tunggu, apabila ada peluang
penggantian (karena meninggal atau pindah domisili).
Mulai tahun 2012, Pemerintah DIY juga mengalokasikan
sharing budget untuk menambah jumlah sasaran lanjut usia yang
mendapat bantuan tuna melalui program ASLUT. Hanya saja
kemampuan ABPD DIY baru memberi bantuan sejumlah Rp.
150.000,- per bulan. Sampai dengan tahun 2013, jumlah lanjut usia
penerima ASLUT/JSLU sebanyak 1.800 orang.
2) Bantuan Uang Tunai






102
Isi pokok dari Program jaminan sosial lanjut usia adalah
bantuan uang tunai. Bantuan ini dimaksudkan untuk menjaga kualitas
hidup lanjut usia, dengan memenuhi kebutuhan dasar terutama makan
dan pemenuhan nutrisi serta kebutuhan personal lainnya. Bantuan
tersebut disalurkan secara tunai melalui lembaga penyalur, dalam hal
ini di DIY adalah Kantor Pos yang didukung oleh Tenaga
Pendamping.
Selain itu, Program ini juga menyertakan kegiatan
pendampingan yang dilakukan oleh para Pendamping. Pendamping
adalah pekerja sosial atau relawan sosial lokal yang harus melakukan
home visit minimal 4 kali dalam 1 bulan. Pendamping memastikan
bantuan dapat digunakan untuk kepentingan pemenuhan kebutuhan
lanjut usia. Pendamping juga memonitor kondisi lanjut usia, dan
apabila mengalami sakit atau masalah lainnya, maka pendamping
melakukan rujukan dan membantu keluarga menyelesaikan masalah
tersebut.
3) Sumber Daya Manusia
Program Jaminan Sosial Lanjut Usia di lapangan dijalankan
oleh Pendamping. Pendamping diutamakan berasal dari Desa atau
Kalurahan dari wilayah setempat dan bukan berstatus pegawai negeri






103
sipil. Lebih diutamakan lagi yang memiliki pengalaman sebagai
Pekerja Sosial Masyarakat, Karang Taruna, Kader Pos Yandu,
Pengurus PKK, Pengurus Organisasi Sosial.
Pendamping diusulkan berdasarkan hasil musayawarah warga
setempat. Tingkat pendidikan diutamakan SLTA dan mampu
mengopersikan mesik tik manual atau komputer. Selain itu juga
memiliki kompetensi sosial, seperti memiliki komitmen dan jiwa
relawan, motivasi dan tanggung jawab sosial, memiliki moralitas yang
baik dan ketrampilan berkomunikasi dan menjalin relasi dengan
masyarakat.
Dari beberapa wawancara yang dilakukan oleh pendamping,
banyak pendamping program JSLU yang dahulunya berperan sebagai
pekerja Sosial Masyarakat (PSM), namun ada juga yang memiliki
jabatan sebagai pamong Desa seperti Kasie Kesejahteraan Rakyat.
Selain itu juga ibu-ibu aktivis di kegiatan sosial masyarakat. 1 orang
pendamping melayani 12-13 orang lanjut usia, tidak hanya di satu desa
tetapi juga meliputi beberapa desa.
Banyak pendamping yang diusulkan oleh Pamong Desa, bukan
berasal dari hasil musyawarah masyarakat setempat. Para pamong
biasanya mengusulkan orang-orang yang memang sudah memiliki






104
pengalaman berkiprah dalam bidang sosial. salah satu Pendamping
dari Kabupaten Kulonprogo yang juga seorang Kesra menyatakan
waktu penunjukkan pendamping sangat cepat sehingga tidak melalui
musyawarah warga.
Ketrampilan sosial pendamping cukup memadai, mampu
berkomunikasi dan menjalin relasi yang baik dengan masyarakat.
mereka adalah penggerak masyarakat sehingga sudah memiliki
pengalaman dan memahami dengan baik kondisi masyarakat setempat.
Namun tugas home visit tidak selalu dilakukan sesuai
pedoman, yaitu 4 kali dalam 1 bulan. Dalam hal ini terdapat perbedaan
kinerja antara pendamping yang berasal dari warga masyarajat dan
yang berbasis pamong. Pamong memiliki pekerjaan yang dinilai lebih
penting sehingga waktunya lebih terbatas untuk melakukan home visit
ke keluarga lanjut usia. Mereka hanya melakukan kunjungan ketika
ada pencairan bantuan. Seorang pendamping mengatakan
saya lebih mengandalkan para kepala dusun untuk ngaruhke
(home visit) ke rumah simbah-simbah, karena kesibkan di Desa. Pak
Kadus kemudian akan melaporkan kalau ada kasus misalnya simbah
sakit serius atau ada simbah peserta JSLU/ASLUT yang meninggal.






105
Saya akan datang kalau dana turun karena harus minta cap jempol dan
mengurus administrasi.
Lain lagi dengan penuturan seorang perempuan pendamping di
Kabupaten Gunungkidul. Ia adalah aktivis kegiatan sosial sejak masih
muda, sehingga komitmen dan motivasinya sangat tinggi. Ia tidak saja
mengeluarkan tenaga dan pikirannya tetapi juga materi dengan
menambah sedekah bagi para lanjut usia yang mendapat bantuan
jaminan sosial. Ia menyatakan menolong orang lain sudah merupakan
panggilan hidupnya. Home visit dilakukan 1-2 kali dalam seminggu
dan mengajak serta Ibu-ibu PKK di Desa-nya. Dua orang perempuan
pendamping di Kecamatan Temon Kabupaten Kulonprogo juga sering
melakukan home visit, bahkan tidak hanya memantau kondisi para
lanjut usia, tetapi juga melakukan peran dan fungsi seorang care giver,
membersihkan tempat tidur, memandikan seperti halnya seorang care
giver. Mereka adalah Kader PKK di Desa yang juga aktif mengelola
Pos Yandu dan kegiatan perempuan lainnya. Mereka datang dengan
membawa makanan atau oleh-oleh sebagai bentuk dari perhatian
terhadap para lanjut usia. Pendamping yang memiliki latar belakang
relawan dan kader penggerak aktivitas sosial di masyarakat memang
lebih memiliki komitmen yang tinggi terhadap tugas-tugas






106
pendampingan. Mereka tidak lagi melihat seberapa honorarium yang
diterima sebagai pendamping tetapi sudah menunjukkan jiwa
kerelawanannya. Sedangkan Pendamping yang memiliki latar
belakang pamong atau yang memiliki kedekatan dengan pamong dan
menjadi pendamping pada sejumlah proyek pemerintah yang lain,
kurang mengalokasikan waktu yang mencukupi untuk melaksanakan
pendampingan terhadap para lanjut usia.
Latar belakang pendidikan sebenarnya tidak terlalu relevan
dengan tugas pendampingan. Komitmen justru lebih menentukan
kinerja pendamping karena dengan komitmen pendamping
menyediakan waktu dan tenaganya untuk melayani para lanjut usia.
Kemampuan mengoperasikan komputer atau mengetik juga tidak
menjadi kendala dalam melaksanakan tugas pendampingan.
Pendamping di Desa Wareng Kabupaten Gunungkidul meminta
bantuan salah satu anaknya untuk menyelesaikan administrasi
pendampingan dan menyusun laporan. Dengan demikian tidak ada
hambatan dalam melaksanakan tugas administrasi, meskipun mereka
tidak lancar atau bahkan tidak bisa mengoperasikan mesin tik, apalagi
mesin komputer.






107
Sumber daya manusia lainnya yang mendukung pelaksanaan
program Jaminan Sosial Lanjut Usia/asistensi lanjut usia adalah
Koordinator baik di tingkat Propinsi maupun Kabupaten. Tugas
Koordinator di wilayah Propinsi adalah memverifikasi dan
menetapkan calon penerima program, melaksanaan pembinaan
terhadap pendamping, melakukan supervisi, monitoring dan evaluasi,
menyelesaikan kasus yang ditemukan di lapangan, serta menyusun
laporan.
Koordinator Tingkat Kabupaten bertugas melakukan
pendataan, menyeleksi dan merekapitulasi serta mengusulkan calon
penerima kepada Dinas Sosial Propinsi, membantu kelancaran
pencairan dana, membina pendamping, supervisi, monitoring dan
evaluasi, menangani kasus yang ditemukan, membuat surat
penunjukan pengganti peserta serta menyusun laporan.
Koordinator ditetapkan oleh Kepala Dinas Sosial
Propinsi/Kabupaten/kota, yang diambil dari salah seorang PNS di
satuan kerjanya yang berpangkat minimal III/a, serta memiliki
kompetensi, moralitas dan komitmen yang tinggi terhadap pelayanan
kesejahteraan sosial lanjut usia.






108
Koordinator Program ASLUT baik di tingkat Kabupaten/Kota
maupun Propinsi biasanya adalah pejabat struktural yang memiliki
tugas pokok dan fungsi di bidang pelayanan kesejahteraan sosial lanjut
usia. Mereka memiliki kompetensi dan komitmen yang memadai
meskipun kurang mempunyai waktu yang mencukupi untuk
menghandle program tersebut karena banyak tugas lain yang juga
menjadi tangung jawabnya dalam pelayanan sosial lanjut usia. Di
lingkungan pemerintah daerah, baik di tingkat Propinsi maupun
Kabupaten/Kota, kekurangan sumber daya aparatur memang menjadi
persoalan umum. Beban kerja tidak sebanding dengan jumlah sumber
daya aparatur yang tersedia.
Petugas Pos adalah bagian dari sumber daya manusia lain yang
juga terlibat dalam pelaksanaan program JSLU/ASLUT. Petugas Pos
bertugas menyalurkan dana kepada penerima JSLU/ASLUT. Mereka
melakukan sosialisasi cara penyaluran, membuat rekening penerima
ASLUT dan membuat laporan hasil pelaksanaan penyaluran.
Petugas Pos menjadi agen penyalur dari beberapa program
perlindungan sosial seperti PKH, BLT, BLSM dan program lainnya
sehingga di satu sisi mereka cukup memiliki pengalaman dan
kemampuan dalam menyalurkan bantuan. Namun di sisi lain, jumlah






109
Petugas Pos dalam satu wilayah sangat terbatas, hanya terdiri dari 2-3
orang sehingga kurang proporsional dengan tugas-tugas pelayanan
yang harus dilakukan Kantor Pos. Solusi yang kemudian dilakukan
adalah bekerja sama dengan pendamping dalam melakukan
penyaluran.
4) Norma, Standar, Prosedur dan Kriteria
Program JSLU dan ASLUT telah memiliki panduan yang jelas
yang dapat digunakan untuk pedoman pelaksanaan bagi para
Koordinator, pendamping dan penyalur di lapangan. Sudah ada buku
pedoman pelaksanaan program yang diterbitkan oleh Kementerian
Sosial RI. Di dalam pedoman tersebut juga telah dilengkapi dengan
instrumen dan formulir yang dibutuhkan selama melakukan tugas
pendampingan.
Permasalahannya adalah pedoman tersebut kurang
disosialisasikan dengan baik kepada seluruh pelaksana, misalnya
dalam bentuk pelatihan yang dapat memebri perspektif, kompetensi
dalam pendampingan lanjut usia.









110
b. Indikator Proses
1) Sosialisasi
Sosialiasi hanya dilakukan sekali, di wilayah Propinsi
maupun Kabupaten/Kota. Sosialisasi hanya memberikan informasi
yang sangat umum dan tidak semua pendamping atau pejabat
khususnya di tingkat lokal diundang untuk hadir sebagai
partisipan. Informasi yang diberikan masih sangat terbatas,
sehingga banyak para pelaksana program yang harus mencari
informasi lebih banyak pada koordinator di kabupaten/kota dan
Propinsi.
Sosialisasi kepada Kepala Desa dan tokoh masyarakat
sangat kurang atau malah belum dilakukan padahal hal ini sangat
diperlukan untuk membangun dukungan dari masyarakat.
Dukungan ini sangat diperlukan mengingat berbagai hal, di
antaranya:
Pejabat lokal yang menjadi penanggung jawab terdepan
apabila ada permasalahan yang terjadi selama pelaksanaan
program. Misalnya, ketika ada komplain dari warga masyarakat
lain yang tidak menerima bantuan JSLU/ASLUT.






111
Pejabat lokal dan tokoh masyarakat memiliki pengaruh
yang kuat untuk memotivasi para pendamping di wilayahnya.
Pendamping banyak berkomunikasi dan berinteraksi dengan
pejabat lokal dan tokoh masyarakat.
Tokoh masyarakat dan pejabat lokal memiliki kekuatan
untuk mempengaruhi dan menggerakkan warga masyarakat guna
memberi dukungan (nyengkuyung) program JSLU/ASLUT.
Apabila ada kasus lanjut usia yang membutuhkan pelayanan
rujukan atau pelayanan lainnya warga masyarakat lain akan sangat
membantu bila mereka cukup memahami program JSLU dan
digerakkan oleh tokoh masyarakat.
Demikian juga sosialisasi terhadap keluarga lanjut usia
penerima program juga belum dilakukan secara lebih baik.
Keluarga hanya memahami kalau akan mendapat bantuan uang
yang diperuntukkan bagi orang tua atau keluarganya. Keluarga
juga memahami peruntukkan dari bantuan yang diberikan yaitu
untuk memenuhi kebutuhan dasar dari lanjut usia yang menjadi
tanggungannya. Informasi lainnya mengenai perawatan lanjut usia
belum dimiliki, jadi hanya terbats pada informasi tentang bantuan.
2) Pendataan dan Pengusulan, Seleksi dan Verifikasi






112
Pendataan dilakukan oleh Dinas Sosial Kabupaten/Kota
berdasarkan data populasi PMKS yang ada di wilayahnya.
Formulir pendataan sudah disusun oleh Kementerian Sosial RI,
sehingga Dinas Sosial menugaskan pendamping untuk melakukan
pendataan terhadap calon penerima pelayanan dengan
menggunakan formulir tersebut. Dari hasil pendataan, Dinas Sosial
Kabupaten/Kota kemudian melakukan verifikasi dan membuat
usulan yang ditujukan kepada Dinas Sosial Propinsi.
Pendataan menjadi aspek yang paling krusial dalam
berbagai program perlindungan sosial yang berwujud bantuan
uang tunai. Tahap yang paling kritis adalah dalam menyusun daftar
urutan sesuai dengan prioritas masalah. dari aspek kriteria dan
ketentuan lain cukup mudah untuk diukur, namun ketika harus
membuat urutan nomor, maka dipastikan ada pertimbangan
subyektif di kalangan para pendamping. Maka subyektifitas ini
tidak bisa dihindari sehingga ruang inilah yang seringkali memicu
konflik di masyarakat atau paling tidak kecemburuan sosial di
kalangan orang-orang yang merasa berhak tetapi tidak menjadi
sasaran program.






113
Penyusunan daftar urutan calon penerima akan lebih baik
jiga dibawa ke dalam arena musyawarah warga, musyawarah desa
sehingga secara terbuka warga masyarakat akan terlibat dalam
penentuan urutan. Meskipun ini sangat rumit dan penuh
argumentasi di antara warga masyarakat, tetapi mekanisme inilah
yang lebih legitimate secara sosial.
Pada saat ini Musyawarah Desa/Kalurahan hanya berlaku
pada saat menentukan penerima pengganti. Tahap awal program
yang lebih menentukan justru tidak ditempuh melalui musyawarah
warga. Subyektifitas yang tak terhindarkan dalam semua model
penilaian yang tidak hanya berdasarkan data kuantitatif, baik yang
dialami oleh pendamping, pamong desa, koordinator program,
pejabat pemerintah, bahkan peneliti sekalipun, perlu dichek
melalui sebuah mekanisme penilaian terbuka oleh publik.
3) Pembinaan dan Pemantapan Pendamping
Kegiatan ini diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan ,
pemahaman dan kualitas pendamping dalam melaksanakan
program JSLU/ASLUT. Meskipun dalam pembagian kewenangan
telah ditetapkan bawah Dinas Sosial Propinsi dan Dinas Sosial
Kabupaten/Kota melakukan pembinaan terhadap para pendamping,






114
penyelenggaraan kegiatan pemantapan masih dilakukan oleh
Pemerintah Pusat, meskipun secara riil dilaksanakan di daerah.
Dalam kegiatan ini, pejabat dari Kementerian Sosial RI akan
datang ke daerah sebagai nara sumber untuk memberi materi
kepada Para Pendamping. Selain itu juga pengetahuan tentang
penyaluran bantuan oleh Lembaga Penyalur (Kantor Pos) dan
pengetahuan mengenai lanjut usia dari para akademisi.
Pada prakteknya kegiatan ini lebih tepat dimaknai sebagai
sosialisasi, karena sifatnya yang belum fokus pada kompetensi
pendamping. Proses transfer pengetahuan dan ketrampilan belum
intensif karena lebih banyak diisi dengan ceramah dengan dialog
yang sangat terbatas waktunya dan tidak ada latihan untuk
meningkatkan kompetensi. Keterbatasan sumber daya manusia di
pemerintah pusat untuk melayani 33 propinsi juga sering
mengakibatkan kegiatan ini terlambat dilaksanakan. Apabila
kegiatan ini didelegasikan kepada Pemerintah Daerah akan lebih
efektif, dilaksanakan dalam beberapa angkatan / per
kabupaten/kota sehingga tidak bersifat klasikal dan massal. Namun
tampaknya tarik menarik kepentingan pusat dan daerah masih
terasa sehingga pemerintah pusat masih harus terlibat dalam






115
kegiatan yang sangat teknis dan operasional, bukan pada tingkat
formulasi kebijakan.
Kegiatan pembinaan lebih lanjut yang harusnya menjadi
tugas Dinas Sosial Propinsi dan Dinas Sosial Kabupaten/Kota
belum diwujudkan dalam bentuk pelatihan lanjutan atau
bimbingan teknis lainnya. Pendamping hanya diundang ke Dinas
Sosial Kabupaten/kota atau Propinsi ketika ada rapat koordinasi
atau rapat evaluasi, dan bukan dalam kerangka peningkatan
kapasitas. Pendamping hanya melakukan konsultasi individual
ketika menghadapi permasalahan di lapangan, kemudian datang
kepada koordinator bersamaan dengan mengumpulkan laporan.
4) Penyaluran Bantuan
Di dalam Pedoman Pelaksanaan Program JSLU/ASLUT,
tidak dijelaskan kapan bantuan akan disalurkan, apakah setiap
bulan, tiga bulan atau semester atau tahunan. Pada prakteknya
penyaluran bantuan tidak bisa dipastikan. Terkadang dibayarkan 2
-3 bulan atau 4 bulan, belum ada mekanisme yang pasti. Bantuan
yang menjadi inti dari program JSLU/ASLUT justru tidak jelas
waktunya teralokasikan kepada para penerima. Apabila
dikembalikan kepada tujuan awal dari program ini adalah untuk






116
menjaga taraf kesejahteraan sosial dengan memenuhi kebutuhan
dasarnya, maka penyaluran bantuan harusnya dilakukan setiap
bulan, sehingga keluarga membelanjakan untuk pemenuhan
kebutuhan lanjut usia.
Keluarga lanjut usia yang termasuk keluarga miskin juga
tidak bisa diandalkan untuk lebih dulu membiayai kebutuhan lanjut
usia yang layak. Dengan demikian selama belum menerima
bantuan, lanjut usia juga tidak terlayani dan tidak terpenuhi
kebutuhan dasarnya dengan layak.
Proses penyaluran bantuan itu sendiri sudah sangat lancar.
Terdapat kerjasama yang baik antara pendamping dan Petugas Pos,
sehingga tidak terjadi keterlambatan penyaluran di lapangan
meskipun pencairan dari pusat tidak memiliki jadwal waktu yang
pasti. Ada sebagian Pendamping yang juga bekerja sama dengan
PSM atau relawan sosial setempat untuk menyalurkan bantuan
sehingga lebih cepat diterima oleh keluarga lanjut usia.
5) Pendampingan
Pendampingan dilakukan oleh Pendamping dari LKS
(Lembaga Kesejahteraan Sosial) yang berperan sebagai mitra
Dinas Sosial dalam melaksanakan program JSLU/ASLUT.






117
Pendamping melakukan tugas pendampingan melalui home visit
atau kunjungan rumah minimal 4 kali dalam satu bulan (1 minggu
sekali). Tugas pendamping adalah memberi kemudahan lanjut usia
dalam menerima bantuan. Tugas ini diwujudkan dalam bentuk
kunjungan untuk mengantarkan bantuan yang sudah disalurkan.
Pendamping diberi surat kuasa oleh lanjut usia atau keluarganya
untuk mengambil bantuan dari Kantor Pos, kemudian
meneruskannya kepada lanjut usia.
Tugas lain adalah memantau dan membimbing penggunaan
dana bantuan. Pendamping memastikan bahwa bantuan yang
diberikan memang digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar
lanjut usia, memenuhi kebutuhan nutrisi serta kebutuhan
personalnya seperti pampers bagi lanjut usia yang bedridden.
Bimbingan psiko sosial juga menjadi salah satu tugas
dalam pendampingan program JSLU/ASLUT. Tujuannya untuk
membantu lanjut usia berfungsi sosial dalam lingkungan
masyarakat. Di antara ke tiga tugas pokok tersebut, tugas yang
berhasil dilakukan dengan baik adalah dalam membantu
penyaluran bantuan dan pemantauan pemanfaatan bantuan.
Meskipun demikian seringkali keluarga bahkan lanjut usia sendiri






118
memiliki preferensi yang berbeda dalam memanfaatkan bantuan.
Minum susu, misalnya bukan menjadi tradisi lanjut usia dalam
keluarga miskin. Pola makan seadanya menjadikan makan bukan
kebutuhan yang harus dilebih-lebihkan. Pada akhirnya bantuan
juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan seluruh keluarga
termasuk lanjut usia, kecuali kebutuhan yang sangat khusus seperti
pampers. Dalam beberapa kasus dijumpai bantuan justru
digunakan untuk menyumbang ketika tetangga memiliki acara
hajatan, memberi uang saku sekolah cucunya, bahkan
dikumpulkan untuk membeli cincin emas.
Bimbingan psiko sosial dilakukan dengan mengajak lanjut
usia mengobrol ringan (small talk), mendengarkan cerita dan
keluhan lanjut usia serta memberi dukungan psiko sosial. Namun
banyak lanjut usia yang sudah tidak mampu berkomunikasi
dengan jelas, dan hanya berbaring di tempat tidur.
Kemampuan untuk mobilitas guna bersosialisasi dengan
warga masyarakat lain sangat terbatas. Bahkan untuk keluar rumah
bertemu dengan tetangga dekat juga sangat sulit. Interaksi sosial
dan komunikasi dengan dunia luar menjadi sangat terbatas dan
sulit untuk dimodifikasi oleh pendamping. Alat bantu seperti kursi






119
roda sangat jarang ditemui di desa, sehingga semakin tidak
memungkinkan untuk membawa mereka terlibat dalam kegiatan
sosial atau minimal membawa keluar rumah untuk bertemu dengan
tetangga dan kerabatnya.
6) Monitoring, Evaluasi dan Pelaporan
Monitoring menjadi tugas dari beberapa lembaga, yaitu
Kementerian Sosial, Lembaga Penyalur Tingkat Pusat, Dinas
Sosial Propinsi dan Dinas Sosial Kabupaten/Kota. Hampir sama
dengan program dan proyek lainnya kegiatan monitoring kurang
menjadi perhatian. Hal ini disebabkan karena keterbatasan sumber
daya manusia dan waktu yang dimiliki serta beban pekerjaan lain
yang cukup tinggi. Jadi, meskipun monitoring menjadi salah satu
proses yang harus dilaksanakan sesuai dengan Buku Pedoman
Pelaksanaan, namun pelaksanannya hanya sekedarnya saja.
Monitoring biasanya dilakukan melalui pendamping, pada
saat ada pertemuan untuk rapat koordinasi atau pertemuan lain
dimana ada kehadiran pendamping, Koordinator Program JSLU
kemudian menanyakan perkembangan pelaksanaan Program JSLU
di lapangan. Selain itu monitoring juga dilakukan dengan melihat
catatan dalam laporan yang disusun oleh para pendamping,






120
meskipun tidak semua pendamping memiliki catatan laporan yang
lengkap dan disusun berkala.
Evaluasi terhadap program JSLU yang dilakukan dengan
pengambilan data empirik, seperti kajian atau penelitian evaluatif
juga belum dilakukan, kecuali evaluasi yang didasarkan dari hasil
laporan para pendamping. Namun belum ditemukan laporan
evaluasi tertulis sebagai bagian dari dokumen pelaksanaan
program JSLU/ASLUT.


c. Indikator Output
JSLU/ASLUT memiliki coverage yang masih sangat
rendah dibanding populasi penduduk lanjut usia pada kategori
sangat lanjut dan membutuhkan pelayanan perlindungan sosial
untuk memelihara taraf kesejahteraan sosialnya. Selain itu juga
kurang proporsional dari sudut persebaran geografis (antar
kabupaten/kota). Seharusnya penetapan target group atau sasaran
program ini juga harus memperhatikan baseline data persebaran
lanjut usia.






121
Persyaratan untuk menerima bantuan yang harus
menyertakan KTP juga mengakibatkan lanjut usia yang sudah
tinggal di DIY tetapi tidak memiliki KTP namun memenuhi
kriteria tidak mendapat akses program tersebut.
Nominal Bantuan berbeda antara JSLU yg bersumber dari
APBN DAN APBD sehingga menimbulkan kecemburuan di
masyarakat. Bantuan dari APBN lebih tinggi yaitu sebesar Rp.
250.000,- sementara dari APBD sebesar Rp. 150.000,-. Apabila
pendamping tidak memberi penjelasan, maka banyak penerima
yang salah paham. Selain itu jumlah nominal bantuan semakin
turun, nilainya juga semakin turun sehingga masih belum
mencukupi untuk memenuhi kebutuhan yang paling dasar.
Bantuan tidak turun dan diberikan setiap bulan, sehingga
mempengaruhi kualitas pengasuhan dan perawatan lansia.
Mayoritas lanjut usia berada dalam keluarga miskin sehingga
pemanfaatan bantuan yang tidak pasti kapan datangnya sangat
menyulitkan keluarga tersebut dalam merawat lanjut usia.
Faktanya bantuan tidak hanya digunakan untuk
kepentingan lanjut usia tetapi juga yang lain yang tidak relevan
seperti untuk menyumbang hajatan, memberi uang saku cucu






122
sampai membeli emas. Meskipun demikian ini tidak berarti bahwa
bantuan tersebut tidak ada manfaatnya bagi lanjut usia. Pemenuhan
kebutuhan makan tetap terpenuhi, namun tidak selalu sesuai
dengan standar gizi menurut diktum kesehatan.
Program JSLU maupun ASLUT mensyaratkan kehadiran
LKS dan pendamping sebagai mitra dalam pendampingan. Jumlah
LKS yang concern dan bekerja untuk pelayanan kesejahteraan
sosial lanjut usia terbatas, sehingga sesaat sebelum pelaksanaan
program banyak LKS yang baru dibentuk. LKS belum memiliki
perangkat kelembagaan yang cukup, bahkan ditemukan Pak Kesra
yang bekerja sendirian atas nama LKS. Kerja-kerja LKS lebih
dominan sebagai distributor penyalur bantuan untuk memenuhi
ketentuan dalam persyaratan dari pada kerja pendampingan dalam
arti yang lebih luas dan intens.
Kebutuhan akan adanya LKS dan pendamping juga
menjadi peluang baru di masyarakat untuk mendapatkan posisi
tersebut. Ada sejumlah LKS yang bermasalah dalam penyaluran
bantuan sehingga penerima manfaat justru terhambat dalam
menerima bantuan. Rekruitmen pendamping dipilih oleh
Kecamatan dan kalurahan/desa (secara struktural), bukan melalui






123
seleksi terbuka. Pendamping banyak yang melakukan pekerjaan
rangkap, sebagai pendamping pada proyek/program lain.
Meskipun sudah ada sosialisasi awal, tetapi pendamping belum
memahami dengan baik program ASLUT/JSLU. Belum ada
pelatihan ketrampilan dasar pendampingan. Karena lebih banyak
berperan sebagai penyalur bantuan, pendamping banyak
mendelegasikan home visit pada Pak Dukuh, Pak RT, PKK dan
warga setempat untuk memonitor kondisi lanjut usia penerima
manfaat.




4. Program Pelayanan Sosial Home Care
a. Indikator Input
1) Sasaran Program
Sasaran Program pelayanan home care adalah lanjut usia yang
terlantar dan membutuhkan pelayanan yang berbasis keluarga.
Pendampingan dan Perawatan Lanjut Usia di Rumah memiliki dua
fungsi yaitu layanan kebutuhan dasar lanjut usia dan perawatan lanjut






124
usia. Sasaran utamanya adalah lanjut usia dari keluarga sangat miskin
yang kondisinya terlantar.
Program ini mulai dilaksakan pada tahun 2009 dan pada saat
itu mengcover jumlah yang cukup besar yaitu 350 orang. Namun
demikian dari tahun ke tahun justru mengalami penurunan, dan pada
tahun 2013 tinggal mengcover 105 orang. Sesuai dengan kriteria
penerima manfaat yang dipersyaratkan dari program ini, penerima
manfaat program adalah lansia terlantar dari keluarga miskin dan
sudah uzur atau berusia tua. Dari 45 orang penerima manfaat layanan
Home Care di sebuah LKS, hanya 3 orang berusia 70-an, 37 berumur
80-an dan 5 orang berusia 90-an. Selain usia yang sudah sangat lanjut,
penerima manfaat juga memiliki keterbatasan dalam mobilitas dan
mempunyai penyakit degeneratif. Bahkan dari hasil home visit banyak
yang harus bedridden karena stroke ataupun ketuaan.
2) Sumber Dana
Penyelenggaraan program home care dibiayai dari dua sumber
anggaran yaitu APBN dan APBD. Anggaran yang bersumber dari
APBN melalui Kementerian Sosial RI dialokasikan untuk membiayai
home care yang dilaksanakan oleh Panti Sosial Tresna Werdha.
Sementara dana dari APBD Pemerintah DIY digunakan untuk






125
penyelenggaraan home care pada unit kerja seksi Perlindungan Sosial
Lanjut Usia Dinas Sosial DIY. Namun mulai tahun 2012 PSTW sudah
tidak lagi menyelenggarakan home care karena sudah tidak ada alokasi
dana dari APBN, sehingga program home care hanya dilakukan
dengan dana APBD Pemerintah DIY.
3) Jenis Layanan
Lanjut usia yang menjadi sasaran program home care
memperoleh sejumlah layanan, yaitu:
Bantuan sembako untuk memenuhi kebutuhan dasar.
Perawatan fisik dan pemeriksaan kesehatan (kebersihan badan,
kamar, cek tensi)
Bimbingan rohani (berdoa, beribadah)
Bimbingan psikologi (katarsis, penguatan, dukungan dan nasehat)
Bimbingan dan motivasi keluarga
Layanan home care lebih lengkap daripada layanan ASLUT/JSLU
yang hanya berupa bantuan tunai, namun dari sisi kriteria penerima
program tidaklah berbeda.
4) Pendamping
Program layanan home care juga menyertakan pendamping dan
Lembaga Kesejahteraan Sosial sebagai mitra kerja. Distribusi bantuan






126
dan pendampingan dilakukan oleh LKS dan Pendamping. Pendamping
melakukan beberapa fungsi yaitu :
Fungsi pencegahan dilakukan untuk mencegah agar lanju tusia
tidak mengalami kesulitan atau masalah.
Fungsi pemulihan, dilakukan untuk memenuhi kebutuhan,
mengatasi kesulitan dan memecahkan masalah yang dialami lanjut
usia.
Fungsi pengembangan dilakukan untuk menjaga dan atau
meningkatkan kemampuan lanjut usia dalam melakukan berbagai
aktivitas sehari-hari atau menyalurkan hobi dan bakat.
Adapun LKS sebagai penanggung jawab pelaksanaan program
di lapangan. LKS membawahi para pendamping dan membuat
administrasi serta laporan pelaksanaan kegiatan. Saat ini terdapat
sekitar 50 pendamping yang bekerja dalam pendampingan layanan
home care bagi lanjut usia.
Rata-rata pendamping mendampingi 510 orang penerima
manfaat. Pendamping berasal dari wilayah yang sama/terdekat dengan
penerima manfaat. Latar belakang pendamping kebanyakan
perempuan, khususnya Ibu-ibu kader PKK, Pos Yandu, aktivis sosial
di masyarakat. Rekruitmen pendamping lebih banyak ditentukan oleh






127
Pejabat desa/lokal. Selain menjadi pendamping, mereka juga memiliki
aktivitas pendampingan program lain.
Tingkat pemahaman terhadap konsep home care
mempengaruhi kinerja pendampingan. Pendamping dengan
pemahaman yang cukup akan melakukan home visit dengan paket
lengkap hingga 7 kali kunjungan dalam sebulan. Sebaliknya
pendamping dengan pemahaman sederhana melakukan home visit 2-3
kali.
Sampai saat ini masih terjadi kesenjangan pemahaman konsep
home care di antara para pelaksana program. Ada sebagian yang
memahami sebatas bantuan permakanan dan kunjungan rumah,
sebagian yang lain sudah mencakup multi layanan (permakanan,
pemeliharaan fisik dan kesehatan, bimbingan agama dan psiko sosial).
Kesenjangan pemahaman mengakibatkan kesenjangan dalam bentuk
layanan yang diberikan oleh pelaksana kepada lansia penerima
manfaat. Pendamping dengan pemahaman minimal berkunjung saat
memberi bantuan permakanan, kurang terlibat dalam kegiatan yang
lain. LKS dan pendamping yang memiliki pemahaman dan
pengalaman memadai akan berkunjung dengan Tim Home care dan
memberi pelayanan yang lebih lengkap.






128
Program home care service yang diselenggarakan oleh PSTW
dilaksanakan oleh team, yang terdiri dari dokter, perawat, rohaniawan,
psikolog, dan pekerja sosial. Penerima manfaat dari PSTW lebih
banyak berada di sekitar panti, padahal panti justru memiliki sumber
daya yang memadai sehingga daya jelajahnya harusnya semakin luas.
Sedangkan penyelenggaraan home care oleh LKS lainnya masih
kekurangan sumber daya manusia untuk memberi semua layanan
tersebut. Pendamping akhirnya menjadi tumpuan untuk melaksanakan
tugas-tugas tersebut, termasuk mengukur tekanan darah. Keterbatasan
ini akhirnya mengakibatkan pelayanan home care kurang optimal.
Banyak penerima manfaat yang tidak menerima layanan kesehatan
padahal membutuhkan pengobatan rutin.
b. Indikator Output
Layanan home care adalah layanan yang sangat dibutuhkan oleh
lanjut usia terlantar yang sudah sangat tua dan hidupnya bergantung pada
orang lain, bahkan yang sudah dalam kondisi bedridden. Model layanan
berbasis keluarga juga dinilai kompatibel dengan kultur Jawa yang
menempatkan rumah dan keluarga sebagai bagian dari hidup manusia.
Lanjut usia yang menjadi sasaran program ini cukup terjaga
kualitas hidupnya karena kebutuhan dasar terpenuhi. Selain itu juga masih






129
mendapat perawatan secara fisik, pemeriksaan kesehatan dan
pendampingan. Dari beberapa observasi yang dilakukan melalui home
visit, tampak kondisi tubuh mereka bersih, tidak berbau dan tercukupi
kebutuhan makannya. Namun demikian juga masih ditemukan kasus yang
lain, seperti yang terjadi Di Kecamatan Bambanglipuro Kabupaten Bantul.
Seorang lanjut usia ditempatkan di kamar dekat dapur dan tidur di lantai
beralaskan kasus yang sudah sangat kumal. Kebersihan badan kurang
terjaga, secara emosional juga tidak menunjukkan emosi yang positip.
Pendamping yang juga memiliki sejumlah kegiatan sosial lain
sangat sulit untuk melakukan visitasi secara rutin dengan paket perawatan
badan. Sementara itu koordinasi dengan sektor kesehatan belum terbangun
dengan baik. Dinas Kesehatan melalui Puskesmas sebenarnya juga telah
menyelenggarakan program Puskesmas santun lansia yang salah satu
kegiatannya home care. Koordinasi dan sinergi belum terbangun dengan
baik. Pos yandu Lansia belum terintegrasi dengan layanan home care.
Demikian pula layanan home care puskesmas yang sudah memiliki
predikat santun lansia juga belum terpadu dengan layanan home care
Dinas Sosial. Lembaga-lembaga lain yang memiliki program Bina Lansia
juga belum memadukan kegiatannya.






130
Meskipun pelayanan berbasis keluarga mengasumsikan adanya
dukungan penuh dari keluarga, namun kondisi ini juga belum seperti yang
diharapkan pada keluarga dengan pengasuh tunggal (yang merawat lansia)
baik itu anak atau keluarganya justru memiliki keterlibatan yang lebih
tinggi. Kondisi lansia pada keluarga ini cukup bersih dan baik. Ini terjadi
di berbagai wilayah dimana lanjut usia diasuh oleh satu orang anak, yang
biasanya anak perempuan. Mereka hanya tinggal berdua saja, sehingga
tidak ada silang pendapat siapa yang paling bertanggung jawab untuk
merawat lanjut usia.
Lanjut usia yang berada pada keluarga yang masih lengkap tetapi
sangat miskin, justru keterlibatan keluarganya kecil dalam pengasuhan.
Keluarga tersebut harus bekerja untuk kelangsungan hidupnya. Kondisi
tempat tidur tidak bersih dan lansia jarang dimandikan. Bahkan ada yang
tinggal di rumah sendiri. Keluarga memiliki keterbatasan dalam
pengetahuan mengenai pengasuhan dan perawatan lanjut usia. Pemerintah
maupun LKS jarang mengadakan bimbingan teknis pengasuhan care
giving bagi keluarga lanjut usia.

5. Program Bantuan Investasi Sosial Melalui Usaha Ekonomi Produktif
(UEP) Lanjut usia






131
a. Deskripsi Program
Investasi sosial adalah seluruh bentuk penanaman modal finansial
dan atau non finansial yang menghasilkan output dalam bentuk manfaat
sosial dan atau manfaat ekonomi, yang dihasilkan dari kegiatan sosial dan
atau pembangunan sarana dan prasarana pelayanan publik. Investasi
sosial dalam UEP lanjut usia adalah praktek kontribusi yang dilakukan
oleh investor sosial baik dalam bentuk finansial maupun non finansial,
dengan tujuan membantu lanjut usia dalam meningkatkan kinerja
usahanya.
Tujuan program ini adalah untuk memberi kesempatan kepada
lanjut usia sehat, aktif dan produktif agar tetap memiliki kegiatan usaha,
yang mampu menjamin kapasitas ekonomi dan sosialnya. Bantuan
bersifat langsung berbentuk uang tunai yang disalurkan melalui rekening
individu lanjut usia. Harapannya dalam jangka panjang dapat menjadi
bentuk investasi sosial yang dapat meningkatkan kualitas hidup lanjut
usia secara berkesinambungan.
Diperlukan peran pengelola keuangan sebagai fasilitator dan
manajer bagi penerima bantuan. Tugas fasilitator atau pendamping adalah
menggerakkan modal finansial yang dimiliki oleh pihak investor agar
dialokasikan pada kegiatan-kegiatan nirlaba yang pada akhirnya akan






132
menghasilkan kesejahteraan atau pelayanan publik. Kegiatan nirlaba dan
pelayanan publik tersebut pada akhirnya akan membangkitkan manfaat
sosial atau bahkan manfaat ekonomi. Peran pemerintah bertindak sebagai
fasilitator dan dinamisator yang menggerakkan dan mengarahkan pemilik
modal agar tujuan kesejahteraan dapat dicapai dengan prinsip keadilan
dan pemerataan.
b. Indikator Input
1) Lanjut Usia sebagai Penerima Manfaat
Penerima program ini adalah lanjut usia terlanta, yaitu seorang
yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas, yang masih sehat, aktif dan
produktif, yang mempunyai minat usaha dan embrio usaha. Dari sisi
kriteria penerima manfaat program ini cukup kompatibel dengan
praktek kultural masyarakat Jawa khususnya Yogyakarta yang
mayoritas populasi lanjut usia masih bekerja, khususnya di wilayah
pedesaan.











133
Kriteria Penerima Manfaat
NO. KRITERIA INDIKATOR
1. Penduduk lanjut usia miskin
berdasarkan kriteria kemiskinan yang
dinilai dari kondisi fisik, sosial, ekonomi
dan budaya setempat
Indikator kemiskinan sesuai dengan
penilaian sosial ekonomi budaya
setempat.
2. Penduduk lanjut usia yang telah
berumur 60 tahun atau lebih yang tidak
memiliki sumber penghasilan tetap.
Bukan pensiunan PNS,
purnawirawan, tidak memiliki
jaminan sosial komersial.
3. Memiliki kemampuan secara bio-fisik
untuk melalukan kegiatan usaha
ekonomi produktif
Indikator kesehatan fisik dan
mental psiritual yang dinilai secara
visual.
4. Memiliki kesanggupan untuk melakukan
kegiatan usaha dan terdapat dukungan
keluarga dan atau lingkungan sosialnya.
Hasil identifikasi melalui
wawancara dengan yang
bersangkutan dan lingkungannya.
5. Di wilayah tempat tinggal lanjut usia
terdapat lembaga yang memiliki
kemampuan mengelola keuangan.
Hasil identifikasi dan verifikasi
lapangan

Program bantuan usaha ekonomi produktif bagi lanjut usia dari
alokasi APBD DIY pada 3 tahun terakhir justru mengalami penurunan.
Pada tahun 2009 menjangkau 200 orang, tahun 2010 menurun menjadi
100 orang, tahun 2011 50 orang, dan tahun 2012 dan 2013 juga
menurun lagi menjadi masing-masing 40 orang.
2) Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) dan Pendamping
Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) UEP Lanjut Usia adalah
organisasi sosial atau perkumpulan sosial yang melaksanakan
pengelolaan UEP Lanjut Usia yang dibentuk oleh masyarakat dan
memiliki legalitas formal. Biasanya LKS yang berperan sebagai mitra






134
dalam pelaksanaan program ini adalah LKS yang sudah bekerja
dengan program pelayanan lanjut usia yang lain.
LKS yang seharusnya berperan dalam mengembangkan usaha
ekonomi produktif yang dikelola lanjut usia dan keluarganya, ternyata
lebih berperan sebagai penyalur bantuan serta mendampingi
pembelanjaan bantuan. Namun pengembangan usaha bukan menjadi
kompetensi LKS. Pendampingan yang dilakukan lebih banyak dalam
pendampingan sosial. LKS juga belum mampu membangun mitra
usaha dengan para pemiliki usaha yang dapat mendukung kegiatan
usaha produktif para lanjut usia.
Dalam melaksanakan tugasnya LKS menugaskan para
pendamping yang secara operasional bekerja dalam mendampingi
usaha lanjut usia terlantar. Pendamping juga diambil dari para relawan
yang aktif dalam kegiatan sosial masyarakat. Para pendamping
menghadiri pertemuan perkumpulan lanjut usia penerima bantuan
sosial UEP secara berkala. Pendamping juga kurang memiliki jaringan
yang luas untuk mengembangkan usaha para lanjut usia, dan tidak
memiliki pengalaman langsung dalam mengelola usaha produktif.








135
3) Sumber Dana
Program bantuan sosial usaha ekonomi produktif juga
mendapat dukungan dana dari dua sumber, yaitu APBN dan APBD
Pemerintah DIY. Namun dukungan dana dari APBD DIY tidak selalu
dialokasikan pada setiap tahun anggaran. Pada tahun 2011,
dialokasikan dana sebesar Rp. 79.898.000,- sementara tahun 2012
justru menurun menjadi Rp. 65.000.000,- dan pada tahun 2013 sama
sekali tidak ada alokasi untuk program UEP lanjut usia. Pada tahun
2014 dialokasikan sebanyak Rp. 172.540.075,-
c. Indikator Proses
1) Penjajagan, Seleksi dan Verifikasi
Penjajagan dilakukan di wilayah-wilayah yang akan menjadi
lokasi sasaran program bantuan UEP Lanjut usia. Namun lagi-lagi
penentuan lokasi ini juga belum didasarkan atas data persebaran
populasi lanjut usia yang bekerja. Akibatnya jumlah penerima manfaat
kurang proporsional. Pada umumnya LKS yang dinilai kinerjanya baik
akan lebih dipercaya untuk menjadi mitra dan usulan mereka
diprioritaskan.
Proses seleksi dan verifikasi melibatkan pejabat lokal di tingkat
Desa dan Dinas Sosial Kabupaten/Kota. Proses seleksi ini lebih






136
menjadi tahapan kegiatan yang harus dilakukan. Petugas dari Dinas
Sosial DIY dan kabupaten/Kota hanya melakukan verifikasi atas
usulan proposal yang sudah masuk. Pendamping lebih menentukan
lanjut usia yang akan menerima manfaat dari program ini.
2) Pengajuan Proposal
Proposal usaha disusun oleh lembaga/pendamping yang
memiliki kemampuan untuk membangun, mengelola dan
mengembangkan kegiatan usaha ekonomi produktif. Selanjutnya
proposal diseleksi oleh Dinas Sosial Kabupaten/Kota untuk diajukan
kepada Kementerian Sosial RI cq Direktorat Pelayanan Sosial Lanjut
Usia. Jadi Dinas Sosial melakukan penilaian kelayakan dan ketepatan.
Kriteria penilaian:
1. Ketepatan sasaran penerima bantuan.
2. Kelayakan lembaga yang akan menjadi pendamping
3. Kesesuaian dan kelayakan usaha UEP
4. Perkiraan kesinambungan usaha
5. Dukungan keluarga dan lingkungan lanjut usia
Penyaluran bantuan dengan menggunakan proposal banyak
dilakukan untuk sejumlah program/proyek pemerintah. Di satu sisi hal
ini lebih menjamin akuntabilitas dalam penggunaan dana publik serta






137
jelas pemanfaatannya. Namun, mayoritas masyarakat masih awam
dengan proposal, sehingga yang menulis proposal adalah para
pendamping. Meskipun secara adminsitrasi persyaratan ini bisa
dipenuhi oleh pendamping, namun warga masyarakat merasakan dan
memaknainya sebagai kesulitan dalam mengakses bantuan. Dan dalam
kerangka pikir pemberdayaan, hal ini justru bersifat disempower,
karena menjadikan warga masyarakat merasa tidak memiliki kapasitas.
3) Bimbingan Sosial
Sebelum penyaluran bantuan, diselenggarakan kegiatan
bimbingan sosial. kegiatan ini dimaksudkan untuk memberi kotivasi
dan bimbingan praktis, serta meningkatkan interaksi sosial,
kemampuan memecahkan masalah serta kemampuan dalam mengelola
UEP dalam rangka mewujudkan kesejahteraan dan kualitas hidupnya.
Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh lanjut usia calon penerima
bantuan sosial UEP, pendamping, LKS, pejabat pemerintah lokal.
Kegiatan ini lebih sebagai sosialisasi dan motivasi, dan belum
mengarah pada upaya peningkatan kemampuan teknis dalam
pengelolaan usaha. Materi bimbingan terdiri dari informasi mengenai
kehidupan lanjut usia, pelayanan dan pendampingan sosial. Dengan
paket Rp. 15.000.000,- kegiatan ini bisa diarahkan pada pendampingan






138
usaha yang lebih teknis sesuai dengan tujuan dari program bantuan
sosial UEP.
Sosialisasi dan motivasi dapat dilakukan oleh Pendamping dari
LKS yang lebih emmahami sitausi masyarakat lokal dan memeiliki
kedekatan geografis yang dapat menjangkau lanjut usia di berbagai
wilayah. Motivasi juga tidak harus dilakukan secara klasikal di suatu
kegiatan dalam ruangan, tetapi juga melalui home visit serta
mendatangi pusat-pusat kegiatan informal masyarakat. Bimbingan
sosial seharusnya berlangsung lebih cair, fleksibel dan informal
menyesuaikan dengan kultur dan mode interaksi dan komunikasi
dalam masyarakat.
4) Penyaluran dan Penggunaan Bantuan
Jumlah bantuan sebesar atau senilai Rp. 1.500.000,- setiap
lanjut usia. Bantuan sebesar ini hanya cukup untuk membeli seekor
kambing yang masih kecil (bukan babon). Apabila akan berjualan
barangkali juga hanya cukup untuk membeli alat-alat sederhana dan
sedikit sekali barang dagangan. Artinya jumlah bantuan ini lebih sesuai
untuk menambah usaha yang telah ada, bukan membuat sebuah usaha
baru. Dalam petunjuk atau pedoman pelaksanaan juga ditetapkan
bahwa kriteria penerima bantuan UEP adalah lanjut usia yang






139
memiliki embrio usaha. Namun demikian, mengingat lanjut usia
terlantar mayoritas berada dalam keluarga miskin, sangat sedikit yang
memiliki embrio usaha. Oleh karenanya banyak yang kemudian
mengklaim ternak kambing yang dimiliki keluarganya sebagai embrio
usaha sehingga prasyarat dan kriteria sebagai penerima program
terpenuhi.
Apabila penerima bantuan UEP hanya diarahkan pada lanjut
usia yang memeiliki embrio usaha, maka akan banyak lanjut usia yang
sebenarnya sangat miskin tetapi masih potensial dan masih produktif
tidak dapat masuk dalam kriteria program.
Bantuan usaha ekonomi produktif disalurkan dalam bentuk
barang, sesuai dengan Proposal yang telah diajukan. Proses pengadaan,
pengiriman dilakukan oleh Dinas Sosial DIY. Meskipun di dalam
Proposal sudah disusun daftar kebutuhan, namun seringkali bantuan
yang datang kurang sesuai dengan apa yang dibutuhkan dan diinginkan
warga masyarakat yang dalam hal ini adalah lanjut usia. Misalnya,
usaha ternak kambing, seringkali jenis kambing yang diberikan kurang
sesuai dengan kondisi alam di suatu wilayah. Demikian pula kondisi
kambing tersebut juga kurang berkualitas (kurus, kecil) bukan bibit
kambing yang berkualitas.






140
Pada tahun 2012, penyaluran bantuan dirubah, dimana transfer
dilakukan secara tunai berbentuk uang melalui BRI, kemudian
dicairkan dan dibelanjakan dengan pendampingan LKS dan
Pendamping sesuai dengan Proposal yang telah diajukan. Pola ini
dinilai lebih tepat dibandingkan dengan pola lama, dimana lanjut usia
menerima saja bantuan yang telah dibelanjakan oleh pemerintah.
Jenis usaha yang dikelola lanjut usia cukup bervareasi, namun
yang terbanyak adalah usaha ternak, khususnya ternak kambing. Di
wilayah pedesaan mayoritas ternak kambing. Usaha ini dipilih karena
sesuai dengan potensi wilayah pedesaan serta sesuai dengan irama
kehidupan lanjut usia di pedesaan yang masih mampu untuk mengurus
ternak dengan mencari rumput dan membersihkan kandang. Ada
sebagian kecil yang melakukan ternak bebek atau ternak ayam
kampung.
Warung kelontong juga dipilih sejumlah lanjut usia, khususnya
lanjut usia yang sebelumnya telah menjadi bakul atau jualan. Selain itu
juga usaha makanan seperti usaha tempe, makanan olahan atau jualan
jamu. Usaha ini dikelola secara kecil-kecilan, dengan pasar yang
sangat terbatas dan belum berorientasi bisnis dalam arti
mengakumulasikan keuntungan. Apalagi usaha ternak, sifatnya






141
merupakan tabungan atau simpanan dan dijual ketika ada kebutuhan
penting yang membutuhkan uang cukup banyak. Hasil usaha ternak
tidak dapat digunakan untuk membiayai hidup sehari-hari lanjut usia.


5) Pendampingan
Satu orang pendamping melakukan pendampingan terhadap
kurang lebih 10 orang lanjut usia. Pendamping menghadiri pertemuan
kelompok yang dilakukan secara berkala 1 bulan atau 40 hari (selapan)
sekali. Pendamping seharusnya juga melakukan pengelolaan keuangan
dan pengelolaan usaha. Selain itu pendamping juga kreatif melakukan
upaya agar usaha yang dilakukan lanjut usia dapat memperoleh
keuntungan, dengan membangun kerjasama dan kemitraan.
Kerja pendampingan lebih banyak memastikan bahwa bantuan
usaha ekonomi masih dapat berjalan (tidak bangkrut dan tidak dijual).
Namun untuk pengembangan usaha masih belum menunjukkan
indikator yang progresif. Mayoritas usaha yang dijalankan adalah
ternak, sehingga indikator kemajuannya adalah bertambahnya ternak
yang dimiliki lanjut usia. Upaya ternak dengan model pengggemukan
yang berorientasi bisnis belum lazim di kalangan UEP lanjut usia. Ada






142
sebagian yang melakukan usaha di bidang makanan, namun kapasitas
produksi mereka juga belum bertambah, karena pasar yang dikuasai
juga sangat terbatas. Usaha lain yang berbentuk warung kelontong,
kemajuannya juga sangat lambat atau malah hanya cukup untuk
kembali modal untuk kulakan barang.
Pendamping ataupun LKS juga bukan praktisi usaha yang
memiliki pengalaman dan jaringan luas sehingga sulit untuk berupaya
mengembangkan UEP lanjut usia. Program ini juga belum terintegrasi
dengan program pengembangan ekonomi yang lain sehingga juga
masih sulit untuk mencari dukungan dari sektor lain.
6) Monitoring dan Evaluasi
Monitoring dilaksanakan oleh Dinas Sosial Propinsi dan Dinas
Sosial Kabupaten/Kota. Seperti halnya program yang lain, Pemerintah
hanya memiliki waktu yang sangat terbatas untuk melakukan
monitoring melalui kunjungan lapangan. Lagi-lagi pemerintah
mengandalkan kerja LKS dan pendamping. Informasi mengenai
perkembangan usaha para lanjut usia diperoleh melalui laporan lisan
maupun laporan tertulis dari para Pendamping/LKS.
Monitoring melalui kunjungan lapangan juga belum efektif
karena alokasi waktu terbatas dan tidak banyak menjangkau






143
sasaran/lanjut usia pengelola usaha ekonomi. Teknik monitoring
melalui pertemuan informal dengan para lanjut usia per kelompok
belum dilakukan. Teknik ini sebenarnya dapat menjadi media interaksi
sosial dan sharing pengalaman dan perluasan jaringan dalam
mengelola usaha.
Evaluasi yang terstruktur dengan instrumen yang terukur
terhadap program UEP lanjut usia juga belum dilakukan, padahal
program ini telah berjalan selama 5 tahun. Jadi belum pernah ada
informasi atau data hasil evaluasi yang dapat digunakan sebagai
rekomendasi dalam pengembangan program UEP bagi lanjut usia.
Evaluasi seharusnya dilakukan oleh Dinas Sosial Propinsi,
khususnya pada unit teknis yang memiliki tugas pokok dan fungsi di
bidang pengembangan program. Namun dalam banyak program
evaluasi belum dilakukan.
d. Indikator Output
Program bantuan usaha ekonomi produktif bagi lanjut usia paling
tidak telah memberi asset, meskipun pada tingkat yang sangat minimal.
Jumlah nominal bantuan Rp. 1.500.000,- adalah sebuah input yang sangat
rendah untuk sebuah usaha produktif yang didedikasikan dapat
mendatangkan keuntungan. Bantuan usaha lebih banyak berfungsi






144
sebagai simpanan atau tabungan, utamanya usaha ternak. Sedangkan
usaha makanan atau warung kelontong pada tingkat minimal dapat
menambah barang dagangan yang dijual dan menambah sedikit
keuntungan yang dapat dibelanjakan kembali. Skala usaha yang dikelola
sangat kecil (ternak ayam, ternak kambing, usaha skala rumah tangga)
yang tidak terlalu berdampak pada peningkatan pendapatan yang
memadai. Usaha ini memang bersifat produktif namun belum bisa
dikatakan berorientasi bisnis.
Pengelolaan usaha juga bersifat asal bisa jalan, bantuan tidak
dijual dan sejauh mungkin yang mengelola warung tidak bangkrut. Usaha
ternak tidak secara langsung bisa menyangga beban pengeluaran harian
keluarga. Usaha ini dimaknai sebagai tabungan dan akan dijual jika
sewaktu-waktu membutuhkan.
Pemberdayaan keluarga lanjut usia untuk pengembangan usaha
dengan skala yang lebih besar masih belum dapat diterima oleh sejumlah
LKS. Terdapat LKS yang berpandangan lebih jelas memberi santunan
kepada lanjut usia meskipun sedikit, dari pada mendorong keluarga lanjut
usia berusaha tetapi belum jelas hasilnya. Kelompok simpan pinjam LKS
lebih banyak diakses oleh warga yang bukan penerima manfaat program






145
pelayanan kesejahteraan sosial lanjut usia, khususnya keluarga yang
sudah jelas memiliki usaha seperti bakul pasar dan bakul sayur keliling.
Teknik pengembangan usaha lain, seperti dengan membuka
sebuah koperasi lanjut usia ataupun usaha lain yang dikelola LKS
bersama lanjut usia dan untuk kesejahteraan lanjut usia belum dilakukan
oleh LKS. LKS lebih banyak mengurusi penyaluran bantuan, belum pada
pengembangan usaha para lanjut usia yang menjadi dampingannya.
Sejumlah SKPD baik di tingkat Propinsi maupun Kabupaten/Kota
juga memiliki program bina keluarga lanjut usia, khususnya melalui
pengembangan usaha ekonomi. Namun koordinasi dan sinergi antar
SKPD belum berjalan baik, sehingga masing-masing lembaga masih
berjalan sendiri-sendiri tanpa koordinasi baik pada tingkat perencanaan
maupun pelaksanaan program. Sejauh ini program pemberdayaan
ekonomi bagi lanjut usia dan keluarganya belum terintegrasi dengan
program-program penanggulangan kemiskinan. Karakter sektoral begitu
nyata sehingga justru belum mampu membawa perubahan yang nyata,
berkelanjutan dan beranjak maju dari kondisi awalnya. Padahal data
PPLS dapat menuntun model targetting sasaran untuk program terpadu,
termasuk memadukan penanggulangan kemiskinan dan pelayanan lanjut
usia terlantar.






146
Dari sisi dampak dan manfaat dapat disimpulkan bahwa program
UEP belum memberi manfaat ekonomi yang dapat berfungsi sebagai
penyangga kelangsungan hidup dan kesejahteraan lanjut usia. Kecuali
jika nantinya LKS mampu mengembangkan sebuah program pasive
income, yang dapat menjamin setiap bulan lanjut uia mendapat bagian
keuntungan yang dapat digunakan untuk membiayai hidupnya. Lanjut
usia sebenarnya sudah waktunya menikmati hasil jerih payahnya pada
saat muda, bukan saatnya lagi untuk menabung lagi dengan usaha ternak.
6. Program Pengembangan Kelembagaan dan Organisasi Lanjut Usia
Pemerintah telah membuka partisipasi seluas-luasnya bagi warga
masyarakat yang akan memberikan kontribusi dalam pelayanan kesejahteraan
sosial lanjut usia. Salah satunya adalah melalui Lembaga Kesejahteraan Sosial
(LKS). Ada dua kategori LKS yang bekerja dalam pelayanan kesejahteraan
sosial lanjut usia, yaitu LKS yang sudah berdiri dan memberi pelayanan
sebelum adanya skema-skema program pemerintah yang membutuhkan mitra
dan LKS yang berdiri sebagai respon dari permintaan pemerintah untuk
menjadi mitra.
LKS yang sudah mapan, biasanya memiliki program penyantunan
dalam Panti maupun di masyarakat, sedangkan LKS yang menjadi mitra baru






147
lebih fokus sebagai lembaga penyalur/distribusi bantuan serta pendampingan
di masyarakat.
LKS melakukan peran pendampingan, karenanya pendamping juga
bagian dari LKS. LKS dikelola oleh tenaga kesejahteraan sosial, baik itu
PSM, relawan sosial, maupun kader/penggiat kesejahteraan sosial di
masyarakat. Sistem rekruitmen tenaga pendamping dan pendirian LKS lebih
menjadi wilayah kebijaksanaan dari Desa dan kecamatan atas permintaan dari
Propinsi dan kabupaten/kota.
Meskipun LKS telah menjadi mitra yang menjalankan operasionalisasi
program pelayanan di tingkat masyarakat, dukungan dari pemerintah masih
sangat terbatas. Salah satu bentuk pembinaan adalah melalui temu Forum
Komunikasi Organisasi Sosial Lanjut Usia. Forum ini berbentuk pertemuan
koordinasi yang dibiayai oleh Dinas Sosial DIY. LKS dan Pendamping
memiliki tugas administrasi yang cukup banyak, namun belum diikuti dengan
dukungan dana dan sarana lain yang mencukupi untuk menyelesaikan tugas-
tugas tersebut. Bahkan sejumlah LKS meminta dukungan dari kerabatnya
untuk menyelesaikan urusan administrasi karena tidak memiliki sarana dan
kemampuan untuk melaksanakan tugas tersebut. Sejumlah aparat desa yang
menjadi pendamping program pelayanan sosial lanjut usia menyelesaikan






148
urusan surat menyurat dan administrasi dengan menggunakan sarana dan
fasilitas yang ada di Pemerintah Desa/Kalurahan.
Program pengembangan kapasitas bagi pengelola LKS dan
pendamping juga masih sangat terbatas. Peningkatan kemampuan menajerial
juga belum dilakukan, sehingga banyak LKS sebenarnya masih menjadi
embrio organisasi sosial. Pengelola LKS memiliki pengalaman dalam kerja-
kerja pendampingan, karena banyak di antaranya yang menjadi pendampingan
dalam proyek-proyek pemerintah yang lain. pembekalan pendamping masih
terbatas pada waktu program akan dijalankan. Bimbingan teknis belum
mengcover seluruh kebutuhan kompetensi pendamping. Pendamping
pengganti malah belum pernah mendapat input apapun dari pengelola
program dan hanya belajar melalui pendamping lain yang lebih senior.
Oleh karenanya pendamping lebih fokus pada penyalur bantuan, dan
memberi dukungan psiko sosial sesuai dengan kemampuannya (misalnya
mendengarkan, berkomunikasi dengan lanjut usia). Buku saku atau panduan
lain juga belum diberikan sehingga pendamping menekankan pada
penyaluran bantuan dan home visit, tugas-tugas pendampingan yang lain
belum dikembangkan.
Dukungan yang berbentuk biaya operasional baru diberikan pada 1
lembaga yaitu KOMDA Lanjut Usia di tingkat Propinsi. Secara struktural






149
KOMDA telah ada di Pusat, Propinsi, Kabupaten/Kota, bahkan di Kabupaten
Kulonprogo sudah sampai tingkat Desa. Tugas Komisi Daerah Lanjut Usia
Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai berikut:
1. Melakukan koordinasi lintas sektoral dan lintas program kegiatan dalam
rangka upaya peningkatan kesejahteraan sosial lanjut usia.
2. Melakukan identifikasi, sosialisasi, pemetaan permasalahan upaya
peningkatan kesejahteraan sosial lanjut usia.
3. Memberikan saran dan pertimbangan kepada Gubernur dalam
penyusunan kebijakan upaya peningkatan kesejahteraan sosial lanjut usia.
4. Melaporkan dan mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugas, serta
melaporkan dan mempertanggungjawabkan penggunaan anggaran setiap
tahun kepada Gubernur melalui Dinas Sosial DIY.
Komda lansia masih perlu berupaya lebih keras untuk melaksanakan
tugas-tugas tersebut. Koordinasi lintas sektoral perlu segera diwujudkan agar
tidak hanya Dinas Sosial saja yang memfomulasikan program pelayanan
untuk lanjut usia. Selain itu Komda yang memiliki posisi strategis untuk
advokasi kepentingan lanjut usia pada pemerintah masih perlu melakukan
konsolidasi internal sampai ke tingkat bawah sehingga menjadi kekuatan yang
memiliki suara, power dan didengar oleh para pengambil kebijakan. Fasilitasi
pemerintah bukan hanya pada penyelenggaraan konperensi atau musyawarah






150
daerah tetapi juga pada forum-forum strategis perencanaan dan pengambilan
keputusan.
Perkumpulan lanjut usia masih berjalan sendiri-sendiri, seperti
KOMDA, FORKOM, LVRI, PERBABRI. Belum ada agenda bersama untuk
mengartikulasikan kepentingan lanjut usia. Organisasi yang berbentuk
perkumpulan seharusnya menjadi kekuatan strategis apabila mampu
mengorganisasikan anggotanya dengan baik sehingga menjadi organisasi
yang solid dan berpengaruh.






147
BAB V
PENGEMBANGAN PROGRAM PELAYANAN SOSIAL
LANJUT USIA

Dalam bab empat sudah dipaparkan evaluasi atau review terhadap
penyelenggaraan program-program pelayanan kesejahteran bagi lanjut usia yang
disediakan oleh pemerintah mulai dari pelayanan Panti, bantuan sosial seperti JLSU
dan ASLUT, bantuan pemberdayaan ekonomi, dan pelayan berbasis masyarakat
(contoh: Home Care dan Day care). Evaluasi di lakukan pada semua program yang
ada dan didasarkan empat aspek penilaian yaitu Input, Proses, Ouput dan Manfaat
(benefit) program. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa terdapat aspek-aspek
implementasi yang sudah cukup efektif dan mampu menjawab kebutuhan lanjut usia.
Namun ada aspek lain yang membutuhkan peningkatan baik dari sisi mekanisme
penyelenggaraan, target dan sasaran, serta keterjangkauan atau aksesibilitas program.
Berdasarkan review tersebut dalam bagian ini tim peneliti akan menawarkan
sebuah desain atau model pelayanan kesejahteraan sosial lanjut usia yang diharapkan
mempu meningkatkan efektifitas, kualitas, aksesibilitas dan keterjangkauan program
pelayanan sehingga tercapai tujuan pelayanan yakni: peningkatan kesejahteraan
lansia dan pemenuhan hak mereka. Secara garis besar, model dan desain yang
ditawarkan terbagi dalam dua bentuk yakni scaling up (peningkatan) program-
program pelayanan yang sudah ada dari segi sasaran, mekanisme penyelenggaraan






148
dan resource yang dibutuhkan, Bentuk yang kedua adalah penambahan program baru
yang belum selama ini belum menjadi bagian dari pelayanan. Desain dan model yang
dipaparkan dalam bagian ini akan dibagi pada dua bagian besar. Bagian pertama
akan membahas prinsip-prinsip yang perlu perlu diakomodir dalam pelayanan
kesejahteraan sosial lansia. Bagian kedua membahasa pengembangan program
pelayanan kesejahteraan yang terfokus pada tiga aspek penting yakni mekanisme
penyelenggaraan, target dan keterjangkauan
A. PrinsipPrinsip Pelayanan
1. Pelayanan yang Inklusif dan Holistik
Pelayanan kesejahteraan sosial lanjut usia belum menjadi mainstraem
di di dalam formulasi dan implementasi kebijakan publik di Indonesia.
Ketuaan itu sendiri lebih sering diwacanakan sebagai wacana bio medis,
sehingga program pelayanan bagi lanjut usia juga identik dengan pelayanan
kesehatan.
Sementara itu pelayanan kesejahteraan sosial lebih dipersempit
maknanya menjadi pelayanan bagi lanjut usia terlantar. Keterlantaran itu
sendiri lebih dipahami sebagai keterlantaran ekonomi/miskin. Akibatnya
sebagian besar kebijakan pelayanan sosial mengarah pada pemenuhan
kebutuhan dasar untuk menjaga taraf kesejahteraan sosial lanjut usia, seperti
program perlindungan sosial dan bantuan sosial seperti permakanan,






149
pelayanan yang berbasis panti dan keluarga. Bantuan usaha bukan hanya
dibutuhkan oleh Lanjut usia miskin, karena lanjut usia yang tidak miskin
juga mengalami penurunan pendapatan akibat proses ketuaan.
Ketuaan itu sendiri sangat berimplikasi luas, dan tidak selalu
merupakan masalah yang berbasis material. Caring, atau perawatan tidak
selalu berkonotasi medis, tetapi bermakna psiko sosial, dan itu dibutuhkan
baik oleh lanjut usia dari keluarga miskin maupun tidak miskin. Kurangnya
waktu dan tenaga untuk merawat lanjut usia juga dialami oleh baik keluarga
miskin maupun keluarga tidak miskin, akibat dari moda ekonomi yang
melahirkan pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan dan menyita curahan
tenaga dan waktu.
Pelayanan sosial yang berfokus pada lanjut usia terlantar juga
menegasikan kebutuhan dan kepentingan lanjut usia yang berada dalam
keluarga mampu, namun membutuhkan pelayanan sosial. Perubahan sosial
masyarakat juga berpengaruh terhadap pola pengasuhan dan perawatan serta
relasi sosial di dalam keluarga. Keluarga inti yang semakin berukuran kecil
membutuhkn dukungan orang lain dalam perawatan anak-anak dan lanjut
usia. Oleh karenanya lanjut usia dari keluarga mampu juga membutuhkan
pelayanan sosial.






150
Pelayanan aksesibilitas bagi lanjut usia sudah menunjukkan
kemajuan yang progresif, khususnya di bidang pelayanan kesehatan. Di
banyak fasilitas pelayanan kesehatan telah disediakan loket khusus atau
pelayanan khusus bagi lanjut usia, sehingga tidak perlu harus menunggu
antrian yang panjang. Fasilitas kesehatan primer seperti Puskemas juga
sudah memiliki pelayanan yang aksesibel bagi lanjut usia. Namun justru di
Rumah Sakit Umum Daerah yang belum memiliki Poli Klinik Geriatrik. Di
DIY hanya Rumah Sakit Pusat Sardjito yang memiliki Poli klinik khusus
lanjut usia tersebut. Aksesibilitas pada sarana publik baru terlihat agak jelas
di sarana transportasi, khususnya transportasi udara yang menyediakan
layanan aksesibilitas bagi lanjut usia. Potongan harga pada pembelian tiket
perjalanan juga masih belum banyak di praktekan oleh pengusaha
transportasi. Kemudahan yang didapat baru kemudahan dalam membeli tiket
dan mobilitas di sarana angkutan, meskipun masih terbatas pada angkutan
yang lebih sering digunakan oleh kalangan kelas menengah dan lanjut usia
yang mampu. Tranportasi publik yang ada di wilayah pedesaan atau
transportasi umum seperti bis belum memberi kemudahan bagi lanjut usia.
Sarana publik lain seperti jalan belum ramah lanjut usia. Banyak
kasus lanjut usia meninggal terserempet kendaraan bermotor ketika sedang
jalan-jalan pagi atau menyeberang. Trotoar masih turun naik, tidak rata dan






151
sngat tinggi sehingga juga mempersulit lanjut usia yang berjalan dengan alat
bantu ataupun tidak. Trotoar juga sudah banyak digunakan untuk berjualan.
Tempat rekrerasi untuk rileksasi dan interaksi sosial warga, termasuk
lanjut usia seperti taman juga belum banyak dibangun. Fasilitas umum ini
penting disediakan pada kawasan yang terdekat dengan komunitas warga
termasuk lanjut usia. Fasilitas ini menjadi media interaksi sosial bagi semua
warga sehingga semua lapisan masyarakat dapat berinteraksi secara inklusif,
tidak peduli mereka termasuk kategori terlantar atau tidak terlantar. Selain
itu nilai-nilai luhur seperti menghormati orang tua dapat diedukasi secara
langsung melalui interaksi ini.
Pelayanan yang holistik dan inklusif menjadi perspektif yang perlu
dioperasionalisasikan dalam pengembangan pelayanan kesejahteraan sosial
lanjut usia. Sektor kesejahteraan sosial tidak lagi mereduksi diri dalam
mengambil kebijakan dan merencanakan program, mengambil pendekatan
residual dengan memilih kategori terlantar.
2. Pelayanan Berbasis Keluarga dan Masyarakat
Pelayanan berbasis keluarga dan masyarakat sudah mulai
dikembangkan, seperti dalam pelayanan home care, ASLUT maupun JSLU.
Namun demikian keterlibatan keluarga masih kurang. Keluarga mendapat
manfaat karena beban pengeluaran berkurang, namun kurang memberi






152
kontribusi lebih pada perawatan orang tua atau saudaranya sendiri. Bahkan
keluarga juga terbantu dalam pengeluaran untuk pengasuhan anak, karena
bantuan langsung uang tunai juga ada yang dimanfaatkan untuk uang saku,
dan biaya transport anak sekolah.
Keluarga juga kurang memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam
merawat lanjut usia, khususnya bagi lanjut usia yang harus menjalani
bedridden. Pengetahuan dan ketrampilan teknis seperti kebersihan tempat
tidur, mengganti diaper, menyediakan makanan sehat juga masih belum
dipunyai. Penyelenggara program juga belum menempatkan keluarga
sebagai sasaran (target group) yang perlu mendapat intervensi lebih banyak,
sehingga kegiatan-kegiatan pelatihan care giving atau perawatan dan
pengasuhan lanjut usia juga belum banyak dilakukan. Pengetahuan mengenai
psiko sosial lanjut usia juga masih minimal, sehingga banyak lanjut usia
yang jarang diajak berkomunikasi, keluarga hanya mendekat ke kamar lanjut
usia pada saat memberi makan atau membersihkan badan. Banyak kasus
kondisi psiko sosial lanjut usia semakin mundur dengan cepat karena
sedikitnya intensitas komunikasi dengan anggota keluarga dan lingkungan.
Banyak lanjut usia mengalami dimentia lebih cepat, atau merasa sangat
kesepian, kehilangan semangat bahkan putus asa dengan kondisinya.






153
Keluarga juga belum memperhatikan dengan baik kondisi kesehatan
lanjut usia. Lanjut usia dengan penyakit degeneratif hanya dibiarkan tanpa
intervensi obat yang seharusnya diberikan secara berkelanjutan. Selain
karena tidak memiliki sarana mobilitas, keluarga juga jarang membawa
mereka ke fasilitas kesehatan terdekat, karena dirasakan repot dan tidak akan
banyak membantu kondisi lanjut usia menjadi lebih baik. Kesehatan badan
juga buruk, tempat tidur berbau, jarang dimandikan, dipotong rambut dan
kukunya. Bantuan langsung uang tunai dan permakanan tidak juga bisa
memacu keluarga untuk merawat lanjut usia dengan baik, sekalipun itu
adalah orang tuanya sendiri.
Keterlibatan masyarakat dalam pelayanan sosial lanjut usia semakin
progresif, khususnya yang digerakkan oleh perkumpulan lanjut usia dan
perkumpulan perempuan seperti PKK dan Dasa Wisma. Partisipasi ini
biasanya diwadahi dalam kegiatan Pos Yandu Lanjut Usia, Senam dan
kegiatan keagamaan. Kegiatan ini lebih banyak difasilitasi oleh lembaga
pemerintah yang menjalankan tugas pokok dan fungsi di bidang pelayanan
kesehatan.
Program pelayanan sosial belum banyak memfasilitasi perkumpulan
lanjut usia di tingkat grass root yang berakar dan diinisasi olehwarga
masyarakat itu sendiri. Bahkan program seperti ASLUT dan JSLU






154
mengembangkan LKS sendiri dan dilengkapi dengan pendamping dalam
melakukan pelayanan, dimana para pendamping dan pengelola LKS ini lebih
banyak didominasi oleh orang-orang yang dekat dengan aparat desa, atau
malahan aparat desa itu sendiri. Penyelenggara pelayanan sosial baru
memfasilitasi KOMDA lanjut usia di tingkat Propinsi, sementara
perkumpulan di akar rumput belum banyak diberdayakan. Perkumpulan
lanjut usia ini merupakan potensi dan sumber yang memiliki daya ungkit
untuk men-scaling-up program pelayanan sosial lanjut usia. Pemerintah
dengan sejumlah keterbatasannya sulit untuk menjangkau lanjut usia yang
membutuhkan pelayanan. Perkumpulan lanjut usia menjadi mitra yang
strategis dalam menjalankan program pelayanan sosial yang secara luas
dapat menjangkau lebih banyak lanjut usia.
Deteksi dini kasus-kasus keterlantaran dapat dilakukan oleh
komunitas, demikian pula data yang akurat juga bisa diperloleh dari
komunitas. Upaya-upaya promotif juga bisa dilakukan oleh komunitas
dengan lebih baik, misalnya melalui gerakan hidup sehat bagi lanjut usia dan
pra lanjut usia serta kegiatan rekayasa sosial yang ramah terhadap lanjut
usia.
Perkumpulan lanjut usia juga bisa menjadi media rujukan apabila ada
warga lanjut usia yang membutuhkan pelayanan rujukan, pelayanan






155
kedaruratan dan dukungan lainnya. Perkumpulan lanjut usia menjadi salah
satu anggota dari sistem jaringan rujukan yang bisa bertindak cepat,
sehingga kasus-kasus kedaruratan akan tertolong dengan cepat.
Kegiatan yang bersifat maintenance juga bisa dilakukan oleh
perkumpulan, untuk tetap menjaga kualitas hidup yang lebih baik. Bentuk
kegiatan seni, olah raga, aktivitas kebugaran, kegiatan ibadah dan kegiatan
sosial lainnya yang sifatnya rutin dapat dilakukan perkumpulan. Pemerintah
hanya perlu mengalokasikan kegiatan dan anggaran untuk memfasilitasi
perkumpulan. Semangat dan motivasi para aktivis sosial penggerak
perkumpulan tetap terus dijaga dengan memberikan penghargaan terhadap
kontribusi dan dedikasi mereka kepada lanjut usia.
Fungsi-fungsi artikulasi kepentingan lanjut usia juga bisa
diperjuangkan oleh perkumpulan pada forum Musrenbang Tingkat
Desa/Kalurahan. Pemerintah hanya perlu memastikan bahwa perkumpulan
tersebut menerima informasi tentang musrenbang dan terlibat aktif dalam
kegiatan tersebut. Perkumpulan dengan demikian akan menjadi agen
perubahan bagi komunitasnya sendiri.
3. Twin-Track Approach: Perlindungan Sosial dan Pemberdayaan
Keluarga






156
Selama 5-7 tahun terakhir program-program perlindungan sosial
mengalami perluasan yang cepat. Program JSLU dan ASLUT misalnya,
yang diawali pada tahun 2009 di 5-6 propinsi saat ini telah menjangkau
seluruh propinsi di Indonesia. Program ini memang mampu menjamin
pemenuhan kebutuhan lanjut usia yang paling dasar. Dengan kriteria yang
sangat selektif dan tertuju pada lanjut usia yang sudah sangat renta dan
dalam kondisi bedridden maka apabila pendataan dan verifikasi benar,
program ini perlu di scaling-up dengan meningkatkan jumlah sasaran.
Alokasi anggaran dari APBN dan APBD seharusnya sama untuk tiap-tiap
lanjut usia sehingga tidak menimbulkan salah paham dan kecemburuan
sosial. Nilai nominal bantuan masih terlalu rendah, meskipun masih tetap
dinilai bermanfaat bagi lanjut usia dan keluarganya. Waktu pencairan
bantuan secara bulanan dinilai lebih efektif digunakan untuk kebutuhan
lanjut usia, bukan didistribusi per 3-4 bulan.
Program perlindungan sosial yang berlansung terus menerus memang
menjadi harapan banyak keluarga lanjut usia. Namun di sisi lain, sebenarnya
skema ini juga men-disempower sense of self-efficacy keluarga yang
harusnya dibangun untuk mendukung keberadaan mereka merasa sebagai
human being dengan self-esteem yang utuh. Pemberdayaan ekonomi
keluarga juga penting dilakukan karena data di lapangan menunjukan






157
banyaknya keluarga lansia yang tergolong keluarga miskin dan mengalami
kesulitan untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari. Dalam kondisi
tersebut, tanggung jawab perawatan orangtua lansia baik terkait waktu
maupun biaya menjadi sangat berat. Beberapa anak atau menantu perempuan
yang menjadi perawat utama (primary caregiver) bagi lansia menjelaskan
bahwa mereka tidak bisa membantu keluarganya mencari nafkah karena
mereka harus melakukan tanggung jawab perawatan. Sementara, ada
beberapa perempuan primary caregiver yang juga menjadi satu satunya
pencari nafkah dalam keluarga sehingga mereka dengan terpaksa tidak bisa
memberikan perawatan yang memadai bagi orangtuanya yang lansia.
Kondisi-kondisi inilah yang meniscayaan terintegrasinya program pelayanan
kesesejahteraan lansia pada berbagai skema programprogram
penanggulangan kemiskinan seperti PKH maupun pemberdayaan ekonomi.
Salah satu mekanisme yang bisa dilakukan misalnya dengan memasukkan
keberadaan lansia dalam keluarga sebagai kriteria penerima bantuan.
Sebagai contoh, kriteria penerima program PKH diluaskan tidak hanya bagi
keluarga yang memiliki anak usia sekolah tetapi juga keluarga yang
memiliki anggota lansia. Dengan terintegrasinya layanan terhadap lansia di
dalam program pemberdayaan keluarga miskin maka pemberdayaan
keluarga lansia semakin terjamin.






158
4. Regulasi Pelayanan Sosial Lanjut Usia
Ketiga pendekatan seperti yang telah diuraikan di atas membutuhkan
institusionalisasi ke dalam sebuah regulasi atau kebijakan sehingga
implementasinya ke dalam program dan kegiatan akan lebih jelas. Regulasi
akan menjadi payung hukum yang kuat bagi segenap stakeholder yang akan
menjadi pelaku dalam penyelenggaraan program pelayanan sosial lanjut
usia.
Regulasi sebagaimana dimaksud di atas dapat dituangkan dalam
bentuk Peraturan Daerah dan Peraturan lain yang lebih teknis operasional
sehingga hak-hak, kebutuhan, dan kepentingan warga lanjut usia dapat lebih
terjamin untuk bisa terpenuhi dan terlindungi. Kebutuhan regulasi sistem
pelayanan sosial lanjut usia di Yogyakarta sangatlah nyata mengingat di DIY
populasi warga lanjut usia sangat tinggi dan akan terus bertambah seiring
dengan terus meningkatnya usia harapan hidup.
Secara sosiologis situasi dan kondisi lanjut usia membutuhkan
perhatian, baik itu karena masalah keterlantaran ekonomi karena keluarga
hidup dalam kemiskinan maupun keterlantaran psiko sosial karena
perubahan komposisi, peran dan fungsi keluarga yang mengakibatkan
keluarga kekuarangan waktu, tenaga dan perhatian kepada orang tua. Selain
itu telah terjadi pula pergeseran nilai-niai dalam masyarakat yang lebih






159
mengedepankan basis material, sehingga menempatkan orang tua yang
sudah tidak produktif menjadi beban, sehingga tugas perawatan dirasakan
bukan sebagai tanggung jawab dan bentuk penghargaan kepada orang yang
seharusnya mereka hormati dan hargai.
Dari sudut pandang filosofis, DIY memiliki budaya adiluhung yang
sangat tinggi dalam menghormati, menjunjung tinggi dan memberi
penghargaan kepada para sesepuh yang menjadi tauladan bagi generasi yang
lebih muda. Dan dari aspek yuridis, Pemerintah DIY membutuhkan
Peraturan yang lebih teknis untuk mengimplementasikan kebijakan di
tingkat nasional yang lebih makro, baik dalam bentuk Undang-undang
maupun peraturan lainnya yang terkait dengan pelayanan sosial lanjut usia.
Kebijakan pemerintah pusat juga masih terpisah-pisah antara pelayanan
sosial, pelayanan kesehatan dan pelayanan di bidang lainnya. Peraturan
Daerah diharapkan dapat memberi kerangka kebijakan yang lebih
komprehensif dan memudahkan untuk koordinasi dan sinkronisasi dalam
penyelenggaraan program dan kegiatan pelayanan sosial lanjut usia.
Sebagaimana dipaparkan dalam bab II, banyak negara telah
mengaplikasikan kebijakan yang komprehensif sebagai landasan
konstitusional bagi pelayanan sosial lanjut usia. Pelayanan medis dan
pelayanan sosial bagi lansia misalnya tidak diberikan sebagai pelayanan






160
terpisah, melainkan diberikan dalam dalam satu paket pelayanan. Pelayanan
untuk lansia juga diberikan tidak hanya kepada lansia itu sendiri melainkan
kepada keluarga melalui skema pengurangan pajak atau jaminan dan
asuransi teaga erja bagi mereka yang harus cuti untuk mengurus orang tua
lansia. Bagi negara-negara industri dengan kemampuan ekonomi yang baik ,
pensiun dan jaminan sosial diberlakukan secara universal kepada semua
lanjut usia, apapun latar belakang sosial ekonomi dan pekerjaannya.
Hal terpenting yang dikedepankan dalam regulasi adalah pentingnya
partisipasi lanjut usia itu sendiri dalam formulasi maupun implementasi
kebijakan. Perkumpulan dan organisasi lanjut usia adalah sumber informasi
dan potensi serta kekuatan strategis dalam penyelenggaraan pelayanan sosial
lanjut usia. Karakter komunal yang melekat pada masyarakat Jawa
semestinya menjadi landasan sosiologis yang akan menentukan arah
kebijakan dan pendekatan dan model delivery yang akan digunakan.
Arah kebijakan pelayanan sosial lanjut usia :
1. Meningkatkan dan memperluas jangkauan pelayanan.
2. Menjangkau lansia terlantar maupun lansia tidak terlantar.
3. Mengintegrasikan issu lanjut usia dalam perencanaan
pembangunan.
4. Meningkatkan kualitas pelayanan lansia di LKS






161
5. Meningkatkan koordinasi dan sinergi lintas sektoral.
6. Mengembangkan pelayanan kesos lansia berbasis keluarga dan
komunitas.
7. Menciptakan lingkungan yang mudah diakses oleh lansia.
Kebijakan Makro :
1. Penyusunan Perda Penyelenggaraan pelayanan Kesejahteraan
Sosial Lansia berikut peraturan yang lebih teknis.
2. Penyusunan Rencana Aksi daerah.
3. Penyusunan Roadmap untuk Pencapaian rencana aksi.
4. Mempromosikan Kota Ramah Lanjut Usia

B. Pengembangan Program Pelayanan Sosial Lanjut Usia
1. Pengembangan Program Pelayanan Dalam Panti
Program pelayanan di dalam panti perlu diarahkan pada dua segmen
atau target sasaran yaitu, lanjut usia yang terlantar dari golongan keluarga
tidak mampu (miskin) dan lanjut usia yang dari keluarga yang tidak memiliki
problem ekonomi (keluarga mampu).
Segmen lanjut usia terlantar juga diarahkan sangat selektif, kepada
lanjut usia yang tidak lagi memiliki keluarga atau kerabat dan hidup sendirian
tanpa pengampu. Usia juga perlu dipilih pada kategori yang sangat lanjut atau






162
bahkan sudah membutuhkan pelayanan bedridden. Penajaman sasaran
program pelayanan dalam panti seperti ini dimaksudkan untuk memilih target
yang benar-benar membutuhkan pertolongan karena sebenarnya mereka inilah
yang dimandatkan oleh negara untuk diberikan perlindungan oleh pemerintah.
Dengan kata lain, berbeda dengan layanan panti sekarang yang
mensyaratkan kemandirian lansia, pelayanan panti justru seharusnya
ditargetkan kepada lansia yang tidak lagi bisa mandiri (bedridden), sudah
tidak diketahui lagi siapa keluarganya (lansia yang diambil dari
jalan/menggelandang, mengemis atau-pun ditemukan oleh masyarakat dan
diserahkan ke PSTW). Lanjut usia psikotik yang menggelandang juga harus
menjadi salah satu sasaran pelayanan program di dalam panti.
Pelayanan bagi lanjut usia di dalam panti dari keluarga tidak mampu
merupakan pengembangan program subsidi silang yang sudah dilaksanakan
pada tahun-tahun sebelumnya. Pelayanan ini perlu diperluas dengan dukungan
sosialisasi yang intensif kepada segmen yang tepat. Leaflet pelayanan khusus
ini perlu dibuat lebih menarik dan disebarluaskan kepada masyarakat luas.
Lokasi-lokasi strategis seperti di Airport, Stasiun Kereta Api, Pusat
Perbelanjaan, Rumah Sakit, Bank, dan Pusat Pelayanan Publik lainnya juga
menjadi wahana strategis untuk sosialisasi program tersebut.






163
PSTW juga perlu mengembangkan layanan home care yang beberapa
waktu yang lalu sudah dilakukan tetapi kemudian terhenti karena menjadi
salah satu program dan kegiatan di Unit Teknis Dinas Sosial yang menangani
lanjut usia. PSTW memiliki sarana dan sumber daya manusia yang cukup
memadai untuk mengembangkan layanan tersebut dengan dukungan Tim
Medis yang sudah menjadi mitra kerja. Temuan kajian ini juga
merekomendasikan adanya peningkatan dan perluasan layanan home care
karena sangat dibutuhkan oleh keluarga yang memiliki lanjut usia yang sudah
memasuki fase bedridden.
Oleh karena program dalam panti lebih banyak melayani lanjut usia
yang terlantar, tanpa pengampu dan sudah berusia sangat lanjut/bedridden
maka kegiatan pelayanan akan lebih banyak berbentuk perawatan fisik dan
psiko sosial, sehingga kebutuhan care giving menjadi lebih banyak. Jika di
analogikan dengan pelayanan lansia di negara-negara maju, maka skema
pelayanan panti merupakan pelayanan jangka panjang (residential-long term
care) bagi lansia yang: 1). Sudah kehilangan kemandirian dalam melakukan
kegiatan sehari-har (basic daily living), 2). Tidak memiliki keluarga yang
merawat, 3). Atau berasal dari keluarga miskin dimana keluarga tidak mampu
memberi perawatan.






164
Dalam skema pelayanan home care diatas, manajemen panti perlu
mendapat perhatian lebih serius karena sumber daya manusia memang perlu
ditingkatkan baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Perawat, Pramurukti
dan Pekerja sosial jenjang trampil akan lebih dibutuhkan keberadaannya di
dalam panti.
2. Program Perlindungan Sosial
Asistensi Sosial Lanjut Usia (ASLUT dan Jaminan Sosial Lanjut Usia
(JSLU) menjadi dua program yang perlu diperluas dengan sasaran yang tepat
serta menggunakan pendekatan terpadu antara perlindungan sosial dan
pemberdayaan. Sasaran ASLUT maupun JSLU kurang lebih sama dengan
program pelayanan dalam panti, namun bedanya lanjut usia dalam program ini
adalah lanjut usia yang masih memiliki keluarga, kerabat atau pengampu.
Keterpaduan dua pendekatan ini perlu dipastikan dengan skema
sebagai berikut :
a. Penyelenggara program JSLU ataupun ASLUT melakukan sinergi
program dengan unit teknis lain di Dinas Sosial yang menyelenggarakan
program pemberdayaan, khususnya kepada rumah tangga miskin. Dari
sinergi ini perlu dipastikan bahwa keluarga miskin yang memiliki lanjut
usia dengan kualifikasi seperti tersebut di atas menjadi sasaran program
penanggulangan kemiskinan.






165
b. Penyelenggara program JSLU ataupun ASLUT melakukan sinergi
program dengan unit teknis lain di SKPD lain yang menyelenggarakan
program pemberdayaan, misalnya melalui pengembangan pertanian,
peternakan, perikanan, usaha perdagangan, industri, jasa dan
pengembangan usaha lainnya. Perlu dipastikan pula bahwa keluarga yang
memiliki lanjut usia dengan kualifikasi seperti tersebut di atas menjadi
sasaran program SKPD yang memiliki tugas pokok dan fungsi di bidang-
bidang tersebut.
c. Penyelenggara program JSLU ataupun ASLUT melakukan sinergi
program dengan unit teknis lain di Pemerintah Kabupaten/Kota yang
memiliki program pemberdayaan ekonomi basis kewilayahan. Perlu
dipastikan pula bahwa keluarga yang memiliki lanjut usia dengan
kualifikasi seperti tersebut di atas menjadi sasaran program pemberdayaan
berbasis kewilayahan.
Jumlah nominal bantuan perlu ditingkatkan sehingga sesuai dan cukup
untuk memenuhi kebutuhan layak bagi lanjut usia. Proses pencairan bantuan
langsung uang tunai dilakukan setiap bulan sehingga bisa dimanfaatkan
secara efektif untuk meningkatkan taraf kesejahteraan sosial lanjut usia.
Keluarga juga perlu mendapat sosialisasi lebih awal sehingga memahami






166
dengan baik program perlindungan sosial tersebut dan menggunakan untuk
kepentingan pemenuhan kebutuhan lanjut usia.
Keluarga penerima program ASLUT dan JSLU juga perlu
mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan merawat dan mengasuh lanjut
usia. Pelatihan care giving perlu diberikan kepada keluarga penerima manfaat
dari program tersebut. Pelatihan yang lebih efisien dapat dilaksanakan per
kelompok dampingan, bekerja sama dengan Tim Medis dari Puskesmas
setempat dan mendayagunakan jaringan profesi Psikolog dan Pekerja Sosial
untuk menyampaikan pengetahuan mengenai aspek psiko sosial lanjut usia.
Seluruh Pendamping dan mintra LKS juga dipastikan menerima
sosialisasi program lebih lengkap sehingga memahami tugas pokok dan
fungsinya serta dapat menjelaskan lebih lanjut kepada sasaran program yang
didampingi. Secara berkala pendamping juga perlu memperoleh supervisi
klinis dari Pekerja Sosial Profesional, Psikolog dan Tim Medis untuk
memastikan kinerja pendamping sesuai dengan kaidah-kaidah pendampingan
lanjut usia.
Tugas pendampingan tidak semata-mata hanya melakukan home visit
kepada penerima program, khususnya pada saat pencairan bantuan.
Pendamping melakukan pengorganisasian keluarga penerima program dan
menggunakan perkumpulan tersebut sebagai self-help group yang menjadi






167
sarana belajar dan sarana pemberdayaan keluarga. Pengorganisasian keluarga
ini menjadi bertambah penting tatkala program ASLUT dan JSLU
diintegrasikan dengan program pemberdayaan ekonomi dan program
penanggulangan kemiskinan.
Pendamping juga perlu melibatkan komunitas, khususnya membangun
dan memperkuat kepedulian warga terhadap lanjut usia yang mereka
dampingi. Paling tidak warga masyarakat mengetahui warga lanjut usia yang
menerima program perlindungan sosial dan mereka memahami kenapa
mereka menerima dan mengapa yang lain tidak. Pemahaman ini penting untuk
menghandle sikap- sikap dan pemahaman yang keliru serta kemungkinan
munculnya kecemburuan di antara warga yang sama-sama memiliki lanjut
usia. Perkumpulan yang ada di masyarakat juga perlu didorong untuk
memperhatikan issu lanjut usia dan menginisiasi kegiatan-kegiatan yang dapat
bermanfaat bagi warga pra lanjut usia dan lanjut usia yang ada di wilayahnya.
Dengan demikian, pendamping juga melakukan tugas-tugas pendampingan
yang sifatnya promotif dan preventif. Partisipasi warga lain yang lebih
mampu dapat digali melalui kegiatan fundrising, menggali donatur lokal
sehingga jangkauan penerima layanan dapat diperluas atau nominal bantuan
dapat ditingkatkan.
3. Program Bantuan Permakanan (Food Stamp)






168
Program bantuan permakanan hampir sama karakternya dengan
program perlindungan sosial lainnya seperti JSLU dan ASLUT. Perbedaannya
adalah bantuan yang diberikan dalam bentuk bahan makanan. Apabila
program ini ingin dipertahankan, maka skemanya harus dikembangkan.
Pertama, program dilaksanakan dengan menggunakan azas partisipasi
warga. Bantuan permakanan disalurkan melalui kelompok masyarakat yang
selama ini sudah mengelola program PMTS, seperti makanan untuk balita dan
Pos Yandu. Bahan makanan juga mendukung program permakanan yang
memenuhi kebutuhan gizi lanjut usia termasuk dukungan untuk program diet
rendah garam, gula dan lemak. Bantuan sifatnya insentif dan membutuhkan
kontribusi dari warga masyarakat serta pemerintah lokal (Desa/Kalurahan).
Skema ini akan memperkuat spirit kesetiakawanan sosial di masyarakat,
bukan mengambil alih tanggung jawab masyarakat dalam membantu sesama
warganya. Bantuan permakanan yang diserahkan langsung pengelola program
akan menjadikan pendekatan yang lebih individual dan melemahkan semangat
gotong royong dan saling membantu di masyarakat, apalagi ini soal pangan.
Kedua, program bantuan permakanan disertai dengan fasilitasi
kegiatan perkumpulan di masyarakat, misalnya perkumpulan PKK, POS
YANDU, dan lainnya. Perkumpulan dapat menjadi efektif sebagai agen
perubahan di tingkat akar rumput apabila para pengelolanya memiliki jiwa






169
kerelawanan dan semangat karya kemanusiaan yang tinggi. Perkumpulan
hanya perlu difasilitasi untuk terus bertemu, melakukan identifikasi masalah,
merencanakan program, diberikan fasilitas pelatihan dan pengembangan.
Berdasarkan pengalaman di program lain seperti Pos Yandu dan PKK,
perkumpulan ini menjadi mitra strategis yang berakar dan memiliki komitmen
kuat. Kader Pos yandu atau PKK tidak diberikan honorarium, namun mereka
tetap mampu memberikan karya-karya nyata yang dirasakan oleh warga
masyarakat.
Ketiga, pemerintah berperan sebagai fasilitator, sedangkan yang
memberikan bantuan permakanan adalah pihak lain, perorangan, lembaga
sosial atau dunia usaha yang memiliki program karitatif. Pemerintah
melakukan sosialisasi dan mendorong pihak-pihak tersebut untuk memberi
kontribusi pada penyelenggaraan pelayanan sosial lanjut usia. Kemudian,
Pemerintah menyediakan data kelompok sasaran yang membutuhkan bantuan
permakanan dan lokasi wilayahnya. Lembaga-lembaga tersebut dapat
menentukan lokasi sasaran berkoordinasi dengan pemerintah.
4. Program Home Caredan Bedah Rumah
Program ini bukan dimaksudkan untuk mengambil alih peran keluarga
dalam merawat dan melayani lanjut usia. Sifat program ini adalah supporting
terhadap keluarga yang memiliki lanjut usia yang sudah memasuki fase






170
bedridden atau sudah sulit melakukan mobilitas dan aktivitas harian tanpa
pendamping.
Program home care juga harus lebih perawatan, dan tidak sekedar
visitasi sosial. Pelayanan terpadu antara medis dan sosial harus menjadi inti
dari program home care ini. Oleh karenanya, program home care tidak cukup
hanya dilakukan oleh pendamping, namun seyogyanya dilakukan secara Tim
yang melibatkan tenaga medis, termasuk piskolog, psikitaris dan juga terapis
serta dan pekerja sosial. Secara tekhnis Program home care dilaksanakan
dengan skema sebagai dipaparkan berikut.
Program home care dilakukan oleh unit teknis yang memiliki sumber
daya memadai seeprti PSTW, atau jika diperlukan Dinas Sosial dapat
membuat satuan tugas pelayanan home care untuk setiap kabupaten/kota.
Pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah DIY perlu melakukan sharing
budget dan sumber daya lain agar pelayanan ini dapat diperluas dan
menjangkau semakin banyak lanjut usia.
Unit Teknis Dinas Sosial bidang pelayanan sosial lanjut usia
melakukan koordinasi dengan Puskesmas dan Puskesmas Pembantu
(PUSTU), bersama TKSK dan PSM untuk menjadi pelaksana program home
care. Dinas Sosial bertanggung jawab dalam mengalokasikan dana yang
dibutuhkan dalam pendampingan dan pelayanan psiko sosial, Puskesmas atau






171
Dinas Kesehatan memberi dukungan dengan alokasi anggaran untuk
pelayanan kesehatan. Di DIY sudah ada program Puskesmas Santun Lansia,
sehingga sangat memungkinkan untuk diintegrasikan dengan program layanan
sosial lainnya. Koordinasi dan sinergi program sangat diperlukan dengan
lintas stakeholder, untuk menyusun perencanaan program, pelaksanaan, dan
pengorganisasian secara bersama.
Dinas Sosial dapat bekerja sama dengan akademi, lembaga pendidikan
profesi untuk program praktikum, magang, dan lain-lain, sehingga
mendapatkan pendamping home care yang lebih memiliki kompetensi.
Peningkatan keterlibatan warga masyarakat. khususnya dalam perawatan dan
pengasuhan lanjut usia yang usianya lanjut yang tidak lagi memiliki keluarga
dan tinggal/hidup sendirian tanpa pengampu. Partisipasi warga juga penting
dalam proses pelaporan kasus dan rujukan kasus, apabila di masyarakat terjadi
kasus emergency yang membutuhkan tindakan kedaruratan.
Peningkatan kapasitas pendamping melalui bimtek, pelatihan, magang
dan penyediaan manual-manual pengasuhan dan perawatan lansia. Bimbingan
teknis bagi penyelenggara dan pelaksana perlu dilakukan untuk memahami
dengan benar konsep home care dan bentuk layanannya. Di samping itu juga
kegiatan peningkatan keterlibatan keluarga melalui pelatihan pengasuhan dan
perawatan lanjut usia.






172
Program home care juga perlu dipadukan dengan program bedah
rumah atau bedah kamar lanjut usia. Program bedah kamar selama ini
memang hanya diarahkan pada tempat atau ruangan khusus yang digunakan
oleh lanjut usia. Intervensi ini belum tepat mengingat rumah keluarga lanjut
usia terlantar juga belum layak huni. Banyak sekali lanjut usia yang
ditempatkan di sudut ruangan yang sangat kumuh dan gelap, di dekat dapur,
atau bahkan di dekat kandang ternak.
Bedah kamar akan lebih efektif jika dipadukan dengan program bedah
rumah atau rehabilitasi rumah tak layak huni. Lagi-lagi ini hanya persoalan
koordinasi dan sinergi lintas sektor. Sejumlah SKPD lain di luar Dinas Sosial
memiliki program rehabilitasi rumah, dan oleh karenanya Dinas Sosial perlu
membawa ke permukaan kepentingan dan kebutuhan keluarga lanjut usia
untuk menjadi sasaran program tersebut. Selain itu sejumlah Kementerian
juga mengalokasikan dana dekonsentrasi untuk perbaikan rumah tidak layak
huni.
Apabila koordinasi dan sinergi lintas lembaga ini terjaga, maka tahap
selanjutnya adalah memastikan bahwa rumah yang direhabilitasi adalah
rumah yang aksesibel untuk ditinggali bersama lanjut usia. Design maupun
bahan yang digunakan dipastikan memberikan keamanan, kemudahan, dan
kenyamanan bagi lanjut usia.






173
Tahap selanjutnya adalah memberi edukasi kepada keluarga dan
memberi perspektif mengenai hak lanjut usia untuk mendapat pelayanan yang
penuh hormat dan penghargaan serta kewajiban keluarga untuk merawat dan
melayani lanjut usia. Edukasi ini penting karena faktanya mikul dhuwur
mendhem jero itu semakin tergerus oleh budaya material yang mengabaikan
orang-orang yang dinilai sudah tidak produktif lagi.
5. Day Care-Posyandu Lansia
Salah satu aspek penting yang menunjang kesejahteraan lansia,
sebagaimana kelompok usia lain, adalah adanya media untuk bersosialisasi
dimana mereka bisa bertemu dan berinteraksi secara rutin dengan teman dan
kolega. Dalam konteks lansia, ruang dan kesempatan bersosialisasi semakin
terbatas karena menurunnya aktifitas produktif dan sosial yang mereka jalani.
Tidak heran jika kesepian dan keterpinggiran (eksklusi) lansia dari masyarakat
luas merupakan permasalahan umum yang banyak dihadapi lansia. Kesepian
bahkan juga dialami oleh lansia yang tinggal dengan keluarga karena semua
anggota keluarga lain sibuk bekerja, sekolah atau memiliki kegiatan lain.
Karena hal inilah program day care lansia perlu dilakukan.
Day care lansia bisa di organisir oleh dinas sosial, namun
penyelenggaraannya melalui dilakukan melalui partisipasi masyarakat dengan
melibatkan organisasi atau kelompok masyarakat seperti LKS, PKK, maupun






174
organisasi keagamaan. Untuk itu Daycare perlu dilakukan dengan basis
wilayah desa atau unit yang lebih kecil di desa seperti RW dan RT. Program
daycare, bisa juga di beri nama PALUS (Pendidikan Lanjut Usia), merupakan
kegiatan yang dilakukan secara rutin setiap hari, atau beberapa kali dalam
seminggu dan diisi dengan aktivitas pendidikan dan sosial yang bermanfaat
dan menghibur: mulai dari minum kopi atau teh bersama, kelas kerajinan atau
komputer, kelas agama, sampai belanja dan rekreasi bersama. Program
daycare bisa juga dijadikan sarana sosialisasi berbagai program pemerintah,
termasuk program kesejahteran sosial dan kesehatan. Intinya, program ini
merupakan kesempatan lansia untuk bersosialisasi secara rutin, dan untuk
mendapatkan informasi dan kemampuan baru. Dengan kurikulum dan
aktivitas yang ditawarkan lansia bisa terus aktif dan kesehatan fisik,
psikologis atau kognitif lansia akan terjaga.
Daycare juga bisa difungsikan sebagai sarana pelayanan kesehatan
seperti Posyandu Lansia dengan serangkaian aktifitas seperti assessment
sederhana, terapi atau program rehabilitasi lainnya termasuk diet dan nutrisi
serta pengecekan rutin kondisi gula, darah serta detak jantung. Untuk
menjawab permasalahan permasalahan mobilitas dan aksesibilitas day care
juga seyogyanya di lengkapi dengan pelayanan transportasi (antar jemput).






175
Melihat fungsinya pendanaan Day Care atau PALUS harus
disinergikan antara dana dari Dinas Sosial, Dinas Kesehatan dan juga Dinas
Pendidikan. Tentu saja dana swadaya masyarajat juga perlu dipupuk melalui
lembaga keagamaan atau dana sosial lainnya.
6. Program Pengembangan Ekonomi Bagi Lanjut Usia Dan Keluarga
Pendekatan pemberdayaan dapat dilakukan melalui Program
pengembangan usaha ekonomi, baik bagi lanjut usia itu sendiri maupun
keluarganya. Di sejumlah buku panduan mengenai program ini
diformulasikan bahwa kegiatan pengembangan usaha merupakan kegiatan
sampingan sebagai pengisi waktu luang, jadi aspek keuntungan atau profit
menjadi pertimbangan sekunder. Di buku yang lain disebutkan bahwa
program pengembangan usaha merupakan investasi yang dapat digunakan
untuk meningkatkan kesejahteraan sosial lanjut usia.
Pengembangan program diarahkan untuk menjawab kebutuhan dan
masalah lanjut usia dan keluarga di bidang ekonomi, serta memanfaatkan
potensi yang memang masih ada di antara lanjut usia dengan memperhatikan
aspek budaya, khususnya budaya Jawa. Data PPLS 2011 menunjukkan
banyaknya lanjut usia yang masih bekerja, khususnya yang berada di
pedesaan. Pekerjaan yang dilakukan adalah pekerjaan di sektor pertanian,
peternakan dan perdagangan. Banyak lanjut usia yang masih aktif di sawah,






176
ladang, menggembala ternak, mencari rumput atau-pun berjualan di pasar.
Buruh gendong di Pasar Beringharjo, misalnya didominasi usia pra lanjut usia
bahkan ada sejumlah buruh gendong yang sudah dalam kategori lanjut usia.
Program pengembangan usaha ekonomi ditujukan untuk memberi
aktivitas yang produktif sesuai dengan kemampuan fisik dan aktivitas
keseharian lanjut usia. Usaha produktif itu sendiri perlu mendapat dukungan
pendampingan teknis agar memiliki nilai dan dampak ekonomi, bukan
semata-mata sebagai aktivitas pengisi waktu luang. Secara teknis lanjut usia
yang melakukan usaha tersebut, namun perhitungan biaya dan keuntungan
didukung oleh pendamping teknis. Akan lebih efektif apabila usaha lanjut
usia produktif tersebut diintegrasikan dengan program pemberdayaan
ekonomi keluarga, sehingga sekaligus sebagai upaya mengentaskan
kemiskinan. Pendampingan usaha menjadi kebutuhan sangat penting untuk
memastikan bahwa program dan kegiatan ini menimbulkan dampak yang riil
pada peningkatan pendapatan baik bagi lanjut usia maupun keluarganya.
Skema lain untuk mendukung produktifitas para lanjut usia adalah
melalui skema kemitraan dengan dunia usaha atau UMKM. Pemerintah
melakukan kebijakan afirmasi, yang memberi mandate kepada dunia usaha
dan usaha ekonomi lainnya untuk mengalokasikan sebagian proses produksi
pada lanjut usia, yang sesuai dengan kemampuan mereka. Misalnya






177
pengeleman, pengemasan masih bisa dilakukan oleh lanjut usia. Di banyak
tempat masih dijumpai lanjut usia yang masih menekuni profesi sebagai
tukang jahit, meskipun dengan dukungan kacamata plus, bahkan di lain
tempat juga ada lanjut usia yang masih terlibat dalam proses produksi tenun
yang juga membutuhkan ketelitian dan kecermatan.
Program lain yang perlu dikembangkan adalah pasive income, yang
sangat memungkinkan untuk dibangun dalam sebuah skema kemitraan dengan
dunia usaha, koperasi ataupun UMKM. Pemerintah menyertakan modal pada
pelaku-pelaku usaha tersebut, dan keuntungannya diberikan kepada lanjut
usia. Modal dapat dihibahkan kepada kelompok lanjut usia pada suatu
komunitas, dan kemudian ditanamkan sebagai modal pada koperasi UMKM,
atau lembaga pembiayaan di tingkat komunitas sehingga keuntungan menjadi
pendapatan yang dapat diterima oleh lanjut usia anggota perkumpulan. Skema
bantuan sosial (bansos) diinvestasikan kembali pada koperasi atau lembaga
keuangan yang lain sehingga bisa menjadi sumber pendapatan bagi lanjut usia
melalui pembagian premi atau keuntungan.
Dengan seluruh skema pengembangan usaha tersebut, lanjut usia
kemudian difasilitasi dengan tabungan atas nama mereka sendiri, sehingga
memperoleh kepastian bahwa mereka masih memiliki asset ekonomi yang
dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kepemilikan buku






178
tabungan akan menjadi kekuatan untuk merasa berdaya dan hal ini akan
semakin meningkatkan kepercayaan dan harga dirinya.
Keringanan pajak juga menjadi salah satu dari model layanan untuk
meringankan beban biaya ekonomi yang harus dibayar lanjut usia. Pajak
property, pajak kendaraan, pajak penghasilan seharusnya mendapat
keringanan atau bahkan untuk pajak-pajak tertentu dihapuskan sehingga tidak
menambah beban lanjut usia yang pendapatannya semakin turun karena sudah
menjalani masa pensiun.
Pelatihan kewirausahaan juga menjadi program strategis yang
hendaknya dikembangkan. Program dan kegiatan ini bisa diawali dengan
menjangkau aparat pemerintah atau pekerja lain yang menjelang usia pensiun.
Sejauh ini persiapan pensiun masih dalam tahap pengenalan dan memberi
perspektif kewirausahaan. Layanan ini perlu digarap lebih serius sehingga
purna tugas tidak harus selalu berarti menurunnya penghasilan. Pelatihan
disertai dengan pendampingan usaha dan kebijakan afirmatif lainnya sehingga
usaha yang dikelola berjalan dan mampu berkembang.
Fasilitasi bursa kerja untuk pra lansia yang menjelang pensiun dan
para pensiunan juga bisa menjadi alternatif lain dalam upaya mempertahankan
kemampuan ekonomi lanjut usia. Dengan berbagai pengalaman dan latar
belakang profesinya, para warga senior ini akan lebih berdaya apabila






179
memperoleh ruang sosial untuk menjaga eksistensi dirinya, sekaligus sharing
pengalaman kepada generasi yang lebih muda. Bisa jadi para sesepuh ini
adalah mentor yang tangguh, guru sejati yang mampu menjadi teladan dan
inspirator yang menggerakkan energi yang lebih kuat pada generasi muda.
7. Fasilitasi Perkumpulan Lanjut Usia dan LKS yang Bekerja dalam
Bidang Pelayanan Sosial Lanjut Usia
Selama ini pemerintah masih terbatas sekali dalam melakukan tugas
fasilitasi terhadap perkumpulan lanjut usia. Komisi Daerah lanjut Usia
Tingkat Propinsi adalah satu-satunya perkumpulan lanjut usia yang mendapat
dukungan sumber daya dari pemerintah. Pemerintah daerah perlu membangun
KOMDA Lansia yang solid, tidak elitis, mengakar, berbasis keanggotaan dan
menjadi perkumpulan lanjut usia agar menjadi kelompok kepentingan yang
memiliki posisi tawar kuat.
Perkumpulan lanjut usia di akar rumput juga perlu diberikan dukungan
dan diperkuat sebagai self-help group bagi kelompok warga lanjut usia.
Program ini terasa sekali karakter community base-nya sehingga dapat
menjadi motor penggerak bagi aktivitas lanjut usia di masyarakat. Pemerintah
memfasilitasi kemitraan antara LKS, Dunia Usaha, perbankan, Perguruan
Tinggi, asosiasi profesi, pemerintah dan lembaga non pemerintah termasuk






180
international NGO dalam rangka penyelenggaraan pelayanan sosial lanjut
usia.
Perkumpulan lanjut usia hampir selalu ada di dalam komunitas
masyarakat. Dukungan diberikan untuk memfasilitasi kegiatan perkumpulan
lanjut usia, misalnya sarana untuk melakukan kegiatan pertemuan, olah raga,
kegiatan keagamaan, alat bantu mobilitas dan sarana lainnya. Pemerintah juga
memfasilitasi pertemuan berkala yang dilakukan secara berjenjang. Pada level
akar rumput, pemerintah dapat menugaskan PSM untuk mendampingi
aktivitas kelompok lanjut usia. Pada tingkat kecamatan TKSK dapat diberi
tanggung jawab untuk memfasilitasi pertemuan pengurus perkumpulan
tingkat kecamatan (Komda kecamatan), dan Dinas Sosial Kabupaten/Kota
bertanggung jawab untuk melaksanakan pertemuan pengurus tingkat
Kabupaten/Kota. Pertemuan dilakukan secara berkala.
Dukungan terhadap perkumpulan juga dapat berbentuk pengembangan
kapasitas pengurus, khususnya dalam mengelola perkumpulan serta
memperluas jaringan. Pengembangan kelembagaan perkumpulan maupun
LKS yang bergerak dalam bidang pelayanan lanjut usia perlu dilakukan agar
mampu mengakses program, meningkatkan manajemen kelembagaan dan
memperkuat organisasi atau perkumpulannya.






181
Pemerintah melakukan advokasi untuk memastikan perkumpulan
lanjut usia terlibat dalam Forum Musrenbang secara berjenjang dari tingkat
desa/kalurahan hingga tingkat propinsi. Pengurus perkumpulan perlu dibekali
dengan pengetahuan mengenai perencanaan dan penganggaran serta
bagaimana cara memformulasikan problem dan kebutuhan lanjut usia serta
mengartikulasikan di forum tersebut.
Secara berkala perkumpulan juga dilatih untuk menyusun sebuah
laporan dan rekomendasi-rekomendasi yang diperlukan untuk
mengartikulasikan kebutuhan dan kepentingan lanjut usia. Perkumpulan juga
perlu difasilitasi untuk melakukan kegiatan representasi di arena publik yang
lebih luas, untuk membangun citra yang lebih positif dan produktif pada lanjut
usia. Tidak terbatas pada acara budaya, kegiatan yang menuntut kompetensi
dan pengalaman profesional juga dapat diberikan kepada pengelola
perkumpulan lanjut usia yang memang memiliki track record yang baik dalam
berbagai bidang pekerjaan dan pengalaman. Pemerintah memfasilitasi tokoh
lanjut usia yang berpotensi menjadi dewan pakar atau great thinker yang
dapat memberi advice pada para pengambil kebijakan.
Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) Lanjut usia juga perlu mendapat
dukungan dari pemerintah. Fasilitasi dan dukungan ini bisa dalam bentuk
penguatan sumber daya pengelola LKS melalui bimbingan teknis, pendidikan






182
dan pelatihan, dukungan sarana dan prasarana, konsultasi manajemen layanan
sosial serta bentuk dukungan yang lain.
Untuk menjaga standar kualitas pelayanan LKS, pemerintah juga perlu
membuat regulasi yang lebih teknis tentang perijinan dan tata laksana
pelayanan kesejahteraan sosial, supervisi dan pengendalian.
8. Advokasi Desa dan Kota Ramah Lanjut Usia
Apabila program pelayanan sosial lanjut usia semakin memiliki
karakter community base dan partisipatif, maka advokasi untuk membangun
desa ramah lanjut usia menjadi sangat mungkin dan visible untuk benar-benar
diwujudkan.
WHO telah memberi Panduan dalam mewujudkan lingkungan yang
ramah lanjut usia, yaitu dengan 8 jenis layanan:
1. Gedung dan Ruang terbuka
2. Transportasi
3. Perumahan
4. Partisipasi Sosial
5. Penghormatan dan keterlibatan (Inklusi Sosial)
6. Partisipasi warga dan Pekerjaan.
7. Komunikasi dan Informasi
8. Dukungan Masyarakat dan lembaga pelayanan kesehatan






183
Dukungan berbagai sumber daya telah tersedia, seperti sumber daya
manusia yang akan mengawali dan melaksanakan program Desa Ramah
Lanjut usia. Perkumpulan Lanjut Usia, Pendamping, LKS Mitra, tenaga
Kesejahteraan sosial, serta relawan dan personil lain akan menjadi penggerak
dalam mewujudkan program ini. Pemerintah desa/kalurahan yang telah
memiliki mainstraem ke lanjut-usiaan juga akan memberi dukungan dan
fasilitasi, bahkan melalui integrasi program di dalam Perencanaan
Pembangunan Daerah.
Desa Ramah lanjut usia menggambarkan sebuah lingkungan fisik dan
sosial yang mengakomodasi kebutuhan khusus dan kepentingan para lanjut
usia. Di dalam desa tersebut dipastikan tidak ada lanjut usia yang mengalami
keterlantaran, sakit-sakitan tanpa intervensi pelayanan kesehatan. Lanjut usia
yang membutuhkan pelayanan berkelanjutan segera dapat mengakses layanan
kesehatan.
Aktivitas lanjut usia juga dapat berjalan dinamis, dan dilakukan secara
inklusif seperti aktivitas olah raga, keagamaan, seni dan budaya. Kelompok
pra lanjut usia, bahkan remaja juga didorong untuk terlibat dalam aktifitas
tersebut. Para remaja dapat menjadi pendamping para lanjut usia pada
kegiatan-kegiatan yang melibatkan aktifitas fisik yang membutuhkan
pendamping. Dengan demikian warga masyarakat memiliki kesadaran






184
terhadap lanjut usia, dan memberikan sikap yang positif terhadap para sesepuh
di masyarakatnya.
Aksesibilitas lingkungan juga menjadi salah satu aspek yang
diwujudkan dalam Desa maupun Kota Ramah lanjut Usia. Pemerintah perlu
mempromosikan universal design pada sarana dan prasarana publik sehingga
mudah diakses, memberi keamanan dan kenyamanan oleh semua golongan
masyarakat termasuk lanjut usia, penyandang disabilitas, ibu hamil dan anak-
anak. Masing-masing komunitas juga difasilitasi alat bantu (seperti kursi roda,
misalnya) yang dapat digunakan apabila ada lanjut usia yang membutuhkan,
atau ketika terjadi situasi darurat.
Lingkungan fisik yang aman dan memudahkan mobilitas bagi lanjut
usia. Pembuatan jalan desa, jalan dusun tidak membahayakan lanjut usia.
Pasar, lapangan, tempat ibadah, pusat layanan kesehatan, Balai RW juga dapat
diakses oleh para lanjut usia. Taman rekreasi yang ada di ruang publik baik di
tingkat Desa, kecamatan maupun kota/kabupaten juga perlu dibangun ramah
lanjut usia sebagai wahana sosialisasi bagi warganya, termasuk arena
sosialisasi lintas generasi.
Selain itu juga perlu dibangun griya lanjut usia dan pusat aktivitas
lanjut usia sebagai pusat informasi, konsultasi, interaksi dan komunikasi,
edukasi dan rekreasi bagi lanjut usia. (klinik geriatrik, gymnastic, books






185
corner, wellness dan spa, yoga and meditation center, boutique, food court
aman bagi lansia dan fasilitas lainnya. Bahkan juga perlu difasilitasi dengan
layanan day care center lanjut usia pada wilayah-wilayah urban yang
membutuhkan.
9. Program Penguatan Jalinan Lintas Generasi
Pada saat ini adalah momen yang tepat untuk berbicara mengenai
pelestarian dan internalisasi nilai-nilai budaya Jawa, budi pekerti yang dikenal
adi luhung kepada generasi muda. Nilai-nilai keistimewaan DIY perlu digali
dan diperkuat kembali dan diadaptasi sesuai dengan konteks kekinian.
Anak-anak muda Yogyakarta meskipun didera oleh budaya populer
yang masuk melalui media sosial dan teknologi informasi ternyata memiliki
resiliensi yang cukup kuat untuk menjaga dan tetap menggunakan identitas
sosialnya sebagai warga DIY. Faktanya anak-anak dan remaja merasa
sesuatu ketika mengenakan busana tradisional Jawa (surjan lurik, bahkan
ketika pentas di publik mereka sangat bangga terhadap pakaian daerah yang
dikenakannya). Identitas simbolik ini perlu ditindaklanjuti melalui proses-
proses internalisasi untuk menemukan makna dan nilai filosofis yang
trkandung di dalam simbol-simbol budaya.
Dalam kerangka mencegah keterputusan jalinan lintas generasi inilah
pemerintah perlu memfasilitasi praktek tutur, sembur, wuwur, melalui upaya-






186
upaya promosi, edukasi, dan ekspresi seni. Lanjut usia perlu dilibatkan untuk
menjadi instruktur dalam kursus membatik, kerawitan, kerajinan, tari, dan
kegiatan seni lainnya bagi anak-anak sekolah. Selain itu juga bisa difasilitasi
melalui Pentas seni bersama lintas generasi.
Lanjut usia juga bisa menjadi sumber informasi, sehingga anak-anak
muda dapat nyecep ngelmu, dengan memfasilitasi lanjut usia untuk
mengkomunikasikan naskah-naskah kuno, manuskrip dalam bahasa yang
dipahami anak-anak muda. Melalui program ini budaya dapat berperan
sebagai sumber pencerahan praktek hidup generasi mendatang, dan dengan
demikian jalinan antar generasi akan selalu terjaga.
10. Pelayanan Sosial Pada Situasi Bencana
Dalam setiap kejadian bencana terdapat kelompok-kelompok
masyarakat yang tergolong kelompok rentan, seperti anak-anak, lanjut usia
dan perempuan. Mereka dikategorikan rentan karena mempunyai keterbatasan
dalam menghadapi situasi bencana. Lanjut usia dalam banyak hal sulit untuk
cepat-cepat menyelamatkan diri karena kendala fisik yang dialami.
Keterbatasan dalam mendengar mengakibatkan lanjut usia tidak bisa
memperoleh informasi yang cepat mengenai peringatan dini melalui bunyi
sirine atau kenthongan ataupun pengeras suara. Keterbatasan dalam melihat
juga menyulitkan untuk secara cepat berlindung ke tempat yang aman. Bagi






187
lanjut usia yang mengalami hambatan mobilitas, misalnya harus berjalan
menggunakan alat bantu, akan mengalami hambatan untuk menyelamatkan
diri.
Dengan keterbatasan dan hambatan tersebut, lanjut usia adalah
kelompok yang sangat rentan menjadi korban dalam kejadian bencana. Pada
setiap kejadian bencana, korban jiwa selalu terdiri dari anak-anak, lanjut usia
dan perempuan. Demikian pula yang mengalami luka ringan, luka berat
maupun bahkan mengalami cacat permanen juga kelompok rentan tersebut.
Mereka terlambat menyelamatkan diri. Pada kejadian gempa bumi tektonik
2006, seorang lanjut usia sudah berada di lingkungan kamar mandi yang
cukup dekat dengan pintu keluar, tetapi tetap saja terlambat menyelamatkan
diri dan akhirnya meninggal karena tertimbun tiang sumur. Pada kejadian
bencana erupsi gunung Merapi tahun 2010, banyak lanjut usia yang terjebak
di dalam rumah karena keluarga lainnya harus menyelamatkan anak-anak dan
perempuan. Selain itu ada keengganan bagi lanjut usia untuk menggungsi dan
mereka memilih tetap tinggal di rumah meskipun sudah mendapat peringatan
untuk segera menggungsi. Akhirnya Tim evakuasi masuk ke rumah-rumah
penduduk, mengendong para lanjut usia dan memasukkannya ke dalam truk.
Meskipun demikian masih ada sejumlah lanjut usia yang akhirnya juga
menjadi korban erupsi gunung Merapi 2010. Beberapa studi di sejumlah






188
negara juga menunjukkan bagaimana kelompok warga lanjut usia menjadi
sangat rentan dalam menghadapi dan mengalami bencana. Misalnya study
yang dilakukan oleh Lauren S Fernandez et all (2002), menyimpulkan bahwa
warga lanjut usia mempunyai resiko tinggi mengalami masalah fisik,
kesehatan, psiko sosial, dan problem ekonomi.
Derita para lanjut usia tidak hanya terjadi pada saat kejadian bencana.
Selama tanggap darurat lanjut usia juga kurang mendapat perhatian yang
memadai. Posko pengungsian selalu tidak siap untuk memberikan pelayanan
khusus kepada kelompok-kelompok rentan. Ruangan untuk tidur selalu
dicampur untuk semua usia dan jenis kelamin. Ruangan penuh sesak,
sehingga tidak nyaman bagi anak-anak dan orang tua. Mereka sulit tidur,
merasa tidak aman dan gaduh. Gangguan psikologis menyertai; ketakutan,
kecemasan, bahkan ada yang mengalami trauma. Para lanjut usia yang
mempunyai kebutuhan pelayanan kesehatan khusus karena penyakit kronis
yang diderita juga kurang mendapat perhatian. Pola makan dengan menu yang
sesuai dengan penyakit yang diderita juga tidak diperhatikan. Akibatnya
banyak lanjut usia yang mengalami sakit ketika berada di posko atau tenda
pengungsian. Pelayanan Trauma healing juga lebih banyak diarahkan bagi
anak-anak oleh berbagai lembaga bantuan kemanusiaan, sedangkan bagi
lanjut usia jarang diperhatikan. Help Age Internasional, sebuah lembaga non






189
profit yang memberi perhatian serius pada peningkatan kualitas hidup lanjut
usia yang berpengalaman menangani lanjut usia pada situasi bencana juga
mencatat;
While older people are commonly accepted as being a vulnerable or
potentially vulnerable group, at present very little is done to meet their
particular needs, or to recognise their unique capacities and
contributions. Humanitarian interventions often ignore older peoples
special needs, using systems that discriminate against them and, on
occasion, undermine their capacity to support themselves.

Pada saat rehabilitasi dan rekonstruksi kebutuhan dan kepentingan
lanjut usia juga kurang mendapat perhatian. Konstruksi hunian sementara
maupun hunian tetap tidak mengakomodasi permasalahan lanjut usia.
Konstruksi tahan gempa seharusnya mengakomodasi kepentingan lanjut usia.
Universal design sebagai prinsip pembangunan konstruksi seringkali tidak
juga bisa mengakomodasi kebutuhan spesifik lanjut usia. Akibatnya ketika
suatu saat terjadi bencana kembali, lanjut usia tetap menjadi kelompok rentan
yang mempunyai resiko tinggi terkena dampak bencana. Demikian pula
pembangunan kembali posko dan barak pengunggsian, serta sarana/prasarana
tanggap darurat lainnya juga tidak mengakomodasi kepentingan lanjut usia.
Pasca kejadian bencana penduduk lanjut usia membutuhkan keberlanjutan
pelayanan, untuk mengatasi stress atau trauma akibat bencana dengan
memberikan lingkungan yang mampu memberi rasa aman (rest home
resident). Penduduk lanjut usia juga membutuhkan beberapa alat bantu






190
mobilitas yang dapat mendukung kemandiriannya dalam menjalani kehidupan
di masyarakat. Pada phase pasca bencana, perhatian keluarga difokuskan pada
rehabilitasi dan rekonstruksi pemukiman, sehingga warga lanjut usia kurang
mendapat perhatian dan merasa kesepian. Intervensi sosial seharusnya juga
diarahkan untuk membangun jaringan sosial yang mampu membangun social
connectedness bagi warga lanjut usia.
Secara riil program dan kegiatan yang dapat dilakukan adalah sebagai
berikut :
a. Pada Tahap Pra Bencana
Pada tahap ini dilakukan edukasi kepada masyarakat maupun para
lanjut usia sendiri mengenai resiko bencana di wilayahnya. Kegiatan ini
merupakan bentuk mitigasi dan kesiapsiagaan. Kegiatan ini penting
dilakukan karena di sejumlah kejadian bencana lanjut usia cukup sulit
untuk bersedia dievakuasi lebih dahulu, selain itu keluarga meninggalkan
lanjut usia ketika mereka menyelamatkan diri dengan keterbatasan sarana
untuk lari misalnya sepeda motor yang hanya mampu memuat 2-3 orang,
dan ketika situasi sangat mendesak yang digendong dan diajak lari adalah
anak-anak.
Pemerintah lokal (Desa atau Kalurahan) memiliki data/peta yang
akurat mengenai persebaran penduduk lanjut usia di wilayah rawan






191
bencana. Bahkan sangat diperlukan sebuah simbol atau tanda khusus yang
dapat berbentuk stiker yang ditempel pada pintu rumah depan keluarga
yang memiliki anggota lanjut usia. Stiker ini akan mempermudah petugas
evakuasi pada saat terjadi situasi darurat bencana.
Kegiatan kesiapsiagaan lain adalah membekali petugas
kebencanaan, relawan, TAGANA, SAR dan petugas evakuasi lainnya
pengetahuan dan ketrampilan dalam memberikan pelayanan kepada lanjut
usia, baik itu soft skill berupa ketrampilan komunikasi dan interaksi
dengan lanjut usia maupun ketrampilan dalam mengevakuasi,
menyelamatkan dan memberi pertolongan pada lanjut usia pada situasi
darurat.
Sarana dan prasarana evakuasi juga mengakomodasi kebutuhan
lanjut usia. Bak truk cukup tinggi bagi lanjut usia, sehingga seringkali
lanjut usia kesulitan untuk naik. Oleh karenanya aksesibilitas sangat
dibutuhkan, sehingga mereka bisa naik truk dengan aman dan terlindungi.
b. Pada Tahap Situasi Terjadi Bencana
Anak-anak, Lanjut Usia dan perempuan adalah 3 kelompok rentan
yang perlu mendapat prioritas dalam proses evakuasi, penyelamatan dan
pertolongan. Hal ini menjadi prosedur tetap dalam evakuasi dan dipatuhi
oleh petugas evakuasi. Tempat pengungsian juga mengakomodir






192
kebutuhan lanjut usia. Tidur tanpa alas dan selimut, di ruang terbuka
membuat mereka beresiko masuk angin atau mudah terserang virus.
Ketahanan tubuh mereka melemah sehingga memicu kambuhnya penyakit
yang mungkin diderita.
Makanan yang disediakan untuk lanjut usia juga perlu
memperhatikan kebutuhan khusus lanjut usia, misalnya makanan yang
lunak, tidak membahayakan pencernaan dan tidak memicu munculnya
atau semakin parahnya penyakit degeneratif.
Sarana dan prasarana di hunian sementara biasanya sangat sulit
untuk melayani kebutuhan lanjut usia. Kamar mandi menjadi kebutuhan
sangat penting tapi seringkali jauh dan sulit dijangkau lanjut usia, padahal
mereka lebih sering menggunakan kamar mandi. Sejumlah lanjut usia
sering kali tidak bisa menahan untuk buang air kecil sehingga terpaksa
mereka kencing di sembarang tempat di lokasi pengungsian. Akibatnya
situasi hunian sementara semakin tidak sehat dan bisa mengganggu, tidak
hanya kesehatan lanjut usia sendiri tetapi juga anak-anak dan penggungsi
lainnya.
Situasi di pengungsian juga sangat padat, dan gaduh. Lanjut usia
yang memang sudah mengalami sulit tidur akan semakin kesulitan untuk
bisa beristirahat. Dalam hal ini dibutuhkan sebuah ruang khusus atau






193
tempat khusus untuk menampung pengungsi lanjut usia. Hal ini harusnya
menjadi salah satu bagian dari rencana kontingensi. Alternatif lain dalam
penyediaan tempat pengungsian yang ramah lanjut usia adalah dengan
membuat model pengungsian yang menempatkan 1 keluarga pada 1 tenda
keluarga. Model ini sangat sesuai dengan budaya Jawa, khususnya
Yogyakarta dimana lanjut usia akan merasa tenteram jika berada di dekat
anak cucu.
Kebutuhan lain pada saat terjadi bencana adalah pendampingan
psiko sosial. Trauma healing dengan pendekatan dan teknik yang sesuai
dengan kultur masyarakat menjadi salah satu layanan yang penting
diberikan kepada lanjut usia. Mereka merasa sangat kehilangan harta
benda, bahkan mungkin keluarga, dan mungkin juga kehilangan sebagian
besar dari hidupnya, karena desa tempat mereka dilahirkan, tempat mereka
dibesarkan dan khususnya desa yang mereka bangun dengan susah payah
telah hancur karena bencana. Pendampingan psiko sosial bertujuan untuk
memulihkan kondisi psiko sosial dan memberi dukungan untuk menerima
dan bangkit kembali dari perasaan terpuruk.

c. Pada Tahap Rehabilitasi dan Rekonstruksi






194
Kebutuhan lanjut usia selanjutnya dalam tahap ini adalah
memastikan bahwa hunian tetap (huntap) aksesibel bagi lanjut usia.
Bangunan rumah, misalnya hendaknya memperhatikan kepentingan lanjut
usia, misalnya tidak berundak-undak, lantai yang rata, pintu yang lebih
lebar baik di dalam rumah maupun di kamar mandi, dan serta sarana lain
yang memudahkan bagi mobilitas lanjut usia.
Kondisi sosial juga dipulihkan dengan menghidupkan kembali
aktivitas sosial yang ada di masyarakat, dimana para lanjut usia dapat
berpartisipasi di dalamnya, seperti kegiatan ibadah, pertemuan warga, seni
budaya serta kegiatan sosial lainnya. Komunikasi dan interaksi sosial
seperti ini akan memperkuat kondisi psiko sosial lanjut usia, sehingga
mereka memiliki resiliensi yang tinggi ketika harus menghadapi kembali
resiko bencana.
Pemberdayaan ekonomi juga menjadi kebutuhan yang strategis,
apalagi bagi lanjut usia yang sebelum bencana menekuni berbagai usaha
seperti memelihara sapi, jualan di pasar, bertani, dan lain sebagainya.
Pengembangan usaha ekonomi ini akan memulihkan kembali semangat
hidupnya untuk membangun kembali usaha yang dikelolanya.
11. Layanan Sosial Paripurna






195
Dunia filosofis Jawa yang memandang hdup di dunia sebagai tempat
sementara yang hanya berlangsung sangat singkat. Hidup diibaratkan seperti
orang yang hanya mampir untuk minum (urip iku mung mampir ngombe
sedhelo). Filsafat Lawa mengenal alam keabadian yang disebut sebagai
kaswargan jati. Kematian adalah proses kembali ke asal muasal, atau sering
disebut sangkan paraning dumadi. Manusia Jawa lahir itu ada asalnya atau
sangkan dan suatu saat akan kembali pulang, paran. Gusti, bagi orang Jawa
adalah sangkan sekaligus paran. kesampurnaning urip iku naliko kawulo
nyawiji marang gusti.
Dalam bingkai filsafat Jawa yang mengenal jagad cilik dan jagad
gedhe (makrokosmos dan mikrokosmos), maka ngebekti marang pinisepuh,
diwujudkan hingga mengantar mereka menuju kaswargan jati. Semua
manusia, tidak peduli dari kelas sosial ekonomi apapun berhak untuk pulang
kepada sangkan-dumadinya dengan penuh suka cita. Oleh karenanya,
pelayanan sosial lanjut usia juga harus memastikan bahwa lanjut usia akan
berpulang dengan tersenyum dan dihargai.
Pemerintah perlu menyediakan layanan paripurna dengan fasilitas
santunan duka cita, fasilitasi ambulan gratis serta penyediaan permakaman
gratis. Fasilitas makam di perkotaan cukup sulit, apalagi bagi orang-orang






196
lanjut usia pendatang yang kesulitan biaya untuk pemulangan ke daerah
asalnya.
Selain itu pemerintah juga perlu memfasilitasi kelompok-kelompok
Pangruktiloyo yang tumbuh di masyarakat. kelompok-kelompok tersebut
memiliki motivasi dan semangat yang kuat untuk melaksanakan tugas-tugas
kemanusiaan. Ini adalah modal sosial yang baik yang perlu diperkuat untuk
menjaga kebersamaan, melestarikan gotong royong dalam masyarakat
sekaligus menjaga integrasi sosial.






194
BAB VI
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Kesimpulan
Paparan dalam kajian ini menunjukan bahwa perubahan budaya dan
tatanan sosial yang terjadi di DIY, dan juga di daerah lain di Indonesia, juga
berimplikasi terhadap perubahan demografi menuju masyarakat dengan
struktur tua (aging) yang salah satunya berimbas kepada bagaimana
masyarakat, termasuk lansia itu sendiri, memandang fenomena ketuaan
(aging). Perubahan persepsi tersebut kemudian terfleksikan kedalam
kebijakan masyarakat internasional, PBB dan juga unit dan lembaga dibawah
naungannya , yang berwujud pada dimunculkannya beberapa nilai dan prinsip
baru dalam pelayanan kesejahteraan lansia. Tentu saja kebijakan internasional
tersebut yang juga berpengaruh terhadap kebijakan pada level nasional di
berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia. Beberapa prinsip dan
pendekatan seperti pemenuhan hak lansia, pentingnya partisipasi lansia ,serta
pendekatan intergenerational perlu diakomodir sebagai platform kebijakan
dan programprogram pelayanan kesejahteraan lansia. Adanya perubahan
arah kebijakan pada level internasional dan nasional ini , jelas perlu juga
dibawa atau diterjemahkan dalam sebuah kebijakan lokal di DIY, terutama
karena data menunjukkan bahwa DIY juga mengalami perubahan demografi






195
ke arah struktur ketuaan (aging society) dengan meningkatnya jumlah lansia
di DIY. Terlebih lagi, data juga menunjukkan bahwa angka harapan hidup di
DIY merupakan yang tertinggi di Indonesia.
Evaluasi yang dilakukan tim terhadap pelaksanaan program-program
pelayanan kesejahteraan lansia di DIY menunjukan bahwa ada beberapa aspek
penting dari berbagai program tersebut seperti keterjangkauan, target sasaran
dan mekanisme penyelenggaraan yang perlu dipertegas atau ditingkatkan agar
tercapai tujuan pelayanan yang efektif, tepat sasaran, berkualitas dan mampu
memenuhi hak serta kesejahteraan sosial lansia. Di dalam evaluasi jelas
terlihat minimnya jumlah bantuan sosial yang diberikan oleh pemerintah
untuk lansia dan sedikitnya lansia yang terjangkau layanan program
dibandingkan dengan lansia yang membutuhkan. Beberapa program seperti
home care juga dan panti juga perlu diubah atau ditingkatkan sasaran dan
mekanisme penyelenggaraannya karena mekanisme yang ada tidak mampu
memenuhi kebutuhan lansia di lapangan. Evaluasi juga menunjukkan
perlunya dikembangkan beberapa arah kebijakan yang berimplikasi pada
program atau sub program baru yang akan bermanfaat bagi peningkatan
pelayanan lansia di DIY. Adanya pelayanan inklusif dan dan holistic,
perlunya twin track approach serta pentingnya pemberdayaan dan
pendampingan terhadap keluarga yang merawat lansia merupakan beberapa






196
arah kebijakan dan prinsip penyelenggaran pelayanan yang perlu diciptakan di
DIY.
Dilandaskan pada perubahan arah kebijakan lansia serta evaluasi
terhadap pelaksanaan dan penyelenggaraan program-program kesejahteraan
lansia DIY sebagaiman disebut diatas maka tim menyusun dan
merekomendasikan desain pengembangan pelayanan yang secara singkat bisa
dilihat dibawah.

B. Rekomendasi
Berdasarkan pemaparan evaluasi dan desain pelayanan kesejahteraan
sosial lansia DIY pada bab IV dan bab V, maka berikut akan dipaparkan
rekomendasi tim peneliti mengenai arah dan prinsip kebijakan dan program
serta peningkatan beberapa aspek pelayanan kesejahteraan sosial lansia.













197


DAFTAR PUSTAKA

Canada Government, Trends in out-of-pocket health care expenditures in Canada, by
household income, 1997to 2009 di unduh dari http://www.statcan.gc.ca/pub/82-003-
x/2014004/article/11924-eng.htm tanggal 10 Juni 2014
Cowgill, Donald O., and Lowell D. Holmes. 1972. Aging and modernization.
Appleton-Century-crofts, New York
Cumming, E. and Henry, W. (1961). Growing Old: The process of disengagement.
New York: Basic Books.
Estes, C. (1979). The Aging Enterprise. San Francisco: Jossey Bass.
Estes, C. Swan, J. and Gerard, L. (1982). 'Dominant and competing paradigms in
gerontology: Towards a political economy of ageing', Ageing and Society, 12: 151-
64.
Havighurst, R.J., Neugarten, BL, and Tobin, S.S, (1968). Disengagement and pattern
of aging in B.L Neugarten (Ed). Middle Age and Aging. Chicago: University of
Chicago Press
Jones, C. (1983). State Social Work and the Working Class. London: Macmillan.
Katz, S. (1996). Disciplining Old Age: The Formation of Gerontological Knowledge.
Charlottesville: UPV.
Neugarten, D. (Ed.). (1996). The Meanings of Age. Chicago: University of Chicago
Press.
Palmore, Erdman, and Kenneth Manton. 1974. Modernization and status of the aged:
International correlations. Journal of Gerontology 29:205-10.






198
Phillipson, C. (1982). Capitalism and the Construction of Old Age. London:
Macmillan.
Phillipson, C. (1998). Reconstructing Old Age. London: Sage
Powell, J. (1999), The Importance of a Critical Sociology of Old Age, Social
Science Paper Publisher, 3, 1.
The Scan Foundation. 2013. Who Pays for Long-Term Care in the U.S.? (Updated).
Di unduh dari
http://www.thescanfoundation.org/sites/thescanfoundation.org/files/who_pays_for_lt
c_us_jan_2013_fs.pdf tanggal 29 Mei 2014
Vincent, J. 1996. Whos afraid of an ageing population? Critical Social Policy
47(16):326.
Walker, A .1981. Towards a Political Economy of Ageing, Ageing & Society, 1, 2,
23-44.












199












PELAYANAN
INKLUSIF DAN
HOLISTIK
TWIN TRACK
APPROACH
PELAYANAN
BERBASIS KELUARGA
DAN MASYARAKAT
REGULASI
PELAYANAN
KESEJAHTERAAN
LANSIA
PRINSIPPRINSIP DAN ARAH KEBIJAKAN
PELAYANAN KESEJAHTERAAN LANSIA DIY






200
PENGEMBANGAN PROGRAM PELAYANAN KESEJAHTERAAN SOSIAL
LANSIA DIY




REKOMENDASI
Perubahan dan Pengembangan Layanan Panti
BENTUK
PROGRAM
Penegasan Sasaran Panti (PSTW) menjadi 2 kelompok: 1). Lansia
Miskin, Terlantar dan Tidak mandiri (bedridden), 2). Lansia tidak
terlantar ( tinggal bersama keluarga) dan bedridden
Untuk kelompok pertama pelayanan yang diberikan adalah perawatan
jangka panjang di dalam panti (long term care)
Untuk kelompok kedua pelayanan diberikan dalam bentuk home care
ke ke rumah tinggal lansia
Home Care yang diberikan panti adalah home care medis dan sosial
SKPD/
LEMBAGA
Dinas Sosial Dan Dinas Kesehatan






201





REKOMENDASI
Bantuan Sosial: Integrasi antara Bantuan Sosial dan Pemberdayaan
Keluarga Lansia
BENTUK
PROGRAM
Peningkatan jumlah ASLUT dan peningkatan frekuensi penyaluran (
tiap bulan)
ASLUT dilengkapi dengan Program Pemberdayaan keluarga lansia
berupa menetapkan keluarga sebagai target sasaran program
penanggulangan kemiskinan seperti PKH, UEP, RASKIN dan PNPM
ASLUT juga dilengkapi dengan edukasi terhadap keluarga dan
pendamping (LKS) untuk perawatan lansia dan upaya preventif
SKPD/
LEMBAGA
Dinas Sosial Dinas Kesehatan, Dinas Perindustrian, TNP2K, Dinas
Pertanian dan unit penanggulangan kemiskinan kabupaten/kota.






202









REKOMENDASI
Pengembangan Skema dan Mekanisme Penyaluran Bantuan Permakanan
BENTUK
PROGRAM
Peningkatan partisipasi masyarakat dalam penyaluran bantuan permakanan
dengan memberikan mandat penyaluran kepada penanggung jawab PMTS (
Posyandu)
Penyaluran disertai dengan aktivitas pengembangan kapasitas untuk lansia dan
kader desa
Dinas Sosial juga bisa bertindak sebagai fasilitator atau penyedia data lansia
yang membutuhkan makanan, sementara bantuan makanan diberikan
swasembada oleh organisasi masyarakat, swasta, atau desa.
SKPD/
LEMBAGA
Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, Pihak Swasta, PKK, Posyandu, LKS dan LKS






203






REKOMENDASI
Pengembangan bentuk pelayanan Home Care dan Bedah Rumah
BENTUK
PROGRAM
Pelayanan home care terdiri dari aspek psiko sosial dan medis yang diberikan oleh tim
home care yang multidispliner dan terdiri dari: dokter/ perawat, psikolog, terapis dan
tenaga teknis ( pramurukti)
Peningkatan Kapasitas Pendamping, baik itu anggota keluarga lansia maupun tenaga
teknis homecare melalui BIMTEK
Kerjasama dinas dengan perguruan tinggi melalui praktek dan magang untuk menjadi
tim homecare
Penyelenggaraan bedah rumah di sinergikan dengan SKPD lain seperti dinas PU dan
dinas penyedia rehabilitasi
perumahan.
SKPD/
LEMBAGA
Panti PSTW, Unit Layanan Home Care Kabupaten/kota , Dinas Kesehatan (melalui
PUSTU).
PSM dan TKSK
LKS






204






REKOMENDASI
Penyediaan Program Day Care/PALUS
BENTUK
PROGRAM
Day care atau PALUS
PALUS (Pendidikan Usia Lanjut) diselenggarakan di desa
secara sinergi dengan PKK, organisasi keagamaan dan LKS,
serta dinas kesehatan
Kurikulum PALUS meliputi aktivitas pendidikan, sosial, dan
rekreasi
Peserta PALUS adalah semua lansia yang ada
SKPD/
LEMBAGA
Dinas Sosial
Dinas Kesehatan
Dinas Pendidikan
LKS, PKK
Organisasi keagamaan






205








REKOMENDASI
Pengembangan Program Pengembangan Usaha/Pemberdayaan Ekonomi
BENTUK
PROGRAM
Sinergi antara Pemberdayaan Ekonomi Lansia dengan Pemberdayaan Ekonomi Keluarga
Pendampingan teknis termasuk permodalan, pamasaran dan diversifikasi jenis usaha
serta pengembangan jaringan dengan dunia usaha dan PMKM.
Penyediaan passive income bagi lansi melalui pemberian modal kepada PMKM,
kemudian laba diberikan sebagai bantuan sosial untuk lansia
Pelatihan Kewirausahaan untuk Lansia
Bursa Kerja Lansia
Kebijakan Fiskal yang mendukung: pengurangan pajak dan lainnya
SKPD/
LEMBAGA
Dinas Sosial, Dinas Perindustrian, dan Perdagangan, Dinas Pertanian, Swasta, Bank dan
lembaga keuangan lain.






206



REKOMENDASI
Penguatan KOMDA dan Lembaga Kesejahteraan Sosial Lansia berbasis
masyarakat
BENTUK
PROGRAM
Capacity Building untuk KOMDA dan LKS melalui bimbingan, pelatihan
untuk pengembangan organisasi dan penyediaan sarana prasarana
Peningkatan fungsi PSM dan TKSK untuk pendampiangan lansia dan
penguatan kelembagaan
Dinas menfasilitasi sinergi antara KOMDA dan LKS dengan Perguruan
Tinggi, Swasta, dan stake holder lain untuk pengembangan kapasitas
organisasi
Pelibatan KOMDA dan LKS pada Musrenbang dan forum musyawarah di
level desa sampai provinsi
SKPD/
LEMBAGA
Dinas Sosial






207






REKOMENDASI
Pengembangan Kota dan Desa Ramah Lansia
BENTUK
PROGRAM
Penyelenggaraan Koordinasi antar stake holder
penyelenggaraan desa dan kota ramah lansia: KOMDA,
LKS, pekerja sosial atau kesejahteraan sosial desa atau
daerah, dan relawan.
Koordinasi dengan SKPD terkait untuk pembangunan
aksesibilitas layanan publik baik fisik maupun informasi
melalui universal design.
SKPD/
LEMBAGA
Dinas sosial
Dinas pekerjaan umum, dan semua SKPD terkait
Organisasi Masyarakat
pimpinan wilayah kota, kabupaten atau dan aparatnya






208










REKOMENDASI
Pengembangan Program Jalinan Lintas Generasi
BENTUK
PROGRAM
Melibatkan lansia pada kegiatan sosial budaya yang dimiliki masyarakat,
termasuk menjadikan lansia sebagai tutor aktivitas seni dan olah raga remaja
dan anak anak.
Melibatkan generasi muda dalam kegiatan dan program-program lansia
Menciptakan program dan aktivitas yang melibatkan generasi tua dan muda
untuk terlibat bersama seperti : pengolahan sampah, perlindungan anak,
penanggulangan narkoba dan tembakau, program pendidikan kesehatan
reproduksi dan lainnya.
SKPD/
LEMBAGA
Dinas Sosial,
Lembaga Masyarakat termasuk Karang Taruna,
Sekolah, Lembaga Lansia,
Aparat desa atau kota






209






REKOMENDASI
Peningkatan Aksesibilitas
Program Penanggulangan
Bencana
BENTUK
PROGRAM
Pra Bencana
Pada Saat Bencana
Rehabilitasi dan rekonstruksi
SKPD/
LEMBAGA
Dinas Sosial






210


REKOMENDASI
Layanan Sosial Paripurna
BENTUK
PROGRAM
Penyediaan ambulan dan Makam
gratis di setiap wilayah pedesaan atau
bahkan unit masyarakat yang lebih
kecil
Menfasilitasi Kelompok Pangruktiloyo
SKPD/
LEMBAGA
Dinas Sosial
Perangkat Desa
Organisasi Masyarakat
Dinas