Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN

PENELAAHAN DAN TANGGAPAN LAPORAN AUDIT


LAPORAN UNTUK MANAJEMEN EKSEKUTIF DAN DEWAN

A. Laporan
Format Laporan Audit
Hasil audit internal dilaporkan dalam suatu laporan dengan format yang berbeda
untuk tiap organisasi. Moeller (2005) dalam bukunya yang berjudul Brinks Modern Internal
Auditing menjelaskan beberapa alternatif bagi auditor internal dalam membuat laporan
untuk melaporkan hasil pekerjaannya, antara lain :
Oral reports (Laporan lisan)
Laporan dalam bentuk lisan biasanya dilakukan ketika tim audit internal melaporkan
hasil dari pekerjaannya sebagai bagian dari penutup pertemuan di akhir pekerjaan
lapangan mereka. Laporan lisan yang formal biasanya disajikan dalam bentuk
presentasi formal. Disi lain laporan lisan juga dapat dibuat untuk mendukung dan
melengkapi laporan tertulis.
Interim or informal memo reports (Laporan interim atau memo informal)
Dalam sebuah situasi ketika auditor harus menginformasikan kepada manajemen
tentang suatu pengembangan signifikan ketika melakukan audit atau sebelum laporan
resmi dirilis, maka auditor dapat menginformasikan masalah tersebut kepada
manajemen melalui laporan interim atau memo informal.
Questionnaire-type audit reports (Laporan audit jenis kuisioner)
Format laporan dalam bentuk kuisioner paling tepat digunakan ketika ruang lingkup
dari tinjauan audit berhubungan dengam masalah prosedur yang cukup spesifik atau
khusus dan biasanya terdapat pada tingkat operasional yang rendah (tingkat bawah).
Regular descriptive audit reports
Pada umumnya dalam melakukan audit, pekerjaan audit harus diakhiri dengan
persiapan formal descriptive audit repory. Isi dari laporan tersebut cukup luas
termasuk didalamnya penjelasan mengenai departemen audit internal dan penugasan
audit yang dilakukan.
Summary audit reports (Laporan ringkas audit)
2

Laporan ringkas audit sering disiapkan untuk komite audit atau anggota manajemen
senior lainnya.
Pendekatan Untuk Membuat Laporan Audit
Laporan audit internal pada umumnya menggunakan satu pendekatan dari beberapa
pendekatan umum yang berbeda untuk menyusun laporan audit. Pendekatan yang berbeda
tentu akan menghasilkan laporan audit yang berbeda. Pendekatan yang digunakan akan
berbeda karena beberapa faktor seperti jenis perusahaan, gaya manajemen perusahaan,
keahlian dari pegawai audit internal dan faktor-faktor lainnya.
Ada beberapa pendekatan yang dapat digunakan audit internal dalam membuat laporan audit
menurut Moeller (2005), antara lain :
Audit report with encyclopedic coverage
Di dalam laporan audit disajikan banyak informasi tentang aktivitas yang ditelaah
atau ditinjau oleh auditor internal. Tujuannya adalah untuk menyediakan sumber
referensi yang mendalam bagi pengguna laporan.
Description of the audit procedures performed
Pada pendekatan ini laporan audit menyediakan banyak informasi tentang prosedur
audit yang benar-benar dilakukan oleh auditor, dimana langkah-langkah audit
dijelaskan secara rinci, termasuk dalam hal pengujian dan verifikasi.
Detailed explanations of audit findings
Laporan audit yang dihasilkan cukup tebal atau terdiri dari beberapa halaman sebagai
hasil dari usaha audit yang telah dilakukan audit internal. Laporan tersebut
menyajikan banyak temuan audit dengan penjelasan secara rinci.
A highly summarized report
Laporan audit dibuat secara ringkas dengan hanya menyajikan informasi yang mana
audit internal telah menelaah topik dari laporan tersebut auditor dan tidak ada
pengendalian yang ditemukan pada area laporan tersebut.
Focus on significant issues
Pendekatan ini merupakan pendekatan yang paling umum digunakan untuk membuat
laporan audit, dimana laporan audit dibuat untuk menyajikan informasi yang fokus
pada masalah-masalah yang signifikan. Masalah signifikan yang dimaksud adalah
masalah yang penting yang secara potensial berhubungan dengan kebijakan,
operasional, penggunaan sumber daya, kinerja karyawan dan hasil pencapaian
perusahaan.
3

Laporan Temuan Audit yang Baik
Laporan temuan audit yang disajikan dalam format yang umum akan membuat
pembaca lebih mudah memahami masalah-masalah audit dengan lebih mudah. Menurut
Moeller (2005), laporan temuan audit yang baik harus terdiri dari :
Pernyataan tentang kondisi
Kalimat pertama dalam laporan audit seharusnya merupakan ringkasan dari hasil
telaah audit internal pada area-area yang menjadi perhatian audit internal. Tujuannya
adalah untuk menarik pembaca laporan.
Temuan-temuan
Pada bagian temuan-temuan harus dijelaskan tentang prosedur audit dan hasil dari
prosedur yang telah dilakukan yakni temuan-temuan. Temuan-temuan dapat diringkas
menjadi beberapa kalimat atau diperlukan diskusi dan penjelasan yang lebih luas
tergantung dari kompleksitas temuan.
Kriteria untuk menyajikan temuan-temuan
Temuan-temuan harus memiliki kriteria atau pernyataan yang digunakan untuk
menetapkan kondisi atau status dari temuan tersebut. Tanap kriteria yang kuat, hasil
audit tidak dapat dijadikan temuan. Suatu kriteria akan berbeda-beda tergantung area
atau ruang lingkup dan tujuan audit. Kriteria-kriteria yang digunakan dapat berupa
kebijakan, prosedur dan standar yang ada di perusahaan.
Siklus Pelaporan Audit Internal
Menurut Moeller (2005), proses pelaporan audit internal dimulai dengan
mengidentifikasi temuan-temuan, menyiapkan draf laporan untuk mendiskusikan temuan-
temuan dan rekomendasi atas temuan-temuan tersebut, mendiskusikan masalah audit yang
telah diidentifikasi dengan manajemen bersamaan dengan penyajian draf laporan, kemudian
dilanjutkan dengan menerima tanggapan manajemen atas laporan temuan audit, dan terakhir
mengeluarkan laporan audit formal yang menjelaskan seluruh area yang ditelaah atau diaudit.
Berdasarkan siklus pelaporan audit diatas, tahap-tahap kritis dari proses tersebut adalah
sebagai berikut :
1. Development of finding outline (Pengembangan kerangka temuan)
1.1. Menentukan apakah bukti telah cukup untuk mendukung dan menjamin temuan
1.2. Meninjau kembali untuk menentukan area-area yang membutuhkan bukti
tambahan
1.3. Memastikan bahwa penyebab dan dampak dari temuan telah dipertimbangkan
4

1.4. Menentukan apakah terdapat kekurangan yang membutuhkan perubahan prosedur
1.5. Meninjau kembali rencana untuk meyakinkan bahwa anggaran audit telah direvisi
seperlunya sehingga diperoleh keyakinan bahwa temuan telah dikembangkan
sebagaimana seharusnya.
2. Preparation of first draft (Menyiapkan draf pertama)
2.1. Menelaah temuan
2.2. Memastikan apakah temuan telah dinyatakan secara spesifik
2.3. Memastikan bahwa angka-angka dan fakta lainnya telah diperiksa sesuai dengan
kertas kerja
2.4. Menelaah kertas kerja yang mendukung semua temuan untuk memastikan
kecukupan bukti atas temuan dan pengungkapannya
2.5. Memeriksa tata bahasa laporan baik dari ejaan, tanda baca, pola penulisan
2.6. Memastikan apakah terdapat bukti yang cukup untuk menyatakan opini
2.7. Menentukan apakah, penyebab, dampak dan rekomendasi telah cukup
dikembangkan
2.8. Mendiskusikan dengan bawahan tentang metode untuk mengembangkan isi dan
gaya penulisan
3. Discussion with management (Diskusi dengan manajemen)
3.1. Menentukan apakah manajemen telah mengetahui masalah yang ada dan
melakukan tindakan perbaikan
3.2. Menyelidiki dan mencari tau alasan manajemen atas masalah yang ada
3.3. Memastikan apakah terdapat fakta atau keadaan yang tidak diketahui auditor
3.4. Menentukan bagaimana manajemen memperbaiki masalah yang ada
3.5. Memastikan bahwa manajemen mengetahui semua hal yang signifikan yang
disajikan dalam laporan
3.6. Memastikan bahwa usaha telah dilakukan untuk mendapatkan persetujuan dari
manajemen tentang fakta dan kondisi/masalah yang dikemukakan
4. Preparation of final draft (Menyiapkan draf akhir)
4.1. Memastikan bahwa perubahan atas rekomendasi sebelumnya telah dilakukan
4.2. Memastikan bahwa pendapat dari manajemen telah dipertimbangkan dengan
cukup
4.3. Memastikan bahwa laporan telah ditulis dengan baik dan dapat dipahami
4.4. Memastikan bahwa ringkasan laporan sesuai dengan isi keseluruhan dari laporan
4.5. Memastikan bahwa rekomendasi yang dibuat berdasarkan pada temuan
5

4.6. Memastikan bahwa pendapat dari manajemen telah dinyatakan dengan tepat dan
jika memang harus ditolak, auditor telah menolaknya
4.7. Menelaah laporan untuk memastikan apakah penggunaan grafik dan tabel
mendukung penjelasan dari informasi yang disajikan
4.8. Memastikan bahwa auditor yang menulis temuan setuju dengan perubahan yang
dibuat
5. Closing conference (Rapat penutup)
5.1. Memastikan bahwa manajemen telah mendapat kesempatan untuk mempelajari
laporan akhir (final report)
5.2. Berusaha untuk mendapatkan persetujuan manajemen
5.3. Mempertimbangkan berbagai saran atau masukan untuk mengubah isi dari
laporan termasuk kata-kata yang salah
5.4.Mendapatkan informasi tentang rencana tindak lanjut dari manajemen
6. Issuance of final report (Merilis laporan akhir)
6.1. Memastikan bahwa perubahan terakhir telah dilakukan sesuai dengan keputusan
pada pertemuan terakhir
6.2. Memeriksa laporan untuk memastikan tidak terdapat kesalahan pengetikan
6.3. Menelaah laporan untuk memastikan bahwa komentar yang diberikan adalah
komentar positif atas hasil audit yang dilakukan
6.4. Membaca laporan untuk terakhir kalinya untuk memastikan tentang isi, kejelasan,
konsistensi dan kepatuhan terhadap standar profesional

B. Penelaahan dan Tanggapan Laporan Audit
1. Penelaahan Laporan
a. Menelaah Draf Laporan
Ada empat jenis penelaahan laporan audit yang dapat dilakukan. Tiap penelaahan
memiliki tujuan spesifik dan karakter uniknya masing-masing. Empat jenis penelaahan
tersebut adalah penelaahan atas :
Segmen-segmen laporan audit.
Draf laporan audit.
Laporan audit yang telah selesai dan diterbitkan.
Rekomendasi-rekomendasi yang masih belum dilaksanakan
6

Penelaahan-penelaahan awal draf laporan bersifat konstruktif dimana auditor dan
klien bertemu untuk menetapkan fakta-fakta, mengevaluasi rekomendasi, dan menetapkan
arah laporan yang dibuat. Penelaahan draf laporan audit final yang dikeluarkan merupakan
reaksi atas rekomendasi dan mungkin menggunakan pendekatan yang defensif. Penelaahan
atas hal-hal yang statusnya masih terbuka memiliki sifat investigatif dan menjelaskan. Siapa
yang menelaah draf laporan akan tergantung pada sifat dari laporan itu sendiri dan pada minat
atau kepentingan dari tiap-tiap manajer dan eksekutif.
Setelah sebuah laporan rutin selesai dibuat drafnya, penelaahan oleh klien mungkin
menjadi sebuah langkah yang tepat (Standard 2440.A1). Hal ini akan menjadi jaminana untuk
memastikan bahwa laporan tidak melewatkan aspek-aspek penting dari operasi yang diaudit.
Penelaahan draf bisa mengungkapkan adanya kebutuhan untuk melakukan perubahan
penekanan audit, yang mungkin tidak disadari oleh auditor itu sendiri. Penelaahan draf akan
menyampaikan pertanyaan mengenai sifat dan kecukupan dari cakupan audit. Penelaahna
tersebut bisa merangsang terjadinya diskusi tatap muka antara auditor dengan manajemen.
Penelaahan draf juga bisa membangun citra yang diinginkan oleh auditor di mata manajemen.
Penelaahan laporan yang menjelaskan kondisi yang mengalami penyimpangan memerlukan
pendekatan yang berbeda. Penelaahan semacam ini hendaknya ditelaah bersama dengan
setiap pihak yang mungkin keberatan dengan validitas isi laporan. Atau sebaiknya ditelaah
oleh pihak yang akan mengambil tindakan nantinya. Atau sebaiknya ditelaah bersama dengan
pihak-pihak yang memiliki tanggung jawab atas area atau kondisi yang dilaporkan dan
membutuhkan tindakan perbaikan.
Jika kondisi yang terjadi terbatas hanya pada area-area tertentu saja, maka secara
relatif tidak akan terlalu banyak masalah yang terjadi. Tetapi pada audit fungsional yang
melintasi banyak batas dan pada audit organisasional yang terjadi banyak penyimpangan atau
memerlukan perbaikan sistem yang ekstensif, laporan yang dikeluarkan mungkin
membutuhkan penelaahan yang melewati banyak bagian hingga ke tingkat eksekutif.
Organisasi audit sebaiknya melengkapi staf mereka dengan instruksi-instruksi tertulis
mengenai penelaahan draf. Secara umum, penelaahan hendaknya dilakukan dengan manajer
klien dan atasannya.
Di seluruh kasus, penelaahan laporan hendaknya didokumentasikan dengan seksama.
Hasil penelaahan sebaiknya dicatat di dalam kertas kerja selam atau segera setelah pertemuan
sehingga tidak ada hal-hal, komentar atau keputusan penting yang hilang. Catatan-catatan ini
dapat menjadi sangat penting jika kelak terjadi perdebatan atau situasi yang membahas
kecukupan dari cakupan audit.
7

b. Menentukan Waktu Penelaahan
Semakin banyak jumlah penelaahan yang dilakukan, maka akan semakin lama
penundaan yang terjadi dalam penerbitan laporan final. Oleh karena itu, perlu diberikan
tekanan dan penentuan tenggat waktu baik bagi auditor maupun penelaahnya. Selain itu,
sebaiknya juga terdapat sebuah prosedur yang pasti. Setelah membuat draf laporan, auditor
hendaknya menyiapkan daftar penerima distribusi laporan. Auditor internal bersama dengan
supervisor audit hendaknya memutuskan pihak-pihak mana yang sebaiknya menelaah draf
laporan dan bagaimana urutan penelaahan tersebut.
Urutan penelaahan adalah hal yang penting. Daftar dari penelaah draf hendaknya
dimulai oleh orang-orang yang sangat terlibat dengan atau terpengaruh oleh laporan, yang
paling mungkin memiliki saran untuk membuat perubahan, keberatan atas penyusunan kata-
kata atau membantah fakta-faktanya. Setelah orang-orang tersebut, draf dapat digandakan dan
dikirimkan ke pihak-pihak lain yang berkepentingan untuk melakukan penelaahan. Memo
pengiriman hendaknya menjelaskan isi laporan, mengindikasikan siapa-siapa saja yang telah
menelaahnya, termasuk penawaran untuk menelaah laporan tersebut sevara langsung, dan
menetapkan tanggal pengembaliannya.
c. Penelaahan Laporan Audit Secara Bersamaan
Untuk dapat mempercepat penelaahan dari draf laporan, beberapa organisasi
menggunakan teknik laporan-laporan interim dengan kliennya. Laporan temuan dibuat oleh
staf audit segera setelah temuan tersebut dinyatakan pasti, dengan menggunakan bahasa yang
sama dengan yang akan digunakan di laporan final dan menambahkan dengan detail-detail
yang nanti akan tercantum di paket lengkap laporan finalnya.
Klien selanjutnya akan diberikan cukup waktu untuk memberikan respons terhadap
aspek-aspek faktual di dalam temuan. Unsur-unsur dari temuan seperti penyebab dan
dampaknya juga akan diuraikan serta klien akan diminta untuk menyetujui atau memberikan
tambahan dukungan yang substantif jika ternyata tidak menyetujuinya.
Unsur-unsur dari permintaan penelaahan audit secara bersamaan akan meliputi :
Operasi yang sedang diaudit.
Pejabat-pejabat yang bertanggung jawab.
Penghubung audit.
Tanggal audit dimulai.
Tanggal permintaan dilakukannya penelaahan ini.
Rincian temuan :
8

Kriteria yang digunakan
Kondisi yang ditemukan
Penyebab
Dampak
Rekomendasi
Ketua auditor (kepada siapa jawaban sebaiknya ditujukan)
Penerimaan laporan interim yang lebih awal dari klien akan memungkinkan cukup
waktu untuk menyelesaikan perbedaan-perbedaan yang meungkin terjadi, sambil
menyelesaikan aspek-aspek audit yang lain. Hal ini juga memberikan kesempatan bagi klien
untuk membantu merancang rekomendasinya dan sekaligus mulai melakukan implementasi
atas rekomendasi tersebut pada saat laporan pada akhirnya diterbitkan.
d. Rapat Penelaahan
Rapat penelaahan atas draf sebaiknya tidak dilaksanakan secara tiba-tiba. Sebelum
rapat, harus dilaksanakan persiapan-persiapan terlebih dahulu. Salinan draf sebaiknya
didistribusikan kepada seluruh peserta yang hadir dengan waktu secukupnya sebelum rapat
dimulai. Dalam rapat penelaahan atas draf, auditor dapat menentukan arah dari rapat.
Sasaran dari rapat penelaahan atas draf ini adalah untuk :
Memberikan informasi.
Mendapatkan persetujuan atas fakta-fakta yang disajikan.
Menetapkan persiapan dilakukannya penerapan rekomendasi.
2. Menghindari dan Menyelesaikan Konflik
Bagaimanapun baiknya fungsi auditor internal diterima di dalam perusahaan, adalah
sebuah mimpi jika auditor mengharapkan setiap penelaahan draf dilaksanakan tanpa adanya
konflik. Tentunya, semakin kuat posisi auditor, maka semakin besar kekhawatiran yang
dimiliki oleh klien atas apa yang akan dikatakan oleh laporan tersebut kepada atasannya.
Oleh sebab itu, auditor sebaiknya melakukan persiapan untuk menghadapi
kemungkinan terjadinya konflik dan perselisihan. Auditor internal harus mampu menyajikan
informasi, mendukung fakta, dan memperkuat temuannya tanpa kesulitan atau penundaan.
Laporan yang telah direferensikan dengan baik ke kertas kerjanya akan memberikan
dukungan dengan segera. Di dalam salinan draf laporan yang dimiliki auditor sebaiknya
ditulis di pinggir halamannya, referensi ke rincian pendukung. Akan lebih lagi jika auditor
mengembangkan sebuah daftar yang memuat hal-hal yang mungkin memiliki potensi untuk
9

diperdebatkan beserta responsnya, termasuk salinan kertas kerja dan dokumen pendukung
lainnya.
Terdapat beberapa alasan lain mengapa dapat terjadi perselisihan dan konflik. Alasan-
alasan ini berhubungan dengan aspek dari perubahan. Klien dapat :
Merasa khawatir akan dampak negatif yang mungkin timbul akibat rekomendasi yang
diberikan.
Merasa khawatir akan terjadinya dislokasi dan kekacauan birokrasi yang akan
disebabkan oleh kepatuhan terhadap rekomendasi.
Kecewa akan adanya rekomendasi yang menyatakan secara tidak langsung bahwa
metode yang digunakan sekarang adalah tidak memadai.
Masalah-masalah kekhawatiran dan konflik di atas dapat dinetralkan dengan
komentar-komentar positif dan membangun dari auditor yang menunjukkan dengan jelas
mengenai :
Hasil-hasil positif dan negatif yang akan diakibatkan oleh kepatuhan terhadap
rekomendasi.
Perubahan-perubahan spesifik yang dibutuhkan untuk melaksanakan rekomendasi dan
bagaimana hal tersebut dapat memberikan dampak bagi klien.
Bahwa rekomendasi yang diberikan adalah bersifat ecolusioner, bukan revolusioner,
dan bagaimana rekomendasi tersebut akan dapat meningkatkan operasi.
Auditor harus menyadari bahwa klien berada di pihak defensif. Bagaimanapun
caranya, dinding pembatas defensif itu harus dihilangkan dan akhirnya persetujuan dapat
dicapai. Di bawah ini adalah beberapa aturan yang mungkin dapat membantu, antara lain :
Bersikap baik
Menggunakan kalimat nonpersonal
Menggunakan dasar pemikiran yang sama
Tidak menyudutkan siapapun
Tidak menyamakan antara mengungkapkan pandangan dengan perselisihan.
a. Mendapatkan Penerimaan Untuk Rekomendasi yang Diajukan
Kendig (1983) dalam bukunya yang berjudul Findings Without Recommendations
sebagaimana dikutip oleh Sawyer (2006) menyarankan sebuah metode menarik yang dapat
meringankan konflik-konflik yang sering kali menyertai rekomendasi auditor untuk
melakukan tindakan perbaikan. Metode Kendig adalah menerbitkan laporan dengan
mencantumkan temuan audit tetapi tanpa memberikan rekomendasinya. Dalam surat
10

pengantar laporan, klien akan diminta untuk mengajukan paling sedikit dua cara alternatif
guna mengatasi setiap temuan atau kelompok temuan. Klien kemudian diminta untuk
memilih salah satu yang dianggap merupakan alternatif terbaik beserta alasannya.
Pada saat menerima rekomendasi, auditor selanjutnya memiliki hak untuk
mengevaluasi pendekatan-pendekatan yang direkomendasikan dan menyetujui atau
menolaknya. Jika auditor menolak sebuah rekomendasi, maka mereka harus memberikan
penjelasan mengapa mereka beragumen tindakan rekomendasi tersebut tidak relevan, tidak
dapat atau tidak layak untuk dilaksanakan.
Prosedur ini membalik metode yang umum digunakan dimana auditorlah yang
membuat rekomendasi. Agar prosedur ini dapat bekerja dengan efektif, klien harus
memberikan respons tepat pada waktunya. Jika klien gagal untuk memberikan responsnya
dalam waktu yang telah ditentukan, auditor terpaksa harus membuat rekomendasi sendiri.
Di sisi lain, Camfield (1983) dalam bukunya A Look at Responses to Audit Findings
sebagaimana yang dikutip oleh Sawyer (2006) memiliki saran untuk meningkatkan respons
yang diberikan oleh manajemen atas temuan audit dan rekomendasinya, antara lain :
Rekomendasi harus spesifik terhadap masalahnya dan tindakan perbaikan harus dapat
diukur.
Tindakan yang direkomendasikan sebaiknya tergantung pada implementasinya di
garis depan tingkat operasional.
Auditor dan manajemen klien harus memiliki rasa toleransi satu sama lain.
Pelaksanaan audit harus menjadi sebuah aktivitas yang mampu memberikan bantuan
kepada manajemen operasional secara tepat waktu dan terus berlangsung.
Auditor harus menulis laporan yang dapat dipahami dan berorientasi pada tindakan.
General Accounting Office (GAO) Amerika Serikat, di dalam publikasinya yang
berjudul How To Get Action on Audit Recommendations sebagaimana yang dikutip oleh
Sawyer (2006) mengusulkan empat prinsip dasar yang dipercayai akan menyebabkan
dilaksanakannya tindakan atas rekomendasi audit yang diberikan. Prinsip-prinsip tersebut
adalah :
Rekomendasi yang berkualitas
Dasar dari kerja audit yang efektif adalah rekomendasi-rekomendasi yang jika
diimplementasikan dengan benar, dapat mencapai hasil yang ditetapkan dan
bermanfaat. Rekomendasi harus menyatakan dasar implementasi yang jelas,
11

meyakinkan dan dapat dilaksanakan. Kegunaan dan relevansinya sebaiknya dievaluasi
ulang seiring dengan kemajuan tindakan penindaklanjutan.
Komitmen
Auditor dan organisasi harus memiliki komitmen dalam mengidentifikasi dan
menghasilkan perubahan yang dibutuhkan. Komitmen auditor tersebut hendaknya
bersifat pribadi dan profesional. Organisasi juga sebaiknya mendukung dan
memperkuat komitman dari para stafnya.
Sistem pengawasan dan penindaklanjutan
Organisasi audit hendaknya memiliki sebuah sistem yang menyediakan struktur dan
disiplin yang dibutuhkan untuk mendorong dilakukannya tindakan untuk rekomendasi
audit. Sistem tersebut hendaknya memastikan bahwa rekomendasi-rekomendasi yang
diberikan terus secara agresif dikejar sampai selesai dilaksanakan dan berhasil
diimplementasikan.
Perhatian khusus pada rekomendasi penting
Auditor harus memastikan bahwa rekomendasi penting telah dipertimbangkan secara
wajar.
3. Opini Audit
Terdapat beberapa saran perubahan yang dapat tidak disetujui oleh auditor, yaitu
untuk hal-hal yang memiliki dampak terhadap opini audit. Opini audit tidak dapat
didelegasikan atau dikomporomikan maupun dinegosiasikan. Opini tersebut adalah semua hal
yang auditor percayai dengan sepenuh hati, berdasarkan apa yang mereka lihat.
4. Penyebab dan Dampak
Manajemen senior sangat berkepentingan dengan penyebab maupun dampak dari
kondisi-kondisi yang dilaporkan oleh auditor. Memahami penyebab dan dampak tersebut
dapat menjadi satu faktor yang signifikan bagi pengambilan keputusan dari eksekutif klien.
Oleh karena itu, akan sangat baik jika auditor menelaah seluruh permasalahan ini selama
penelaahan draf laporan. Umunya, manajemen lini berada di posisi yang paling tepat untuk
menjelaskan alasan-alasan penyebab terjadinya penyimpangan atau kondisi umum tersebut,
dan pandangan dari manajemen operasional juga hendaknya didapatkan dan dipertimbangkan
dengan seksama. Auditor sebaiknya memeriksa alasan-alasan tersebut sehingga auditor dapat
memastikan bahwa tindakan perbaikan yang diusulkan telah terarah pada penyebab bukan
gejalanya.
5. Melakukan Penelaahan Terhadap Revisi
12

Setelah dilakukan penelaahan pada draf laporan, mungkin diperlukan dilakukannya
beberapa perubahan. Seberapa signifikan perubahan tersebut akan menjadi masalah
pertimbangan. Terkadang perubahan-perubahan tersebut hanyalah berupa penggantian kata-
kata yang tidak membutuhkan penelaahan lebih lanjut. Kriteria utama yang harus diingat
adalah memelihara reputasi auditor akan keadilan dan objektivitas yang dimilikinya dan
adanya keyakinan bahwa auditor memang benar-benar independen.
6. Tanggapan Untuk Laporan
Aktivitas-aktivitas audit internal yang tidak memiliki wewenang dalam meminta
diberikannya tanggapan untuk temuan-temuan yang mereka laporkan, atau untuk melakukan
evaluasi atas kecukupan tindakan perbaikan, berarti telah kehilangan efektivitasnya. Arahan-
arahan atau kebijakan manajemen harus menyatakan dengan jelas bahwa laporan audit yang
memerlukan tindakan perbaikan harus ditanggapai secara tertulis. Pada umumnya, arahan dan
kebijakan ini menetapkan batas waktu terakhir untuk menyampaikan jawaban tertulis.
Untuk setiap cabang atau divisi operasional sebaiknya memiliki instruksi-instruksi
sehubungan dengan pemberian tanggapan untuk laporan audit. Instruksi ini sebaiknya
menyatakan: siapa yang berkewajiban menyiapkan tanggapan; siapa yang
menandatanganinya; bagaimana tanggapan tersebut sebaiknya ditulis; serta langkah-langkah
apa yang sebaiknya diambil jika tindakan perbaikan tidak dapat diselesaikan dalam jangka
waktu yang ditetapkan.
Auditor internal juga sebaiknya memberitahukan bahwa mereka bersedia untuk membahas
tindakan perbaikan dan menelaah draf tanggapan dari klien. Namun demikian, tetap saja,
tanggung jawab untuk mengevaluasi usulan tindakan perbaikan yang diperintahkan oleh
manajemen dan memustuskan apakah ia dapat atau tidak dapat memperbaiki situasi yang
terjadi tetap berada di pihak auditor.
Jika tanggapan yang diberikan kurang memuaskan, dan tidak dapat dicapai
kesepakatan secara lisan dengan klien, tanggapan tersebut hendaknya secara formal ditolak
melalui sebuah memorandum. Memorandum tersebut sebaiknya secara spesifik menjelaskan
mengapa tanggapan tersebut dianggap kurang memadai.
Selanjutnya, aktivitas audit sebaiknya juga memiliki sebuah metode formal untuk
menutup status laporan yang telah mendapat respons yang memuaskan. Metode ini dapat
berupa sebuah formulir memorandum kepada eksekutif audit dengan mencantumkan tanda
tangan auditor yang bersangkutan. Memorandum tersebut hendaknya menyatakan bahwa
auditor telah puas atas respons yang diberikan dan laporan dapat ditutup.

13

C. Laporan Untuk Manajemen Eksekutif dan Dewan
1. Tujuan Laporan Untuk Manajemen Eksekutif dan Dewan
Menurut Sawyer (2006) dalam bukunya yang berjudul Sawyers Internal Auditing,
laporan kepada manajemen senior dan dewan melalui komite audit memiliki dua tujuan.
Pertama, adalah laporan untuk mengkomunikasikan hal-hal yang telah dicapai oleh audit
internal, laporan ini disebut dengan laporan aktivitas. Kedua, adalah laporan untuk
menjelaskan apa-apa yang telah diamati oleh audit internal, laporan ini disebut dengan
laporan evaluasi.
Laporan aktivitas menjelaskan sampai sejauh mana audit internal mampu memenuhi
sasarannya. Laporan ini menguraikan ruang lingkup dan kedalaman usaha audit internal.
Laporan ini meringkas tindakan perbaikan yang dianggap sebagai hasil dari audit internal.
Mereka menunjukkan bagaimana audit telah membantu melindungi perusahaan melalui
pengawasan atas kecukupan dan efektivitas berbagai pengendalian yang ada.
Sementara laporan evaluasi, memberikan informasi tentang perusahaan yang tidak
tersedia di tempat lain kepada manajemen dan dewan. Laporan ini memberikan informasi
yang objektif akan kesehatan operasional perusahaan dan membantu mendukung laporan
auditor eksternal dan surat manajemen.
Standards for The Professional Practice of Internal Auditing, Practice Advisory
2060-1, mewajibkan kedua laporan tersebut dibuat oleh audit internal yang diterbitkan oleh
direktur audit dan memberikan laporan tersebut kepada manajemen senior dan dewan setiap
tahun. Para anggota dewan mungkin tidak akan dapat membaca seluruh laporan pemeriksaan
audit internal, tetapi mereka akan sangat tertarik dengan laporan ringkasan dari seluruh
pengendalian perusahaan secara keseluruhan dan kinerjanya, yang meliputi :
Ringkasan temuan-temuan audit dan kesimpulannya.
Status dari pengendalian internal perusahaan.
Opini auditor internal atas aktivitas yang ditelaah.
Temuan-temuan material yang belum diperbaiki.
Tren keseriusan dan kepelikan penyimpangan yang dilaporkan.
Koordinasi antara auditor internal dengan auditor eksternal.
Risiko-risiko yang tetap tidak terjaga.
Dengan demikian, laporan berkala mengenai apa yang telah dicapai oleh auditor internal dan
apa yang telah mereka temukan, sekaligus laporan evaluasi auditor internal atas kesehatan
14

operasional dan administratif dari perusahaan, dapat menjadi perhatian penting bagi komite
audit dan dewan komisaris.
2. Faktor-Faktor Untuk Pelaporan Kepada Komite
Karen Grandstand, wakil presiden dari Minneapolis Federal Reserve Bank yang
dikutip oleh Sawyer (2006), menguraikan serangkaian unsur yang dipercaya oleh para
direktur dan manajemen senior seharusnya terdapat di dalam fungsi audit internal. Unsur-
unsur tersebut adalah :
Struktur: Penempatan sehingga memiliki posisi yang independen.
Manajemen, penempatan staf dan kualitas audit: Tanggung jawab seharusnya berada
di bawah satu orang manajer.
Ruang lingkup: Penelaahan dan pengujian seharusnya mencerminkan sifat, kerumitan
dan risiko dari aktivitas-aktivitas yang terdapat di dalam dan di luar neraca.
Komunikasi: Manajemen senior seharusnya mendukung perkembangan komunikasi
secara tebuka dan pemeriksaan permasalahan secara kritis, menciptakan kesadaran
akan temuan-temuan auditor internal dan solusi dari manajemen operasional atas
kekurangan pengendalian internal yang teridentifikasi.
3. Komunikasi dengan Dewan
Audit internal melalui laporan-laporannya hendaknya menjadi sumber informasi yang
utama bagi dewan. Demikian pula eksekutif audit internal seharusnya memiliki garis
komunikasi langsung dewan komite audit. Dewan dan komite audit harus memberikan
ekspektasi dan auditor harus memberikan komunikasi dengan jujur mengenai kualitas dari
pelaporan keuangan perusahaan.
Dalam SAS 61 AICPA, Comuunication with Audit Committees, dibahas persyaratan
komunikasi dengan komite audit yang meliputi beberapa area, yaitu :
Penggelapan dan tindakan illegal.
Penyimpangan pengendalian internal.
Kebijakan-kebijakan akuntansi yang signifikan.
Estimasi-estimasi akuntansi.
Penyesuaian-penyesuaian audit yang signifikan.
Ketidaksepakatan dengan manajemen.
Kesulitan yang dihadpi dalam melaksanakan audit.
15

Eksekutif audit internal hendaknya membahas area-area di atas dengan komite audit. Rincian
dari masing-masing area di atas yang menjadi perhatian komite sebaiknya digambarkan
secara detail, yang menguraikan implikasi-implikasi penyimpangan yang merugikan.
4. Laporan Aktivitas
Sebelum adanya Practice Advisory 2060-1, beberapa auditor internal beragumen
bahwa laporan aktivitas tidak diperlukan; laporan audit internal yang digunakan saat ini-
laporan yang diterbitkan untuk menunjukkan hasil audit secara spesifik- adalah bukti terbaik
atas pencapaian audit. Laporan audit internal yang ada memberikan informasi yang berharga
dan menunjukkan masalah-masalah yang memerlukan tindakan perbaikan. Namun demikian,
laporan audit ini perlu diringkas sehingga dapat menyajikan totalitas dari pencapaian audit
internal. Jika ringkasan dibuat dengan baik, maka akan dapat menangkap dan
mempertahankan erhatian baik dari manajemen eksekutif maupun dewan.
Pencapaian audit internal sering kali dinyatakan dalam dolar (satuan uang), sehingga
mendapat perhatian lebih dari pencapaian-pencapaian yang lain. Akan tetapi tingkat
pengembalian dolar hanyalah salah satu pencapaian audit. Akan lebih baik jika aspek-aspek
konsultatif, konstruktif, dan protektif dari pekerjaan audit internal juga ditekankan.
Audit internal sebaiknya secara berkala meminta perhatian dari para eksekutif dan
dewan akan ringkasan pencapaian yang telah dibuat, baik dalam bentuk uang maupun yang
lain, untuk menunjukkan nilai dari kontribusi yang telah diberikan oleh audit internal.
Menurut Sawyer (2006), beberapa subjek yang dapat dimasukkan kedalam laporan aktivtas
antara lain :
Perbandingan antara pekerjaan yang diprogramkan dengan pekerjaan yang dicapai.
Jumlah dan keragaman dari aktivitas yang diaudit.
Jumlah dan jenis laporan yang diterbitkan.
Jumlah komunikasi lain yang dilakukan dengan manajemen.
Biaya pengoperasian departemen audit.
Jumlah pengembalian dan penghematan yang dilakukan.
Status dari eksposur risiko.
Jumlah dan jenis studi-studi manajemen khusus.
Kuantifikasi, jika memungkinkan, atas peningkatan jasa yang diberikan kepada unit-
unit internal atau kepada orang-orang atau organisasi-organisasi luar.
Efektivitas dari pekerjaan audit.
Kualitas dari aktivitas audit eksternal.
16

Aktivitas audit internal hendaknya mengembangkan dan memelihara catatan-catatan
administratif sebagai sumber untuk membuat ringkasan atau laporan aktivitas. Catatan-
catatan tersebut antara lain :
a. Perbandingan antara pekerjaan yang diprogramkan dan pencapaiannya
Untuk setiap proyek audit internal, jumlah hari audit yang diprogramkan dan
digunakan dapat diperbandingkan. Jumlah hari yang diprogramkan dapat diambil dari
jadwal audit jangka panjang. Jumlah hari audit yang digunakan dapt diringkas untuk
setip proyek pada register yang tercantum di dalam tiap-tiap laporan waktu.
b. Aktivitas yang diaudit
Informasi tentang jumlah dan keragaman aktivitas yang diaudit dapat digabungkan
dalam sebuah formulir yang dibuat setelah setiap proyek audit selesai dilaksanakan.
Formulir ini memberikan tempat untuk menyampaikan opini audt secara keseluruhan
atas keseluruhan proyek, maupun opini yang tersegmentasi untuk proyek yang dibagi
ke dalam fungs-fungsi atau area-area operasional yang spesifik, terutama pada audit
fungsional, dimana audit yang dilakukan dapat melintasi banyak garis
pertanggungjawaban organisasi. Formulir juga sebaiknya memungkinkan
dilakukannya klasifikasi atas temuan-temuan audit menurut urutan berat dan
ringannya.
c. Biaya operasional departemen audit
Biaya audit dapat dihitung dan dilaporkan untuk setiap laporan audit. Penghitungan
biaya berdasarkan aktivitas dapat menghasilkan perhitungan yang lebih teliti untuk
setiap audit.
d. Jumlah pengembalian dan penghematan
Jumlah pengembalian dan penghematan sebaiknya dikumpulkan dalam sebuah catatan
khusus yang menyebutkan nama proyek dan menganalisis jumlah uang yang telah
dikembalikan atau dihemat. Jumlah penghematan harus dihitung secara konservatif
dan mendapat persetujuan klien atas jumlah yang hendak dilaporkan.
Laporan ativitas dapat diterbitkan setiap enam bulan atau tahunan. Pada bagian
pembukaan laporan dijelaskan tujuan dari departemen audit internal, kemudian jumlah hari
audit yang dianggarkan dan telah digunakan. Pada bagian isi laporan ini menganalisis
pengungkapan-pengungkapan audit dan penyebab dari kekurangan yang dilaporkan; bantuan
khusus yang telah diberikan kepada manajer organisasi disertai jumlah yang dihemat maupun
diselamatkan. Kemudian laporan ini ditutup dengan rencana audit untuk tahun depan. Selain
beberapa hal yang telah disebutkan diatas, laporan aktivitas dapat ditambah beberapa
17

informasi umum lainnya tergantung masing-masing organisasi audit. Beberapa organisasi
menggunakan grafik dan diagram sebagai tambahan untuk menggambarkan tingkat pekerjaan
audit yang telah dilaksanakan.
Laporan aktivitas dikenal karena keringkasannya. Laporan ini dapat menyajikan
sejumlah materi yang cukup banyak hanya dalam beberapa halaman dan menyoroti
permasalahan-permasalahan yang signifikan di catatan pinggirnya. Oleh karena itu, para
anggota manajemen puncak, komite audit dan dewan komisaris dapat melihat atau membaca
laporan tersebut dalam waktu yang sangat singkat.

5. Produktivitas Audit
Produktivitas biasanya dianggap sebagai perbandingan antara input yang berasal dari
sumber daya dan output yang berupa produk atau jasa. Namun demikian, produktivitas juga
dapat mengukur akibat dari sebuah usaha audit. Hasil merupakan output. Hasil tersebut
merupakan peningkatan yang dicapai oleh organisasi atau masyarakat yang diperoleh melalui
penerapan aktivitas audit.
Ujian terakhir dari keberhasilan ausit adalah produktivtasnya. Untuk menentukan
apakah sebuah audit telah produktif, audit tersebut harus memiliki tujuan. Tujuan ini
sebaiknya dinyatakan dalam bentuk output atau akibat yang diharapkan dari tindakan audit,
atau kedua-duanya.
Dalam situasi yang ideal, petunjuk audit itidak hanya mencantumkan tujuan audit
tetapi juga spesifikasi tentang bagaimana pencapaian dari tujuan tersebut dapat diukur. Ketika
terdapat kondisi sepert ini, maka produktivitas audit dapat ditentukan, dan ketika telah
diketahui, dapat dilaporkan sebagai salah satu bagian dari laporan aktivitas audit.
Produktivitas audit seringkali disalahartikan dalam pelaporan sebagai :
Jumlah audit yang selesai dilaksanakan.
Jumlah hari kerja yang digunakan untuk mengaudit.
Perbandingan antara jumlah biaya audit yang terjadi dengan anggaran audit.
Biaya yang dihapuskan (dihemat) atau uang yang diterima.
Hal-hal diatas tidak mengukur dalam arti yang sebenarnya produktivitas nyata dari orgnisasi
yang merupakan tingkat pencapaian tiap-tiap tuuan audit. Hal-hal diatas merupakan sesuatu
penting sebagai suatu statistik kuantitatif secara relatif terhadap operasi audit.
6. Laporan Evaluasi
18

Laporan evaluasi yang melaporkan tentang kesehatan operasional perusahaan, dapat
menarik perhatian manajemen. Manajemen akan melihatnya sebagai sebuah indikator
kelancaran administrasi atau kekurangan organisasional. Oleh karena itu, laporan evaluasi
harus memiliki dasar yang kuat dan logis.
Manajemen senior memang menerima laporan operasional dari manajemen
operasional yang memuat informasi tentang produksi, jadwal, kualitas, penundaan pekerjaan,
penempatan staf dan sejenisnya. Akan tetapi laporan operasional ini mungkin hanyalah
menguntungkan satu pihak saja. Apa yangdibutuhkan oleh manajemen senior adalah evaluasi
yang objektif, berpendidikan, dan professional dari seluruh usaha yang telah dilakukan
auditor untuk mengungkapkan pelaksanaan dari segala urusan perusahaan. Aktivitas
tambahan yang dapat dilakukan mungkin berupa penelaahan auditor atas validitas dari
laporan operasional itu sendiri.
Dalam laporan evaluasi disajikan secara tidak langsung akumulasi dari tiap-tiap
temuan audit dan kesimpulan serta gambaran dari trend dan varians yang terjadi. Terdapat
beberapa unit pengukuran untuk laporan seperti ini, dua diantaranya adalah opini audit dan
temuan audit.
a. Meringkas Opini Audit
Tidak semua auditor internal menyajikan opini secara keseluruhan dari masing-
masing audit yang mereka lakukan. Beberapa orang cukup puas dengan hanya melaporkan
temuan dan rekomendasinya saja. Namun, beberapa yang lainnya, memiliki argument bahwa
sebuah opini professional atas kecukupan, efisiensi, dan efektivitas sistem pengendalian,
keuangan dan operasional, dari aktivitas yang diaudit, akan memberikan informasi yang
dibutuhkan dan berguna bagi manajemen. Para auditor internal ini percaya bahwa opini atas
operasi tidak kalah penting jika dibandingkan dengan opini yang diberikan atas laporan
keuangan.
Opini audit internal atas aktivitas operasional spesifik yang diaudit pada dasarnya
akan menjadi memuaskan atau tidak memuaskan. Tentu terdapat gradasi didalamnya
(sangat memuaskan, dengan pengecualian, buruk, tidak memuaskan). Tetapi perbedaan ini
sendiri mungkin hanya berupa perbedaan penampilan saja. Dari sudut pandang manajemen,
operasi tersebut hanya diukur apakah telah memenuhi standar atau tidak, apakah pekerjaan
telah dilaksanakan dengan baik atau tidak, jika tidak mengapa. Temuan-temuan yang spesifik
akan mendukung opini-opini ini. Oleh karena itu, laporan audit hendaknya menyajikan opini
audit secara keseluruhan. Opini-opini ini juga sebaiknya diringkas sehingga dapat
19

memberikan indikasi kepada manajemen dan dewan mengenai kualitas pengendalian maupun
kinerja perusahaan menurut pandangan auditor internal.
Ringkasan-ringkasan berkala dapat menunjukkan jumlah total opini audit yang
diberikan dan persentase, lokasi serta permasalahan dari hal-hal yang dinilai tidak
memuaskan. Karenanya manajemen diberikan suatu indikasi yang tercakup di dalam temuan
mengenai apakah tindakan perbaikan perlu untuk dilakukan.
Informasi mengenai status penyelesaian dari opini tidak wajar juga hendaknya
dicantumkan. Manajemen sebaiknya diberikan penjelesan tentang :
Persetujuan atau pun penolakan klien atas temuan dan opini tidak wajar.
Posisi klien atas koreksi dari kondisi yang menyebabkan diberikannya opini tidak
wajar.
Situasi dimana kondisi-kondisi yang menyebabkan diberikannya opini tidak wajar
telah diselesaikan.
Situasi dimana terdapat kejadian-kejadian yang memberatkan.
b. Meringkas Temuan
Ringkasan dari temuan-temuan yang menyebabkan dikeluarkannya opini yang tidak
memuaskan akan menunjukkan dimana tindakan perbaikan sebaiknya dilakukan. Temuan
dapat dibagi menjadi dua klasifikasi, yaitu berat dan ringan.
Temuan yang berat adalah temuan yang mempengaruhi kinerja atau pengendalian,
menghalangi suatu aktivitas, fungsi atau unit untuk mencapai bagian yang substansial dari
sasaran atau tujuan yang signifikan. Sedangkan temuan yang ringan adalah temuan yang
perlu untuk dilaporkan dan meminta dilakukannya tindakan perbaikan, tetapi hal tersebut
tidak dapat dianggap sebagai suatu halangan tercapainya sasaran atau tujuan yang penting.
Ketentuan seperti di atas membutuhkan interpretasi yang konsisten dan seksama
dengan dasar kasus per kasus. Karenanya, seluruh temuan hendaknya dievaluasi oleh
seseorang yang berwenang sehingga menjamin adanya konsistensi dan cukup pemikiran dari
tingkat yang tepat.
Pada umumnya, temuan-temuan berat dilaporkan di dalam laporan audit. Temuan-
temuan ringan akan diringkas dalam laporan audit atau dimasukkan sebagai bagian dari surat
manajemen dari auditor kepada manajer klien. Surat manajemen ini tidak membebaskan klien
dari kewajiban memberikan respons atas temuan-temuan ringan. Surat manajemen biasanya
ditelaah pada audit berikutnya, dan jika masih belum terpecahkan, kondisi ini dapat menjadi
sebuah temuan yang berat di dalam laporan audit berikutnya. Jadi, persentase dari temuan-
20

temuan penyimpangan yang dilaporkan akan dianggap sebagai persentase dari masalah,
opini, atau kinerja yang utama.
c. Pemetaan Tren
Tren dalam opini dan temuan-temuan penyimpangan hendaknya dipetakan sehingga
dapat memberikan sebuah indikasi yang bermanfaat tentang kesehatan administratif
perusahaan.
d. Meringkas Penyebab
Manajemen tidaklah cukup jika hanya mengetahui kekurangan saja. Manajemen
hendaknya mengetahui mengapa kekurangan tersebut terjadi. Mungkin informasi yang paling
berguna yang dapat diberikan auditor kepada manajemen adalah informasi tentang penyebab
terjadinya penyimpangan. Dengan mengetahui dan mengenali penyebabnya, manajemen akan
dapat menemukan cara untuk memperbaikinya.
Sistem yang baik yang dapat menentukan dan melaporkan penyebab terjadinya
penyimpangan dapat memberikan bantuan yang sangat besar bagi eksekutif untuk mengambil
tindakan perbaikan secara menyeluruh. Untuk dapat mencantumkan penyebab suatu kondisi
membutuhkan perencanaan dan analisis. Langkah pertama ini adalah untuk mengidentifikasi
kemungkinan-kemungkinan penyebab terjadinya penyimpangan. Ini adalah masalah
pertimbangan masing-masing. Masing-masing direktur audit harus membuat keputusan mana
yang paling cocok bagi organisasinya.
Sawyer (2006) menyatakan terdapat beberapa kumpulan penyebab yang dapat dikaitkan
dengan hierarki pengendalian manajemen, antara lain :
Tujuan dan perencanaan yang sesuai tidak dibuat.
Sumber daya manusia dan bahan baku yang sesuai tidak diberikan.
Standar atau kriteria lainnya tidak ditentukan.
Karyawan tidak dilatih.
Tidak adanya sistem persetujuan.
Tidak adanya pengendalian utama (pusat).
Kepatuhan terhadap standar tidak dijamin.
Proses yang sedang berjalan tidak diawasi.
Sistem pencatatan dan pelaporan yang memadai tidak dibuat atau dipelihara.
Tidak ada tindakan yang dilakukan oleh manajemen saat menerima laporan.
Tidak ada tindak lanjut atas implementasi tindakan berkenaan dengan kekurangan-
kekurangan sebelumnya.
21

Penyebab-penyebab diatas dibawa kehadap manajer ataupun supervisor dari suatu aktivitas
secara khusus. Ketika dalam menyelesaikan semua pekerjaannya manajer terbatas dalam
sumber daya yang dapat digunakan, dan ketika pembatasan-pembatasan ini secara serius telah
mempengaruhi dan diluar kendali mereka, maka penyebabnya kemungkinan besar adalah :
(1) kegagalan (manajemen senior) untuk memberikan tujuan dan perencanaan yang sesuai;
dan (2) kegagalan untuk memberikan sumber daya yang sesuai. Penyebab-penyebab yang
lain mencakup permasalahan-permasalahan yang umumnya berada di bawah kendali manajer
operasional.
Disamping menentukan penyebab, juga diperlukan penetapan sifat kekurangan itu
sendiri. Jadi, bersama-sama dengan penyebabnya, perlu untuk diketahui apakah pengendalian
atau kinerja yang terjadi adalah : tidak lengkap; kurang; tidak tepat waktu; tidak akurat; tidak
konsisten; ataupun salah.
Seiring dengan usaha yang dilakukan untuk menemukan penyebab, akan terdapat
penyebab di belakang suatu penyebab tersebut. Namun demikian, penyebab utama adalah
penyebab yang setelah dilenyapkan akan langsung memperbaiki kondisi yang terjadi. Oleh
karena itu, penyebab utama merupakan suatu hal yang penting, dalam mencari penyebab,
untuk melihat baik tindakan yang telah diambil oleh manajemen lini untuk menghindari
kondisi tersebut, memperbaiki kondisi yang dilaporkan, maupun mengidentifikasikan sifat
dari kekurangan yang terjadi.
Hal-hal diatas akan merujuk pada penggunaan formulir yang akan membantu auditor
mengumpulkan data yang dibutuhkan untuk melakukan analisis kekurangan-kekurangan bagi
manajemen. Formulir ini memberikan tempat untuk mengidentifikasikan kekurangan yang
terjadi untuk tujuan pengendalian. Identifikasi ini juga dilakukan pada saat pengambilan
kesimpulan dari setiap proyek audit. Kekurangan tersebut pada pokoknya akan dinyatakan
seperti yang telah diringkas dalam laporan. Formulir ini juga memuat tindakan perbaikan
yang diambil atau diajukan, serta penyebab (dan dampak) yang dapat berupa sebuah
penjelasan naratif mengenai bagaimana auditor menerima penyebab (atau dampak) dari
kondisi tersebut.
Identifikasi dari temuan akan membantu akumulasi data-data statistik mengenai apakah
temuan tersebut berhubungan dengan pengendalian atau kinerja dan dianggap berat atau
ringan. Jika temuan yang sama meliputi pengendalian maupun kinerja, formulir harus dibuat
untuk setiap kategori untuk mempermudah peringkasan. Hal ini karena baik penyebab
maupun tindakan perbaikannya bisa berbeda. Jika formulir telah dibuat dengan baik, maka
bisa langsung segera diringkas menjadi sebuah laporan untuk manajemen.
22

7. Komunikasi Khusus
Sebuah situasi yang tidak dapat ditoleransi mungkin terjadi ketika seorang auditor
internal menghadapi sebuah situasi yang serius dan tidak memperoleh dukungan dari seluruh
tingkatan manajemen. Jika auditor tetap yakin bahwa diperlukan suatu tindakan, maka
auditor internal harus langsung menemui komite audit. Tindakan ini mungkin akan
membahayakan pekerjaan auditor, namun risiko ini telah menjadi bagian dari pekerjaan dan
auditor harus mau menerimanya. Disisi lain, komite audit harus sepenuhnya mendukung
usaha audit dan menyatakan dengan jelas bahwa auditor adalah bagian dari manajemen
perusahaan dan adanya intervensi, baik langsung maupun tidak langsung, tidak akan dapat
ditoleransi.
8. Laporan Audit Satu Halaman
Laporan audit satu halaman merupakan sebuah laporan audit khusus yang baru-baru
ini diciptakan oleh beberapa organisasi besar. Laporan ini dirancang untuk menghemat waktu
para eksekutif dan anggota dewan komisaris yang sibuk, dan dapat dirancang menjadi
PowerPoint atau dalam bentuk tercetak. Laporan ini berbentuk presentasi berwarna satu
halaman yang didukung oleh referensi terinci bagi area-area yang mendapat perhatian dari
eksekutif atau anggota dewan.
9. Beberapa Peringatan
Diperlukan kehati-hatian dalam memberikan penekanan pada kinerja audit internal
dan untuk membatasi data yang hanya bersifat informatif. Beberapa peringatan harus
dipertimbangkan ketika menerbitkan jenis-jenis laporan berikut ini, antara lain :
a. Jumlah dan keragaman penugasan audit
Laporan seperti ini dapat dikategorikan sebagai laporan informal saja dan bukanlah
sebuah cara pengukuran kinerja yang baik. Disamping itu, adanya peningkatan jumlah
departemen yang diaudit mungkin menjadi indikasi bahwa staf audit terlalu banyak
tersebar atau hanya melakukan audit yang sifatnya dangkal saja.
b. Jumlah laporan yang dikeluarkan
Tanpa penjelasan, peningkatan dalam jumlah l,aporan mungkin dapat diartikan
sebagai pelaksanaan audit yang lebih singkat atau area audit yang paling kecil.
c. Jumlah bentuk komunikasi lain
Jumlah komunikasi bagi manajemen mungkin tidak benar-benar menunjukkan tingkat
aktivitas yang dilaksanakan. Akan tetapi, informasi mengenai jumlah memorandum
penindaklanjutan yang dikeluarkan mungkin menunjukkan kegagalan dari pihak
23

manajer klien untuk mengambil tindakan yang tepat atas temuan audit yang
disampaikan.
d. Saran yang dilaksanakan
Data ini mungkin dapat disalahartikan. Manajemen mungkin menolak untuk
melaksanakan sebuah saran audit tertentu namun tetap memperbaiki sebuah
kekurangan melalui cara-cara yang diciptakannya sendiri. Tetapi, ketika data ini
dikombinasikan dengan penghematan jumlah uang yang berkaitan, penyelamatan atau
perbaikan-perbaikan lainnya, data-data ini mungkin dapat menjadi ukuran yang
berguna dari efektivitas audit.
e. Konsultasi
Harus terdapat kehati-hatian ketika melaporkan angka atas studi-studi konsultasi.
f. Investigasi
Jenis penugasan audit seperti ini biasanya adalah hasil dari suatu keadaan darurat.
Statistik laporan tentang investigasi dapat memuat data mengenai sumber penugasan,
jenis investigasi yang dilakukan, area investigasi, dan keterangan seperti: selesai;
diserahkan pada bagian keamanan; dalam proses; atau tidak berhasil.
Peringatan-peringatan di atas tidak berarti bahwa laporan-laporan tersebut tidak valid, namun
peringatan tersebut dimaksudkan agar auditor internal berhati-hati dalam membuat laporan
aktivitasnya sehingga justru tidak memberikan kesan yang kontraproduktif. Aktivitas auditor
internal juga sebaiknya dipandu oleh implikasi-implikasi yang dijelaskan diatas.






24

DAFTAR PUSTAKA

Moeller, Robert R, 2005. Brinks Modern Internal Auditing, John Wiley & Sons, Inc,
Hoboken, New Jersey.
Sawyer, Lawrence B, Mortimer A. Dittenhover dan James H. Scheiner, 2006. Audit Internal
Sawyer, Edisi 5 Buku 2, Diterjemahkan oleh Desi Adhariani, Salemba Empat, Jakarta.