Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH GERHANA MATAHARI DAN BULAN

GERHANA BULAN
&
GERHANA MATAHARI

Gerhana bulan
Gerhana bulan terjadi saat sebagian atau keseluruhan penampang bulan tertutup oleh
bayangan bumi. Itu terjadi bila bumi berada di antara matahari dan bulan pada satu garis lurus
yang sama, sehingga sinar matahari tidak dapat mencapai bulan karena terhalangi oleh bumi.
Dengan penjelasan lain, gerhana bulan muncul bila bulan sedang beroposisi dengan
matahari. Tetapi karena kemiringan bidang orbit bulan terhadap bidang ekliptika, maka tidak
setiap oposisi bulan dengan matahari akan mengakibatkan terjadinya gerhana bulan.
Perpotongan bidang orbit bulan dengan bidang ekliptika akan memunculkan 2 buah titik
potong yang disebut node, yaitu titik di mana bulan memotong bidang ekliptika. Gerhana
bulan ini akan terjadi saat bulan beroposisi pada node tersebut. Bulan membutuhkan waktu
29,53 hari untuk bergerak dari satu titik oposisi ke titik oposisi lainnya. Maka seharusnya,
jika terjadi gerhana bulan, akan diikuti dengan gerhana matahari karena kedua node tersebut
terletak pada garis yang menghubungkan antara matahari dengan bumi.
Sebenarnya, pada peristiwa gerhana bulan, seringkali bulan masih dapat terlihat. Ini
dikarenakan masih adanya sinar matahari yang dibelokkan ke arah bulan oleh atmosfer bumi.
Dan kebanyakan sinar yang dibelokkan ini memiliki spektrum cahaya merah. Itulah sebabnya
pada saat gerhana bulan, bulan akan tampak berwarna gelap, bisa berwarna merah tembaga,
jingga, ataupun coklat. Gerhana bulan dapat diamati dengan mata telanjang dan tidak
berbahaya sama sekali.
Jenis-jenis gerhana bulan
Gerhana bulan total
Pada gerhana ini, bulan akan tepat berada pada daerah umbra.
Gerhana bulan sebagian
Pada gerhana ini, tidak seluruh bagian bulan terhalangi dari matahari oleh bumi. Sedangkan
sebagian permukaan bulan yang lain berada di daerah penumbra. Sehingga masih ada
sebagian sinar matahari yang sampai ke permukaan bulan.
Gerhana bulan penumbra
Pada gerhana ini, seluruh bagian bulan berada di bagian penumbra. Sehingga bulan masih dapat
terlihat dengan warna yang suram.
Gerhana Matahari
Bagi para pengamat astronomi dan galaksi, bisa jadi Desember tahun ini merupakan
waktu yang paling dinanti-nantikan. Pasalnya, pada bulan penghujung tahun itu, tepatnya
pada 20 hingga 21 Desember 2010, terjadi peristiwa gerhana bulan dan gerhana matahari
yang disinyalir memengaruhi munculnya musim dingin tergelap selama 456 tahun.
Berdasarkan keterangan badan antariksa milik Amerika Serikat (National Aeronauties and
Space Administration/NASA), penampakan gerhana tersebut di sejumlah wilayah dunia akan
berbeda-beda.
Beberapa wilayah itu di antaranya, Amerika bagian utara dan selatan, Eropa bagian utara
dan barat, serta sebagian Asia timur laut, termasuk Korea dan Jepang. Di balik fenomena
langit sepanjang 2010, terungkap bahwa malam terpanjang tahun ini menandakan adanya titik
balik matahari pada musim dingin tergelap selama 456 tahun. Karena gerhana bertepatan
dengan titik balik matahari pada musim dingin, maka letak bulan berada cukup tinggi dari
posisi biasanya.
Seperti dilansir laman Newser.com, seorang astronom di Carleton University, AS,
mengungkapkan peristiwa itu memang sangat jarang terjadi, namun memiliki arti yang
mendalam. Jika kalangan ilmuwan mengartikan gerhana matahari dan bulan yang
memengaruhi terjadinya musim dingin tergelap itu sebagai fenomena alam yang langka,
kalangan agamawan menganggap peristiwa itu sebagai pertanda keberadan energi kosmik
yang dahsyat. Titik balik matahari dianggap sebagai kelahiran kembali matahari.
Sedangkan gerhana bulan dianggap sebagai wiccans karena menandakan interaksi antara
energi matahari (lambang pria) dan energi bulan (lambang perempuan). Fenomena itu sama
seperti masa kepulangan kembali, ujar pemuka kepercayaan Wiccans. Sebenarnya, peristiwa
terjadinya titik balik matahari yang bersamaan dengan gerhana bulan penuh pernah pula
terjadi pada 1554. Bersamaan dengan peristiwa alam itu masyarakat Inggris merasakan tahun
paling gelap secara politik di negara mereka.
Meski demikian, para ilmuwan menganggap kejadian itu hanyalah kebetulan. Kembali ke
saat ini, gerhana matahari yang berbarengan de ngan gerhana bulan tersebut bisa diamati pada
20 Desember mulai pukul 22.15 waktu Pasifi k (PST) atau pada 21 Desember dini hari pukul
01.33 waktu Pantai Timur Amerika (EST), atau pukul 6.33 waktu Universal (UT). Memang,
peristiwa langka yang menghadirkan pemandangan indah sekaligus menimbulkan musim
dingin tergelap itu dampaknya tidak langsung terasa bagi Indonesia.
Meski demikian, Indonesia terbilang sebagai wilayah yang sering kali ketiban
fenomena unik dari benda-benda langit. Sebut saja kejatuhan meteor atau gerhana matahari
total berturut-turut dalam jangka waktu pendek. Kondisi itu, salah satunya, disebabkan
Indonesia merupakan wilayah strategis persinggahan bintang-bintang angkasa. Bagi sebagian
pengamat angkasa, fenomena gerhana bulan dan gerhana matahari yang terjadi secara
bersamaan merupakan peristiwa yang terjadi secara kebetulan.
Namun, bagi sebagian pakar lainnya, peristiwa itu memang benarbenar terjadi karena
adanya mekanisme yang sistematis. Apabila dikaji dari sisi ilmiah, gerhana bulan terjadi saat
sebagian atau kese luruhan penampang bulan tertutup oleh bayangan Bumi. Kondisi itu
terjadi manakala Bumi berada di antara matahari dan bulan pada satu garis lurus yang sama.
Akibatnya, sinar matahari tidak dapat mencapai bulan karena terhalangi oleh Bumi.
Penjelasan lainnya, gerhana bulan muncul apabila bulan sedang beroposisi dengan
matahari. Tetapi karena adanya kemiringan bidang orbit bulan terhadap bidang ekliptika,
maka tidak setiap oposisi bulan dengan matahari mengakibatkan gerhana bulan. Perpotongan
bidang orbit bulan dengan bidang ekliptika akan memunculkan dua buah titik potong yang
disebut node. Gerhana bulan akan terjadi pada saat bulan beroposisi pada node tersebut.
Benda langit yang satu itu memerlukan waktu 29,53 hari untuk bergerak dari satu titik
oposisi ke titik oposisi lainnya. Hal tersebut menjelaskan, jika terjadi gerhana bulan secara
teori akan diikuti dengan gerhana matahari karena kedua node tersebut terletak pada garis
yang menghubungkan matahari dengan Bumi. Pada peristiwa gerhana bulan, sering kali
bulan masih dapat terlihat. Kondisi itu dikarenakan masih adanya sinar matahari yang dibelok
kan ke arah bulan oleh atmosfer Bumi.
Kebanyakan sinar yang dibelokkan itu memiliki spektrum cahaya merah. Itulah sebabnya
pada saat gerhana bulan, bulan akan tampak berwarna gelap, bisa berwarna merah tembaga,
jingga, atau cokelat. Mereka yang tertarik untuk mengamati bulan dengan mata telanjang
tidak perlu khawatir, karena peristiwa alam itu tidak berbahaya sama sekali, tidak seperti
gerhana matahari. Jika gerhana bulan terjadi ketika bulan tengah beroposisi dengan matahari,
maka pada gerhana matahari posisi bulan terletak di antara Bumi dan matahari.
Hal tersebut mengakibatkan sebagian atau seluruh cahaya matahari tertutupi. Walaupun
bulan lebih kecil, bayangannya mampu melindungi cahaya matahari sepenuhnya. Hal itu
disebabkan bulan yang berjarak rata-rata 384.400 kilometer dari Bumi itu, lebih dekat dengan
Bumi ketimbang matahari yang berjarak rata-rata 149.680.000 kilometer.
Dilihat dari jenisnya, gerhana matahari dikelompokkan ke dalam tiga macam, yakni
gerhana total, gerhana sebagian, dan gerhana cincin. Dikatakan gerhana matahari total apabila
saat puncak gerhana, piringan matahari ditutup sepenuhnya oleh piringan bulan. Pada saat
terjadinya gerhana matahari, orang dilarang melihat ke arah matahari dengan mata telanjang
karena hal itu dapat merusak mata secara permanen dan mengakibatkan kebutaan.
Dari penjelasan mengenai proses terjadinya gerhana bulan dan gerhana matahari, kedua
peristiwa alam itu dinyatakan bisa saja terjadi bersamaan. Bahkan, peristiwa tersebut
beberapa kali pernah terjadi. Gerhana matahari selalu terjadi pada saat fase bulan baru atau
bulan mati, sedangkan gerhana bulan selalu terjadi pada fase bulan purnama. Sebaliknya,
tidak setiap bulan baru dan bulan purnama terjadi gerhana.
Selisih antara bulan baru dengan bulan purnama sekitar 15 hari. Jadi, apabila gerhana
pertama terjadi antara tanggal 1 hingga 15, maka ada kemungkinan akan terjadi gerhana
kedua pada tanggal 15 hingga 31. Bahkan bisa pula terjadi dalam satu bulan ada berlangsung
tiga gerhana, yaitu pada tanggal 1, 15, dan 30 atau 3. Setelah satu bulan, maka kemungkinan
gerhana berikutnya terjadi pada enam bulan kemudian.
Contohnya, karena gerhana tahun ini sudah terjadi pada Januari, maka gerhana berikutnya
akan terjadi pada 26 Juni (gerhana bulan sebagian) dan 11 Juli (gerhana matahari total).
Setelah itu, gerhana terjadi lagi pada 21 Desember (gerhana bulan total).
http://tandio33.blogspot.com/2011/01/makalah-gerhana-matahari-dan-bulan.html


MEMBACA TANDA DIBALIK GEMPA
BERSIAP MENJADI TAMU ALLAH
Gerhana : Antara Mitos, Sains dan Islam






2 Votes

Hari Kamis tanggal 16 Juni 2011 dini hari,
gerhana bulan total akan terjadi dan dapat disaksikan di wilayah Indonesia. Gerhana akan
dimulai pada pukul 00.25 WIB dan berakhir pada pukul 05.59 WIB,pada rentang waktu itu
akan terjadi gerhana bulan total, yakni ketika bulan tak tampak sama sekali dan berlangsung
selama 100 menit, mulai pukul 02.22 WIB sampai pukul 04.03 WIB. Gerhana bulan total ini
bisa dilihat dengan mata telanjang di seluruh Indonesia.
Gerhana Bulan terjadi saat matahari, bumi dan bulan terletak pada satu garis lurus, dimana
bumi berada diantara matahari dan bulan.Tak seperti gerhana matahari, gerhana bulan aman
disaksikan dengan mata telanjang tanpa perlu pelindung.
Berikut ini proses terjadinya gerhana bulan total yang dapat diamati di seluruh wilayah
Indonesia:
1. Gerhana diawali dengan kontak awal penumbra pada pukul 00.25 WIB
2. Kontak awal umbra terjadi pada pukul 01.23 WIB dan pada saat itu gerhana baru bisa
disaksikan secara kasat mata, bayangan bumi secara perlahan mulai menutupi bulan
purnama
3. Pada pukul 03.12 WIB terjadi puncak gerhana dan bulan berada pada kondisi gelap
total karena tertutup seluruhnya oleh bayangan bumi.
4. Setelah melalui puncak gerhana, berangsur-angsur bulan mulai terlihat lagidan
berangsur-angsur kembali sebagai bulan purnama, yakni pada pukul 05:01 WIB
seiring kontak akhir umbra.
5. Kontak akhir penumbra terjadi pada pukul 05:59 WIB, sebagai tanda bahwa gerhana
secara keseluruhan berakhir.
Fenomena yang langka terjadi ini tentu saja mengundang perhatian semua pihak, terutama
para pengamat dan peneliti astronomi.Di stasiun-stasiun pengamatan antariksa, semisal
Lapan, dan Observatorium Bosscha, jauh-jauh hari sudah bergegas mempersiapkan segala
perangkat untuk mengamati fenomena alam ini. Bahkan Observatorium Bosscha bersama
jaring pengamatan hilal dan pemerintah rencananya akanmenyiarkan langsung via Internet.
Pada kesempatan itu digunakan oleh para peneliti untuk melihat tingkat kebersihan atau
kekotoran atmosfer, selain juga dijadikan momen untuk uji coba penghitungan hisab
menjelang 1 Ramadhan 1432 H.
Cerita Takhayul (Mitos) Seputar Gerhana
Kejadian gerhana matahari maupun bulan telah sering dialami oleh manusia sejak jaman
dahulu kala.Sejalan dengan perkembangan intelektual dan ilmu pengetahuan yang dimiliki
manusia, memunculkan sikap dan persepsi beragam mengenai terjadinya gerhana.
Selain keterbatasan intelektual dan ilmu pengetahuan juga keyakinan primitif manusia pada
waktu dulu, peristiwa gerhana sering dikaitkan dengan kekuatan-kekuatan
supranatural.Mitos-mitos dan keyakinan khurofat seputar gerhana pun muncul, yang tentu
saja dengan timbangan syariat dan keyakinan agama sekarang ini bertentangan dengan aqidah
yang benar.
Di antara mitos-mitos yang muncul pada jaman dahulu, bahkan sebagian masih ada yang
mempercayainya hingga sekarang ini, bahwa terjadinya gerhana itu karena adanya sesosok
raksasa besar (batarakala) yang sedang berupaya menelan matahari atau bulan. Nah, agar
raksasa itu memuntahkan kembali matahari atau bulan yang ditelannya, maka diperintahkan
untuk menabuh berbagai alat, seperti kentongan, bedug, bambu atau bunyi-bunyian lainnya.
Ada juga yang meyakini bahwa matahari atau bulan itu beredar seperti karena dibawa oleh
sebuah gerobak besar.Gerhana itu terjadi karena gerobak tersebut memasuki sebuah
terowongan dan kemudian keluar lagi.
Sebagian lain juga meyakini bahwa bulan dan matahari adalah sepasang kekasih, sehingga
apabila mereka berdekatan maka akan saling memadu kasih sehingga timbullah gerhana
sebagai bentuk percintaan mereka.
Sekalipun perkembangan pemikiran dan ilmu pengetahuan sekarang sudah meningkat, namun
sampai kini masih ada yang meyakini bahwa bagi wanita yang sedang hamil diharuskan
bersembunyi di bawah tempat tidur atau bangku, agar bayi yang dilahirkannya nanti tidak
cacat (wajahnya hitam sebelah).
Dalam catatan sejarah Islam, orang-orang arab Quraisy mengaitkan peristiwa gerhana dengan
kejadian-kejadian tertentu, seperti adanya kematian atau kelahiran, dan kepercayaan ini
diyakini secara turun temurun sehingga menjadi keyakinan umum masyarakat. Dijaman
Rasulullah misalnya, pernah terjadi gerhana matahari yang bersamaan dengan kematian putra
Rasul SAW yang bernama Ibrahim. Orang-orang pada saat itu menganggap terjadinya
gerhana karena kematian putra Nabi tersebut. Maka, Nabi shallallahu alaihi wa sallam pun
membantah keyakinan orang Arab tadi, seraya bersabda:
Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan
Allah.Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika
melihat gerhana tersebut, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat
dan bersedekahlah. (HR. Bukhari)

Hadits tersebut diatas sekaligus menjadi tuntunan bagi kita bagaimana menyikapi terjadinya
gerhana itu, yang nanti akan diurai secara rinci.
Menyikapi Terjadinya Gerhana Berdasarkan Tuntunan Syariat
Bagi kaum Muslimin, peristiwa terjadinya gerhana bulan total ini merupakan momen untuk
semakin menyadari tentang kebesaran Allah SWT dan lebih mendekatkan diri kepada-Nya.
Sebagaiman hadits diatas, ketika terjadinya gerhana,Nabi menganjurkan untuk bertakbir,
melaksanakan shalat sunat gerhana dan memperbanyak sedekah.
Dalam riwayat yang lain, bahkan kaum wanita pun dianjurkan oleh Nabi Saw. untuk
melaksanakan shalat gerhana, seperti keterangan dari Asma` binti Abi Bakr berikut ini :
Saya mendatangi Aisyah radhiyallahu anha -isteri Nabi shallallahu alaihi wa sallam-
ketika terjadi gerhana matahari.Saat itu manusia tengah menegakkan shalat. Ketika Aisyah
turut berdiri untuk melakukan sholat, saya bertanya: Kenapa orang-orang ini? Aisyah
mengisyaratkan tangannya ke langit seraya berkata, Subhanallah (Maha Suci Allah). Saya
bertanya: Tanda (gerhana)? Aisyah lalu memberikan isyarat untuk mengatakan iya.
(HR. Bukhari )

Sebagai salah satu bukti kebesaran Allah Swt., terjadinya gerhana sejatinya harus
memunculkan sikap yang tepat sesuai dengan tuntunan Rasulullah, yaitu memperbanyak
tafakkur dan dzikir seraya mengagungkan-Nya (bertakbir), melaksanakan shalat sunnat
gerhana dan memperbanyak shadaqah. Menurut Syaikh Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, apabila
kita menyikapi gerhana sesuai dengan tuntunan Rasulullah tersebut maka kita akan terhindar
dari bencana yang besar.
Tata Cara Shalat Gerhana
Dalam hadits sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari ra, dituturkan :
Dari Aisyah, beliau menuturkan bahwa gerhana matahari pernah terjadi pada masa
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Lantas beliau shallallahu alaihi wa sallam bangkit
dan mengimami manusia dan beliau memanjangkan berdiri. Kemudian beliau ruku dan
memperpanjang rukunya. Kemudian beliau berdiri lagi dan memperpanjang berdiri tersebut
namun lebih singkat dari berdiri yang sebelumnya. Kemudian beliau ruku kembali dan
memperpanjang ruku tersebut namun lebih singkat dari ruku yang sebelumnya. Kemudian
beliau sujud dan memperpanjang sujud tersebut. Pada rakaat berikutnya, beliau
mengerjakannya seperti rakaat pertama. Lantas beliau beranjak (usai mengerjakan shalat
tadi), sedangkan matahari telah nampak. Setelah itu beliau berkhotbah di hadapan orang
banyak, beliau memuji dan menyanjung Allah, kemudian bersabda, Sesungguhnya matahari
dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak
terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka
berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.
Nabi selanjutnya bersabda, Wahai umat Muhammad, demi Allah, tidak ada seorang pun
yang lebih cemburu daripada Allah karena ada seorang hamba baik laki-laki maupun
perempuan yang berzina. Wahai Umat Muhammad, demi Allah, jika kalian mengetahui yang
aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis. (HR. Bukhari)
Berdasarkan hadits di atas, shalat gerhana dilakukan sebanyak dua rakaat.Namun, para
ulama berbeda pendapat mengenai tata caranya.Ada yang mengatakan bahwa shalat gerhana
dilakukan sebagaimana shalat sunnah biasa, dengan dua rakaat dan setiap rakaat ada sekali
ruku, dua kali sujud.Ada juga yang berpendapat bahwa shalat gerhana dilakukan dengan dua
rakaat dan setiap rakaat ada dua kali ruku, dua kali sujud.Pendapat yang terakhir inilah
yang dipilih oleh mayoritas ulama.Sebagaimana HR. Bukharidiatas.
Ringkasnya, tata cara shalat gerhana adalah sebagai berikut:
1. Berniat di dalam hati dan tidak dilafadzkan karena melafadzkan niat termasuk perkara
yang tidak ada tuntunannya dari Nabi kita shallallahu alaihi wa sallam dan beliau
shallallahu alaihi wa sallam juga tidak pernah mengajarkannya lafadz niat pada
shalat tertentu kepada para sahabatny
2. Takbiratul ihram yaitu bertakbir sebagaimana shalat biasa.
3. Membaca doa iftitah dan bertaawudz, kemudian membaca surat Al Fatihah dan
membaca surat yang panjang (seperti surat Al Baqarah) sambil dijaharkan (dikeraskan
suaranya, bukan lirih) sebagaimana terdapat dalam hadits Aisyah: Nabi shallallahu
alaihi wa sallam menjaharkan (mengeraskan) bacaannya ketika shalat
gerhana.(HR. Bukhari dan Muslim)
4. Kemudian ruku sambil memanjangkannya.
5. Kemudian bangkit dari ruku (itidal) sambil mengucapkan SAMIALLAHU LIMAN
HAMIDAH, RABBANA WA LAKAL HAMD
6. Setelah itidal ini tidak langsung sujud, namun dilanjutkan dengan membaca surat Al
Fatihah dan surat yang panjang. Berdiri yang kedua ini lebih singkat dari yang
pertama.
7. Kemudian ruku kembali (ruku kedua) yang panjangnya lebih pendek dari ruku
sebelumnya.
8. Kemudian bangkit dari ruku (itidal).
9. Kemudian sujud yang panjangnya sebagaimana ruku, lalu duduk di antara dua sujud
kemudian sujud kembali
10. Kemudian bangkit dari sujud lalu mengerjakan rakaat kedua sebagaimana rakaat
pertama hanya saja bacaan dan gerakan-gerakannya lebih singkat dari sebelumnya.
11. Salam.
12. Setelah itu imam menyampaikan khutbah kepada para jamaah yang berisi anjuran
untuk berdzikir, berdoa, beristighfar, sedekah, dan membebaskan budak.
Antara Gerhana dan Bulan Suci Ramadhan
Gerhana bulan total kali ini kebetulan juga terjadi pada pertengahan Bulan Rajab 1432 H,
yang artinya kurang dari dua bulan menjelang datangnya Bulan Suci Ramadhan. Tentu saja
peristiwa ini semakin memberi makna yang dalam bagi kaum Muslimin.
Bagi kaum muslimin, bulan suci Ramadhan merupakan bulan yang senantiasa dinantikan
kehadirannya. Bulan istimewa yang memberi kesan istimewa pula bagi orang yang beriman,
sehingga jauh-jauh hari sebelum kedatangannya, kaum muslimin dianjurkan oleh Rasulullah
mempersiapkan diri untuk menyambutnya. Bahkan dua bulan sebelum kedatangannya, yaitu
pada bulan Rajab dan bulan Syaban, Rasulullah menganjurkan pada kita untuk berdoa,
memohon keberkahan kepada Allah Swt. Salah satu doa yang diajurkan untuk dibaca
diantaranya :
Allahumma Bariklana Fi Rajaba Wa Syabana Wabalighna Ramadhan
Ya Allah, berikanlah keberkahan pada kami di bulan Rajab dan bulan Syaban, dan
sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan.
Peristiwa gerhana bulan yang kita hadapi di bulan Rajab ini sekaligus menjadi momen
penting untuk menghadirkan kembali dalam jiwa kita kesadaran mengenai kebesaran Allah,
sehingga menambah energi pada jiwa dan raga kita untuk memasuki Bulan Suci Ramadhan.
Bulan ramadhan yang segera menghampiri kita, merupakan kesempatan yang paling indah
bagi yang mendambakan kesejatian hidup, momen yang paling menggiurkan bagi yang sadar
bahwa hidup senantiasa berperang melawan gejolak hawa nafsu dan saat-saat yang paling
tepat memaknai setiap detik kehidupan dengan amal saleh dan kebajikan. Di Bulan inilah,
setiap tarikan nafas dan getaran lidah sejatinya dihiasi dengan dzikir dan taubat. Di Bulan ini
pula segenap energi kehidupan kita difokuskan untuk ibadah dalam rangka mencapai derajat
yang didambakan, yakni laallakum tattaqun (derajat insan yang bertaqwa).

Wallahualam.


Foto kombinasi gerhana bulan yang terjadi pada tahun 2007 terlihat di Nairobi, Kenya.
AP/Akmal Rajput
Follow
Berita Terkait
Gerhana Bulan Total Terlihat di Bekasi
Ribuan Santri Gontor Gelar Salat Gerhana Bulan
Ratusan Orang Saksikan Gerhana dari Planetarium Jakarta
Gerhana Total, Bulan Akan Berwarna Merah Darah
Komunitas Fotografi Gelar Motret Bareng Gerhana Bulan
Topik
gerhana bulan
Kamis, 16 Juni 2011 | 05:52 WIB
Mitos Masyarakat Seputar Gerhana Bulan
Besar Kecil Normal
TEMPO.CO, Madiun - Masyarakat Madiun antusias menonton gerhana bulan. Mereka
berkumpul di alun-alun kota. Sambil menyaksikan gerhana bulan, mereka bertukar cerita,
termasuk soal mitos masyarakat tentang gerhana bulan yang mulai pudar.

Sewaktu saya masih kecil, orang-orang tua dulu menganggapnya ada buto (buta kala) yang
memakan bulan dan masyarakat menabuh lumpang (tempat penumbuk dari besi) agar buto-
nya cepat hilang, tutur Suprapti, pedagang kaki lima di Alun-alun Kota Madiun, seraya
melayani pembeli yang memesan makanan dan minuman untuk menghabiskan malam dengan
menyaksikan fenomena gerhana bulan, Kamis dinihari, 16 Juni 2011.

Namun menurutnya, tradisi masyarakat dahulu itu sudah jarang dilakukan. Selain menabuh
lumpang atau lesung, masyarakat juga punya kebiasaan lain. Kalau dulu, perut wanita yang
hamil biasa diolesi abu sisa pembakaran di dapur dengan harapan anak yang dikandung tidak
dimakan atau tidak seperti buto, ceritanya.

Pedagang kaki lima di alun-alun setempat ketiban rezeki dengan adanya fenomena gerhana
bulan ini. Masyarakat yang penasaran banyak begadang untuk menyaksikan fenomana itu
sambil menikmati makanan dan minuman yang dijajakan puluhan pedagang kaki lima
setempat.

Puluhan masyarakat Kota Madiun sempat menyaksikan fenomena gerhana bulan yang
berlangsung cukup lama. Tempo mencatat bayangan bumi mulai menutupi bulan sekitar
pukul 01.20 WIB. Hingga pukul 04.00 WIB, bayangan bumi yang menutupi bulan tersebut
belum hilang sepenuhnya.

Saya sudah menunggu sejak pukul 12 malam. Seumur hidup saya baru melihat gerhana
bulan kali ini, ujar salah satu warga Kota Madiun, Arif, yang menyaksikan gerhana bulan di
Alun-alun Kota Madiun hingga pukul 03.00 WIB.
http://www.tempo.co/read/news/2011/06/16/061341052/Mitos-Masyarakat-Seputar-Gerhana-
Bulan
Indonesia merupakan sebuah negeri dengan sejuta mitos. Banyak sekali mitos yang
bertebaran di sekitar. Namun, percaya atau tidaknya anda dengan sebuah mitos, fakta bahwa
ada banyak sekali masyarakat Indonesia yang saat jaman modern ini masih percaya dengan
mitos tidak bisa dielakkan. Saat ini, meskipun kita sudah hidup pada jaman internet dan
computer, masih ada banyak sekali masyarakat yang percaya dengan mitos ataupun mereka
yang sebenarnya tidak percaya dengan mitos tersebut namun tetap melakukan ritual tertentu
untuk menghindari sesuatu yang buruk apa bila mereka melanggar anjuran dari mitos
tersebut. Dari sekian banyaknya mitos yang tersebar di seluruh penjuru masyarakat
Indonesia, ada satu mitos yang menarik yang berhubungan dengan ibu hamil. Apakah itu?
Mitos ini adalah gerhana bulan. Sebagian masyarakat Indonesia yang hidup pada jaman
dahulu percaya bahwa jika ada gerhana bulan, maka setiap ibu yang mengandung anaknya
disarankan untuk bersembunyi di bawah kasur. Pertanyaan yang timbul dari benak para calon
ibu yang sedang membaca tulisan ini mungkin seperti ini, apa hubungan gerhana bulan
dengan ibu yang mengandung dan mengapa kita harus bersembunyi di bawah tempat tidur
atau kasur?. Menurut penjelasan oleh beberapa orang yang masih percaya dengan mitos ini,
menyembunyikan sang istri yang sedang hamil di kala datangnya gerhana bulan dimaksudkan
untuk mengamankan sang buah hati dari terkaman batara kala. Bagai mana bisa?

Tentunya kita masih ingat beberapa kepercayaan maupun dongeng tentang gerhana bulan
ataupun gerhana matahari yang biasa kita dengar pada saat kita masih kecil dulu. Saat
terjadinya gerhana, maka orang dahulu akan segera berkumpul dan mengambil koentongan
kemudian membunyikan kentongan tersebut keras-keras keliling desa. Tujuan dilakukannya
hal ini adalah untuk menghentikan gerhana bulan ataupun matahari karena pada saat itu,
masyarakat Indonesia percaya bahwa pada saat terjadinya gerhana matahari maupun bulan,
sang raksasa jahat yang bernama batara kala sedang memakan matahari ataupun bulan. Untuk
mengusirnya, warga akan datang berduyun-duyun berkumpul untuk menyembunyikan
kentongan dan berharap agar batara kala tidak akan memakan sang bulan ataupun matahari.
Cara ini memang terbukti ampuh karena setelah dibunyikan kentongan beberapa saat, bulan
maupun matahari akan kembali seperti semula. Bagi anda yang sudah tahu penjelasan ilmiah
mengenai peristiwa ini pastinya sudah tahu bagaimana proses terjadinya gerhana matahari
maupun dengan gerhana bulan. Kaitannya dengn ibu hamil yang dilarang keluar saat gerhana
bulan, dan dianjurkan untuk bersembunyi di bawah kasur adalah dengan tujuan
menghindarkan sang calon bayi dari terkaman sang batara kala. Namun, saat kita kaitkan hal
ini dengan sains dan medis, tidak pernah ada satu kasus pun yang membuktikan bahwa bayi
anda akan hilang ketika anda berjalan keluar saat gerhana bulan terjadi. Jadi bisa kita
simpulkan bahwa peristiwa ini adalah sebuah mitos belaka.
Peristiwa unik mengenai ibu hamil dan gerhana bulan tidak hanya itu saja.Beberapa waktu
lalu di salah satu kawasan Bandung, Jawa Barat, diadakan ritual mandi bersama ketika
datangnya gerhana bulan.Menurut beberapa calon ibu yang ikut turut pada ritual tersebut,
mereka percaya bahwa kegiatan ini sangat penting untuk dilakukan. Hal ini dikarenakan
bahwa ketika mereka tidak melakukan hal itu, akan muncul flek hitam pada sang bayi ketika
dia lahir nanti. Calon ibu yang mengikuti acara ini percaya bahwa mandi bersama ketika
gerhana bulan dapat mesucikan dirinya dan bayi mereka dari segala sesuatu yang tidak baik.
http://tipsibunda.com/mitos-gerhana-bulan-untuk-ibu-hamil
Tapi bagi orang jawa seperti saya, gerhana bulan mempunyai mitos sendiri, gerhana bulan
yang terjadi karena bulan tertutup bayang bumi bagi orang jawa dianggap adanya seorang
raksasa (buto) yang memakan bumi, buto itu harus diusir dan meminta bantuna anak-anak
bumi untuk mengusirnya, dengan cara apa? Dengan cara memukul benda-benda apa saja
yang mempunyai suara keras agar buto takut kemudian tidak jdai memakan bulan.

Bagi saya pada waktu kecil dahulu, menyelamatkan bulan adalah suatu pekerjaan mulia.
Saya seolah seperti satria baja hitam, superman atau sper hero lain yang sedang
menyelamatkan kehidupan manusia hahhaa coba bayangkan apabila bulan benar-benar
hilang bagaimana kehidupan umuat manusia kedepan.

Pada saat itu karena sangat takut saya mengumpulkan teman-teman dan mengajak mereka
memukul semua benda yang menghasilkan suara keras, mungkin bagi orang tua saya mereka
geli melihat saya mungkin juga mereka menertawai diri mereka sendiri bahwa mereka juga
sama seperti saya dahulunya. Hah. Capek memang melakukan pekerjaan itu dulu, sekeras
apapun suara yang kami hasilkan tetap saja buto itu memakan bulan kita sampai habis tak
bersisa namun dengan semangat lagi kami berhasil mengembalikan bulan itu utuh kembali
sperti semula.

Pekerjaan yang menggelikan. Tahun-tahun berikutnya ketika buto itu datang lagi aku tidak
lagi melakukan hal yang aneh itu lagi karena kutahu kenapa terjadi gerhana bulan.
http://blogbiasasaja.blogspot.com/2009/03/mitos-jawa-tentang-gerhana-bulan.html