Anda di halaman 1dari 2

Moh. Dzulfikar W.

07/252579/TK/33127

PENERAPAN TEKNOLOGI PRODUKSI BERSIH, SOLUSI


HEMAT ENERGI
Sektor energi merupakan penggerak roda pembangunan ekonomi, namun dengan penggunaan
energi yang tidak efisien telah membuat berkurangnya cadangan energi kita, terutama energi yang
berasal dari fosil. Kenyataan ini justru menjadikan energi berpotensi menjadi penghambat
pembangunan. Diperlukan adanya suatu pengelolaan energi listrik yang bersifat preventive, terpadu dan
terus menerus untuk meningkatkan efisiensi penggunaan energi.

“Sejak tahun 1990-an BPPT telah mengembangkan konsep teknologi produksi bersih yang pada
awalnya diperkenalkan oleh UNEP (United Nations Environment Program) pada 1989/1990 ini.
Prinsip utamanya yaitu mencegah terjadinya polusi (pollution prevention) dengan menggunakan proses
produksi bersih (cleaner production). Kemudian konsep produksi bersih ini berkembang menjadi
produksi bersih untuk efisiensi energi, yaitu pelaksanaan efisiensi energi melalui produksi bersih”, jelas
Ketua Tim Efisiensi Energi Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Lingkungan BPPT Widiatmini
(12/11).

Teknologi produksi bersih ini, menurut Widiatmini, telah diterapkan di beberapa industri besar
di Indonesia, diantaranya Indocement, Krakatau Steel, Holcim, dan Indonesia Power. Dengan
menerapkan Teknologi Produksi Bersih ini, industri-industri tersebut bisa melakukan efisiensi, baik
dalam biaya produksi, maupun dalam penggunaan bahan baku. "Penerapan teknologi produksi bersih
secara terus menerus dan konsisten, dapat menghemat energi nasional dan juga dapat membantu
industri untuk mengefisiensikan penggunaan energi dan bahan baku sekitar 15% sehingga secara tidak
langsung juga dapat meningkatkan keuntungan industri karena penghematan biaya energi", katanya.

Widiatmini menjelaskan bahwa pelaksanaan tahapan dalam teknologi produksi bersih ini
diawali dengan dilakukannya evaluasi secara menyeluruh terhadap proses produksi dan peralatan yang
digunakan. Kemudian dilakukan kajian teknis yang biasanya diutamakan pada daerah-daerah yang
paling boros. Setelah pengkajian studi kelayakan secara teknis, ekonomis dan lingkungan ini, akan
muncul saran perbaikan yang dapat dilakukan oleh industri. Saran tersebut dapat berupa good
housekeeping, perbaikan alat maupun fasilitas, mengganti sebagian alat-alat maupun penggantian
seluruh alat-alat dalam proses produksi.

Prinsip-prinsip produksi bersih diantaranya yaitu, (1) Dirancang secara komprehensif dan pada
tahap sedini mungkin. Produksi bersih dipertimbangkan pada tahap sedini mungkin dalam
pengembangan proyek-proyek baru atau pada saat mengkaji proses atau aktifitas yang sedang
berlangsung. (2) Bersifat proaktif, harus diprakarsai oleh industri dan kepentingan-kepentingan yang
terkait. (3) Bersifat fleksibel, dapat mengakomodasi berbagai perubahan, perkembangan dibidang
politik, ekonomi, sosial budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi dan kepentingan berbagai kelompok
masyarakat, serta (4) Perbaikan yang berkelanjutan.

Selama ini BPPT telah melakukan sosialisasi dan diseminasi teknologi produksi bersih untuk
efisiensi energi ini dengan melalui pelatihan-pelatihan, kajian dan penerapan langsung ke industri,
sehingga dapat memberikan kesadaran dan pengertian pada industri maupun pihak pengguna teknologi
produksi bersih lainnya bahwa penerapan program ini tidak selalu mahal. “Saya harap tidak hanya
sektor industri saja yang menerapkan teknologi produksi bersih ini, pemerintah maupun masyarakat
pada umumnya juga sebenarnya dapat menerapkan teknologi ini. Saya yakin dengan penerapan
teknologi produksi bersih di semua sektor akan dapat mengurangi konsumsi energi secara berlebih”,
ungkap Widiatmini. (YRA/humas)