Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Ilmu ekonomi Islam sebagai studi ilmu pengetahuan modern baru muncul pada
tahun 1970-an, tetapi pemikiran tentang ekonomi Islam telah muncul sejak Islam
itu diturunkan melalui Nabi Muhammad Saw. Karena rujukan utama pemikiran
ekonomi Islami adalah Al Quran dan Hadis maka pemikiran ekonomi ini munculnya
juga bersamaan dengan diturunkan Al Quran dan masa kehidupan Rasulullah Saw
pada abad akhir 6 M hingga awal abad 7 M. Setelah masa tersebut banyak
sarjana muslim yang memberikan kontribusi karya pemikiran ekonomi.

Karya- karya mereka sangat berbobot, yaitu memiliki dasar argumentasi relijius
dan sekaligus intelektual yang kuat serta kebanyakan didukung oleh fakta
empiris pada waktu itu. Banyak diantaranya juga sangat futuristik dimana
pemikir- pemikir Barat baru mengkajinya ratusan abad kemudian. Pemikiran
ekonomi dikalangan pemikir muslim banyak mengisi khasanah pemikiran ekonomi
dunia pada masa dimana Barat masih dalam kegelapan (dark age). Pada masa
tersebut dunia Islam justru mengalami puncak kejayaan dalam berbagai bidang.


BAB II

PEMBAHASAN

A. Perekonomian di Masa Rasulullah Saw (571- 632 M)

Pada periode Makkah masyarakat Muslim belum sempat membangun
perekonomian, sebab masa itu penuh dengan perjuangan untuk mempertahankan
diri dari intimidasi orang orang Quraisy. Barulah pada periode Madinah
Rasulullah memimpin sendiri membangun masyarakat Madinah sehingga menjadi
masyarakat sejahtera dan beradab. Meskipun perekonomian pada masa beliau
relatif masih sederhana, tetapi beliau telah menunjukkan prinsip- prinsip yang
mendasar bagi pengelolaan ekonomi. Karakter umum dari dari perekonomian pada
masa itu adalah komitmennya yang tinggi terhadap pemerataan kekayaan.

Sebagaimana pada masyarakat Arab lainnya, mata pencaharian mayoritas
penduduk Madinah adalh berdagang, sebagian lainnya bertani, beternak, dan
berkebun. Berbade dengan Makkah yang gersang sebagian tanah di Madinah
relatif subur sehingga pertanian, peternakan dan perkebunan dapat dilakukan di
kota ini. Kegiatan ekonomi pasar relatif menonjol pada masa itu, dimana untuk
menjaga agar mekanisme pasar tetap berada dalam bingkai etika dan moralitas
Islam, Rasulullah mendirikan Al Hisbah untuk mengontrol pasar dan membentuk
Baitul Maal untuk kesejahteraan masyarakat.

Rasulullah mengawali pembangunan Madinah tanpa sumber keuangan yang pasti
sementara distribusi kekayaan juga timpang. Sumber pemasukan negara barasal
dari beberapa sumber tetapi yang palin pokok adalah Zakat dan Ushr. Secara
garis besar pemasukan negara ini dapat digolongkan bersumber dari umat Islam
sendiri berupa Zakat, Ushr (5-10%), Ushr (2,5%), Zakat Fitrah, Wakaf, Amwal
Fadila, Nawaib, Shadaqah yang lain, dan Khumus. Dari non- muslim berupa Jizyah,
Kharaj, dan Ushr (5%) dan umum berupa Ghanimah, Fay, Uang tebusan, pinjaman
dari kaum muslim atau non- muslim, dan hadiah dari pemimpin atau pemerintah
negara lain.

Sampai tahun ke-4 Hijrah, pendapatan dan sumber daya negara masih sangat
kecil. Kekayaan pertama datang dari Banu Nadir, suatu suku yang tinggal di
pinggiran Madinah. Kelompok ini masuk dalam piagam Madinah, tetapi mereka
melanggar perjanjian sehingga mereka ditaklukkan dan dipaksa meninggalkan
kota. Semua milik Banu Nadir yang ditinggalkan dan dibagikan kepada kaum
Muhajirin dan kaum Anshar yang miskin.

Harta rampasan perang juga merupakan pendapatan negara, meskipun nilainya
relatif tidak besar jika dibandingkan dengan biaya peperangan yang dikeluarkan.
Zakat dan Ushr merupakan sumber pendapatan pokok, terutama setelah tahun
ke-9 H dimana zakat mulai diwajibkan kecuali perempuan, anak-anak, pengemis,
pendeta, orang tua, dan orang yang menderita penyakit dibebaskan dari
kewajiban ini.

Beberapa sumber pendapatan yang tidak terlalu besar berasal dari beberapa
sumber, misalnya: tebusan tawanan perang, pinjaman dari kaum muslim, khumuz
atau rikaz (harta karun temuan pada periode sebelum Islam), amwal fadhla
(harta kaum muslimin yang meninggal tanpa ahli waris), wakaf, nawaib (pajak bagi
muslimin kaya dalam rangka menutupi pengeluaran negara selama masa darurat,
zakat fitrah, kaffarat (denda atas kesalahan yang dilakukan seorang mislim pada
acara keagamaan), maupun sedekah dari kaum muslim.



B. Pemikiran Ekonomi Islam: Kilasan Tokoh dan Pemikirannya

Terminoligi pemikiran ekonomi Islam disini mengandung dua pengertian, yaitu
pemikiran ekonomi yang dikemukakan oleh parasarjana muslim dan pemikiran
ekonomi yang didasarkan atas agama Islam. Dalam realitas kedua pengertian ini
sering kali menjadi kesatuan, sebab para sarjana muslim memang menggali
pemikirannya mendasarkan pada ajaran Islam. Pemikiran ekonomi dalam ajaran
Islam. Pemmikiran ekonomi dalam islam bertitik tolak dari Al Quran dan Hadis
yang merupakan sumber dan dasar utama Syariat Islam.

Nejatullah Siddiqi telah membagi sejarah pemikiran ini menjadi tiga periode,
yaitu periode pertama/ fondasi (Masa awal Islam 450 H/1058 M), periode
kedua (450-850 H/1058-1446 M), dan periode ketiga (850-1350 H/1446-1932
M). Periodesasi ini masih didasarkan pada kronologikal (urutan waktu) semata
bukan berdasarkan kesamaan atau kesesuaian ide pemikiran. Hal ini dilakukan
karena studi tentang sejarah pemikiran ekonomi Islam masih pada tahap
eksplorasi awal. Dan ditambahkan periode kontemporer (pemikiran yang muncul
sejak tahun 1930-an sampai sekarang).

1. Periode Pertama/Fondasi (Masa Awal Islam- 450 H/1058 M)

Pada periode ini banyak sarjana muslim yag pernah hidup bersama para sahabat
Rasulullah dan para tabiin sehingga dapat memperoleh referensi ajaran Islam
yang autentik. Beberapa diantaranya adalah:

a. Zaid bin Ali (120 H/798 M)

Zaid bin Ali, cucu Imam Husein bin Ali bin Abi Thalib merupakan ekonom pertama
yang memperbolehkan adanya harga tangguh tempo lebih tinggi daripada harga
tunai. Namun, ia melarang tegas riba dalam bentuk apapun.

b. Abu Hanifa (80-150 H/699- 767 M)

Salah satu kebijakan Abu Hanifa adalah menghilangkan ambiguitas dan
perselisihan dalam masalah transaksi, hal ini merupakan salah satu tujuan
Syariah dalam hubungan dengan jual beli dan dia menyebutkan contoh,
murabahah. Dalam murabahah persentase kenaikan harga didasarkan atas
kesepakatan antara penjual dan pembeli terhadap harga pembelian yang
pembayarannya diangsur. Pengalaman Abu Hanifa dibidang perdagangan
menjadikan beliau dapat menentukan mekanisme yang lebih adil dalam transaksi
ini dan transaksi yang sejenis.

c. Abu Yusuf (113-182 H/731-798 M)

Abu Yusuf menekankan pentingnya prinsip keadilan, kewajaran dan penyesuaian
terhadap kemampuan membayar dalam perpajakan, serta perlunya akuntabilitas
dalam pengelolaan keuangan negara. Ia juga membahas teknik dan sistem
pemungutan pajak, serta perlunya sentralisai pengambilan keputusan dalam
administrasi perpajakan. Menurutnya, negara memiliki peranan besar dalam
menyediakan barang/ fasilitas publik, yang dibutuhkan dalam pembangunan
ekonomi, seperti: jalan, jembatan, bendungan, dan irigasi. Dalam aspek mikro
ekonomi, ia juga telah mengkaji bagaimana mekanisme harga bekerja dalam
pasar, kontrol harga, serta apakah pengaruh berbagai perpajakan terhadapnya.

d. Muhammad bin Al Hasan Al Shaybani (132-189 H/750-804 M)

Muhammad bin Al Hasan Al Shaybani telah menulis beberapa buku, antara lain
Kitab al Iktisab fiil Rizq al Mustahab dan Kitab al Asl. Buku pertama banyak
membahas berbagai aturan Syariat tentang ijarah (hiring out), tijarah (trade),
ziraah (agriculture), dan sinaah (industry). Perilaku konsumsi ideal menurutnya
adalah sederhana, suka memberikan derma (charity), tetapi tidak suka meminta-
minta. Buku yang kedua membahas berbagai bentuk transaksi/ kerja sama usaha
dalam bisnis, misalnya salam (prepaid order), sharikah (partnership), dan
mudharabah.

e. Abu Ubayd Al Qasim Ibn Sallam (224 H/838 M)

Buku yang ditulis oleh Abu Ubayd yang berjudul Al Amwal yang membahas
keuangan publik/kebijakan fiskal secara komprehensif. Didalamnya dibahas
secara mendalam tentang hak dan kewajiban negara, pengumpulan dan penyaluran
zakat, khums, kharaj, fay, dan berbagai sumber penerimaan negara lainnya.

f. Harith bin Asad Al Muhasibi (243 H/859 M)

Harith bin Asad menulis buku berjudul Al Makasib yang membahas cara- cara
memperoleh pendapatan sebagai mata pencaharian melalui perdagangan, industri,
dan kegiatan ekonomi produktif lainnya. Pendapatan ini harus diperoleh secara
baik dan tidak melampaui batas/ berlebihan. Laba dan upah tidak boleh dipungut
atau dibayarkan secara lazim, sementara menarik diri dari kegiatan ekonomi
bukanlah sikap muslim yang benar- benar Islami. Harith menganjurkan agar
masyarakat harus bekerja sama dan menguk sikap pedagang yang melanggar
hukum (demi mencari keuntungan).

g. Junaid Baghdadi (297 H/910 M)

Junaid Baghdadi merupakan seorang sufi, karenanya ide- idenya tentang ekonomi
tergambar dari ajaran- ajaran tasawufnya. Menurutnya, inti dari ajaran tasawuf
adalah membuang motivasi untuk mementingkan diri sendiri dalam meningkatkan
kualitas spiritual serta mengabdikan diri pada pengetahuan yang benar. Seorang
muslim juga harus melakukan apa yang terbaik untuk kepentingan abadi,
mengharapkan kebajikan untuk seluruh masyarakat, serta menjadi benar- benar
beriman kepada Allah swt dengan mengikuti sunah Nabi Muhammad saw.

h. Ibn Miskwaih (421 H/1030 M)

Ibn Miskwaih menulis buku yang berjudul Tahdib al Akhlaq yang banyak
membahas tentang pertukaran barang dan jasa serta peranan uang. Menurutnya,
manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lainnya untuk
memenuhi kebutuhan barang dan jasa. Karenanya, menusia akan melakukan
pertukaran barang dan jasa dengan kompensasi yang pas. Dalam melakukan
pertukaran uang akan berperan sebagai alat penilai dan penyeimbang dalam
pertukaran, sehingga dapat tercipta keadilan.

i. Mawardi (450 H/1058 M)

Pemikiran Mawardi tentang ekonomi terutama dalam bukunya yang berjudul, Al
Ahkam al Sulthoniyyah dan Adab al Din wal Dunya. Bukunya yang pertama banyak
membahas tentang pemerintah dan administrasi, juga terdapat tugas muhtasib
untuk mengawasi pasar, menjamin ketepatan timbangan dan berbagai ukuran
lainnya, serta mencegah penyimpangan transaksi dagang dan pengrajin dari
ketentuan syariah. Buku yang kedua banyak membahas tentang perilaku ekonomi
muslim secara individual yang disampaikan melalui ajaran- ajaran tasawuf tentang
budi luhur dalam perekonomian dan juga membahas perilaku- perilaku yang dapat
merusak budi luhur.

2. Periode Kedua (450-850 H/1058-1446 M)

Pemikiran ekonomi pada masa ini banyak dilatarbelakangi oleh menjamurnya
korupsi dan dekadensi moral, serta melebarnya kesenjangan antara golongan
miskin dan kaya, meskipun secara umum kondisi perekonomian masyarakat Islam
berada dalam taraf kemakmuran. Terdapat pemikir- pemikir besar yang karyanya
banyak dijadikan rujukan hingga kini, diantaranya adalah:

a. Al Ghazali (451-505 H/1055-1111 M)

Dalam pandangan Al Ghazali, kegiatan ekonomi merupakan amal kebajikan
mencapai maslahah untuk memperkuat sifat kebijaksanaan, kesederhanaan, dan
keteguhan hati manusia. Lebih jauh Al Ghazali membagi manusia ke dalam tiga
kategori, yaitu: pertama, orang yang kegiatan hidupnya sedemikian rupa sehingga
melupakan tujuan akhirat. Kedua, orang yang mementingkan tujuan akhirat
daripada tujuan duniawi, golongan ini akan beruntung. Dan ketiga, golongan
pertengahan/kebanyakan orang, yaitu mereka yang kegiatannya sejalan dengan
tujuan akhirat.

b. Ibn Taimiyah (661-728 H/1263-1328 M)

Ibn Taimiyah telah membahas pentingnya suatu persaingan dalam pasar yang
bebas, peranan market supervisor dan lingkup dari peranan negara. Negara
harus mengimplementasikan aturan main yang Islami sehingga produsen,
pedagang, dan para agen ekonomi lainnya dapat melakukan transaksi secara jujur
dan fair. Negara juga harus menjamin pasar berjalan dengan bebas dan
terhindar dari praktik- praktik pemaksaan, menipulasi, dan eksploitasi yang
memanfaatkan kelemahan pasar sehingga persaingan dapat berjalan dengan
sehat. Selain itu, negara bertanggung jawab atas pemenuhan kebutuhan dasar
dari rakyatnya.

c. Ibn Khaldun (732-808 H/1332-1404 M)

Secara umum Ibn Khaldun sangat menekankan pentingnya suatu sistem pasaryang
bebas. Ia menentang intervensi negara terhadap masalah ekonomi dan percaya
akan efensiensi sistem pasar bebas. Ia juga telah membahas tahap- tahap
pertumbuhan dan penurunan perekonomian dimana dapat saja berbeda antara
satu negara dengan negara lainnya. Ia juga menekankan pentingnya demand side
economics khususnya pengeluaran pemerintah, sebagaimana pandangan Keynesian,
untuk mencegah kemerosotan bisnis dan menjaga pertumbuhan ekonomi. Dalam
situasi kemerosotan ekonomi, pajak harus dikurangi dan pemerintah harus
meningkatkan pengeluarannya untuk merangsang pertumbuhan ekonomi.

d. Nasiruddin Tusi (485 H/1093 M)

Tusi sangat menekankan pentingnya tabungan dan mengutuk konsumsi yang
berlebihan serta pengeluaran- pengeluaran untuk aset- aset yang tidak
produktif, seperti perhiasan dan pnimbunan tanahtidak produktif. Ia memandang
pentingnya pembangunan pertanian sebagai fondasi pembangunan ekonomi secara
keseluruhan dan untuk menjamin kesejahteraan masyarakat. Ia juga
merekomendasikan pengurangan pajak, dimana berbagai pajak yang tidak sesuai
dengan syariah Islam harus dilarang.

3. Periode Ketiga (850-1350 H/1446-1932 M)

Dalam periode ketiga ini kejayaan pemikiran, dan juga dalam bidang lainnya, dari
umat Islam sebenarnya telah mengalami penurunan. Namun demikian, terhadap
beberapa pemikiran ekonomi yang berbobot selama dua ratus tahun terakhir,
sebagaimana tampak dalam karya dari:

a. Shah Waliullah (1114-1176 H/1703-1762 M)

Berdasarkan pengamatannya terhadap perekonomian di Kekaisaran Mughal India,
Waliullah mengmukakan dua faktor utama yang menyababkan penurunan
pertumbuhan ekonomi. Dua faktor tersebut yaitu: pertama, keuangan negara
dibebani dengan berbagai pengeluaran yang tidak produktif. Kedua, pajak yang
dibebankan kepada pelaku ekonomi terlalu berat sehingga menurunkan semangat
berekonomi. Menurutnya, perekonomian dapat tumbuh jika terdapat tingkat
pajak yang ringan yang didukung oleh administrasi yang efisiensi.

b. Muhammad Iqbal (1289-1356 H/1873-1938 M)

Muhammad Iqbal dikenal sebagai filosof, sustrawan juga pemikir politik tetap
sebenarnya ia juga memiliki pemikiran- pemikiran ekonomi yang brilian.
Pemikirannya memang tidak berkisar tentang hal- hal teknis dalam ekonomi,
tetapi lebih kepada konsep- konsep umum yang mendasar. Iqbal menganalisis
dengan tajam kelemahan kapitalisme dan komunisme dan menampilkan suatu
pemikiran poros tengah yang dibuka oleh Islam.

4. Periode Kontemperer (1930- sekarang)

Era tahun 1930-an merupakan masa kebangkitan kembali intelektualitas di dunia
Islam. Kemerdekaan negara- negara muslim dari kolonialisme Barat turut
mendorong semangat para sarjana muslim dalam mengembangkan pemikirannya.
Khurshid membagi perkembangan ekonomi Islam kontemporer menjadi empat
fase yaitu:

1. Fase Pertama

Pertengahan 1930-an banyak muncul analisis masalah ekonomi sosial dari
perspektif Islam sebagai wujud kepedulian terhadap dunia Islan yang secara
umum dikuasai oleh negara- negara Barat. Meskipun kebanyakan analisis ini
berasal dari para ulama yang tidak memiliki pendidikan formal bidang ekonomi ,
namun langkah mereka telah membuka kesadaran baru tentang perlunya
perhatian yang serius terhadap masalah sosial ekonomi.

2. Fase Kedua

Pada tahun 1970-an banyak ekonom muslim yang berjuang keras mengembangkan
aspek tertentudari ilmu ekonomi Islam, terutama dari sisi moneter. Mereka
banyak mengetengahkan pembahasan tentang bunga dan riba dan mulai
menawarkan alternatif pengganti bunga. Konferensi internasional pertama
diadakan di Makkah, Saudi Arabia pada tahun 1976, disusul Konferensi
Internasional tentang Islam dan Tata Ekonomi Internasional Baru di London,
Inggris pada tahun 1977. Sejak itu banyak karya tulis yang dihasilkan dalam
wujud makalah, jurnal ilmiah hingga buku, baik yang dipresentasikan dalam
pertemuan- pertemuan internasional maupun yang diterbitkan secara khusus.

3. Fase Ketiga

Perkembangan ekonomi Islam selama satu setengah dekade terakhir menandai
fase ketiga dimana banyak berisi upaya- upaya praktikal- operasional bagi
realisasi perbankan tanpa bunga, baik di sektor publik maupun swasta. Bank- bank
tanpa bunga banyak didirikan, baik di negara- negara muslim maupun di negara-
negara non- muslim, misalnya di Eropa dan Amerika. Dengan berbagai kelemahan
dan kekurangan atas konsep bank tanpa bunga yang digagas oleh para ekonom
muslim (dan karenanya terus disempurnakan) langkah ini menunjukkan kekuatan
riil dan keniscayaan dari sebuah teori keuangan tanpa bunga.

4. Fase Keempat

Pada saat ini perkembangan ekonomi Islam sedang menuju kepada sebuah
pembahasan yang lebih integral dan komprehensif terhadapteori dan praktik
ekonomi Islam. Adanya berbagai keguncangan dalam sistem ekonomi
konvensional, yaitu kapitalisme dan sosialisme, menjadi sebuah tantangan
sekaligus peluang bagi implementasi ekonomi Islam. Dari sisi teori dan konsep
yang terpenting adalah membangun sebuah kerangka ilmu ekonomi yang
menyeluruh dan menyatu, baik dari aspek mikro maupun makro ekonomi. Berbagai
metode ilmiah yang baku banyak diaplikasikan disini. Dari sisi praktikal adalah
bagaimana kinerja lembaga ekonomi yang telah (misalnya bank tanpa bunga) dapat
berjalan baik dengan menunjukkan segala keunggulannya, serta perlunya upaya
yang berkesinambungan untuk mengaplikasikan teori ekonomi Islam.

Pada awalnya, perkembangan ini diawali oleh kiprah para ulama (yang kebanyakan
tidak didukung pengetahuan ekonomi yang memadai) dalam menyoroti berbagai
persoalan sosial ekonomi saat itu dari perspektif Islam.

Zarqa membagi topik- topik kajian dari para ekonom dimasa ini menjadi tiga
kelompok tema, yaitu:

a. Perbandingan sistem ekonomi Islam dengan ekonomi lainnya, khususnya
kapitalisme dan sosialisme

b. Kritik terhadap sisten- sistem ekonomi konvensional, baik dalam tataran
filosofi maupun praktikal

c. Pembahasan yang mendalam tentang ekonomi Islam itu sendiri, baik
secara mikro maupun makro.

C. Melacak Missing Link Sejarah Pemikiran Ekonomi

Dalam magnus opusnya, History of Economic Analysis, Joseph Schumpeter
mengatakan, bahwa terdapat suatu great gap dalam sejarah pemikiran ekonomi
selama lebih dari 500 tahun, yaitu pada masa yang dikenal sebagai dark ages oleh
Barat. Pada masa kegelapan tersebut Barat dalam keadaan terbelakang, dimana
tidak terdapat prestasi intelektual yang gemilang termasuk juga dalam pemikiran
ekonomi. Demikian pula pada kebanyakan buku sejarah pemikiran ekonomi,
misalnya Spiegel (1991), menganggap pada masa dark age tidak terdapat karya
pemikiran tentang ekonomi. Spiegel memang membuka sejarah pemikiran ekonomi
dari Bibel (1M) dan para pemikir Yunani (SM), akan tetapi kemudian setelah itu
melompat ribuan tahun langsung pada pemikiran abad pertengahan.

Ternyata penilaian tentang dark age tersebut sangat bias dengan kepentingan
Barat. Dunia secara keseluruhan tentu bukan hanya dunia Barat, dan Barat
tidaklah mewakili dunia secara keseluruhan. Sebenarnya, pada sebagian besar
masa dark age itu justru merupakan masa kegemilangan di dunia Islam, suatu hal
yang berusaha ditutup- tutupi oleh Barat. Pada masa itu banyak karya- karya
gemilang diberbagai bidang ilmu, termasuk ilmu ekonomi, yang lahir dari sarjana-
sarjana muslim. Jadi, sesungguhnya terdapat dua missing link dalam sejarah
pemikiran ekonomi, yaitu great gap pada masa dark age dan relasi antara
pemikiran di Barat dan dunia Islam. Dan ternyata banyak pemikiran dari para
sarjana muslim tersebut yang mirip, bahkan sama dengan pemikiran para sarjana
Barat yang hidup beratus- ratus tahun kemudian.

D. Pemikiran Ekonomi dari Timur (Islam) ke Barat

Pemikiran para sarjana muslim ternyata banyak yang mirip, sejalan atau bahkan
sama dengan pemikiran para ekonom Barat yang datangnya beratus- ratus
kemudian. Terdapat beberapa kemungkinan jawaban, antara lain:

a. Terjadi dua kebetulan yang sama, yaitu kebetulan diantara sarjana muslim
dengan para ekonom Barat punya pemikiran dan ide yang sama.

b. Para pemikir Barat secara langsung dan tidak langsung sangat dipengaruhi
oleh pemikiran dari para sarjan muslim.

c. Para pemikir Barat melakukan plagiasi/ penjiplakan terhadap karya- karya
para sarjana muslim.

Jika kemungkinan pertama yang terjadi, hal ini mengindikasikan betapa
cemerlang dan briliannya para sarjana muslim waktu itu. Beratus- ratus tahun
yang lalu, jauh ketika dunia Barat masih dalam kebodohan dan kegelapan (dark
age), para sarjana muslim berhasil merumuskan pemikiran- pemikiran ekonomi
yang baru ditulis oleh para ekonom Barat beratus- ratus kemudian.

Untuk memilih kemungkinan kedua dan ketiga,tentunya akan membutuhkan
diskusi yang panjang. Namun langkah awal dapat dilakukan dengan mencermati
sejarah proses perpindahan (transformasi) ilmu pengetahuan dari dunia Islam ke
Barat. Dengan mencermati proses transformasi ini maka akan ditemukan
indikasi- indikasi untuk menjawab pertanyaan mengapa banyak terjadi kesamaan
antara pemikiran sarjana muslim dan sarjana Barat. Sejarah telah membuktikan
bahwa dunia ilmu pengetahuan dikalangan masyarakat muslim mendapat pengaruh
yang luar biasa terhadap dunia luar, termasuk Eropa. Kebudayaan dan ilmu
pengetahuan Ialam mencapai Eropa melalui beberapa cara, yaitu:

1. Melalui para mahasiswa dan cendekiawan dari Eropa Barat yang belajar
disekolah- sekolah tinggi dan universitas Spanyol dan Timur Tengah.

2. Melalui terjemahan-terjemahan karya- karya muslim dari sumber- sumber
bahasa Arab terutama ke dalam bahasa Inggris, Prancis, Spanyol, dan
Catalonia/latin.

3. Melalui Andalusia dimana kaum muslimin telah menetap di negeri ini sekitar
8 abad lamanya. Kebudayaan Islam di Andalusia melalui perkembangan pesat
diberbagai pusat kota, misalnya Cordova, Sevila, Granada.

4. Melalui Sisilia, kaum muslim menundukkan Sisilia pada masa akhir lewat
tangan Dinasti Aghlabiyyah yang berkuasa dikawasan Tunis dan Aljazair.

5. Melalui perang Salib menetapnya pasukan salib dalam waktu yang lama di
dunia Islam antara abad ke-5 sampai abad ke-7 H atau 12-14 M membuat mereka
berhubungan dengan berbagai aspek kebudayaan Islam.

6. Melalui perdagangan antar Barat dan Timur lewat Mesir.

Selain itu, banyak universitas di Eropa yang didirikan oleh orang- orang Kristen,
tetapi mendapat pengaruh Islam yang besar, baik dari para pengajar/dosen
maupun literatur- litaratur yang digunakannya. Pendirian universitas di Eropa
waktu itu harus mendapat izin dari Paus terlebih dahulu karena untuk menjaga
agar pelajaran- pelajaran tidak menyimpang dari kemurnian ilmu para sarjana
muslim.

Dengan mempertimbangkan fakta diatas, maka sangatlah mungkin kalau para
ekonom Barat kemungkinan dipengaruhi/ bahkan menjiplak karya- karya sarjana
muslim. Indikasi ini diperkuat pula oleh kenyataan bahwa beberapa praktik
ekonomi di Barat diadopsi dan diadaptasi dari praktik ekonomi didalam Islam,
misalnya: syirkah (serikat dagang/ partnership), suftaja (bills of exchange),
hawala (letter of credit), funduq (specialized large scale commercial institution
and market which developed into virtual stock exchanges).


BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Great gap selama 500-an tahun dalam sejarah pemikiran ekonomi pada masa dark
age di Barat sebagaimana disinyalir oleh Schumpeter pada dasarnya bisa
terungkap dangan memperhatikan kejadian didunia Islam. Pada masa
tersebutdunia Islam justru mencapai masa kegemilangan dimana banyak terdapat
pemikiran ekonomi yang cemerlang. Pemikiran ekonomi didunia Islam telah ada
sejak abad ke-7 M, bersamaan dengan lahirnya agama Islam.

Banyak kesamaan/kemiripan antara pemikiran ekonomi sarjana muslim dengan
Barat meskipun para sarjana muslim ini hidup ratusan tahun sebelum para pemikir
Barat. Dengan memperhatikan sejarah pemikiran ekonomi didunia Islam dan
kemungkinan proses transformasi dari dunia Islam ke Barat, maka hal ini
menimbulkan urgensi untuk melakukan rekonstruksi sejarah pemikiran ekonomi
dunia. Sejarah pemikiran ekonomi dunia saat ini sesungguhnya hanyalah sejarah
di Barat. Demi obyektifitas dan kejujuran penulisan sejarah pemikir ekonomi,
maka konstribusi dari dunia Islam harus diperhatikan.