Anda di halaman 1dari 22

SEJARAH PALANG MERAH INDONESIA

Palang Merah Indonesia atau PMI sebagai Organisasi Nasional dan


anggota Palang Merah Internasional, tergabung dalam ICRC atau
Internasional Committee of The Red Cross dan League of Nation Red
Cross Society atau Liga Palang Merah Sedunia Sejak tahun 1870 di
jaman penjajahan Belanda dengan nanra The Nederlands Indische
Rode Kruis atau
Palang Merah Hindia Belanda.

Dan pada tahun 1939 seiring dengan timbulnya dorongan dan


perjuangan kebangsaan, maka dua tokoh kebangsaan Dr. Rel senduk
dan Dr. Bahder Djohan mengusulkan kepada pemerintah Hindia
Belanda untuk membentuk Palang Merah

Indonesia. Meskipun ditolak untuk kedua kalinya tahun 1940 gagasan


mulia ini diajukan kembali dan pemerintah Hindia Belanda tetap
menolak.

Kemudian pada jaman pendudukan Jepang tahun 1942 sampai


dengan 1945 telah dirintis kembali perjuangan pembentukan Palang
Merah Indonesia tetapi belum juga dapat terwujud.

Kemauan dan tekad yang membaja untuk membentuk Palang Merah Indonesia diteruskan karena tuntutan yang
mendesak guna memberikan pertolongan kepada para korban pertempuran dalam perjuangan bangsa mengusir
penjajah.

Dan barulah pada tanggal 3 September 1945 dikeluarkanlah perintah Presiden R.I kepadaMenteri Kesehatan dr.
Boentaran Martoatmojo untuk menjajagi kemungkinan terbentuknya Palang Merah Indonesia

tanggal 5 September 1945 dibentuklah panitia persiapan yang terdiri dari 5 or-an adalah Dr. Mochtar, Dr. Bahder
Djohan, Dr. Sitanala, Dr. Djoehana. Panitia lima inilah bertugas membentuk Palang Merah Indonesia.

Dan akhimya pada tanggal 17 September 1945 terbentuklah Perhimp unan Palang Merah Indonesia, bersamaan
dengan dilantiknya Pengurus Besar PMI pertama adalah:
Ketua : Drs. Moh Hatta
Wakil Ketua : Dr. R. Boentaran Martoatmodjo
Badan Penulis terdiri dari : Dr. R. Mochtar, Dr. Bahder Djohan, Mr. Santoso
Bendahara : Mr. T.Saubari
Penasehat : K.H. Raden Adrian

Setelah pengakuan kedaulatan, catatan peristiwa penting dalam Organisasi Palang Merah Indonesia adalah :

* Dikeluarkan keputusan pemerintah No. 25 tahun 1950 tertanggal 16 Januari 1950 tentang pengesahan Palang
Merah Indonesia sebagai satu-satunya organisasi Palang Merah di Indonesia.
* Palang Merah Indonesia diakui oleh ICRC, INTERNATIONAL COMMITTEE OF THE RED CROSS dengan
surat No. 392 tertanggal 15 Juni 1950.
* Tanggal 16 Oktober 1950 Palang Merah Indonesia diterima sebagai Liga Palang Merah International LEAGUE
OF NATION RED CROSS SOCIETY
* Dengan telah ditandatangani KONVENSI GENEVA oleh utusan Pemerintah RI maupun perwakilan Palang
Merah Indonesia, maka pemerintah RI telah menetapkan UU No. 59 tahun 1958.

Palang Merah Indonesia berdiri dan bertindak atas dasar Sapta Prinsip Palang Merah, yaitu :

1. Kemanusiaan
2. Kesamaan
3. Kenetralan
4. Kemandirian
5. Kesukarelaan
6. Kesatuan
7. Kesemestaan

Dengan semua tindak dan langkahnya tidak terlepas dari identias Bangsa Indonesia yaitu Pancasila dan UUD
1945.

Palang Merah Indonesia adalah organisasi yang netral dan independent, yang melakukan kegiatannya demi
kemanusiaan, kesukarelaan, kenetralan, kesamaan, kemandirian, kesatuan, dan kesemestaan.

Palang Merah Indonesia tidak melibatkan diri/berpihak pada golongan politik, ras, suku ataupun agama tertentu.
Dalam pelaksanaannya tidak melakukan pembedaan tetapi mengutamakan objek korban yang paling
membutuhkan pertolongan segera untuk keselamatan jiwanya.
ORGANISASI PALANG MERAH INDONESIA (PMI)

SEJARAH PMI
Berdirinya Palang Merah di Indonesia sebenarnya sudah dimulai sejak masa
sebelum Perang Dunia Ke-II. Saat itu, tepatnya pada tanggal 21 Oktober 1873
Pemerintah Kolonial Belanda mendirikan Palang Merah di Indonesia dengan nama
Nederlands Rode Kruis Afdeling Indie (Nerkai), yang kemudian dibubarkan pada saat
pendudukan Jepang.
Perjuangan untuk mendirikan Palang Merah Indonesia sendiri diawali sekitar tahun 1932. Kegiatan tersebut
dipelopori oleh Dr. RCL Senduk dan Dr Bahder Djohan. Rencana tersebut mendapat dukungan luas terutama
dari kalangan terpelajar Indonesia. Mereka berusaha keras membawa rancangan tersebut ke dalam sidang
Konferensi Nerkai pada tahun 1940 walaupun akhirnya ditolak mentah-mentah. Terpaksa rancangan itu
disimpan untuk menunggu kesempatan yang tepat. Seperti tak kenal menyerah, saat pendudukan Jepang,
mereka kembali mencoba untuk membentuk Badan Palang Merah Nasional, namun sekali lagi upaya itu
mendapat halangan dari Pemerintah Tentara Jepang sehingga untuk kedua kalinya rancangan itu harus kembali
disimpan.
Tujuh belas hari setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, yaitu pada tanggal 3 September 1945,
Presiden Soekarno mengeluarkan perintah untuk membentuk suatu badan Palang Merah Nasional. Atas
perintah Presiden, maka Dr. Buntaran yang saat itu menjabat sebagai Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Kabinet I, pada tanggal 5 September 1945 membentuk Panitia 5 yang terdiri dari: dr R. Mochtar (Ketua), dr.
Bahder Djohan (Penulis), dan dr Djuhana; dr Marzuki; dr. Sitanala (anggota).
Akhirnya Perhimpunan Palang Merah Indonesia berhasil dibentuk pada 17 September 1945 dan merintis
kegiatannya melalui bantuan korban perang revolusi kemerdekaan Republik Indonesia dan pengembalian
tawanan perang sekutu maupun Jepang. Oleh karena kinerja tersebut, PMI mendapat pengakuan secara
Internasional pada tahun 1950 dengan menjadi anggota Palang Merah Internasional dan disahkan
keberadaannya secara nasional melalui Keppres No.25 tahun 1959 dan kemudian diperkuat dengan Keppres
No.246 tahun 1963.

Kini jaringan kerja PMI tersebar di 30 Daerah Propinsi / Tk.I dan 323 cabang di daerah Tk.II serta dukungan
operasional 165 unit Transfusi Darah di seluruh Indonesia.

PERAN DAN TUGAS PMI


Peran PMI adalah membantu pemerintah di bidang sosial kemanusiaan, terutama tugas kepalangmerahan
sebagaimana dipersyaratkan dalam ketentuan Konvensi-Konvensi Jenewa 1949 yang telah diratifikasi oleh
pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1958 melalui UU No 59.

Tugas Pokok PMI :


+ Kesiapsiagaan bantuan dan penanggulangan bencana
+ Pelatihan pertolongan pertama untuk sukarelawan
+ Pelayanan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat
+ Pelayanan transfusi darah ( sesuai dengan Peraturan Pemerintah no 18 tahun 1980)
Dalam melaksanakan tugasnya PMI berlandaskan pada 7 (tujuh) prinsip dasar Gerakan Palang Merah dan
Bulan Sabit Merah, yaitu Kemanusiaan, Kesukarelaan, Kenetralan, Kesamaan, Kemandirian, Kesatuan dan
Kesemestaan.

SEKILAS KINERJA PMI DARI MASA KE MASA

Dasawarsa I 1945 -1954


Pada masa perang kemerdekaan RI, peranan PMI yang menonjol adalah di bidang Pertolongan pertama,
Pengungsian, Dapur Umum, pencarian dan pengurusan repatriasi, bekerjasama dengan ICRC dan Palang
Merah Belanda untuk Romusha, Heiho , Tionghoa; anak-anak Indo Belanda dan 35.000 tawanan sipil Belanda
dan para Hoakian yang kembali ke RRC. Sementara itu diadakan pula pendidikan untuk para juru rawat yang
akan dikirim ke pos-pos P3K di daerah pertempuran.
Saat itu sudah ada 40 cabang PMI di seluruh Indonesia dan setiap cabang memiliki dua buah Pos P3K sebagai
Tim Mobil Collone.
Rumah Sakit Umum Palang Merah di Bogor yang semula di bawah pengelolaan Nerkai, pada tahun 1948
disumbangkan kepada PMI Cabang Bogor dengan nama Rumah Sakit Kedunghalang dan sejak tahun 1951
dikelola menjadi Rumah Sakit Umum PMI hingga sekarang.
PMI juga mulai menyelenggarakan kegiatan pelayanan sumbangan darah yang masih terbatas di Jakarta dan
beberapa kota besar seperti Semarang, Medan, Surabaya dan Makasar dengan nama Dinas Dermawan Darah.

Dalam peristiwa pemberontakan RMS (Republik Maluku Selatan), PMI bekerjasama dengan ICRC
melaksanakan pelayanan kesehatan yang dipimpin oleh Dr. Bahder Djohan dan BPH Bintara berupa Rumah
Sakit terapung di Ambon. Juga diadakan penyampaian berita keluarga yang hilang/ terpisah serta mengunjungi
tawanan.

PMI mulai mengembangkan kegiatn kepemudaan dengan 7.638 anggota remaja di 29 Cabang PMI.
Bekerjasama dengan Yayasan Kesejahteraan Guru, murid dan anak-anak sepakat membentuk unit PMR di
sekolah-sekolah, penerbitan majalah PMR, korespodensi, pertukaran album, lomba, pameran lukisan, serta
penyelenggaraan sanatoria (perawatan paru-paru untuk anak-anak).

DASAWARSA II 1955 - 1964


Akibat Pemberontakan PRRI di Sumatera Barat dan Permesta di Sulawesi Utara, Markas Besar PMI
mengirimkan kapal-kapal PMI ke daerah tersebut untuk menjemput orang-orang asing di sana dan juga
mengirimkan 4 tim medis ke Sumatera serta 6 tim ke Sulawesi Utara.
Setelah Presiden Soekarno mencetuskan Tri Komando Rakyat (Trikora) untuk membebaskan Irian Barat pada
tanggal 19 Desember 1961, Pengurus Besar PMI memanggil Kesatuan Sukarela seluruh Cabang untuk siap
siaga. Kemudian terbentuklah Kesatuan Nasional yang terdiri dari 11 cabang yang telah diseleksi. Sukarelawan
Palang Merah yang ditugaskan sebagai perawat berjumlah 259 orang dan 770 orang sebagai cadangan.

Pada peristiwa Aru 15 Januari 1952, yaitu tenggelamnya Kapal Perang RI Macan Tutul, sebanyak 55 orang
awak kapal perang tersebut menjadi tawanan Belanda sehingga atas permintaan Menteri/KSAL, PMI
menghubungi ICRC untuk menangani tawanan tersebut. Berkat usaha Sekjen PBB, pihak Belanda menyetujui
penyerahan awak kapal di Singapura.
Pada tahun 1963 ketika Gunung Agung di Bali meletus , PMI bersama Dinkes Angkatan Darat RI membantu
penanggulangan para korban bencana tersebut.

Ketika Tim Kesatuan Nasional PMI ke Kalimantan Barat dalam rangka Dwikora (Dwi Komando Rakyat), telah
dikirimkan Tim Kesehatan Nasional untuk membantu Operasi TUMPAS di Sulawesi Selatan.

DASA WARSA III 1965-1975


Penerbitan Surat Keputusan mengenai Peraturan menteri Kesehatan RI No.23 dan No.024 mengenai
pengakuan Pemerintah RI untuk pertamakali terhadap keberadaan Usaha Transfusi Darah (UTD) PMI.
Dalam peringatan HUT PMI ke-25 , 17 September 1970 , Pengurus Besar PMI mengeluarkan suatu medali
khusus dan penghargaan kepada perintis-perintis PMI, seperti: Drs. Moh. Hatta dan Prof. Dr. bahder Johan dan
Pengurus PMI Daerah/Cabang seluruh Indonesia.
Setahun kemudian ,1971 diresmikan berdirinya suatu DAJR (Dinas Ambulance Jalan Raya) Jakarta - Bandung
sebanyak 7 pos yang dipusatkan di RSU-PMI Bogor. Ambilans yang digunakan adalah ambulance Falcon yang
dilengkapi personil, alat-alat pertolongan pertama, dan telepon radio.

DASAWARSA IV 1975 -1984


Kerjasama PMI-ICRC
PMI mulai berperan di Timor Timur bulan Agustus 1975 sejak mengalirnya pengungsi Timor Timur ke
perbatasan Timor Barat di Atambua. Operasi kemanusiaan di Dili dimulai bulan Desember 1975 atas permintaan
PSTT (Pemerintah Sementara Timor Timur). Kemudian kelak pada bulan Oktober tahun 1979 PMI bekerja sama
dengan ICRC mulai membuka pos bantuan relief di 7 Kecamatan terpencil di Timor Timur.
Atas permintaan Pemerintah RI, PMI didukung UNHCR membentu pengungsi Vietnam di Pulau Galang dalam
bidang kesehatan dan kesejahtraan social, antara lain dengan mendirikan RS Pulau Galang. PMI juga
mengadakan Tracing and Mail Service bekerjasama dengan ICRC.

Bencana Alam
Ketika gempa bumi melanda Bali Juli 1976 yang melanda 3 dari 5 kabupaten
PMI mengerahkan tenaga sukarela, membuka Dapur Umum dan membantu perbaikan 500 buah rumah.
Bekerjasama dengan tim medis dari Angkatan Darat, memberikan pelayanan kesehatan makanan dan obat-
obatan.
Di tahun yang sama gempa bumi melanda Kecamayan Kurima dan Okbibab di Kabupaten Jayawijaya dengan
kekuatan 6,8 Skala Richter.
PMI juga turun langsung membantu korban bencana Galunggung tahun 1982 selama beberapa bulan

Transfusi Darah
Tahun 1978 Pengurus Pusat memberikan penghargaan Pin Emas untuk pertamakalinya kepada donor darah
sukarela 75 kali.
Ketentuan tentang tugas dan peran PMI dalam pelayanan transfusi darah dikeluarkan oleh pemerintah melali
Peraturan Pemerintah No.18 th 1980

DASAWARSA V 1984 - 1994


Setelah beberapa kali pindah dari Jl.Abdul Muis ke beberapa lokasi, akhirnya kantor pusat PMI menetap di
Jl.Jendral Gatot Subroto Kav.96 yang diresmikan oleh Presiden Suharto pada tahun 1985.

Tracing and Mailing RRC-RI


Selain pelayanan Tracing and Mailing Service (TMS) untuk pengungsi di Pulau Galang, pada tahun 1987 TMS
PMI mengurus kunjungan keluarga dari RRC ke Indonesia yang pertama kalinya sejak hubungan diplomatik
kedua negara itu tahun 1967 terputus.
Di Jakarta, PMI ikut membantu para korban musibah tabrakan kereta api Bintaro berupa pertolongan P3K,
Transfusi Darah, TMS, serta pemberian pakaian pantas di sejumlah RS di Jakarta tempat korban dirawat.

Bencana alam
PMI mengerahkan 700 orang KSR/PMR dan 8 tenaga dokter untuk membantu korban banjir bandang di
Semarang Jawa Tengah dan juga ikut membantu korban Letusan Gunung Kelud Jawa Timur tahun 1990
dengan bantuan pangan dan obat-obatan senilai Rp.8.583.400,-
Untuk turut menanggulangi bencana gempa bumi Tsunami di Flores 12 Desember 1992, PMI membentuk
Satgas KSR Serbaguna yang disebut SATGAS MERPATI I.

Perang Teluk tahun 1991


Dengan pecahnya Perang Teluk, Pemerintah Indonesia mempercayakan kepada PMI untuk memimpin
pengiriman bantuan masyarakat Indonesia dengan pesawat khusus ke Jordania, untuk korban Perang Teluk
sebanyak dua kali. Bantuan sandang, pangan, obat-obatan dan peralatan listrik yang diberikan senilai 249 juta
rupiah.

Uji Saring Darah HIV


Penyebaran virus HIV yang semakin meningkat mendorong terbitnya Keputusan Menteri Kesehatan RI
No.622/1992 tentang kewajiban pemeriksaan virus HIV pada donor darah. Sejalan dengan itu, Depkes RI
memberikan bantuan reagensia untuk pemeriksaan virus HIV kepada PMI yang diperuntukkan bagi segenap
UTDC-PMI.

Temu Karya KSR


Pada bulan Juli 1992 diadakan Temu karya dan Lomba KSR Tingkat Nasional di Lombok NTB diikuti pula oleh
peserta dari Singapura, Malaysia, Thailand, Korea Selatan dan Jepang.

DASAWARSA VI 1994 - 2004


Bencana Alam (Gempa Bumi)
Kembali pada tahun 1994 ,Pengurus Pusat membentuk Tim SATGAS MERPATI II untuk membantu korban
bencana Gempa Bumi di Liwa-Lampung Barat dan Tsunami di Banyuwangi-Jawa Timur.
Juga pada tahun 1999, saat propinsi Bengkulu ditimpa gempa berkekuatan 7,9 skala richter, PMI dengan
dukungan fasilitas Federasi Internasional dan Palang Merah Norwegia mendirikan rumah sakit lapangan
berkapasitas 150 bed menggantikan fungsi rumah sakit setempat yang rusak di kota itu selama 10 bulan.
Gempa lainnya berskala 6,5 richter juga menimpa Banggai di Sulawesi Tengah pada bulan Mei 2002, dan
beberapa bulan kemudian pada Juli 2000 gempa terjadi juga di 24 Kecamatan di Sukabumi dan Bogor.

Banjir
Akhir tahun 2000 banjir menimpa wilayah Aceh. Dengan bantuan ICRC di Lhoksumawe, Tim PMI ikut turun
tangan membersihkan jalan-jalan dan fasilitas sosial lainnya dan memberikan bantuan 4000 paket bantuan alat
kebersihan. Pada periode yang sama, banjir juga melanda Gorontalo Sulawesi Tengah yang mengakibatkan
wilayah tersebut terutama di Kecamatan Ranoyapo terisolir banjir.
Banjir Lumpur dikuti longsor juga melanda wilayah Jawa Barat selama beberapa hari pada bulan Pebruari. Banjir
bandang terjadi pula di NTB. 1000 paket bantuan PMI dan 610 petromaks disumbangkan oleh Federasi
Internasional melalui PMI.
Awal Agustus 2001, banjir besar juga telah menghancurkan 8 Kecamatan di Kabupaten Nias Sumetera Utara.
PMI telah mengirimkan obat-obatan dan bantuan paket keluarga berupa peralatan dapur, kelambu nyamuk,
pakaian, selimut dan gula untuk memenuhi kebutuhan darurat sehari-hari di Nias.

Penanggulangan Bencana Konflik


Suatu konflik vertikal telah berlangsung di Aceh sejak Januari 2000, konflik horizontal di Poso Sulawesi Tengah
pada 23 Mei 2000 dan kerusuhan hebat di Maluku Utara pada 17 Mei 2001. Di Aceh PMI bekerjasama dengan
ICRC secara intensif melakukan kegiatan evakuasi korban luka dan mayat, membagikan bantuan pangan,
pelayanan kesehatan darurat serta penyampaian berita keluarga. Sedangkan untuk Poso, PMI berkoordinasi
dengan ICRC menyalurkan bantuan 4000 paket keluarga diikuti bantuan dari RCTI berupa tikar, sarung, handuk,
jerigen, sabun mandi, sabun cuci dan pakaian yang diperuntukkan kepada 2000 orang. Sedang untuk konflik
yang terjadi di Maluku Utara, kembali PMI bekerjasama dengan ICRC menyalurkan 5.655 paket bantuan
keluarga kepada korban disamping pelayanan kesehatan di Tobelo dan Galela. Bantuan tambahan sebanyak
4500 paket dan 2000 unit peralatan sekolah dan seragam dari Kedutaan Besar Jepang. Di samping itu bantuan
satu unit kendaraan juga telah dikirim ke Ternate dari Jakarta untuk membantu operasional teknis lapangan.

CBFA- Tarakan dan Lampung


Proyek pengembangan kesehatan berbasis masyarakat (CBFA) telah dimulai di Kalimantan Timur dan Tengah
sejak Juni 2000. Bantuan disponsori oleh Palang Merah Belanda dengan Fasilitas Federasi Internasional
bertujuan memperbaiki status kesehatan masyarakat di wilayah sasaran.

PMI KINI

Dalam rangka menghadapi perkembangan masyarakat Indonesia di masa depan yang semakin global dalam
suasana yang semakin demokratis maka PMI harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya sebagai stakeholder
untuk ikut mengambil peran aktif di dalamnya.

Karena itu, PMI telah menetapkan misi dan visi dengan tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip
kepalangmerahan dan digariskan di dalam garis-Garis Kebijakan PMI 2000 - 2004 :

A. Visi
PMI diakui secara luas sebagai organisasi kemanusiaan yang mampu menyediakan pelayanan
kepalangmerahan yang efektif dan tepat waktu, terutama kepada mereka yang paling membutuhkan, dalam
semangat kenetralan dan kemandirian.

B. Misi
1. Menyebarluaskan dan mengembangkan aplikasi prinsip dasar Gerakan Palang Merah dan Bulan sabit
Merah serta Hukum perikemanusiaan Internasional (HPI) dalam masyarakat Indonesia.
2. Melaksanakan pelayanan kepalangmerahan yang bermutu dan tepat waktu, mencakup:
+ Bantuan kemanusiaan dalam keadaan darurat
+ Pelayanan sosial dan kesehatan masyarakat
+ Usaha Kesehatan Transfusi Darah
3. Pembinaan Generasi Muda dalam kepalangmerahan, kesehatan dan kesejahteraan.
4. Melakukan konsolidasi organisasi, pembinaan potensi dan peningkatan potensi sumber daya manusia
dan sumber dana untuk menuju PMI yang efektif dan efiesien.

PROGRAM STRATEGIS PENGEMBANGAN ORGANISASI

A. TUJUAN
Menyempurnakan organisasi dan tata laksana PMI di semua tingkatan untuk persiapan peningkatan
kemandirian dan kenetralan PMI dalam 5 tahun ke depan.

B. PROGRAM 2002

1. Melanjutkan upaya akurasi data kapasitas organisasi daerah dan cabang dari hasil respon kuistioner
yang diberikan Daerah dan Cabang dan Laporan Persemester atau Tahunan.
2. Menyusun pola standar Orientasi Kepalangmerahan dan implementasi manajemen PMI bagi pengurus.
3. Memberikan arahan kepada Daerah untuk mengaktifkan fungsinya melalui:
 Pengamatan aktif, advokasi dan membantu implementasi AD/ART, khususnya di dalam MUSDA
dan MUKERDA.
 Lokakarya Manajemen dan Organisasi bagi daerah dan beberapa cabang terpilih.
 Orientasi kepalangmerahan dan manajemen organisasi untuk daerah dan cabang-cabang yang
dimiliki.
 Membina Rencana Strategis Pengembangan Organisasi melalui kinerja tim OD
 Lokakarya bagi pengembangan fungsi markas pusat bagi Kepala Unit Daerah (KAMADA)
 Melanjutkan pemberian bantuan kepada korban gempa bumi di Bengkulu, dengan pilot program
OD di PMI Bengkulu, untuk mendukung implementasi program CBFA, water and sanitation in
Bengkulu.
4. Memantapkan persiapan untuk MUKERNAS tahun 2002
5. Menerbitkan perangkat lunak bagi pengembangan manajemen dan organisasi seperti Petunjuk Bagi
Pengurus PMI.

Kapasitas Organisasi PMI per/ April 2002


Jumlah Daerah : 30 daerah
Jumlah Cabang : 323 cabang
Jumlah Ranting : 450 ranting
Jumlah KSR : 28.554 orang
Jumlah TSR : 22.347 orang
Jumlah PMR : 670.127 orang

Susunan Pengurus Periode 2004 - 2009

Ketua Umum : Mar'ie Muhammad


Ketua Bidang Transfusi Darah dan
Pengembangan Rumah Sakit : Prof.Dr. Sujudi
Ketua Bidang Penggalangan Dana,
Penyempurnaan Sarana dan
Prasarana : Drs. Salahuddin Nyak Kaoy
Ketua Bidang Pengembangan dan
Penguatan Relawan : dr. Hj. Ulla Nuchrawaty Usman, MM
Ketua Bidang Pelayanan Sosial
dan Kesehatan Masyarakat : Prof. Dr. Amal Chalik Sjaaf
Ketua Bidang Pengembangan
Organisasi : Ir. Abdul Aziz, MBA
Sekretaris Jenderal : Iyang D. Sukandar
Wakil Sekretaris Jenderal : Rachmat Ahadijat, SH, LLM
Bendahara : Drs. Warnedy, Ak. M.Sc
Anggota-Anggota : 1. Drs. Imam Soepardi
2. H. Muhammad Muas, SH
3. Drg. Chairul Tanjung, MBA
4. dr. Farid Husain, SpBd
5. Ir. Lena Setiawati
6. Dian M. Soedarjo, MBA

Struktur Organisasi
Apa itu KORPS SUKARELA - KSR PMI

Korps Sukarela Palang Merah Indonesia (KSR-PMI) adalah kesatuan atau unit di dalam perhimpunan PMI, yang
merupakan wadah kegiatan atau pengabdian bagi Anggota Biasa perhimpunan PMI dan pribadi-pribadi yang
menyatakan diri dan menjadi anggota KSR PMI, serta memenuhi syarat menjadi anggota KSR PMI.

Syarat Menjadi Anggota KSR :

1. Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa


2. Warga Negara Republik Indonesia (WNI) atau Warga Negara Asing (WNA)
3. Setia kepada Pancasila dan UUD ‘45
4. Berusia antara sekurang-kurangnya 18 tahun dan pendidikan serendah-rendahnya tamat SLTP atau
sederajat.
5. Berkelakuan baik
6. Sehat Jasmani dan Rohani
7. Atas kessadaran sendiri dan sukarela bersedia mendaftarkan diri sebagai anggota KSR PMI
8. Beresedia mengikuti pendidikan dan pelatihan KSR-PMI
9. Bersedia menjalankan tugas kepalangmerahan dan mantaati peraturan yang berlaku.

Materi Pelatihan KSR antara lain :

* Kepalangmerah (Palang Merah Indonesia dan Palang Merah Internasional)


* HPI
* Pertolongan Pertama
* Perawatan Keluarga
* Pengungsian
* Dapur Umum dan Penampungan Sementara
* Transfusi darah
* Pertolongan Pertama Bencana
* Tracing Mailing Service (TMS)
* Pendidikan Remaja Sebaya (PRS)
* Pendidikan Wanita Sebaya (PWS)
* Pengabdian Masyarakat
* Kepemimpinan, komunikasi dan kerjasama.
* CBFA dan CBDP
SAPTA PRINSIP PALANG MERAH
1. Kemanusiaan
2. Kesamaan
3. Kenetralan
4. Kemandirian
5. Kesukarelaan
6. Kesatuan
7. Kesemestaan

TRI BHAKTI PMR

1. Berbakti kepada masyarakat


2. Mempertinggi ilmu keterampilan, menjaga kebersihan dan memelihara kesehatan
3. Menjalin persahabatan Nasional dan Internasional
Sumber: data intern PMR 21 Surabaya

ORGANISASI PALANG MERAH

A. GERAKAN PALANG MERAH DAN BULAN SABIT MERAH INTERNASIONAL

SEJARAH LAHIRNYA GERAKAN


Pada tanggal 24 Juni 1859 di kota Solferino, Italia Utara, pasukan Perancis dan Italia sedang bertempur
melawan pasukan Austria dalam suatu peperangan yang mengerikan. Pada hari yang sama, seorang pemuda
warganegara Swiss, Henry Dunant , berada di sana dalam rangka perjalanannya untuk menjumpai Kaisar
Perancis, Napoleon III. Puluhan ribu tentara terluka, sementara bantuan medis militer tidak cukup untuk merawat
40.000 orang yang menjadi korban pertempuran tersebut. Tergetar oleh penderitaan tentara yang terluka, Henry
Dunant bekerjasama dengan penduduk setempat, segera bertindak mengerahkan bantuan untuk menolong
mereka.

Beberapa waktu kemudian, setelah kembali ke Swiss, dia menuangkan kesan dan pengalaman tersebut
kedalam sebuah buku berjudul "Kenangan dari Solferino", yang menggemparkan seluruh Eropa. Dalam
bukunya, Henry Dunant mengajukan dua gagasan;

 Pertama, membentuk organisasi kemanusiaan internasional , yang dapat dipersiapkan pendiriannya


pada masa damai untuk menolong para prajurit yang cedera di medan perang.
 Kedua, mengadakan perjanjian internasional guna melindungi prajurit yang cedera di medan perang
serta perlindungan sukarelawan dan organisasi tersebut pada waktu memberikan pertolongan pada saat
perang.

Pada tahun 1863, empat orang warga kota Jenewa bergabung dengan Henry Dunant untuk mengembangkan
gagasan pertama tersebut. Mereka bersama-sama membentuk "Komite Internasional untuk bantuan para
tentara yang cedera", yang sekarang disebut Komite Internasional Palang Merah atau International Committee
of the Red Cross (ICRC).
Dalam perkembangannya kelak untuk melaksanakan kegiatan kemanusiaan di setiap negara maka didirikanlah
organisasi sukarelawan yang bertugas untuk membantu bagian medis angkatan darat pada waktu perang.
Organisasi tersebut yang sekarang disebut Perhimpunan Nasional Palang Merah atau Bulan Sabit Merah.

Berdasarkan gagasan kedua, pada tahun 1864, atas prakarsa pemerintah federal Swiss diadakan Konferensi
Internasional yang dihadiri beberapa negara untuk menyetujui adanya "Konvensi perbaikan kondisi prajurit yang
cedera di medan perang". Konvensi ini kemudian disempurnakan dan dikembangkan menjadi Konvensi
Jenewa I, II, III dan IV tahun 1949 atau juga dikenal sebagai Konvensi Palang Merah . Konvensi ini merupakan
salah satu komponen dari Hukum Perikemanusiaan Internasional (HPI) suatu ketentuan internasional yang
mengatur perlindungan dan bantuan korban perang.

PALANG MERAH INTERNASIONAL

1. Komite Internasional Palang Merah / International Committee of the Red


Cross (ICRC), yang dibentuk pada tahun 1863 dan bermarkas besar di Swiss.
ICRC merupakan lembaga kemanusiaan yang bersifat mandiri, dan sebagai
penengah yang netral. ICRC berdasarkan prakarsanya atau konvensi-
konvensi Jenewa 1949 berkewajiban memberikan perlindungan dan bantuan
kepada korban dalam pertikaian bersenjata internasional maupun kekacauan
dalam negeri. Selain memberikan bantuan dan perlindungan untuk korban
perang, ICRC juga bertugas untuk menjamin penghormatan terhadap Hukum Perikemanusiaan
internasional.
2. Perhimpunan Nasional Palang Merah atau Bulan Sabit Merah, yang didirikan hampir di setiap negara di
seluruh dunia, yang kini berjumlah 176 Perhimpunan Nasional, termasuk Palang Merah Indonesia.
Kegiatan perhimpunan nasional beragam seperti bantuan darurat pada bencana, pelayanan kesehatan,
bantuan sosial, pelatihan P3K dan pelayanan transfusi darah. Persyaratan pendirian suatu perhimpunan
nasional diantaranya adalah :
o mendapat pengakuan dari pemerintah negara yang sudah menjadi peserta Konvensi Jenewa
o menjalankan Prinsip Dasar Gerakan
Bila demikian ICRC akan memberi pengakuan keberadaan perhimpunan tersebut sebelum menjadi
anggota Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah.
3. Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah / International Federation of
Red Cross and Red Crescent (IFRC), Pendirian Federasi diprakarsai oleh Henry Davidson warganegara
Amerika yang disahkan pada suatu Konferensi Internasional Kesehatan pada tahun 1919 untuk
mengkoordinir bantuan kemanusiaan, khususnya saat itu untuk menolong korban dampak paska perang
dunia I dalam bidang kesehatan dan sosial. Federasi bermarkas besar di Swiss dan menjalankan tugas
koordinasi anggota Perhimpunan Nasional dalam program bantuan kemanusiaan pada masa damai, dan
memfasilitasi pendirian dan pengembangan organisasi palang merah nasional.

PERTEMUAN ORGANISASI PALANG MERAH INTERNASIONAL


Sesuai dengan Statuta dan Anggaran Dasar Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah menyebutkan
empat tahun sekali diselenggarakan Konferensi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah
( Internasional Red Cross Conference) . Konferensi ini dihadiri oleh seluruh komponen Gerakan Palang Merah
Internasional ( ICRC, perhimpunan nasional dan Federasi Internasional ) serta seluruh negara peserta Konvensi
Jenewa. Konferensi ini merupakan badan tertinggi dalam Gerakan dan mempunyai mandat untuk membahas
dan memutuskan semua ketentuan internasional yang berkaitan dengan kegiatan kemanusiaan
kepalangmerahan yang akan menjadi komitmen semua peserta.

Dua tahun sekali , Gerakan Palang Merah Internasional juga mengadakan pertemuan Dewan Delegasi (Council
of Delegates) , yang anggotanya terdiri atas seluruh komponen Gerakan. Dewan Delegasi akan membahas
permasalahan yang akan dibawa dalam konferensi internasional. Suatu tim yang dibentuk secara khusus untuk
menyiapkan pertemuan selang antar konferensi internasional yaitu Komisi Kerja ( Standing Commission).

Bersamaan dengan pertemuan tersebut khusus untuk Federasi Internasional dan anggota perhimpunan nasional
juga mengadakan pertemuan Sidang Umum (General Assembly) sebagai forum untuk membahas program
kepalangmerahan dan pengembangannya.

KOMITMEN KEMANUSIAAN
Berikut adalah garis besar program kemanusiaan kepalangmerahan yang terakomodasi antara lain dalam
kesepakatan Federasi Internasional ( Strategi 2010) ; Komitmen Regional anggota Perhimpunan ( Deklarasi
Hanoi ) dan kesepakatan Konferensi Internasional ( Plan of Action ).

1. STRATEGI 2010
Strategi 2010 (S-2010) adalah seperangkat strategi Federasi Internasional dalam menghadapi tantangan
kemanusiaan pada dekade menantang. Dokumen yang diadopsi Sidang Umum pada tahun 1999 ini
menjabarkan misi Federasi yaitu: "memperbaiki hajat hidup masyarakat rentan dengan memobilisasi kekuatan
kemanusiaan".
Tiga tujuan utama yang strategis adalah:

1. Memperbaiki Hajat Hidup masyarakat Rentan


Strategi ini terfokus melalui empat bidang inti, yaitu:
+ Promosi Prinsip-Prinsip dasar Gerakan dan nilai-nilai kemanusiaan;
+ Penanggulangan Bencana;
+ Kesiapsiagaan penanggulangan bencana; dan
+ Kesehatan dan perawatan di masyarakat.
Keempat bidang ini adalah suatu paket yang integral dan saling terkait satu sama lain, yang memiliki dua
dimensi yaitu pelayanan dan advokasi.
2. Memobilisasi Kekuatan Kemanusiaan
Pengerahan kapasitas organisasi untuk pelayanan ini akan terjadi bila perhimpunan nasional berfungsi
dengan baik. Artinya ada mekanisme organisasi, pengembangan kapasitas, memobilisi sumber keuangan
dengan mengembangkan kemitraan dan mengoptimalkan komunikasi dalam Perhimpunan Nasional.
3. Bekerjasama Secara Efektif
Adanya perhimpunan nasional yang kuat akan membentuk sebuah Federasi yang kuat , efektif dan efisien
yaitu dengan mengembangkan kerjasama subregional dan mengimplementasikan strategi gerakan,
kemitraan dengan organisasi internasional lain, memobilisasi publik dan advokasi penentu kebijakan serta
mengkomunikasikan pesan-pesan dan misi Federasi Internasional.

2. DEKLARASI HANOI "United for Action"


Dokumen ini disahkan melalui Konferensi Regional V di Hanoi, Vietnam pada tahun 1998, yang disepakati oleh
37 perhimpunan nasional se Asia Pasifik dan Timur Tengah yang bertekad , walau beragam budaya, geografis
dan latar belakang lain, untuk bersatu demi suatu aksi kemanusiaan.
Kecenderungan bencana alam serta krisis moneter secara global telah melanda wilayah regional dan
berdampak pada permasalahan imigrasi penduduk karena menghendaki perbaikan hidup, krisis ekonomi yang
menyebabkan angka pengangguran yang semakin meningkat serta berjangkitnya wabah penyakit. Hal ini
menjadi tantangan bagi Palang Merah untuk membantu meringankan penderitaan umat manusia.

Deklarasi Hanoi memfokuskan penanganan program pada isu-isu berikut:


+ Penanggulangan bencana
+ Penanganan wabah penyakit
+ Remaja dan Manula
+ Kemitraan dengan pemerintah
+ Organisasi dan Manajemen kapasitas sumber daya
+ Hubungan masyarakat dan promosi
3. PLAN OF ACTION 2000 - 2003
Plan of Action 2000 - 2003 merupakan keputusan Konferensi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah
ke-27 di Jenewa pada tahun 1999 . Pemerintah Indonesia dan PMI sebagai peserta menyatakan ikrarnya di
bidang kemanusiaan.

Komitmen Pemerintah Indonesia

 Memenuhi komitmen untuk meratifikasi Protokol Tambahan I dan II dari Konvensi-Konvensi Jenewa
1949
 Memperkuat Legislasi yang berkaitan dengan penggunaan Lambang Palang Merah
 Memperkuat aspek-aspek kelembagaan dalam perencanaan kesiapsiagaan penanggulangan bencana
 Mengintensifkan pendidikan dan diseminasi Hukum Humaniter Internasional dan karya-karya organisasi
kemanusiaan kepada masyarakat sipil dan militer
 Memperkuat kemitraan dengan lembaga-lembaga nasional untuk membantu masyarakat rentan

Komitmen Palang Merah Indonesia

 Program diseminasi nilai-nilai kemanusiaan kepada anggota dan kelompok sasaran tertentu serta
mendorong pemerintah untuk menyusun peraturan nasional mengenai lambang dan perjanjian terkait.
 Mengintensifkan program kesiapsiagaan penanggulangan bencana di daerah-daerah yang rawan
bencana melalui program "community based" dan meningkatkan kemampuan manajemen bencana dan
pelatihan sukarelawan serta penyediaan peralatan standar operasional.
 Melaksanakan program sosial dan kesehatan dalam hal pelayanan darah, pendidikan remaja sebaya
sebagai upaya pencegahan penyebaran HIV/AIDS atau kegiatan-kegiatan yang berorientasikan pada
pelayanan P3K yang berbasis masyarakat, masalah air dan sanitasi, kesejahteraan kelompok masyarakat
rentan di daerah tertinggal dan memperbaiki pelayanan ambulan dan pos P3K.

KEANGGOTAAN

Menurut k
etentuan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga PMI
yang disebut Anggota Palang Merah Indonesia (PMI) adalah
setiap Warga Negara Indonesia yang bersedia menjadi anggota
PMI. Mereka terdiri dari:

• Anggota Remaja, usia 10 - 20 tahun yang dihimpun di


dalam wadah Palang Merah Remaja (PMR).
• Anggota Biasa, usia 20 tahun ke-atas dan dapat
menjadi anggota Korps Sukarela (KSR) dan Tenaga
Sukarela (TSR).
• Anggota Luar Biasa, adalah warga negara bukan
Indonesia (WNA) yang berjasa kepada PMI).
• Anggota Kehormatan, adalah Warga Negara Indonesia
yang diangkat dengan Surat Keputusan Pengurus Pusat
berdasarkan jasa-jasanya kepada PMI.

Mengenai aturan mengenai keanggotaan secara rinci tersebut


diatur pula di dalam Anggaran Rumah Tangga PMI Bab VI
sebagai berikut:

Pasal 8
1. Yang dapat diterima sebagai Anggota Remaja ialah
Warga Negara Indonesia berumur 10 sampai 20 tahun.
2. Anggota Remaja sebagai calon anggota dan kader pengurus PMI berkewajiban membantu pelaksanaan
kegiatan kepalangmerahan.
3. Setiap anggota Remaja dapat menjadi Anggota Biasa setelah mencapai usia 20 tahun
4. Hak dan kewajiban Anggota Remaja dilaksanakan melalui wadah Palang Merah Remaja, disingkat
PMR.
Pasal 9
1. Status, persyaratan tugas dan kegiatan Palang Merah Remaja ditetapkan oleh Pengurus Pusat.
2. Status, persyaratan tugas dan kegiatan Korps Sukarela (KSR) ditetapkan oleh Pengurus Pusat.
3. Status, persyaratan tugas dan kegiatan Tenaga Sukarela (TSR) ditetapkan oleh Pengurus Pusat.
4. Atribut keanggotaan PMI ditetapkan oleh Pengurus Pusat
Pasal 10
1. Anggota Biasa adalah Warga Negara Indonesia yang menaruh perhatian dan minat untuk berperan
serta memajukan gerakan kepalang merahan.
2. Anggota Biasa serendah-rendah berumur 20 tahun atau yang telah kawin.
3. Anggota Biasa berkewajiban menyumbangkan darma baktinya menurut kebijaksanaan Cabang sesuai
dengan peraturan Pengurus Pusat.
 anggota biasa mempunyai hak untuk menghadiri Musyawarah Cabang.
 dalam hal Anggota Biasa di cabang yang sudah mempunyai Ranting, mewakilkan haknya
kepada utusan Ranting yang bersangkutan.
Pasal 11
1. Untuk menjadi Anggota Biasa, wajib mendaftarkan diri kepada Pengurus Cabang.
2.
 keabsahan sebagai Anggota Biasa PMI dinyatakan oleh tercantumnya nama anggota yang
bersangkutan dalam buku daftar anggota dan kepadanya diberikan kartu anggota.
 setiap anggota yang pindah keluar Cabang diwajibkan memberitahukan kepada Cabang yang
bersangkutan dan melaporkan kepada Cabang di tempat tinggal yang baru.
3. Anggota Biasa berhenti sebagai anggota apabila yang bersangkutan :
 minta berhenti
 meninggal dunia
4. Anggota Biasa dapat diberhentikan oleh Pengurus Cabang apabila yang bersangkutan melakukan
perbuatan yang mencemarkan nama Palang Merah Indonesia.
Pasal 12
1. Anggota Kehormatan ialah Warga Negara Indonesia yang diangkat dengan Surat Keputusan Pengurus
Pusat berdasarkan jasa-jasanya kepada PMI
2. Anggota Luar Biasa ialah warga Negara bukan Indonesia yang diangkat dengan Surat Keputusan
Pengurus Pusat berdasarkan jasa-jasanya kepada PMI
3. Pengurus Pusat, Pengurus Daerah, dan Pengurus Cabnag dapat mengusulkan seseorang untuk
diangkat menjadi Anggota Kehormatan, sesuai dengan peraturan yang dikeluarkan oleh Pengurus Pusat.

SUMBER DANA

Mengacu pada ketentuan Anggaran Rumah Tangga PMI Bab XI tentang Perbendaharaan bahwa kekayaan,
sumber dana PMI diperoleh dari :

1. Bulan Dana
2. Sumbangan masyarakat
3. Sumbangan masyarakat yang tidak mengikat
4. Usaha-usaha lain yang sah dan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku dan peraturan PMI.

BULAN DANA
Gerakan bulan dana merupakan kebijakan PMI yang dilaksanakan dilaksanakan berdasarkan Surat Keputusan
Menteri Sosial yang dikeluarkan setiap tahun. Pelaksanaan penggalangan dana dilaksanakan oleh Pengurus
Cabang melalui mekanisme kepanitiaan pengelolaan dari wakil masyarakat.

Kegiatan Bulan Dana dilaksanakan selama dua bulan dalam setahun. Setiap Pengurus Cabang mempunyai
kebijakan masing-masing untuk memulai Bulan Dana tersebut, ada yang bulan Mei atau September, bertepatan
dengan momentum peringatan Hari Palang Merah.

Bentuk pencarian dana, pada umumnya berupa kupon dengan nilai rupiah tertentu yang diedarkan di tempat-
tempat hiburan, Bandara dan kantor-kantor , sekolah atau PLN dan Telkom sesuai ijin Pemerintah setempat.
Setelah selesai, hasil bersih Bulan Dana oleh PMI dialokasikan sebagai berikut :
+ 5 % untuk Pengurus Pusat
+ 10 % untuk Pengurus Daerah
+ 85 % untuk Pengurus Cabang
Sejumlah tersebut oleh Pengurus Cabang dimanfaatkan untuk program bantuan, pelatihan, pembinaan dan
pelayanan transfusi darah.

Namun sejak tahun 2000 bagian 5% dari pengumpulan bulan dana untuk PMI Pusat ditiadakan. Penghapusan
tersebut dilakukan atas pertimbagan agar pengurus cabang dapat secara leluasa mengelola dana dari hasil
bulan dana tersebut. Koordinasi pelaksanaan bulan dana ada di tangan pengurus daerah dengan tembusan ke
pengurus pusat.

SUMBER DANA DILUAR BULAN DANA

PMI Daerah & Cabang


Beberapa Pengurus Daerah untuk melaksanakan operasional tugasnya selain setoran wajib bulan dana (SWBD)
juga mendapatkan subsidi alokasi bantuan dari Anggaran Belanja Pemerintah Daerahnya masing-masing.
Dalam melaksanakan respon bantuan darurat, PMI juga menerima sumbangan berupa relief, kontan atau jasa
untuk membantu para korban bencana.
Disamping itu melalui usaha pencarian dana seperti membuka Wartel/Warnet, Klinik Kesehatan, Mini market
atau Wisma/Gedung pertemuan yang dapat disewakan kepada publik, dapat merupakan tambahan pemasukan
dana.

Dalam kesempatan tertentu PMI juga menyelenggarakan kegiatan pertunjukkan amal sekaligus penggalangan
dana bekerjasama dengan pihak ketiga.
Bila manajemennya baik maka kumpulan dana tersebut dikelola sedemikian rupa menjadi semacam simpanan
"dana abadi" yang dapat dikembangkan untuk pendanaan program lain yang berkelanjutan.

PMI Pusat
Di tingkat pusat, Pengurus Pusat selain mengandalkan pengelolaan dana abadi juga mendapat subsidi dari
pemerintah pusat , Sekretariat Negara untuk dana operasional pembayaran telpon dan listrik. Besar jumlah
subsidi setiap tahun tidak sama , tahun 2001 ini sebesar Rp. 40.000.000.
Selain itu PMI Pusat juga memperoleh sedikit tambahan pemasukan dari Rumah Sakit PMI Bogor. Bantuan dari
Masyarakat atau perusahaan, juga diterima untuk menambah beaya operasional, namun sejak masa krisis
moneter, jumlah dana dari sumbangan masyarakat menurun.
Dengan adanya program pengembangan organisasi dua tahun belakangan ini, yang difasilitasi oleh Palang
Merah Internasional, maka sejak tahun 2000 kapasitas SDM ( karyawan) dan implementasi program kegiatan
didanai dari sumber bantuan internasional.

PROGRAM KESIAPSIAGAAN PENANGGULANGAN BENCANA

Institusi Pra Bencana Darurat Bencana Pasca Bencana


PMI
PMI Pusat + Menyusun peta rawan + Memberikan petunjuk + Evaluasi kegiatan
bencana tingkat teknis dan menyediakan operasional PB.
nasional serta bantuan teknis
contingency plan operasional PB + Memberikan petunjuk
bencana skala besar teknis mengenai tindak
+ Memberikan petunjuk lanjut kegiatan pasca
+ Mempersiapkan teknis tentang bencana.
kebijaksanaan diseminasi dan
penaggulangan sosialisasi upaya PB + Mengupayakan
bencana tingkat PMI. bantuan program untuk
nasional kegiatan tindak lanjut
+ Koordinasi dengan yang dilaksanakan oleh
+ Mengupayakan Bakornas PB. PMI Cabang.
bantuan program dari
sumber-sumber bantuan + Mengupayakan + Pertanggungjawaban
luar negeri bantuan dari sumber- kepada publik, tentang
sumber dalam negeri penerimaan sumbangan
+ Preposisi stok maupun luar negeri. dan bantuan bencana,
bantuan bencana proses distribusinya,
tingkat nasional + Mengorganisir tim cakupannya dll.
bantuan apabila
+ Menyelenggarakan diperlukan.
pelatihan tingkat
nasional
PMI Daerah + Menyusun peta rawan + Menggalang bantuan + Evaluasi upaya PB
bencana tingkat daerah. bencana dari PMI tingkat daerah
Cabang di wilayah
+ Merekomendasikan kerjanya. + Publikasi kegiatan PB
pembangunan program yang dilakukan oleh PMI
PB Cabang rawan + Pengendalian dan Cabang di wilayah
bencana di wilayah pengawasan upaya PB kerjanya
kerjanya dan monitoring yang dilaksanakan oleh
implementasinya. PMI Cabang. + Merekomendasikan
tindak lanjut upaya PB
+ Preposisi stok + Mengkoordinasikan yang diusulkan oleh PMI
bantuan bencana informasi mengenai Cabang.
tingkat daerah. upaya PB kepada PMI
Cabang Lainnya.
+ Membangun saluran
koordinasi bantuan + Monitoring kegiatan
antar PMI Cabang di diseminasi
wilayah kerjanya.
+ Koordinasi dengan
Satkorlak PB.

+ Laporan periodik ke
PMI Pusat.
PMI Program Kesiapsiagaan + Konsolidasi sumber- + Reorganisasi sumber-
Cabang PMI di tingkat Cabang: sumber daya sumber daya
+ Menyusun peta rawan
bencana di wilayah + Membentuk Posko + Evaluasi kegiatan PC
kerjanya serta PB/Crisis Center dan selama periode opearsi
Contingency plan yang komunikasi internal tanggap darurat dan
telah dikoordinasikan maupun eksternal PMI penentuan
dengan program Satlak kebijaksanaan atas
PB setempat. + Pengerahan Tim rencana kegiatan pasca
Satgana untuk bantuan bencana.
+ Pengadaan serbaguna dalam
perlengkapan bantuan satuan-satuan kerja + Ekspose dan
PB. pengungsian, Dapur pertanggungjawaban
Umum, P3K/ambulans, kepada public tentang
+ Membina saluran distribusi material relief, penerimaan sumbangan
informasi dan logistic, TMS, Informasi dan bantuan bencana
komunikasi dengan dan komunikasi, yang diterima dari
institusi terkait. administrasi. sumber-sumber local,
proses distribusinya,
+ Pembentukan Tim + Memelihara cakupannya dll
Satgana terlatih dan koordinasi dengan
tugas siaga KSR secara satlak PB + Komitmen untuk
rotasi. tetap melaporkan
+ Laporan periodic ke
+ Mengadakan simulasi PMI Daerah/Pusat
perkembangan situasi
PB. hingga tiga bulan
+ Diseminasi dan berikutnya.
Program Kesiapsiagaan sosialisasi upaya PB
Tingkat Masyarakat: PMI
+ Membina hubungan
dengan penduduk di + Menyusun rencana
lokasi rawan bencana kerja tindak lanjut untuk
(setingkat tahap pasca bencana.
desa/kelurahan)

+ Kerjasama dengan
organisasi masyarakat
setempat.

+ Menyelenggarakan
program pelatihan
praktis kepada anggota
masyarakat setempat.

+ Menyusun program
pencegahan/mitigasi
dampak bencana
bersama-sama
masyarakat (program
CBDP)

+ Implementasi CBDP
Program

PRINSIP BANTUAN PMI


Dalam melaksanakan program bantuan, PMI mengantu beberapa prinsip bantuan antara lain:
1. Darurat
Seperti peranan Perhimpunan Nasional Palang Merah di negara-negara lain, bantuan penanggulangan bencana
yang diberikan kepada korban bencana bersifat darurat dan bersifat komplimen/tambahan untuk membantu
pemerintah dalam meringankan penderitaan korban bencana (auxiliary to the government)

2. Langsung
Bantuan PMI harus diberikan secara langsung oleh tenaga PMI kepada korban bencana, tanpa perantara,
sehingga dapat langsung dirasakan oleh para korban.

3. Beridentitas Palang Merah


Untuk memudahkan pengenalan, pengendalian, pengawasan dan untuk meningkatkan citra PMI, serta
kepercayaan donatur, Petugas PMI dalam penanggulangan korban bencana harus memakai tanda Palang
Merah (PMI). Hal ini juga dilakukan pada tempat, sarana dan fasilitas yang digunakan oleh PMI di lapangan.

4. Materi Bantuan
Bantuan PMI kepada korban bencana adalah dalam bentuk Material (pangan atau non-pangan) dan Jasa
(pendampingan, konseling dan advokasi)
TATA LAKSANA PROGRAM PENANGGULANGAN BENCANA

1. Di dalam melaksanakan tugas memberikan pertolongan dan bantuan kepada korban akibat bencana
alam atau terjadinya konflik dilakukan oleh tenaga KSR dan TSR yang sudah terlatih di bawah komando
PMI Cabang.
2. Setiap orang yang luka siapapun dia dan meskipun dia ikut serta dalam peristiwa kekerasan tersebut,
dia mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan pertolongan pertama . Petugas harus menggunakan
seragam Palang Merah dan harus mempunyai akses kepada semua pihak, karena petugas tersebut
bersifat netral dan tidak memihak. Tugasnya hanya membantu semua korban tanpa perbedaan.
3. Apabila dampak dari kejadian bencana alam atau konflik tersebut mengakibatkan pengungsian
penduduk yang memerlukan penanganan bersama, maka PMI Cabang harus meminta bantuan
penanganan kepada PMI Daerah bahkan sampai ke tingkat pusat.
4. Untuk menjaga kemungkinan terjadinya bencana baik bencana alam maupun bencana konflik, di
beberapa daerah yang rawan harus dibentuk tim khusus yang disebut SATGANA (Satuan Siaga
Penanggulangan Bencana). Anggota SATGANA tersebut terdiri dari dari anggota KSR dan TSR yang
sudah terlatih dengan pengetahuan khusus. KSR yang masuk ke dalam Tim SATGANA dapat berasal dari
KSR Unit Perguruan Tinggi atau KSR Unit PMI Cabang yang terpenting dapat melaksanakan tugas setiap
saat diperlukan.
5. Apabila penanganan korban/pengungsi tersebut sangat komplek dan tidak mungkin ditangani oleh PMI
sendiri, maka PMI dapat meminta bantuan /dukungan kepada Palang Merah Internasional dalam bentuk
permohonan bantuan ( disaster appeal) ditujukan kepada IFRC, dan kepada ICRC bila itu bencana konflik.
6. Apabila diperlukan , PMI Pusat dan Daerah dapat bekerjasama dengan ICRC atau IFRC untuk
membentuk sebuah tim khusus yang bertugas dalam kurun waktu tertentu hingga unsur PMI setempat
mampu mengambil alih tugas-tugas yang dilaksanakan oleh Tim Khusus tersebut. Anggota Tim Khusus
dapat direkrut dari unsur-unsur pengurus PMI, staf senior (Pusat, Daerah maupun Cabang), KSR terlatih
dari lintas daerah dan KSR PMI Cabang setempat.

KOORDINASI PENANGGULANGAN BENCANA OLEH PMI

 Setiap upaya penanggulangan bencana oleh PMI harus dipastikan bahwa kegiatan tersebut telah
dikoordinasikan baik secara vertical maupun horizontal di semua tingkatan.
 SOP harus disosialisasikan kepada instansi terkait di semua tingkatan (Bakornas, Satkorlak, Satlak).
 Bekerjasama dengan instansi terkait/LSM sangat dimungkinkan berdasarkan prinsip-prinsip kemitraan
dan saling menghormati mandate masing-masing pihak.
 Kerjasama antara PMI Daerah atau Cabang dengan Lembaga-Lembaga Internasional harus
memperoleh persetujuan dari PMI Pusat.
 Kerjasama operasional antara PMI dengan ICRC atau IFRC dalam operasi penanggulangan bencana
harus dilandasi oleh sebuah kesepakatan/MOU yang umum berlaku dalam lingkungan gerakan
kepalangmerahan.

PENANGGUNGJAWAB KEGIATAN

1. Penanggungjawab penanggulangan bencana di wilayah kabupaten/kota dilaksanakan oleh Pengurus


Cabang. Dalam melaksanakan kegiatannya, Pengurus Cabang bertanggungjawab kepada Pengurus
Daerah setempat.
2. Penanggungjawab penanggulangan bencana di wilayah propinsi dilaksanakan oleh Pengurus Daerah.
Dalam melaksanakan kegiatannya, Pengurus Daerah bertanggungjawab kepada Pengurusnya
3. Penanggungjawab penanggulangan bencana di tingkat pusat, pelaksana hariannya dipegang oleh
Sekretaris Jenderal dibantu oleh Divisi Penanggulangan Bencana serta unit teknis lainnya. Sekretaris
Jenderal bertanggungjawab kepda Ketua Umum PMI.

PENGEMBANGAN PROGRAM COMMUNITY BASED DISASTER PREPAREDNESS (CBDP)

CBDP merupakan program PMI dalam rangka persiapan antisipasi Bencana Alam yang berbasis pada
pemberdayaan masyarakat.
CBDP bukan merupakan hal yang baru bagi PMI, karena sudah berjalan di beberapa daerah yakni:
+ PD Jawa Timur - CBDP di desa Kalitidu ( 1995 / 1996 )
+ PD Jawa Tengah - CBDP / FA di desa Eromoko Wonogiri ( 1995 )
+ PD NTT - CBDP / FA di Kobalima, Atambua ( 1999/2000 )
+ PD Kaltim - CBFA di Tarakan ( 2001 s.d. sekarang )

Pengembangan Program CBDP selanjutnya :

1. Menetapkan Pilot Project CBDP di PMI Daerah terpilih


2. Memperbaiki konsep-konsep dasar yang dapat mendukung pengembangan program CBDP ( LFA, PRA,
Gender, Project Cycle )
3. Mempersiapkan personel yang kapabel untuk mendukung program CBDP
4. Melaksanakan studi kelayakan terhadap PMI Cabang pelaksana serta desa-desa yang menjadi lokasi
program CBDP
5. Mengadakan workshop tentang formulasi program-program yang melibatkan unsur-unsur dari PMI
Pusat, Daerah, Cabang, unsur Pemda setempat hingga masyarakat yang akan dibina melalui program
CBDP
6. Menyusun draft, kerangka acuan implementasi (TOR)
7. Membangun network PMI Pusat hingga masyarakat

Peranan PMI Daerah dalam Pengembangan Program CBDP

1. Secara Institusional : Bertindak selaku Pembina Program tingkat Daerah, yang akan memberikan
dukungan struktural, peran koordinasi dan fasilitasi, peran penghubung dan monitoring
2. Secara Individual : bertindak selaku Narasumber dari program CBDP itu sendiri. Di sini, kita benar-benar
dituntut untuk memahami secara mendalam berbagai aspek dalam pengembangan program CBDP
3. Dalam konteks operasional : Bertindak secara proaktif (inisiatif), antisipatif, inovatif, dan mampu
merumuskan ide-ide serta menyampaikannya kepada berbagai pihak terkait.
4. Dalam konteks regional : PMI Daerah terpilih harus mampu menjadi contoh / model Pembangunan
kegiatan kepalangmerahan bagi propinsi tetangga.

PARTICIPATORY RURAL ASSESMENT (PRA) / PARTISIPASI MASYARAKAT TERPADU

PRA merupakan suatu pendekatan dalam melakukan pembelajaran bersama antara masyarakat lokal dan
pendatang sehingga mampu melakukan perencanaan yang memungkinkan terciptanya prinsip-prinsip penentu,
seperti:

1. PARTISIPASI : masyarakat lokal membantu dalam mengumpulkan data serta dalam proses analisa.
2. FLEKSIBILITAS : tidak berdasarkan metodologi yang standard tatapi tergantung pada kegunaan,
sumber daya, ketrampilan dan ketersediaan waktu.
3. KERJASAMA TIM : outsider & insiders, men & women, mix of disciplines.
4. Mengoptimalkan keperdulian : efisiensi waktu dan biaya, namun cukup memiliki kesempatan untuk
melakukan perencanaan dan analisa.
5. SISTEMATIS : untuk ketepatan dan kesahihan.

Teknis pelaksanaan PRA :


+ Wawancara/ diskusi : Individuals, household, focus groups, community meeting
+ Pemetaan : Community maps, Personal maps, Institutional Maps
+ Perankingan : Problem ranking, Preference ranking, Wealth Ranking
+ Analisa trend : Historical Diagramming, seasonal Calendar, daily Activity charts

Peralatan PRA :
+ Spot mapping
+ Transect mapping
+ Time Line / Historical Line
+ Seasonal calendar
+ Wealth ranking
+ Problem tree Analysis
+ Objective Tree Analysis
+ Logical Framework Approach

Apa yang dimaksud dengan Hukum Perikemanusiaan Internasional?

Hukum Perikemanusiaan Internasional adalah seperangkat aturan yang karena alasan kemanusiaan dibuat
untuk membatasi akibat-akibat dari pertikaian bersenjata. Hukum ini melindungi mereka yang tidak atau tidak
lagi terlibat dalam pertikaian dan membatasi cara-cara dan metode peperangan. Hukum Perikemanusiaan
Internasional adalah istilah yang digunakan oleh Palang Merah Indonesia untuk Hukum Humaniter Internasional
(International Humanitarian Law). Istilah lain dari Hukum Humaniter Internasional ini adalah "Hukum Perang"
(Law of War) dan "Hukum Konflik Bersenjata" (Law of Armed Conflict).

Dari mana asalnya Hukum Perikemanusiaan Internasional?

Hukum Perikemanusiaan Internasional adalah bagian dari hukum internasional. Hukum internasional adalah
hukum yang mengatur hubungan antara negara. Hukum internasional dapat ditemui dalam perjanjian-perjanjian
yang disepakati antara negara-negara sering disebut traktat atau konvensi dan secara prinsip dan praktis negara
menerimanya sebagai kewajiban hukum.

Dalam sejarahnya hukum perikemanusiaan internasional dapat ditemukan dalam aturan-aturan keagamaan dan
kebudayaan di seluruh dunia. Perkembangan modern dari hukum tersebut dimulai pada abad ke-19. Sejak itu,
negara-negara telah setuju untuk menyusun aturan-aturan praktis, berdasarkan pengalaman pahit atas
peperangan modern. Hukum itu mewakili suatu keseimbangan antara tuntutan kemanusiaan dan kebutuhan
militer dari negara-negara. Seiring dengan berkembangannya komunitas internasional sejumlah negara di
seluruh dunia telah memberikan sumbangan atas perkembangan hukum perikemanusiaan internasional.
Dewasa ini hukum perikemanusiaan internasional diakui sebagai suatu sistem hukum yang benar-benar
universal.

Dimana Hukum Perikemanusiaan Internasional dapat ditemukan?


Sebagian besar dari hukum perikemanusiaan internasional ditemukan dalam empat Konvensi Jenewa tahun
1949. Hampir setiap negara di dunia telah sepakat untuk mengikatkan diri pada Konvensi itu. Konvensi-Konvensi
Jenewa 1949 telah dikembangkan dan dilengkapi dengan dua perjanjian lanjutan yaitu Protokol-protokol
Tambahan tahun 1977.

Ada juga beberapa perjanjian internasional yang melarang penggunaan senjata-senjata tertentu dan taktik
militer. Perjanjian ini termasuk Konvensi Den Haag tahun 1907, Konvensi Senjata Biologi tahun 1972, Konvensi
Senjata Konvensional tahun 1980 dan Konvensi Senjata Kimia tahun 1993. Konvensi Den Haag tahun 1954
mengatur perlindungan bangunan dan benda sejarah selama pertikaian bersenjata.

Banyak aturan hukum perikemanusiaan internasional yang sekarang diterima sebagai hukum kebiasaan
internasional yang berarti telah menjadi aturan umum yang diterapkan di semua negara.

Apa cakupan Hukum Perikemanusiaan Internasional?

Ada dua bahasan yang menjadi cakupan hukum perikemanusiaan internasional, yaitu:

1. Perlindungan atas mereka yang tidak dan tidak lagi mengambil bagian dan suatu pertikaian.
2. Batasan-batasan atas sarana peperangan, khususnya persenjataan dan metode atau cara-cara
peperangan seperti taktik-taktik militer.

Apa yang dimaksud dengan Perlindungan?

Hukum perikemanusiaan internasional melindungi mereka yang tidak ambil bagian atau tidak terlibat dalam
pertikaian yaitu seperti warga sipil serta petugas medis dan rohani. Hukum perikemanusiaan juga melindungi
mereka yang tidak lagi ambil bagian dalam pertikaian seperti mereka yang telah terluka atau korban kapal
karam, mereka yang sakit atau yang telah dijadikan tawanan.

Orang yang dilindungi tidak boleh diserang. Mereka harus bebas dari penyiksaan fisik dan perlakuan yang
merendahkan martabat. Korban yang luka dan sakit harus dikumpulkan dan dirawat. Aturan-aturan yang terinci,
termasuk penyediaan makanan serta tempat berteduh yang layak dan jaminan hukum, berlaku bagi mereka
yang telah dijadikan tawanan atau mengalami penahanan.

Tempat-tempat dan objek-objek tertentu seperti rumah sakit dan ambulans, juga dilindungi dan tidak boleh
menjadi sasaran penyerangan. HPI menetapkan sejumlah lambang-lambang yang dapat dikenali dengan jelas
dan sinyal-sinyal yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi orang-orang dan tempat-tempat yang dilindungi.
Lambang-lambang ini termasuk palang merah dan bulan sabit merah.

Persenjataan dan taktik-taktik apa saja yang dibatasi?

Hukum perikemanusiaan internasional melarang segala sarana dan cara-cara peperangan yang:

 gagal membedakan antara mereka yang terlibat dalam pertikaian dan mereka seperti warga sipil, yang
tidak terlibat dalam pertikaian;
 menyebabkan luka-luka yang berlebihan atau penderitaan yang tidak semestinya;
 menyebabkan kerusakan lingkungan yang berkepanjangan atau sangat parah.

Hukum perikemanusiaan internasional juga telah melarang penggunaan berbagai jenis persenjataan tertentu
termasuk peluru ledak, senjata kimia dan biologi serta senjata "laser-blinding weapon."

Kapan Hukum Perikemanusiaan Internasional Berlaku?

Hukum perikemanusiaan internasional hanya berlaku pada saat terjadi pertikaian bersenjata. Hukum tersebut
tidak dapat diterapkan pada kekacauan dalam negeri seperti tindakan-tindakan kekerasan yang terisolasi.
Hukum perikemanusiaan internasional juga tidak mengatur apakah suatu negara dapat menggunakan kekuatan
(militernya) karena hal ini diatur oleh aturan berbeda (namun sama pentingnya) yaitu hukum internasional yang
terdapat dalam Piagam PBB. Hukum perikemanusiaan internasional hanya berlaku pada saat suatu konflik
dimulai dan berlaku sama kepada semua pihak tanpa memandang siapa yang memulai pertikaian.

Hukum perikemanusiaan internasional membedakan antara pertikaian bersenjata internasional dan pertikaian
bersenjata internal (dalam negeri). Pertikaian bersenjata internasional adalah pertikaian yang sedikitnya
melibatkan dua negara. Pertikaian seperti itu tunduk pada aturan yang lebih luas termasuk diatur dalam empat
Konvensi Jenewa dan Protokol Tambahan pertama. Aturan yang lebih terbatas berlaku bagi pertikaian
bersenjata internal-khususnya yang ditetapkan dalam Pasal 3 dari setiap ke-empat Konvensi Jenewa dan
Prokokol Tambahan kedua. Namun di dalam pertikaian bersenjata internal, seperti halnya dalam pertikaian
bersenjata internasional, semua pihak harus mematuhi hukum perikemanusiaan internasional.

Adalah penting untuk membedakan antara hukum perikemanusiaan internasional dengan hukum hak asasi
manusia. Meski beberapa aturan dari keduanya ada yang sama, kedua hukum ini telah berkembang secara
terpisah dan terdapat dalam perjanjian yang berbeda. Secara khusus hukum hak asasi manusia, tidak seperti
hukum perikemanusiaan internasional, berlaku pada masa damai dan banyak aturannya mungkin ditangguhkan
selama suatu pertikaian bersenjata berlangsung.

Apakah Hukum Perikemanusiaan Internasional benar-benar berjalan?


Tragisnya contoh-contoh pelanggaran hukum perikemanusiaan internasional tak terhitung telah terjadi dalam
pertikaian bersenjata di seluruh dunia. Bahkan korban yang meningkat dalam peperangan adalah warga sipil.
Namun, terdapat hal-hal penting dimana hukum perikemanusiaan internasional telah membuat suatu perbedaan
dalam melindungi warga sipil, tawanan, korban luka dan sakit serta dalam membatasi penggunaan senjata yang
semena-mena. Bahwa hukum itu berlaku selama masa-masa traumatik, penerapan hukum perikemanusiaan
internasional akan selalu menghadapi kesulitan-kesulitan berat, penerapan efektif dari hukum itu selamanya
akan tetap mendesak.

Sejumlah tindakan telah diambil untuk mempromosikan penghormatan terhadap hukum perikemanusiaan
internasional. Negara-negara berkewajiban untuk memberikan pendidikan tentang hukum perikemanusiaan
internasional kepada angkatan bersenjata dan masyarakat umum negaranya. Mereka harus mencegah dan jika
perlu menghukum semua pelanggaran hukum perikemanusiaan internasional. Utamanya mereka harus
memberlakukan hukum untuk menghukum pelanggaran-pelanggaran paling serius Konvensi-Konvensi Jenewa
dan Protokol-protokol Tambahan yang dianggap sebagai kejahatan perang. Beberapa tindakan juga telah
dilakukan pada level internasional. Pengadilan-pengadilan ad hoc telah dibentuk untuk menghukum tindakan-
tindakan yang dilakukan dalam dua pertikaian yang terjadi beberapa waktu lalu yaitu di bekas Yugoslavia dan
Rwanda. Dewasa ini pengadilan permanen internasional yang akan dapat menghukum kejahatan perang sudah
disepakati untuk didirikan. Dasar hukumnya adalah Statuta Roma 1998 tentang pendirian Pengadilan Kriminal
Internasional (International Criminal Court). Pengadilan yang akan berkedudukan di Den Haag Belanda itu
terbentuk bila Statuta tersebut sudah diratifikasi 60 negara, sementara saat ini baru 4 negara yang
meratifikasinya.

Apakah melalui pemerintah, melalui organisasi-organisasi atau sebagai perorangan, kita dapat memberikan
suatu sumbangan penting bagi penerapan hukum perikemanusiaan internasional. ( Sumber: "What is
International Humanitarian Law" - ICRC Advisory Service on International Humanitarian Law - SERBA SERBI
TRANSFUSI DARAH

1. DONOR DARAH
2. BAGAIMANA MENDAPATKAN DARAH
3. PENGELOLAAN DARAH & BIAYA PENGGANTIAN PENGELOLAAN (Service Cost )
4. PEMAKAIAN DARAH
5. GOLONGAN DARAH

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

1. DONOR DARAH
a. Syarat-syarat Teknis Menjadi Donor Darah :

 umur 17 - 60 tahun
( Pada usia 17 tahun diperbolehkan menjadi donor bila mendapat ijin tertulis dari orangtua. Sampai usia
tahun donor masih dapat menyumbangkan darahnya dengan jarak penyumbangan 3 bulan atas
pertimbangan dokter )
 Berat badan minimum 45 kg
 Temperatur tubuh : 36,6 - 37,5o C (oral)
 Tekanan darah baik ,yaitu:
Sistole = 110 - 160 mm Hg
Diastole = 70 - 100 mm Hg
 Denyut nadi; Teratur 50 - 100 kali/ menit
 Hemoglobin
Wanita minimal = 12 gr %
Pria minimal = 12,5 gr %
 Jumlah penyumbangan pertahun paling banyak 5 kali, dengan jarak penyumbangan sekurang-
kurangnya 3 bulan. Keadaan ini harus sesuai dengan keadaan umum donor.

b. Seseorang tidak boleh menjadi donor darah pada keadaan:

 Pernah menderita hepatitis B


 Dalam jangka waktu 6 bulan sesudah kontak erat dengan penderita hepatitis
 Dalam jangka waktu 6 bulan sesudah transfusi
 Dalam jangka waktu 6 bulan sesudah tattoo/tindik telinga
 Dalam jangka waktu 72 jam sesudah operasi gigi
 Dalam jangka wktu 6 bulan sesudah operasi kecil
 Dalam jangka waktu 12 bulan sesudah operasi besar
 Dalam jangka waktu 24 jam sesudah vaksinasi polio, influenza, cholera, tetanus dipteria atau profilaksis
 Dalam jangka waktu 2 minggu sesudah vaksinasi virus hidup parotitis epidemica, measles, tetanus toxin.
 Dalam jangka waktu 1 tahun sesudah injeksi terakhir imunisasi rabies therapeutic
 Dalam jangka waktu 1 minggu sesudah gejala alergi menghilang.
 Dalam jangka waktu 1 tahun sesudah transpalantasi kulit.
 Sedang hamil dan dalam jangka waktu 6 bulan sesudah persalinan.
 Sedang menyusui
 Ketergantungan obat.
 Alkoholisme akut dan kronik.
 Sifilis
 Menderita tuberkulosa secara klinis.
 Menderita epilepsi dan sering kejang.
 Menderita penyakit kulit pada vena (pembuluh darah balik) yang akan ditusuk.
 Mempunyai kecenderungan perdarahan atau penyakit darah, misalnya, defisiensi G6PD,
thalasemia, polibetemiavera.
 Seseorang yang termasuk kelompok masyarakat yang mempunyai resiko tinggi untuk
mendapatkan HIV/AIDS (homoseks, morfinis, berganti-ganti pasangan seks, pemakai jarum suntik tidak
steril)
 Pengidap HIV/ AIDS menurut hasil pemeriksaan pada saat donor darah.

2. BAGAIMANA MENDAPATKAN DARAH


a. Prosedur Permintaan Darah

 Dokter yang merawatlah yang menentukan pasien membutuhkan darah atau tidak
 Membawa formulir khusus rangkap 4 atau 5 untuk permintaan darah yang telah diisi oleh dokter yang
merawat disesrtai contoh darah pasien dengan identitas yang jelas.
 Formulir dan contoh darah tersebut dikirim ke Bank Darah di rumah sakit atau laboratorium UTDC PMI
setempat. Untuk Daerah Jakarta, darah dapat diperoleh di UTDD PMI DKI Jakarta, Jl. Kramat Raya No.47,
apabila persediaan darah yang diminta oleh dokter tidak ada di bank darah rumah sakit tmaka bawalah
donor pengganti ke UTDC setempat.
 Atas dasar permintaan dokter di RS tersebut UTDC melakukan pemeriksaan reaksi silang antara contoh
darah donor dengan contoh darah pasien, yang memakan waktu lebih kurang 1,5 jam.
 Pemeriksaan ini mutlak harus dilakukan walaupun golongan darah pasien dengan golongan darah donor
sama. Bila dalam pemeriksaan silang tidak terdapat kelainan maka barulah darah donor diberikan kepada
pasien. Bila pada pemeriksaan ditemukan kelainan atau ketidakcocokan perlu dilakukan pemeriksaan
lanjutan untuk mencari sebab kelainan atau ketidakcocokan tersebut.

b.Tempat Pengambilan Darah


(Khusus wilayah Propinsi DKI Jakarta)

 UNIT TRANSFUSI DARAH DAERAH PMI DKI JAKARTA


Jl. Kramat Raya No. 46, Jakarta Pusat.
Telp. 327711,3906666,3909259
Buka 24 Jam
 BANK DARAH PMI di RS. HUSADA
Jl. Mangga Besar 137 / 139
Jakarta Pusat, Telp. 6260108
 BANK DARAH PMI di RS. SUMBER WARAS
Jl. Kyai Tapa, Grogol. Jakarta Barat
Tlp. 5682011
 BANK DARAH PMI di RS. PERSAHABATAN
Jl. Persahabatan. Jakarta Timur
Telp. 4891708 ; 4711219
 BANK DARAH PMI di RS. KOJA
Jl. Deli No. 4, Tanjung Priok Jakarta Utara
Tlp. 4352401, 496132, 498478
 BANK DARAH PMI di RS FATMAWATI
Jl. Raya Fatmawati Jakarta Selatan
Telp. 7501524
 MOBIL UNIT
Untuk penyumbangan berkelompok, mobil unit baru dapat melayani permintaan untuk menjadi donor darah
sukarela jika minimal ada 40 orang perkelompok.

Wilayah di luar DKI Jakarta, dapat menghubungi Unit-Unit Transfusi Darah PMI Cabang , seperti berikut :
Daftar Nomer Telpon UTD PMI Cabang
No Daerah No Telpon
I Banda Aceh
1 Kod Banda Aceh 0651 - 231 / 332281
2 Kab Aceh Utara 0645 - 740202
3 Kab Aceh Timur/Langsa 0641 - 22051
II Sumatera Utara
4 Kod Medan 061 - 6621918
5 Kab Simalungun/P Siantar 0622 - 21856
6 Kab Tap Sel/ P Sidempuan 0634 - 23845
7 Kod Asahan/Tj Balai 0623 - 92033
8 Kod Tebing Tinggi 0621 - 22084
9 Kab Deli Sedang 061 - 7953820
III Sumatera Barat
10 Kod Padang 0751 - 31795
11 Kod Bukit Tinggi 0752 - 31605
IV Riau
12 Kod Pakan Baru 0761 - 23126
13 Kep Riau/Tj Pinang 0771 - 22734
14 Kotif Batam Sekupang 0778 - 450626
V Sumatera Selatan
15 Kod Palembang 0711 - 356282
16 Kod Pangkal Pinang 0717 - 432467
17 Kab Belitung/Tj Pandan 0719 - 21585
18 Kab Lahat 0731 - 21798
20 Kab Ogan Komering Ulu 0735 - 20298
VI Jambi
21 Kod Jambi 0741 - 61827
VII Bengkulu
22 Kod Bengkulu 0736 - 27018
VIII Lampung
23 Kod B Lampung 0721 - 702147
24 Kab L Utara/Kota Bumi 0724 - 22095
IX DKI Jakartra
25 UTDD PMI DKI Jakarta 021 - 3906666
X Jawa Barat
26 Kod Bandung 022 - 4208677
27 Kab Bandung/Soreang 022 - 5950035
28 Kab Serang 0254 - 200724
29 Kab Tangerang 021 - 5523582
30 Kota Bogor 0251 - 342864
31 Kab Bogor 0251 - 29491
32 Kod Sukabumi 0266 - 225180
33 Kab Sukabumi 0266 - 225343
34 Kab Garut 0262 - 233672
35 Kab Tasimalaya 0265 - 331325
36 Kab Karawang 0267 - 405190
37 Kod Cirebon 0231 - 201003
38 Kab Cirebon 0231 - 207587
39 Kab Purwakarta 0264 - 200100
40 Kab Bekasi 021 - 8855713
41 Kab Cianjur 0263 - 265167
42 Kab Subang 0264 - 91423
43 Kab Lebak Rangkasbitung 0252 - 21087
44 Kab Majalengka 0233 - 22048
45 Kab Ciamis 0265 - 771405
46 Kab Sumedang 0261 - 81623
47 Kab Indramayu 0234 - 272324
48 Kab Kuningan 0232 - 81505
3. PENGELOLAAN DARAH & BIAYA PENGGANTIAN PENGELOLAAN (Service Cost )
Upaya kesehatan Transfusi Darah adalah upaya kesehatan yang bertujuan agar penggunaan darah berguna
bagi keperluan pengobatan dan pemulihan kesehatan . Kegiatan ini mencakup antara lain :pengerahan
donor,penyumbangan darah, pengambilan, pengamanan, pengolahan, penyimpanan, dan penyampaian darah
kepada pasien.

Kegiatan tersebut harus dilakukan dengan sebaik-baiknya sesuai standar yang telah ditetapkan, sehingga darah
yang dihasilkan adalah darah yang keamanannya terjamin. Demikian juga dengan donornya, donor yang
menyumbagkan darahnya juga tetap selalu sehat.

Kelancaran pelaksanaan upaya kesehatan transfusi darah di atas sangat terkait dengan dukungan faktor
ketenagaan, peralatan, dana dan sistem pengelolaannya yang hakikatnya kesemuanya itu memerlukan biaya.

Biaya yang dibutuhkan untuk proses kegiatan tersebut diatas adalah biaya pengelolaan darah ( Service Cost) ,
yang pada prakteknya manfaatnya ditujukan kepada pengguna darah di rumah sakit. Penarikan service
cost/biaya pengelolaan darah untuk pemakaian darah dilakukan semata-mata sebagai penggantian pengelolaan
darah sejak darah diambil dari donor sukarela sampai darah ditransfusikan pada orang sakit dan bukan untuk
membayar darah.

Pengelolaan Darah
Yang dimaksud dengan pengelolaan darah adalah tahapan kegiatan untuk mendapatkan darah sampai dengan
kondisi siap pakai, yang mencakup antara lain :

 Rekruitmen donor.
 Pengambilan darah donor.
 Pemeriksaan uji saring.
 Pemisahan darah menjadi komponen darah.
 Pemeriksaan golongan darah.
 Pemeriksaan kococokan darah donor dengan pasien.
 Penyimpanan darah di suhu tertentu
 Dan lain-lain.

Untuk melaksanakan tugas tersebut dibutuhkan sarana penunjang teknis dan personil seperti :

 Kantong darah.
 Peralatan untuk mengambil darah.
 Reagensia untuk memeriksa uji saring, pemeriksaan golongan darah, kecocokan darah donor dan
pasien.
 Alat-alat untuk menyimpan dan alat pemisah darah menjadi komponen darah.
 Peralatan untuk pemeriksaan proses tersebut.
 Pasokan daya listrik untuk proses tersebut dan
 Personil PMI yang melaksanakan tugas tersebut

Peranan ketersediaan prasarana di atas sangat menentukan berjalannya proses pengolahan darah. Untuk itu
pengadaan dana menjadi penting dalam rangka menjamin ketersediaan prasarana tersebut, PMI menetapkan
perlunya biaya pengolahan darah ( service cost).

"Service Cost "


Besarnya jumlah Service Cost yang ditetapkan standar oleh PMI adalah sebesar Rp 128.500,- Namun demikian
dalam prakteknya di beberapa rumah sakit, terutama swasta, jumlahnya bisa disesuaikan dengan keadaan RS-
nya. oleh karena adanya kebijakan "subsidi silang". Bagi yang tak mampu, pembebasan service cost juga dapat
dikenakan sejauh memenuhi prosedur administrasi yang berlaku.

"Service cost" tetap harus dibayar walaupun pemohon darah membawa sendiri donor darahnya. Mengapa
demikian? Karena bagaimanapun darah tersebut untuk dapat sampai kepada orang sakit yang membutuhkan
darah tetap memerlukan prosedur seperti tersebut diatas.

Demikian pula Service Cost tetap ditarik walaupun PMI telah menerima sumbangan dari masyarakat karena
hasil sumbangan masyarakat tersebut masih jauh dari mencukupi kebutuhan operasional Unit Darah Daerah
PMI DKI Jakarta.
Penarikan service cost di Jakarta khususnya dapat dilakukan di :
+ Rumah Sakit
Rumah sakit yang sudah mempunyai Bank Darah atau yang belum mempunyai Bank Darah tetapi permintaan
darahnya banyak.
Kemudian UTDD PMI DKI akan menagih setiap bulan ke rumah sakit tersebut, berdasarkan jumlah pemakaian
darah.

+ UTDD ( Unit Transfusi Darah Daerah ) PMI DKI Jakarta


Untuk rumah sakit-rumah sakit yang letaknya jauh dari UTDD dan permintaan darahnya sedikit/jarang maka
service cost akan ditarik langsung oleh UTDD.
Setiap pembayaran service cost disertai tanda bukti pembayaran yang sah dari rumah sakit atau dari UTDD PMI
DKI Jakarta.

4. PEMAKAIAN DARAH
+ Pemecahan Darah menjadi Komponen
Darah terdiri dari bagian-bagian atau komponen darah dengan fungsinya masing-masing. Komponen-komponen
darah yang penting adalah eritrosit, leukosit, trombosit, plasma dan faktor pembekuan darah. Dengan kemajuan
teknologi kedokteran, komponen-komponen darah tersebut dapat dipisah-pisahkan dengan suatu proses.

+ Pengguna Darah sesuai Komponen


Keuntungan terapi komponen darah, bagi penderita jelas, oleh karena hanya menerima komponen darah yang
dibutuhkan.
Darah dapat pula disimpan dalam bentuk komponen-komponen darah yaitu: eritrosit, luekosit, trombosit, plasma
dan faktor-faktor pembekuan darah dengan proses tertentu yaitu dengan Refrigerated Centrifuge.

5. GOLONGAN DARAH
Apakah Golongan Darah itu?
Golongan darah ditentukan adanya suatu zat/antigen yang terdapat dalam sel darah merah. Dalam system ABO
yang ditemukan Lansteiner tahnu 1900, golongan darah dibagi:

Gol Sel Darah Merah Plasma


A Antigen A Antibodi B
B Antigen B antibodi A
AB Antigen A & B tak ada antibodi
O Tak ada antigen Antibodi Anti A &
Anti B

Siapa yang menemukan asal muasal golongan darah pada manusia?


Landsteiner adalah orang yang menemukan 3 dari 4 golongan darah dalam ABO system pada tahun 1900
dengan cara memeriksa golongan darah beberapa teman sekerjanya. Percobaan dilakukan dengan melakukan
reaksi antara sel darah merah dan serum dari donor. Hasilnya adalah dua macam reaksi dan dan satu macam
tanpa reaksi. Kesimpulannya ada dua macam antigen A dan B di sel darah merah yang disebut golongan A dan
B, atau samasekali tidak ada reaksi yang disebut golongan O.

Lantas, siapa yang menemukan golongan darah AB?


Von Decastello dan Sturli pada tahun 1901 yang menemukan golongan darah AB di mana kedua antigen A dan
B ditemukan secara bersamaan pada sel darah merah sedangkan pada serum tidak ditemukan antibody.

Apakah Rh/Rhesus Faktor itu?


Rh Faktor adalah juga semacam sistem golongan darah, dengan melihat ada/tidak adanya antigen Rh di dalam
sel darah merahnya.

Apakah ada macam golongan darah lain?


Selain ABO dan Rh, masih ada banyak sistem penggolongan darah menurut antigen yang terdapat dalam sel
darah merah antara lain : MWSP, Lutheran, Duffy, Lewis, Kell dan sebagainya.

Berapa kalikah kita boleh menyumbangkan darah?


Sebaiknya secara teratur, maksimal 4-6 kali setahun, atau 2-3 bulan sekali penyumbangan dengan jarak waktu
sangat dekat adalah sangat berbahaya karena tidak baik untuk kesehatan.
Banjir Jember PMI di COP 13 Bali Hari Palang
Hari Palang Merah
Sedunia 200
Sedunia 2008 PMI berduka, Prof.
Sujudi Wafat

donatur korban banjir Perlengkapan sekolah Peduli Banjir DKI Banjir di Sumatera, Hari AIDS Se
2007 untuk siswa korban Jakarta dan sekitarnya Riau dan NAD 2006
banjir

Peringatan HUT PMI Jumbara Nasional PMR Gempa Yogyakarta dan


Gempa-Tsunami di Merapi : Pen
ke-61 2006 Jawa Tengah
Pangandaran Relawan

Peringatan Hari Palang PMI Siaga Merapi Deteksi Dini


Longsor di Bandung
Merah Internasional di DKI Jakar
Jawa Barat
2006 : Bakti Sosial
Kemanusiaan
Terpadu ;
Peringatan satu tahun
gempa Nias

Banjir dan Longsor di


PMI Uji Coba Program Banjir Bandang dan
Sulawesi Utara Musyawarah Kerja BIO SECURITY Tanah Longsor di Jawa
Nasional PMI 2006 Pertemuan R
Palang Mera
Bulan Sabit M
tentang Flu B
Forum Koordinasi Gathering keluarga
Sidang Umum Palang Program Rekonstruksi Banjir Bandang di Aceh besar PMI Sosialisasi P
Merah dan Bulan Sabit & Rehabilitasi di NAD Tenggara mencegah fl
Merah Internasional,
11-18 Nov 2005, Seoul

Ulang tahun PMI ke-60 PMI dan IFR


Bom Bali 1 Oktober di Banda Aceh Kecelakaan Mandala di
Korban Banj
2005 Medan 2005
Kegiatan PMI Dalam
Penanggulangan
Korban Bencana
Tsunami di Aceh

Aksi PMI bantu korban


Bencana di Manokwari
Lomba Desain payung HUT PMI ke
banjir langkat
September 2
AKSI PMI DI daerah-daer
NANGGROE ACEH
DARUSSALAM

HUT PMI 17 Aksi PMI di Aceh Pasca


September 2002 9 Desember 2002
hari AIDS Sedunia PMI Bantu Korban PMI Bantu T
2002 Papandayan Korban Bom

Aksi PMI bagi TKI di Banjir di Jakarta


Nunukan