Anda di halaman 1dari 4

Wheatstone Bridge (jembatan Wheatstone)

Hehehehehehe, jangan bayangkan kalau jembatan Wheatstone itu sama seperti jembatan Ampera
di sungai musi, karena memang sangat berbeda.
Jembatan Wheatstone adalah sebutan bagi sebuah rangkaian yang berbentuk seperti gambar
dibawah ini.

Gambar 1 skema rangkaian jembatan Wheatstone (sumber www.electronics-tutorials.ws)
Jembatan Wheatstone pertama kali dibuat oleh Charles Wheatstone ( berarti ini orang baik,
namanya masih dipakai buat nama jembatan tidak seperti Thomas alfa edison ). Fungsi jembatan
wheatstone adalah untuk menghitung besar suatu hambatan yang tidak diketahui besar
hambatannya (pada waktu itu Ohmmeter belum ditemukan dan memang Ohmmeter hingga saat ini
masih menggunakan prinsip kerja jembatan Wheatstone).
Pada saat ini jembatan wheatstone lebih sering digunakan sebagai alat bantu untuk pengukuran
(instrumentasi), karena rangkaian ini sangat sensitif dan akurat. Beberapa alat ukur yang
mengunakan prinsip jembatan wheatstone : Ohmmeter, voltmeter, amperemeter, termometer
elektronik, staingauge dan lain sebagainya. Hampir semua alat ukur menggunakan prinsip ini. Salah
satu kelebihan jembatan wheatstone adalah dapat digunakan untuk mengukur perubahan yang
sangat kecil pada hambatan.
Perhatikan gambar 1. Dalam kondisi seimbang, jembatan wheatstone dapat disamakan dengan 2
rangkaian seri resistor yang dipasang paralel seperti dimana tidak ada beda potensial pada titik CD,
sehingga tidak ada arus listrik yang mengalir melewati titik CD.

Gambar 2 jembatan wheatstone dalam kondisi seimbang
Pada gambar 2 terlihat rangkaian seri resistor pada sisi kanan sama dengan rangkaian seri resistor
pada sisi kiri. Resistor resistor tersebut akan membagi tegangan sumber (12 V) menjadi V
1
=4 V
dan V
2
=8 V demikian juga dengan sisi sebelah kanan yaitu V
3
=4 V dan V
4
=8 V. Arus akan terbagi
menjadi 2 juga yaitu I
1
dan I
2
yang besarnya sama karena besarnya hambatan total seri 1 besarnya
sama dengan hambatan total rangkaian seri 2. Akibatnya tidak ada beda potensial pada titik C dan
titik D. Karena tidak ada beda potensial maka tidak akan ada arus yang mengalir pada titik CD.
Namun bila hambatannya dibalik seperti pada gambar 3 berikut ini.

Gambar 3 kondisi jembatan wheatstone yang tidak seimbang
Maka pada resistor sebelah kira akan timbul tegangan 8 Volt pada titik C dan pada resistor sebelah
kanan akan timbul tegangan 4 Volt pada titik D. Akibatnya titik C dan titik D timbul beda tegangan.
Besar beda tegangan ini adalah : 8 4 =4 Volt.
Dapat dilihat, jika resistor di salah satu sisinya tidak sama besarnya, atau ada sedikit saja perbedaan,
maka akan timbul beda tegangan pada titik tengah (CD), beda tegangan inilah yang dapat digunakan
sebagai alat ukur. Bingung ?......... ok lihat contoh soal berikut ini.
Contoh soal

Bila diketahui R
1
=10 k ; R
2
=20 k ; R
3
=8 k dan R
4
=6 k, dengan sumber tegangan 12 V,
hitunglah berapa beda potensial pada titik CD atau yang terukur oleh voltmeter pada titik CD.
Jawab
Langkah pertama hitung beda potensial pada titik CB
I
CB
=
R
2
R
1
+ R
2
.I
I
CB
=
20 k
10 k +20 k
.12I =8 I
Kemudian hitung beda potensial pada titik DB
I
B
=
R
4
R
3
+ R
4
.I
I
B
=
6 k
8 k +6 k
.12 I =5,14 I
Maka beda potensial pada titik CD adalah :
I
C
=85,14 =2,85 I

Rangkaian jembatan Wheatstone untuk menghitung besar resistor yang belum diketahui besarnya
dapat dilihat seperti pada gambar berikut ini.

Gambar 4 rangkaian jembatan wheatstone untuk mengukur R yang belum diketahui
Pada gambar 4 tampak rangkaian yang dapat digunakan untuk mengukur besar hambatan suatu
resistor yang belum diketahui besarnya. Hambatan yang tidak diketahui besarnya dipasang pada R
4

(R
X
), sedangkan R
3
diganti dengan sebuah potensiometer. Fungsi potensiometer ini adalah untuk
mengatur supaya beda tegangan antara titik C dan D sama dengan Nol atau untuk menyeimbangkan
jembatan wheatstone. Maka besar R
X
dapat dihitung.
Tegangan CB dapat dihitung :
I
CB
=
R
2
R
1
+ R
2

Tegangan DB dapat dihitung :
I
B
=
R
X
R
3
+ R
X

Jembatan dalam keadaan seimbang jika V
CB
=V
DB
maka

I
CB
= I
B

R
2
R
1
+ R
2
=
R
X
R
3
+ R
X

R
X
(R
1
+ R
2
) = R
2
(R
3
+ R
X
)
R
X
.R
1
+ R
X
.R
2
= R
2
.R
3
+ R
2
.R
X

Didapat :
R
X
=
R
2
.R
3
R
1

Dimana R
2
dan R
1
adalah resistor yang ditetapkan besarnya sedangkan R
1
adalah variabel resistor.