Anda di halaman 1dari 19

3- Deformasi Struktur

Deformasi adalah salah satu kontrol kestabilan suatu elemen balok terhadap
kekuatannya.
Biasanya deformasi dinyatakan sebagai perubahan bentuk elemen struktur
dalam bentuk lengkungan (u) dan perpindahan posisi dari titik di bentang
balok ke titik lain, yaitu defleksi (v) akibat beban di sepanjang bentang
balok tersebut.


MEKANIKA REKAYASA III MK-142003-Unnar-Dody Brahmantyo 1
Ada beberapa metode untuk menentukan deformasi struktur, yaitu :
1. Metode Beban Satuan (Unit Load) / Prinsip Kerja Maya
2. Metode Turunan Parsial Teorema Castigliano
3. Metode Bidang Momen (Momen Area)
4. Metode Balok Padanan (Conjugate Beam)

Pada mata kuliah Mekanika Rekayasa 3 ini akan dibahas 2 metode saja yaitu
Metode Beban Satuan (Unit Load) dan Metode Balok Padanan (Conjugate
Beam)


MEKANIKA REKAYASA III MK-142003-Unnar-Dody Brahmantyo 2
3
MEKANIKA REKAYASA III MK-142004-Unnar-Dody Brahmantyo
Metode Beban Satuan (Unit Load) / Prinsip Kerja Maya
Metode ini ditemukan oleh John Bernoulli pada tahun 1717.
Prinsip kerja metoda ini adalah: Kerja/work didapatkan dari hasil
perkalian gaya dengan simpangan sesuai dengan arah gaya yang
ditinjau.







Perubahan rotasi karena sistem beban P adalah :
Sedangkan kerja W
Q
, yang dihasilkan akibat beban maya Q yang bekerja
untuk defleksi sebesar v adalah :
P
dx
B
C
A
D
x
v


L

Q
dx
B
C
A
D
x
v


L

du

M
m


dx
4
MEKANIKA REKAYASA III MK-142004-Unnar-Dody Brahmantyo
Energi regangan maya dU
Q
yang dihasilkan di tiap elemen sebagai momen
m bergerak di sepanjang sudut du adalah :

Untuk mendapatkan total energi regangan U
Q
, sepanjang bentang L, maka:


Prinsip pada keseimbangan energy mensyaratkan bahwa kerja maya W
Q

sebanding dengan energy regangan U
Q
, sehingga :


Sedangkan du diketahui sebagai fungsi dari M, maka kerja maya
dinyatakan sebagai :



5
MEKANIKA REKAYASA III MK-142004-Unnar-Dody Brahmantyo
Karena beban maya Q adalah beban bernilai satu satuan, maka persamaan
di atas menjadi :


Jika kerja luar bukan diakibatkan oleh beban maya Q, tetapi diakibatkan
oleh momen maya M
Q
, maka persamaan kerja maya menjadi :



Tanda positif dihasilkan jika arah beban maya searah dengan
simpangannya sedangkan tanda negatif berarti arah gaya maya
berlawanan dengan arah simpangan.





6
MEKANIKA REKAYASA III MK-142004-Unnar-Dody Brahmantyo
Pada struktur Konstruksi Rangka Batang hanya ada defleksi titik simpul.
Untuk struktur konstruksi Rangka Batang statis tertentu, karena setiap
batang mempunyai nilai gaya batang yang tetap (konstant), maka
perumusannya tidak memerlukan perhitungan integral melainkan hanya
penjumlahan secara aljabar saja. Rumus defleksi untuk konstruksi rangka
batang statis tertentu adalah sebagai berikut :


A : defleksi
S : gaya batang akibat beban yang ada.
: gaya batang akibat beban unit
A : luas penampang batang
E : modulus elastis bahan batang
I : nomor batang dari 1 sampai dengan n
: penjumlahan aljabar dari batang no.1 sampai dengan no. n
Catatan : Gaya batang tarik (+)
Gaya batang tekan (-)

) AE (
S
n
1 i
i
i i
=
=

A

=
n
1 i
7
MEKANIKA REKAYASA III MK-142004-Unnar-Dody Brahmantyo
Contoh 3-1 :
Suatu struktur statis tertentu berupa balok kantilever dengan ukuran dan
pembebanan seperti tergambar. Hitunglah defleksi dan rotasi titik B akibat
beban terbagi rata q.






q
EI
L
A B
Penyelesaian :
Akibat beban q : R
A
= qL (|)
M
A
= qL ( )
Persamaan momen (M
x
) : BA : 0 x L

Mx = - qx
Akibat beban unit gaya vertical di B (+)
q
B
x R
A
= qL
M
A
= q L b). Akibat beban q
M
A
= L
A
A
B
A
x
R
A
= 1
c). Akibat beban unit
gaya vertical di B (+)
1
R
A
= 1 (|) M
A
= 1 x L = L ( )
Persamaan momen (m
v
) : BA : 0 x L

m
V
= - 1 . X = - X
8
MEKANIKA REKAYASA III MK-142004-Unnar-Dody Brahmantyo

1
M
A
= 1
A
B
x
d). Akibat beban unit momen di B (
)
Akibat beban unit momen di B ()
M
A
= 1 () R
A
= 0
Persamaan momen (m

) : BA : 0 x L

m

= - 1
Defleksi di B :
dx
EI
m Mx
v
v
L
B
.

0
=

( )( )
L
L L
B
x q
EI
dx x q
EI
I
dx
EI
v
0
4
0 0
]
8
1
[
1

2
1

x - 1/2qx -

+ = + = =
EI
qL
v
B
8
4
+ =
( + ) (kebawah)
Rotasi di B : u
B =

dx
EI
m Mx
L
u
}
0
u
B
=
( )( )
EI 6
qL
] qx
6
1
[
EI
I
dx
EI
1 - qx 1/2 -

L
o
L
0
+ = + =
() (searah jarum jam).
9
MEKANIKA REKAYASA III MK-142004-Unnar-Dody Brahmantyo
Contoh 3-2 :
Suatu struktur statis tertentu berupa balok kantilever dengan ukuran dan
pembebanan seperti tergambar. Hitunglah defleksi dan rotasi titik B akibat
beban terpusat P.

v(x)
P
A
B x
EI konstan
10
MEKANIKA REKAYASA III MK-142004-Unnar-Dody Brahmantyo
P
A B
P
M

x
1


1
m
v

x


A 1

m
u
1
x
11
MEKANIKA REKAYASA III MK-142004-Unnar-Dody Brahmantyo
Contoh 3-2 :
Suatu struktur statis tertentu berupa balok diatas dua tumpuan dengan
ukuran dan pembebanan seperti tergambar. Hitunglah defleksi di tengah
bentang dan rotasi di ujung perletakan A.

v(x)
q , EI konstan

A C B
x
1
R
A
R
B
x
2

q q


1

A C B

x
1
x
2









12
MEKANIKA REKAYASA III MK-142004-Unnar-Dody Brahmantyo
13
MEKANIKA REKAYASA III MK-142004-Unnar-Dody Brahmantyo

v(x) q , EI konstan



A B
R
A
R
B
x
q

B


1

A B

x








14
MEKANIKA REKAYASA III MK-142004-Unnar-Dody Brahmantyo
15
MEKANIKA REKAYASA III MK-142004-Unnar-Dody Brahmantyo
Metode Balok Padanan (Conjugate Beams) / Mohrs Theorems
Metode ini dikembangkan oleh Otto Mohr pada tahun 1868.
Prinsip dasarnya adalah analogi hubungan antara beban, gaya geser, dan
momen lentur dengan , slope (rotasi) dan defleksi (lendutan).
Analogi tersebut dapat dituliskan sebagai berikut :








Jadi jika diberlakukan sebagai beban pada balok conjugate, maka geser
dan momen lentur pada balok conjugate merupakan rotasi dan defleksi
pada balok asli.

Beban-Geser-Momen Diagram rotasi defleksi
1.
2.
1.
2.
16
MEKANIKA REKAYASA III MK-142004-Unnar-Dody Brahmantyo
Definisi balok conjugate adalah: balok fiktif yang sama panjangnya seperti
pada balok aslinya tetapi mungkin mempunyai tumpuan yang berbeda
yang dibebani oleh diagram dari balok asli sedemikian rupa sehingga
gaya geser dan momen lentur pada suatu titik pada balok conjugate
merupakan putaran sudut dan lendutan pada balok aslinya.
REAL BEAM CONJUGATE BEAM


q 0 q 0
v = 0 v = 0


S 0 S 0
M = 0 M = 0


q = v = 0 q 0
v 0


S = 0 S 0
M = 0 M 0


q 0 q 0 q 0
v 0 v = 0 v = 0


S 0 S 0 S 0
M 0 M = 0 M = 0


q = 0 q 0 q 0
v = 0 v 0 v = 0


S = 0 S 0 S 0
M = 0 M 0 M = 0
17
MEKANIKA REKAYASA III MK-142004-Unnar-Dody Brahmantyo
18
MEKANIKA REKAYASA III MK-142004-Unnar-Dody Brahmantyo
Contoh 3-3 :

19
MEKANIKA REKAYASA III MK-142004-Unnar-Dody Brahmantyo

Anda mungkin juga menyukai