Anda di halaman 1dari 29

1

PENILAIAN OBLIGASI
DAN BERBAGAI ALTERNATIF PENILAIAN SAHAM


1. PENILAIAN OBLIGASI

1.1 PENGERTIAN OBLIGASI
Obligasi merupakan surat utang jangka menengah-panjang yang dapat
dipindahtangankan yang berisi janji dari pihak yang menerbitkan untuk membayar
imbalan berupa bunga pada periode tertentu dan melunasi pokok utang pada waktu yang
telah ditentukan kepada pihak pembeli obligasi tersebut. (idx.co.id)
Obligasi (bond) adalah kontrak jangka panjang dimana peminjam dana setuju untuk
membayar bunga dan pokok pinjaman, pada tanggal tertentu, kepada pemegang obligasi
tersebut (Brigham dan Houston, 2009).
Obligasi (bond) adalah surat berharga yang menunjukkan bahwa penerbit obligasi
meminjam sebuah dana kepada masyarakat dan memiliki kewajiban untuk membayar
untuk membayar bunga secara berkala, dan kewajiban melunasi pokok utang pada
waktu yang telah ditentukan kepada pihak pembeli obligasi tersebut ( Darmadji dan
Fakhruddin, 2006).
Obligasi merupakan instrumen utang jangka panjang yang digunakan oleh
kelompok bisnis dan pemerintah untuk mendapatkan sejumlah besar uang, khususnya
dari berbagai kelompok pemberi pinjaman (Arief Sugiono, 2009).

1.2 JENIS OBLIGASI
1.2.1 Dilihat dari penerbitan
[1] Treasury bond
diterbitkan oleh pemerintah pusat, bisa departemen keuangan atau bank
indonesia.
tidak memiliki risiko kegagalan.

2

harga obligasi akan menurun jika suku bunga naik.
[2] Corporate bond
diterbitkan oleh perusahaan.
memiliki risiko kegagalan jika penerbit obligasi memiliki masalah.
risiko kegagalan berbeda-beda pada perusahaan yang berbeda, tergantung
dari karakteristik penerbit dan jangka waktunya.
semakin tinggi tingkat risiko kegagalan, semakin tinggi tingkat suku bunga
yang harus dibayar oleh penerbit.
[3] Municipal bond
diterbitkan oleh pemerintah negara bagian dan lokal.
memiliki risiko kegagalan.
jika pemegangnya adalah penduduk setempat, dibebaskan dari pajak federal
dan pajak negara bagian tersebut.
memiliki suku bunga yang lebih rendah dari obligasi perusahaan, dengan
risiko yang sama.
[4] Foreign bond
diterbitkan oleh pemerintah asing atau perusahaan asing.
dihadapkan pada risiko kegagalan.
ada tambahan risiko jika diterbitkan dalam mata uang asing.

1.2.2 Dilihat dari sistem pembayaran bunga
[1] Zero coupon bonds: obligasi yang tidak melakukan pembayaran bunga secara
periodik. Namun, bunga dan pokok dibayarkan sekaligus pada saat jatuh
tempo.
[2] Coupon Bonds: obligasi dengan kupon yang dapat diuangkan secara periodik
sesuai dengan ketentuan penerbitnya.
[3] Fixed Coupon Bonds: obligasi dengan tingkat kupon bunga yang telah
ditetapkan sebelum masa penawaran di pasar perdana dan akan dibayarkan
secara periodik.
[4] Floating Coupon Bonds: obligasi dengan tingkat kupon bunga yang ditentukan
sebelum jangka waktu tersebut, berdasarkan suatu acuan (benchmark) tertentu
seperti average time deposit (ATD) yaitu rata-rata tertimbang tingkat suku
bunga deposito dari bank pemerintah dan swasta.



3

1.2.3 Dilihat dari hak penukaran/opsi
[1] Convertible Bonds: obligasi yang memberikan hak kepada pemegang obligasi
untuk mengkonversikan obligasi tersebut ke dalam sejumlah saham milik
penerbitnya.
[2] Exchangeable Bonds: obligasi yang memberikan hak kepada pemegang
obligasi untuk menukar saham perusahaan ke dalam sejumlah saham
perusahaan afiliasi milik penerbitnya.
[3] Callable Bonds: obligasi yang memberikan hak kepada emiten untuk membeli
kembali obligasi pada harga tertentu sepanjang umur obligasi tersebut.
[4] Putable Bonds: obligasi yang memberikan hak kepada investor yang
mengharuskan emiten untuk membeli kembali obligasi pada harga tertentu
sepanjang umur obligasi tersebut.

1.2.4 Dilihat dari segi jaminan atau kolateralnya
[1] Secured Bonds: obligasi yang dijamin dengan kekayaan tertentu dari
penerbitnya atau dengan jaminan lain dari pihak ketiga. Dalam kelompok ini,
termasuk didalamnya adalah:
i. Guaranteed Bonds: Obligasi yang pelunasan bunga dan pokoknya dijamin
denan penangguangan dari pihak ketiga
ii. Mortgage Bonds: obligasi yang pelunasan bunga dan pokoknya dijamin
dengan agunan hipotik atas properti atau asset tetap.
iii. Collateral Trust Bonds: obligasi yang dijamin dengan efek yang dimiliki
penerbit dalam portofolionya, misalnya saham-saham anak perusahaan yang
dimilikinya.
[2] Unsecured Bonds: obligasi yang tidak dijaminkan dengan kekayaan tertentu
tetapi dijamin dengan kekayaan penerbitnya secara umum.

1.2.5 Dilihat dari segi nilai nominal
[1] Konvensional Bonds: obligasi yang lazim diperjualbelikan dalam satu nominal,
Rp 1 miliar per satu lot.
[2] Retail Bonds: obligasi yang diperjual belikan dalam satuan nilai nominal yang
kecil, baik corporate bonds maupun government bonds.

4

1.2.6 Dilihat dari segi perhitungan imbal hasil
[1] Konvensional Bonds: obligasi yang diperhitungan dengan menggunakan sistem
kupon bunga.
[2] Syariah Bonds: obligasi yang perhitungan imbal hasil dengan menggunakan
perhitungan bagi hasil. Dalam perhitungan ini dikenal dua macam obligasi
syariah, yaitu:
i. Obligasi Syariah Mudharabah merupakan obligasi syariah yang
menggunakan akad bagi hasil sedemikian sehingga pendapatan yang
diperoleh investor atas obligasi tersebut diperoleh setelah mengetahui
pendapatan emiten.
ii. Obligasi Syariah Ijarah merupakan obligasi syariah yang menggunakan
akad sewa sedemikian sehingga kupon (fee ijarah) bersifat tetap, dan bisa
diketahui/diperhitungkan sejak awal obligasi diterbitkan.

1.3 KARAKTERISTIK UTAMA OBLIGASI
1. nilai nominal (nilai pari), adalah nilai nominal yang ditetapkan atas obligasi.
2. nilai intrinsik, adalah merupakan nilai teoritis dari suatu obligasi. diperoleh
dari hasil estimasi nilai saat ini (pv) dari semua aliran kas obligasi dimasa yang
akan datang.
3. suku bunga kupon, merupakan suku bunga tahunan yang ditetapkan atas
obligasi.
4. peringkat obligasi, penilaian atas resiko obligasi yang mungkin terjadi
kemudian
5. suku bunga mengambang, suku bunga ditentukan selama periode tertentu (6
bulan), setelah itu disesuaikan setiap 6 bulan berdasarkan suku bunga pasar.
6. suku bunga nol, merupakan obligasi yang tidak membayar bunga tahunan.
7. tanggal jatuh tempo, merupakan umur obligasi dimana nilai nominal obligasi
harus dibayar.
8. provisi penarikan, merupakan provisi dalam kontrak obligasi yang
memberikan hak kepada penerbit untuk menebus obligasi pada jangka waktu
tertentu sebelum tanggal jatuh tempo normal. besarnya provisi penarikan
lebih tinggi dari nilai nominalnya, selisihnya disebut premi penarikan.

5

besarnya premi penarikan sama dengan bunga satu tahun jika obligasi ditarik
selama tahun pertama. besarnya premi akan menurun pada tingkat yang
konstan sebesar int/n setiap tahun sesudahnya.
9. dana pelunasan, premi dana pelunasan merupakan provisi dalam kontrak
obligasi yang mengharuskan penerbit untuk menarik sebagian dari obligasi
setiap tahun.
10. indenture, perjanjian legal antara perusahaan penerbit obligasi dengan dewan
wali atau wali obligasi yang mewakili para pemilik atau pembeli obligasi
11. tingkat penghasilan sekarang, rasio pembayaran tahunan terhadap harga
obligasi di pasar

1.4 PENILAIAN RESIKO OBLIGASI
1. resiko suku bunga, merupakan resiko penurunan obligasi yang disebabkan
karena penurunan suku bunga. resiko suku bunga berhubungan dengan nilai
obligasi dalam portofolio.
2. resiko tingkat reinvestasi, merupakan resiko penurunan suku bunga yang
akan menyebabkan penurunan pendapatan dari portofolio obligasi. pemegang
obligasi jangka panjang akan menghadapi resiko suku bunga, namun tidak
menghadapi resiko tingkat investasi. pemegang obligasi jangka pendek terjadi
sebaliknya..
3. resiko kegagalan, adalah resiko yang disebabkan karena kegagalan
penerbitnya. risiko kegagalan dipengaruhi oleh kekuatan keuangan penerbit
obligasi maupun jangka waktu kontrak obligasi, terutama apakah jaminan telah
disediakan untuk menjamin obligasi yang diterbitkannya.

1.5 ZERO COUPON BOND
Obligasi tanpa bunga atau lebih dikenal dengan istilah (zero coupon bond)
adalah obligasi yang tidak memberikan pembayaran bunga. Obligasi ini diperdagangkan
dengan pemberian potongan harga dari nilai pari. Pemegang obligasi menerima secara
penuh pokok hutang pada saat jatuh tempo obligasi dengan kata lain penerbit obligasi
hanya akan membayar pokok obligasi pada saat jatuh tempo.

6

Investor yang membeli obligasi zero coupon bond tidak akan mendapatkan
bunga sama sekali sampai jatuh tempo. Jika obligasi itu diterbitkan untuk masa 10 tahun
misalnya, maka uang investor akan mengendap di sana selama masa tersebut, kecuali
jika investor menjualnya kembali ke pasar. Dapat disimak di sini, investor yang
membeli obligasi tanpa bunga hanya akan menerima uangnya kembali pada saat jatuh
tempo atau jika ia menjual obligasi itu di pasar. Kembali ke pertanyaan awal, dari mana
investor dapat keuntungan jika investasi di zero coupon bond? Obligasi jenis ini tetap
akan memberikan keuntungan bagi bond holders. Hanya saja keuntungannya tidak
berupa bunga atau kupon obligasi, melainkan berupa cash yang akan dibayarkan di
kemudian hari. Keuntungan investor bersumber dari selisih harga beli dengan harga
jualnya.
Jadi dapat disimpulkan Zero coupon bond adalah obligasi yang tidak
memberikan kupon secara periodik, tetapi pada saat dijual diberlakukan harga dibawah
nominal. Pada saat jatuh tempo pelunasan obligasi dilakukan pada nilai nominalnya.
Potongan harga atau diskon tergantung pada tingkat yield dan maturity obligasi yang
ditetapkan oleh bondissuer. Kurs obligasi pada saat dijual merupakan nilai sekarang
nominal obligasi yang akan diterima, yang dihitung dengan metode present value.

Kasus 1:
Zero coupon bond selalu ditawarkan dengan harga diskon yang tinggi. Ketika
membeli, investor akan membeli dengan harga diskon dan ketika jatuh tempo ia akan
menerima pembayaran penuh. Gambarannya begini. Perusahaan ABC menerbitkan
obligasi tanpa bunga sebesar Rp100 miliar dengan masa jatuh tempo 10 tahun.
Obligasi ini dilepas pada harga 60 persen. Dengan harga penawaran sebesar itu
berarti investor yang membeli obligasi ABC tadi tidak perlu membayar senilai harga
nominal 100 persen. Jika investor X misalnya akan membeli sebanyak Rp100 juta
maka ia hanya membayar sebesar Rp60 juta.
Meski investor X tadi hanya membayar Rp60 juta, tapi pada saat jatuh tempo
nanti (10 tahun kemudian) ia akan menerima pokok obligasi sebesar Rp 100 juta.
Jadi dalam kurun 10 tahun, uang investor X tadi tumbuh sebesar 66,6 persen dari
Rp60 juta menjadi Rp100 juta. Dari kacamata investor, jelas zero coupon bond
merupakan instrument investasi jangka panjang yang imbal hasillnya tidak bisa

7

dipanen cepat satu tahun atau dua tahun. Jika investor membutuhkan dana tunai,
jalan satu-satunya hanya menjual obligasi tersebut di pasar.
Harga zero coupon bond akan naik dari waktu ke waktu mendekati tanggal jatuh
tempo. Disitulah keuntungan yang bisa dinikmati investor. Sedangkan bagi issuer
atau penerbit, meskipun nilai obligasi yang ditawarkan mencapai Rp100 miliar, jika
obligasi tanpa bunga tersebut terjual semua, maka perusahaan ABC hanya akan
menerika dana tunai sebesar Rp60 miliar saja. Tentu ini belum dipotong biaya-biaya
dalam rangka penerbitan. Dari sisi issuer, obligasi tanpa bunga memiliki kelebihan
bahwa perusahaan tidak dipusingkan dengan bunga yang harus dibayar tiga bulan
sekali sebagaimana obligasi pada umumnya. Perusahaan hanya memikirkan agar saat
jatuh tempo 10 tahun mendatang harus ada dana tunai Rp100 miliar untuk membayar
pokok obligasi tersebut.

Kasus 2:
PT Gramatika sedang merencanakan penerbitan obligasi untuk mendanai
pembelian saham perusahaan lain yang selama ini biasa mendistribusikan produk
yang dihasilkan oleh PT Gramatika. Untuk proyek investasi ini, PT Gramatika
membutuhkan dana sebesar Rp50.000.000.000. Dua pilihan yang sedang
dipertimbangkan adalah: (1) menerbitkan obligasi berjangka waktu 10 tahun, dengan
bunga 10% yang dibayarkan setiap 6 bulan, atau (2) menerbitkan obligasi tanpa
bunga dengan jangka waktu 10 tahun.
Jika tingkat bunga yang sekarang efektif di pasar kredit berkisar antara 10%,
tentukan nilai nominal obligasi sehingga perusahaan bisa memperoleh dana sebesar
Rp50.000.000.000 dan buatlah ayat jurnal yang diperlukan untuk mencatat
penerbitan obligasi jika (a) obligasi berbunga yang diterbitkan dan (b) obligasi tanpa
bunga yang diterbitkan.
Solusi
a) Bunga obligasi yang akan diterbitkan sama dengan bunga efektif, yaitu 10%.
Dalam kondisi seperti ini, pembeli obligasi akan bersedia membayar obligasi
sebesar nilai nominalnya, sehingga untuk memperoleh dana sebesar
Rp50.000.000.000 PT Gramatika bisa menetapkan nilai nominal sebesar
Rp50.000.000.000.

8

Ayat jurnal:
Cash 50.000.000.000
Bonds Payable 50.000.000.000
b) Jika obligasi yang akan diterbitkan tidak berbunga, sementara bunga kredit
yang efektif berkisar antara 10%, pembeli obligasi baru akan bersedia
menyerahkan dananya sebesar Rp50.000.000.000 sekarang, jika 10 tahun
kemudian dia akan memperoleh pelunasan sebesar:
Rp50.000.000.000 x 2,5937 = Rp129.685.000.000
Ayat jurnal:
Cash 50.000.000.000
Discount on Bond Payable 79.685.000.000
Bonds Payable 129.685.000.000

1.6 COUPON BOND: FI XED RATE AND FLOATING RATE
Pada umumnya bentuk instrumen utang adalah sama dengan bentuk coupon
bond. Obligasi merupakan sekuritas yang diperdagangkan di bursa yang menunjukkan
surat tkita hutang dari emiten yang menerbitkan sekuritas tersebut. Obligasi (bond)
adalah kontrak jangka panjang dimana peminjam dana setuju untuk membayar bunga
dan pokok pinjaman, pada tanggal tertentu, kepada pemegang obligasi tersebut
(Brigham dan Houston, 2006).
1. Obligasi Bunga Tetap (Fixed Rate)
Obligasi yang menawarkan bunga tetap selama jangka waktu obligasi tersebut
(di Indonesia biasanya berjangka waktu lima tahun). Bunga yang dibayarkan
mungkin dilakukan setahun sekali, tetapi bisa juga dilakukan setiap semester (6
bulan).
Misal:
Coupon obligasi 18% per tahun dengan nilai nominal Rp 1.000.000,00 selama 5
tahun, maka pembeli obligasi akan menerima Rp 180.000,00 per tahun selama 5
tahun ditambah dengan Rp 1.000.000,00.




9

2. Obligasi Dengan Suku Bunga Mengambang (Floating Rate Bond)
Obligasi dengan suku bunga mengambang biasanya ditawarkan sebesar
persentase tertentu diatas suku bunga deposito. Mungkin juga dilakukan
kombinasi dengan suku bunga tetap (fixed rate).
Misalnya:
Pada tahun pertama menawarkan suku bunga 19% (tetap), tapi pada tahun
berikutnya menawarkan suku bunga mengambang (dikaitkan dengan suku bunga
beberapa bank ditambah dengan presentase tertentu). Sebagai contoh : suku
bunga mengambang ditawarkan sama dengan rata-rata suku bunga deposito 6
bulan dari bank-bank umum di tambah 1,75%.

1.7 CALLABLE BOND (OBLIGASI YANG DAPAT DITEBUS)
Callable Bond memberikan hak penerbit obligasi untuk menebus obligasi
sebelum tanggal jatuh tempo. Harga tebus (Call Price) adalah harga yang penerbit mau
bayarkan untuk menebus obligasi. Umumnya lebih tinggi daripada nilai nominal
obligasi (biasanya premium call besarnya setengah hingga satu tahun bunga).
Kasus 1:
Sebagai contoh jika suatu perusahaan menerbitkan callable bond dengan tingkat
bunga yang tinggi ketika tingkat bunga pasar tinggi, lalu tingkat bunga pasar
menurun, maka lebih baik bagi perusahaan untuk menarik kembali utang meraka
yang berbunga tinggi dalam bentuk callable bond tersebut dan menerbitkan sekuritas
utang baru dengan bunga yang lebih rendah untuk mengurangi beban pembayaran.
Namun tentu saja keuntungan bagi perusahaan merupakan beban bagi pemilik
obligasi karena dari sisi pemegang obligasi, mereka harus melepas hak atas tingkat
bunga yang menarik. Dengan demikian, apabila suatu perusahaan menerbitkan
obligasi yang dapat ditarik kembali, akan menggunakan harga yang rendah agar
dapat menarik pembeli obligasi tersebut (Bodie, et al; 2006 : 8-9)
Contoh : obligasi kupon 8%, 10, harga 92 dapat ditebus dalam tiga tahun pada
harga 108.




10

1.8 BOND RATI NG
Dalam investasi, rating merupakan salah satu hal yang sangat penting karena
menentukan suatu perusahaan / negara bisa mendapatkan pendanaan dari penerbitan
obligasi atau tidak dan berapa besar kupon atau imbal hasil yang harus dibayarkan
supaya mau diterima oleh investor. Rating adalah suatu penilaian yang terstrukturisasi
terhadap kemampuan suatu negara atau perusahaan dalam membayar hutang-hutangnya.
Karena terstrukturisasi artinya rating suatu perusahaan atau negara dapat dibandingkan
dengan perusahaan atau negara yang lain sehingga dapat dibedakan siapa yang
mempunyai kemampuan lebih baik, siapa yang kurang. Rating dikeluarkan oleh
perusahaan pemeringkat yang mendapat izin resmi dari pemerintah. Di Indonesia,
perusahaan yang mendapat izin serta menjadi market leader dalam pemberian
rating adalah PT. PEFINDO (Pemeringkat Efek Indonesia).
Suatu rating terdiri dari 2 bagian Rating dan Outlook. Rating adalah kemampuan
membayar hutang sedangkan Outlook adalah pemeringkatann dari perusahaan
pemeringkat apakah Rating akan naik, turun atau tetap pada periode penilaian
berikutnya. Rating sendiri terdiri dari 2 yaitu 3 huruf yang disertai dengan tkita atau
angka tergantung perusahaan pemeringkat. Sebagai contoh urutan dari yang paling
tinggi hingga paling rendah secara umum adalah sebagai berikut :
Investment Grade
- AAA atau Aaa
- AA+, AA dan AA- atau Aa1, Aa2 dan Aa3
- A+, A, dan A- atau A1, A2 dan A3
- BBB+, BBB dan BBB- atau Baa1, Baa2 dan Baa3
Non Investment Grade (junk Bond) dengan rating di bawah BBB atau Baa
- BB+, BB dan BB- atau Ba1, Ba2, dan Ba3
- B+, B dan B- atau B1, B2 dan B3
- CCC+, CCC dan CCC- atau Caa1, Caa2, dan Caa3
- CC+, CC dan CC- atau Ca11, Ca2 dan Ca3
- C+, C dan C- atau C1, C2 dan C3
- Default
Investment Grade adalah kategori bahwa suatu perusahaan atau negara dianggap
memiliki kemampuan yang cukup dalam melunasi hutangnya. Sehingga bagi investor

11

yang mencari investasi yang aman, umumnya mereka memilih rating Investment Grade.
Praktek pada perusahaan lebih detail lagi.
Non Investment Grade adalah kategori bahwa suatu perusahaan atau negara
dianggap memiliki kemampuan yang meragukan dalam memenuhi kewajibannya.
Perusahaan yang masuk kategori ini biasanya cenderung sulit memperoleh pendanaan.
Supaya bisa berhasil umumnya mereka memberikan kupon atau imbal hasil yang tinggi
sehingga disebut juga dengan High Yield Bond. Investor yang memilih jenis obligasi ini
biasanya cenderung memiliki sifat spekulatif. Sebab jika ternyata perusahaan
berkomitmen melunasi seluruh kewajibannya, imbal hasil yang diterima bisa sangat
tinggi.
Pada prinsipnya, semakin rendah rating, berarti semakin tinggi risiko gagal
bayar dan berarti semakin besar pula imbal hasil (return) yang diharapkan oleh investor.
Jadi ini menjadi alasan mengapa bunga deposito yang berbasis dollar seperti mata uang
Singapura (AAA) bisa jauh lebih rendah dibandingkan bunga deposito Indonesia (BB)
dan orang tetap mau menempatkan dana pada deposito tersebut.

1.9 RATING DAN IMPLIKASINYA TERHADAP INVESTASI
Rating dalam hal ini Rating terhadap Negara Indonesia memiliki implikasi yang
signifikan terhadap investasi di Indonesia. Saat ini rating Indonesia berada pada BB+
atau 1 tingkat lagi supaya bisa mencapai BBB-. Jika Indonesia berhasilkan
mendapatkan kenaikan rating tersebut pada tahun 2012 nanti, maka perkiraan kami akan
ada beberapa dampak positif yang bisa dirasakan seperti:
Investor luar akan mengganggap negara Indonesia menjadi negara yang layak
investasi (Investment Grade) dibandingkan negara yang hanya menjadi tujuan spekulasi
saja Dengan masuknya investasi, maka dana yang masuk tidak melulu hanya dana hot
money yang bisa keluar setiap saat akan tetapi bisa jadi merupakan dana investasi yang
sifatnya lebih jangka panjang. Masuknya dana asing diharapkan dapat mendongkrak
harga saham dan obligasi sehingga pada akhirnya juga meningkatkan tingkat
pengembalian instrumen reksa dana.




12

1.10 ORI, SUN, OBLIGASI KORPORASI
1.11.1 Investasi ORI
Investasi ORI (Obligasi Ritel Indonesia) sebagai sebuah instrumen investasi
yang diterbitkan pemerintah (dijamin pemerintah) tentunya tingkat keamanan sangat
tinggi. Boleh jadi investor di pasar perdana berebut untuk membeli instrumen yang zero
risk tersebut. Apalagi ORI memiliki beberapa karakteristik yang sama dengan deposito.
Apabila bunga deposito dibayarkan tiap bulan, begitupun kupon ORI juga dibayarkan
setiap bulannya. Yang lebih menarik lagi bunga deposito tiap bulan belum tentu sebesar
kupon bunga yang ditawarkan ORI. Dengan instrumen investasi yang rendah risiko,
permintaan di pasar perdana (ketika pertama kali ditawarkan) cukup tinggi. Bahkan
sejumlah agen penjual terpaksa meminta tambahan kuota dari pemerintah tiap kali ada
lelang surat utang negara dan ritel ini.
ORI sebelumnya sudah terbit selama 5 kali, dan untuk ke-6 kalinya ini,
pemerintah menawarkan kupon sebesar 9,35%. Kupon ini diberikan dengan persentase
tetap per tahun. Besaran kupon ini cukup menggiurkan karena di atas suku bunga
perbankan yang kini di kisaran 6-8 persen saja.
Menurut keterangan yang dikutip dari situs Ditjen Pengelolaan Utang Depkeu,
Senin (27/7/2009), kupon ORI sebesar 9,35% tersebut akan dibayarkan setiap bulannya.
Kupon yang dibayar untuk setiap bulannya adalah Rp 7.792 per unit. Pembayaran
kupon akan dilakukan pada setiap tanggal 15 tiap bulannya.
ORI diterbitkan dengan nominal per unit Rp 1 juta. Pemesanan pembelian ORI
minimal 5 unit atau Rp 5 juta. Sedangkan pemesanan maksimal ORI adalah 3 ribu unit
atau sekitar Rp 3 miliar.

Cara menghitung pendapatan investasi ORI
Sebuah ORI002 dengan bunga yang ditawarkan pemerintah RI sebesar 9,28%
Menghitung nilai ORI sekarang
harga pari = 1000.000
kupon = 9,28%x1000.000 = 92800 dibayar bulanan
jangka waktu 3 tahun, jika bunga deposito = 7%
Nilai sekarang: = 92800 /12 [( 1 -1/(1+0,07/12)3.12] +1000000/ (1+0,07/12)3.12
= 1.064.000

13

Obligasi dengan harga yang biasa disebut pari atau par dengan harga patokan
100, sedangkan obligasi yang ditawarkan dengan harga diskon 2% dinyatakan bernilai
98% (benefit ini tentunya diluar kupon bunga tetap yang ditawarkan yang biasanya
diatas bunga deposito).
Kita dapat melakukan rekap pada contoh perhitungan ORI diatas sbb:
Harga jual sekarang 1000.000
Harga perhitungan sekarang 1.064.000
Harga jual/pasar dinilai lebih rendah, maka sebaiknya beli karena
menguntungkan
Selama tingkat bunga bank kecenderungannya turun, maka beli ORI akan jauh
lebih menguntungkan dibandingkan menyimpan uang di deposito
Tanggal pemesanan ORI adalah setiap tanggal 8-23 Maret

Agen penjual ORI biasanya adalah berupa institusi jasa keuangan yang sudah
ditunjuk oleh pemerintah RI.
Contoh: Agen Penjual ORI002: Bank Permata, BCA, Citibank, BII, Valbury
Asia Sec, Trimegah Sec.
- Biaya Meterai: 2x 6000 (kecuali Valbury & Trimegah = 0)
- Biaya penyimpanan:0,005% +PPN (min 2.200 bank Permata; min 30000
(BII); 0,005% +PPN (Valbury); 0 (BCA, Citibank, Trimegah)
- Biaya Transfer kupon per bulan semua 0 (Valbury 0 jika via rek BCA,
Mandiri, Lippo sekota, luar kota 5000; bank lain menyesuaikan)
- Biaya penjualan di pasar sekunder (per bulan): 0,25-0,5% dari nilai transaksi
untuk Bank Permata; 25 ribu per transaksi (BCA & Citi); 50 ribu utk BII;
0,5% atau min 30 ribu untuk Valbury; 33 ribu utk Trimegah;

A. Contoh Menghitung ORI (pada keadaan pasar yang bagus/naik)
Beli Rp 5 jt di Bank Permata setelah 3 bulan dijual dengan harga 102 (naik)
Keuntungan:
bunga 3 bln = 9,28% x 3/12 x Rp 5 jt = 116.000
capital gain = (102%x Rp 5 jt) - Rp 5 jt = 100.000
total keuntungan = 216.000

14

Pajak
pajak atas obligasi =20%x116.000 = 23.200
pajak atas capital gain =20%x100.000 = 20.000
total pjk = 43.200
Biaya-biaya
meterai 26.000 = 12.000
penyimpanan &kustodi +PPN= 32.2 = 6.600
biaya penjualan ORI=0.5%x5jt = 25.000
total biaya = 43.600
Keuntungan bersih= 216.000-43.200-43.600 = 129.200

B. Contoh Menghitung ORI (pada keadaan pasar yang tidak bagus/turun)
Beli 5jt di Bank Permata setelah 3 bulan dijual dengan harga 98 (turun)
Keuntungan:
bunga 3 bln=9,28%x3/12x5jt = 116.000
capital gain=(98%x5jt)-5jt = -100.000
total keuntungan = 16.000
Pajak
Pajak atas obligasi =20%x116.000 = 23.200
total pjk = 23.200
Biaya-biaya
meterai 26.000 = 12.000
penyimpanan &kustodi +PPN= 32.200 = 6.600
biaya penjualan ORI=0.5%x5jt = 25.000
total biaya = 43.600
Kerugian bersih= 16.000-23.200-43.600 = -48.600


1.11.2 Obligasi negara
Di Indonesia, obligasi negara (government bond) merupakan bagian dari
Surat Utang Negara yang diterbitkan oleh Pemerintah Republik Indonesia. Surat
Utang Negara (SUN) adalah surat berharga yang berupa surat pengakuan utang
dalam mata uang rupiah maupun valuta asing yang dijamin pembayaran bunga
dan pokoknya oleh Negara Republik Indonesia, sesuai dengan masa berlakunya.

15

SUN dan pengelolaannya diatur oleh Undang-undang No. 24 Tahun 2002 tentang
Surat Utang Negara. Selain itu, berbagai peraturan pelaksanaanya juga telah
diterbitkan untuk mendukung pengelolaan SUN.
Secara umum SUN dapat dibedakan ke dalam dua jenis:
[1] Surat perbendaharaan negara (SPN), yaitu SUN berjangka waktu sampai
dengan 12 bulan dengan pembayaran bunga secara diskonto. Di Amerika
Serikat, SPN ini dikenal dengan sebutan Treasury Bills (T-Bills).
[2] Obligasi negara (ON), SUN berjangka waktu lebih dari 12 bulan. Di Amerika
Serikat, obligasi negara ini dikenal dengan sebutan Treasury Bonds (T-Bonds).
Tujuan pemerintah menerbitkan SUN adalah untuk: (1) membiayai defisit
APBN, (2) menutup kekurangan kas jangka pendek, dan (3) mengelola
portofolio utang negara. Atas penerbitan SUN, pemerintah berkewajiban untuk
membayar bunga dan pokok pinjaman dengan dana yang disediakan dalam
APBN.
Sedangkan investor perlu mengetahui beberapa hal penting berikut mengenai
obligasi negara:
[1] Obligasi negara harus mencerminkan investasi bebas risiko.
[2] Obligasi negara digunakan sebagai benchmark.
[3] Obligasi negara dapat digunakan sebagai alat dalam menata ekonomi.
[4] Obligasi negara diharapkan dapat memudahkan pricing dan evaluasi obligasi,
baik di pasar primer maupun sekunder.
[5] Obligasi negara dapat menjadi alat manajemen risiko.

1.11.3 Penerbitan dan Perdagangan Obligasi Negara
Obligasi negara dapat diterbitkan dengan kupon atau tanpa kupon.
Obligasi negara dengan kupon mempunyai jadwal pembayaran kupon secara
perodik setiap tiga bulan atau enam bulan sekali. Sedangkan obligasi negara
tanpa kupon tidak memiliki jadwal pembayaran kupon dan dijual pada harga
diskon serta akan membayar pokok pinjaman pada saat jatuh tempo. Obligasi
negara dengan kupon dapat dibedakan menjadi:

16

[1] Obligasi negara berbunga tetap, yaitu obligasi negara seri FR (Fixed rate).
Kupon obligasi ini telah ditetapkan ketika diterbitkan. Contohnya adalah
obligasi negara Tahun 2005 Seri FR0028 dengan tingkat kupon 10%.
[2] Obligasi berbunga mengambang, yaitu obligasi negara seri VR (Variable
rate). Tingkat kupon mengambang ini ditentukan berdasarkan acuan tertentu
seperti tingkat bunga sertifikat Bank Indonesia (SBI). Contohnya adalah
Obligasi Pemerintah Mei 1999 Seri VR0011 yang pada bulan Juli 2006
mempunyai tingkat kupon 12,158116%.

1.11.4 Obligasi Korporasi
Obligasi Korporasi Merupakan pilihan obligasi berupa surat utang yang
diterbitkan oleh korporasi Indonesia baik BUMN maupun korporasi lainnya.
Untuk menjaga risiko yang terkendali pilihan obligasi korporasi ini kami batasi
dengan penetapan rating minimal. Obligasi Korporasi memiliki risiko kegagalan
berbeda-beda pada perusahaan yang berbeda, tergantung dari karakteristik
penerbit dan jangka waktunya. Semakin tinggi tingkat risiko kegagalan, semakin
tinggi tingkat suku bunga yang harus dibayar oleh penerbit.
Terdapat tiga elemen penting dalam penilaian obligasi yaitu:
Jumlah dan waktu dari arus kas yang akan diterima investor
Tanggal jatuh tempo obligasi
Tingkat pengembalian yang diinginkan investor


1.12 Yield Obligasi
Ada dua istilah yang sama-sama menunjukkan pendapatan yang bisa diperoleh dari
suatu obligasi, yaitu yield dan kupon obligasi. Perbedaannya adalah sebagai berikut :
- Bunga obligasi merupakan pendapatan yang akan diterima investor obligasi,
dalam jumlah tetap dan diterima hingga waktu jatuh tempo.
- Yield obligasi merupakan ukuran return yang akan diterima investor obligasi
yang cenderung bersifat tidak tetap, tergantung tingkat return yang disyaratkan
investor.


17

Ada beberapa ukuran yield obligasi yang dipergunakan oleh investor yaitu:
a. Nominal Yield
Tingkat bunga yang diberikan obligasi dan besarnya sama dengan bunga
kupon. Jika suatu obligasi memberikan bunga kupon sebesar 18% maka
obligasi tersebut dinyatakan memiliki nominal yield sebesar 18%.
b. Current yield
Adalah rasio tingkat bunga obligasi terhadap harga pasar dari obligasi
tersebut. Kegunaannya adalah untuk mengukur tingkat kupon. Current yield
dapat dipergunakan dengan rumus:
CY = C1/PM
Dimana:
CY = Current yield Obligasi
Ci = pembayaran kupon pertahun untuk obligasi i

Current yield biasanya dilaporkan secara harian di media masa. Current yield
memberikan gambaran perbandingan kupon obligasi dengan harga pasar
obligasi. Meskipun demikian tidak bisa dianggap sebagai return
sesungguhnya dari obligasi karena tidak dapat menggambarkan perbedaan
antara harga obligasi pada saat dibeli dan harga obligasi pada saat dijual.
Contoh:
Jika obligasi PT XYZ memberikan kupon kepada pemegangnya sebesar 17%
per tahun sedangkan harga obligasi tersebut adalah 98% untuk nilai nominal
Rp 1.000.000.000, maka:
Current yield =
Rp 170.000.000
=17.34%
Rp 980.000.000

c. Yield to Maturity (YTM)
Tingkat bunga ini merupakan internal rate of return (IRR) yang diperoleh
oleh pemodal dengan memiliki obligasi sampai dengan jatuh tempo.
Kegunaannya YTM adalah Mengukur tingkat return yang diharapkan jika
obligasi disimpan sampai waktu jatuh temponya. Cara menghitung YTM :

18


atau

Dimana:
P = harga obligasi pada saat ini (t=0)
N = jumlah tahun sampai dengan jatuh tempo obligasi
Ci = pembayaran kupon untuk obligasi i setiap tahunnya
YTM = yield to maturity
Pp = nilai par dari obligasi
Contoh :
Sebuah obligasi yang tidak callable akan jatuh tempo 10 tahun lagi, nilai
parnya Rp1000 dan tingkat kuponnya adalah 18%. Diasumsikan obligasi
tersebut saat ini dijual dengan harga di bawah par yaitu Rp 917,69. Dengan
menggunakan persamaan kesatu nilai YTM adalah:

- 917,69 = 90 (PV of an Annuity, 10% untuk 20 periode) + 1000 (PV Factor,
10% untuk 20 periode)
- 917,69 = 90 (8,514) + 1000 (0,149)
- 917,69 = 917,69
- Dengan demikian YTM adalah sebesar (10% x 2) = 20%
Jika dengan rumus kedua adalah sebagai berikut :


d. Yield to Call (YTC)
Adalah yield yang diperoleh pada obligasi yang bisa dibeli kembali (callable)
sebelum jatuh tempo. Kegunaan YTC adalah Mengukur tingkat return yang
diharapkan jika obligasi dilunasi (call) sebelum jatuh tempo. Berikut rumus
untuk menghitung yield obligasi belum jatuh tempo:

atau

Dimana:
P = harga pasar obligasi saat ini
YTC = Yield to Call
Ci = pendapatan kupon per tahun
C = periode sampai dengan saat obligasi dilunasi
PC = Call price obligasi


19

Contoh :
Sebuah obligasi yang callable jatuh tempo 20 tahun lagi dengan kupon
sebesar 18%. Nilai par obligasi tersebut adalah Rp 1000 dan saat ini dijual
pada harga Rp 1419,5. Kemungkinan obligasi tersebut akan dilunasi oleh
emiten 5 tahun lagi dengan call price sebesar Rp 1180.

- 1419,5 = 90 (PV of Annuity, 5% untuk 10 periode) + 1180 (PV Factor, 5%
untuk 10 periode)
- 1419,5 = 90 (7,722) + 1180 (0,64)
- 1419,5 = 1419,5
- Dengan demikian YTM adalah sebesar (5% x 2) = 10%
- Jka dengan rumus kedua maka :
-

e. Realized (horizon) yield atau yield yang terealisasi
adalah tingkat return yang diharapkan investor dari sebuah obligasi, jika
obligasi tersebut dijual kembali oleh investor sebelum jatuh temponya.
Disamping itu, yield yang terealisasi dapat juga digunakan untuk
mengestimasi tingkat return yang dapat diperoleh investor dengan
menggunakan strategi perdagangan tertentu. Kegunaan RY adalah Mengukur
tingkat return yang diharapkan untuk obligasi yang akan dijual sebelum jatuh
tempo. Yield ini dihitung dengan menggunakan asumsi tingkat reinvestasi dan
harga jual obligasi.
Perhitungan yang harus dilakukan dalam menentukan yield horizon ini
memerlukan beberapa estimasi yang sebelumnya tidak digunakan pada
ukuran yield lainnya. Estimasi yang harus dilakukan investor antara lain
adalah estimasi harga jual obligasi pada akhir periode investasi yang
diharapkan dan estimasi pada tingkat reinvestasi untuk pendapatan kupon
yang diperoleh. Untuk menghitung yield yang terealisasi dapat digunakan
rumus:

20


atau


Dimana :
P = harga pasar obligasi saat ini
RY = yield yang terealisasi
Ci = pendapatan kupon per tahun
t = periode investasi obligasi
Pf = harga jual obligasi dimasa yang akan datang
H = periode investasi obligasi (dalam tahun)

Contoh :
Sebuah obligasi, nominal Rp1000, umur 20 tahun dan kupon 16%, dijual pada
harga Rp750.
- Investor mengestimasi bahwa dalam dua tahun mendatang suku bunga
yang berlaku akan turun, sehingga diperkirakan harga obligasi akan naik.
- Estimasi harga obligasi pada dua tahun mendatang pada saat suku bunga
turun adalah Rp 900 .



2. BERBAGAI ALTERNATIF PENILAIAN SAHAM
2.1 CASH FLOW APPROACH
Pendekatan ini didasarkan pada argumen bahwa nilai dari suatu perusahaan
tergantung dari prospek perusahaan tersebut di masa datang dan prospek ini merupakan
kemampuan perusahaan untuk menghasilkan aliran kas di masa depan, maka nilai
perusahaan dapat ditentukan dengan mendiskontokan nilai arus kas di masa depan
menjadi nilai sekarang.
Discounted Cash Flow atau biasa disingkat DCF adalah salah satu metode untuk
menghitung prospek pertumbuhan suatu instrumen investasi dalam beberapa waktu ke
depan. Konsep DCF ini didasarkan pada pemikiran bahwa jika kita menginvestasikan
sejumlah dana, maka dana tersebut akan tumbuh sebesar sekian persen atau mungkin
sekian kali lipat setelah beberapa waktu tertentu. Disebut discounted cash flow atau
arus kas yang terdiskon, karena cara menghitungnya adalah dengan mengestimasi arus

21

dana dimasa mendatang untuk kemudian di-cut dan menghasilkan nilai dana tersebut
pada masa kini.
Biasanya, seorang investor ingin mengetahui bahwa jika dia menginvestasikan
sejumlah dana pada satu instrumen investasi tertentu, maka setelah kurun waktu tertentu
(misalnya setahun), dana tersebut akan tumbuh menjadi berapa. Untuk menghitungnya,
maka digunakanlah DCF. Berikut ini adalah contohnya :
Misalnya kita memiliki dana sebesar Rp100 juta yang akan kita investasikan
pada suatu usaha, dimana toko tersebut berdasarkan historisnya mampu
mencetak pertumbuhan modal (yang dihasilkan dari peningkatan saldo laba)
sebesar 50% per tahun. Dengan asumsi di tahun berikutnya toko tersebut akan
kembali mencetak pertumbuhan 50%, maka dana kita akan tumbuh 50%
menjadi 1.5 kali lipat dalam setahun, alias Rp150 juta. Bagaimana kalau setelah
tiga tahun? Maka kenaikan sebesar 1.5 kali lipat per tahun tadi dipangkatkan tiga
(1.5 x 1.5 x 1.5 = 3.37), kemudian dikali dana awal yaitu Rp100 juta, sehingga
hasilnya adalah Rp337 juta.
Dengan demikian, jika kita menempatkan modal sebesar Rp100 juta pada
sebuah toko yang menawarkan prospek pertumbuhan sebesar 50% per tahun,
maka setelah tiga tahun, modal kita akan tumbuh menjadi Rp337 juta, atau 3.37
kali lipat.
Pada perkembangannya, ada juga investor yang ingin mengetahui bahwa jika dia
mengharapkan dana sebesar Rp500 juta dalam tiga tahun, maka dia harus setor
modal berapa ke toko tadi. Kalau begitu maka perhitungannya tinggal dibalik
saja, yaitu: Rp500 juta dibagi 3.37, dan hasilnya adalah Rp148 juta. Maka si
investor tersebut harus menyetor modal Rp148 juta, agar dananya tumbuh
menjadi Rp500 juta dalam tiga tahun.
Konsep DCF inilah yang menyebabkan valuasi saham-saham di seluruh bursa
saham di dunia, termasuk BEI, menjadi mahal, dimana PBV 2 kali untuk sebuah
perusahaan yang kinerjanya bagus dan prospeknya cerah, sudah dianggap cukup murah.
Padahal kalau memakai perhitungan kasar, PBV 2 kali itu artinya kita harus membeli
saham pada harga senilai dua kali lipat dari nilai riil perusahaannya. Simpelnya, kita

22

harus membayar Rp200 juta untuk memperoleh barang senilai tak lebih dari Rp100
juta.
Untungnya, barang yang dimaksud disini yaitu modal bersih (equity)
perusahaan, nilainya akan terus meningkat di masa mendatang, sesuai dengan
pertumbuhan saldo labanya. Dan mengingat pertumbuhan perusahaan bersifat
eksponensial (2 x 2 x 2 dan seterusnya) dan bukannya kumulatif (2 + 2 + 2 dan
seterusnya), maka meskipun kita membelinya pada harga dua kali lipat, tapi dalam
beberapa tahun berikutnya nilai barang tersebut mungkin akan sudah lebih besar dari
modal yang kita keluarkan.
Misalnya, PT Antah Berantah mencatat modal bersih 100 milyar. Kita lalu
membeli 0.1% sahamnya senilai Rp200 juta (PBV-nya dua kali). Mengingat perusahaan
mencatat pertumbuhan modal rata-rata 30% per tahun, maka terdapat peluang bahwa
perusahaan akan mencatat modal Rp100 milyar + 30% = Rp130 milyar di tahun depan.
Dan di tahun berikutnya lagi, laba bersih tersebut akan naik lagi menjadi Rp130 milyar
+ 30% = Rp169 milyar, dan seterusnya. Dengan asumsi bahwa pertumbuhan laba bersih
sebesar 30% per tahun tersebut dicapai secara konsisten, maka dalam lima tahun, PT
Antah Berantah akan memiliki modal sebesar Rp371 milyar. Alhasil dengan modal
Rp200 juta, kita akan memperoleh barang senilai Rp370 milyar (Rp371 milyar dikali
0.1%) dalam lima tahun, alias kenaikannya mencapai hampir dua kali lipat. Dan
kenaikan tersebut akan tercermin pada kenaikan harga saham yang kita pegang. Selain
itu, ingat bahwa PBV saham yang kita pegang akan tetap berada di level 2 kali,
sehingga kalau ada orang yang mau membeli saham yang kita pegang, maka dia harus
membayar Rp740 juta, bukan lagi Rp200 juta seperti ketika kita membelinya lima tahun
sebelumnya.
Jadi disini, kita bisa katakan bahwa saham PT Antah Berantah memang layak
dihargai pada harga dua kali lipat (PBVnya dua kali) dari nilainya saat ini, karena
ternyata dalam lima tahun berikutnya, modal perusahaan mampu berkembang dari
Rp100 milyar menjadi Rp371 milyar, atau sudah lebih besar dari modal yang
dikeluarkan si investor ketika membeli sahamnya (Rp370 juta berbanding Rp200 juta).

23

Pada prakteknya, di BEI terdapat cukup banyak perusahaan yang mampu
mencatat pertumbuhan modal dengan lebih cepat, bisa mencapai 50% atau bahkan
100% per tahun. Belum lagi jika perusahaan tersebut meng-akselerasi pertumbuhannya
dengan aksi korporasi tertentu, misalnya akuisisi. Alhasil, dana kita bisa berkembang
lebih cepat, dan kita mungkin tidak perlu menunggu sampai lima tahun untuk melihat
harga saham kita naik dua kali lipat. Faktanya, di BEI sendiri terdapat cukup banyak
saham yang harganya naik dua hingga tiga kali lipat hanya dalam setahun, dimana
kenaikan tersebut memang selaras dengan kenaikan modalnya, sehingga PBV-nya pun
tidak ikut naik melainkan tetap. Inilah saham-saham yang secara fundamental sangat
layak untuk dikoleksi, apalagi jika PBV-nya wajar (dikisaran 2 atau maksimal 3 kali).
Dari uraian diatas, maka kita bisa menyimpulkan bahwa DCF akan dapat
dihitung jika kita bisa memperkirakan berapa persen kira-kira pertumbuhan modal
perusahaan dimasa yang akan datang. Mengingat pertumbuhan modal (yang wajar)
sepenuhnya ditopang oleh penambahan saldo laba, maka kita harus menghitung jumlah
saldo laba yang ditambahkan tersebut. Dan karena saldo laba itu sendiri berasal dari
perolehan laba bersih dikurangi dividen yang dibagikan kepada investor, maka kita
harus mengetahui berapa laba bersih dan pertumbuhannya, dan berapa dividen yang
dibayarkan setiap tahunnya. Karena pertumbuhan laba bersih juga dipengaruhi oleh
pertumbuhan modal, maka kita harus mengetahui pertumbuhan modal.
Dalam aplikasinya, DCF jauh lebih rumit lagi ketimbang contoh diatas. Selain
DCF diskrit seperti yang dicontohkan diatas, ada juga DCF berkelanjutan, DCF yang
menggunakan pendekatan FTE, APV, hingga WACC. Sekali lagi mengingat bahwa
perhitungan DCF ini memerlukan banyak asumsi yang harus dipenuhi agar hasilnya
akurat, maka secanggih apapun rumus DCF yang dipakai, hasilnya tetap akan menjadi
percuma kalau asumsi-asumsi tersebut tidak terpenuhi.

2.2 PER (Price Earning Ratio)
Pendekatan price earning ratio ini merupakan pendekatan yang cukup populer
dipakai di kalangan analisis saham dan praktisi saham. Menurut Manurung (2004:26),
secara teknis PER adalah hasil bagi antara harga saham dan laba bersih per saham.

24

Harga saham di pasar merupakan harga yang berlaku, sedangkan laba bersih merupakan
laba bersih per saham proyeksi tahun berjalan.
Selanjutnya Manurung (2004:27) mengemukakan: PER dipergunakan oleh
berbagai pihak atau investor untuk membeli saham. Investor akan membeli suatu saham
perusahaan dengan PER yang kecil, karena PER yang kecil menggambarkan laba bersih
per saham yang cukup tinggi dan harga yang rendah.
Sementara itu Subekti (2004) menjelaskan mengenai PER sebagai berikut. Misal
bunga tabungan dan deposito adalah 20% dan 25%, meski tidak persis sama, untuk
perbandingan dapat dikatakan PER tabungan adalah 100/20 = 5x, dan untuk deposito
adalah 100/25 4x. Misalkan saham PT. A Tbk dengan PER 11,76x bila dinyatakan
dalam persentase menjadi 100/11,76 = 8,5%. Dan misalkan saham PT. B Tbk dengan
PER 1,46x bila dinyatakan dalam persentase menjadi 100/1,46 = 68%.
Keterangan Tabungan Deposito PT. A Tbk PT. B Tbk
PER 5,00x 4,00x 11,76x 1,46x
Persentase 20% 25% 8,5% 68%

Dari Tabel diatas dapat diambil kesimpulan bahwa semakin rendah PER suatu
saham adalah semakin baik atau murah harganya, karena memberi hasil yang lebih
tinggi. Jadi harga saham PT. A Tbk Rp.250 misalnya, belum tentu lebih murah di
banding PT. B Tbk yang Rp.725 per lembar, bila dipertimbangkan PER-nya.
Menurut Halim (2005) : PER dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :
PER =
P0
Atau PER =
(1 - RR)
EPS1 (i - g)
dimana:
P0 = harga saham yang layak dibeli
EPS1 = Laba per saham LPS (earning per share) tahun mendatang
RR = bagian dari laba yang ditahan dalam perusahaan (Retention Ratio)
i = tingkat pengembalian yang diminta
g = pertumbuhan dividen
EPS =
Laba bersih setelah pajak
Jumlah lembar saham

Dalam pendekatan PER, investor akan menghitung berapa kali nilai laba yang
tercermin dalam harga suatu saham. PER juga mencerminkan berapa rupiahkah yang
harus dibayarkan investor saham untuk memperoleh satu rupiah laba perusahaan.

25

Misalkan harga per lembar saham suatu perusahaan Rp 2.000,00 sedangkan earning
(laba) per lembar saham Rp 100,00. Maka PER dapat dihitung sebagai berikut :
PER = Harga pasar saham per lembar / Earning per lembar saham
= Rp 2.000,00 : Rp 100,00
= 20 kali

2.3 PEG (Price Earning Growth)
PEG (Price Earning Growth) adalah PER dibagi pertumbuhan EPS (Earning per
Share atau laba bersih per saham) dalam setahun. Saham yang bagus adalah yang
memiliki PEG Ratio di bawah 1. PEG ini turut memproyeksikan perolehan laba bersih
perusahaan di masa depan, dengan kata lain PEG ikut memperhitungkan prospek dari
sahamnya. Jadi bisa dikatakan bahwa PEG ini adalah pengembangan dari PER.
Contoh penggunaannya sebagai berikut :
Pada kuartal III 2011, Astra Agro Lestari (AALI) mencatat EPS Rp1,181 per
saham. Karena EPS tersebut adalah untuk periode 9 bulan, maka setelah
disetahunkan hasilnya adalah 1,181 x 4 / 3 = 1,575. Sementara harga saham
AALI di market adalah 22,600, sehingga maka PER-nya = 22,600 / 1,575 = 14.3
kali.
Terus, pertumbuhan laba AALI pada kuartal III 2011 adalah 51.2% dibanding
periode yang sama tahun 2010. Sehingga PEG AALI adalah 14.3 / 51.2 = 0.28
point. Sama seperti PER, semakin kecil PEG maka semakin murah sahamnya.
Karena PEG ini akan menjelaskan saham mana yang lebih murah, jika kebetulan
ada dua saham yang memiliki PER yang sama. Contohnya, tadi kan PER-nya
AALI 14.3 kali. Katakanlah ada saham lain disektor yang sama, sebut saja
saham A, dimana PER-nya juga sama yaitu 14.3 kali, tapi pertumbuhan labanya
cuma 30% (tidak sampai 51.2% seperti AALI). Maka PEG saham A tersebut
adalah 14.3 / 30 = 0.48 point, atau lebih besar dari PEG-nya AALI tadi, dengan
kata lain lebih mahal.
Sebenarnya, tanpa menghitung PEG-nya sekalipun kita akan langsung tahu
bahwa AALI lebih murah dibanding saham A, kalau kita melihat bahwa
pertumbuhan laba bersih A lebih rendah dari AALI. Namun PEG ini bisa

26

dipakai jika kita akan membandingkan dua saham dengan PER berbeda.
Misalnya, saham A mencatat PER 10 kali, sementara saham B mencatat PER 15
kali. Maka secara sederhana tampak bahwa saham A lebih murah dari saham B
bukan? Tapi mari kita cek sekali lagi. Ternyata, pertumbuhan laba A hanya
20%, sehingga PEG-nya 10 / 20 = 0.50 point. Sementara pertumbuhan laba B
mencapai 50%, sehingga PEG-nya 15 / 50 = 0.30 point, alias lebih kecil, dan itu
berarti saham B lebih murah dari saham A.
Maka bisa kita simpulkan bahwa, kalau dari sisi perolehan earning (laba bersih)
perusahaan, saham A lebih murah dari saham B. Namun jika kita ikut
mempertimbangkan pertumbuhan dari earning tersebut, maka saham B lebih
murah dari saham A.
Beberapa investor dan analis mengatakan bahwa PEG ini lebih powerfull
dibanding PER ataupun PBV. Anggapan tersebut tidak keliru, karena dengan
memperhitungan growth atau pertumbuhan dari earning, maka PEG ini turut
memproyeksikan perolehan laba bersih perusahaan di masa depan, alias ikut
memperhitungkan prospek dari sahamnya. Simpelnya, jika sebuah perusahaan mampu
mencatat kenaikan laba bersih sebesar 50% dalam setahun terakhir, maka terdapat
ekspektasi bahwa perusahaan tersebut akan mampu mencetak laba bersih sebesar kira-
kira 50% juga di masa depan, sehingga sahamnya tentu lebih bagus dibanding
perusahaan sejenis, yang hanya mampu mencatat kenaikan laba bersih yang lebih kecil,
katakanlah hanya 20%.
Sementara PER, perhitungannya terbatas pada perolehan laba pada saat itu saja,
dan tidak ikut memproyeksikan bagaimana kira-kira perolehan laba bersih perusahaan
di masa depan. Jadi bisa dikatakan bahwa PER ini agak bias, karena perhitungannya
tidak sedetail PEG. Apakah ternyata PEG ini memang lebih akurat dalam menghitung
harga wajar sebuah saham, dibanding PER? Atau tetap saja, PEG ini hanyalah
pengembangan dari PER, sehingga PER tetap harus didahulukan?
Tidak ada jawaban yang pasti untuk pertanyaan diatas, dimana kalau kita
menanyakan pertanyaan tersebut ke dua orang yang berbeda, maka jawabannya bisa

27

berbeda pula. Tapi PER tetap harus didahulukan sebelum PEG. Berikut penjelasan
sederhananya :
Ketika sebuah perusahaan mencatat pertumbuhan laba bersih yang besar,
katakanlah sampai 100% atau dua kali lipat, maka itu sama sekali tidak menjadi
jaminan bahwa perusahaan tersebut akan kembali mencatat kenaikan laba bersih
100% di tahun depan. Akan ada banyak sekali faktor yang mempengaruhi hal
tersebut, mulai dari kondisi pasar, kondisi ekonomi, kegiatan ekspansi
perusahaan, pertumbuhan sektor usaha dimana perusahaan menjalankan
usahanya disitu, dan lain-lain. Intinya, terlalu 'mudah' kalau kita hanya
berpatokan pada pertumbuhan laba bersih sebuah perusahaan di satu periode,
untuk kemudian berharap bahwa perusahaan akan kembali mencatat
pertumbuhan yang sama besarnya di periode berikutnya. Sementara PEG ini, dia
hanya memperhitungkan pertumbuhan laba bersih, untuk memprediksi berapa
kira-kira pertumbuhan laba perusahaan di masa depan.
Jika demikian, apakah PER justru malah dianggap lebih jelek? karena PER sama
sekali tidak memberikan 'petunujk' apapun tentang prospek pertumbuhan perusahaan
dimasa depan? Memang, tapi bila kita pakai ukuran yang lainnya lagi jika akan menilai
prospek dari sebuah saham, bukan pakai PER ini. Sementara PEG ini cenderung terlalu
menyederhanakan perhitungan dari harga sebuah saham, dimana valuasi saham dihitung
dalam satu 'wadah' yang juga memperhitungkan prospek peningkatan kinerja
perusahaan dimasa depan. PEG ini akan sangat berguna untuk memberi semacam
justifikasi (pembenaran) bagi saham-saham tertentu yang meskipun PER-nya tinggi,
namun harga saham tersebut ternyata tetap dianggap murah atau masih wajar.
Jka Akan menghitung PEG sebaiknya gunakan rata-rata pertumbuhan laba
dalam lima tahun terakhir untuk PEG yang lebih akurat. Yahoo Finance juga
menggunakan rata-rata dari pertumbuhan dalam lima tahun untuk menghitung PEG
sebuah saham. Sebab sekali lagi, pertumbuhan laba bersih dalam jangka panjang lebih
mencerminkan konsistensi dari peningkatan kinerja sebuah perusahaan, dibanding
pertumbuhan laba bersih dalam satu tahun saja. Sementara seperti sudah dibahas diatas,
konsistensi lebih penting daripada besarnya persentase kenaikan laba. Kalau sebuah
perusahaan mampu mencatat pertumbuhan yang konsisten dan juga pesat, maka

28

tentunya itu lebih bagus lagi. Tapi jika diharuskan untuk memilih diantara keduanya,
maka konsistensi tentu lebih penting.
Hanya memang kalau kita bukanlah investor untuk jangka yang benar-benar
panjang, maka kita bisa menggunakan pertumbuhan laba dalam setahun terakhir, untuk
menghitung PEG sebuah saham. Sebab biasanya kenaikan sebuah saham juga
memanfaatkan momentum dari melejitnya kinerja perusahaan yang bersangkutan.

2.4 PBV (Price to Book Value)
Menurut Tryfino (2009:9) Price to Book Value (PBV) adalah perhitungan atau
perbandingan antara market value dengan book value suatu saham. Rasio ini berfungsi
untuk melengkapi analisis book value. Jika pada analisis book value, investor hanya
mengetahui kapasitas per lembar dari nilai saham, pada rasio PBV investor dapat
mengetahui langsung sudah berapa kali market value suatu saham dihargai dari book
value-nya. Sihombing (2008:95) berpendapat bahwa Price to Boook Value (PBV)
merupakan suatu nilai yang dapat digunakan untuk membandingkan apakah sebuah
saham lebih mahal atau lebih murah dibandingkan dengan saham lainnya. Untuk
membandingkannya, kedua perusahaan harus dari satu kelompok usaha yang memiliki
sifat bisnis yang sama. Sawir (2000:22) berpendapat bahwa Rasio Price to Book Value
menggambarkan nilai pasar keuangan terhadap manajemen dan organisasi dari
perusahaan yang sedang berjalan ( going concern). Suatu perusahaan yang berjalan baik
dengan staf manajemen yang kuat dan organisasi yang berfungsi kurangnya sama
dengan nilai buku aktiva fisiknya.
PBV ini pada dasarnya hampir dengan PER. Perbedaannya, PER berfokus pada
laba bersih yang dihasilkan perusahaan, sedangkan PBV fokus pada nilai ekuitas
perusahaan. Konsep penggunaannya pun sama dengan PER yaitu semakin tinggi nilai
PBV, maka semakin mahal harga sahamnya. Rumus PBV adalah sebagai berikut:
PBV = Harga pasar saham per lembar / Nilai buku modal saham per lembar
Misalkan nilai buku modal saham per lembar suatu perusahaan Rp 1.000,00 dan harga
saham per lembar adalah Rp 2.500,00. Maka PBV dapat dihitung sebagai berikut :
PBV = Harga pasar saham per lembar / Nilai buku modal saham per lembar
= Rp 2.500 : Rp 1.000,00
= 2,5

29

2.5 RESIDUAL INCOME
Residual income mengukur kinerja operasi perusahaan (net operating profit after
tax/NOPAT) dikurangi dengan beban atas semua hutang dan modal yang
diinvestasikan: RI = NOPAT (k * Capital), dimana k adalah biaya modal perusahaan
(weighted average cost of capital) dan capital adalah aktiva yang diinvestasikan dalam
aktivitas operasi yang berkelanjutan (going concern).
Residual income yang positif menunjukkan kelebihan laba dari yang dibutuhkan oleh
kreditur dan pemilik modal, yang berarti merupakan wealth bagi residual claimants,
yaitu pemegang saham. Sebaliknya, residual income yang negatif berarti penurunan
wealth pemegang saham
Residual income diukur dengan satuan rupiah perlembar saham.
Laba operasi = Rp. xxx
Biaya modal (%) X aktiva operasional = Rp. xxx
Pendapatan residu = Rp.xxx