Anda di halaman 1dari 1992

VISIT HTTP://EBOOK4.CO.

NR FOR MORE FREE EBOOK

PENDEKAR CACAT
KARYA : GU LONG
SADURAN : CAN ID

SOURCE FROM INDOZONE.NET


CREDIT TO LOVECAN
EBOOK AND PUBLISH BY EBOOK4.CO.NR
HANYA UNTUK PENGGUNAAN PRIBADI, TIDAK UNTUK KOMERSIAL.
HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG

PENDEKAR
CACAT

Pendekar Cacat 1

1
KEMATIAN BU-LIM BENGCU YANG MISTERIUS

M atahari telah tenggelam di langit barat, sinar


keemas-emasan membias di angkasa dan
menyinari suasana senja yang amat indah.

Di tengah sebuah jalan raya yang lebar, mendadak


terdengar suara ringkik kuda yang amat keras, bergema
memecah keheningan.

Di bawah sinar keemas-emasan yang membias di angkasa,


dari kejauhan di sebelah barat terlihat seekor kuda berbulu
kuning berlari dengan kencang.

Anehnya, kuda jempolan yang sedang berlari kencang


sambil meringkik tiada hentinya itu tanpa penunggang di
atas pelananya.

Kuda tanpa penunggang itu berlari kencang menuju ke arah


timur dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.
Pendekar Cacat 2

Akhirnya sampailah kuda jempolan tadi di muka sebuah


gedung megah yang dikelilingi tembok pekarangan
berwarna merah.

Empat orang pria berbaju hitam yang membawa tombak


berdiri berjaga di kedua sisi pintu gerbang gedung itu,
ketika menyaksikan kehadiran kuda itu, paras muka mereka
berubah hebat.

Mendadak kuda jempolan itu meringkik panjang, suaranya


keras dan sangat memilukan hati.

Belum habis suara ringkiknya, keempat kaki kuda sudah


menjejak tanah, lalu seperti anak panah terlepas dari
busurnya, ia menubruk ke patung singa yang berada di
sebelah kanan pintu. Terdengar suara benturan diikuti
bunyi remuknya tulang, darah dan hancuran daging
beterbangan, ternyata kuda itu melakukan bunuh diri dan
mati seketika itu juga.

Tindakan yang amat mendadak dan sama sekali tidak


terduga ini berlangsung dalam sekejap, mimpi pun keempat
orang pengawal itu tidak menyangka kuda jempolan itu
akan melakukan bunuh diri di hadapan mereka, sesaat
mereka terbelalak lebar dengan mulut melongo.

Tampaknya kuda itu adalah kuda jempolan yang


berperasaan, karma majikannya tewas, maka ia pun bunuh
diri menyusul tewasnya sang majikan.

***
Pendekar Cacat 3

Gedung nomor satu di kota Kay-hong, gedung yang


ditinggali Bu-lim Bengcu, disebut pula Bu-lim Bengcu-hu.

Gedung itu tinggi dan amat megah dengan pintu gerbang


besar serta bangunan yang beratus-ratus banyaknya.

Tengah hari baru menjelang, matahari bersinar dengan


teriknya, tiang lentera yang tingginya enam-tujuh kaki di
tengah halaman gedung Bu-lim Bengcu ini tampak bendera
putih berkibar dengan megahnya, di antara kain putih
tertera huruf-huruf yang mengartikan duka-cita.

Pada halaman depan gedung megah itu tampak banyak


kereta diparkir di situ, banyak pula orang yang berlalu-
lalang melalui pintu gerbang itu.

Tapi mereka harus melalui pemeriksaan dan pengawasan


seksama oleh dua puluh empat Busu berbaju hitam
sebelum masuk ke dalam.

Semua Busu berbaju hitam itu membawa senjata lengkap,


pada lengannya dibalut kain hitam yang menandakan
berduka-cita, wajah mereka rata-rata serius, dengan sorot
mata tajam mengawasi setiap orang yang keluar masuk di
dalam gedung.

Mendadak di sudut lapangan di luar gedung muncul


seorang sastrawan berbaju hitam berwajah tampan,
bertubuh kekar, tapi kalau berjalan, kaki kirinya pincang.
Pendekar Cacat 4

Paras mukanya pucat kekuning-kuningan, seperti wajah


seorang berpenyakitan, kesepian dan kehilangan semangat.

Lama sekali pemuda berbaju hitam itu berdiri termenung di


situ, akhirnya selangkah demi selangkah secara terpincang-
pincang menaiki anak tangga batu dan mengikuti
kerumunan orang banyak bersama-sama memasuki pintu
gerbang.

Tiba-tiba dari sisi jalan melompat keluar dua orang Busu


berbaju hitam yang menghadang jalan perginya, kemudian
terdengar Busu yang di sebelah kanan menegur, "Saudara,
harap berhenti dulu!"

Agak tertegun sastrawan berbaju hitam itu mendengar


teguran itu, ia berhenti dan segera menjura dalam-dalam.

"Aku datang hanya untuk menyampaikan duka-citaku


terhadap kematian Bengcu," buru-buru ia menerangkan.

"Harap saudara sudi memperlihatkan surat duka-citanya."

"Surat duka-cita?" pemuda itu tertegun, "Ah, benar,


lantaran tergesa-gesa melakukan perjalanan, aku lupa
membawanya."

Busu itu segera menggeleng, "Jauh-jauh saudara datang ke


kota Kay-hong untuk melawat, arwah Bengcu di alam baka
pasti mengetahui dan berterima kasih sekali, sayang aku
tak mengizinkan kau memasuki gedung Bengcu ini."
Pendekar Cacat 5

"Ai...." pemuda itu menghela napas, "Sudah lama kukagumi


Oh-bengcu yang gagah perkasa, apakah aku tidak boleh
masuk sebentar untuk menyampaikan hormatku di depan
layonnya?"

Agak tercengang juga Busu itu ketika dilihatnya sepasang


mata pemuda berpenyakitan itu berkaca-kaca waktu
bicara, namun ia tetap menggeleng kepala.

"Aku pun berterima kasih atas kehadiranmu yang tulus


untuk turut berduka-cita atas kematian Oh-bengcu, sayang
panitia pemakaman telah memerintahkan, siapa yang tak
diketahui identitasnya dilarang menghadiri upacara ini. Jadi
terpaksa kehadiranmu kami tolak!"

Pemuda berbaju hitam itu nampak semakin sedih sesudah


mendengar perkataan itu, dia menghela napas sedih, rasa
kesepian dan kehilangan semangat makin kentara.

Ia membalikkan tubuh, lalu dengan terpincang-pincang


menuruni anak tangga batu. Dalam hati ia bergumam
dengan penuh kesedihan, "Sepuluh tahun dipelihara dan
dididik, budi kebaikan ini lebih dalam dari samudra, aku
harus menyembah di muka layon guruku, meski aku Bong
Thian-gak adalah murid yang sudah dikeluarkan dari
perguruan. Tapi budi Suhu tak akan kulupakan. Oh! Suhu,
maafkanlah aku! Bong Thian-gak akan mengingkari
larangan kau orang tua dan melangkah masuk ke dalam
gedung Bu-lim Bengcu!"

***
Pendekar Cacat 6

Malam sudah kelam, langit sangat gelap, tiada rembulan,


tiada bintang, yang ada hanya awan gelap yang
menyelimuti seluruh angkasa.

Dari balik hutan di sebelah timur laut gedung Bu-lim


Bengcu, mendadak muncul sesosok bayangan.

Dengan sepasang matanya yang tajam, dia memandang


sekejap halaman gedung Bu-lim Bengcu yang terang
benderang bermandikan cahaya, kemudian dengan
menyeret kakinya yang pincang, pelan-pelan dia berjalan
menuju ke sudut dinding.

Tampak pemuda itu tanpa bertekuk lutut atau


menggerakkan pinggang, dengan enteng melompat naik ke
atas tembok pekarangan.

Ilmu meringankan tubuh yang sempurna, betul-betul amat


hebat, orang tidak akan menyangka seorang pemuda
pincang dapat memiliki kepandaian sedemikian hebatnya.

Perlu diketahui, untuk bisa melompat naik tanpa menekuk


lutut dan menggerakkan pinggang, orang harus
menggantungkan tenaga pantulan kedua belah lengannya,
padahal ia harus melampaui tembok pekarangan setinggi
satu tombak lebih, hal itu tak mungkin bisa dilakukan
seandainya dia tidak memiliki tenaga dalam yang
sempurna.
Pendekar Cacat 7

Bong Thian-gak tidak berhenti lama di atas tembok


pekarangan, secepat kilat dia meluncur turun dan
menyembunyikan diri.

Saat itulah bergema suara langkah orang, dari depan sana


muncul tiga orang pengawal berbaju hitam sedang
melakukan perondaan.

Dengan amat teratur dan berdisiplin tinggi, mereka


melakukan pemeriksaan seksama ke sekeliling halaman,
sementara sebilah pedang pendek tergantung di pinggang
masing-masing.

Ketika tahu hal ini, lagi-lagi ia terperanjat. "Heran!" ia


berpikir, "Mengapa gedung Bu-lim Bengcu harus dijaga
sedemikian ketat, bahkan beberapa kali lebih ketat
daripada dulu?"

Mendadak ia teringat kejadian siang tadi, sewaktu ia


dilarang penjaga pintu memasuki gedung.

Berbagai kecurigaan segera berkecamuk dalam benak


pemuda itu. Kembali ia berpikir, "Semasa masih hidupnya
dulu, Suhu adalah seorang Bengcu persilatan angkatan
kedua puluh sembilan yang namanya menggetarkan
seluruh sungai telaga, kini dia orang tua telah tiada,
sepantasnya kalau setiap umat persilatan diberi
kesempatan menyampaikan penghormatan yang terakhir,
mengapa hanya orang yang menerima surat duka-cita saja
yang diizinkan hadir?"
Pendekar Cacat 8

Belum habis dia berpikir, mendadak terdengar salah


seorang di antara tiga pengawal itu berkata, "Ah Jiang,
sejak kematian Oh-bengcu, selama empat puluh sembilan
hari ini gedung Bengcu dijaga sedemikian ketatnya
sehingga burung pun tidak bisa lewat, tindakan ini benar-
benar tidak habis kumengerti."

"Hm, selama empat puluh sembilan hari ini kita benar-


benar tersiksa," rekannya mendengus, "Coba kalau sikap
Oh-bengcu semasa hidup dulu tidak baik terhadap kita,
maknya, aku benar-benar akan mencaci-maki kawanan
telur busuk itu sampai tujuh turunan."

Pengawal yang bernama Ah Jiang tampaknya merupakan


ketua regu, dengan cepat membentak, "Kalian berdua
jangan sembarangan bicara, kalian tahu apa? Konon sejak
kuda tunggangan Bengcu kembali ke Kay-hong dengan
membawa warta kematian Bengcu dan bunuh diri di depan
patung singa, lima jago lihai yang secara kebetulan bertamu
dalam gedung Bu-lim Bengcu pun secara beruntun
menemui ajal secara aneh."

Mengikuti suara langkah mereka yang makin menjauh,


suara pembicaraan itu pun tak terdengar lagi.

Tetapi serangkaian pembicaraan itu cukup membuat Bong


Thian-gak terperanjat.

Sekarang ia sudah tahu apa sebabnya suasana dalam


gedung Bu-lim Bengcu sedemikian tegang dan pengawasan
dilakukan seketat itu, sebenarnya ia mengira Bengcu mati
Pendekar Cacat 9

karena sakit, tapi kini ia mulai menduga kematian gurunya


merupakan kematian yang tidak wajar.

Kalau begitu, besar kemungkinan gurunya mati dibunuh


orang.

Thi-ciang-kan-kun-hoan (Pukulan baja gelang jagad) Oh


Ciong-hu merupakan jagoan bernama besar dalam Bu-lim,
kesempurnaan ilmu silatnya meskipun belum dapat
dikatakan nomor wahid, namun orang persilatan pun
belum tentu dapat menangkan ilmu Thi-ciang-kan-kun-
hoannya yang maha dahsyat.

Bong Thian-gak, si pemuda pincang itu tidak sanggup


menahan diri, dengan enteng dia melompat bangun, lalu
dengan mengembangkan Ginkangnya melewati beberapa
bangunan.

Setiap jalanan maupun bangunan yang ada di dalam


gedung Bu-lim Bengcu ini sangat dikenal olehnya, sekali
pun ia hanya memejamkan mata, dia pun bisa melukiskan
peta tempat itu, karena tujuh tahun berselang dia pernah
tinggal di situ.

Walaupun penjagaan di dalam gedung Bu-lim Bengcu amat


ketat, bahkan pada hakikatnya tiap tiga langkah satu
pengawal, setiap langkah satu pos penjagaan, tetapi
berhubung udara sangat gelap, ditambah lagi Bong Thian-
gak memiliki ilmu meringankan tubuh yang sempurna,
maka ia dapat menyelundup masuk dengan leluasa.
Pendekar Cacat 10

Seperti segulung asap, dia menyusup ke dalam dan


akhirnya berhenti di depan sebuah ruangan besar.

Tengah malam sudah menjelang tiba, angin malam


berhembus mengibarkan kain putih di atas tiang lentera,
suasana amat hening, hanya tujuh buah lentera menerangi
ruangan itu.

Cahaya lentera yang redup menyinari setiap benda yang


ada di situ, karangan bunga di tengah ruangan yang lebar,
keranjang bunga di depan pintu gerbang dan kain-kain
putih dengan huruf hitam yang tergantung di setiap
dinding.

Pada bagian paling belakang ruangan itu tampak sebuah


meja abu, di depannya terpajang nama Oh Ciong-hu dan di
dinding tergantung lukisan wajahnya.

Bong Thian-gak menjatuhkan diri berlutut di depan sebuah


Hiolo berwarna kuning tembaga, air mata bercucuran
membasahi wajahnya, seluruh badan gemetar keras
menahan isak tangis, walau tiada suara tangis yang
terdengar, akan tetapi kesedihan tanpa suara tangis terasa
jauh lebih menyedihkan.

Dalam waktu singkat, kenangan lama melintas di depan


mata. Ia teringat kejadian pada tujuh belas tahun
berselang, waktu itu hujan salju turun dengan derasnya,
ketika ia sedang tergeletak di suatu sudut jalanan kota Kay-
hong sambil menahan lapar dan kedinginan, tiba-tiba
Pendekar Cacat 11

muncul seorang seperti malaikat menunggang kuda


jempolan menyelamatkan jiwanya.

Kemudian orang itu telah memeliharanya, tiga tahun


kemudian bahkan ia melanggar kebiasaan dengan
menerimanya sebagai murid terakhir.

Begitulah, dia pun merasakan kasih sayang dan kehangatan


keluarga dari kakek penolongnya itu.

Sekarang melihat tulisan turut berduka-cita yang


memenuhi ruangan, tak tahan ia memanggil dengan sedih,
"Oh, Suhu!"

Ia menubruk ke atas meja altar, lalu sambil memeluk


tulisan nama gurunya, ia bergumam lagi, "Suhu, aku Bong
Thian-gak benar-benar sangat berdosa. Suhu, walaupun
kau orang tua telah mengusirku dari perguruan, namun
dalam hati tak akan kulupakan budi pertolongan dan
didikan Suhu selama belasan tahun. Suhu, sebenarnya aku
kemari untuk memohon kepadamu agar menerimaku
kembali dalam perguruanmu ... tapi kini kau orang tua
takkan bisa mengabulkan permintaanku lagi! Selama hidup
Bong Thian-gak akan menjadi manusia berdosa yang telah
dikeluarkan dari perguruan, oh, Suhu ...."

la tak kuasa menahan rasa sedih yang mencekam


perasaannya, meledaklah isak tangisnya yang amat
memilukan.
Pendekar Cacat 12

Sementara Bong Thian-gak masih tercekam dalam suasana


sedih, mendadak dari belakang tubuhnya berkumandang
suara helaan napas.

Bong Thian-gak segera sadar dari kesedihan dan segera


berpaling.

Entah sejak kapan di tengah ruangan telah muncul seorang


pendeta tua berjubah abu-abu. Telapak tangan kirinya
disilangkan di depan dada, sementara tangan kanannya
membawa tasbih, wajahnya ramah dan saleh, waktu itu ia
sedang bergumam membaca doa.

Setelah dapat melihat jelas raut wajah pendeta tua itu,


dengan terperanjat Bong Thian-gak berpikir, "Bukankah
pendeta tua ini adalah Ku-lo Siansu, pendeta suci dari Siau-
lim-pay?"

Ku-lo Siansu, pendeta suci dari Siau-lim-pay adalah Supek


ketua Siau-lim-pay sekarang, kedudukannya dalam Bu-lim
boleh dibilang adalah angkatan tua.

Bong Thian-gak masih ingat, tujuh tahun berselang,


sebelum dia dikeluarkan dari perguruan, pemuda itu
pernah mendengar orang berkata, Ku-lo Siansu telah
menutup diri dan tidak mencampuri urusan dunia
persilatan lagi.

Tak heran kemunculannya sekarang kontan membuat anak


muda itu tercengang.
Pendekar Cacat 13

Beberapa saat lamanya pendeta tua itu memejamkan mata


sambil berdoa, akhirnya dia membuka mata dan menatap
wajah Bong Thian-gak dengan sorot mata setajam sembilu.

"Omitohud! Limpahan perasaan sedih di hadapan layon Oh-


bengcu benar-benar suatu pelimpahan perasaan yang
sebenarnya, bila arwah Oh-bengcu di alam baka tahu, dia
pasti akan terhibur, harap Sicu segera menghentikan
kesedihanmu itu!"

Dari kata-katanya itu, Ku-lo Siansu dapat melihat Bong


Thian-gak telah menderita luka dalam akibat kesedihan
yang kelewat batas.

Dengan amat hormat Bong Thian-gak menjura kepada


pendeta saleh itu, sahutnya, "Terima kasih banyak atas
nasehat Losiansu."

"Sicu, bolehkah Pinceng tahu, apa hubunganmu dengan


Oh-bengcu?"

Tergerak hati Bong Thian-gak.

"Wanpwe pernah menerima budi pertolongan jiwa dari Oh-


bengcu, budi ini dalamnya melebihi samudra, maka ketika
kudengar berita kematiannya, aku menjadi sedih sekali,
apalagi bila teringat budi kebaikannya belum sempat
kubalas."

Ku-lo Hwesio menghela napas panjang.


Pendekar Cacat 14

"Kegagahan dan kebajikan Oh-bengcu telah mendatangkan


berkah dan keuntungan bagi seluruh umat manusia, kini dia
telah tiada, kehilangan ini terasa berat dan menyedihkan
buat kita, ai ... limpahan perasaan Sicu pasti akan
menghibur arwah Oh-bengcu di alam baka."

Mencorong sinar mata tajam dari balik mata Bong Thian-


gak sesudah mendengar perkataan itu, katanya kembali,
"Aku sudah banyak berhutang budi kepada Oh-bengcu,
sekali pun malam ini aku datang untuk menyampaikan rasa
dukaku di hadapan layonnya, namun semua itu belum
dapat membayar budi kebaikan yang pernah kuterima,
kejadian ini benar-benar membuat hatiku sedih."

Untuk kesekian kalinya Ku-lo Hwesio mengamati wajah


Bong Thian-gak.

"Bila Sicu ingin membalas budi kebaikannya, sudah


sepantasnya bila kau lanjutkan cita-cita Oh-bengcu untuk
mendatangkan keuntungan dan berkah bagi umat
persilatan, sebab hanya dengan cara ini saja kau dapat
membalas budi Oh-bengcu."

"Losiansu," tiba-tiba Bong Thian-gak bertanya, "ada satu


persoalan ingin kutanya padamu, apa yang menyebabkan
kematian Oh-bengcu?"

"Omitohud, Lolap pun baru saja kemari dari kuil Siau-lim-si,


aku sendiri kurang jelas tentang keadaan yang
sesungguhnya. Bila ingin mengetahui hal ini, lebih baik
besok saja ditanyakan langsung kepada para ahli warisnya!"
Pendekar Cacat 15

Baru selesai berkata, mendadak dari luar ruangan


berkumandang suara bentakan nyaring, "Siapa di dalam
ruangan? Cepat laporkan namamu!"

Delapan sosok bayangan orang berkelebat di depan pintu


ruangan, delapan orang pengawal berbaju hitam dengan
senjata terhunus telah menghadang di depan pintu.

"Aduh celaka!" pikir Bong Thian-gak dengan terperanjat.

Baru lewat ingatan itu, Ku-lo Hwesio telah menyahut


dengan suara rendah, "Omitohud, harap Sicu sekalian suka
melaporkan, Ku-lo dari Siau-lim-si datang untuk
menyambangi layon sahabat karibnya."

Nama Ku-lo dari Siau-lim-si ibarat guntur yang membelah


bumi di siang bolong, kontan membuat kedelapan
pengawal berbaju hitam itu buru-buru membungkuk badan
memberi hormat.

"Kehadiran Losiansu sungguh di luar dugaan, maafkan Tecu


sekalian yang tidak datang menyambut sepantasnya ...."

Tidak menanti ucapan itu selesai, Ku-lo Hwesio telah


menukas, "Omitohud, malam sudah semakin kelam dan
tidak baik mengganggu tidur orang, biar Lolap menanti
dalam ruangan ini sampai kentongan kelima saja, saudara
sekalian silakan berlalu!"

Pemimpin regu rombongan pengawal itu adalah seorang


lelaki setengah umur berperawakan jangkung, dia segera
Pendekar Cacat 16

menjura seraya berkata, "Panitia pemakaman ada perintah,


bila Losiansu datang di gedung ini, maka kami diwajibkan
melaporkan kedatangan Siansu."

"Kalau memang begitu, harap Sicu sekalian sudi membuka


jalan!" ujar Ku-lo Hwesio kemudian sambil mengangguk.

Belum habis perkataan itu, dari luar ruangan sudah


bergema suara nyaring seseorang.

"Sinceng datang berkunjung kemari, Heng-sui sengaja


datang menyambut...."

Berbareng dengan menggemanya ucapan itu, tampak


cahaya lentera bergoyang terhembus angin, seorang
pemuda berbaju hijau, berwajah tampan, dingin, gagah dan
bermata tajam telah berdiri di depan kedelapan pengawal
itu sambil memberi hormat kepada Ku-lo Hwesio.

Menyaksikan kemunculan orang itu, sekujur badan Bong


Thian-gak gemetar keras, dalam hati dia berpekik, "Ji-
suheng ..."

Ternyata pemuda berbaju hijau itu adalah murid kedua Thi-


ciang-kan-kun-hoan Oh Ciong-hu yang bernama Toan-cong-
hong-liu (usus putus darah mengalir) Yu Heng-sui.

Kini ia sudah menjabat sebagai komandan pasukan


pengawal gedung Bu-lim Bengcu, orang yang berkuasa di
ruang hukuman dan berkuasa penuh dalam menjatuhkan
Pendekar Cacat 17

hukuman yang setimpal kepada sembilan partai besar


dalam Bu-lim, kedudukannya tinggi dan terhormat sekali.

Ternyata persekutuan dunia persilatan ini merupakan


dibentuk bersama sembilan partai besar dunia persilatan
untuk menyatukannya menurut sejarah, Bengcu hanya
dipilih oleh anggota sembilan partai besar dan berkuasa
penuh mengatur segala tindak-tanduk sembilan partai.
Atau dengan perkataan lain, kekuasaan Bu-lim Bengcu
masih berada di atas kekuasaan sembilan ketua partai.

Sedang anggota pengurus penting lainnya dalam


persekutuan dunia persilatan ini pun harus dinilai dan
diteliti lebih dulu oleh sembilan partai besar sebelum
melakukan pengangkatan, kekuasaan mereka meski hanya
terbatas dalam satu bidang, akan tetapi mempunyai
tingkatan yang sejajar dengan kedudukan para ketua partai
lainnya.

Tampaknya Ku-lo Hwesio pernah bersua Yu Heng-sui, maka


sambil tersenyum segera ujarnya, "Yu-hiantit, tak usah
banyak adat."

Si Pemutus usus darah mengalir Yu Heng-sui mengangkat


kepala dan memandang sekejap ke arah Bong Thian-gak
yang berada di belakang Ku-lo Hwesio, keningnya nampak
berkerut, kemudian sambil tertawa terbahak-bahak,
ujarnya, "Maaf, kalau aku tak kenal dengan saudara ...."
Pendekar Cacat 18

Sebelum ia menyelesaikan kata-katanya, Bong Thian-gak


telah menukas sambil menjura, "Yu-tayhiap tak perlu
sungkan-sungkan, aku she Ko bernama Hong."

"Ko Hong", nama yang asing dan belum pernah terdengar


di Bu-lim, sebagai tokoh persilatan yang berpengalaman
luas Yu Heng-sui tetap tak mengenalnya.

Namun dalam hati kecilnya dia merasa heran, diam-diam


pikirnya, "Heran! Meski baru berjumpa pertama kalinya,
namun orang ini seperti pernah kutemui, tapi kalau
kuamati lagi dengan seksama, kembali terasa begitu asing."

Yu Heng-sui tersenyum, lalu ujarnya, "Tampaknya Ko-heng


baru saja terjun ke Bu-lim bukan?"

Bong Thian-gak manggut-manggut, "Benar, sudah lama aku


tinggal di hutan terpencil, kali ini memang merupakan
perjalanan perdanaku."

Sementara berbicara, pemuda ini pun diam-diam berpikir,


"Ji-suheng, tak heran kau tak kenal lagi Sutemu yang telah
dikeluarkan dari perguruan ini, tujuh tahun ... ya, betapa
lamanya tujuh tahun ini. Apalagi hidup dalam suasana yang
penuh penderitaan dan kesengsaraan, oh, betapa keji dan
mengenaskan pengalamanku selama ini."

"Aku ... ai. Bong Thian-gak pada tujuh tahun berselang


tentu saja berubah banyak kalau dibanding tujuh tahun
kemudian."
Pendekar Cacat 19

"Sewaktu meninggalkan gedung Bengcu, aku baru berusia


delapan belas tahun, mukaku putih, keempat anggota
badanku utuh dan gagah, tapi hari ini aku muncul sebagai
seorang pincang, apalagi wajahku telah kuubah dengan
obat penyaru, tentu saja kau tak mengenali diriku lagi."

Berbagai ingatan dan perasaan segera berkecamuk dalam


benak Bong Thian-gak.

"Omitohud!" terdengar Ku-lo Hwesio berkata, "Aku lihat


Ko-sicu amat gagah dan perkasa, aku pun dapat
menyaksikan kepandaian saktimu yang tersembunyi, aku
yakin kau pasti berasal dari suatu perguruan tersohor."

Yu Heng-sui berdiri tertegun.

Sebenarnya dia mengira Bong Thian-gak merupakan


kenalan lama Ku-lo Hwesio yang datang ke sana
bersamanya, tapi sekarang tampaknya Ku-lo Hwesio baru
saja berkenalan.

Kejadian ini menimbulkan kecurigaan dan perasaan serba


salah dalam benak Yu Heng-sui, bibirnya bergetar hendak
mengucapkan sesuatu, tetapi tak sepotong kata pun yang
meluncur keluar.

Bong Thian-gak bukan pemuda bodoh, ia dapat merasakan


hal itu, maka ujarnya, "Beberapa tahun lalu, jiwaku pernah
diselamatkan oleh Oh-bengcu sewaktu berada di Kang
Tang, budi kebaikan ini besar bagaikan bukit, maka ketika
kudengar kabar kematian Oh-bengcu, sengaja aku kemari
Pendekar Cacat 20

untuk memberi penghormatan terakhir kepadanya, Ya,


hanya sayang budinya tak sempat kubalas, itulah sebabnya
bila selanjutnya In-jin ada persoalan yang belum
terselesaikan, sekali pun tubuh harus hancur, aku bersedia
mewakilinya untuk menyelesaikan masalah itu. Yu-tayhiap,
aku harap kau suka menerima ketulusan hatiku ini dan
tidak memandang asing."

Beberapa patah kata itu diutarakan dengan bersungguh


hati dan tulus ikhlas, kendatipun Yu Heng-sui menaruh
curiga, tentu saja ia tidak bisa bersikap kelewat batas,
apalagi sampai mengusir tamunya.

Tapi dia berpikir juga, "Asal-usul orang ini tidak begitu jelas,
mana mungkin dia dibiarkan hadir dalam masalah besar Bu-
lim Bengcu?"

Sementara Yu Heng-sui masih ragu dan tidak tahu


bagaimana harus bertindak, Ku-lo Hwesio telah berkata,
"Ko-sicu seorang yang gagah dan berjiwa besar, bila
persekutuan persilatan bisa mendapat bantuan pikiran dari
Sicu, ini benar-benar satu keberuntungan bagi umat
persilatan."

Ku-lo Hwesio adalah Locianpwe yang paling disanjung dan


disegani dalam Bu-lim dewasa ini, tentu saja Yu Heng-sui
tidak berani ragu lagi, dia pun tertawa terbahak-bahak.

"Hahaha, Ko-heng gagah perkasa dan berjiwa besar, aku


orang she Yu merasa cocok denganmu, mana berani
memandang asing ...."
Pendekar Cacat 21

Sesudah berhenti sejenak, ia berpaling ke arah Ku-lo


Hwesio sambil melanjutkan, "Ku-lo Supek, silakan. Silakan
menuju ke ruang rapat, banyak jago lihai yang tergabung
dalam panitia pemakaman sudah berada dalam ruangan
menantikan kedatangan Supek."

Ku-lo Hwesio manggut-manggut.

"Kalau begitu harap Yu-hiantit membuka jalan."

Seusai berkata, Ku-lo Hwesio mengebaskan ujung bajunya


dan berjalan keluar ruangan itu mengikut di belakang Yu
Heng-sui dan kedelapan orang pengawal berbaju hitam itu.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Bong Thian-gak


turut pula di belakang Ku-lo Hwesio beranjak pergi.

Setelah melewati tiga lapis halaman luas dan sebuah tanah


lapang, sampailah mereka di sebuah gedung yang
berpenjagaan amat ketat.

Gedung ini berloteng tingkat tiga yang megah seperti


keraton, empat penjuru penuh pengawal bersenjata
lengkap, suasananya begitu ketat, tegang dan
menyeramkan seperti hendak menghadapi serbuan musuh
tangguh saja.

Menyaksikan keadaan itu, timbul suatu perasaan bimbang


di dalam hati Thian-gak, ia tidak habis mengerti, kematian
gurunya sebenarnya menyangkut masalah besar apa
Pendekar Cacat 22

sehingga suasana dalam gedung Bu-lim Bengcu dijaga


dengan sedemikian ketatnya.

Sementara itu Yu Heng-sui telah berpaling ke arah Ku-lo


Hwesio sambil berkata, "Jenazah Suhu disemayamkan di
loteng sana!"

Sementara pembicaraan berlangsung, dari balik pintu


tampak bermunculan belasan orang laki perempuan, ada
pendeta, Tosu, ada pula orang preman, ketika menyaksikan
kehadiran Ku-lo Hwesio, serentak mereka memberi hormat
seraya berkata, "Kami tidak dapat menyambut kedatangan
Sinceng dari jauh, harap sudi dimaafkan."

"Omitohud, kalian tidak usah banyak adat, Lolap sudah


datang mengganggu tidur kalian, sesungguhnya Lolaplah
yang harus minta maaf."

Bong Thian-gak yang berdiri di belakang Ku-lo Hwesio


menggunakan kesempatan itu mengawasi wajah para
tokoh silat yang berada di sana, tapi dengan cepat hatinya
bergetar keras.

Ternyata puluhan orang Enghiong yang hadir hampir


meliputi semua inti kekuatan yang ada di Bu-lim, bahkan
semuanya merupakan ketua-ketua partai persilatan yang
sudah termasyhur puluhan tahun lamanya.

Ketika sorot matanya dialihkan ke wajah seorang lelaki


setengah umur berbaju biru yang beralis tebal, bermata
besar, muka bulat, telinga persegi dan seorang gadis cantik
Pendekar Cacat 23

yang mengenakan pakaian berkabung, kembali sekujur


tubuhnya gemetar karena luapan emosi.

Ternyata lelaki setengah umur berbaju biru itu adalah Toa-


suhengnya, Pa-ong-kiong (si Busur raja lalim) Ho Put-ciang,
sedang gadis berbaju putih itu adalah puteri tunggal
gurunya, Oh Cian-giok.

Sorot mata semua jago hampir sebagian besar dicurahkan


ke wajah Ku-lo hwesio, maka tidak ada yang
memperhatikan Bong Thian-gak, apalagi Bong Thian-gak
mengenakan baju berwarna hitam, sehingga semua
mengira dia adalah salah seorang pengawal gedung Bu-lim
Bengcu.

Hanya Oh Cian-giok, si nona baju putih itu yang


memperhatikan kehadiran Bong Thian-gak, hanya sekali
lirikan saja paras mukanya berubah hebat, tapi dengan
cepat wajahnya kembali seperti sediakala.

Setelah berbasa-basi sebentar, akhirnya Ku-lo Hwesio


bersama rekan-rekan pendekar lainnya beranjak masuk ke
ruang besar yang terang benderang itu.

Baru saja Bong Thian-gak hendak turut melangkah masuk,


tiba-tiba terdengar Oh Cian-giok yang berada di sisinya
berkata lantang, "Ji-suheng, Siangkong ini adalah jago lihai
dari perguruan mana?"
Pendekar Cacat 24

Tidak menanti Yu Heng-sui yang berada di belakangnya


menjawab, Bong Thian-gak segera membalik badan dan
menjura kepada Oh Cian-giok sambil memperkenalkan diri.

"Aku Ko Hong, tolong tanya apakah nona puteri kesayangan


Oh-bengcu?"

Sekarang Oh Cian-giok sudah bisa melihat jelas wajah Bong


Thian-gak yang pucat-pias bagai mayat, keningnya
berkerut, lalu sambil menggeleng, pikirnya, "Heran, sekilas
pandangan tadi, raut wajahnya seperti pernah kujumpai di
suatu tempat, tapi setelah diperhatikan lebih seksama,
serasa tak kuingat siapa gerangan orang ini?"

"Sumoay," terdengar Yu Heng-sui menjawab lantang, "Ko-


siauhiap datang bersama Sinceng."

"Oh buru-buru Oh Cian-giok menjura kepada Bong Thian-


gak sambil berkata, "Ko-siauhiap, terima kasih banyak atas
kehadiranmu turut melawat ayahku."

"Ai, kematian ayahmu benar-benar suatu kehilangan besar


bagi umat persilatan," Bong Thian-gak menghela napas.

"Ko-heng, kematian guruku secara lamat-lamat


menyangkut suatu ancaman maut bagi keamanan Bu-lim,"
kata Yu Heng-sui pula. "Malam ini, sengaja kuundang
kehadiran, Ku-lo Sinceng untuk bersama-sama membahas
ancaman bahaya yang telah semakin dekat ini .... Ko-heng
sebenarnya kau bukan termasuk anggota perserikatan,
Pendekar Cacat 25

bilamana tidak ada keperluan yang mendesak, lebih baik


janganlah melibatkan diri di dalam pertikaian ini."

Bong Thian-gak tersenyum.

"Sewaktu berada di loteng tadi, aku telah mengemukakan


suara hatiku, sejak kini biarpun harus terjun ke lautan api,
aku tidak akan menampik."

"Baiklah," kata Yu Heng-sui sambil manggut-manggut,


"Kalau begitu, silakan Ko-heng mengambil tempat duduk."

Sementara itu Ku-lo Sinceng dan para pendekar sudah


mengambil tempat duduk masing-masing. Puluhan orang
berkumpul membentuk suatu pertemuan.

Murid pertama Thi-ciang-kan-kun-hoan Oh Ciong-hu, yakni


Pa-ong-kiong Ho Put-ciang, murid kedua si Pemutus usus Yu
Heng-sui dan Oh Cian-giok duduk di kursi tuan rumah
sebelah timur, Ku-lo Sinceng duduk di sebelah barat,
sedangkan Bong Thian-gak duduk di sebelah kanan Ku-lo
Hwesio.

Setelah semua orang duduk, si Busur raja lalim Ho Put-


ciang segera membuka suara, "Para pendekar dan orang
gagah sekalian, hari ini kita sengaja mengundang kehadiran
Ku-lo Sinceng yang telah menutup diri selama sepuluh
tahun untuk menghadiri pertemuan ini, tujuannya tak lain
adalah untuk menyelidiki sebab-sebab kematian guruku."
Pendekar Cacat 26

"Sesungguhnya siapa yang telah membunuh guru kami?


Dan apa yang menyebabkan kematiannya? Meski sudah
diperiksa dan diselidiki oleh semua jago berpengalaman,
alhasil hingga kini tetap merupakan suatu teka-teki yang
mencurigakan."

"Yang lebih mengherankan lagi adalah pada empat puluh


sembilan hari berselang, kuda tunggangan guru kami telah
pulang sendiri ke gedung Bu-lim Bengcu untuk mewartakan
kematiannya, kemudian kuda itu telah membunuh diri
dengan menerjang patung singa di depan pintu gerbang,
disusul pula lima orang tokoh persilatan yang kebetulan
sedang bertamu di dalam gedung ini ditemukan tewas
secara misterius, sebab-sebab kematian mereka pun tidak
berhasil ditemukan, karena di tubuh masing-masing tidak
dijumpai cidera atau luka, mereka seakan-akan mati secara
wajar, persis seperti keadaan yang dialami guru kami."

"Omitohud!" Ku-lo Hwesio memuji keagungan sang


Buddha, "Siapa-siapa saja kelima tokoh persilatan itu?"

"Mereka adalah si Pukulan nomor wahid dari kolong langit


Ma Kong Loenghiong dari perguruan Sin-kun-bun, Liong-
thau Pangcu dari perkumpulan Hek-huo-pang Kwan Bu-
peng, Congpiauthau dari tujuh perusahaan ekspedisi
gabungan wilayah Kanglam Lui-hong-khek (Jago angin
guntur) Gi Peng-san, Loapcu dari benteng Jit-seng-po Tui-
hun-pit (Pena pengejar sukma) Cia Liang dan Thi-koan-im
(Koan-im baja) Han Nio-cu yang namanya disegani kaum
Hek-to maupun Pek-to."
Pendekar Cacat 27

Begitu nama kelima tokoh persilatan itu diungkap, Bong


Thian-gak serta sekalian pendekar mengerutkan dahi
dengan wajah serius.

Ternyata kelima tokoh silat itu tiada seorang pun yang


merupakan tokoh tanpa nama dalam Bu-lim, boleh dibilang
mereka merupakan pemimpin persilatan yang namanya
termasyhur dalam Bu-lim.

Siapa pun tak menyangka kalau di kolong langit terdapat


seorang gembong iblis yang mampu membunuh nyawa
kelima orang tokoh persilatan itu bersama-sama.

Dengan wajah sedingin es, pelan-pelan Ho Put-ciang


berkata, "Sampai dimanakah taraf kepandaian silat kelima
orang tokoh ini rasanya sudah diketahui setiap orang,
kenyataan mereka ditemukan tewas pada saat bersamaan
dalam gedung Bu-lim Bengcu, bayangkan saja betapa
mengejutkan peristiwa ini."

Ketika mendengar sampai di situ, mendadak Ku-lo Hwesio


memejamkan mata sambil termenung.

Si Busur raja lalim Ho Put-ciang menghela napas,


sambungnya lebih jauh, "Malam ketiga setelah kematian
kelima tokoh silat itu, tahu-tahu kelima sosok mayat itu
lenyap secara misterius."

"Apakah kelima sosok mayat itu lenyap dari dalam gedung


ini?" mendadak Ku-lo Hwesio mementang mata lebar-lebar.
Pendekar Cacat 28

"Benar, kelima sosok mayat itu telah dicuri orang."

Perasaan setiap jago yang hadir di situ kembali terasa


berat, sekarang mereka mulai sadar bahwa kasus ini
merupakan suatu peristiwa yang amat rumit dan aneh,
bahkan jika berita itu sampai bocor keluar, niscaya akan
menimbulkan pergolakan yang amat hebat di Bu-lim.

Kematian Oh Ciong-hu sendiri sudah membuat dunia


persilatan diliputi selapis kabut gelap, apabila peristiwa
yang lebih parah ini sampai meledak, mungkin bisa
menciptakan kemusnahan bagi seluruh umat persilatan.

Ku-lo Hwesio maupun para pendekar termenung


memikirkan persoalan itu, suasana dalam ruang rapat
diliputi ketegangan, keseraman dan kengerian, tekanan
yang sangat berat serasa menindih dada setiap orang.

Mendadak dari antara para jago melompat bangun seorang


kakek kurus berperawakan pendek.

"Menurut dugaan Lohu," ia berkata, "Kematian Ma Kong


berlima diliputi suatu masalah maha besar ...."

Sorot mata semua orang segera dialihkan ke wajahnya.

"Kongsun-tayhiap berhasil menemukan apa?" ucap Ku-lo


Hwesio pelan. "Coba utarakan lebih jelas agar bisa didengar
setiap orang yang hadir di sini."
Pendekar Cacat 29

Ternyata kakek yang berperawakan pendek kecil ini adalah


salah satu di antara tiga sesepuh Ciong-lam-san, yakni To-
ci-sing (Si bintang banyak akal) Kongsun Phu-ki.

Kongsun Phu-ki memutar sepasang biji matanya yang kecil,


kemudian pelan-pelan berkata, "Menurut dugaan dan
perasaan indera keenam Lohu, sesungguhnya Ma Kong
berlima hingga kini belum ... mati."

Suasana gempar segera menyelimuti seluruh ruangan, para


jago berbisik-bisik menanggapi perkataan itu.

Ho Put-ciang tak dapat menahan sabar, dia segera


bertanya, "Apa bukti yang menjadi dasar pertimbangan
Kongsun-tayhiap, hingga kau berani mengatakan Ma Kong
berlima sesungguhnya belum mati?"

Kongsun Phu-ki tertawa dingin.

"Sesungguhnya kelima orang itu memang cuma pura-pura


mati, belum lama Lohu mendengar orang berkata bahwa
Koan-im baja Han Nio-cu mempunyai semacam obat
mustika, bilamana pil itu ditelan, maka satu jam kemudian
jantung akan berhenti berdenyut dan keempat anggota
badannya jadi dingin dan kaku. Keadaannya tak jauh
berbeda dengan keadaan orang mati."

"Ah, itu pil Tong-bian-wan!" mendadak terdengar Bong


Thian-gak berseru tertahan.
Pendekar Cacat 30

Seruan itu segera mengejutkan para jago, berpuluh pasang


mata serentak dialihkan ke arahnya.

Setelah semua pendekar melihat jelas raut wajahnya,


sambil berkerut kening diam-diam mereka berpikir, "Heran,
siapakah dia?"

Paras muka Kongsun Phu-ki berubah hebat, buru-buru


serunya, "Darimana kau bisa tahu pil itu bernama Tong-
bian-wan?"

Bong Thian-gak merasa amat tak leluasa ditatap sekian


banyak orang, segera jawabnya, "Aku pernah membaca
kupasan tentang obat itu serta sifat Tong-bian-wan dari
catatan sejilid kitab, menurut kitab itu, barang siapa
menelan pil ini, maka semua organ tubuh akan berhenti
bekerja, keadaan itu seperti ular yang tidur panjang di
musim dingin, tapi bila sifat dan daya kerja obat itu sudah
habis, maka kehidupan pun akan pulih seperti sedia kala."

"Dimanakah kau pernah membaca kitab itu?"desak


Kongsun Phu-ki lebih jauh.

"Dalam sebuah gua terpencil," Bong Thian-gak tersenyum


rawan. Kongsun Phu-ki menatap tajam wajah anak muda
itu beberapa saat lamanya, mendadak ia berkata lagi,
"Siapakah kau?" "Aku she Ko bernama Hong."

"Anak murid dari perguruan mana?"

"Tanpa partai tanpa perguruan."


Pendekar Cacat 31

Mendadak Kongsun Phu-ki melompat ke tengah udara


setinggi satu tombak, kemudian tanpa menimbulkan sedikit
suara melayang turun tiga kaki di hadapan Bong Thian-gak,
bentaknya dengan suara keras, "Bila kau tidak
menyebutkan asal-usul perguruanmu, jangan harap kau
bisa meninggalkan gedung ini dalam keadaan hidup."

Ancaman yang diutarakan amat keras ini kontan membuat


suasana dalam ruang berubah menjadi tegang.

Sementara itu Ku-lo Hwesio dan Yu Heng-sui tetap duduk


tenang di tempat masing-masing tanpa melakukan sesuatu
tindakan, rupanya mereka pun ingin tahu asal-usul Bong
Thian-gak.

Mendadak di saat yang kritis itulah dari atas wuwungan


rumah berkumandang suara tawa dingin seseorang yang
amat mengerikan.

"He, monyet tua, lebih baik jangan menganiaya anak kecil."

Dampratan secara tiba-tiba itu kontan membuat paras


muka para pendekar yang berada di ruang rapat berubah
hebat.

Kongsun Phu-ki membentak gusar, sementara di


belakangnya mengikut Yu Heng-sui.

Untuk sesaat tampak bayangan orang berkelebat, para jago


serentak menerjang keluar ruangan.
Pendekar Cacat 32

Kini dalam ruangan tinggal Ku-lo Hwesio, Pa-ong-kiong Ho


Put-ciang, Oh Cian-giok dan Bong Thian-gak berempat yang
masih tetap duduk diam.

Namun paras muka mereka pun diliputi perasaan tegang,


bahkan Ho Put-ciang tiada hentinya mengawasi wajah Bong
Thian-gak dengan sorot matanya yang sangat tajam.

Akhirnya terdengar Ku-lo Hwesio menghela napas panjang,


kemudian berkata, "Sebenarnya ucapan tadi dipancarkan
dengan menggunakan ilmu Jian-li-hui-im (suara pantulan
seribu li) yang dikerahkan dengan menggunakan tenaga
dalam tingkat tinggi, ketika kalian mendengar suara itu,
sang pembicara telah berada satu li jauhnya dari sini. Ai,
tampaknya Bu-lim kembali dihadapkan pada suatu
ancaman maha besar."

Baru selesai pendeta itu berkata, tampak Kongsun Phu-ki


dengan wajah gusar telah muncul kembali dalam ruangan,
tangan kirinya membawa segulung kain putih, sedang di
belakangnya mengikut enam-tujuh orang jago.

Sambil melompat bangun dari tempat duduknya, Ho Put-


ciang segera bertanya, "Kongsun-tayhiap, apa yang telah
engkau temukan?"

Kongsun Phu-ki membentang kain putih dalam


genggamannya itu ke atas meja, lalu serunya dengan gusar,
"Coba kalian saksikan sendiri!"
Pendekar Cacat 33

Setelah kain putih itu dibentang di meja, terbacalah sederet


tulisan di atas kain putih itu: "To-ci-sing Kongsun Phu-ki tak
akan hidup melebihi bulan setan".

Yang dimaksud bulan setan adalah bulan ketujuh,


sedangkan hari ini adalah tanggal dua puluh tiga, berarti dia
takkan bisa hidup melebihi tujuh hari lagi.

Kontan semua orang terbelalak dengan mulut melongo,


mereka sama-sama memandang ketiga belas patah kata itu
dengan terkesima.

Sementara itu Yu Heng-sui dan para jago lainnya pun telah


pulang dengan tangan hampa.

Sewaktu mereka menyaksikan ketiga belas patah kata yang


tertera di atas kain putih itu, semua orang terbungkam dan
saling pandang.

Akhirnya Pa-ong-kiong Ho Put-ciang menarik napas


panjang; katanya, "Kongsun-tayhiap, kau menemukan kain
putih ini dimana?"

"Di atas tiang lentera di tengah lapangan sana," sahut


Kongsun Phu-ki sambil tertawa dingin.

"Penjagaan di gedung Bengcu ini dilakukan amat ketat,


bahkan jauh lebih ketat daripada penjagaan dalam keraton
kaisar, kenyataan pihak lawan dapat keluar masuk dengan
leluasa, malah mengganti kain putih di tengah lapangan
Pendekar Cacat 34

tanpa diketahui orang, kelihaian orang itu pada hakikatnya


sukar dilukiskan dengan kata-kata!"

"Sebenarnya siapakah orang ini?" bentak Kongsun Phu-ki


dengan suara lantang. Tangan kirinya menuding Bong
Thian-gak, sementara sorot matanya yang tajam melotot
gusar ke arah Ho Put-ciang.

"Ko-siauhiap datang ke gedung Bengcu ini bersama Ku-lo


Sinceng!" buru-buru Yu Heng-sui berkata.

Yu Heng-sui cukup cerdas dan cekatan, dia dapat melihat


situasi malam ini telah mengubah Bong Thian-gak menjadi
orang yang amat mencurigakan, bila kesepakatan tidak
ditemukan, bisa jadi keadaan akan berkembang
mengerikan.

Para pendekar yang hadir dalam ruangan rapat rata-rata


adalah anggota pengurus perserikatan dunia persilatan,
kedudukan mereka amat tinggi dan kekuatannya amat
besar, merekalah yang akan bertanggung jawab dalam
pemilihan pergantian Bengcu.

Tapi kini ia membicarakan seseorang yang tidak jelas


identitasnya yang telah memasuki ruang sidang, bahkan
turut dalam perundingan rahasia itu, jelas tindakan ini
merupakan suatu pelanggaran peraturan yang sangat
besar.
Pendekar Cacat 35

Itulah sebabnya maka ia lantas memutar otak dan


melimpahkan semua tanggung jawab itu ke atas pundak
Ku-lo Hwesio.

Goan-hui Taysu, ketua Siau-lim-pay sekarang merupakan


ketua pengurus Bu-lim Bengcu, padahal Ku-lo Sinceng
adalah Supek dari Goan-hui Taysu, dia pun ketua pengurus
yang lalu, bisa dibayangkan betapa tingginya kedudukan
orang ini.

Betul juga, Kongsun Phu-ki segera menarik kembali hawa


amarahnya sesudah mendengar perkataan Yu Heng-sui,
sambil berpaling ke arah Ku-lo Hwesio, tanyanya, "Tolong
tanya Sinceng, orang ini berasal dari perguruan mana?"

"Kongsun-tayhiap," jawab Ku-lo Hwesio cepat, "Harap kau


segera menenangkan hatimu, Ko-sicu adalah orang dari
aliran kita."

Dengan dasar ucapan itu, serentak para jago membuang


sebagian rasa curiganya terhadap Bong Thian-gak.

Dengan suara dalam, Ho Put-ciang lantas berkata, "Para


pendekar, silakan duduk kembali untuk melanjutkan
perundingan kita."

Para pendekar secara beraturan menempati tempat


duduknya masing-masing, kemudian Ui-hok Totiang dari
Bu-tong-pay angkat bicara, katanya, "Pihak lawan telah
meninggalkan tiga belas patah kata itu dalam gedung
Pendekar Cacat 36

Bengcu, menurut pendapat Pinto, lebih baik dalam tujuh


hari ini Kongsun-tayhiap meningkatkan kewaspadaan."

Kongsun Phu-ki tertawa dingin, "Hehehe, terima kasih


banyak atas perhatian Ui-hok Totiang, Lohu percaya paling
tidak aku masih dapat hidup sepuluh tahun lagi."

"Kongsun-tayhiap, harap kau jangan gusar," kembali Ui-hok


Totiang berkata serius, "kau harus tahu, musuh yang
datang pasti bermaksud jelek, orang yang bermaksud baik
tak akan begini cara datangnya, sekarang mereka sudah
berani menantang kita secara terang-terangan, sudah pasti
hal ini bukan cuma gertak sambal belaka."

Kongsun Phu-ki kembali tertawa dingin.

"Lohu tidak percaya dengan segala macam kepandaian


setan mereka. Hehehe ... sudah puluhan tahun Kongsun-loji
malang melintang dalam Bu-lim tanpa kuatir bertemu
setan, aku minta kalian tak usah menguatirkan tentang
diriku."

Setelah berhenti sebentar, sambungnya, "Sekarang aku


punya suatu persoalan yang membuat hatiku bingung, tadi
ketika aku mendengar suara lawan, sesungguhnya selisih
waktu kami hanya sekejap mata, kendatipun orang itu
memiliki ilmu meringankan tubuh yang sangat hebat, sulit
rasanya untuk menghindar dari pengawasan mata Lohu,
apalagi di sekeliling halaman ini penuh dengan pengawal
yang berjumlah tiga puluhan orang, tapi kenyataannya tak
Pendekar Cacat 37

seorang pun di antara mereka yang menemukan jejak


musuh."

Yu Heng-sui pun diliputi perasaan berat, ujarnya, "Tadi


secara beruntun aku telah menanyai para pengawal yang
berjaga di ketujuh lapis halaman gedung, ternyata tak
seorang pun di antara mereka yang menemukan jejak
musuh, juga tidak mendengar sedikit suara pun."

"Pernahkah Sicu sekalian mendengar semacam kepandaian


yang disebut Jian-li-hui-im?" ujar Ku-lo Hwesio pelan.
"Dengan menghimpun tenaga dalam, seseorang dapat
menghimpun nada suaranya menjadi gelombang suara dan
dipancarkan ke dalam telinga manusia dari jarak ratusan
kaki"

Begitu mendengar uraian itu, paras muka para jago


berubah hebat.

"Ai, kalau begitu ilmu silat lawan benar-benar telah


mencapai puncak kesempurnaan?"

"Kepandaian lawan memang bukan sembarangan, cuma di


antaranya justru terdapat kelicikan ...."

Bicara sampai di sini, Ku-lo Sinceng memejamkan mata


sambil berpikir sejenak, kemudian mengalihkan pokok
pembicaraan ke soal lain, "Ho-hiantit, kau paling lama
mengikuti Oh-bengcu, tahukah kau selama hidup gurumu
pernah terjadi peristiwa besar? Mungkinkah orang-orang
itu akan membalas dendam terhadap gurumu?"
Pendekar Cacat 38

"Selama hidup Suhu bersikap amat baik terhadap siapa


pun, berjiwa sosial dan suka membantu orang, boleh
dibilang tak punya seorang musuh pun, sekali pun ada, itu
pun manusia-manusia kurcaci dunia rimba hijau, Sutit
sudah membuang waktu selama setengah bulan melakukan
penyelidikan, sebagian besar di antara mereka telah
meninggal, yang belum mati pun telah dihukum Suhu
hingga cacat, cuma di antaranya terdapat tiga orang yang
sangat mencurigakan, hingga kini jejak mereka masih
belum ditemukan."

"Siapa ketiga orang itu? Harap Hiantit jelaskan."

Pa-ong-kiong Ho Put-ciang termenung sejenak, lalu ujarnya


dengan suara dalam, "Pertama adalah Suci Suhu kami yang
bernama Ho Lan-hiang."

Mendengar nama Ho Lan-hiang disinggung, paras muka Ku-


lo Hwesio berubah, ujarnya, "Pada sepuluh tahun lalu, Ho
Lan-hiang sudah termasyhur sebagai perempuan paling
cantik di wilayah Kanglam, tapi dia hanya muncul sebentar
saja dalam Bu-lim, kemudian lenyap, hingga kini jejaknya
tidak jelas, semasa gurumu masih hidup, Lolap pun pernah
mendengar ia membicarakan Ho Lan-hiang, kalau dia
adalah Suci (kakak seperguruan) gurumu, tentunya tak
mungkin punya perselisihan dengan gurumu, jadi aku rasa
tidak sepantasnya kita mencurigai dia sebagai orang yang
membunuh Oh-bengcu."

Pa-ong-kiong Ho Put-ciang mengangguk berulang kali,


kembali katanya, "Orang kedua adalah Tio Tian-seng,
Pendekar Cacat 39

seorang jago silat yang pernah menggemparkan dunia


persilatan pada tiga puluh tahun lalu ...."

Mendengar nama Tio Tian-seng, kembali para jago saling


berbisik, seakan-akan setiap orang mengetahui nama itu.

Rupanya Tio Tian-seng sudah termasyhur di Bu-lim sejak


tiga puluh enam tahun lalu, dia hanya tiga tahun berkelana
dalam Bu-lim, mengandalkan pedang sesatnya, beruntun
dia berhasil merobohkan delapan puluh satu jago pedang
kenamaan sehingga dijuluki Mo-kiam-sin-kun (Malaikat
sakti pedang iblis).

Di masa lalu, bila orang menyinggung Mo-kiam-sin-kun Tio


Tian-seng, maka baik jagoan dari golongan sesat maupun
golongan putih, rata-rata orang menaruh rasa hormat dan
gentar kepadanya.

Ku-lo Hwesio termenung beberapa saat lamanya, kemudian


baru pelan-pelan berkata, " Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng
memang seorang pendekar aneh dunia persilatan,
pertarungan sengit antara Tio Tian-seng melawan
almarhum Oh-bengcu di puncak Im-soat-hong di bukit Si-
ciang-san pada tiga puluh tujuh tahun berselang memang
betul-betul merupakan suatu pertarungan yang paling
mengagumkan sepanjang sejarah...."

"Ku-lo Supek," tiba-tiba Yu Heng-sui menyela, "Ketika Tio


Tian-seng menantang Suhu kami bertarung di puncat Im-
soat-hong, bukankah Supeklah yang bertindak sebagai
juri?"
Pendekar Cacat 40

Ku-lo Hwesio manggut-manggut, "Benar, waktu itu


memang Lolap bertindak sebagai wasit... pertarungan
sengit itu berlangsung tiga hari tiga malam sebelum
akhirnya tahu siapa menang siapa kalah, waktu itu
almarhum Oh-bengcu hanya berhasil menang setengah
jurus."

Ku-lo Hwesio berhenti sebentar, kemudian baru


sambungnya, "Sejak menderita kekalahan di puncak Im-
soat-hong di bukit Si-ciang-san, Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-
seng mengundurkan diri dari keramaian dunia persilatan,
selama tiga puluhan tahun belakangan ini sudah tidak
pernah terdengar lagi namanya, juga tiada orang yang
mengetahui jejaknya ... benar, Tio Tian-seng pernah keok di
tangan Thi-ciang-kan-kun-hoan Oh Ciong-hu, mungkin dia
akan melakukan balas dendam."

Pa-ong-kiong Ho Put-ciang segera melanjutkan


perkataannya tentang orang ketiga yang dicurigai, "Orang
ketiga adalah Bong Thian-gak, seorang murid Suhu yang
dikeluarkan dari perguruan."

Hampir saja Bong Thian-gak yang duduk di sampingnya


menjerit kaget mendengar ia dituduh sebagai orang ketiga
yang dicurigai telah membunuh gurunya.

Mimpi pun dia tak menyangka kalau dirinya bisa


dicantumkan sebagai salah seorang yang dicurigai.
Pendekar Cacat 41

"Apakah dia adalah bocah cilik yang diterima almarhum Oh-


bengcu sebagai muridnya yang terakhir?" tanya Ku-lo
Hwesio.

"Benar," sahut Pa-ong-kiong Ho Put-ciang setelah


menghela napas sedih.

"Bong Thian-gak memang adik seperguruanku yang


terkecil."

Sambil menghela napas, Ku-lo Hwesio segera menggeleng,


"Siau Gak si bocah cilik ini sangat penurut dan alim, dia pun
cerdik, terutama bakatnya yang bagus, dia juga amat
berbakat belajar silat ... sebenarnya apa yang telah terjadi?
Waktu itu Lolap sudah menutup diri dalam kuil Siau-lim-si,
harap Hiantit suka memberi keterangan."

Kembali Pa-ong-kiong Ho Put-ciang menghela napas


panjang, "Bong Thian-gak Sute memang seorang bocah
yang menyenangkan, sekali pun dia telah dikeluarkan dari
perguruan, Suhu beserta segenap saudara seperguruannya
masih tetap merindukan dia."

Setelah berhenti sejenak, lalu sambungnya, "Peristiwa ini


terjadi pada musim panas tujuh tahun berselang, Sam-sute
Siau Cu-beng dan Su-sute Bong Thian-gak mendapat
perintah Suhu untuk berangkat ke Ci Kang guna menjemput
Subo pulang ke Kay-hong, di tengah jalan mereka kakak
beradik seperguruan saling berdebat tentang ilmu silat,
akhirnya perdebatan itu dilanjutkan dengan pertarungan di
puncak bukit, dasar keduanya berdarah muda dan ingin
Pendekar Cacat 42

mencari menang sendiri, mereka saling tak mau mengalah


hingga pertarungan tak dapat dihindari lagi ... dan Sam-sute
Siau Cu-beng kena dihajar oleh Su-sute Bong Thian-gak
hingga tercebur ke dalam jurang, hingga kini mayatnya tak
pernah ditemukan."

Bong Thian-gak yang mendengar perkataan itu diam-diam


hatinya amat sakit, pekiknya di hati, "Toa-suheng, wahai
Toa-suheng, kau tidak mengetahui rahasiaku, tak mungkin
aku berebut soal ilmu silat dengan Sam-suheng hingga
membunuhnya. Sesungguhnya aku mempunyai rahasia
yang tidak bisa diberitahukan kepada Suhu dan kalian, oleh
sebab itu mau tak mau aku harus mengarang sebuah cerita
kepada kalian guna menutupi kenyataan yang
sesungguhnya."

Sementara itu Ku-lo Hwesio telah bertanya setelah selesai


mendengar kisah itu, "Siapa yang menyaksikan Bong Thian-
gak telah menghajar Siau Cu-beng hingga terjatuh ke dalam
jurang?"

Pa-ong-kiong Ho Put-ciang menggeleng kepala berulang


kali.

"Mereka kakak beradik sedang berada dalam perjalanan


menuju ke wilayah Ci Kang, saat peristiwa itu terjadi, kami
tahu dari pengakuan Bong Thian-gak sendiri kepada Suhu
sekembalinya dari Kay-hong."

"Ketika Suhu mendengar peristiwa itu, beliau gusar sekali,


hampir saja dia orang tua hendak membunuhnya, tapi
Pendekar Cacat 43

entah mengapa Suhu tidak melanjutkan serangan itu,


ditambah Su-sute dan Ji-sute serta Oh-sumoay memohon
ampun baginya, akhirnya Suhu pun mengampuni dosa Su-
sute dan mengusirnya dari perguruan serta putus
hubungan antara guru dan murid."

Bong Thian-gak merasa sedih sekali, kembali ia bergumam,


"Oh, Toa-suheng! Tahukah kau, sewaktu kuhajar Siau Cu-
beng Sam-suheng hingga jatuh ke dalam jurang, ada
seorang yang menyaksikan kejadian itu, orang itu adalah
Subo ... ketika kubunuh Sam-suheng, waktu itu dalam
perjalanan pulang dari Ci Kang menuju ke Kay-hong setelah
menjemput Subo."

"Siancay! Siancay! Sungguh tak kusangka selama Lolap


menutup diri, dalam keluarga almarhum Oh-bengcu telah
berlangsung peristiwa semacam ini, ai! Bong Thian-gak si
bocah itu meski memiliki hawa membunuh yang berat,
namun dia adalah seorang bocah yang berhati mulia dan
baik."

"Ai, sejak dikeluarkan dari perguruan, selama tujuh tahun


ini Bong Thian-gak tak diketahui jejaknya lagi, mati
hidupnya hingga kini belum diketahui!"

Diam-diam Bong Thian-gak mengucurkan air mata, kembali


ia membatin dengan sedih, "Toa-suheng, wahai Toa-
suheng, tahukah kalian, selama tujuh tahun ini aku telah
merasakan banyak penderitaan dan siksaan ... ketika aku
baru dipecat dari perguruan, pembunuh-pembunuh yang
dikirim Subo telah datang mengejekku ... hampir saja aku
Pendekar Cacat 44

tewas dalam penghadangan itu. Kaki kiriku menjadi pincang


adalah hadiah dari Subo. Aku amat membenci kebejatan
moral Subo, sebenarnya ingin kuungkap semua rahasianya,
tapi aku terlampau menghormati dan menyayangi guruku,
terpaksa semua penderitaan ini hanya kusimpan dalam
hati, itulah sebabnya hingga kini tujuh tahun kemudian aku
belum pernah membocorkan rahasia ini kepada siapa pun,
oh Toa-suheng, kalian jangan salah menuduh diriku sebagai
pembunuh Suhu!"

Sementara itu terdengar Yu Heng-sui berkata dengan wajah


serius, "Su-sute Bong Thian-gak adalah pemuda yang
perasa, dia gampang menaruh dendam pada orang, kami
kuatir lantaran dia diusir dari perguruan oleh Suhu, hingga
akhirnya timbul niat untuk menghabisi nyawa Suhu."

Oh Cian-giok yang selama ini hanya membungkam diri tiba-


tiba turut berbicara dengan air mata bercucuran, "Yu-
suheng, aku rasa Su-sute tak akan bertindak sekejam ini,
dia ... keesokan hari setelah ia dikeluarkan dari perguruan,
aku pernah melakukan pembicaraan dari hati ke hati
dengan Bong Thian-gak Sute waktu itu, tampaknya dia
seperti menyimpan suatu rahasia besar yang sukar untuk
diutarakan."

Bong Thian-gak yang menyaksikan kejadian ini dari sisi


arena ingin sekali melompat keluar dan membeberkan
semua kejadian yang sebenarnya.

Selama tujuh tahun ini, dia telah merasakan penderitaan


dan siksaan yang tak mungkin bisa ditahan olehkebanyakan
Pendekar Cacat 45

orang, sehingga semua itu menciptakan suatu kemampuan


untuk mengendalikan diri yang luar biasa, hingga akhirnya
segala sesuatunya dapat ditahan dan dilewatkan begitu
saja.

la tidak dapat membuka rahasia identitasnya, lebih-lebih


lagi tak boleh mengungkap rahasia memalukan antara
Subonya dengan Sam-suhengnya, kendatipun kini gurunya
telah tiada, namun hal itu tetap akan merugikan nama
baiknya.

Ku-lo Hwesio menghela napas panjang, katanya,


"Walaupun Bong Thian-gak boleh saja dicurigai sebagai
pembunuh gurunya, tapi menurut pendapat Lolap
kemungkinannya kecil sekali, harus diketahui, orang yang
bisa membunuh almarhum Oh-bengcu jelas bukan seorang
murid yang baru tujuh tahun meninggalkan perguruan,
kepandaian silat Oh Ciong-hu Bengcu sedemikian hebat,
Lolap sendiri pun sulit menangkan dia, apalagi seorang
muridnya."

Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan, "Tentu saja


lantaran Bong Thian-gak belum diketahui kabar beritanya
hingga sekarang, kita boleh saja menuduhnya sebagai salah
seorang yang dicurigai ... cuma menurut pendapat Lolap,
dari tiga orang yang dicurigai Ho-hiantit, aku lebih
mencurigai Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng."

"Kau harus tahu, sewaktu masih berkelana di Bu-lim


dahulu, Tio Tian-seng mempunyai ambisi menjadi manusia
paling kosen di Bu-lim, tapi ambisi itu buyar setelah ia
Pendekar Cacat 46

dikalahkan oleh Oh Ciong-hu Bengcu, kekalahan yang


dideritanya ini membuat pamornya sewaktu berhasil
mengalahkan delapan puluh satu jago pedang pun buyar
dalam semalam saja, pukulan batin yang begini berat bagi
orang yang berwatak aneh macam dia, kadangkala bisa
berubah menjadi dendam kesumat yang dalam sekali, oleh
karena itu kukatakan bahwa Tio Tian-seng adalah orang
yang paling mencurigakan."

"Di samping itu keberhasilan Tio Tian-seng pada tiga puluh


tahun berselang sudah seimbang dengan Oh Ciong-hu
Bengcu, bila selama tiga puluh tujuh delapan tahun ini dia
berlatih secara tekun, bisa jadi kepandaiannya akan
berhasil melampaui Oh Ciong-hu Bengcu."

Mendengar uraian Ku-lo, para jago tak membantah lagi,


semua orang pun menganggap pentolan yang berada di
balik kabut kegelapan di Bu-lim adalah Tio Tian-seng.

Bahkan Bong Thian-gak sendiri pun berpendapat demikian,


diam-diam dia mengertak gigi sambil bertekad hendak
membunuh Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng untuk
membalas dendam bagi kematian gurunya.

Ku-lo Hwesio mengangkat kepala dan memandang sekejap


suasana gelap di luar jendela, kemudian ujarnya lagi,
"Membalas dendam bagi almarhum Oh-bengcu dan
melenyapkan bibit bencana serta menegakkan kembali
keadilan dan kebenaran di Bu-lim bukankah pekerjaan yang
dapat diselesaikan sehari dua hari saja, kini musuh berada
dalam kegelapan dan kita berada di tempat terang,
Pendekar Cacat 47

terpaksa untuk sementara kita berada di posisi yang


diincar, karenanya bila Sicu sekalian tidak mempunyai
urusan penting, tak ada salahnya tinggal dahulu di gedung
Bu-lim Bengcu untuk sementara waktu."

Para pendekar dari sembilan partai besar tidak memberi


komentar apa-apa, mereka menyetujui usul itu.

Mendadak Pa-ong-kiong Ho Put-ciang berkata, "Hingga hari


ini Suhu sudah mati empat puluh sembilan hari, tapi
jabatan Bu-lim Bengcu masih tetap kosong, entah
bagaimanakah pendapat Ku-lo Supek dalam hal ini?"

"Soal itu gampang untuk diselesaikan, bagaimana pun juga


Sicu yang hadir di sini sekarang adalah anggota pengurus
perserikatan dunia persilatan, soal Bengcu baru tentu saja
harus dipilih, tapi bukan mesti dipilih dalam waktu singkat,
meski demikian, untuk sementara kita memang boleh saja
memilih seorang wakil Bengcu yang akan mengurus semua
masalah."

Ku-lo Hwesio adalah ketua pengurus perserikatan generasi


lalu, setelah ia mengusulkan demikian, semua menyatakan
persetujuannya, sedang mengenai siapa yang akan dipilih,
tidak ada yang mengajukan usul.

Kembali Ku-lo Hwesio berkata, "Orang yang dipilih menjadi


wakil Bengcu paling baik bila seorang yang mengerti
berbagai masalah dalam Bu-lim, daripada kita harus
membuang waktu untuk mengajar padanya mengurusi
soal-soal itu, itulah sebabnya Lolap usulkan paling baik jika
Pendekar Cacat 48

1 Iiantit saja yang menduduki jabatan itu, entah


bagaimanakah pendapat saudara sekalian?"

Semua jago segera menyatakan persetujuannya mendengar


perkataan itu.

Buru-buru Ho Put-ciang menampik, katanya, "Ku-lo Supek,


Sutit kurang berpengalaman, kurang cocok memikul
tanggung jawab yang berat ini."

"Ho-tayhiap," Ui-hok Totiang dari Bu-tong-pay berkata,


"Kau merupakan Tongcu yang mengurusi masalah luar dan
dalam Bu-lim dewasa ini, setelah Oh-bengcu berpulang ke
alam baka dan Bengcu baru belum terpilih, rasanya kecuali
Ho-tayhiap yang cocok untuk jabatan ini, sulit buat kita
mencari pengganti lainnya, buat apa Ho-tayhiap meski
menampik?"

"Dunia persilatan dewasa ini sedang terancam oleh suatu


badai pembunuhan yang mengerikan," ujar Ho Put-ciang
dengan suara dalam, "aku kuatir...."

Ku-lo Hwesio tidak memberi kesempatan padanya


melanjutkan perkataan itu, segera ia menukas, "Sudah dua
puluh tahun Ho-hiantit mengikuti Oh-bengcu almarhum,
bicara soal ilmu silat, kau telah mendapat seluruh warisan
ilmu silat Oh Ciong-hu, selain itu kau jujur dan berbudi
luhur, cocok untuk jabatan pemimpin dunia persilatan. Kau
pun tak usah menampik lagi, bersiap-siaplah untuk
menerima jabatan itu."
Pendekar Cacat 49

Sebagai seorang yang berpengalaman, sudah tentu Ho Put-


ciang dapat menangkap maksud yang lebih mendalam di
balik perkataan Ku-lo Hwesio itu, terpaksa dia pun
mengiakan.

"Atas kepercayaan serta kasih sayang Cianpwe sekalian,


aku orang she Ho mengucapkan banyak terima kasih, tapi
selanjutnya aku masih membutuhkan banyak petunjuk
serta nasehat dari para Loheng."

Bong Thian-gak bersyukur dalam hati mendengar Toa-


suhengnya terpilih sebagai wakil Bengcu, ia cukup tahu
kebijaksanaan dan kejujuran Toa-suhengnya, terutama soal
ketenangan dan ketegasan menghadapi persoalan, ia
memang berbakat menjadi seorang pemimpin dunia
persilatan.

Bicara soal ilmu silat, kepandaiannya pun tidak di bawah


kemampuan Ciangbunjin partai mana pun, meski di hari-
hari biasa Toa-suhengnya memang jarang bertanding
melawan orang lain, namun menurut apa yang
diketahuinya, tenaga dalam gurunya belum tentu lebih
tinggi daripada kemampuan Toa-suhengnya ini.

Oleh sebab itu Bong Thian-gak amat bersyukur karena


dunia persilatan telah memperoleh seorang pemimpin yang
jujur, bijaksana dan berwibawa.

Tiba-tiba Ku-lo Hwesio bangkit seraya berkata, "Lolap rasa


perundingan kita malam ini cukup sampai di sini saja, besok
baru akan kuperiksa lagi jenazah Oh-bengcu."
Pendekar Cacat 50

"Yu-sute!" dengan cepat Ho Put-ciang ikut beranjak


bangun, "cepat siapkan tempat penginapan buat Ku-lo
Supek serta Ko-cuangsu. Malam ini telah merepotkan para
pendekar sekalian."

Sesudah hampir sebulan lamanya kawanan jago silat itu


berdiam dalam gedung Bengcu, mereka kembali ke kamar
masing-masing untuk beristirahat.

Toan-cong-hong-liu Yu Heng-sui juga berangkat lebih dulu


untuk mempersiapkan tempat pemondokan bagi Ku-lo
Hwesio dan Bong Thian-gak.

Dengan demikian dalam ruang pertemuan tinggal Ku-lo


Sinceng, Ho Put-ciang, Bong Thian-gak dan Oh Cian-giok
berempat.

Menanti semua orang berlalu, Ku-lo Hwesio baru berkata


sambil menghela napas panjang, "Ho-hiantit, pihak musuh
telah menyelundup ke dalam gedung Bu-lim Bengcu,
apakah kau belum merasakan hal itu?"

Diam-diam Bong Thian-gak dan Oh Cian-giok merasa


terperanjat, mata mereka serentak dialihkan ke wajah
pendeta agung itu.

Dengan sedih Ho Put-ciang manggut-manggut.

"Ya, Sutit memang sudah merasa pihak lawan telah


menyelundup ke dalam gedung ini, tapi Sutit tak mampu
menyelidik siapa gerangan mereka."
Pendekar Cacat 51

"Untuk sementara waktu, berita ini lebih baik kita simpan


dulu rapat-rapat, jangan sampai diketahui anggota
pengurus lain," ujar Ku-lo Hwesio dengan sinar mata
berkilat. "Siapa tahu mata-mata yang dikirim pihak lawan
justru berada di antara kawanan pendekar itu."

"Entah bagaimana rencana Ku-lo Supek menyelidiki mata-


mata ini?" tanya Ho Put-ciang kemudian.

Ku-lo Hwesio termenung beberapa saat, mendadak dia


berpaling ke arah Bong Thian-gak dan berkata, "Ko-sicu,
Lolap mempunyai suatu permintaan, entah Sicu bersedia
mengabulkan atau tidak?"

"Aku merasa berhutang budi pada Oh-bengcu yang telah


tiada, sekali pun harus terjun ke lautan api pun aku
bersedia."

Ku-lo Hwesio manggut-manggut, "Lolap ingin memohon


kepada Sicu agar secara diam-diam melindungi Kongsun
Phu-ki selama tujuh hari ini, mengawasi pula gerak-
geriknya, entah tugas ini dapat kau laksanakan atau tidak?"

"Aku siap melaksanakan tugas ini!" sahut Bong Thian-gak


dengan cepat.

Setelah menyaksikan Ku-lo Hwesio begitu mempercayai


Bong Thian-gak, Ho Put-ciang dan Oh Cian-giok merasa lega
juga, cuma mereka berdua kelewat menghormati Ku-lo
Sinceng, sehingga tidak ada yang berani memberi komentar
apa-apa.
Pendekar Cacat 52

Kembali Ku-lo Hwesio berkata, "Kecuali Ko-sicu yang


bertugas mengawasi gerak-gerik Kongsun Phu-ki secara
diam-diam, Ho-hiantit, Yu-hiantit, serta Oh-titli juga harus
meningkatkan kewaspadaan mengawasi gerak-gerik para
pendekar secara diam-diam, terutama para pengawal
dalam gedung. Jika dugaan Lolap tidak salah, di antara para
pendekar sudah pasti terdapat mata-mata, kemudian oleh
mata-mata ini berita itu disampaikan kepada musuh yang
bertugas sebagai pengawal dalam gedung."

Terhadap ketelitian dan keseksamaan Ku-lo Hwesio


berpikir, Ho Put-ciang, Bong Thian-gak, serta Oh Cian-giok
merasa kagum sekali.

Tiba-tiba Bong Thian-gak bertanya, "Ku-lo Taysu, aku masih


ada satu persoalan yang kurang jelas, mohon petunjuk."

"Soal apa, Ko-sicu? Katakan terus terang."

"Tadi Taysu menyinggung ilmu Jian-li-hui-im, masa di Bu-


lim dewasa ini ada orang yang mampu melatih ilmu
Khikang tingkat tinggi itu hingga mencapai tingkatan
sempurna, sehingga dia sanggup mengirim suara ke telinga
orang dari jarak ratusan kaki?"

Agak terkejut juga Ku-lo Sinceng mendapat pertanyaan dari


anak muda itu, pikirnya, "Tampaknya anak muda ini benar-
benar memiliki ilmu silat yang luar biasa, kalau tidak,
darimana dia bisa mengetahui rahasia ilmu Jian-li-hui-im?"
Pendekar Cacat 53

Berpikir sampai di situ, ia lantas menjawab sambil


tersenyum, "Pengetahuan Ko-sicu amat luas, tentunya kau
tahu bukan tiada manusia di dunia ini yang sanggup melatih
kepandaian sakti itu seperti apa yang didongengkan."

Mendengar ucapan itu, seperti memahami sesuatu, Bong


Thian-gak berkata, "Jadi Taysu sudah tahu yang dikirim
lewat Jian-li-hui-im itu sesungguhnya berasal dari dalam
ruang pertemuan?"

Ku-lo Hwesio tersenyum.

"Benar, pada saat itu juga Lolap sudah tahu! Tapi waktu itu,
Lolap juga tak bisa menemukan suara itu berasal dari siapa.
Agar mata-mata yang menyelundup masuk tidak
menyadari, sengaja aku menggunakan cerita Jian-li-hui-im
untuk mengaburkan suasana."

Ho Put-ciang dan Oh Cian-giok jadi bertambah bingung


mendengar tanya jawab itu.

Oh Cian-giok berkata, "Ku-lo Supek, sebenarnya ilmu


Khikang macam apa Jian-li-hui-im itu?"

Ku-lo Hwesio tertawa, "Jian-li-hui-im adalah sejenis ilmu


Coan-im-ji-im atau Gi-hi-coan-im, hanya bedanya ilmu
Coan-im-ji-im dan Gi-hi-coan-im merupakan pancaran hawa
Khikang yang memaksa nada suara seseorang berubah
menjadi getaran gelombang yang bisa dikirim ke tempat
tujuan dalam jarak puluhan kaki saja, kecuali orang yang
bersangkutan, yang lain tidak dapat mendengar suara itu."
Pendekar Cacat 54

"Sedang ilmu Jian-li-hui-im justru merupakan kebalikannya,


pancaran gelombang suaranya tidak mengelompok ke satu
tujuan saja, melainkan memancar kemana-mana dengan
lebih mengutamakan getaran baliknya atau gaung suara
pantulannya."

"Seperti misalnya orang yang mengucapkan kata-kata


makian tadi, sesungguhnya musuh yang memancarkan ilmu
itu berada dalam ruang pertemuan juga, tapi berhubung
suara itu dipancarkan dengan ilmu Jian-li-hui-im, akibatnya
suara tadi menyebar dan memantul kembali setelah
membentur langit-langit ruangan."

Oh Cian-giok hanya bisa membelalakkan mata mendengar


penjelasan itu, ia benar-benar merasa kaget bercampur
keheranan.

Mendadak sambil berpaling ke arah Bong Thian-gak, ia


berkata, "Mengapa kau pun mengetahui rahasia itu?"

Pertanyaan ini diucapkan dengan nada polos dan kekanak-


kanakan, membuat orang tidak bisa menampik pertanyaan
itu.

Bong Thian-gak merasa sangat geli, sahutnya, "Sebab aku


sendiri pun memahami rahasia ilmu Jian-li-hui-im itu."

"Jadi kau ... kau juga bisa ...."


Pendekar Cacat 55

Bong Thian-gak seperti memahami apa yang dimaksudkan,


dengan wajah bersungguh-sungguh katanya, "Tak usah
kuatir nona Oh, aku adalah orang sendiri."

"Ai, kalau memang begitu, apa sebabnya kau merahasiakan


asal-usul perguruanmu?" kata Oh Cian-giok sambil
menghela napas sedih.

"Ai, dalam hal ini aku harus minta maaf kepada kalian,
sebab aku benar-benar punya kesulitan yang membuatku
tak dapat menjelaskan asal-usul perguruanku."

Ho Put-ciang kuatir desakan Oh Cian-giok akan


menyinggung perasaan Bong Thian-gak, buru-buru
teriaknya, "Sumoay, kau jangan memaksa orang
mengutarakan persoalan yang jadi beban pikirannya,
mungkin Ko-cuangsu benar-benar memiliki kesulitan yang
tidak bisa diutarakan, padahal soal asal-usul bukan soal
besar, asal saja hatinya bersih dan berpihak pada kita, dia
tetap merupakan sahabat kita."

Meskipun Oh Cian-giok tidak bertanya lagi, namun dalam


hati berpikir juga, "Kecuali kau tak menggunakan jurus
seranganmu, kalau tidak, suatu saat aku pasti dapat
menduga asal-usul perguruanmu."

Sementara itu Ho Put-ciang telah berkata kepada Ku-lo


Hwesio, "Waktu sudah larut malam, Supek, Ko-cuangsu,
silakan beristirahat."
Pendekar Cacat 56

Selesai berkata Ho Put-ciang lantas membawa kedua orang


tamunya meninggalkan gedung pertemuan.

Gedung Bu-lim Bengcu memang besar, dengan bangunan


yang berlapis-lapis, di situ terdapat beratus-ratus buah
kamar yang berderet-deret, Ku-lo Hwesio dan Bong Thian-
gak mendapat sebuah kamar yang terletak di dekat gedung
besar.

Aneka warna bunga tumbuh di seputar halaman, di situ


terlihat ada gunung-gunungan, air sungai, jembatan kayu,
gardu serta dekorasi lain yang menawan hati.

Di sisi sebelah timur dan barat menjulang bangunan


berloteng, sedang di seputar loteng itu berderet puluhan
halaman kecil.

Rupanya halaman besar itu merupakan gedung penerima


tamu yang khusus disiapkan untuk para jago persilatan
yang datang dari jauh, hampir sebagian besar tamu yang
hadir sekarang tinggal di sana, tapi setiap orang mendapat
kamar tersendiri dan tidak bercampur dengan yang lain.

Ku-lo Hwesio seorang diri tinggal di bangunan loteng


sebelah timur, sedang Bong Thian-gak berada di bangunan
loteng sebelah barat.

Antara loteng sebelah timur dan sebelah jbarat berjarak


puluhan kaki, mungkin Ho Put-ciang memang sengaja
mengatur demikian agar lebih mudah mengawasi gerak-
gerik para jago lainnya, maka kedua orang itu dipisahkan ke
Pendekar Cacat 57

dua loteng yang berbeda hingga wilayah pengawasan pun


mencakup ke seluruh bagian.

***

Angin dingin berhembus menggigilkan badan, saat itu


kentongan keempat sudah lewat, udara benar-benar terasa
amat dingin.

Bong Thian-gak berdiri seorang diri di tepi pagar loteng


sambil memandang ke seluruh bangunan Bu-lim Bengcu,
terkenang kejadian masa lampau, tanpa terasa dia
menghela napas panjang.

Tujuh tahun berselang, sebelum dia diusir dari perguruan,


sering dia berdiri seorang diri di loteng itu, seperti malam
ini, dia menikmati keindahan malam dari tempat
ketinggian.

Tapi kini tujuh tahun kemudian, meski dia kembali ke sana,


pemandangan masih seperti sedia kala, namun perasaan
sudah jauh berbeda, jauh lebih berat dan masgul.

Akhirnya Bong Thian-gak membalikkan tubuh, pelan-pelan


balik ke kamarnya, membaringkan diri untuk tidur, namun
bolak-balik kian-kemari, mata tak mau terpejam.
Mendekati kentongan kelima dia baru tidur

Ketika mendusin keesokan harinya, matahari sudah jauh di


angkasa.
Pendekar Cacat 58

Tiba-tiba Bong Thian-gak menyaksikan di atas ranjang


tergeletak sebuah kartu merah.

Dengan kening berkerut, pemuda itu segera bergumam,


"Semalam Toa-suheng sendiri yang mengantarku naik
loteng, seingatku di atas pembaringan tidak kuketemukan
kartu merah seperti ini."

Cepat disambarnya kartu merah itu, kemudian diperiksa.

Bong Thian-gak segera tertegun, dia coba berpaling


memeriksa sekeliling ruangan, pintu kamar masih tertutup
rapat, tapi meja dan l.mtai sudah bersih, jelas sudah ada
pelayan yang membersihkan kamar itu.

Ketika kartu merah itu dibuka, tertulis di situ tiga huruf


yang sangat besar, berbunyi: "PERINTAH MENGUSIR
TAMU".

Kemudian di bawahnya tercantum sederet tulisan yang


berbunyi:

"Diperingatkan kepada saudara agar meninggalkan gedung


Bu-lim Bengcu sebelum senja hari ini atau nyawamu tak
akan selamat sampai besok kentongan kelima".

Bong Thian-gak tidak menyangka pihak musuh mencari


gara-gara padanya, bahkan bersikap terang-terangan
semacam ini.
Pendekar Cacat 59

Dilihat dari kemunculan kartu merah itu, dapatlah


disimpulkan bukan saja pihak musuh telah menyusup ke
dalam gedung Bu-lim Bengcu, bahkan sempat berakar di
situ, kalau tidak, mustahil mereka berani bersikap
menantang seperti ini.

Lama Bong Thian-gak termenung, akhirnya dia


memutuskan untuk merahasiakan peristiwa kartu merah
itu, pemuda yang keras kepala ini ingin tahu sampai dimana
keberanian musuh menghadapinya.

Mendadak dari luar ruangan berkumandang suara langkah


kaki, buru-buru Bong Thian-gak menyembunyikan kartu
merah itu ke dalam sakunya.

Dari luar pintu segera terdengar seseorang menyapa


dengan suara lembut, "Ko-siangkong, sudah bangunkah
kau?"

Pintu kamar dibuka, muncul seorang dayang berbaju hijau


berusia iima-enam belas tahun.

Bong Thian-gak segera mengamati wajah dayang itu


dengan seksama, ia segera mengenalinya sebagai salah
seorang di antara empat bocah perempuan yang khusus
melayani kebutuhan Suhunya pada tujuh tahun lalu,
bernama Siau Kiok.

Kini ia telah tumbuh menjadi seorang gadis cantik dengan


tubuh ramping dan tinggi, berkulit putih bersih dan sangat
menawan.
Pendekar Cacat 60

Dayang berbaju hijau itu nampak agak terperanjat setelah


mengetahui Bong Thian-gak sedang mengamatinya lekat-
lekat, buru-buru dia menegur, "Siangkong, ada apa?"

"Ah, tidak apa-apa," Bong Thian-gak menggeleng. "Oya,


betul, siapa namamu?"

Dayang itu tersenyum manis, "Aku bernama Siau Kiok,


panggil saja namaku!"

"Ehm, bagus sekali, aku akan memanggilmu Siau Kiok,


kapan kau masuk kemari dan membersihkan ruangan ini?"

"Kurang lebih dua jam berselang, aku lihat Siangkong masih


tertidur nyenyak, maka tak berani kubangunkan dirimu."

Siau Kiok seperti tidak merasa takut terhadap wajah Bong


Thian-gak yang kuning penyakitan serta kakinya yang
pincang itu, justru menaruh rasa iba dan kasihan.

Bong Thian-gak termenung sesaat, lalu katanya,


"Selanjutnya kau tidak usah membersihkan kamarku sepagi
ini, sebab bagi kami yang biasa hidup malam, seringkah
baru naik ke tempat tidur menjelang pagi."

"Siangkong, aku telah menyiapkan air untukmu, silakan


membersihkan muka dan kemudian bersantap."

Bong Thian-gak manggut-manggut, "Pelayananmu sangat


teliti dan menyenangkan, entah bagaimana caraku
menyatakan rasa terima kasih kepadamu."
Pendekar Cacat 61

Mendadak Siau Kiok mengedipkan sepasang matanya yang


jeli dan memandang wajah Bong Thian-gak sekejap,
kemudian katanya, "Siangkong, sebagai seorang jagoan
berilmu tinggi, kau tidak nampak sombong, jumawa dan
takabur seperti kebanyakan jago lain, sebaliknya sikapmu
begitu merendah dan sopan, benar-benar seorang jagoan
tulen."

Bong Thian-gak tersenyum, "Darimana kau tahu ilmu


silatku sangat tinggi?"

"Ruang khusus dalam gedung Bu-lim Bengcu ini hanya


khusus disediakan untuk para jago persilatan yang berilmu
tinggi, terutama bangunan loteng di sebelah timur dan
barat, biasanya khusus disediakan bagi tamu agung."

"Wah, kalau begitu kau pun khusus disediakan untuk


melayani kebutuhan tamu agung?" goda sang pemuda
sambil tertawa.

Siau Kiok menunduk kemalu-maluan, bisiknya sambil


tertawa, "Ah, Siangkong pandai menggoda!"

"Siau Kiok, kau pandai bersilat?" tiba-tiba Bong Thian-gak


bertanya.

Siau Kiok mengangguk.

"Siocia pernah mengajarkan beberapa jurus silat


kepadaku."
Pendekar Cacat 62

"Bukankah kau melayani Oh-bengcu?"

Bicara sampai di situ, pemuda itu baru sadar kalau sudah


salah bicara.

Ternyata Siau Kiok cukup cermat, dengan cepat dia balik


bertanya, "Darimana Siangkong tahu aku adalah dayang
yang khusus melayani Loya?"

"Beberapa tahun berselang, ketika menyambangi Oh-


bengcu, aku seperti pernah melihat kau sebagai salah
seorang di antara empat bocah perempuan yang melayani
Oh-bengcu."

"Siangkong memiliki ketajaman mata yang mengagumkan,"


puji Siau Kiok setelah mengamati wajah Bong Thian-gak
beberapa saat lamanya. "Walaupun hanya bertemu sekilas,
apalagi sudah lewat beberapa tahun, ternyata kau masih
dapat mengingatnya dengan jelas, benar-benar luar biasa!"

Bong Thian-gak kembali tertawa, "Ya, aku memang


mempunyai kemampuan khusus untuk mengingat setiap
wajah yang pernah kujumpai, apalagi terhadap raut wajah
mungil, cantik dan menarik seperti kau, mana mungkin aku
bisa melupakannya?"

Diumpak seperti itu oleh Bong Thian-gak, Siau Kiok menjadi


senang setengah mati, buru-buru dia berkata, "Ah,
Siangkong memang pandai bergurau. Ketika berjumpa
dengan Siangkong tadi, aku pun seperti merasa pernah
Pendekar Cacat 63

berjumpa, namun tak bisa kuingat kembali dimanakah kita


pernah bersua!"

Setelah berhenti sejenak, dia baru berkata agak kaget, "Ah,


aku mengajak Siangkong mengobrol terus, hampir saja lupa
Siangkong belum sarapan!"

Dengan cepat dayang itu mengundurkan diri dari ruangan.


Memandang bayangan punggungnya lenyap di balik pintu,
Bong

Thian-gak kembali berpikir, "Heran, siapa sebenarnya yang


mengantar kartu merah itu untukku? Mungkinkah Siau
Kiok? Akan tetapi selain Siau Kiok, siapa lagi yang dapat
memasuki loteng ini? Ah, buat apa mesti memikirkannya,
malam ini aku memang hendak menanti kedatangan
musuh? Kecuali dia tak datang, kalau tidak ... hm, jangan
harap dia bisa lolos dari cengkeramanku!"

Dengan perhitungan yang meyakinkan, Bong Thian-gak


mulai mempersiapkan diri.

Hari itu sepanjang waktu Bong Thian-gak mengurung diri


dalam loteng itu, dia hanya mengawasi kamar tempat
tinggal Kongsun Phu-ki lewat jendelanya.

Hari itu tampaknya Kongsun Phu-ki juga seperti tak pernah


pergi keluar, sedang para jago yang tinggal di kamar lain
pun tak ada yang keluar.
Pendekar Cacat 64

Bong Thian-gak dapat menyaksikan pula Toa-suhengnya,


Ho Put-ciang dan Ji-suhengnya, Yu Heng-sui, mengunjungi
Ku-lo Hwesio di loteng sebelah timur pada tengah hari,
kemudian mereka baru berlalu menjelang sore.

Penjagaan di sekitar gedung Bu-lim Bengcu pun tampak


jauh lebih kendor, terutama di sekeliling ruangan itu, boleh
dibilang tak nampak seorang pengawal pun.

Matahari tenggelam di langit barat, senja pun menjelang


tiba, Bong Thian-gak berdiri di tepi pagar loteng sambil
memandang sinar sang surya di kejauhan, mendadak ia
teringat akan pesan yang ditulis dalam kartu merah tadi
pagi.

"Diperingatkan kepada saudara untuk meninggalkan


gedung Bu-lim Bengcu sebelum senja hari ini atau
nyawamu tak akan melewati kentongan kelima".

Tanpa terasa Bong Thian-gak mulai meningkatkan


kewaspadaan, dia berpikir, "Tak mungkin musuh
menyerangku secara terang-terangan, besar kemungkinan
mereka akan mencelakai diriku menggunakan segala tipu
muslihat licik."

Bong Thian-gak memerintahkan Siau Kiok agar


mengundurkan diri sejak tadi, bahkan berpesan kepadanya
agar balik lagi ke situ besok pagi.
Pendekar Cacat 65

Biasanya para pelayan perempuan baru boleh


meninggalkan tempat tugas masing-masing menjelang
tengah malam.

Langit semakin gelap, angin berhembus kencang, terasa


makin dingin, akhirnya malam pun tiba.

Bong Thian-gak memasang lentera, lalu turun dari loteng


dan berjalan-jalan di halaman luar, tampaknya seperti
mencari angin, padahal sedang mengawasi para jagoan.

Mendadak ia menyaksikan Kongsun Phu-ki berjalan keluar


dari kamarnya, dia mengenakan jubah berwarna putih yang
masih baru, nampaknya seperti akan keluar rumah.

Bong Thian-gak mendapat tugas mengawasi dan


melindungi keselamatan Kongsun Phu-ki, karena itu dengan
cepat ia melakukan penguntitan.

Betul juga, Kongsun Phu-ki memang keluar rumah, dia


langsung berjalan keluar dari pintu gerbang gedung Bu-lim
Bengcu.

Sudah cukup lama Bong Thian-gak tinggal di kota Kay-hong,


boleh dibilang jalanan di situ sangat dikenal olehnya, jalan
besar lorong kecil tak sebuah pun yang tak dikenal, maka
dalam penguntitan itu ia bertindak amat hati-hati.

Ia cukup tahu Kongsun Phu-ki termasyhur karena


kecerdasannya, itulah sebabnya ia harus bertindak cermat
agar jejaknya tak ketahuan.
Pendekar Cacat 66

Suasana di kota Kay-hong menjelang senja sangat ramai,


banyak orang berlalu-lalang di jalanan.

Tampaknya Kongsun Phu-ki seperti mempunyai tujuan


tertentu, langkahnya tetap dan tak pernah berhenti,
ternyata dia langsung menuju ke arah jalanan dimana
terletak tempat hiburan malam.

Dengan kening berkerut. Bong Thian-gak berpikir, "Ah,


masa tua bangka ini hendak berbuat iseng dengan
perempuan penghibur."

Ternyata jalanan itu panjangnya setengah li dan merupakan


pusat hiburan malam kota Kay-hong, di sepanjang jalanan
itu terdapat tiga puluhan rumah pelacuran. Bunyi musik,
suara tertawa bergema dari sana sini, suasana benar-benar
amat romantis.

Sejak kecil sampai dewasa belum pernah Bong Thian-gak


mengunjungi tempat hiburan semacam ini, tanpa terasa dia
menjadi ragu dan kemudian berhenti.

Saat itulah Kongsun Phu-ki telah melewati desakan orang


banyak dan hampir lenyap dari pandangan matanya.

Berada dalam keadaan demikian, terpaksa dia harus


mengeraskan hati melanjutkan pengejarannya.

Ucapan cabul, pelukan hangat membuat Bong Thian-gak


benar-benar merasa amat rikuh, tapi akhirnya dia berhasil
Pendekar Cacat 67

juga melalui rumah-rumah pelacuran kelas rendah itu dan


sampai di depan sarang pelacuran kelas menengah.

Bong Thian-gak segera berpikir kembali, "Tak nyana tua


bangka itu pandai memilih, mau bermain iseng pun
mencari yang kelas tinggi."

Belum habis ingatan itu melintas, Kongsun Phu-ki telah


berhenti di depan sebuah gedung pelacuran yang sangat
besar.

Bong Thian-gak segera bertindak cekatan, dengan cepat dia


segera menyelinap ke samping dan menyembunyikan diri di
balik kerumunan orang banyak.

Benar saja, Kongsun Phu-ki segera celingukan memeriksa


sekejap sekeliling tempat itu, kemudian baru melangkah
masuk ke dalam gedung pelacuran itu.

Di bawah sinar lentera yang berwarna-warni, Bong Thian-


gak mengenali tempat itu sebagai rumah pelacuran "Kang-
san-bi-jin-lau".

Sebagai penduduk lama kota Kay-hong, tentu saja pemuda


itu tahu bahwa rumah pelacuran Kang-san-bi-jin-lau ini
merupakan sarang pelacur terbesar di kota itu.

Semua penghuni gedung itu selain berwajah cantik jelita,


mereka pun pandai memetik harpa dan membawakan
tarian serta nyanyian, bahkan ada pula yang pandai
bersyair sehingga mutunya boleh dibilang terjamin.
Pendekar Cacat 68

Bong Thian-gak tak berani memasuki gedung itu dan


terpaksa dia menanti saja di luar, selain kuatir ketahuan
jejaknya oleh Kongsun Phu-ki, dia pun merasa tidak tertarik
dengan hiburan semacam itu.

Di tengah alunan bunyi musik yang diselingi gelak tawa


cekikikan, Bong Thian-gak merasa kehidupan semacam ini
benar-benar memuakkan dan menjemukan.

Malam semakin larut, tamu yang mengunjungi rumah


pelacuran ini pun kian lama kian bertambah sedikit.

Seorang demi seorang pencari hiburan pulang dalam


keadaan mabuk dan berjalannya pun sempoyongan!

Bong Thian-gak melototkan mata melakukan pengawasan,


namun dari sekian banyak tamu yang beranjak pulang,
hanya Kongsun Phu-ki seorang yang belum juga nampak
batang hidungnya.

Tanpa terasa pemuda itu menyumpah dalam hati, "Sialan


betul si kunyuk tua itu, benar-benar tak tahu diri, sepagi itu
dia masuk ke dalam, masa sampai sekarang belum juga
keluar? Jangan-jangan ia sudah mampus dijepit paha
perempuan."

Sambil menggerutu Bong Thian-gak menunggu lagi


beberapa jam, kini tengah malam sudah lewat.

Tapi aneh, belum nampak juga Kongsun Phu-ki muncul dari


gedung pelacuran itu.
Pendekar Cacat 69

Biasanya gedung pelacuran akan ditutup selewatnya


tengah malam, bila sesudah lewat tengah malam belum
nampak, berarti dia memutuskan untuk menginap di sana.

"Jangan-jangan kunyuk tua itu menginap di sini?" Bong


Thian-gak berpikir.

Dengan mata melotot dia mengawasi jalanan itu, tapi


suasana sudah sepi, hanya tinggal dia seorang diri yang
bersembunyi di sudut dinding sana.

Suara musik sudah reda sedari tadi, lampu pun sudah


banyak yang dipadamkan, akan tetapi bayangan tubuh
Kongsun Phu-ki belum nampak juga.

Tergerak hati Bong Thian-gak, segera pikirnya, "Aduh


celaka! langan-jangan dia sudah tahu aku sedang
menguntitnya, maka dia telah kabur sedari tadi?"

Berpikir sampai di situ Bong Thian-gak segera membalikkan


badan siap berlalu dari situ.

Namun baru beberapa langkah, dia berpikir kembali, "Tapi


siapa tahu dia memutuskan untuk menginap di sini."

Bong Thian-gak punya tugas melindungi keselamatan


Kongsun Phu-ki, bila gagal menemukan keadaan yang
sebenarnya, dia merasa tak lega.
Pendekar Cacat 70

Akhirnya diputuskan untuk melakukan pemeriksaan


seksama terhadap setiap ruangan dalam gedung pelacuran
itu.

Dengan gerakan cepat dia melompat naik ke tembok


pekarangan, lalu melayang naik ke atas atap rumah, dengan
Ginkang yang sempurna, Bong Thian-gak berkelebat
secepat sambaran petir.

Satu kamar demi satu kamar diperiksa oleh Bong Thian-gak


dengan seksama, matanya yang tajam mengamati setiap
wajah yang berada dalam kamar, namun kecuali sepasang
laki perempuan yang sedang bermesraan atau bertempur
sengit, tak nampak sesuatu yang lain.

Yang lebih aneh lagi, dari tujuh belas kamar yang


diperiksanya, dia hanya menemukan delapan pasang sejoli
yang lagi berbuat mesum, namun dari sekian banyak orang,
tak nampak Kongsun Phu-ki.

Bong Thian-gak menarik napas panjang, pikirnya, "Sekarang


tinggal gedung bertingkat itu saja yang belum kuperiksa,
jika di sana pun tak ada, sudah pasti kongsun Phu-ki telah
pergi karena mengetahui dirinya aku kuntit!"

Berpikir sampai di situ, dia segera menggerakkan tubuhnya


dan melompat ke arah bangunan loteng itu.

Setitik cahaya lentera memancar keluar dari balik loteng


itu, tanpa pikir panjang Bong Thian-gak segera melompat
Pendekar Cacat 71

naik ke atas loteng. Kemudian daun jendela dibukanya


pelan-pelan dan mengintip ke dalam ruangan.

Hampir saja Bong Thian-gak menjerit kaget, jantungnya


serasa mau melompat keluar dari rongga dada, ternyata dia
menyaksikan suatu lukisan yang sangat indah.

Bukan, bukan lukisan sungguhan, melainkan seorang yang


masih hidup, tubuh indah yang mempesona hati, tubuh
indah dalam keadaan bugil.

Dari sekian banyak pemandangan seram yang diintipnya


malam ini, tak satu pun di antara yang dapat mendebarkan
hatinya. Tapi kali ini jantungnya berdebar keras, darah
panas serasa mendidih dalam tubuhnya.

Ternyata di dalam ruangan kecil di atas loteng terdapat


sebuah lentera berwarna merah, sinar merah memancar ke
sebuah pembaringan, dimana berbaring seorang
perempuan cantik menawan, perempuan itu berbaring
dalam keadaan telanjang bulat.

Wajahnya cantik menarik bagai bidadari dari kahyangan,


rambutnya yang hitam memanjang dan terurai di antara
sepasang payudaranya yang montok, putih dan halus.
Lekuk tubuhnya menawan, pinggangnya ramping, benar-
benar perempuan bertubuh menarik.

Karena perempuan sangat cantik ini, hampir saja Bong


Thian-gak tidak percaya dengan apa yang dilihat, ia
Pendekar Cacat 72

memejamkan mata tetapi kemudian membuka matanya


kembali.

Cantik, benar-benar cantik, makin dilihat makin indah,


makin dipandang makin mendebarkan hati.

Bong Thian-gak berusaha menenangkan hati, kemudian


sambil menggeleng, pikirnya, "Tak nyana di rumah
pelacuran ini ada juga seorang perempuan yang begitu
cantik, ai ... sungguh sayang, sungguh sayang sekali...."

Entah mengapa Bong Thian-gak menghela napas panjang.

Mendadak ia menyaksikan perempuan cantik yang sedang


tidur itu membuka mata, kemudian terasa dua gulung
cahaya mata yang amat tajam menggidikkan dialihkan ke
arah matanya.

Bagaimana pun juga Bong Thian-gak adalah lelaki sejati,


ditatap seperti itu oleh seorang perempuan bugil, dia
menjadi ketakutan setengah mati, dengan jurus ikan Lehi
meletik ia berjumpalitan, lalu secepat kilat melejit pergi dan
lari terbirit-birit meninggalkan sarang pelacuran itu.

Tak selang beberapa saat kemudian, Bong Thian-gak sudah


balik ke dalam gedung Bu-lim Bengcu, namun jantungnya
masih berdebar keras, dia menyesal dirinya telah mengintip
perempuan telanjang.

Pemuda itu tidak masuk melalui pintu gerbang, melainkan


meluncur dari balik tembok pekarangan sebelah barat,
Pendekar Cacat 73

dengan ilmu meringankan tubuhnya yang sempurna, tanpa


mengusik orang lain tahu-tahu ia sudah balik ke tempat
tinggalnya.

Bong Thian-gak berdiri sejenak di tengah halaman


menenangkan hatinya yang bergolak, setelah agak tenang
baru ia berpikir, "Coba kuintip, benarkah si kunyuk tua itu
sudah kembali ke kamarnya?"

Untuk membuktikan dugaannya, secara diam-diam Bong


Thian-gak menyusup ke dalam kamar yang ditinggali
Kongsun Phu-ki, lalu mengintip ke dalam lewat daun
jendela.

Apa yang dilihat? Ternyata Kongsun Phu-ki telah berbaring


di atas ranjangnya, malah tertidur amat nyenyak.

Bong Thian-gak menyumpah dalam hati.

"Kunyuk tua, kau benar-benar sudah membuatku


menderita, aku berdiri makan angin di situ, tak tahunya kau
malah enak-enakan tidur di rumah."

Sebaliknya Kongsun Phu-ki tanpa sepengetahuan dirinya


telah membuktikan bahwa ia telah dikuntit Bong Thian-gak.
Itulah sebabnya anak muda itu benar-benar merasa
mendongkol.

Dengan perasaan murung dan masgul ia balik ke kamarnya,


tampak cahaya lampu masih menerangi kamarnya, maka
Pendekar Cacat 74

dia melompat naik, memeriksa sekejap sekeliling situ,


kemudian baru masuk ke dalam.

Setelah memadamkan lentera, Bong Thian-gak


membaringkan diri di atas ranjang, namun mata tak mau
berpejam, rasa mendongkolnya membuat dia sukar
tertidur, sampai lewat kentongan ketiga pikirannya baru
pelan-pelan menjadi tenang kembali.

Di depan matanya segera terbayang tubuh perempuan


bugil yang baru saja dijumpainya itu.

Mendadak tergerak hatinya, ia segera berpikir, "Tajam


amat sepasang mata perempuan itu!"

Kalau tadi ia tak begitu memperhatikan hal itu, tapi


sekarang setelah dibayangkan kembali, tanpa terasa Bong
Thian-gak berkerut kening, pikirnya lebih jauh, "Dia
mempunyai sepasang mata yang tajam seperti sambaran
kilat, tajam melebihi mata pedang, mustahil sorot mata
biasa setajam itu, kalau begitu, sudah pasti dia pun seorang
jago persilatan."

Kejadian itu benar-benar aneh.

Seorang perempuan cantik menarik yang berilmu tinggi


ternyata membaurkan diri di sarang pelacuran. Kendati
Bong Thian-gak telah memeras otak habis-habisan, belum
juga menemukan alasan yang tepat untuk memecahkan
teka-teki itu.
Pendekar Cacat 75

"Bagaimana pun juga aku harus mengunjungi kembali


rumah pelacuran Kang-san-bi-jin-lau itu, akan kuselidiki
peristiwa aneh ini sampai tuntas," demikian anak muda itu
mengambil keputusan dalam hati, dengan begitu
pikirannya yang bergolak pun menjadi reda kembali.

Malam semakin larut, suasana amat hening, dalam suasana


seperti inilah tiba-tiba terdengar langkah kaki yang sangat
lirih berkumandang ilari luar kamarnya.

Bong Thian-gak terkesiap, dengan cepat ia teringat kembali


akan kartu merah jambu itu!

"Bagus sekali, ternyata kau benar-benar datang!"

Tanpa berkutik Bong Thian-gak tetap berbaring di


ranjangnya.

Tapi secara diam-diam dia telah menghimpun tenaga


dalamnya mempersiapkan diri menghadapi segala
kemungkinan yang tidak diinginkan, hanya saja dia tak mau
bergerak sebelum musuh bertindak lebih dulu.

Suara langkah manusia itu berhenti tepat di depan


kamarnya.

"Mungkinkah dia membuka pintu dan bergerak masuk?"

Belum habis ingatan itu berkelebat, "Krek", suara pintu


didorong orang.
Pendekar Cacat 76

Dengan ketajaman matanya yang mengagumkan, Bong


Thian-gak dapat menyaksikan pantek kayu yang mengunci
pintu kamar itu terdorong patah oleh tenaga orang yang
dahsyat.

Menyusul seseorang berbaju hitam menerjang secepat


sambaran kilat, telapak tangannya tahu-tahu sudah diayun
ke batok kepalanya.

Sergapan itu dilancarkan dengan kecepatan bagaikan


sambaran petir, pada hakikatnya sama sekali tidak
memberi peluang bagi lawan untuk mempersiapkan diri,
banyak jago persilatan dan orang gagah yang tewas oleh
serangan kilat yang sama sekali tak terduga semacam ini.

Apalagi pihak musuh menggunakan jurus pukulan yang


paling keji, buas dan sakti, sekali pun di hadapannya berdiri
seseorang yang lelah bersiap pun, belum tentu serangan itu
dapat dibendung atau dihindari.

Agaknya Bong Thian-gak cukup memahami kelihaian jurus


serangan lawan, dia tidak mencoba berkelit ke samping,
sebaliknya dengan kelima jari tangan kirinya yang
dipentang lebar-lebar dia sambut datangnya serangan itu.

"Plak", terdengar benturan keras, penyergap mendengus


tertahan dan sempoyongan, secara beruntun tubuhnya
kena terdorong hingga mundur sejauh empat-lima langkah.

Bong Thian-gak segera memanfaatkan kesempatan itu


dengan sebaik-baiknya untuk melompat bangun dari
Pendekar Cacat 77

pembaringan, kemudian diawasinya penyergap itu dengan


sorot mata penuh kegusaran.

Ternyata pihak lawan adalah seorang berbaju hitam


bertubuh ramping, jelas seorang wanita, memakai secarik
kain hitam untuk menutupi sebagian wajahnya.

Tampaknya penyergap sama sekali tak menyangka


sergapannya bakal mengalami kegagalan, dari balik
matanya segera terpancar rasa kaget dan tertegun.

"Siapa kau?" Bong Thian-gak segera membentak. "Lebih


baik menyerah saja daripada mampus secara mengerikan!"

***
Pendekar Cacat 78

2
SI MAHA CANTIK DALAM SARANG PELACURAN

G adis penyergap itu berseru tertahan, kemudian


untuk kedua kalinya dia menerjang ke muka
dengan kecepatan luar biasa.

Kali ini dia menyerang dengan sebilah pisau belati di


tangan, serangannya buas dan nekat, membuat hati
orang bergidik.

Bong Thian-gak mendengus dingin, sepasang kakinya


sedikit membengkok, lalu sepasang tangannya seperti
cakar burung elang balas menyambar ke depan.

Jeritan kaget terdengar, tubuh si gadis penyergap itu


mengelak ke belakang bagai layang-layang putus
benang, kemudian menggelinding keluar pintu.

Bong Thian-gak tak tinggal diam, dengan lompatan lebar


dia menyusul keluar.
Pendekar Cacat 79

"Sreet", serentetan cahaya dingin menyambar.

Bong Thian-gak bertindak sigap, dia miringkan tubuhnya


sambil menyambar benda itu, tahu-tahu pisau belati tadi
sudah berpindah ke tangannya.

Gadis penyergap itu memang lihai, gerak-geriknya lincah


dan cekatan.

Di saat Bong Thian-gak merontokkan serangan pisau


belati tadi, ia segera melompat ke depan, lalu melarikan
diri turun ke bawah loteng.

Bong Thian-gak membentak gusar menyaksikan musuh


hendak kabur, tangannya cepat diayun ke depan, pisau
belati yang berhasil disambarnya tadi tahu-tahu sudah
disambitkan balik ke tubuh lawan.

Serangan balasan itu dilancarkan dengan kecepatan luar


biasa, tampak cahaya tajam berkilau, tahu-tahu gadis
penyergap itu menjerit kesakitan.

Pisau belati itu menancap telak di bahu kirinya, darah


segera berhamburan kemana-mana, setelah
sempoyongan sesaat, ia melarikan diri dari situ.

Bong Thian-gak mengejar secepat angin puyuh, tapi si


gadis penyergap sudah kabur sejauh tujuh-delapan depa.

Terkejut juga Bong Thian-gak menyaksikan pihak musuh


masih sanggup melarikan diri kendatipun tubuhnya
sudah terluka parah, kuatir musuh keburu kabur, cepat
Pendekar Cacat 80

dia melompati atap rumah dan berniat menghadang


jalan perginya dengan cepat.

Siapa tahu baru saja Bong Thian-gak melompati dua


buah rumah, gadis berbaju hitam itu sudah berbelok ke
samping dan menyusup ke dalam bangunan rendah di
sisi loteng, langsung kabur menuju ke halaman belakang.

Dengan begitu selisih kedua belah pihak menjadi


semakin lebar.

Bong Thian-gak segera menjejakkan kaki ke tanah,


seperti burung bangau raksasa dia melambung ke
angkasa dan mengejar dari belakang.

Kejar-kejaran segera berlangsung sengit, setelah melalui


tiga halaman rumah, gadis berbaju hitam itu sudah
berada tiga depa saja di hadapannya, tapi pagar
pekarangan menuju ke tempat tinggal kaum wanita
dalam Bu-lim Bengcu pun tinggal beberapa depa lagi.

Bong Thian-gak mengerti, seandainya gadis itu berhasil


kabur ke gedung sebelah dalam, pasti dia akan
menjumpai banyak kesulitan, buru-buru dia melepaskan
sebuah pukulan yang amat lihai.

Angin pukulan yang menderu-deru seperti amukan


ombak di tengah samudra, dengan cepat melesat ke
depan.

Gadis berbaju hitam itu mendengus tertahan, tubuhnya


mencelat ke udara, lalu terbanting keras ke atas tanah.
Pendekar Cacat 81

Tubuhnya terkapar lemas di atas tanah, setelah


berkelejetan beberapa kali, akhirnya sama sekali tak
berkutik lagi.

Bong Thian-gak menyusul datang dari belakang, buru-


buru dia membungkukkan badan memegang nadi
pergelangan tangan lawan, namun pemuda itu segera
tertegun, ternyata denyutan nadi lawan sudah berhenti,
musuh tewas dalam keadaan mengerikan.

Menghadapi keadaan itu, Bong Thian-gak menghela


napas sedih, serunya sambil mendepak-depakkan
kakinya berulang kali.

"Ai, dengan susah payah aku berhasil mengungkap titik


terang ini, siapa tahu ia justru sudah mampus!"

Baru saja dia bergumam, segulung angin berhembus, lalu


terdengar seorang berkata, "Omitohud, ilmu pukulan Ko-
sicu benar-benar kuat, tajam dan berdaya kemampuan
menghancurkan bebatuan cadas, kini isi perut musuh
sudah hancur, nadinya sudah putus, mana mungkin
hidup lebih jauh?"

Bong Thian-gak berpaling ke tengah-tengah kegelapan


malam, tampak Ku-lo Hwesio dari Siau-lim-si sudah
berdiri tegak di situ.

Menyusul kemudian bayangan orang berkelebat


berulang kali, secara beruntun jago-jago lainnya
bermunculan pula di sana.
Pendekar Cacat 82

Yu Heng-sui dan Ho Put-ciang juga hampir bersamaan


waktunya muncul di tempat kejadian.

Memperhatikan jenazah yang membujur di sana, Ho Put-


ciang berkata dengan wajah serius, "Ji-sute, coba kau
lepaskan kain kerudung hitamnya!"

Sementara itu paras muka para jago pun berubah


menjadi amat serius, berpuluh pasang mata bersama-
sama dialihkan ke wajah jenazah itu.

Pelan-pelan Yu Heng-sui merobek kain kerudung


mukanya, dengan cepat muncul seraut wajah yang
mengerikan, dari tujuh lubang indranya darah kental
masih mengucur hingga muka jenazah itu penuh
berlepotan darah.

Tapi bagi Yu Heng-sui maupun Ho Put-ciang, raut wajah


itu tak asing lagi bagi mereka, mereka cukup tahu siapa
gerangan perempuan penyergap itu.

Kontan saja paras muka kedua orang itu berubah hebat,


jelas perempuan itu pun anggota gedung Bu-lim Bengcu.

Bong Thian-gak tidak kenal perempuan itu, mungkin


orang itu baru masuk ke gedung Bu-lim Bengcu setelah
ia meninggalkan tempat itu, kalau dilihat dari raut
wajahnya, gadis itu kira-kira baru berusia dua puluhan
tahun, mungkin dayang atau pelayan.

Cepat Ho Put-ciang memerintahkan kepada adik


seperguruannya, "Yu-sute, cepat gotong pergi jenazah ini
Pendekar Cacat 83

dan bersihkan lantai dari noda darah, jangan


mengganggu ketenangan tidur orang lain."

Kemudian sambil menjura kepada para jago, orang she


Ho itu berkata lebih jauh, "Toa-heng sekalian, asal-usul
pembunuh itu baru akan kuumumkan besok pagi,
bagaimana kalau sekarang dipersilakan kembali ke
kamar masing-masing?"

Berhubung para pendekar tidak mengenali siapakah


perempuan yang tewas itu, tentu saja tak seorang pun di
antaranya yang bersuara, ditinjau dari paras muka Ho
Put-ciang, dapat diduga orang itu adalah salah seorang
anggota gedung Bu-lim Bengcu.

Waktu itu malam masih kelam, terpaksa semua orang


balik ke kamar masing-masing untuk beristirahat.

Menanti semua jago telah berlalu, Bong Thian-gak baru


berkata lertahan dalam hati, dia seperti menemukan
sesuatu yang tidak beres.

Ternyata di antara para jago yang bermunculan, ia tidak


nampak kemunculan Kongsun Phu-ki si kunyuk tua itu.

Ho Put-ciang memandang sekejap ke arah Bong Thian-


gak, lalu ujarnya sambil tertawa getir, "Harap Ko-
cuangsu sudi memaafkan, ternyata pihak musuh benar-
benar telah menyusup ke setiap bagian gedung Bu-lim
Bengcu ini, perempuan tadi adalah salah seorang dayang
Subo kami."
Pendekar Cacat 84

Mendengar nama 'Subo' disinggung, hati Bong Thian-gak


bergetar keras, bagaikan dihantam martil berat, sekujur
tubuhnya gemetar keras.

"Omitohud!" Ku-lo Hwesio berkata, "Ho-hiantit mungkin


masih ada urusan lain yang harus diselesaikan, untuk
sementara waktu Lolap kembali dulu."

Selesai berkata, pendeta itu segera berlalu lebih dulu.

Bong Thian-gak tahu Toa-suhengnya bakal menjumpai


banyak kesulitan dalam melakukan penyelidikan, agar
tidak menyusahkannya, maka dia pun segera mohon diri
pula.

Kembali ke kamar, ia tidur di pembaringan sambil


membayangkan peristiwa yang baru saja lewat, diam-
diam ia merasa menyesal karena turun tangan kelewat
berat.

Setelah menghela napas panjang, Bong Thian-gak


bergumam,

"Konon pembunuh itu adalah salah seorang dayang


Subo, mungkinkah Subo masih seperti tujuh tahun
berselang, hatinya belum puas sebelum pembunuh yang
dikirimnya berhasil membunuh diriku?"

Saat itulah dalam benak Bong Thian-gak melintas


peristiwa yang berlangsung tujuh tahun lalu, peristiwa
tragis yang sangat memalukan.
Pendekar Cacat 85

Peristiwa itu terjadi pada suatu malam di musim panas,


waktu itu dia bersama Sam-suhengnya Siau Cu-beng
sedang dalam perjalanan pulang setelah menjemput
Subonya di kota Ci Kang.

Malam itu berhubung mereka tersesat di atas bukit


hingga kemalaman, maka terpaksa harus bermalam di
tengah gunung.

Udara pada malam itu panas sekali, karena tak tahan,


maka di tengah malam buta secara diam-diam dia pergi
ke sungai untuk menyegarkan badan, tetapi ketika
selesai mandi dan kembali ke tempat semula, dia tidak
menemukan Subo dan Sam-suhengnya.

Maka dengan gelisah, ia melakukan pencarian di


sekeliling tempat itu dan akhirnya di dalam sebuah
hutan kecil, ia saksikan suatu adegan yang
menyeramkan, tapi juga amat memalukan.

Di atas tanah berumput di bawah sinar rembulan,


tampak sepasang laki perempuan sedang saling
berpelukan dalam keadaan telanjang bulat, waktu itu
mereka sedang bersenang-senang menikmati surga
dunia, berbuai mesum seperti apa yang sering dilakukan
antara suami istri.

Yang memegang peranan sebagai sang suami ternyata


Sam-suhengnya Siau Cu-beng, sedangkan yang
memegang peranan istri tak lain adalah ibu gurunya
sendiri.
Pendekar Cacat 86

Kontan saja hawa amarah menggelora di dalam dadanya,


dengan geram ia keluar dari tempat persembunyian dan
mengagetkan sepasang sejoli yang sedang berbuat
mesum.

Beberapa saat kemudian, Sam-suhengnya Siau Cu-beng


telah selesai berpakaian dan pelan-pelan berjalan keluar
dari hutan dengan senyum menyeringai menghias
wajahnya, lalu disusul ibu gurunya.

Dilihat dari paras muka Siau Cu-beng dan ibu gurunya,


dapat diketahui mereka hendak membunuh orang untuk
melenyapkan saksi.

Kemarahan dan kesedihan yang melampaui batas


membuat ia menerjang Siau Cu-beng seperti binatang
buas, ia bertekad hendak melenyapkan pengkhianat itu
dari muka bumi dan membersihkan nama gurunya yang
ternoda.

Pertempuran sengit tak bisa dihindari lagi, seorang diri


dia harus bertarung menghadapi kerubutan Siau Cu-
beng dan ibu gurunya.

Entah siapa yang membantunya, dalam pertarungan itu


makin bertarung ia nampak makin gagah ... akhirnya
dalam suatu kesempatan dia berhasil menghajar Siau
Cu-beng hingga terjatuh ke dalam jurang.

Jerit kaget Siau Cu-beng yang terjatuh ke dalam jurang


telah mengagetkan ibu gurunya, ia segera berhenti
menyerang, kemudian sambil menutup muka menangis
Pendekar Cacat 87

tersedu-sedu, seperti merasa menyesal dengan


perbuatannya itu.

Diiringi isak-tangis yang memedihkan hati, ibu gurunya


lantas menceritakan bagaimana dia dirayu oleh Siau Cu-
beng untuk berbuat iseng, bagaimana dirangsang....

Dalam kesedihan itu, ia hanya memohon kepada dirinya


agar tidak menceritakan peristiwa yang memalukan itu
kepada gurunya.

Mendengar ucapan ibu gurunya, gejolak emosinya


segera menjadi reda, kesadarannya pun pulih, ia sadar
bila gurunya yang berhati bajik sampai mengetahui
peristiwa tragis yang memalukan itu, sudah pasti
gurunya akan menderita tekanan batin.

Padahal gurunya merupakan seorang Bu-lim Bengcu


yang memimpin seluruh umat persilatan di dunia, ia
begitu dihormati, disanjung oleh setiap orang,
bagaimana jadinya bila berita yang memalukan itu
sampai bocor ke dunia persilatan?

Sudah pasti nama baik dan wibawa gurunya akan


hancur. Bila sampai terjadi hal ini, sungguh tragis
akibatnya.

Ibu gurunya ini merupakan istri ketiga, waktu itu


umurnya baru tiga puluh tujuh tahun, masih muda, bila
Suhu sampai mengetahui penyelewengannya, apakah
ibu gurunya akan dibiarkan hidup terus?
Pendekar Cacat 88

Demi menyelamatkan nama baik gurunya, demi menjaga


semangat gurunya agar tidak menderita tekanan batin,
juga demi kaselamatan ibu gurunya, maka dia lantas
mengarang suatu cerita untuk merahasiakan kejadian
yang sesungguhnya.

Siapa tahu Subonya begitu keji, ternyata dia telah


mengirim pembunuh bayaran untuk mencari jejak dan
melenyapkan jiwanya.

Berpikir sampai di situ, sepasang mata Bong Thian-gak


berkaca-kaca, ia bergumam, "Perempuan rendah yang
tak tahu malu, apakah kau tahu bahwa aku Bong Thian-
gak telah kembali ke sini? Kau kuatir aku membocorkan
perbuatan terkutukmu yang tak tahu malu itu, sehingga
segera kau kirim pembunuh-pembunuhmu untuk
melenyapkan aku dari muka bumi."

"Hm" seorang diri Bong Thian-gak mendengus berulang


kali, ia menyumpah lebih jauh, "Perempuan terkutuk,
aku benar-benar tak menyangka kau masih bisa bertebal
muka tetap tinggal di dalam gedung Bu-lim Bengcu ini,
masih punya perasaan hidup terus di dunia ini."

"Hm, kau sepantasnya mampus, suatu ketika aku Bong


Thian-gak pasti akan membunuhmu, aku takkan
membiarkan kau tetap hidup di dunia ini hanya untuk
berbuat kejahatan!"

Bicara sampai di situ, mencorong sinar buas yang


menggidikkan dari balik mata anak muda itu, ia sudah
mengambil keputusan bulat.
Pendekar Cacat 89

Mendadak satu ingatan melintas kembali dalam benak


Bong Thian-gak, "Mungkinkah Subo adalah mata-mata
yang diselundupkan musuh kemari?"

Pendapatnya itu ibarat sumber air yang ditemukan di


tengah gurun pasir, segera membuat semangatnya
berkobar kembali.

Dilihat dari perbuatan ibu gurunya yang mengkhianati


cintanya dengan berbuat mesum bersama Siau Cu-beng,
kemudian ditinjau pula dari ilmu silat pembunuh
perempuan yang muncul pada malam ini, Subonya itu
memang satu-satunya orang yang paling mencurigakan.

Setelah berhasil menemukan titik terang itu, hati Bong


Thian-gak agak tenang, tanpa terasa dia pun tertidur
dengan cepat.

"Tok, tok, tok", dari luar gedung sana berkumandang


lima kali kentongan sebagai pertanda kentongan kelima
telah tiba.

Entah lama saat sudah lewat, akhirnya Bong Thian-gak


bangun dari tidurnya oleh suara pembicaraan yang
gaduh.

Tampak Siau Kiok yang manis sudah berdiri di sisi


pembaringan, begitu melihat pemuda itu membuka
mata, dia lantas berkata, "Siangkong! Siangkong! Nona
telah datang ...."
Pendekar Cacat 90

Bong Thian-gak segera mengalihkan sorot matanya ke


arah lain, sambil berseru tertahan buru-buru dia
melompat bangun dan duduk.

Ternyata di kursi dekat dinding kamarnya telah duduk


kakak seperguruannya, Oh Cian-giok.

Bong Thian-gak melompat turun dari pembaringan dan


menuju ke arah Oh Cian-giok sambil katanya, "Nona Oh,
sejak kapan kau sampai di sini? Maaf jika aku bersikap
kurang sopan."

Oh Cian-giok masih mengenakan pakaian putih tanda


berkabung, hanya wajahnya nampak amat murung,
selapis hawa dingin menghiasi raut wajahnya.

"Ko-siangkong," ujarnya, "maaf jika aku mengganggu


tidurmu, tapi berhubung dalam gedung telah terjadi
suatu peristiwa besar, terpaksa Toa-suheng mengutusku
kemari mengundang kedatangan Ko-siangkong."

"Apa yang terjadi?" seru Bong Thian-gak dengan


terperanjat. "Kongsun-tayhiap ditemukan tewas!"

Berita buruk ini segera membuat Bong Thian-gak amat


terkesiap, serunya tertahan, "Apa? Kau mengatakan
Kongsun Phu-ki telah tewas?" Pelan-pelan Oh Cian-giok
mengangguk, "Benar ia mati terbunuh."

"Bagaimana tewasnya?"
Pendekar Cacat 91

"Ketika datang memanggilnya pagi tadi, ia ditemukan


mati kaku di atas pembaringan, anggota badannya telah
kaku dan mendingin, jelas sudah putus nyawa cukup
lama, tapi sebab kematiannya belum jelas. Kini Ku-lo
Hwesio dan sebagian jago sedang menantikan
kedatangan Ko-siangkong di ruangan bawah sana."

Bong Thian-gak tidak banyak bicara lagi, cepat ia


membetulkan pakaiannya, lalu mengikuti Oh Cian-giok
menuju ke kamar Kongsun Phu-ki.

Waktu itu para jago sudah berkumpul dalam ruang tamu


yang kecil, kebetulan Ho Put-ciang dan Yu Heng-sui
sedang berjalan keluar dari dalam kamar, para jago
segera bertanya, "Apa yang menyebabkan kematian
Kongsun Phu-ki?"

Baik Ho Put-ciang maupun Yu Heng-sui tidak menjawab,


mereka hanya menggeleng kepala berulang kali.

Menyaksikan Bong Thian-gak muncul, Ho Put-ciang


berkata hambar, "Ko-cuangsu silakan masuk, Ku-lo
Sinceng sedang menanti kedatanganmu di dalam sana."

Bong Thian-gak mengiakan dan buru-buru ia masuk ke


dalam kamar.

Di atas pembaringan kayu dalam ruangan, tergeletak


kaku seorang kakek kurus kering, dialah Kongsun Phu-
ki, salah satu di antara Ciong-lam-sam-lo.
Pendekar Cacat 92

Di sisi pembaringan duduk Ku-lo Hwesio, dia sedang


meneliti setiap bagian tubuh Kongsun Phu-ki.

Bong Thian-gak ikut mengamati jenazah itu, tampak


paras muka Kongsun Phu-ki pucat-pias, kulit wajahnya
cekung ke dalam sehingga boleh dibilang tinggal kulit
pembungkus tulang belaka.

Keadaannya saat ini mirip seorang yang tewas setelah


puluhan tahun menderita penyakit parah.

Ku-lo Hwesio mendongakkan kepala dan memandang


sekejap ke arah Bong Thian-gak, mendadak ia bangkit
dan berkata, "Di atas tubuhnya tidak ditemukan luka apa
pun, juga tidak ditemukan gejala keracunan, kalau begitu
...."

Mendadak ia berhenti sejenak sambil beranjak keluar


dari kamar, kemudian baru melanjutkan sambil
menghela napas, "Itu berarti dia tewas akibat sari darah
dan tulang sumsumnya mengering."

Dugaan itu segera disambut para jago dengan wajah


berubah hebat, hampir bersamaan mereka berseru, "Sari
darah dan tulang sumsum mengering? Mengapa sari
darah dan tulang sumsum bisa mengering dalam
semalaman saja?"
Pendekar Cacat 93

Dalam ruangan itu hanya Bong Thian-gak seorang yang


secara lamat-lamat bisa menduga apa gerangan yang
terjadi, tapi karena dilihatnya Oh Cian-giok hadir pula di
situ, maka ia merasa agak sungkan untuk bertanya lebih
jauh kepada Ku-lo Hwesio.

Mendadak Ku-lo Hwesio berkata lagi dengan wajah amat


serius, "Ko-sicu, Lolap ingin bicara empat mata
denganmu sebentar, datanglah ke loteng sebelah timur
bersama Ho-hiantit dan Yu-hiantit...."

"Baik, aku akan segera ke sana!" jawab Bong Thian-gak


dengan suara lantang.

Selesai berkata, dia mengikut di belakang Ku-lo Sinceng


keluar ruangan itu. Tak selang beberapa saat kemudian,
mereka sudah tiba di ruang tamu loteng sebelah timur.
Ternyata Ho Put-ciang dan Yu Heng¬sui telah berada
pula di sana.

Setelah semua orang mengambil tempat duduk, Ku-lo


Hwesio barulah berkata, "Kongsun-sicu tewas akibat sari
darah dan tulang sumsumnya mengering atau dengan
kata lain dia mati akibat air maninya telah kering."

"Jadi dia benar-benar tewas akibat air maninya telah


mengering?"
Pendekar Cacat 94

Ku-lo Hwesio manggut-manggut, "Ya, Kongsun-sicu


memang tewas di tangan seorang perempuan."

"Ah, kematiannya benar-benar di luar dugaan."

"Ko-sicu, semalam kau yang menguntit di belakang


Kongsun-sicu, tentunya kau tahu bukan kemana dia
telah pergi?"

Diam-diam Bong Thian-gak terkejut juga, dia tidak


menyangka perbuatannya menguntit di belakang
Kongsun Phu-ki tak lolos dari pengawasan Ku-lo Hwesio.
Dengan cepat lantas dia menjawab, "Kongsun-tayhiap
telah berkunjung ke rumah pelacuran Kang-san-bi-jin-
lau, tapi berhubung aku tidak masuk ke dalam, maka
tidak kuketahui apa yang dilakukannya!"

Maka Bong Thian-gak menceritakan secara ringkas


bagaimana dia menguntit Kongsun Phu-ki semalam,
hanya soal mengintip seorang perempuan cantik dalam
keadaan telanjang saja yang sengaja dia rahasiakan.

Seusai mendengar penuturan itu, Yu Heng-sui berkata


sambil menghela napas, "Ah, sudah satu bulan lebih
Kongsun-tayhiap berdiam di sini, tiap hari dia tentu
keluar satu kali, aku pun pernah menguntitnya secara
diam-diam, dia memang pergi ke sarang pelacuran untuk
melepaskan napsunya."
Pendekar Cacat 95

"Lolap sendiri pun pernah mendengar Kongsun-sicu tak


mampu mengendalikan birahi, tapi dia cukup berjiwa
jujur dan lurus, selama ini belum pernah mengganggu
anak gadis atau istri orang. Namun kalau dibilang ia
mengalami musibah akibat peristiwa ini, rasanya juga
tak mungkin."

Bong Thian-gak pun merasakan banyak hal yang


mencurigakan dalam kejadian itu, dia berkata, "Kalau
dibilang Kongsun Phu-ki mati akibat dia kehabisan air
mani setelah berbuat iseng dengan pelacur, mengapa
justru tewas dalam gedung Bu-lim Bengcu, apalagi dia
seorang jago yang memiliki tenaga dalam amat
sempurna, tak mungkin dia berbuat iseng hingga
kelewat batas, sampai air maninya mengering dan
berakibat kematian."

"Kalau bukan suatu musibah, apa. mungkin suatu


pembunuhan?" kata Ho Put-ciang tiba-tiba.

"Menjelang tengah malam Lolap menyaksikan Kongsun-


sicu pulang seorang diri, menyusul kemudian Ko-sicu
baru pulang setengah jam kemudian, waktu itu Ko-sicu
pernah menjenguk pula ke kamar Kongsun-sicu."

Bong Thian-gak semakin terkejut mendengar ucapan itu,


ia tidak menyangka semua gerak-geriknya tak lepas dari
pengawasan Ku-lo Hwesio, maka jawabnya dengan
Pendekar Cacat 96

lantang, "Apa yang dikatakan Taysu memang tepat


sekali, oleh karena aku kuatir Kongsun-tayhiap belum
sampai di rumah, sengaja aku datang ke kamarnya untuk
mengintip dan membuktikan apakah dia telah kembali
ke rumah atau belum!"

"Biasanya orang yang mati akibat kehabisan sumsum


tulangnya, dia akan mati seketika setelah selesai
melakukan senggama," Ku-lo Hwesio menerangkan.
"Mustahil berjalan pulang lebih dulu dari jauh sebelum
akhirnya tewas di rumah. Ah! Mungkin Kongsun-sicu
tidur semalaman tak pernah mendusin untuk
selamanya!"

"Supek, lantas berada dalam keadaan apakah Kongsun-


tayhiap menemui ajalnya?" tanya Yu Heng-sui kemudian.

"Dua ratus tahun berselang, di Bu-lim pernah beredar


sejilid kitab Tay-im-keng yang mencantumkan sejenis
ilmu yang disebut Soh-li-sut (kepandaian perempuan
suci), tegasnya kepandaian itu merupakan sejenis ilmu
penghisap hawa Yang dari tubuh lelaki untuk memupuk
kekuatan Im tubuh perempuan yang digauli. Ilmu sesat
semacam itu pernah muncul di Bu-lim sebelum ini, tapi
bila dibicarakan, gejalanya persis seperti gejala kematian
Kongsun-sicu sekarang, itulah sebabnya Lolap jadi
teringat kitab aneh Tay-im-keng itu."
Pendekar Cacat 97

Mencorong sinar tajam dari balik mata Bong Thian-gak


sesudah mendengar penjelasan itu, katanya cepat, "Jadi
maksud Taysu, kematian Kongsun-sicu disebabkan oleh
perbuatan seorang perempuan yang mengerti ilmu Soh-
li-sut, dan telah menghisap hawa Yangnya hingga
mengering?"

"Ya, sebab kematian Kongsun-sicu memang demikian


adanya."

Bong Thian-gak menjerit kaget, "Ah, mungkinkah dalam


rumah pelacuran Kang-san-bi-jin-lau terdapat
perempuan semacam ini?"

"Kalau dibilang dalam rumah pelacuran bisa muncul


perempuan seperti ini, sesungguhnya sesuatu yang
mustahil dan sukar untuk dipercaya, sekali pun ada, tak
mungkin dia mencelakai orang tanpa sebab, ah ... itulah
sebabnya Lolap sekali lagi ingin bertanya kepada Ko-
sicu, kemarin malam Kongsun-sicu telah pergi kemana?"

Bong Thian-gak tertegun. "Jadi Taysu tidak percaya


dengan perkataanku?" tanyanya.

"Sejak beberapa hari berselang, musuh telah


menetapkan hari kematian untuk Kongsun-sicu,
mungkin hal ini disebabkan pihak lawan tahu Kongsun-
sicu gemar bermain perempuan, maka ia sengaja
menyiapkan seorang perempuan yang pandai ilmu Soh-
li-sut untuk merayunya di tengah jalan sehingga rencana
Pendekar Cacat 98

pembunuhan mereka tercapai, apabila dibilang di dalam


rumah pelacuran bisa terdapat perempuan macam
begini, sesungguhnya hal ini sukar untuk dipercaya."

Bong Thian-gak menghela napas panjang, "Ai, apa yang


kukatakan sebenarnya merupakan kenyataan, namun
bila Taysu sekalian tidak percaya, aku pun tidak bisa
berbuat apa-apa."

Padahal Bong Thian-gak pun terkejut bercampur


keheranan atas kematian Kongsun Phu-ki.

"Baiklah," kata Ku-lo Hwesio kemudian, "Untuk


sementara waktu Lolap tak usah membicarakan dulu
kematian Kongsun-sicu semalam."

Dilihat dari sikap Ku-lo Hwesio yang bernada memeriksa


dirinya, Bong Thian-gak segera sadar bahwa Hwesio tua
yang teliti ini pun sudah mulai menaruh curiga padanya,
siapa tahu Hwesio itu sudah lama menaruh curiga
padanya, sehingga sengaja mengajaknya turut
menghadiri rapat rahasia itu. Kemudian mengintai dan
menyelidikinya secara diam-diam.

Terdengar Ku-lo Hwesio berkata, "Pembunuh gelap yang


dibunuh Ko-sicu itu merupakan salah satu dayang
kepercayaan Oh-bengcu Hujin. Kini Lolap ingin bertanya
Pendekar Cacat 99

kepada Sicu, mengapa dayang itu mencari Sicu sebagai


sasaran pembunuhan?"

Bong Thian-gak segera mengeluarkan kartu merah dari


dalam sakunya, kemudian berkata dengan lantang,
"Silakan Taysu memeriksa kartu ini terlebih dahulu!"

Ku-lo Hwesio menerima kartu itu dan diperiksa


sebentar, kemudian diberikan kepada Ho Put-ciang,
setelah itu dia baru berkata, "Seandainya Sicu adalah
orang dari golongan kami, setelah musuh memberikan
kartu peringatan itu kepadamu, Sicu pasti akan berusaha
menawan mata-mata itu, kemudian disiksa supaya
mengaku, apa sebabnya kau malah membunuh orang itu
secara keji?"

Bong Thian-gak menghela napas panjang, "Ai, tentang


kesalahan tanganku, aku membunuh pembunuh gelap
itu, aku merasa menyesal sekali."

Tiba-tiba mencorong sinar tajam dari balik mata Ku-lo


Hwesio, dia menatap wajah Bong Thian-gak lekat-lekat,
kemudian ujarnya dengan suara dalam, "Maaf jika Lolap
menaruh prasangka kepada Sicu, harap Sicu dapat
memberikan bantahan setelah tuduhanku ini
kuucapkan."

"Katakan saja, Taysu."


Pendekar Cacat 100

"Seandainya Lolap menuduh Sicu adalah utusan lihai


musuh yang mendapat perintah untuk menyusup ke
dalam gedung Bu-lim Bengcu, entah bagaimanakah
sanggahan Sicu?"

Bong Thian-gak untuk kesekian kalinya menghela napas


panjang, "Ah, asal kuutarakan asal-usulku, sudah pasti
Taysu tak akan menaruh curiga lagi kepadaku, bila
seseorang yang tidak diketahui asal-usulnya tiba-tiba
muncul dalam gedung Bu-lim Bengcu, bagaimana pun
juga hal ini memang mencurigakan orang lain!"

"Apa yang hendak Sicu tanyakan?"

"Apa yang ingin kuketahui adalah soal kematian


Kongsun Phu-ki, benarkah dia tewas akibat kehabisan
sumsum Goan-yang?"

Tiba-tiba paras muka Ku-lo Hwesio berubah, tapi


sebentar saja sudah lenyap, pelan-pelan dia berkata,
"Ko-sicu telah menyaksikan jenazah Kongsun-sicu
dengan mata kepala sendiri, bagaimana tanggapanmu
tentang kematiannya?"

Bong Thian-gak tertegun, sahutnya pula, "Dilihat dari


gejala kematiannya, dia memang tewas akibat kehabisan
sumsum Goan-yang!"
Pendekar Cacat 101

"Kalau begitu, apa lagi yang Sicu sangsikan?"

"Ah, aku harus membuktikan dulu sebab kematian


Kongsun Phu¬-ki sebelum menyelelidiki siapa
pembunuhnya."

"Sicu, setelah sampai di sini, Lolap terpaksa mesti


berterus terang kepadamu!" kata Ku-lo Hwesio
kemudian dengan suara dalam. "Semua jago yang hadir
di sini maupun pejabat Bengcu merasa keberatan bila
ada seorang yang tak jelas identitas dan asal-usulnya
turut serta dalam persoalan persekutuan dunia
persilatan ini."

Sambil tertawa getir Bong Thian-gak manggut-manggut,


"Aku akan segera meninggalkan gedung Bu-lim Bengcu
ini, tapi jangan harap bisa mengetahui asal-usulku yang
sebenarnya!"

Tiba-tiba Yu Heng-sui tertawa dingin, "Ko-heng, jika kau


tidak mengungkap asal-usulmu, mungkin kau tak akan
dapat mengundurkan diri dari gedung Bengcu ini
dengan selamat."

Mendengar itu, Bong Thian-gak berkerut kening, lalu


ujarnya lagi dengan suara dalam, "Kalian tak mau
mengurusi masalah yang sesungguhnya, buat apa
mendesak diriku mengungkap asal-usulku?"
Pendekar Cacat 102

"Semua ini mengikuti keinginan para jago," sahut Yu


Heng-sui tertawa. "Kini mereka telah menanti dirimu di
bawah loteng sana."

Bong Thian-gak menghela napas panjang mendengar


ucapan itu, "Ai, bila kalian tak mau percaya kepadaku,
suatu ketika kalian akan menyesal."

Setelah menghela napas lagi, dia berpaling ke arah Ho


Put-ciang, lalu ujarnya lebih jauh, "Kalau kalian tak
percaya kepadaku sejak awal, mengapa kalian izinkan
diriku mencampuri urusan ini? Sekarang kalian pun
tidak memperkenankan aku pergi dari sini, sebenarnya
apa yang hendak kalian lakukan?"

"Ko-cuangsu, mengapa kau tidak mengungkap asal-


usulmu secara jujur?"

Bong Thian-gak menggeleng, "Maaf, aku tidak bisa


menjawab." "Jika kau enggan menjawab, para jago akan
menghalangimu pergi dari sini."

Kembali Bong Thian-gak tertawa, "Bila hal ini terjadi,


terpaksa aku suruh mereka saksikan kelihaian ilmu
silatku!"

Selesai berkata, pemuda itu segera beranjak turun dari


loteng itu.
Pendekar Cacat 103

Yu Heng-sui tertawa dingin, dia segera melompat


bangun sambil bersiap-siap melancarkan serangan.

Tiba-tiba Ho Put-ciang berkata dengan suara dalam, "Ji-


sute, jangan bertindak gegabah!"

Yang dikuatirkan oleh Bong Thian-gak selama ini adalah


bilamana dia mesti bertarung melawan Toa-suhengnya,
betapa lega hatinya setelah Toa-suhengnya mencegah Ji-
suhengnya turun tangan.

Selangkah demi selangkah dia turun dari anak tangga,


setelah tiba di depan pintu gerbang, tampak kawanan
jago itu benar-benar telah berdiri mengelilingi halaman
gedung, puluhan pasang mata yang tajam bersama-sama
ditujukan ke tubuhnya.

Bong Thian-gak bersikap acuh tak acuh, seakan-akan


sama sekali tidak melihat kehadiran mereka, dengan
dada dibusungkan dia langsung berjalan menuju ke
tengah halaman.

Sementara itu Ku-lo Hwesio bersama Ho Put-ciang dan


Yu Heng-sui telah turun dari loteng pula, mereka bertiga
berdiri di depan pintu gerbang dengan wajah serius.
Pendekar Cacat 104

Ketika Bong Thian-gak sudah hampir keluar pintu


halaman, tiba-tiba terdengar suara bentakan nyaring,
"Berhenti!"

Bayangan orang berkelebat, seorang lelaki kekar


bercambang hitam pekat seperti pantat kuali, dengan
perawakan tinggi besar dan berjubah biru telah
menghadang di depan Bong Thian-gak.

Bong Thian-gak segera mengenali orang ini sebagai


salah seorang dari Tiam-jong-siang-kiat yang dijuluki
Wan-pit-kim-to (golok emas berlengan monyet) Ang
Thong-lam.

"Ang-tayhiap, apakah engkau hendak memberi sesuatu


petunjuk kepadaku?" tegurnya.

Golok emas berlengan monyet Ang Thong-lam tertawa


terbahak-bahak, "Aku orang she Ang ingin mohon
petunjuk dari saudara!"

"Silakan turun tangan, Ang-tayhiap."

Sikap santai dan tenang Bong Thian-gak ini membuat si


Golok emas berlengan monyet tertegun dan berdiri
termangu-mangu di tempat.
Pendekar Cacat 105

Setelah tertawa dingin, kembali Bong Thian-gak berkata,


"Ang-tayhiap, mengapa tidak melancarkan serangan?"

Tiba-tiba saja Ang Thong-lam menganggap Bong Thian-


gak berniat mempermainkan dirinya, dia jadi naik darah
dan segera membentak nyaring, "Bagus sekali, akan
kulihat seberapa hebat kepandaian silatmu hingga
begitu sinis padaku."

Begitu selesai berkata, dia lantas mengayun tinjunya


menghantam wajah Bong Thian-gak, serangannya
dahsyat, tenaga pukulannya mematikan.

Bong Thian-gak tertawa dingin, kaki kanannya maju ke


Tiong-kiong, lalu telapak tangan kanan diayun ke muka
membabat urat nadi pergelangan tangan musuh.

Sekali orang menyerang, segera akan diketahui berisi


atau tidak, seketika itu juga paras muka para jago di
sekeliling halaman itu berubah hebat.

Ang Thong-lam merupakan adik seperguruan ketua


Tiam-jong-pay sekarang, kesempurnaan ilmu silatnya
termasuk juga kemampuan seorang ketua partai, ia
segera menyadari pukulan tangan kanannya akan
meleset.
Pendekar Cacat 106

Sambil membentak keras bagaikan harimau ganas


keluar dari sarang, secepat kilat tangan kirinya
menghantam pinggang musuh.

Serangan ini merupakan ilmu pukulan Kiong-ciang-kun


(Pukulan busur panah) yang amat termasyhur dari
Tiam-jong-pay, serangannya dilepaskan dengan
kecepatan bagaikan sambaran kilat, hebat luar biasa.

Semua jago yang menyaksikan jalannya pertandingan itu


dari samping, segera dapat merasakan pukulan Ang
Thong-lam itu sangat hebat dan membuat orang sukar
menghindarkan diri.

Sikap Bong Thian-gak cukup tenang, tampak dia


berjongkok, kemudian membentak nyaring, "Lihat
serangan!"

Suara benturan keras menggelegar di udara, badan Ang


Thong-lam berguncang keras, kemudian dengan
sempoyongan mundur sejauh liga-empat langkah, lengan
kirinya terkulai lemas, sementara wajahnya basah oleh
keringat.

Dalam bentrokan itu, para jago dapat mengikuti kejadian


itu dengan jelas, rupanya di saat yang paling kritis, Bong
Thian-gak telah mengubah babatan tangan kanannya
yang mengancam urat nadi pada lengan kanan Ang
Pendekar Cacat 107

Thong-lam itu menjadi serangan menyikut, di antara


posisi setengah berjongkok itulah dia berhasil menyikut
persendian hilang lengan sebelah kiri musuh.

Dalam bentrokan barusan, kedua belah pihak memang


belum menggunakan kepandaian yang sebenarnya, tapi
menang kalah di antara mereka sudah ditentukan.

Seorang jago lihai yang termasyhur namanya di Bu-lim


ternyata menderita kalah total di tangan seorang
pemuda tak dikenal, kejadian ini benar-benar di luar
dugaan siapa pun.

Hasil pertempuran yang mengejutkan ini kontan saja


membuat paras muka para jago berubah hebat.

Kepada Ku-lo Hwesio kata Ho Put-ciang, "Ku-lo Supek,


sodokan sikutnya benar-benar dilakukan dengan amat
jitu dan hebat, ilmu silat orang ini tidak boleh dipandang
enteng."

Ku-lo Hwesio manggut-manggut, "Betul, sodokan sikut


itu dilancarkan di antara sela-sela peralihan jurus
pertama ke jurus kedua, dari sini dapat diketahui ilmu
silat orang ini benar-benar hebat sekali."

Dalam pada itu Bong Thian-gak telah menjura kepada


semua jago setelah berhasil mengalahkan Ang Thong-
Pendekar Cacat 108

lam, katanya dengan lantang, "Ang-tayhiap, terima kasih


atas kesediaannya mengalah!"

Setelah berkata, dia lantas beranjak pergi.

"Tunggu sebentar saudara! Lohu ingin mohon petunjuk


pula," tiba-tiba seseorang berkata dengan suara parau.

Tampak seorang kakek berbaju hitam menggembol


pedang, pelan-pelan berjalan keluar dan menghadang di
depan Bong Thian-gak.

Setelah melihat jelas paras muka kakek itu, dengan


kening berkerut Bong Thian-gak berkata, "Yu-koancu,
harap kau sudi memberi jalan untukku!"

Ternyata kakek baju hitam berperawakan jangkung dan


berwajah kurus ini adalah Koancu kuil Hian-thian-koan
di bukit Khong-tong, Yu Ciang-hong adanya.

Dengan sebilah pedang Ci-thian-kiam, dia berhasil


menguasai tiga belas macam ilmu pedang Khong-tong-
pay hingga mencapai puncak kesempurnaan, menurut
berita di Bu-lim, konon Yu Ciang-hong telah berhasil
pula menguasai Yu-kiam-sut atau ilmu pedang terbang.

Hian-thian-koancu Yu Ciang-hong tersenyum.


Pendekar Cacat 109

"Ko-cuangsu, Lohu mohon petunjuk beberapa jurus


seranganmu untuk menambah pengetahuanku, apa tidak
boleh?"

Bong Thian-gak sadar, andai dia tidak memperlihatkan


kelihaian ilmu silatnya pada hari ini, mustahil dia bisa
pergi meninggalkan tempat itu dengan mudah.

Setelah berpikir sebentar, katanya dengan suara nyaring,


"Kalau memang begitu, terpaksa aku mengiringi
keinginanmu."

"Selama hidup Lohu menekuni ilmu pedang, boleh


dibilang pedang tak pernah terlepas dari tanganku,
entah senjata apakah yang hendak saudara pergunakan?
Silakan saja segera dilolos."

"Aku lebih meyakini ilmu telapak tangan, silakan Yu-


koancu melancarkan serangan!"

Yu Ciang-hong agak tertegun, kemudian ujarnya, "Kalau


begitu terpaksa Lohu bertindak lancang."

Begitu selesai berkata, Yu Ciang-hong segera mundur


setengah langkah, dengan cepat tangan kanannya
menyambar ke belakang untuk melolos pedangnya.
Pendekar Cacat 110

"Sret", cahaya tajam segera berkilauan memenuhi


angkasa. Begitu Ci-thian-kiam dilolos, tanpa banyak
bicara lagi ia melepas sebuah tusukan kilat ke arah dada
Bong Thian-gak .

Yu Ciang-hong adalah jago pedang kenamaan di Bu-lim,


cukup dilihat dari caranya mencabut pedang bisa
diketahui sampai dimana taraf kesempurnaan orang ini.

Sudah lama para jago persilatan tahu bahwa Yu Ciang-


hong termasyhur karena ilmu pedangnya yang lihai,
kendatipun demikian jarang ada orang menyaksikan dia
memainkan ilmu pedangnya di depan umum, oleh sebab
itu semua orang lantas memusatkan segenap
perhatiannya menyaksikan jalannya pertarungan itu.

Agaknya Bong Thian-gak pun sadar ilmu pedang lawan


lihai sekali, dia tak berani memandang enteng, dengan
sorot mata berkilau tajam dia mengawasi gerak pedang
lawan, sementara telapak tangan kirinya dengan
setengah ditekuk mengebas pergi serangan pedang
lawan.

Paras muka Hian-thian-koancu Yu Ciang-hong berubah


hebat menyaksikan datangnya ayunan telapak tangan
Pendekar Cacat 111

kiri Bong Thian-gak, mendadak dia tekuk pinggang


sambil menarik senjatanya.

Setelah itu pedang Ci-thian-kiam sekali lagi digetarkan


ke muka, dari kiri menusuk ke kanan, lalu dari kanan
menyapu ke tengah, dalam waktu yang singkat dia telah
melepaskan tiga serangan berantai.

Tampak cahaya tajam berkilauan memenuhi angkasa,


dengan gerakan pedang yang aneh, seperti menotok juga
menggunting, dia menghajar musuh.

Ku-lo Hwesio yang menonton jalannya pertarungan itu


dari sisi arena segera saja menghela napas panjang,
katanya, "Kebasan tangannya itu merupakan ilmu Hud-
meh-ceng-hiat (Menyapu nadi menggetarkan jalan
darah) yang hebat sekali, ilmu silat orang itu benar-
benar mencapai tingkatan yang luar biasa!"

Baik Ho Put-ciang maupun Yu Heng-sui dapat


menyaksikan pula kebasan tangan Bong Thian-gak tadi,
dengan wajah serius bercampur tegang mereka
mengikuti jalannya pertarungan itu dengan seksama.

Sementara itu Bong Thian-gak telah terdesak mundur


sejauh tiga langkah oleh gencetan tiga serangan berantai
lawan, tapi secara mudah sekali dia berhasil meloloskan
diri dari ancaman itu.
Pendekar Cacat 112

Yu Ciang-hong memang tak malu disebut jago pedang


yang termasyhur, ia tak memberi kesempatan pada
musuh untuk melepaskan serangan balasan, kaki kirinya
segera maju selangkah, lalu pedangnya ditebaskan ke
samping, sebuah tusukan kuat disodokkan ke muka.

Kini Bong Thian-gak tidak menghindar lagi, mencorong


sinar tajam dari balik matanya, setelah membentak
nyaring, pergelangan tangan kanannya diayunkan ke
muka membabat punggung pedang, seketika itu juga
muncul segulung angin pukulan yang mendesak pedang
lawan miring ke samping.

Sedangkan tangan kirinya tidak tinggal diam, tiba-tiba


saja ia mencengkeram pergelangan tangan kanan musuh
yang menggenggam pedang.

Hian-thian-koancu Yu Ciang-hong amat terkejut, cepat


dia mundur tiga langkah, tiba-tiba saja gerakan
pedangnya berubah.

Terdengar angin menderu, cahaya kilat berkilauan di


angkasa, segulung angin puyuh yang maha dahsyat
menggulung tiba.

Bong Thian-gak mendengus dingin, ujung bajunya


berkibar terhembus angin, dengan cepat dia menerjang
ke tengah gulungan angin pedang Yu Ciang-hong yang
Pendekar Cacat 113

gencar, dengan tangan kiri menangkis pedang, tangan


kanan menyerang musuh, sepasang telapak tangannya
berubah silih berganti, bagaikan dua naga bermain di air,
kelihaiannya benar-benar luar biasa.

Kawanan jago persilatan itu rata-rata adalah pemimpin


suatu perguruan besar, ilmu silat mereka tentu saja lihai
sekali, tatkala mereka menyaksikan jalannya
pertarungan itu, serentak keningnya berkerut.

Rupanya mereka tidak bisa membedakan lagi mana


gerakan tubuh Bong Thian-gak dan mana jurus pedang
Yu Ciang-hong.

Dalam waktu singkat kedua belah pihak sudah saling


bertarung puluhan gebrak.

Tiba-tiba terdengar dengusan tertahan memecah


keheningan. Di tengah lapisan bayangan pedang yang
menyelimuti udara, mendadak Bong Thian-gak melejit
ke tengah udara dan melayang turun, kemudian dia
membalik tubuh dan dalam beberapa kali lompatan saja
bayangan tubuhnya sudah lenyap di balik halaman
gedung sana.
Pendekar Cacat 114

Perubahan yang berlangsung tiba-tiba ini amat


mencengangkan semua orang, membuat semua jago
yang hadir di arena tak seorang pun sempat melakukan
penghadangan, mereka hanya berdiri tegak di tempat
dengan wajah termangu.

Akhirnya suara helaan napas panjang menyadarkan para


jago dari lamunan, sewaktu mereka mengangkat kepala,
tampak Hian-thian-koancu Yu Ciang-hong berdiri lemas
dengan pedang Ci-thian-kiam terkulai ke bawah.

"Kalah total ... kalah total ... tiga puluhan tahun Lohu
berlatih dengan tekun, siapa tahu hari ini mesti
menderita kekalahan di tangan jago muda yang sama
sekali tak dikenal," gumamnya lirih.

"Koancu, bukankah kau berhasil melukai lengan


kirinya?" seru Yu Heng-sui dengan nyaring. "Siapa yang
menderita kekalahan?"

Hian-thian-koancu Yu Ciang-hong mendongakkan kepala


dan dengan sedih sahutnya, "Betul, Lohu memang
berhasil melukai lengan kirinya, namun telapak
tangannya justru berhasil menghantam dadaku lebih
dulu, coba kalau pukulan itu disertai dengan tenaga
dalam, Lohu sudah tewas sejak tadi, bagaimana mungkin
masih dapat melukai lengannya dengan pedang?"

Rupanya dalam gebrakan penentuan yang berlangsung


dengan amat cepat tadi, kecuali Ku-lo Hwesio, Ho Put-
Pendekar Cacat 115

ciang, Ui-hok Totiang dan beberapa orang yang sempat


melihat jelas, sisanya masih belum tahu bagaimana
kedua belah pihak menentukan menang kalahnya,
mereka cuma menyaksikan Bong Thian-gak melarikan
diri dengan membawa luka.

Dalam pada itu Ku-lo Hwesio telah memejamkan mata


rapat-rapat seakan sedang mengambil suatu keputusan
yang amat penting, tiba-tiba dia membuka mata, lalu
berkata dengan suara dalam, "Kelihaian ilmu silat orang
ini benar-benar jauh di luar dugaan, terutama aliran ilmu
silatnya, susah buat kita untuk menduganya, andaikata
dia adalah musuh, hal ini benar-benar amat merisaukan
buat kita."

Paras muka Ho Put-ciang berubah menjadi serius sekali,


setelah ,termenung sejenak, tiba-tiba bisiknya kepada
Ku-lo Hwesio, "Ilmu pukulan orang ini sangat aneh dan
sulit diduga, akan tetapi tidak kehilangan sifat jujur dan
terbukanya, bahkan gaya serangannya pun mirip sekali
dengan...."

Ketika berbicara sampai di situ mendadak dia tutup


mulut, kemudian setelah menggeleng kepala dia
melanjutkan, "Akan tetapi di balik sikapnya yang gagah
dan perkasa membawa juga serangan keji yang licik dan
tak kenal ampun, sungguh membuat orang tidak
mengerti!"
Pendekar Cacat 116

Ku-lo Hwesio menatap wajah Ho Put-ciang lekat-lekat,


kemudian tanyanya pelan, "Menurut Ho-hiantit, ilmu
silat orang itu mirip aliran mana?"

"Mirip sekali dengan ilmu pukulan guruku, tapi bila


diamati lagi dengan seksama seperti tak mirip, ya, ilmu
silat di dunia memang bersumber satu, mungkin otakku
kelewat tumpul hingga telah salah melihat!"

Mendengar itu, Ku-lo Hwesio membungkam, sepasang


matanya dipejamkan rapat-rapat seperti sedang
bersemedi.

Mendadak terdengar Ku-lo Hwesio berkata dengan


suara yang dalam dan berat, "Ho-hiantit, cepat kirim
orang untuk mengejar dan membunuh Ko Hong!"

Ho Put-ciang tertegun oleh seruan itu, "Mengapa Ku-lo


Supek mengambil keputusan begini?"

Mencorong sinar tajam dari balik mata Ku-lo Hwesio,


serunya kemudian, "Lolap sudah teringat sekarang,
kemungkinan besar orang itu adalah anak murid Mo-
kiam-sin-kun Tio Tian-seng."

Begitu ucapan itu diutarakan, paras muka para jago


segera berubah hebat.
Pendekar Cacat 117

Gara-gara dugaan itu, Bong Thian-gak bakal menjumpai


banyak kesulitan dalam pengembaraannya di Bu-lim di
kemudian hari.

Dalam pada itu Bong Thian-gak telah mengerahkan ilmu


meringankan tubuhnya melewati atap rumah dan kabur
dari gedung Bu-lim Bengcu.

Ia langsung menuju ke tempat terpencil yang jauh dari


keramaian, tiga li kemudian pemuda itu baru berhenti
berlari, sementara lukanya mulai terasa sakit.

Ternyata darah segar telah membasahi lengan kirinya,


sakitnya bukan kepalang.

Sambil menggigit bibir dia lantas merobek secarik kain


dan membalut luka itu, kemudian setelah
menghembuskan napas kesal, gumamnya seorang diri,
"Ilmu pedang Khong-tong-kiam-hoat milik Yu Ciang-
hong memang benar-benar lihai, bila tujuh tahun
belakangan ini aku tidak belajar ilmu sakti yang
kutemukan tanpa sengaja, bisa jadi aku tewas di ujung
pedang orang itu!"

Pelan-pelan dia berjongkok dan duduk bersila di bawah


rimbunnya pohon.

Memandang awan di angkasa, tanpa terasa gumamnya


lagi, "Masa depan suram, dunia amat luas, besok aku
akan kemana dan berbuat apa? Ai, sungguh tak kusangka
Pendekar Cacat 118

setelah aku memasuki gedung Bu-lim Bengcu dan bisa


menginap di sana, sehari kemudian aku dipaksa
berkelana lagi tanpa tujuan."

"Oh, Suhu! Apakah arwah kau orang tua yang tidak


berkenan aku memasuki pintu gerbang gedung Bu-lim
Bengcu lagi? Oh Suhu! Seandainya arwahmu di alam
baka tahu, kau harus mengerti bahwa tujuh tahun
berselang aku tidak melakukan kesalahan apa-apa,
kubunuh Siau Cu-beng dikarenakan aku hendak
membersihkan perguruan kau orang tua dari manusia-
manusia laknat!"

Keluh-kesah Bong Thian-gak ini makin lama semakin


memilukan, dia merasa nasib sendiri benar-benar amat
buruk, sepanjang hidup harus berkelana tanpa tujuan,
dimana-mana mendapat kesulitan, seakan-akan
perjalanan hidup penuh dengan duri.

Teringat akan nasibnya yang buruk, tanpa terasa ia


teringat pula pada ibu gurunya, Pek Yan-ling, yang
menggemaskan, tak tahu malu dan menjengkelkan itu.

Andai bukan gara-gara perbuatan cabul Pek Yan-ling,


mungkin dia tak akan mengalami nasib yang begini
tragis seperti saat ini.
Pendekar Cacat 119

Sambil menundukkan kepala dan membelai kaki kirinya


yang pincang, api kebencian membara lagi dalam
benaknya, saking tak kuasa menahan diri, dia segera
mencaci-maki kalang-kabut, "Perempuan jalang, tujuh
tahun berselang kau telah membacok otot kaki kiriku
hingga membuatku pincang, semalam kau lagi-lagi
mengirim orang untuk membunuhku. Ah, aku Bong
Thian-gak bersumpah tak akan melepaskan dirimu
begitu saja."

Pikir punya pikir sambil bersandar di pohon dan dibuai


angin yang berhembus silir-semilir, tanpa terasa
akhirnya Bong Thian-gak jatuh tertidur.

Ketika mendusin dari tidurnya, matahari sudah


tenggelam di langit barat, cuaca mulai remang-remang.

Sambil melemaskan otot-ototnya yang kaku, Bong Thian-


gak melompat bangun, tiba-tiba berhembus segulung
angin yang membawa bau harum daging semerbak.

Seketika pemuda itu merasa perutnya lapar sekali


sehingga sukar ditahan, sambil menelan air liur dia
mulai celingukan ke sana-kemari mencari sumber
datangnya bau harum itu.

Akhirnya dari balik sebuah hutan kecil tak jauh dari situ,
dia saksikan ada selapis cahaya api yang sedang
Pendekar Cacat 120

berkobar, di sampingnya duduk berjongkok seseorang


berdandan pengemis, tampak di atas jilatan api sedang
terpanggang sesuatu, dari situlah bau daging tadi
terendus.

Waktu itu Bong Thian-gak lapar sekali, dia lantas


berpikir, "Untuk membeli makanan di kota, aku mesti
berjalan dua-tiga li, mengapa tidak kubeli separoh ayam
dari pengemis itu untuk menangsal perut?"

Berpikir sampai di situ, dia lantas berjalan menuju hutan


kecil itu.

Benar juga, ternyata benda yang sedang dipanggang


adalah seekor ayam yang sangat gemuk, waktu itu si
pengemis sedang mencongkel bara api di bawah
panggangan dengan sebatang ranting, dia seperti belum
tahu kehadiran Bong Thian-gak.

"Permisi sobat!" Bong Thian-gak segera menegur.


Pengemis itu tidak berpaling, juga tidak mengangkat
kepala, sambil meneruskan pekerjaannya dia berkata,
"Hihihi, silakan duduk, silakan duduk sobat aku tahu
perutmu lapar."

Mendengar perkataan itu, dengan perasaan rikuh Bong


Thian-gak berkata, "Aku ingin membeli separoh ayam
panggangmu itu, berapa pun harganya pasti kubayar."
Pendekar Cacat 121

Tiba-tiba pengemis itu mendengus dingin, "Hm, harta


kekayaan seperti awan di angkasa, uang seperti kotoran
manusia, kalau berbicara soal uang, lebih baik tidak
kujual saja!"

Bong Thian-gak tertegun, "Kita tak pernah mengenal


satu sama lain, bagaimana boleh kuminta ...."

Belum selesai dia berkata, pengemis itu sudah menukas


dengan suara dingin, "Kalau begitu lebih baik pergi saja
dengan menahan lapar!"

Bau harum yang semerbak membuat Bong Thian-gak


harus menelan air liur berulang-kali, sebagai orang jujur,
dia kasihan kalau harus meminta makanan yang
mungkin didapat dari dermaan orang, berpikir sampai di
situ ada baiknya bilamana diberi sedikit uang sebagai
imbalan separoh ayam itu, bagaimana pun juga ia tetap
merasa rikuh untuk minta makanan dari seorang
pengemis.

Karena ragu-ragu, untuk sesaat dia hanya berdiri di


tempat. Mendadak terdengar pengemis itu berseru
dengan gembira, "Sudah matang, sudah matang!"

Ia segera membuang ranting itu dan mencengkeram


panggang ayam yang masih panas itu dengan tangannya.
Pendekar Cacat 122

Bong Thian-gak yang menyaksikan kejadian itu segera


berteriak, "Hati-hati, jangan sampai menyengat tangan!"

Belum habis dia berkata, pengemis itu sudah menyobek


paha ayam dan dimakan dengan lahapnya.

Saat itulah Bong Thian-gak melihat dengan jelas paras


muka pengemis itu, tanpa terasa keningnya berkerut
kencang.

Ternyata usia pengemis itu sangat muda, kurang lebih


dua puluh tiga-empat tahun,wajahnya amat tampan,
telinga besar dan mata jeli, bukan saja hidungnya
mancung, kulit tubuhnya juga putih, halus dan bersih.

Coba kalau dia tidak mengenakan jubah panjang yang


penuh tambalan, siapa yang percaya kalau orang ini
adalah pengemis? Orang tentu akan menganggapnya
sebagai seorang Kongcu yang romantis!

Pengetahuan Bong Thian-gak cukup luas, sekarang dia


sudah menduga, besar kemungkinan pengemis muda ini
adalah anggota Kay-pang yang termasyhur di Bu-lim
selama seratus tahun belakangan ini.

Kay-pang atau perkumpulan pengemis merupakan


perkumpulan terbesar di Bu-lim, selain anggotanya
sangat banyak, jumlah mereka pun tersebar rata di
setiap pelosok dunia.
Pendekar Cacat 123

Mereka tidak pernah menggabungkan diri dengan


persekutuan dunia persilatan, selamanya bekerja sendiri
tanpa terikat oleh perguruan lain, selain jarang
mengadakan hubungan dengan berbagai perguruan silat,
perkumpulan ini pun merupakan satu-satunya
perkumpulan yang berdiri antara aliran lurus dan sesat.

Belasan tahun berselang, ketika guru Bong Thian-gak


masih menjadi Bengcu persekutuan dunia persilatan,
pihak Kun-lun-pay sebagai anggota persekutuan pernah
bentrok dengan orang-orang Kay-pang.

Gara-gara peristiwa itu hampir saja pihak Kay-pang


melakukan pertarungan terbuka dengan pihak
persekutuan dunia persilatan.

Akhirnya Bu-lim Bengcu harus berkunjung ke markas


besar Kay-pang untuk minta maaf kepada ketua
perkumpulan itu sebelum urusan bisa didamaikan.

Ditinjau dari kejadian itu, dapat disimpulkan bahwa


pengaruh Kay-pang dalam Bu-lim waktu itu sama sekali
tidak berada di bawah kemampuan sembilan partai
besar daratan Tionggoan.
Pendekar Cacat 124

Sementara itu si pengemis muda menyaksikan Bong


Thian-gak hanya berdiri termangu, mendadak dia
menyambar sepotong paha ayam dan dilempar ke depan
Bong Thian-gak, serunya, "Nih, sambutlah!"

Paha ayam itu meluncur dengan kecepatan tinggi, Bong


Thian-gak dengan gugup segera menerimanya.

Kini dia sudah menduga pengemis itu kemungkinan


besar adalah anggota Kay-pang, maka sikapnya pun
tidak sungkan-sungkan lagi.

Dia lantas berjongkok dan melalap paha ayam itu


dengan lahapi, malah lebih lahap daripada pengemis
muda itu, dalam waktu singkat paha ayam tadi sudah
disikat hingga tinggal tulangnya.

Dengan mata melotot dan tertawa cekikikan, pengemis


muda itu berkata "Kolong langit seperti tetangga, empat
samudra adalah saudara sendiri silakan makan, silakan
makan!"

Bong Thian-gak tertawa bodoh, tanpa sungkan lagi dia


pentang kelima jarinya dan merobek sepotong daging
ayam gemuk itu, langsung dikirim ke dalam mulutnya.

Hanya dalam waktu singkat seekor ayam gemuk seberat


tiga-empat kati itu sudah tinggal tulang.
Pendekar Cacat 125

Setelah kenyang, Bong Thian-gak baru bertanya dengan


suara lantang, "Bolehkah aku tahu siapa namamu?"

Pengemis muda itu melototkan matanya, kemudian


sahutnya, "Dilihat dari tampangmu, sama sekali tidak
menunjukkan sikap seorang pelajar, tapi heran, tingkah-
lakumu justru penuh dengan segala tetek-bengek, siapa
namamu sendiri?"

Bong Thian-gak menaruh kesan baik terhadap pengemis


muda itu, setelah tertawa nyaring dia menyahut, "Aku
she Ko bernama Hong."

"Nama palsu, shenya juga palsu!"

Bong Thian-gak jadi tertegun, "Maksudmu?"

"Tiada manusia yang bernama demikian di Bu-lim."

Diam-diam Bong Thian-gak terperanjat, pikirnya


kemudian, "Pengemis muda ini sudah pasti seorang yang
punya kedudukan tinggi dalam Kay-pang, kalau dilihat
dari kemampuannya merobek daging ayam tadi, pasti
tenaga dalamnya telah sempurna!"

Berpikir demikian, sambil tersenyum Bong Thian-gak


berkata, "Kalau begitu kau pun seorang dari dunia
persilatan?"
Pendekar Cacat 126

"Jika kau sudah tahu aku anggota Kay-pang, buat apa kau
mesti banyak bertanya?"

"Tapi kau belum memberitahukan namamu kepadaku?"

"Aku she To bernama Siau-hou!"

"Oh, rupanya To-heng, terima kasih banyak atas


hidangan daging ayammu pada malam ini!"

"Ayam gemuk itu dapat kucuri dari dalam gedung Bu-lim


Bengcu, jadi berterima kasihlah kepada mereka!"

Bong Thian-gak tertegun mendengar itu, segera serunya,


"Jadi kau pun telah berkunjung ke gedung Bu-lim
Bengcu?"

"Aku pun telah menyaksikan pertarunganmu melawan


Yu Ciang-hong. Hm, orang-orang dari sembilan partai
memang benar-benar tak tahu malu, sudah kalah masih
menghadiahkan tusukan kepada orang!"

Bong Thian-gak terkejut mendengar ucapan terakhir itu,


To Siau-hou ini selain sudah menyusup ke dalam gedung
Bu-lim Bengcu tanpa diketahui siapa pun, bahkan setiap
gerakan serangan yang digunakan sewaktu bertarung
melawan Hian-thian-koancu pun dapat diketahuinya,
dari sini dapat disimpulkan kepandaian silatnya benar-
benar sangat lihai.
Pendekar Cacat 127

To Siau-hou memandang sekejap ke arah Bong Thian-


gak, kemudian tanyanya, "Bukan memujimu, ilmu
silatmu memang sangat tinggi, orangnya juga jujur dan
terbuka, kami orang-orang Kay-pang paling suka dengan
orang macam dirimu, apakah kau ingin masuk menjadi
anggota?"

Bong Thian-gak tersenyum, "Sekarang aku tak punya


beban tak punya ikatan, hidup bebas tanpa terikat oleh
suatu apa pun, buat apa To-heng mesti memberi
belenggu padaku?"

To Siau-hou ikut menghela napas panjang, "Cara untuk


menjadi anggota perkumpulan kami selamanya sangat
ketat, justru lantaran aku merasa amat berkesan kepada
Ko-heng sejak pertemuan pertama, seakan-akan kita
seperti sudah berteman lama saja, maka ... sudahlah! Ko-
heng, di kemudian hari bila kau bersedia menjadi
anggota perkumpulan kami, katakan saja kepadaku."

"To-heng memiliki watak yang gagah, terbuka, berjiwa


besar dan hangat terhadap setiap orang, Siaute benar-
benar telah mendapat seorang sahabat sehati."

Tiba-tiba To Siau-hou bangkit, kemudian katanya, "Kini


aku sedang mendapat tugas rahasia dari Pangcu kami
Pendekar Cacat 128

untuk menyelidiki beberapa persoalan di kota Kay-hong,


tugas yang amat berat itu mesti kulakukan secepatnya,
hingga tak ada waktu buat kita untuk banyak bicara,
kalau begitu kita bersua lagi di lain waktu saja!"

Selesai berkata dia lantas menjura dalam-dalam kepada


Bong Thian-gak, setelah itu membalik badan dan
beranjak pergi dari situ.

"Baik-baiklah menjaga dirimu To-heng, sampai jumpa


lain waktu," seru Bong Thian-gak lantang.

Setelah berjalan beberapa langkah, tiba-tiba To Siau-hou


berhenti dan membalik tubuh, katanya, "Ko-heng, kini
Ku-lo Hwesio dari Siau-lim-pay telah menurunkan
perintah untuk mencari dan membunuh dirimu, kau
harus lebih waspada untuk menjaga diri!"

Mendengar itu Bong Thian-gak menghela napas panjang,


"Terima kasih banyak atas peringatan To-heng, aku bisa
menghadapinya dengan hati-hati."

To Siau-hou tidak banyak bicara lagi, dia membalik


badan dan melompat pergi, dalam waktu singkat
bayangan tubuhnya telah lenyap dari pandangan mata.

Memandang bayangan punggung To Siau-hou yang


menjauh, tiba-tiba Bong Thian-gak seperti kehilangan
Pendekar Cacat 129

sesuatu, sobat barunya ini seakan-akan meninggalkan


kesan yang amat mendalam dalam hatinya.

Pesan sebelum kepergian To Siau-hou tadi membuat


Bong Thian-gak makin bertambah kesal, perintah yang
diturunkan Ku-lo Hwesio itu kemungkinan besar bisa
mengakibatkan dia saling bentrok dengan sesama
saudara seperguruannya.

"Ai, apakah sebaiknya aku mengundurkan diri dan


mengasingkan diri di tengah gunung yang terpencil?"

Bintang-bintang bertaburan di angkasa dan berkelip


tiada henti, persis seperti perasaan Bong Thian-gak yang
tak menentu sekarang, dia tidak tahu harusnya dia tetap
tinggal di Kay-hong ataukah melanjutkan
penyelidikannya atas pembunuh yang membinasakan
gurunya itu?

Dia tahu, meski dunia persilatan kehilangan dia, namun


dia bertekad tetap melakukan penyelidikan terhadap
kematian gurunya. Agar mereka jangan sampai salah
sasaran, dia memang sepantasnya mengundurkan diri
dari keramaian dunia.

Angin dingin berhembus mengibarkan ujung baju Bong


Thian-gak, dengan pikiran kusut pelan-pelan dia
berjalan meninggalkan tempat itu.
Pendekar Cacat 130

Malam terasa aneh dan penuh misteri.

Mendadak terdengar suara keliningan yang nyaring,


membuat suasana malam menjadi bertambah misterius.

Mendengar suara itu, Bong Thian-gak segera berpaling,


di tengah kegelapan malam segera terlihat olehnya
bayangan sebuah tandu yang muncul dari balik
kegelapan.

Rupanya suara keliningan itu berasal dari tandu itu.

Dengan kening berkerut Bong Thian-gak segera


menyelinap ke balik semak belukar dan
menyembunyikan diri, tampak olehnya tandu itu makin
lama makin mendekat.

Itulah sebuah tandu kecil yang digotong dua orang, yang


lebih mengherankan lagi, pemikul tandunya adalah dua
orang gadis yang masih berusia muda, di sisi kanan
tandu tampak pula seorang gadis mengiringi.

Tirai tandu ditutup rapat, sehingga tidak diketahui


siapakah yang duduk dalam tandu itu.

Sekilas pandang kedua gadis muda itu nampak lemah-


gemulai dan halus sekali, meski sedang memikul tandu,
Pendekar Cacat 131

langkah mereka tetap cepat dan ringan, jelas orang-


orang itu mempunyai kepandaian silat sangat tinggi.

Dengan cepat tandu misterius itu lewat di hadapan Bong


Thian-gak dan bergerak menuju ke arah barat daya.

Memandang bayangan tandu yang menjauh, pelan-pelan


Bong Thian-gak berjalan keluar dari balik semak
belukar, kemudian dengan perasaan tidak mengerti ia
menggeleng kepala berulang kali, pikirnya, "Pada
umumnya pemikul tandu adalah laki-laki kekar, mana
ada gadis muda yang menggotong tandu? Hendak
kemanakah mereka?"

Perasaan ingin tahu yang meluap membuat anak muda


itu segera mengerahkan tenaga dan mengejar ke arah
bayangan tandu itu lenyap.

Kurang lebih empat li sudah lewat, tapi anehnya


bayangan tandu itu tidak nampak juga, malah suara
keliningan yang amat nyaring itu pun sudah tak
terdengar lagi.

Dengan tertegun Bong Thian-gak segera berpikir, "Masa


secepat itu pemikul tandu itu berjalan? Mengapa
bayangan mereka bisa lenyap? Ah, mungkinkah aku
telah salah arah!"
Pendekar Cacat 132

Berpikir demikian, Bong Thian-gak segera membalik


badan dan mencari kembali ke tempat semula.

Sekali pun dia sudah kembali ke semak belukar dimana


dia menyembunyikan diri tadi, tandu itu belum juga
ditemukan.

"Benar-benar aku sudah bertemu setan," gumam Bong


Thian-gak dalam hati, untuk sesaat dia berdiri termangu
di situ.

Mendadak di tengah heningnya suasana, lagi-lagi muncul


seorang pejalan malam, ilmu meringankan tubuh orang
itu hebat sekali, berjalan di tengah kegelapan seakan-
akan segulung hembusan angin saja.

Dengan cekatan kembali Bong Thian-gak


menyembunyikan diri di balik semak belukar.

Tak selang lama kemudian, pejalan malam itu sudah


berhenti di h.idapannya, sepasang matanya yang tajam
tiada hentinya celingukan ke sana kemari melakukan
pemeriksaan.

Melihat itu Bong Thian-gak berpikir, "Mungkin dari


kejauhan orang ini melihat di sini ada bayangan orang!"
Pendekar Cacat 133

Ternyata dugaannya benar, terdengar orang itu


bergumam, "Mungkin bayangan pohon cemara!"

Dia lantas mengembangkan ginkangnya dan lewat di


hadapan Hong Thian-gak, orang itu bergerak menuju ke
arah barat daya.

Dengan sepasang mata Bong Thian-gak yang tajam, dia


dapat melihat pakaian yang dikenakan orang itu adalah
pakaian seragam pengawal gedung Bu-lim Bengcu.

Satu ingatan segera melintas dalam benak Bong Thian-


gak.

Dengan cepat ia mengembangkan Ginkang pula dan


melakukan pengejaran.

Ginkang Bong Thian-gak telah mencapai puncak


kesempurnaan, dengan selisih jarak puluhan depa,
bagaikan sukma gentayangan saja dia menguntit dari
belakang.

Setengah jam kemudian mendadak ia menyaksikan


orang itu menyelinap ke balik hutan lebat di sisi jalan.

Bong Thian-gak segera melanjutkan penguntitannya


melalui arah lain.
Pendekar Cacat 134

Hutan itu gelap gulita tak ada setitik sinar pun, tentu saja
sulit bagi pemuda itu untuk mengawasi orang itu dengan
lebih seksama.

Untung Bong Thian-gak memiliki ketajaman


pendengaran, dari suara langkah kaki si pejalan malam
menginjak dedaunan, ia bisa menduga orang itu berada
di depannya dan sedang menerobos ke arah selatan
hutan itu.

Setelah berjalan masuk ke dalam, tiba-tiba dari depan


sana muncul setitik cahaya, ternyata di situ berdiri
sebuah kuil.

Mimpi pun Bong Thian-gak tidak mengira dalam hutan


lebat ini bisa tersembunyi sebuah kuil, dengan perasaan
ingin tahu ia segera bersembunyi dalam hutan itu sambil
menanti perkembangan selanjutnya yang akan terjadi.

Tampaknya kuil itu tidak berpenghuni, di dalam ruang


gelap gulita tak nampak setitik cahaya lentera pun, lagi
pula sebagian tembok pekarangannya sudah roboh,
rumahnya juga kuno dan bobrok, suasana amat
menyeramkan.

Dengan memperingankan langkah kakinya, orang itu


langsung bergerak menuju ke dalam kuil bobrok itu.
Pendekar Cacat 135

Mendadak dari ruang tengah kuil berkumandang suara


teguran seorang perempuan, "Apakah kau adalah utusan
yang dikirim Sam-kaucu (ketua ketiga)?"

Ketika mendengar teguran itu, orang itu nampak


terperanjat, lalu buru-buru menjawab, "Be ... benar,
hamba adalah Huhoat (pelindung) di bawah pimpinan
Sam-kaucu, apakah Jit-kaucu (ketua ketujuh) sudah
datang?"

Sekali lagi dari dalam ruang kuil berkumandang suara


dengusan dingin perempuan itu, "Hm, Jit-kaucu telah
datang sedari tadi, mengapa kau tidak segera berlutut
menerima perintah?"

Lelaki berbaju hitam itu benar-benar bertekuk lutut


mendengar perkataan itu, wajahnya nampak gugup dan
tegang.

Sementara itu Bong Thian-gak yang bersembunyi dalam


hutan pun diam-diam merasa terperanjat, "Sam-kaucu,
Jit-kaucu, sebenarnya perkumpulan macam apakah itu?
Kalau lelaki berbaju hitam itu salah satu di antara
pengawal gedung Bu-lim Bengcu, penemuanku pada
malam ini boleh dibilang penting sekali."

Dalam pada itu, dari dalam ruang kuil berkumandang


lagi suara pembicaraan perempuan lain, perempuan itu
sedang bertanya dengan suara hambar, "Kau adalah
Huhoat nomor berapa di bawah Sam-kaucu?"
Pendekar Cacat 136

Suara perempuan ini merdu bagaikan burung nuri yang


sedang berkicau, tapi di balik suara yang merdu itu
terselip kewibawaan yang menggidikkan.

Dengan suara gemetar, lelaki berbaju hitam itu segera


menjawab, "Hamba adalah pelindung nomor dua puluh
sembilan Lo Gi."

"Lo Gi?" kembali suara perempuan itu bertanya.


"Tahukah kau di antara Kaucu dalam perguruan kita,
Kaucu nomor berapakah yang mempunyai peraturan
paling ketat?"

"Jit-kaucu!"

Perempuan dengan suara berwibawa itu kembali


berkata, "Aku telah menunggu hampir setengah jam
lamanya di tempat ini, persoalan apakah yang membuat
kedatanganmu terlambat tiga perempat jam?"

"Secara tiba-tiba di gedung Bu-lim Bengcu diadakan


pemeriksaan pasukan, oleh sebab itu hamba datang
terlambat, harap Jit-kaucu sudi memaafkan dosa hamba
ini."
Pendekar Cacat 137

Kepala Bong Thian-gak serasa mendengung keras


sesudah mendengar tanya jawab itu, apa yang
didengarnya ini ternyata benar, orang adalah mata-mata
musuh yang sengaja diselundupkan ke dalam gedung
Bu-lim Bengcu.

Ini berarti perguruan rahasia itulah yang sesungguhnya


musuh umum seluruh umat persilatan.

Sementara itu dari dalam ruang kuil kembali terdengar


Jit-kaucu berkata, "Perintah apakah yang diberikan Sam-
kaucu untuk disampaikan kepadaku? Cepat katakan."

"Sam-kaucu hanya menyerahkan tiga hal, pertama, ia


minta pada Jit-kaucu untuk menyelidiki seorang yang
bernama Ko Hong."

"Manusia macam apakah Ko Hong itu? Mengapa harus


Kaucu yang melakukan penyelidikan ini?" tegur Jit-kaucu
dari dalam ruangan dengan suara sedingin es.

"Sam-kaucu yang mengharapkan demikian, menurut


Sam-kaucu, Ko Hong mempunyai ciri khas, dia berwajah
kuning macam orang penyakitan, kaki kirinya pincang,
ilmu silatnya amat lihai dan usianya antara dua puluh
tujuh-delapan tahunan."

"Sam-kaucu menitahkan kepada Jit-kaucu untuk


menyelidiki asal-usulnya dan berusaha menariknya agar
bergabung dengan perkumpulan kita, apabila usaha ini
Pendekar Cacat 138

mustahil, mumpung belum menimbulkan ancaman, dia


mesti cepat disingkirkan dari muka bumi."

Bong Thian-gak yang mendengar perkataan itu menjadi


amat terkesiap, dia tidak menyangka perkumpulan ini
pun akan turun tangan keji terhadapnya.

Jit-kaucu yang berada dalam ruangan kuil nampaknya


sedang termenung, selang beberapa saat kemudian ia
baru bertanya, "Masih ada persoalan apa lagi, cepat
katakan."

"Kedua, menurut Sam-kaucu, beberapa hari mendatang


mungkin Yu Heng-sui hendak menuju ke kantor cabang
kita untuk melakukan penyelidikan, bila perlu Jit-kaucu
boleh mengambil keputusan sendiri untuk menentukan
mati hidupnya."

Berita ini lagi-lagi membuat Bong Thian-gak terperanjat,


cepat pikirnya, "Entah dimanakah letak kantor cabang
mereka? Bila aku tidak berusaha keras memberitahu
kabar ini kepada Ji-suheng, bisa jadi keselamatan Ji-
suheng akan terancam mara bahaya!"

Sementara itu lelaki berbaju hitam berkata lagi, "Soal


ketiga, kata Sam-kaucu, Cap-go-kaucu (ketua kelima
belas) pernah mengirim pembunuh ke gedung Bu-lim
Bengcu untuk melenyapkan jiwa Ko Hong, tapi usaha
Pendekar Cacat 139

pembunuhan itu menemui kegagalan, malah rahasia Sin-


li-tui (pasukan gadis suci) perkumpulan kita ikut bocor,
kemungkinan hal itu akan mempengaruhi rencana kita
secara keseluruhan, Sam-kaucu minta Jit-kaucu
menyampaikan berita ini kepada Cong-kaucu untuk
menetapkan langkah selanjutnya dari Cap-go-kaucu."

"Hanya tiga soal inikah yang dipesankan Sam-kaucu?"


tanya Jit-kaucu hambar.

"Benar!"

Pelan-pelan Jit-kaucu berkata lagi, "Peraturan


perkumpulan kita amat ketat, tak mengizinkan anggota
partai melakukan kesalahan?"

Lelaki berbaju hitam itu nampak tertegun, kemudian


sahutnya, "Bagi yang melakukan kesalahan berat
hukumannya mati, sedangkan yang ringan disekap
untuk menyesali dosanya."

"Lo Gi, kemari kau," tiba-tiba Jit-kaucu berkata dengan


suara pelan.

Tampaknya lelaki berbaju hitam itu belum tahu bencana


besar sudah berada di ambang mata, dengan menurut
sekali dia berjalan masuk ke dalam ruangan.
Pendekar Cacat 140

Ruangan itu gelap gulita tak nampak setitik cahaya pun,


semenjak lelaki berbaju hitam itu masuk ke dalam,
suasana sekeliling tempat itu berubah menjadi hening,
sepi dan tak terdengar sedikit suara pun ....

Dengan mengerahkan segala kemampuannya, Bong


Thian-gak mencoba memeriksa sekeliling ruang itu,
namun belum juga ditemukan sesuatu gerakan pun,
lama-kelamaan timbul juga rasa curiga dalam hatinya,
dia segera berpikir, "Aneh! Paling tidak dalam ruangan
itu terdapat dua orang atau lebih, ditambah orang
berbaju hitam yang masuk ke dalam, mengapa dalam
waktu singkat suasana berubah menjadi hening dan tak
terdengar sedikit pun suara?"

Bong Thian-gak menunggu lagi hingga setengah jam


lamanya, akan tetapi suasana dalam ruangan tetap
hening.

"Jangan-jangan mereka sudah kabur melalui ruang


belakang?" Ingatan itu dengan cepat melintas dalam
benaknya.

Berpikir sampai di situ, Bong Thian-gak segera


menyumpah dalam hati, "Siluman rase, benar-benar licik
kau!"
Pendekar Cacat 141

Dia segera melompat keluar dari dalam hutan dan


berlari ke arah eedung utama dengan kecepatan tinggi.

Mendadak Bong Thian-gak menyaksikan lelaki berbaju


hitam itu masih berlutut di depan pintu kuil itu.

"Jangan-jangan mereka belum pergi?" diam-diam Bong


Thian-gak berpikir.

Tapi untuk menyelidiki asal-usul perkumpulan lawan


dan untuk membalas dendam bagi kematian gurunya,
bagaimana pun juga dia hams menawan musuh dalam
keadaan hidup.

Tanpa rasa jeri barang sedikit pun, selangkah demi


selangkah Nnng Thian-gak berjalan menuju ruang kuil.

Siapa tahu kendati dia sudah berdiri di belakang lelaki


berbaju hitam itu, suasana dalam ruangan kuil masih
tetap hening tak terdengar bunyi apa pun, lelaki berbaju
hitam yang sedang berlutut itu pun tak berpaling.

Bong Thian-gak tertawa dingin, dengan satu lompatan


lebar dia menerjang masuk ke dalam ruangan tengah,
lalu tangan kirinya secepat kilat mencengkeram urat
nadi pergelangan tangan kanan lelaki itu.
Pendekar Cacat 142

Siapa tahu tangannya yang berhasil mencengkeram nadi


lawan hanya menyentuh tubuh yang telah dingin dan
kaku, tubuh lelaki itu tahu-tahu roboh terjengkang ke
tanah.

Di bawah cahaya bintang yang menyinari sekitar situ,


Bong Thian-gak menemukan wajah yang amat tak sedap
dipandang dari lelaki berbaju hitam itu, saking kagetnya
ia sampai melepas cengkeramannya dan mundur.

Ternyata lelaki itu sudah tewas, wajahnya pucat-pias,


seluruh daging wajahnya telah lenyap sehingga
wujudnya sekarang tinggal kulit membungkus tulang.

"Ah, keadaan seperti ini agaknya seperti amat kukenal!"


pikir pemuda itu kemudian.

Tapi dengan cepat Bong Thian-gak teringat mayat


Kongsun Phu-ki, mayat mereka berdua pada hakikatnya
mirip sekali.

Menurut penilaian Ku-lo Hwesio, sebab kematian


Kongsun Phu-ki adalah kehabisan sumsum akibat
hubungan senggama yang kelewat batas, tapi lelaki
berbaju hitam ini tak melakukan hubungan senggama,
mengapa dia pun tewas akibat kehabisan sumsum?

"Ilmu silat apakah itu? Ya, ilmu silat apakah itu?


Mengapa dia bisa menghisap sari tubuh lelaki kekar
yang nampak bertubuh segar menjadi sesosok mayat
Pendekar Cacat 143

yang bertubuh kulit membungkus tulang hanya dalam


sekejap mata?"

Betul-betul suatu peristiwa yang amat mengerikan.


Sebetulnya perempuan macam apakah Jit-kaucu itu?

Dari sini dapat disimpulkan bahwa kematian Kongsun


Phu-ki pun. disebabkan perbuatan Jit-kaucu ini.

Dengan cepat Bong Thian-gak masuk ke ruang tengah,


menembus dua halaman dan di belakang kuil dia
menemukan sebuah hutan yang amat lebat.

Tanpa pikir panjang lagi, dia segera memasuki hutan


lebat itu.

Dari balik hutan yang sangat lebat dan seakan-akan tak


bertepian itu, mendadak terdengar suara bentakan
nyaring.

Bagaikan seorang yang tersesat di padang gurun pasir


dan secara tiba-tiba menemukan sumber mata air saja,
Bong Thian-gak segera mengerahkan Ginkangnya
menyusul ke depan.

Di tengah semak belukar yang lebat, akhirnya ia


temukan sebuah tandu kecil diparkir di sana, dua gadis
muda berbaju hijau memikul tandu itu, sedang gadis
Pendekar Cacat 144

berbaju hijau lainnya berdiri di muka tandu dengan


senjata terhunus.

Di depan gadis berbaju hijau yang bersenjata terhunus


itu berdiri seorang pemuda berbaju compang-camping
yang berwajah tampan.

Dengan cepat Bong Thian-gak dapat mengenali pemuda


itu sebagai To Siau-hou, anggota Kay-pang yang baru
saja dikenalnya semalam.

Sementara itu To Siau-hou juga sudah mengenali Bong


Thian-gak, paras mukanya segera berubah hebat.

Rupanya To Siau-hou salah mengira Bong Thian-gak


berasal sealiran dengan gadis-gadis itu, sambil tertawa
dingin ia menyindir, "Sungguh tak kusangka kau adalah
pelindung bunga. Hahaha, bila begitu aku telah salah
memilih teman."

"To-heng, jangan salah paham," buru-buru Bong Thian-


gak berkata. "Aku sama sekali tak punya hubungan apa-
apa dengan mereka."

"Kalau memang demikian, harap Ko-heng berpeluk


tangan saja di sisi arena!"
Pendekar Cacat 145

Sementara itu si gadis bersenjata pedang telah


menuding ke arah To Siau-hou sambil membentak, "Hei,
kau si pengemis, mengapa berdiri menghadang di tengah
jalan? Memangnya telah bosan hidup?"

To Siau-hou tertawa terbahak-bahak, "Hahaha, tidak


sulit bila tandu nona ingin lewat tempat ini, cuma aku
harus memeriksa dulu mang macam apakah yang sedang
duduk di dalam tandu itu."

Bong Thian-gak menyaksikan semua itu, dengan cepat ia


dapat menduga orang yang berada dalam tandu itu pasti
adalah Jit-kaucu yang keji dan tak berperi-kemanusiaan
itu.

Ketika nona baju hijau selesai mendengarkan ucapan itu,


alisnya segera bekernyit, hawa membunuh menyelimuti
wajahnya, dia segera membentak, "Rupanya kau ingin
mampus!"

Mendadak dia menekuk pinggang, lalu secepat sambaran


petir menerjang ke muka dan melepas bacokan kilat.

To Siau-hou menggoyang bahu berkelit tiga kali ke


samping, kemudian melangkah maju menghampiri tandu
kecil itu
Pendekar Cacat 146

Gadis berbaju hitam itu membentak nyaring, jurus


pedangnya segera berubah, beruntun dia melancarkan
tiga buah serangan berantai, cahaya tajam yang berkilau
bagaikan beribu bintang dengan cepat menyapu ke
depan dan mengurung sekujur badan To Siau-hou.

Terdesak oleh tiga serangan berantai itu, To Siau-hou


mundur dua langkah, bayangan orang berkelebat, lagi-
lagi gadis berbaju hitam itu sudah melintangkan
pedangnya menghadang di depan tandu.

Rupanya To Siau-hou dibikin gusar pula oleh perbuatan


musuh, keningnya berkerut dan matanya memancarkan
cahaya berkilauan, pelan-pelan tangan kanannya
mencabut sebatang tongkat bambu dari balik bahunya.

Dengan tangan kiri menggenggam tongkat bambu,


tangan kanan pelan-pelan bergerak ke muka, sebilah
pedang tajam tahu-tahu sudah dilolos pula dari
sarungnya.

Pada saat itulah dari dalam tandu berkumandang suara


merdu dan lembut menegur hambar, "Aku duga kau
pastilah Giok-bin-giam-lo (Raja akhirat berwajah
kemala) To Siau-hou, salah satu di antara Cho-yu-siang-
siau (Sepasang muda kiri kanan) yang mendampingi
Liong-thau Pangcu dari Kay-pang!"
Pendekar Cacat 147

Cho-yu-siang-siau dari Kay-pang jarang melakukan


perjalanan di Bu-lim, oleh sebab itu nama mereka jarang
diketahui orang, agak terperanjat juga hati To Siau-hou
setelah nama dan julukannya berhasil disebut orang
secara tepat.

Sambil melintangkan pedang di depan dada, ia segera


membentak dengan suara dalam, "Siapakah kau?"

"Jit-kaucu!"

"Bagus sekali, Jit-kaucu. Sebelum Bu-siang-long-hou-


ciang dari perkumpulan kami menemui ajal, ia pernah
menyinggung nama besar Jit-kaucu, sekarang aku ingin
bertanya kepadamu, apakah saudara kami ini tewas di
tanganmu?"

"Dia tewas di tangan Ji-kaucu (ketua kedua)!" jawab Jit-


kaucu dengan suara dingin.

"Siapakah Ji-kaucu itu?" bentak To Siau-hou dengan


kening berkerut.

"Pertanyaanmu itu terlalu lampau bersifat kekanak-


kanakan, Ji¬kaucu adalah Ji-kaucu, kau tak usah banyak
bertanya lagi."
Pendekar Cacat 148

Bong Thian-gak berkerut kening mendengar ucapan itu,


belum pernah ia jumpai suatu perkumpulan dengan
sejumlah pimpinan begini aneh, ditinjau dari
pembicaraan malam ini, lalu dianalisa kembali, dapat
disimpulkan bahwa pimpinan tertinggi organisasi
rahasia ini mungkin disebut "Kaucu!".

Sedang orang yang paling berkuasa di antara deretan


Kaucu-kaucu itu tentulah Cong-kaucu (Kaucu nomor
satu), tapi berapa banyak Kaucu yang terdapat dalam
perkumpulan itu?

Dari pembicaraan malam ini, agaknya angka terbesar


yang pernah disebut adalah kelima belas, yakni Cap-go-
kaucu.

Sementara itu Giok-bin-giam-lo To Siau-hou tertawa


dingin, lalu ujarnya, "Jika aku berhasil membekuk kau
malam ini, aku tak kuatir anak murid perguruanmu itu
tak akan menampakkan batang hidungnya."

"Begitu yakin akan kemampuanmu?"

"Mengapa tidak dibuktikan saja!" seru To Siau-hou


sambil tertawa nyaring.

Mendadak terdengar Jit-kaucu berseru, "Turunkan


tandu, kalian bertiga boleh segera mengundurkan diri!"
Pendekar Cacat 149

Begitu perintah diturunkan, kedua gadis berbaju hitam


segera menurunkan tandu, lalu bersama gadis
berpedang mengundurkan diri dengan cepat ke sisi kiri,
kanan dan belakang tandu.

Giok-bin-giam-lo To Siau-hou segera merentangkan


pedang di depan dada, kemudian tertawa terbahak-
bahak, "Hahaha, kalau begitu aku ingin mencoba sampai
dimanakah taraf kepandaian silat yang kau miliki!"

Mendadak terdengar Bong Thian-gak membentak


dengan suara dalam, "Tunggu dulu!"

Dengan langkah lebar dia berjalan mendekat, lalu sambil


menjura kepada To Siau-hou, katanya, "To-heng, harap
kau bersedia memberi kesempatan bagiku mengajukan
beberapa pertanyaan dulu kepadanya sebelum
pertarungan dilakukan!"

Giok-bin-giam-lo To Siau-hou memandang sekejap ke


arah Bong Thian-gak, kemudian katanya, "Silakan Ko-
heng!"

Dengan suara lantang Bong Thian-gak berseru, "Jit-


kaucu, dengar baik-baik! Aku punya beberapa persoalan
yang tak kupahami dan ingin minta petunjuk darimu,
aku harap kau sudi memberi petunjuk!"

"Soal apa? Katakan saja!" ucap Jit-kaucu dari dalam


tandu dengan suara hambar.
Pendekar Cacat 150

"Aku ingin bertanya, Bu-lim Bengcu Thi-ciang-kan-kun-


hoan Oh Ciong-hu tewas dalam keadaan bagaimana?"

"Ada hubungan apa antara kau dan Oh Ciong-hu?" Jit-


kaucu balik bertanya.

"Kami adalah sahabat!"

Jit-kaucu termenung beberapa saat lamanya, setelah itu


baru berkata lagi, "Sebab kematian Oh Ciong-hu hanya
diketahui satu orang saja dan orang itu bukan diriku
sehingga aku pun tak bisa memberikan keterangan apa-
apa kepadamu."

"Apakah orang itu adalah Cong-kaucu perkumpulan


kalian?"

"Benar!"

Mencorong sinar tajam dari balik mata Bong Thian-gak,


kembali dia bertanya, "Apa nama perkumpulan kalian?"

Jit-kaucu yang berada di dalam tandu tertawa riang,


"Sejak saat ini nama perkumpulan kami akan
berkumandang di seluruh penjuru dunia dan membekas
dalam hati setiap orang, kuberitahukan kepadamu pun
tak ada salahnya, perkumpulan kami bernama Put-gwa-
cin-kau!"
Pendekar Cacat 151

"Put-gwa?" seru Bong Thian-gak terperanjat.

"Put-gwa (tiada aku) merupakan persembahan kita


terhadap partai, demi kepentingan partai, kami tak akan
mempersoalkan hati sendiri, tubuh dan hati kami semua
adalah milik partai."

"Benarkah Cong-kaucu kalian adalah Mo-kiam-sin-kun


Tio Tian-seng!"

"Benar atau tidak, maaf aku tak bisa memberitahukan


kepadamu."

Tiba-tiba Bong Thian-gak menghela napas panjang.


"Baiklah, terima kasih banyak atas jawabanmu!" katanya
kemudian.

Selesai berkata, dia lantas mengundurkan diri ke


samping To Siau-hou sambil berbisik, "To-heng, orang
ini memiliki ilmu pukulan yang amat sakti dan jahat
sekali, kau harus berhati-hati."

"Andai aku mati, tolong Ko-heng sudi mengirim


jenazahku kembali ke markas Kay-pang!"

Dalam pada itu Jit-kaucu hanya duduk diam di dalam


tandu, tirai tandu masih tertutup rapat sehingga secara
lamat-lamat cuma nampak bayangan orang saja.
Pendekar Cacat 152

Dengan pedang terhunus To Siau-hou berjalan ke muka


dan baru berhenti di depan tandu, kemudian tegurnya,
"Jit-kaucu, dengan cara inikah kau hendak menerima
seranganku?"

"Hm, tak usah banyak bicara, lancarkan saja


seranganmu!" seru Jit-kaucu dingin.

Dengan kening berkerut To Siau-hou segera mengayun


pedang menyambar tirai tandu.

"Kau ingin mampus rupanya!" bentakan nyaring


berkumandang.

Bagaikan sukma gentayangan tiba-tiba muncul sebuah


lengan putih mulus dari balik tandu, kemudian jari
tangannya yang ramping menyentil ke muka.

Pedang To Siau-hou terpental oleh suatu kekuatan maha


dahsyat.

"Aduh, celaka!" pekik To Siau-hou.

Dia ingin membuang pedangnya sambil mundur, siapa


tahu telapak tangan membalik ke atas. Sekilas cahaya
merah segera memancar keluar, segulung tenaga
pukulan yang maha dahsyat bagaikan gelombang ombak
di tengah samudra langsung menghajar tubuh To Siau-
Pendekar Cacat 153

hou.

Dengusan tertahan bergema, To Siau-hou berikut


pedangnya terpental oleh tenaga pukulan yang maha
dahsyat itu.

Sekali pun sepasang kakinya dapat mencapai tanah lebih


dahulu hingga tubuhnya tidak terbanting, tak urung
tubuhnya berguncang keras, lutut gemetar dan hampir
saja tak sanggup menahan diri.

Dengan cepat Bong Thian-gak memburu ke muka,


serunya dengan cemas, "To-heng, parahkah lukamu?"

Sementara itu peluh dingin telah bercucuran membasahi


wajah To Siau-hou, kulit mukanya mengejang menahan
penderitaan yang luar biasa, katanya dengan suara
gemetar, "Ilmu silat perempuan ini teramat hebat, harap
Ko-heng jangan menghadapinya dengan kekerasan."

Kedua gadis muda itu sudah menggotong kembali


tandunya dan siap berlalu dari situ.

Dengan cepat Bong Thian-gak melompat ke depan


sambil membentak nyaring, "Tunggu sebentar!"
Pendekar Cacat 154

Sepasang telapak tangannya diayunkan ke depan


melepas dua gulung angin pukulan dahsyat ke tubuh
kedua gadis muda itu.

"Turunkan tandu dan cepat mundur!" seruan nyaring Jit-


kaucu berkumandang dari balik tandu.

Tapi sayang, keadaan terlambat, kedua gulung angin


pukulan Bong Thian-gak secepat sambaran petir telah
menyapu ke depan.

Dua jeritan kaget segera berkumandang memecah


keheningan.

Kedua gadis pemikul tandu terhantam oleh kedua


gulung angin pukulan itu hingga badannya terpental dan
roboh terjengkang ke atas tanah.

Tandu kecil itu pun terjatuh ke tanah.

Begitu berhasil menyapu kedua gadis itu, dengan


serangan bagaikan naga sakti bermain di udara, Bong
Thian-gak segera menerjang tandu itu.

Mendadak sebuah pergelangan tangan menerobos


keluar dari balik tandu, dengan cepat Bong Thian-gak
mengayun telapak tangan kanannya melepaskan sebuah
bacokan dengan kecepatan tinggi.
Pendekar Cacat 155

Tetapi telapak tangan lawan bergerak sangat lincah,


sedikit menggeser tahu-tahu sudah terhindar dari
bacokan, kemudian dengan lima jari dibentangkan
bagaikan kaitan, dia balik mematuk pergelangan tangan
kanan Bong Thian-gak.

Begitulah, kedua jago lihai masing-masing melepas


serangan dengan menggunakan tangan sebelah, kedua
belah pihak bergerak dengan kecepatan luar biasa serta
kelincahan yang mengagumkan. Pertarungan
berlangsung bertambah sengit.

Perlu diketahui, arah ancaman serangan kedua orang itu


selalu berkisar antara jalan darah Huo-ko-hiat dan Meh-
bun-hiat, padahal kedua jalan darah itu merupakan Hiat-
to mematikan di tubuh manusia, sekali salah
perhitungan maka akibatnya akan mengenaskan.

Bong Thian-gak membentak keras, tiba-tiba dia


mengayun kaki kanannya menendang urat nadi
pergelangan tangan lawan, kemudian tangan kanan
menyambar ke bawah mencengkeram tirai yang
menutup tandu itu.

Agaknya Jit-kaucu yang berada dalam tandu pun sudah


dibikin berkobar amarahnya, tangannya bagaikan ular
lincah yang keluar dari gua bergerak kian kemari dengan
teramat cepat, secara lincah dan cekatan dia selalu
Pendekar Cacat 156

berhasil meloloskan diri dari serangan gencar Bong


Thian-gak.

Mendadak Jit-kaucu menarik telapak tangannya ke


dalam, tapi secara tiba-tiba dikeluarkan kembali, selisih
waktunya hanya beberapa detik saja.

Ketika telapak tangannya keluar dari balik tirai, sekilas


cahaya merah segera memancar keempat penjuru.

Bong Thian-gak segera tahu perempuan itu hendak


mengeluarkan ilmu pukulan maha saktinya, dia
membentak keras, segenap tenaga dalamnya dihimpun
pada tangan kiri, lalu diayun ke muka mengikuti gerakan
tubuhnya yang menyelinap keluar.

Dalam waktu singkat dua gulung tenaga pukulan telah


saling bentur, ledakan nyaring menggelegar, pusaran
angin disertai desingan angin tajam menderu-deru di
angkasa.

Bong Thian-gak melayang turun, berbareng tangan


kanannya telah bertambah dengan sebuah kain cadar
hitam, akhirnya wajah asli Jit-kaucu kelihatan juga di
depan mata.

Setelah tirai tandu terlepas, tampaklah di dalam tandu


duduk seorang gadis cantik berbaju biru, sepasang
Pendekar Cacat 157

matanya jeli memancarkan sinar tajam membetot


sukma, saat itu sorot matanya sedang memandang wajah
Bong Thian-gak tanpa berkedip.

Sebaliknya Bong Thian-gak yang dapat melihat wajah


cantik dalam tandu itu segera merasa tubuhnya gemetar
keras tanpa terasa, cadar itu sudah terlepas ke atas
tanah.

Ternyata raut wajah si nona cantik ini amat dikenal


olehnya, sekali pun memejamkan mata Bong Thian-gak
pun bisa melukiskan setiap bagian tubuhnya secara
nyata dan jelas.

"Ah, rupanya dia!" pekik anak muda itu dalam hati.

Dia menggeleng kepala berulang kali sambil


memejamkan mata, kemudian sekali lagi menatap wajah
gadis itu lekat-lekat.

"Ya, betul! Memang dia, dialah si gadis telanjang bulat di


rumah pelacuran Kang-san-bi-jin-lau."

Sementara itu perempuan cantik dalam tandu itu seolah


teringat pula akan sesuatu persoalan setelah
menyaksikan sikap Bong Thian-gak yang melongo itu,
dia pun berseru tertahan, lalu mukanya berubah merah
padam, tubuhnya gemetar keras karena emosi.

Suasana hening menyelimuti tempat itu, sepasang muda-


mudi itu dengan membawa rahasia masing-masing
hanya termenung sambil membungkam.
Pendekar Cacat 158

Dalam keadaan demikian, bukan cuma To Siau-hou saja,


bahkan ketiga gadis berbaju hijau pun tidak habis
mengerti apa sebabnya kedua orang itu tertegun dan
termangu-mangu seperti orang kehilangan sukma
setelah saling bertatap muka.

Mendadak terdengar Jit-kaucu yang berada dalam tandu


berkata, "Sialan, bocah keparat yang tidak tahu malu!"

Ucapan itu membuat Bong Thian-gak merasa malu sekali


sehingga menundukkan kepala, namun dia tak
mengucapkan sepatah kata pun.

Mendadak terdengar Jit-kaucu membentak keras, "Ing


Soat, kalau tidak pergi mau tunggu apa lagi?"

Kedua gadis pemikul tandu dan gadis baju hijau yang


membawa pedang buru-buru mengangkat tandu kecil itu
dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun berlalu dari
situ.

Suara keliningan nyaring berkumandang makin


menjauh.

Menanti suara keliningan itu menjauh, Bong Thian-gak


seolah baru mendusin dari lamunannya, ia berseru
tertahan sambil berpaling.

Dijumpainya Giok-bin-giam-lo To Siau-hou telah


menempelkan pedang di atas pinggang kiri sendiri.

"To-heng, apa maksudmu?" tegur Bong Thian-gak.


Pendekar Cacat 159

Dengus napas To Siau-hou agak tersengal, katanya,


"Siapakah perempuan itu?"

"Siapa lagi, tentu saja Jit-kaucu!" sahut Bong Thian-gak


dengan wajah tertegun.

To Siau-hou tertawa dingin, "Ko-heng, kau tak usah


berlagak pilon, sewaktu mata kalian saling bertemu,
paras muka kalian berdua segera berubah tak menentu,
sudah jelas kalian adalah kenalan lama, mengapa Ko-
heng mengatakan tidak tahu?"

Bong Thian-gak menghela napas panjang, "Ai, betul,


sebelumnya aku memang pernah sekali berjumpa
dengannya, tapi aku tidak tahu siapakah dia. Ucapan
Siaute adalah sejujurnya bila aku bohong biar Thian
mengutuk aku!"

Mendadak To Siau-hou menarik kembali pedangnya,


kemudian dia muntah darah sebanyak dua kali, setelah
mundur sempoyongan, tubuhnya roboh terjengkang ke
tanah.

Menanti Bong Thian-gak membalik tubuhnya, To Siau-


hou sudah tergeletak dengan wajah pucat-pias seperti
mayat, tanpa terasa teriaknya dengan terkejut, "To-heng,
mengapakah kau?"

"Ko-heng, maafkanlah aku, aku telah salah sangka


kepadamu," bisik To Siau-hou dengan lemah.
"Aku.mungkin sudah tak bisa ditolong lagi! Ilmu
pukulannya sangat jahat dan lihai ... sekarang tubuhku
Pendekar Cacat 160

mulai terasa berkerut kencang, sekujur tubuhku


kedinginan setengah mati."

Bong Thian-gak pernah menyaksikan bagaimana cara Jit-


kaucu membunuh orang, ia menjadi terperanjat sekali,
segera pikirnya, "Entah apa nama pukulan ilmu saktinya
itu? Aku tak bisa ilmu pengobatan. Ai, apa yang mesti
kulakukan sekarang?"

Makin dipikir hatinya semakin gelisah sehingga tanpa


terasa dia menghentakkan kaki ke tanah, serunya
kemudian, "To-heng, apa yang harus kita lakukan
sekarang?"

Agaknya To Siau-hou sudah tahu tiada harapan baginya


untuk hidup, sikapnya malah tampak jauh lebih tenang,
katanya, "Ko-heng, setelah aku mati, tolong antarkan
jenazahku ke markas besar Kay-pang di Sucwan,
kemudian ceritakanlah nasib yang kualami ini kepada
guruku, ketua Kay-pang

"To-heng, cepat kau pikirkan sebentar apakah di sekitar


sini ada tabib pandai!" seru Bong Thian-gak gelisah.

Sambil tertawa getir To Siau-hou menggeleng kepala


berulang kali, "Tidak ada! Sebelum menemui ajal Bu-
siang-long-hou-ciang pernah berkata bahwa Jit-kaucu
telah berhasil memiliki sejenis ilmu pukulan maha sakti
yang tiada tandingan di dunia ini, barang siapa terkena
pukulannya itu, hanya kematian yang akan dialaminya,
tiada obat yang bisa menyembuhkannya!"
Pendekar Cacat 161

"Ai, aku memang kelewat tinggi hati dan gegabah, sekali


pun tahu kelihaian ilmu pukulan lawan, aku tetap nekat
menghadapinya, aku memang patut mampus!"

Cepat Bong Thian-gak menggeleng, katanya, "Tiada


pukulan yang tak bisa disembuhkan di dunia ini, asal
diketahui namanya, aku bisa mengusahakan
penyembuhan bagimu. Cuma aku kuatir waktu tidak
mengizinkan lagi."

"Aku pun mengerti sedikit ilmu pertabiban, menurut


keadaan luka yang kuderita sekarang, mungkin tak akan
bisa bertahan sampai tengah malam nanti."

Tiba-tiba Bong Thian-gak berkata, "To-heng, mari


kubimbing kau pergi ke tempat sepi, kemudian aku akan
mencari Jit-kaucu, aku akan bertanya kepadanya ilmu
pukulan apa yang telah dia pergunakan untuk melukai
dirimu."

"Terima kasih Ko-heng!" To Siau-hou tertawa sedih.


"Ilmu silat Jit-kaucu sudah kau ketahui sendiri, bila Ko-
heng mengalami hal-hal yang tak diinginkan gara-gara
urusanku, bagaimana mungkin arwahku di alam baka
bisa tenteram?"

Mencorong sinar tajam di balik mata Bong Thian-gak,


serunya, "Kecuali berbuat demikian, tiada cara lain yang
bisa dipakai untuk menyelamatkan nyawa To-heng."

Meski hanya beberapa patah kata yang singkat, namun


terpancar sifat ksatria dan kegagahan Bong Thian-gak.
Pendekar Cacat 162

"Ko-heng, budi kebaikanmu sungguh sangat


mengharukan, sampai mati pun Siaute tak akan
melupakanmu."

Bong Thian-gak tak bicara lagi, dia segera memayang To


Siau-hou dan membawanya ke balik semak yang agak
tersembunyi, lalu katanya, "Harap To-heng menunggu di
sini, Siaute akan segera mengejar Jit-kaucu, paling
lambat satu setengah jam aku akan balik ke sini."

"Tidak usah! Lebih baik menemani aku saja di sini!"

"To-heng!" seru Bong Thian-gak dengan suara dalam.


"Meski kau menganggap kematian bagaikan pulang ke
rumah, tapi pernahkah kau bayangkan kematianmu
merupakan hilangnya seorang Enghiong bagi dunia
Kangouw? Pihak manusia laknat akan kehilangan musuh
tangguh?"

Air mata meleleh membasahi wajah To Siau-hou,


serunya pelan, "Ko-heng, bila kepergianmu mengundang
bencana bagimu sendiri, dunia persilatan lebih-lebih
akan kehilangan seorang pendekar berjiwa ksatria, apa
lagi dengan kematian kita berdua maka tak ada yang
tahu siapakah pembunuh kita itu."

"Tak usah kuatir, To-heng," ucap Bong Thian-gak sambil


menahan rasa pedih dalam hati. "Aku tak bakal mati di
tangan Jit-kaucu, nah, aku pergi dulu."
Pendekar Cacat 163

Tidak menanti jawaban To Siau-hou lagi, dia segera


melompat bangun dan berlalu dari situ dengan
mengerahkan Ginkangnya.

Sejak dapat melihat jelas raut muka Jit-kaucu, Bong


Thian-gak yakin dia adalah gadis yang pernah
dijumpainya di Kang-san-bi-jin-lau, maka dia segera
mengerahkan Ginkangnya menuju ke Kay-hong.

Tak lama kemudian Bong Thian-gak telah masuk ke kota


Kay-hong, buru-buru dia menuju ke tempat hiburan dan
berhenti di luar rumah pelacuran Kang-san-bi-jin-lau.

Setelah ragu sejenak, dia membalik badan menuju ke


halaman belakang, dari situ dia masuk dengan
melompati pagar, ketika tiba di luar loteng, ia saksikan
cahaya lentera menerangi seluruh ruangan, sesosok
bayangan bertubuh indah sedang duduk di dekat
jendela.

Bong Thian-gak memeriksa sekeliling tempat itu, ia


jumpai cahaya lampu pun menerangi hampir setiap
jendela, suara pembicaraan tiada hentinya
berkumandang, tapi di halaman kecil yang terpencil itu
justru suasananya amat hening, tak seorang pun
ditemukan di situ.
Pendekar Cacat 164

Tanpa ragu lagi dia melompat naik ke atas pagar loteng,


agaknya perempuan cantik di balik jendela telah
mengetahui kedatangannya, dia menggoyang sedikit
kepalanya untuk berpaling, sementara tubuhnya masih
tetap duduk di kursi.

Setelah berdehem pelan, Bong Thian-gak segera


menyapa, "Jit-kaucu di dalam?"

Perempuan cantik di balik jendela tidak bergerak, tapi


terdengar ia menegur dengan suara sedingin es, "Kau
adalah berandal hidung bangor, besar betul nyalimu!"

"Jit-kaucu, aku bukan berandal cabul...."

Tidak menanti Bong Thian-gak menyelesaikan kata-


katanya, kembali perempuan itu mengumpat, "Kalau kau
bukan berandal cabul hidung bangor, mengapa di tengah
malam buta mengintip kamar tidur kaum wanita?"

***
Pendekar Cacat 165

3
MENJEBAK SAM KAUCU, SI KU LO HWESIO PALSU

B ong Thian-gak menghela napas panjang, "Ai, pada


peristiwa kemarin dulu, biar kujelaskan nanti
secara pelan-pelan, malam ini aku ….”

"Ada urusan apa?"

"Aku ingin bertanya kepada Jit-kaucu, dengan ilmu


pukulan apakah kau melukai Giok-bin-giam-lo?"

"Dia belum mampus?" tanya perempuan itu hambar.

"Belum, tapi sudah tak jauh dari ambang pintu


kematian."

"Kalau sudah mampus lebih baik lagi, buat apa kau


menanyakan ilmu pukulan yang kupakai untuk
membunuhnya?"
Pendekar Cacat 166

Bong Thian-gak mengerut dahi, lalu menjawab dengan


suara dalam, "Mengapa kau memandang enteng nyawa
manusia? Ketahuilah, Thian menciptakan manusia
dengan harapan banyak berbuat kebajikan, kegemaran
Jit-kaucu membunuh orang benar-benar telah melanggar
perintah Thian."

Tiba-tiba perempuan cantik itu tertawa dingin, suaranya


amat menyeramkan penuh dengan nada membunuh,
membuat orang yang mendengar berdiri bulu kuduknya.

Mendadak suara tawa itu sirap, lalu terdengar


perempuan cantik itu bertanya lagi dengan hambar,
"Kau berani masuk kemari?"

Terkesiap hati Bong Thian-gak, segera sahutnya,


"Mengapa tidak?"

Sambil berkata, pelan-pelan Bong Thian-gak berjalan


menuju ke pintu dan mendorongnya.

Pintu itu tidak terkunci dan segera terbuka ketika


didorong, Bong Thian-gak yang berilmu tinggi dan
bernyali besar segera melangkah masuk dengan dada
dibusungkan.

Waktu itu Jit-kaucu sedang duduk membelakangi pintu,


sekali pun tahu Bong Thian-gak masuk, namun sama
sekali ia tidak berpaling, hanya tangan kirinya yang
Pendekar Cacat 167

putih bersih menuding ke sebuah kursi bulat di


sampingnya, katanya, "Duduklah!"

Dengan sorot mata tajam Bong Thian-gak memandang


sekejap kursi bulat itu, setelah tidak melihat sesuatu
gejala aneh, dia pun menurut dan berduduk.

Kini separoh wajah nona yang cantik sudah kelihatan


dengan jelas.

Di bawah cahaya lentera, terlihat jelas perempuan itu


memang berwajah cantik jelita, kecantikannya ibarat
bidadari yang baru turun dari kahyangan.

Diam-diam Bong Thian-gak menghela napas, pikirnya,


"Dengan wajah yang begitu cantik, mengapa justru
dilahirkan dengan hati yang busuk, jelek dan jahat? Ai,
benar-benar patut disayangkan!"

Mendadak terdengar Jit-kaucu menegur, "Hei, apa yang


sedang kau pikirkan?"

Suaranya merdu bagai kicau burung nuri, sungguh


mempesona hati siapa pun.

Entah sedari kapan Jit-kaucu telah membalikkan badan,


kini jarak kedua orang itu dekat sekali, ketika angin
Pendekar Cacat 168

berhembus, terendus bau harum semerbak yang


membuat hati menjadi mabuk.

Bong Thian-gak menarik napas, kemudian berkata


dengan suara nyaring, "Aku sedang berpikir, mengapa
Kaucu berwajah begitu cantik."

"Dan kau pun sedang berpikir, mengapa hatiku begitu


kejam tak kenal perasaan begitu, bukan?" sela Jit-kaucu
sambil tersenyum.

Bong Thian-gak tertegun, kemudian ujarnya, "Benar-


benar amat lihai! Darimana kau tahu akan jalan
pikiranku?"

Tiba-tiba paras muka Jit-kaucu berubah hebat, serunya


lagi, "Nyalimu sungguh besar, mungkin di kolong langit
dewasa ini belum ada orang kedua yang berani duduk
sedemikian dekat denganku."

"Bila Jit-kaucu hendak turun tangan keji kepadaku, tadi


kau sudah turun tangan!"

Jit-kaucu segera bangkit, lalu pelan-pelan berjalan


menuju ke depan pintu, dia mendongakkan kepala
memandang kegelapan malam, sambil membetulkan
rambutnya yang panjang terurai ia berjalan kembali.
Pendekar Cacat 169

Langkah kakinya yang lemah gemulai itu sangat


menawan dan mendatangkan daya pikat, pada
hakikatnya kecantikan maupun gerak-gerik perempuan
itu dapat membuat orang lupa daratan.

Pelan-pelan dia berjalan ke hadapan Bong Thian-gak,


kemudian secara tiba-tiba menempelkan telapak
tangannya ke jalan darah Pek-kwe-hiat di ubun-ubun
Bong Thian-gak.

Sambil tertawa terkekeh-kekeh, Jit-kaucu


menyingkirkan kembali telapak tangannya, lalu berkata,
"Ko Hong, sebelumnya kau sudah tahu bila aku tidak
berniat membunuhmu, maka kau bersikap begini tenang
dan bernyali!"

"Apa maksud perkataanmu itu?"

"Ketika di hutan depan kuil, bukankah kau telah


mendengar banyak rahasia perkumpulan kami?"

Mendengar itu, Bong Thian-gak menjadi terkejut,


pikirnya, "Kalau begitu dia sudah tahu aku sudah
menyadap pembicaraannya dari dalam hutan! Jadi
kematian Lo Gi, pelindung Sam-kaucu adalah gara-gara
perbuatanku ."
Pendekar Cacat 170

Sementara itu Jit-kaucu telah berkata lagi sambil


tersenyum, "Kalau kau sudah mendengar sebagian besar
rahasia kami, maka sekarang hanya ada dua jalan yang
bisa kau pilih, pertama adalah jalan kematian, sedang
kedua adalah masuk menjadi anggota Put-gwa-cin-kau.
Asal kau bersedia, aku dapat memberi kedudukan
sebagai seorang Kaucu."

"Kau mengundang aku masuk menjadi anggota Put-gwa-


cin-kau, apakah kau tidak kuatir aku akan menyusahkan
dirimu?"

"Apa maksudmu?"

"Kau belum tentu tahu riwayat hidupku dan lagi setelah


menjadi anggota perkumpulan, belum tentu aku setia
pada perkumpulan dengan tulus hati, apalagi menyuruh
aku mencapai Put-gwa (tanpa aku)?"

Jit-kaucu manggut-manggut, "Benar, kalau begitu kau


hanya ingin menempuh jalan kematian?"

Kembali Bong Thian-gak tersenyum, "Dari dulu hingga


kini tiada seorang pun yang bisa lolos dari kematian, apa
yang kutakuti? Cuma ...."

"Cuma kenapa?"

"Aku tak akan mati muda," sahut Bong Thian-gak dengan


sinar mata mencorong tajam.
Pendekar Cacat 171

Mendadak Jit-kaucu menatap wajah Bong Thian-gak


lekat-lekat.

Bong Thian-gak tertegun, lalu berpikir, "Mungkinkah dia


akan turun tangan keji kepadaku?"

Maka secara diam-diam dia lantas menghimpun tenaga


dalamnya untuk bersiap.

Lewat setengah jam kemudian, terdengar Jit-kaucu


berkata lagi dengan suara hambar, "Hampir saja aku
kena kau kelabui, rupanya wajahmu telah kau ubah
dengan obat penyamar, kalau begitu Ko Hong pun bukan
namamu yang sebenarnya!"

Bong Thian-gak merasa perempuan ini lihai sekali,


"Padahal obat penyaruan yang kugunakan merupakan
obat paling baik di dunia, malah penyaruanku amat
sempurna, buktinya Ku-lo Hwesio dan Toa-suheng serta
para jago tiada yang tahu, tak nyana dia berhasil
mengetahui sekali pandang saja."

Jit-kaucu berkata, "Sebenarnya kau telah melakukan


perbuatan apa yang malu diketahui orang hingga tak
berani memperlihatkan raut wajah aslimu?"

"Bukankah Jit-kaucu pun demikian?"


Pendekar Cacat 172

Jit-kaucu tertegun, lalu serunya, "Tapi aku tidak


menyaru!"

"Walaupun kau tak menyaru, tapi gerak-gerikmu sangat


rahasia, tanpa nama, tanpa asal-usul, bukankah kau pun
sudah melakukan suatu perbuatan yang takut diketahui
orang?"

"Siapa bilang aku tak punya nama?" teriak Jit-kaucu


gusar.

"Kalau begitu siapa namamu?"

"Kau tidak berhak mengetahui namaku."

Mendadak Bong Thian-gak menunjukkan wajah serius,


katanya, "Apa nama ilmu pukulanmu?"

"Buat apa kau menanyakan soal ini?"

"Aku hendak mengobati luka To Siau-hou."

Mendengar itu, Jit-kaucu tertawa terkekeh-kekeh, "Kau


anggap setelah mengetahui ilmu pukulanku, maka
nyawa To Siau-hou bisa diselamatkan? Hehehe, kalau
begitu kuberitahu kepadamu!"
Pendekar Cacat 173

"Apa namanya?" kembali Bong Thian-gak bertanya


dengan cemas

"Itulah pukulan Jian-yang-ciang (Pukulan cacat) salah


satu jurus dari ilmu Soh-li-jian-yang-sin-kang!"

"Soh-li-jian-yang-sin-kang," seru Bong Thian-gak


terkejut.

Dengan wajah berubah hebat dia melompat bangun,


kemudian bagaikan burung walet menembusi jendela,
dia lantas berlalu.

Bong Thian-gak tidak menunjukkan pertanda hendak


berlalu ditambah pula gerakan tubuhnya kelewat cepat,
dalam waktu singkat bayangan tubuhnya tahu-tahu
sudah lenyap.

Jit-kaucu yang menyaksikan kejadian itu tertegun dan


duduk melongo, seperti merasa kehilangan sesuatu dia
duduk dengan wajah bingung.

Sementara itu Bong Thian-gak dengan suatu gerakan


yang amat cepat telah meninggalkan loteng itu, dia
segera mengembangkan ilmu meringankan tubuhnya
keluar kota Kay-hong langsung menuju ke pinggir kota.

Malam sudah semakin kelam, tengah malam pun sudah


menjelang tiba, di tengah keheningan yang mencekam
terasa suatu kemisteriusan yang menyeramkan.
Pendekar Cacat 174

Dengan hati risau dan gelisah Bong Thian-gak menuju


tempat persembunyian To Siau-hou, siapa tahu suasana
di sekeliling tempat itu sangat hening dan tak nampak
bayangan orang pun.

Dengan kening berkerut dan sorot mata tajam, Bong


Thian-gak memandang sekejap sekeliling tempat itu.

Angin malam berhembus menggoyang rumput dan


dedaunan, kecuali bunyi jangkrik dan binatang kecil,
suasana di situ amat hening hingga terasa menakutkan,
ternyata tak nampak bayangan To Siau-hou.

Bong Thian-gak menjadi amat gelisah, segera teriaknya,


"To-heng! Dimana kau?"

Ia berteriak berulang kali, tapi malam tetap hening, tiada


jawaban.

Bong Thian-gak tahu To Siau-hou sudah menderita luka


sangat parah, mustahil dia bisa meninggalkan tempat itu,
maka dia mulai berjalan mengelilingi tempat itu
melakukan pencarian dengan seksama.

Aneh! Sudah beberapa kali dia melakukan pencarian,


tapi tetap tak nampak bayangan To Siau-hou?
Pendekar Cacat 175

"Jangan-jangan dia sudah ditolong orang?"

"Tapi siapakah yang menolongnya?"

Bong Thian-gak memeras otak memikirkan ini.

Pencarian pun kembali dilakukan ke sekeliling tempat


itu.

Akhirnya di atas sebuah batu cadas di pinggir jalan, Bong


Thian-gak menemukan sesosok bayangan sedang duduk
bersila di sana.

Dengan dua kali lompat saja Bong Thian-gak sudah


mencapai depan batu cadas itu.

Ternyata adalah Hwesio tua berbaju abu-abu, sepasang


kakinya tertekuk membentuk sikap bersila, di atas
lututnya terletak sebuah Hud-tim, sedang di atas
dadanya tergantung seuntai tasbih.

Waktu itu si Hwesio duduk sambil memejamkan mata


rapat-rapat, tubuhnya sama sekali tidak bergerak.

Sesudah melihat jelas raut wajah Hwesio tua itu, Bong


Thian-gak membatin, "Ah, Ku-lo Sinceng."

Ternyata Hwesio tua yang duduk di atas batu cadas itu


adalah Ku-lo Hwesio dari Siau-lim-pay.
Pendekar Cacat 176

Dia menjadi teringat peringatan To Siau-hou, "Ku-lo


Hwesio telah menurunkan perintah untuk
membunuhmu".

Dengan terkesiap dan tanpa mengucap sepatah kata pun,


Bong Thian-gak segera membalikkan badan dan berlalu
dari situ.

"Omitohud! Harap Sicu tunggu sebentar," suara sapaan


lembut berkumandang.

Bong Thian-gak membalikkan badan dengan kecepatan


bagaikan kilat.

Tampak mencorong sinar lembut dari balik mata Hwesio


tua itu, meski lembut tapi tajam sekali hingga
menggetarkan perasaan orang.

"Sinceng ada petunjuk apa?" tanya Bong Thian-gak


dengan suara nyaring.

Hwesio tua itu tetap duduk di atas batu cadas tanpa


bergerak, tapi wajahnya agak bergetar, ujarnya, "Sicu,
usiamu masih muda, tapi tenaga dalammu sudah sampai
puncak kesempurnaan, tolong tanya, Siauhiap berasal
dari perguruan mana?"
Pendekar Cacat 177

Bong Thian-gak tertegun, kemudian jawabnya, "Taysu,


maaf bila Wanpwe mempunyai kesulitan yang tak dapat
diutarakan."

Hwesio tua itu termenung sebentar, lalu sambil


mengelus jenggot putihnya dia bertanya lagi, "Sicu,
apakah kau sedang mencari To-siauhiap dari Kay-pang?"

Bong Thian-gak mengangguk, "Tolong tanya apa Taysu


melihat jejaknya?"

"To-siauhiap telah menderita luka yang cukup parah,


nyawanya dalam keadaan gawat, Lolap telah
memerintahkan dua orang muridku untuk mengirimnya
ke suatu tempat yang tenang guna memperoleh
perawatan dan pengobatan yang diperlukan."

Mendengar perkataan itu, Bong Thian-gak merasa agak


lega, buru-buru dia bertanya lagi, "Tolong tanya, apakah
luka yang diderita To-siauhiap makin parah?"

"Ketika Lolap menemukannya, dia sudah pingsan,


nyawanya berada di ujung tanduk. Sicu, dapatkah kau
terangkan To-siauhiap terluka oleh pukulan apa?"

Bong Thian-gak menghela napas panjang, "Dia terkena


pukulan Jit-kaucu, ai! Mungkin luka itu sukar untuk
disembuhkan!"
Pendekar Cacat 178

Mendengar perkataan itu, paras si Hwesio berubah


hebat.

"Kalau begitu, To-siauhiap telah terkena pukulan Jian-


yang-ciang dari Soh-li-jian-yang-sin-kang?"

Dengan terkesiap Bong Thian-gak segera berpikir,


"Sungguh lihai sekali Hwesio ini, ternyata dia pun
mengetahui tentang ilmu Soh-li-jian-yang-sin-kang,
mungkinkah dia sudah bertemu dengan Jit-kaucu?"

Berpikir demikian, sahutnya kemudian sambil menghela


napas, "Benar, To-siauhiap memang terkena pukulan
Jian-yang-ciang dari Jit-kaucu!"

Mendengar ucapan itu, tiba-tiba mencorong tajam mata


Hwesio tua itu, ia menatap wajah Bong Thian-gak lekat-
lekat, kemudian bertanya pula, "Sicu, darimana kau bisa
mengetahui ilmu pukulan Jian-yang-ciang?"

"Wanpwe mengetahui hal ini dari mulut Jit-kaucu


sendiri."

Rasa kaget dan tercengang segera menghias wajah


Hwesio tua itu, segera tegurnya dengan suara dalam,
"Sicu, sebenarnya siapa kau?"
Pendekar Cacat 179

Bong Thian-gak menghela napas panjang, "Taysu, tidak


usah menaruh curiga terhadap Wanpwe, aku bukan
anggota Put-gwa-cin-kau!"

Hwesio tua itu semakin terperanjat, kembali dia berkata,


"Sicu, agaknya kau telah mengetahui banyak rahasia,
dari sembilan partai persilatan dewasa ini, kecuali Lolap
seorang, boleh dibilang tidak banyak orang yang
mengetahui Put-gwa-cin-kau?"

Sampai di situ Ku-lo Hwesio berhenti sejenak, seolah


termenung beberapa saat, dia pun melanjutkan, "Sicu,
kau enggan menyebut nama perguruanmu, tapi bersedia
menyebutkan namamu bukan?"

Bong Thian-gak tertegun, lalu sahutnya, "Aku bernama


Ko Hong, buat apa Sinceng mesti menaruh prasangka
jelek kepadaku?"

Terlintas cahaya tajam dari balik mata Hwesio tua itu,


tiba-tiba dia berkata, "Siancay! Siancay! Lolap baru
pertama kali ini berjumpa dengan Sicu, sebelum malam
ini kita tak pernah berjumpa, mengapa Lolap mesti
berprasangka buruk terhadap Sicu? Tapi setiap ucapan
Sicu justru merupakan rahasia yang sedang diselidiki
semua umat persilatan, apakah hal ini tak membuat
Lolap terperanjat?"
Pendekar Cacat 180

Ucapan itu membuat Bong Thian-gak tertegun, serunya


kemudian dengan wajah tercengang, "Sinceng, mengapa
kau mengatakan malam ini adalah perjumpaan kita yang
pertama kali?"

Secara tiba-tiba saja Bong Thian-gak merasa apa yang


diucapkan Ku-lo Hwesio malam ini terdapat banyak
keanehan, tindak-tanduk maupun gerak-geriknya
berbeda dengan tempo hari. Mungkinkah dia bukan Ku-
lo Hwesio pendeta agung dari Siau-lim-si?

"Omitohud! Sicu, apakah kau tahu siapakah Loceng?"


tanya Hwesio tua itu tiba-tiba.

Bong Thian-gak tertegun. "Wanpwe justru ingin


menanyakan nama Sinceng!" serunya cepat.

Bong Thian-gak tidak percaya kalau matanya telah salah


melihat orang, meski dia dan Ku-lo Hwesio hanya bersua
secara sepintas saja, jika berjumpa kembali pada waktu
yang sangat lama, bisa saja kekeliruan itu terjadi.

Tetapi dia baru saja berpisah dengan Ku-lo Hwesio pagi


ini, lagi pula raut wajah pendeta itu sekali pun dia
diharuskan melukis dengan mata terpejam pun, pemuda
itu sanggup melakukannya, bagaimana mungkin bisa
keliru.

Hwesio tua ini sudah jelas adalah Ku-lo Hwesio dari


Siau-lim-pay.
Pendekar Cacat 181

Tatkala Hwesio tua itu menyaksikan paras muka Bong


Thian-gak berubah tak menentu, pelan-pelan dia
berkata. "Lolap adalah Ku-lo dari Siau-lim-si...."

"Benar! Kau memang Ku-lo Hwesio dari Siau-lim-si!"


pekik Bong Thian-gak dalam hati.

Sementara itu Hwesio tua itu telah melanjutkan kembali


kata¬katanya setelah berhenti sejenak, "Sejak delapan
tahun lalu, Pinceng selalu menutup diri di dalam kuil
Siau-lim-si, baru belakangan ini Pinceng menyelesaikan
semediku dan buru-buru menuju ke Kay-hong, sampai di
sini pun paling baru beberapa jam lalu, mengapa Lolap
tak boleh mengatakan pertemuanku dengan Sicu pada
malam ini adalah pertemuan kita yang pertama kali?"

Benak Bong Thian-gak mendengung keras sesudah


mendengar ucapan itu, pikirnya, "Aneh, mengapa bisa
muncul dua orang Ku-lo Sinceng? Yang satu sudah tiba di
gedung Bu-lim Bengcu sejak tiga hari berselang, sedang
yang lain baru tiba di Kay-hong pada malam ini, padahal
raut wajah mereka berdua persis. seperti pinang dibelah
dua, lantas yang manakah baru Ku-lo Sinceng yang asli?"

Benar-benar merupakan suatu peristiwa besar,


munculnya Ku-lo Sinceng ganda menandakan pula
betapa berbahayanya situasi dalam Bu-lim dewasa ini.
Pendekar Cacat 182

Diam-diam Bong Thian-gak membayangkan gerak-gerik


Hwesio tua itu serta membandingkan dengan gerak-
gerik Ku-lo Hwesio yang dijumpainya dalam gedung Bu-
lim Bengcu.

Tiba-tiba Bong Thian-gak menjerit kaget, "Ah! Kalau


begitu dia adalah Kaucu ...."

Paras muka Bong Thian-gak pada saat itu benar-benar


berubah hebat sekali.

Sementara Hwesio tua itu pun seakan-akan telah


menyadari akan datangnya ancaman bahaya, dengan
wajah serius ujarnya, "Sicu telah menemukan masalah
besar apa?"

"Celaka!" seru Bong Thian-gak dengan gelisah.


"Keselamatan jiwa para jago yang berada dalam gedung
Bu-lim Bengcu terancam oleh bahaya maut."

"Bagaimana penjelasan Sicu tentang perkataan ini?"

Dengan sinar mata berkilat Bong Thian-gak menatap


wajah Hwesio tua itu lekat-lekat, kemudian katanya,
"Taysu, aku ingin tahu bagaimana caramu membuktikan
bahwa kau benar-benar Ku-lo Sianceng dari Siau-lim-si?"
Pendekar Cacat 183

"Apakah di Bu-lim muncul seorang Ku-lo lagi?" tanya


Hwesio tua itu dengan paras muka berubah.

Bong Thian-gak segera manggut-manggut, "Benar,


bahkan kalian berdua mempunyai wajah dan bentuk
badan yang persis sama, bahkan perawakan tubuh
kalian pun tidak berbeda."

Mendengar perkataan itu, tiba-tiba Hwesio tua itu


memejamkan mata sambil termenung, tiba-tiba
wajahnya berubah kembali.

"Siancay! Siancay! Sungguh tak disangka peristiwa yang


terjadi pada delapan tahun berselang kini telah
berkembang menjadi suatu ancaman besar yang
mengerikan."

Sampai di situ, dia memejamkan kembali matanya


sambil termenung seorang diri.

Kurang lebih setengah peminuman teh kemudian


Hwesio itu baru membuka mata, setelah menghela napas
sedih, katanya, "Sejak delapan tahun lalu, Put-gwa-cin-
kau sudah melakukan pembunuhan terhadap jago-jago
persilatan, setelah melewati delapan tahun yang
panjang, perkembangan mereka sudah benar-benar
mencapai titik yang paling berbahaya untuk
keselamatan dunia persilatan."
Pendekar Cacat 184

"Ai! Andaikata Pinceng dapat menyadari akibatnya


semenjak delapan tahun berselang, lalu mengambil
tindakan pengamanan, niscaya keadaan tak akan
berkembang menjadi begini. Oh Ciong-hu pun tak
sampai terbunuh."

Bong Thian-gak berkerut kening mendengar perkataan


itu. Melalui berbagai dugaan dan analisanya, dia yakin
Hwesio tua di hadapannya sekarang benar-benar adalah
Ku-lo Hwesio dari Siau-lim-si, tapi dia tak habis mengerti
mengapa Ku-lo Hwesio yang asli ini baru keluar dari
masa semedinya hari ini?

Sebab kalau didengar dari pembicaraannya, pendeta itu


seperti sudah mengetahui gejala pergerakan Put-gwa-
cin-kau, mengapa dia tak berusaha menghalangi
penyebaran pengaruh Put-gwa-cin-kau?

Berpikir demikian, dengan penuh emosi Bong Thian-gak


berkata, "Seandainya sejak delapan tahun lalu Sinceng
tahu pergerakan Put-gwa-< in-kau, mengapa kau biarkan
berkembang lebih jauh?"

Ku-lo Hwesio menghela napas panjang mendengar


teguran Bong Thian-gak itu, ucapnya, "Sicu jangan emosi,
sebenarnya hingga sekarang pun Pinceng belum
mengetahui keadaan yang sesungguhnya Put-gwa-cin-
kau itu, delapan tahun berselang aku pun tak lebih hanya
Pendekar Cacat 185

berjumpa seorang anak perempuan dari Put-gwa-cin-


kau."

Setelah berhenti sejenak dan menghela napas panjang,


Hwesio itu menyambung lebih jauh, "Bercerita tentang
kejadian delapan tahun berselang, suatu malam bulan
purnama, Pinceng sedang membaca doa di ruang
belakang kuil Siau-lim-si, tiba-tiba muncul seorang gadis
muda di hadapanku, gadis itu berusia empat belas
tahunan, berparas cantik, senyumnya menawan hati dan
membuat orang terkesima. Sejak hari itulah setiap
malam selama empat puluh sembilan hari berturut-turut
gadis itu selalu muncul di bukit bagian belakang untuk
menyaksikan Pinceng berlatih, selama itu dia tak pernah
mengucapkan sepatah kata pun, pada malam kelima
puluh itulah untuk pertama kalinya dia berbicara dengan
Pinceng."

Dengan perasaan tercengang Bong Thian-gak bertanya,


"Apa yang dia katakan kepada Sinceng?"

"Dia bilang, dia murid Put-gwa-cin-kau, berhubung


mendapat perintah Cong-kaucu untuk mencelakai
Pinceng, maka dia minta Pinceng berbuat bajik dengan
menyerahkan jiwaku kepadanya."

"Lantas bagaimana jawaban Taysu?"


Pendekar Cacat 186

"Mendengar perkataan bocah perempuan yang lucu dan


sama sekali tidak membawa hawa sesat itu Pinceng
cuma tersenyum, apalagi aku belum pernah mendengar
di Bu-lim terdapat Put-gwa-cin-kau, Pinceng anggap
ucapan itu hanya perkataan bocah kecil, itulah sebabnya
Pinceng pun menjawab, 'Bila kau menginginkan jiwa
Pinceng, baiklah akan Pinceng serahkan kepadamu!'."

"Maka bocah perempuan itu pun turun tangan terhadap


Taysu?"

Kembali Ku-lo mengangguk, "Benar, bocah perempuan


itu segera berjalan mendekat dan memukul punggung
Pinceng sebanyak empat kali, kemudian ujarnya
kepadaku bahwa dia telah menggunakan ilmu pukulan
untuk melukai delapan nadi penting dalam tubuhku,
biasanya orang lain akan tewas pada hari ketujuh, tapi
berhubung tenaga dalam Pinceng sempurna, maka saat
kematiannya dapat diundur."

"Selesai mengucapkan perkataan itu, bocah perempuan


itu segera pergi, sedangkan Pinceng pun tidak mengingat
kejadian itu lagi, sebab pukulan bocah perempuan itu di
atas punggungku amat pelan, bukan saja tak bertenaga
dalam, tenaga sedikit pun tak ada. Ai, siapa tahu ilmu
silat yang ada di kolong langit memang sukar diduga
sebelumnya."

"Apakah Taysu menderita luka?" tanya Bong Thian-gak


keheranan bercampur kaget.
Pendekar Cacat 187

Ku-lo Hwesio menghela napas panjang, "Sejak itulah


Pinceng merasakan peredaran darahku tidak lancar,
terutama bila sampai pada delapan nadi pentingku,
segera akan terasa sumbatan pada aliran darahku,
lambat-laun sumbatan itu terasa makin berat dan parah,
saat itulah Pinceng baru merasa terperanjat sekali."

Bicara sampai di situ, dia menghela napas panjang,


lanjutnya, "Semua jago yang ada di kolong langit,
termasuk juga anak murid partai kami, siapa yang
menduga pengumuman pengunduran diri Pinceng pada
delapan tahun berselang sesungguhnya untuk
mengobati luka dalamku?"

Bong Thian-gak benar-benar terperanjat sekali. "Hanya


dengan empat tepukan ringan si bocah perempuan itu,
Pinceng harus berbaring delapan tahun di atas ranjang?"
serunya.

"Dalam masa delapan tahun duduk bersila menghadap


dinding, Pinceng menyadari pukulan maut itu tak lain
adalah Soh-li-jian-yang-sin-kang, tentunya Ko-siauhiap
bisa membayangkan sampai dimanakah kelihaian
pukulan sakti itu."

"Masa gadis cilik itu memiliki kepandaian sakti yang


begitu jahat? Kalau begitu dia adalah Jit-kaucu!" seru
Bong Thian-gak terperanjat.
Pendekar Cacat 188

"Dalam kitab ilmu silat, Soh-li-jian-yang-sin-kang


merupakan salah satu di antara tiga ilmu pukulan sakti,
kepandaian semacam ini tidak setiap orang bisa
mempelajari. Konon untuk berlatih kepandaian itu, dia
harus berlatih sejak berusia tiga tahun, sampai latihan
itu berhasil, keperawanannya tak boleh hilang. Ketika
kuperiksa keadaan luka yang diderita To-sicu dari Kay-
pang tadi, segera kubuktikan bahwa dia terluka akibat
pukulan Jian-yang-ciang, menurut dugaan Pinceng,
orang yang telah mencelakai To-sicu itu kemungkinan
besar adalah si bocah perempuan yang pernah Pinceng
jumpai pada delapan tahun berselang."

Mencoba memperkirakan usia Jit-kaucu, katanya, "Betul,


Jit-kaucu adalah si bocah perempuan itu."

"Setelah delapan tahun bersemedi untuk mengobati luka


yang kuderita, Pinceng telah memahami bagaimana cara
mengobati luka itu, Pinceng rasa nyawa To-sicu dari
Kay-pang itu tak akan terancam lagi, namun ilmu
silatnya sulit pulih kembali seperti sedia kala!"

Bong Thian-gak menghela napas panjang, "Ai, menurut


catatan dalam kitab ilmu silat, Soh-li-jian-yang-sin-kang
merupakan pukulan yang tak terobati, sekali pun To
Siau-hou harus kehilangan ilmu silatnya, bisa selamat
Pendekar Cacat 189

dari ancaman kematian pun telah terhitung luar biasa, ai


... tampaknya di antara orang-orang Put-gwa-cin-kau, Jit-
kaucu merupakan musuh paling tangguh bagi dunia
persilatan."

"Bila dihitung bocah perempuan itu mulai berlatih ilmu


Soh-li-jian-yang-sin-kang mulai berusia tiga tahun,
hingga hari ini mungkin sudah ada dua puluh tahun hasil
latihannya, ia sudah berlatih hingga mencapai tingkat
kesembilan, bila dibiarkan mendalami ilmu itu selama
tiga tahun lagi, maka dia akan menyelesaikan
kepandaian itu, saat itu tubuhnya akan kebal dan tiada
orang yang bisa menandinginya lagi."

Ketika berbicara sampai di situ, sepintas rasa pedih


melintas pada wajah Ku-lo Sinceng.

Walaupun Bong Thian-gak tidak memahami seluk-beluk


ilmu Soh-li-jian-yang-sin-kang, tapi dari sebuah kitab dia
pernah membaca catatan tentang ilmu Soh-li-jian-yang-
sin-kang dan ilmu itu memang merupakan ilmu paling
sesat dan paling dahsyat di kolong langit ini.

Tiba-tiba Bong Thian-gak berkata dengan suara dalam,


"Tolong tanya Taysu, apakah di dunia saat ini sudah
tiada orang yang bisa melawan Soh-li-jian-yang-sin-kang
lagi?"
Pendekar Cacat 190

Sambil menggeleng kepala Ku-lo Siceng menghela napas


panjang, "Hingga kini Lolap belum berjumpa lagi dengan
Jit-kaucu, aku pun belum begitu jelas sampai tingkat
berapakah ilmu Soh-li-jian-yang-sin-kangnya, andai
benar telah mencapai tingkat kesembilan, maka hal ini
benar-benar gawat."

"Jauh hari sebelum Pinceng keluar dari pengasingan,


telah kuutus jago-jago dari kuil kami untuk menyelidiki
situasi dalam Bu-lim serta organisasi Put-gwa-cin-kau
yang makin berkembang. Menurut hasil penyelidikan,
Kaucu pertama sampai Kaucu kesembilan Put-gwa-cin-
kau boleh dibilang merupakan jago-jago berilmu tinggi,
persoalan yang paling rumit dewasa ini adalah asal-usul
serta gerakan yang dilakukan kesembilan orang Kaucu
itu."

"Situasi dunia persilatan sekarang, musuh berada di


tempat gelap sedang kita di tempat terang, bila umat
persilatan ingin mengubah situasi, maka harus
mengubah diri ke tempat gelap, dengan cara gelap lawan
gelap itulah usaha kita untuk menyelamatkan dunia
persilatan baru akan mendatangkan hasil yang
diinginkan."

"Apa yang dimaksud dengan siasat gelap melawan


gelap?"
Pendekar Cacat 191

"Yang dimaksud siasat gelap lawan gelap adalah di luar


lingkaran sembilan partai persilatan daratan Tionggoan,
kita harus membentuk suatu organisasi penyerang yang
tangguh dan khusus untuk menjegal gerak-gerik musuh."

Sesudah mendengar ucapan Ku-lo Hwesio ini, Bong


Thian-gak merasa Hwesio tua ini agaknya sudah
mempunyai suatu rencana yang matang untuk
menghadapi pertarungan melawan Put-gwa-cin-kau di
masa mendatang.

Sejak delapan tahun lalu, Put-gwa-cin-kau telah turun


tangan keji terhadap Ku-lo Hwesio, rencana busuk
mereka ini boleh dibilang keji sekali.

Dunia persilatan dewasa ini terdapat dua pemimpin


yang paling berkuasa, mereka adalah Ku-lo Hwesio dari
Siau-lim-si serta Oh Ciong-hu, Bengcu dunia persilatan.

Bila dua orang ini sampai terbunuh, secara otomatis


dunia persilatan akan kehilangan pemimpin mereka.

Sekarang Put-gwa-cin-kau telah mengutus orang untuk


menyamar sebagai Ku-lo Hwesio dan menyusup ke
dalam gedung Bu-lim Bengcu Dari tindakan mereka ini,
tampaknya orang-orang Put-gwa-cin-kau menyangka
Ku-lo Hwesio telah tewas.
Pendekar Cacat 192

Justru karena peristiwa ini, asal umat persilatan


menggunakan siasat melawan siasat, kemudian
menangkap Sam-kaucu Put-gwa-cin-kau yang menyaru
sebagai Ku-lo Hwesio, bisa jadi orang itu akan
tertangkap basah.

Maka setelah melalui pemikiran yang mendalam, Bong


Thian-gak berkata dengan suara dalam, "Taysu, Wanpwe
hendak memberitahu satu hal kepadamu, Put-gwa-cin-
kau telah mengutus Sam-kaucu menyaru sebagai
Sinceng dan kini menyusup ke dalam gedung Bu-lim
Bengcu."

Secara ringkas dia lantas menceritakan semua peristiwa


yang terjadi belakangan ini kepada Ku-lo Hwesio, hanya
soal asal-usulnya saja yang tetap dia rahasiakan.

Sehabis mendengar keterangan itu, Ku-lo Hwesio


berkerut kening, lalu menghela napas dengan sedih,
katanya, "Hanya untuk menjaga jangan sampai
mengacau situasi dunia, Pinceng muncul agak terlambat,
terhadap mata-mata yang menyusup ke dalam gedung
Bu-lim Bengcu pun tidak melakukan suatu tindakan apa
pun, ai, siapa tahu tindakanku ini justru mengakibatkan
kematian Kongsun-sicu, ai ...."

"Dari berita Ko-sicu tadi, berarti musuh yang menyusup


ke dalam Bu-lim Bengcu sekarang adalah Sam-kaucu
Pendekar Cacat 193

(ketua ketiga) serta Cap-go-kaucu yang telah diketahui,


tapi siapa pula Cap-go-kaucu itu?"

"Soal ini Wanpwe kurang begitu jelas," kata Bong Thian-


gak sambil menggeleng kepala.

Mendadak Ku-lo Hwesio berkata lagi dengan serius, "Ko-


sicu adalah pemuda berbudi luhur, gagah dan perkasa,
sudah pasti bukan pesilat kasaran, bagaimana pun
Pinceng memeras otak, tidak pernah berhasil
mengetahui asal-usul Sicu, bersediakah Sicu
menjelaskan asal-usulmu yang sebenarnya agar umat
persilatan pun tidak menaruh curiga kepadamu?"

Dengan wajah sedih Bong Thian-gak Thian-gak


menghela napas panjang, sahutnya, "Wanpwe tak dapat
menerangkan asal-usulku karena aku benar-benar
mempunyai kesulitan yang tak dapat diterangkan,
sebenarnya Wanpwe ingin menjauhi masalah ini dan
mengasingkan diri dari dunia persilatan, tetapi dendam
berdarah atas kematian guruku belum terbalas, sehingga
sulit bagiku untuk mengundurkan diri begitu saja."

"Siapakah musuh besar Ko-sicu?"

"Put-gwa-cin-kau, tapi belum kuketahui siapa yang


melakukan."
Pendekar Cacat 194

Ku-lo Hwesio menghela napas panjang, "Ai, Ho Put-ciang


Sutit selalu murung karena tidak mengetahui asal-usul
Ko-sicu, dia telah minta kepada Pinceng menyelidiki
persoalan ini, tetapi bila Sicu mempunyai kesulitan, ya
tak usah dibicarakan lagi."

"Oh, jadi Bengcu dan Taysu ...."

Agaknya Ku-lo Hwesio telah mengetahui apa yang


hendak dia tanyakan, dengan cepat dia menjawab, "Ho
Put-ciang Sutit telah tahu pihak lawan telah menyaru
sebagai Pinceng."

Mendengar perkataan itu Bong Thian-gak menjadi


gembira, segera serunya, "Bagus sekali bila begitu,
dengan demikian kita pun tak usah menyampaikan
kabar itu kepada Ho-tayhiap, kalau tidak, entah berapa
banyak tenaga dan waktu yang harus kita butuhkan
lagi?"

"Ko-sicu, Pinceng hendak minta bantuanmu, bersediakah


kau mengabulkannya?"

"Biar mati pun Wanpwe bersedia."

"Pinceng rasa Sicu tentu sudah mengerti, apa sebabnya


aku tak menampilkan diri untuk sementara waktu, cuma
gedung Bu-lim Bengcu saat ini berbahaya sekali, Pinceng
Pendekar Cacat 195

kuatir Ho-hiantit yang berada di situ sendirian tak


mampu menghadapi situasi yang semakin gawat, oleh
karena itu Pinceng mohon bantuan Sicu membantu
mereka."

Mendengar ucapan itu, Bong Thian-gak berkerut kening,


lalu ujarnya, "Wanpwe pernah bertempur melawan para
pendekar, Sam-kaucu Put-gwa-cin-kau sekalian juga
telah mengenali wajah asliku, entah bantuan macam
apakah yang bisa Wanpwe berikan untuk Ho-tayhiap?
Harap Taysu sudi memberi petunjuk."

Ku-lo Hwesio termenung sebentar, kemudian ujarnya,


"Bantuan yang Pinceng harapkan dari Ko-sicu adalah
membantu Ho Put-ciang Hiantit membekuk Sam-kaucu."

"Mengapa Sinceng tidak langsung mengambil tindakan


saja?"

Kembali Ku-lo Hwesio menghela napas, "Gerak-gerik


Put-gwa-cin-kau dalam Bu-lim amat rahasia, hingga saat
ini bahan yang berhasil Pinceng kumpulkan tentang
perkumpulan ini masih sedikit, oleh sebab itu Lolap dan
Ho-hiantit telah memutuskan untuk sementara jangan
menggebuk rumput mengejutkan ular."

"Sam-kaucu yang menyusup ke dalam gedung Bu-lim


Bengcu saat ini telah melaksanakan siasat keji
Pendekar Cacat 196

membunuh para jago persilatan satu per satu, apabila


orang semacam ini dibiarkan mengendon terus di situ,
kemungkinan besar akan lebih banyak jago persilatan
dalam gedung Bengcu yang akan menjadi korban."

Ku-lo Hwesio manggut-manggut, "Pinceng merasa serba


salah, ai, cepat atau lambat kita pasti akan bentrok juga
secara kekerasan dengan pihak Put-gwa-cin-kau, tapi
yang membikin Pinceng ngeri adalah tidak diketahuinya
berapa banyak mata-mata Put-gwa-cin-kau yang telah
diselundupkan ke berbagai perguruan dewasa ini,
seandainya kita melakukan suatu tindakan, mungkinkah
pihak lawan akan segera melancarkan pembantaian
secara besar-besaran lewat mata-mata mereka itu?"

Mendengar perkataan itu, Bong Thian-gak merasakan


pula betapa gawatnya situasi yang mereka hadapi,
tampaknya kekuatan serta pengaruh Put-gwa-cin-kau
telah menguasai seluruh dunia persilatan dan mendesak
umat persilatan, tak heran sejak awal sampai akhir Ku-lo
Hwesio selalu menunjukkan sikap amat tegang dan
serius.

Mendadak satu ingatan melintas dalam benak Bong


Thian-gak, ujarnya kemudian dengan suara nyaring,
"Taysu, mengapa kita tidak mencoba membekuk salah
seorang anggota mereka, lalu disiksa agar
mengungkapkan segala persoalan yang ada?"
Pendekar Cacat 197

Ku-lo Hwesio menghela napas, "Pusat kekuatan dan


kekuasaan yang sebenarnya dari Put-gwa-cin-kau
sebagian besar terletak di tangan Kaucunya, hal ini tak
akan mengungkap banyak berita penting yang berguna
untuk kita."

"Ah, betul! Mengapa Wanpwe tidak mencoba membekuk


Jit-kaucu saja?"

Ku-lo Hwesio menggeleng kepala berulang kali, "Jit-


kaucu memiliki ilmu Soh-li-jian-yang-sin-kang yang
maha dahsyat, lebih baik Ko-sicu tak usah mengusik
dirinya."

"Jit-kaucu sangat telengas, membunuh tanpa berkedip,


bila perempuan itu tidak dibasmi, dunia persilatan tak
akan bisa tenang."

"Ko-sicu, aku minta kau jangan bertindak secara


gegabah," ucap Ku-lo Hwesio. "Bukan Pinceng sengaja
mengagulkan lawan dengan merendahkan kegagahan
sendiri, tapi hingga kini sudah ada puluhan jago lihai
persilatan yang tewas oleh pukulan Soh-li-jian-yang-sin-
kang, delapan tahun lalu Pinceng telah merasakan empat
kali pukulannya dan harus berbaring selama bertahun-
tahun, hingga kini pun penyakit itu belum sembuh
seratus persen, oleh sebab itu Pinceng anjurkan kepada
Sicu, lebih baik jangan terlalu menuruti emosi sendiri."
Pendekar Cacat 198

Dengan perasaan apa boleh buat Bong Thian-gak


menghela napas panjang, "Ya sudahlah, kalau begitu
Wanpwe akan melaksanakan seperti apa yang Taysu
perintahkan."

Ku-lo Hwesio berkata, "Ko-sicu, Pinceng telah


berkeputusan untuk turun tangan lebih dahulu terhadap
Sam-kaucu, harus diketahui, kita tak boleh
mengorbankan lebih banyak jago persilatan lagi di
tangannya!"

Dengan berseri Bong Thian-gak bertepuk tangan


kegirangan, "Keputusan ini memang paling bagus,
penyaruan Sam-kaucu atas diri Sinceng boleh dibilang
demikian miripnya sehingga sukar dibedakan lagi mana
yang asli dan mana yang palsu, maka Sinceng pun dapat
memanfaatkan peluang itu untuk menyelundup ke
dalam Put-gwa-cin-kau."

Diam-diam Ku-lo Hwesio terkejut mendengar perkataan


itu, ujarnya kemudian sambil menghela napas,
"Kecerdasan otak Sicu sungguh mengagumkan,
sebenarnya Pinceng telah berkeputusan untuk
melakukan tindakan ini, tapi berhubung Ho-hiantit
sekalian menolak, maka hingga malam baru bisa
dilakukan."
Pendekar Cacat 199

Tiba-tiba Bong Thian-gak merasa bahwa Ku-lo Hwesio


merupakan pemimpin pasukan penyergap dunia
persilatan, apabila dia sudah menyusup ke dalam
barisan musuh, lalu siapa yang akan memimpin
pasukan? Apalagi menyusup ke sarang harimau
merupakan suatu tindakan yang berbahaya sekali.

Berpikir sampai di sini, dengan cemas Bong Thian-gak


berkata, "Taysu, aku rasa keputusan ini...."

Sebelum anak muda itu menyelesaikan perkataannya,


Ku-lo Hwesio telah menukas, "Ko-sicu tak usah ragu-
ragu, Pinceng sudah lama menyusun rencana dengan
rapi untuk penyusupan ke tubuh lawan, sedang
mengenai tugas Pinceng selama ini pun telah kuatur
semuanya dongan rapi, yang paling penting buat Ko-sicu
adalah besok pukul lima sore harap kau datang di
pagoda Leng-im-po-tah yang terletak tiga li di tenggara
kota Kay-hong untuk bergabung dengan seorang
pendekar lagi, kemudian kita bersama-sama membasmi
Sam-kaucu dari muka bumi. Sekarang Pinceng masih ada
urusan penting lainnya untuk segera diselesaikan
sehingga tak mungkin memberi penjelasan lebih jauh."

"Baiklah, kita berpisah sampai di sini dulu, segala


sesuatunya besuk harap Sicu bersedia menuruti
perkataan pendekar itu saja."
Pendekar Cacat 200

Selesai berkata Ku-lo Hwesio segera bangkit, tampaknya


persoalan sudah tak bisa ditunda-tunda lagi, dia
mengebaskan ujung bajunya dan melompat turun dari
atas batu cadas.

"Wanpwe akan mengikuti petunjuk Locianpwe!" seru


Bong Thian-gak lantang, sementara Ku-lo Hwesio sudah
pergi jauh.

Setelah menempuh perjalanan sehari penuh, Bong


Thian-gak merasa lelah, maka malam itu dia menginap di
dalam kota Kay-hong, semalaman dilewatkan dengan
tenang. Ketika menjelang kentongan kelima, seperti apa
yang dipesan Ku-lo Hwesio, Bong Thian-gak segera
mengerahkan Ginkangnya menuju ke arah tenggara,
setelah berjalan tiga-empat li, betul juga ada sebuah
pagoda yang tinggi menjulang ke angkasa, di bawah
sinar rembulan bangunan itu nampak megah dan
mentereng.

Bong Thian-gak baru saja mendekati bukit kecil itu,


mendadak dari atas pagoda di samping kiri melayang
turun sesosok bayangan orang menyongsong
kedatangannya, kemudian menegur, "Apakah Ko-
cuangsu?" '

"Betul, aku Ko Hong, siapakah saudara?"

Di bawah cahaya malam terlihat seorang pemuda


berdandan sastrawan, dia mengenakan pakaian
Pendekar Cacat 201

berwarna biru, memegang sebuah kipas di tangan


kirinya dan bersikap amat lembut, siapa menduga kalau
pemuda sastrawan ini sebenarnya merupakan seorang
pendekar besar yang menggetarkan sungai telaga?

Sastrawan berbaju biru itu memperhatikan Bong Thian-


gak beberapa kejap, lalu katanya, "Aku Thia Leng-juan,
atas pesan Ku-lo Sinceng khusus datang kemari untuk
menanti kedatangan Ko-cuangsu."

Begitu mendengar nama "Thia Leng-juan", timbul


perasaan hormat dalam hati Bong Thian-gak, buru-buru
sahutnya dengan hormat, "O, rupanya Im-ciu-tay-ji-hiap,
sudah lama kudengar nama besarmu, maaf bila kau
menunggu terlampau lama."

Tay-ji-hiap (pendekar sastrawan) Thia Leng-juan dari


kota Im-ciu termasyhur belakangan ini, Bong Thian-gak
sama sekali tak menyangka dia seperti sastrawan lemah
yang berusia tiga puluh tahunan, namun merupakan
seorang pendekar yang disegani orang.

Thia Leng-juan menjura, kemudian katanya, "Ko-


cuangsu tak perlu sungkan, persoalan yang dipesankan
Ku-lo Sinceng tentunya telah Ko-heng pahami bukan?"

"Ya, aku siap menunggu perintah Thia-tayhiap."


Pendekar Cacat 202

"Ku-lo Sinceng berpesan agar kita bekerja sama dengan


Ho-tayhengcu untuk bersama-sama menaklukkan Sam-
kaucu Put-gwa-cin-kau, Ku-lo Sinceng juga berpesan
agar gempuran ini harus berhasil, tak boleh gagal, itulah
sebabnya kita perlu merundingkan suatu cara untuk
menghadapi dirinya."

"Apakah Thia-tayhiap sudah mengatur persiapan?"

Im-ciu-tay-ji-hiap Thia Leng-juan mendongak


memandang cuaca, lalu katanya, "Menjelang tengah
malam masih ada satu jam, tak ada salahnya kita naik
dahulu ke atas pagoda dan berunding di sana, sambari
berunding kita pun bisa mengawasi gerak-gerik di
sekeliling tempat itu dengan jelas."

"Ucapan Thia-tayhiap memang benar."

Seusai berkata, mereka berdua segera berjalan menuju


ke arah pagoda itu.

"Mari kita berada di sebelah kiri pagoda saja," ajak Thia


Leng-juan kemudian. Selesai berkata dia melompat naik
ke atas lebih dahulu.

Lompatannya mencapai empat depa tingginya, lalu


tampak Thia Leng-juan berjumpalitan sekali dan tangan
Pendekar Cacat 203

kanan menekan di atas atap rumah pagoda tingkat


empat.

Dengan meminjam tenaga tekanan itulah tubuhnya


seenteng bulu melayang kembali tiga depa dan melayang
turun pada tingkat teratas.

Demonstrasi ilmu meringankan tubuh yang amat


sempurna itu segera menimbulkan rasa kagum Bong
Thian-gak, dengan cepat dia ikut menyusul dari
belakang, namun naik setingkat demi setingkat.

Gerakan tubuh yang digunakan pemuda itu dilakukan


dengan kecepatan luar biasa, hanya dalam beberapa
kejap saja Bong Thian-gak pun sudah tiba pula di puncak
pagoda itu.

Thia Leng-juan agak tertegun melihat kepandaiannya itu


sehingga tanpa terasa tegurnya, "Ko-heng, apakah ilmu
meringankan tubuh yang kau gunakan itu adalah Im-ti-
peng (Lari di awan)?"

Bong Thian-gak tersenyum, "Masih selisih jauh, belum


berhasil mencapai ilmu lari di awan, harap Thia-tayhiap
jangan menertawakan."

Walaupun dari Ku-lo Sinceng Thia Leng-juan sudah


mendengar ilmu silat Bong Thian-gak lihai sekali, tapi
Pendekar Cacat 204

waktu berjumpa dengan Bong Thian-gak untuk pertama


kalinya tadi, sedikit banyak timbul juga rasa tak percaya
di dalam hatinya.

Tapi sekarang setelah menyaksikan dia mengeluarkan


ilmu meringankan tubuh yang bergitu hebat, baru ia
terperanjat.

"Ternyata pemuda ini benar-benar memiliki kepandaian


amat tangguh," dia berpikir. "Sudah jelas ilmu Im-ti-peng
yang digunakan barusan sudah mencapai tingkatan yang
amat sempurna, dari tingkatan ilmu meringankan
tubuhnya itu seandainya dia mau melompat mungkin
sekali lompat saja dapat mencapai ketinggian empat
depa!"

Berpikir sampai di situ, dia lantas berkata sambil


tertawa ringan, "Ko-heng bisa merahasiakan kelihaian,
sungguh luar biasa, tampaknya Ku-lo Sinceng memang
tak salah memilih."

"Pujian Thia-tayhiap benar-benar membuat aku malu


sendiri."

Thia Leng-juan tertawa. "Ko-heng, mari kita duduk di


atas wuwungan saja," ajaknya kemudian.

Mereka berdua pun duduk saling berhadapan.


Pendekar Cacat 205

"Thia-tayhiap," ujar Bong Thian-gak kemudian, "Sam-


kaucu adalah seorang licik bagai rase, seandainya dia
mengetahui titik kelemahan dalam rencana kita ini,
mungkin dia tidak datang bersama Ho-bengcu, apa yang
harus kita lakukan?"

"Rencana untuk menyingkirkan Sam-kaucu merupakan


rencana yang ditetapkan Ku-lo Sinceng semalam, hanya
Ho-bengcu, Ko-heng dan aku saja yang mengetahui
rencana ini, jadi aku pikir tak mungkin rahasia ini bocor,
Ho-bengcu sendiri pun tak mungkin membocorkan
rahasia itu, jadi menurut pendapatku, yang perlu kita
kuatirkan sekarang adalah seandainya Sam-kaucu
berhasil meloloskan diri dari kepungan dan melarikan
diri."

"Walaupun ilmu silat Sam-kaucu sangat lihai, namun Ho-


bengcu sendiri pun bukan orang sembarangan, apalagi
dibantu Thia-tayhiap, aku pikir sekali pun musuh adalah
makhluk berkepala tiga berlengan enam belum tentu
sanggup mempertahankan diri."

Thia Leng-juan manggut-manggut, ujarnya pula, "Ya,


semoga saja sesuatunya berjalan lancar, kalau tidak,
entah bagaimana akibatnya?

Cuma untuk menjaga segala hal yang tidak diinginkan,


kita perlu merundingkan sesuatu rencana yang matang
untuk menghadapi lawan."
Pendekar Cacat 206

"Ya, memang seharusnya begitu," Bong Thian-gak


mengangguk.

Thia Leng-juan termenung beberapa saat, ujarnya


kembali, "Sebentar bila Ho-bengcu dan Sam-kaucu tiba
di pagoda Leng-im-po-tah nanti, Ho-bengcu akan
membuka kartu Sam-kaucu dan membongkar rahasia
lawan, maka pertarungan pasti segara berkobar,
seandainya Ho-bengcu tidak sanggup mempertahankan
diri, saat itulah aku akan terjun ke dalam arena untuk
bersama-sama mengembut Sam-kaucu, sedang Ko-heng
bertanggung jawab menghadang musuh yang mencoba
melarikan diri, atau seandainya aku dan Ho-bengcu tidak
sanggup mempertahankan diri dari gempuran lawan,
harap Ko-heng segera tampil dan ikut terjun ke dalam
pengerubutan itu."

"Thia-tayhiap, aku ingin bertukar tugas dengan dirimu,


apakah kau bersedia?"

"Ya, begitu pun boleh juga."

"Bila Sam-kaucu sudah sampai di sini nanti, aku ingin


segera muncul dan bertarung dengannya jauh sebelum
Ho-bengcu bertarung lebih dahulu dengannya, karena
Ho Put-ciang adalah seorang Bengcu dunia persilatan,
tidak baik jika dia dibiarkan bertempur begitu saja."
Pendekar Cacat 207

Thia Leng-juan memanggut, "Perkataan Ko-heng


memang benar, cuma hal ini akan merepotkan dirimu!"

Bong Thian-gak tersenyum, "Aku ada dendam kesumat


sedalam lautan dengan Put-gwa-cin-kau, merupakan
musuh besarku pula, maka aku telah bertekad
membasmi mereka sampai ke akar-akarnya."

"Ko-heng, sekarang harap kau periksa dulu sekeliling


tempat ini, kemudian pilihlah tempat untuk
menyembunyikan diri, sampai saat ini waktu yang
dijanjikan tinggal tiga perempat jam saja."

"Menurut pendapatku, Thia-tayhiap lebih baik berjaga di


sini saja, perlu diketahui, seandainya Sam-kaucu
melarikan diri, kemungkinan hesar dia akan memilih
ruang kosong, maka andaikata dia kabur menuju ke arah
tiga bagian dari pagoda lainnya, aku akan mencegatnya
dari sebelah kanan pagoda, kita perlu berebut waktu
dengannya."

Thia Leng-juan memanggut, "Penjelasan Ko-heng


memang tepat, aku yakin Sam-kaucu tak akan bisa lolos
dari cengkeraman kita."
Pendekar Cacat 208

"Sekarang saatnya sudah hampir tiba, mumpung mereka


belum datang, aku harus bersembunyi dulu di sebelah
kanan pagoda daripada Sam-kaucu melihat jejak kita
dari kejauhan."

Selesai berkata dia lantas melompat turun dan


menggelinding ke arah belakang, kemudian bergerak
menuju ke sebelah kanan pagoda dan duduk bersila di
balik kegelapan di depan pagoda itu.

Thia Leng-juan yang berada di atas secara lamat-lamat


dapat menyaksikan bayangan tubuh Bong Thian-gak.

Sementara itu suasana di sekeliling tempat itu amat sepi,


malam itu tiada rembulan, hanya bintang yang
bertaburan di angkasa, seluruh jagad hanya dikilapi oleh
setitik sinar.

Walaupun waktu bergerak amat lambat, akhirnya tengah


malam menjelang juga.

Mendadak Bong Thian-gak mendengar ada suara orang


berjalan di atas tanah di kejauhan sana.

Dengan cepat dia membuka mata, tak lama kemudian


dari depan pintu pagoda muncul dua sosok bayangan
orang.

Orang yang berada di sebelah depan mengenakan jubah


berwarna abu-abu dengan sebuah tasbih tergantung di
Pendekar Cacat 209

depan dada, tangan kanan menggenggam sebuah


kebutan.

Tak bisa disangkal lagi, dia adalah Sam-kaucu Put-gwa-


cin-kau yang menyaru sebagai Ku-lo Hwesio.

Di belakangnya mengikut seorang lelaki setengah umur


yang berbadan kekar, Bong Thian-gak dapat mengenali
sebagai Toa-suhengnya, si Busur raja lalim Ho Put-ciang.

Tampaknya Ho Put-ciang sudah menyusun suatu


rencana yang masak, maka begitu masuk ke dalam pintu,
dia segera memperlambat gerak tubuhnya untuk
mencegat jalan pergi Hwesio gadungan itu.

Ternyata Sam-kaucu cukup cekatan, setelah maju


beberapa langkah, mendadak dia berhenti sambari
membalik tubuh, lalu menegur, "Ho-hiantit, ada urusan
apa kau mengajak Pinceng kemari?"

Sebelum Ho Put-ciang sempat menjawab, dengan cepat


Bong Thian-gak melompat ke arah mereka, sahutnya,
"Ho-bengcu sengaja mengajakmu kemari untuk bertemu
denganku."

Ketika selesai berkata, Bong Thian-gak sudah berada


beberapa kaki saja di hadapan Sam-kaucu.
Pendekar Cacat 210

Sam-kaucu yang menyaru sebagai Ku-lo Hwesio nampak


agak tertegun, kemudian serunya, "Oh, rupanya Ko-sicu,
Pinceng dan Ho-bengcu memang sedang mencarimu."

Bong Thian-gak tertawa terbahak-bahak, "Hahaha, Sam-


kaucu kau tak usah berlagak sok alim lagi, Ku-lo Taysu
dari Siau-lim-si belum wafat, malam ini ada baiknya
kalau kau memperlihatkan wajah aslimu, daripada harus
merasakan siksaan hidup."

Beberapa patah perkataannya membuat paras muka


Sam-kaucu berubah hebat, tanpa terasa dia berpaling
dan memandang sekejap ke arah Ho Put-ciang, dengan
cepat dia merasa gelagat tak menguntungkan.

Walaupun begitu, dia masih bersikap tenang, katanya


dengan suara lembut, "Ko Hong apa kau katakan?
Pinceng sedikit pun tidak mengerti...."

"Sam-kaucu," saat itulah Ho Put-ciang buka suara. "Asal


kau bersedia menjawab beberapa pertanyaan, kami pun
belum tentu akan membunuhmu, tentang penyaruanmu
sebagai Ku-lo Sinceng, sudah lama aku orang she Ho
mengetahuinya."
Pendekar Cacat 211

Sekarang Sam-kaucu sadar bahwa rahasianya sudah


terbongkar dan kini terperangkap dalam jebakan orang.

Tapi nampaknya dia sama sekali tidak memandang


sebelah mata terhadap dua jago lihai yang berada di
hadapannya sekarang, dengan tenang dia tertawa seram,
"Hehehe, bagus sekali!"

"Aku tahu, cepat atau lambat akhirnya kita bakal bentrok


juga, Kaucu memang ditugaskan untuk memusnahkan
persekutuan dunia persilatan, untuk mewujudkan
tugasku ini, terpaksa harus menghabisi pemimpinnya
lebih dahulu."

"Sam-kaucu, dengar baik-baik, siapa Cong-kaucu Put-


gwa-cin-kau?" bentak Ho Put-ciang dengan suara kereng.

Sam-kaucu tertawa seram, "Tanyakan sendiri kepada


raja akhirat, dia pasti akan memberitahukan semua itu
kepadamu."

Ho Put-ciang kembali mengerut dahi, "Urusan sudah


begini, siapakah kau masih tetap belum sadar? Malam ini
kami sengaja membuka kartu, karena kami telah
bertekad akan membinasakan kau, tak nanti kami
izinkan kau melarikan diri, bila kau bersedia bekerja
sama, mungkin aku masih dapat mempertimbangkan
mengampuni jiwamu."
Pendekar Cacat 212

"Hm, hanya mengandalkan kekuatan kalian berdua?"


jengek Sam-kaucu sinis. "Aku rasa kemampuan kalian
masih belum cukup untuk mengendalikan gerak-gerik
serta kebebasanku."

Kembali Bong Thian-gak tertawa terbahak-bahak,


"Hahaha, mana, mana, tak ada salahnya kita mencoba
kemampuan masing-masing."

Sementara itu sepasang mata Sam-kaucu yang tajam


memandang sekejap ke empat penjuru dengan cepat,
dari perubahan wajahnya jelas dia tidak berhasil
menemukan bayangan orang lain.

Sekali lagi Ho Put-ciang membentak dengan suara keras,


"Siapa Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau? Ayo cepat jawab."

"Bila kalian mengetahui namanya berarti kalian tak bisa


hidup melewati kentongan kelima, lebih baik tak usah
disebut," jawab Sam-kaucu hambar.

Bong Thian-gak tertawa dingin, "Hehehe, aku justru


tidak percaya dengan segala takhayul, ayo katakan saja!"

Dengan sepasang matanya yang tajam, Sam-kaucu


memandang sekejap ke arah Bong Thian-gak, lalu
ujarnya, "Dasar ilmu silat yang kau miliki amat
sempurna, sebenarnya Kaucu pun bermaksud
Pendekar Cacat 213

mengajakmu bergabung dengan perkumpulan kami dan


memangku kedudukan tinggi, sekarang kau masih punya
waktu untuk mempertimbangkan tawaranku ini, jangan
kau sia-siakan kesempatan baik ini."

Bong Thian-gak tertawa terbahak-bahak, "Hahaha,


semalam aku sudah mengetahui hal ini dari mulut
seorang pelindung hukum Sam-kaucu, Jit-kaucu juga
telah menyinggung masalah itu kepadaku, tapi aku
menampik tawaran ini, karena aku ingin mengetahui
siapa orang yang berhak memerintah diriku."

Paras muka Sam-kaucu segera berubah menjadi dingin


dan kaku, katanya kemudian, "Tampaknya banyak
rahasia perkumpulan kami yang telah kau ketahui, bila
kau tidak bersedia bergabung dengan kami, berarti
hanya ada jalan kematian untukmu."

"Mengapa kau tidak menguatirkan keselamatanmu


sendiri?"

"Tidak sampai setengah jam, wilayah seluas sepuluh li di


sekitar sini akan dipenuhi oleh anak murid perkumpulan
kami, mereka akan mengepung tempat ini secara
berlapis-lapis, coba bayangkan, bagaimana caranya
kalian meloloskan diri?"
Pendekar Cacat 214

Ketika mendengar ucapan itu, Ho Put-ciang berkerut


kening, lalu tegurnya, "Apakah kau tidak berbohong?"

Sam-kaucu tertawa, "Tentu saja bukan gertak sambal."

"Ho-tayhiap, jangan kau percayai perkataannya itu,"


Bong Thian-gak berseru lantang.

Sam-kaucu terbahak-bahak, "Hahaha, niat untuk


berjaga-jaga tak boleh tiada. Ketika aku dan Ho-heng
datang kemari tadi, jejak kita sudah dibuntuti anak buah
kami secara diam-diam, oleh karena itu kedatanganku ke
tempat ini pun tak pernah lolos dari pengamatan
mereka. Di sinilah kelebihan Put-gwa-cin-kau, juga
kekurangan Put-gwa-cin-kau kami."

"Kelebihan dan kekurangan? Apa maksudmu?" tanya


Bong Thian-gak tertegun.

"Kelebihannya adalah dapat berkomunikasi terus secara


utuh dan tiada putus-putusnya, setiap saat kami bisa
mengadakan kontak secara terus-menerus, dapat pula
berjaga-jaga agar tidak terperangkap ke dalam jebakan
musuh. Kekurangannya adalah tidak adanya perasaan
saling percaya mempercayai antara segenap anggota
Put-gwa-cin-kau, sehingga mereka harus saling awas-
mengawasi."
Pendekar Cacat 215

Bong Thian-gak tersenyum, "Put-gwa-cin-kau


menggunakan nama Put-gwa atau tiada aku, artinya
setiap orang yang bergabung dalam perkumpulan ini, dia
harus mempersembahan jiwa dan raganya untuk
perkumpulan sehingga mencapai keadaan Tanpa aku'
(Put-gwa). Tapi sekarang kau berani melancarkan kritik
terhadap prinsip perkumpulan, hal ini membuktikan kau
merasa tak puas dengan keadaan itu, kalau memang
begitu mengapa kau tak memanfaatkan kesempatan ini
untuk meninggalkan jalan sesat dan kembali ke jalan
benar?"

Mendengar ucapan itu, paras muka Sam-kaucu berubah


hebat.

"Tutup mulut!" bentaknya keras. "Kini kedudukanku


adalah Sam-kaucu dalam Put-gwa-cin-kau, kedudukanku
amat tinggi dan menguasai segenap jago persilatan,
kekuasaanku hanya di bawah satu orang tapi di atas
laksaan orang, aku pun memegang hak hidup banyak
orang, siapa hilang aku tidak puas?"

"Bila demikian, terpaksa kami harus turun tangan."

Selesai berkata, Bong Thian-gak segera turun tangan,


sepasang telapak tangannya secepat kilat meluncur ke
depan melepas pukulan dahsyat.

Dimana serangan ini dilepaskan, segulung angin tajam


yang menggiriskan dengan membawa deru angin yang
Pendekar Cacat 216

mengerikan, bagaikan amukan gelombang dahsyat


segera meluncur dan menyapu ke tubuh lawan.

Serangan Bong Thian-gak dilancarkan secepat sambaran


petir, bahkan sebelumnya tidak pernah memperlihatkan
suatu gejala apa pun, bagaimana pun lihai dan liciknya
Sam-kaucu, tidak urung dibikin kelabakan juga oleh
datangnya ancaman itu.

Menanti Sam-kaucu menyadari datangnya bahaya, angin


pukulan yang kuat bagaikan baja itu secepat petir sudah
menekan tiba.

Menghadapi situasi seperti ini, terpaksa dia harus


menyambut datangnya ancaman itu dengan keras lawan
keras.

Diiringi suara bentakan nyaring, Sam-kaucu segera


merangkap sepasang telapak tangannya di depan dada,
kemudian bersama-sama dilontarkan ke depan.

Suara ledakan keras yang memekakkan telinga


berkumandang memecah keheningan.

Tubuh Sam-kaucu mencelat ke tengah udara melewati


kepala Bong Thian-gak dan seperti seekor burung
bangau langsung kabur ke atas pagoda.
Pendekar Cacat 217

Tampak Bong Thian-gak seperti sudah menduga pihak


lawan akan memanfaatkan datangnya angin pukulan itu
untuk melejit ke tengah udara dan melarikan diri.

Entah sedari kapan, tahu-tahu dalam genggaman Bong


Thian-gak telah bertambah dengan sebilah pedang yang
memancarkan cahaya tajam berkilauan.

Tampak cahaya pelangi hawa pedang secepat petir


mengejar ke atas, lalu diiringi suara dentingan nyaring
terciptalah beribu bayangan pedang yang segera
menyebar ke empat penjuru.

Terkurung oleh cahaya pedang itu, tubuh Sam-kaucu


yang sedang melejit ke udara itu segera berputar balik
dan melayang turun ke bawah.

Cahaya pelangi segera sirap dan Bong Thian-gak dengan


pedang terhunus sudah menghadang di depan Sam-
kaucu.

Paras muka Sam-kaucu kini diliputi perasaan kaget


bercampur tercengang, sepasang matanya tanpa
berkedip mengawasi wajah Bong Thian-gak, mungkin
keampuhan dan kelihaian ilmu silat Bong Thian-gak
sama sekali di luar dugaannya.
Pendekar Cacat 218

Selama hidup belum pernah dia menjumpai suasana


tegang, seram dan terancam keselamatan jiwanya
seperti apa yang dialaminya hari ini.

Semenjak gempuran kekerasan itu disambut dengan


keras lawan keras, dia sadar tenaga dalam musuh masih
tiga bagian lebih tangguh daripada kemampuan sendiri,
terutama serangan pedangnya yang amat lihai itu, kalau
tadi dia tidak berkelit dengan cepat, niscaya dia sudah
keok sejak tadi.

Bukan itu saja, di situ masih hadir Ho Put-ciang yang


sudah diketahui ketangguhan ilmu silatnya.

Bagaimana caranya meloloskan diri dari situasi yang


berbahaya ini?

Berbagai ingatan segera berkecamuk dalam benaknya.

Tentu saja Bong Thian-gak tidak memberi kesempatan


kepadanya untuk berpikir, kembali dia bergerak
melancarkan serangan dahsyat.

Pelan-pelan pedangnya digetarkan, lalu ditujukan ke


arah jalan darah Sim-kan-hiat di tubuh Sam-kaucu.

Sepintas serangan pedang itu nampaknya amat


sederhana dan seakan-akan tidak disertai tenaga,
Pendekar Cacat 219

padahal di balik semua itu tersimpan suatu perubahan


jurus yang amat jahat, perubahan yang tak terhingga
banyaknya.

Sam-kaucu bukan manusia sembarangan, tentu saja dia


tahu ancaman itu amat serius, maka setelah
menyaksikan gerakan itu, dia segera berdiri kaku sambil
bersiap menghadapi segala kemungkinan yang tak
diinginkan.

Melihat musuh tidak terpancing oleh jurus pedangnya,


maka dia lantas mengubah gerakan dan melepaskan
tusukan secepat kilat.

Hawa tajam memancar ke depan, bayangan orang


berkelebat, tahu-tahu Sam-kaucu itu sudah meloloskan
diri dari ancaman lawan.

Bong Thian-gak memang memiliki ilmu silat yang


mengerikan, begitu jurus serangan dilancarkan, semua
dilakukan dengan kecepatan bagaikan sambaran petir, di
antara perputaran pergelangan tangannya, hawa pedang
menderu-deru, ia melancarkan serangkaian serangan ke
atas maupun ke bawah.

Sam-kaucu yang kena didahului lawan jangankan


melancarkan serangan balasan, untuk menghindarkan
Pendekar Cacat 220

diri dari babatan pedang musuh pun sulit bukan


kepalang.

Tampak dia merangkap telapak tangan di depan dada,


lalu menggenggam tasbih di lehernya, berkelit ke kiri
menghindar ke kanan, secara beruntun dia sudah
meloloskan diri dari ketiga belas jurus serangan pedang
Bong Thian-gak.

Dalam waktu singkat kedua belah pihak sudah


bergebrak belasan jurus, hal ini membuat Ho Put-ciang
dan pendekar sastrawan Thia Leng-juan yang
bersembunyi di balik pagoda merasa terperanjat.

Mereka berdua merasa kelihaian ilmu pedang Bong


Thian-gak pada hakikatnya sudah mencapai tingkatan
yang luar biasa, sebaliknya Sam-kaucu pun merupakan
musuh tangguh yang tak boleh dianggap remeh.

Sementara kedua orang masih bertarung dengan


serunya, dari sisi pinggangnya Ho Put-ciang telah
melolos busur besi baja andalannya, bersiap
menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.

Tatkala dia menyaksikan ketujuh belas jurus serangan


pedang Bong Thian-gak semuanya mengenai sasaran
kosong, tanpa terasa ia berteriak nyaring, "Ko-siauhiap,
apakah kau memerlukan bantuan?"
Pendekar Cacat 221

Ho Put-ciang kuatir Bong Thian-gak tak senang bila


dibantu orang, maka hingga kini dia belum turun tangan.

Mendengar seruan itu, Bong Thian-gak segera menyahut


dengan suara lantang, "Ho-bengcu, silakan turun tangan,
kita harus berlomba dengan waktu menyelesaikan
pertarungan ini secepat mungkin."

Menggunakan kesempatan di saat Bong Thian-gak bicara


hingga pikirannya bercabang, Sam-kaucu tertawa seram,
tasbihnya diayunkan ke depan.

Seratus delapan biji tasbih bagai peluru besi segera


berhamburan di angkasa dan bersama-sama menyambar
ke tubuh Bong Thian-gak.

Serangan senjata rahasia yang amat dahsyat itu benar-


benar luar biasa, betapa pun lihai ilmu silat seseorang,
sulit rasanya untuk menghindarkan diri dari sergapan
seratus delapan biji tasbih yang dilepaskan dari jarak
dekat.

Tak terlukiskan rasa kaget Ho Put-ciang melihat keadaan


itu, segera teriaknya, "Ko-siauhiap ...."

Selanjutnya dia membungkam, namun panah baja tanpa


bulu yang sudah disiapkan di busurnya serentak
dibidikkan ke depan.
Pendekar Cacat 222

Busur Pa-ong-cian Ho Put-ciang termasyhur di kolong


langit sebagai salah satu kepandaian yang tangguh di
dunia ini, begitu panah dibidikkan, sulit bagi orang
menangkap bayangannya, kecepatannya pun sukar
dilukiskan dengan kata-kata.

Begitu melepaskan serangan biji tasbih tadi, Sam-kaucu


mengegos ke sebelah kanan dengan gerakan cepat, tapi
kelitannya itu belum berhasil juga meloloskan diri dari
ancaman Pa-ong-cian Ho Put-ciang.

Dengusan tertahan segera berkumandang memecah


keheningan, panah baja tanpa bulu yang kuat itu
menyambar pinggang sebelah kiri Sam-kaucu hingga
tembus pinggang bagian depan, darah segar segera
menyembur membasahi seluruh jubahnya.

Kendati bidikan panah itu tidak mengenai bagian tubuh


yang mematikan, namun cukup membuat Sam-kaucu
terluka parah.

Di saat Sam-kaucu mendengus tertahan itulah bahu kiri


Bong Thian-gak juga kena terhajar oleh dua biji tasbih
sehingga tembus ke dalam, darah muncrat, pedang di
tangan kanannya juga kena terhajar tiga biji tasbih
hingga terlepas dan mencelat jauh.
Pendekar Cacat 223

Menyaksikan Bong Thian-gak terancam bahaya maut,


buru-buru Ho Put-ciang berseru, "Ko-siauhiap,
bagaimana keadaan lukamu?"

"Ho-bengcu, aku tidak apa-apa, cepat halangi musuh


melarikan diri," bentak Bong Thian-gak cepat.

Ternyata pada saat itulah Sam-kaucu sudah melejit ke


tengah udara, lantas kabur menuju ke arah sebelah kiri
pagoda.

Pada saat itulah Thia Leng-juan yang bersembunyi di


sebelah kiri pagoda segera berpekik nyaring, secepat
kilat dia menerjang turun ke bawah dan menyongsong
kedatangan Sam-kaucu.

Mimpi pun Sam-kaucu tidak menyangka seorang musuh


tangguh yang sembunyi di atas pagoda, padahal tadi ia
sudah memperhatikan keadaan sekeliling tempat itu,
maka di saat keselamatan jiwanya terancam, terpaksa
dia harus melancarkan serangan sekuat tenaga.

Tampak Sam-kaucu meletik di tengah udara, kemudian


sepasang telapak tangannya didorong ke depan
melepaskan pula dua pukulan maha dahsyat.

Empat gulung angin pukulan maha dahsyat diiringi


suara ledakan yang memekakkan telinga saling bentur.
Pendekar Cacat 224

Untuk kedua kalinya Sam-kaucu mendengus tertahan,


tubuhnya bagai layang-layang putus benang meluncur ke
bawah dengan kecepatan tinggi.

Sebaliknya Thia Leng-juan sendiri pun merasa hawa


darah di dalam dada bergolak keras akibat benturan
yang maha dahsyat itu, tanpa terasa dia berjumpalitan
beberapa kali di tengah udara.

Ketika tubuh Sam-kaucu terjun ke bawah tadi, ternyata


sepasang kakinya masih sempat mencapai tanah dengan
mantap. Wajahnya menyeringai seram sekali, darah
menodai ujung bibirnya, sepasang matanya merah
membara, dengan penuh gusar dia melotot ke arah Ho
Put-ciang dan Bong Thian-gak yang mulai
mengurungnya dari sisi kiri dan kanan.

Sementara itu Thia Leng-juan juga telah melayang turun,


dia mengambil posisi di belakang Sam-kaucu.

Agaknya Sam-kaucu menyadari jiwanya terancam mara


bahaya, bagaimana pun tangguhnya dia, jangan harap
bisa lolos dari gencetan dan kerubutan tiga orang jago
lihai sekaligus.

Tiba-tiba ia mendongakkan kepala, lalu


memperdengarkan suara gelak tertawa keras yang
Pendekar Cacat 225

memekakkan telinga, suara tawanya itu amat tak sedap


didengar, bagai lolongan srigala di tengah malam buta.

Dengan suatu gerakan yang amat cepat Sam-kaucu


melejit ke tengah udara, lalu secara ganas menerjang ke
arah Bong Thian-gak.

Rupanya dia berpendapat Bong Thian-gak sudah


terhajar oleh tasbihnya, berarti dia adalah kunci
terlemah di antara ketiga orang itu, maka sekali pun dia
harus binasa hari ini, paling tidak dia pun harus
membunuh salah seorang lawan untuk mendapatkan
kembali modalnya.

Itulah sebabnya terjangannya terhadap Bong Thian-gak


boleh dibilang dilakukan dengan ganas dan luar biasa.

Tampaknya Ho Put-ciang sudah menduga sejak tadi


bahwa Sam¬kaucu bakal menerjang ke arah Bong Thian-
gak, oleh sebab itu baru saja pihak lawan menggerakkan
tubuh, kembali Ho Put-ciang menggetarkan busur
bajanya dan melakukan babatan melintang ke depan.

Walau Sam-kaucu menyerang seperti banteng terluka,


melihat datangnya busur baja yang begitu kuat dan
dahsyat, sepasang telapak tangannya segera dibalikkan,
lalu mencengkeram busur baja itu.
Pendekar Cacat 226

"Pletaak", iga kiri Sam-kaucu kena terhajar oleh sapuan


dahsyat busur baja Ho Put-ciang hingga patah sepotong.

Pada saat itu Sam-kaucu melancarkan serangan balasan


yang mematikan, telapak tangan kanannya bagaikan
seekor ular sakti langsung membacok ke dada sebelah
kiri Ho Put-ciang.

Segulung tenaga pukulan tak berwujud menggetarkan


tangan Ho Put-ciang sehingga busur besinya terlepas
dan badannya terlempar.

Begitu berhasil mendesak mundur Ho Put-ciang, dengan


langkah lebar Sam-kaucu segera menerjang ke arah
Bong Thian-gak, sepasang telapak tangannya disilangkan
ke depan dan memancarkan berlapis-lapis angin puyuh
disertai kekuatan dahsyat menerjang ke arah depan.

Bong Thian-gak terkesiap menyaksikan jurus serangan


mengadu jiwa yang digunakan Sam-kaucu, tapi Bong
Thian-gak yang pada dasarnya keras kepala tak sudi
menyerah begitu saja.

Dia tahu musuh sudah nekat dan ancamannya tak boleh


disambut dengan kekerasan, namun dia bukannya
berkelit, sebaliknya malah memutar sepasang telapak
tangannya membentuk satu jalur sinar berbentuk busur,
lalu menyongsong datangnya ancaman itu.
Pendekar Cacat 227

Benturan keras lawan ini tampaknya merupakan saat


paling sial bagi Sam-kaucu.

Keunggulan Bong Thian-gak justru terletak pada


permainan telapak tangannya, apalagi serangan itu
dilepaskan dengan tenaga pukulan maha dahsyat, pada
hakikatnya bagaikan amukan gelombang dahsyat di
tengah samudra yang sedang dilanda angin puyuh.

Dalam bentrokan keras yang pertama ini kedua belah


pihak sama-sama tetap berdiri tegak tanpa berkutik.

Tatkala benturan keras terjadi untuk kedua kalinya,


kedua belah pihak sama-sama mundur tiga langkah.

Ketika untuk ketiga kalinya mereka akan beradu


kekuatan.

Mendadak Sam-kaucu menyilangkan tangan kiri dan


kanannya membentuk gerakan salib, lalu pelan-pelan
didorong ke depan.

Sebaliknya Bong Thian-gak membentak keras, tangan


kanannya setengah mengepal seperti bacokan seperti
juga pukulan langsung diayun ke depan.
Pendekar Cacat 228

Dengusan tertahan bergema, dengan tubuh


sempoyongan Bong Thian-gak mundur lima langkah,
mukanya pucat, tubuhnya langsung jatuh terduduk di
atas tanah.

Sebaliknya Sam-kaucu masih tetap berdiri tegak,


sepasang telapak tangannya yang membuat gerakan
salib masih belum sempat ditarik, sementara sepasang
matanya melotot bulat seperti mata kerbau.

Ho Put-ciang dan Thia Leng-juan yang menyaksikan


kejadian ini bersama-sama membentak keras, lalu
serentak menubruk ke muka, bekerja sama menyerang
Sam-kaucu.

Siapa tahu baru saja tubuh mereka menerjang ke depan


dan belum lagi melancarkan serangan, tubuh Sam-kaucu
yang masih berdiri tegak tak berkutik itu tahu-tahu
roboh terjungkal ke tanah dalam posisi kaku.

Sekarang Ho Put-ciang dan Thia Leng-juan baru sempat


melihat noda darah yang membasahi wajah, kulit dan
lengan Sam-kaucu, darah kental seakan memancar
keluar dari beribu-ribu pori kulit badannya.

Kenyataan ini kontan membuat kedua orang itu


tertegun, siapa pun tidak menyangka Sam-kaucu
Pendekar Cacat 229

menemui ajal di tangan Bong Thian-gak dalam


bentrokan yang terakhir tadi.

Kepandaian silat apakah yang telah dipergunakan Bong


Thian-gak dalam melancarkan serangannya itu?
Mengapa dia bisa menghajar tubuh Sam-kaucu hingga
darah segar memancar dari pori-pori badannya?

Walaupun pertempuran sengit telah berhenti, tapi


keseraman pertarungan itu menggidikkan hati,
kenekatan dan keberanian Sam-kaucu bertarung sampai
titik darah penghabisan membuat hati mereka menciut.

Akhirnya suara helaan napas panjang berkumandang


memecah keheningan, pelan-pelan Ho Put-ciang berjalan
ke hadapan Bong Thian-gak, kemudian sambil menjura
dalam-dalam ia berkata, "Hari ini seandainya tiada
bantuan Ko-siauhiap yang berilmu tinggi, mungkin tak
akan mudah bagi kami untuk membereskan nyawa Sam-
kaucu, aku orang she Ho benar-benar sangat berterima
kasih atas bantuan ini. Entah bagaimana dengan keadaan
luka Ko-siauhiap?"

Walaupun paras muka Bong Thian-gak pada saat ini


pucat-pias seperti mayat, tapi dengan cepat dia
melompat bangun, kemudian balas memberi hormat.

"Ho-bengcu, harap kau jangan berkata begitu," serunya.


"Ai ... sungguh tak pernah kusangka Sam-kaucu Put-gwa-
cin-kau ternyata begini perkasa, seandainya hari ini
tiada bantuan Ho-bengcu dan Thia-tayhiap, tak mungkin
bagiku bisa menandingi keampuhannya."
Pendekar Cacat 230

Ucapan itu segera membuat paras muka semua orang


berubah serius, kemurungan dan kesedihan pun
menyelimuti wajah mereka.

Keperkasaan Sam-kaucu telah mereka saksikan dengan


mata kepala sendiri, kalau Sam-kaucu saja begini
tangguh, dapat dibayangkan bagaimana tangguhnya
Kaucu-kaucu lain, hal ini merupakan ancaman serius
bagi keamanan serta keselamatan dunia persilatan.

Thia Leng-juan tertawa getir, kemudian katanya,


"Akhirnya rencana kita pada hari ini berhasil
dilaksanakan dengan sukses, apakah Ho-bengcu
menghendaki kepunahan jenazah Sam-kaucu?"

"Ya, tolong Thia-heng suka mengerjakannya."

Dari dalam saku Thia Leng-juan mengeluarkan sebuah


botol kecil porselen putih, lalu membuka tutupnya dan
menaburkan sedikit bubuk hijau di atas mayat itu.

Baik Ho Put-ciang maupun Bong Thian-gak keduanya


tahu di Bu-lim terdapat semacam obat yang dinamakan
Siau-kut-hua-si-san (Bubuk pelenyap tulang pelumat
jenazah), maka mereka tak memberikan reaksi apa-apa.

Setelah Thia Leng-juan menaburkan bubuk obat itu ke


atas jenazah Sam kaucu, tak lama kemudian jenazah
Sam-kaucu yang kaku mulai melumat lalu menyusut.

Mayat telah melumat menjadi segumpal darah, yang


tersisa hnggal kuku, rambut dan pakaian.
Pendekar Cacat 231

Kedahsyatan daya kerja obat itu benar-benar


mengerikan.

Setelah melumerkan jenazah Sam-kaucu, Thia Leng-juan


segera membakar pakaian dan benda lainnya hingga tak
berbekas.

Thia Leng-juan menghela napas panjang, katanya,


"Sekarang Sam¬kaucu sudah dimusnahkan, tapi kita
belum berhasil mengumpulkan sedikit pun bahan
tentang Put-gwa-cin-kau, apakah kita akan tetap
melanjutkan rencana menyelundupkan Ku-lo Locianpwe
menggantikan kedudukan Sam-kaucu?"

"Soal ini perlu kita pertimbangkan lagi masak-masak,"


jawab Ho Put-ciang dengan suara dalam, "Kini Ku-lo
Locianpwe sudah berada dalam gedung Bu-lim Bengcu,
apa salahnya kita berunding di sana?"

"Aku tidak setuju bila harus mengirim Ku-lo Locianpwe


memasuki Put-gwa-cin-kau, sebab tindakan semacam ini
terlampau berbahaya," tiba-tiba Bong Thian-gak berseru
dengan suara lantang.

"Mengapa Ko-heng tidak setuju?"

"Seandainya Ku-lo Locianpwe harus menyaru sebagai


Sam-kaucu dan menyelundup ke dalam Put-gwa-cin-kau,
maka cepat atau lambat jejaknya tentu akan ketahuan,
bisa jadi jiwanya akan terancam malah, cuma kita boleh
saja membiarkan Sinceng berada dalam gedung untuk
sementara waktu, agar ia berhubungan terus dengan
Pendekar Cacat 232

mata-mata musuh yang menyelundup dalam gedung


Bengcu, dengan demikian kita bisa melanjutkan usaha
menyingkirkan semua mata-mata yang berada dalam
gedung itu."

"Asal semua mata-mata dalam gedung Bu-lim Bengcu


berhasil dimusnahkan, kita pun boleh secara terang-
terangan menantang Put-gwa-cin-kau untuk
menyelesaikan persoalan secara kekerasan."

Ho Put-ciang manggut-manggut, "Pendapat Ko-siauhiap


memang bagus, kita memang harus bertindak lebih dulu,
cuma Ku-lo Locianpwe mengatakan, kita hanya sedikit
tahu hal yang ada sangkut-pautnya dengan Put-gwa-cin-
kau, seandainya Put-gwa-cin-kau segera menarik
kekuatannya, maka umat persilatan di daratan
Tionggoan pun akan kehilangan titik terang."

Bong Thian-gak tersenyum, "Rencana Put-gwa-cin-kau


menguasai dunia persilatan dan menteror umat
persilatan akan dipersiapkan dalam satu dua hari, tak
mungkin mereka menarik seluruh pasukannya hanya
karena kematian Sam-kaucu mereka yang
diselundupkan ke dalam gedung Bengcu sebagai mata-
mata, menurut perhitunganku, justru karena peristiwa
ini Put-gwa-cin-kau akan mempercepat rencana
melakukan serangan secara terang-terangan."

"Apa yang diucapkan Ko-heng memang masuk akal,"


kata Thia Leng-juan, "tapi menurut pendapatku,
persoalan paling penting yang harus kita lakukan
sekarang adalah membersihkan dulu gedung Bengcu
Pendekar Cacat 233

dari unsur-unsur lawan serta mata-mata yang sengaja


diselundupkan ke pihak kita, mari kita bergerak dulu ke
persoalan itu."

Mendadak Ho Put-ciang seperti teringat akan sesuatu,


dia berseru tertahan, "Sebelum tewas Sam-kaucu telah
berkata bahwa anggota Put-gwa-cin-kau selalu
menguntit di belakangnya untuk memperoleh berita,
entah ucapannya itu benar atau tidak?"

"Tadi aku bersembunyi di atas pagoda, dari ketinggian


aku bisa memperhatikan semua gerakan di seputar
tempat ini dengan jelas, tadi aku tidak menjumpai
adanya bayangan orang di sekeliling tempat ini."

"Aku rasa apa yang dikatakan Sam-kaucu tadi tak lebih


hanya bermaksud mengulur waktu saja sambil mencari
akal untuk meloloskan diri, Ho-bengcu, buat apa kau
terus memikirkan persoalan itu?" kata Bong Thian-gak
pula sambil tertawa.

"Orang-orang yang tergabung dalam Put-gwa-cin-kau


merupakan kawanan orang yang tangguh, tiada lubang
yang tak bisa mereka terobos, lagi pula gerak-gerik
mereka amat rahasia, membuat hati orang bergidik,
sebelum aku dan dia datang kemari, telah kuperhatikan
di sekeliling tempat itu tiada orang yang menguntit, ya,
mungkin saja dia hanya menggertak saja."

Siapa tahu baru saja dia selesai berkata, mendadak


terdengar Bong Thian-gak berkata dengan ilmu
menyampaikan suara dengan nada gelisah sekali, "Aduh
Pendekar Cacat 234

celaka! Ternyata benar-benar ada musuh yang


menguntit sampai di sini, kini di sisi kiri tingkat keempat
pagoda itu terdapat seorang musuh yang
menyembunyikan diri, sekarang lebih baik kita jangan
bersuara dulu, secepatnya mengundurkan diri dari sini,
kemudian balik lagi dengan posisi segi tiga dan kepung
orang itu rapat-rapat, jangan biarkan musuh meloloskan
diri."

Ucapan ini kontan saja membuat Thia Leng-juan dan Ho


Put-ciang terperanjat, kedua orang ini pun tidak berani
celingukan memeriksa keadaan.

Sementara mereka berpikir, Bong Thian-gak berkata lagi


dengan suara nyaring, "Ho-bengcu, sekarang sudah
siang, kita harus segera kembali ke gedung Bu-lim
Bengcu!"

"Mari kita berangkat!" seru Thia Leng-juan dan Ho Put-


ciang bersama-sama.

***
Pendekar Cacat 235

4
TAT MO KHI-KANG DARI KU LO SINCENG

M ereka bertiga segera mengerahkan ilmu


meringankan tubuh dan keluar dari pintu
pagoda dengan cepat, setelah itu menjauh
dengan kecepatan tinggi.

Setelah cukup jauh, Thia Leng-juan baru berani bertanya


dengan nada cemas, "Ko-heng, benarkah ada jejak
musuh?"

"Ya, pihak lawan memiliki ilmu meringankan tubuh yang


amat sempurna, entah sejak kapan ia sudah mendekam di
atas pagoda itu, jika tanpa sengaja aku tidak
mendongakkan kepala dan menangkap dua titik cahaya
putih, tak mungkin kutemukan jejak musuh itu."

Ho Put-ciang terperanjat, serunya dengan gelisah, "Wah,


kalau begitu kita kan tak bisa melaksanakan langkah
berikutnya?"
Pendekar Cacat 236

"Itulah sebabnya bagaimana pun juga kita tak boleh


membiarkan orang itu lolos! Sekarang kita harus pergi
menjauh setengah li lagi, kemudian serentak berpencar dan
balik ke Leng-im-po-tah, usahakan agar mengepung orang
itu rapat-rapat."

Sementara itu mereka bertiga sudah berlari sejauh


setengah li, mendadak Bong Thian-gak putar badan dan
balik ke arah semula dari sudut barat daya.

Ho Put-ciang berputar melalui timur laut dan Thia Leng-


juan menelusuri jalanan semula.

Ginkang ketiga orang itu sudah mencapai puncak


kesempurnaan, maka setengah li perjalanan balik yang
mereka tempuh dicapai dalam waktu singkat.

Dipimpin oleh Thia Leng-juan, dengan cepatnya mereka


sudah balik ke depan pagoda Leng-im-po-tah.

Sedangkan Bong Thian-gak, Ho Put-ciang datang hanya


selisih sedikit sekali, mereka menerobos masuk melalui
arah barat daya serta timur laut.

Di bawah cahaya rembulan, betul juga, di tengah lapangan


tampak berdiri sesosok bayangan tubuh yang langsing dan
ramping.
Pendekar Cacat 237

Ketika dilihatnya Bong Thian-gak bertiga muncul kembali di


situ tanpa menimbulkan sedikit suara pun, wajahnya
kelihatan tertegun, peristiwa ini sama sekali di luar
dugaannya.

Dengan wajah termangu-mangu, dia mengawasi ketiga


orang itu berjalan mendekat ke arahnya.

Sekarang Ho Put-ciang dan Thia Leng-juan harus


mengagumi dan memuji ketajaman mata Bong Thian-gak,
sesungguhnya mereka masih setengah percaya mendengar
perkataan Bong Thian-gak tadi, namun kenyataannya
musuh memang muncul di tempat itu, inilah yang
membuat hati mereka terkejut bercampur tercengang.

Di bawah sinar rembulan, tampak bayangan yang ramping


itu tak lain adalah seorang gadis berbaju merah, rambutnya
yang disisir kepang dua terurai di belakang bahu, wajahnya
bersih, cantik dan usianya antara lima-enam belas tahun,
mukanya masih kekanak-kanakan.

Menyaksikan kemunculan Ho Put-ciang bertiga, dia


gerakkan sepasang matanya yang bulat dan jeli
memperhatikan mereka sekejap, sambil tersenyum
ujarnya, "Selamat berjumpa Hiapsu bertiga!"
Pendekar Cacat 238

"Selamat berjumpa nona," sahut Bong Thian-gak sambil


tertawa dingin. "Entah karena persoalan apakah kau
bersembunyi di tempat kegelapan sebelah kiri pagoda pada
tingkat keempat?"

Mendengar pertanyaan itu, nona berbaju merah tertawa,


sahutnya, “Engkoh ini betul-betul memiliki ketajaman mata
yang mengagumkan, ketika kau sedang melancarkan
serangan ketiga untuk membinasakan orang, aku naik ke
atas pagoda melalui belakang bangunan."

"Nona seorang yang pintar, hari ini kau sampai di sini dan
menyaksikan terbunuhnya Sam-kaucu di tangan kami, kau
anggota Put-gwa-cin-kau atau bukan, yang jelas kami tak
akan membiarkan kau pergi begitu saja dari tempat ini."

Gadis berbaju merah mengedipkan matanya yang bulat


besar lalu serunya, "Dengan cara apakah kalian hendak
menghadapi diriku?"

Sementara itu paras muka Ho Put-ciang telah berubah


serius, pelan-pelan dia berkata, "Pertama, kami ingin
mengetahui lebih dahulu Siapakah nona dan berasal
darimana?"
Pendekar Cacat 239

"Aku she Ni bernama Kiu-yu, rumahku ada di selatan


propinsi hamsiok, tak punya ayah dan ibu lagi, hanya ada
seorang nenek yang hidup bersamaku."

Selain lincah dan genit, gadis ini pun tanpa ragu


mengutarakan nama serta asal-usulnya.

Ho Put-ciang dan Thia Leng-juan yang menyaksikan hal ini


segera mengerut dahinya rapat-rapat.

Hanya Bong Thian-gak seorang yang mengawasi terus


gerak-gerik si nona berbaju merah lekat-lekat, sementara
mulutnya membungkam.

Sekali lagi Ho Put-ciang bertanya, "Siapakah nama


nenekmu?"

"Hei, banyak amat yang kalian tanyakan," omel gadis


berbaju merah. "Nenekku she Kang, setelah kawin dengan
kakek, dia bernama Ni-hong!"

"Siapa yang mewariskan ilmu silat kepada nona?"

"Wah, wah, wah ... kalian betul-betul cerewet, tahu begini,


aku tak akan kemari menonton keramaian."
Pendekar Cacat 240

"Nona Ni, dengarkan baik-baik," kata Ho Put-ciang dengan


wajah serius. "Hari ini kau telah terlibat dalam peristiwa ini
dan mendatangkan bencana bagi diri sendiri, seandainya
kau tidak bersedia menjawab dengan sejujurnya, lebih baik
salah membunuh satu orang daripada membiarkan kau
pergi begitu saja."

"Bukankah kalian jago-jago persilatan yang berjiwa ksatria?


Masa kalian akan menganiyaya seorang bocah perempuan
seperti aku?"

Pertanyaan yang tajam dan mengena ini kontan saja


membuat paras muka Ho Put-ciang tersipu-sipu karena
malu, sesaat lamanya dia tak mampu menjawab.

Thia Leng-juan menyela, "Sekarang ucapan kami sudah


diutarakan cukup jelas, paling baik nona Ni bersedia
menjawab dengan sejujurnya."

Nona berbaju merah menghela napas sedih, "Ai, sudahlah,


anggap saja memang lagi apes, ilmu silat ini kuperoleh dari
nenekku, nah, sudah cukup bukan?"

Sementara itu hawa membunuh telah menyelimuti seluruh


wajah Bong Thian-gak, sambil tertawa dingin serunya,
"Nona Ni, kau adalah anggota Put-gwa-cin-kau, sudahlah
lebih baik tak usah berpura-pura lagi!"
Pendekar Cacat 241

Melihat Bong Thian-gak menuduh dengan nada serius dan


bersungguh-sungguh, mau tak mau Ho Put-ciang bertanya,
"Ko-siauhiap, apakah kau berhasil menemukan sesuatu?"

"Perempuan ini masih muda belia, tapi memiliki keberanian


luar biasa, tak mungkin orang biasa memiliki kelebihan
seperti apa yang dia miliki itu!"

Si nona berbaju merah mendengus dingin, "Hm, kalian


bukan setan iblis atau siluman yang berwajah menakutkan?
Mengapa aku harus takut kepada kalian?"

"Nona bisa tak kuatir terhadap kami, tentu saja karena


punya kemampuan yang bisa dijadikan pegangan, tapi bila
kau ingin melarikan diri dari sini dengan mudah, aku pikir
hal itu akan jauh lebih sukar daripada memanjat ke langit,
kalau tak percaya silakan dicoba."

Nona berbaju merah tertawa, "Kau menghendaki aku


mengaku sebagai anggota Put-gwa-cin-kau? Baiklah, kalau
begitu kuakui!"

"Tentu saja kau anggota Put-gwa-cin-kau, bahkan


kedudukanmu di dalam perkumpulan itu pasti amat
penting ...."

"Darimana kau bisa tahu?"

"Semacam perasaan halus!"


Pendekar Cacat 242

Mendadak nona berbaju merah tertawa cekikikan, "Kau


telah salah melihat, aku bukan anggota Put-gwa-cin-kau,
tetapi aku tahu sedikit mengenai Put-gwa-cin-kau itu."

"Apa yang nona Ni ketahui?" buru-buru Ho Put-ciang


bertanya.

"Aku tahu kalian telah membunuh Sam-kaucu Put-gwa-cin-


kau dan orang-orang dari Put-gwa-cin-kau tak melepas
kalian begitu saja."

Dengan perasaan dongkol bercampur geli, Ho Put-ciang


berkata, "Soal ini tak usah kau katakan, kami pun sudah
mengetahui dengan amat jelas!"

"Kalau kalian telah tahu Put-gwa-cin-kau hendak


melancarkan balas dendam, mengapa kalian tidak segera
kabur menyelamatkan diri?"

Mendadak Bong Thian-gak menukas sambil membentak


nyaring, "Tak usah banyak bicara lagi, sekarang hanya ada
dua jalan yang bisa kau pilih, pertama ikut bersama kami
kembali ke gedung Bengcu atau ingin mampus dibunuh?"

"Membunuh aku? Hm!" nona berbaju merah mendengus


dingin. "Tak akan semudah apa yang kau bayangkan, bila
tak percaya silakan dicoba sekarang!"
Pendekar Cacat 243

"Baik, kalau begitu sambutlah seranganku!" seru Bong


Thian-gak sambil tertawa dingin.

Bong Thian-gak bergerak secara aneh dan menerjang ke sisi


kanan gadis berbaju merah dengan kecepatan luar biasa,
kemudian telapak tangan kirinya secara aneh diayun ke
depan langsung menghantam ke wajah gadis berbaju
merah itu.

Menyaksikan datangnya ancaman yang begitu dahsyat,


nona berbaju merah tak berani ayal, cepat kaki kirinya
berputar ke dalam, sementara telapak tangan kanan
menyapu keluar langsung membacok urat nadi pergelangan
tangan kiri Bong Thian-gak.

Agaknya Bong Thian-gak tahu gadis itu memiliki kepandaian


silat yang sangat lihai, maka begitu turun tangan jurus-jurus
serangan yang dipergunakan diselipi suatu ancaman yang
berbahaya.

Sementara itu telapak tangan kirinya disodokkan,


membentuk gerakan setengah busur di udara, tangan
kirinya seperti ular sakti menerobos melalui lubang kosong
di antara tangkisan tangan kanan gadis berbaju merah dan
secepat kilat menotok jalan darah Khi-hay-hiat.
Pendekar Cacat 244

Serangan ini selain ganas dan sakti, juga aneh bukan


kepalang.

Paras muka gadis berbaju merah berubah hebat, kakinya


segera memainkan langkah tujuh bintang, dalam waktu
singkat dia sudah mundur sejauh beberapa kaki.

Begitu nona berbaju merah mundur, dia sama sekali tak


memberi peluang bagi Bong Thian-gak untuk menguasai
keadaan lagi, telapak tangannya diayunkan ke depan,
kesepuluh jari tangannya dibentangkan dan langsung
menyentil ke depan, secara tepat dia menerjang ke muka
dan mengancam sepuluh jalan darah penting di tubuh Bong
Thian-gak.

Serangan balasan itu dilancarkan dengan kecepatan


bagaikan sambaran kilat.

Bong Thian-gak menjerit kaget, tubuhnya segera berkelit ke


samping secara aneh, kemudian mundur sejauh tujuh-
delapan kaki.

"Apakah nona anak murid Mi-tiong-bun?" serunya dengan


wajah terperanjat.

Nona berbaju merah tersenyum, "Tadi sewaktu kau


melepaskan pukulan untuk membinasakan Sam-kaucu, aku
Pendekar Cacat 245

lihat di balik pukulanmu itu kau sembunyikan juga ilmu


sakti dari Mi-tiong-bun yang disebut Tat-lay Lhama Sin-
kang, kalau begitu kau pun anak murid Mi-tiong-bun dari
Tibet?"

Bong Thian-gak benar-benar terkejut, segera tanyanya


dengan suara dalam, "Sebenarnya nona murid siapa? Cepat
utarakan atau aku akan turun tangan keji kepadamu."

"Sekali pun kau berhasil mencuri belajar ilmu Tat-lay Lhama


Sin-kang dari Mi-tiong-bun, bukan berarti kau pasti dapat
membunuhku, buat apa kau mendesak orang terus-
menerus?"

Setelah menyaksikan dua gebrakan yang barusan


berlangsung dan mendengarkan tanya-jawab kedua orang
itu, paras muka Ho Put-ciang dan Thia Leng-juan berubah
hebat.

Perlu diketahui, ilmu silat Mi-tiong-bun dari Tibet


selamanya hanya diwariskan kepada kaum Lhama, selama
ratusan tahun ini mereka tak pernah menurunkan
kepandaian itu kepada orang lain.

Tapi kenyataan hari ini ada dua orang preman yang dapat
mempergunakan ilmu sakti Mi-tiong-bun, tidak heran
mereka jadi terperanjat bercampur keheranan.
Pendekar Cacat 246

Bong Thian-gak sendiri semenjak mengetahui gadis berbaju


merah memiliki kepandaian silat ajaran Mi-tiong-bun, paras
mukanya segera berubah menjadi serius dan berat.

Dalam waktu singkat sepasang tangannya sudah


disilangkan di depan pusar, kemudian sambil memejamkan
mata rapat-rapat dia berdiri diam.

Sebenarnya gadis berbaju merah itu pun bersikap acuh tak


acuh, namun setelah menyaksikan cara Bong Thian-gak itu,
rasa tegangnya segera menyelimuti wajahnya, cepat
telapak tangannya satu di depan yang lain di belakang
disilangkan di depan dada, sementara kakinya pun terus
bergeser ke arah samping kiri, sementara sorot matanya
yang tajam tiada hentinya mengawasi wajah Bong Thian-
gak.

Dari sikap Bong Thian-gak yang berdiri tegak bagai batu


karang, Ho Put-ciang dan Thia Leng-juan segera tahu
serangan yang hendak dilancarkan pemuda itu pasti
semacam kepandaian sakti yang maha dahsyat.

Ketika memandang pula ke arah gadis berbaju merah itu,


dia pun telah menghimpun seluruh kekuatan dan
tenaganya untuk bersiap sedia, tampaknya dia tahu jurus
serangan yang hendak dilepaskan Bong Thian-gak itu
merupakan jurus serangan yang menakutkan.
Pendekar Cacat 247

Bong Thian-gak memejamkan mata, tetapi ia terus


mengikuti pergeseran badan si gadis berbaju merah itu,
tampaknya dia sudah mengincar korbannya secara jitu dan
telak.

Suasana tempat itu diliputi keheningan, hawa membunuh


yang mengerikan membuat suasana terasa menegangkan.

Sepasang kaki nona berbaju merah sudah saling silang,


bagaikan siput yang berjalan saja, pelan-pelan dia bergeser
menuju ke arah sebelah kiri, wajahnya telah basah oleh
butiran keringat sebesar kacang kedelai.

Tampaknya gerakan semacam itu cukup memeras tenaga


maupun pikiran kedua belah pihak.

Mendadak terdengar gadis berbaju merah menghela napas


sedih, kemudian ujarnya, "Sudahlah, kita tak usah
bertarung lebih jauh, aku mengaku kalah saja!"

Sembari berkata dia segera menarik kembali sepasang


telapak tangannya.

Akan tetapi Bong Thian-gak masih tetap memejamkan mata


rapat-rapat. Seluruh pikiran, perasaan dan hawa murninya
telah terhimpun menjadi satu, dia tak menjawab atau pun
bergerak.
Pendekar Cacat 248

Menyaksikan keadaan itu, paras nona berbaju merah itu


berubah hebat, tampaknya dia terkejut bercampur takut,
segera serunya lagi, "Untuk bertanding, biasanya orang
hanya membatasi sampai saling menutul saja, apakah kau
baru puas setelah membinasakan diriku?"

Ho Put-ciang dan Thia Leng-juan yang mendengar


perkataan itu mengerut dahinya rapat-rapat, mereka
berdua saling pandang sekejap, kemudian bibir bergerak
seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi akhirnya niat itu
diurungkan.

Keadaan Bong Thian-gak waktu itu tak jauh berbeda


dengan seorang pendeta yang sedang bersemedi dan lupa
segala-galanya, dia seperti tidak mendengar perkataan
gadis berbaju merah itu.

Melihat hal itu, nona berbaju merah terkejut bercampur


gugup, mendadak saking gelisahnya, dia langsung menangis
tersedu-sedu, serunya dengan suara iba, "Kau jangan
membunuh aku, kau jangan membunuh diriku ... cepat kau
tarik kembali seranganmu itu ...."

Perubahan ini membuat Ho Put-ciang dan Thia Leng-juan


bingung setengah mati, "Benarkah Bong Thian-gak hendak
membunuhnya? Sekali pun nona ini adalah anggota Put-
gwa-cin-kau, tidak seharusnya dia membinasakan dirinya?
Pendekar Cacat 249

Isak tangis nona berbaju merah makin memilukan,


bagaimana pun juga suara tangisan gadis cilik memang
gampang membangkitkan perasaan iba orang lain.

Siapa pun yang menyaksikan kejadian ini, lambat-laun


hatinya akan menjadi lembek juga.

Akhirnya Ho Put-ciang menghela napas panjang, serunya,


"Ko-siauhiap, tariklah kembali ilmumu itu!"

Ketika mendengar suara Ho Put-ciang itulah Bong Thian-gak


membuka kembali sepasang matanya.

Tapi di saat yang sangat singkat itulah mendadak nona


berbaju merah melejit ke tengah udara, kemudian dengan
gerakan yang amat cepat bagaikan sambaran kilat dia
berkelebat melalui atas kepala Thia Leng-juan dan
melarikan diri dari situ.

Bong Thian-gak membentak, sepasang telapak tangannya


dari kiri kanan segera diayun ke tengah udara melepaskan
pukulan dahsyat.

Terasa segulung angin lembut berhembus, tahu-tahu gadis


berbaju merah sudah berada sejauh tujuh-delapan tombak,
kemudian dengan sekali lompatan, bayangan tubuhnya
sudah lenyap di balik kegelapan sana.
Pendekar Cacat 250

Bong Thian-gak menjadi gusar, segera ia menyumpah, "Aku


sudah tahu dia bakal kabur, ternyata akhirnya termakan
juga oleh siasat busuknya!"

Ho Put-ciang dan Thia Leng-juan sekali lagi saling pandang


sekejap, mereka saling membungkam, sementara paras
mukanya dilapisi rasa malu dan menyesal.

Setelah menghela napas panjang, kata Ho Put-ciang,


"Semuanya j;ara-gara aku, coba kalau aku tidak iba, tak
mungkin dia dapat lolos dari sini, aku benar-benar telah
berbuat salah, aku telah membuat Ko-Siauhiap kecewa."

Bong Thian-gak menghela napas panjang, setelah


ditatapnya wajah Ho Put-ciang dan Thia Leng-juan sekejap,
katanya kemudian, "Ho-beng-cu tak usah terlalu
menyalahkan diri sendiri, ya, sesungguhnya isak pekannya
memang amat memelas hati, sekali pun orang yang berhati
baja pun pasti akan iba mendengarnya, ai ... tiap anggota
Put-gwa-cin-kau rata-rata licik bagaikan rase, nampaknya
dunia persilatan benar-benar sudah terancam oleh mara
bahaya besar."

"Ko-heng, apa kau yakin perempuan tadi anggota Put-gwa-


cin-kau?" tanya Thia Leng-juan dengan wajah serius.
Pendekar Cacat 251

Bong Thian-gak menggeleng, "Aku tak berani memastikan,


tapi sembilan puluh persen dia adalah orang penting dalam
Put-gwa-cin-kau, bila dugaanku tidak keliru, gadis berbaju
merah yang masih muda belia tadi adalah Kiu-kaucu."

Thia Leng-juan menghela napas, "Ai, kalau begitu percuma


saja kita membunuh Sam-kaucu, mata-mata dalam Bu-lim
Bengcu-hu juga tak bisa dibasmi secara tuntas!"

Bong Thian-gak turut menghela napas, "Ai, semua ini gara-


gara diriku yang kurang tegas, coba kalau aku tega
melancarkan serangan ganas, tak mungkin dia kabur dari
sini. Yang penting sekarang kita harus segera kembali dulu
ke gedung Bu-lim Bengcu dan menceritakan segala
peristiwa ini kepada Ku-lo Locianpwe, kemudian kita baru
berunding menyusun rencana berikutnya."

Maka ketiga orang itu pun segera mengerahkan ilmu


meringankan tubuh kembali ke gedung Bu-lim Bengcu.

Waktu itu sudah mendekati tengah malam, Ho Put-ciang,


Thia Leng-juan dan Bong Thian-gak langsung menuju ke
loteng di sebelah timur.

Baru saja mereka bertiga tiba di bawah loteng, cahaya


lampu sudah muncul dalam ruangan, tampak Ku-lo Sinceng
Pendekar Cacat 252

telah menunggu di depan mulut tangga dengan wajah


serius.

Ho Put-ciang bertiga pun membungkam, mereka buru-buru


naik ke atas loteng.

Tampaknya Ku-lo Sinceng sudah tidak sabar menunggu


lebih jauh, ia menegur, "Bagaimana dengan tugas kalian?"

Hu Put-ciang menghela napas panjang, "Ai, gara-gara


Wanpwe bersikap teledor, usaha kita selama ini sia-sia
belaka."

Dengan cepat keempat orang itu sudah duduk dalam ruang


tamu, secara ringkas dan jelas Ho Put-ciang menceritakan
semua peristiwa yang telah berlangsung kepada Ku-lo
Sinceng.

Selesai mendengar cerita itu, Ku-lo Sinceng memejamkan


mata sambil termenung sejenak, kemudian pelan-pelan
berkata, "Ho-hiantit sekalian berhasil membunuh Sam-
kaucu, berarti usaha kalian sukses besar, mengapa dibilang
usaha kalian sia-sia belaka? Gadis berbaju merah memang
di luar dugaan siapa pun, tidak tahu bagaimana harus
menghadapi, apalagi kalian telah mengerahkan segenap
kemampuan."
Pendekar Cacat 253

Bong Thian-gak menghela napas, segera katanya pula,


"Semakin Locianpwe tidak menegur, Wanpwe justru
merasa semakin menyesal!"

Ku-lo Sinceng menggeleng kepala berulang kali, "Perkataan


Ko-siauhiap kelewat serius, mengenai kemunculan gadis
berbaju merah itu membuat Pinceng menemukan suatu
petunjuk yang berharga sekali, mungkin petunjuk itu jauh
lebih penting artinya daripada melenyapkan kaum mata-
mata di gedung Bengcu ini."

"Kalian harus tahu, mata-mata yang diselundupkan ke


dalam gedung Bengcu ini adalah orang pintar, tapi orang
yang paling penting seperti Sam-kaucu yang menyaru
sebagai Pinceng kini telah berhasil dilenyapkan, aku pikir
sisanya sudah tidak mempunyai arti yang amat penting,
sebab sisa mata-mata yang berada dalam gedung ini cepat
atau lambat akan menampakkan wujudnya masing-masing
dan berusaha kabur dari sini."

Dengan serius Thia Leng-juan bertanya, "Ku-lo Supek, kau


telah berhasil menemukan petunjuk penting?"

Ternyata pendekar sastrawan dari Im-ciu ini adalah murid


Sute Ku-lo Hwesio yang merupakan orang pereman, oleh
karena itu dia memanggil Supek kepada Ku-lo Hwesio.
Pendekar Cacat 254

Pendeta agung itu termenung sejenak, lalu berkata, "Asal


kita dapat membuktikan gadis berbaju merah itu adalah
anggota Put-gwa-cin-kau, ini membuktikan Cong-kaucu Put-
gwa-cin-kau mempunyai hubungan yang sangat erat
dengan perguruan Mi-tiong-bun di Tibet."

Bicara sampai di situ, Ku-lo Sinceng mengalihkan sorot


matanya yang tajam ke wajah Bong Thian-gak, kemudian
lanjutnya lebih jauh, "Ko-siauhiap, apakah kau dapat
menerangkan dari siapa mempelajari ilmu sakti perguruan
Mi-tiong-bun itu?"

Bong Thian-gak menghela napas sedih, "Dia adalah seorang


kakek penyendiri yang keempat anggota tubuhnya cacat,
Wanpwe tidak tahu nama serta asal-usul orang tua itu, dia
memiliki ilmu silat sangat hebat, hampir semua ilmu
berbagai perguruan dapat diyakinkan olehnya."

"Dia orang tua sudah meninggal dunia, Wanpwe berkumpul


selama tujuh tahun lamanya dengan orang itu, dia
meninggal pada tiga bulan berselang."

"Tokoh sakti itu sudah cacat keempat anggota badannya,


tapi Ko-siauhiap yang cuma menerima pelajaran teori
darinya pun sudah berhasil memiliki kepandaian silat begini
Pendekar Cacat 255

sempurna, sudah jelas ilmu silat orang itu hebat sekali,"


kata Ho Put-ciang.

Bong Thian-gak tersenyum.

"Sebelum aku bertemu dengannya, aku sudah pernah


berguru selama belasan tahun, oleh karena itu meskipun
hanya mendapat teori saja dari Suhuku yang kedua ini,
sedikit banyak rahasia ilmu silatnya berhasil juga
kupahami."

"Ko-siauhiap, tampaknya kemujuran orang memang tak


dapat diminta, secara beruntun kau dapat memperoleh
didikan dari dua orang guru kenamaan, hal itu patut diberi
ucapan selamat."

Pelan-pelan Bong Thian-gak mengangkat kepala, lalu


memandang sekejap ke arah Ku-lo Sinceng, katanya,
"Semua perkataan yang Wanpwe ucapan adalah kata-kata
jujur dan sama sekali tidak bohong. Tentang ilmu silat aliran
Mi-tiong-bun, setahuku kepandaian mereka tak pernah
diwariskan kepada orang luar, Wanpwe tahu jelas akan hal
ini. Si kakek yang menyendiri itu pun bukan anak murid Mi-
tiong-bun, namun ilmu silat yang diketahuinya sangat luas,
bahkan ilmu sakti Siau-lim-pay juga diketahuinya dengan
jelas."

"Wanpwe dan dia orang tua hidup bersama dalam gua di


sebuah lembah, tujuh tahun lamanya hidup berdampingan,
Pendekar Cacat 256

meski sudah kuusahakan dengan segala cara untuk mencari


tahu asal-usul orang tua itu, namun usahaku itu tak pernah
berhasil."

"Kalau begitu dendam Sicu terhadap Put-gwa-cin-kau


merupakan masalah gurumu yang pertama?" tiba-tiba Ku-
lo Sinceng bertanya.

Bong Thian-gak mengangguk, "Tepat dugaan Locianpwe."

Ku-lo Sinceng menghela napas dalam-dalam.

"Ai ... apakah Sicu bersedia melukiskan bagaimanakah raut


wajah orang sakti itu?" pintanya.

"Sewaktu aku bertemu dengan Suhuku yang kedua ini, dia


sudah berdiam cukup lama di dalam gua itu, badannya
sudah tersiksa hingga tinggal kulit pembungkus tulang,
sehingga pada hakikatnya sukar untuk dilukiskan
bagaimanakah raut wajahnya."

"Dia tak pernah menjelaskan cara bagaimana keempat


anggota badannya itu menjadi cacat kepadamu?" tanya Ku-
lo Sinceng dengan kening berkerut kencang.

Bong Thian-gak menghela napas panjang.


Pendekar Cacat 257

"Sesaat sebelum meninggal, dia orang tua hanya


mengucapkan beberapa patah kata saja, 'Selama hidup
Lohu sudah banyak melakukan kejahatan, terpengaruh oleh
napsu sendiri sehingga menggunakan cara yang keji dan
licik untuk memperoleh nama, pahala dan kekayaan, tapi
akhirnya tujuh puluh tahun hidupku hanya terkurung
percuma ... ai dendam kesumat dalam Bu-lim memang tak
pernah berakhir, hukum karma selalu berlaku atas dosa-
dosaku ini, Lohu harus merasa tersiksa selama tiga puluh
tahun, hukuman memang tak akan pernah terhindar dariku
....'."

Sampai di situ, Bong Thian-gak berhenti sejenak, lalu


sambungnya lebih jauh, "Di saat dia menghembuskan
napas yang penghabisan itulah dia orang tua berkata lagi
padaku, 'Kau ... kau adalah orang kedua yang pernah
mendapat warisan ilmu silat dariku, semoga kau dapat
baik-baik mempergunakannya ....'."

Thia Leng-juan menyela bertanya, "Siapakah orang


pertama?"

Bong Thian-gak tertawa getir. "Bila aku mengetahui hal ini,


berarti aku akan mengetahui asal-usul Suhuku yang kedua,"
jawabnya.
Pendekar Cacat 258

Pelan-pelan Thia Leng-juan menggelengkan kepala


berulang-kali, }\yimamnya, "Tak kusangka di dunia ini
terdapat banyak orang dan Kejadian aneh."

"Di saat guruku yang kedua meninggal dunia, dia berusia


tujuh puluh tahun, dari kata-katanya menjelang ajal,
peristiwa tragis itu terjadi saat dia berusia tiga puluh tahun,
keempat anggota badannya menjadi cac at dan harus hidup
menyepi di gua kematian dalam lembah terpencil, Ku-lo
Locianpwe, dapatkah kau merenungkan jago persilatan
manakah yang mirip dengan pengalaman guruku yang
kedua ini."

Di saat Bong Thian-gak selesai menuturkan pesan terakhir


gurunya tadi, Ku-lo Hwesio sudah memejamkan mata
termenung.

Tak lama kemudian, dia baru membuka matanya dan


menjawab dengan suara dalam, "Jago persilatan yang
paling termasyhur pada waktu itu adalah Bu-lim Bengcu
Thi-ciang-kan-kun-hoan Oh Ciong-hu, lalu Pak-hiap
(pendeta dari utara) Thian-kay Lojin, Say-pit-ceng Ih Hoan,
Mo-kiam-sin-kun To Tian-seng serta perempuan paling
cantik di wilayah Kanglam Ho Lan-hiang...."

Sampai di sini, kembali Ku-lo Hwesio memejamkan mata


rapat-rapat, kemudian baru melanjutkan, "Dari kelima
Pendekar Cacat 259

orang ini, hampir boleh dibilang mereka tidak pernah


melakukan kejahatan besar, dari usia mereka, Say-pit-ceng
Ih Hoan dan Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng yang agak
mendekati, lagi pula asal-usul mereka memang sangat
misterius."

Mendengar ini, Bong Thian-gak segera mengerut dahi,


katanya kemudian, "Mungkinkah Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-
seng? Tapi waktu Tio Tian-seng terjun ke dunia persilatan
baru berusia dua puluh enam tahun, ditambah tiga puluh
tujuh tahun berarti usianya sekitar enam puluh lima
tahun!"

"Kalau dibilang Say-pit-ceng Ih Hoan," sela Ku-lo Hwesio,


"pada tiga puluh tujuh tahun lalu dia telah berusia empat
puluh tahun, berarti dia berusia tujuh puluh tahun lebih."

"Selain kelima orang ini, apakah masih ada orang yang


pantas dicurigai?"

"Masih ada empat orang buas lagi, mereka adalah To-ci-


kim-kong (Malaikat raksasa berjari tunggal) Lui Ko Hoatsu,
Jian-bin-hu-li (Rase berwajah seribu) Ban Li-biau, Thian-san-
him-ong (Raja beruang dari Thian-san ) Ho Lak serta Hiat-
bin-mo (Setan muka darah) Si Jit-ciang ...."

"Tapi dari keempat orang itu, ada tiga orang di antaranya


telah dibunuh oleh Suhu," timbrung Ho Put-ciang cepat.
Pendekar Cacat 260

"Siapakah di antara mereka yang tidak berhasil dibunuh


Oh-bengcu almarhum?" cepat Bong Thian-gak bertanya.

"Jian-bin-hu-li Ban Li-biau!"

"Kejahatan apa saja yang pernah dilakukan olehnya?"

Ku-lo Hwesio menghela napas sedih, katanya pelan, "Tiga


puluh tujuh berselang, Ban Li-biau merupakan tokoh
penjahat ulung dunia persilatan, selain memperkosa,
membunuh, mencuri dan merampok dia pun sering
melakukan perbuatan jahat lainnya, hingga menimbulkan
amarah segenap umat persilatan waktu itu, semua orang
bergabung untuk bersama-sama menghabisi orang ini...."
"Bagaimana akhirnya?"

Ku-lo Hwesio menghela napas panjang, "Sama sekali tiada


kabar beritanya."

"Mengapa?"

"Ban Li-biau berjuluk Jian-bin-hu-li, membuktikan


kecerdikan dan kelicikannya, selain itu dia pun pandai
menyaru dan berganti muka, jarang ada orang di Bu-lim
yang pernah melihat wajah aslinya, mana mungkin orang
dapat membekuknya untuk dijatuhi hukuman? Untung tiga
puluh tahun lalu Jian-bin-hu-li sudah lenyap."
Pendekar Cacat 261

Bong Thian-gak menghela napas sedih, "Ai ... sungguh tidak


kusangka Suhuku yang kedua adalah Jian-bin-hu-li Ban Li-
biau!"

"Apakah Ko-siauhiap yakin akan dia?" tanya Ho Put-ciang.

"Dari ucapan dia orang tua menjelang ajal serta rasa


tobatnya dari kejahatan yang pernah dilakukan, hal ini
membuktikan dia adalah Jian-bin-hu-li Ban Li-biau ...."

Ku-lo Hwesio turut menghela napas, "Betul, guru kedua Ko-


siauhiap mungkin sekali adalah Ban Li-biau, sebab kecuali
dia, tiada orang kedua di dunia ini yang bisa dicurigai!"

"Sebenarnya Pinceng menduga Jian-bin-hu-li adalah Cong-


kaucu Put-gwa-cin-kau, kalau dipikirkan sekarang,
kemungkinan besar Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau adalah
orang lain."

Ketika selesai mengucapkan perkataan itu, paras muka Ku-


lo Sinceng kembali berubah serius dan kereng, jelas benak
Ku-lo Hwesio sekarang sedang dipenuhi persoalan lain.

Karena kecurigaan atas Jian-bin-hu-li Ban Li-biau sebagai


pentolan Put-gwa-cin-kau gugur, dia berusaha memeras
otak dan menduga lagi siapa gerangan orang yang cocok
untuk dicurigai sebagai pentolan Put-gwa-cin-kau itu.
Pendekar Cacat 262

Bong Thian-gak memahami perasaan Ku-lo Sinceng


sekarang, maka dengan perasaan berat semua orang pun
bungkam.

Selang beberapa saat kemudian, barulah terdengar Ku-lo


Hwesio hrrkata dengan lembut, "Fajar sudah menjelang
tiba, kalian bertiga pergilah beristirahat dulu!"

Ho Put-ciang bertanya, "Ku-lo Supek, tolong tanya perlukah


kita mengumumkan kepada para jago tentang peristiwa
Sam-kaucu itu?"

"Lebih baik kita merahasiakan dulu persoalan ini, tunggu


sampai tiba kesempatan yang lebih cocok sebelum
diumumkan."

"Tapi ...." Ho Put-ciang menunjukkan keraguannya.


"Kehadiran Ko-siauhiap dalam gedung Bu-lim Bengcu ini...."

"Oya ... hampir saja Pinceng lupa, antara Ko-sicu dengan


para pendekar telah terjadi perselisihan ... padahal
kehadiran para pendekar ke gedung Bu-lim Bengcu pun
hanya untuk berbela-sungkawa atas kematian Oh-bengcu,
sedang jenazah Oh-bengcu pun telah diputuskan untuk
disimpan dalam gedung es, Pinceng rasa para jago
persilatan boleh membubarkan diri kembali ke rumah
masing-masing, lebih baik besok siang kita umumkan segala
Pendekar Cacat 263

sesuatunya pada mereka, di samping mengumumkan


peristiwa Sam-kaucu, juga menjelaskan kepada para jago
yang hendak menangkap Ko-siauhiap."

"Ku-lo Supek, tolong tanya apa tindakan kita selanjutnya


untuk menghadapi Put-gwa-cin-kau?" tanya Thia Leng-juan
pula.

Ku-lo Hwesio menghela napas panjang, "Kini bencana telah


meluas di seluruh dunia persilatan, terpaksa bertemu satu
membunuh satu, kita berusaha terus menumpas mereka
sampai ludes."

"Kalau memang demikian, bukankah Jit-kaucu kini berada


dalam kota Kay-hong, mengapa kita tidak ke situ untuk
membekuknya?"

Dengan suara dalam Ku-lo Hwesio berkata, "Mengenai Jit-


kaucu, hampir Lolap lupa meninggalkan pesan, perempuan
ini telah berhasil memiliki ilmu Soh-li-jian-yang-sin-kang,
boleh dibilang kepandaiannya sudah tiada tandingan lagi di
dunia ini, bila kalian bertemu dengannya, lebih baik
menyingkir, jangan coba menghadapi dengan kekerasan."

Mendengar itu, Thia Leng-juan tertegun. "Supek,


memangnya kita harus duduk diam menunggu kematian
dan membiarkan Jit-kaucu datang mencari kita?" serunya.
Pendekar Cacat 264

Mencorong tajam mata Ku-lo Hwesio.

"Sudah delapan tahun lamanya Pinceng duduk menutup


diri dalam ruangan, Lolap sudah bertekad
menaklukkannya."

"Locianpwe, caramu menaklukkannya berarti kerugian


besar bagi umat persilatan?" tiba-tiba Bong Thian-gak
menimbrung dari samping.

Diam-diam Ku-lo Hwesio terperanjat mendengar perkataan


itu, pikirnya kemudian, "Masa dia dapat menebak suara
hati Lolap?"

Pada saat itulah Thia Leng-juan bertanya lagi, "Supek,


apakah kau hendak menghadapi Jit-kaucu seorang diri?"

"Menurut apa yang Lolap ketahui, di dunia dewasa ini tiada


orang kedua yang bisa lolos dari pukulan Soh-li-jian-yang-
sin-kang itu tanpa menemui ajal."

"Supek, kalau engkau harus bertarung melawan Jit-kaucu


dan seandainya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan ...."
Thia Leng-juan tak mampu melanjutkan kata-katanya, dia
bungkam dengan sedih.
Pendekar Cacat 265

Ku-lo Hwesio tertawa getir, "Setelah melakukan


penyelidikan selama delapan tahun, Pinceng percaya
musuh pun takkan memperoleh keuntungan apa-apa."

Mendadak Thia Leng-juan bertanya lagi, "Apakah Supek


telah menulis surat tantangan untuk berduel dengan Jit-
kaucu? Harap Supek jangan merahasiakan persoalan ini
kepada kami...."

Begitu ucapan itu diutarakan, Bong Thian-gak dan Ho Put-


ciang amat terperanjat, mereka membelalakkan mata
lebar-lebar dan menanti jawaban Ku-lo Hwesio.

Agak emosi Ku-lo Hwesio menjawab, "Lolap tidak menulis


surat tantangan terhadap Jit-kaucu, tetapi telah
menetapkan hari kematian untuk Pinceng."

"Apakah maksud perkataanmu itu?" tanya Bong Thian-gak


dengan terkejut.

Dari dalam sakunya Ku-lo Hwesio mengeluarkan sepucuk


surat dan diletakkan di bawah sinar lentera, kemudian
ujarnya, "Surat ini baru kuterima setengah jam sebelum
kalian pulang kemari."

Sementara itu Ho Put-ciang, Thia Leng-juan dan Bong


Thian-gak hersama-sama mengalihkan sorot matanya ke
atas surat itu.
Pendekar Cacat 266

Di atas kertas tadi tercantum beberapa kalimat yang


berbunyi: Kepada yang terhormat Ku-lo Taysu dari Siau-lim-
si. Kematian Sam-kaucu merupakan tanggung-jawabku,
apabila Cong-kaucu menegur, akulah yang mendapat
hukuman.

Oleh sebab itu kumohon kepada Taysu agar berbelas


kasihan dengan

mengakhiri hidupmu dalam tiga hari mendatang atau pada


malam hari keempat aku akan datang merenggut
nyawamu. Tertanda: Jit-kaucu Put-gwa-cin-kau

Selesai membaca surat itu, Ho Put-ciang bertiga menjadi


gusar dan terkejut.

Sambil tertawa dingin Bong Thian-gak berkata, "Sungguh


amat besar nada bicara orang ini!"

Thia Leng-juan termangu beberapa saat, kemudian


tanyanya, "Dengan cara bagaimana surat ini disampaikan
kemari?"

"Waktu itu Pinceng sedang duduk bersemedi di atas loteng,


kudengar ada dua orang pejalan malam sedang melintas,
menyusul dari balik jendela melayang masuk sepucuk surat.
Waktu itu Pinceng agak ragu sejenak, ternyata si pengantar
Pendekar Cacat 267

surat itu telah pergi, Ginkangnya tak malu disebut sebagai


jagoan wahid di kolong langit."

Bong Thian-gak berkerut kening.

"Ketika si nona berbaju merah Ni Kiu-yu melarikan diri,


jaraknya dengan waktu kita pulang cuma setengah jam,
bagaimana mungkin ia bisa melapor lebih dulu berita
kematian Sam-kaucu ini kepada Jit-kaucu?" gumamnya.

Begitu nama Ni Kiu-yu disinggung, Ho Put-ciang dan Thia


Leng-juan turut merasakan suatu keanehan.

"Tatkala kalian sedang menuturkan pertarungan melawan


Sam-kaucu tadi, Lolap sudah merasa curiga," kata Ku-lo
Hwesio, "Mungkin Jit-kaucu juga turut menyaksikan
terbunuhnya Sam-kaucu dari atas pagoda Leng-im-po-tah,
namun dia tidak muncul, di saat kalian sedang berusaha
menangkap gadis berbaju merah itu, dia berangkat ke
gedung Bengcu."

Thia Leng-juan manggut-manggut.

"Ya benar, kemungkinan memang begitu, namun sewaktu


kami kembali ke pagoda Leng-im-po-tah untuk menangkap
gadis berbaju merah itu, sama sekali tidak kujumpai ada
orang melarikan diri dari situ," serunya kemudian.
Pendekar Cacat 268

"Atau kemungkinan juga Jit-kaucu sudah tahu kita hendak


turun tangan membunuh Sam-kaucu," kata Ku-lo Hwesio.

"Bukankah persoalan ini hanya diketahui kita berempat?


Siapa yang membocorkan rahasia ini?" tanya Bong Thian-
gak.

"Tentu saja tak ada orang yang membocorkan rahasia itu.


Mungkin jejak Lolap sudah diketahui oleh Jit-kaucu dan dia
pun telah dapat membedakan mana yang asli dan mana
yang gadungan!"

Bong Thian-gak menghela napas.

"Ai... benar. Dari tulisan Jit-kaucu, tampaknya dia sudah


tahu kita berencana membunuh Sam-kaucu ...."

Ku-lo Hwesio berkata lebih lanjut, "Kehadiran gadis berbaju


merah di pagoda Leng-im-po-tah pun sudah pasti bukan
suatu peristiwa yang kebetulan, mungkin sekali sedang
melaksanakan perintah Jit-kaucu untuk memberi bantuan,
sayang kedatangannya terlambat satu langkah dan Sam-
kaucu telah tewas dipukul Ko-siauhiap."

Ho Put-ciang menghela napas panjang. "Ai, kalau begitu


tindakan kita melepas gadis berbaju merah dari Leng-im-
po-tah merupakan suatu Undakan yang keliru besar,"
keluhnya.
Pendekar Cacat 269

"Yang sudah lewat biarlah lewat, kita tak usah


menyinggungnya! Sedangkan mengenai tantangan Jit-
kaucu, Pinceng bermaksud untuk menghadapinya seorang
diri, itulah sebabnya aku tidak berniat memberitahukan
kepada kalian."

Bong Thian-gak merasa darah panas dalam dada bergolak


keras, serunya kemudian, "Locianpwe, soal tantangan Jit-
kaucu, biar Wanpwe saja yang mewakili."

Ku-lo Hwesio tersenyum.

"Ko-siauhiap gagah dan mempunyai ilmu tinggi, dengan


masa depan panjang, selain Jit-kaucu jangan lupa, masih
ada Cong-kaucu yang merupakan musuh kita paling
tangguh."

"Supek, Tecu mohon agar akulah yang pergi memenuhi


janji itu," pinta Thia Leng-juan.

Kembali Ku-lo Hwesio menggeleng kepala berulang-kali.

"Thia-hiantit, ilmu silat yang kau miliki sekarang sudah


mencapai tingkatan luar biasa dan jauh mengungguli
gurumu, tapi ilmu pukulan Soh-li-jian-yang-sin-kang dari Jit-
kaucu bukanlah ilmu silat biasa!"
Pendekar Cacat 270

"Ku-lo Supek, bagaimana rencanamu menyambut


tantangan Jit-kaucu itu?" Ho Put-ciang bertanya.

Ku-lo Hwesio menggeleng kepala berulang-kali.

"Pinceng jelas belum mengambil keputusan, tapi sudah


pasti dalam empat hari ini...."

Berbicara sampai di sini, dia berhenti sejenak, kemudian


lanjutnya, "Soal pertarungan Lolap melawan Jit-kaucu,
harap kalian tak usah risau, terus terang Lolap sudah
mempunyai rencana cukup matang."

"Jika Ku-lo Supek menghadapi musuh sendirian, bisa jadi


musuh akan menggunakan cara kita membunuh Sam-kaucu
...."

Mendengar perkataan Ho Put-ciang itu, paras muka Ku-lo


Hwesio berubah hebat, selanya, "Pinceng pun telah
mempertimbangkan hal ini, harap Ho-hiantit tak usah
kuatir."

"Tapi aku benar-benar tidak tenang ...."

Kentongan kelima sudah berbunyi, dari luar jendela sana


tampak cahaya api sudah memancar menembus kegelapan,
malam yang panjang pun telah berakhir.
Pendekar Cacat 271

Pelan-pelan Ku-lo Hwesio bangkit, berjalan ke sisi jendela


dan menarik napas panjang, kemudian pelan-pelan ujarnya,
"Sejak Oh Ciong-hu menjabat sebagai Bu-lim Bengcu, dunia
persilatan telah melewatkan masa yang tenang dan aman,
namun setiap kejadian di dunia ini seakan-akan mempunyai
masa berlaku, sebab Thian telah mengatur semua kejadian
ini untuk kita. Sekali pun Lolap mungkin akan mati dalam
pertarungan ini, namun setelah terjadinya perubahan di
Bu-lim, sudah pasti akan muncul seorang penolong yang
akan menenteramkan kekacauan dan melenyapkan semua
kejahatan dari muka bumi...."

Sampai di sini, dia membalikkan badan dan duduk kembali


di atas kasurnya, setelah itu katanya lebih jauh, "Ko-
siauhiap, Ho-hiantit, Thia-hiantit, kalian bertiga merupakan
tonggak dunia persilatan di masa mendatang, jaya atau
kacaunya dunia persilatan di kemudian hari, keadilan dan
kebenaran di dunia ini tergantung pada perjuangan kalian,
oleh sebab itu keselamatan kalian jauh lebih penting
daripada orang lain, aku minta kalian jangan bertindak
hanya karena dorongan emosi."

"Kalian harus tahu, seorang Tay-enghiong, Tay-ho-kiat


banyak membutuhkan persyaratan, bukan terbentuk
mengandal keberanian saja, contoh yang jelas, di masa
Sam-kok dulu, Lu Poh paling berani, tapi dia berani tanpa
disertai rencana yang matang sehingga tak lebih hanya
seorang panglima kasar. Sebagai seorang Enghiong sejati
dibutuhkan penyesuaian diri dengan keadaan, bisa maju
Pendekar Cacat 272

bisa pula mundur, bisa keras bisa juga lunak, segalanya


harus diatur dengan perencanaan jangka panjang yang
sempurna."

Nasehat Ku-lo Hwesio ini kontan membuat beban pikiran


Ho Put-ciang, Thia Leng-juan dan Bong Thian-gak semakin
berat, lamat-lamat mereka merasakan suatu firasat jelek
yang sudah menjelang datang di hadapan mereka.

"Nah, sekarang kalian boleh pergi beristirahat!" Ku-lo


Hwesio mengakhiri kata-katanya.

Maka Ho Put-ciang bertiga pun memberi hormat kepada


Ku-lo Hwesio dan mengundurkan diri, mereka menuju ke
loteng sebelah barat.

Setelah masuk ke dalam ruang tamu, Pa-ong-kiong Ho Put-


ciang yang pertama-tama berkata, "Ku-lo Supek telah
memutuskan untuk menghadapi Jit-kaucu seorang diri, dari
nada suaranya, dia orang tua telah bertekad untuk
mengorbankan diri demi terwujudnya cita-cita yang luhur,
sekarang bagaimana baiknya?"

"Yang kita kuatirkan Jit-kaucu merencanakan suatu


pengeroyokan, atau menggunakan siasat busuk untuk
mencelakainya," kata Thia Leng-juan mengemukakan pula
rasa kuatirnya.
Pendekar Cacat 273

Pelan-pelan Bong Thian-gak berkata, "Yang perlu kita


ketahui sekarang adalah kapan dan dimanakah Ku-lo
Locianpwe menerima tantangan dari Jit-kaucu?"

"Bagaimana cara kita mengetahuinya?" keluh Ho Put-ciang


sedih.

"Mulai sekarang, secara bergilir kita harus mengawasi


gerak-gerik Ku-lo Locianpwe, bila ia menunjukkan suatu
tindakan, kita harus segera mengetahuinya."

"Benar," kata Thia Leng-juan. "Dengan demikian bisa


dicegah pihak lawan melakukan pengerubutan."

Tapi Ho Put-ciang menggeleng kepala, ujarnya,


"Mendengar nasehat terakhir Ku-lo Supek tadi, lamat-lamat
aku punya firasat dia lelah menyadari bahwa pertempuran
ini lebih banyak bahayanya bagi dia daripada
keberuntungan ...."

Bong Thian-gak menghela napas, "Jauh pada delapan tahun


berselang, Ku-lo Locianpwe pernah menerima serangan Jit-
kaucu, mungkin selama delapan tahun ini dia orang tua
telah menyelidiki dan mendalami ilmu untuk melawan Soh-
li-jian-yang-sin-kang, kalau dia orang tua sampai menderita
kekalahan di tangan Jit-kaucu, siapa lagi di Bu-lim dewasa
ini yang mampu menandingi perempuan ini?"
Pendekar Cacat 274

"Bagaimana pun juga Jit-kaucu harus dilenyapkan, cepat


atau lambat Ku-lo Locianpwe juga akan berhadapan
dengannya, hanya soal waktu saja, mungkin pertarungan ini
berlangsung jauh lebih awal."

"Thia-heng, Ko-siauhiap, harap kalian beristirahat dulu, biar


aku yang mengawasi gerak-gerik Ku-lo Supek dari sini," ujar
Ho Put-ciang kemudian.

"Ho-bengcu, bila kau ada urusan silakan saja, aku belum


berminat tidur," sahut Bong Thian-gak.

Meskipun pertarungan sengit yang berlangsung semalam


amat memeras tenaga dan semua orang merasa lelah
sekali, tapi setiap orang sedang dicekam perasaan tegang
dan berat, maka Bong Thian-gak bertiga sama sekali tidak
beristirahat.

Tengah hari itu Ho Put-ciang mengumpulkan semua jago


dunia persilatan beserta Toan-jong-hong-liu Yu Heng-sui
dan Oh Cian-giok, untuk mengumumkan penyaruan Sam-
kaucu sebagai Ku-lo Sinceng serta perubahan situasi dunia
persilatan akhir-akhir ini.
Pendekar Cacat 275

Sebagai kesimpulan terakhir, para jago yang diwakili


sembilan partai besar mengutus Goan-ko Taysu dari Siau-
lim-pay, Ui-hok Totiang dari Bu-tong-pay, Wan-pit-kim-to
(Golok emas berlengan monyet) Ang Thong-lam dari Tiam-
jong-pay dan Hian-thian-koancu Yu Ciang-hong dari Khong-
tong-pay untuk berdiam dalam gedung Bu-lim Bengcu guna
membantu Ho Put-ciang membangun kembali pamor Bu-
lim Bengcu atau persekutuan dunia persilatan.

Sedangkan yang lain kembali ke partai masing-masing


untuk melaporkan keadaan kepada ketua masing-masing,
di samping secara diam-diam membersihkan mata-mata
Put-gwa-cin-kau yang menyusup dan meningkatkan
kewaspadaan untuk menghadapi setiap bentrokan yang
mungkin meletus dengan pihak Put-gwa-cin-kau.

Sejak itu sembilan partai dunia persilatan dalam sehari saja


telah berubah menjadi kelompok kekuatan yang maha
dahsyat dan sanggup menghadapi segala perubahan yang
mungkin terjadi.

Mengenai tantangan Jit-kaucu kepada Ku-lo Sinceng,


kecuali Bong Thian-gak, Thia Leng-juan dan Ho Put-ciang,
yang lain tidak diberitahu.

Waktu berlalu dengan cepat, tiga hari sudah lewat, suasana


dalam gedung Bu-lim Bengcu pun tenang, namun ratusan
Pendekar Cacat 276

manusia yang berada dalam gedung itu tak sedikit pun


merasa tenang.

Terutama Ho Put-ciang, Thia Leng-juan dan Bong Thian-gak,


selama beberapa hari ini paras muka mereka kelihatan
kusut dan sayu.

Ku-lo Hwesio dari Siau-lim-si juga tak pernah meninggalkan


loteng sebelah timur barang selangkah pun selama tiga hari
ini.

Bong Thian-gak bertiga berada di bangunan sebelah barat,


dapat menyaksikan keadaan Ku-lo Hwesio dengan jelas, ia
masih tetap duduk bersila di atas kasur duduknya dengan
tenang.

Matahari senja telah condong ke barat, kabut malam pun


lambat-laun menyelimuti angkasa. Kini Ho Put-ciang, Thia
Leng-juan dan Bong Thian-gak telah berkumpul di atas
loteng sebelah barat.

Sambil menghela napas panjang, Ho Put-ciang berkata,


"Malam ini Ku-lo Supek tidak memasang lentera, jelas
hendak melakukan tindakan pada malam ini."
Pendekar Cacat 277

"Ya, batas waktu yang diberikan Jit-kaucu bagi Ku-lo Supek


untuk bunuh diri akan berakhir tengah malam nanti,"
sambung Thia Leng-juan.

Mendadak Bong Thian-gak menyela, "Mulai sekarang, kita


bertiga harus memisahkan diri mengawasi tempat itu dari
tempat terpisah."

Maka mereka bertiga pun segera keluar. Mereka


berdandan sebagai pengawal gedung dan berpencar
melakukan pengawasan.

Bong Thian-gak berada di balik kegelapan di sudut gedung


sebelah barat laut.

Malam ini rembulan memancarkan sinar terang, membuat


suasana tidak terlalu gelap, pemandangan pada radius
seratus kaki masih dapat terlihat dengan jelas.

Angin malam berhembus membawa udara dingin, malam


pun makin kelam.

Mendadak tampak sesosok bayangan orang berjalan


melalui mangan sebelah utara, di bawah sinar rembulan,
tampak kepala orang Itu gundul, tak salah lagi inilah kepala
seorang pendeta.
Pendekar Cacat 278

Dengan gerakan enteng seperti burung walet. Bong Thian-


gak segera melompat keluar dari tempat
persembunyiannya dan melakukan penghadangan dari arah
timur laut.

Bukan hanya Bong Thian-gak saja yang melakukan


penguntitan, Ho Put-ciang dan Thia Leng-juan yang berjaga
di tenggara dan barat daya pun serentak mengerahkan
Ginkangnya melakukan penguntitan.

Gerakan tubuh keempat orang itu cepat sekali, cekatan dan


hati-hati. Sekali pun penjagaan dalam gedung Bu-lim
Bengcu amat ketat, ternyata tak seorang pun di antara
mereka yang mengetahui jejaknya.

Tak selang beberapa lama, mereka sudah keluar


pekarangan gedung Bengcu.

Pada saat itulah bayangan orang yang sedang berlari di


depan sana mempercepat gerakan tubuhnya menuju ke
arah tenggara.

Setelah melakukan pengejaran sejauh satu li, akhirnya Bong


Thian-gak, Ho Put-ciang dan Thia Leng-juan bertemu satu
sama lain.
Pendekar Cacat 279

Di tengah pengejaran itu, mendadak Bong Thian-gak


berseru tertahan, katanya, "Aneh, seandainya orang di
depan sana adalah Ku-lo Locianpwe, mengapa dia berlari
secara terang-terangan dan sama sekali tidak berusaha
menyembunyikan diri?"

Rupanya Bong Thian-gak teringat tantangan Jit-kaucu atas


diri Ku-lo Hwesio dirahasiakan terhadap orang lain, berarti
gerak-geriknya pasti akan dilakukan dengan hati-hati sekali,
paling tidak dia akan mencari tempat tertutup atau sering
menengok ke belakang.

Tapi orang yang sedang berlari di depan sana tak pernah


berhenti, langsung menuju ke arah hutan tanpa sangsi atau
curiga.

Baru saja Bong Thian-gak mengemukakan hal itu, Ho Put-


ciang dan Thia Leng-juan juga merasa orang di depan
sedikit pun tidak mirip Ku-lo Sinceng.

Akhirnya Ho Put-ciang berseru tertahan, "Aduh celaka, kita


sudah termakan siasat memancing harimau turun gunung."

"Lantas siapakah orang di depan sana?" tanya Bong Thian-


gak kemudian.

"Mungkin Goan-ko Taysu!"

"Mari kita menyusulnya!"


Pendekar Cacat 280

Selesai berkata, mereka segera mempercepat langkah,


seperti anak panah terlepas dari busur, tak lama telah
berhasil menyusul di belakang orang itu.

Sementara itu orang di depan sana merasa jejaknya sedang


diikuti, mendadak saja ia memperlambat gerak tubuhnya.

Bong Thian-gak, Ho Put-ciang, Thia Leng-juan bertiga


segera melampaui orang itu sambil berpaling.

Tampak orang itu berwajah bulat, berkulit putih dan


berwajah merah, mengenakan jubah abu-abu yang
kedodoran dan panjang.

Siapa lagi orang ini kalau bukan Goan-ko Taysu?

Ketika Goan-ko Taysu menyaksikan Ho Put-ciang bertiga


telah menyusul, sekulum senyuman segera menghiasi
wajahnya, katanya, "Toa-supek Pinceng menyuruh aku
meninggalkan gedung Bengcu secara diam-diam pada
tengah malam ini menuju ke arah tenggara, katanya aku
akan segera bertemu dengan Ho-bengcu sekalian, ternyata
kalian bertiga datang tepat pada waktunya, entah ada
urusan apa kalian memanggil Pinceng datang kemari?"

Ketika mendengar perkataan itu, Bong Thian-gak sekalian


merasa gelisah bercampur geli.
Pendekar Cacat 281

Ho Put-ciang tidak menjawab pertanyaan Goan-ko Taysu,


sebaliknya bertanya cemas, "Ko-siauhiap, bagaimana cara
menyusul Ku-lo Supek?"

Bong Thian-gak menghela napas panjang, "Di saat kita


mengejar Goan-ko Taysu tadi, Ku-lo Locianpwe sudah pasti
telah berangkat untuk memenuhi janji, kemana kita harus
menemukannya sekarang?"

"Kita sekarang berempat, mari kita berpencar ke empat


penjuru mencarinya, ya ... apa boleh buat, lebih baik kita
mengadu untung ...." kata Thia Leng-juan kemudian.

Agaknya Goan-ko Taysu masih bingung dan tak habis


mengerti .ikan duduknya persoalan, segera tanyanya, "Ho-
bengcu, sebenarnya apa y.ing telah terjadi?"

"Sekarang waktu amat mendesak dan tidak mungkin


diceritakan, mari kita berpencar mencari Ku-lo Supek,
begitu menemukan jejaknya kita harus membantunya
secara diam-diam."

"Baik," sambung Thia Leng-juan, "Kita pakai gedung Bu-lim


llen^cu sebagai pusat, mari kita berpencar."

Selesai berkata dia membalik tubuh dan berlalu lebih dulu.


Pendekar Cacat 282

Ho Put-ciang segera melakukan pencarian ke arah utara.

Kini tinggal Bong Thian-gak dan Goan-ko Taysu yang masih


berdiri tak berkutik.

Melihat itu, Goan-ko Taysu segera bertanya, "Ko-sicu


hendak mencari ke arah mana?"

"Ke arah selatan!"

Selesai berkata, dia lantas berangkat menuju ke arah barat.

Sepeninggal semua orang. Bong Thian-gak mendongakkan


kepala memandang letak bintang, lalu menyapu pandang
sekeliling tempat itu, akhirnya dia bergumam, "Ku-lo
Sinceng memerintahkan Goan-ko menuju ke tenggara,
menanti kita merasa tertipu dan balik kembali ... kalau
begitu tempat yang dituju kalau bukan timur pasti selatan.
Ke arah timur menuju ke pantai pesisir, sedang ke arah
selatan merupakan kuburan dan dataran bukit... ah, betul!
Sudah pasti tempat itu."

Selesai bergumam Bong Thian-gak segera mengerahkan


ilmu meringankan tubuhnya yang sempurna menuju ke
selatan.
Pendekar Cacat 283

Ilmu meringankan tubuhnya sangat sempurna, tak lama


kemudian dia telah menempuh perjalanan sejauh puluhan
li dan tiba di sebuah tanah berbukit-bukit.

Sejak kecil Bong Thian-gak hidup di kota Kay-hong, maka


dia pun tahu tempat ini bernama Kui-thau-nia (Tebing
kepala setan).

Sejauh mata memandang, di sana-sini hanya berupa tanah


berbukit yang tinggi rendah tak menentu, berlapis-lapis
memanjang ke arah selatan, tiap tebing berketinggian
hampir tiga puluh kaki dengan bentuk seperti kepala
manusia, oleh sebab itulah tebing itu dinamakan Tebing
kepala setan.

Bong Thian-gak ragu sejenak, akhirnya dia mengerahkan


Ginkang menuju tebing paling tinggi dari Kui-thau-nia, dari
tempat ketinggian itulah dia mencoba memeriksa keadaan
di sekitar sana.

Sinar rembulan yang memancarkan sinar lembut


membantu penerangan sekitar sana, tapi suasana di
sekeliling Kui-thau-nia amat sepi bagaikan kota mati saja.

"Mungkinkah aku salah menduga?" Bong Thian-gak


berpikir.
Pendekar Cacat 284

Tapi ia segera berpikir lagi, "Tapi selain tempat ini, di


sebelah selatan tak terdapat tempat lain yang cocok untuk
melangsungkan pertarungan."

Sementara dia masih tertegun dan berdiri termangu,


mendadak dari arah bukit sebelah utara Bong Thian-gak
menyaksikan ada sesosok bayangan orang sedang
meluncur datang dengan kecepatan tinggi.

Waktu itu Bong Thian-gak sudah memilih tempat


persembunyian, matanya mengawasi pendatang itu tanpa
berkedip.

Sementara pendatang itu semakin mendekati bukit Kui-


thau-nia.

Ternyata pendatang ini tak lain adalah Ku-lo Sinceng dari


kuil Siau-lim-si.

Ku-lo Hwesio mengenakan baju berwarna kuning, tasbihnya


tergantung di depan dada, tangannya memegang Hud-tim
dan berjalan naik ke atas bukit dengan langkah amat
tenang.

Ku-lo Hwesio yang bermata tajam memandang sekejap ke


sekeliling tempat itu, kemudian berjalan ke tanah rumput
dan duduk bersila di sana.
Pendekar Cacat 285

Tempat persembunyian Bong Thian-gak berada di belakang


batu karang di sebelah kiri Ku-lo Hwesio, di depan batu
cadas itu kebetulan tumbuh dua batang pohon pinus yang
rendah sehingga menutupi batu karang tadi.

Bong Thian-gak menyangka Ku-lo Hwesio baru akan muncul


pada saat ini, ketika ia mencoba mendongakkan kepala,
tengah malam baru lewat seperempat jam, ia tak tahu jam
berapakah Jit-kaucu menantang Ku-lo Hwesio untuk
bertarung di sini?

Sementara itu Ku-lo Hwesio sudah duduk bersila di situ


sembari bersemedi, Bong Thian-gak juga tak berani
bertindak sembarangan, dia lahu saat Ku-lo Sinceng
bersemedi, telinganya yang tajam dapat menangkap suara
napas yang berada dua puluh kaki sekitar tempat itu.

Maka Bong Thian-gak segera menggunakan ilmu Kui-si-hoat


(ilmu napas kura-kura) dengan menempelkan diri di batu
cadas itu.

Waktu berlalu detik demi detik, menit demi menit ...


tengah malam lewat... jam satu tiba ....

Jam satu lewat, jam dua pun menjelang ... akhirnya malam
yang panjang akan berakhir.
Pendekar Cacat 286

Diam-diam Bong Thian-gak berpikir, "Aneh, mengapa Jit-


kaucu belum juga datang? Atau mungkin Ku-lo Hwesio akan
menunggu seharian di sini?"

Belum habis ingatan itu melintas, di keheningan yang


mencekam di Kui-thau-nia, mendadak berkumandang suara
teguran dingin bagai es, "Ku-lo Hwesio, sejak kapan kau
sampai di sini?"

Bong Thian-gak amat terkejut mendengar ucapan itu,


dengan cepat dia mencoba mencari dengan mengarahkan
ketajaman matanya.

Di tengah kegelapan malam yang paling gelap menjelang


tibanya fajar, Jit-kaucu menampakkan diri.

Sesosok bayangan tubuh yang putih melayang keluar dari


balik kabut yang tebal, seperti sosok bayangan setan tahu-
tahu sudah berdiri di hadapan Ku-lo Hwesio.

Sementara itu Ku-lo Hwesio masih tetap duduk di atas


tanah, sahutnya, "Menjelang tengah malam, Pinceng sudah
sampai."

"Hwesio tua, begitu pagi kau sampai di sini, apakah kuatir


aku memasang jebakan di sini?"

"Pinceng tidak berani."


Pendekar Cacat 287

Kembali Jit-kaucu tertawa dingin, "Sam-kaucu telah


dikerubut di pagoda Leng-im-po-tah hingga menemui ajal,
hari ini mengapa kau tak mengundang orang-orangmu itu,
sehingga Kaucu tak usah repot-repot?"

Bong Thian-gak yang mendengar perkataan itu terkejut,


segera pikirnya, "Mungkinkah dia tahu aku bersembunyi di
sini?"

Sementara dia masih berpikir, Ku-lo Hwesio telah


menyahut, "Bila ada orang yang menyembunyikan diri di
sini, rasanya juga tak bakal lolos dari pengintaian Li-sicu."

"Bagus," kata Jit-kaucu dingin. "Perjanjian kita pada


kentongan kelima merupakan perjanjian menentukan mati
hidup kita, sekarang kita boleh melangsungkan
pertarungan."

"Tunggu dulu!" seru Ku-lo Hwesio tiba-tiba.

"Apakah kau hendak meninggalkan pesan terakhirmu?"

"Sebelum pertarungan dimulai, Pinceng ingin mengajukan


beberapa pertanyaan kepada Li-sicu."
Pendekar Cacat 288

"Persoalan apakah yang hendak kau pahami?"

"Pertama-tama, Pinceng ingin mengetahui lebih dulu


apakah LW sicu adalah Li-siausicu yang pernah muncul di
ruang belakang kuil Siau-j lim-si pada delapan tahun
berselang?"

"Daya ingatmu sangat bagus!"

Si Hwesio sudah mengira, tapi mendengar pengakuan itu,


tak urung hatinya terperanjat juga.

Setelah berhenti sesaat, Ku-lo Hwesio kembali berkata,


"Delapan tahun berselang, Li-sicu telah menggunakan ilmu
Jian-yang-ciang untuk menghantam Pinceng, entah
perselisihan atau dendam kusumat apakah yang terjalin
antara Pinceng dengan Li-sicu?"

Jit-kaucu tertawa dingin, "Delapan tahun berselang, aku


sudah menerangkan kepadamu bahwa aku mendapat
perintah mencabut nyawamu, sama sekali tiada ikatan
dendam atau sakit hati pribadi!"

"Omitohud!" puji syukur Ku-lo Hwesio untuk keagungan


Sang Ikiddha. "Li-sicu memiliki ilmu silat yang amat dahsyat,
namun perbuatanmu justru mencelakai orang secara
Pendekar Cacat 289

sembarangan, apakah kau lak merasa bahwa tindakanmu


ini melanggar norma-norma hukum Thian?" ,

"Suhuku telah membuang waktu selama dua puluh tahun


untuk mendidikku siang malam, Hwesio tua, kau tak usah
bersilat lidah lagi." "Siapakah Suhu Li-sicu? Dapatkah
memberitahu kepadaku?" "Dia adalah Cong-kaucu Put-
gwa-cin-kau."

"Apakah Cong-kaucu itu pria atau wanita?" kembali Ku-lo


Hwesio bertanya sambil menghela napas panjang.

"Perempuan! Sebenarnya persoalan itu tidak boleh


kuberitahukan kepadamu, tapi mengingat kau akan kembali
ke langit barat, tidak ada salahnya kuberitahukan
kepadamu!"

Sekali lagi Ku-lo Hwesio menghela napas, "Bila begitu,


perkiraan Pinceng tak salah, kalau Li-sicu telah
mengatakannya, mengapa tak kau hehutkan juga nama
gurumu itu?"

"Sudah diberi hati minta ampela ... ai, padahal aku sendiri
pun tak tahu siapa namanya."

"Masih ada satu hal lagi yang hendak kutanyakan, yaitu


ilmu Soh-It )ian-yang-sin-kang yang dilatih Li-sicu sudah
berhasil mencapai tingkat berapa?"
Pendekar Cacat 290

"Sudah mencapai tingkat kesembilan, Hwesio tua, buat apa


kau menanyakan persoalan ini?"

Dengan sedih Ku-lo Hwesio menghela napas panjang,


"Sebab di dalam pertarungan ini, Pinceng sama sekali tidak
mempunyai keyakinan untuk menang, andai aku tewas di
tangan Li-sicu, mungkin di Bu-lim dewasa ini tidak ada
orang yang bisa menghadapimu lagi."

Jit-kaucu tertawa terkekeh-kekeh, "Kau adalah jago lihai


nomor satu dalam Bu-lim, bila aku dapat membunuhmu,
apakah di Bu-lim masih ada orang yang bisa mengungguli
diriku lagi?"

Dengan suara dalam Ku-lo Hwesio berkata, "Ilmu silat amat


luas dan dalam, sama sekali tiada batasannya. Sejak dulu
pun banyak orang berbakat yang berhasil mempelajari ilmu
sakti dan menganggap dirinya tanpa tanding di kolong
langit, tapi akhirnya mereka justru tewas di tangan orang
lain. Li-sicu adalah seorang cerdik, tentunya kau dapat
memahami perkataanku bukan?"

"Hm, kini kentongan kelima sudah lewat, kau tak usah


banyak bicara lagi!" tukas Jit-kaucu dingin.

"Omitohud, para Nabi pernah berkata, tiada manusia yang


tak pernah berbuat kesalahan, tapi siapa yang mau
Pendekar Cacat 291

mengubah kesalahannya, dialah manusia bijaksana, Li-sicu


mumpung belum terperosok lebih dalam lagi, lepaskanlah
golok pembunuhmu, karena bila kau berpaling, di sanalah
akan kau jumpai tepian."

Beberapa patah kata itu diutarakan dengan suara nyaring


sehingga menggetarkan seluruh bukit dan mendengung
tiada hentinya.

Paras muka Jit-kaucu berubah hebat, segera bentaknya,


"Hari ini aku mengundangmu datang bukan untuk
mendengarkan kuliah Taysu, bila Taysu memiliki ilmu sakti
pelindung badan, gunakan saja dengan segera!"

Sementara itu fajar telah menyingsing di ufuk timur, cahaya


keemas-emasan pun mulai memancar ke empat penjuru.

Jit-kaucu mengenakan pakaian berwarna putih dengan


mantel yang terbuat dari bulu rase putih, begitu anggun,
cantik dan memukau.

Sebaliknya Ku-lo Hwesio dari Siau-lim-si duduk bersila di


tanah dengan sikap kereng dan serius, ia mengenakan kain
berwarna kuning dengan tasbih tergantung di leher,
sepasang tangannya dirapatkan menjepit sebatang Hud-
tim.
Pendekar Cacat 292

Kini kedua tokoh sakti dari dunia persilatan ini berdiri


dalam jarak dekat/empat mata memancarkan sinar tajam
saling tatap, pertempuran sengit akan segera berlangsung.

Bong Thian-gak berada puluhan kaki dari arena, matanya


yang tajam mengawasi gerak-gerik kedua orang itu tanpa
berkedip.

Mendadak Jit-kaucu melejit ke tengah udara, kemudian


secepat kilat menerjang ke arah Ku-lo Hwesio.

Terhadap terjangan Jit-kaucu itu, Ku-lo Hwesio bersikap


seakan-akan tidak melihat, dia tetap duduk bersila sambil
memegang kebutnya tanpa bergerak.

Ketika terjangan Jit-kaucu hampir mencapai tubuh Ku-lo


Sinceng, mendadak dia melesat dengan cepat, lalu
melayang turun, kemudian dengan suara dingin bentaknya,
"Hwesio tua, tenaga dalammu benar-benar amat
sempurna, rupanya kau telah menguasai ilmu Tat-mo-khi-
kang!"

Begitu selesai berkata, Jit-kaucu melejit kembali ke tengah


udara.

Pertarungan sengit dengan kecepatan tinggi pun segera


berkobar.
Pendekar Cacat 293

Tatkala tubuh Jit-kaucu telah berada dekat Ku-lo Sinceng,


tangan kanannya diayun berulang-kali dan secara beruntun
melancarkan empat serangan berantai.

Ku-lo Hwesio segera melancarkan serangan balasan,


sepasang telapak tangannya yang menjepit kebut
mendadak menyambar ke samping, kebut tadi telah
menari-nari dengan cepat.

"Wes", hembusan tajam menderu.

Untuk kedua kalinya terjangan Jit-kaucu mengalami


kegagalan dan tubuhnya segera mundur.

Bong Thian-gak menonton jalannya dua kali bentrokan


kekerasan dari Ku-lo Sinceng dan Jit-kaucu, hatinya
terperanjat, pikirnya, "Kalau aku yang dihadapkan dengan
serangan itu, mungkin serangan yang pertama Jit-kaucu
pun tak mampu kutahan."

Setelah gagal dengan serangannya, tiba-tiba Jit-kaucu


menghindar dengan wajah serius, selapis hawa dingin
mencekam wajahnya, dihiasi pula dengan hawa nafsu
membunuh yang mengerikan.

Sementara itu paras muka Ku-lo Hwesio juga berubah


serius.
Pendekar Cacat 294

Mendadak Jit-kaucu mengangkat telapak tangan kirinya


pelan-pelan, kemudian telapak tangan yang putih dan halus
itu diluruskan ke depan, pada telapak tangannya lamat-
lamat tampak cahaya merah membara seperti bola api
yang berputar kencang.

Dengan kening berkerut. Bong Thian-gak membatin,


"Mungkin serangan inilah yang dinamakan ilmu Soh-li-jian-
sin-kang yang hebat itu!"

Belum habis ingatan itu melintas, tubuh Jit-kaucu sudah


melejit lagi ke tengah udara dan melancarkan tubrukan
ketiga kalinya.

Mungkin dalam serangan inilah akan ditentukan menang-


kalah kedua belah pihak.

Pertarungan itu mungkin tidak akan berlangsung terlampau


lama, oleh sebab itu Bong Thian-gak mengalihkan sorot
matanya yang tegang mengawasi jalannya pertarungan
tanpa berkedip.

Tampak Jit-kaucu pelan-pelan bergerak ke depan dan


lambat-laun mendekat ke arah Ku-lo Hwesio.

Tiba-tiba telapak tangan kiri Jit-kaucu yang putih


memancarkan cahaya merah yang amat menyilaukan mata,
ibarat matahari yang baru terbit, bola api berputar-putar.
Pendekar Cacat 295

Di saat itu pula telapak tangan Jit-kaucu segera


memanfaatkan kesempatan untuk menerobos masuk.

Kenyataan membuktikan bahwa ilmu pukulan Soh-li-jian-


sin-kang Jit-kaucu telah berhasil memecah pertahanan Tat-
mo-khi-kang yang disalurkan Ku-lo Hwesio untuk
melindungi tubuhnya.

Dalam waktu yang amat singkat itulah telapak tangan


kedua belah pihak memainkan berbagai macam jurus
serangan yang aneh tapi amat sakti.

Suara jeritan keras bergema di udara dan mengakhiri


pertarungan itu.

Tubuh Jit-kaucu mencelat ke samping kanan kemudian


jatuh terbanting ke tanah, kemudian tak berkutik lagi.

Sebaliknya jubah kuning yang dipakai Ku-lo Hwesio juga


banyak terdapat lubang di sana-sini, namun dia masih tetap
berdiri dan diam di tempat semula.

Bong Thian-gak yang menyaksikan adegan itu menjadi


gembira, akhirnya Jit-kaucu berhasil juga dikalahkan.

Sebenarnya ia ingin keluar dari tempat persembunyiannya


untuk memburu ke depan, tapi setelah menyaksikan Ku-lo
Pendekar Cacat 296

Hwesio masih tetap berdiri tak berkutik di tempat semula,


ia tertegun.

Tak lama kemudian, Ku-lo Hwesio menghembus napas


panjang dengan sedih, lalu melangkah ke depan menuju ke
arah Jit-kaucu yang terkapar di tanah itu.

Kini Bong Thian-gak dapat melihat muka Ku-lo Hwesio


pucat-pias seperti mayat, tampaknya dia telah banyak
kehilangan hawa murninya.

Setelah mengawasi beberapa kejap tubuh Jit-kaucu yang


tak berkutik itu, Ku-lo Hwesio baru membalikkan badan dan
berlalu dari situ.

Bong Thian-gak ingin memanggil, namun setelah


termenung sebentar dia lantas berpikir, "Entah
bagaimanakah keadaan Jit-kaucu?"

Teringat akan Jit-kaucu, Bong Thian-gak segera teringat


pula keindahan tubuh si nona yang telanjang bulat itu.

Ku-lo Hwesio berlalu dengan sangat cepat, bayangan


tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.

Pada saat itulah Bong Thian-gak muncul dari balik batu


karang dan berjalan mendekat.
Pendekar Cacat 297

Matahari pagi telah memancarkan sinarnya menembus


awan tebal dan menyoroti wajah Jit-kaucu.

Tampak Jit-kaucu memejamkan mata rapat-rapat,


wajahnya yang cantik kini pucat keabu-abuan, tiada luka di
atas tubuhnya, namun ujung bibirnya tampak noda darah,
pakaiannya juga penuh dengan noda darah.

Diam-diam Bong Thian-gak menghela napas panjang,


pikirnya, "Gadis yang begini cantik akhirnya harus menemui
ajal dalam keadaan mengenaskan, tak lama kemudian dia
akan berubah menjadi sekerat tulang-belulang."

Berpikir sampai di sini, dia lantas merenung lebih jauh,


"bagaimana pun juga dia sudah mati, kasihan jenazahnya
dibiarkan telantar disinari terik matahari, ditimpa air hujan
atau mungkin akan menjadi santapan serigala kelaparan ....
Ai, bagaimana pun juga Kematian akan mengakhiri segala-
galanya, biarlah kubuatkan sebuah liang untuk mengubur
jenazahnya!"

Bong Thian-gak segera mencabut pedangnya yang tajam


dan menggunakan pedang sebagai sekop untuk menggali
sebuah liang kubur di situ.

Setelah membuang waktu hampir setengah jam lamanya,


dia telah berhasil membuat sebuah liang.
Pendekar Cacat 298

Di kala Bong Thian-gak berpaling untuk mengubur jenazah


Jit-kaucu, mendadak dia tertegun.

Rupanya jenazah itu sudah lenyap entah kemana perginya.

Sementara Bong Thian-gak terkejut, tiba-tiba terdengar


seorang menegur dengan suara merdu, "Buat apa kau
menggali liang kubur?"

Mendengar teguran itu kembali ia berpaling, hampir saja


pemuda itu menjerit keras.

Ternyata Jit-kaucu sudah duduk di bawah pohon kurang


lebih belasan kaki di hadapannya.

Jadi dia belum mati?

Bong Thian-gak sungguh terperanjat, sekali lagi ia


mengawasi tubuh nona itu dengan seksama, ternyata ujung
bibirnya masih penuh noda darah, pakaiannya juga masih
berlepotan darah, hanya paras mukanya yang semula
pucat-pias, kini sudah nampak lebih baikan.

Menyaksikan Bong Thian-gak lama sekali membungkam, Jit-


kaucu menghela napas sedih, kemudian katanya, "Apakah
kau membuat liang kubur itu untuk mengubur jenazahku?"

"Kau ... kau belum mati?" Bong Thian-gak berseru tergagap.


Pendekar Cacat 299

"Kalau sudah mati, bagaimana mungkin bisa bicara?" jawab


Jit-kaucu hambar.

Bong Thian-gak segera menggerakkan badannya seraya


berseru lantang, "Jika kau belum mati, maka aku harus
mencabut jiwamu."

"Mengapa engkau hendak mencabut nyawaku?" tegur Jit-


kaucu tanpa berubah wajah.

Bong Thian-gak tertegun oleh pertanyaan itu, setelah


termenung sebentar, ia baru menjawab, "Kau adalah
pentolan yang menerbitkan berbagai keonaran dalam Bu-
lim, sebelum kau mati, dunia persilatan tak akan
memperoleh kedamaian."

"Ku-lo Hwesio saja tak mampu mencabut nyawaku, apalagi


kau ... kau tak mungkin berhasil."

"Jadi kau hanya pura-pura mati?" tanya Bong Thian-gak


dengan perasaan bergetar keras.

"Aku jatuh tak sadarkan diri tapi tidak mati, ilmu silat
Hwesio tua itu memang sangat lihai, sangat sempurna,
cuma sayang dia ...."

"Dia kenapa?" seru Bong Thian-gak cepat.

"Dia tak bisa hidup lebih tujuh hari," kata Jit-kaucu.


Pendekar Cacat 300

"Mengapa tak dapat hidup lebih tujuh hari?"

"Tadi dia telah menggunakan pertarungan adu jiwa yang


bisa menyebabkan kedua belah pihak sama-sama terluka,
pada kesempatan itu jalan darah Jin-meh dan Tok-meh
Hwesio tua itu telah kulukai dengan pukulan Soh-li-jian-
yang-sin-kang. Dia tidak segera tewas karena tenaga
dalamnya sempurna, tapi akhirnya tak akan lolos juga dari
kematian."

Bong Thian-gak benar-benar terperanjat mendengar


ucapan itu, "Sungguh perkataanmu itu?"

"Apa yang kuucapkan tentu saja sungguh-sungguh."

Paras Bong Thian-gak berubah hebat, dia tak menyangka


jerih-payah Ku-lo Hwesio untuk melenyapkan Jit-kaucu dari
muka bumi menjadi punah tak berbekas, dia tak segan
mengorbankan jiwa sendiri dengan melakukan pertarungan
adu jiwa.

Baginya, asal Jit-kaucu bisa dilenyapkan, sekali pun harus


mati dia tak sayang, namun ia bertindak kurang teliti,
sebelum memeriksa mati-Iiidup lawan, ia telah berlalu
begitu saja dan akibatnya usaha yang dilakukan selama ini
menjadi sia-sia belaka.
Pendekar Cacat 301

Tadi selagi Jit-kaucu tak sadar, bila Ku-lo Hwesio


mengetahui gadis itu belum mati tentu akan menambahi
dengan sebuah pukulan mematikan, sudah pasti Jit-kaucu
takkan bisa hidup lebih lama.

Bong Thian-gak pun menyesal mengapa tak memeriksa


lebih dulu atau mungkin Jit-kaucu memang belum
ditakdirkan untuk mati?

Terdengar Jit-kaucu berkata, "Kau yang menjumpai aku


mati ternyata tak tega membiarkan jenazahku terbengkalai
di tanah terbuka, bahkan menggalikan liang lahat untuk
mengubur jenazahku, meski aku lak jadi mati, namun
kebajikan serta kemuliaan hatimu sungguh membuat aku
terharu dan tidak akan melupakan kebaikanmu itu untuk
selamanya."

Sementara itu pikiran Bong Thian-gak amat kalut, dalam


keadaan dan kondisi seperti ini sudah seharusnya ia
menampilkan diri dan menggunakan segenap kekuatan
yang ada untuk menyelesaikan tugas Ku-lo Sinceng yang
belum terselesaikan itu.

Begitu niat itu melintas. Bong Thian-gak segera mengambil


keputusan dalam hati, sesudah tertawa dingin, katanya,
"Aku tidak peduli bagaimana ilmu silatmu, aku bertekad
bertarung melawanmu."
Pendekar Cacat 302

"Aku pun mengambil keputusan untuk tidak mencelakai


jiwamu, sebagai ucapan terima kasihku atas kebaikanmu
membuat liang lahat bagiku tadi."

"Maaf kalau begitu!" sambil berkata dia segera maju


sembari melancarkan sebuah tusukan kilat.

Ilmu silat Bong Thian-gak sekarang telah mencapai tingkat


yang luar biasa, tusukan itu pun disertai tenaga yang amat
dahsyat, itulah ilmu pedang terbang Cwan-sim-kiam-hoat
(Ilmu pedang penembus hati).

Jit-kaucu masih duduk di bawah pohon tanpa bergerak,


menanti serangan itu datang, tiba-tiba saja dia
menyentilkan jari tangannya ke depan.

Bunyi bergemerincing yang memekakkan telinga


berkumandang memecah keheningan.

Sambil menarik kembali senjatanya, Bong Thian-gak


mundur sejauh tiga-empat langkah, kemudian serunya
dengan terperanjat, "Hm, ilmu jari Kiam-goan-ci!"

"Betul, inilah Kiam-goan-ci, ilmu sakti perguruan Mi-tiong-


bun di Tibet. Kiu-kaucu perkumpulan kami pernah
memberitahu kau punya ilmu sakti aliran Mi-tiong-bun,
nampaknya apa yang dia laporkan memang benar."

"Kau maksudkan si nona berbaju merah itu?"


Pendekar Cacat 303

"Ya, betul! Ni Kiu-yu!"

Bong Thian-gak memang sudah menduga gadis berbaju


merah yang muncul di pagoda Leng-im-po-tah itu tentu
merupakan anggota Put-gwa-cin-kau, ternyata apa yang
diduga memang betul, gadis muda itu adalah Kiu-kaucu.

Jit-kaucu berkata lagi, "Hingga sekarang aku belum berhasil


menduga riwayat hidupmu, tapi dari aliran ilmu silat yang
kau miliki, bukan saja memahami ilmu silat Mi-tiong-bun
dan menguasai seluruh aliran ilmu silat semua partai di
kolong langit, bila dugaanku tidak salah hanya dua orang di
kolong langit dewasa ini yang bisa mengajar seorang murid
semacam kau ini."

"Siapakah kedua orang itu?" tanya Bong Thian-gak


keheranan.

"Pertama adalah Cong-kaucu perkumpulan kami!"

"Kau maksudkan Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau?" seru Bong


Thian-gak tertegun.

"Hari ini aku ingin kau bicara blak-blakan, benarkah kau


utusan khusus yang dikirim Cong-kaucu untuk mengawasi
diriku?"
Pendekar Cacat 304

Semakin mendengar, Bong Thian-gak semakin bingung, tapi


dari perkataan Jit-kaucu ini pula dia tahu bahwa antara
sesama anggota Put-gwa-cin-kau sebenarnya saling tidak
percaya dan curiga.

Kemungkinan besar Put-gwa-cin-kau terbentuk karena


usaha Cong-kaucu yang mempengaruhi orang dengan
kekerasan.

Sekarang Bong Thian-gak dihadapkan pada suatu masalah


penting yang harus diputuskan dengan cepat, tanpa terasa
dia berkerut kening sambil termenung.

Dengan sorot mata tajam Jit-kaucu mengawasi wajah Bong


Thian-p.ak lekat-lekat, gumamnya, "Selama puluhan tahun
terakhir ini, Suhu amat baik terhadapku, mengapa aku
harus mencurigai dia?"

Mendengar perkataan itu, Bong Thian-gak mengangkat


kepala dan memandang sekejap ke arah Jit-kaucu,
kemudian katanya, "Tadi Ku-lo Sinceng telah berkata
kepadamu, dari dulu hingga sekarang terdapat pentolan
persilatan yang ingin menjadi raja dunia persilatan, coba
berapa banyak orang yang tewas dengan nama rusak dan
tubuh binasa? Bilamana kau pintar, sudah seharusnya
berpaling ke jalan benar, mumpung sekarang masih belum
terlambat."
Pendekar Cacat 305

"Kau menginginkan aku berbuat apa?" tanya Jit-kaucu


dengan miara hambar.

"Melepas jalan sesat kembali ke jalan yang benar."

Jit-kaucu tersenyum.

"Kau belum menjawab pertanyaanku tadi?" serunya.

"Aku bukan anggota Put-gwa-cin-kau!" jawab Bong Thian-


gak.

"Oh, kalau begitu kau adalah muridnya?"

"Murid siapa?"

"Jian-bin-hu-li Ban Li-biau!"

Mendengar itu kontan paras muka Bong Thian-gak berubah


hebat, tanyanya, "Kau pun kenal nama itu?"

"Tiada nama jago lihai di dunia ini yang tidak kukenal."

Diam-diam Bong Thian-gak terkejut, dengan cepat dia


berpikir, "Sebelum menemui ajal. Suhu kedua telah
berkata, ada seorang lain pernah memperoleh pelajaran
ilmu silat darinya, mungkinkah orang itu adalah Jit-kaucu?"
Pendekar Cacat 306

Berpikir sampai di situ Bong Thian-gak segera bertanya,


"Kau pernah berjumpa dengannya?"

"Kau ini bagaimana? Mengapa tidak menjawab dulu


pertanyaan orang?"

"Ya, betul! Dia adalah guruku," jawab Bong Thian-gak


kemudian dengan suara tegas.

Paras muka Jit-kaucu berubah hebat, tanyanya, "Sudah


matikah dia?"

"Ya, baru beberapa bulan berselang."

Jit-kaucu menghela napas, "Ai, pernahkah dia menceritakan


sesuatu tentang diriku?"

"Sebenarnya ada hubungan apakah antara kau dengan dia


orang tua?"

"Guru yang memberi pelajaran ilmu silat selama empat


puluh sembilan hari kepadaku."

Dengan terkejut Bong Thian-gak berkata, "Jit-kaucu, kau


adalah orang pertama yang memperoleh warisan ilmu silat
dari dia orang tua?"
Pendekar Cacat 307

"Benar, peristiwa itu berlangsung dua puluh tahun


berselang, aku hanya empat puluh sembilan hari berada
bersamanya."

"Dua puluh tahun berselang? Lantas pada umur berapa kau


bertemu dengan dia orang tua?"

"Waktu berumur lima tahun."

Bong Thian-gak menggeleng kepala berulang-kali.

"Sejak usia lima tahun sudah berlatih silat, bahkan


memperoleh pelajaran silat selama empat puluh sembilan
hari."

"Waktu itu aku masih belum memahami ilmu silat, tapi dia
orang tua membacakan teori ilmu silat dan suruh aku
menghafal di luar kepala, maka aku pun ingat terus sampai
sekarang."

Bong Thian-gak menghela napas sedih, "Ai, sebelum


meninggal, Suhu Ban Li-biau telah berkata kepadaku,
'Selama hidup Lohu hanya melakukan kejahatan, kemaruk
akan nama, harta dan kedudukan, selalu berusaha
mencapai harapan dengan menggunakan cara apa pun, tapi
akibatnya tujuh puluh tahun hidupku di dunia ini sia-sia
belaka ... Ai budi dendam dalam Bu-lim selamanya
merupakan perputaran dari hukum karma, siksaan hidup
Pendekar Cacat 308

yang Lohu alami selama tiga puluh tahun ini betul-betul


merupakan suatu hukuman yang paling adil....'."

"Hanya mengucapkan kata-kata itu saja?" tanya Jit-kaucu.

"Dia masih berkata bahwa ia pernah mewariskan ilmu silat


kepada seorang lain, dia suruh aku baik-baik
mempergunakan ilmu itu."

"Ai, dia orang tua memang kelewat mengenaskan nasibnya,


kelewat kesepian," ujar Jit-kaucu menghela napas.

"Tahukah kau mengapa dia orang tua menjadi cacat seperti


itu?"

"Tidak!"

Dengan suara dalam Bong Thian-gak berkata, "Kau dan aku


boleh dibilang berasal dari perguruan yang sama, kata-kata
terakhir dari Jian-bin-hu-li Ban Li-biau sudah jelas
menerangkan bagaimana akibatnya bila seseorang
melakukan kejahatan, sekarang bagaimana perasaanmu?"

Paras muka Jit-kaucu berubah. "Kau jangan menasehati


aku," katanya.

"Aku harus memberi peringatan padamu agar jangan


bercerita kepada siapa pun bahwa kau pernah belajar ilmu
Pendekar Cacat 309

silat dari Ban Li-biau, sebab bila rahasia ini sampai bocor,
maka keselamatan jiwamu akan terancam."

"Aku tidak takut menghadapi kematian, asal kematianku itu


berharga, setiap saat aku bersedia mengorbankan diri demi
keadilan dan kebenaran."

"Ya, kini kau dan aku sudah menjadi Suheng-moay," ucap


Jit-kaucu sedih. "Tapi kita pun berhadapan sebagai musuh,
bagaimana aku harus menyelesaikan persoalan ini?"

Setelah mengucapkan kata-kata itu, wajahnya


menampilkan perasaan sedih dan murung yang tak
berlukiskan.

Bong Thian-gak sendiri pun merasa betapa cepatnya


perubahan ini berlangsung, sebetulnya hari ini dia bertekad
akan mengadu jiwa dengannya, tapi kenyataan
membuktikan bahwa mereka adalah sesama saudara
seperguruan, bagaimana mungkin dia bisa turun tangan?

Mendadak Bong Thian-gak menarik kembali pedangnya dan


berkata dengan wajah serius, "Tentang usulku agar kau
kembali ke jalan yang benar harap dipikirkan masak-masak,
tindak-tandukmu di kemudian hari yang akan menentukan
segalanya."
Pendekar Cacat 310

Usai berkata dia membalikkan badan dan siap berlalu dari


situ.

Mendadak Jit-kaucu berseru, "Tunggu dulu!"

Pelan-pelan Bong Thian-gak membalikkan badan, lalu


bertanya, "Masih ada urusan apa lagi?"

Dengan wajah dingin Jit-kaucu berkata, "Apabila Ku-lo


Hwesio masih ingin mempertahankan jiwanya atas luka
yang dideritanya, suruh dia mengurungi sepasang kakinya
sebatas lutut dalam tiga jam, biarkan darah mengalir keluar
hingga berubah menjadi merah segar, kemudian baru
hentikan aliran darah itu, bila melewati waktu yang
ditentukan, maka dia akan berubah menjadi cacat!"

Bong Thian-gak tertegun.

"Mungkin dia mempunyai cara pengobatan yang lebih


baik," katanya kemudian.

"Hanya cara ini saja yang bisa mempertahankan ilmu


silatnya hingga tidak punah, percaya atau tidak terserah
kepadamu."

"Siapa tahu dia tidak menderita begitu parah seperti apa


yang kau ucapkan?"
Pendekar Cacat 311

"Ku-lo Sinceng memang telah berhasil menemukan ilmu


silat yang bisa menandingi Soh-li-jian-yang-sin-kang, namun
dia telah salah memperhitungkan kesempurnaan tenaga
dalamku."

Sampai di situ dia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, "Aku


bernama Thay-kun, di Bu-lim hanya kau seorang yang
mengetahui namaku itu."

"Thay-kun? Kau berasal dari marga apa?" tanya Bong Thian-


gak dengan kening berkerut.

"Belum kuketahui apa margaku."

Walaupun Bong Thian-gak agak tercengang oleh jawaban


itu, namun dia juga tidak banyak bertanya, katanya
kemudian, "Sampai jumpa lain waktu!"

Dia membalikkan badan dan beranjak pergi dari tempat itu.

Jit-kaucu Thay-kun memandangnya hingga bayangan


punggung pemuda itu lenyap dari pandangan, kemudian
sambil menghela napas gumamnya, "Mengapa aku
memberitahu banyak hal kepadanya ... mengapa aku harus
memberitahu namaku kepadanya ...."

Dia pun bangkit dan mengayunkan langkah meninggalkan


tebing Kui-thau-nia itu.
Pendekar Cacat 312

Bong Thian-gak mengerahkan Ginkang menuju gedung Bu-


lim Bengcu.

Sepanjang jalan, banyak persoalan yang dipikirkan olehnya.

Dia sama sekali tidak menyangka Jit-kaucu adalah ahli waris


lain Jian-bin-hu-li Ban Li-biau.

Di usia lima tahun, ternyata selama empat puluh sembilan


hari dia digembleng ilmu silat oleh Ban Li-biau, peristiwa itu
membuat orang sukar percaya.

Dari keberhasilan Jit-kaucu Thay-kun menguasai ilmu silat,


mau tak mau orang harus percaya juga.

Dia adalah salah seorang ahli waris Ban Li-biau, bagaimana


pun juga dia harus memberi kesempatan baginya untuk
menempuh hidup baru.

Ai, perubahan yang terjadi atas segala persoalan ini


memang berlangsung sangat mendadak, perlukah masalah
itu diberitahukan kepada Ku-lo Sinceng?

Teringat akan Ku-lo Hwesio, Bong Thian-gak segera


mempercepat langkahnya, setengah jam kemudian dia
telah tiba di depan pintu gerbang gedung Bu-lim Bengcu.
Pendekar Cacat 313

Pengawal pintu yang menyaksikan kedatangan Bong Thian-


gak, segera menyongsong seraya berkata dengan penuh
rasa hormat, "Ko-siauhiap, Bengcu telah berpesan, bila
Siauhiap telah kembali dipersilakan segera menuju loteng
sebelah timur."

Bong Thian-gak sudah menduga akan duduk masalahnya,


dia segera menerobos ke dalam gedung dan menuju ke
loteng sebelah timur.

Begitu masuk ke loteng, ia saksikan di ruang tamu sudah


menunggu Ho Put-ciang, Thia Leng-juan, Toan-jong-hong-
liu Yu Heng-Sui, Oh Cian-giok, Ui-hok Totiang dari Bu-tong-
pay, Wan-pit-kim-to Ang

Thong-lam, Hian-thian-koancu Yu Ciang-hong serta Goan-


ko Taysu.

Sedang di atas kasur duduk bersila Ku-lo Hwesio, saat itu


dia sedang memejamkan mata dengan wajah memucat,
mukanya sama sekali tidak nampak warna darah.

Begitu Pa-ong-kiong Ho Put-ciang menyaksikan Bong Thian-


gak kembali, buru-buru dia menyongsong seraya berseru,
"Ko-siauhiap, Ku-lo Supek ada pesan yang hendak
disampaikan kepadamu."
Pendekar Cacat 314

Sorot mata Bong Thian-gak yang tajam dengan cepat


menyapu semua wajah orang dengan serius, murung dan
sedih, ia segera mengetahui apa gerangan yang telah
terjadi.

Buru-buru dia maju, menjatuhkan diri dan berlutut, ujarnya


kepada Ku-lo Sinceng, "Wanpwe menjumpai Sinceng, entah
Sinceng ada pesan apa yang hendak disampaikan?"

Waktu itu Ku-lo Hwesio sudah memejamkan mata rapat-


rapat, namun bibirnya masih dapat bergerak mengeluarkan
suara yang amat lirih, terdengar dia berbisik, "Ko-siauhiap,
Pinceng sudah tak dapat hidup lebih lama lagi... Jit-kaucu
juga telah mati...."

Sebenarnya Bong Thian-gak hendak memberitahu


kepadanya bahwa Jit-kaucu belum mati, namun kuatir Ku-lo
Hwesio terlalu kaget, maka dia hanya berkerut kening dan
untuk sementara waktu tidak berkata apa-apa.

Terdengar Ku-lo Hwesio berkata lebih jauh, "Selanjutnya


musuh-musuh tangguh dari Put-gwa-cin-kau ... harus ...
harus kalian dan Ho-hiantit menghadapinya! Pinceng
sengaja menunggumu karena aku hendak mewariskan ilmu
Tat-mo-khi-kang kepadamu ... sayang bila ilmu sakti ini
sampai hilang dari dunia ini ... Tat-mo-khi-kang sudah
ratusan tahun lenyap dari dunia persilatan, Pinceng pun
harus mengorbankan waktu delapan tahun untuk mencapai
tingkat tiga."
Pendekar Cacat 315

"Dari tingkat empat sampai tingkat sepuluh ... kitab itu


sudah hilang sejak tiga puluh tahun lalu, kitab itu dicuri
orang dari tempat penyimpanan oleh orang tak dikenal...
orang itu mungkin adalah ...."

"Toa-supek, siapakah orang itu?" Goan-ko Taysu berseru


keras.

Ku-lo Hwesio tidak menjawab pertanyaan itu, sebaliknya


berkata lebih lanjut, "Meskipun ia berhasil mencuri kitab
Tat-mo-khi-kang dari tingkat keempat hingga sepuluh, tapi
tak pernah berhasil mempelajari ilmu sakti itu, sebab dasar
utama ilmu Tat-mo-khi-kang justru terletak pada tingkat
pertama dan kedua, bila dasarnya tak ada, maka sulit untuk
mencapai tingkat keempat yang jauh lebih dalam isinya ...."

"Bila seseorang bisa melatih ilmu Tat-mo-khi-kang hingga


tingkat ketujuh, maka sudah cukup menjagoi kolong langit
dan sukar untuk dicari tandingannya."

"Bila dugaan Pinceng tak salah dan bila orang yang mencuri
kitab pusaka Tat-mo-khi-kang dari tingkat keempat sampai
kesepuluh itu benar-benar dia, maka Ko-siauhiap sudah
pasti telah memperoleh ilmu warisan darinya."

Ketika Ho Put-ciang dan Thia Leng-juan mendengar sampai


di situ, mereka tahu siapa orang yang dimaksud Ku-lo
Pendekar Cacat 316

Hwesio, sudah pasti orang yang mencuri kitab pusaka Tat-


mo-khi-kang dari tingkat empat sampai sepuluh itu adalah
Jian-bin-hu-li Ban Li-biau.

Bong Thian-gak sendiri ketika mendengar ucapan itu,


segera teringat suatu peristiwa di saat Ban Li-biau hendak
mewariskan ilmu silat kepadanya.

Maka dengan cepat Bong Thian-gak menjawab, "Apa yang


diduga Sinceng memang benar, orang yang mencuri kitab
itu memang dia orang lua."

Ku-lo Hwesio memejamkan mata rapat-rapat, dia lantas


bertanya, "Mengapa kau merasa yakin?"

"Suatu waktu tatkala dia orang tua sedang memberi


pelajaran ilmu silat kepadaku, beliau telah mewariskan
ketujuh kupasan ilmu itu dengan catatan aku hanya boleh
menghafal tidak boleh melatihnya dengan akibat bisa
mendatangkan bibit bencana. Pada saat itu meski aku
merasa heran, besar kemungkinan ilmu itu adalah Tat-mo-
khi-kang."

Paras muka Ku-lo Hwesio segera nampak berseri, tanyanya


dengan cepat, "Ko-siauhiap, apakah kau masih hapal semua
ilmu itu?"
Pendekar Cacat 317

Bong Thian-gak menjawab, "Ai, waktu itu dia orang tua


berkata, Hanya menghapal dan jangan dilatih, karena bisa
mengakibatkan kematian, oleh sebab itu Wanpwe merasa
ilmu itu tak ada gunanya, maka liku tidak mengingatnya
secara baik, bahkan dua-tiga bagian yang terakhir
berhubung ada huruf dan kata yang asing, seperti bukan
huruf lian, pada hakikatnya sulit buatku untuk
mengingatnya."

Mendengar itu Ku-lo Hwesio menghela napas panjang,


"Sayang, sayang sekali, kalau begitu ilmu Tat-mo-khi-kang
tak pernah akan menjadi utuh ... perkataan Ko-siauhiap
memang benar, kitab pusaka Tat-mo-khi-kang memang
ditulis sendiri oleh Tat-mo Cosu pendiri kuil Siau-lim-si
kami, ketika itu semua tulisan dicatat dalam huruf negeri
Thian-tiok sehingga sulit bagi orang yang tidak memahami.
Selama ratusan tahun belakangan ini, banyak sudah tokoh
Siau-lim-si yang mendalami ilmu itu, namun selama ini
hanya seorang saja yang berhasil hingga mendalami tingkat
ketujuh, sebab kecuali tingkat satu sampai tingkat tujuh
yang ada terjemahannya dalam bahasa Han, dari tingkat
delapan sampai sepuluh memang ditulis dalam huruf
Sansekerta!"

"Kecuali tiga bagian yang terakhir tidak mampu Wanpwe


hafalkan secara baik, empat bagian yang pertama mungkin
masih bisa diingat dengan baik."
Pendekar Cacat 318

Dengan gembira Ku-lo Hwesio berkata, "Bagus sekali kalau


begitu, berarti dunia persilatan bisa ditolong."

Cepat Bong Thian-gak berkata, "Walau Locianpwe sudah


terkena pukulan Soh-li-jian-yang-sin-kang, belum tentu luka
itu menyebabkan kematian, sebab Wanpwe mempunyai
cara untuk menyelamatkan Locianpwe, sekarang paling
baik kalau kita mengobati dulu luka yang diderita
Locianpwe."

"Ko-siauhiap, dengarkan baik-baik," Ku-lo Hwesio berkata


dengan cemas. "Kematian Pinceng tiada sesuatu yang perlu
disayangkan, persoalan yang paling Pinceng kuatirkan
adalah hilangnya Tat-mo-khi-kang ini dari dunia persilatan,
sebab hanya ilmu Tat-mo-khi-kang yang merupakan dasar
ilmu silat, asal Tat-mo-khi-kang ini bisa diwariskan kepada
seseorang, maka ilmu sesat macam apa pun jangan harap
bisa menandinginya."

"Oleh sebab itu sekarang aku harus memanfaatkan


kesempatan yang amat pendek ini untuk mewariskan
ketiga bagian Tat-mo-khi-kang itu kepadamu, asal kau
mampu menguasai ilmu itu, berarti dunia persilatan akan
menemukan bintang penolong."

Bong Thian-gak tahu Ku-lo Hwesio tidak percaya bila dia


mampu menyembuhkan luka itu, dalam keadaan demikian
dia tak berani lagi mengungkapkan bahwa Jit-kaucu
sebetulnya belum mati.
Pendekar Cacat 319

Kini ia dihadapkan pada persoalan yang sukar untuk


diputuskan. Terdengar Ku-lo Hwesio berkata, "Pinceng pun
mempunyai cara untuk mengobati luka ini, tapi tidak terlalu
yakin, maka Pinceng lebih suka mengorbankan nyawaku
daripada membuang waktu dengan percuma. Ko-siauhiap,
kau orang pintar, kau harus mempunyai pilihan yang tepat.
Sekarang cepat kau kumpulkan semua perhatian dan
pikiranmu untuk mendengar pelajaranku ini .... Semua
orang yang berada di loteng harap mengundurkan diri dari
sini dan jaga keamanan di sekitar pagoda ini, jangan
biarkan orang memasuki tempat ini."

Begitu Ku-lo Hwesio selesai berkata, Ho Put-ciang sekalian


segera beranjak dan mengundurkan diri dari situ.

Bong Thian-gak segera berteriak, "Ho-bengcu, jangan pergi


dulu, aku masih ada persoalan yang hendak disampaikan."

Dengan paras muka serius, Pa-ong-kiong Ho Put-ciang


berpaling, kemudian sahutnya, "Ko-siauhiap, bila kau tidak
memiliki keyakinan seratus persen, lebih baik menurut saja
perkataan Sinceng."

"Sinceng adalah tokoh persilatan yang berilmu tinggi,


apakah kita harus membiarkan dia mati begitu saja?"

"Sinceng setia kawan dan rela mengorbankan jiwa, lebih


baik Ko-siauhiap pusatkan segenap perhatianmu ...."
Pendekar Cacat 320

Belum selesai berkata, dia sudah membalikkan badan dan


mengundurkan diri dari situ.

Bong Thian-gak berpaling ke arah Ku-lo Hwesio, dilihatnya


pendeta itu sedang memejamkan mata, kulit mukanya yang
kurus kering n.impak kekuning-kuningan, tak tahan lagi ia
berbisik, "Locianpwe!" Kembali ia menjatuhkan diri berlutut
di hadapannya. Ternyata pada saat itu Bong Thian-gak
teringat cara penyembuhan yang diajarkan Jit-kaucu Thay-
kun kepadanya, untuk menyembuhkan luka Ku-lo Hwesio
memang belum tentu bisa.

Berada dalam keadaan seperti ini, dia tak berani banyak


bicara, ditambah Ku-lo Sinceng telah memusatkan
perhatiannya mewariskan Ilmu rahasia itu.

"Tingkat pertama Tat-mo-khi-kang berbunyi: Dasar


pernapasan merupakan akar kepandaian, kendorkan
badan, atur pernapasan, aliran darah harus dasar ...."

***
Pendekar Cacat 321

5
WASIAT KU LO HWESIO

D alam kejutnya, cepat Bong Thian-gak duduk bersila


di atas tanah dan mulai memejamkan mata
mengikuti pelajaran itu dan dihapalkan dalam hati.

Sepatah demi sepatah Ku-lo Hwesio membaca rahasia Tat-


mo-khi-kang dengan sabar dan jelas.

Sementara Bong Thian-gak juga menghimpun segenap


pikiran dan perhatiannya mendengarkan dan mengingat
sambil memahami.

Dalam waktu singkat kedua orang itu seakan-akan lupa


akan segala persoalan, mereka memusatkan pikiran dan
pendengaran dalam mempelajari kepandaian sakti Tat-mo-
khi-kang, biar di samping mereka ada suara ledakan keras
pun belum tentu mereka mendengar.
Pendekar Cacat 322

Waktu berlalu dengan cepat....

Tengah hari telah lewat ... matahari pun mulai tenggelam,


Ku-lo Hwesio dan Bong Thian-gak yang berada di atas
loteng masih melanjutkan pelajaran Tat-mo-khi-kang, Bong
Thian-gak mengulangi ketiga tingkat ilmu itu, kemudian
kedua pihak saling membahas dan memecahkan.

Dalam pada itu Pa-ong-kiong Ho Put-ciang dan para jago


yang ada di luar pendopo tak berani lengah, tak pernah
mengendorkan tugas mengawasi dan melindungi daerah
sekitar situ, sekeliling pendopo dijaga sedemikian ketatnya
ibarat sebuah benteng yang terbuat dari baja.

Kini senja telah lewat, namun Ku-lo Hwesio dan Bong


Thian-gak yang berada di atas loteng masih belum nampak
sesuatu gerakan.

Pada saat itulah dari depan halaman gedung Bu-lim Bengcu


tiba-tiba berkumandang suara tambur bertalu-talu,
menunjukkan keadaan dalam bahaya.

Mendengar tanda bahaya itu, paras muka Ho Put-ciang dan


sekalian jago segera berubah hebat.
Pendekar Cacat 323

Dengan cepat Ho Put-ciang menurunkan perintah, "Ada


musuh tangguh menyerang gedung Bu-lim Bengcu, harap
semua orang tetap berjaga di sini, Yu-heng! Oh-sumoay,
kalian berdua menengok keadaan di luar, segera utus orang
untuk memberi laporan!"

Toan-cong-hong-liu Yu Heng-sui dan Oh Cian-giok


menerima perinlah dan segera berangkat menuju ke
halaman depan.

Kemudian Ho Put-ciang berkata kepada Thia Leng-juan,


"Thia¬heng, harap naik ke loteng dan bertahan di anak
tangga, Goan-ko Taysu dan Ang Thong-lam berjaga di pintu
gerbang, sedangkan Ui-hok Totiang, Yu-koancu dan aku
bertiga masing-masing bertahan pada tiga lorong tembus
halaman samping."

Ho Put-ciang tak malu disebut pemimpin dunia persilatan,


selain reaksinya cepat, perintahnya tegas. Begitu menerima
perintah, kawanan jago segera membubarkan diri untuk
melakukan tugasnya masing-masing,

Dalam tempo singkat suasana berubah menjadi tegang,


seram dan mengerikan.
Pendekar Cacat 324

Dari depan gedung sana lamat-lamat terdengar suara


benturan senjata, teriakan, jerit kesakitan serta gelak tawa
melengking seperti jeritan setan dan lolong serigala.

Begitu mendengar suara gelak tertawa yang mengerikan


itu, paras muka Ho Put-ciang berubah hebat, ternyata dari
gelombang suara tertawa lawan yang melengking, Ho Put-
ciang tahu musuh memiliki tenaga dalam yang luar biasa.

Mendadak dari luar halaman sana terdengar suara langkah


kaki berlari mendekat, ternyata orang itu adalah Oh Cian-
giok.

Ho Put-ciang menyongsong kedatangannya sambil


bertanya, "Sumoay, musuh tangguh darimanakah yang
telah menyantroni kita?"

Paras muka Oh Cian-giok pucat-pias seperti mayat,


sahutnya dengan cemas, "Tenaga dalam pihak lawan sangat
tangguh, dalam sekejap ia telah melukai dua puluh orang
pengawal gedung ... Ji-suheng lelah terjun ke gelanggang,
tapi agaknya dia tak sanggup bertahan."

"Hanya seorang?"

"Ya, hanya seorang! Musuh berperawakan tinggi besar


kurus seperti mayat hidup."
Pendekar Cacat 325

"Yang datang pasti tak bermaksud baik, yang bermaksud


baik tak akan datang, musuh berani menyerang gedung Bu-
lim Bengcu sudah pasti kepandaian silatnya amat lihai,
dengan kemampuannya sudah pasti para pengawal gedung
tak mampu bertahan, daripada korban berjatuhan lebih
banyak, cepat turunkan perintah agar semua mundur ke
dalam, suruh Yu-sute segera mundur kemari!"

Baru saja Oh Cian-giok mendapat perintah dan berlalu,


mendadak berkumandang gelak tawa yang tajam
menyeramkan dan memekakkan telinga.

Sesosok bayangan orang secepat sambaran kilat sudah


meluncur datang dari arah depan sana.

Dengan terkejut Pa-ong-kiong Ho Put-ciang membentak


keras, "Siapa yang datang? Harap melaporkan nama!"

Di tengah bentakannya, dua gulung tenaga pukulan yang


maha dahsyat sudah dilontarkan ke depan.

Ilmu silat orang itu betul-betul sangat lihai, tubuhnya yang


sedang meluncur datang itu sudah berjumpalitan dan
meloloskan diri dari sambaran kedua gulung serangan maut
itu, kemudian tubuhnya melayang turun.
Pendekar Cacat 326

Tidak begitu saja, mendadak lengannya yang panjang


diayun melepaskan segulung pukulan hawa dingin dari
kejauhan, berbareng badannya meluncur ke arah sebelah
kiri.

Ho Put-ciang adalah seorang Bu-lim Bengcu,


pengetahuannya tentu saja sangat luas, begitu
menyaksikan datangnya pukulan hawa dingin musuh, dia
segera tahu serangan itu beracun.

Dalam keadaan begini, dia tak berani menyambut


datangnya serangan itu dengan kekerasan, cepat badannya
mundur.

Posisi dimana Ho Put-ciang mundur persis menyambut


datangnya serangan musuh dari sebelah kiri.

Agaknya orang itu tidak menyangka gerakan tubuhnya yang


begitu cepat bisa dihadang oleh lawan. Dalam keadaan
tertegun, dia segera menghentikan gerak badannya dan tak
melakukan serangan lagi.

Dengan demikian Ho Put-ciang dapat melihat jelas paras


muka pendatang itu dengan jelas.
Pendekar Cacat 327

Musuh mempunyai sepasang mata cekung ke dalam, kedua


bola matanya berwarna hijau, rambutnya panjang terurai
sebahu, tidak laki tidak perempuan, perawakannya tinggi
ceking hingga pada hakikatnya tinggal kulit pembungkus
tulang, ibarat bambu menancap di atas tanah saja.

Yang paling istimewa adalah sepasang tangannya yang


begitu panjang hingga terkulai melebihi lutut, dilihat dari
kejauhan bentuknya menyerupai dua kaki cadangan.

Makhluk aneh itu melototi wajah Ho Put-ciang dengan bola


matanya yang hijau mengerikan, kemudian sambil tertawa
seram, ia berkata, "Kaukah Bengcu baru dari gedung Bu-lim
Bengcu ini?"

Paras muka Ho Put-ciang amat serius, jawabnya cepat,


"Benar, akulah Ho Put-ciang, tolong tanya siapa nama
anda?"

"Hehehe ...." orang aneh itu tertawa seram. "Aku adalah


Liok-kaucu (ketua nomor enam) Put-gwa-cin-kau!"

Mendadak dari delapan penjuru gedung Bengcu


berkumandang suara tambur yang dibunyikan bertalu-talu.
Pendekar Cacat 328

Paras muka Ho Put-ciang segera berubah hebat, tegurnya


tanpa terasa, "Berapa orang yang dikirim Put-gwa-cin-kau
kemari hari ini?"

"Untuk melenyapkan gedung Bu-lim Bengcu dari muka


bumi, buat apa mesti mengutus banyak orang?" jawab Liok-
kaucu dengan suara menyeramkan, "Liok-kaucu dan Kiu-
kaucu (ketua nomor sembilan) dari Put-gwa-cin-kau pun
sudah lebih dari cukup!"

"Hanya kalian berdua?" tegur Ho Put-ciang pula dengan


kening berkerut kencang.

Rupanya dari empat penjuru gedung Bu-lim Bengcu sudah


terdengar suara pertempuran yang berlangsung amat seru,
agaknya di seputar gedung sudah kedatangan musuh dalam
jumlah banyak.

Liok-kaucu tertawa, "Masih ada lagi tiga orang pengawal


tanpa tanding yang biasanya mengawal di samping Cong-
kaucu."

"Kalau begitu dari perkumpulan kalian telah datang lima


orang jago bukan?"

"Benar."
Pendekar Cacat 329

"Hm, hanya mengandalkan kekuatan lima orang


perkumpulan kalian pun sudah ingin menumpas gedung
Bu-lim Bengcu, apakah kalian tidak merasa perbuatan itu
benar-benar kelewatan."

Liok-kaucu tertawa dingin, "Hehehe, apabila tidak percaya,


mengapa tidak dilihat sendiri?"

Mendadak pada saat itulah dari depan sana berlarian


mendekat Oh Cian-giok, dengan napas tersengal-sengal dia
berkata, "Lapor Toa-suheng, Ji-suheng telah dilukai
olehnya. Dari arah timur, barat, utara dan selatan telah
muncul musuh tangguh melancarkan serbuan, pengawal
gedung kita banyak yang terluka dan tewas."

Paras muka Ho Put-ciang berubah amat serius, katanya


kemudian dengan suara dalam, "Cepat turunkan perintah
agar semua pengawal mengundurkan diri, tak usah
menghalangi serbuan musuh!"

Tindakan yang dilakukan oleh Ho Put-ciang ini memang


sangat lumrah, pada saat itu segenap kekuatan inti gedung
Bu-lim Bengcu dipusatkan di sekitar loteng itu untuk
melindungi keselamatan Bong Thian-gak, mereka boleh
dibilang tak mampu bergeser dari posisi masing-masing,
itulah sebabnya satu-satunya jalan yang bisa mereka
tempuh adalah membiarkan musuh menyerang sampai ke
Pendekar Cacat 330

halaman itu, kemudian para jago berusaha membendung


serbuan lawan.

Jika tidak demikian, mereka akan terkena siasat memancing


harimau turun gunung yang sengaja dilakukan pihak lawan.

Liok-kaucu tertawa seram, "Hehehe, bocah perempuan


jangan pergi dulu!"

Di tengah bentakannya, lengan kiri diayun ke muka


melancarkan sebuah pukulan dahsyat, langsung
menghantam tubuh Oh Cian-giok yang berada di depannya.

Ho Put-ciang sama sekali tidak menyangka pihak lawan


bakal melancarkan serangan ke arah Oh Cian-giok, buru-
buru teriaknya, "Sumoay, jangan kau sambut serangan itu!"

Sayang terlambat, diiringi jeritan tertahan, tubuh Oh Cian-


giok sudah tertumbuk oleh angin pukulan itu hingga
mencelat dan roboh terkapar di atas tanah.

Ho Put-ciang gusar, dengan suara menggeledek ia


membentak nyaring, "Tua bangka sialan, kau berani
berbuat kejahatan?"
Pendekar Cacat 331

Dengan garang dia menubruk ke depan, kelima jari tangan


kanannya diputar melepas lima gulung desiran angin tajam
yang secara langsung menghajar bagian mematikan tubuh
lawan.

Serangan Ho Put-ciang yang dilancarkan dalam keadaan


gusar ini menggunakan ilmu silat perguruannya yang paling
hebat, yakni ilmu Thi-ciang-sin-ci (Telapak tangan baja jari
sakti).

Lima gulung desiran angin tajam dengan kecepatan tinggi


langsung meluncur ke depan dan menghajar lawan.

Liok-kaucu bukan orang bodoh, agaknya dia tahu juga


kelihaian jurus ini, sambil tertawa seram, telapak
tangannya secara beruntun melancarkan beberapa
serangan berantai, sementara kaki juga berputar secepat
sambaran petir, menjauh dari serangan lawan.

Melihat serangan dahsyatnya tidak mengenai sasaran, Ho


Put-ciang siap menerjang ke depan, tiba-tiba terdengar Ui-
hok Totiang dari Bu-tong-pay berkata, "Ho-bengcu, cepat
ke depan dan periksa luka adik seperguruanmu itu, biar
Pinto yang menghadapi lawan!"

Sementara itu Ui-hok Totiang dengan pedang terhunus


sudah memburu ke depan, pedangnya diputar menciptakan
Pendekar Cacat 332

beribu titik cahaya bintang, kemudian bersama-sama


menggulung ke tubuh Liok-kaucu.

Ui-hok Totiang adalah jago pedang kenamaan dari Bu-tong-


pay, ilmu pedangnya sudah tentu lihai sekali, begitu turun
tangan dia segera mengembangkan ilmu pedang Thay-
khek-kiam-hoat yang lihai.

Hawa dingin yang lembut menyusul gelombang pedang


yang datang menggulung, langsung mengurung sekujur
tubuh lawan secara ketat.

Ho Put-ciang tahu akan kesempurnaan tenaga dalam Ui-


hok Totiang, kendati bukan tandingan musuh, untuk
sementara tak sampai kalah, maka buru-buru dia
menghampiri Oh Cian-giok.

Tampak paras muka si nona pucat-pias oleh penderitaan


yang hebat, dia sedang meronta dari tanah dan duduk.

Ho Put-ciang segera membimbingnya sembari menegur,


"Sumoay, parahkah lukamu?"

Oh Cian-giok menggerakkan bibir seperti hendak


mengucapkan sesuatu, tapi kemudian dia memuntahkan
darah segar dan tak sadarkan diri.
Pendekar Cacat 333

Ho Put-ciang benar-benar sakit hati menyaksikan kejadian


itu, sambil membopong tubuh Oh Ciang Giok, dengan cepat
dia melayang masuk ke dalam loteng sebelah timur.

Pendekar sastrawan dari Im-ciu Thia Leng-juan yang


bertugas di loteng segera menegur dengan cemas,
"Bagaimana keadaan Oh-sumoay?"

"Thia-tayhiap, lindungi keselamatan Sumoayku ini, keadaan


di luar amat gawat, mungkin pihak musuh akan
melancarkan sergapan kilat."

Belum habis dia berkata, Goan-ko Taysu dari Siau-lim-pay


yang bertugas di depan pintu gerbang berteriak, "Sicu,
harap berhenti!"

Segera Ho Put-ciang membaringkan tubuh Oh Cian-giok ke


atas tanah, lalu mengangkat kepala.

Entah sejak kapan di depan pintu telah muncul orang


berbaju hitam berkerudung yang menggembol sepasang
pedang di punggung, orang itu sedang berjalan menuju
pintu gerbang dengan langkah lebar.

Goan-ko Taysu cepat bertindak, dia melejit ke depan dan


menghadang di depan pintu gerbang.
Pendekar Cacat 334

Orang berkerudung berbaju hitam itu membungkam dalam


seribu bahasa, begitu melangkah ke depan, mendadak ia
mendesak sambil melancarkan terkaman, sepasang telapak
tangan diayunkan kian kemari, secara beruntun dia telah
melepaskan tiga serangan berantai ke arah Goan-ko Taysu.

Ketiga serangan itu hampir semuanya merupakan jurus


serangan yang lihai, setiap gerakan dilancarkan dari sudut
yang tak terduga, meluncur datang secara beruntun dalam
waktu singkat, seluruh angkasa bagaikan diselimuti oleh
hawa serangan yang tajam.

Ho Put-ciang dan Thia Leng-juan yang melihat situasi itu


amat terperanjat, mereka tahu Goan-ko Taysu bakal celaka.

Betul juga, Goan-ko Taysu tak mampu menghindarkan diri


dari ketiga serangan itu, bahu kirinya kena pukulan hingga
mundur dengan sempoyongan dan terjatuh menindih
palang pintu sebelah kiri.

Dengan gusar Ho Put-ciang membentak, "Siapa kau?"

Secepat kilat tubuhnya menerjang ke depan, telapak


tangan kirinya menciptakan beribu bayangan telapak
Pendekar Cacat 335

tangan yang menyelimuti angkasa, segulung demi segulung


diayunkan ke depan tiada hentinya.

Serangan yang dilancarkan ini ibarat hembusan angin


lembut di musim semi, meluncur dan menyapu tiada
hentinya, dalam satu gebrakan saja seolah-olah terdiri dari
seribu pukulan.

Selapis hawa pukulan yang dahsyat ibarat amukan ombak


di tengah badai, menggulung ke depan mengikuti gerak
serangan tadi.

Mencorong sinar tajam yang menggidikkan dari balik mata


orang berkerudung berbaju hitam itu, bentaknya dengan
suara rendah, "Ah, Te-jian-thian-ciu-jian-jiu (Seribu telapak
tangan mengguncang bumi mengaduk langit)."

Tubuhnya tidak mundur, malah maju dan langsung


menyongsong datangnya serangan itu, tiba-tiba sepasang
lengannya bergetar secara aneh.

Beberapa benturan nyaring berkumandang.

Akibat benturan itu, orang berkerudung berbaju hitam


maupun Ho Put-ciang sama-sama tergetar mundur tiga
langkah.
Pendekar Cacat 336

Paras muka Ho Put-ciang diliputi rasa kaget dan


tercengang, dia tak menyangka pihak musuh dapat
menyebut nama pukulan sakti yang digunakannya itu
dalam waktu cepat, bahkan berhasil pula mematahkan
serangan Te-jian-thian-ciu-jian-jiu yang sudah puluhan
tahun lamanya merajai dunia persilatan.

Sesungguhnya siapakah orang ini?

Ho Put-ciang membelalakkan mata mengawasi lawan tanpa


berkedip, apa mau dikata, muka lawan ditutupi cadar hitam
yang tebal menutupi seluruh wajah aslinya.

Mendadak orang berkerudung menggerakkan telapak


tangannya ke belakang bahu, dua bilah pedang pendek
yang memancarkan cahaya tajam langsung digenggam di
telapak tangan kiri dan kanan.

Kemudian tubuhnya menerjang ke muka, tanpa


mengucapkan sepatah kata pun sepasang pedangnya
menusuk dada Ho Put-ciang.

Ho Put-ciang tahu tenaga dalam lawan sangat lihai, gerak


serangannya mungkin menggunakan jurus yang amat
sederhana dan biasa, namun hakikatnya cukup mematikan
siapa pun yang berani menghadapinya.
Pendekar Cacat 337

Menyaksikan datangnya tusukan pedang yang menyambar


amat cepat itu, serta-merta ia mundur dua langkah.

Siapa tahu jurus serangan orang itu hanya jurus tipuan


belaka, di saat Ho Put-ciang mundur, sepasang bahunya
bergerak dan menerobos masuk melalui sisi kiri-kanan Ho
Put-ciang, langsung menerjang ke arah mulut tangga.

Pada waktu itu Thia Leng-juan telah bersiap siaga


menghadapi segala kemungkinan, sambil menghentak kipas
di tangan menciptakan herlapis-lapis bayangan serangan
yang mengancam berpuluh titik darah I anting di separoh
bagian tubuh orang berkerudung itu.

Dengan cekatan orang itu membalik badan menghindari


serangan kipas Thia Leng-juan, bersamaan pula sepasang
pedang di tangannya diputar secepat kilat, gerakan pedang
bergetar bagaikan cahaya bintang membelah angkasa.

Jurus pedang dipakai menghindar, juga untuk melancarkan


serangan ini betul-betul luar biasa hebatnya.

Thia Leng-juan merasa terkecoh oleh gerakan lawan, "Crit",


tak ampun lengan kirinya tersambar oleh sabetan pedang
Pendekar Cacat 338

lawan hingga terluka memanjang ke bawah, darah segar


segera muncrat membasahi seluruh lengannya.

Rasa kaget Ho Put-ciang kali ini benar-benar luar biasa, dia


tak mengira pihak musuh memiliki ilmu silat yang begitu
lihai, sadarlah jagoan ini bahwa keadaan yang dihadapi hari
ini sangat gawat.

Berada dalam situasi seperti ini, dia tidak peduli kedudukan


lagi, sekali melompat tahu-tahu tubuhnya sudah melayang
turun di samping Thia Leng-juan, maksudnya mereka akan
menggunakan kekuatan dua orang untuk bersama-sama
menghadapi serangan musuh.

Orang berkerudung itu tertawa dingin, jengeknya, "Apabila


kalian berdua tahu diri, cepatlah melarikan diri! Kalau tidak,
hm ... hm ... sudah pasti kalian akan terkubur di sini!"

"Siapa kau? Mengapa tidak kau tunjukkan paras aslimu?"


tegur Ho Put-ciang.

"Hm, aku adalah komandan nomor dua pasukan pengawal


tanpa tanding Put-gwa-cin-kau!"

Ho Put-ciang tahu tak mampu memaksa lawan


mengutarakan nama aslinya, maka dia bertanya lagi,
Pendekar Cacat 339

"Apakah kau adalah pimpinan penyerbuan ke gedung Bu-


lim Bengcu malam ini?"

"Benar, akulah orangnya!"

"Apa maksudmu menyerbu gedung Bu-lim Bengcu malam


ini?" Orang berkerudung itu tertawa riang.

"Untuk membalas dendam kematian Sam-kaucu!"


sahutnya.

"Akulah orangnya yang telah membunuh Sam-kaucu, bila


ada persoalan boleh disampaikan kepadaku," seru Ho Put-
ciang dengan suara berat dan dalam.

Orang berkerudung tertawa dingin.

"Hehehe, hanya mengandalkan kemampuan Ho-bengcu


seorang juga ingin membunuh Sam-kaucu kami? Hm ... hm
... pembunuhnya terdiri dari empat orang, yang menjadi
otak pembunuhan ini adalah Ku-lo Hwesio dari Siau-lim-
pay, pembunuhnya adalah Ho-bengcu, Thia Leng-juan serta
seorang yang bernama Ko Hong!"

Terkejut juga Ho Put-ciang mendengar perkataan itu,


katanya dengan kening berkerut, "Benar, kami bertiga
pembunuhnya, mau apa kau sekarang?"
Pendekar Cacat 340

"Siapa berhutang nyawa, dia harus membayar dengan


nyawa, kalian bertiga hariis mengembalikan nyawa Sam-
kaucu!"

"Sekarang kalian harus mengundurkan diri dari gedung


Bengcu lebih dulu, besok kami bertiga pasti akan menanti
kedatanganmu."

Kembali orang berkerudung tertawa dingin, "Hehehe,


masih ada satu hal lagi, aku hendak berjumpa dengan Ku-lo
Hwesio!"

Baru selesai dia berkata, dari atas loteng berkumandang


suara sahutan seseorang dengan suara nyaring, "Belum
lama Ku-lo Sinceng telah kembali ke alam baka, sayang
kedatanganmu terlambat!"

Ucapan itu kontan membuat ketiga orang yang berada di


situ menjadi amat terperanjat, Ho Put-ciang dan Thia Leng-
juan serentak berpaling ke belakang.

Ternyata orang yang barusan berbicara adalah Bong Thian-


gak, saat ini dia sedang berdiri di mulut anak tangga dengan
wajah murung, sedih dan pedih.

Thia Leng-juan berseru, "Ko-heng, apakah Ku-lo Supek dia


orang lua ...."
Pendekar Cacat 341

"Ai ... dia orang tua telah menghembuskan napasnya yang


penghabisan," jawab Bong Thian-gak sambil menghela
napas sedih.

Walaupun Ho Put-ciang dan Thia Leng-juan sudah tahu Ku-


lo Hwesio bakal tewas akibat luka parah yang dideritanya,
namun tidak menduga kepergiannya begitu cepat, maka
mendengar jawaban itu mereka malah tertegun sampai tak
tahu apa yang mesti dilakukan.

Dengan sinar mata tajam dan menggidikkan, orang


berkerudung mengawasi Bong Thian-gak dari ujung kepala
sampai ujung kakinya, Krmudian menegur dengan dingin,
"Kaukah yang bernama Ko Hong?"

"Ya, akulah orangnya!" jawab Bong Thian-gak hambar.

Sejak tiba di situ, sikap maupun gerak-gerik orang


berkerudung itu amat angkuh, jumawa dan tidak pernah
memandang sebelah mata terhadap orang lain, tapi
jawaban Bong Thian-gak sekarang justru terasa pula amat
menghina dan memandang rendah lawan.

Kontan dia tertawa terkekeh-kekeh seram, kemudian


menegur lagi, "Aku dengar Sam-kaucu tewas di tanganmu,
benarkah itu?"
Pendekar Cacat 342

"Semua iblis dan siluman yang bergabung dalam Put-gwa-


cin-kau bakal mampus di telapak tanganku!"

Ucapan itu segera disambut orang berkerudung dengan


gelak tawa, "Sudahkah kau mendengar suara jeritan ngeri
dan lolong kesakitan yang berkumandang dari luar sana?
Hahaha, tahukah kau malam ini gedung Bu-lim Bengcu akan
berubah menjadi gedung mati!"

Sementara itu suara bentrokan nyaring, jeritan ngeri dan


rintih kesakitan masih berkumandang tidak hentinya dari
luar sana, jelas halaman depan gedung sudah berubah
menjadi ajang pertarungan yang amat sengit.

Mendadak Bong Thian-gak berkata dengan suara dalam,


"Ho-bengcu, Thia-tayhiap, cepat keluar membantu rekan-
rekan lain, serahkan orang itu kepadaku!"

Ho Put-ciang sudah mendengar jeritan ngeri dan rintih


kesakitan yang berkumandang dari kawanan jago di luar
ruangan, namun dia kuatir musuh yang dihadapinya ini
berilmu silat kelewat tinggi hingga Thia Leng-juan tak
mampu menghadapinya, itulah sebabnya dia tak berani
gegabah.
Pendekar Cacat 343

Kini mendengar ucapan itu, segera ujarnya kepada Thia


Leng-juan, "Thia-heng, kau tetap tinggal di sini membantu
Ko-siauhiap, aku akan keluar membantu mereka!"

Seusai berkata, Ho Put-ciang segera melompat ke udara


dan menerobos keluar melalui pintu gerbang utama.

Di dalam ruang gedung bertingkat itu sekarang tinggal Thia


Leng-juan, Bong Thian-gak dan orang berkerudung berbaju
hitam.

Sementara itu Bong Thian-gak sudah melangkah turun dari


anak tangga, kemudian tegurnya dengan suara dingin, "Ada
urusan apa kau hendak berjumpa dengan Ku-lo Sinceng?"

Dengan sepasang pedang terhunus, orang berkerudung


berdiri tegak di tempat, dia menjawab, "Aku hendak
memeriksanya, apakah dia benar-benar Ku-lo Sinceng
ataukah bukan!"

"Dia adalah Ku-lo Sinceng yang keasliannya terjamin, sedikit


pun tak bakal salah!"

"Kau mengatakan Ku-lo Hwesio telah mati, sekarang


dimanakah jenazahnya?"
Pendekar Cacat 344

"Jenazah Sinceng tidak boleh dipertontonkan di hadapan


kaum kurcaci dan sampah masyarakat seperti kau."

Orang berkerudung tertawa seram.

"Hehehe, aku tak percaya kau mampu menghalangi jalan


pergiku."

Bicara sampai di situ pedang pendek di tangan kirinya


segera diayun menciptakan beribu bayangan pedang,
sementara pedang di tangan kanannya secepat kilat
menusuk ke dada Bong Thian-gak.

Dua jurus serangan pedang yang amat dahsyat digunakan


secara bersamaan, kedahsyatannya benar-benar tak boleh
dianggap enteng.

Bong Thian-gak menyaksikan jurus pedang itu dengan


berkerut kening, kemudian serunya sambil tertawa dingin,
"Mundur!"

Dia bukannya mundur, namun malah maju, tangan kanan


diayunkan ke depan menyongsong datangnya tusukan
pedang kanan orang berkerudung, sementara tangan kiri
secepat kilat mencengkeram urat nadi pergelangan tangan
kiri lawan. Sekali pun serangannya dilancarkan belakangan,
Pendekar Cacat 345

tetapi sampai sasaran lebih dahulu, berbareng badannya


turut menerobos maju.

Tatkala Thia Leng-juan menyaksikan orang berkerudung itu


melancarkan serangan tadi, sesungguhnya dia pun hendak
turun tangan menyambut, akan tetapi setelah menyaksikan
jurus serangan yang digunakan Bong Thian-gak ternyata
jauh lebih tangguh dari lawan, dia malah tertegun.

Tampaknya orang berkerudung cukup tahu kelihaian


serangan itu, cepat dia menarik kembali sepasang
pedangnya sambil mundur.

Dengan sinar mata mencorong, rasa kaget dan tercengang,


ia segera bertanya, "Ilmu silat apakah ini?"

Bong Thian-gak tertawa dingin, "Hehehe, inilah ilmu Tat-


mo-goan-sian-jiu dari Siau-lim-pay. Hari ini jangan harap
kau bisa meloloskan diri dari maut."

Seusai berkata, tubuh Bong Thian-gak bagaikan anak panah


yang terlepas dari busurnya langsung menerjang ke depan,
sepasang telapak tangannya diayun berulang kali
melepaskan tiga serangan berantai.
Pendekar Cacat 346

Ketiga serangan itu seluruhnya gerakan yang aneh dan


sakti, seperti pukulan telapak tangan dan juga bagai ilmu
mencengkeram Kim-na-jiu yang amat dahsyat.

Orang berkerudung membentak dingin, sepasang


pedangnya meluncur ke depan dengan pancaran sinar
tajam yang membias kemana-mana, dengan pedang
mengunci telapak tangan, secara beruntun dia melancarkan
tiga bacokan berantai dan maha dahsyat.

Gerak serangan yang digunakan kedua orang itu sama-


sama dilakukan dengan kecepatan luar biasa, sekali pun
tenaga dalam Thia Leng-juan amat sempurna, masih susah
untuk melihat perubahan jurus yang digunakan mereka.

Kedua orang itu telah beralih dua kali dari posisi semula.

Mendadak terdengar orang berkerudung mendengus


tertahan, sambil menarik kembali pedang, ia mundur
empat langkah, sepasang matanya memancarkan rasa
kaget dan tercengang.

Pada saat itulah tiba-tiba Bong Thian-gak menyaksikan Oh


Cian-giok yang sedang berbaring tak berkutik di sisi kiri
anak tangga, dalam kagetnya dia segera menyelinap ke
depan sana sambil bertanya, "Thia-tayhiap, mengapa
dengan nona Oh?"
Pendekar Cacat 347

Setelah ditegur, Thia Leng-juan baru teringat pada Oh Cian-


giok yang terluka parah, segera sahutnya, "Nona telah
dihantam musuh hingga terluka parah!"

Oh Cian-giok adalah adik seperguruan Bong Thian-gak,


sejak kecil mereka dibesarkan bersama dalam gedung
Bengcu, hubungan batin kedua insan ini pun boleh dibilang
cukup mendalam.

Maka sewaktu Bong Thian-gak menyaksikan gadis itu


tergeletak tak berkutik di atas tanah dengan wajah pucat
dan noda darah membasahi bibir, dia menjadi sangat
gelisah.

"Siapa yang telah melukainya?" ia menegur.

Dalam pada itu tangan kanan Bong Thian-gak sudah


memegang nadi pergelangan tangan Oh Cian-giok, sembari
memeriksa denyut nadinya, dengan sorot mata penuh
amarah dia pelototi wajah orang berkerudung tanpa
berkedip, hawa membunuh menyelimuti wajahnya.

Tiba-tiba orang berkerudung berpekik nyaring, dengan


sepasang pedangnya diluruskan ke depan, secepat
sambaran petir ia menerjang ke arah Bong Thian-gak.
Pendekar Cacat 348

Perubahan yang amat mendadak dan di luar dugaan ini


sungguh membuat Thia Leng-juan tertegun dan dalam
posisi tak memungkinkan hakikatnya mustahil baginya
memberikan bantuan.

Dalam terperanjatnya, jagoan ini segera berteriak, "Ko-


heng!...."

Terdengar Bong Thian-gak mendengus tertahan, bahu


kirinya yang tak sempat menghindar kena tertusuk pedang
lawan, darah segera memancar keluar bagaikan semburan
mata air.

Tapi di saat bersamaan tangan kanan Bong Thian-gak


diayunkan pula ke depan melancarkan sebuah pukulan
dahsyat.

Kembali terdengar dengus tertahan menggema.

Pedang pendek orang itu terlepas, sementara tubuhnya


terpental ke belakang dan darah segar muntah dari
mulutnya.

Kemudian dengan sepasang bahu yang gemetar keras dan


tubuhnya yang sempoyongan, mendadak ia membalikkan
badan dan kabur dari ruangan itu.

Sebenarnya Thia Leng-juan ingin mengejar, namun


berhubung dia sangat menguatirkan luka yang diderita
Pendekar Cacat 349

Bong Thian-gak, maka dengan cepat dihampirinya anak


muda itu sembari menegur, "Ko-heng, parahkah luka yang
kau derita?"

Darah kental mengucur dari bahu kiri Bong Thian-gak dan


membasahi lantai, sudah jelas luka yang dideritanya itu
cukup parah.

Dengan cepat Bong Thian-gak menggunakan jarinya


menotok beberapa jalan darah penting di tubuh sendiri,
setelah menghentikan darah yang mengalir, sahutnya
sambil tertawa rawan, "Thia-heng, aku tidak apa-apa, dia
berilmu tinggi dan sangat hebat, bila sampai keluar dari
sini, sudah pasti tiada orang yang mampu menahannya,
tolong kau jaga baik-baik nona Oh, aku hendak keluar
menghadapi musuh."

Jeritan ngeri yang memilukan hati berkumandang susul-


menyusul di luar sana, jelas orang berkerudung sedang
melakukan pembantaian secara besar-besaran di sana.

Thia Leng-juan yang menyaksikan luka Bong Thian-gak amat


parah menjadi gelisah, serunya lagi, "Ko-heng, luka pedang
itu sangat parah, harap kau balut dahulu luka itu, biar aku
saja yang menyambut serangan mereka."
Pendekar Cacat 350

Sementara itu Bong Thian-gak sudah bangkit, mendengar


ucapan itu dia segera menggeleng, kemudian katanya
dengan suara nyaring, "Kini darah sudah berhenti mengalir,
luka ini pun tak akan merenggut nyawaku."

Tidak sampai selesai perkataan itu diutarakan, tubuhnya


sudah melompat keluar dari ruangan, ketika memandang
ke depan ....

Di tengah lapangan sedang berlangsung beberapa


kelompok pertarungan, sementara di atas tanah tergeletak
mayat-mayat para pengawal gedung Bu-lim Bengcu, darah
yang menganak sungai, mayat membukit, membuat
pemandangan di situ tampak sangat mengerikan.

Sementara itu di luar lapangan sedang berlangsung


pertarungan yang amat seru.

Ho Put-ciang sedang bertarung melawan seorang gadis


berbaju merah, dia adalah Kiu-kaucu Ni Kiu-yu.

Hian-thian-koancu Yu Ciang-hong dari Khong-tong-pay


sedang bertarung melawan seorang lelaki berbaju perlente.

Goan-ko Taysu dari Siau-lim-pay dan Ang Thong-lam dari


Tiam-jong-pay bersama-sama menghadapi lelaki berbaju
perlente lainnya.
Pendekar Cacat 351

Ui-hok Totiang dari Bu-tong-pay bertarung seorang diri


melawan orang aneh berambut panjang, dialah Liok-kaucu
Put-gwa-cin-kau.

Sementara di luar arena pertarungan, di sekeliling lapangan


berdiri berlapis-lapis para pengawal gedung bersenjata
lengkap, namun waktu itu orang berkerudung berbaju
hitam sudah menerjang masuk ke dalam kelompok
pengawal gedung, pedang pendeknya yang tinggal sebelah
membabat kian kemari tanpa tandingan, jeritan ngeri dan
lolong kesakitan bergema silih berganti, darah segar pun
bercucuran menganak sungai.

Bong Thian-gak yang menyaksikan adegan itu menjadi


gusar sekali, sambil berpekik nyaring ia melejit ke udara
seperti burung alap-alap dan melayang turun di depan
orang berkerudung.

Melihat munculnya pemuda sakti ini, orang berkerudung


menjadi ketakutan, cepat dia berteriak dengan keras, "Liok-
kaucu, Kiu-kaucu ... semuanya mundur!"

Begitu perintah diturunkan, dia segera melejit lebih dulu


dan melarikan diri dengan terbirit-birit dari tempat itu.

"Mau kabur kemana kau?" bentak Bong Thian-gak dengan


suara menggeledek.
Pendekar Cacat 352

Tubuhnya segera melejit ke udara dan melakukan


pengejaran.

Siapa tahu pada saat itulah berkumandang suara dengusan


tertahan, tertampak Ui Hiok Totiang dari Bu-tong-pay yang
sedang bertarung melawan Liok-kaucu kena dihajar oleh
musuh sehingga mencelat ke udara dan langsung
menumbuk tubuh Bong Thian-gak.

Bong Thian-gak berjumpalitan, tangan kanannya dengan


cepat menyambar ke muka mencengkeram tubuh Ui-hok
Totiang, kemudian melayang turun ke permukaan tanah
dengan tenang.

Tampak paras muka Ui-hok Totiang pucat seperti mayat,


kulit wajahnya mengejang penuh penderitaan, teriaknya
dengan suara parau, "Terima kasih banyak, Ko-siauhiap ...."

Belum habis dia berkata, orangnya sudah roboh tak


sadarkan diri di atas tanah.

Mendadak terdengar Pa-ong-kiong Ho Put-ciang berseru


dengan suara lantang, "Biarkan musuh mengundurkan diri,
jangan dikejar!"

Dengan cepat Bong Thian-gak meletakkan Ui-hok Totiang


ke tanah, baru saja dia akan melakukan pengejaran, ketika
Pendekar Cacat 353

mendongakkan kepala, ternyata kawanan musuh yang


sedang bertarung sengit sudah membubarkan diri,
pertarungan telah berhenti, di bawah sinar kegelapan
nampak para musuh sedang melarikan diri terbirit-birit
meninggalkan tempat itu.

Dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka sudah


lenyap.

Kemudian dia saksikan Ho Put-ciang sedang berjalan


mendekat dengan langkah sempoyongan, lalu ujarnya
kepada Bong Thian-gak, "Ai ... korban yang berjatuhan
kelewat banyak ... korban yang berjatuhan kelewat
banyak...."

Hanya ucapan itu saja yang mampu diucapkan, sementara


air matanya berderai dengan deras.

Ya, siapa bilang Enghiong tidak bisa mengucurkan air mata?


Memangya saat bersedih saja ....

Ketika jumlah korban dihitung ... ternyata tujuh puluh


enam pengawal mendapat celaka, dua puluh lima orang
menderita luka termasuk Toan-jong-hong-liu Yu Heng-sui,
Oh Cian-giok dan lainnya, semuanya mencapai seratus
tujuh orang.
Pendekar Cacat 354

Lima musuh ternyata dalam waktu satu jam berhasil


menciptakan korban seratus tujuh orang, prestasi itu
benar-benar merupakan suatu peristiwa yang memilukan.

Paras muka Bong Thian-gak pucat-pias seperti mayat, dia


mengangkat kepala dan memandang sekejap tumpukan
mayat yang berserakan dimana-mana, mendadak
mencorong sinar tajam dan buas penuh dendam dari balik
matanya, ia berdiri tegak di tempat tanpa mengucapkan
sepatah kata pun.

Yu Ciang-hong, Goan-ko Taysu dan Ang Thong-lam


bersama-sama berjalan mendekat pula dengan kepala
tertunduk sedih.

Untuk beberapa saat suasana di situ diliputi kesedihan yang


tebal.

***

Helaan napas sedih bergema memecah keheningan, Thia


Leng-juan berjalan keluar dari balik ruang loteng dengan
langkah perlahan, katanya, "Hari ini seandainya Ko-heng
tidak berada di sini dan memukul mundur lawan, korban
yang berjatuhan dalam gedung Bengcu sudah pasti akan
lebih banyak."
Pendekar Cacat 355

Benar, lima orang musuh dari Put-gwa-cin-kau yang muncul


itu, terutama orang berkerudung berbaju hitam benar-
benar berkepandaian silat amat tinggi, pada hakikatnya
tiada orang yang mampu memberikan perlawanan.

Andaikata bukan Bong Thian-gak yang memukul mundur,


akibat yang timbul sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Selang beberapa saat kemudian, pelan-pelan Pa-ong-kiong


Ho Put-ciang berhasil menenangkan kembali gejolak
perasaan sedih yang mencekam hatinya, melihat darah
bercucuran dengan derasnya dari bahu kiri Bong Thian-gak,
buru-buru dia menegur, "Ko-heng, parahkah luka yang kau
derita?"

"Gara-gara mengurusi nona Oh, Ko-heng telah kena ditusuk


musuh," seru Thia Leng-juan dari samping. "Namun pihak
lawan pun terkena pukulan Ko-heng, nampaknya tidak
ringan luka dalam yang dideritanya, dia kabur sambil
muntah darah."

Bong Thian-gak menghela napas panjang, "Ai, walaupun


orang itu terkena pukulanku hingga muntah darah, namun
luka pada sisi perutnya tidak seberapa parah, ai ... kawanan
siluman dari Put-gwa-cin-kau memang tangguh dan rata-
rata berilmu tinggi, kenyataan ini di luar dugaan siapa pun."
Pendekar Cacat 356

Sementara itu Ho Put-ciang telah berseru kepada para


pengawal dengan suara nyaring, "Kalian harap segera
membereskan jenazah rekan-rekan lain, usahakan
menolong dan menyelamatkan jiwa mereka yang terluka
terlebih dulu."

Selewatnya pertempuran itu, kekuatan gedung Bu-lim


Bengcu benar-benar menderita kerugian besar.

Setelah memperoleh pengobatan dan perawatan yang


tekun, Toan-jong-hong-liu Yu Heng-sui, Ui-hok Totiang dari
Bu-tong-pay berhasil diselamatkan jiwanya.

Hanya Oh Cian-giok yang menderita luka agak parah,


sehingga meski sudah memperoleh pengobatan, ternyata
belum sadar.

Dalam pada itu para jago sudah berkumpul di bawah


loteng.

Dengan seksama Bong Thian-gak memeriksa denyut nadi


Oh Cian-giok, kemudian ia bertanya lirih, "Dia terluka di
tangan siapa?"

"Cian-giok dan Ui-hok Totiang sama-sama terluka di bawah


pukulan Liok-kaucu," jawab Ho Put-ciang cepat.
Pendekar Cacat 357

"Dasar tenaga dalam nona Oh amat cetek, pukulan musuh


telah melukai isi perutnya, bila ingin menyadarkan dia, kita
membutuhkan seorang jago bertenaga dalam sempurna,
dengan pengerahan tenaga melalui jalan darah Ciang-tay-
hiat, gumpalan darah yang menyumbat dalam tubuhnya
baru akan terbebaskan."

"Ciang-tay-hiat terletak hanya dua inci di bawah puting


susu orang, padahal Oh Cian-giok adalah seorang perawan,
tentu saja sulit bagi seorang pemuda untuk memberi
pertolongan."

Tentu saja Ho Put-ciang cukup mengetahui pantangan itu,


tapi dengan suara dalam dia berkata, "Demi
menyelamatkan jiwa Sumoayku, harap kalian tak usah
mempersoalkan pantangan lagi."

"Ho-bengcu, nona Oh adalah adik seperguruanmu, paling


baik bila Hobengcu sebagai Toasuhengnya yang turun
tangan memberikan pertolongan," usul Bong Thian-gak
cepat.

Ucapan itu menyulitkan Ho Put-ciang. "Aku tidak pandai


ilmu pengobatan, bagaimana seandainya terjadi hal-hal
yang tak diinginkan?" serunya.
Pendekar Cacat 358

"Nona Oh sudah dijodohkan dengan Yu-sute, seandainya


luka yang diderita Yu-sute bisa cepat sembuh dan pulih, hal
ini lebih baik lagi," sambung Thia Leng-juan.

Mengetahui Oh Cian-giok sudah bertunangan dengan Yu


Heng-sui, Bong Thian-gak menjadi sedih, murung dan
kosong pikirannya.

Di samping Suheng-moay sekalian, hanya Bong Thian-gak


yang berhubungan agak rapat dengan Oh Cian-giok. Sejak
kecil mereka sudah bermain dan bergurau bersama, di
antara kedua orang itu sesungguhnya sudah tertanam
semacam perasaan.

Betul di antara mereka terjalin hubungan cinta, namun


semacam perasaan senang tertanam juga di dalam hati
kecil masing-masing.

Seandainya Bong Thian-gak tidak diusir dari perguruan,


tentu saja antara Oh Cian-giok dan Bong Thian-gak sudah
merupakan sepasang kekasih ideal.

Dalam pada itu Pa-ong-kiong Ho Put-ciang menggeleng


kepala sambil berkata, "Yu-sute masih terluka, sekali pun
bisa disembuhkan namun paling tidak masih membutuhkan
waktu tiga-empat hari, apalagi tenaga dalamnya kurang
sempurna, aku pikir lebih baik kita memohon bantuan Ko-
Pendekar Cacat 359

siauhiap saja untuk mengobati Sumoay, cuma Ko-siauhiap


menderita luka pada bahu kirinya ... apakah kau mampu
memberikan pertolongan?"

Bong Thian-gak segera menggeleng kepala berulang-kali.

"Sampai besok aku baru bisa mengerahkan tenaga


dalamku, namun luka nona Oh amat parah dan harus
diobati sekarang juga, apabila tidak dilakukan pencegahan,
bisa jadi keadaan lukanya akan mengalami perubahan."

Ho Put-ciang berkata lagi, "Ai, walaupun antara kaum lelaki


dan wanita dibatasi norma kesusilaan, namun tabib dan
sebangsanya tidak terkena batasan itu, harap Ko-siauhiap
sudi memberi pertolongan!"

Sekali lagi Bong Thian-gak menghela napas, "Ai,


keselamatan nona

Oh berada di ujung tanduk dan memang tak bisa ditunda-


tunda lagi, baiklah harap Ho-bengcu suka mengundang dua
orang dayang untuk membantu!"

Tentu saja semua orang tahu maksud Bong Thian-gak


memanggil dua orang dayang itu.
Pendekar Cacat 360

Ho Put-ciang manggut-manggut sembari berkata,


"Sebelumnya atas nama Sumoayku, kuucapkan banyak
terima kasih atas bantuan Ko-siauhiap!"

Maka di bawah bimbingan beberapa orang dayang, Oh


Cian-giok diantar menuju sebuah ruangan dan dibaringkan
di atas ranjang, kemudian kecuali menahan Siau Kiok dan
Siau Hiang, dua orang dayang kepercayaan Oh Cian-giok,
para dayang lainnya segera diperintahkan meninggalkan
tempat itu.

Kedua dayang ini merupakan dayang-dayang cilik yang


pernah melayani Oh Ciong-hu dahulu, tentu saja Bong
Thian-gak kenal mereka berdua.

Dengan suara lirih Bong Thian-gak berkata kepada Siau Kiok


dan Siau Hiang, "Sekarang harap kalian melepaskan dulu
pakaian luar nona."

"Ko-siangkong, luka yang kau derita amat parah, apakah


tidak beristirahat terlebih dahulu?" seru Siau Kiok merdu.

Bong Thian-gak menggeleng, "Ah, hanya luka luar yang tak


seberapa tidak menjadi soal."
Pendekar Cacat 361

Siau Kiok mengedipkan mata setelah memandang sekejap


ke arah Bong Thian-gak, katanya, "Ko-siangkong, kau mirip
sekali dengan seseorang."

"Mirip siapa?"

"Su-suheng nona!"

Bong Thian-gak terkejut sekali, dia tak menyangka Siau Kiok


memiliki ketajaman mata luar biasa, untuk menutupi rasa
kagetnya itu, dia tertawa tergelak.

"Ah, jangan bergurau lagi, ayo kita segera turun tangan."

Tiba-tiba Siau Kiok menghela napas sedih, kembali katanya,


"Ai, sudahlah! Seandainya Bong Thian-gak masih hidup,
mungkin Yu Heng-sui akan bersedih."

Ucapan itu segera menggigilkan sekujur tubuh Bong Thian-


gak, diam-diam dia berpikir, "Entah apa maksud Siau Kiok
berkata demikian? Mungkinkah Sumoay selalu teringat
akan diriku?"

Terbayang bagaimana dia dan Sumoaynya hidup


berdampingan sejak kecil... segala sesuatunya terasa
syahdu dan nyaman ....
Pendekar Cacat 362

Bong Thian-gak masih ingat, suatu ketika ia bersama


Sumoaynya bermain jadi pengantin, mereka berdua
bersama-sama tidur dalam gua yang dijadikan kamar
pengantin mereka ....

"Siangkong, apa yang sedang kau pikirkan? Pakaian luar


nona sudah dilepas."

Seperti baru tersadar dari impian, Bong Thian-gak


berpaling.

Tampaklah tubuh bugil Oh Cian-giok muncul di depan mata,


kulit yang halus dan putih itu membuat gairah setiap pria
....

Buru-buru Bong Thian-gak memejamkan mata rapat-rapat,


lalu berkata lagi, "Sekarang lepas pakaian dalamnya,
kemudian letakkan tangan kananku di atas jalan darah
Ciang-tay-hiat di atas payudaranya."

"Ah, Siangkong benar-benar lelaki jujur," puji Siau Kiok.

Sementara itu Bong Thian-gak telah memejamkan mata


dan duduk bersila di sisi pembaringan, segenap perhatian
terpusat menjadi satu, sementara hawa murninya
dihimpun.
Pendekar Cacat 363

Selang beberapa saat kemudian Bong Thian-gak bertanya,


"Sudah siap?"

"Sudah siap."

"Kalau begitu, lakukan seperti apa yang kukatakan tadi!"

Siau Hiang segera mengangkat telapak tangan kanan Bong


Thian-gak dan pelan-pelan diletakkan di atas puting susu
payudara sebelah kanan Oh Cian-giok.

Hati Bong Thian-gak tergetar begitu tangannya menyentuh


tubuh Oh Cian-giok.

Untung Bong Thian-gak memiliki tenaga dalam sempurna,


buru-buru dia memusatkan seluruh perhatiannya
mengerahkan tenaga dalam.

Tak selang lama kemudian, dari dasar telapak tangannya


muncul segumpal bola api yang bergetar, membakar
seputar payudara si nona.

Telapak tangannya menggosok dan memijit payudara


sebelah kanan si nona hampir seperempat jam lamanya,
baru kemudian beralih ke atas jalan darah Ciang-tay-hiat
pada payudara sebelah kiri.
Pendekar Cacat 364

Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya terdengar Oh


Cian-giok merintih.

Bong Thian-gak terkejut, buru-buru dia menarik tangannya


dan turun dari pembaringan, bisiknya cepat, "Sebentar dia
akan sadar, cepat kenakan pakaiannya, harap kalian jangan
memberitahu kepadanya bahwa aku telah menyembuhkan
lukanya."

Selesai berkata, masih dalam keadaan terperanjat, dengan


cepat Bong Thian-gak membuka pintu kamar dan berlalu
dari situ.

Tak lama setelah Bong Thian-gak keluar ruangan, Oh Cian-


giok membuka mata sambil berkata dengan sedih, "Siau
Kiok, barusan apakah Ko-siangkong?"

Siau Kiok serta Siau Hiang sama-sama terperanjat, serentak


berseru tertahan, "Nona telah sadar kembali?"

Sambil tetap berbaring, Oh Cian-giok manggut-manggut.

"Ya, sebelum dia berlalu tadi, aku telah mendusin, Ai! Dia
benar-benar seorang Kuncu sejati."

"Nona, enci Kiok bilang dia mirip sekali dengan Bong Thian-
gak," tiba-tiba Siau Hiang berkata.
Pendekar Cacat 365

Perih hati Oh Cian-giok mendengar perkataan itu, tanyanya,


"Bong Thian-gak? Maksudmu Suheng Bong Thian-gak?"

Siau Kiok mengerling sekejap ke arah Siau Hiang, kemudian


buru-buru katanya, "Budak hanya merasa dia agak mirip
dengan Bong-siangkong, aku pun hanya iseng bertanya
saja!"

"Lantas bagaimana jawabnya?" tanya Oh Cian-giok gelisah.

"Dia tidak menjawab."

Mendadak Oh Cian-giok berseru tertahan, katanya, "Ya, ya,


teringat aku sekarang, waktu dia baru datang ke gedung ini
tempo hari, aku pun merasa seperti raut wajahnya kukenal,
seperti pernah kujumpai di suatu tempat, namun tak bisa
kuingat lagi. Ya, betul! Dia memang agak mirip dengan Su-
suheng Bong Thian-gak."

Setitik sinar terang itu segera mengalutkan pikiran dan


perasaan Oh Cian-giok, untuk beberapa saat dia melamun
seorang diri.

Dalam pada itu Bong Thian-gak telah meninggalkan


ruangan kecil dan menuju ke ruang tengah. Di sana para
jago sudah menunggu untuk merundingkan suatu masalah
besar.
Pendekar Cacat 366

Pa-ong-kiong Ho Put-ciang yang pertama-tama berdiri lebih


dulu, segera tegurnya, "Apakah Oh-sumoay telah
mendusin?" Bong Thian-gak mengangguk.

"Ya, gumpalan darahnya telah hilang, sekarang


kesehatannya sudah tidak membahayakan lagi."

"Ko-siauhiap pasti sudah banyak kehilangan tenaga murni,


silakan segera beristirahat!"

Bong Thian-gak tersenyum.

"Kesegaranku masih baik, bukankah begitu?"

Sambil berkata dia lantas menatap orang-orang dengan


sorot mata berkilauan, sedikit pun tidak menunjukkan
keletihan.

Hanya paras mukanya saja yang memang berwarna kuning


pucat macam orang penyakitan.

Thia Leng-juan memuji, "Ko-heng, sungguh amat sempurna


tenaga dalammu, membuat orang kagum."

"Ai, tampaknya tenaga dalamku telah memperoleh


kemajuan pesat dalam sehari saja," ucap Bong Thian-gak
sedih. "Padahal semua ini pemberian Ku-lo Sinceng."
Pendekar Cacat 367

Bicara sampai di situ, Bong Thian-gak menghela napas


panjang, "Sebelum menghembuskan napas penghabisan,
Ku-lo Sinceng telah membantuku menembus urat mati
hidupku, sehingga taraf tenaga dalamku mencapai suatu
keadaan yang luar biasa. Budi kebaikan yang ditanam
Sinceng kepadaku benar-benar tak terlupakan selamanya."

"Ai, sekarang aku masih ada satu persoalan penting yang


hendak kusampaikan kepada kalian."

"Persoalan apa? Harap Ko-siauhiap suka menerangkan


secara langsung," kata Ho Put-ciang.

"Jit-kaucu belum mati!"

Ucapan itu bagaikan guntur di siang hari bolong, seketika


saja menggetarkan hati setiap orang yang hadir dalam
ruangan itu.

"Bukankah kematian Ku-lo Supek merupakan pengorbanan


yang sia-sia," teriak Thia Leng-juan dengan suara
menggeledek.

"Sebenarnya luka Ku-lo Sinceng masih bisa disembuhkan,


tetapi untuk membantu ilmu silatku, dia telah
mengorbankan diri."

"Ai, waktu itu luka yang diderita Sinceng amat parah, lagi
pula dia menganggap Jit-kaucu sudah tewas di bawah
Pendekar Cacat 368

pukulan Tat-mo-khi-kang, maka aku tak berani


memberitahu yang sebenarnya kepada dia."

"Tindakan yang diambil Ko-siauhiap memang benar, bagi


orang yang berlatih silat, jika mengetahui kegagalan yang
dideritanya, maka kekecewaan dan kesedihan yang
dirasakan saat itu mungkin jauh lebih parah daripada mati,"
kata Ho Put-ciang.

Bong Thian-gak manggut-manggut.

"Sudah tujuh-delapan tahun lamanya Sinceng melatih diri


untuk menguasai ilmu Tat-mo-khi-kang, tujuannya tidak
lain adalah untuk mematahkan ilmu Soh-li-jian-yang-sin-
kang dari Jit-kaucu."

"Ai, apa mau dikata, Soh-li-jian-yang-sin-kang terlalu


sempurna, sedangkan Tat-mo-khi-kang Sinceng baru
mencapai tingkat ketiga, itulah sebabnya Ku-lo Sinceng
mengalami kekalahan."

Maka secara ringkas Bong Thian-gak mengisahkan


pertarungan Ku-lo Sinceng melawan Jit-kaucu Thay-kun.

Selesai mendengar kisah itu, dengan wajah serius, Ho Put-


ciang berkata, "Dengan masih hidupnya Jit-kaucu, berarti
Pendekar Cacat 369

dunia persilatan tak akan memperoleh ketenangan untuk


selamanya!"

Bong Thian-gak termenung sambil berpikir sejenak,


kemudian katanya, "Bibit bencana yang sebenarnya bagi
umat persilatan sekarang sesungguhnya bukan Jit-kaucu!"

"Apa maksudmu?"

Maka Bong Thian-gak menceritakan bagaimana dia


menggali liang kubur, bagaimana bertarung dan berbincang
dengannya.

Mendengar kisah itu, Thia Leng-juan lantas bertanya, "Ko-


heng, menurut kau, Jit-kaucu adalah murid Jian-bin-hu-li
Ban Li-biau?"

Bong Thian-gak mengangguk.

"Benar, pada usia lima tahun dia telah memperoleh warisan


ilmu silat guruku yang kedua."

"Lantas atas dasar apa Ko-heng mengatakan bibit bencana


bagi dunia persilatan bukan Jit-kaucu?"

Bong Thian-gak termenung beberapa saat lamanya,


kemudian baru berkata, "Dari pembicaraan Jit-kaucu,
Pendekar Cacat 370

pentolan atau dalang semua bencana di Bu-lim dewasa ini


adalah orang yang mengajarkan ilmu silat kepadanya saat
ini, yakni gurunya, Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau!"

"Ucapan Ko-siauhiap memang benar," Ho Put-ciang


manggut-manggut. "Tentang ilmu silat, kemungkinan besar
ilmu Soh-li-jian-yang-sin-kang Jit-kaucu sudah jauh
melampaui Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau, tapi dari tindakan
Jit-kaucu yang memberi petunjuk kepada Ko-siauhiap agar
mengobati penyakit yang diderita Ku-lo Sinceng serta
pertanyaan kepada Ko-siauhiap apakah dia adalah utusan
rahasia Cong-kaucu ... hal itu membuktikan watak Jit-kaucu
yang sebenarnya adalah saleh dan baik, dia terpaksa
membunuh orang atas petunjuk serta desakan orang lain."

"Apabila dugaanku tidak salah, tiap kali Jit-kaucu


membunuh orang, hatinya merasa menyesal."

Bong Thian-gak mengangkat kepala dan memandang


sekejap ke arah semua orang, kemudian katanya, "Kalau
dihitung, Jit-kaucu masih terhitung Sumoayku, aku
berkewajiban menyelamatkannya dari jurang kehancuran,
seandainya ia tak bisa dididik jadi baik, aku yakin masih
mampu menandinginya."

Bong Thian-gak berhenti sejenak, kemudian baru


sambungnya, "Padahal hampir setiap orang yang tergabung
Pendekar Cacat 371

dalam Put-gwa-cin-kau memiliki ilmu silat yang sangat lihai,


dari kepandaian silat kelima orang itu boleh dibilang
mereka adalah gembong-gembong iblis berilmu tinggi."

"Kemampuan Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau untuk


menaklukkan serta mengendalikan kaum iblis di bawah
kekuasaannya, bisa diduga sampai dimanakah
kemampuannya? Ai ... apa yang diucapkan Ku-lo Sinceng
memang benar, musuh paling tangguh bagi kita
sesungguhnya adalah Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau ... Ku-lo
Taysu adalah tokoh agung dari Siau-lim-pay, mungkin dia
telah menyiapkan segala sesuatunya! untuk kita."

Ho Put-ciang manggut-manggut membenarkan, "Ucapan Ko


siauhiap memang benar, beberapa hari berselang Sinceng
memang telah memberi dua buah kantung kepadaku dan
berpesan agar yang satu; untuk Ko-siauhiap dan satu
untukku. Dia orang tua berpesan kantung hanya boleh
diserahkan kepada Ko-siauhiap, bila dia sudah berpulang
alam baka. Tadi oleh karena ada serangan musuh tangguh,
aku telah melupakan hal ini."

Mendengar ucapan itu, segera terlintas rasa girang di wajah


Bong Thian-gak, serunya dengan cepat, "Ah, rupanya
dugaanku memang benar, Sinceng telah menyiapkan segala
sesuatunya."
Pendekar Cacat 372

Sementara itu Pa-ong-kiong Ho Put-ciang sudah merogoh


ke dalam sakunya dan mengeluarkan dua buah kantung
yang terbuat dari kain yang amat indah. Ho Put-ciang
mengambil satu di antaranya dan diserahkan kepada Bong
Thian-gak, sambil berkata, "Yang ini buat Ko-siauhiap!"

Bong Thian-gak menyambut kantung itu, lalu bertanya,


"Apakah Ho-bengcu telah memeriksa isi kantung itu?"

"Belum, Ku-lo Sinceng telah berpesan, apabila ia sudah


kembali ke alam baka, isi kantung itu baru boleh dibuka,
maka aku masih belum mengetahui apa isinya."

"Sekarang mungkin kau sudah boleh membukanya,


bukan?"

Bong Thian-gak segera merogoh ke dalam kantung itu dan


mengeluarkan isinya, ternyata di situ terdapat tiga pucuk
sampul surat yang dilipat menjadi empat persegi, di antara
sampul tertera huruf satu, dua dan tiga secara berurutan.

Bong Thian-gak mengambil sampul surat pertama,


kemudian membaca tulisan di atasnya:

"Saat membuka sampul pertama, Sinceng sudah kembali ke


alam baka."
Pendekar Cacat 373

Pelan-pelan Bong Thian-gak merobek sampul itu, tampak di


atas kertas dalam sampul tertulis beberapa huruf yang
berbunyi:

"Selamatkan Jit-kaucu!"

Di sisi sebelah kiri ditulis nama, tertera pula dua deret


kalimat yang ditulis dalam huruf kecil:

"Bila Jit-kaucu sudah tewas sebelum kematian Pinceng, isi


surat ini batal"

Membaca petunjuk itu, untuk beberapa saat Bong Thian-


gak termenung dan mengerut dahi, dia seperti tidak
memahami apa arti petunjuk itu.

Waktu itu kendati para jago lain terdorong oleh rasa ingin
tahu ingin turut membaca apa isi surat Ku-lo Sinceng,
namun oleh karena Bong Thian-gak bungkam seribu
bahasa, maka tak seorang pun yang berani bertanya.

Semua orang hanya mengawasi Bong Thian-gak dengan


wajah termangu-mangu.
Pendekar Cacat 374

Bong Thian-gak termenung sampai lama sekali, akhirnya dia


meletakkan surat itu ke atas meja sembari berkata, "Silakan
kalian baca isi surat itu, kemudian pikirkan apa artinya?"

Sementara itu para jago sudah dapat melihat jelas tulisan


itu, kontan semua orang mengerut dahi.

Thia Leng-juan pun tidak habis mengerti, katanya


kemudian, "Menyelamatkan Jit-kaucu? Tulisan itu
mengandung dua arti yang berbeda, satu di antaranya
adalah menyelamatkan roh atau jiwanya dan yang lain
berarti menjaga keselamatannya."

"Apa pula bedanya antara roh, jiwa dan keselamatan?"


tanya Goan-ko Taysu dari Siau-lim-pay keheranan.

"Menyelamatkan roh atau jiwanya, berati Jit-kaucu sudah


terlalu banyak membunuh orang, banyak melakukan
kejahatan sehingga kita diharuskan membawanya dari jalan
sesat kembali ke jalan yang benar serta tidak melakukan
kejahatan lagi."

"Kalau menolong keselamatannya berarti keselamatan jiwa


Jit-kaucu terancam bahaya dan kita harus menolongnya,
jangan sampai dia tewas terbunuh oleh orang lain."
Pendekar Cacat 375

"Penjelasan Thia-tayhiap tepat sekali!" seru Ang Thong-lam


pula, "Memang tulisan itu bisa punya dua maksud, tapi
dengan kedudukan Jit-kaucu sekarang, kecuali kita hendak
membunuhnya, masa ada orang lain yang hendak
membunuhnya pula?"

"Ku-lo Supek adalah seorang pintar dan pandai


menganalisa suatu keadaan, perintahnya memang
mengandung arti mendalam, sehingga aku sendiri pun tak
dapat memastikan."

"Tulisan 'Selamatkan Jit-kaucu' memang mengandung arti


yang dalam, untuk sementara waktu sulit bagi kita
menduganya, aku rasa kita turuti saja perintahnya dan
menyelamatkan Jit-kaucu," sela Ho Put-ciang.

Sementara itu Bong Thian-gak sedang memejamkan mata


sambil memutar otak memikirkan sesuatu.

Setelah melalui pemikiran yang panjang, akhirnya Bong


Thian-gak menghela napas panjang, "Ai, perintah Ku-lo
Sinceng ini memang benar-benar sukar dipahami pikiran
kita, ya, mungkin cuma waktulah yang bisa membuktikan
hal ini!"
Pendekar Cacat 376

"Kantung berisi surat yang ditinggalkan Ku-lo Supek


untukku belum sempat kubuka, siapa tahu surat itu
menyinggung tentang hal ini?" kata Ho Put-ciang tiba-tiba.

Selesai berkata dia segera mengambil kantung yang


ditujukan kepadanya itu.

Dalam kantung hanya tersimpan sepucuk surat saja, di atas


sampul surat tertulis:

"Surat wasiat Siau-lim Ku-lo."

Membaca tulisan itu, hati semua orang bergetar keras,


mereka berpikir, "Ternyata Ku-lo Hwesio telah mengetahui
tentang kematiannya, maka dia sengaja menulis surat
wasiatnya."

Pelan-pelan Ho Put-ciang mengeluarkan surat dari dalam


sampul dan membaca isinya yang berbunyi:

"Siancay! Kehidupan di jagad ini berlangsung karena


perputaran bumi, pertemuan antara unsur Im dan Yang
serta perputaran lima unsur Ngo-heng, maka terwujudlah
kehidupan yang ada di alam semesta ini dengan kehadiran
manusia yang berakal budi.
Pendekar Cacat 377

Takdir menetapkan kehidupan Ku-lo harus berakhir pada


tahun Kau bulan Sin hari Cu dan saat Yu. Itulah sebabnya
kematian Pinceng merupakan kemauan takdir.

Ku-lo tahu pertempuran melawan Jit-kaucu akan lebih


banyak bahayanya daripada keberuntungan, andaikata
beruntung Pinceng bisa merenggut nyawa Jit-kaucu, maka
pasti ia akan mati pada hari ini, kemungkinan besar situasi
dunia persilatan akan berubah menjadi semakin tidak
menguntungkan bagi kita.

Sebaliknya jika Jit-kaucu tidak mati, sedang Ku-lo mati lebih


dulu, hal ini bisa berakibat munculnya suatu perubahan
besar.

Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau telah berhasil menciptakan


seorang tokoh tangguh seperti Jit-kaucu dengan bekal ilmu
Soh-li-jian-yang-sin-kang, bila ilmu itu mencapai tingkat
kesepuluh, maka orang akan menjadi kebal dan tahan
pukul maupun dibacok. Saat itulah bisa jadi Jit-kaucu akan
menjadi seorang jagoan yang tak ada tandingannya di
kolong langit. Itulah sebabnya bila Pinceng meninggal,
sudah pasti Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau akan berusaha
keras melenyapkan Jit-kaucu guna menghilangkan bibit
bencana di kemudian hari.

Demi perubahan situasi dalam Bu-lim, terutama bagi


keuntungan pihak kita, kalian harus berusaha sekuat tenaga
untuk melindungi keselamatan jiwa Jit-kaucu.
Pendekar Cacat 378

Saat ini Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau telah berhasil


mempelajari berbagai macam ilmu sakti, hanya ilmu Soh-li-
jian-yang-sin-kang serta Tat-mo-khi-kang saja yang mampu
membunuh biang keladi itu. Oleh sebab itu tugas pertama
kalian adalah menyelamatkan Jit-kaucu terlebih dahulu.
Ingat! Ingat! Dapatkah dunia persilatan kita dipertahankan?
Semuanya tergantung pada tindakan in."

Setelah para jago membaca isi surat Ku-lo Hwesio, hampir


semuanya terkejut bercampur kagum. Sudah jelas terbukti
sekarang bahwa dalam pertarungan Ku-lo Hwesio melawan
Jit-kaucu, agaknya pendeta itu tidak bermaksud
membinasakan perempuan itu.

Dengan kening berkerut Ho Put-ciang berkata, "Ku-lo Supek


pandai ilmu rahasia langit, dari isi surat wasiatnya, bisa
diduga dia sudah tahu siapa gerangan Cong-kaucu Put-gwa-
cin-kau itu."

"Ai, tak perlu ditebak lagi," ujar Bong Thian-gak sambil


menghela napas panjang. "Mungkin dia orang tua sudah
mengetahui dengan jelas segala sesuatu tentang Cong-
kaucu Put-gwa-cin-kau itu."

Mendadak Thia Leng-juan berkata, "Bukankah Ku-lo Supek


masih memberi dua pucuk surat lagi untuk Ko-siauhiap?
Pendekar Cacat 379

Bagaimana kalau Ko-siauhiap keluarkan surat itu dan


sekalian diperiksa isinya?"

Mendengar perkataan itu, Bong Thian-gak segera membuka


sampul kedua dan sampul ketiga, namun di atas sampul itu
ternyata sudah dicantumkan saatnya untuk membuka.

Di atas sampul kedua ditulis dengan jelas saat untuk


membuka surat itu.

"Surat ini dibuka saat Mo-kiam-sin-kun Tio Tian-seng


muncul" Sedangkan sampul ketiga bertuliskan:

"Di buka saat hendak menaklukkan Cong-kaucu Put-gwa-


cin-kau."

Di samping lain sampul surat itu dicantumkan pula


peringatan agar jangan membuka surat itu apabila saatnya
belum sampai.

Bong Thian-gak tentu saja tak berani melanggar peringatan


itu, maka pemuda itu menyimpan kembali kedua pucuk
surat itu.

Mendadak Thia Leng-juan berseru tertahan, "Ah,


mungkinkah Cong-kaucu Put-gwa-cfh-kau adalah Mo-kiam-
sin-kun Tio Tian-seng?"
Pendekar Cacat 380

"Dari surat wasiat Ku-lo Supek, tampaknya Cong-kaucu Put-


gwa-cin-kau agak mirip dengan Tio Tian-seng," sahut Ho
Put-ciang.

"Aku rasa bukan Tio Tian-seng," seru Bong Thian-gak.

"Atas dasar apa Ko-heng mengatakan bukan dia?" tanya


Thia Leng-juan cepat.

"Seandainya orang itu adalah Tio Tian-seng, tak mungkin


Ku-lo Sinceng jual mahal pada kita. Ai ... siapakah Cong-
kaucu Put-gwa-cin-kau? Cepat atau lambat kita akan
mengetahui juga. Persoalan paling penting yang harus kita
hadapi sekarang adalah bagaimana caranya melaksanakan
perintah Sinceng serta menyelamatkan jiwa Jit-kaucu."

Hian-thian-koancu Yu Ciang-hong yang selama ini hanya


membungkam mendadak berkata, "Ah, agaknya Cong-
kaucu Put-gwa-cin-kau akan mulai melaksanakan
rencananya membunuh Jit-kaucu begitu mendengar berita
kematian Sinceng, bisa jadi saat ini Cong-kaucu sudah
berada di kota Kay-hong."

Bong Thian-gak manggut-manggut.

"Ya, benar! Tujuan yang sesungguhnya serbuan musuh ke


gedung Bu-lim Bengcu hari ini adalah untuk mencari tahu
Pendekar Cacat 381

mati-hidup Ku-lo Sinceng, ya ... segala sesuatunya memang


berjalan seperti apa yang ditulis Sinceng dalam surat
wasiatnya, kalau begitu kita tak boleh ayal dalam usaha kita
menyelamatkan jiwa Jit-kaucu."

"Tapi tindakan apakah yang harus kita ambil? Harap kalian


semua sudi mengajukan pendapat," seru Ho Put-ciang.

Dengan suara berat Thia Leng-juan berkata, "Ku-lo Supek


telah menyerahkan isi kantung itu kepada Ko-heng, jelas
tugas ini hanya Ko-heng seorang yang mampu memikulnya,
mana mungkin orang lain bisa mencampurinya."

Seperti menyadari sesuatu, Pa-ong-kiong Ho Put-ciang


berkata, "Betul, tampaknya Ku-lo Supek sudah tahu Jit-
kaucu pun ahli waris Jian-bin bu-li Ban Li-biau seperti juga
halnya Ko-siauhiap."

"Ai, Ku-lo Sinceng benar-benar merupakan tokoh sakti yang


luar biasa” kata Bong Thian-gak. "Tampaknya ia sudah tahu
asal-usul semua tokoh di Bu-lim."

"Ai, kematiannya benar-benar merupakan suatu kerugian


besar bagi dunia persilatan."

"Dalam surat wasiatnya, Ku-lo Supek berpesan bahwa


kematian merupakan kemauan takdir, apakah seorang
Pendekar Cacat 382

kaisar bisa memperpanjang usianya bila saat ajalnya sudah


tiba? Ko-siauhiap, aku rasa kau tak perlu bersedih karena
kematiannya!"

"Jika begitu aku harus segera mencari Jit-kaucu sekarang


juga."

"Aku rasa persoalan ini pun tak perlu dikerjakan terlalu


tergesa-gesa, kini luka pada bahu kiri Ko-siauhiap masih
belum sembuh, lagi pula lelah berjuang sehari semalam, tak
ada salahnya kau beristirahat dulu selama tiga-empat hari
sebelum melakukan sesuatu tindakan."

"Luka yang kuderita tidak jadi soal. Yang kukuatirkan


sekarang seandainya orang-orang Put-gwa-cin-kau
melakukan penyerbuan sekali lagi kemari."

Ho Put-ciang tertawa sedih.

"Walaupun pada pertempuran hari ini pihak gedung


Bengcu menderita kerugian besar, tapi asalkan yang datang
bukan Cong-kaucu atau Jit-kaucu Put-gwa-cin-kau, gedung
Bengcu yakin masih bisa mempertahankan diri."

Bong Thian-gak termenung beberapa saat, kemudian


katanya pelan-pelan, "Ho-bengcu, ada satu hal perlu
kuingatkan kepadamu, ketahuilah bahwa dalam gedung Bu-
Pendekar Cacat 383

lim Bengcu sekarang bersembunyi seorang pentolan Put-


gwa-cin-kau, kalau tak salah pentolan itu adalah Cap-go-
kaucu! Aku harap kau bertindak

lebih waspada."

"Sekarang orang yang menjadi kekuatan inti gedung Bu-lim


Bengcu adalah Ko-siauhiap, Thia Leng-juan Laute, Ang-
tayhiap, Goan-ko Taysu, Ui-hok Totiang beserta kami
Suheng-te. Semua rahasia yang kita ketahui tak mungkin
bocor ke telinga orang lain, bila rahasia itu sampai bocor,
berarti Cap-go-kaucu Put-gwa-cin-kau berada di antara kita
bersembilan dalam gedung Bu-lim Bengcu, entah
bagaimana pendapat kalian?" kata Ho Put-ciang.

"Betul," ujar Thia Leng-juan cepat, "apa yang kita bicarakan


hari ini menyangkut keselamatan dunia persilatan, jelas
siapa pun dilarang membocorkan keluar."

Yu Ciang-hong, Ang Thong-lam dan Goan-ko Taysu sekalian


segera bersumpah pula untuk memegang rahasia itu rapat-
rapat.

Malam itu lewat tanpa kejadian, para jago pun kembali ke


kamar masing-masing untuk mengatur pernapasan dan
merawat luka.
Pendekar Cacat 384

Keesokan harinya, luka yang diderita Ui-hok Totiang serta


Toan-jong-hong-liu Yu Heng-sui telah sembuh, sementara
luka yang diderita Oh Cian-giok sudah jauh membaik.

Bong Thian-gak dan Thia Leng-juan bersama-sama tidur di


loteng sebelah barat, pada hari ketiga luka tusukan pada
bahu kiri Bong Thian-gak pun telah sembuh.

Selama tiga hari itu dari pihak Bu-lim Bengcu telah


mengirim banyak mata-mata untuk menyelidiki keadaan
serta gerak-gerik orang-orang Put-gwa-cin-kau, anehnya
puluhan li di seputar kota Kay-hong ternyata tidak dijumpai
satu pun orang persilatan, tentu saja tidak diketahui pula
gerak-gerik orang-orang Put-gwa-cin-kau.

Keadaan itu tentu saja mendatangkan perasaan tak tenang


bagi para jago yang berkumpul dalam gedung Bu-lim
Bengcu.

Setiap orang tahu, sebelum datangnya hujan badai


biasanya didahului oleh suasana sunyi senyap yang aneh.

Tengah hari itu Pa-ong-kiong Ho Put-ciang bersama


pendekar sastrawan dari Im-ciu Thia Leng-juan dan Bong
Thian-gak bertiga berkumpul di ruangan tengah bangunan
loteng sebelah barat.
Pendekar Cacat 385

"Ho-toako, menurut pendapatmu mungkinkah orang-orang


Put-gwa-cin-kau telah mengundurkan diri secara diam-diam
dari kota Kay-hong?"

Pertanyaan itu ditujukan kepada Ho Put-ciang dengan suara


lantang.

Ho Put-ciang menggeleng.

"Dalam tiga hari ini suasana memang terasa kurang beres.


Jika memang orang Put-gwa-cin-kau masih berada di kota
Kay-hong, mata-mata yung kita kirim paling tidak akan
menemukan jejak mereka."

"Aku pikir Jit-kaucu tak mungkin meninggalkan tempat ini


begitu cepat” seru Bong Thian-gak pula.

"Ko-heng, apa maksudmu?" tanya Thia Leng-juan cepat.

"Jit-kaucu mendapat tugas menghancurkan gedung Bu-lim


bengcu, sebelum tugas yang dibebankan ke atas pundaknya
diselesaikan, bagaimana mungkin dia bisa meninggalkan
kota Kay-hong? Menurut dugaanku, Put-gwa-cin-kau masih
akan melakukan penyerangan secara besar-besaran
terhadap gedung Bu-lim Bengcu kita!"
Pendekar Cacat 386

"Bagaimana Ko-heng bisa berkata demikan? Kalau dibilang


Jit-kaucu mendapat perintah untuk menghancurkan gedung
Bu-lim Bengcu, apa sebabnya pada penyerbuan musuh
tempo hari kita tak menjumpai Jit-kaucu?"

"Sebab rencana penyerbuan gedung Bengcu yang terjadi


dua hari lalu bukan atas prakarsa Jit-kaucu."

"Kalau bukan diprakarsai dia, lantas siapa?"

"Orang berkerudung berbaju hitam itu!"

Tiba-tiba Thia Leng-juan berseru tertahan, sambil berpaling


ke arah Ho Put-ciang katanya, "Ho-toako, orang
berkerudung itu pernah memperkenalkan diri. Katanya dia
adalah pentolan nomor dua pasukan pengawal tanpa
tanding Put-gwa-cin-kau, dengan kepandaian silatnya yang
hebat serta sikapnya yang angkuh, mestinya pasukan
pengawal tanpa tanding mempunyai kedudukan tinggi
dalam Put-gwa-cin-kau."

"Bisa jadi pasukan pengawal tanpa tanding merupakan


pelindung Kaucu Put-gwa-cin-kau," pendapat Ho Put-ciang.

"Benar, pasukan pengawal tanpa tanding adalah para


pelindung Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau."
Pendekar Cacat 387

Thia Leng-juan segera termenung sambil berpikir sejenak,


lalu katanya, "Perkataan Ko-heng memang benar,
kemungkinan besar Put-gwa-cin-kau akan melakukan
serbuan kedua terhadap gedung Bu-lim Bengcu kita ini."

"Tapi anehnya mengapa hingga kini belum juga dilakukan?"


tanya Ho Put-ciang dengan kening berkerut.

"Sebuah pukulan dahsyat Ko-heng yang bersarang tepat di


tubuh orang berkerudung berbaju hitam itu menyebabkan
mereka tak berani menganggap enteng kekuatan kita," kata
Thia Leng-juan mengemukakan pendapatnya. "Selain itu,
nampaknya mereka masih menaruh curiga terhadap
kematian Ku-lo Supek."

Ho Put-ciang manggut-manggut.

"Benar, Jit-kaucu pun terhajar hingga terluka oleh Ku-lo


Supek dan dengan jumlah anggota Put-gwa-cin-kau yang
berada di kota Kay-hong sekarang, mereka memang belum
berani melakukan penyerbuan lagi. Kemungkinan mereka
belum berani berkutik dalam beberapa hari mendatang,
bisa jadi sedang minta bala bantuan sambil menyiapkan
serangan berikutnya."

"Ai, tapi yang pasti, orang yang memimpin penyerbuan


kedua ini pun pasti bukan Jit-kaucu!" kata Bong Thian-gak
sambil menghela napas panjang.
Pendekar Cacat 388

"Ko-heng, siapa menurut dugaanmu?"

"Kemungkinan besar Cong-kaucu yang akan memimpin


secara langsung penyerangan ini."

Paras muka Pa-ong-kiong Ho Put-ciang berubah hebat


mendengar perkataan itu, katanya cepat, "Lantas
bagaimana cara kita menghadapi?"

Bong Thian-gak menghela napas panjang.

"Ai, hari ini aku baru menemukan gelagat kurang baik, bila
kita hendak meminta bantuan orang sembilan partai besar,
aku rasa air yang berada di tempat jauh tak mungkin bisa
memadamkan api di depan mata!"

"Tapi kita bisa membendung air bah, kita hadapi serbuan


lawan dengan kekuatan, asal kita bertekad berjuang sampai
titik darah penghabisan, aku rasa kekuatan musuh masih
dapat kita imbangi."

"Aku pikir lebih baik kita mundur saja dari gedung ini sambil
melindungi kekuatan yang tersisa," ucap Bong Thian-gak
dengan wajah nerius.

Belum habis perkataan Bong Thian-gak, mendadak dari


bawah anak tangga sana terdengar suara langkah kaki,
Pendekar Cacat 389

disusul kemudian munculnya Toan-jong-hong-liu Yu Heng-


sui.

"Yu-sute, ada urusan penting apa?" Ho Put-ciang segera


berpaling «I.m menegur.

Dengan suara lantang Yu Heng-sui menyahut, "Seorang


mata-mata yang kita utus untuk mencari berita telah
berjumpa dengan seorang perempuan misterius di luar
kota Kay-hong sebelah barat. Perempuan Itu telah
menitipkan sepucuk surat kepada mata-mata kita supaya
disampaikan kepada Ko-siauhiap."

Sembari berkata, dari dalam sakunya dia mengeluarkan


sepucuk surat berwarna biru.

Bong Thian-gak segera menerima surat itu, di atas sampul


tertera beberapa huruf dengan gaya tulisan yang sangat
indah: "Ditujukan khusus untuk Ko Hong."

Bong Thian-gak berkerut kening, setelah berpikir sebentar,


lalu tanyanya, "Siapakah perempuan itu?" Terus saja ia
merobek sampul surat itu dan membacanya isinya.
Pendekar Cacat 390

"Tidak mudah untuk mempertahankan hidup ini, cepat


pergi dari sini

untuk hidup seratus tahun lagi."

Di bawah surat tidak dicantumkan tanda tangan.

Selesai membaca, Bong Thian-gak segera menyerahkan


surat itu kepada Ho Put-ciang serta Thia Leng-juan sekalian.

"Siapa penulis surat ini?" Thia Leng-juan bertanya


kemudian.

"Jit-kaucu," sahut Bong Thian-gak sambil menghela napas


panjang.

Ho Put-ciang menghela napas pula.

"Kejadian ini semakin membuktikan dugaan kita tak salah,


Put-gwa-cin-kau memang sudah mempersiapkan diri
memusnahkan gedung kita."

"Ai, belum tentu begitu, kemungkinan juga sasaran mereka


hanya aku seorang."

"Bukankah dia sudah memberi peringatan kepada Ko-heng?


Tak mungkin dia turun tangan keji terhadap Ko-heng!" kata
Thia Leng-juan lagi.
Pendekar Cacat 391

"Jit-kaucu adalah seorang gadis yang berwatak aneh,


senang gusarnya tidak menentu, lagi pula semua gerak-
geriknya seakan-akan sudah berada di bawah cengkeraman
Cong-kaucu."

Ho Put-ciang bertanya kepada Yu Heng-sui, "Yu-sute,


siapakah mata-mata itu? Cepat kau panggil dia agar
menghadap kemari."

"Baik!" sahut Toan-jong-hong-liu Yu Heng-sui dari bawah


loteng.

Tak selang lama kemudian Yu Heng-sui telah muncul


kembali diikuti seorang lelaki berbaju hitam.

Begitu melihat raut wajah lelaki itu, Pa-ong-kiong Ho Put-


ciang segera mengetahui dia adalah komandan pasukan
mata-mata angkatan kedelapan yang bernama Tan Thiam-
ka.

Sesudah memberi hormat kepada semua orang, Tan Thiam-


ka segera berdiri di samping dengan kedua tangan
diluruskan ke bawah.

"Komandan Tan, darimana kau dapatkan surat ini?" Ho Put-


ciang berkata dengan suara nyaring.
Pendekar Cacat 392

"Di sebelah barat kota Kay-hong, lebih kurang empat-lima li


di luar kota."

"Macam apakah bentuk wajah orang yang menyerahkan


surat itu kepadamu?" sela Thia Leng-juan.

"Dia adalah seorang gadis yang berusia enam-tujuh belas


tahunan, berwajah jelek tapi bersuara amat merdu dan
manis. Awalnya dia bertanya kepadaku apakah merupakan
anggota gedung Bengcu, setelah itu ujarnya lagi, katanya
dia ada surat yang hendak diserahkan kepada Ko Hong
Siauhiap, maka surat itu pun diserahkan kepada hamba
sebelum pergi meninggalkan tempat itu."

Mendengar penjelasan itu, paras muka Ho Put-ciang


sekalian segera berubah hebat, dalam hati mereka berpikir,
"Berwajah jelek? Kalau begitu orang itu bukan Jit-kaucu?"

Walaupun Ho Put-ciang dan Thia Leng-juan sekalian belum


pernah menyaksikan raut wajah Jit-kaucu, namun Bong
Thian-gak pernah melukiskan paras mukanya yang cantik
ibarat bidadari yang baru turun dari kahyangan, lagi pula
usianya juga tidak cocok.

"Komandan Tan, apakah kau tidak salah melihat?" Ho Put-


ciang segera bertanya.
Pendekar Cacat 393

"Tecu tak bakal salah melihat."

Ho Put-ciang manggut-manggut.

'Baiklah kalau begitu, komandan Tan dan Yu-sute boleh


mengundurkan diri dari sini."

"Baik!" seru mereka berdua bersama-sama.

Seusai berkata, mereka membalikkan badan siap


meninggalkan lompat itu.

"Tunggu sebentar!" mendadak Bong Thian-gak berseru.

"Ada urusan apa Ko-siauhiap?" Ho Put-ciang segera


bertanya.

"Ho-bengcu, aku ingin membawa komandan Tan


berkunjung ke tempat penyerahan surat itu."

"Apakah luka Ko-siauhiap telah sembuh?"

"Tak usah kuatir, Bengcu, lukaku sudah tak jadi masalah


lagi."

"Apakah Ko-siauhiap kenal si pengantar surat itu?"

"Tidak!" Bong Thian-gak menggeleng. "Belum pernah


kujumpai wanita itu."
Pendekar Cacat 394

"Musuh kita amat licik dan mempunyai banyak tipu


muslihat, mungkinkah kepergian Ko-siauhiap akan terjebak
siasat licik mereka?" "Apa maksud perkataanmu itu?"

"Aku kuatir Ko-siauhiap salah menduga akan si pengirim


surat itu."

"Andaikan musuh menantangmu secara terang-terangan


untuk berduel, mereka kuatir kita mempersiapkan diri lebih
dahulu, maka dia sengaja mengirim surat itu untuk
memancing rasa ingin tahumu hingga kau melakukan
penyelidikan seorang diri. Akhirnya kau termakan oleh tipu
muslihat mereka."

Mendengar perkataan itu, Bong Thian-gak tersenyum.

"Untuk mewujudkan tugas yang dibebankan Ku-lo Sinceng


kepadaku, sudah seharusnya aku mulai bertindak
sekarang."

"Kalau begitu apakah Ko-siauhiap membutuhkan bantuan


orang kami?"

"Tidak usah," Bong Thian-gak menampik sambil


menggeleng. "Sekarang juga aku akan berangkat."
Pendekar Cacat 395

Ho Put-ciang lantas berpaling ke arah lelaki berbaju hitam


itu sambil berpesan, "Komandan Tan, dampingi Ko-
siauhiap, kau harus menuruti semua petunjuk dan perintah
Ko-siauhiap tanpa membantah."

"Baik!" sahut Tan Thiam-ka dengan hormat.

Setelah berkata, dia lalu berpaling ke arah Bong Thian-gak


sambil bertanya, "Ko-siauhiap, apakah akan berangkat
sekarang juga?"

Bong Thian-gak berkata kepada Ho Put-ciang sekalian,


"Setiap saat aku akan mengadakan kontak dengan kalian,
harap Bengcu tak usah kuatir, kami segera akan berangkat."

Selesai berkata Bong Thian-gak dan Tan Thiam-ka segera


pula berangkat meninggalkan gedung Bu-lim Bengcu.

Setelah perjalanan selama setengah jam lebih, sampailah


Tan Thiam-ka dan Bong Thian-gak di depan sebuah hutan
buah-buahan.

"Di sinikah kau bertemu dengan gadis berwajah jelek itu?"


Bong Thian-gak bertanya.
Pendekar Cacat 396

"Ya, waktu itu hamba sedang duduk beristirahat di bawah


pohon kelengkeng, mendadak muncul perempuan
berwajah jelek itu."

Bong Thian-gak mendongakkan kepala memandang sekejap


ke arah hutan buah-buahan itu.

***
Pendekar Cacat 397

6
PERSAINGAN JI-KAUCU DAN JIT-KAUCU

K ebun buah-buahan itu luas sekali, mungkin


mencapai belasan hektar lebih. Empat penjuru
dikelilingi pagar pendek terbuat dari bambu, jelas
tempat itu merupakan kebun buah-buahan yang dijaga
orang.

Bong Thian-gak bertanya, "Apakah sekeliling tempat ini


terdapat perkampungan atau dusun?"

"Dua li dari sini terdapat sebuah dusun kecil, hanya sekitar


dua puluh kepala keluarga."

"Apa hasil penyelidikanmu terhadap dusun itu?"

Tan Thiam-ka termenung sejenak, kemudian sahutnya, "Di


tempat itu tidak kutemukan sesuatu, pada pagi dan siang
hari kebanyakan rumah petani tutup, hanya ada beberapa
Pendekar Cacat 398

anak kecil bermain di luar pagar rumah, benar-benar


suasana dusun kaum petani."

Pada saat itulah mendadak dalam kebun buah-buahan itu


berkumandang suara bentakan serta caci-maki.

Dengan kening berkerut Bong Thian-gak berkata, "Mari kita


tengok!"

Suara bentakan itu berasal setengah li dari tempat itu,


suaranya tidak begitu keras.

Buru-buru Bong Thian-gak dan Tan Thiam-ka berputar ke


kebun buah sebelah utara, di situ mereka menyaksikan
sekelompok orang mengerubuti seseorang.

Menyaksikan itu, hati Bong Thian-gak terkesiap.

Rombongan itu terdiri dari tiga belas orang, mereka


mengenakan baju hijau penuh tambalan, tak usah ditanya
lagi mereka adalah orang-orang Kay-pang.

Orang yang sedang dikepung ketiga belas orang Kay-pang


itu adalah seorang gadis berbaju hitam.

Bong Thian-gak dapat melihat pula raut wajah gadis


berbaju hitam Itu dengan jelas, dia berkulit hitam dengan
Pendekar Cacat 399

hidung besar, mulut lebar dan mata melotot. Tampang


semacam itu benar-benar jelek setengah mati.

Bong Thian-gak terkejut, sambil menarik tangan Tan Thiam-


ka menuju ke tempat peristiwa itu, bisiknya lirih,
"Komandan Tan, coba kau perhatikan, diakah yang
menyampaikan surat itu kepadamu?"

Setelah melihat jelas paras muka gadis berbaju hitam itu,


Tan Thiam-ka berseru tertahan, "Ah, betul! Ko-siauhiap,
dialah orangnya."

Bong Thian-gak manggut-manggut.

"Bagus sekali, mari kita lihat keadaan dan berpeluk tangan


dulu."

Sementara itu kawanan pengemis Kay-pang dan gadis


berwajah jelek itu sudah melihat pula kehadiran Bong
Thian-gak serta Tan Thiam-ka.

Sebenarnya orang-orang Kay-pang itu mengira Bong Thian-


gak dan Tan Thiam-ka adalah teman gadis berwajah jelek
itu, mereka baru menyadari kesalahan itu setelah
menyaksikan kedua orang itu berhenti.
Pendekar Cacat 400

Mendadak terdengar gadis berwajah jelek itu tertawa,


kemudian menegur, "Kalian kawanan pengemis tak tahu
diri, di siang hari bolong begini pun berani membegal aku?"

Salah seorang di antara pengemis itu, yang berusia agak


lanjut, tertawa aneh, "Hehehe, bocah perempuan jelek,
pentang matamu lebar-lebar, kami anggota Kay-pang
bukan manusia yang membiarkan diri dihina orang
semaunya sendiri. Sekarang aku si pengemis tua hanya
ingin bertanya saja kepadamu, siapa dua orang gadis yang
baru saja kau bunuh itu?"

Gadis berparas jelek itu tertawa terkekeh-kekeh.

"Hehehe, kalian kawanan pengemis rudin, untuk mencari


makan sehari tiga kali saja sudah sulit, ternyata berani
mencampuri urusan orang lain. Aku cuma menasehatimu
secara baik-baik, kalau mau hidup langgeng, lebih baik
cepat tinggalkan tempat ini dan jangan ceritakan apa yang
telah kau lihat tadi, kalau tidak, kalian akan mampus di sini
tanpa liang kubur."

Mendadak pengemis tua itu membentak gusar, "Bocah


perempuan jelek, kenalkah kau dengan Lohu?"

"Kau tak lebih dari seorang pelindung hukum ruang siksa


Kay-pang?" kata si nona hambar.
Pendekar Cacat 401

Pengemis tua itu tertawa dingin.

"Seorang pelindung hukum ruang siksa Kay-pang


mempunyai hak menurunkan perintah membantai setiap
musuh yang dijumpai. Bila tahu diri, lebih baik cepat
sebutkan identitas serta asal-usul kedua orang itu."

Mendadak gadis yang berwajah jelek itu menarik muka dan


mencorongkan sinar membunuh dari balik matanya,
dengan suara dingin dia berkata, "Sekarang kalian sudah
mengetahui rahasiaku membunuh orang, kukira sudah
sepantasnya bila kubunuh kalian agar rahasia ini tidak
bocor ke orang lain, hm, belum lagi aku melakukan
pembunuhan itu, sungguh tak nyana kalian telah
memojokkan aku dengan perkataanmu itu."

Bong Thian-gak yang menyaksikan kejadian ini berpikir


dalam hati, "Aduh celaka, gadis ini sudah diliputi hawa
membunuh."

Sementara dia berpikir, pengemis tua telah berteriak,


"Bagus nekali! Arak kehormatan tidak mau, kau justru
memilih arak hukuman. Pengawal! Tangkap dulu budak
jelek itu!"
Pendekar Cacat 402

Begitu bentakan dilontarkan, empat orang anggota Kay-


pang segera menerjang ke depan sambil memutar tongkat
bambu mereka.

Siapa tahu, dengan satu lejitan tahu-tahu gadis berwajah


jelek itu sudah menyongsong kedatangan keempat orang
itu.

Menyusul "Plak! Plok] Plak! Plok!", empat kali tamparan


nyaring berkumandang memecah keheningan.

Keempat orang pengemis yang melakukan terjangan itu


masing-masing mendengus tertahan, kemudian tergeletak
di tanah dan tidak berkutik lagi.

Ilmu pukulan yang demikian cepat dan luar biasa ini


membuat Hong Thian-gak yang menyaksikan kejadian itu
mengerut dahi.

Sementara para pengemis Kay-pang diliputi perasaan


kaget, ngeri dan tertegun.

Agaknya gadis berwajah jelek itu sudah didorong nafsu


untuk melakukan pembunuhan secara besar-besaran guna
melenyapkan semua saksi hidup, dengan suatu gerakan
yang amat cepat dia menyerbu ke tengah kerumuman
orang banyak.
Pendekar Cacat 403

Segera berkumandang jeritan kaget tertahan serta jerit


kesakitan di sana-sini. Bayangan orang mencelat dan
berkelebat ke sana kemari, dalam waktu singkat telah ada
dua belas orang anggota Kay-pang tergeletak di tanah.

Dalam keadaan seperti ini, Bong Thian-gak tidak


mengetahui apakah dia harus mencampuri urusan ini atau
tidak?

Sementara itu si nona berwajah jelek sudah berjalan


menuju ke depan pengemis tua itu begitu berhasil
membinasakan kedua belas anggota Kay-pang tadi.

Mendadak Bong Thian-gak membentak nyaring, "Tahan!"

Waktu itu si nona berwajah jelek sudah mengangkat


telapak tangan siap melancarkan serangan maut, ketika
mendengar suara bentakan itu, gerakannya segera
dihentikan.

Dengan suatu gerakan cepat Bong Thian-gak menghampiri


nona berwajah jelek itu, kemudian katanya, "Nona, jangan
kau lakukan pembantaian secara besar-besaran."

"Ko-siangkong, harap menyingkir dulu," kata gadis


berwajah jelek itu pelan. "Sekarang aku telah
membinasakan dua belas orang anggota partainya dan aku
Pendekar Cacat 404

tak boleh membiarkan dia kabur untuk membocorkan


rahasia ini."

Paras muka Bong Thian-gak berubah hebat sesudah


mendengar perkataan itu, ujarnya, "Nona, kepandaian silat
yang kau miliki lihai sekali, justru karena aku tak bisa
mengambil keputusan dengan cepat, akibatnya aku tak
sempat mencegah perbuatan kejimu."

"Siangkong, apabila kau menghalangi perbuatanku ini,


maka kau bakal menyesal sepanjang masa. Harap kau
segera menyingkir."

Dalam pada itu si pengemis tua masih berdiri di situ dengan


wajah termangu. Bong Thian-gak yang menyaksikan hal itu
segera membentak, "Hei, mengapa kau tak segera
melarikan diri? Kau hendak menunggu sampai kapan?"

Pengemis tua itu terkejut sesudah mendengar seruan itu.


Dia segera membalikkan badan dan melarikan diri.

Mendadak gadis itu mengayunkan pergelangan tangan


kanan.

"Sret", setitik cahaya bintang yang terang bagaikan


sambaran petir dengan cepat menyambar ke belakang
tubuh si pengemis tua itu.
Pendekar Cacat 405

Mimpi pun Bong Thian-gak tidak mengira gadis berwajah


jelek itu bakal melancarkan serangan dengan menggunakan
senjata rahasianya, ia membentak keras, telapak tangan
kirinya segera diayun ke depan melepaskan pukulan kosong
membabat ke titik cahaya bintang itu.

Walaupun dia bertindak agak terlambat, senjata rahasia


tadi tersapu juga oleh sambaran angin pukulannya, dengan
begitu kekuatan serangannya menjadi berkurang dan tak
menyeramkan lagi.

"Aduh!" berkumandang jerit kesakitan yang memilukan


hati.

Pengemis tua itu sempoyongan, lalu melarikan diri makin


cepat meninggalkan tempat itu.

Di saat Bong Thian-gak mengayunkan telapak tangan


kirinya melancarkan serangan tadi, tangan kanannya juga
secepat kilat menghantam bahu gadis berwajah jelek itu.

Dengan cekatan gadis berwajah jelek itu mundur tiga-


empat langkah, ujarnya setelah menghela napas sedih,
"Siangkong, dengan perbuatanmu ini hanya akan
menambah kesulitanku saja, bahkan bisa jadi akan
mempengaruhi situasi dunia persilatan."

"Mengapa?" tanya Bong Thian-gak dengan suara dalam.


Pendekar Cacat 406

"Siangkong, tahukah kau siapakah kawanan pengemis itu?"


tanya gadis berwajah jelek itu sambil menghela napas
sedih.

"Para anggota Kay-pang!"

"Kay-pang adalah perkumpulan paling besar di Bu-lim


dewasa ini. Pengaruh organisasi itu meliputi hampir setiap
pelosok dunia persilatan, kini kau telah membiarkan
pengemis tua itu melarikan diri, mungkin tidak sampai dua
belas jam kemudian, pihak Kay-pang sudah akan mengutus
jago-jagonya datang kemari mencari balas."

"Nona, kalau kau tak ingin disusahkan oleh orang-orang


Kay-pang, mengapa pula kau membunuh anggota mereka?"

Dengan polos gadis berwajah jelek itu menjawab, "Asalkan


kau tidak menghalangiku tadi, maka aku akan berhasil
membunuh mereka semua, perbuatanku ini tak akan
diketahui siapa pun, bahkan aku bisa mengalihkan balas
dendam mereka ke arah yang salah. Bukankah ini justru
akan mendatangkan keuntungan bagi diriku?"

"Nona kau berasal dari perguruan atau aliran mana?" tanya


Bong Thian-gak kemudian dengan kening berkerut.

Gadis berwajah jelek itu tertawa cekikikan.


Pendekar Cacat 407

"Aku tidak punya perguruan maupun partai."

"Bukankah nona yang menyuruh dia mengantar surat


untukku?" l.mya Bong Thian-gak lagi dengan suara dalam.

Sembari berkata dia menunding ke arah Tan Thiam-ka yang


berdiri di samping.

"Betul! Aku yang menitipkan surat itu kepadanya," gadis


berwajah jelek itu membenarkan.

"Seingatku belum pernah berjumpa atau berkenalan


dengan nona, darimana nona mengenali diriku? Apa pula
maksud nona mengirim surat itu kepadaku?"

"Walaupun aku tidak kenal padamu, tapi besar


kemungkinan majikan kami kenal Ko-siangkong."

"Ai, apakah kau masih mempunyai majikan? Siapakah nama


majikan kalian itu?"

"Aku juga tidak mengetahui siapa nama majikan kami."

Kali ini Bong Thian-gak benar-benar dibikin bingung dan tak


habis mengerti, sebenarnya dia mengira Jit-kaucu Thay-kun
yang menyuruh gadis ini menyampaikan surat kepadanya,
siapa tahu kenyataan sama sekali berbeda dengan apa yang
diduganya semula.
Pendekar Cacat 408

Lantas siapakah majikannya?

Ilmu silat gadis berwajah jelek itu kelihatan amat aneh dan
istimewa, boleh dibilang Bong Thian-gak sama sekali tak
mengenalinya.

Setelah termenung dan memutar otak, Bong Thian-gak


bertanya, "Nona, dapatkah kau mengajakku pergi
menjumpai majikanmu?"

"Tentu saja boleh, cuma aku kuatir majikan tidak bersedia


bertemu denganmu."

Mendadak satu ingatan melintas dalam benak Bong Thian-


gak, katanya, "Dalam surat itu, dia menyuruh aku datang
menjumpainya."

"Kau tidak bohong?" gadis berwajah jelek itu menegas.


"Tidak!"

Gadis itu memandang ke arah Tan Thiam-ka sekejap,


kemudian katanya, "Majikan kami tak mengizinkan orang
lain menjumpainya."

Tentu saja Bong Thian-gak cukup memahami maksud


ucapannya itu, maka katanya kepada Tan Thiam-ka,
"Komandan Tan, kau boleh pulang lebih dulu."

"Baik!" sahut Tan Thiam-ka.


Pendekar Cacat 409

Dengan mengerahkan Ginkang, dia lantas kembali ke


gedung Bu-lim Bengcu.

Sepeninggal Tan Thiam-ka, gadis itu baru berkata sambil


tersenyum, "Siangkong, mari kita berangkat!"

Selesai berkata dia lantas membalik badan dan berangkat


ke arah utara.

Bong Thian-gak juga tidak banyak bicara, dengan ketat dia


mengikut di samping kiri gadis bermuka jelek itu.

Mendadak gadis itu berkata, "Siangkong, apakah kau tidak


mencurigai diriku sebagai anggota Put-gwa-cin-kau?"

"Ehm, aku sudah menduga ke situ," sahut Bong Thian-gak


dengan suara hambar.

"Seandainya aku benar-benar anggota Put-gwa-cin-kau, apa


yang hendak Siangkong lakukan?"

"Akan kubunuh dirimu sekarang juga!"

Gadis bermuka jelek itu tertawa cekikikan. "Tak usah


kuatir," katanya, "kedua gadis yang kubunuh tadi tak lain
adalah anggota Put-gwa-cin-kau."
Pendekar Cacat 410

"Mengapa kau membinasakan mereka," tanya si pemuda


dengan terkejut bercampur keheranan.

"Sebab aku sedang melaksanakan perintah majikan!"

"Sesungguhnya siapa majikanmu itu?" desak Bong Thian-


gak tiba-tiba sambil menghela napas.

"Bagaimana pun juga kau bakal bertemu dengannya,


setelah bersua nanti kau akan tahu dengan sendirinya."

"Majikanmu itu seorang lelaki atau perempuan?"

"Seorang perempuan."

Kini Bong Thian-gak diliputi perasaan bimbang, tidak habis


mengerti dan curiga, namun dia tidak berdaya mengatasi
kecurigaan itu, maka selain membuang jauh-jauh pikiran itu
untuk sementara waktu, sorot matanya dialihkan ke
sekeliling tempat itu sambil mengawasi pemandangan
alam.

Lambat-laun matahari tenggelam di langit barat, senja pun


menjelang tiba.

Suasana tengah malam yang sepi berlapiskan cahaya


keemas-rmasan yang sangat indah.
Pendekar Cacat 411

Akhirnya sampailah mereka di depan sebuah hutan kecil,


dari balik hutan lamat-lamat nampak sebuah kuil.

"Kita sudah hampir sampai," bisik gadis itu tiba-tiba.


"Apakah kuil di depan sana?" pemuda itu bertanya.

"Ya, kuil kaum Nikoh!"

Sementara pembicaraan berlangsung, mereka berdua


sudah memasuki halaman muka kuil itu.

Saat itulah si nona yang bermuka jelek itu baru


menghentikan langkahnya dan berpaling ke arah Bong
Thian-gak, katanya, "Harap kau suka menunggu sebentar di
luar kuil!"

Tidak menanti jawaban Bong Thian-gak, dia sudah


menerobos ke balik pintu gerbang kuil itu.

Meminjam sinar senja berwarna keemas-emasan. Bong


Thian-gak mencoba mengawasi kuil itu, ternyata kuil itu
bernama Keng-tim-an.

Kuil Keng-tim-an tidak terhitung besar, namun juga tidak


kecil. Seluruh bangunan terdiri dari lima lapis halaman.

Waktu itu di ruang tengah amat sepi dan tidak nampak


sesosok bayangan orang pun.
Pendekar Cacat 412

Suasana diliputi oleh keheningan, kesepian yang luar biasa.

Diam-diam Bong Thian-gak berpikir, "Andaikata tempat ini


hanya merupakan suatu perangkap Put-gwa-cin-kau,
bagaimana caraku menghadapi mereka dan meloloskan
diri?"

Belum habis dia berpikir, tiba-tiba nampak gadis bermuka


jelek itu sudah berjalan keluar dari ruang tengah, kemudian
katanya dengan suara dingin, "Siangkong, kau pandai
berbohong. Dalam suratnya, majikan kami tidak
mengundangmu kemari!"

Tak usah marah-marah, nona, sesungguhnya terdorong


oleh rasa ingin tahuku, maka aku kemari ingin berjumpa
dengan majikan kalian."

"Gara-gara ulahmu itu, akibatnya aku yang didamprat


majikan habis-habisan.

Untung majikan mempunyai pandangan lain kepadamu


sehingga dia bersedia bertemu dengan kau."

"Terima kasih banyak atas bantuan nona, harap kau suka


membawaku masuk ke dalam!"

"Setelah masuk ke dalam kuil nanti, harap kau jangan


mengusik para Nikoh."
Pendekar Cacat 413

"Apakah ada Nikoh yang berdiam di sini?"

"Ya, mereka adalah Nikoh yang menjalani pantangan berat,


jumlahnya mencapai tujuh puluhan orang."

Sementara berbicara, gadis itu sudah berjalan lebih dahulu


untuk menunjukkan jalan.

Sesudah memasuki pintu kuil, benar juga pada sisi pagar


bangunan itu nampak ada puluhan orang Nikoh sedang
menyirami bunga, menanam sayur dan membabat rumput.

Mereka langsung menuju ke ruang tengah.

Di depan patung Buddha di ruang tengah, nampak asap


dupa mengepul memenuhi angkasa, tiga orang Nikoh
sedang berdoa di situ dengan khidmat.

Gadis bermuka jelek itu langsung mengajak Bong Thian-gak


menuju ke halaman lapis keempat.

Waktu itu dalam semua kamar di masing-masing halaman


telah diterangi cahaya lentera.

Gadis berwajah jelek itu membawa Bong Thian-gak menuju


ke depan sebuah rumah yang terpencil di tengah halaman.
Dari luar tampak sesosok bayangan orang sedang duduk di
Pendekar Cacat 414

tepi jendela. Bayangan tubuh seorang perempuan cantik


dan menarik, Bong Thian-gak seakan-akan pernah
mengenalinya di suatu tempat.

Pada saat itulah, gadis itu berkata dengan sikap hormat,


"Lapor majikan, Ko-siangkong telah tiba."

Dari dalam ruangan segera berkumandang suara merdu


dan lembut, "Silakan Siangkong masuk!"

"Siangkong, silakan masuk!" kata gadis itu.

Sekali pun Bong Thian-gak diliputi perasaan bingung dan


penuh ruriga, namun terdorong rasa ingin tahunya yang
besar, ia segera beranjak memasuki ruangan itu.

Setibanya dalam ruangan dia mendongakkan kepala.

"Ah, kau!" Bong Thian-gak segera menjerit kaget.

Di bawah cahaya lentera yang terang-benderang, seraut


wajah yang cantik jelita muncul di hadapannya.

Waktu itu Jit-kaucu tidak menampilkan perasaan girang,


gusar maupun murung, dia hanya berkata hambar,
"Suheng, silakan duduk."
Pendekar Cacat 415

Dipanggil "Suheng" oleh gadis itu, Bong Thian-gak


merasakan suatu perasaan canggung. Tanpa mengucapkan
sepatah kata pun, dia lantas mengambil tempat duduk.

Pelan-pelan Jit-kaucu Thay-kun bangkit dan menuang


secawan air teh, kemudian disodorkan ke hadapan Bong
Thian-gak, katanya, "Silakan minum air teh!"

Memandang kesepuluh jari tangannya yang putih dan


ramping, tanpa terasa Bong Thian-gak menerima angsuran
cawan teh itu dengan cepat, namun tidak segera
meneguknya.

Beberapa saat sesudah termenung, pemuda itu baru


berkata, "Jadi kau yang menulis surat itu?"

"Ya, aku yang menulis," Jit-kaucu Thay-kun mengangguk.

"Tindak-tandukmu sungguh membuat aku bingung dan


merasa tak habis mengerti."

Jit-kaucu menarik wajah, kemudian berkata, "Cong-kaucu


telah menurunkan perintah agar aku membinasakan
dirimu."

"Cepat atau lambat perintah ini akan diturunkan juga!"

"Kau memang tolol," tegur Jit-kaucu dingin. "Memang kau


harus memperlihatkan kebolehanmu? Seandainya pada
Pendekar Cacat 416

tiga hari lalu kau tidak melukai komandan nomor dua


pasukan pengawal tanpa tanding, tak nanti Cong-kaucu
memandang serius dirimu."

Mendapat teguran itu, timbul perasaan aneh dalam hati


Bong Thian-gak, dia tidak bisa melukiskan bagaimana
perasaannya waktu itu, karenanya dia hanya menerima
teguran itu dengan mulut bungkam.

Kembali Jit-kaucu Thay-kun berkata, "Sembilan hari lagi,


Cong-kaucu akan datang sendiri ke kota Kay-hong ini."

"Kalau begitu sembilan hari lagi merupakan saat ajal


bagimu," kata Bong Thian-gak sambil tertawa dingin.

Paras muka Jit-kaucu Thay-kun lantas saja berubah hebat,


serunya tanpa terasa, "Apa maksud perkataanmu itu?"

"Setelah Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau memerintahkan kau


membunuh Ku-lo Hwesio dan aku, maka sasaran ketiga
adalah dirimu sendiri! Sesungguhnya kehadirannya di kota
Kay-hong tak lain adalah untuk membunuhmu!"

"Ku-lo Sinceng benar-benar telah meninggal dunia?"

Bong Thian-gak mengangguk.


Pendekar Cacat 417

"Ya, sudah meninggal dunia! Tapi dia bukan mati lantaran


terhajar oleh pukulan Soh-li-jian-yang-sin-kang."

"Ai, dunia persilatan telah kehilangan seorang tokoh yang


luar biasa," gumam Jit-kaucu sedih.

"Sumoay," bisik Bong Thian-gak lirih.

Dia hanya mampu menyebut itu saja, kemudian paras


mukanya berubah merah padam dan tak mampu berkata
lebih lanjut.

Jit-kaucu sendiri paras mukanya mengunjuk suatu


perubahan sangat aneh mendengar panggilan "Sumoay"
itu.

Sepasang mata mereka saling pandang tanpa berkedip ...


lama-lama ... lebih kurang sepeminunan teh kemudian
Bong Thian-gak baru melanjutkan kata-katanya, "Semua
perkataanku bukan cuma bualan belaka."

Jit-kaucu Thay-kun berkerut kening, lalu gumamnya,


"Dengan susah-payah Suhu mendidikku selama dua puluh
tahun lebih, entah berapa banyak pikiran dan tenaga yang
telah dikorbankan untukku, mungkinkah dia akan ...."
Pendekar Cacat 418

Bicara sampai di situ, mendadak gadis itu menghentikan


gumamannya dan tidak dilanjutkan.

Bong Thian-gak menghela napas sedih, ujarnya, "Dari dulu


hingga sekarang, banyak benggolan dunia persilatan yang
cuma mengutamakan keuntungan dan keberhasilan pribadi
mereka, seakan sudah kehilangan hati nurani, bahkan
terhadap anak kandung sendiri pun tega untuk
dikorbankan."

"Suhu mendidik dan membinaku justru karena ingin


mewujudkan cita-citanya menguasai dunia Kangouw,
kenapa dia harus melenyapkan aku?"

"Untuk mencapai ambisi gilanya, dia telah mengubah kau


dari seorang gadis biasa menjadi luar biasa, tujuannya tak
lain adalah untuk menjadikan kau sebagai alatnya dalam
menaklukkan dunia persilatan. Kini orang yang dia segani
dan takuti telah mati semua, maka dia pun lidak
memerlukan alat itu lagi, bila alat yang lihai ini dibiarkan
hidup terus, hal itu akan menimbulkan ketidak-
tenangannya di masa-masa mendatang."

"Mengapa bisa begitu?"


Pendekar Cacat 419

"Alasan yang terutama adalah karena ilmu Soh-li-jian-yang-


sin-kang yang kau miliki justru merupakan tandingan
kepandaian silatnya."

Jit-kaucu Thay-kun berkerut kening, "Darimana kau tahu


Soh-li-jian-yang-sin-kang merupakan tandingan segenap
kepandaian sakti guruku? Apakah kau sudah mengetahui
asal-usul Cong-kaucu?"

Bong Thian-gak menghela napas panjang, "Ai ... aku


memang tidak jelas tentang asal-usul Cong-kaucu, namun
persoalan ini diketahui Ku-lo Sinceng sesaat sebelum dia
meninggal dunia."

Thay-kun tertawa dingin. "Begini cara sembilan partai besar


dari daratan Tionggoan mengadu domba kekuatan kami?"
ejeknya.

Bong Thian-gak menarik muka dan berkata dengan wajah


serius, "Semua perkataan yang kuucapkan hari ini adalah
sejujurnya, kuucapkan dengan maksud dan tujuan baik."

Mendadak Jit-kaucu Thay-kun bertanya, "Apakah si jelek


telah menyampaikan sesuatu kepadamu?"

"Si jelek? Si jelek yang mana?"

"Gadis yang membawamu kemari itu."


Pendekar Cacat 420

Bong Thian-gak menggeleng.

"Tidak!"

"Mengapa kau tidak menyayangi keselamatan jiwamu


sendiri?" pelan-pelan Jit-kaucu Thay-kun bertanya.

"Dilahirkan saja sukar, siapa bilang aku tidak menyayangi


jiwaku?"

"Sekarang Cong-kaucu sudah berhasrat melenyapkan kau


dari muka bumi, apa rencanamu untuk menghadapinya?"
"Melawan sampai titik darah penghabisan."

"Kau harus tahu, Put-gwa-cin-kau memiliki kekuatan luar


biasa, mengertikah kau akan hal ini?"

"Kecuali kau, aku yakin masih mampu menghadapi yang


lain."

"Tampaknya kau menaruh kepercayaan yang kelewat besar


terhadap kemampuan ilmu silatmu?"

"Aku sudah pernah mengalahkan beberapa orang jago lihai


Put-gwa-cin-kau."

"Bagaimana menurut pendapatmu tentang ilmu silat


komandan nomor dua pasukan pengawal tanpa tanding
itu?"
Pendekar Cacat 421

"Lihai sekali."

"Sampai dimanakah taraf kelihaianmu?"

Bong Thian-gak termenung beberapa saat, kemudian baru


berkata, "Jauh lebih lihai daripada Sam-kaucu, tapi aku
yakin masih bisa mengalahkan dia, bahkan sekalian
mencabut jiwanya."

Jit-kaucu Thay-kun menghela napas sedih, "Ai, orang itu


merupakan salah seorang jago muda yang berhasil dididik
Cong-kaucu hanya dalam tujuh tahun. Dari tingkat ilmu silat
orang itu, tentunya kau bisa membayangkan bukan sampai
taraf macam apakah kepandaian silat Cong-kaucu!"

"Selain Cong-kaucu, ilmu silat Ji-kaucu (ketua kedua) serta


komandan nomor satu pasukan pengawal tanpa tanding
juga luar biasa hebatnya, sampai dimanakah kehebatan
mereka bahkan aku sendiri pun tak bisa menduganya
secara tepat."

"Terutama Ji-kaucu, bukan saja ilmu silatnya sangat lihai,


dia pun memiliki berbagai ilmu hitam dan ilmu sesat
lainnya yang mengerikan. Dia menjabat sebagai Kunsu (juru
pikir) Put-gwa-cin-kau, semua rencana dan ide keluar dari
benak orang ini, aku benar-benar kuatir dia datang ke kota
Kay-hong ini."
Pendekar Cacat 422

Bong Thian-gak yang mendengar perkataan itu diam-diam


terperanjat, tapi rasa terkejut tidak diperlihatkan di
mukanya.

"Dapatkah kau sebutkan nama mereka?" tanyanya


kemudian dengan suara lembut.

Paras muka Jit-kaucu Thay-kun bertambah berat, tegasnya


dengan nnda dingin,"Sudah terlalu banyak rahasia yang
kuutarakan kepadamu."

"Terima kasih banyak, Sumoay!"

"Untuk menyelamatkan jiwamu, hari ini aku telah


menitahkan si jelek untuk membunuh anggota Put-gwa-cin-
kau. Dengan matinya mereka, untuk sementara rahasia
pertemuan kita dapat dipertahankan, oleh sebab itu dalam
sembilan hari kau harus menghindarkan diri, kau harus
menghindari pengejaran dan usaha pembunuhan orang-
orang Put-gwa-cin-kau."

Bong Thian-gak menghela napas pelan.

"Sumoay, belakangan ini gara-gara aku, kau telah


mengkhianati Put-gwa-cin-kau, mengapa kau tidak
melepaskan jalan sesat untuk kembali ke jalan yang benar
saja?"
Pendekar Cacat 423

Jit-kaucu Thay-kun menghela napas sedih, "Aku harus


menanti...." Sampai di situ dia berhenti dan tidak
melanjutkan kata-katanya. "Sumoay, apa yang sedang kau
nantikan?"

"Aku tidak percaya Cong-kaucu adalah seorang yang tidak


berdarah dan berdaging, masakah dia sama sekali tak
berperasaan."

Mendengar perkataan itu, Bong Thian-gak jadi girang,


pikirnya, "Dari kata-katanya, bukankah terbukti dia sudah
punya perasaan tidak percaya terhadap Cong-kaucu ....
Kalau sekarang dia masih belum menantangnya secara
langsung dan terang-terangan, sesungguhnya kejadian ini
pun merupakan peristiwa yang lumrah. Bagaimana pun
juga Cong-kaucu adalah gurunya, penolong yang telah
memelihara dan mendidiknya hingga dewasa. Perasaan itu
memang lebih dalam daripada samudra dan mustahil bisa
dilupakan orang begitu saja. Oleh sebab itu kendati dia
tahu pada akhirnya Cong-kaucu hendak turun tangan keji
kepadanya, tapi untuk membuktikan hal ini terpaksa dia
harus menanti sampai Cong-kaucu benar-benar
memperlihatkan wajah yang sesungguhnya."

Kemudian Bong Thian-gak bertanya, "Apakah kuil Keng-tim-


an ini merupakan salah satu markas besar Put-gwa-cin-
kau?"
Pendekar Cacat 424

Jit-kaucu Thay-kun menggeleng, "Put-gwa-cin-kau sama


sekali tidak tahu aku sedang berada di kuil Nikoh ini."

"Siapakah Hongtiang (ketua) kuil Keng-tim-an ini?"

"Suhunya si jelek."

"Mengapa si jelek menyebutmu sebagai majikan?"

Jit-kaucu Thay-kun mengangkat kepala dan memandang


sekejap ke arah Bong Thian-gak, kemudian dia tersenyum
sambil berkata, "Aku adalah majikan kuil Keng-tim-an ini,
termasuk Hongtiangnya, mereka memanggilku sebagai
majikan."

"Aku tidak mengerti," kata Bong Thian-gak sambil


menggeleng kepala dengan perasaan tidak mengerti.

Jit-kaucu Thay-kun termenung sejenak, katanya, "Sekarang


masih belum waktunya, aku tak ingin membongkar rahasia
ini lebih dulu. Sebentar akan kuperkenalkan dirimu dengan
Keng-tim Suthay, apabila kau menemui kesulitan di
kemudian hari, mereka akan membantumu."

Jit-kaucu Thay-kun segera bangkit, setelah mengangkat


kepala memandang cuaca, dia pun berbisik lirih, "Waktu
sudah tidak pagi, aku tak bisa berdiam lebih lama di sini."
Pendekar Cacat 425

Baru selesai dia berkata, mendadak dari luar ruangan


terdengar suara langkah kaki berkumandang datang,
menyusul terdengar seorang berkata dengan suara yang
lembut dan manis, "Lapor majikan, apakah akan bersantap
di sini?"

Mendengar ucapan itu, Bong Thian-gak segera tahu orang


yang berada di luar sana adalah si nona muka jelek.

"Tidak usah," jawab Jit-kaucu Thay-kun dengan suara


merdu. "Aku akan segera pergi meninggalkan tempat ini,
lebih baik kau sediakan hidangan malam untuk Ko-
siangkong saja."

Bong Thian-gak ikut bangkit, katanya, "Tidak usah, aku


harus buru-buru kembali."

Tidak menanti Bong Thian-gak berkata lebih jauh, Jit-kaucu


Thay-kun menukas, "Si jelek, apakah Keng-tim Suthay telah
menyelesaikan semedinya?"

"Ibu telah menyelesaikan sembahyang malamnya," jawab


nona itu dengan hormat, dia melangkah masuk ke dalam
ruangan dengan pelan.

"Jika begitu harap kau mengundangnya kemari," perintah


Jit-kaucu.

"Baik!" sahut si nona.


Pendekar Cacat 426

Dia segera membalikkan badan dan berlalu dari ruangan


itu.

Sepeninggal nona bermuka jelek, Jit-kaucu berkata kepada


Bong Thian-gak, "Suheng, tak ada salahnya kau bersantap
malam dulu di sini sebelum pergi, kau pun perlu
berbincang-bincang dengan Keng-tim Suthay dan si jelek
agar kedua belah pihak saling kenal lebih mendalam."

Sesungguhnya Bong Thian-gak memang menaruh perasaan


bingung, curiga dan ingin tahu terhadap kuil Keng-tim-an.
Dalam hati pemuda itu bersedia tetap tinggal di situ
melakukan penyelidikan.

Selang beberapa saat kemudian dari luar ruangan


terdengar lagi mum langkah kaki manusia, dengan cepat
muncul bayangan orang dari luar ruangan.

Tampak seorang Nikoh setengah umur yang mengenakan


jubah panjang berwarna abu-abu, membawa tasbih di
tangan, berdiri di depan pintu, di belakangnya mengikut si
nona bermuka jelek itu.

Dengan sorot mata tajam Nikoh setengah umur itu


memandang sekejap wajah Bong Thian-gak, kemudian dia
merangkap tangan dan memberi hormat kepada Jit-kaucu
Thay-kun.
Pendekar Cacat 427

"Pinni sedang bersemedi dalam ruangan hingga tak


mengetahui kedatangan majikan di sini, bilamana tak
menyambut kedatanganmu harap majikan sudi
memaafkan."

Sekarang Bong Thian-gak baru sempat melihat wajah Nikoh


setengah umur itu, mukanya bulat dengan kulit putih
bersih, panca indranya sempurna dan memancarkan
keanggunan.

Menyaksikan hal itu, tanpa terasa dia berpikir,


"Mungkinkah dia adalah ibu si jelek?"

Lalu ia memperkenalkan diri, "Namaku Ko Hong, harap


Suthay sudi banyak memberi petunjuk."

Jit-kaucu Thay-kun menuding ke arah Nikoh setengah umur


itu sembari berkata, "Dia adalah Hongtiang kuil ini, Keng-
tim Suthay, sedang ini adalah Ko-siauhiap."

Keng-tim Suthay tersenyum dan manggut-manggut,


katanya, "Ko-siauhiap, belakangan ini nama besarmu
menggetarkan dunia persilatan, sudah lama Pinni
mendengar nama besarmu."

"Ah, aku hanya seorang pemuda yang baru terjun ke dunia


persilatan, Suthay terlampau memuji!"
Pendekar Cacat 428

"Keng-tim Suthay," kata Jit-kaucu pula, "harap kalian


menemani. Ko-siangkong berbincang-bincang, bilamana
Siangkong membutuhkan bantuan kalian di kemudian hari,
harap kalian suka membantu sepenuh tenaga. Maaf, aku
harus segera pergi."

"Apakah majikan masih akan meninggalkan pesan lain?"

"Sembilan hari lagi, bila aku belum kembali di kuil Keng-tim-


an ini, kau boleh menyampaikan semua petunjuk itu
kepada Siangkong."

Selesai berkata ia segera berkelebat dan tanpa


menimbulkan sedikit suara pun berlalu dari situ.

Menyaksikan ilmu meringankan tubuh Jit-kaucu Thay-kun


ya begitu sempurna, diam-diam Bong Thian-gak berpikir,
"Kepandai silatnya benar-benar sudah mencapai puncak
kesempurnaan."

Sementara dia masih termenung, Keng-tim Suthay berkata


dengan suara lembut, "Siangkong, harap minum air teh."

Sembari berkata, nona bermuka jelek dan Keng-tim Suthay


masing-masing mengambil tempat duduk, kemudian
memenuhi cawan Bong Thian-gak dengan air teh baru.
Pendekar Cacat 429

Bong Thian-gak menghela napas panjang.

"Suthay, ucapannya sebelum pergi tadi sungguh membuat


hati orang merasa kuatir."

Keng-tim Suthay tersenyum, "Ko-sicu tak usah murung.


Segala sesuatunya telah diatur oleh takdir."

"Suthay, aku mempunyai beberapa persoalan yang tak


kupahami, bersediakah kau memberi petunjuk?" tanya
Bong Thian-gak kemudian dengan kening berkerut.

Keng-tim Suthay tertawa, "Majikan telah berpesan, oleh


karena saatnya belum tiba, kurang baik untuk membongkar
rahasia itu. Maaf apabila Pinni tak bisa banyak
membantumu."

Mendengar ucapan itu, kembali Bong Thian-gak berpikir,


"Kalau dilihat dari kemampuan si nona bermuka jelek
dalam melakukan pembunuhan atas kedua belas orang
anggota Kay-pang itu, sudah dapat diketahui dia adalah
seorang jago lihai yang berilmu tinggi, sedangkan Keng-tim
Suthay juga bermata amat tajam, tampaknya
kesempurnaan tenaga dalamnya telah mencapai puncak
kesempurnaan. Dengan bekal kepandaian ilmu silat yang
begitu tinggi, nyatanya sikap mereka terhadap Jit-kaucu
Pendekar Cacat 430

Thay-kun begitu hormat, sesungguhnya hubungan apakah


yang terjalin di antara mereka bertiga?"

Sementara dia termenung memikirkan persoalan itu,


mendadak tampak paras muka Keng-tim Suthay berubah
hebat, kemudian tanyanya dengan lirih, "Siangkong, apakah
kau datang bersama sahabatmu?"

Mendengar ucapan itu, Bong Thian-gak segera pasang


telinga baik-baik, segera ia tahu di atas atap rumah telah
kedatangan dua orang pejalan malam.

Bong Thian-gak agak kuatir kalau mereka adalah anggota


gedung Bu-lim Bengcu, siapa tahu mereka tidak tega
membiarkan dia pergi ftcnrang diri, maka secara diam-diam
mengutus orang menguntit.

Maka untuk beberapa saat dia tidak mampu menjawab


pertanyaan Keng-tim Suthay.

Sementara itu Keng-tim Suthay sudah membentak dengan


suara dalam, "Sicu darimanakah yang telah mengganggu
ketenangan kami? Mengapa tidak segera turun?"
Pendekar Cacat 431

"Hehehe," suara tawa menyeramkan berkumandang


memecah keheningan malam.

Kemudian "Sret", di tengah halaman telah bertambah


dengan dua sosok manusia.

Dengan suatu lompatan kilat, Bong Thian-gak menyusup


keluar melalui jendela, sementara Keng-tim Suthay dan
nona bermuka jelek itu pun telah keluar ruangan.

Di bawah cahaya lentera yang memancar keluar dari dalam


ruangan, tampak dua orang aneh berbaju putih telah
berdiri di tengah halaman, jubah putih mereka diberi
beberapa tambalan dari kain kuning.

Begitu melihat siapa gerangan dua orang tamu tak


diundang itu, diam-diam Bong Thian-gak mengeluh dalam
hati, "Aduh celaka! Rupanya anggota Kay-pang yang telah
kemari."

Sementara itu si nona bermuka jelek pun mengeluh dalam


hati.

Dalam pada itu Keng-tim Suthay telah merangkap tangan di


depan dada sambil menegur, "Omitohud, apakah Sicu
berdua adalah anggota Kay-pang?"
Pendekar Cacat 432

Kedua orang lelaki berbaju putih itu berusia empat puluh


tahunan, orang di sebelah kiri berperawakan tinggi kekar,
memelihara jenggot pendek. Sedangkan orang di sebelah
kanan berwajah bersih tapi mencorong tajam sinar
matanya, jelas dia lebih cekatan dan hebat.

Sejak menampakkan diri di situ, mereka berdua dengan


tajam mengawasi nona bermuka jelek dan Bong Thian-gak
tanpa berkedip, wajah mereka dihiasi hawa amarah yang
amat tebal.

Mendadak terdengar lelaki berwajah bersih menyahut


sambil tertawa dingin, "Benar, kami berdua adalah Hiangcu
ruang hukuman Kay-pang."

Dari mimik wajah mereka yang kurang cerah, Keng-tim


Suthay tahu kedatangan mereka disebabkan suatu
persoalan, dia merangkap tangan kembali, tanyanya,
"Entah ada urusan apa Hiangcu berdua berkunjung ke kuil
kami?"

"Hm, tanyakan kepadanya bila ingin tahu," seru lelaki


bermuka bersih sambil menunjuk ke arah nona bermuka
jelek itu.

Keng-tim Suthay berpaling dan memandang sekejap ke


arah nona bermuka jelek itu, tanyanya pula, "Si jelek, apa
Pendekar Cacat 433

yang telah kau lakukan sehingga membuat marah mereka


berdua? Ayo cepat minta maaf kepada kedua Sicu ini!"

"Minta maaf?" jengek lelaki bertubuh kekar itu ketus. "Hm,


tak segampang itu urusan bisa dibikin selesai."

"Ibu, aku telah membunuh dua belas orang mereka," bisik


nona bermuka jelek itu lirih.

Setelah mengetahui duduk persoalannya, Keng-tim Suthay


baru menyadari betapa gawatnya persoalan itu, dengan
suara dalam dia lantas menegur, "Si jelek, mengapa kau
melakukan perbuatan tolol itu?"

Bong Thian-gak tahu semua kesulitan itu gara-garanya,


coba kalau dia memberi kesempatan nona bermuka jelek
itu menghabisi nyawa pengemis terakhir tadi, sudah pasti
tak akan terjadi kesulitan seperti ini.

Kay-pang merupakan perkumpulan terbesar yang


mempunyai kekuasaan paling luas dalam Bu-lim, jago-jago
lihainya banyak, tak bisa dihitung, cara kerja mereka pun
antara sesat dan lurus, baik golongan putih maupun hitam
biasanya suka mengalah terhadap masalah-masalah yang
melibatkan pihak kaum pengemis.
Pendekar Cacat 434

Menghadapi situasi saat ini mau tak mau Bong Thian-gak


harus memutar otak mencari akal.

Mendadak terdengar lelaki berwajah bersih itu berkata


dengan suara dingin, "Hutang uang bayar uang hutang
nyawa harus dibayar nyawa, kami akan pergi dari sini bila
pembunuhnya telah diserahkan!"

Tiba-tiba Bong Thian-gak maju sembari menjura, kemudian


katanya, "Saudara berdua, peristiwa terbunuhnya beberapa
orang anggota perkumpulan kalian di tangan nona ini, di
kemudian hari aku pasti akan berkunjung sendiri ke markas
besar kalian di Sucwan untuk memberikan keadilan kepada
kalian. Bagaimana kalau kalian berdua menyudahi
persoalan sampai di sini dulu?"

Lelaki berwajah bersih itu tertawa dingin.

"Siapa namamu? Apakah dengan bekal beberapa kata-


katamu itu kami harus menghabisi dendam kesumat
sedalam lautan begitu saja?"

"Aku she Ko bernama Hong. Harap kau sudi memberi


petunjuk," kata Bong Thian-gak menahan sabar.
Pendekar Cacat 435

Nama "Ko Hong" ini sudah berubah menjadi nama yang


amat termasyhur dalam Bu-lim dewasa ini, paras muka
kedua orang Hiangcu Kay-pang itu segera berubah hebat.

"Bagus!" seru lelaki bertubuh kekar sambil tertawa


tergelak, "Ji-siauya partai kami Giok-bin-giam-lo (Raja
akhirat berwajah pualam) To Siau-hou pernah
menyinggung nama besarmu setelah sadar dari pingsannya
tempo hari, katanya bila ingin mengetahui Put-gwa-cin-kau
paling baik menemukan dirimu. Hari ini kau harus
mengikuti kami pergi dari sini."

Bong Thian-gak tersenyum.

"Sebetulnya aku bersedia mengikuti kalian pergi dari sini,


sayang aku masih ada urusan penting lainnya yang harus
segera diselesaikan, hingga...."

"Kuanjurkan kepada saudara, lebih baik jangan mengikat


tali permusuhan dengan Kay-pang!" bentak lelaki kekar itu
dengan wajah membesi.

Tiba-tiba saja paras muka Bong Thian-gak berubah pula,


dingin seperti es, ucapnya ketus, "Kalian tak akan mampu
menyelesaikan persoalan ini secara baik-baik, kuanjurkan
kepada kalian lebih baik cepat pulang saja, tak usah
mencari penyakit buat diri sendiri."
Pendekar Cacat 436

Beberapa patah kata itu kontan membuat kedua orang


Hiangcu itu naik darah.

Kedudukan Hiangcu dalam Kay-pang hanya sedikit di bawah


Tongcu, merupakan orang ketiga yang berkuasa dalam
perkumpulan, apalagi mereka adalah Hiangcu ruang
hukuman, kekuasaan maupun kedudukannya tinggi sekali.

Lelaki berwajah bersih itu tertawa seram.

"Hehehe, mendengar perkataanmu itu, kami jadi tak tahu


diri dan ingin sekali mengetahui apa yang menjadi
modalmu hingga berani bersikap jumawa!"

Si nona bermuka jelek yang selama ini hanya diam saja,


mendadak berkata, "Bukankah kalian berdua ingin
mengajakku pergi? Baiklah, aku bersedia pergi bersama
kalian."

Si jelek berpaling ke arah Keng-tim Suthay, kemudian


berkati pelan, "Ibu, siapa membunuh orang, dia harus
membayar dengan nyawa pula, putrimu merasa sudah
sepantasnya mengikuti mereka untuk menerima hukuman,
harap kau orang tua jangan kuatir."

Kemudian sambil berpaling ke arah kedua orang itu, dia


berkata lagi, "Semua perbuatan itu merupakan tanggung-
jawabku, mari kita pergi!"
Pendekar Cacat 437

Bong Thian-gak yang menyaksikan kejadian itu punya


firasat permainan apakah yang hendak dilakukan gadis
bermuka jelek itu.

Namun berhubung perkembangan peristiwa itu telah


mencapai keadaan seperti ini, tentu saja dia tak dapat
menghalangi niatnya lagi.

Dalam hati dia hanya bisa berdoa secara diam-diam,


"Semoga Thian mengampuni dosa-dosanya!"

Begitulah dua orang Hiangcu dari Kay-pang segera


membawa nona bermuka jelek itu berlalu dari situ.

Memandang bayangan punggung mereka lenyap dari


pandangan, Keng-tim Suthay menghela napas sedih,
katanya, "Dosa! Dosa! Dendam berdarah ini makin lama
semakin mendalam, tampaknya ikatan permusuhan ini tak
bakal berakhir untuk selamanya."

"Semoga saja sejak kini hilang semua bukti-bukti nyata,


kalau tidak, entah bagaimana akhirnya nanti?"

"Omitohud," bisik Keng-tim Suthay pelan, "Ko-siangkong,


silakan duduk di dalam."
Pendekar Cacat 438

Bong Thian-gak dan Keng-tim Suthay masuk dan duduk di


ruang dalam.

Saat itulah Keng-tim Suthay berkata, "Siangkong, apakah


kau telah menyaksikan pertarungan itu?"

Bong Thian-gak menghela napas panjang, "Menjelang senja


tadi, putrimu dikejar oleh tiga belas jago Kay-pang ...."

Secara ringkas Bong Thian-gak menceritakan bagaimana


peristiwa pembunuhan itu terjadi.

Begitu selesai mendengar penuturan itu, Keng-tim Suthay


menghela napas panjang dan berkata, "Ai, perbuatan yang
dilakukan si jelek memang tugas yang dibebankan majikan
kepada kami menyangkut keselamatan seluruh umat
persilatan, apabila rahasia itu sampai dibocorkan anggota
Kay-pang, bukan saja keselamatan jiwa majikan kami
terancam bahaya, bahkan akan menyangkut keselamatan
jiwa puluhan orang lainnya."

Bong Thian-gak terperanjat mendengar perkataan itu,


katanya, "Apa maksud perkataanmu itu?"

"Di kemudian hari Siangkong bakal tahu dengan sendirinya,


ai! Kekuatan Put-gwa-cin-kau saat ini mengancam
keselamatan umat persilatan, kekuatan sembilan partai
Pendekar Cacat 439

besar dunia persilatan pun sudah dipaksa musuh hingga


berada dalam posisi tak mampu melawan lagi."

Keng-tim Suthay berhenti sejenak, lanjutnya pula, "Untuk


menyelamatkan dunia persilatan dari berbagai
pembunuhan itu, Put-gwa-cin-kau harus ditumpas sampai
ke akar-akarnya dan untuk itu tampaknya hanya ...."

Berkata sampai di sini Keng-tim Suthay menutup mulut.

Makin mendengar Bong Thian-gak makin memahami akan


suatu rahasia besar dunia persilatan, lekas dia bertanya,
"Hanya apa? Mengapa Suthay tidak melanjutkan
perkataanmu dengan terus-terang?"

Keng-tim Suthay memandang sekejap ke arah Bong Thian-


gak, lalu ujarnya, "Siangkong adalah orang pandai, tentunya
telah menduga garis besar duduknya persoalan bukan?
Yang jelas sembilan hari lagi di Bu-lim akan muncul suatu
organisasi baru yang berkekuatan besar."

"Ah! Mengapa aku belum mendengar persoalan ini," seru


Bong Thian-gak dengan terperanjat. "Siapa yang memimpin
perkumpulan baru ini? Apakah dia?"
Pendekar Cacat 440

Pada saat itulah dalam ruangan telah berjalan masuk si


nona bermuka jelek itu, hanya kali ini dia muncul dengan
pakaian bernoda darah dan peluh membasahi jidat.

Bong Thian-gak maupun Keng-tim Suthay tahu apa yang


telah diperbuat nona itu, kendatipun demikian dia tak
tahan untuk tidak bertanya, "Nona, bagaimana caramu
menghukum mereka?"

"Membantainya sampai mampus!" sahut nona itu dengan


hambar.

Bong Thian-gak berkerut kening dan bergumam, "Korban


yang mengenaskan nasibnya."

"Bila kita tidak melenyapkan mereka, pihak Kay-pang pasti


akan mencari balas tiada hentinya."

"Apa sebabnya nona tak menyembunyikan diri sementara


waktu?M

"Si jelek, perkataan Ko-siangkong memang benar," sahut


Keng-tim Suthay. "Untuk sementara waktu kau
bersembunyi saja dalam kuil sembari menunggu petunjuk
selanjutnya dari majikan."
Pendekar Cacat 441

Bong Thian-gak segera bangkit, kepada Keng-tim Suthay ia


berkata, "Aku tak bisa berdiam lebih lama lagi di sini, untuk
sementara waktu mohon diri dahulu, tapi sebelum pergi
bolehkah aku bertanya kepada Suthay, apakah kau
mengetahui tempat tinggal majikan kalian?"

"Majikan pernah memberitahu kepada Pinni bahwa Put-


gwa-cin-kau telah menurunkan perintah untuk membunuh
Siangkong. Kini Siangkong menanyakan tempat kediaman
majikan, apakah kau hendak mengantar diri ke mulut
harimau?"

Paras muka Bong Thian-gak berubah serius, katanya


dengan nada sungguh-sungguh, "Kini keselamatan jiwanya
berada dalam bahaya, bagaimana pun juga aku harus
melindunginya secara diam-diam."

"Majikan telah dilindungi keselamatan jiwanya oleh empat


orang jago lihai, aku pikir keselamatan jiwanya tidak
terlampau berbahaya."

"Tapi lebih banyak yang melindunginya lebih baik?


Kehadiranku hanya akan mendatangkan keuntungan saja
baginya?"

"Tapi jika sampai terjadi mengusik rumput mengejutkan


ular, bagaimana?"
Pendekar Cacat 442

Bong Thian-gak menghela napas panjang, "Ai, aku


mendapat perintah melindungi keselamatan jiwanya,
bagaimana pun juga aku harus berupaya dengan segala
kemampuanku untuk melaksanakan lugasku sebaik-
baiknya, andai aku harus mencari secara membuta,
tindakan itu malahan akan mengusik rumput mengejutkan
ular dan mempengaruhi situasi."

"Omitohud, tak nyana ketajaman lidah Siangkong tidak


berada di bawah kepandaian ilmu silatmu," kata Keng-tim
Suthay kewalahan.

Bong Thian-gak tersenyum.

"Sungkan! Sungkan, harap Suthay utarakan dengan cepat!"

"Kantor cabang Put-gwa-cin-kau didirikan di kota Kay-hong,


berada dalam sebuah kampung petani kecil, lebih kurang
tiga puluh li di luar kota sebelah utara, kepala kampung
tempat itu pun anggota Put-gwa cin-kau, apabila Siangkong
ingin menyelundup ke dalam dusun itu, aku rasa hal ini jauh
lebih sulit daripada mendaki langit."

"Terima kasih banyak atas petunjuk Suthay, sekali pun


harus mendaki bukit golok atau menembus sarang naga
gua harimau, aku akan tetap berupaya menyusup ke sana."
Pendekar Cacat 443

Kembali Keng-tim Suthay menghela napas panjang.

"Ai, baiklah kalau Siangkong berkeras kepala, tampaknya


Pinni harus menanggung resiko bakal ditegur majikan."

Sembari berkata, dari sakunya Keng-tim Suthay


mengeluarkan sebatang panah pendek tanpa bulu.

Panah itu panjangnya cuma tiga inci dengan kepala panah


terbuat dari emas murni, sementara batang panah
berwarna hitam, agaknya terbuat dari kayu besi.

Di atas panah itu tertera banyak ukiran, hanya tidak


diketahui ukiran apakah itu.

Sambil memegang panah kecil tak berbulu itu, Keng-tim


Suthay berkata, "Panah kecil ini merupakan lencana Put-
gwa-kim-ciam-leng dari Put-gwa-cin-kau, lencana itu
melambangkan Cong-kaucu. Di dalam Put-gwa-cin-kau,
orang yang mempunyai lencana panah emas ini pun hanya
Ji-kaucu sampai Kiu-kaucu ditambah tiga orang komandan
pasukan pengawal tanpa tanding."

Setelah berhenti sejenak, sambungnya lebih jauh, "Aku


harap lencana emas ini kau simpan dengan sebaik-
baiknya!"
Pendekar Cacat 444

Setelah menerima anak panah kecil itu, Bong Thian-gak


berkata, "Apakah anak panah emas ini milik majikanmu?"

Keng-tim Suthay menggeleng,

"Bukan!" sahutnya sambil tertawa.

Mendadak satu ingatan melintas dalam benak pemuda itu,


katanya kemudian, "Kalau begitu, Suthay juga ...."

"Ya, dulu Pinni memang anggota Put-gwa-cin-kau, tapi


sekarang bukan."

"Bolehkah aku tahu apa kedudukan Suthay dalam


perkumpulan tempo hari?"

"Pinni adalah seorang di antara tiga komandan pasukan


pengawal tanpa tanding, ai! Kejadian sedih di masa lampau
tak usah dibicarakan lagi."

Dalam diamnya Bong Thian-gak mengangguk, pikirnya pula.

"Sungguh tak kusangka dia pun salah seorang anggota Put-


gwa-cin-kau, tampaknya pada waktu yang lampau dia
mengalami suatu peristiwa yang amat memedihkan
hatinya."
Pendekar Cacat 445

Berpikir sampai di situ, anak muda itu segera bertanya,


"Tolong tanya Suthay, bagaimana caraku mempergunakan
anak panah emas ini?"

"Kecuali terhadap dua belas orang pentolan Put-gwa-cin-


kau, terhadap anggota perkumpulan yang lain kau boleh
menggunakan lencana panah emas ini dan memberikan
perintah kepada mereka."

"Dengan membawa lencana ini kau bisa masuk keluar di


dalam perkampungan itu dengan leluasa."

"Terima kasih banyak, Suthay!"

Untuk kesekian kalinya Keng-tim Suthay memberi


peringatan, "Ingat baik-baik, kedua belas pentolan Put-gwa-
cin-kau itu saling mengenal wajah masing-masing, kau tak
boleh membiarkan mereka tahu lencana panah emas ini!"

Bong Thian-gak manggut-manggut.

"Aku pasti mempergunakannya dengan hati-hati,"


sahutnya.

Keng-tim Suthay mengangkat kepala dan termenung


beberapa saat, kemudian berkata, "Harap Siangkong suka
memperhatikan baik-baik, terutama terhadap Ji-kaucu,
orang ini licik, berbahaya, kejam dan penuh dengan tipu
daya, selain matanya tajam, dia pun gampang menaruh
Pendekar Cacat 446

curiga terhadap seseorang, boleh dibilang dia merupakan


manusia paling berbahaya di dunia ini, dengarkan baik-baik,
Pinni akan mencoba melukiskan raut wajah orang itu."

"Suthay begitu menaruh perhatian kepadaku, sungguh


membuat aku merasa berterima kasih sekali."

Keng-tim Suthay tersenyum.

"Di kemudian hari kita akan menjadi rekan seperjuangan


dalam Bu-lim, harap Siangkong tak usah sungkan-sungkan
lagi."

Setelah berhenti sejenak, sambungnya pula, "Ji-kaucu


berusia lima puluh tahun, tapi dipandang dari luar, usianya
seperti jauh lebih muda, berdandan seorang sastrawan dan
gemar memakai jubah warna hijau, potongan badannya
tinggi gagah seperti potongan seorang dewa. Yang menjadi
ciri khas darinya, ia mempunyai sebuah tahi lalat berwarna
hitam pada ekor alis mata sebelah kirinya, dia pun suka
menggembol pedang tembaga hijau di pinggangnya."

"Dandanan semacam ini tidak sukar untuk dikenali” kata


Bong Thian-gak.

"Tentang ilmu silat Ji-kaucu ini, kepandaian silatnya yang


lihai adalah ilmu beracun yang membunuh orang tak
Pendekar Cacat 447

nampak darah, bila bertemu dengannya, lebih baik jangan


berdiri bertentangan dengan arah datangnya angin."

"Majikan kalian pernah menyinggung pula tentang


berbahayanya Ji-kaucu ini, aku pasti akan bertindak
menurut keadaan. Beruntung sekali aku telah bertemu
dengan Suthay hari ini sehingga banyak rahasia Put-gwa-
cin-kau yang berhasil kuketahui, umat persilatan pasti akan
berterima kasih atas petunjuk Suthay ini."

"Aku minta kau jangan memberitahukan apa yang kita


bicarakan hari ini kepada orang lain, tentunya Siangkong
dapat menjaga rahasia secara baik-baik bukan?"

"Mengapa?"'

"Ada satu hal mesti kau tahu, dalam gedung Bu-lim Bengcu
terdapat mata-mata yang mendekam di situ, bahkan orang-
orang Put-gwa-cin-kau menganggap Pinni sudah meninggal
dunia sejak belasan tahun berselang. Apabila rahasia ini
sampai terbongkar, sudah pasti pihak Put-gwa-cin-kau akan
turun tangan membekuk semua jago, hal ini dapat
mempengaruhi berpuluh-puluh jiwa jago berilmu tinggi."

Bong Thian-gak termenung beberapa saat lamanya, setelah


itu katanya, "Hingga sekarang di dalam gedung Bu-lim
Bengcu masih terdapat seorang mata-mata yang
Pendekar Cacat 448

mendekam di situ, konon adalah Cap-go-kaucu. Apakah


Suthay mengetahui asal-usul Cap-go-kaucu ini?"

"Sudah belasan tahun Pinni tak pernah mencampuri urusan


perkumpulan, rahasia semacam itu hanya diketahui
majikanku saja."

"Persoalan ini tak mungkin bisa ditunda-tunda lagi, aku


ingin mohon diri sekarang juga."

"Apakah Siangkong tidak bersantap dulu? Bersantaplah


sebelum pergi!"

"Terima kasih banyak, sampai bertemu lagi di lain


kesempatan." Selesai berkata, dengan cepat pemuda ini
berangkat meninggalkan kuil Nikoh itu.

Setelah keluar dari kuil, Bong Thian-gak menentukan arah


tujuannya, kemudian dengan mengerahkan ilmu
meringankan tubuhnya buru-buru berangkat kembali ke
gedung Bu-lim Bengcu.

Sementara Ho Put-ciang sekalian sudah menunggu di


halaman tengah, mereka sedang menanti dengan perasaan
sangat gelisah.

Orang-orang itu menjadi amat gembira setelah


menyaksikan Bong Thian-gak muncul kembali dalam
keadaan selamat.
Pendekar Cacat 449

Pendekar sastrawan dari Im-ciu Thia Leng-juan segera


bertanya, "Ko-heng, apakah menemukan sesuatu
perkembangan baru?"

Bong Thian-gak tersenyum.

"Ya, tidak sia-sia perjalananku kali ini."

"Apa yang berhasil Ko-siauhiap temukan? Apakah kau


dapat memberitahukan?"

Dengan cepat Bong Thian-gak menggeleng.

"Aku telah berjanji kepada orang lain untuk tidak


membocorkan rahasia itu, harap saudara sekalian sudi
memaafkan, cuma kalian pun lak akan menanti terlalu
lama."

"Sembilan hari lagi segala sesuatunya akan menjadi


terang."

"Sebagai anggota persilatan, janji memang harus ditepati,


kalau begitu Ko-siauhiap tak usah mempersoalkan itu."

"Sembilan hari lagi, dunia persilatan akan mengalami suatu


perubahan yang amat pesat, sekarang aku harus
melaksanakan tugas pertama yang dibebankan Ku-lo
Pendekar Cacat 450

Sinceng sebelum ajal, yaitu melindungi keselamatan Jit-


kaucu."

"Apakah kau telah berhasil menemukannya?"

"Ya, aku telah berhasil menemukan jejaknya!"

"Jadi orang-orang Put-gwa-cin-kau belum meninggalkan


kota Kay-hong?" tiba-tiba Thia Leng-juan berkata.

"Oya, hampir saja aku lupa memberi keterangan kepada


kalian, dalam sembilan hari ini, pihak Put-gwa-cin-kau akan
mendatangkan semua jago intinya ke kota Kay-hong,
mungkin pertempuran akan segera berlangsung, kita harus
bersiap menghadapi setiap perubahan."

"Ji-kaucu Put-gwa-cin-kau pandai dalam ilmu beracun dan


membunuh orang tanpa wujud, kita harus berhati-hati
terhadap orang Ini. jangan sampai dia berhasil
menyelundup ke dalam gedung Bu-lim Bengcu dan
meracuni kita semua. Ciri muka Ji-kaucu adalah…Secara
ringkas Bong Thian-gak melukiskan raut wajah maupun ciri
khas Ji-kaucu Put-gwa-cin-kau ini kepada para jago.

Setelah para jago dalam gedung Bu-lim Bengcu mendapat


berita itu dari mulut Bong Thian-gak, mereka mulai
Pendekar Cacat 451

melakukan persiapan menghadapi setiap perubahan yang


bakal terjadi.

Sementara itu Bong Thian-gak sendiri sudah meninggalkan


gedung Bu-lim Bengcu berangkat ke tempat tujuan.

Sebelah utara kota Kay-hong merupakan sebuah padang


rumput, luasnya mencapai puluhan li, dengan
mengerahkan ilmu meringankan tubuh Bong Thian-gak
melesat ke depan dengan kecepatan luar biasa.

Kurang lebih setengah jam kemudian dia sudah menempuh


perjalanan dua puluh li.

Diam-diam Bong Thian-gak berpikir, "Menurut keterangan


Keng-tim Suthay, perkampungan itu terletak tiga puluh li di
sebelah utara kota ini, berarti aku sudah makin mendekati
sasaran."

Berpikir demikian, dia lantas mempertinggi kewaspadaan


dan melanjutkan perjalanan ke depan.
Pendekar Cacat 452

Padang rumput yang liar kini telah menjadi sawah yang


berpetak-petak, luasnya mencapai puluhan li.

Bong Thian-gak harus berjalan menelusuri jalan yang diapit


olei hektaran sawah yang tiada batasnya, akhirnya dia
menangkap titik-titik cahaya lampu di kejauhan sana.

Rupanya dia telah mendekati sebuah perkampungan deng


bangunan yang berlapis-lapis.

Sekeliling perkampungan itu dipagari dinding kayu besar ya


amat tinggi, sepintas keadaan mirip sebuah benteng yang
kokoh.

Bong Thian-gak segera memperlambat gerak tubuhnya,


beberaj kali lompatan saja dia sudah mencapai bawah
dinding sebelah barat.

Setelah mendongakkan kepala dan memperhatikan sekejap


keadaan sekeliling tempat itu, tanpa menimbulkan sedikit
suara pun menyelinap ke balik pagar yang tingginya
mencapai satu depa lebih.

Mendadak segulung bayangan hitam dengan membawa


bau busuk menerkam datang dengan kecepatan luar biasa,
Bong Thian-gak sangat terkejut, dengan cepat dia memutar
tubuh seperti gangsingan dan menyelinap, menanti dia
Pendekar Cacat 453

membalikkan badan, pemuda itu terperanjat.

Rupanya di hadapannya mendekam seekor serigala yang


besarnya seperti anak kerbau, bulunya yang putih dengan
sepasang mata berwarna hijau sedang melotot gusarnya ke
arahnya, dilihat dari gayanya, dia sedang bersiap
melancarkan tubrukan kedua.

Selama hidup belum pernah Bong Thian-gak menyaksikan


serigala sebesar itu, hatinya kontan bergidik, cepat dia
memutar otak mencari suatu akal, pikirnya, "Kalau aku
melarikan diri, pasti serigala itu akan menggonggong,
sebaliknya kalau tidak pergi, bisa jadi serigala-serigala lain
akan berdatangan dan semakin memusingkan kepala."

Baru saja ingatan itu melintas, serigala itu sudah menerjang


datang lagi bagai segulung angin puyuh yang menderu-
deru.

Bong Thian-gak menghindar, dia hanya sedikit menggeser


bahu kirinya, lalu tangan kiri disodokkan ke atas, secara
telak mencengkeram serigala itu, menyusul telapak tangan
kanan diayunkan ke bawah melancarkan sebuah bacokan
maut.
Pendekar Cacat 454

Ilmu silat Bong Thian-gak telah mencapai puncak


kesempurnaan, cengkeraman ini dilakukan setajam
bacokan pedang atau golok.

Seketika itu juga tulang leher serigala itu terbabat putus,


apalagi ditambah bacokan telapak tangan kanannya, tak
sempat bersuara lagi mampuslah serigala besar itu.

Selesai membinasakan serigala itu, Bong Thian-gak segera


membuang bangkai serigala itu ke tengah sawah, kemudian
melompat melewati tembok pekarangan, tanpa berhenti
dia meluncur naik ke atas atap rumah.

Malam itu tak berbulan, hanya bintang bertaburan di


angkasa membiaskan cahaya redup, namun bagi Bong
Thian-gak yang bertenaga dalam sempurna, ia dapat
menyaksikan pemandangan yang berada -tengah li di
sekeliling tempat itu.

Sambil mendekam di atas atap rumah Bong Thian-gak


mencoba mengamati keadaan sekeliling sana.

Rupanya tempat itu merupakan sebuah perkampungan


yang terdiri dari dua ratus orang kepala keluarga,
kebanyakan merupakan rumah petani yang sederhana,
Pendekar Cacat 455

hanya di sudut utara sana berdiri kokoh sebuah gedung


yang sangat besar.

Satu-satunya keistimewaan dusun ini adalah setiap


rumahnya teratur rapi dan bersih dengan jalan raya yang
lebar, di tepi jalan tertanam pepohonan yang rindang,
betul-betul sebuah perkampungan yang sangat nyaman.

Mendadak Bong Thian-gak menyaksikan dari jalan raya


dalam perkampungan bermunculan kawanan serigala
melakukan perondaan kian-kemari, tampaknya serigala-
serigala itu memang sengaja disebar di setiap sudut
perkampungan sebagai penjaga.

Terkesiap Bong Thian-gak menyaksikan kejadian itu, diam-


diam pikirnya, "Tak heran perkampungan petani ini tanpa
seorang pun, rupanya mereka menggunakan serigala untuk
melakukan perondaan malam."

Hampir saja Bong Thian-gak kehabisan daya setelah


menyaksikan begitu banyak anjing serigala yang berkeliaran
di sana, dia tak tahu dengan cara bagaimana dirinya harus
menyelundup ke perkampungan petani itu.
Pendekar Cacat 456

Waktu itu baru menjelang malam, namun perkampungan


petani yang amat luas itu tak nampak seorang pun yang
berlalu-lalang, dari dua ratus kepala keluarga yang berdiam
di situ, hanya beberapa rumah saja yang memancarkan
cahaya.

Kembali Bong Thian-gak berpikir, "Kepala perkampungan


tani ini mungkin berdiam dalam gedung yang megah itu,
bila Jit-kaucu Thay-kun berada dalam perkampungan ini
sudah pasti dia berada di dalam situ."

Berpikir demikian, dengan berhati-hati Bong Thian-gak


melompat ke atas atap rumah dan bergerak menuju ke
arah gedung megah di sebelah timur laut dengan gerakan
hati-hati sekali.

Dia tahu betapa tajam daya penciuman serta pendengaran


serigala-serigala itu, tubuhnya bergerak seperti burung
walet dan secepat sambaran kilat meluncur ke muka tanpa
menimbulkan sedikit suara pun.

Akhirnya dia berhasil melewati pengawasan kawanan


serigala itu dan melayang turun di atas sebatang pohon
Pek-yang yang berada di balik bangunan gedung megah itu.
Pendekar Cacat 457

Setibanya di atas pohon Pek-yang yang rimbun itu, sekali


lagi Bong Thian-gak mengamati keadaan sekeliling tempat
itu

Di sekitar halaman bangunan itu tidak nampak seekor


serigala pun, juga tak nampak orang melakukan perondaan,
semua itu membuat Bong Thian-gak lega.

Dia hanya takut terhadap serigala, namun tidak takut


kepada para peronda.

Dengan sepasang matanya yang tajam bagaikan burung


hantu Bong Thian-gak memusatkan segenap perhatian
memeriksa keadaan di situ, siapa tahu dia menemukan
sesuatu.

Mendadak dari kejauhan sana terdengar suara langkah kaki


manusia yang berkumandang makin mendekat.

Dengan cepat Bong Thian-gak mendongakkan kepala.

Dari balik sebuah pintu gerbang, tampak dua orang


berjubah hijau muncul dan berjalan ke arah pohon Pek-
yang dimana Bong Thian-gak bersembunyi.

Dengan terkesiap anak muda itu berpikir, "Ah, jangan-


jangan dia sudah mengetahui jejakku?"
Pendekar Cacat 458

Berpikir demikian, tanpa terasa dia meningkatkan


kewaspadaan untuk menjaga segala kemungkinan yang tak
diinginkan.

Tampak kedua orang berjubah hijau itu berjalan menuju ke


bawah pohon Pek-yang dan tiba-tiba berhenti.

Orang yang agak pendek sebelah kiri berdehem pelan, lalu


dengan suara rendah, berat dan parau ia berkata, "Hay-
heng, bukankah Ji-kaucu akan datang pada malam nanti?"

Mendengar nama Ji-kaucu, Bong Thian-gak berkesiap,


segera pikirnya, "Ah, gembong iblis itu akan datang, betul-
betul suatu kejadian yang sama sekali di luar dugaan,
mungkin keadaan rada kurang beres."

Berpikir sampai di situ, orang she Hay itu menjawab agak


dingin, "Ang-heng, Ji-kaucu memang seharusnya sampai di
sini sejak kemarin malam."

"Hay-heng, tahukah kau bahwa kehadiran Ji-kaucu di


kantor rahang kota Kay-hong ini menunjukkan duduk
persoalan agak sedikit luai biasa?" kembali orang berjubah
hijau she Ang itu bertanya.
Pendekar Cacat 459

"Ya, betul! Duduknya persoalan memang terasa agak luar


biasa, kalau tidak, Ji-kaucu tak akan mengutus kita berdua
untuk datang kemari tiga hari lebih awal!"

Orang she Ang itu tertawa kering, "Kita berdua adalah


utusan pembuka jalan Ji-kaucu, setiap kali Ji-kaucu hendak
berkunjung ke suatu tempat, kita berdualah yang selalu
diutus melakukan penyelidikan terlebih dahulu keadaan di
sekitar daerah kunjungannya, kebanggaan seperti ini
sesungguhnya kita patut gembirakan."

Dari pembicaraan itu Bong Thian-gak segera tahu bahwa


kedua orang ini adalah orang kepercayaan Ji-kaucu,
menyaksikan cara mereka berjalan maupun bertingkah-
laku, bisa diduga ilmu silat yang mereka miliki bukan
kepandaian silat kelas dua.

Kenyataan itu membuat Bong Thian-gak semakin tak berani


bertindak gegabah, bahkan untuk bernapas pun dia telah
menggunakan ilmu Kui-si-hoat (ilmu bernapas kura-kura).

Tiba-tiba terdengar orang she Hay berkata kembali, "Sekali


pun tugas yang dibebankan kepada kita merupakan suatu
kebanggaan tersendiri, namun tanggung-jawabnya besar
sekali, bahkan sedikit kesalahan pun tak boleh terjadi.
Ketika kemari, sebenarnya aku merasa sedikit kurang
tenang."
Pendekar Cacat 460

"Mengapa?"

"Mengapa? Tidakkah kau lihat, berapa banyak sudah


pentolan dari tingkat lencana panah emas yang
berdatangan ke gedung ini?"

"Kan baru Jit-kaucu, Liok-kaucu, Kiu-kaucu serta komandan


pasukan pengawal tanpa tanding nomor dua!"

"Dari empat orang pentolan tingkat lencana panah emas


yang telah hadir itu, tiga di antaranya adalah murid Cong-
kaucu yang paling disayang, terutama sekali kedudukan Jit-
kaucu, mereka sama-sama mempunyai kekuasaan besar."

"Hay-heng, keanehan apa yang terdapat di balik semua


itu?" tanya orang she Ang itu keheranan.

Orang she Hay tertawa dingin, "Ehm, masa kau tak pernah
mendengar pepatah mengatakan, 'Di atas sebuah bukit tak
boleh dihuni sepasang harimau'? Baik Jit-kaucu maupun Ji-
kaucu boleh dibilang sama-sama punya kekuasaan besar
dalam Put-gwa-cin-kau, menurut pendapatmu, apa
sebabnya Cong-kaucu mengirim mereka berdua ke satu
tempat yang sama? Itulah sebabnya bisa kuduga di sini
telah terjadi suatu peristiwa maha besar."
Pendekar Cacat 461

Orang she Ang termenung beberapa saat, lalu berkata,


"Hay-heng, menurutmu, kekuasaan Jit-kaucu dan Ji-kaucu
sama besarnya, tapi menurut pendapatku, kedudukan Ji-
kaucu jauh lebih tinggi."

"Ah, kau ini tahu apa?" kata orang she Ang dingin.

Setelah berhenti sejenak, ia berkata lebih jauh, "Ang-heng


baru tiga tahun bergabung dengan perkumpulan kita, tentu
saja kau tidak mengetahui rahasia besar Cong-kaucu kita
itu."

"Rahasia besar apa?"

Tiba-tiba orang she Hay itu merendahkan suaranya dan


berkata, "Ang-heng, aku bersedia memberitahu soal ini
kepadamu, tapi jangan beri tahukan lagi kepada orang
lain."

"Tak usah kuatir Hay-heng, aku merasa amat cocok


denganmu, bahkan kau sudah kuanggap sebagai saudara
sendiri, masa aku bakal mengkhianati dirimu?"

"Kalau begitu kuberitahukan kepadamu, meski Jit-kaucu


adalah anak angkat serta murid Cong-kaucu, padahal yang
benar Jit-kaucu merupakan Suhu Cong-kaucu."
Pendekar Cacat 462

Orang she Ang seperti terkejut sekali, segera tanyanya


dengan perasaan tidak habis mengerti, "Hay-heng, kau
bilang Jit-kaucu adalah guru Cong-kaucu? Atas dasar apa
kau berkata demikian?"

"Sebab ilmu silat Cong-kaucu adalah atas ajaran Jit-kaucu,"


bisik orang she Hay. "Beberapa tahun berselang, aku
pernah ditugaskan memikul tanggung-jawab sebagai
komandan pasukan pengawal dari istana bagian dalam,
itulah sebabnya aku mengetahui persoalan ini."

Ketika mendengar perkataan itu, dengan suara heran orang


she Ang berseru, "Jadi kalau begitu ilmu silat Jit-kaucu
masih jauh di atas kepandaian Cong-kaucu?"

Dengan cepat orang she Hay menggeleng kepala berulang-


kali.

"Soal itu aku kurang tahu," sahutnya. Kemudian setelah


berhenti sejenak, dia melanjutkan, "Ang-heng, oleh sebab
itu hubungan Jit-kaucu dengan Cong-kaucu sesungguhnya
sangat kacau, kendatipun dibilang kedudukan serta
kekuasaan Jit-kaucu masih di bawah Ji-kaucu, namun
karena Jit-kaucu mempunyai hubungan yang amat
istimewa dengan Cong-kaucu maka atas dasar apa kau
mengatakan kedudukan siapa lebih tinggi dari siapa?"
Pendekar Cacat 463

Mendadak orang she Ang merendahkan suaranya, sambil


berbisik, "Hay-heng, menurut pendapatmu, kejadian
apakah yang mungkin akan terjadi di sini?"

Dengan cepat orang she Hay menggeleng kepala berulang-


kali.

"Aku kurang jelas dan tak berani memastikan. Pokoknya


kita berdua harus melaksanakan tugas seperti apa yang
diperintahkan Ji-kaucu, setia dan taat pada pekerjaan serta
perintah."

Bicara sampai di situ, dia mendongakkan kepala dan


memandang sekejap keadaan cuaca, kemudian
melanjutkan, "Ang-heng, malam ini kau bertugas sampai
tengah malam nanti, sedang tengah malam nanti sampai
pagi adalah giliranku!"

'Ah, tanpa terasa setengah jam sudah kita lewatkan untuk


berbincang-bincang. Hay-heng, silakan pergi beristirahat!"

"Silakan Ang-heng!" seru orang she Hay.

Sembari berkata, orang she Hay membalikkan badan dan


masuk kembali ke dalam gedung.

Kini di bawah pohon Pek-yang tinggal lelaki berjubah hijau


she Ang itu seorang.

Mendadak satu ingatan melintas dalam benak Bong Thian-


gak, segera pikirnya, "Mengapa aku tidak memanfaatkan
Pendekar Cacat 464

kesempatan ini untuk melenyapkan kedua orang ini lebih


dulu."

Tapi ingatan lain segera melintas dalam benaknya, "Bila


mereka dilenyapkan dan Ji-kaucu tiba kemari, bagaimana
jadinya?"

Baru saja dia berpikir sampai di situ, mendadak orang she


Ang itu sudah lenyap tak ketahuan kemana perginya.

Bong Thian-gak berkerut kening, pikirnya, "Ilmu silat orang


ini sangat lihai, tak nyana gerak-geriknya sama sekali tak
menimbulkan suara."

Untuk beberapa saat Bong Thian-gak duduk termangu di


bawah pohon Pek-yang, selang tak lama dia baru
mengeluarkan sebuah botol obat dan mengambil sebutir di
antaranya, lalu dengan kukunya merobek kulit obat tadi,
diletakkan di atas telapak tangan dan digosok-gosok
sebentar, kemudian dioleskan ke wajah sendiri.

Paras muka Bong Thian-gak yang semula pucat-pias itu


mendadak berubah merah padam, usianya yang berumur
sekitar dua puluh lima-enam tahun pun sekarang nampak
sepuluh tahun lebih tua.

Ternyata isi botol obat itu adalah Pek-pian-gi-yong-wan (Pil


perubah selaksa wajah) peninggalan Jian-bin-hu-li Ban Li-
biau di masa lampau.
Pendekar Cacat 465

Pil obat semacam ini merupakan obat sangat mujarab,


ketika Ban Li-biau dikejar umat persilatan di masa lampau,
dengan mengandalkan pil penyaru muka inilah dia berhasil
meloloskan diri dari pengejaran sehingga orang persilatan
tak pernah menemukan dirinya.

Selesai mengubah wajah, sementara itu Bong Thian-gak


sudah melompat turun dari atas pohon Pek-yang.

Dia lantas berpikir, "Sekarang aku telah mengubah wajah,


meski berjumpa orang yang kukenal, belum tentu mereka
bisa mengenali diriku dengan gampang."

Karena berpendapat demikian, nyali Bong Thian-gak


semakin besar, pertama-tama dia mengelilingi gedung itu
satu lingkaran lebih dulu, kemudian melakukan penelitian
terhadap setiap sudut halaman gedung itu.

Mendadak dari balik pintu halaman sebelah kiri Bong


Thian-gak mendengar suara nyaring, dengan cekatan
pemuda itu menyelinap di balik pepohonan dan
menyembunyikan diri.

Tampak sesosok bayangan menerobos keluar dari balik


jendela.

Di bawah cahaya bintang yang redup, dia dapat melihat


orang itu seorang dayang berbaju biru.
Pendekar Cacat 466

Usia dayang itu antara tujuh-delapan belas tahun, dengan


amat seksama dia memeriksa keadaan sekeliling tempat
itu, kemudian berjalan menuju ke sebuah kebun bunga
kecil di sebelah utara.

Bong Thian-gak merasa betapa mencurigakan gerak-gerik


dayang itu, didorong perasaan ingin tahu, secara diam-
diam dia menguntitnya.

Dengan ilmu meringankan tubuh yang begitu sempurna,


tentu »rt)a gerak-geriknya tidak diketahui pihak lawan.

Setelah masuk ke dalam kebun bunga, mendadak dayang


berbaju bini itu duduk di atas gunung-gunungan sambil
bertopang dagu, sementara sorot matanya dialihkan ke
atas entah sedang memikirkan apa? Atau mungkin juga ia
sedang menantikan seseorang?

Dengan sabar dan tenang Bong Thian-gak menunggu


beberapa saat, ketika tidak menjumpai sesuatu yang
mencurigakan, sebenarnya dia hendak berlalu dari sana.

Siapa tahu pada saat inilah dari balik kebun bunga muncul
sesosok bayangan orang yang bergerak seperti sukma
gentayangan.

Orang itu berjubah panjang berwarna hijau, berperawakan


gemuk tapi kekar.
Pendekar Cacat 467

"Ah! Bukankah dia orang she Ang."

Ya, orang itu memang salah satu di antara dua petugas


yang diutus Ji-kaucu dan tadi sedang berbincang-bincang di
bawah pohon Pek-yang itu.

Orang she Ang itu langsung berjalan menuju ke arah


dayang berbaju biru, ia berkata, "Cong-kaucu telah
mengambil keputusan tak datang ke kota Kay-hong, yang
datang adalah Ji-kaucu."

"Kapan Ji-kaucu sampai di sini?"

"Seharusnya kemarin malam, tapi sampai sekarang belum


nampak muncul di sini, mungkin malam nanti atau mungkin
juga besok."

Tanya-jawab dilakukan kedua orang ini secara singkat, tapi


jelas sebelumnya tidak saling menyapa, tampaknya kedua
belah pihak sama-sama didesak oleh waktu.

Selesai mendengar tanya jawab itu, tergerak hati Bong


Thian-gak, ia lantas berpikir, "Oh, rupanya orang she Ang ini
seorang mata-mata! Tapi mata-mata siapa? Mungkinkah
mata-mata yang dikirim oleh Jit-kaucu Thay-kun?"
Pendekar Cacat 468

Berpikir sampai di situ, Bong Thian-gak jadi teringat


perkataan yang pernah disampaikan Keng-tim Suthay
kepadanya, "Di sekeliling Jit-kaucu terdapat banyak jago
lihai yang melindungi keselamatannya."

Belum habis dia berpikir, dayang berbaju biru berkata,


"Majikan bertanya, apakah keadaanmu aman?"

"Aman sekali," jawab orang she Ang, "Tolong sampaikan


kepada majikan, katakan aku sudah dipergunakan oleh Ji-
kaucu."

"Majikan berpesan, bila menjumpai sesuatu yang aneh,


segera meloloskan diri, jangan melakukan pengorbanan sia-
sia."

"Ehm, aku tahu, hubungan kita malam ini sampai di sini


dulu." Dayang berbaju biru tak bicara lagi, mendadak ia
bangkit dan siap berlalu dari situ.

Siapa tahu pada saat itu juga mendadak dari balik kebun
bunga melompat keluar sesosok bayangan orang.

"Ah!" dengan terkejut dayang berbaju biru berteriak.

Dengan cekatan orang she Ang pun membalikkan badan,


tapi segera pula ia tertegun pula.
Pendekar Cacat 469

Bong Thian-gak melihat pula kehadiran orang itu.

Orang yang muncul dari balik kebun bunga itu berwajah


dingin menyeramkan, dia adalah orang berjubah hijau she
Hay itu. Dengan terkejut bercampur heran Bong Thian-gak
membatin.

Dia menyadari apa gerangan yang sebenarnya terjadi.

Sementara itu orang she Ang sudah tahu rahasianya


terbongkar, dia tahu apa yang harus dilakukannya
sekarang.

"Hahaha, belum tidur saudara," dengan senyum yang amat


tenang orang she Ang itu menegur pelan.

Orang she Hay tertawa dingin. "Ang Teng-siu, aku sudah


cukup lama menantikan kedatanganmu di sini."

Sembari berkata, selangkah demi selangkah orang she Hay


itu menuju ke kebun dekat gunung-gunungan dan langsung
menghampiri dayang berbaju biru serta orang she Ang itu.

"Hay Tiong-kim, kau terlalu menyiksa diri!" seru Ang Teng-


siu sambil tertawa.
Pendekar Cacat 470

Hay Tiong-kim menarik wajah dan berkata dingin,


"Siapakah dayang ini? Asal kau mau mengaku terus-terang,
aku orang she Hay masih akan mengingat hubungan kita di
masa lampau dengan memohonkan hukuman yang lebih
ringan dari Ji-kaucu, kalau tidak, hm, malam ini kau Ang
Teng-siu sudah ditakdirkan untuk mampus!"

"Siapa yang bakal mampus, saat ini masih sukar untuk


diduga, lebih baik jangan bicara sembarangan," kata Ang
Teng-siu tertawa.

Sambil berkata, seperti sambaran angin puyuh Ang Teng-siu


menerjang ke arah Hay Tiong-kim.

Dengan cekatan Hay Tiong-kim bersiap melancarkan


serangan balasan.

Siapa tahu, pada saat itulah dari belakang tubuhnya


berhembus datang segulung angin pukulan yang sangat
kuat, Hay Tiong-kim segera merasakan isi perutnya hancur
berantakan, tak sempat mendengus lagi tubuhnya
mencelat ke depan dan roboh terjengkang ke atas tanah.

Kebetulan sekali Ang Teng-siu juga sedang melancarkan


serangan ke depan. "Duk!", bagaikan layang-layang putus
benang, tubuh Hay Tiong-kim mencelat.

"Blam", debu dan pasir beterbangan memenuhi angkasa,


setelah Hay Tiong-kim tak pernah merangkak bangun lagi.
Pendekar Cacat 471

Kepandaian silat Ang Teng-siu memang lihai, begitu


serangannya bersarang di tubuh Hay Tiong-kim, dia segera
merasakan tubuh musuh bagaikan sesosok mayat saja,
segulung tenaga perlawanan pun tidak ada.

Maka dengan cekatan dia menyelinap ke depan, kemudian


membangunkan mayat Hay Tiong-kim itu.

Tampak darah kental mengucur dari tujuh lubang indra Hay


Tiong-kim, jantungnya waktu itu sudah berhenti berdenyut.

Sementara itu dayang berbaju biru telah menerjang datang


pula, melihat Hay Tiong-kim sudah tewas, ia berkata sambil
menghela napas panjang, "Kepandaian silat Ang-tayhiap
benar-benar luar biasa, malam ini sepasang mataku benar-
benar terbuka."

Dengan wajah serius Ang Teng-siu bangkit, kemudian


dengan sorot mata tajam bagaikan kilat dia mengawasi
keadaan sekeliling tempat itu. Lama, lama kemudian, dia
baru menghela napas panjang.

"Ai, Hay Tiong-kim bukan mati di tanganku," dia berkata.


"Di dunia dewasa ini mungkin hanya majikan seorang yang
Pendekar Cacat 472

memiliki tenaga pukulan sehebat itu dan mampu


membinasakan musuh dalam sekali pukulan saja."

"Apa? Hay Tiong-kim bukan mati di tanganmu?" seru


dayang berbaju biru itu terkejut.

Ang Teng-siu menggeleng kepala berulang kali.

"Dengan kepandaian silat Hay Tiong-kim, tak mungkin aku


orang she Ang sanggup membunuhnya dalam sekali ayunan
tangan saja."

Paras dayang berbaju biru itu segera berubah hebat.

"Tapi majikan...."

"Kenapa dengan majikan?"

"Satu jam berselang majikan telah pergi bersama Kiu-


kaucu!"

Sementara itu Bong Thian-gak yang bersembunyi pelan-


pelan telah melangkah keluar dari tempat
persembunyiannya dan maju menghampiri mereka.
Pendekar Cacat 473

Pandangan Ang Teng-siu dan dayang berbaju biru itu


serentak dialihkan ke wajah Bong Thian-gak dan
menatapnya lekat-lekat.

Mendadak Bong Thian-gak berhenti, berhenti di


hadapannya.

"Siapakah kau?" Ang Teng-siu menegur dengan suara


rendah.

Bong Thian-gak mengangkat tangan kirinya, sekilas cahaya


emas memancar keempat penjuru, tahu-tahu tangannya
telah bertambah dengan sebilah anak panah kecil tanpa
bulu.

Paras muka Ang Teng-siu berubah hebat, segera serunya


dengan terkejut, "Ai, lencana Put-gwa-kim-ciam-leng!"

Dengan cepat Bong Thian-gak menyimpan kembali lencana


panah emas itu ke dalam sakunya, kemudian berkata pelan,
"Segala sesuatunya telah kusaksikan dengan jelas."

"Apakah kau komandan pasukan ketiga pengawal tanpa


tanding?"

Pertanyaan itu diajukan Ang Teng-siu dengan suara agak


gemetar, sudah jelas dia dicekam perasaan takut.
Pendekar Cacat 474

"Ang Teng-siu!" ujar Bong Thian-gak kemudian. "Kalian tak


usah takut, apa yang telah kusaksikan malam ini, tak akan
kuberitahukan kepada orang kedua, tapi kalian pun jangan
memberitahukan pihak ketiga kalau telah berjumpa
denganku."

Selesai berkata, dia membalikkan badan dan siap berlalu


dari situ.

Mendadak seru Ang Teng-siu, "Saudara, harap tunggu


sebentar!"

"Masih ada urusan apa?" tanya Bong Thian-gak seraya


berpaling.

"Tolong tanya, apakah Hay Tiong-kim tewas oleh


pukulanmu?"

"Benar, oleh karena aku muak menyaksikan tingkah-


lakunya, maka aku telah membunuhnya."

Ternyata Bong Thian-gak kuatir pertarungan antara Ang


Teng-siu dan Hay Tiong-kim bisa mengejutkan orang lain,
maka dia mengerahkan Ilmu Tat-mo-khi-kang yang maha
dahsyat, serangan itu kontan saja membuat isi perut Hay
Tiong-kim hancur.
Pendekar Cacat 475

Ang Teng-siu segera menghembuskan napas lega, sesudah


mengetahui Hay Tiong-kim tewas di tangan Bong Thian-gak,
dia seperti lepas dari tindihan batu cadas seberat seribu
kati.

Dengan hormat dia menjura dalam-dalam kepada Bong


Thian-gak, lalu ujarnya, "Terima kasih banyak atas bantuan
yang telah kau berikan kepadaku."

Bong Thian-gak tertawa dingin.

"Bila Ji-kaucu datang nanti, bagaimana caramu


menghadapinya?"

"Itu soal gampang, asal kubuatkan suatu cerita yang seram


lalu melenyapkan jenazah Hay Tiong-kim, urusan akan
menjadi beres dengan sendirinya."

"Kalau memang begitu, kalian boleh segera bekerja!"

Selesai berkata, dia membalikkan badan dan beranjak pergi


dari situ, namun baru berjalan beberapa langkah, dia sudah
membalikkan badan seraya berkata, "Cengcu berdiam
dimana?"

"Di halaman lapis keempat, ada urusan apa kau


mencarinya?"
Pendekar Cacat 476

"Baru saja aku kemari, sekarang aku membutuhkan suatu


tempat untuk beristirahat."

Tergerak hati Ang Teng-siu mendengar perkataan itu, cepat


dia berkata, "Kini Hay Tiong-kim sudah mati, bila kau tidak
menaruh curiga, silakan menginap semalam di loteng itu."

"Di loteng itu, selain kau dan Hay Tiong-kim, masih ada
siapa?"

"Hanya kami berdua!"

Bong Thian-gak manggut-manggut.

"Bagus sekali, kalau begitu aku jalan duluan!"

Dengan sepasang mata terbelalak lebar, Ang Teng-siu dan


dayang berbaju biru itu menyaksikan bayangan punggung
Bong Thian-gak lenyap di ujung kebun sana.

Setelah bayangan pemuda itu hilang dari pandangan,


dayang berbaju biru itu baru berkata lirih, "Ang-tayhiap,
gerak-gerik orang ini amat mencurigakan, sebenarnya siapa
orang ini?"

Ang Teng-siu menggeleng kepala berulang-kali.

"Seandainya orang ini benar-benar merupakan salah satu


pentolan Put-gwa-cin-kau, sudah pasti dia Go-kaucu atau
Pendekar Cacat 477

Su-kaucu, atau bisa jadi komandan pasukan ketiga


pengawal tanpa tanding."

"Kalau dilihat dari tenaga serangannya yang dipakai untuk


membunuh Hay Tiong-kim, sudah jelas dia menggunakan
ilmu pukulan bertenaga dalam dahsyat. Orang ini berwajah
biasa tapi kelihaian ilmu silatnya tak bisa ditandingi oleh
kau maupun aku."

"Jika majikan sudah pulang nanti, cepat laporkan bentuk


wajah orang itu untuk mendapat kepastian. Soal jenazah
Hay Tiong-kim, biar aku saja yang mengurus."

Ang Teng-siu dan dayang berbaju biru itu pun berpisah


untuk melakukan pekerjaannya masing-masing.

Dalam pada itu Bong Thian-gak telah menuju ke loteng


seorang diri, lentera dalam ruangan belum padam, dalam
ruangan yang besar nampak meja kursi lengkap, segala
sesuatunya diatur sangat rajin dan bagus, kamar tidur
berada di atas loteng dan terbagi dalam empat bilik
tersendiri.

Bong Thian-gak memeriksa setiap bagian rumah itu secara


seksama, dua di antaranya nampak bekas dipakai.
Sementara dua ranjang lain masih tetap rapi dan rajin,
selimut maupun seprei masih licin dan rapi.

Bong Thian-gak memilih kamar yang tak berlampu untuk


tinggal di situ, mula-mula dia membuka daun jendela,
Pendekar Cacat 478

kemudian menutup pintu dan duduk bersila sambil


mengatur pernapasan.

Kurang lebih setengah jam kemudian dari atas loteng


terdengar suara langkah kaki dan kemudian terdengar
suara Ang Teng-siu bertanya, "Tuan, kau berdiam di kamar
yang mana?"

"Ruang ketiga."

"Aku ingin berbicara denganmu," kembali Ang Teng-siu


berkata dari luar ruangan.

"Pintu kamar hanya dirapatkan, masuklah!"

Ang Teng-siu yang berada di luar pintu nampak agak sangsi,


sesaat kemudian pelan-pelan dia membuka pintu kamar
dan masuk ke dalam dengan sepasang telapak tangannya
disilangkan di depan dada.

"Apakah jenazah Hay Tiong-kim sudah kau bereskan?"

"Seujung rambut pun tak tertinggal."

"Persoalan apakah yang hendak kau sampaikan kepadaku?"

"Hamba ingin mengetahui nama dan kedudukanmu di


dalam perkumpulan kita?"

Tanyakan saja kepada Jit-kaucu, dia pasti tahu."


Pendekar Cacat 479

"Ada satu hal yang tidak hamba ketahui, mengapa kau


membunuh Hay Tiong-kim? Andaikata peristiwa ini sampai
berhasil diselidiki Ji-kaucu ...."

Sambil tertawa dingin Bong Thian-gak menukas, "Lencana


panah emas mempunyai kekuasaan menentukan hidup
mati seseorang, atas dasar apa Ji-kaucu hendak mengurus
tindakan ini?"

"Walaupun perkataanmu benar, tapi kau telah mengikat


tali permusuhan pribadi dengan Ji-kaucu ...."

Belum habis perkataan itu diucapkan, mendadak Bong


Thian-gak bertanya, "Hei, coba dengar, suara apakah itu?"

Ang Teng-siu agak tertegun mendengar perkataan itu,


katanya, "Ah, suara apa? Aku tidak mendengar suara apa
pun."

Rupanya Bong Thian-gak telah menangkap serentetan


suara irama musik yang berkumandang datang secara
lamat-lamat dari kejauhan sana.

Suara musik itu ada tambur, gembrengan serta aneka


macam alat musik lainnya, irama yang dibawakan juga
irama yang aneh sekali, sedemikian anehnya hingga siapa
pun yang mendengar seakan-akan tertidur.

Dalam pada itu Ang Teng-siu telah mendengar suara musik


itu. Dengan paras muka berubah hebat ia menjerit kaget,
"Ah, Ji-kaucu telah datang!"
Pendekar Cacat 480

Mendengar nama "Ji-kaucu", hati Bong Thian-gak bergetar


keras, dia berkata, "Kau maksudkan Ji-kaucu telah datang?"

"Irama musik itu merupakan irama Im-siau-biau-hun-lok


(Buaian awan sukma melayang) dari Ji-kaucu."

Bicara sampai di situ mendadak Ang Teng-siu seperti


teringat akan sesuatu, dia segera berpikir, "Aneh, mengapa
ia tidak memahami irama Im-siau-biau-hun-lok dari Ji-
kaucu?"

Sementara itu walaupun Bong Thian-gak sudah menduga


secara lamat-lamat Ang Teng-siu adalah komplotan Jit-
kaucu Thay-kun, namun berhubung dia belum berjumpa
dengan Thay-kun, maka ia tak bisa menerangkan identitas
sendiri secara terang-terangan.

Dalam pada itu irama musik makin lama terdengar semakin


jelas, tentu mereka sudah semakin dekat dengan
perkampungan petani itu.

Tiba-tiba Ang Teng-siu bertanya lagi, "Sebenarnya siapa


kau? Sebentar lagi Ji-kaucu akan tiba di sini, kita harus
mencari akal untuk menghadapi keadaan ini."

"Siapakah aku, untuk sementara waktu tak usah kau urus,


pokoknya aku sealiran dan setujuan denganmu."

"Sebentar lagi Ji-kaucu sudah sampai di perkampungan


petani ini, apa yang hendak kau lakukan?"
Pendekar Cacat 481

"Aku telah mempersiapkan segalanya bagi diriku sendiri,


lebih baik kau mengerjakan saja pekerjaanmu."

"Kalau begitu aku harus pergi menyambut kedatangan Ji-


kaucu."

"Silakan pergi."

"Kau harus baik-baik menjaga diri."

Selesai berkata Ang Teng-siu membalik badan dan berjalan


keluar ruangan, lalu turun dari loteng.

Bong Thian-gak sendiri masih tetap duduk bersila di atas


pembaringan, sementara benaknya berputar, berusaha
menemukan cara terbaik untuk menghadapi keadaan itu.

Tugasnya sekarang adalah melindungi keselamatan jiwa Jit-


kaucu Thay-kun secara diam-diam, tapi sekarang Thay-kun
tidak berada dalam perkampungan, apa yang harus
dilakukan?

Pikir punya pikir, bagaikan sambaran angin berpusing Bong


Thian-gak melompat turun dari pembaringan dan
menerobos keluar melalui jendela dan melayang ke atas
atap rumah.

Bintang bertaburan di angkasa, udara malam itu amat


bersih, tapi suasana hening mencekam seluruh
perkampungan petani itu.
Pendekar Cacat 482

Waktu itu setiap rumah penduduk telah memasang lentera,


kelihatan bayangan orang bergerak kian kemari.

Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya,


beberapa kali Itimpatan saja Bong Thian-gak telah sampai
di depan pintu gerbang halaman muka dan membaurkan
diri di antara kerumunan orang banyak.

Sementara itu suara musik yang sangat aneh dan membuai


perasaan itu sudah semakin mendekati tempat itu.

Akhirnya dari ujung jalan perkampungan muncul


serombongan orang.

***
Pendekar Cacat 483

7
SEPASANG KEKASIH MESTI BERPISAH

D elapan orang pemusik berjubah panjang warna


hijau dengan diiringi sebuah tandu besar yang
megah dan mewah pelan-pelan berjalan
mendekat, tandu itu sangat besar dan digotong oleh
delapan orang berjubah panjang warna hijau pula.

Bong Thian-gak berbaur dengan orang banyak dan


menyaksikan gaya jumawa Ji-kaucu, diam-diam
menyumpah dalam hati, "Keparat cucu kura-kura, pandai
sekali dia mencari kenikmatan hidup."

Dalam waktu singkat tandu itu sudah berhenti di depan


pintu gerbang, irama musik pengiring berhenti pula,
seorang lelaki berjubah panjang warna hijau berseru
dengan suara lantang, "Ji-kaucu tiba ...."
Pendekar Cacat 484

Ucapan terakhir sengaja ditarik panjang, suara yang nyaring


berkumandang hingga sejauh sepuluh li lebih di tengah
keheningan malam.

Semua serentak membungkukkan badan memberi hormat


pada tandu besar itu sambil berseru, "Menyambut dengan
hormat kedatangan Ji-kaucu!"

Bong Thian-gak yang mencampurkan diri di antara


kerumunan orang ikut menundukkan kepala, pada
kesempatan itu ia mendongakkan kepala dan menyapu
sekejap ke arah orang-orang yang berada di sekitar sana.

Pada barisan depan dekat pintu gerbang berdiri seorang


aneh berambut awut-awutan, di kiri-kanannya masing-
masing berdiri dua orang berbaju perlente berkerudung.

Kecuali terhadap tiga orang yang dikenal Bong Thian-gak


sebagai Liok-kaucu serta dua orang pengawal tanpa
tanding, yang lain semuanya berwajah asing dan tak
seorang pun yang dikenalnya.

Dalam arena tak nampak Jit-kaucu Thay-kun, Kiu-kaucu Ni


Kiu-yu serta orang berkerudung berjubah hitam yang
dikenal sebagai komandan pasukan kedua pengawal tanpa
tanding.

Dari mulut dayang berbaju biru, Bong Thian-gak tahu Jit-


kaucu serta Kiu-kaucu telah meninggalkan perkampungan
petani itu dan hingga kini belum pulang, tapi kemana pula
perginya si oraii}», berkerudung hitam?
Pendekar Cacat 485

Sementara dia melamun, kain tirai tandu disingkap orang,


lalu pelan-pelan berjalan keluar seorang sastrawan berbaju
hijau.

Dia berwajah keren dengan jenggot sepanjang dada, sorot


matanya tajam bagaikan sembilu, perawakan tubuhnya
jangkung dan berwajah cerah, sekilas pandang siapa pun
tak akan menduga dia seorang kakek berusia lima puluh
sembilan tahun, karena wajahnya seperti jauh lebih muda
sepuluh tahun.

Di bawah petunjuk Keng-tim Suthay, Bong Thian-gak sudah


tahu ciri khas Ji-kaucu ini, betul juga pada ujung alis mata
sebelah kirinya terdapat sebuah tahi lalat hitam, sebilah
pedang antik tersoreng di pinggangnya.

Begitu dia turun dari tandu, Liok-kaucu maju menyambut


kedatangannya sambil berbisik-bisik membicarakan sesuatu
dengan suara amat lirih.

Kemudian Ji-kaucu mendongakkan kepala dan memandang


wajah semua orang sekejap, mendadak dia bertanya,
"Mana Jit-kaucu, Kiu-kaucu dan komandan Siau?"

Sementara itu Ang Teng-siu dan seorang lelaki setengah


umur berdandan petani telah maju menyambut ke depan.

Lelaki setengah umur berdandan petani itu berkata lebih


dulu, Lapor Ji-kaucu, komandan Siau masih berbaring di
ranjang untuk merawat luka-lukanya, oleh sebab itu dia
tidak dapat menyambut kedatangan Ji-kaucu. Sedangkan
Pendekar Cacat 486

Jit-kaucu dan Kiu-kaucu telah meninggalkan perkampungan


satu jam yang lalu untuk menyelesaikan suatu persoalan."

Ji-kaucu memandang sekejap petani itu, kemudian


bertanya, "Mungkin kaukah kepala kantor cabang kota Kay-
hong, Ki Su-teng?"

"Benar, hamba adalah Ki Su-teng!" jawab lelaki setengah


umur herdandan petani dengan hormat.

Ji-kaucu mengulap tangan menitahkan dia mundur,


kemudian rombongan pun meneruskan perjalanannya
masuk ke halaman tengah.

Bong Thian-gak kuatir jejaknya ketahuan lawan, dia tak


berani membuntuti masuk ke dalam, secara diam-diam dia
menyelinap ke lulaman belakang.

Sementara dia tak tahu apa yang harus dilakukan.

Mendadak dari balik kegelapan sana muncul sesosok


bayangan kecil mungil, sambil berjalan mendekat katanya
dengan suara merdu,

"Siangkong, payah amat, kucari dirimu kemana-mana."

Bong Thian-gak mendongakkan kepala, ternyata gadis yang


berjalan mendekat itu adalah si dayang berbaju biru yang
dijumpainya dalam kebun tadi.
Pendekar Cacat 487

Waktu itu tubuhnya basah oleh peluh, napasnya tersengal-


sengal dan wajahnya nampak tegang.

"Ada urusan apa?" Bong Thian-gak segera bertanya.

Mendadak dayang berbaju biru itu menarik tangan kiri


Bong Thian-gak sambil berujar, "Ayo cepat sedikit, tempat
ini bukan tempat untuk berbincang-bincang."

Ia mengajak Bong Thian-gak berlalu dari situ dengan


langkah amat cepat, dalam waktu singkat mereka sudah
melalui dua lapis halaman yang sangat lebar dan tiba di
sebuah bangunan mungil di sisi kebun bunga.

Dari dalam bangunan mungil itu nampak cahaya lentera


memancar keluar, dua sosok bayangan orang tertera jelas
di balik jendela.

"Siangkong tiba ...." kata dayang berbaju biru.

Sembari berkata dia mendorong pintu, lalu bersama Bong


Thian-gak masuk ke dalam ruangan.

Bong Thian-gak tahu satu di antara kedua sosok bayangan


itu adalah Jit-kaucu Thay-kun, maka dia masuk ke kamar
baca dengan langkah cepat.

Betul juga, Jit-kaucu Thay-kun sedang duduk dekat jendela


bersama seorang dayang berbaju biru.
Pendekar Cacat 488

Waktu itu Thay-kun sedang bermuram durja, sepasang alis


matanya bekernyit, sorot matanya memancarkan sinar
pedih.

Ketika Thay-kun melihat paras muka Bong Thian-gak, dia


nampak agak tertegun, kemudian katanya, “Dandananmu
sekarang benar-benar jelek dan amat tak sedap dilihat."

Bong Thian-gak tersenyum.

"Bagaimana pun aku menyaru, nampaknya tak pernah lolos


dari ketajaman matamu!"

"Tadi He Hong melaporkan kejadian itu kepadaku, sudah


kuduga pasti kau yang datang, ayo cepat duduk!"

Bong Thian-gak tahu, yang dimaksud sebagai He Hong


pastilah si dayang yang membawanya kemari barusan.

Dia mencari sebuah kursi, lalu duduk, katanya pelan, "Ji-


kaucu telah datang!"

Thay-kun tertawa getir.

"Duduknya persoalan sudah jelas sekarang, Ji-kaucu


sengaja diutus untuk menghadapi diriku."

"Apa maksudmu berkata demikian?" Jit-kaucu Thay-kun


menghela napas sedih.
Pendekar Cacat 489

"Ai, Cong-kaucu tahu Ji-kaucu merupakan satu-satunya


orang yang bisa menandingi diriku, ai! Aku sama sekali
tidak menduga Ji-kaucu bisa begitu cepat muncul di kota
Kay-hong."

"Aku mendapat pesan terakhir dari Ku-lo untuk


melindungimu, aku bersumpah akan melaksanakan
perintah ini dengan sebaik-baiknya," kata Bong Thian-gak
nyaring.

"Sekali pun Ji-kaucu memiliki tiga kepala enam lengan, aku


tetap bertekad untuk bertarung sampai titik darah
penghabisan dengannya."

"Kemampuan Ji-kaucu sedikit sekali yang kau ketahui,


padahal menurut taktik ilmu pertempuran dikatakan, ‘Tahu
kekuatan sendiri berarti tahu kekuatan lawan, setiap
pertarungan tentu akan menang'. Ai, seandainya malam
nanti terjadi sesuatu yang luar biasa. Keng-tim Suthay
dapat menyampaikan segala sesuatunya kepadamu."

"Barusan aku suruh He Hong mengundangmu kemari,


maksudku tak lain adalah ingin menyuruh kau
meninggalkan perkampungan ini secepatnya, selama hidup
aku belum pernah memohon bantuan kepadaorang lain,
sekarang aku ingin memohon kepadamu, bersediakah kau
menuruti perkataanku?"

Mendengar perkataan itu, Bong Thian-gak tertawa.


Pendekar Cacat 490

"Aku pun belum pernah memohon kepada orang lain, tapi


sekarang aku sangat berharap kau sudi mengizinkan diriku
untuk mendampingimu, bersediakah kau?"

Tiba-tiba sepasang biji mata Jit-kaucu Thay-kun berkaca-


kaca, hampir saja titik air mata jatuh berlinang membasahi
pipinya, dengan sedih dia berkata, "Bila demikian, maka
hanya jalan kematian saja yang akan kau peroleh, bila kau
dan aku mati masih tidak menjadi masalah, tapi kalau
sampai beribu-ribu umat persilatan diperbudak selamanya
oleh orang Put-gwa-cin-kau ... Suheng, selama bukit tetap
hijau, tak usah takut kehabisan kayu bakar, pergilah kau!"

"Mengapa kita tidak pergi bersama-sama?" kata Bong


Thian-gak dengan cepat.

"Aku ingin melanjutkan cita-cita Ku-lo Sinceng melenyapkan


Ji-kaucu dari muka bumi."

"Bila Ji-kaucu mati bersamamu, lalu siapa yang akan


melenyapkan Cong-kaucu dari muka bumi?"

Jit-kaucu termenung sambil berpikir beberapa saat


lamanya, kemudian ujarnya setelah menghela napas
panjang, "Ai, kalau begitu, aku akan membeberkan segala
sesuatu mengenai Ji-kaucu."

Baru saja berbicara sampai di situ, dia berhenti sejenak


sambil berkata dengan gelisah, "Mereka telah datang."
Pendekar Cacat 491

Sembari berkata telapak tangannya segera diayunkan ke


depan, serentak api lilin dipadamkan.

Bong Thian-gak sudah beberapa kali bertemu Jit-kaucu


Thay-kun, tapi setiap saat dia selalu bersikap tenang bila
menghadapi persoalan, selamanya belum pernah
menunjukkan kepanikan serta ketegangan seperti apa yang
diperlihatkan sekarang, mungkinkah Ji-kaucu benar-benar
lihai?

Belum habis ingatan itu melintas, mendadak terdengar


seseorang berseru dengan suara rendah, "Ji-kaucu tiba!"

"Sumoay, bagaimana dengan diriku?" Bong Thian-gak


berseru dengan cepat.

"Tetap tinggal di sini dan jangan sembarangan bergerak,


mereka masih belum mengetahui kehadiranmu dalam
perkampungan petani ini."

"Andaikata pertempuran sampai berkobar, kehadiranku di


sini pasti di luar dugaan orang."

"Suheng, kau harus ingat, bahwa sekujur tubuh Ji-kaucu


penuh dengan racun keji, dia dapat melukai orang tanpa
wujud."

Selesai berkata, dia bersama kedua orang dayangnya


segera beranjak dari tempat duduk.

"Kalian hendak kemana?" Bong Thian-gak bertanya.


Pendekar Cacat 492

"Kami hendak keluar menyambut kedatangan Ji-kaucu."

Begitulah, Jit-kaucu Thay-kun diiringi kedua dayang di kiri


dan kanan pelan-pelan berjalan keluar ruangan itu.

Dengan cepat Bong Thian-gak menyelinap ke bawah


jendela, kemudian mengintip melewati celah-celah jendela.

Bayangan orang nampak bermunculan di luar pintu, dua


puluhan orang mengiringi sebuah tandu yang amat besar.

Jit-kaucu Thay-kun berdiri menanti di depan halaman.

Ketika sampai di depan pintu gerbang, tandu besar itu baru


berhenti, sementara dua puluhan orang yang berada di
sekelilingnya menyebar ke kiri dan kanan membuat
setengah lingkaran.

Kepada tandu besar itu Thay-kun membungkukkan badan


memberi hormat, kemudian katanya, "Jit-kaucu
menyambut kedatangan Ji-kaucu."

Ji-kaucu melangkah keluar dari tandunya, kemudian


dengan suara menyeramkan berkata, "Aku ke kota Kay-
hong untuk melaksanakan perintah Cong-kaucu,
dipersilakan Jit-kaucu mengikuti diriku kembali ke markas
besar."

Selesai berkata dia merogoh ke dalam sakunya, mengambil


suatu benda dan dilemparkan ke hadapan Jit-kaucu.
Pendekar Cacat 493

Di antara kilauan sinar lentera, ternyata benda itu adalah


sebuah borgol emas.

Jit-kaucu Thay-kun memandang borgol emas itu sekejap,


kemudian dengan wajah tak berubah tanyanya, "Tolong
tanya kesalahan apakah yang telah kulakukan? Mengapa Ji-
kaucu datang menunjukkan borgol emas Put-gwa-cin-kau?"

Sesungguhnya segenap anggota Put-gwa-cin-kau yang


berada di sekeliling tempat itu, termasuk Liok-kaucu sendiri
sama sekali tidak mengetahui apa maksud kedatangan Ji-
kaucu ke tempat ini.

Rupanya borgol ini merupakan alat hukuman tertinggi Put-


gwa-cin-kau, benda itu melambangkan kehadiran Cong-
kaucu pribadi, oleh sebab itu siapa yang melihat borgol
emas itu seperti juga mereka menjumpai Cong-kaucu
pribadi.

Dosa dan kesalahan apakah yang telah dilakukan Jit-kaucu?


Tak seorang pun tahu.

Sementara itu suasana arena diliputi keseraman dan


ketegangan yang mencekam, setiap orang merasakan
munculnya suatu tenaga tekanan yang amat berat
menindih di atas dada masing-masing.

Ji-kaucu membentak, "Setelah bertemu borgol Put-gwa-cin-


kau, mengapa kau tidak berlutut menerima hukuman?
Pendekar Cacat 494

Tampaknya kau hendak membangkang perintah dan


melakukan perlawanan?"

"Sesudah menyaksikan borgol Put-gwa-cin-kau secara tiba-


tiba, aku merasa seperti disambar geledek di siang bolong,
itulah sebabnya aku harus menanyakan persoalan ini
dengan jelas."

Ji-kaucu tertawa dingin.

"Baiklah, aku beritahukan kepadamu, kau telah melakukan


pengkhianatan terhadap perkumpulan."

"Pengkhianatan? Kapan aku mengkhianati perkumpulan?"


seru Jit-kaucu lantang.

Kembali Ji-kaucu tertawa dingin.

"Hehehe, sejak tiga tahun lalu kau sudah punya niat


melakukan pengkhianatan. Bukti dan saksi semuanya sudah
lengkap, apakah kau hendak membantah?"

"Kalian mempunyai bukti dan saksi apa? Mengapa tidak


segera diperlihatkan?"

Mendadak Ji-kaucu berseru, "Undang kemari komandan


Siau!"
Pendekar Cacat 495

Seorang pengikutnya segera beranjak pergi dari situ.

Suasana hening beberapa saat lamanya, kemudian


terdengar Ji-kaucu berkata, "Secara diam-diam
perkumpulan kita telah membentuk suatu organisasi
kekuatan yang dipimpin langsung oleh Cong-kaucu sejak
beberapa tahun berselang, adapun tugas organisasi itu
adalah mengawasi gerak-gerik setiap anggota
perkumpulan, komandan Siau adalah utusan khusus yang
ditugaskan organisasi untuk mengawasi gerak-gerikmu,
sebentar kau dapat mendengar laporannya."

Sementara itu paras muka Jit-kaucu Thay-kun telah


berubah menjadi amat serius, dia tidak nampak sesantai
tadi, bukannya kuatir dia akan dijatuhi suatu tuduhan,
melainkan kuatir semua rahasianya terbongkar.

Mendadak terdengar seorang berseru lantang, "Komandan


Siau tiba!"

Tampak seorang berkerudung berjubah hitam, diiringi dua


orang berbaju perl^ntei^rkerudung pelan-pelan berjalan
mendekat.

Sepasang pedang masih tetap tersoreng di pinggang orang


berkerudung berjubah hitam itu, setelah memberi hormat
kepada Ji-kaucu, ujarnya kepada Jit-kaucu Thay-kun, "Pada
Pendekar Cacat 496

tiga tahun berselang, Hun-tui-tiang (komandan) mendapat


perintah dari Cong-kaucu untuk melakukan suatu tugas di
Kamsiok bersama Jit-kaucu, siapa tahu Jit-kaucu lalai dalam
tugas dan membiarkan musuh meloloskan diri, akibat
kelalaiannya itu, tugas itu tak dapat terlaksana
sebagaimana mestinya."

Thay-kun tertawa dingin, "Hehehe, orang yang kulepas


waktu itu adalah seorang perempuan yang bunting tua dan
hampir melahirkan, darimana komandan Siau bisa
membuktikan bahwa dia adalah musuh kita?"

"Hasil dari pemeriksaan yang kemudian dilakukan


membuktikan perempuan bunting tua itu adalah seorang
dayang komandan ketiga pasukan pengawal tanpa tanding
Nyo Li-beng yang berkhianat."

Mendengar perkataan itu, Bong Thian-gak yang


bersembunyi dalam ruangan terkesiap, segera pikirnya,
"Nyo Li-beng? Bukankah nama asli Suthay Keng-tim adalah
Nyo Li-beng?"

Sementara itu Jit-kaucu Thay-kun telah berkata lagi,


"Bagaimana caramu membuktikan hal itu setelah
berlangsungnya peristiwa itu?"

Kembali orang berkerudung tertawa dingin.


Pendekar Cacat 497

"Hehehe, setelah peristiwa itu, kami berhasil menangkap


kembali Perempuan itu, apa yang diakuinya sangat tidak
menguntungkan kedudukan Jit-kaucu dalam perkumpulan."

"Pengakuan yang diperoleh dengan cara menyiksa orang


secara keji tak bisa dipercayai begitu saja."

"Hm, sejak peristiwa itu, Jit-kaucu telah menunjukkan


gejala pengkhianatan, diam-diam Cong-kaucu telah
memerintahkan kepadaku untuk menyelidiki dan
mengamati terus terang gerak-gerik Jit-kaucu."

"Apa hasil penyelidikanmu itu?"

"Aku berhasil mengetahui bahwa Nyo Li-beng masih hidup,


Jit-kaucu pun mempunyai hubungan dengannya, bahkan
sekarang sedang mempersiapkan suatu tindakan
pengkhianatan."

Dengan suara menyeramkan Ji-kaucu berkata pula, "Sejak


kemarin malam aku sudah sampai di kota Kay-hong sambil
secara diam-diam melakukan penyelidikan atas sejumlah
persoalan, kubuktikan bahwa Jit-kaucu punya hubungan
pula dengan pihak gedung Bu-lim Bengcu."

"Beberapa hari berselang, ketika komandan Siau membawa


pasukan menyerang gedung Bu-lim Bengcu, ternyata Jit-
kaucu ada niat menghalangi usaha komandan Siau
melakukan serangan terhadap gedung Bu-lim Bengcu."
Pendekar Cacat 498

Jit-kaucu Thay-kun tertawa dingin.

"Cong-kaucu telah melimpahkan kekuasaan penyerangan


gedung Bu-lim Bengcu kepadaku, komandan Siau berani
melakukan operasi sendiri, hal ini sudah berarti
membangkang perintah. Waktu itu aku telah
memperhitungkan kekuatan lawan dengan cermat, di
dalam gedung Bu-lim Bengcu terhadap dua orang jago lihai
yang menunjang kekuatan mereka, yakni Ku-lo Hwesio
serta Ko Hong yang asal-usulnya tidak jelas. Oleh karena
aku merasa bukan tandingan mereka, maka aku bermaksud
mencegah mereka. Kita harus melakukan tindakan secara
tidak gegabah."

"Buktinya komandan Siau menderita luka parah di tangan


Ko Hong sehingga harus menggeletak selama beberapa hari
di atas ranjang, semua ini menunjukkan dugaanku sama
sekali tak salah, mengapa kau malah menuduh aku
melakukan suatu pelanggaran besar?"

"Semenjak satu tahun lalu, Cong-kaucu telah


memerintahkan dirimu menyusun rencana dan
melenyapkan gedung Bu-lim Bengcu itu dari muka bumi,
mengapa hingga kini kau masih belum menyelesaikan
tugasmu itu? Tindakanmu yang sama sekali tidak
mengacuhkan tugas dan tanggung-jawab ini sudah
merupakan suatu kesalahan dan dosa besar."
Pendekar Cacat 499

"Hehehe ...." Jit-kaucu Thay-kun tertawa dingin. "Bengcu


gedung Bu-lim Bengcu yang lalu, Thi-ciang-kan-kun-hoan
Oh Ciong-hu baru mati beberapa hari lalu, kini muncul
seorang Ko Hong, coba kau bayangkan, dengan kekuatan
yang kau miliki, bagaimana mungkin bisa menyelesaikan
tugas itu secepatnya?"

"Sejak delapan tahun berselang, Jit-kaucu telah melaporkan


kematian Ku-lo Hwesio, akibat keteledoran itu Sam-kaucu
kita yang berilmu tinggi harus menjadi korban, untuk
keteledoran ini pun Jit kaucu pantas menerima hukuman
mati. Nah, apalagi yang hendak kau katakan sekarang?
Mengapa tidak segera kau kenakan borgol emas itu?
Apakah kau hendak menunggu aku turun tangan?"

"Hm!" Jit-kaucu Thay-kun mendengus dingin. "Kecuali


Cong-kaucu datang sendiri, kalau tidak, jangan harap aku
sudi mengenakan borgol emas itu."

"Hehehe, Cong-kaucu telah menduga kau akan melakukan


perlawanan, ternyata dugaannya tepat. Itulah sebabnya
Cong-kaucu melimpahkan kekuasaan paling tinggi untuk
menentukan mati-hidupmu, jika kau melawan, terpaksa
aku harus menurunkan perintah membinasakan dirimu!"

Beberapa saat lamanya arena diliputi oleh suasana tegang.


Pendekar Cacat 500

Ilmu silat Jit-kaucu Thay-kun bukan biasa-biasa saja, kecuali


sekawanan jago lihai dari tingkat Kaucu, siapa yang berani
mencari penyakit bagi diri sendiri? Oleh karena itu tak
seorang pun dari antara

kawanan jago Put-gwa-cin-kau berani mengambil tindakan


secara gegabah.

Mendadak Ji-kaucu menurunkan perintahnya, "Mo-ing-pat-


hiong (Delapan jago irama iblis) terima perintah!"

Begitu perintah diturunkan, mendadak dari balik kegelapan


muncul delapan orang berjubah hijau yang membawa
berbagai macam alat musik, bagaikan sukma gentayangan
mereka muncul dari balik kegelapan dan secepat kilat
melakukan pengepungan dari arah luar.

Mungkin Ji-kaucu sudah menduga kemungkinan


digunakannya kekerasan untuk menangkap Jit-kaucu Thay-
kun, maka sejak tadi kedelapan orang berjubah hijau ini
sama sekali tidak menampakkan diri.

Begitu perintah diturunkan, delapan orang berjubah hijau


itu segera muncul dari arah yang berlawanan, dalam waktu
singkat mereka telah mengepung Jit-kaucu serta kedua
orang dayang berbaju biru itu di tengah arena.
Pendekar Cacat 501

Peristiwa ini berlangsung sangat tiba-tiba, untuk beberapa


saat Jit-kaucu Thay-kun tidak mengetahui bagaimana
caranya mengatasi perubahan itu, apalagi gerakan tubuh
mereka dilakukan dengan cepat.

Menanti kedelapan orang berjubah hijau itu mengambil


posisi masing-masing, gadis itu baru sadar dia sudah kalah
posisi, diam-diam pekiknya dalam hati, "Aduh celaka!"

Sementara itu Ji-kaucu segera mengunjuk senyuman licik


penuh kebanggaan setelah menyaksikan kedelapan orang
itu mengambik-posisi masing-masing, pelan-pelan dia
berkata, "Kini barisan Mo-ing-pat-hiong-tin telah terbentuk,
jagoan yang bagaimana pun lihai jangan harap bisa
meloloskan diri dari kurungan, Jit-kaucu lebih baik kenakan
saja borgol emas itu tanpa melawan, siapa tahu Cong-
kaucu masih mengingat hubungan kalian sebagai guru dan
murid, lalu membebaskan dirimu dari hukuman mati."

"Ji-kaucu," kata Jit-kaucu Thay-kun hambar, "dengan susah-


payah kau menciptakan delapan manusia yang tak mirip
manusia, setan tak mirip setan ini, apakah tujuannya untuk
menandingiku?"

Rupanya kedelapan orang itu semuanya berambut panjang


terurai ke bahu, wajahnya jelek, betul-betul tiga bagian
mirip manusia tujuh bagian mirip setan, ditambah lagi
Pendekar Cacat 502

paras muka mereka berdelapan amat menyeramkan dan


mengerikan, semua ini membuat bergidik bagi yang
melihatnya.

Sambil tersenyum Jit-kaucu berkata, "Ji-kaucu, kau orang


pintar, tentunya kau tahu seluk-beluk ilmu silatku dengan
jelas, namun aku tak akan membiarkan harapanmu tercapai
begitu saja pada malam ini."

"Hm, semua perkataan halus telah kugunakan, namun kau


masih saja tak mau sadar akan kesalahanmu, baiklah,
terpaksa aku akan membiarkan sepasang matamu
terbuka."

Bicara sampai di situ dia berpaling ke arah para jago lainnya


dan menitahkan, "Kecuali Mo-ing-pat-hiong, yang lain
diharap mundur."

Para jago perkumpulan yang berada di sekeliling tempat itu


segera menurut dan bersama-sama mengundurkan diri
keluar arena.

Hanya orang berkerudung berjubah panjang hitam dan


Liok-kaucu berdua masih tetap berdiri di tempat.

Mendadak Ji-kaucu berteriak dengan suara lantang, "Jit-


kaucu, dengarkan baik-baik, mengapa Kiu-kaucu bisa
lenyap?"
Pendekar Cacat 503

Begitu ucapan itu diutarakan, paras muka Jit-kaucu segera


berubah hebat, kemudian serunya dingin, "Kau apakan Kiu-
kaucu?"

"Hm, main catur ada menang ada kalah, maka aku telah
menjadikannya sebagai sandera."

Jit-kaucu tertawa dingin, "Hehehe, Kiu-kaucu tak pandai


menjaga diri, kalau dia mati, itu kesalahannya sendiri, apa
sangkut-pautnya dengan diriku?"

Jit-kaucu Thay-kun tertawa ringan.

"Cong-kaucu ingin melenyapkan aku seorang, tapi


sudahkah dia pikirkan bahwa Put-gwa-cin-kau bakal
menderita kerugian amat besar?"

Ji-kaucu menarik napas dalam-dalam, lalu membentak


dengan keras, "Mo-ing-pat-hiong, dengar baik-baik,
tangkap perempuan ini hidup-hidup."

Begitu perintah diturunkan, kedelapan orang berjubah


hijau itu mulai bergerak maju.

Mendadak terdengar Ji-kaucu membentak lagi, "Irama iblis


mulai!"
Pendekar Cacat 504

Perintah menggeledek disambut oleh kedelapan orang itu


dengan memainkan delapan alat musik, dalam waktu
singkat berkumandanglah permainan alat musik yang amat
memekakkan telinga.

Kedelapan alat musik itu adalah tambur, gembrengan,


harpa, seruling dan lain sebagainya.

Permainan irama musik mereka terdengar sangat aneh,


entah irama lagu apakah yang sedang mereka bawakan.

Pada mulanya semua orang masih belum merasakan apa-


apa, Thay-kun serta kedua orang dayang berbaju biru masih
berdiri di tempat semula dengan gagah, semeritara mata
mereka mengawasi kedelapan orang itu memainkan irama
musik yang aneh dan tak sedap didengar itu.

Mendadak suara gembreng dibunyikan bertalu-talu,


menyusul kemudian tambur dipukul tiga kali....

Mengikuti suara tambur tadi, jerit kesakitan yang


memilukan bergema memecah keheningan.

Kedua dayang berbaju biru yang berdiri di sisi Thay-kun


segera memegang hulu hati masing-masing sembari
berjongkok di tanah, wajah mereka pucat-pias seperti
kertas, tampaknya mereka sedang merasakan suatu
penderitaan yang luar biasa.
Pendekar Cacat 505

"Aduh celaka!" pekik Jit-kaucu Thay-kun setelah


menyaksikan kejadian itu, ia segera membentak, "Cepat
tutup lubang telinga kalian!"

Baru habis berbicara, suara tambur kembali


berkumandang.

Bagaikan orang kerasukan setan, kedua dayang berbaju


biru itu bergulingan di tanah sambil menjerit-jerit, tangan
mereka mendekap hulu hati kencang-kencang, sementara
badannya bergulingan ke sana-kemari, jelas kedua orang
itu mengalami penderitaan hebat.

Berada dalam keadaan seperti ini, Thay-kun tidak


berkemampuan lagi untuk mengurusi kedua orang
dayangnya, sebab di saat suara tambur itu berkumandang,
dia sendiri pun merasakan semacam getaran keras yang
melanda tubuhnya, serentetan pukulan keras tambur itu
membuat jantungnya berdebar keras.

Dalam posisi yang amat tidak menguntungkan ini, dia


hanya bisa memusatkan segenap pikiran dan perhatiannya
melawan suara itu, dia harus menenangkan pikiran dari
pengaruh suara itu.

Dengan tenaga dalamnya yang sudah sempurna, tidak sulit


bagi Thay-kun untuk menghindarkan pengaruh suara iblis
Pendekar Cacat 506

itu. Suasana menjadi tenang kembali, keadaan kini ibarat


sebuah bukit batu karang, seakan-akan lupa segala-galanya.

Tapi berbeda keadaannya dengan kedua dayang berbaju


biru itu. Jeritan ngeri masih terdengar, sepasang tangan
mereka mulai mencakar dada sendiri, sementara tubuhnya
bergulingan ke sana kemari. Dalam waktu singkat pakaian
bagian atas sudah terlepas. Tak selang beberapa saat
kemudian kulit tubuhnya yang putih bersih itu sudah
hancur oleh cakar-cakar mautnya, luka memanjang disertai
cucuran darah memenuhi sekujur tubuh, sungguh
mengerikan sekali keadaan mereka.

Mendidih rasanya darah panas yang menggelora dalam


dada Bong Thian-gak menyaksikan kejadian itu, dia hendak
mendobrak jendela menerobos keluar, namun setelah
menyaksikan keadaan Thay-kun yang tenang dan berdiri
kokoh bagaikan batu karang di tengah arena, tergetar
hatinya, cepat dia berpikir, "Jelas kedua dayang itu sudah
tak bisa tertolong lagi, satu-satunya tindakan yang harus
kulakukan sekarang adalah mencari akal membongkar dan
menghancurkan barisan ini, kemudian berusaha menolong
Thay-kun dari ancaman bahaya."
Pendekar Cacat 507

Sementara kedelapan orang itu menggeser barisan sembari


tetap memainkan aneka alat musik itu.

Akhirnya kedua dayang berbaju biru itu tak mampu


menahan diri, mereka tewas dalam keadaan mengerikan,
tubuh mereka yang telanjang bulat bermandikan darah
terkapar tak berkutik di tengah arena.

Pada saat inilah Bong Thian-gak sudah dapat melihat


pergeseran barisan yang dilakukan kedelapan orang itu,
menggunakan langkah Pat-kwa-tin.

Penemuan yang di luar dugaan ini kontan menggirangkan


hati Bong Thian-gak, diam-diam dia menggeser tubuhnya
melompat keluar melalui jendela belakang, kemudian
setelah melewati kebun ia menyusup ke balik kawanan
orang yang sedang menonton jalannya pertempuran itu.

Sementara itu para anggota Put-gwa-cin-kau yang berada


di sisi arena terpukau oleh kehebatan ilmu barisan yang
sedang berlangsung di tengah arena pertempuran, sudah
barang tentu mereka tidak mengetahui Bong Thian-gak
telah menyelundup di antara mereka.

Bong Thian-gak lihat Thay-kun sedang bersiap melancarkan


serangan. Berarti dia pun harus memanfaatkan kesempatan
Pendekar Cacat 508

itu untuk melancarkan sergapan pula, kerja sama dalam


waktu serta ketepatan tak boleh meleset sedikit pun.

Sesungguhnya cara berpikir Bong Thian-gak ini memang


benar, akan tetapi dia telah melupakan sekawanan
pembunuh dari luar barisan, pembunuh yang sebenarnya
bukan kedelapan orang berjubah hijau yang berdiri pada
posisi barisan Pat-kwa, pembunuh yang sesungguhnya
bukan lain daripada Ji-kaucu sendiri yang berada di luar
barisan.

Barisan ini bernama Pat-kwa-an-kiu-kiong-tin.

Saat Jit-kaucu Thay-kun membuka mata itulah mendadak


dia saksikan Ji-kaucu yang berada di luar arena sedang
memandang ke arahnya dengan sorot mata setajam
sembilu dan hawa membunuh yang menyala-nyala.

Tergerak hatinya setelah menyaksikan kejadian itu, ia


berseru tertahan dalam hati, "Ah, rupanya Pat-kwa-an-kiu-
kiong-tin, habis sudah riwayatku kali ini!"

Pat-kwa-an-kiu-kiong-tin merupakan barisan yang luar


biasa, semacam siasat perang yang aneh, luar biasa, di luar
dugaan dan teramat keji.
Pendekar Cacat 509

Belum habis ingatan itu melintas dalam benak Thay-kun,


tiba-tiba terdengar Ji-kaucu berpekik nyaring, kemudian
tubuhnya melejit tinggi dan menerjang ke arah Jit-kaucu.

Tak terlukiskan rasa terkejut Bong Thian-gak setelah


menyaksikan kejadian ini, dengan cepat dia melejit pula ke
udara dan menerjang ke tengah arena dari posisi lain.

Dia telah mengambil keputusan untuk melakukan duel


mati-hidup yang menentukan posisi kedua belah pihak.

Arah sasaran Bong Thian-gak kali ini adalah kedelapan


orang yang berada di luar arena, yang diterkam lebih
dahulu adalah seorang berjubah hijau yang membawa
seruling.

Jeritan ngeri yang memekakkan segera berkumandang.

Termakan oleh pukulan Bong Thian-gak yang maha dahsyat


itu, orang berjubah hijau itu tergetar keras tubuhnya dan
mencelat ke udara.

Dengan berkurangnya salah satu kekuatan pada barisan


Pat-kwa itu, kontan barisan menjadi kacau, namun
pembunuh yang menempati barisan Kiu-kiong sama sekali
tidak merasakan pengaruhnya.
Pendekar Cacat 510

Tampak Ji-kaucu menerobos masuk ke dalam dengan


kecepatan luar biasa.

Diam-diam Thay-kun mengertak gigi, tangan kiri segera


diangkat, cahaya merah memancar keluar dari balik telapak
tangannya, ilmu Soh-li-jian-yang-sin-kang yang merajai
kolong langit telah disiapkan.

Ketiga orang itu masing-masing merupakan jagoan sakti


dunia persilatan, pada saat bersamaan masing-masing
mengeluarkan ilmu andalannya, untuk merobohkan musuh
sebanyak mungkin.

Untuk beberapa saat suasana menjadi kacau.

Jerit kesakitan dan dengusan tertahan bergema, menyusul


tubuh Bong Thian-gak berkelebat, satu demi satu musuh
bergelimpangan.

Munculnya Bong Thian-gak di arena pertarungan sama


sekali di luar dugaan siapa pun, tak heran sergapannya
segera menimbulkan kepanikan yang luar biasa.

Sementara itu Ji-kaucu sudah menerobos masuk ke dalam


arena, tampak ujung bajunya berhembus kian kemari,
seperti segulung asap putih saja.

Dalam waktu singkat tubuh Thay-kun dan Ji-kaucu sudah


terkurung oleh asap tebal itu.
Pendekar Cacat 511

Cahaya merah memancar keluar memenuhi angkasa,


serangan Jian-yang-ciang dari Jit-kaucu Thay-kun tidak
mengenai sasaran.

Di tengah lapisan kabut yang sangat tebal, terdengar suara


deru angin pukulan yang memekakkan telinga, jelas Jit-
kaucu Thay-kun sudah terlibat dalam pertarungan yang
amat seru.

Mimpi pun Bong Thian-gak tidak mengira Ji-kaucu bakal


mengeluarkan asap semacam itu, tatkala dia menyadari
akan hal itu dan siap menerobos kabut itu, tubuh Thay-kun
sudah mundur dari lapisan kabut dengan sempoyongan.

Cepat Bong Thian-gak melompat maju, kemudian serunya


dengan cemas, "Kau terluka?"

"Aku terkena sergapan mereka, cepat kabur dari sini!" seru


Thay-kun gelisah.

Dalam pada itu kawanan jago Put-gwa-cin-kau yang


menonton jalannya pertarungan dari sisi arena telah
melihat bayangan tubuh Bong Thian-gak, serentak mereka
membentak nyaring, di tengah jeritan keras, dua puluh
orang menerjang datang melakukan pengepungan.
Pendekar Cacat 512

"Kalau harus mati biarlah kita mati bersama, kalau harus


pergi kita pergi bersama,"seru Bong Thian-gak lantang.

Di tengah seruan itu, Bong Thian-gak menyambar


pinggangnya dengan tangan kiri, kemudian membopong
tubuhnya sambil berpekik nyaring, tubuhnya melejit ke
tengah udara.

Serentetan suara tawa aneh bergema, Liok-kaucu


melompat ke muka melakukan penghadangan.

Dalam keadaan gawat dan berbahaya ini, Bong Thian-gak


segera mengerahkan tenaga dalamnya, melihat datangnya
terjangan itu, sebuah pukulan segera dilontarkan ke depan.

Serangan pukulan ini sungguh hebat dan mengerikan.

Seketika itu juga tubuh Liok-kaucu terlempar ke belakang


dan |atuh terkapar di tanah.

Begitu berhasil merobohkan Liok-kaucu, cepat Bong Thian-


gak membopong tubuh Thay-kun melejit ke atas pohon,
kemudian dengan meminjam tenaga jejakan itu dia
melompat naik ke atas atap rumah.

Gerakan tubuhnya cepat bagaikan sambaran kilat, lincah


melebihi monyet.
Pendekar Cacat 513

Diiringi bentakan nyaring para anggota Put-gwa-cin-kau,


mereka melakukan pengejaran serentak.

Tiba-tiba Ji-kaucu muncul dari balik kabut yang tebal, lalu


membentak keras, "Tak usah dikejar lagi, gerakan tubuhnya
kelewat cepat, tak nanti kalian bisa menyusulnya."

Ternyata keadaan waktu itu sungguh mengenaskan, bukan


saja kawanan jago kelas satu Put-gwa-cin-kau telah
menderita luka, Liok-kaucu serta pemimpin pasukan
pengawal tanpa tanding barisan kedua pun terluka pula.

Yang tersisa kini tinggal jago-jago kelas tiga saja, bagaimana


bisa menyusul Bong Thian-gak?

Padahal serangan maha dahsyat Bong Thian-gak sudah


cukup membuat kawanan jago Put-gwa-cin-kau ketakutan
setengah mati.

Memandang bayangan punggung Bong Thian-gak yang


berlalu sambil membopong Thay-kun itu, Ji-kaucu
memperlihatkan sekulum senyuman dingin yang licik dan
penuh kebanggaan, gumamnya, "Jit-kaucu sudah tersingkir,
hehehe, kau si bocah keparat pun sudah terkena
seranganku, paling lambat tiga hari kemudian kau pun akan
mampus, meski kepandaian silat yang kau miliki sangat
lihai."
Pendekar Cacat 514

Mendengar gumaman itu, orang berkerudung berjubah


hitam yang berdiri di sisinya segera bertanya, "Apakah
orang itu terkena sergapan Ji-kaucu?"

Dengan bangga Ji-kaucu tertawa terbahak-bahak.

"Hahaha, komandan Siau, tahukah kau nama asapku itu?"

"Asap itu amat aneh, tebalnya luar biasa dan tidak


menyebar atau membuyar meski terkena hembusan angin,
sudah pasti merupakan asap yang luar biasa."

Ji-kaucu tertawa.

"Asap ini bernama In-ing-tok-wu-im-ciang (Kabut beracun


himpunan hawa langit dan bumi), barang siapa terkena
kabut itu, baik manusia maupun binatang tak nanti lolos
dari ancaman maut."

"Tapi orang itu tak pernah memasuki lingkaran kabut itu?"

"Tapi sekujur tubuh Jit-kaucu telah terkena kabut itu,


sedangkan dia berlari sembari membopong tubuhnya,
tanpa dia sadari sebenarnya ia pun terkena serangan racun
itu."

"Kepandaian silat orang itu amat lihai, Liok-kaucu pun


terluka di tangannya, entah siapakah orang ini?"
Pendekar Cacat 515

"Dari raut wajahnya, jelas sudah dipoles obat penyaru,


besar kemungkinan orang ini adalah pemuda yang bernama
Ko Hong itu."

Orang berkerudung berbaju hitam menggeleng kepala


berulang¬kah.

"Pemuda Ko Hong telah terkena sebuah tusukanku, lukanya


amat dalam dan terluka parah, mana mungkin kesehatan
tubuhnya bisa pulih secepat itu?"

Dalam pada itu Ji-kaucu telah berjalan mendekati Liok-


kaucu, kemudian menegur, "Parahkah lukamu, Liok-
kaucu?"

Liok-kaucu sedang duduk bersila di atas tanah dengan


wajah merah membara, tiba-tiba dia memuntah darah
sebanyak tiga kali.

Darah yang keluar berwarna hitam pekat seperti warna


tinta bak.

Menyaksikan kejadian ini, berubah hebat paras muka Ji-


kaucu, secepat kilat telapak tangan kirinya menepuk tiga
buah jalan darah penting di punggung Liok-kaucu.
Pendekar Cacat 516

Sebenarnya Liok-kaucu sudah tak mampu berkutik lagi, tapi


setelah ditepuk keras punggungnya, dia baru
menghembuskan napas panjang, katanya dengan suara
gemetar, "Ji-kaucu, lukaku parah sekali. Entah ilmu silat apa
yang dipergunakan olehnya."

Ji-kaucu membungkam, dia hanya mendongakkan kepala


sambil berdiri termangu-mangu.

Kemudian dia berpaling dan ujarnya kepada orang


berkerudung itu, "Komandan Siau, harap kau mewakili
diriku mengawasi sebentar keadaan di sini, aku hendak
mengejar mereka."

Belum selesai berkata, Ji-kaucu telah menggerakkan bahu


dan meluncur ke depan, dalam waktu singkat bayangan
tubuhnya sudah lenyap di balik kegelapan.

Tentu saja yang dimaksud "mereka" oleh Ji-kaucu adalah


Bong Thian-gak berdua.

ooOOoo

Suasana amat hening, malam mencekam seluruh jagad,


angin berhembus kencang membuat suasana terasa dingin
menggigilkan.
Pendekar Cacat 517

Dengan merangkul pinggang Jit-kaucu Thay-kun dengan


tangan kirinya, Bong Thian-gak melakukan perjalanan tiada
hentinya sejauh dua puluh li lebih.

Tiba-tiba terdengar suara rintihan lirih, cepat Bong Thian-


gak menghentikan larinya dan menundukkan kepala.

Tampak Thay-kun telah membuka matanya yang indah


menawan sambil memandang wajah Bong Thian-gak
dengan termangu.

Memeluk gadis cantik dalam rangkulan, timbul suatu


perasaan aneh, bau harum semerbak menembus lubang
hidung.

"Kau lelah?" pemuda itu menegur.

Thay-kun manggut-manggut.

"Kau bisa berjalan sendiri?" kembali Bong Thian-gak


bertanya lirih. Thay-kun tertawa, "Mengapa kau tidak
menurunkan aku?" Bong Thian-gak mengiakan dan cepat
menurunkan tubuhnya ke atas tanah.

Sambil menggeliat Thay-kun berkata dengan sedih, "Ai, aku


tak mungkin bisa lolos dari kematian."

"Mengapa?" Bong Thian-gak tertegun. Kembali Thay-kun


menghela napas panjang.
Pendekar Cacat 518

"Ai, karena aku telah terkena sebatang jarum beracun Hu-


kut-tok-ciam dari Ji-kaucu."

"Jarum beracun pelumat tulang? Terkena di bagian mana?"


Bong Thian-gak semakin terperanjat.

"Pada lengan kananku."

"Tapi bukankah kau masih berada dalam keadaan baik-baik


saja sekarang?"

Sambil tertawa getir Thay-kun menggeleng kepala


berulang-kali. "Kini lengan kananku menjadi kaku."

Mendengar perkataan itu, Bong Thian-gak segera berpaling


sambil memperhatikan lengan kanannya, betul juga, lengan
kanannya itu sudah terkulai lemas ke bawah dan sama
sekali tak bisa digerakkan.

"Memangnya tiada cara untuk mengobati luka itu?"

Thay-kun menggeleng.

"Ji-kaucu adalah tokoh yang amat lihai dalam menggunakan


racun, apalagi dia berniat membinasakan diriku, sudah
dapat dipastikan jarum beracun yang dilepaskan olehnya
menggunakan racun yang nanti tak dapat diobati!"
Pendekar Cacat 519

Bong Thian-gak melihat gadis itu tetap tenang, tidak gugup,


tidak panik, seakan-akan bukan dia yang terkena jarum
beracun dan bakal menemui ajalnya.

Maka dengan nada tak percaya dia bertanya lagi,


"Sungguhkah perkataanmu itu?"

"Apa gunanya kubohongi dirimu?" Thay-kun berkata sedih.


"Semut pun ingin hidup apalagi manusia."

"Tidak mungkin ... tidak mungkin," gumam Bong Thian-gak,


"tak mungkin di dunia ini terdapat racun yang mematikan
tanpa bisa terobati lagi."

Sembari berkata Bong Thian-gak mengeluarkan tangan siap


merangkul kembali pinggang Thay-kun.

Mendadak Thay-kun menghindar sambil menyelinap


mundur, tegurnya, "Mau apa kau?"

Bong Thian-gak sendiri pun tertegun.

"Aku hendak mencari orang untuk mengobati racun di


lenganmu itu."

Thay-kun menghela napas panjang.

"Ai, bukankah sudah kukatakan kepadamu, tiada orang di


dunia ini yang bisa menyelamatkan jiwaku! Sekarang aku
Pendekar Cacat 520

harus memanfaatkan kesempatan yang ada untuk


mengemukakan suatu rahasia dunia persilatan yang
mungkin tidak diketahui oleh siapa pun."

"Menjelang ajalnya, Ku-lo Hwesio telah berpesan kepadaku


bahwa di Bu-lim hanya kau seorang yang dapat
menghadapi Cong-kaucu, kau tak boleh mati, tak boleh
mati begini saja."

Thay-kun tertawa sedih.

"Perhitungan Ku-lo Sinceng sesungguhnya memang tepat,


di Bu-lim memang cuma aku seorang yang bisa
menghadapinya, tapi perhitungan manusia tak mampu
melawan perhitungan takdir, rupanya nasibku memang
harus berakhir sampai di sini."

Mencorong sinar aneh dari balik mata Bong Thian-gak, dia


berkata, "Sumoay, aku telah mempelajari hampir seluruh
ilmu silat yang berhasil Suhu curi sepanjang hidupnya,
apakah di antara sekian banyak kepandaian itu, tak satu
pun yang bisa digunakan untuk mengobati luka beracun
itu?"

Thay-kun menghela napas panjang.


Pendekar Cacat 521

"Memang sepanjang hidup Suhu, beliau berhasil mencuri


kitab pusaka berbagai perguruan dan partai mana pun,
sayang di antara sekian banyak kepandaian itu tak sebuah
pun yang merupakan kitab ilmu pertabiban dan ilmu
beracun. Itulah sebabnya dia orang tua pun tewas akibat
racun yang dideritanya."

"Apa? Suhu pun mati akibat keracunan?" Bong Thian-gak


terperanjat.

Thay-kun manggut-manggut.

"Benar, dia orang tua tewas karena keracunan hebat, ai!


Sekarang aku sudah tiada waktu lagi untuk
memberitahukan semua ini padamu, pokoknya
pembunuhnya adalah Cong-kaucu."

Bong Thian-gak memang telah menduga Jian-bin-hu-li Ban


Li-biau tewas secara mengenaskan dalam gua akibat
perbuatan Cong-kaucu, ternyata dugaannya memang tepat.

Sebenarnya dia ingin tahu keracunan apakah Ban Li-biau


sampai menemui ajal, namun Thay-kun telah mengalihkan
pokok pembicaraan ke soal lain, katanya, "Ku-lo Hwesio
dari Siau-lim-pay bisa menduga aku bermaksud
mengkhianati Put-gwa-cin-kau, hal ini menunjukkan semasa
hidupnya dulu, ia telah berjumpa dengan Nyo Li-beng. Nyo
Pendekar Cacat 522

Li-beng telah memberitahukan rencana busuk Cong-kaucu


serta asal-usulnya. Kalau begitu Ku-lo Sinceng pun sudah
pasti telah mempunyai rencana yang matang mengatasi
situasi dunia persilatan di masa mendatang, bila demikian
adanya, meski aku telah memejamkan mata untuk
selamanya, aku pun bisa mati dengan perasaan lega."

Agak bingung juga Bong Thian-gak mendengar perkataan


yang tiada ujung pangkalnya itu, dia tak tahu apa maksud
Thay-kun berkala demikian.

Maka sembari berkerut kening ujarnya kemudian,


"Sumoay, bagaimana kalau kau kuajak menuju ke kuil Keng-
tim-an?"

Tergetar perasaan Thay-kun mendengar perkataan itu,


ucapnya cepat, "Kuil Keng-tim-an merupakan pasukan
tersembunyi kita, pasukan tersembunyi itu belum boleh
muncul dalam Bu-lim pada saat ini, sebab kalau tidak, bisa
jadi kekuatan tersembunyi itu bisa ditumpas ludes."

"Mengapa? Bukankah Keng-tim Suthay telah berkata,


'Sembilan hari lagi di Bu-lim akan muncul perkumpulan
baru', berarti sembilan hari lagi mereka sudah bersiap
melakukan gerakan?"

Thay-kun tersenyum.
Pendekar Cacat 523

"Benar, hal ini akan terjadi sembilan hari lagi, bukan


sekarang!"

"Mengapa harus menunggu sembilan hari lagi?"

"Sebab sampai waktunya baru akan muncul tokoh yang


mampu menandingi kemampuan Cong-kaucu."

"Aku tidak memahami maksud perkataanmu itu."

"Sewaktu masih berada dalam gedung Bu-lim Bengcu


tempo hari, bukankah pernah kau dengar dalam tiga hari
setelah meninggalnya Oh Ciong-hu Bengcu, lima orang mati
secara misterius, tapi beberapa hari setelah kematiannya,
jenazah mereka lenyap?"

"Ya, aku dengar kelima orang itu adalah si Pukulan nomor


wahid dari kolong langit Ma Kong Loenghiong dari
perguruan Sin-kun-bun, Liong-thau Pangcu dari
perkumpulan Hek-huo-pang Kwan Bu-peng, Congpiauthau
dari tujuh perusahaan ekspedisi gabungan wilayah Kanglam
Lui-hong-khek (Jago angin guntur) Gi Peng-san, Loapcu dari
benteng Jit-seng-po Tui-hun-pit (Pena pengejar sukma) Cia
Liang dan Thi-koan-im (Koan-im baja) Han Nio-cu, tapi
bukankah mereka semua lelah mati?"

Thay-kun manggut-manggut.
Pendekar Cacat 524

"Benar, mereka telah mati satu kali, tapi kini telah hidup
kembali."

"Masa orang yang sudah mati dapat hidup kembali?" seru


Bong Thian-gak terkejut bercampur keheranan.

"Sembilan hari lagi mereka akan muncul dan hidup kembali


dari kuil Keng-tim-an."

Dengan terperanjat Bong Thian-gak mengawasi wajah


Thay-kun sambil termangu-mangu, sedang di hati kecilnya
berpikir, "Kejernihan olaknya masih tetap meyakinkan, tapi
mengapa perkataannya masih sukar dipercaya."

Sambil tersenyum manis kembali Thay-kun berkata,


"Semua teka-teki ini akan terungkap sembilan hari lagi, bila
ku tarakan sekarang kau pun belum tentu mau percaya."

"Baik, baik ...." gumam Bong Thian-gak. "Terpaksa aku


harus menunggu sembilan hari lagi."

Thay-kun menghela napas sedih, kembali dia berkata, "Apa


yang hendak kusampaikan kepadamu, kini telah habis
kuucapkan, nah kau boleh pergi meninggalkan tempat ini!"

"Pergi? Aku harus pergi kemana?"

"Makin jauh semakin baik, pokoknya kau baru boleh


kembali ke kota Kay-hong sembilan hari lagi!"
Pendekar Cacat 525

Bong Thian-gak tertawa bodoh. "Kau pun hendak pergi


bersamaku?"

"Ai, mengapa kau tak pernah menuruti perkataanku?"


keluhnya.

"Aku mendapat perintah melindungi keselamatanmu, tak


nanti aku meninggalkan dirimu begini saja."

Tiba-tiba Thay-kun menarik muka, katanya, "Tahukah kau,


Ji-kaucu akan segera menyusul kemari untuk
membinasakan kita berdua?"

Bong Thian-gak tertawa nyaring.

"Mengapa kau begitu takut kepada Ji-kaucu?" serunya.

"Ai, siapa angkuh dia pasti akan kalah, kau terlalu


memandang remeh kemampuan Ji-kaucu," ucap Thay-kun
menghela napas.

"Padahal Ji-kaucu telah datang kemari!" kata Bong Thian-


gak dengan suara pelan.

Berubah hebat paras Thay-kun mendengar perkataan itu, ia


mendongakkan kepala dan memandang sekejap sekeliling
tempat itu, angin malam berhembus, kabut menyelimuti
Pendekar Cacat 526

permukaan tanah, kecuali suara hembusan angin dan suara


binatang kecil, tak sesosok bayangan orang pun yang
nampak.

Bong Thian-gak membalikkan tubuh sembari mengayun


tangan kanan ke depan, serentetan cahaya segera
menyebar di tengah udara seperti deru angin.

Semua cahaya tajam itu meluncur ke arah sebatang pohon


yang terletak tak jauh dari situ.

Pohon itu berada delapan depa jauhnya, siapa pun tak


mengira senjata rahasia yang disambitkan Bong Thian-gak
bisa mencapainya.

Mendengar suara desingan senjata rahasia itu, Thay-kun


berseru tertahan, "Ah! Jarum Lui-hong-sin-hong!"

Setelah menyambitkan senjata rahasia, Bong Thian-gak pun


memperhatikan sinar hitam yang menyusup ke dalam
kegelapan itu, namun yang didapat hanya suasana hening
sepi dan tiada terdengar sedikit suara pun.

Dengan paras muka berubah hebat Bong Thian-gak segera


berbisik lirih, "Sumoay, apakah Lui-hong-sin-hong dari Suhu
dapat disambut dengan tangan kosong?"

"Lui-hong-sin-hong mampu menembus bebatuan


menghancurkan karang, keras dan tajamnya luar biasa,
Pendekar Cacat 527

tiada manusia di dunia ini yang mampu menyambut


ancaman, cuma jarak timpukanmu terlampau jauh.," kata
Thay-kun dengan wajah berubah hebat.

Bong Thian-gak tidak bicara lagi, mendadak dia beranjak


dari tempatnya dan menerjang ke muka.

"Berhenti!" Thay-kun berseru.

Mendengar bentakan itu, Bong Thian-gak segera berhenti,


tanyanya dengan cepat, "Ada apa?"

"Seandainya Ji-kaucu bersembunyi di tempat gelap,


mengapa dia lidak segera muncul? Jelas dia bermaksud
memancing kedatanganmu ke situ, kemudian menyergap
dan melukaimu."

Bong Thian-gak tersenyum.

"Ia telah terluka."

"Siapa?"

"Ji-kaucu."

Baru selesai ia berkata, tampak sesosok bayangan orang


seperti setan saja pelan-pelan berjalan keluar dari tempat
kegelapan.
Pendekar Cacat 528

Dia memakai baju model sastrawan berwarna hijau,


berjenggot panjang sedada, menyoreng pedang dan
bermata setajam sembilu, kalau I MI kan Ji-kaucu siapa lagi
dia?

Baik Thay-kun maupun Bong Thian-gak dapat melihat jelas,


i.mgan kiri Ji-kaucu seakan-akan menggenggam sebuah
benda, namun darah kental bercucuran dari balik sela-sela
telapak tangannya dan membasahi permukaan tanah.

Sepasang mata Bong Thian-gak seolah-olah terkena sihir,


tanpa berkedip dia mengawasi Ji-kaucu maju selangkah
demi selangkah.

Walaupun suasana di sekeliling tempat itu sangat hening


dan tiada suara apa pun, namun suasana penuh diliputi
ketegangan dan keseraman yang menggidikkan.

Walaupun semua orang tahu bahwa serangan yang


dilancarkan Ji-kaucu pasti mengerikan dan dahsyat bukan
kepalang, namun mereka tidak gentar menghadapinya,
apalagi setelah menyaksikan Ji-kaucu terluka.

Sementara itu Thay-kun telah menggeser tubuh ke samping


kiri Bong Thian-gak dan bersiap menghadapi segala
kemungkinan yang tak diinginkan.
Pendekar Cacat 529

Dalam suasana hening seperti ini, Bong Thian-gak serta


Thay-kun seperti mendengar suara nyamuk yang amat
ramai, suara itu seperti ada seperti tiada, sedemikian
lembutnya hingga tak tertangkap oleh telinga.

Seandainya mereka tidak sedang memusatkan perhatian,


sulit rasanya menangkap suara itu.

Mendadak terdengar Thay-kun menjerit kaget, "Hati-hati


dengan nyamuk!"

Thay-kun segera melontarkan telapak tangan kirinya yang


merah membara itu ke depan, kembali dia telah
melancarkan sebuah pukulan dengan ilmu Soh-li-jian-sin-
kang.

Pukulan yang maha dahsyat itu dilontarkan tiga kaki di


depan tubuh Bong Thian-gak, dimana angin pukulan itu
berhembus, beberapa ratus ekor nyamuk segera rontok ke
atas tanah.

Tapi gara-gara harus memperhatikan keselamatan Bong


Thian gak, akibatnya Thay-kun sendiri pun kena digigit tiga
ekor nyamuk pada pergelangan tangan kirinya, rasa sakit
yang kemudian timbul boleh dibilang merasuk sampai ke
tulang sumsum.

Thay-kun berseru tertahan, tubuhnya berguncang lebih


keras lagi.
Pendekar Cacat 530

Pada saat inilah mendadak Ji-kaucu mengayunkan tangan


kiri, segulung cahaya berwarna hitam dengan membawa
suara dengungan suara lebah laksana sambaran petir
menyambar ke tubuh Thay-kun.

Mimpi pun Bong Thian-gak tak mengira Ji-kaucu bisa


menyerang Thay-kun, bahkan menggunakan Lui-hong-sin-
hong.

Dalam gelisahnya, sambil membentak Bong Thian-gak


mengayun telapak tangan kanannya ke depan.

Angin serangan yang dahsyat dan kuat secara tepat


menghajar rontok Lui-hong-sin-hong itu.

Namun Lui-hong-sin-hong merupakan senjata andalan Jian-


bin-hu-li Ban Li-biau di masa lalu, kedahsyatannya luar
biasa walaupun angin serangan Bong Thian-gak berhasil
menghajar senjata rahasia itu, bukan berarti senjata itu
dapat dirontokkan seluruhnya.

Dengusan tertahan berkumandang memecah keheningan,


tahu-tahu punggung kanan Thay-kun terkena serangan dan
roboh tidak sadarkan diri.
Pendekar Cacat 531

Rupanya serangan yang digunakan Ji-kaucu untuk


melancarkan serangan itu telah menggunakan teknik yang
tinggi, bersamaan dengan babatan telapak tangan kanan
Bong Thian-gak, Ji-kaucu telah melayang maju.

"Cring", berkumandang suara gemerincing, tahu-tahu Ji-


kaucu telah melolos pedangnya, digunakan untuk
melancarkan serangan.

Kendatipun Bong Thian-gak tahu musuh akan


menggunakan pedang, namun dia tak menyangka terjangan
lawan dilakukan dengan kecepatan luar biasa, bahkan jurus
serangan yang digunakan pun begitu sempurna dan ganas.

Terdengar desingan angin tajam, tahu-tahu lengan kanan


Bong Ihian-gak telah mengucurkan darah, sementara
tubuhnya melayang mundur, sedangkan tangan kiri melolos
sebilah pedang emas.

Tapi pedang antik Ji-kaucu seakan sudah puas menjilat


darah dan menyusup kembali ke sarungnya, pedang telah
disarungkan kembali.

Benarkah serangan pedangnya begitu cepat dan dahsyat


sehingga Mikar diikuti pandangan mata?

Benar, serangan yang dilancarkan Ji-kaucu memang hanya


sejurus, j.u.ing ada jago lihai dunia persilatan yang berhasil
Pendekar Cacat 532

lolos dari ujung priLingnya dalam keadaan selamat, oleh


sebab itulah ia belum pernah melancarkan serangan kedua.

Suara tertawa dingin menyeramkan berkumandang dari


bibir Ji-kaucu.

Terdengar dia berkata, "Sudah sepuluh tahun lamanya aku


tak berlatih melolos pedang, tak nyana kau telah
memaksaku melanggar kebiasaanku, bahkan tidak
menemui ajal dalam satu gebrakan."

"Selama empat puluh tahun ini, kau merupakan jago lihai


pertama yang kujumpai, kau pun pantas menjadi musuhku,
meski akhirnya kau akan mati juga, kau boleh bangga dan
gembira karena kehormatan ini."

Kata-kata ini diucapkan tidak cepat tidak pula lambat,


seperti lagi menghibur seperti juga lagi memuji, bahkan
membawa keangkuhan.

Darah segar telah membasahi lengan kanan Bong Thian-


gak, dalam waktu singkat separoh tubuhnya telah basah
kuyup, walaupun mulut lukanya terasa sangat panas dan
sakit, namun dia tak berani bersikap gegabah teledor,
segenap perhatiannya dipusatkan menantikan datangnya
serangan kedua Ji-kaucu.
Pendekar Cacat 533

Saat inilah Bong Thian-gak baru merasakan betapa


menakutkan Ji-kaucu, hingga kini pemuda itu belum juga
mengerti bagaimana cara ia melancarkan serangannya, dia
pun tak tahu bagaimana dirinya bisa terbabat oleh mata
pedang lawan.

Ketika menghindar tadi, sudah jelas dia lolos dari mata


pedang itu sejauh setengah kaki, tapi mengapa pula mata
pedang musuh bisa memancar setengah kaki dari arah
serangan?

Dengan suara tenang dan lembut kembali Ji-kaucu berkata,


"Ia telah terkena jarum beracun pelumat tulangku,
sekarang pun sudah digigit nyamuk bangkai dari wilayah
Biau, ditambah pula terhajar jarum rahasia Sin-hong pada
bagian mematikan, aku rasa meski ada dewa yang turun
dari kahyangan pun tidak bisa menyelamatkan jiwanya.
Sedang kau? Tentu saja kau pun tak bisa hidup lebih lanjut,
karena tanpa kau sadari kau pun telah terkena racun jahat,
paling lambat tiga hari kemudian, racun itu akan bekerja
yang mengakibatkan kematian."

"Mengapa kau tak berani melancarkan seranganmu yang


kedua?" jengek Bong Thian-gak sambil tertawa dingin.
Pendekar Cacat 534

Sudah jelas Ji-kaucu hendak melancarkan serangan kedua,


tapi berhubung pertahanan yang dilakukan Bong Thian-gak
sangat ketat, hal itu membuatnya tidak berkesempatan
melakukan penyerangan.

"Kini kau ibarat seorang yang hampir mati," kata Ji-kaucu


dengan lembut. "Mati sekarang atau mati beberapa hari
lagi, apa pula bedanya!"

"Baik, jika kau enggan menyerang, biarlah aku yang


melancarkan serangan lebih dulu."

Begitu selesai berkata, Bong Thian-gak membabatkan


pedangnya bagaikan bianglala, secara beruntun dia
melepaskan tiga buah serangan dahsyat.

Tentu saja ketiga buah serangan itu dilancarkan Bong


Thian-gak dengan jurus serangan yang paling tangguh,
begitu serangan dilepaskan, cahaya tajam segera
menyambar.

Di bawah cecaran ketiga jurus serangan itu, dengan enteng


dan cekatan Ji-kaucu menghindarkan diri ke sana kemari.

Sementara itu Bong Thian-gak telah melompat ke sisi Thay-


kun setelah melancarkan ketiga buah serangannya itu,
kemudian tangan kanannya menyambar dan memeluk
pinggang Thay-kun, bersamaan itu juga pedang di tangan
kirinya diayunkan ke muka.
Pendekar Cacat 535

Sebilah pedang yang lemas tahu-tahu sudah berubah


menjadi tujuh dalam sekali ayunan tangan, seakan-akan
tujuh pisau terbang yang meluncur bersama menyerang Ji-
kaucu.

Sedangkan anak muda itu sendiri segera melompat ke


udara dan kabur dari situ.

Dia tak sempat melihat lagi apakah Ji-kaucu berhasil


meloloskan diri dari sergapan mautnya atau tidak, sekarang
dia hanya tahu bagaimana mengerahkan ilmu meringankan
tubuh untuk melarikan diri secepatnya dari situ.

Sudah barang tentu Ji-kaucu dapat melolos diri dari


ancaman ketujuh pisau terbang itu, hanya saja dia tak
melakukan pengejaran.

Sekulum senyuman dingin penuh perasaan bangga


menghiasi wajahnya, kemudian terdengar ia bergumam,
Tiada seorang pun di dunia ini yang dapat lolos dari ujung
pedangku dalam keadaan selamat, tidak terkecuali dirimu."

ooOOoo
Pendekar Cacat 536

Kabut fajar telah menyelimuti angkasa, begitu tebal dan


padat sehingga sulit untuk melihat keadaan di sekitar
tempat itu.

Sambil membopong Thay-kun, Bong Thian-gak melakukan


perjalanan dengan amat cepat.

Tiba-tiba ia merasa kepala pening sekali, tenggorokan


kering seperti mau retak, keempat anggota badannya
lemas tak bertenaga.

Keadaan ini mengejutkan Bong Thian-gak, diam-diam


pikirnya, "Kalau aku benar sudah terkena serangannya, wah
celaka! Apakah kami berdua harus tewas begini saja."

Ia berhenti untuk memperhatikan sekeliling tempat itu,


mendadak ia mendengar suara ombak memecah pantai,
sayang empat penjuru diselimuti kabut tebal sehingga dia
sendiri pun tak tahu sedang berada dimana.

"Mungkin kita berada di tepi sungai," pikir Bong Thian-gak.

Berpikir sampai di situ, mendadak perutnya terasa mual


ingin muntah, sayang tak setitik benda pun yang bisa
dimuntahkan.

Mendadak kakinya terasa lemas, Bong Thian-gak bersama


Thay-kun yang berada dalam bopongannya roboh
terjengkang ke atas tanah.
Pendekar Cacat 537

Waktu itu Thay-kun telah pingsan, mata terpejam rapat,


wajahnya pucat-pias seperti mayat, sedangkan di bahu
kanannya masih tertancap jarum Hui-hong yang masuk ke
dalam daging, keadaannya mengerikan sekali.

Waktu itu lengan kanannya sudah terkulai lemas,


sementara tangan kirinya merah bengkak.

Menyaksikan semua ini, Bong Thian-gak menghela napas


panjang, kemudian gumamnya, "Tidak enteng luka yang
diderita olehnya, ai ... sedangkan aku sendiri pun tak jauh
dari kematian."

Terbayang akan kematian, hati pemuda ini merasa pilu.

Dia menundukkan kepala memandang sekejap wajah cantik


dalam pelukannya, tanpa terasa dia merasa terhibur juga,
gumamnya sambil tertawa bodoh, "Thian benar-benar suka
mempermainkan umatnya, siapakah yang akan menduga
aku akan mati sambil memeluk gadis tercantik di dunia saat
ini, ah!"

"Perubahan yang terjadi dalam alam semesta memang


sukar diduga, sebenarnya dia terhitung musuhku yang
boleh diampuni, tapi kini telah berubah menjadi sahabat
karibku dalam perjalanan pulang ke alam baka, hal ini tak
pernah kubayangkan sebelumnya."
Pendekar Cacat 538

"Perhitungan Ku-lo Sinceng pun amat tepat, entah dia telah


memperhitungkan keadaanku dan Thay-kun belum?
Sesudah kami berdua tiada, Put-gwa-cin-kau pasti akan
meraja-rela tanpa seorang pun yang bisa membendung
mereka. Mungkinkah dunia persilatan akan dikuasai orang-
orang Put-gwa-cin-kau?"

"Mungkinkah berbagai perguruan besar akan musnah di


tangan mereka?"

Menghadapi ajal di depan mata, tak urung berbagai macam


pikiran muncul dalam benaknya, apalagi kesadaran Bong
Thian-gak mulai surut, tak aneh pikirannya tambah kalut.

Tiba-tiba terdengar suara rintihan lirih yang menghentikan


jalan pikiran Bong Thian-gak, cepat dia berpaling.

Tampak Thay-kun sedang mengerahkan tenaga lalu


mengedipkan mata dan membukanya pelan-pelan.

Ketika menyaksikan wajah Bong Thian-gak berada di


hadapannya, sambil tersenyum lantas dia berkata, "Dalam
impian aku seperti dipeluk olehmu, ternyata kau benar-
benar sedang memelukku."

Bong Thian-gak tersenyum.


Pendekar Cacat 539

"Aku yakin kau pasti akan sadar, nyatanya kau benar-benar


sadar!"

"Tapi dengan sadarku ini, kemungkinan besar saat


kematianku akan semakin dekat!" ucap Thay-kun sedih.

"Aku sendiri pun tak akan hidup lama."

Thay-kun terkejut oleh perkataan itu, serunya pula, "Kau


pun tak dapat hidup lama?"

"Ya, aku telah terkena serangan Ji-kaucu."

"Kau pun keracunan?"

Sampai di situ si nona telah melihat lengan kanan Bong


Thian-gak terluka, buru-buru katanya lagi, "Luka pada
lenganmu amat parah, apakah terluka oleh babatan pedang
Ji-kaucu?"

Bong Thian-gak tak menjawab, dia hanya manggut-


manggut.

Dengan sedih Thay-kun menghela napas panjang, "Pedang


Ji-kaucu amat lihai, konon sudah direndam racun yang
amat jahat, kalau begitu kau benar-benar telah terkena
racun."

Bong Thian-gak tertawa getir.


Pendekar Cacat 540

"Memang sepantasnya kita mati bersama!"

"Kau tak boleh mati, kau pasti tak akan mati."

"Jika Thian menyuruh kita berpulang, siapa mampu


menolak?"

"Mari kita pergi mencari seseorang."

"Tapi aku sudah tidak mampu bergerak lagi." Thay-kun


menghela napas sedih.

"Ai, kalau begitu, terpaksa kita berdua harus menunggu


kematian di sini."

"Coba tunggu sebentar, bila aku telah bertenaga lagi


barulah kita lanjutkan perjalanan."

Mendadak Thay-kun memejamkan mata, lalu berkata


lembut, "Hingga sekarang aku belum mengetahui namamu
yang sesungguhnya serta raut wajah aslimu."

"Buat apa kau menanyakan hal ini?"

Thay-kun tertunduk malu, bisiknya manja, "Sejak dilahirkan,


belum pernah aku dipeluk orang seperti ini."

"Ah!" Bong Thian-gak berseru tertahan. "Tapi aku tak


bermaksud mencari keuntungan dengan cara ini."
Pendekar Cacat 541

"Masih ingat malam itu ...." bisik Thay-kun lirih, ia tak


melanjutkan kata-katanya.

Walau begitu Bong Thian-gak telah mengetahui apa


gerangan yang dimaksud, buru-buru dia berkata, "Tapi aku
tidak bermaksud mengintipmu."

"Sudahlah! Sekarang aku sudah hampir mati, bersediakah


kau memberitahukan nama aslimu kepadaku?"

Bong Thian-gak menghela napas panjang.

"Tentu saja bersedia, aku she Bong bernama Thian-gak."

"Ah! Kalau begitu kau adalah murid keempat Thi-ciang-kan-


kun-hoan Oh Ciong-hu!"

"Aku telah dikeluarkan dari perguruan," bisik pemuda itu


sedih.

"Aku bisa memahami nasib tragis yang menimpa dirimu,


kau ingin mempertahankan nama baik Oh Ciong-hu dengan
cara begini, aku yakin arwah Oh-bengcu di alam baka tentu
sudah tahu akan hal ini dan bersedia menerimamu kembali
sebagai anggota perguruannya."

"Darimana kau bisa tahu tentang pengalaman tragis yang


menimpa diriku?" tanya Bong Thian-gak terkejut dan
keheranan.
Pendekar Cacat 542

Thay-kun tertawa, "Tahukah kau siapakah Go-kaucu Put-


gwa-cin-kau yang menyelinap dalam gedung Bu-lim
Bengcu? Dia tak lain adalah istri Oh Ciong-hu, Pek Yan-ling
adanya!"

Bong Thian-gak tidak mengira Go-kaucu adalah ibu gurunya


sendiri, darah yang menggelora dalam dada Bong Thian-gak
serasa mendidih, sambil menggigit bibir, katanya, "Sampai
sekarang wanita cabul itu belum juga menyesal, bila aku
masih dapat hidup, akan kucincang tubuhnya hingga
hancur berkeping-keping."

"Masih ada satu hal perlu aku beritahukan kepadamu, kau


anggap Siau Cu-beng sudah mati?"

Mencorong sinar tajam dari balik mata Bong Thian-gak,


serunya dengan cepat, "Siau Cu-beng! Sam-suhengku Siau
Cu-beng?"

"Kalau bukan dia, siapa lagi?"

Mendengar ucapan itu, hati Bong Thian-gak bergetar keras,


dari nada bicara Thay-kun, agaknya ia benar-benar
mengetahui amat jelas kejadian lama yang pernah
menimpanya bersama semua aib yang telah menimpa
perguruannya.
Pendekar Cacat 543

Mungkinkah Sam-suhengnya Siau Cu-beng yang terjatuh ke


dalam jurang benar-benar belum mati? Tapi dimanakah dia
sekarang?

Berpikir sampai di situ, sorot matanya segera dialihkan ke


arah Thay-kun.

"Walaupun Siau Cu-beng telah terhajar hingga tercebur ke


jurang oleh pukulanmu, sesungguhnya dia tak mati," kata
Thay-kun pula. "Ia benar-benar belum mati?" "Buat apa aku
membohongi dirimu!" "Lantas dimanakah Siau Cu-beng
sekarang?"

"Sewaktu jatuh ke dalam jurang tempo hari, sesungguhnya


Siau Cu-beng sudah sekarat dan tinggal menunggu ajal saja,
pada saat itulah muncul seorang bintang penolong yang
telah menyelamatkan jiwanya."

"Siapakah bintang penolongnya?"

"Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau! Bukan saja ia telah


menyelamatkan liwanya, bahkan dalam tujuh tahun yang
singkat, ia telah mewariskan ilmu silat yang maha dahsyat
kepadanya."

"Ah!" Bong Thian-gak menjerit kaget, "kalau begitu Siau Cu-


beng adalah...."
Pendekar Cacat 544

"Komandan nomor dua pasukan pengawal tanpa tanding


Put-gwa-cin-kau atau tepatnya orang berkerudung jubah
hitam itu."

Mendadak Bong Thian-gak berteriak, "Aku tak boleh mati,


aku harus hidup lebih lanjut, aku tak dapat membiarkan
Siau Cu-beng segar-bugar di dunia ini."

Entah darimana datangnya kekuatan, dengan cepat dia


merangkul kembali tubuh Thay-kun dengan lengan kirinya,
kemudian bertanya, "Kita harus berjalan menuju ke arah
mana?"

"Ke kota Lok-yang!"

"Itu berarti dua perjalanan," seru Bong Thian-gak dengan


tertegun. Thay-kun segera mengangguk.

"Ya, tempat ini adalah Tio-ko, bila menempuh perjalanan


sejauh satu li lagi kita akan sampai di kota, kemudian dari
situ kita dapat menumpang kereta menuju ke kota Lok-
yang."

***

Fajar baru saja menyingsing, sang surya memancarkan


cahaya keemas-emasannya dari ufuk timur, di hadapan
mereka terbentang sebuah sungai.
Pendekar Cacat 545

Sambil merangkul Thay-kun, selangkah demi selangkah


pelan-pelan Bong Thian-gak bergerak menuju ke depan
sana, tanyanya, "Ke Lok-yang kita harus mencari siapa?"

"Seorang tabib kenamaan yang mengasingkan diri di bawah


bukit Cui-im-hong, asalkan dia bersedia mengobati luka
kita, betapa pun parahnya luka yang kita derita, sudah pasti
dia bisa menyelamatkan jiwa kita dari ancaman bahaya."

"Seandainya dia menampik?" tanya Bong Thian-gak dengan


rasa kuatir.

Thay-kun tersenyum.

"Dia tak akan menampik permintaan kita!"

Dari nadanya, tampaknya gadis itu telah lama mengenal


tabib sakti itu, maka perasaannya menjadi tenang kembali.

Yang dikuatirkan olehnya sekarang adalah seandainya dia


serta Thay-kun tak bisa bertahan sampai kota Lok-yang.

Mendadak Thay-kun berseru tertahan, lalu melanjutkan,


"Bong-suko, di pinggangku terdapat sebuah botol kecil,
tolong ambilkan!"

"Botol? Buat apa botol itu?" Bong Thian-gak tertegun.

"Di dalam botol terdapat lima butir Tok-liong-wan, pil itu


berkhasiat melenyapkan berbagai macam pengaruh racun,
bila orang menelan sebutir, dalam tiga tahun dia tak usah
Pendekar Cacat 546

takut terrhadap serangan hawa racun, bahkan bisa


menguatkan isi perut."

Mendengar ucapannya itu, Bong Thian-gak menurut dan


segera merogoh pinggangnya

Benar juga di sana terdapat sebuah botol kecil berwarna


putih, sambil mengambil keluar benda itu, tanyanya, "Botol
kecil inikah yang kau butuhkan?"

"Benar, bukalah tutup botol itu dan ambillah sebutir,


langsung telan ke dalam mulut."

Pelan-pelan Bong Thian-gak membuka tutup botol itu dan


mengeluarkan sebutir pil sebesar kacang kedelai, terendus
bau harum semerbak.

Tanpa terasa dia membuka mulut dan menelan sebutir,


rasanya memang agak getir namun seketika itu juga
semangatnya terasa segar kembali.

"Ehm, obat bagus, obat bagus, ai, mengapa kau tidak


menelan sebutir?"

Thay-kun menghela napas sedih, "Seandainya aku tidak


menelan sebutir Tok-liong-wan lebih dulu, mungkin sejak
tadi nyawaku sudah melayang meninggalkan raga kasarku!"

"Benar, konon ilmu beracun Ji-kaucu tiada taranya di dunia


ini, sedangkan Thay-kun telah terkena beberapa racun
jahat sekaligus, nyatanya dia masih dapat hidup hingga
Pendekar Cacat 547

sekarang, nampaknya kita masih ada kesempatan untuk


hidup."

Berpikir sampai di sini, tanpa terasa ia telah menunjukkan


wajah berseri.

Terdengar Thay-kun berkata lagi, "Tok-liong-wan ini


merupakan h.idiah tabib sakti yang hidup mengasingkan
diri di bawah puncak Cui-ini-hong di luar kota Lok-yang, tiga
tahun berselang ia menghadiahkan enam butir pil itu
untukku."

"Menurut dia sendiri, pil ini dibuat dengan susah-payah,


bukan saja harus dimasak selama tiga tahun, juga cuma
dibuat delapan belas bulir saja, itulah sebabnya Tok-liong-
wan ini tak ternilai harganya."

"Ai, ternyata ucapan itu memang benar, Tok-liong-wan


telah menyelamatkan jiwa kita."

"Walaupun Tok-liong-wan memiliki khasiat luar biasa,


namun ilmu beracun Ji-kaucu bukan sembarang orang bisa
menandinginya, oleh karena itu lebih baik kita secepatnya
berangkat menuju ke kota Lok-yang."

Sejak menelan Tok-liong-wan, lambat-laun Bong Thian-gak


merasa betapa segar dan nyamannya sekujur tubuhnya,
tidak seperti tadi perutnya selalu mual dan ingin muntah
saja, penderitaannya bukan alang-kepalang.
Pendekar Cacat 548

"Ai! Sesampainya di kota Lok-yang nanti, aku harus


berterima kasih kepada tabib sakti itu!"

"Tabib itu berwatak aneh dan suka menyendiri," Thay-kun


menerangkan. "Sesampainya di sana nanti kau mesti
menuruti semua perkataanku, aku kuatir bila dia menampik
mengobati lukamu."

Mendengar ucapan itu, Bong Thian-gak tertawa.

"Asal kau dapat sampai di situ dengan selamat, soal mati-


hidupku bukan masalah yang terlalu penting."

"Kalau harus mati, kita mati bersama," bisik Thay-kun


pelan.

Sekali pun ucapan itu sangat sederhana dan tiada sesuatu


yang luar biasa, namun jauh melebihi beribu-ribu kata lain,
karena dari ucapan itu dia telah mengemukakan seluruh
perasaan hatinya yang sebenarnya.

Rupanya ucapan itu diutarakan ketika Bong Thian-gak


masih berada di dusun petani, ketika mendengar perkataan
itu diutarakan, hatinya tergetar, dia tak tahu haruskah
merasa girang atau sedih ataukah murung?

Sekali pun sedang bermimpi, Bong Thian-gak juga tak


berani menyangka gadis cantik jelita ini menaruh perasaan
kepadanya.
Pendekar Cacat 549

Tapi sekarang sudah jelas kalau dia telah mengutarakan


perasaan hatinya itu.

Dia nampak begitu cantik, siapakah lelaki di dunia ini yang


tak jatuh hati kepadanya, tidak ingin mempersunting dan
menjadikannya istri tercinta?

Justru karena dia kelewat cantik maka Bong Thian-gak


berani mengutarakan perasaannya itu, dia tak tahu
haruskah murung, sedih atau takut.

Akhirnya Bong Thian-gak dan Thay-kun menyewa sebuah


kereta di kota Tio-ko untuk melanjutkan perjalanannya
menuju ke kota Lok-yang.

Sebenarnya Bong Thian-gak ingin duduk bersama kusir di


depan, tapi berhubung Thay-kun takut jejak mereka
ketahuan lawan, terpaksa kedua orang itu harus
menumpang kereta bersama-sama.

Dengan demikian benih cinta yang baru ditanam di hati


mereka berdua pun dengan cepat bersemi dan tumbuh
menjadi besar.

Mungkin inilah suratan takdir yang telah menentukan


jodoh mereka.

Sejak Bong Thian-gak menelan Tok-liong-wan, keadaannya


boleh dibilang mirip orang biasa, sama sekali tidak
menunjukkan gejala keracunan, bahkan luka di lengan
Pendekar Cacat 550

kanannya juga tidak menunjukkan gejala merah atau


bengkak.

Thay-kun sendiri pun kelihatan amat jernih pikirannya,


namun sepasang lengannya sudah tidak mau menurut
perintahnya lagi, tak ubahnya seperti orang cacat.

Kereta berlari kencang di atas jalan berbatu, guncangan di


dalam kereta terasa amat kencang dan keras, membuat
Thay-kun yang duduk di sebelah kanan hampir saja jatuh
terjengkang.

Untung Bong Thian-gak bergerak cepat dengan menyambar


pinggang kirinya, lalu membiarkan dia bersandar di
pinggang sendiri.

Tiba-tiba Thay-kun berkata sambil tertawa manja, "Suheng,


seandainya sepasang tanganku benar-benar cacat, apakah
kau masih letap mencintai diriku?"

"Sekali pun kau telah berubah menjadi abu pun, aku akan
tetap mencintai dirimu," sahut Bong Thian-gak tanpa pikir
panjang.

"Benarkah itu?"

"Selamanya aku tak pernah berbohong, terutama di


hadapan gadis, aku lebih-lebih tak ingin membohonginya."

Tiba-tiba Thay-kun menghela napas panjang seraya berkata


lembut "Suheng, aku pernah membunuh banyak orang,
Pendekar Cacat 551

dalam agama Buddha dikatakan, 'siapa menanam


kejahatan, dia akan mendapat balasan yang setimpal'.
Sekarang aku benar-benar kuatir, bila suatu ketika aku
tewas dalam keadaan yang mengenaskan." Bong Thian-gak
turut menghela napas pula.

"Tiada manusia di dunia ini yang lolos dari kesalahan, orang


yang tahu salah dan mau bertobat itulah tindakan
kebajikan yang sejati! Bila sejak dulu kau telah memutuskan
untuk meninggalkan Put-gwa-cin-kau, mungkin akan
banyak dosa dan siksaan yang bisa dihindari."

Mata Thay-kun berkaca-kaca menahan linangan air mata.

"Mengapa aku tak dapat melupakan Put-gwa-cin-kau?


Karena perkumpulan ini ada sangkut-pautnya dengan asal-
usulku."

"Asal-usulmu?"

"Hingga sekarang aku belum dapat membuktikan Cong-


kaucu Put-gwa-cin-kau adalah ibu kandungku atau bukan."

'Seandainya dia benar-benar adalah ibumu?" tanya Bong


Thian-gak dengan perasaan tergetar.

"Semoga saja dia bukan ibuku, seandainya dia adalah ibuku,


tak nanti dia menurunkan perintah kepada Ji-kaucu untuk
membunuhku."
Pendekar Cacat 552

"Sumoay, karena ingin membuktikan hal itu maka kau


ragu."

"Sejak kecil aku sudah dibesarkan dalam lingkungan


demikian, lagi pula dalam benakku sudah tertanam bahwa
Cong-kaucu adalah ibu kandungku, bayangkan saja,
bagaimana mungkin aku dapat lolos dari samudra
penderitaan begitu saja?"

Mendengar perkataan itu, diam-diam Bong Thian-gak


menghela napas panjang, pikirnya, "Aku tak boleh
menyalahkan dia, setiap orang bila sedang dalam keadaan
begini, dia pun akan terperosok lebih jauh, hari ini dia bisa
meloloskan diri dari pengaruh Put-gwa-cin-kau pun sudah
merupakan sesuatu yang luar biasa."

Seseorang bila sedang dalam tekanan dan ancaman, walau


ingin melawan dan meloloskan diri dari keadaan itu, maka
dibutuhkan keberanian yang sangat besar.

Biasanya keberanian semacam ini tak dimiliki setiap orang.

***

Cui-im-hong merupakan nama sebuah bukit yang terletak


di luar kota Lok-yang sebelah utara, di depan bukit itu
terdapat sebuah sungai yang berhubungan dengan sungai
Lok-sui, di balik bukit merupakan rangkaian gunung
berlapis-lapis dan sambung-menyambung tiada ujungnya.
Pendekar Cacat 553

Menyusuri tepi sungai terbentang sebuah jalan raya yang


amat lebar, semakin ke arah bukit semakin sedikit pula
manusia berlalu lalang di sana.

Di tengah keheningan malam yang mencekam jagad, tiba-


tiba terdengar suara roda kereta yang bergema di jalan
raya, lalu muncul sebuah kereta mendekati tempat itu.
Akhirnya kereta ini berhenti di sebuah rumah.

Bangunan itu meliputi suatu daerah yang sangat luas,


empat penjuru sekeliling tempat itu penuh ditumbuhi
aneka macam bunga yang beraneka warna, dari kejauhan
pun sudah, dapat terendus bau harum bunga yang
semerbak.

Setelah berhenti sejenak, dari balik kereta kemudian


berjalan keluar seorang sastrawan pincang, dalam
bopongannya menggelendot seorang gadis cantik yang
lumpuh sepasang lengannya.

Dari sakunya Bong Thian-gak mengeluarkan sekeping uang


perak untuk membayar ongkos kereta, kemudian dia
mengangkat kepala dan memandang sekejap bangunan itu,
katanya pelan, "Tampaknya orang sudah tidur."

Thay-kun ikut mengangkat kepala memandang keadaan


cuaca, kemudian menyahut, "Sekarang tak lebih kentongan
pertama."

Bicara sampai di situ, tiba-tiba firasat jelek melintas di


benaknya.
Pendekar Cacat 554

Ternyata suasana di dalam bangunan besar di kaki bukit ini


gelap gulita, tiada cahaya lentera, tiada suara manusia,
keadaan tak jauh berbeda dengan kota mati.

Sementara itu kereta sudah pergi jauh, di bawah kaki bukit


tinggal mereka berdua saja.

Mendadak paras muka Bong Thian-gak berubah hebat,


bisiknya, "Ada orang datang."

Tampak tiga bayangan orang muncul di situ, mereka bukan


keluar dari balik pintu gerbang, melainkan melompat turun
dari atas atap mmah, dalam dua kali lompatan saja mereka
sudah melayang turun di hadapan Bong Thian-gak.

Ketiga orang itu terdiri dari dua orang lelaki berperawakan


tinggi besar dan seorang berkerudung berbaju hitam.

Berhadapan dengan orang berkerudung berbaju hitam itu,


kontan mencorong sinar berapi-api dari balik mata Bong
Thian-gak.

Sedangkan paras Thay-kun juga berubah hebat, tanyanya


dengan suara gemetar, "Berapa orang di antara kalian yang
telah datang?"

Orang berkerudung berbaju hitam itu tertawa dingin.

"Racun yang dilepaskan Ji-kaucu mungkin saja kehilangan


kehebatannya di tubuh kalian berdua, namun
perhitunganku tak akan pernah meleset."
Pendekar Cacat 555

"Jit-kaucu, apabila kau tahu diri, ikutlah aku pulang, siapa


tahu Cong-kaucu akan meninggalkan sebuah jalan
kehidupan bagimu!"

Sementara itu berbagai pikiran telah berkecamuk dalam


benak Bong Thian-gak, dia lantas berpikir, "Sanggupkah aku
seorang melawan mereka bertiga?"

Seandainya dalam keadaan biasa, Bong Thian-gak percaya


masih sanggup bertarung melawan ketiga orang itu,
seandainya kalah, ia masih sanggup melarikan diri.

Tapi sekarang dia menyadari tak mempunyai kekuatan


seperti itu.

"Gi Jian-cau berada di dalam," sahut orang berkerudung


berbaju hitam hambar.

"Kau telah melukainya?"

"Dia pernah menyelamatkan jiwaku, dia masih terhitung


tuan penolongku sendiri, karenanya aku tak mungkin
berbuat demikian, kau pun tak usah berbuat demikian."

Mendengar ucapan itu, Thay-kun menghela napas panjang,


"Ai, kenapa aku tak pernah berpikir kau pun pernah
menjadi tamu di rumah kediaman tabib sakti Gi Jian-cau."

Orang berkerudung tertawa dingin, "Betul, ilmu pertabiban


G i Jian-cau memang luar biasa, terutama kemampuannya
membuat obat, boleh dibilang tiada duanya di dunia ini dan
Pendekar Cacat 556

hal ini rasanya hanya diketahui oleh Cong-kaucu, kau dan


aku bertiga saja."

"Tapi sekarang telah bertambah banyak orang yang


mengetahui rahasia ini."

Mencorong sinar tajam dari bilik mata orang berbaju hitam


itu, ujarnya kemudian sambil tertawa, "Apakah malam ini
kalian masih ingin meninggalkan tempat ini dalam keadaan
hidup?"

Mendadak Bong Thian-gak berseru, "Siau Cu-beng, aku


hendak membunuhmu!"

Tergetar keras perasaan orang berbaju hitam itu setelah


namanya disebut Bong Thian-gak, kemudian setelah
tertawa dingin, serunya, "Sungguh tak kusangka Jit-kaucu
telah mengingkari sumpah sendiri dengan membocorkan
rahasia terbesar partai kita, kalau begitu dosa dan
kesalahan Jit-kaucu sudah tak bisa dimaafkan lagi!"

Ternyata rahasia terbesar Put-gwa-cin-kau adalah


menghilangkan nama asli tokoh-tokohnya dengan
mengganti namanya memakai urutan nomor, itulah
sebabnya hingga kini orang-orang yang berkumpul dalam
Put-gwa-cin-kau sebagai pemimpin jarang diketahui asal-
usulnya oleh orang lain, bahkan dianggap misterius sekali.

Perbuatan pertama yang harus dilakukan setiap orang yang


bergabung dengan Put-gwa-cin-kau adalah bersumpah
untuk tidak membocorkan rahasia tokoh-tokoh dalam
Pendekar Cacat 557

perkumpulan itu, barang siapa berani melanggar sumpah


itu, maka dosanya tidak terampuni lagi, malah bisa dijatuhi
siksaan yang paling keji.

Thay-kun sendiri pun terperanjat sekali mendengar Bong


Thian-gak menyebutkan nama Siau Cu-beng, serunya pula,
"Suheng, kau ... kau tidak boleh ...."

Mendengar seruan itu Bong Thian-gak amat terperanjat, ia


tahu gadis itu melarang dirinya mengungkap asal-usulnya
yang sebenarnya.

Akan tetapi gerak-gerik mereka ini semakin mencurigakan


Siau Cu-beng, dia segera berpikir, "Siapakah dia? Bukankah
dia adalah Ko Hong?"

Berpikir demikian, orang berkerudung kemudian berkata,


"Pandai amat saudara menyaru, sebenarnya siapakah
dirimu?"

"Ko Hong!" jawab Bong Thian-gak hambar.

"Kau bukan Ko Hong!" bentak orang berkerudung. "Hm!


Aku mempunyai cara untuk mengetahui asal-usulmu yang
sebenarnya!"

Begitu selesai berkata, dia lantas mengulap tangan kirinya,


kedua orang yang berdiri di sisinya serentak maju dengan
langkah lebar.
Pendekar Cacat 558

Kepandaian silat pasukan berbaju perlente pengawal tanpa


tanding telah dilihat dan dicoba oleh Bong Thian-gak
beberapa hari lalu, di saat mereka menyerbu ke dalam
gedung Bu-lim Bengcu tempo hari.

Waktu itu Goan-ko Taysu dari Siau-lim-si serta Wan-pit-


kim-to (Golok emas berlengan monyet) Ang Thong-lam dari
Tiam-jong-pay melakukan pertarungan sengit melawan
mereka, hal ini menunjukkan betapa hebatnya ilmu
mereka.

***
Pendekar Cacat 559

8
BERDIRINYA TIONG-YANG-HWE

P ada hari biasa tentu Bong Thian-gak tak takut


terhadap mereka, namun berbeda sekarang ini.

Dia sendiri telah keracunan hebat, walaupun telah


menelan Tok-liong-wan yang bisa mencegah beredarnya
racun menyerang isi perut, hingga pikirannya tetap jernih
dan tak ubahnya seperti keadaan sehat.

Padahal Bong Thian-gak sendiri tahu lengan kanannya yang


terluka bacokan masih terasa linu dan kaku, tenaganya
sama sekali tak mampu dikerahkan ke situ.

Tapi menghadapi musuh yang semakin mendesak, dia pun


sadar, bila musuh tak segera dibinasakan, akibatnya tak
bisa dibayangkan.
Pendekar Cacat 560

Ingatan itu melintas di benaknya, Bong Thian-gak segera


meraung gusar, telapak tangan kiri diayun ke depan dan
langkah kakinya bergeser berulang kali, kemudian
melepaskan sebuah bacokan maut ke depan.

Dimana serangannya dilancarkan seakan-akan sama sekali


tak bertenaga, karena tak terdengar sedikit suara pun.

Padahal siapa menduga dalam serangan ini Bong Thian-gak


telah mengerahkan segenap kekuatannya.

Tiba-tiba saja terdengar dua kali jeritan ngeri yang


memilukan hati berkumandang memecah keheningan.

Dua orang pengawal tanpa tanding yang maju ke muka


berhenti di tengah jalan, tiba-tiba badannya berubah
seperti tak bertulang, dengan lemas dan tak bertenaga
mereka roboh terduduk ke tanah.

Namun setelah terduduk, mereka pun tak pernah


merangkak bangun kembali.

Seluruh tulang mereka telah terhajar hancur oleh tenaga


maha dahsyat itu, bagaimana mungkin mereka bisa
merangkak bangun? Mereka tewas seketika, tewas tanpa
penderitaan sedikit pun. Bong Thian-gak sendiri
sempoyongan setelah melancarkan dua buah serangan itu,
matanya berkunang-kunang dan kepala amat pening,
Pendekar Cacat 561

hampir saja ia roboh tak sadarkan diri, dadanya menjadi


sesak dan tak

mampu bernapas.

Sungguh suatu penderitaan yang hebat, dia sampai


terbungkuk-bungkuk dibuatnya.

Jit-kaucu Thay-kun menjerit keras, "Ke ... kenapa kau?"

Dengan susah payah dia menggeser tubuh mendekati Bong


Thian-gak, sementara air mata bercucuran membasahi
wajahnya yang cantik.

Kulit Bong Thian-gak mengencang keras, lalu serunya


dengan suara gemetar, "Kau ... kau mundurlah ke sisiku,
aku ... aku ... aku sudah lak sanggup mempertahankan diri
lagi...."

Dalam pada itu orang berkerudung sudah dibuat terpukau


dan terkesiap oleh kedahsyatan serangan Bong Thian-gak
yang berhasil membunuh kedua anak buahnya dalam sekali
pukulan.

Dia berdiri tak berkutik, sementara sepasang matanya


mengawasi kedua sosok mayat yang tergeletak lemas di
tanah tanpa berkedip.
Pendekar Cacat 562

Dia pernah terhajar oleh serangan Bong Thian-gak, dia


pernah menyaksikan pula Liok-kaucu terkena pukulannya
hingga jatuh dari lengah udara dan sekarang dia
menyaksikan pula bagaimana musuh membinasakan kedua
pengawal tanpa tanding yang berilmu tinggi ikilam sekali
gebrakan saja.

Tenaga pukulan yang begitu dahsyat dan mengerikan ini


membuat hatinya terkesiap.

Mendadak ia menyaksikan penderitaan yang dialami Bong


Thian-gak, segera pikirnya dalam hati, "Mungkin dia pura-
pura kesakitan untuk memancing keteledoranku, lalu
secara tiba-tiba melancarkan

serangan mematikan?"

Oleh karena bersangsi, maka untuk beberapa saat orang itu


tak herani berkutik, dia hanya berdiri diam.

Thay-kun yang berada di sisinya dapat membaca suara hati


orang berkerudung itu, ia memang kuatir orang itu benar-
benar melancarkan serangan pada saat demikian.

Maka sambil tertawa dingin jengeknya, "Siau Cu-beng,


mengapa kau tidak melancarkan seranganmu?"

Orang berkerudung tertawa dingin, "Jit-kaucu, berani amat


kau menyebut namaku secara langsung?"
Pendekar Cacat 563

"Mengapa tidak? Sekarang aku sudah mengundurkan diri


dari Put-gwa-cin-kau, sejak kini semua perbuatan terkutuk
dan memalukan yang dilakukan orang-orang Put-gwa-cin-
kau akan segera terbeber di Bu-lim ...."

Belum selesai dia berkata, segulung angin berhembus


membawa segulung bau harum yang aneh, bau harum
mirip bau harum bunga anggrek, tapi seperti juga aroma
tertentu.

Bau harum itu datangnya sedikit aneh, seolah-olah


disebarkan dari angkasa hingga permukaan bumi dipenuhi
bau harum itu.

Bong Thian-gak yang sedang duduk bersila di atas tanah


pun ikut menghirup bau itu, hanya saja ia tak menaruh
perhatian.

Berbeda dengan Thay-kun, paras mukanya segera berubah


pucat-pias seperti mayat, sekujur tubuhnya gemetar keras,
sementara dari balik matanya memancar rasa kaget,
seluruh wajahnya diliputi perasaan ngeri.

Siau Cu-beng segera menunjukkan reaksi yang berlawanan,


dari balik sorot matanya segera memancar perasaan girang,
bangga dan lega.
Pendekar Cacat 564

Pada saat itulah dari tengah kebun bunga tabib sakti Gi


Jian-cau telah bertambah dengan sebuah tandu. Tandu
yang luar biasa besarnya.

Di kedua sisi tandu berdiri dua baris orang, ada lelaki ada
pula perempuan, mereka berjumlah dua puluh empat
orang, tapi berhubung jaraknya kelewat jauh, apalagi
suasana di sekitar tempat itu gelap-gulita, sulit baginya
untuk melihat dengan jelas.

Padahal Thay-kun dan Siau Cu-beng tak perlu memeriksa


lagi juga sudah tahu siapa gerangan yang akan muncul.

Bong Thian-gak mendongakkan kepala, dia pun melihat


bayangan tandu besar serta bayangan orang itu.

Dengan perasaan bergetar, keluhnya dalam hati,


"Mungkinkah dia?"

"Siapakah dia?"

Tentu saja yang dimaksud adalah Cong-kaucu Put-gwa-cin-


kau.

Suasana sekeliling tempat itu sunyi-senyap, sedemikian


heningnya sampai-sampai suara Thay-kun yang gemetar
keras dapat terdengar dengan jelas.
Pendekar Cacat 565

Pada saat inilah Thay-kun menyadari nasibnya, betapa


gawat situasi yang sedang dihadapinya sekarang.

Kematian bukan sesuatu yang menakutkan, yang patut


disedihkan adalah Bong Thian-gak bakal mati pula bersama
dia.

Mendadak terdengar suara lembut dan halus


berkumandang memecah keheningan.

"Kun-ji, setelah bertemu diriku, mengapa kau malah


ketakutan setengah mati?"

Suara lembut itu berasal dari balik tandu, besar di hadapan


mereka, bukan saja suaranya lembut bahkan sangat jelas,
seakan-akan sedang berbicara berhadapan.

Thay-kun yang dipanggil menggigit bibir, dengan suara


penuh kebimbangan dia berkata, "Apa yang hendak kau
lakukan, silakan saja dilaksanakan atas diriku, bagiku
kematian bukan sesuatu yang terlalu menakutkan, dua
puluh tahun lagi aku akan muncul kembali sebagai
manusia...."

"Murid murtad!" tiba-tiba Siau Cu-beng membentak.


"Berani kau bicara seperti itu terhadap Cong-kaucu."
Pendekar Cacat 566

Sementara itu suara lembut dan merdu kembali


berkumandang, "Kun-ji, kau benar-benar seorang yang lupa
budi, sia-sia aku mendidik dan merawatmu selama dua
puluh tahun, ai ... perbuatanmu membuat hatiku pedih."

Mendadak Thay-kun mendongakkan kepala sambil tertawa


terkekeh-kekeh, suaranya penuh dengan kepedihan dan
penderitaan.

Selesai tertawa, dengan suara dingin ucapnya, "Dua puluh


tahun belakangan ini, sudah amat besar pengorbanan yang
Thay-kun perbuat untuk membayar budi kebaikanmu itu.
Thay-kun merasa sudah tidak berhutang budi lagi
kepadamu, sekarang satu-satunya persoalan yang
membuatku tak dapat melupakan adalah asal-usulku ...
mungkinkah aku adalah putrimu?"

Hingga sekarang Thay-kun masih belum tahu nama


marganya, seingatnya dia sudah di sisi Cong-kaucu sejak
kecil, tapi dia tahu bahwa dirinya pasti bukan putri
perempuan itu.

Kendati dia tahu, Thay-kun masih tetap bingung dan kuatir.

Tampaknya Cong-kaucu enggan menjelaskan pertanyaan


itu, sampai lama sekali belum terdengar juga jawabannya.

Dalam pada itu Bong Thian-gak telah bangkit, sambil


menepuk bahunya dengan tangan kiri, dia berbisik lirih,
Pendekar Cacat 567

"Sumoay, segala sesuatunya Thian yang menentukan,


kematian bukan sesuatu yang mengerikan, aku gembira
sekali dapat mati bersamamu."

Sekujur badan Thay-kun gemetar keras, bisiknya kemudian,


"Suheng, kau tak boleh mati begitu saja, kau harus
membalas dendam, balas dendam bagiku, kau pun harus
membalas dendam bagi mereka yang telah dibunuh oleh
orang-orang Put-gwa-cin-kau."

Bong Thian-gak tertawa pedih.

"Nasib kita terlalu tragis, terlalu mengenaskan ...."

"Kau kan bisa melarikan diri."

"Dengan kondisi sekarang, mustahil! Aku dapat melarikan


diri cuma sejauh tujuh langkah!"

Tiba-tiba Thay-kun berbisik lirih, "Di dalam sakuku masih


terdapat empat buah butir Tok-liong-wan, pil itu memang
sengaja aku sediakan untukmu. Cepat ambil dari dalam
sakuku dan telanlah keempat butir itu sekaligus, siapa tahu
setelah menelan keempat butir pil itu, kau akan mati
seketika, tapi kemungkinan juga akan membangkitkan
kekuatan dan hawa murni dalam tubuhmu."
Pendekar Cacat 568

"Aku tahu, meskipun demikian sungguh berbahaya sekali,


namun kita harus mencobanya."

"Andaikan nasib kita kurang beruntung sehingga setelah


menelan Tok-liong-wan ini kau mati, aku pun akan segera
menggigit lidahku untuk bunuh diri, aku dapat mati di
sisimu. Bila kau beruntung tidak mati, maka kau dapat
berusaha menerjang keluar dari kepungan ini, sedangkan
aku akan berusaha keras melanjutkan hidup, apabila masih
ada harapan, tak nanti kau membiarkan aku begitu saja."

Mendengar ucapan itu, ibarat orang di tengah gurun yang


tiba-tiba menemukan air, walaupun harapan itu sedikit
sekali, namun Bong Thian-gak dapat merasakan betapa
besarnya harapan itu.

Perkataan Thay-kun sudah cukup jelas, seandainya dia tidak


berbuat demikian, berarti dia mempunyai satu jalan untuk
mati. Atau dengan perkataan lain, persoalan sudah gawat,
tiada pilihan lain lagi.

Maka Bong Thian-gak segera menggeser tangan kirinya ke


arah pinggang Thay-kun, kemudian merogoh ke dalam
sakunya dan mengambil keluar botol obat itu.

Dia tidak ragu-ragu lagi, dengan cepat tutup botol dibuka,


lalu hendak menuang seluruh isi botol ke dalam mulutnya.
Pendekar Cacat 569

Belum selesai dia mengerjakan hal itu, tiba-tiba terdengar


Cong-kaucu berseru, "Wakil komandan Siau, bunuh dulu
yang pria, sedangkan Jit-kaucu akan kuhukum sendiri."

Siau Cu-beng bermata jeli, dapat melihat perbuatan Bong


Thian-gak, secepat kilat dia melolos pedang pendeknya,
kemudian secepat sambaran kilat membacok ke depan.

Ilmu silat Siau Cu-beng sudah pernah disaksikan Bong


Thian-gak beberapa hari berselang, dia pun tahu jurus
pedangnya sangat aneh, ganas dan cepat.

Bahkan beberapa hari yang lalu, karena bersikap kurang


waspada, Bong Thian-gak telah merasakan tusukan pedang
Siau Cu-beng, apalagi sekarang tangan kirinya sedang
meraih obat untuk ditelan, sedang serangan musuh sudah
meluncur tiba.

Siau Cu-beng memang tak malu disebut seorang berakal


busuk, dalam melancarkan sergapannya ini, pedang yang
satu menyerang Thay-kun, pedang yang lain menyapu
tubuh bagian tengah Bong Thian-gak, sekaligus menutup
jalan mundurnya.

Sebenarnya Bong Thian-gak masih dapat melompat


mundur menghindar, tetapi dengan demikian Thay-kun
pasti akan termakan tusukan pedang itu.
Pendekar Cacat 570

Dalam keadaan gelisah dan cemas, Bong Thian-gak sama


sekali tidak menyadari tusukan musuh terhadap Thay-kun
hanya serangan tipuan saja.

Maka dalam kaget dan cemasnya, Bong Thian-gak


menumbuk tubuh Thay-kun dengan sikut kirinya,
bersamaan itu pula tangan kanannya melayang ke atas
menyampuk pedang musuh yang membabat ke arah urat
nadi pergelangan tangan kirinya.

Waktu itu sepasang tangan Thay-kun telah cacat,


bagaimana mungkin dia dapat menghindarkan diri dari
sikutan anak muda itu.

"Aduh!"

Di tengah teriakan kerasnya, tubuh Thay-kun roboh


terjengkang. Namun dengan mata terbelalak Thay-kun
dapat melihat tusukan pedang Siau Cu-beng yang semula
ditujukan ke arahnya itu kini sudah miring ke samping,
bahkan secepat kilat membacok ke arah lengan kanan Bong
Thian-gak.

Waktu itu lengan kanan Bong Thian-gak telah menjadi kaku,


untuk bergerak pun tak dapat, apalagi untuk menghadapi
perubahan jurus serangan Siau Cu-beng yang dilancarkan
dengan begitu cepat, ganas dan berbahaya.

Thay-kun menjerit kaget.


Pendekar Cacat 571

Di tengah jeritan itulah, lengan kanan Bong Thian-gak telah


terpapas kutung sebatas bahu.

Darah segera mengucur dengan derasnya, sedang Bong


Thian-gak sendiri pun mundur sejauh tiga langkah dengan
sempoyongan.

Mimpi pun dia tak menyangka setelah dua buah otot kaki
kirinya dikutungi Siau Cu-beng pada tujuh tahun berselang
hingga membuatnya pincang, tujuh tahun kemudian dia
harus kehilangan lengan kanannya di tangan orang yang
sama.

Pada hakikatnya keadaannya sekarang tak ubahnya orang


cacat.

Dalam gusar dan sedihnya, cepat dia menelan empat butir


Tok-liong-wan itu ke dalam mulut, kemudian telapak
tangan kiri melepaskan sebuah pukulan dahsyat dari jarak
jauh.

Selama ini Siau Cu-beng cukup tahu kelihaian ilmu pukulan


lawan, dia paling jeri menghadapi serangan maut Bong
Thian-gak.
Pendekar Cacat 572

Begitu angin pukulan lawan dilancarkan ke depan, cepat dia


menenteng pedangnya melompat ke samping untuk
menghindar.

Segulung angin pukulan yang amat dahsyat dengan


membawa debu dan pasir yang beterbangan di angkasa
langsung menyapu ke depan dan menyambar sejauh
puluhan kaki.

Angin pukulan yang sangat dahsyat itu benar-benar


mengerikan, membuat setiap orang bergidik.

Gagal dengan serangannya yang maha dahsyat itu, cahaya


sinar pedang Siau Cu-beng segera menyusul tiba, bagaikan
dua ekor naga sakti yang terbang di angkasa hebatnya.

Pertarungan antara jago lihai, yang diutamakan adalah


kelihaian memanfaatkan kesempatan, kali ini terpaksa
Bong Thian-gak mundur dari balik kepungan cahaya pedang
itu.

Darah segar masih bercucuran deras dari lengannya yang


kutung itu, kini Bong Thian-gak telah berubah menjadi
manusia darah.

Thay-kun merasa sakit hati menyaksikan kejadian itu,


segera teriaknya keras, "Suheng, kenapa kau tidak
melarikan diri saja?"
Pendekar Cacat 573

Meski lengan kanan Bong Thian-gak baru kutung, darah


masih bercucuran dengan amat derasnya, namun dia sama
sekali tak merasa sakit karena lengannya itu sesungguhnya
sudah kaku dan hilang rasa.

Sambil mengertak gigi, untuk kesekian kalinya dia


melancarkan pukulan menggunakan telapak tangan kiri.

Tentu saja Siau Cu-beng tak berani menyambut serangan


itu dengan kekerasan.

Kali ini Bong Thian-gak bertindak lebih cerdik, baru saja dia
melancarkan pukulan, tubuhnya sudah melompat ke
samping Thay-kun, cepat tangan kirinya menyambar tubuh
Thay-kun dan memeluknya kencang.

Thay-kun tahu pemuda ini hendak mengajaknya kabur, dia


tidak membiarkan anak muda itu mewujudkan
keinginannya.

Setelah melepaskan diri dari pelukan Bong Thian-gak,


mendadak gadis itu bergulingan di tanah, teriaknya,
"Suheng, bila kau tidak pergi, terpaksa aku menggigit lidah
dan bunuh diri lebih dulu."
Pendekar Cacat 574

Suaranya mengenaskan seperti jeritan monyet di selat Wa-


sia atau lolongan serigala di tengah malam, keadaannya
sungguh menyeramkan.

Sementara itu Siau Cu-beng telah menerjang maju, kali ini


dia mengubah taktik permainan pedangnya, sepasang
pedangnya bagaikan dua buah pisau belati melepaskan
serangan dengan teknik menggaet, membabat dan
menjojoh.

Dalam waktu singkat dia telah melancarkan delapan


serangan dahsyat.

Menghadapi serangan gencar musuh, Bong Thian-gak


terdesak hebat hingga tiada kesempatan untuk
melancarkan serangan balasan.

Berada dalam keadaan seperti ini, terpaksa dia harus


berkelit sambil mundur berulang-kali.

Tampaknya Cong-kaucu telah mengetahui pemuda ini


memiliki kepandaian silat melebihi orang lain, mustahil bagi
Siau Cu-beng untuk menaklukkan dirinya. Maka dengan
cepat perintahnya, "Dua belas pengawal, cepat bantu wakil
komandan Siau membunuh jahanam itu!"
Pendekar Cacat 575

Thay-kun cukup mengetahui ketangguhan kedua belas


pengawal lelaki-perempuan di samping tandu Cong-kaucu,
kepandaian silat mereka aneh, lihainya bukan kepalang.

Dengan perasan cemas dan gelisah, kembali gadis itu


berteriak, "Suheng, bila kau tidak pergi, kita akan mati
bersama di sini!"

Sementara itu dua belas sosok bayangan orang telah


melompati dinding pendek secara beruntun dan menerjang
tiba dengan kecepatan luar biasa.

"Baik!" seru Bong Thian-gak emosi. "Aku akan pergi! Kau


tak boleh mati!"

Tampaknya Bong Thian-gak telah berkeputusan, tubuhnya


segera meloloskan diri dari kepungan cahaya pedang,
kemudian melompat jauh.

Tapi dua belas sosok bayangan orang yang menerjang tiba


itu seperti sudah menduga Bong Thian-gak akan
meloloskan diri dari kepungan, maka enam di antara
mereka menghadang ke arah selatan, sedang enam sisanya
mengepung dari arah utara.
Pendekar Cacat 576

Mereka adalah dua orang perempuan dan seorang laki-laki,


yang perempuan bersenjata pedang pendek, sedang yang
laki-laki bersenjata tombak panjang.

Pengawal bersenjata tombak melancarkan tusukan lebih


dahulu.

Tusukan itu dilancarkan dengan dahsyat.

Waktu itu Bong Thian-gak sudah bertekad menerjang


keluar dari kepungan untuk melarikan diri, tiada ingatan
untuk mundur, diiringi bentakan gusar, telapak tangan
kirinya segera diayunkan ke depan.

Meskipun jurus serangan baru saja dilancarkan, namun


hawa pukulan tak berwujud sudah meluncur ke depan
dengan cepat.

Pengawal bertombak itu sama sekali tak menyangka musuh


bakal melancarkan serangan di saat tombak itu sudah
berada di hadapannya, pertarungan ini untuk mengadu
jiwa.

Asalkan gerak serangan Bong Thian-gak selangkah lebih


lambat, sudah pasti dia tak akan lolos dari tusukan tombak
itu, tentu saja serangan pukulan pun ada kemungkinan
membunuh lawannya.
Pendekar Cacat 577

Hanya saja pengawal bertombak itu sudah melalaikan


kecepatan angin pukulan yang dilancarkan Bong Thian-gak.

Dengusan tertahan berkumandang, tahu-tahu pengawal itu


sudah terkena pukulan tak berwujud hingga tubuh berikut
tombak mencelat, tak dapat disangsikan lagi isi perutnya
hancur tak keruan.

Baru saja serangan itu dilepaskan, sepasang pedang pendek


kedua pengawal perempuan sudah menyerang tiba dari kiri
dan kanan.

Keadaan Bong Thian-gak kini ibarat binatang buas yang


terluka, di antara putaran telapak tangan kirinya, segulung
angin pukulan telah meluncur ke depan dan menghajar
orang di sebelah kanan, sedangkan kaki kanan menendang
orang yang berada di sebelah kiri.

Jurus serangan yang digunakan merupakan jurus-jurus


tangguh yang jarang ditemui dalam Bu-lim.

Benar juga, kedua orang pengawal itu segera menjerit


tertahan, kemudian roboh terjengkang di atas tanah.
Pendekar Cacat 578

Ilmu silat yang mengerikan itu menggetarkan hati, dalam


waktu singkat beruntun tiga pengawal lelaki perempuan
sudah roboh binasa.

Saat pembantaian agak terhenti inilah sebilah pedang telah


menyusup datang dari arah belakang punggung Bong
Thian-gak tanpa menimbulkan sedikit suara pun.

Penyergapnya adalah Siau Cu-beng, hanya dia yang bisa


mencapai sasaran dalam waktu singkat.

Walau Bong Thian-gak merasakan datangnya serangan


pedang itu, sayang tiada kesempatan lagi baginya untuk
menghindar, terpaksa dia harus menerjang ke depan
dengan sepenuh tenaga.

Tahu-tahu pinggang kirinya sudah terasa dingin dan panas.


Di atas tubuh Bong Thian-gak telah bertambah dengan
sebuah luka memanjang, untung hanya luka ringan, namun
darah segera bercucuran dengan derasnya.

Karena terhenti, dua orang pengawal bertombak segera


menyerbu, satu dari kiri dan yang lain dari kanan.

Bong Thian-gak benar-benar terdesak hebat, sambil


mengertak ^igi, pukulan tanpa tandingannya sekali lagi
dilontarkan ke depan.
Pendekar Cacat 579

Dimana angin pukulannya menyambar, selalu ada yang


roboh in kapar, namun setiap kali Bong Thian-gak berhasil
membunuh orang, tubuhnya bertambah pula dengan
sebuah tusukan pedang Siau Cu-beng.

Secara beruntun Bong Thian-gak telah membinasakan


delapan orang pengawal lelaki perempuan, namun
tubuhnya pun sudah tidak ada bagian yang utuh.

Keadaannya sekarang sudah tidak berwujud manusia lagi,


dia lebih mirip sesosok manusia darah, iblis berwajah
menyeramkan.

Namun semangatnya untuk mempertahankan hidup


membuat dia tak sampai roboh.

Pertempuran yang mendebarkan hati masih berlangsung


terus, berlangsung dan berkembang dengan hebatnya.

Bayangan mereka pun makin lama semakin tertarik jauh di


bawah sinar rembulan.

Thay-kun yang menyaksikan keberanian serta kenekatan


Bong Thian-gak dalam melakukan perlawanan, segera
bergumam, "Dia pasti dapat menerjang keluar kepungan,
dia pasti dapat hidup lebih jauh ...."

Ucapan itu diulang-ulang, sementara air matanya


bercucuran membuat pandangan matanya menjadi kabur,
Pendekar Cacat 580

ia tak dapat menyaksikan jalannya pertarungan lagi, tidak


mendengar pula suara apa pun.

ooOOoo

Cahaya rembulan menyinari tanah perbukitan. Air mengalir


deras menyusuri sungai yang meliuk-liuk di antara celah
bukit.

Di bawah sinar rembulan, tampak sesosok bayangan


sedang merangkak di atas jalanan batu di tepi sungai.

Dia adalah sesosok manusia darah, hampir sekujur


tubuhnya tubuhnya berlepotan darah.

Darah sudah hampir mengering dari sekujur tubuhnya,


mulut luka yang memenuhi sekujur tubuhnya seperti
sarang lebah, sedang mulut luka pada lengan kanannya
yang kutung kini sudah tidak nampak darah meleleh.

Setiap orang yang memandang luka-luka itu pasti tak akan


percaya kalau dia masih bisa hidup.

Benar, dia masih hidup, bahkan sedang merayap di sisi


sungai berusaha mencari air.
Pendekar Cacat 581

Namun keadaan tubuhnya yang begitu lemah,


membuatnya sukar untuk menggerakkan badannya barang
sejengkal.

Dia hanya bisa mencengkeram sebuah batu kecil dengan


kelima jari tangan kirinya yang dijulurkan ke depan,
bibirnya ternganga lebar penuh noda darah, sementara
sepasang matanya mengawasi air sungai tanpa berkedip.

Dia sangat haus, luka yang memenuhi seluruh badannya


membuat suhu badannya meningkat, dia membutuhkan air
untuk menghilangkan dahaganya, namun dia telah
kehabisan tenaga untuk maju.

Akhirnya dia putus-asa, dia tahu ajalnya sudah berada di


depan mata, segala macam penderitaan tak akan menyiksa
dirinya lagi.

Berada dalam keadaan dan situasi seperti ini, dia tidak


terpengaruh oleh perasaan benci dan dendam, dia pun tak
terpengaruh oleh napsu atau angkara murka.

Dia hanya tahu kelima jari tangan kirinya makin melemas,


matanya semakin kabur dan berat.
Pendekar Cacat 582

Di saat yang kritis inilah mendadak telinganya seperti


menangkap serangkaian irama nyanyian yang merdu lincah
dan penuh gairah.

Bong Thian-gak tahu dirinya sudah hampir mencapai suatu


dunia yang lain, entah neraka, entah surga.

"Ah, mungkin inilah nirwana, kalau tidak, mengapa


terdengar suara nyanyian yang merdu merayu."

Suara nyanyian itu kian lama kian bertambah dekat, namun


suara itu makin lama semakin lemah dan samar-samar.

Kejernihan otaknya makin lama semakin membuyar.

Tak selang lama kemudian, dari ujung sungai sana benar-


benar muncul seorang gadis berjalan mendekat.

Sambil membawakan nyanyian yang merdu dan penuh


gembira, dia berjalan menyusuri sungai dan menuju ke arah
pemuda itu.

Meendadak ia menjerit kaget.

Ternyata dia telah menyaksikan Bong Thian-gak dengan


sekujur tubuhnya yang penuh berlepotan darah, sepanjang
hidupnya belum pernah ia jumpai darah sebanyak ini, maka
saking kaget dan cemasnya, sekujur tubuhnya gemetar
keras.
Pendekar Cacat 583

Bila suatu ketika menemukan sesosok tubuh manusia yang


bermandikan darah di tengah hutan belantara yang jauh
dari keramaian, siapakah yang tak terperanjat? Jangankan
seorang yang bernyali kecil, betapa pun besarnya nyali
seorang, akan dibikin ketakutan setengah mati, apalagi
seorang gadis muda.

Tanpa banyak bicara, gadis itu membalikkan badan dan


segera melarikan diri.

Namun baru berlari empat-lima langkah, dia menghentikan


langkahnya, kemudian pelan-pelan berpaling memandang
tubuh Bong Thian-gak yang tak berkutik.

"Dia kan manusia ...." gumamnya, "mengapa aku harus


takut...."

Setelah merasa yakin yang dihadapinya adalah manusia,


perasaan takutnya sedikit berkurang, bahkan pelan-pelan
dia menghampiri Bong Thian-gak.

Kejernihan pikiran Bong Thian-gak waktu itu sudah mulai


pudar, sekali pun dia tahu ada orang sedang
menghampirinya, namun dia sama sekali tidak punya
kekuatan untuk membuka mata, apalagi kekuatan untuk
bicara.
Pendekar Cacat 584

Gadis itu membelalakkan matanya yang jeli, setelah


mengawasi tubuh Bong Thian-gak, ia lihat pemuda itu
masih bernapas.

Maka sambil menghela napas, gumamnya, "Begini parah


luka yang diderita orang ini, apakah dia masih bisa hidup."

Dia lantas berjongkok sambil memegang jidat Bong Thian-


gak, namun dengan terperanjat serunya, "Ah, panas sekali
tubuhnya."

Bila panas, air dingin bisa menghilangkan panas itu, inilah


cara kuno untuk menurunkan suhu panas tubuh manusia.

Dengan cepat gadis itu mengambil sapu-tangannya, setelah


direndam air sungai segera ditempelkan ke atas jidat Bong
Thian-gak.

Sebenarnya kesadaran Bong Thian-gak sudah mulai


memudar, namun memperoleh rangsangan air dingin itu,
sekujur tubuhnya segera bergetar dan pikirannya pun
jernih kembali.

"Air ... air ...." serunya lirih.

Walaupun dia mencoba berteriak, sesungguhnya tiada


sedikit suara pun yang terdengar.
Pendekar Cacat 585

Gadis itu pun dapat menyaksikan bibir orang bergetar,


namun dia tak tahu apa yang diucapkan olehnya, dia hanya
menunggu hingga sapu-tangan itu menjadi panas dan
segera direndam kembali ke dalam air, lalu setelah sapu-
tangan itu menjadi dingin, dia pun menempelkan pada
jidatnya kembali.

Akhirnya Bong Thian-gak dapat berbisik lirih, "Air ... air ...."
Gadis itu berseru tertahan, dengan cepat dia berjalan
menuju ke sungai, digayungnya segenggam air, kemudian
dengan hati-hati sekali mengalirkan air ke mulut si pemuda
melalui celah-celah jari tangannya. "Aku haus ... aku haus
sekali... air ... air ...."

Suara teriakan Bong Thian-gak makin lama semakin keras.


Dengan cepat gadis itu menggayung air lagi dengan telapak
tangannya dan mengalirkan ke mulut pemuda itu.

Demikian seterusnya hingga tujuh kali sebelum akhirnya


pelan-pelan Bong Thian-gak membuka matanya.

Waktu itu kentongan kelima sudah lewat, dari ufuk timur


muncul cahaya keemas-emasan, namun suasana dalam
lembah itu masih agak redup dan samar-samar, namun
secara lamat-lamat masih dapat melihat keadaan di
sekitarnya.
Pendekar Cacat 586

Pemuda itu tahu gadis muda itulah yang telah


menyelamatkan jiwanya, dia memakai baju tipis berwarna
biru.

"Nona ... kau ... kaukah yang telah menyelamatkan jiwaku."

"Ssst! Jangan bicara dulu, parah sekali lukamu," cepat si


nona menukas dengan suaranya yang merdu.

Sembari berkata, gadis itu kembali mencelupkan sapu-


tangannya ke sungai, kemudian mengompres kembali jidat
anak muda itu.

Lambat-laun hari semakin terang, kini si nona dapat melihat


jelas keadaan luka di sekujur tubuh Bong Thian-gak.

Menyaksikan semua itu, si gadis terbungkam saking


terperanjat, tanpa terasa dia membatin, "Ah, mana
mungkin dia dapat hidup dalam keadaan semacam ini?
Benar-benar suatu kejadian yang luar biasa?"

Kini kesadaran Bong Thian-gak benar-benar telah jernih,


dengan penuh rasa terima kasih katanya, "Nona, banyak
terima kasih atas pertolonganmu, andai aku dapat hidup
lebih lanjut, budi kebaikanmu ini pasti akan kubalas."

"Kau telah berkelahi dengan orang?" tanya si nona lembut.


Pendekar Cacat 587

"Ai, orang-orang Put-gwa-cin-kau hendak membunuhku,"


sahut Bong Thian-gak dengan menghela napas panjang.

"Apa itu Put-gwa-cin-kau?" si nona membelalakkan mata.

Segera Bong Thian-gak sadar dia sedang berhadapan


dengan seorang gadis biasa, yang sama sekali tidak
mengenal dunia persilatan.

Maka sembari menghela napas, katanya kemudian, "Bila


lukaku telah sembuh nanti, pasti akan kuceritakan semua
kejadian yang sebenarnya kepadamu."

"Aku berdiam dalam lembah sana dekat air terjun,


bagaimana kalau kau merawat lukanmu di gubukku saja?"

"Mungkin hidupku tak akan lama lagi," suara Bong Thian-


gak agak pilu.

"Kau pasti dapat hidup terus," hibur si nona dengan suara


lembut. "Aku tahu kau amat kuat dan gagah, kalau tidak,
dengan luka yang begini parah, kau pasti sudah tewas sejak
tadi."

Dengan cepat Bong Thian-gak menggeleng.


Pendekar Cacat 588

"Aku bukan hanya menderita luka bacokan di sekujur


tubuhku, namun juga keracunan."

Begitu mendengar tentang keracunan, gadis itu berseru


pelan, "Ah, orang tuaku pun ajal karena keracunan."

Sampai di situ, mata gadis itu pun memerah, hampir saja air
matanya jatuh bercucuran.

Agak tertegun Bong Thian-gak oleh ucapan itu, cepat dia


bertanya, "Orang tuamu telah meninggal? Lantas kau
tinggal bersama siapa?"

"Sejak tiga tahun lalu, ketika kedua orang tuaku meninggal,


aku tinggal seorang diri di tempat ini."

Bong Thian-gak makin terharu mendengar ucapan itu,


seorang gadis yang lemah ternyata berdiam seorang diri di
tengah lembah yang jauh dari keramaian, sungguh kejadian
ini merupakan suatu peristiwa yang aneh.

Tiga tahun bukan jangka waktu yang pendek, namun dia


dapal hidup menyendiri di sana.

Bong Thian-gak tidak ingin memikirkan hal itu, segera


sahutnya, "Bila nona bersedia menerimaku, untuk
sementara waktu aku akan berteduh di rumahmu."
Pendekar Cacat 589

Gadis itu gembira sekali, dengan cepat dia berseru, "Aku


merana kesepian hidup seorang diri di sini, bila kau
bersedia menemaniku, hal ini memang jauh lebih baik."

Tanpa mengindahkan darah yang mengotori sekujur tubuh


Bong Thian-gak, ia segera memapah tubuh pemuda itu,
kemudian mereka pelan-pelan berjalan menuju ke arah
utara.

Sebuah air terjun yang mengalir dari sembilan puncak,


pelan-pelan memuntahkan airnya ke dasar lembah yang
dalam.

Air mengalir mengikuti sebuah sungai yang berliku-liku dan


membentang jauh ke depan.

Di tepi sungai di sebelah kiri air terjun, berdiri tiga buah


gubuk.

Dalam gubuk itu, berdiamlah seorang lelaki dan seorang


perempuan.

Yang lelaki adalah pemuda berlengan buntung, berkaki


pincang dan berwajah tampan, hanya sayang wajahnya
agak pucat.

Sedang yang perempuan adalah seorang nona berkulit


putih dan berwajah cantik.

Setiap hari selain menebang kayu mencari kayu bakar,


pemuda berlengan tunggal berkaki pincang itu
Pendekar Cacat 590

menghabiskan sebagian besar waktunya duduk melamun di


atas batu karang di tepi air terjun.

Selama tiga tahun ini siang-malam dia selalu duduk


menyendiri, entah apa saja yang sedang dipikirkan
olehnya?

Senja ini pemuda berlengan tunggal itu kembali duduk


bersila di atas batu karang sambil memejamkan mata
memikirkan sesuatu.

Mendadak pemuda cacat itu menggerakkan lengan kirinya


bagaikan kerasukan setan, gerakan itu dilakukan ke arah air
terjun itu.

Seandainya di situ hadir jago persilatan, niscaya akan


terperanjat menyaksikan tingkah-laku si anak muda itu.

Ternyata setiap pukulan, setiap bacokan, totokan jari


maupun ««-ngkeraman yang dilancarkan pemuda cacat itu
hampir semuanya mengandung jurus yang tiada-taranya.

Selain jurus serangan maha dahsyat yang dilancarkan


pemuda itu sangat banyak, tenaga dalamnya pun sangat
mengerikan, setiap terkena pukulannya, air terjun yang
sedang muntah ke bawah, selalu arah arusnya berubah dari
posisi semula.

Ada kalanya air yang mengalir terpotong menjadi dua, ada


kalanya muncul ruang di balik air terjun itu. Pukulan tak
Pendekar Cacat 591

berwujud yang dilancarkan olehnya bisa mengendalikan


curah air terjun di hadapannya.

Tenaga dalam semacam ini pada hakikatnya mengerikan.

Tiba-tiba suara pekikan nyaring menggema memecah


keheningan, pemuda itu melompat bangun dari atas batu
karang, tahu-tahu pada genggaman tangan kirinya telah
bertambah dengan sebilah pedang kayu.

Tubuhnya melejit ke udara, kemudian menerjang ke arah


air terjun itu.

Dalam waktu singkat pemuda itu telah melancarkan tujuh


buah bacokan berantai dengan menggunakan pedang
kayunya, memainkan tujuh jurus serangan yang berbeda.

Kemudian dalam waktu singkat dia telah melayang kembali


ke atas batu karang.

Ia dengan cepat mengangkat pedangnya dan memandang


sekejap pedang kayunya itu.

Memang sukar untuk dipercaya, ternyata pedang kayunya


itu sama sekali tidak terkena percikan air.

Tadi jelas pemuda cacat itu telah melancarkan tujuh buah


bacokan kilat ke arah air terjun itu, namun kenyataan
pedang kayu itu sama sekali tidak basah oleh butiran air
yang memercik, dari sini dapat diketahui betapa cepatnya
serangan pedang yang dilancarkan pemuda itu.
Pendekar Cacat 592

Sedemikian cepatnya hingga pada hakikatnya


kecepatannya tak bisa dibandingkan dengan apa pun.

Tatkala pemuda cacat itu tidak menemukan bekas air di


atas kayunya, sekulum senyuman segera menghiasi
wajahnya yang tampak pucat-pias.

Itulah senyuman penuh kegembiraan dan kepuasan.

Selama tiga tahun memeras otak, akhirnya dia berhasil


memahami ilmu pukulan yang maha dahsyat.

Kedua macam kepandaian sakti itu berhasil dipahami


olehnya sesudah lengannya kutung dan hidup terpencil di
lembah itu, dengan dasar tenaga Tat-mo-khi-kang dari Siau-
lim-pay tingkat sepuluh sebagai dasar kekuatan yang
dikombinasikan dengan ilmu sakti berbagai perguruan, ia
berhasil menciptakan kepandaian sakti itu.

Selama tiga tahun berjuang berlatih dengan rajin dan


tekun, akhirnya dia berhasil, perjuangannya selama ini tidak
sia-sia, ia merasa amat puas.

Tapi saat itulah si gadis berdiri di belakangnya dengan


wajah termangu, dari balik matanya yang jeli nampak dua
baris air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya.

Pemuda cacat itu menarik kembali pedang kayunya, lalu


membalikkan badan, tiba-tiba saja dia lihat gadis itu berdiri
di situ.
Pendekar Cacat 593

"Siau-hui, kau menangis?" kata pemuda cacat itu dengan


suara pilu dan menghela napas sedih.

Dengan cepat nona baju biru itu menyeka air mata yang
membasahi pipinya, kemudian berkata dengan lembut,
"Bong-toako, aku tidak menangis."

Selama tiga tahun, beratus-ratus kali Bong Thian-gak


menyaksikan gadis itu diam-diam melelehkan air mata,
namun setiap kali dia selalu mengatakan dirinya tidak
menangis.

Mengapa dia menangis?

Tentu saja Bong Thian-gak mengetahui perasaan gadis itu,


namun dia hanya bisa menghela napas secara diam-diam,
lalu menghibur dan membujuknya dengan nada seorang
kakak yang mencintai adik perempuannya.

Bong Thian-gak turun dari batu cadas itu, lalu merangkul


bahunya dengan mesra, bisiknya lembut, "Leng-hui,
nasinya sudah matang?"

"Sudah! Aku memang hendak memanggilmu untuk


bersantap," sahut si nona tersenyum manis.

Sambil berpelukan mesra, pelan-pelan mereka berdua


berjalan menuju ke gubuk.

Malam telah menyelimuti seluruh jagad, terutama di dalam


lembah yang terpencil itu.
Pendekar Cacat 594

Di ruang tengah gubuk itu nampak lentera telah disulut, di


atas sebuah meja nampak dihidangkan empat macam
sayur, dua macam ayam dan bakpao.

Kecuali hidangan itu, di atas meja tersedia tiga botol arak


wangi.

Menyaksikan botol arak di meja, Bong Thian-gak nampak


tertegun, lalu sambil berpaling dan memandang sekejap ke
arah si nona, tanyanya, "Leng-hui, darimana datangnya
arak?"

Selama tiga tahun ia berdiam di situ, belum pernah


dijumpai ada arak di situ, tentu saja dia pun tak pernah
mengendus bau arak.

"Arak itu peninggalan orang tuaku enam tahun lalu," kata


Song Leng-hui. "Ayahku selalu menyimpan arak di gudang
bawah tanah, besok kau hendak pergi meninggalkan aku,
maka malam ini aku hendak mengantar kepergianmu."

Walaupun ucapan itu diutarakan dengan menahan gejolak


perasaan dan emosi, namun ketika sampai pada ucapan
yang terakhir, suaranya terdengar agak gemetar.

Bong Thian-gak menghela napas sedih.


Pendekar Cacat 595

"Aku pasti akan balik kemari, aku tak akan membiarkan kau
hidup sebatang-kara di tengah bukit yang terpencil ini."
Song Leng-hui tersenyum.

"Di saat Toako datang kemari, kau telah menentukan pula


akan pergi meninggalkan tempat ini, tiada perjamuan di
dunia ini yang tak bubar, apalagi hanya perpisahan
sementara waktu?"

Walau hatinya merasa kacau, namun Song Leng-hui


berusaha mengendalikan diri.

Dia tahu, bagaimana pun juga dia tak mungkin bisa


menahan Bong Thian-gak di sana, lantas buat apa dia mesti
banyak bicara?

Tapi sikapnya yang berbeda itu membuat Bong Thian-gak


merasa lebih sedih dan menderita.

Selama tiga tahun, siang-malam mereka hidup bersama,


dalam hati Bong Thian-gak, Song Leng-hui sudah
menempati posisi yang kuat dan tak bisa diganggu gugat
lagi, sesungguhnya dia bukannya tak mencintainya, tetapi
tak berani untuk mencintai dirinya.

Dalam hatinya, Song Leng-hui adalah bidadari, gadis suci


bersih.
Pendekar Cacat 596

Ia belum dijangkiti kebiasan jelek dari masyarakat, dia


nampak begitu suci, bersih dan menawan hati.

Oleh sebab itu Bong Thian-gak selalu menganggapnya


seperti adik kandung sendiri, ia tidak berani mempunyai
pikiran sesat terhadap dirinya.

Sebab dia tahu dirinya tak lebih hanya seorang tukang silat
kasar, dia hanya manusia yang sepanjang hidupnya
luntang-lantung dalam Bu-lim, berduel dengan malaikat
elmaut, dia tak pantas untuk mencintai gadis suci itu.

Karena bila dia sampai mencintainya, maka hal ini sama


artinya dengan menyia-nyiakan dirinya, mencelakai dirinya,
maka dia hanya berusaha keras mengendalikan
perasaannya itu dan tidak membiarkan berkembang.

Seandainya Bong Thian-gak boleh memilih di antara tiga


gadis yang pernah dijumpainya selama hidup, yakni Oh
Cian-giok, Thay-kun dan Song Leng-hui, maka orang yang
tak dapat dilupakan olehnya adalah Song Leng-hui.

Dia tak pernah belajar ilmu silat, dia tidak mempunyai


kebiasaan jelek, dia nampak begitu lembut, begitu halus,
tenang, luwes dan cantik.
Pendekar Cacat 597

Bong Thian-gak merasakan darah yang menggelora dalam


dadanya bergolak keras, katanya, "Siau-hui, aku ... aku akan
mengajakmu keluar dari tempat ini!"

Sudah berulang kali dia mengucapkan kata-kata itu, akan


tetapi setiap kali Song Leng-hui selalu menggeleng kepala
sambil berkata, "Aku lelah bersumpah tak akan
meninggalkan pusara orang tuaku untuk selamanya, lagi
pula kehadiranku di sisimu hanya akan menyusahkan
dirimu saja, aku tahu sepeninggalmu dari sini, kau akan
membunuh banyak orang jahat. Memang bagi seorang
lelaki yang berlatih silat lempat bergeraknya adalah dunia
persilatan, sudah sewajarnya bila melakukan suatu
pekerjaan besar."

"Pergilah, aku akan tetap menantimu hingga kau kembali,"


kata Song Leng-hui sambil memenuhi cawan Bong Thian-
gak dengan arak, sedangkan dia sendiri pun memenuhi
cawan sendiri dengan arak.

Setelah itu, sambil mengangkat cawan araknya dia berkata,


Semoga Toako sehat walafiat selalu."

Selesai berkata, gadis itu segera meneguk habis cawannya.

Bong Thian-gak pun segera meneguk cawannya sendiri.


Pendekar Cacat 598

Arak itu harum baunya, tak salah kalau dikatakan arak


bagus.

Di luar ruangan hanya suara pohon cemara yang terhembus


angin dan suara air terjun.

Cahaya lentera yang redup menyoroti wajah sepasang


muda-mudi yang merah membara itu.

Besar sekali takaran minum Song Leng-hui, cawan demi


cawan dia menemani Bong Thian-gak meneguk habis arak
di hadapannya, hawa arak telah membuat wajahnya
menjadi merah membara, namun justru karena itu dia jauh
nampak lebih cantik dan menarik.

Waktu itu Bong Thian-gak sedang diliputi perasaan murung


dan duka, arak memang merupakan kebutuhan yang
penting dalam suasana seperti ini, dia hendak
menggunakan arak untuk menghilangkan kemurungannya,
namun kemurungan serasa makin bertambah, dia ingin
menggunakan arak untuk membuatnya mabuk, apa mau
dikata dia justru tak pernah menjadi mabuk.

Sementara itu Song Leng-hui telah bergeser duduk di


sampingnya, lalu dengan suara manja bisiknya, "Toako, kau
harus kembali dengan cepat, karena aku ... aku telah
menjadi milikmu untuk selamanya."
Pendekar Cacat 599

Sudah tiga tahun lamanya dia menyimpan ucapan ini dalam


hati, baru hari ini dapat diutarakan.

Arak memang racun yang mudah mengacaukan jalan


pikiran orang, apalagi tiga botol arak sekaligus, dengan
cepat arak itu berubah menjadi obat perangsang cinta yang
amat kuat.

Ketika Song Leng-hui bergeser dan duduk di sampingnya,


pemuda itu segera mengendus bau harum khas seorang
gadis.

Akhirnya Bong Thian-gak tak mampu mengendalikan


gejolak hawa panas dalam tubuhnya lagi, tak tahan dia
segera merangkul gadis itu dan memeluknya kencang.

"Ehm!" Song Leng-hui mengerang lirih, seluruh tubuhnya


segera dijatuhkan ke dalam pelukannya.

Ketika rambutnya yang halus menempel di leher Bong


Thian-gak, segera timbul perasaan gatal yang aneh.

Bong Thian-gak semakin tak sanggup mengendalikan


gejolak perasaannya lagi, dengan cepat dia menundukkan
kepala, mencium pipinya yang putih dan halus dengan
hangat penuh kemesraan.

Tampaknya malam ini Song Leng-hui telah mengambil


keputusan untuk....
Pendekar Cacat 600

Dia membalikkan tubuh, kemudian balas memeluk tubuh


Bong Thian-gak dengan hangat, bibirnya yang merah
membalas ciuman pemuda itu dan menghisap lidah Bong
Thian-gak dengan lembutnya.

Perasaan mereka seakan hendak melompat keluar dari


rongga dadanya, sukma mereka seakan-akan
membumbung tinggi ke udara.

Selama tiga tahun terakhir ini, baru pertama kali ini mereka
berdua berpelukan sambil berciuman dengan mesra, dan
ciuman itupun merupakan ciuman pertama, mereka belum
tahu apakah itu mesra, manis, hangat ataukah gembira.

Udara serasa berputar, bumi bagaikan berguncang, mereka


lupa apa akibatnya, lebih-lebih tak mengerti apa yang
dinamakan menjaga batas kesopanan.

Napas Bong Thian-gak mulai memburu, dia memeluk tubuh


si gadis dengan semakin bernapsu.

Akhirnya Song Leng-hui berbisik lirih, "Toako, apa yang


ingin kau lakukan, lakukanlah sekehendak hatimu, aku
sudah menjadi milikmu, seluruh tubuhku adalah milikmu."

Arak telah membuat Bong Thian-gak melupakan segala-


galanya, dia mulai melangkah menuju ke tempat tidur.
Pendekar Cacat 601

Di sanalah terletak kamar tidur Song Leng-hui, tampaknya


gadis itu sudah mempersiapkan segalanya, seprei, kasur,
bantal, dan kelambu lelah diatur dengan bersih dan
menyenangkan.

Bong Thian-gak membaringkan tubuhnya di atas


pembaringan, sedang Song Leng-hui seakan-akan sudah
kaku pikirannya, dia memeluk lubuh Bong Thian-gak erat-
erat dan menarik pemuda itu sehingga bergulingan di atas
pembaringan.

Kini pakaian yang dikenakan Song Leng-hui sudah terlepas,


kulit badannya yang putih halus bagaikan salju, setengah
terlihat setengah tersembunyi di balik pakaian dalamnya.

Gemetar keras seluruh tubuh Song Leng-hui, mendadak dia


mulai merintih, "Oh, Toako ... kau ... kau cepatlah."

Berada dalam keadaan seperti itu, sekalipun Bong Thian-


gak berada dalam keadaan sadar pun, tak nanti bisa
mengendalikan diri.

Apalagi sekarang pengaruh alkohol sudah menguasai


kesadaran biaknya dan lambat-laun mengobarkan api
napsu birahinya yang makin memuncak.

Dengan penuh kegarangan dan kebuasan, Bong Thian-gak


menerkam ke depan dan menindih tubuh gadis itu.
Pendekar Cacat 602

Rintihan lirih dan dengusan napas berdesis dari bibir Song


Leng-hui yang mungil.

Tentu saja kegembiraan dan kenikmatan telah


menghilangkan seluruh rasa sakit dan perih yang dirasakan
olehnya.

Hujan badai pun segera datang menderu-deru dan


menyapu seluruh jagat.

Cahaya lentera berkedip dimainkan angin dan


memercikkan setitik cahaya menerangi sebuah
pembaringan.

Titik-titik noda merah memercik di atas seprei berwarna


putih dan menciptakan aneka bunga yang sangat indah.

Bong Thian-gak membelalakkan mata mengawasi tubuh


Song Leng-hui yang bugil dan indah itu dengan termangu.

Pengaruh alkohol yang mempengaruhi benaknya telah


hilang sebagian besar, sekarang dia sedang menyesal,
mengapa dia secara keji harus merenggut kesucian tubuh
gadis itu, yang sudah dipertahankan selama dua puluh
tahun.
Pendekar Cacat 603

Song Leng-hui tidak menyesal, juga tidak malu, sesudah


menghela napas sedih, ujarnya, "Toako, kau jangan
bersedih, asalkan mencintaiku sesungguh hati, cepat atau
lambat kita akan mengalami juga malam pertama seperti
ini, aku takut kau tak akan kembali lagi untuk selamanya,
maka aku telah bertekad mempersembahkan kesucian
tubuhku padamu malam ini juga. Kau tak usah memikirkan
persoalan ini, cukup kau ingat saja kalau di tengah sebuah
lembah yang terpencil masih ada seorang gadis bernama
Song Leng-hui yang setiap saat mengharapkan kembalinya
dirimu, asal kau ingat hal itu, sudah lebih dari cukup!"

Bong Thian-gak ingin menangis, namun tak bisa


mengeluarkan suara, tiba-tiba dia menubruk ke badan Song
Leng-hui dan berkata lirih, "Siau-hui, mengapa kau berbuat
begini? Mengapa kau harus berbuat begini? Aku ... aku
merasa telah berbuat salah kepadamu, cinta kasih yang kau
berikan untukku tak nanti bisa kubalas untuk selamanya."

Song Leng-hui memeluk tubuh Bong Thian-gak dengan


mesra dan membelai lengannya yang kutung dengan penuh
kasih sayang, lalu katanya lembut, "Setelah kepergianmu
besok, kau harus baik-baik menjaga dirimu, kau sudah
menjadi orang cacat, aku tahu kepandaian silatmu tinggi,
namun di Bu-lim masih terdapat banyak persoalan yang tak
dapat diselesaikan dengan mengandalkan kepandaian
silat."

Keadaan Song Leng-hui sekarang bagaikan ibu yang penuh


kasih sayang menasehati anaknya yang hendak pergi jauh.
Pendekar Cacat 604

Tiga tahun bukan jangka waktu yang pendek, dunia


persilatan yang luas bagaikan awan di angkasa, berbagai
perubahan sudah terjadi selama tiga tahun ini, bahkan
boleh dibilang perubahan yang amat besar.

Sejak Bong Thian-gak lenyap dari dunia persilatan, Put-gwa-


cin-kau, perkumpulan rahasia yang amat besar itu turut
lenyap dari keramaian dunia persilatan.

Menyusul hilangnya perkumpulan itu, nama besar Kay-pang


dan Hiat-kiam-bun pun semakin menanjak dalam Bu-lim.

Kay-pang adalah perkumpulan yang mempunyai sejarah


paling lama di Bu-lim, cara kerja mereka antara jalan lurus
dan sesat, konon ketuanya adalah seorang yang sangat lihai
dan luar biasa.

Siapakah ketua Kay-pang? Tak seorang pun tahu.

Namun pedang milik ketua pengemis pernah menggidikkan


hati setiap jago dunia persilatan.

Menurut kabar, sebab-musabab menghilangnya Put-gwa-


cin-kau dari dunia persilatan akibat kelihaian pedang ketua
Kay-pang.

Hiat-kiam-bun (Perkumpulan pedang darah) adalah


perguruan yang amat rahasia, keji dan buas. Gerak-gerik
mereka di Bu-lim selalu dibarengi dengan pembunuhan
berdarah.
Pendekar Cacat 605

Siapakah ketua Hiat-kiam-bun? Tentu saja lebih-lebih tiada


orang yang tahu dengan jelas.

Para jago dari sembilan partai besar yang berkumpul dalam


gedung Bu-lim Bengcu di kota Kay-hong pun sejak tiga
tahun lalu sudah membubarkan diri.

Bubarnya persekutuan dunia persilatan ini aneh sekali,


konon dalam satu malam saja segenap anggota yang
berada dalam gedung itu lenyap, mati hidupnya sampai kini
masih teka-teki. Peristiwa itu berlangsung tiga tahun
berselang. Tiga bulan terakhir ini di Bu-lim lagi-lagi muncul
dua peristiwa yang menggetarkan sukma.

Kedua peristiwa itu menyangkut seorang laki dan seorang


wanita.

Yang perempuan adalah iblis yang berwajah cantik jelita


bak bidadari dari kahyangan.

Wajahnya yang begitu cantik dan menawan, pada


hakikatnya banyak sudah lelaki yang dipikatnya, bahkan
perempuan itu bersedia digauli semalam suntuk, cuma
esok harinya lelaki itu ditemukan tewas.

Dalam tiga bulan belakangan ini sering tersiar berita


tentang ditemukannya jenazah lelaki yang terkapar dengan
telanjang bulat.
Pendekar Cacat 606

Sebaliknya yang lelaki berilmu sangat tinggi, selama tiga


bulan terakhir ini sudah ada seratus orang lebih yang kalah
di tangannya.

Kelihaian lelaki itu konon melebihi kedahsyatan Mo-kiam-


sin-kun To Tian-seng yang pernah menggetarkan dunia
persilatan puluhan tahun lalu.

Asalkan pedangnya sudah dilolos dari sarungnya, tak


pernah ada korban yang dibiarkan hidup.

Namun jago pedang yang muncul ini punya sedikit


perbedaan dengan Mo-kiam-sin-kun To Tian-seng, karena
pedang yang tersoreng di pinggangnya bukanlah pedang
mustika, melainkan pedang kayu tumpul, bahkan jago
pedang itu seorang cacat, berlengan tunggal dan pincang.

***

Musim gugur sudah tiba, daun kering berguguran


terhembus angin kencang.

Seekor kuda ras Mongolia yang tinggi besar pelan-pelan


berjalan menelusuri jalan raya ibukoTa, penunggangnya
adalah seorang pemuda berwajah pucat dan berlengan
kanan kosong, agaknya seorang yang belum lama
kehilangan lengannya.

Lelaki itu menjalankan kudanya ke bawah pohon di tepi


jalan.
Pendekar Cacat 607

Rupanya waktu itu dari depan sana telah muncul empat


ekor kuda yang dilarikan kencang, lelaki cacat itu kuatir
kudanya tertumbuk, dia menyingkir ke samping.

Tatkala empat ekor kuda itu sampai di hadapan lelaki cacat


itu, mendadak mereka menarik tali kudanya secara
serentak.

Penunggangnya adalah tiga orang lelaki dan seorang gadis.

Yang pria adalah Kongcu-kongcu tampan yang menyoreng


pedang di punggungnya.

Sedang yang perempuan berparas cantik genit dan


mengenakan baju merah menyala, dia pun menyoreng
sepasang pedang di punggung.

Dilihat dari cara mereka menunggang kuda, ketiga pria dan


seorang gadis ini memiliki kepandaian silat yang lumayan.

Mereka berdiri berjajar di tengah jalan, persis menghadang


jalan lelaki cacat itu.

Salah seorang Kongcu yang berparas kurus dan mempunyai


tahi lalat di wajahnya tertawa terbahak-bahak, kemudian
sembari menjura tegurnya, "Bolehkah aku tahu, apakah kau
Jian-ciat-suseng (Sastrawan cacat)?"

Pria cacat itu tersenyum, "Tidak berani, tidak berani,


tampaknya kalian berempat adalah Hui-eng-su-kiam
Pendekar Cacat 608

(Empat pedang unggas terbang) yang namanya telah


menggetarkan wilayah Kanglam."

Lelaki kurus bertahi lalat itu kembali tertawa tergelak,


"Tajam benar pandangan saudara, hahaha, tiga bulan
terakhir ini dunia persilatan telah dihebohkan oleh nama
besarmu, hal ini membuat kami Hui-eng-su-kiam merasa
risau dan tak enak sendiri, itu sebabnya malam ini aku ingin
menantang kau berduel!"

"Berduel untuk mambuktikan siapa lebih unggul bukanlah


suatu peristiwa luar biasa, cuma sayang malam ini aku tidak
ada waktu, maka seandainya kalian Hui-eng-su-kiam ingin
mencoba kepandaian silatku, tak ada salahnya dicoba
sekarang!" kata Jian-ciat-suseng hambar.

Mendengar perkataan itu, si nona berkerut kening, lalu


bentaknya penuh gusar, "Manusia cacat, besar amat
lagakmu, orang lain boleh takut kepadamu, tapi kami Hui-
eng-su-kiam tak takut menghadapi dirimu." Jian-ciat-suseng
tertawa.

"Di antara empat pedang unggas terbang, aku dengar


terdapat seorang yang bernama Hwe-im-eng (Burung api),
wataknya konon serupa dengan julukannya, mungkin
nonalah yang dimaksud?"

Di wilayah Kanglam, nama besar Hui-eng-su-kiam memang


sangat termasyhur, setiap jago dari berbagai perguruan
yang bertemu dengan mereka pasti akan menyebut
Siauhiap atau Lihiap untuk menghormati mereka.
Pendekar Cacat 609

Mimpi pun tak menyangka Jian-ciat-suseng tidak


memandang sebelah mata pun kepada mereka, betapa
gusarnya mereka menyaksikan kenyataan itu, terutama
Burung api Yu Hong-hong yang dasarnya memang
sombong, tinggi hati dan berangasan.

"Tutup mulut!" bentaknya nyaring. "Nama besar nonamu


bukan sembarangan orang boleh menyebut, apalagi
manusia cacat seperti kau."

Tiba-tiba Jian-ciat-suseng menarik muka dan menegur,


"Nona, watak berangasan dan jahatmu harus mulai diubah,
jika kau tak mampu mengubah diri, niscaya usiamu tak
akan panjang."

Yu Hong-hong tertawa dingin.

"Hehehe, aku justru ingin tahu usia siapa yang tak panjang.
Manusia cacat, cepat lolos pedangmu, nona ingin memberi
pelajaran setimpal padamu."

Sementara berbicara, Yu Hong-hong telah melolos


sepasang pedang pendeknya dan siap melancarkan
serangan.

Dengan suara hambar Jian-ciat-suseng berkata, "Begitu


pedangku ini terlolos dari sarungnya, kepala manusia tentu
akan menggelinding, aku tahu kalian Hui-eng-su-kiam cuma
manusia berdarah panas yang ingin mencari nama,
perbuatan kalian belum terhitung jahat."
Pendekar Cacat 610

Belum selesai dia berkata, sepasang kaki Yu Hong-hong


sudah menjejak perut kudanya dan secepat kilat menerjang
ke arah Jian-ciat-suseng.

Jian-ciat-suseng masih tetap duduk di atas pelana sekokoh


batu karang, bergerak sedikit pun tidak.

Yu Hong-hong benar-benar merasa gusar sekali, sepasang


pedangnya seperti dua naga yang muncul dari air, langsung
mengancam dua jalan darah mematikan di tubuh Jian-ciat-
suseng, sedemikian cepatnya serangan itu sehingga tak
malu disebut jagoan kelas satu.

Jian-ciat-suseng sama sekali tak berkutik, lengan kanannya


yang kosong tiba-tiba dikebaskan ke muka dan memelintir
sepasang tangan Yu Hong-hong.

Yu Hong-hong membentak gusar, "Belum tentu kungfumu


sangat hebat!"

Rupanya jurus serangan Siang-liong-jut-cui (Sepasang naga


keluar dari air) yang dipergunakan Yu Hong-hong adalah
serangan tipuan, di tengah bentakan nyaring, sepasang
pergelangan tangannya merendah ke bawah, pedangnya
seperti naga sakti membentuk gerakan setengah lingkaran
dan menciptakan beribu titik bintang di angkasa, seperti
tusukan seperti pula bacokan dia menyerang Jian-ciat-
suseng.

Kali ini Jian-ciat-suseng tidak bergerak sama sekali, ujung


lengan baju kanannya yang kosong pun tak berkutik,
Pendekar Cacat 611

sepasang pedang Yu Hong-hong secepat sambaran petir


langsung menerobos masuk.

Tiga orang lainnya yang menyaksikan jalanya pertarungan


dari sisi arena segera berpikir setelah menyaksikan kejadian
itu.

"Seandainya Jian-ciat-suseng tidak jatuh dari kudanya,


kendatipun ilmu silatnya lebih hebat pun tak nanti dia bisa
lolos dari serangan Yu Hong-hong."

Belum habis mereka berpikir, tampak Jian-ciat-suseng


sudah menggerakkan tangan kirinya.

Diiringi jeritan kaget Yu Hong-hong, sepasang pedang


pendeknya tahu-tahu sudah berpindah tangan.

"Pletakk", diiringi suara nyaring, kedua pedang pendek


yang terbuat dari kayu itu sudah digetarkan patah menjadi
empat bagian oleh lengan kiri Jian-ciat-suseng dan terjatuh
ke atas tanah.

Demonstrasi tenaga dalam serta kepandaian silat semacam


ini tentu akan menjerakan hati orang yang melihat.

Namun dasar si Burung api burung Yu Hong-hong, dari malu


dia menjadi gusar, sambil membentak nyaring tubuhnya
melesat ke depan, lalu telapak tangannya dengan
mengerahkan segulung tenaga dahsyat langsung
menghantam ke dada Jian-ciat-suseng itu.
Pendekar Cacat 612

Berkerut kening Jian-ciat-suseng menghadapi ancaman ini,


tangan kirinya segera menyambar ke depan dan
mencengkeram lengan kanan Yu Hong-hong, begitu si nona
kehilangan tenaga, dia lantas mengangkat tubuh gadis itu
ke tengah udara.

"Lepaskan aku, lepaskan aku!" teriak Yu Hong-hong dengan


gusar.

Jian-ciat-suseng memutar lengan kirinya dan


mengayunkannya ke depan.

Tak ampun lagi tubuh Yu Hong-hong terlempar ke udara


dan persis terjatuh kembali ke atas pelana kudanya.

Sejak terjun ke dunia persilatan, belum pernah Yu Hong-


hong menderita kekalahan seperti hari ini, dia segera
menangis tersedu-sedu.

Tiga rekan lainnya dibikin terperanjat oleh kelihaian ilmu


silat Jian-ciat-suseng, untuk beberapa saat mereka hanya
bisa berdiri tertegun.

Mereka baru sadar mendengar isak tangis Yu Hong-hong


yang memilukan.

Tapi apa pula yang dapat mereka lakukan? Kepandaian silat


Jian-ciat-suseng terlampau lihai, sekali pun mereka bertiga
turun tangan bersama pun tak ada gunanya.
Pendekar Cacat 613

Isak tangis Yu Hong-hong sungguh mengenaskan, air


matanya bercucuran dengan amat derasnya.

Agaknya si sastrawan paling takut melihat perempuan


menangis, sambil menghela napas, pelan-pelan dia berkata,
"Yang paling penting dalam ilmu silat adalah tenang dan
gesit, tenang harus melebihi perawan, gesit harus melebihi
kelinci, bila saat menyerang perasaan sudah diliputi napsu,
ketenangan akan goyah dan kacau, kegesitan akan berubah
menjadi lembek. Bila menyerang seperti itu, bukan musuh
yang dihajar, salah-salah diri sendiri yang akan terluka."

Selesai mengucapkan perkataan itu, tanpa berpaling lagi


dia menjalankan kudanya pelan-pelan berlalu dari tempat
itu.

Yu Hong-hong berhenti menangis. Dalam benaknya


terlintas perkataan terakhir Jian-ciat-suseng, kemudian dia
merenung dan memikirkannya berulang kali.

Tiba-tiba dengan sikap seperti mengerti seperti tidak, dia


bergumam lirih, "Hari ini aku menderita kalah, kekalahan
yang benar-benar memilukan hatiku, ai! Ilmu silatnya
terlampau tinggi, kepandaian silatnya benar-benar tinggi."

Hong-tok-ciu-lau di barat daya kota terlarang merupakan


penginapan dan rumah makan terbesar dan termegah di
ibukota.

Di balik pintu gerbang, Hong-tok-ciu-lau tampak berdiri


anggun dan berderet-deret mencapai ratusan ruangan.
Pendekar Cacat 614

Orang yang menginap di Hong-tok-ciu-lau pun meliputi


berbagai lapisan masyarakat.

Waktu itu di sebuah meja yang berada di sudut selatan


rumah makan termegah yang bagaikan keraton itu
berduduk tiga orang perlente dan seorang gadis cantik
berbaju merah menyala.

Mereka sedang bersantap dan minum arak sambil


berbincang-bincang ke utara selatan.

Mendadak terdengar si gadis berkata dengan suara merdu,


"Tio-toako, tahukah kau siapa kedua orang tokoh silat yang
paling tersohor di kolong langit dewasa ini?"

Pemuda kurus bertahi lalat yang duduk di sisinya segera


menyahut sambil tertawa, "Yu-sumoay, masa kau tidak
tahu? Kedua orang itu adalah Si-hun-mo-li (Iblis perempuan
pembetot sukma) dan Jian-ciat-suseng."

"Tio-toako," kembali si gadis berbaju merah bertanya


manja. "Konon Jian-ciat-suseng sudah sampai di ibukota,
ada urusan apa orang itu mendatangi kota terlarang?"

"Konon Jian-ciat-suseng mengejar Si-hun-mo-li, karena iblis


perempuan ini berada di ibukota, padahal bukan hanya
Jian-ciat-suseng saja yang sudah sampai di Hopak, konon
segenap jago lihai secara berbondong-bondong sudah
datang ke wilayah Hopak sini."
Pendekar Cacat 615

"Ada urusan apa para jago Bu-lim berkumpul di ibukota?"


"Apalagi? Tentu saja karena Si-hun-mo-li dan Jian-ciat-
suseng," sahut pemuda kurus itu tertawa.

"Ah, apa maksudmu?" seru gadis berbaju merah itu


terkejut. Tiba-tiba pemuda kurus itu berpaling dan
memandang sekejap ke arah meja di sudut kiri ruangan,
lalu katanya dengan lantang, "Hanya tiga bulan Jian-ciat-
suseng muncul di Bu-lim, berbagai jago lihai dari berbagai
perguruan besar telah keok di tangannya, orang bilang,
pohon tinggi mengundang datangnya angin, nama
termasyhur mengundang datangnya bencana, maka para
jago persilatan berbondong-bondong datang ke ibukota
untuk membalas dendam atau ingin merobohkannya
sehingga sekali gebuk memperoleh nama besar."

Sampai di sini pemuda kurus itu berdehem pelan, entah


sengaja atau tidak dia kembali mengalihkan sorot matanya
ke meja sebelah kiri.

Ternyata di tempat itu duduk pemuda berlengan buntung


dan berbaju hitam, dia berdandan seorang sastrawan,
namun sebilah pedang tersoreng di pinggangnya.

Mendadak gadis berbaju merah itu berkata lagi, "Tio-toako,


menurut pendapatmu dapatkah Jian-ciat-suseng
mengalahkan begitu banyak jago persilatan?"

Pemuda kurus tersenyum.


Pendekar Cacat 616

"Menurut penilaianku, ilmu silat Jian-ciat-suseng sudah


terhitung wahid di kolong langit, mana mungkin kawanan
jago yang mencari gara-gara padanya mampu menyambut
sebuah serangannya?"

Baru saja dia berkata, mendadak dari sisi meja sebelah


kanan terdengar suara orang berseru sambil tertawa dingin
tiada henti.

"Hehehe, boleh saja Hui-eng-su-kiam tak mampu menerima


satu gebrakan Jian-ciat-suseng, namun orang lain tidaklah
demikian."

Ucapan itu seketika membuat paras pemuda perlente dan


gadis berbaju merah itu berubah hebat sehingga mereka
bersama-sama berpaling ke arah meja di samping mereka.

Di situ duduk seorang kakek dan seorang pemuda.

Yang tua berperawakan kurus dan hitam dengan baju


berwarna hitam, jenggot kambingnya panjang dan
sepasang matanya macam mata ikan, berkedip tajam, jelas
tenaga dalamnya telah sempurna.

Sedang yang muda berpakaian perlente dengan sebilah


pedang berwarna kuning emas tersoreng di pinggangnya,
tampan dan gagah, cuma sayang di antara kerutan dahinya
terbayang setitik hawa cabul.
Pendekar Cacat 617

Suara tertawa seram tadi tak lain berasal dari pemuda


berbaju perlente itu.

Serentak Hui-eng-su-kiam melompat bangun, hawa amarah


menyelimuti sekujur wajah mereka dalam waktu singkat,
pertarungan sengit bakal berlangsung di tengah ruangan
itu.

Pada saat itulah mendadak dari tengah ruangan


berkumandang suara gelak tertawa yang amat nyaring,
kemudian dari sudut ruangan sebelah utara pelan-pelan
berjalan keluar sastrawan berbaju biru yang berusia tiga
puluh tahun.

Orang ini memiliki wajah kereng dan lamat-lamat


memancarkan kewibawaan besar.

Ketika sastrawan buntung yang duduk di sudut kiri


menyaksikan kemunculan sastrawan yang mengenakan
baju biru itu, paras mukanya berubah hebat, hampir saja
dia berteriak.

Dengan tergelak nyaring sastrawan berbaju biru itu


mengambil tempat duduk di depan kursi Hui-eng-su-kiam,
kemudian berkata, "Hui-eng-su-kiam, mari! Aku orang she
Thia ingin memperkenalkan kalian, Su-hiap yang duduk di
kursi utama itu tentunya Siaucengcu dari perkampungan
Pendekar Cacat 618

Kim-liong-kiam-san-ceng yang berjuluk Kiu-liong-sin-kiam


(Pedang sakti sembilan naga) Mo Siau-pak."

"Sedangkan yang tua adalah Congkoan dari Kim-liong-kiam-


san-ceng (perkampungan pedang naga emas) yang berjuluk
Hek-kut-siu (Kakek tulang hitam) Siangkoan-lotoa ...."

Begitu sastrawan berbaju biru itu menyebutkan nama-


nama itu, tak sedikit sorot mata yang dialihkan ke sana.

Setelah diperkenalkan, agaknya Hui-eng-su-kiam


terpengaruh oleh nama besar lawan, paras mereka pelan-
pelan berubah agak lembut.

Kim-liong-kiam-san-ceng merupakan keluarga persilatan


yang termasyhur di Bu-lim, nama besar mereka sudah
merata di wilayah utara sungai Kuning.

Bahkan boleh dibilang setiap orang tahu di wilayah itu


terdapat Kim-liong-kiam-san-ceng yang dikepalai Im-tiong-
liong (Naga di balik mega) Mo Hui-thian.

Begitu lihainya ilmu pedang tokoh sakti ini sehingga orang


menyebutnya sebagai Bu-lim-te-it-kiam (Jago pedang
nomor wahid dunia persilatan).
Pendekar Cacat 619

Pemuda berbaju perlente itu yang bernama Mo Siau-pak


agaknya tak berani menunjukkan sikap angkuh ataupun
tinggi hati terhadap sastrawan berbaju biru itu, dengan
cepat dia melompat bangun dan berkata sambil tertawa
terbahak-bahak, "Hahaha, kukira siapa, sungguh tak
disangka Im-ciu-tay-ji-hiap Thia Leng-juan adanya."

"Mana ... mana ... aku orang she Thia baru saja datang ke
ibukota dan dimana-mana kujumpai teman-teman lama,
nampaknya di sini akan terjadi sebuah pertemuan puncak
para jago."

Mo Siau-pak tertawa dingin.

"Hm, apa sebabnya berbagai jago berdatangan ke kota


terlarang, aku rasa tak usah dibilang pun semua orang
sudah tahu dengan jelas."

Sembari berkata, dia mengangkat kepala dan menengok ke


arah sudut selatan.

Siapa tahu Jian-ciat-suseng yang duduk di tempat itu, entah


sedari kapan sudah pergi meninggalkan tempat itu.

Berubah hebat paras Mo Siau-pak, dengan cepat dia


melompat bangun, kemudian serunya, "Thia-heng, maaf
aku tak bisa menemani lebih lama."

Agak tergopoh-gopoh dia berlalu dari ruangan itu.


Pendekar Cacat 620

Ketika melihat Mo Siau-pak beranjak pergi, kakek berbaju


hitam itu tanpa berbicara sepatah kata pun turut
menguntit di belakangnya meninggalkan ruangan.

Hui-eng-su-kiam yang menyaksikan kejadian itu, dalam hati


segera mengerti apa sebabnya Mo Siau-pak pergi
meninggalkan tempat itu dengan tergesa-gesa, dengan
cepat mereka berempat saling bertukar pandang sekejap,
lalu katanya kepada Thia Leng-juan, "Kami pun ingin segera
mohon diri."

Hui-eng-su-kiam buru-buru keluar ruangan dan menyusul di


belakang Mo Siau-pak.

Ketika Mo Siau-pak dan Siangkoan-lojin menyusul keluar


dari Hong-tok-ciu-lau, terlihat sesosok bayangan hijau
dengan ujung lengan baju kanan berkibar terhembus angin
sedang bergerak di depan.

Sambil tertawa dingin, Mo Siau-pak mempercepat


langkahnya dan mengejar dari belakang.

Siapa tahu kendati sudah menyusul sampai keluar kota,


namun Mo Siau-pak belum juga berhasil mengejar orang
itu.
Pendekar Cacat 621

Sasaran yang sedang mereka kejar masih tetap berjalan


lambat, lebih kurang tiga puluh depa di depan sana.

Mo Siau-pak segera mendengus dingin, dengan


mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya, dia mengejar
semakin kencang.

Pada saat itulah, pemuda di depan sana tahu-tahu lenyap


tanpa bekas di sebuah tikungan hutan kecil.

Dengan beberapa kali lompatan saja Mo Siau-pak telah


menyusul sampai di tikungan hutan, lalu sambil memutar
badan dia menghentikan gerakan.

Rupanya di balik hutan terbentang sebuah sungai,


jembatan kayu membentang di tengah sungai, di sana
berdiri tegak seorang sastrawan yang buntung tangannya.

Waktu itu dengan sorot matanya yang tajam bagaikan


sembilu, dia sedang mengawasi Mo Siau-pak yang berada
di bawah jembatan.

"Mo-siaucengcu, ada urusan apa kau menyusul diriku?"

Mo Siau-pak tertawa dingin, sahutnya, "Bukankah kau


adalah Jian-ciat-suseng?"
Pendekar Cacat 622

"Benar, lengan kananku buntung, kaki kiriku pincang, orang


persilatan menyebutku Jian-ciat-suseng dan aku pun
senang sekali dengan nama indah ini."

Sementara itu Siangkoan-lotoa telah menyusul tiba dan


segera berdiri di sisi kiri Mo Siau-pak.

Dengan wajah senyum tak senyum Mo Siau-pak berkata,


"Untuk merobohkan seratus jago lihai dunia persilatan,
apakah pedang kayu yang tersoreng di pinggangmu itu
yang kau gunakan?"

"Masih ada di antara mereka yang tidak perlu kuhadapi


dengan pedang kayuku ini."

"Lantas pantaskah aku menghadapimu dengan pedang


kayu itu?"

"Seandainya ayahmu, Mo Hui-thian, hadir di sini, mungkin


dia masih pantas untuk kuhadapi dengan pedang kayu ini."

Ucapan ini sudah jelas artinya, yaitu Mo Siau-pak masih


belum cukup berharga baginya untuk dihadapi dengan
pedang kayu.

Anehnya, ternyata Mo Siau-pak tidak menjadi gusar,


setelah tertawa dingin 4ia malah bertanya, "Jadi kau
menyuruh aku yang melolos pedang?"
Pendekar Cacat 623

"Bila Siaucengcu melolos pedang, bisa jadi nama besarmu


akan hancur di ujung jembatan ini, aku mengerti kau
seorang pintar, tentunya kau tahu bukan, seharusnya
pedang itu harus dicabut atau tidak?"

Mo Siau-pak tidak menjawab, bungkam dalam seribu


bahasa.

Mendadak Siangkoan-lojin berseru lantang, "Majikan muda


harap mundur, biar Lohu yang mencoba beberapa jurus
serangannya."

Sembari berkata, Siangkoan-lojin maju ke ujung jembatan


dan melepaskan sebuah bacokan dahsyat ke dada lawan.

Jangan dilihat Siangkoan-lojin berperawakan kurus kecil,


ternyata angin pukulan yang dilancarkannya sangat dahsyat
dan mengerikan.

Berdiri di ujung jembatan, Jian-ciat-suseng tak bergerak


sedikit pun, dia menunggu sampai telapak tangan kanan
Siangkoan-lojin berada setengah kaki di depan dadanya,
saat itulah telapak tangan kirinya baru secepat kilat
membabat urat nadi tangan musuh.

"Bocah keparat, ternyata kau memiliki kepandaian juga!"


bentak Siangkoan-lojin.
Pendekar Cacat 624

Sembari berkata, sepasang lengannya yang hitam dan


kering-kerontang bagai sambaran petir meluncur ke muka
dan mengembangkan serangkaian serangan berantai.

Serangan yang dilancarkan itu selain cepat bagaikan


sambaran kilat, juga disertai tenaga yang amat dahsyat.

Pukulan demi pukulan dilancarkan bagaikan ombak


menggulung ke tepian dan memecah terkena batu karang,
benar-benar mengerikan.

Dalam waktu singkat Siangkoan-lojin sudah melepaskan


tiga belas pukulan telapak tangan dan delapan jotosan kilat.

Dalam menghadapi kedua puluh satu serangan itu, Jian-


ciat-suseng masih tetap berdiri tegak tak bergerak, dia
hanya membendung dan menangkis setiap ancaman yang
datang dengan lengan tunggalnya.

Kendati demikian, ternyata Siangkoan-lojin tak sanggup


maju barang selangkah pun.

Siangkoan-lojin mestinya tahu diri dan mengundurkan diri,


namun sebagai Congkoan Kim-liong-kiam-san-ceng yang
mempunyai kedudukan tinggi dan sudah lama termasyhur
dalam Bu-lim, sudah barang tentu tak mungkin baginya
untuk mundur begitu saja, apa lagi di hadapan majikan
mudanya sekarang.
Pendekar Cacat 625

Mendadak terdengar Siangkoan-lojin membentak,


mendadak tubuhnya mundur tiga langkah, sementara
kepalan tangan kanannya pelan-pelan dihantamkan ke arah
dada musuh.

Serangan ini tampaknya seperti tidak disertai tenaga,


namun dalam pandangan seorang ahli silat, akan segera
diketahui pukulan itu disertai tenaga yang sangat hebat.

Berubah hebat paras muka Jian-ciat-suseng, mendadak


telapak tangan kirinya diayunkan ke depan.

Dengusan tertahan segera menggema memecah


keheningan.

Dengan sempoyongan Siangkoan-lotoa mundur tujuh


langkah, kemudian darah kental menyembur dari
mulutnya.

Paras muka Mo Siau-pak berubah hebat, cepat dia


memburu ke depan untuk membimbing tubuh Siangkoan-
lojin, lalu tegurnya, "Siangkoan-lotoa, kau masih sanggup
bertahan?"

Kulit wajah Siangkoan-lotoa mengejang keras, menahan


derita yang sedang dialaminya, dia berkata, "Majikan
Pendekar Cacat 626

muda, harap kau jangan bertindak gegabah. Ilmu silat


orang ini benar-benar kelewat dahsyat."

Sementara itu Jian-ciat-suseng telah membalikkan badan


dan menuruni jembatan itu ke arah lain.

Sambil tertawa dingin Mo Siau-pak berseru, "Hm, aku akan


mencoba sampai dimanakah kelihaiannya."

Sembari berkata, lekas dia mengejar ke ujung jembatan


sana, sementara tangan kanannya meraba gagang pedang
yang tersoreng di pinggangnya.

Pada saat itulah mendadak Jian-ciat-suseng menghentikan


langkah, tanpa berpaling katanya, "Aku tinggal di rumah
penginapan Hong-tok-ciu-lau, kapan saja aku akan
menantikan kedatanganmu. Sekarang Siangkoan-lojin
sudah terluka, terutama pada sekitar urat nadi Liau-lok-
keng-meh, jika kau tidak segera mengurut jalan darahnya
dengan menggunakan tenaga dalam, seperempat jam lagi
dia akan muntah darah tiada hentinya, dalam keadaan
seperti itu, meski ada obat dewa pun jangan harap bisa
menyelamatkan jiwanya."

Dingin perasaan Mo Siau-pak mendengar itu, meski tangan


kanannya sudah meraba gagang pedang, namun senjata itu
tak dicabut.
Pendekar Cacat 627

Dia tertawa dingin, lalu ujarnya, "Baiklah! Aku Mo Siau-pak


pasti akan menyambangimu."

Dalam pada itu Jian-ciat-suseng sudah berada sejauh tujuh-


delapan depa dari tempat semula, dia tidak mungkin
berpaling atau memberikan reaksi, dengan langkah tetap
terus menelusuri sungai.

Dari kejauhan dia nampak begitu menyendiri dan kesepian.

Benar, sejak dia terjun kembali ke dunia persilatan, selama


tiga bulan terakhir ini dia telah mengunjungi gedung Bu-lim
Bengcu di kota Kay-hong. Dia pun telah berkunjung ke kuil
Nikoh Keng-tim-an.

Namun tak seorang ditemukan, pada dasarnya dia sudah


seorang diri, sekarang semakin merana dan menyendiri
lagi.

Hari ini, sewaktu berada di Hong-tok-ciu-lau, dia telah


bertemu dengan seorang kenalan lama, pendekar
sastrawan dari kota Invciu Thia Leng-juan, sebenarnya dia
ingin sekali bercakap dengannya, namun satu ingatan lain
membuatnya harus mengurungkan niatnya itu.

Dia tahu dengan tenaga dalam maupun ilmu silatnya


sekarang, cukup baginya untuk menjagoi dunia persilatan,
Pendekar Cacat 628

namun meski dia berhasil meraih gelar tokoh nomor wahid


di kolong langit, apakah artinya semua itu?

Nama Jian-ciat-suseng sudah cukup menggetarkan sukma


setiap umat persilatan di kolong langit, dia tahu saat guntur
menggelegar dan hujan badai berhembus akan tiba, oleh
sebab itu dia harus secepatnya menyelesaikan masalah-
masalah yang mengganjal hatinya, kemudian secepatnya
mengundurkan diri dari keramaian dunia persilatan dan
mencicipi kehidupan yang penuh bahagia.

Seseorang yang sangat mencintainya kini hidup


sebatangkara di rumah gubuk di tengah bukit yang
terpencil, dia tak boleh meninggalkan dirinya terlalu lama.

Dalam perjalanannya ke ibukota kali ini, seandainya jejak


orang-orang Put-gwa-cin-kau belum juga ditemukan,
terpaksa dia harus pulang ke gunung secepatnya, sebab
perjalanan di Bu-lim telah membuatnya jemu, bosan dan
muak.

Entah sejak kapan Jian-ciat-suseng telah berhenti di tepi


sungai, menundukkan kepala dan memandang arus air
dengan terpesona.
Pendekar Cacat 629

Mendadak dia mengangkat kepala dan menegur dengan


suara sedingin salju, "Mengapa kalian berempat
mengikutiku terus?"

Sewaktu bicara, mata Jian-ciat-suseng masih saja


memandang arus air sungai dengan termangu, berpaling
pun tidak.

Rupanya entah sedari kapan, di belakangnya telah muncul


tiga orang pemuda berbaju perlente dan seorang gadis
berbaju merah, mereka berempat bukan lain dari Hui-eng-
su-kiam.

Pemuda kurus bertahi lalat yang merupakan pimpinan Hui-


eng-su-kiam yakni Gin-ho-eng (Burung sungai perak) Tio Im
segera menuju ke depan dan menyahut dengan hormat, "
Hui-eng-su-kiam membuntuti. saudara karena kami ada
satu persoalan yang hendak dibicarakan!"

Jian-ciat-suseng belum juga berpaling, hanya tanyanya


dengan suara hambar, "Masalah apa?"

"Kami empat bersaudara memohon padamu untuk


menerima kami sebagai anak buahmu."

Ketika mendengar perkataan itu, pelan-pelan Jian-ciat-


suseng membalik badan dan mengawasi wajah Hui-eng-su-
kiam dengan sorot mata tajam bagaikan sembilu, dia
Pendekar Cacat 630

mengawasi orang-orang itu dari atas sampai ke bawah,


namun mulutnya tetap membungkam.

Dengan suara merdu Yu Hong-hong berkata, "Ilmu silat


Tayhiap sudah mencapai tingkatan yang luar biasa, tentu
saja kemampuan kami berempat tak banyak membantu,
namun kami empat bersaudara amat mengagumi sepak
terjang Tayhiap dan ingin sekali membaktikan diri padamu,
entah sebagai pembawa barang atau pesuruh sekali pun,
hal ini akan merupakan suatu kebanggaan bagi kami. Itulah
sebabnya kami memohon kepada Tayhiap sudilah
menerima kami."

Tiba-tiba Jian-ciat-suseng menghela napas panjang, ujarnya


pelan-pelan, "Ai, baiklah aku bersedia menerima kalian."

"Sungguhkah itu?" Yu Hong-hong tak kuasa menahan rasa


gembiranya, dia segera berteriak, "Kau ... kau tidak
membohongi kami?"

Sekali lagi Jian-ciat-suseng menghela napas panjang, "Ai,


aku tak membohongi kalian, yang kubutuhkan sekarang
adalah melakukan suatu usaha besar yang akan
menggemparkan dunia persilatan."

Dia berhenti sejenak dan mengangkat kepala memandang


sekejap ke arah Hui-eng-su-kiam, kemudian lanjutnya, "Aku
Pendekar Cacat 631

bukan menerima kalian sebagai pesuruhku, melainkan


mengundang kalian berempat untuk menggabungkan diri
dalam perkumpulanku, yakni perkumpulan Tiong-yang-
hwe!"

Pelan-pelan Jian-ciat-suseng mengangguk, "Benar, hari ini


adalah bulan sembilan tanggal sembilan dari Tiong-yang,
perkumpulan kami ini merupakan perkumpulan yang
didirikan pada saat ini di kala kalian Hui-eng-su-kiam
menggabungkan diri, oleh sebab itu kunamakan
perkumpulan ini sebagai Tiong-yang-hwe."

***
Pendekar Cacat 632

9
PERKUMPULAN PEDANG MERAH

K emudian setelah termenung sejenak, dia


menyambung lebih lanjut, "Di balik semua itu,
sebetulnya masih mengandung satu makna lain,
yakni aku pernah mati sekali dan sekarang bangkit kembali
ke alam semesta. Entah bagaimana pendapat kalian
tentang nama ini?"

Lo-sam dari Hui-eng-su-kiam yakni Siau-hiang-eng (Burung


harum) The Goan-ho segera bertepuk tangan sambil
berseru lantang, "Bagus, bagus! Nama Tiong-yang-hwe
memang bagus, tidak perlu memakai 'pang' cukup memakai
'hwe', menunjukkan kesan halus dan berseni, sehingga
tidak ada hawa kekerasan sama sekali."
Pendekar Cacat 633

Dan perkumpulan Tiong-yang-hwe pun secara resmi


didirikan pada saat itu, dunia persilatan pun bertambah lagi
dengan satu organisasi baru.

Ketua Tiong-yang-hwe dijabat oleh Jian-ciat-suseng, kecuali


ketua, untuk sementara waktu tidak diangkat jabatan lain.

Tiba-tiba Jian-ciat-suseng mengunjuk sikap serius, katanya


dengan suara dalam, "Setiap perkumpulan yang didirikan
pasti mempunyai peraturan perkumpulan, cita-cita,
maksud tujuan, serta tata-cara, namun sekarang karena
belum ada waktu untuk menyelesaikan hal ini, maka yang
kita pegang sebagai prinsip sekarang adalah kepercayaan,
mulai hari ini Hui-eng-su-kiam sudah merupakan bagian
dari Tiong-yang-hwe, aku harap kalian suka memegang
prinsip hidup kita, yaitu setia, berbakti, bajik, cinta kasih,
dapat dipercaya, setia-kawan, kerukunan dan kedamaian.
Asalkan kalian melaksanakan kedelapan prinsip ini, sudah
pasti perbuatan kalian benar."

"Orang yang bergabung dengan perkumpulan kita,


bilamana melakukan pelanggaran, sudah tentu akan
memperoleh hukuman yang sangat berat."

"Tugas utama perkumpulan sekarang adalah


mengembangkan pengaruh organisasi serta menerima
anggota baru, tapi perkumpulan kita tidak memandang
Pendekar Cacat 634

perlu mencari anggota sebanyak-banyaknya, yang penting


adalah mereka yang berhati murni dan benar-benar
berkemampuan tinggi, jadi setiap orang yang bergabung
harus memiliki ilmu silat dan watak yang baik, sebelum
dilakukan penyelidikan yang seksama, siapa pun tak akan
diterima menjadi anggota."

Dengat sikap hormat dan serius, Hui-eng-su-kiam


mendengar wejangan Jian-ciat-suseng, tak seorang pun
yang bersuara.

Ketika pemuda itu telah menyelesaikan kata-katanya, Yu


Hong-hong baru menghela napas panjang, katanya lirih,
"Kami berempat merasa bangga bisa menjadi anggota
Tiong-yang-hwe, namun ada satu hal yang membuat kami
malu untuk menjadi bagian Tiong-yang-hwe."

Dengan sorot mata tajam Jian-ciat-suseng memandang


sekejap ke arah gadis itu, tukasnya, "Apakah kalian merasa
ilmu silat yang kalian miliki terlalu cetek?"

"Benar!" Yu Hong-hong manggut-manggut. "Ilmu silat Hui-


eng-su-kiam terlalu cetek, sesungguhnya kami masih belum
pantas untuk bergabung dengan Tiong-yang-hwe."

Jian-ciat-suseng tersenyum.
Pendekar Cacat 635

"Ilmu silat yang kalian miliki sekarang sudah boleh dibilang


mencukupi, untuk menjadi seorang jago persilatan yang
berilmu tinggi, maka harus memiliki tiga syarat utama,
yakni guru yang pandai, waktu yang cukup, serta
kecerdasan yang melebihi orang lain. Bilamana ketiga
syarat itu kurang satu, maka sekali pun dia merupakan jago
yang berilmu tinggi, mustahil dapat mencapai tingkatan
sempurna."

"Sekarang akan kukatakan asal-usulku kepada kalian agar


kalian tahu kisah perjalananku menempuh pelajaran ilmu
silat, cuma orang persilatan belum mengetahui jelas
tentang asal-usulku ini, aku harap setelah kalian tahu nanti,
janganlah disebar-luaskan kepada orang lain. Perlu kalian
catat, dalam menghadapi persoalan, semakin kita dapat
merahasiakan sesuatu, sesungguhnya hal ini semakin baik."

"Petunjuk Hwecu memang sangat tepat, kami pasti akan


menuruti petunjuk Hwecu," kata Gin-ho-eng Tio Im dengan
suara lantang.

Perlahan Jian-ciat-suseng berkata, "Guruku yang pertama


adalah allmarhum Thi-ciang-kan-kun-hoan Oh Ciong-hu,
Bengcu persekutuan dunia persilatan."

Mendengar nama itu, dengan terkejut Yu Hong-hong


segera bertanya, "Kalau begitu kau adalah si Toan-jong-
hong-liu Yu ...."
Pendekar Cacat 636

Sambil menggeleng kepala, Jian-ciat-suseng menghela


napas panjang, sahutnya, "Toan-jong-hong-liu Yu Heng-sui
adalah Ji-suhengku, aku adalah murid terakhir Bu-lim
Bengcu, mungkin kalian tak mengenal namaku, sebab
sebelum aku terjun dan berkelana di Bu-lim, aku sudah
diusir dari perguruan oleh guruku. Di bawah bimbingan Oh
Ciong-hu bengcu almarhum, aku sudah memperoleh
pendidikan ilmu silat selama lima belas tahun, aku mulai
belajar ilmu silat sejak berusia tujuh tahun."

"Setelah dikeluarkan dari perguruan, aku telah berjumpa


dengan seorang tokoh berilmu tinggi dimana aku
memperoleh pelajaran berbagai ilmu silat dari aliran yang
ada di dunia ini selama tujuh tahun, siapakah tokoh ini
untuk sementara waktu namanya aku rahasiakan lebih
dulu, tapi dia adalah guruku yang kedua."

"Guruku yang ketiga adalah Ku-lo Hwesio dari Siau-lim-pay,


dia hanya sempat memberi pelajaran silat semalam
kepadaku, namun kepandaian silat yang diwariskannya
kepadaku justru merupakan rahasia ilmu silat kaum lurus,
itulah sebabnya dalam waktu singkat aku telah berhasil
menguasai ilmu berbagai aliran."

Mendengar sampai di sini, Hui-eng-su-kiam merasa


terperanjat, Oh Ciong-hu dan Ku-lo Hwesio merupakan dua
tokoh yang maha sakti dalam Bu-lim, tak disangka dua
Pendekar Cacat 637

tokoh sakti itu ternyata guru Hwecu mereka, tak heran ilmu
silat ketua mereka lihai sekali.

Tapi siapakah nama yang sebenarnya dari ketua mereka?

Dari balik mata Hui-eng-su-kiam segera terlintas sinar mata


penuh tanda tanya.

Pelan-pelan Jian-ciat-suseng melanjutkan kembali, "Sekali


pun aku telah berjumpa dengan tiga orang guru pandai dan
mempelajari hampir seluruh ilmu silat yang ada di dunia ini,
namun berhubung waktu yang kurang, aku belum dapat
meresapi seluruh intisari kepandaian itu."

"Akibatnya tiga tahun berselang aku telah dibunuh orang."

"Tapi Thian memang maha pengasih, nampaknya ajalku


belum tiba sehingga nyawaku dikembalikan lagi ke alam
semesta ini. Tiga tahun lamanya kuselami dan kupelajari
semua kepandaian silat yang pernah kupelajari, akhinya
jerih-payahku tidak sia-sia, aku berhasil menemukan kunci
ilmu silat sesungguhnya."

"Sejak mulai belajar silat hingga mencapai keberhasilan


seperti saat ini, aku membutuhkan waktu dua puluh tiga
tahun lamanya, coba bayangkan sendiri baru berapa tahun
kalian berlatih ilmu silat? Itulah sebabnya seperti apa yang
kukatakan tadi, untuk menjadi seorang jago silat yang
Pendekar Cacat 638

berilmu tinggi, tak mungkin bisa dibina dan dipupuk dalam


waktu singkat."

Tiba -tiba Yu Hong-hong bertanya, "Bolehkah aku bertanya,


bukankah nama Hwecu adalah Ko Hong?"

Jian-ciat-suseng tersenyum.

"Nama Ko Hong adalah nama samaran yang telah


kugunakan tiga tahun lalu, nama itu bukan namaku yang
sesungguhnya."

Mendengar hal ini, Hui-eng-su-kiam bersama-sama


menjerit kaget.

"O, rupanya kau adalah pendekar misterius Ko Hong yang


amat termasyhur namanya tiga tahun lalu, kami benar-
benar merasa gembira, sungguh tak disangka kami telah
bertemu pemimpin tulen yang ampuh dan benar-benar
berkemampuan."

Jian-ciat-suseng menghela napas panjang, katanya


kemudian, '"Dikarenakan berbagai alasan, tiga tahun
berselang bukan saja aku telah berganti nama menjadi Ko
Hong, bahkan telah mengubah pula wajah asliku, maka
semua orang tak mengetahui asal-usul dan nama asliku."
Pendekar Cacat 639

"Sesungguhnya nama asliku adalah Bong Thian-gak. Di


kemudian hari kalian boleh memanggil namaku ini secara
langsung."

Rupanya Jian-ciat-suseng ini bukan lain adalah Bong Thian-


gak.

Rupanya setelah meninggalkan Song Leng-hui, Bong Thian-


gak langsung berangkat dari kota Lok-yang menuju ke
gedung Bu-lim Hengcu di kota Kay-hong.

Siapa tahu gedung Bu-lim Bengcu telah berubah menjadi


gedung Kosong yang tak berpenghuni.

Dia pun berangkat ke kuil Keng-tim-an untuk mencari Keng-


tim Nulhay, siapa tahu kuil pun dalam keadaan kosong tak
berpenghuni.

Hanya dalam tiga tahun, situasi dunia persilatan telah


mengalami perubahan besar.

Padahal cita-cita serta tujuan yang utama kemunculan Bong


Thian-gak kali ini adalah melenyapkan Put-gwa-cin-kau dari
muka bumi.

Siapa tahu gerak-gerik maupun jejak Put-gwa-cin-kau


seakan-akan punah begitu saja dari muka bumi.
Pendekar Cacat 640

Dalam putus asanya dan tiada cara lain yang bisa diperbuat,
akhirnya Bong Thian-gak mulai menantang semua jago lihai
dari berbagai partai dan perguruan untuk merobohkan
mereka satu per satu.

Hanya dalam tiga bulan saja ia telah berhasil merobohkan


ratusan jago persilatan, nama besar Jian-ciat-suseng pun
semakin membekas di dalam hati para jago persilatan.

Sesungguhnya dia berbuat demikian karena terpaksa, tak


bisa disangkal lagi dia ingin memancing kemunculan rekan-
rekan lamanya yang telah menyembunyikan diri agar tampil
kembali ke dalam Bu-lim.

Di samping itu, tentu saja dia ingin memancing munculnya


orang-orang Put-gwa-cin-kau.

Pada saat bersamaan dengan munculnya kembali Bong


Thian-gak, dalam Bu-lim dihebohkan oleh munculnya
seorang iblis perempuan yang amat lihai, Si-hun-mo-li (Iblis
wanita perenggut nyawa).

Berdasar penuturan orang, Bong Thian-gak menduga


perempuan itu adalah Jit-kaucu Thay-kun.

Oleh sebab itu di kala Bong Thian-gak mendengar kabar


bahwa Si-hun-mo-li telah muncul di ibukota, maka dia pun
Pendekar Cacat 641

segera berangkat ke kota terlarang dengan tujuan hendak


membuktikan apakah Si-hun-mo-li itu benar Thay-kun atau
bukan.

Dalam hati Bong Thian-gak, Thay-kun telah menempati


posisi yang amat penting, walau antara mereka belum
pernah mengucapkan kata cinta, namun dalam hati kecil
kedua orang itu sesungguhnya sudah bersemi setitik bunga
cinta.

Cuma sayang bibit cinta itu sudah hancur dan musnah sejak
tiga tahun berselang.

Dengan kesetia-kawanan, demi peri-kemanusiaan, Bong


Thian-gak merasa wajib untuk menyelidiki mati-hidup Thay-
kun.

Apalagi mati hidup Thay-kun menempati pula posisi yang


maha penting dalam Bu-lim.

Bong Thian-gak berkata lagi, "Sejak kini kedudukan kalian


berempat dalam Tiong-yang-hwe menempati posisi yang
amat penting, tentu saja apabila ilmu silat yang kalian miliki
tidak lihai dan melebihi orang lain, sulit untuk menanggung
tugas berat ini."

"Oleh sebab itu aku mengambil keputusan hendak


mewariskan semacam ilmu pedang maha sakti yang bisa
dikuasai dalam waktu singkat untuk kalian berempat."
Pendekar Cacat 642

Tak terlukiskan rasa kaget dan gembiranya Hui-eng-su-kiam


mendengar janji itu, pertama-tama Yu Hong-hong yang
menjatuhkan diri berlutut lebih dulu, katanya, "Budi
kebaikan yang Hwecu berikan tak pernah kami berempat
lupakan."

Dengan suara dalam Bong Thian-gak berkata lagi,


"Seseorang yang berlatih ilmu silat bukanlah bertujuan
untuk mencari nama atau merobohkan orang lain, baik-
buruknya kepandaian silat pun tergantung mental dan
watak seseorang, jika orang itu berangasan atau buas dan
kejam, maka mustahil ilmu silatnya dapat mencapai
kesempurnaan, dalam hal ini kalian belum dapat
memahami secara keseluruhan, namun di kemudian hari
bila ilmu silat yang kalian miliki sudah memperoleh
kemajuan pesat, sudah pasti akan kalian sadari ucapan ini
bukan omong kosong belaka."

"Ilmu pedang yang hendak kuwariskan kepada kalian


sekarang sebenarnya hanya terdiri dari satu jurus saja,
namun di balik satu jurus itu sebenarnya mengandung tiga
gerakan yang berbeda."

"Dari ketiga gerakan itu, hanya terdapat satu gerakan yang


merupakan jurus serangan, sedang dua gerakan yang lain
merupakan jurus pertahanan."
Pendekar Cacat 643

"Ilmu pedang satu jurus dengan tiga gerakan ini walaupun


cuma satu gerakan yang merupakan gerak serangan, tapi
serangan itu sangat ganas, dahsyat dan luar biasa, begitu
serangan dilepaskan, korban pasti roboh, oleh sebab itu
aku ingin berpesan kepada kalian, andaikata keadaan tidak
terpaksa, jangan sekali-kali kalian gunakan gerak serangan
itu secara sembarangan."

Serentak Hui-eng-su-kiam berkata, "Kami akan menuruti


perintah Hwecu, bila melanggar, kami bersedia menerima
hukuman."

Bong Thian-gak mendongakkan kepala dan memandang


sekejap sekeliling tempat ini, lalu berkata pula, "Sekarang
mari kita mundur ke balik hutan sebelah sana dan mulai
berlatih ilmu pedang."

Selesai berkata, Bong Thian-gak segera mengajak Hui-eng-


su-kiam berjalan menuju ke dalam sebuah hutan kecil di
sebelah kanan jalan.

Bong Thian-gak memungut sebatang ranting kering,


kemudian pelan-pelan berkata, "Jurus pedang dinamakan
Coa-tin-toh (Peta barisan ular), dari namanya tentu kalian
sudah memahami, cara menggunakan jurus serangan ini
adalah sambil bertahan melancarkan serangan."
Pendekar Cacat 644

"Gerakan pertama disebut Coa-tin-in-sian (Barisan ular


mulai tampak), menghadapi jurus serangan macam apa
pun, kaki kiri mundur selangkah sambil memutar badan
setengah lingkaran, pedang bergerak dari ketiak kiri
melintang ke depan."

"Gerakan kedua disebut Siu-heng-gi-wi (Cabut badan


bergeser tempat), merupakan gerak lanjutan, kaki kanan
bergeser selangkah ke kanan, tanpa mengubah posisi
pedang, badan berganti posisi, pedang kanan pun berubah
ancaman, dengan mata pedang menusuk permukaan
tanah."

"Sedangkan gerakan ketiga disebut Coa-si-ci-toh (Lidah ular


menjulur keluar), menjatuhkan badan ke arah lawan,
namun pedang yang menusuk ke arah bawah tiba-tiba
meletik dan menusuk ke arah belakang."

"Jurus Coa-tin-toh ini boleh dipergunakan secara beruntun,


boleh juga digunakan tersendiri, tapi daya pengaruh yang
dipancarkan tentu saja jauh lebih besar bila kita
menggunakannya secara beruntun."

"Satu jurus dengan tiga gerakan ini kelihatannya seperti


sederhana sekali, namun untuk memahami intisarinya
kalian harus berlatih puluhan kali, dengan begitu kalian bisa
maju setapak lebih ke depan dan melatihnya hingga
Pendekar Cacat 645

mencapai kesempurnaan, pengaruhnya akan jauh lebih


besar lagi."

"Asal satu jurus dengan tiga gerakan ini sudah kalian kuasai,
sekali pun menghadapi seorang jago pedang yang berilmu
sangat tinggi, tidak susah untuk menusuk hulu hatinya."

"Nah, sekarang aku akan pulang dulu ke Hong-tok-ciu-lau,


aku berdiam di kamar nomor tiga puluh enam, selesai
berlatih nanti kembalilah ke sana."

Begitu selesai berkata, Bong Thian-gak membalikkan badan


keluar dari hutan kecil itu dan kembali ke penginapan
Hong-tok-ciu-lau.

Bulan sembilan di wilayah utara, udara terasa sangat dingin


merasuk tulang.

Rembulan tertutup awan, bintang menyembunyikan diri,


malam itu sangat gelap-gulita.

Dalam kamar nomor tujuh puluh sembilan Hong-tok-ciu-


lau, nampak cahaya lentera masih bersinar terang, kendati
tengah malam sudah lewat.

Kamar itu ditempati dua orang berbaju putih, wajah kedua


orang itu aneh sekali, yakni berwarna hitam dan putih yang
bercampur aduk, jelek dan aneh bukan kepalang.
Pendekar Cacat 646

Perawakan tubuh mereka kurus kering dan jangkung,


matanya melotot besar dan menyinarkan sinar kebuasan.

Waktu itu kedua orang itu sedang duduk di ruang tamu,


agaknya mereka sedang menantikan seseorang.

Mendadak orang di sebelah kiri berkata, "Kentongan ketiga


sudah lewat, aneh, mengapa mereka belum juga datang?"

Orang yang di sebelah kanan menyahut dengan suara yang


menyeramkan pula, "Menurut keterangan si perantara,
tengah malam nanti dia pasti datang."

Baru selesai dia berkata, cahaya lentera berguncang keras,


lalu terendus bau harum yang menyegarkan.

Serentak kedua orang aneh itu mendongakkan kepala.

Kedua orang itu terperanjat dengan mata terbelalak lebar.

Rupanya di ruang tamu itu sudah berdiri seorang gadis


cantik rupawan, sepasang biji matanya yang sangat jeli dan
membetot sukma sedang mengawasi kedua orang berbaju
putih yang jelek dan aneh itu tanpa berkedip.

Tiba-tiba sekulum senyum manis menghiasi wajahnya yang


cantik hingga terlihat sepasang lesung pipinya yang indah.

Pada dasarnya dia memang berwajah cantik bak bidadari


dari kahyangan, ditambah pula dengan senyuman yang
Pendekar Cacat 647

menawan, boleh dibilang siapa pun pasti akan terpikat


olehnya.

Terutama senyumannya itu, begitu indah dan cantik


membuat sukma orang serasa mau terbang rasanya.

Kedua orang aneh berbaju putih itu seakan-akan tak berani


mempercayai apa yang terpampang di depan matanya,
mereka berpaling bersama, kemudian salah seorang di
antaranya segera menegur pelan, "Kau ... kau ... kau ...
adalah Si-hun-mo-li?"

Sesungguhnya pertanyaan orang aneh itu berlebihan,


sebab Si-hun-mo-li tidak akan sembarangan menampakkan
diri, dia memerlukan perantara untuk mencari
langganannya.

Si-hun-mo-li baru akan muncul bagai sukma gentayangan


apabila si perantara sudah mengaturkan segalanya.

Kedua orang aneh berbaju putih ini merupakan bajingan


cabul yang termasyhur di kolong langit, mereka memang
gemar main perempuan, tapi setelah berjumpa dengan Si-
hun-mo-li hari ini, mereka berdua ketakutan, ngeri dan jeri
menghadapi kecantikannya itu.

Menurut kabar yang tersiar di Bu-lim, barang siapa bermain


cinta dengan Si-hun-mo-li, maka sukmanya akan lenyap.

Berita yang tersiar itu menggidikkan siapa pun yang


mendengar.
Pendekar Cacat 648

Tapi sungguhkah itu? Atau cuma isapan jempol belaka?

Oleh karena mereka berdua belum membuktikan sendiri,


maka kedua orang ini pun belum tahu.

Si-hun-mo-li tidak menjawab pertanyaannya, sekulum


senyuman kembali menghiasi wajahnya yang cantik.

Senyuman untuk kedua kalinya ini membuat kedua orang


aneh berbaju putih itu tak dapat menggeser matanya.

Sebab pada saat itulah Si-hun-mo-li telah melepas mantel


luarnya sehingga nampak pakaian dalamnya yang tipis dan
berwarna kuning menerawangkan tubuh bagian dalamnya
yang putih mulus dan membetot sukma itu ....

Ya, gadis itu memang memiliki tubuh yang indah, memukau


hati, merangsang napsu birahi dan membuat hati orang
berdebar keras.

Orang aneh yang bersuara seperti jeritan setan itu berseru


lantang, "Loji, apakah kau sanggup bersabar? Perempuan
ini benar-benar menggairahkan, sekali pun seperti apa yang
dikabarkan orang. Semalam bercinta sukma melayang, kita
patut mencobanya, cuma apakah dia bersedia melayani
kita secara bergilir?"

Orang berbaju putih lainnya segera menyahut, "Lotoa, aku


sudah tak mampu menahan diri, selama hidup belum
pernah kujumpai wanita yang begitu cantik dan menawan
hati seperti dia."
Pendekar Cacat 649

Si-hun-mo-li tersenyum lagi, senyuman untuk ketiga


kalinya.

Menyusul kemudian pakaian tipis pun pelan-pelan terlepas


dari atas badannya.

Tampaknya kedua orang berbaju putih itu sudah tak


mampu menahan diri lagi, secepat kilat mereka bertindak,
"Blam", pintu ruangan sudah ditutup rapat-rapat.

Di bawah cahaya lentera, terlihatlah tubuh perempuan


yang bugil dan indah terpapar di depan mata.

Mata kedua orang berbaju putih itu melotot memancarkan


napsu birahi, tiada hentinya mengawasi tubuh bugil Si-hun-
mo-li.

Biar besok harus mati, malam ini mereka merasa wajib


mencari kepuasan.

Keesokan harinya, di kamar nomor tujuh puluh sembilan


Hok-tok-ciu-loo telah ditemukan dua sosok mayat.

Mereka tewas dalam keadaan telanjang bulat, tertutup


oleh kain dan baju yang kotor.

Yang lebih menggemparkan masyarakat adalah kedua


orang itu bukan lain adalah Hek-liong-kang-siang-cho
(sepasang manusia jelek dari Hek-liong-kang) yang
termasyhur namanya di Bu-lim.
Pendekar Cacat 650

Kepandaian silat serta kecabulan kedua orang jelek dari


Hek-liong-kang ini sudah cukup membuat orang persilatan
pusing dan bergidik, tapi nyatanya mereka berdua
ditemukan tewas dalam keadaan menyedihkan.

Bahkan tewas di tangan Si-hun-mo-li yang cantik tapi


berhati keji.

Selama tiga bulan ini, belum pernah ada seorang lelaki pun
di Bu-lim yang lolos dalam keadaan hidup setelah bermain
cinta semalam suntuk dengan Si-hun-mo-li.

Tentu saja tiada orang tahu macam apakah Si-hun-mo-li itu


hingga memukau hati orang.

Di kolong langit ini sesungguhnya hanya seorang saja yang


pernah melihatnya, baik wajah maupun tubuh bagian
rahasianya sekali pun.

Tapi siapakah dia?

Orang itu tak lain adalah Jian-ciat-suseng Bong Thian-gak.

Dalam benak Bong Thian-gak, dia hanya berpendapat


bahwa Si-hun-mo-li adalah Thay-kun.

Sebab di kolong langit dewasa ini, tidak mungkin ada


perempuan kedua yang memiliki perawakan badan begitu
memukau perasaan laki-laki dan memiliki kekuatan yang
begitu besar sehingga lelaki mana pun bersedia
mengorbankan jiwanya.
Pendekar Cacat 651

Bong Thian-gak yang berada dalam kamar nomor tiga enam


Hong-tok-ciu-lau sedang duduk di ruang tamunya dengan
wajah serius, sedang di empat kursi lainnya duduklah Hui-
eng-su-kiam.

Lima orang dari Tiong-yang-hwe hanya duduk termenung


saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Tiba-tiba terdengar Bong Thian-gak menghela napas


panjang, lalu berkata, "Benar, aku ingin bertemu dengan Si-
hun-mo-li, sebab tujuanku kemari adalah ingin bertemu
dengannya."

"Tentu saja kami tak berani memaksa Hwecu membatalkan


niat itu," kata Yu Hong-hong dengan sedih. "Cuma ... bila
Hwecu ingin bertemu dengannya, jangan berangkat
seorang diri."

Bong Thian-gak tersenyum.

"Tak usah kuatir," katanya, "Si-hun-mo-li tak bakal


melahapku."

Sewaktu mendengar ucapan ini, merah padam wajah Yu


Hong-hong karena jengah, bibirnya yang sudah bergetar
hendak bicara segera diurungkan, sementara kepala pelan-
pelan ditundukkan rendah-rendah.

Tio Im berkata, "Kepandaian silat maupun ketenangan


Hwecu memang melebihi siapa pun, cuma aku tidak tahu
Pendekar Cacat 652

dengan cara apakah Hwecu ingin bertemu Si-hun-mo-li?


Konon dia tidak muncul setiap saat."

Bong Thian-gak menyahut, "Ai, sesungguhnya persoalan


inilah yang membuatku kesulitan, tentu aku harus mencari
dulu si perantara."

Siau-hiang-eng The Goan-ho yang selama ini cuma


membungkam tiba-tiba menimbrung, "Menurut
pendapatku baik si perantara maupun Si-hun-mo-li, bisa
jadi semuanya berdiam pula dalam rumah penginapan ini"

"Samte, tersiar di Hong-tok-ciu-lau ini terdapat seratus


delapan buah kamar, dengan cara apa kita bisa memeriksa
semua kamar?" seru Boan-thian-eng (Burung pembalik
jagad) Bu Siau-hong.

"Sekali pun tidak bisa juga harus diperiksa, kita tak boleh
berpeluk tangan membiarkan Si-hun-mo-li mencelakai laki-
laki lain lagi, siapa tahu suatu ketika dia akan mencari kita
semua?"

"Tio Im," tiba-tiba Bong Thian-gak bertanya. "Apakah kau


sudah berhasil memperoleh daftar tamu yang menginap di
tempat ini?"

"Lapor Hwecu," jawab Gin-ho-eng Tio Im dengan hormat,


"daftar nama para tamu sudah kuperoleh, tapi sebagian
besar orang yang punya nama, mencantumkan nama palsu
mereka di buku, misalkan saja Mo Siau-pak dari Kim-liong-
Pendekar Cacat 653

kiam-san-ceng serta Siangkoan-lojin, mereka tinggal di sini,


namun di daftar tidak ditemukan namanya."

"Nama asli mereka tentu saja tak akan tercantum dalam


daftar itu," Bong Thian-gak tertawa.

Mendengar itu, semua orang lantas tertawa saling


berpandangan penuh pengertian.

Tiba-tiba Yu Hong-hong berseru dengan manja, "Bong-


hwecu ...."

Karena sorot mata nona itu berkedip dan mengawasi


dirinya tanpa henti, tanpa tetasa Bong Thian-gak bertanya,
"Hong-hong, kau ada urusan apa?"

"Ada satu masalah ingin kutanyakan kepada Hwecu, tapi


apakah Hwecu mengizinkan?"

"Katakan saja terus terang, kita kan sudah orang sendiri."

"Apakah Hwecu kenal dengan ... dengannya?" tanya Yu


Hong-hong agak tergagap.

Tergetar perasaan Bong Thian-gak mendengar pertanyaan


itu, sahutnya, "Aku hanya menduga saja, tidak terlalu pasti,
itulah sebabnya aku harus melihat dengan mata kepala
sendiri sebelum memastikan."
Pendekar Cacat 654

Tanya jawab kedua orang ini mengejutkan Gin-ho-eng Tio


Im bertiga, serentak mereka berpikir, "Yang dimaksud
Sumoay sebagai dia, sudah pasti Si-hun-mo-li."

Sementara mereka masih berpikir, Yu Hong-hong telah


berkata lagi dengan merdu, "Hwecu teliti dan cermat,
kecerdikanmu melebihi siapa pun, aku percaya apa yang
kau duga tak akan meleset, bisa jadi Si-hun-mo-li benar
adalah orang yang diduga oleh Hwecu."

"Hong-hong, apa yang hendak kau ucapkan? Tak usah ragu-


ragu, katakan saja semuanya!"

Setitik air mata tampak menggenang di kelopak mata Yu


Hong-hong, katanya, "Aku kuatir setelah Hwecu bertemu
dengannya, dia akan mencelakai jiwa Hwecu."

Bong Thian-gak menghela napas panjang, "Andaikan Si-


hun-mo-li benar-benar orang yang kuduga, dia tak akan
mencelakai jiwaku, bahkan siapa tahu dia enggan bertemu
denganku."

"Ai, sebenarnya aku boleh saja mengatakan siapa dia, tapi


meski sudah kusebut namanya pun belum tentu kalian
kenal, lebih baik tak usah dikatakan saja."

Kembali Yu Hong-hong bertanya, "Seandainya Si-hun-mo-li


betul-betul adalah orang yang telah diduga Hwecu, maka
apakah tindakan yang akan Hwecu lakukan?"
Pendekar Cacat 655

Bong Thian-gak mengangkat kepala dan termenung


beberapa saat, lalu gumamnya, "Semoga saja bukan dia."

"Berita yang tersiar di Bu-lim, dia dilukiskan sebagai setan


iblis, perempuan siluman, gadis cabul, tapi aku meragukan
kebenarannya. Itulah sebabnya aku harus bertemu
dengannya, aku perlu membicarakan persoalan ini
dengannya, sebab di saat kami berpisah dulu, dia adalah
seorang gadis pemurung dan mudah putus asa, besar
kemungkinan dia sudah tak bebas lagi."

Seandainya Si-hun-mo-li adalah Thay-kun, Bong Thian-gak


tahu gadis itu patut dikasihani, sebab dia tahu Cong-kaucu
tak menanti akan melepaskan dirinya begitu saja.

Bila Thay-kun masih hidup, sekali pun tubuhnya adalah


tubuh kasar miliknya, namun roh dan jiwanya sudah pasti
bukan miliknya.

Tentu saja segala sesuatunya itu baru dapat menjadi jelas


bila Bong Thian-gak telah bersua dengannya.

Untuk beberapa saat lamanya Hui-eng-su-kiam berdiri


kaget, tertegun dan kebingungan mendengar perkataan
Bong Thian-gak itu, mereka tidak tahu hubungan apakah
yang pernah terjalin antara Hwecunya ini dengan Si-hun-
mo-li.
Pendekar Cacat 656

Menyaksikan kesedihan dan kemurungan yang menghiasi


wajah Bong Thian-gak, Yu Hong-hong menghela napas
panjang, katanya, "Harap Hwecu sudi memaafkan
kelancanganku menanyakan masalah itu hingga
mengungkap kembali kenangan pahit Hwecu di masa
lampau."

Bong Thian-gak tersenyum.

"Hong-hong, aku tak menyalahkan dirimu, aku hanya


berharap agar kalian berempat mempercayai diriku, Bong
Thian-gak tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan untuk
berbakti kepada Tiong-yang-hwe."

"Kami empat bersaudara sejak tiga tahun lalu membentuk


Hui¬eng-su-kiam, selama ini kami selalu bersama, ada
kesulitan dipikul berbareng, hari ini kami telah
menyerahkan diri untuk berbakti kepada Tiong-yang-hwe,
berarti mati-hidup kami telah diserahkan pada Hwecu,
sejak kini bila Hwecu ada perintah, maka baik mendaki
bukit golok maupun terjun dalam minyak mendidih, kami
empat bersaudara tak akan menampik."

Ucapan Tio Im ini diutarakan dengan tegas dan penuh


kegagahan.

Bong Thian-gak manggut-manggut.


Pendekar Cacat 657

"Aku sangat bangga dapat memperoleh bantuan kalian


berempat, semoga saja Tiong-yang-hwe bisa termasyhur di
Bu-lim."

Setelah berhenti sejenak, dia menyambung lagi, "Sekarang


aku mempunyai suatu tugas yang hendak kuserahkan pada
kalian berempat, sebelum matahari terbenam hari ini, kita
berlima memisahkan diri ke lima arah melakukan
pemeriksaan seksama terhadap setiap umat persilatan
yang tinggal dalam Hong-tok-ciu-lau ini, tapi ingat! Apabila
keadaan tidak memaksa, jangan sampai bentrok secara
kekerasan."

"Baik," sahut Hui-eng-su-kiam serentak.

Begitu perintah diturunkan, Hui-eng-su-kiam dan Bong


Thian-gak berlima segera berpencar ke lima penjuru untuk
mulai bertugas.

Bong Thian-gak menuju ke arah tengah, dia berjalan lebih


dulu menuju ke kamar nomor tujuh, dia tahu ruangan ini
ditempati oleh Thia Leng-juan.

Kamar itu yang termegah di Hong-tok-ciu-lau, satu di antara


dua belas kamar istimewa, empat penjuru dikelilingi
dinding rendah, pada arah timur dan barat dinding terdapat
dua buah kebun bunga kecil, ada gunung-gunungan, gardu
dan air mengalir.
Pendekar Cacat 658

Bong Thian-gak berdiri di luar dinding di halaman belakang


di sebelah utara.

Rumah itu tertutup rapat, tampaknya Thia Leng-juan


sedang keluar kamar.

Bong Thian-gak berdiri termenung beberapa saat,


mendadak dia melompati dinding rendah itu dan langsung
menuju ke kamar bagian belakang.

Mendadak dari belakang tubuhnya berkumandang suara


teguran dengan suara dingin seperti es, "Thia-tayhiap
sedang keluar, memasuki kamar tanpa permisi, apakah kau
tak kuatir disebut orang kurang adat?"

Suara teguran itu cukup dikenalnya, pelan-pelan Bong


Thian-gak membalik badan.

Terlihat majikan muda Kim-liong-kiam-san-ceng Mo Siau-


pak sedang berdiri di belakang tubuhnya.

"Mo-siaucengcu mencari aku?" tegur Bong Thian-gak


hambar.

Mo Siau-pak tertawa dingin.


Pendekar Cacat 659

"Kau telah melukai Siangkoan-lotoa, karena itu Mo Siau-pak


tak akan melepas dirimu begitu saja."

Bong Thian-gak mengangkat kepala dan memperhatikan


sekejap sekeliling tempat itu, kemudian ujarnya dengan
suara hambar, "Di sini tiada orang, bila ingin bertarung,
cabutlah pedangmu dan lancarkan seranganmu!"

"Pedangku tak pernah disarungkan tanpa hasil, kau tidak


melolos pedangmu?"

"Sudah kukatakan, kalau ayahmu Mo Hui-thian mungkin


masih pantas bagiku untuk mempergunakan pedang, bila
kau menganggap tindakanku ini suatu penghinaan, lebih
baik kau jangan turun tangan."

Berubah hebat paras muka Kiu-liong-sin-kiam Mo Siau-pak,


bentaknya, "Baik, kalau kau enggan menggunakan senjata,
terpaksa aku akan mengalah tiga jurus, sekarang lancarkan
dulu seranganmu."

"Hanya cukup dengan satu gebrakan saja kau akan keok,


percaya tidak dengan perkataanku? Makanya aku selalu
memberi kesempatan kepada orang lain untuk
melancarkan serangan lebih dulu."

Mo Siau-pak benar-benar dibikin gusar oleh ucapan itu,


sambil tertawa dingin secepat kilat tubuhnya menerjang ke
muka.
Pendekar Cacat 660

Tatkala tubuhnya berada berhadapan dengan Bong Thian-


gak, pedang naga sembilannya dilolos dengan tangan
kanan.

Cahaya pedang menyambar bagaikan bianglala lewat di sisi


tubuh Bong Thian-gak.

"Cring", dentingan nyaring berkumandang memecah


keheningan. Akibat bentrokan itu, Mo Siau-pak mencelat.

Sedangkan pedang sembilan naganya rontok ke atas tanah,


meski hawa pedang masih memancar, sayang sudah
kehilangan kemampuan untuk melukai orang.

Jian-ciat-suseng benar-benar hanya menggunakan satu


jurus serangan saja dan Mo Siau-pak telah menderita
kekalahan total.

Bukan hanya menderita kekalahan saja, Mo Siau-pak


bahkan tak sempat mengetahui jurus serangan apakah
yang telah dipergunakan lawan untuk merontokan pedang
dalam genggamannya itu.

Dia hanya merasa pergelangan tangannya sakit sekali, tahu-


tahu pedangnya sudah rontok ke atas tanah.
Pendekar Cacat 661

Mo Siau-pak benar-benar tidak percaya dia menderita


kekalahan dalam satu gebrakan saja, tapi kenyataan sudah
di depan mata, Jian-ciat-suseng memang tidak bergeser
selangkah pun.

"Bret", pakaian bagian lengan kanan Jian-ciat-suseng


rontok secara tiba-tiba ke atas tanah dan robek menjadi
dua.

Pada saat itulah terdengar Bong Thian-gak berkata,


"Kelihaian ilmu pedangmu sungguh di luar dugaanku,
andaikata lenganku ini masih utuh, niscaya lenganku ini
sudah pasti kau kutungi."

Perkataan Bong Thian-gak ini sama sekali tidak membuat


paras muka Mo Siau-pak berubah, sebab dia tahu serangan
pedangnya bukan menyerang melalui sisi sebelah kanan,
ujung lengan baju kanan lawan tersayat putus oleh karena
dia berhasil merontokkan pedangnya lebih dulu, saat
tubuhnya berputar, ujung lengan baju kanan yang berkibar
tak terkendali dan tersayat putus oleh mata pedangnya.

Beberapa patah kata Jian-ciat-suseng barusan, tidak lebih


hanya sebagai hiburan bagi seorang yang baru menderita
kekalahan.
Pendekar Cacat 662

Mendadak terdengar suara tawa bergema, dengan


perasaan kaget Bong Thian-gak dan Mo Siau-pak berpaling.

Dari balik halaman rumah pelan-pelan berjalan keluar


seorang sastrawan berbaju biru, dia bukan lain adalah
pendekar sastrawan Im-ciu Thia Leng-juan.

Sambil tersenyum Thia Leng-juan berjalan menghampiri


mereka, lalu membungkukkan badan mengambil pedang
sembilan naga yang tergeletak di tanah, katanya, "Hari ini
mata orang she Thia baru terbuka, serangan pedang Mo-
siaucengcu benar-benar dahsyat, sedangkan pukulan
Cuangcu ini pun hebat. Kalian berdua sama-sama tangguh
dan hebat, setali tiga uang, siapa pun tak ada yang kalah."

Sembari berkata dia membawa pedang sembilan naga itu


dan diangsurkan ke depan Mo Siau-pak.

Tiba-tiba Mo Siau-pak menghela napas panjang, lalu


berbisik, "Ai, aku telah kalah, cuma yang membikin hatiku
tak puas adalah mengapa saudara membiarkan aku kalah
dalam satu gebrakan, tiada jago lihai yang mampu
mengalahkan aku dalam satu gebrakan, kecuali ... kecuali
ayahku sendiri."

Setelah menyerahkan pedang, Thia Leng-juan membalik


badan dan mengalihkan pembicaraan ke soal lain, kepada
Pendekar Cacat 663

Bong Thian-gak dia bertanya, "Mungkinkah saudara datang


untuk mencari aku orang she Thia!"

Tergerak hati Bong Thian-gak ketika dilihatnya Thia Leng-


juan tidak mengenali dirinya, pikirnya, "Ya, benar! Dulu aku
telah menyaru wajah dan sekarang muncul dengan wajah
asli, tak heran Thia Leng-juan tak mengenali diriku lagi!"

Kemudian sambil tersenyum dia menyahut, "Benar, aku


memang ingin menyambangi pendekar sastrawan dari Im-
ciu!"

Thia Leng-juan tertawa terbahak-bahak, "Hahaha,


kepandaian silat yang kau miliki sangat hebat, tak usah
bertarung pun aku orang she Thia mengakui aku bukan
tandinganmu."

Rupanya Thia Leng-juan mengira Bong Thian-gak


mencarinya untuk menantang duel.

Perbuatan Thia Leng-juan sebelum bertarung sudah


mengaku kalah pun merupakan perbuatan yang mustahil
dilakukan orang lain, mungkin di kolong langit ini tiada
manusia yang bisa berbuat seperti ini.

"Ai," Bong Thian-gak menghela napas. "Jian-ciat-suseng


bukan seorang yang gemar mencari gara-gara tanpa alasan,
harap Thia-tayhiap jangan salah sangka."
Pendekar Cacat 664

"Kalau begitu, ada urusan apa kau mencariku? Aku orang


she Thia siap mendengar penjelasanmu," kata Thia Leng-
juan sambil tertawa.

Pelan-pelan Bong Thian-gak berkata, "Seingatku, tiga tahun


lalu Thia Leng-juan pernah berada di gedung Bu-lim Bengcu
di kota Kay-hong."

Sampai di situ, dia lantas membungkam dan tidak


melanjutkan kembali kata-katanya.

Sementara paras muka Thia Leng-juan berubah hebat, tapi


hanyi sebentar saja sekulum senyuman sudah kembali
menghiasi wajahnya, dia berkata pula, "Ya, aku pun merasa
seakan-akan pernah bersua denganmu di suatu tempat."

Hati Bong Thian-gak bergetar, sebenarnya ia ingin


mengungkap asal-usul sendiri, tapi entah mengapa tiba-tiba
saja dia merasa di balik sorot mata Thia Leng-juan seakan-
akan terpancar serentetan sinar membunuh yang
mengerikan.

Maka dengan kening berkerut, sahutnya hambar, "Tengah


hari kemarin, kita pernah bersua di tempat makan."

"Bukan hanya kemarin."


Pendekar Cacat 665

"Kalau begitu, dapatkah Thia-tayhiap menerangkan


dimanakah kita bersua lagi?" Bong Thian-gak balik
bertanya.

Thia Leng-juan tertawa terbahak-bahak, "Hahaha, justru


aku orang she Thia tak bisa mengingatnya kembali."

"Padahal kita baru bersua pertama kali di kota terlarang


ini."

"Hahaha, aku orang she Thia memang tidak pandai


melayani tamu, silakan saudara dan Mo-siaucengcu masuk
untuk minum teh!"

Sembari berkata, Thia Leng-juan segera berjalan lebih dulu


menuju ke ruang tamu.

Tapi secara tiba-tiba Mo Siau-pak merangkap tangan


menjura seraya berkata, "Mo Siau-pak masih ada urusan
lain yang mesti diselesaikan, karena itu ingin mohon diri."

Begitu selesai berkata, dia lantas membalik badan dan


melompat keluar tembok pekarangan.

Thia Leng-juan tidak bermaksud menahan tamu, dia


meneruskan perjalanannya menuju ke halaman depan
diikuti Bong Thian-gak di belakangnya.
Pendekar Cacat 666

Tak selang lama mereka berdua sudah tiba di depan undak-


undakan pintu kamar.

Sembari membuka pintu, Thia Leng-juan berkata, "Tahukah


kau, semalam di rumah penginapan ini sudah terjadi
peristiwa besar?"

"Soal direnggutnya dua sukma sepasang manusia jelek dari


Hek-liong-kang oleh Si-hun-mo-li?" sahut Bong Thian-gak
hambar

Thia Leng-juan tertawa ringan, kemudian mendorong pintu


dan mendonggakkan kepala.

Tiba-tiba saja suara tawa Thia Leng-juan terhenti.

Bong Thian-gak mendonggakkan kepala, tapi apa yang


kemudian terlihatnya membuat dia terperanjat.

Rupanya sembilan pedang darah yang berwarna menyala


telah mengancam tenggorokan Thia Leng-juan.

Pedang darah itu muncul dari balik kamar dan sama sekali
tidak menimbulkan sedikit suara pun.

Oleh karena peristiwa ini terjadi sangat mendadak dan


sama sekali di luar dugaan, lagi pula teknik yang digunakan
Pendekar Cacat 667

si penyergap untuk melancarkan serangan terlampau lihai,


oleh karena itu pada hakikatnya tidak sempat lagi bagi Thia
Leng-juan untuk menghindar, dia segera kena ditawan.

Orang yang memegang pedang Hiat-kiam adalah


perempuan berkerudung kain merah.

Rambutnya yang hitam memanjang terurai ke belakang


bahu, kecuali matanya yang jeli, sepasang tangan yang
putih halus, hampir anggota tubuh lainnya terbungkus di
balik kain berwarna merah itu.

"Kau adalah anggota perguruan pedang darah?" Thia Leng-


juan menegur dengan tenang.

Hiat-kiam-bun atau Perguruan pedang darah merupakan


suatu organisasi paling rahasia yang muncul di Bu-lim
semenjak lenyapnya Put-gwa-cin-kau dari peredaran dunia.

Kay-pang dan Hiat-kiam-bun merupakan dua perkumpulan


yang paling termasyhur di Bu-lim saat ini.

Hiat-kiam-bun termasyhur di Bu-lim karena


penyergapannya dan teknik membunuh orang yang tidak
meninggalkan bekas, membuat orang tak menduga
sebelumnya.

Siapakah ketua mereka? Ternyata tak seorang pun tahu.


Pendekar Cacat 668

Anggota mereka selalu membawa pedang berwarna merah


darah dan mengenakan pakaian berwarna merah, sehingga
nampak begitu menyeramkan dan menggidikkan.

Terdengar perempuan berkerudung merah memerintah


dengan suara sedingin es, "Cepat masuk ke dalam atau
pedang ini akan segera menembus tenggorokanmu!"

Oleh karena ancaman itu, Thia Leng-juan tak bisa berkutik,


terpaksa dia harus menurut perintah dan masuk ke dalam
kamar.

Pelan-pelan perempuan itu ikut mundur ke dalam, namun


ujung pedang merahnya tetap menempel di tenggorokan
Thia Leng-juan.

Bong Thian-gak ikut melangkah masuk, mendadak


terdengar perempuan berkerudung merah memerintah,
"Tutup pintu dan jangan punya pikiran lain atau
tenggorokan orang ini akan segera berlubang."

Perkataan itu jelas merupakan peringatan, terpaksa Bong


Thian-gak harus turut perintah dan menutup pintu,
kemudian berdiri di samping sambil menanti perubahan
situasi.
Pendekar Cacat 669

Dia merasa anggota Hiat-kiam-bun selain memiliki


kepandaian silat lumayan, orangnya pun amat cekatan,
tenang dan pandai melihat gelagat.

Dengan suara masih tenang, Thia Leng-juan bertanya,


"Apakah Hiat-kiam-bun hendak merenggut nyawaku?"

"Bila Buncu kami menghendaki nyawamu, kau sudah tak


dapat bicara sedari tadi," sahut perempuan itu dingin.

Thia Leng-juan tersenyum.

"Kalau begitu, mengapa pedang nona masih menempel


terus di tenggorokanku?"

"Buncu menginginkan kau mengucapkan beberapa patah


kata, bila menolak, nyawamu akan segera kurenggut!"

"Mana Buncu kalian?"

"Buncu kami bukan sembarangan orang dapat


menjumpainya." Thia Leng-juan tertawa ringan.

"Sekarang nona menempelkan pedang di tenggorokanku,


apakah bermaksud hendak memaksaku berbicara?"
Pendekar Cacat 670

Baru selesai dia berkata, mendadak dia meringankan


kepalanya ke samping dengan maksud hendak menghindari
tudingan ujung pedang lawan.

Siapa tahu baru saja ia menggerakkan kepala, tahu-tahu


terasa tenggorokan sakit sekali.

"Jika kau berani bergerak lagi secara sembarangan,


pedangku tidak akan kenal ampun."

Rupanya pedang pendek yang berada di tangan perempuan


berkerudung merah itu sudah menggores luka kulit
tenggorokannya, darah segar segera memancar keluar.

Agak berubah paras muka Bong Thian-gak menyaksikan


kejadian itu, dia merasa perempuan ini memiliki
kecerdasan luar biasa.

Kenyataan sukar bagi Thia Leng-juan untuk melepaskan diri


dari ancaman bahaya begitu saja.

Berpikir sampai di sini, diam-diam timbul keinginan Bong


Thian-gak untuk membantu Thia Leng-juan terlepas dari
cengkeraman lawan.

Terdengar perempuan berkerudung merah berkata, "Thia-


tayhiap pentang matamu lebar-lebar, orang-orang Hiat-
kiam-bun berani datang mencarimu, berarti kami memiliki
kemampuan menghadapimu, oleh sebab itu baik-baiklah
Pendekar Cacat 671

menjawab pertanyaanku, kemungkinan besar kau masih


dapat mempertahankan selembar nyawamu."

Dengan senyum manis masih menghiasi wajahnya, Thia


Leng-juan berkata, "Nona, kau ada urusan apa? Katakan
saja terus terang."

Mendadak terdengar Bong Thian-gak berkata, "Nona,


pedangmu belum dapat dipakai membunuh orang."

"Mengapa belum dapat dipakai membunuh orang?"


tanyanya dengan tertegunnya.

Paras Bong Thian-gak sama sekali tidak mengunjuk


perubahan, hanya katanya dengan suara hambar, "Pedang
nona kalau memang bisa dipakai untuk membunuh orang,
apa salahnya coba ditusukkan ke depan?"

Sembari berkata pemuda itu berjalan mendekat ke


arahnya.

"Berhenti!" bentak perempuan itu dengan suara


menggelegar. "Bila kau berani maju selangkah lagi, dia ...."

Belum habis dia berkata, Bong Thian-gak sudah mendesak


ke arahnya dengan kecepatan bagaikan sukma
gentayangan.
Pendekar Cacat 672

Perempuan itu terperanjat, belum pernah dia saksikan


kepandaian silat semacam ini, cepat dia menggerakkan
tangan kirinya melepaskan sebuah puku