Anda di halaman 1dari 1

Tulisan ini mengawali keinginan ayah ku untuk menulis sebuah buku, namun

sampai sekarang tak pernah berhujung atau tak pernah selesai di sepanjang
hidupnya. Hanya angan-angan. Untuk itu tak akan kuulangi kesalahan ayahku di
dalam hidupnya. Diawali saat aku masih kanak-kanak, yang aku ingat aku kecil
diasuh oleh seorang pengasuh yang bernama Sarah. Kami memanggilnya dengan
panggilan Bou Sarah karena si Bou berasal dari Sumatera Utara, maka Bou adalah
panggilan untuk perempuan yang lebih tua. Memang saya beserta keluarga berasal
dari Sumatera utara, namun saya sudah dilahirkan di Riau, bukan karena tak
diminta, namun ayahku adalah seorang Pegawai Negeri Sipil yang semenjak
diangkat jadi Pegawai Negeri Sipil siap untuk di tempatkan dimana saja maka
ayahku pindah ke Riau sesuai dengan penempatan Pegawai Negeri Sipil nya. Di
Riau ayah melahirkan 3 orang anak yang salah satu nya adalah Aku. Sewaktu kecil
aku anak yang susah makan, “itu kata ibuku”. Karena aku sendiri tidak tahu akan
hal itu. Oleh karena itu dicarilah orang yang rela menunggu ku berjam-jam untuk
menyuapiku sampai selesai makan. Jadi Bou Sarah adalah orang yang paling sabar,
yang sabar menunggu ku makan disaat nasi yang di suapkan ku tahan dan kuhisap-
hisap dimulut sampai berjam-jam lalu ditelan. Pada saat itu si Bou adalah orang
yang paling kusayang, iya pembantu sekaligus pengasuhku yang mampu bertahan
paling lama. Aku teringat pada saat itu diwaktu hujan berjatuhan dari atas langit
aku sedang main kelereng di Jl Belanak 2 (Tempat ku Tinggal di Perumnas Rumbai,
Riau) di depan rumah EEN sohibku waktu kecil. Jika sudah main kelereng biasanya
kami main lobang sampai lupa waktu hari hujan pun kami tak peduli. Karena hujan
Sibou panik dan berlari menjemputku dari rumah yang berada di Jl Belanak 3. disaat
si Bou menjumpaiku lagi main kelereng ia langsung memelukku dan menutupi
kepalaku dengan bajunya sampai-sampai pandanganku tertutup dan hanya melihat
kaki ku yang telanjang ayam menghentak-hentakkan tanah tanpa memandang ke
depan, sebab di depan yang kulihat hanyalah baju Bou yang menutupi kepalaku. Ia
melakukan itu agar kepalaku tidak basah dikarenakan hujan gerimis yang kata
ibuku dapat membuatku panas demam, pilek-pilek dan sakit kepala.

Sesampai dirumah aku buka baju dan masuk kekamar mandi mengguyur
badanku dengan air hingga badan ku basah kuyup.

Aku dibawanya berlari Masuk kekelas dan aku merasakan bau yg tahu dak
sedap, ternyata kawan-kawan cewek kalo istirahat siang sukanya makan di kelas.
Makan dikantin hanya sesekali saja. Ketika aku duduk dibangku paling belakang ,
disudut sebelah kiri ternyata si Leni, kawan satu kelas ku jualan gorengan saat
istirahat. Kawan duduk disebelah leni tangannya Bau karena baru saja makan tahu
goreng dituangi cabe. Meja belajar berserakan kertas pembungkus gorengan yang
berminyak.