Anda di halaman 1dari 21

LEMBAR PENGESAHAN

PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN STERIL


Oleh
Kelompok II
Susunan Dosen Pembimbing Praktikum
1.Ivonne Y.Laning S.Farm,.Apt ..
2.Lidya Sulaiman S.Farm.,Apt ..
3.Falentinus F.Dully AmdF ..

Laporan Praktikum Teknologi Sediaan Steril ini telah diterima sebagai salah
satu persyaratan untuk mengikuti Ujian Akhir Semester (UAS)
Tanggal
Ketua Jurusan Farmasi
Poltekkes Kemenkes Kupang

Dra.Elisma, Apt.,M.Si
NIP.196507221995022001





LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FARMASI I
( ANTIBIOTIK )

DOSEN PEMBIMBING
FALENTINUS DULLI,A.MdF
DISUSUN OLEH :
KELOMPOK I

NAMA NIM
1. MARIA M.B.SOGE PO.530333213734
2. MARIA R.BOYSALA PO.530333213740
3. TRESIA LAWEK PO.530333213746
4. NI WAYAN SUWANDANI PO.530333213740
5. SINENSIS M. PASI PO.530333213742
6. TOMY SUBNAFEU PO.530
7. DOLIANA SALWATU PO.530
8. FATHURRHMAN A.W.T.DASI PO.530
9.






JURUSAN FARMASI
POLTEKKES KEMENKES KUPANG
2014


DASAR TEORI
SEDIAAN PARENTERAL / INJEKSI

A. PENGERTIAN
Istilah parenteral berasal dari kata yunani para dan enteron yang berarti
disamping atau lain dari usus. Sediaan ini diberikan secara menyuntikkan obat
dibawah atau melalui satu atau lebih lapisan kulit atau membrane mukosa.
Injeksi adalah Sediaan steril berupa larutn emulsi atau serbuk yang harus
dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan yang
disuntikkan dengan cara merobek jaringan kedalam atau melalui kulit atau
selapu lender. (FI Ed III; 13)
B. KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN SEDIAAN INJEKSI
1. Keuntungan
a. Rute pemakaian menjadi utama apabila bahan obat menjadi rusak
dalam saluran gastro intestinal, cth; insulin dan penicillin G.
b. Respon farmakologi injeksi seringkali lebih cepat dan lebih efektif
dari pada obat yang dipakai secara oral. Cth; obat asma, jantung,
analgetik, anestesi local/sistemik
c. Dalam keadaan gawat dimana pasien tidak dapat sadarkan diri atau
tidak dapat menerima obat secara oral, injeksi parenteral memberikan
segera.
d. Efek obat dapat diramalkan dengan pasti.
e. Bioavailibilitasnya sempurna.
f. Beberapa obat mengiritasi jika diberikan secara oral tapi dapat
ditoleransi jika diberikan secara injeksi. Cth; dekstrosa.
g. Jika pasien mengalami dehidrasi atau syock pemberian secara
intravena biasanya menyelamatkan hidupnya.

2. Kerugian
a. Kebanyakan orang tidak menyukai pemberian obat secara injeksi.
b. Rasa nyeri pada saat disuntik apalagi jika pemberiannya harus
berulang kali
c. Memerlukan tenaga medis dalam pemakaiannya ( kecuali injeksi
insulin ) sehingga tidak praktis dan tidak aman.
d. Memberikan efek psikologis pada pasien yang takut disuntik.
e. Dosisnya tidak dapat ditarik lagi setelah pemberian / penanganan
keracunan tidak dapat dilakukan.

C. PERSYARATAN SEDIAAN INJEKSI
1. Bebas mikroorganisme, atau dibuat dari bahan bahan steril.
2. Bebas dari bahan endotoksin / bahan pirogen menghindari efek
demam.
3. Bebas dari bahan bahan partikulat / benda asing lainnya ( kejernihan
), baik bahan yang bergerak maupun bahan yang tidak larut.
4. Bahan tersebut bisa berasal dari serat kapas, gelas, karet, logam,
plastic, bahan kimia tidak larut, ketombe, dll.
5. Pengaturan pH dan pendaparan.
6. Memiliki tonisitas yang sama dengan darah.
7. Kekentalan yang sedemikian sehingga dapat mengalir kedalam spuit
dan bercampur dengan cairan tubuh.
D. RUTE PEMBERIAN INJEKSI
Rute primer dibagi menjadi :
1. Pemberian secara subkutis / subkutan
Lapisan ini letaknya persis dibawah kulit, yaitu lapisan lemak (lipoid)
yang dapat digunakan untuk pemberian obat antara lain vaksin, insulin,
skopolamin, dan epinefrin atau obat lainnya. Biasanya diberikan dengan
volume 2 ml ( ada pustaka yang membatasi tidak lebih dari 1 ml). cara
pemberian ini biasanya lebih lambat dari cara i.m atau i.v, namun
apabila cara iv volume besar tidak dimungkinkan cara ini seingkali
digunakan untuk pemberian elektrolit atau larutan infuse iv sejenisnya.
Cara ini disebut hipodermolisis, dalam hal ini veba sulit ditemukan.
Karena pada umumnya terjadi iritasi maka pemberiannya harus hati-
hati. Biasanya dimanfaatkan untuk pemberian dalam jumlah 250 ml
sampai 1 liter. Cth ; neutral insulin 40 iu/ml.
2. Pemberian intramuscular
Intramuscular artinya diantaranya jaringan otot. Cara ini kecepatannya
setelah i.v. jarum suntik disuntikkan langsung kedalam pada serabut otot
yang letaknya dibawah lapisan subkutis. Penyuntikan dapat dilakukan
pada pinggul lengan bagian atas. Volume injeksi 1-3 ml dengan batas
sampai 10 ml. Permasalahan yang biasa timbul adalah kerusakan otot
atau saraf terutama apabila ada kesalahan dalam pemberiannya. Bentuk
sediaan yang dapat diberikan yaitu emulsi tipe a/m atau m/a, suspensi
dalam minyak atau suspensi dari serbuk steril. Pemberian i.m
memberikan efek lepas lambat, puncak konsentrasinya dalam darak
dicapai setelah 1-2 jam. Cth ; inj. Penicillin G 3.000.000 unit, inj.serum
antitetanus 10.000 unit, inj.vitamin BC.
Syarat pemberian obat secara i.m :
a. Dapat berupa larutan, air, minyak, atau suspensi. Biasanya dalam
bentuk air lebih cepat diabsorbsi dari pada bentuk suspensi dan
minyak.
b. Dilakukan dengan cara memasukkan kedalam otot rangka.
c. Tempat penyuntikan sebaiknya sejauh mungkin dari saraf-saraf
utama dan pembuluh-pembuluh darah utama.
d. Pada orang dewasa, tempat yang paling sering digunakan untuk
suntik i.m adalah seperempat bagian atas luar otot gluteus max.
Pada bayi, daerah gluteus sempit dan komponen utama adalah
lemak, bukan otot.
e. Tempat suntikan lebih baik dibagian atas atau bawah deltoid,
karena lebih jauh dari saraf radial.
f. Volume yang umum diberikan i.m, sebaiknya dibatasi maximal 5
ml, bila disuntikkan didaerah glutei dan 2 ml bila didaerah
deltoid.
3. Pemberian Intravena
Penyuntikan langsung kedalam pembuluh darah vena untuk
mendapatkan efek segera. Dari segi kefarmasian injeksi i.v ini
merupakan pilihan jika cara s.c dan i.m mengiritasi karena pH dan
tonisitas jauh kondisi fisiologis. Kelemahan cara ini adalah kerjanya
cepat maka pemberian antidotum mungkin lambat bahkan tidak dapat
dilakukan. Volume pemberiannya dapat dimulai dari 1 ml hingga 100
ml bahkan untuk infus volumenya lebih dari itu. Intravena terbatas
untuk pemberian larutan air, kalau merupakan emulsi maka harus
memenuhi ukuran partikel tertentu. Tidak dianjurkan untuk sediaan
suspensi. Larutan dalam volume kecil (dibawah 5 ml) sebaiknya
isotonis dan isohidris sedangkan volume besar (infuse) harus isotonis
dan isohidris. Tidak ada fase absorbs obat langsung masuk kedalam
vena. Cth ; inj. Ampicillin 500 mg, inj NaCl 0,9 % 25 ml; 50 ml dan
500 ml.
Rute Sekunder dibagi menjadi :
1. Intraspinal
Penyuntikan langsung kedalam sum-sum tulang belakang. Larutan
harus isotonis dan isohidris. Umumnya digunakan sebagai anestesi.
Cth; injeksi Xylocain heavy 0,5 % 2 ml (Bupivacain HCl).


2. Peitoneal
Yaitu kateter dimasukkan ke dalam rongga perut dengan operasi untuk
tempat memasukkan cairan steril CAPD (Contonius Ambulatory
Peritoneal Dialisis). Larutan harus hipertonis, zat aktif diabsorbsi
dengan cepat volume yang diberikan dalam jumlah besar (1 atau 2
liter). Resikonya adalah infeksi. Biasanya untuk cuci darah dengan
CAPD. Cth ; infuse Dianeal 1,5% atau 2,5%.
3. Intraartikular
Yaitu disuntikkan kedalam sendi. Larutannya harus isotonis dan
isohidris. Cth ; inj. Kenacort A 10 mg/ml ampul 5 ml.
4. Intradermal
Yang disuntikkan kedalam kulit; volumenya yang disuntikkan
biasanya jumlah kecil 0,1 hingga 0,2 ml. Biasanya skin test atau tes
alergi. Cth; tes antibiotic 1 ml.
Contoh sediaan injeksi :
A. Wadah Ampul :
1. Adrenalin ( epinefrin HCl )
2. Anestetik local ( Lidokain HCl )
3. Anti alergi ( Dipenhydramin HCl )
4. Hemostatik ( Vit.K )

B. Wadah Vial :
1. Injeksi antibiotic gol. beta lactam
2. Injeksi Antiasma
3. Injeksi Antihipertensi
4. Injeksi Vitamin C

E. KOMPOSISI SEDIAAN INJEKSI
1. Bahan Pembawa
a. Air, air untuk injeksi
b. Minyak, minyak nabati (jagung, biji kapas, kacang, wijen).
c. Pembawa campuran (air dengan minyak dengan gliserin, etil alcohol,
dll). Dengan syarat tidak memiliki aktivitas biologic, non toksik,
meningkatkan kelarutan dan absorbs obat.
2. Zat aktif / Bahan Obat
3. Bahan Tambahan
a. Pengawet : Benzalkonium klorida, benzyl alcohol, klorbutnol,
metakresol, timorasol.
b. Antioksidan : Asam ascorbat, tokoferol, monoglikolat.
c. Buffer : Asetat, fosfat, sitrat.
d. Bahan Pengkhelat : nitrogen, sitrat, fosfat.
e. Bahan penambah kekentalan: etil alcohol, gliserin, propileglikol,
PEG.
f. Bahan pengisotonis : NaCl, dekstrosa.
g. Surfaktan : Polioksietilen, sorbiton monooleat.
F. CARA PEMBUATAN SEDIAAN INJEKSI
1. Selidiki pustaka untuk melihat metode sterilisasi bahan dan alat-alat yang
digunakan.
2. Cari incomptabilitas dari zat aktif dan zat tambahan yang digunakan.
3. Tentukan apakah harus bebas alkali dan bebas sulfur.
4. Cari pH kestabilan dari zat aktif.
5. Larutkan bahan aktif dalam pembawa yang sesuai, bahan tabahan
dimasukkan belakangan.
6. Lakukan pengenceran untuk bahan tambahan yang membutuhkan
pengenceran.
7. Cari metode sterilisasi akhir dari sediaan yang telah dibuat.

A.MASTER FORMULA
Fornas hal.237 no.522
Phenobarbital Injection
injeksi fenobarbital
komposisi : tiap ml mengandung
phenobarbitalum natrium 200 mg
dinatrii edetas 200 g
Propilenlikol solution 90% v/v ad 1 ml
penyimpanan dalam wadah dosis tunggal atau wadah dosis ganda
Dosis :
1.Antikonvulsan 200-320 mg jika perlu diulang dalam 6 jam
2.Hipnotikum 130-200 mg
3.Sedativum 100-130 mg jika perlu diulang dalam 6 jam
catatan :
1). propylenglycol solution dibuat menggunakan air untuk injeksi
2). pH 10,0 sampai 11,0
3).Sterilkan dengan cara pemanasan pada suhu 98-100 C selama 30
menit.
4). Sediaan berkekuatan lain 75 mg;150 mg.

B.URAIAN BAHAN
1. Luminal Natrium(FI Ed.III Hal.482)
a) Nama Resmi : Phenobarbitalum Natricum
b) Nama Lain : Fenobarbital Natrium,Luminal Natrium
c) Nama Lain :Fenobarbital Natrium,Luminal Natrium
d) Kelarutan : larut dalam 3 bagian air dan dalam 25 bagian
etanol (95%)p,praktis tidak larut dalam kloroform p,dan dalam
eter p.
e) Bentuk sediaan yg beredar : Phenobarbital injeksi 50 mg/ml
f) Stabilitas : lebih larut dalam air,dan dalam alkohol,
praktis tidak larut dalam air dan alkohol ( FI ed IV hal 660 )
g) OTT : sepaloridin,zipasolin sodium, klindamisin
phospat danpentazocine laktat (FI ed IVhal. 660 )
h) Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
i) Dosis : 100-200 mg, max sehari 600 mg
j) Khasia : hipnotik sedative
2. Dinatrium Edetat (FI Edisi III Hal.669)
a) Nama Resmi : Dinatrium Etilendiamin tetra asetat Dihidrat
b) Pemerian : serbuk hablur,putih tidak berbau,rasa agak asam
c) Pemerian : serbuk hablur,putih tidak berbau,rasa agak asam
d) Kelarutan : larut dalam 11 bagian air,sukar larut dalam etano
95% p,praktis tidak larut dalam kloroform dan dalam eter p
e) Khasiat : Pengkhelat
f) OTT : stabil dalam bentuk padat, bentukgaram lebih stabil
dari pada asam bebas, ott dengan zat pengoksidasi kuat dan basa
kuat (excipient hal.176)


3. Propilenglykoli (FI Edisi III,Hal 534)
a) Nama Resmi :Propylenglycolum
b) Nama Lain :Propilenglikol
c) Pemerian :cairan kental jernih,tidak berwarna,tidak
berbau,rasa agak manis,higroskopik.
d) Kelarutan :Dapat dicampur dengan air, dan dengan etanol
95% dan dengan kloroform p,larut dalam 6 bagian eter p,tidak
dapat dicampur dengan eter minyak tanah P dan dengan minyak
lemak.
e) Penyimpanan :dalam wadah tertutup baik.
f) Khasiat :pelarut
4. Aqua Pro Injectio (FI Edisi III Hal 97)
a) Nama Resmi : Aqua Pro Injectio
b) Nama Lain : air untuk injeksi,air suling,air murni
c) Pemerian : keasaman,kebasaan;ammonium,
besi,tembaga,timbale,kalsium,klorida,nitrat sulfat,zat teroksidasi
memenuhi syarat yang tertera pada farmakope.
d) Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik.
e) Khasiat : pelarut
C.ALASAN PENGGUNAAN BAHAN
1) Alasan penggunaan bahan aktif
Phenobarbital berkhasiat sebagai sedatif namun karena sifatnya yang sukar
larut dalam air,maka dipilih phenobarbital natrium yang sangat mudah larut
dalam air
2) Alasan penggunaan bahan tambahan
Natrium EDTA sebagai pengkhelat untuk mengikat ion logam.
Propylenglikol sebagai pelarut
D.PERHITUNGAN-PERHITUNGAN
1. Dosis :
2. Tonisitas :
W= 0,52 (a
1
. c
1
) +(a
2
.c
2
) + (a
3
.c
3
)
0,576
= 0,52 ( 0,135 .20) +(0,132.0,002) + (0,25.90)
0,576
= 0,52-(2,7+0,00264+22,5)
0,576
=-42,85
-42,85 dalam 100 ml (hipertonis )
3.Pengambilan bahan :
Volume yang diminta : 5ml,dilebihkan 10%
= 5 ml + ( 10% x 5 ml )
= 5 ml + 0,5 ml
= 5,5 ml
Rumur : n.v + (2x3)
= 6 x 5,5 + 6
=39mL
Pengambilan Bahan
1. Luminal Na. : 0,2/1 x 39mL =7,8 g
2. Natrium EDTA :0,2mg/1 x 39mL =7,8mg
Pengenceran :
Timbang EDTA 50mg
Larutkan dalam 10mL
7,8mg x 10mL=1,56mL
50mg
3. Propilenglycol :90/100 x 39mL =35,1mL
4. Aqua Pro Injeksi :ad 39mL
E. METODE KERJA
1. Formula akhir yang dipakai

Phenobarbital Injection
injeksi fenobarbital
komposisi : tiap ml mengandung
phenobarbitalum natrium 200 mg
dinatrii edetas 200 g
Propilenlikol solution 90% v/v ad 1 ml
Penyimpanan dalam wadah dosis tunggal atau wadah dosis ganda

2. Alat yang digunakan
a) Autoclave
b) gelas arloji
c) batang pengaduk
d) Erlenmeyer
e) Gelas ukur
f) Lampu spiritus
g) Sendok logam
h) Spuit
i) Pinset
j) Kertas saring
k) Benang
l) Vial
m) Penutup karet
3. Bahan yang digunakan
a) Luminal Natrium
b) Natrium EDTA
c) Propylenglikol solution 90%
d) Aqua Pro Injeksi

4. Identifikasi Bahan baku
a) Luminal Natrium
Bentuk :Serbuk putih
Bau :Tidak berbau
Warna :Putih
Rasa :Pahit
b) Natrium EDTA
Bentuk :Serbuk hablur
Bau :Tidak berbau
Warna :Putih
Rasa :Agak asam




c) Propilenglycol
Bentuk :Cairan kental
Bau :Tidak berbau
Warna :Tidak berwarna
Rasa :Agak manis
d) Aqua Pro Injeksi
Bentuk :Cair
Bau :Tidak berbau
Warna : Tidak berwarna
Rasa :Tidak berasa

5. Penyeterilan Alat
No
.
Nama Alat Jlh Cara Sterilisasi Suhu Waktu
1. Erlenmeyer 2 Autoclave 121
0
C 15 menit
2. Pinset 1 Autoclave 121
0
C 15 menit
3. Gelas arloji 2 Autoclave 121
0
C 15 menit
4. Vial 6 Autoclave 121
0
C 15 menit
5. Sendok logam 1 Autoclave 121
0
C 15 menit
6 Gelas ukur 1 Autoclave 121
0
C 15 menit
7 Batang pengaduk 2 Autoclave 121
0
C 15 menit
8 Beker gelas 2 Autoclave 121
0
C 15 menit
9 Kertas Saring 2 Autoclave 121
0
C 15 menit
10 Tutup karet 6 Direbus - 30 menit




6. Cara kerja
1. Siapkan alat dan sterilkan sesuai dengan cara yang tertera dalam table
2. Timbang Natrium EDTA 50mg dan lakukan pengenceran (camp I)
3. Timbang Luminal Natrium dalam gelas arloji, masukan dalam erlen meyer
dan larutkan dengan Aqua P.I. tambahkan larutan propilenglycol dan aduk
ad homogen (camp II)
4. Campuran I dan II disatukan dalam erlen meyer dan tambahkan aqua p.i
ad 39mL
5. Saring campuran di atas kemudian ukur pH.
6. Ambil larutan diatas masing-masing 5.1mL menggunakan spuit dan
masukan dalam wadah vial.
7. Tutup vial dan lakukan simpul sampagne
8. Disterilkan diautoklaf dengan posisi terbalik pada suhu 121
0
C selama 15
menit. Cek pH
9. Keluarkan, beri etiket, brosur dan kemasan.














7. Design kemasan
a. Primer
A.KEMASAN PRIMER
Fenobarbital
injeksi
200mg/ mL
I.M
Fenobarbital
injeksi 200mg/ mL
No. Reg : DKL0604120804 A1
KOMPOSISI:
TiapmLberisi:
Na.Phenobarbitalumsetaradengan
Phenobarbital...... dalamlarutam
propilenglikol.....%
INDIKASI,DOSIS,KONTARAINDIKASI,EFEK
SAMPING,PERHATIANDANINTRAKSIOBAT:
Keteranganlengkaplihat di brosur
Diproduksioleh:
PT.CMLTbk.
Kupang,Indonesia
Fenobarbital injeksi
200mg/ mL
PENYIMPANAN:
SimpanpadaruanganberAC(suhu
dibawah 25 C),hindarkan dari
cahayadankelmbaban
No. Reg : DKL0604120804 A1
No. Batch : 23250821
TglProduksi: 12november2014
Kadaluarsa : 25september 2015
HARUSDENGANRESEPDOKTER K

b. Sekunder
Fenobarbital
injeksi
200mg/ mL
I.M
Fenobarbital
injeksi
200mg/ mL
No. Reg : DKL0604120804A1
KOMPOSISI:
TiapmLberisi:
Na.Phenobarbitalumsetaradengan
Phenobarbital......dalamlarutam
propilenglikol.....%
INDIKASI,DOSIS,KONTARA
INDIKASI,EFEKSAMPING,PERHATIANDAN
INTRAKSIOBAT:
Keteranganlengkaplihatdibrosur
Diproduksioleh:
PT.CMLTbk.
Kupang,Indonesia
K
Fenobarbital
injeksi
200mg/ mL
PENYIMPANAN:
SimpanpadaruanganberAC
(suhu dibawah 25 C
),hindarkandaricahayadan
kelmbaban
No. Reg : DKL0604120804A1
No. Batch :23250821
TglProduksi :12november2014
Kadaluarsa :25september 2015
HARUSDENGANRESEPDOKTER
B. KEMASANSEKUNDER
K
Fenobarbital
injeksi
200mg/ mL
K




c. Etiket
C.Etiket
LABORATORIUM FARMASETIKA
JLN.ADISUCIPTO PENFUI KUPANG
APA: SHERLYYTALINATI SIK: PO.53033321741
NO.2 KUPANG,
PRO
LUMINALINJEKSI
SERAHKAN KEDOKTER
TIDAK BOLEHDIULANG TANPA RESEPDOKTER

d. Brosur


D.Brosur obat
Phenobarbital (Fenobarbital) / Luminal
Sediaan:
Vial 200 mg/ml
Cara Kerja Obat:
Fenobarbital adalah antikonvulsan turunan barbiturat yang efektif dalam
mengatasi epilepsi pada dosis subhipnotis. Mekanisme kerja menghambat kejang
kemungkinan melibatkan potensiasi penghambatan sinaps melalui suatu kerja
pada reseptor GABA, rekaman intrasel neuron korteks atau spinalis kordata
mencit menunjukkan bahwa fenobarbital meningkatkan respons terhadap GABA
yang diberikan secara iontoforetik.
Kontraindikasi:
Hipersensitif terhadap barbiturat atau komponen sediaan, gangguan hati yang
jelas, dispnea, obstruksi saluran nafas, porfiria, hamil.

8. Evaluasi sediaan
a. pH setelah proses sterilisasi
b. Uji kejernihan
c. Volume terpindahkan
d. Uji kebocoran.
F.PEMBAHASAN
Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi, suspensi atau serbuk halus
yang harus dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan, yang
disuntikkan dengan cara merobek jaringan di dalam kulit ataupun melalui selaput
lendir. Sediaan injeksi dalam praktikum ini dibuat dengan menggunakan wadah
vial. Vial adalah wadah wadah dosis ganda, disegel dengan karet atau tutup
plastic yang kecil,daerah tipis (diafragma) di tengah.
Dalam pembuatan injeksi ini bahan aktif yang digunakan yaitu Luminal Natrium
yang berkhasiat sebagai obat anti kejang.Bahan tambahan yang digunakan antara
lain Natrium EDTA yang berfungsi sebagai pengkhelat atau pengikat ion logam
dan propilenglycol sebagai pelarut. pH yang seharusnya di peroleh sebelum
melakukan sterilisasi akhir adalah pH 10-11 (pH basa) namun dalam praktikum
ini pH yang didapat adalah pH 6 (pH asam) sehingga perlu penambahan NaOH
sebagai penstabil pH. Dalam praktikum ini bahan aktif Luminal natrium tidak
larut dalam air dan dalam propilenglycol hal ini disebabkan oleh beberapa hal
antara lain :
1. Bahan aktif yang digunakan adalah loko Luminal Natrium
2. Perbandingan antara pelarut dan zat terlarut tidak seimbang (zat
terlarutnya lebih banyak dari pada pelarut sehinggah hasil yang
tejadi adalah kelarutan lewat jenuh)
Pada praktikum ini kami tidak melakukan sterilisasi akhir dan evaluasi sediaan
karena pembuatan produk tidak berhasil.

G. SIMPULAN DAN SARAN
Pembuatan sediaan injeksi harus dilakukan dengan cara-cara yang steril sesuai sengan
CPOB pembuatan sediaan injeksi. Sedangkan dalam praktikum ini produk yang dibuat
tidak berhasil dengan alasan
1.Bahan aktif yang digunakan tidak ada sehingga dipakai loko luminal natrium,
2. Sarana dan alat yang digunakan tidak memenuhi standar

Anda mungkin juga menyukai