Anda di halaman 1dari 20

63

BAB III

PERAN DAN FUNGSI BPKP

A. Sejarah Singkat BPKP1

Sejarah Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan

(BPKP) tidak terlepas dari sejarah Aparat Pengawasan

Fungsional Pemerintah (APFP) yang sekarang disebut dengan

Aparat Pengawasan Internal Pemerintah (APIP). Berdasarkan

Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1983,

pada tanggal 30 Mei 1983 lahirlah Badan Pengawasan Keuangan

dan Pembangunan (BPKP) sebuah Lembaga Pemerintah Non

Departemen yang berada di bawah dan bertanggung jawab

langsung kepada Presiden. Secara praktis BPKP mengambil

alih hampir seluruh tugas dan fungsi Direktorat Jenderal

http://www.bpkp.go.id/
64

Pengawasan Keuangan Negara (DJPKN) yang saat itu bernaung

di bawah Departemen Keuangan.

Dari DJPKN inilah sejarah aparat pengawasan

fungsional dapat ditelusuri. Pada tahun 1936, Besluit Nomor

14 tertanggal 31 Oktober 1936 menyebutkan secara eksplisit

bahwa Djawatan Akuntan Negara (Government Accountantdienst)

bertugas untuk melakukan penelitian pembukuan dari berbagai

perusahaan negara dan jawatan tertentu. Dapat dikatakan

bahwa aparat pengawasan fungsional pemerintah pertama di

Indonesia adalah Djawatan Akuntan Negara (DAN). Secara

struktural DAN yang bertugas mengawasi pengelolaan

perusahaan negara, tepatnya berada di bawah Thesauri

Jenderal Kementerian Keuangan. Dengan Peraturan Presiden

Nomor 9 Tahun 1961 tentang Instruksi Bagi Kepala DAN,

kedudukan DAN dilepas dari Thesauri Jenderal dan diangkat

langsung di bawah Menteri Keuangan, sedangkan fungsi

pengawasan anggaran tetap berada di bawah Thesauri

Jenderal. Dua tahun sebelumnya, Jawatan Akuntan Pajak

(Belasting Accountantdienst), juga berada di Departeman

Keuangan yang dibentuk pada tahun 1921, sudah digabungkan

dengan DAN.
65

Dua tahun kemudian, dengan Keputusan Presiden Nomor

29 tahun 1963 tentang Pengawasan Keuangan Negara, Thesauri

Jenderal dibubarkan karena dipandang tidak efektif. Pada

tahun 1964, para akuntan yang bekerja pada DAN, yang

berasal dari Djawatan Akuntan Pajak (DAP) dipindahkan ke

Direktorat Pajak Departemen Keuangan.

Berdasarkan Keputusan Presidan Nomor 26 tahun 1968,

fungsi pengawasan anggaran dan pengawasan badan

usaha/jawatan digabung kembali dengan terbentuknya

Direktorat Jenderal Pengawasan Keuangan Negara (DJPKN)

dilingkungan Departemen Keuangan. Direktorat Jenderal

inilah yang bertugas melaksanakan pengawasan seluruh

pelaksanaan anggaran negara, anggaran daerah dan badan

usaha milik negara dan badan usaha milik daerah.

DJPKN ternyata hanya berusia 15 tahun, dengan

Keputusan Presiden Nomor 31 Tahun 1983, tanggal 30 Mei

1983, DJPKN ditransformasikan menjadi BPKP, sebuah lembaga

pemerintah non departemen, BPKP bertanggung jawab langsung

kepada Presiden. Pada saat yang sama, salah satu direktorat

di DJPKN, yaitu direktorat Pembukuan Keuangan Negara,

berubah menjadi unit tersendiri di lingkungan Departemen

Keuangan, yaitu pusat Pembukuan Keuagan Negara, yang


66

kemudian berubah menjadi Badan Akutansi Negara (BAKUN) pada

tahun 1993. Sebagian besar pegawainya berasal dari DJPKN.

Sejarah pembentukan BPKP dilandasi atas pertimbangan

peningkatan pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah yang

memerlukan peningkatan pengawasan, dan agar memperoleh

pengawasan yang obyektif, disamping pengawasan yang melekat

pada masing-masing unit organisasi pemerintah, diperlukan

adanya pengawasan yang terlepas dari unit-unit pelaksana.

B. Maksud dan Tujuan

Pengawasan merupakan salah satu unsur penting dalam

rangka peningkatan pendayagunaan aparatur negara dalam

pelaksanaan tugas-tugas umum pemerintahan dan pembangunan

menuju terwujudnya pemerintahan yang bersih dan berwibawa.

Tujuan dari pengawasan berdasarkan Instruksi Presiden

Republik Indonesia Nomor 15 tahun 1983 tanggal 4 Oktober

1983, tentang Pedoman Pelaksanaan Pengawasan, adalah untuk

mendukung kelancaran dan ketepatan pelaksanaan kegiatan

pemerintahan dan pembangunan2. Oleh karena itu dalam

Indonesia, Instruksi Presiden Tentang Pedoman Pelaksanaan


Pengawasan, Inpres No. 15 Tahun 1983, Lembaran Lepas 1983, Lampiran
Pasal 1 ayat (1).
67

merencanakan dan melaksanakan pengawasan perlu diperhatikan

hal-hal berikut3:

1. Agar pelakasanaan tugas umum pemerintahan


dilakukan secara tertib berdasarkan peraturan
perundang-undangan yang berlaku serta berdasarkan
sendi-sendi kewajaran penyelenggaraan pemerintah
agar tercapai daya guna, hasil guna dan tepat guna
yang sebaik-baiknya.
2. Agar pelaksanaan pembangunan dilakukan sesuai
dengan rencana dan program pemerintah serta
peraturan perundang-undangan yang berlaku sehingga
tercapai sasaran yang ditetapkan.
3. Agar hasil-hasil pembangunan dapat dinilai
seberapa jauh tercapai untuk memberi umpan balik
berupa pendapat, kesimpulan dan saran terhadap
kebijaksanaan, perencanaan, pembinaan dan
pelaksanan tugas umum pemerintahan dan
pembangunan.
4. Agar sejauh mungkin mencegah terjadinya
pemborosan, kebocoran dan penyimpangan dalam
penggunaan wewenang, tenaga, uang dan perlengkapan
milik negara, sehingga dapat terbina aparatur yang
tertib, bersih, berhasil guna dan berdaya guna.

Hasil pengawasan digunakan untuk menyempurnakan

unsur aparatur dibidang kelembagaan, kepegawaian, dan

Ibid. ps.2.
68

ketatalaksanaan untuk kelancaran pelaksanaan tugas-tugas

umum pemerintahan dan pembangunan, dengan berpegang kepada

prinsip daya guna dan hasil guna.4 Untuk dilakukan

tindakan penertiban dan penindakan secara umum yang

diperlukan terhadap perbuatan korupsi, penyalahgunaan

wewenang, kebocoran dan pemborosan kekayaan Negara,

pungutan liar, dan tindakan penyelewengan lain, baik yang

melanggar peraturan perundangan-undangan yang berlaku

maupun yang bertentangan dengan kebijaksanaan Pemerintahan

yang ada serta menghambat pembangunan.

C. Tugas, Fungsi dan Kewenangan.

Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP)

dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 31 Tahun

1983. Menurut Keputusan Presiden Nomor 31 tahun 1983

tersebut, BPKP merupakan lembaga pemerintah non departemen

yang berada dibawah langsung dan bertanggung jawab

langsung kepada presiden5. Tugas pokok BPKP berdasarkan

Ibid. Bagian 2.

5
69

pasal 2 Keppres Nomor 31 Tahun 1983 adalah sebagai

berikut6:

1. Mempersiapkan perumusan kebijaksanaan pengawasan


keuangan dan pembangunan.
2. Menyelenggarakan pengawasan umum atas penguasaan
dan pengurusan keuangan.
3. Menyelenggarakan pengawasan pembangunan.

Dalam melaksanakan tugas pokoknya, BPKP mempunyai

fungsi sebagai berikut7:

1. Merumuskan perencanaan dan program pelaksanaan


pengawasan bagi BPKP dan mempersiapakan perumusan
perencanaan dan program bagi seluruh aparat
pengawasan pemerintah pusat dan pemerintah
daerah.
2. Memberikan bimbingan dan pembinaan di bidang
pengawasan.
3. Memonitor pelaksanaan rencana pengawasan dan
mengadakan analisa atas hasil pengawasan seluruh
aparat pengawasan pemerintah pusat dan pemerintah
daerah.

Indonesia, Keputusan Presiden Tentang Badan Pengawasan


Keuangan dan Pembangunan, Keppres No. 31 tahun 1983. Lembaran Lepas
1980, Pasal 1.
6

Ibid., ps. 2.
7

Ibid., ps 3.
70

4. Mempersiapkan pedoman pemeriksaan bagi seluruh


aparat pengawasan pemerintah pusat dan pemerintah
daerah.
5. Melakukan kordinasi teknis mengenai pelaksanaan
pengawasan yang dilakukan oleh aparat pengawasan
di departemen dan instansi pemerintah lainnya,
baik di pusat maupun di daerah.
6. Meningkatkan keterampilan teknis seluruh aparat
pengawasan pemerintah pusat dan pemerintah
daerah.
7. Melakukan pengawasan terhadap semua penerimaan
pemerintah pusat dan pemerintah daerah, termasuk
pengawasan atas pelaksanaan fasilitas pajak, bea
dan cukai.
8. Melakukan pengawasan terhadap semua pengeluaran
pemerintah daerah.
9. Melakukan pengawasan terhadap semua pengeluaran
pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
10. Melakukan pengawasan terhadap semua BUMN, BUMD
dan badan-badan usaha lainya yang seluruh atau
sebagian kekayaanya dimiliki pemerintah pusat dan
pemerintah daerah.
11. Melakukan pengawasan terhadap badan-badan usaha
lain yang seluruh atau sebagian keuangannya
dibiayai atau disubsidi atas beban APBN, termasuk
badan-badan usaha yang didalamnya terdapat
kepentingan keuangan dan kepentingan lain dari
pemerintah pusat atau pemerintah daerah karena
pemberian hak atau wewenang hukum publik.
12. Melakukan pengawasan terhadap sistem administrasi
pelaksanaan APBN, APBD, BUMN dan BUMD, termasuk
pembukuan rekening-rekening pemerintah pada bank.
13. Melakukan evaluasi terhadap tata kerja
administrasi pemerintahan yang telah ditetapkan
oleh masing-masing instansi.
14. Melakukan pemeriksaan khusus terhadap kasus-kasus
tidak lancarnya pelaksanaan pembangunan dan
kasus-kasus yang diperkirakan mengandung unsur
penyimpangan yang merugikan pemerintah pusat,
pemerintah daerah, BUMN dan BUMD.
15. Melakukan pemeriksaan akuntan untuk memberikan
pernyataan pendapat akuntan terhadap BUMN, BUMD
71

dan badan-badan usaha lainnya yang dianggap


perlu.
16. Melakukan pengawasan kegiatan Kantor Akuntan
Publik.

Sejalan dengan perubahan-perubahan yang terjadi

dalam pemerintahan dan dalam rangka mendukung

terselenggaranya tertib administrasi maka dilakukan

penetapan kembali ketentuan terhadap Lembaga Pemerintah

Departemen maupun Non Departemen. Tugas, fungsi dan

kewenangan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan

(BPKP) selanjutnya diatur dalam pasal 52, 53 dan 54

Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan,

Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi, dan Tata

Kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen, adalah sebagai

berikut8:

1. Tugas
BPKP mempunyai tugas melaksanakan tugas
pemerintahan di bidang pengawasan keuangan dan

Indonesia, Keputusan Presiden Tentang Kedudukan, Tugas,


Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga
Pemerintah Non Departemen, Keppres No. 103 tahun 2001. Lembaran Lepas
2001, ps. 52, ps. 53, ps. 54.
72

pembangunan sesuai dengan ketentuan peraturan


perundang-undangan yang berlaku.9

2. Fungsi
Dalam melaksanakan tugas sebagaimana
dimaksud dalam pasal 52 BPKP menyelenggarakan
fungsi10:
a. pengkajian dan penyusunan kebijakan
nasional di bidang pengawasan keuangan dan
pembangunan;
b. perumusan dan pelaksanaan kebijakan di
bidang pengawasan keuangan dan pembangunan;
c. koordinasi kegiatan fungsional dalam
pelaksanaan tugas BPKP;
d. pemantauan, pemberian bimbingan dan
pembinaan terhadap kegiatan pengawasan keuangan
dan pembangunan;
e. penyelenggaraan pembinaan dan pelayanan
administrasi umum di bidang perencanaan umum,
ketatausahaan, organisasi dan tatalaksana,
kepegawaian, keuangan, kearsipan, hukum,
persandian, perlengkapan dan rumah tangga.

3. Kewenangan
Dalam menyelenggarakan fungsi sebagaimana
dimaksud dalam pasal 53 BPKP, mempunyai
11
kewenangan :
a. penyusunan rencana nasional secara makro
dibidangnya;
b. perumusan kebijakan dibidangnya untuk
mendukung pembangunan secara makro;
c. penetapan sistem informasi di bidangnya;
d. pembinaan dan pengawasan atas
penyelenggaraan otonomi daerah yang meliputi

Ibid., ps. 52.


10

Ibid., ps. 53.


11

Ibid., ps. 54.


73

pemeberian pedoman, bimbingan, pelatihan,


arahan, dan supervisi dibidangnya;
e. penetapan persyaratan akreditasi lembaga
pendidikan dan sertifikasi tenaga
profesional/ahli serta persyaratan jabatan
dibidangnya;
f. kewenangan lain sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku,
yaitu:
1) memasuki semua kantor, bengkel, gudang,
bangunan, tempat-tempat penimbunan,dan
sebagainya;
2) meneliti semua catatan, data elektronik,
dokumen, buku perhitungan, surat-surat bukti,
notulen rapat panitia dan sejenisnya, hasil
survei laporan-laporan pengelolaan, dan
surat-surat lainnya yang diperlukan dalam
pengawasan;
3) pengawasan kas, surat-surat berharga,
gudang persediaan dan lain-lain;
4) meminta keterangan tentang tindak lanjut
hasil pengawasan, baik hasil pengawasan BPKP
sendiri maupun hasil pengawasan Badan
Pemeriksa Keuangan, dan lembaga pengawasan
lainnya.

Kedudukan Lembaga Pemerintah Non Departemen

berdasarkan Pasal 1 ayat (2) Keputusan Presiden Nomor

Nomor 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi,

Kewenangan, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Lembaga

Pemerintah Non Departemen berada di bawah dan

bertanggungjawab kepada Presiden.

D. Struktur Organisasi
74

Struktur Organisasi BPKP ditetapkan berdasarkan

Keputusan Presiden yang terkait dengan kedudukan, tugas,

fungsi, kewenangan, susunan organisasi dan tata kerja

lembaga pemerintah non departemen, kemudian ditetapkan

lebih lanjut dengan Keputusan Presiden tentang Unit

Organisasi dan Tugas Eselon I. Unit Organisasi dan Tugas

Eseleon I BPKP, yang terakhir ditetapkan melalui Keputusan

Presiden RI Nomor 11 tahun 2004 tentang Perubahan atas

Keputusan Presiden Nomor 110 tahun 2001 tentang Unit

Organisasi dan Tugas Eselon I Lembaga Pemerintah Non

Departemen sebagaimana Telah Beberapa Kali Diubah Terakhir

Dengan Keputusan Presiden Nomor 62 tahun 2003.

Berdasarkan Pasal 34 Keppres Nomor 11 Tahun 2004

tersebut diatas, struktur Organisasi BPKP terdiri dari12:

a. Kepala;
b. Sekretariat Utama;
c. Deputi Bidang Pengawasan Instansi Pemerintah
Bidang Perekonomian;
d. Deputi Bidang Pengawasan Instansi Pemerintah
Bidang Politik, Sosial dan Keamanan;
12

Indonesia, Keputusan Presiden Tentang Perubahan Atas


Keputusan Presiden Nomor 110 Tahun 2001 Tentang Unit Organisasi dan
Tugas Eselon I Lembaga Pemerintah Non Departemen Sebagaimana Telah
Beberapa Kali Diubah Terakhir Dengan Keputusan Presiden Nomor 62 Tahun
2003, Keppres No. 11 tahun 2004. Lembaran Lepas 2004, ps. 34.
75

e. Deputi Bidang Pengawasan Penyelenggaraan Keuangan


Daerah;
f. Deputi Bidang Akuntan Negara;
g. Deputi Bidang Investigasi.

Berdasarkan Pasal 35 Keppres Nomor 11 Tahun 2004

tugas masing-masing adalah sebagai berikut13:

(1) Kepala mempunyai tugas;


a. Memimpin BPKP sesuai dengan ketentuan peraturan
prundang-undangan yang berlaku;
b. Menyiapkan kebijakan nasional dan kebijakan umum
sesuai dengan tugas BPKP;
c. Menetapkan kebijakan teknis pelaksanaan tugas
BPKP yang menjadi tanggungjawabnya;
d. Membina dan melaksanakan kerjasama dengan
instansi dan organisasi lain;
(2) Sekretariat Utama mempunyai tugas menggkoordina-
sikan perencanaan, pembinaaan, dan pengendalian
terhadap program, administrasi dan sumber daya
dilingkungan BPKP.
(3) Deputi Bidang Pengawasan Instansi Pemerintah
Bidang Perekonomian mempunyai tugas melaksanakan
perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang
pengawasan instansi pemerintah bidang
perekonomian.
(4) Deputi Bidang Pengawasan Instansi Pemerintah
Bidang Politik, Sosial, dan Keamanan mempunyai
tugas melaksanakan perumusan dan pelaksanaan
kebijakan di bidang pengawasan instansi pemerintah
bidang politik, sosial dan keamanan.
(5) Deputi Bidang Pengawasan Penyelenggaraan Keuangan
Daerah mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan
pelaksanaan kebijakan di bidang pengawasan
penyelenggaraan bidang keuangan daerah.

13

Ibid., ps. 35.


76

(6) Deputi Bidang Akuntan Negara mempunyai tugas


melaksanakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan
di bidang akuntan negara.
(7) Deputi Bidang Investigasi mempunyai tugas
melaksanakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan
di bidang investigasi.

E. Pelaksanaan Pengawasan

1. Ruang Lingkup Pengawasan

Berdasarkan Instruksi Presiden Republik Inodnesia

No. 15 Tahun 1983 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengawasan,

Kebijakan pengawasan digariskan oleh Presiden, dan Wakil

Presiden secara terus menerus memimpin dan mengikuti

pelaksanaan pengawasan.14 Sedangkan ruang lingkup

pengawasan meliputi:

a. Kegiatan umum pemerintahan;


b. Pelaksanaan rencana pembangunan;
c. Penyelenggaraan pengurusan dan pengelolaan
keuangan dan kekayaan negara;
d. Kegiatan Badan usaha Milik Negara dan Milik
Daerah; dan,
e. Kegiatan aparatur pemerintahan di bidang yang
mencakup kelembagaan, kepegawaian dan
ketatalaksanaan.

14

Indonesia, Instruksi Presiden Tentang Pedoman Pelaksanaan


Pengawasan, Inpres No. 15 Tahun 1983, Lembaran Lepas 1983, Lampiran
Pasal 4 ayat (1)dan (2).
77

Berdasarkan ruang lingkup pengawasan di atas dan

usaha untuk mengantisipasi luas serta kompleksitas kegiatan

di sektor pemerintahan, maka jenis-jenis pemeriksaan yang

dilakukan adalah:

a. Pemeriksaan Keuangan (Financial Audit/General


audit)
b. Pemeriksaan Operasional (Operational Audit)
c. Pemeriksaan Khusus (Special Audit)
d. Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu.15

Tujuan pemeriksaan/audit tersebut diatas adalah:

a. Pemeriksaan Keuangan (Financial Audit/General


audit) ialah audit yang bertujuan untuk memberikan
pernyataan pendapat yang obyektif, profesional dan
independen mengenai keseuaian laporan keuangan
yang diaudit dengan standar akuntansi yang berlaku
yang telah diterapkan secara konsisten
dibandingkan laporan-laporan tahun sebelumnya.
b. Pemeriksaan Operasional (Operational Audit) ialah
audit yang bertujuan untuk memeriksa sumber daya
ekonomi yang tersedia, meyakinkan bahwa sumber
daya ekonomi tersebut telah dikelola dengan baik
dan efisien, mengidentifikasi sebab-sebab adanya
15

Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Pedoman Umum


Pemeriksaan Aparat Pengawasan Fungsional Pemerintah,
(Jakarta:BPKP,1992), hal. 5.
78

kerugian (waste) atau pemborosan (excessive


spending) atau penyalah gunaan (misuse) dan
merekomendasikan perbaikan-perbaikannya. Disamping
itu tujuan audit operasioanal adalah membandingkan
tingkat pencapaian sasaran yang sebenarnya dengan
sasaran yang telah digariskan. Dalam rekomendasi
ini termasuk pula hasil-hasil analisis mengenai
kemungkinan adanya alternatif-alternatif yang
lebih efektif dalam pencapaian tujuan. Audit
operasional juga termasuk pemeriksaan ketaatan
terhadap peraturan perundang-undangan yang
berkaitan dengan kehematan, daya guna dan hasil
guna.
c. Pemeriksaan Khusus (Special Audit) ialah
pemeriksaan yang bertujuan untuk membuktikan
adanya atau tidak adanya pelanggaran yang
dilakukan oleh orang atau badan. Pelanggaran
tersebut ialah:
1) penyimpangan yang berindikasi tindak pidana
korupsi;
2) kasus yang merugikan masyarakat;
3) kasus penyimpangan yang dianggap perlu
diperiksa atas perintah khusus pimpinan
tertinggi instansi.
d. Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu ialah audit
yang bertujuan untuk meyakinkan aspek-aspek
tertentu dari obyek pemeriksaan, tetapi bukanlah
keseluruhan laporan keuangan yang disusun
berdasarkan standar akuntansi yang berlaku, telah
sesuai dengan kriteria yang ditetapkan.16

Masing-masing jenis pemeriksaan tersebut mempunyai

tujuan dan penerapan sendiri-sendiri. Penyelesaian salah

16

Ibid., hal. 6.
79

satu jenis pemeriksaan tersebut tidak berarti akan

menyelesaikan jenis pemeriksaan lainnya.

2. Perencanaan dan Pelaksanaan Pengawasan.

a. Program Kerja Pemeriksaan Tahunan (PKPT).

PKPT adalah program kerja pengawasan tahunan yang

bertujuan untuk mengkoordinasikan perencanaan pengawasan

agar tidak terjadi adanya tumpang tindih pemeriksaan antara

aparat pengawasan fungsional pemerintah pusat dan daerah.

Atas dasar kebijaksanaan tersebut, maka perlunya dirumuskan

rencana dan program-program pengawasan. Adapun kegiatan

pengawasan dilaksanakan berdasarkan program kerja

pengawasan tahunan (PKPT) yang disusun sebagai berikut:

1. Aparat pengawasan fungsional menyusun rencana kerjanya

dalam bentuk usulan program kerja pengawasan tahunan

sesuai dan sejalan dengan petunjuk MENPAN.

2. Usulan program kerja pengawasan tahunan tersebut disusun

oleh BPKP menjadi program kerja pengawasan Tahunan

(PKPT) setelah berkonsultasi dengan aparat pengawasan

fungsional yang bersangkutan, dangan berpedoman pada

petunjuk –petunjuk yang diberikan MENPAN.


80

3. Untuk menjamin BPKP memberikan keserasian dan

keterpaduan pelaksanaan pengawasan, Kepala BPKP

memberikan pertimbangan kepada Menteri Keuangan dan

Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Ketua

BAPPENAS mengenai anggaran pelaksanaan Program Kerja

Pengawasan Tahunan (PKPT).

B. Non PKPT.

Non PKPT adalah Pelaksanaan Pengawasan dilaksanakan

bukan atas dasar Program Kerja Pengawasan Tahunan, dalam

pelaksanaannya Non PKPT dapat dilaksifikasikan lagi manjadi

tiga jenis, yaitu berdasarkan :

1. Pengaduan Masyarakat & Informasi Media Massa

Pengaduan masyarakat dapat berupa surat resmi ataupun

surat kaleng yang masuk ke kotak pos 5000 atau langsung

ditujukan kepada Kepala BPKP. Informasi dari media masa

dapat berupa berita, essay, pengaduan dan hasil investigasi

dari media yang bersangkutan atau hal-hal lain yang dapat

memebrikan adanya indikasi penyimpangan. Berdasarkan dari

pengaduan masyarakat dan informasi media massa tersebut,

maka pihak BPKP mengadakan penelitian untuk mencari

kebenarannya terlebih dahulu apakah pengaduan dan informasi


81

tersebut dapat dipertanggung jawabkan atau tidak. Setelah

melakukan penelitian tersebut, maka pihak BPKP memberikan

surat penugasan kepada tim yang akan melakukan tugas

tersebut untuk melakukan pemeriksaan khusus/investigasi

atas dugaan adanya penyimpangan.

2. Pengembangan Hasil Audit Sebelumnya

Sesuai tugas dan fungsinya, BPKP melakukan audit

terhadap keuangan pemerintah, yang dilaksanakan berdasarkan

Program Kerja Pengawasan Tahunan (PKPT). Audit dalam PKPT

ini dapat berupa Audit Umum (General Audit) yaitu audit

atas laporan keuangan untuk memberi pernyataan pendapat

akuntan, audit operasional (operational audit) yaitu audit

atas kegiatan operasional suatu entitas dengan tujuan

untuk menilai effisiensi, effektivitas dan keekonomisan

serta memberi saran perbaikan, audit dengan tujuan tertentu

yaitu audit yang dilakukan untuk tujuan-tujuan tertentu

seperti pemeriksaan terhadap program, prosedur atau bagian-

bagian kegiatan tertentu dari suatu entitas, serta audit

khusus (special audit).

Dari audit yang dilakukan berdasarkan PKPT tersebut

jika terdapat indikasi adanya penyimpangan yang merugikan


82

keuangan negara maka akan dilakukan pengembangan dan

pendalaman berupa audit khusus atau audit investigasi.

3. Permintaan Dari Instansi Pemerintah/Penyidik

Disamping melakukan audit berdasarkan program kerja

yang disusun sendiri baik yang dituangkan dalam PKPT maupun

Non PKPT. BPKP dapat juga melakukan audit berdasarkan

permintaan dari instansi pemerintah baik pusat maupun

daerah dan permintaan dari instansi penyidik. Permintaan

dari instansi penyidik baik berupa bantuan audit pada tahap

penyelidikan maupun pada tahap penyidikan. Audit ini pada

umumnya bersifat khusus terkait dengan adanya dugaan tindak

pidana korupsi.

Dari jumlah keseluruhan rencana pemeriksaan yang akan

dilakukan BPKP, maka sebesar 15 % dari jumlah tersebut di

peruntukkan/dialokasikan untuk melakukan pemeriksaan khusus

yang tidak direncanakan dalam Progam Kerja Pengawasan

Tahunan (PKPT) tersebut.