Anda di halaman 1dari 41

6

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Diri
2.1.1 Pengertian Konsep Diri
Menurut Potter & Perry (2005) konsep diri merupakan kerangka
acuan yang mempengaruhi manajemen kita terhadap situasi dan
hubungan kita dengan orang lain. Ketidaksesuaian antara aspek tertentu
dari kepribadian dan konsep diri dapat menjadi sumber stress atau
konflik.
Fitts (Agustiani, 2006), mengemukakan bahwa konsep diri
merupakan kerangka acuan (frame of refrence) dalam berinteraksi
dengan lingkungan, Agustiani (2006) menjelaskan bahwa konsep diri
merupakan gambaran yang dimiliki seseorang mengenai dirinya, yang
dibentuk melalui pengalaman - pengalaman yang diperoleh dari interaksi
dengan lingkungan.
Konsep diri didefinisikan sebagai keyakinan dan kepercayaan yang
merupakan pengetahuan individu tentang dirinya dan memengaruhi
hubungannya dengan orang lain. Konsep diri tidak terbentuk waktu lahir
tetapi dipelajari sebagai hasil pengalaman unik seseorang dalam dirinya
sendiri, dengan orang terdekat, dan dengan realitas dunia (Stuart &
Sundeen, 2007).
6

7

Soemanto (2006) menyatakan bahwa konsep diri itu adalah
pikiran atau persepsi seseorang tentang dirinya sendiri, dan merupakan
faktor penting yang mempengaruhi perilaku.
Rosenberg sebagaimana dikutip oleh Burns (1993) mendefinisikan
konsep diri sebagai perasaan harga diri atau sebagai suatu sikap positif
atau negative terhadap suatu objek khusus yaitu diri. Perasaan harga diri
menyatakan secara tidak langsung bahwa dia seorang yang berharga,
menghargai dirinya sendiri terhadap sebagai apa dia sekarang, tidak
mencela tentang apa yang tidak ia lakukan, dan tingkatan dia merasa
positif tentang dirinya sendiri. Perasaan harga diri yang rendah
menyiratkan penolakan diri, penghinaan diri dan evaluasi diri yang
negatif.
2.1.2 Perkembangan Konsep Diri
Perkembangan konsep diri merupakan suatu proses yang terus
berlanjut disepanjang kehidupan manusia. Symonds (dalam Agustiani,
2006) menyatakan bahwa persepsi tentang diri tidak langsung muncul
pada pada saat individu dilahirkan, melainkan berkembang secara
bertahap seiring dengan munculnya kemampuan perseptif. Selama
periode awal kehidupan, perkembangan konsep diri individu sepenuhnya
didasari oleh persepsi mengenai diri sendiri. Lalu seiring dengan
bertambahnya usia, pandangan mengenai diri sendiri ini mulai di
pengaruhi oleh nilai- nilai yang diperoleh dari interaksi dengan orang
lain (Taylor dalam Agustiani, 2006).
8

Konsep diri yang dimiliki manusia tidak terbentuk secara instan,
melainkan dengan proses belajar sepanjang hidup manusia. Ketika
individu lahir, individu tidak memilki pengetahuan tentang dirinya, tidak
memilki harapan yang ingin dicapainya serta tidak memilki penilaian
terhadap dirinya. Konsep diri berasal dan berkembang sejalan
pertumbuhan, terutama akibat hubungan dengan individu lain. Dalam
berinteraksi, setiap individu akan menerima tanggapan. Tanggapan yang
diberikan dijadikan cermin bagi individu untuk menilai dan memandang
dirinya sendiri. Dimana pada akhirnya individu mulai bisa mengetahui
siapa dirinya, apa yang diinginkannya serta dapat melakukan penilaian
terhadap dirinya (Sudarmaji, 2002).
Sobur (2006) menyatakan ada dua hal yang mendasari
perkembangan konsep diri individu, yaitu pengalaman secara situasional
dan interaksi dengan orang lain.
a. Pengalaman secara situasional
Segenap pengalaman yang datang pada diri individu tidak
seluruhnya mempunyai pengaruh kuat pada diri individu. Jika
pengalaman itu merupakan sesuatu yang sesuai dan konsisten dengan
nilai dan konsep diri individu, secara raional dapat diterima.
Sebaliknya, jika pengalaman tersebut tidak sesuai dan tidak konsisten
dengan nilai dan konsep diri individu, secara rasional tidak dapat
diterima.


9

b. Interaksi dengan orang lain
Segala aktivitas individu dalam masyarakat memunculkan adaanya
interaksi dengan orang lain, dari interaksi tersebut terdapat saling
mempengaruhi antara individu dan orang lain. Dalam situasi tersebut,
konsep diri berkembang dalam proses saling mempengaruhi.
2.1.3 Faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri
Faktor-faktor yang mempengaruhi konsep diri (Alimul, 2006)
adalah:
a. Tingkat perkembangan dan kematangan
Perkembangan individu seperti dukungan mental, perlakuan serta
pertumbuhan akan mempengaruhi konsep dirinya (Tarwoto &
Wartonah, 2003). Kegagalan selama masa tumbuh kembang akan
membentuk konsep diri yang kurang memadai (Alimul, 2006).
b. Lingkungan
Lingkungan yang mempengaruhi konsep diri termasuk lingkungan
fisik dan psikologis. Lingkungan fisik merupakan segala sarana yang
dapat menunjang perkembangan konsep diri, sedangkan lingkungan
psikologis termasuk lingkungan yang dapat menunjang kenyamanan
dan perbaikan psikologis, yang dapat mempengaruhi perkembangan
konsep diri (Alimul, 2006).
c. Pengalaman masa lalu
Adanya umpan balik dari orang- orang penting, situasi stresor
sebelumnya, penghargaan diri dan pengalaman sukses atau gagal
sebelumnya, pengalaman penting dalam hidup atau faktor yang
10

berkaitan dengan masalah usia, sakit yang diterima serta trauma dapat
mempengaruhi perkembangan konsep diri (Alimul, 2006).
d. Sumber Eksternal dan Internal
Kekuatan dan perkembangan pada individu sangat berpengaruh
terhadap konsep diri. Pada sumber internal misalnya, orang yang
humoris koping individualnya lebih efektif. Sumber eksternal
misalnya, dukungan dari masyrakat, dan ekonomi yang kuat (Tarwoto
& Wartonah, 2003)
e. Budaya
Pada usia anak- anak nilai- nilai akan diadopsi dari orang tuanya,
kelompoknya, dan lingkungannya. Orang tua yang bekerja seharian
akan membawa anak lebih dekat dengan lingkungannya. Lingkungan
yang dimaksud adalah lingkungan fisik dan lingkungan psikososial.
Lingkungan fisik adalah segala sarana yang dapat menunjang
perkembangan konsep diri, sedangakan lingkungan psikososial adalah
segala lingkungan yang dapat menunjang kenyaman dan perbaikan
psikologis yang dapat mempengaruhi perkembangan konsep diri
(Tarwoto & Wartonah, 2003).
f. Stresor
Stresor dalam kehidupan misalnya perkawinan, pekerjaan baru,
ujian, dan ketakutan. Jika koping individu tidak adekuat maka akan
menimbulkan depresi, menarik diri, dan kecemasan (Tarwoto &
Wartonah, 2003).

11

g. Pengalamn Sukses dan Gagal
Ada kecendrungan bahwa riwayat sukses akan meningkatkan
konsep diri demikian juga sebaliknya (Tarwoto & Wartonah, 2003).
h. Usia, Keadaan Sakit, dan Trauma
Usia tua, keadaan sakit akan mempengaruhi persepsi dirinya
(Tarwoto & Wartonah, 2003). William D. brooks menyebutkan empat
faktor yang mempengaruhi perkembangan konsep diri, yaitu:
1) Self appraisal- viewing self as an object
Istilah ini berkaitan dengan pandangan seseorang terhadap
dirinya sendiri mencakup kesan- kesan yang diberikan kepada
dirinya. Ia menjadikan dirinya sebagai objek dalam komunikasi
dan sekaligus memberikan penilaian terhadap dirinya.
2) Reaction and respone of others
Seseorang dalam memandang dirinya juga tidak hanya
dipengaruhi oleh pandangan dirinya terhadap diri sendiri, namun
juga dipengaruhi oleh reaksi dan respon dari oarng lain melalui
interaksi yang berkesinambungan. Penilaian dilakukan seseorang
berdasarakan pandangan orang lain terhadap dirinya.
3) Roles you play- role taking
Seseorang memandang dirinya berdasarkan suatu keharusan
dalam memainkan peran tertentu yang harus dilakukan. Peran ini
berkaitan dengan system nilai yang diakui dan dilaksanakan oleh
kelompok dimana individu berada, sehingga dia harus ikut
memainkan peran tersebut.
12

4) Reference groups
Kelompok rujukan merupakan kelompok yang individu
menjadi anggota di dalamnya. Jika kelompok ini dianggap penting,
dalam arti mereka dapat menilai dan bereaksi pada individu, hal ini
akan menjadi kekuatan untuk menentukan konsep diri seseorang.
2.1.4 Komponen Konsep Diri
Komponen konsep diri meliputi lima bagian (Suliswati, 2005)
yaitu:
a. Gambaran diri
Gambaran diri merupakan kumpulan dari sikap individu yang
disadari dan tidak disadari terhadap tubuhnya. Termasuk persepsi
masa lalu dan sekarang, serta perasaan tentang ukuran, fungsi,
penampilan, dan potensi. Citra tubuh dimodifikasi secara
berkesinambungan dengan persepsi dan pengalaman baru. Sejak lahir
individu mengeksplorasi bagian tubuhnya, menerima reaksi dari
tubuhnya, menerima stimulus dari orang lain, kemudian mulai
memanipulasi lingkungan dan mulai sadar dirinya terpisah dari
lingkungan (Stuart & Sundeen, 2007). Gambaran diri berhubungan
erat dengan kepribadian. Cara individu memandang diri mempunyai
dampak yang penting pada aspek psikologisnya, pandangan yang
realistis terhadap dirinya menerima dan menyukai bagian tubuh akan
meningkatkan harga diri. Individu yang stabil, realistis dan konsisten
terhadap gambaran dirinya akan memerlihatkan kemampuan yang
mantap terhadap realisasi yang hal ini akan memacu sukses dalam
13

kehidupan. Persepsi dan pengalaman individu dapat merupakan
gambaran diri secara ilmiah (Keliat, 2000).
Gambaran diri harus realistis karena semakin dapat menerima dan
menyukai tubuhnya individu akan lebih bebas dan merasa aman dari
kecemasan. (Suliswati, 2005). Individu realistis, stabil dan konsisten
terhadap gambaran dirinya, akan memperlihatkan kemampuan yang
mantap terhadap realisasi, dan akan memacu sukses dalam kehidupan
(Salbiah, 2003).
b. Ideal diri
Ideal diri adalah persepsi individu tentang bagaiman seharusnya
berprilaku berdasarkan standar, aspirasi, tujuan atau nilai personal
tertentu (Stuart & Sundeen, 2007). Standar pribadi berhubungan
dengan tipe orang yang akan diinginkan atau sejumlah aspirasi,
tujuan, nilai yang ingin diraih. Ideal diri akan mewujudkan cita- cita
atau pengharapan diri berdasarkan norma - norma sosial dimasyarakat
tempat individu tersebut melahirkan penyesuaian diri (Suliswati,
2005). Ideal diri akan mewujudkan cita - cita dan harapan pribadi
(Tarwoto & wartonah, 2003).
c. Harga diri
Harga diri merupakan penilaian terhadap hasil yang dicapai dengan
analisis sejauh mana perilaku memenuhi ideal diri (Tarwoto &
Wartonah, 2003). Harga diri diperoleh melalui penghargaan dari diri
sendiri maupun orang lain. Perkembangan harga diri juga ditentukan
oleh perasaan dicintai, diterima orang lain serta keberhasilan yang
14

pernah di capai individu dalam hidupnya (Alimul, 2006). Faktor
predisposisi gangguan harga diri meliputi penolakan dari orang lain,
kurang penghargaan, pola asuh yang salah, terlalu dilarang, terlalu
dikontrol, terlalu dituruti, terlalu dituntut dan tidak konsisten,
persaingan antar saudara, kesalahan dan kegagalan yang berulang,
dan tidak mampu mencapai standar yang ditentukan (Suliswati,
2005).
d. Peran
Peran mencangkup serangkaian pola perilaku yang diharapkan oleh
lingkungan social berhubungan dengan fungsi individu diberbagai
kelompok social (Stuart & Sundeen, 2007). Setiap peran berhubungan
dengan penemuan harapan tertentu. Apabila harapan tersebut dapat
terpenuhi, rasa percaya diri individu akan meningkat. Sebaliknya,
kegagalan untk memenuhi harapan atas peran dapat menyebabkan
terganggunya konsep diri (Alimul, 2003).
Suliswati (2005) peran adalah serangkaian pola perilaku, nilai dan
tujuan yang diharapkan oleh masyarakat dihubungkan dengan fungsi
individu didalam kelompok sosialnya. Peran memberikan sarana
untuk berperan serta dalam kehidupan social dan merupakan cara
untuk menguji identitas dengan memvalidasi pada orang yang berarti.
e. Identitas diri
Identitas diri merupakan perilaku individu tentang dirinya sebagai
suatu kesatuan yang utuh. Mencakup konsistensi individu sepanjang
waktu dan dalam berbagai keadaan serta menyiratkan perbedaan atau
15

keunikan dibanding dengan orang lain (Alimul, 2006). Pencapaian
identitas diperlukan untuk hubungan yang intim, karena identitas
individu diekspresikan dalam berhubungan dengan orang lain (Potter
& Perry, 2005). Dalam identitas diri ada otonomi yaitu mengerti dan
percaya diri, respek terhadap diri, mampu menguasai diri, mengatur
diri dan menerima diri (Suliswati, 2005).
2.1.5 Dimensi dalam Konsep Diri
William Howard Fitss (dalam Agustiani 2006) membagi konsep
diri dalam dua dimensi pokok yaitu sebagai berikut:
1) Dimensi internal
Dimensi internal atau yang disebut kerangka acuan
internal(Internal frame of reference) adalah penilaian individu
terhadap dirinya sendiri berdasarkan dunia didalam dirinya. Dimensi
internal terbagi dalam tiga bentuk yaitu:
a. Diri Identitas (Identity Self)
Merupakan aspek paling mendasar pada konsep diri dan mengacu
pada pertanyaan, Siapakah Saya. Dalam pertanyaan tersebut
mencakup label- label dan symbol- symbol diberikan kepada diri
(self) oleh individu- individu yang bersangkutan untuk
menggambarkan dirinya dan membangun identitasnya.
b. Diri Pelaku (Behavior self)
Merupakan persepsi individu tentang tingkah lakunya, yang
berisikan segala kesadaran mengenai apa yang dilakukan oleh diri.
Selain itu bagian ini berkaitan erat dengan identitas diri. Diri yang
16

adekuat akan menunjukkan adanya keserasian antara diri identitas
dengan diri pelakunya, sehingga ia dapat mengenali dan menerima,
baik diri sebagai identitas maupun diri sebagai pelaku.
c. Diri penerimaan (Judging Self)
Berfungsi sebagai pengamat, penentu standar, dan elevator.
Kedudukannya adalah sebagai perantara (mediator) antara diri
identitas dan diri prilaku
2) Dimensi Eksternal
Pada dimensi eksternal, individu menilai dirinya melalui hubungan
dan aktivitias sosialnya, nilai- nilai yang dianutnya, serta hal- hal lain
diluar dirinya. Dimensi ini merupakan suatu hal yang luas. Namun,
dimensi ekternal ini yang bersifat umum bagi semua orang, dibedakan
atas lima bentuk, yaitu:
a. Diri Fisik (Physical Self)
Yaitu pandangan seseorang terhadap fisik, kesehatan, penampilan
diri dan gerak motoriknya. Dalam hal ini terlihat persepsi seseorang
mengenai kesehatan dirinya, penampilan dirinya (cantik, jelek,
menarik, tidak menarik) dan keadaan tubuhnya (tinggi, pendek,
gemuk, kurus).
b. Diri keluarga (family self)
Yaitu pandangan dan penilaian seseorang dalam kedudukannya
sebagai anggota keluarga. Bagian ini menunjukkan seberapa jauh
seseorang merasa adekuat terhadap dirinya sebagai anggota
17

keluarga, serta terhadap peran maupun fungsi yang dijalankannya
sebagai anggota dari suatu keluarga.
c. Diri Pribadi (personal self)
Yaitu bagaimana seseorang menggambarkan identitas dirinya dan
bagaimana dirinya sendiri. Diri pribadi merupakan perasaan dan
persepsi seseorang tentang keadaan pribadinya. Hal ini tidak
dipengaruhi oleh kondisi fisik atau hubungan dengan orang lain,
tetapi dipengaruhi oleh sejauh mana individu merasa puas terhadap
pribadinya atau sejauh mana ia merasa dirinya sebagai pribadi yang
tepat.
d. Diri moral etik (moral-ethical self)
Yaitu persepsi seseorang terhadap dirinya dilihat dari standar
pertimbangan nilai moral dan etika. Hal ini menyagkut persepsi
seseorang mengenai hubungan dengan Tuhan, kepuasan seseorang
akan kehidupan keagamaanya dan nilai- nilai moral yang
dipegangnya, yang meliputi batasan baik dan buruk.
e. Diri Sosial (social self)
Yaitu bagaimana seseorang dalam melakukan interaksi sosialnya.
Bagian ini merupakan penilaian seseorang terhadap interaksi
dirinya dengan orang lain maupun lingkungan disekitarnya.




18

2.1.6 Jenis Konsep Diri
Perkembangan konsep diri terbagi dua (Rola, 2006) yaitu:
a. Konsep diri positif
Konsep diri positif lebih kepada penerimaan diri, bukan sebagai
suatu kebanggaan yang besar tentang diri. Konsep diri positif bersifat
stabil dan bervariasi . individu yang memilki konsep diri positif
adalah individu yang tahu betul tentang dirinya, dapat memahami dan
meneima sejumlah fakta yang sangat bermacam- macam tenteng
dirinya, sehingga evaluasi terhadap dirinya sendiri menjadi positif dan
dapat menerima keberadaan orang lain. Individu yang memilki
konsep diri positif akan merancang tujuan yang sesuai realitas, yaitu
tujuan yang memiliki kemungkinan besar untuk dapat dicapai serta
mampu menghadapi kehidupandidepannya dan menganggap hidup
adalah suatu proses penemuan.
Individu yang memilki konsep diri positif adalah individu yang
tahu betul siapa dirinya sehingga menerima segala kelebihan dan
kekurangan, evaluasi terhadap dirinya menjadi lebih positif serta
mampu merancang tujuan- tujuan yang sesuai dengan realitas. Orang
yang memilki konsep diri positif, ditandai dengan lima hal, yaitu:
a) Ia yakin akan kemampuan mengatasi masalah
b) Ia merasa setara dengan orang lain
c) Ia menerima pujian tanpa rasa malu
d) Ia menyadari bahwa setiap orang mempunyai perasaan, keinginan
dan perilaku yang tidak seluruhnya disetujui masyarakat.
19

e) Ia mampu memperbaiki dirinya karena ia sanggup mengungkapkan
aspek- aspek kepribadian yang tidak disenanginya dan berusaha
mengubahnya.
b. Konsep diri Negatif
Konsep diri negatif terbagi dua tipe yaitu, :
a) Pandangan individu tentang dirinya benar- benar tidak teratur,
tidak memilki perasaan kestabilan dan keutuhan diri. Individu
tersebut benar-benar tidak tahu siapa dirinya, kekuatan dan
kelemahannya atau yang dihargai dalam kehidupannya.
b) Pandangan tentang dirinya terlalu stabil dan teratur, hal ini bisa
terjadi karena individu dididik dengan cara yang keras, sehingga
menciptakan citra diri yang tidak mengizinkan adanya
penyimpangan dari seperangkat hukum yang dalam pikirannya
merupakan cara hidup yang tepat.
Ciri orang yang mempunyai konsep diri negatif yaitu:
1) Peka pada kritik
Individu ini sangat tahan terhadap kritikan yang diterimanya, dan
mudah marah. Bagi individu ini, koreksi seringkali dipersepsikan
sebagai usaha untuk menjatuhkan harga dirinya.
2) Responsif terhadap pujian
Pada individu ini segala atribut yang menunjang harga dirinya
menjadi pusat perhatiannya. Bersamaan dengan kesenangan terhadap
ujian, mereka pun bersikap hiperkritik terhadap orang lain. Ia selalu
mengeluh, mencelah atau meremehkan apapun dan siapa pun.
20

3) Cendrung merasa tidak disenangi orang lain
Individu ini tidak merasa tidak diperhatiakn. Oleh karena itu, ia
bereaksi pada orang lain sebagai musuh, sehingga tidak dapat
melahirkan kehangatan dan keakraban dalam persahabatan. Ia tidak
pernah mempersalahkan dirinya tetapi akan menganggap dirinya
sebagai korban dari sosial yang tidak beres.
4) Pesimis terhadap kompetisi
Individu ini enggan untuk bersaing dengan orang lain dalam
membuat prestasi. Ia menganggap tidak akan berdaya melawan
persaingan yang merugikan dirinya.

2.1.7 Aspek Konsep Diri
Menurut Rola (2006) konsep diri merupakan gambaran mental
yang dimilki oleh seorang individu dan mencakup tiga aspek yaitu
pengetahuan, harapan, dan penilaian.
a. Pengetahuan
Dimensi pertama dari konsep diri adalah pengetahuan.
Pengetahuan yang dimilki individu merupakan sesuatu yang individu
ketahui tentang dirinya. Hal ini mengacu kepada istilah kuantitas
seperti usia, jenis kelamin, kebangsaan, pekerjaan dan lain- lain. Serta
sesuatu yang merujuk kepada kualitas seperti individu yang egois,
baik hati, tenang, dan bertempramen tinggi. Pengetahuan bisa
diperoleh dengan membandingkan diri individu dengan kelompok
pembandingnya. Pengetahuan individu tidaklah menetap sepanjang
21

hidupnya, pengetahuan bisa berubah dengan cara merubah tingkah
laku individu tersebut atau dengan cara merubah kelompok
pembanding.
b. Harapan
Dimensi kedua dari konsep diri adalah harapan. Selain individu
mempunyai satu set pandangan tentang siapa dirinya, individu juga
memilki pandangan lain yaitu, tentang kemungkinan menjadi apa
dimasa mendatang. Setiap individu mempunyai pengharapan bagi
dirinya sendiri dan pengharapan tersebut berbeda untuk tiap individu.
c. Penilaian
Dimensi terakhir dari konsep diri adalah penilaian terhadap diri
sendiri. Individu berkedudukan sebagai penilai terhadap dirinya setiap
hari. Penilaian terhadap dirinya adalah pengukuran individu tentang
keadaaannya saat ini dengan apa yang menurutnya dapat terjadi pada
dirinya.
2.2 Resiliensi
2.2.1 Definisi Resiliensi
Istilah resiliensi berasal dari kata Latin resilire yang artinya
melambung kembali. Awalnya istilah ini digunakan dalam konteks fisik
atau ilmu fisika. Resiliensi berarti kemampuan untuk pulih kembali dari
suatu keadaan, kembali ke bentuk semula setelah dibengkokkan, ditekan,
atau diregangkan. Bila digunakan sebagai istilah psikologi, resiliensi
adalah kemampuan manusia untuk cepat pulih dari perubahan, sakit,
kemalangan, atau kesulitan (The Resiliency Center, 2005).
22

Grotberg (2000) menyatakan bahwa resiliensi adalah kemampuan
seseorang untuk menilai, mengatasi, dan meningkatkan diri ataupun
mengubah dirinya dari keterpurukan atau kesengsaraan dalam hidup,
karena setiap orang itu pasti mengalami kesulitan ataupun sebuah
masalah dan tidak ada seseorang yang hidup di dunia tanpa suatu
masalah ataupun kesulitan. Hal senada diungkapkan oleh Reivich dan
Shatte (1999), bahwa resiliensi adalah kapasitas untuk merespon secara
sehat dan produktif ketika menghadapi kesulitan atau trauma, dimana hal
itu penting untuk mengelola tekanan hidup sehari-hari.
Resiliensi merupakan istilah yang relatif baru dalam ranah
psikologi, terutama psikologi perkembangan. Paradigma resiliensi
didasari oleh pandangan kontemporer yang muncul dari lapangan
psikiatri, psikologi, dan sosiologi tentang bagaimana anak, remaja, dan
orang dewasa sembuh dari kondisi stres, trauma dan resiko dalam
kehidupan mereka (Deswita, 2006 :228).
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat di simpulkan bahwa
resiliensi adalah kemampuan seseorang untuk menilai, mengatasi, dan
meningkatkan diri ataupun mengubah dirinya dari keterpurukan atau
kesengsaraan dalam hidup.





23

2.2.2 Fungsi resiliensi
Penelitian tentang resiliensi hanya mencakup bidang yang kecil
dan digunakan oleh beberapa profesional seperti psikolog, psikiater, dan
sosiolog. Penelitian mereka berfokus pada anak-anak, dan
mengungkapkan kepada kita tentang karakteristik orang dewasa yang
resilien (Reivich. K & Shatte. A, 2002).
Sebuah penelitian telah menyatakan bahwa manusia dapat
menggunakan resiliensi untuk hal-hal berikut ini (dalam Reivich &
Shatte, 2002):
a. Overcoming
Dalam kehidupan terkadang manusia menemui kesengsaraan,
masalah-masalah yang menimbulkan stres yang tidak dapat untuk
dihindari. Oleh karenanya manusia membutuhkan resiliensi untuk
menghindar dari kerugian-kerugian yang menjadi akibat dari hal-hal
yang tidak menguntungkan tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan
cara menganalisa dan mengubah cara pandang menjadi lebih positif
dan meningkatkan kemampuan untuk mengontrol kehidupan kita
sendiri. Sehingga, kita dapat tetap merasa termotivasi, produktif,
terlibat, dan bahagia meskipun dihadapkan pada berbagai tekanan di
dalam kehidupan.
b. Steering through
Setiap orang membutuhkan resiliensi untuk menghadapi setiap
masalah, tekanan, dan setiap konflik yang terjadi dalam kehidupan
sehari-hari. Orang yang resilien akan menggunakan sumber dari dalam
24

dirinya sendiri untuk mengatasi setiap masalah yang ada, tanpa harus
merasa terbebani dan bersikap negatif terhadap kejadian tersebut.
Orang yang resilien dapat memandu serta mengendalikan dirinya
dalam menghadapi masalah sepanjang perjalanan hidupnya. Penelitian
menunjukkan bahwa unsur esensi dari steering through dalam stres
yang bersifat kronis adalah self-efficacy yaitu keyakinan terhadap diri
sendiri bahwa kita dapat menguasai lingkungan secara efektif dapat
memecahkan berbagai masalah yang muncul.
c. Bouncing back
Beberapa kejadian merupakan hal yang bersifat traumatik dan
menimbulkan tingkat stres yang tinggi, sehingga diperlukan resiliensi
yang lebih tinggi dalam menghadapai dan mengendalikan diri sendiri.
Kemunduran yang dirasakan biasanya begitu ekstrim, menguras secara
emosional, dan membutuhkan resiliensi dengan cara bertahap untuk
menyembuhkan diri. Orang yang resiliensi biasanya menghadapi
trauma dengan tiga karakteristik untuk menyembuhkan diri. Mereka
menunjukkan task-oriented coping style dimana mereka melakukan
tindakan yang bertujuan untuk mengatasi kemalangan tersebut, mereka
mempunyai keyakinan kuat bahwa mereka dapat mengontrol hasil dari
kehidupan mereka, dan orang yang mampu kembali ke kehidupan
normal lebih cepat dari trauma mengetahui bagaimana berhubungan
dengan orang lain sebagai cara untuk mengatasi pengalaman yang
mereka rasakan.

25

d. Reaching out
Resiliensi, selain berguna untuk mengatasi pengalaman negatif,
stres, atau menyembuhkan diri dari trauma, juga berguna untuk
mendapatkan pengalaman hidup yang lebih kaya dan bermakna serta
berkomitmen dalam mengejar pembelajaran dan pengalaman baru.
Orang yang berkarakteristik seperti ini melakukan tiga hal dengan
baik, yaitu: tepat dalam memperkirakan risiko yang terjadi,
mengetahui dengan baik diri mereka sendiri, dan menemukan makna
dan tujuan dalam kehidupan mereka.
2.2.3 Faktor - Faktor Resiliensi
Banyak penelitian yang berusaha untuk mengidentifikasikan faktor
yang berpengaruh terhadap resiliensi seseorang. Faktor tersebut meliputi
dukungan eksternal dan sumber-sumbernya yang ada pada diri seseorang
(misalnya keluarga, lembaga-lembaga pemerhati dalam hal ini yang
melindungi remaja), kekuatan personal yang berkembang dalam diri
seseorang (seperti self-esteem, a capacity for self monitoring, spritualitas
dan altruism), dan kemampuan sosial (seperti mengatasi konflik,
kemampuan-kemampuan berkomunikasi).
Menutut Everall, et al., (2006, hal 462-463) memaparkan tiga
faktor yang mempengaruhi resiliensi, yaitu :
1. Individu
Faktor individu meliputi kemampuan kognitif individu, konsep
diri, harga diri, dan kompetensi sosial yang dimiliki individu.
Menurut Holday (1997, h.350) keterampilan kognitif berpengaruh
26

penting pada resiliensi individu. Inteligensi minimal rata-rata
dibutuhkan bagi pertumbuhan resiliensi pada diri individu karena
resiliensi sangat terkait erat dengan kemampuan untuk memahami dan
menyampaikan sesuatu lewat bahasa yang tepat, kemampuan
mempuan bahasa, dan komunikasi non verbal. Resiliensi juga
dihubungakan dengan kemampuan untuk melepaskan pikiran dari
trauma dengan menggunakan fantasi dan harapan-harapan yang
ditumbuhkan pada diri individu yang bersangkutan.
2. Keluarga
Faktor keluarga meliputi dukungan yang bersumber dari orang tua,
yaitu bagaimana cara orang tua untuk memperlakukan dan melayani
anak. Selain dukungan dari orang tua struktur keluarga juga berperan
penting bagi indivdu.
3. Komunitas
Faktor komunitas meliputi kemiskinan dan keterbatasan
kesempatan kerja. Delgado (1995) dalam LaFramboise et al.,
(2006,h.195-196) Menambahkan dua hal terkait dengan faktor
individu, yaitu :
a) Gender
Gender memeberikan kontribusi bagi resiliensi individu.
Resiko kerentanan terhadap tekanan emosional, perlindungan
terhadap situasi yang mengandung resiko, dan respon terhadapa
kesulitan yang dihadapi dipengaruhi oleh gender.

27

b) Keterikatan dengan budaya
Keterikantan dengan budaya meliputi keterlibatan seseorang
dalam aktivitas-aktivitas terkait dengan budaya setempat berikut
ketaatan terhadap nilai-nilai yang diyakini dalam kebudayaan
tersebut. Beuf(1990) dalam Holaday (1997,h.348) mengungkapkan
bahwa resiliensi dipengaruhi secara kuat oleh kebudayaan, baik
sikap-sikap yang diyakini dalam suatu budaya, nilai-nilai, dan
standard kebaikan dalam suatu masyarakat.
Dari uraian diatas, dapat di simpulkan resiliensi dipengaruhi
oleh faktor-faktror dari dalam individu (internal), dan faktor-faktor
dari luar individu (eksternal). Faktor internal meliputi, kemampuan
kognitif, konsep diri, haarga diri, kompetensi sosial yang dimiliki
individu, gender, serta keterkaitan individu denan budaya. Faktor
eksternal mencakup faktor dari keluarga dan komunitas.
Menurut Grotberg (2000), mengemukakan faktor-faktor
resiliensi yang diidentifikasikan berdasarkan sumber-sumber yang
berbeda. Untuk kekuatan individu, dalam diri pribadi digunakan
istilah I Am, untuk dukungan eksternal dan sumber-sumbernya,
digunakan istilah I Have, sedangkan untuk kemampuan
interpersonal digunakan istilahI Can.
1. I Have
Faktor I Have merupakan dukungan eksternal dan sumber
dalam meningkatkan daya lentur. Sebelum anak menyadari
akan siapa dirinya (I Am) atau apa yang bisa dia lakukan (I
28

Can), remaja membutuhkan dukungan eksternal dan
sumberdaya untuk mengembangkan perasaan keselamatan dan
keamanan yang meletakkan fondasi, yaitu inti untuk
mengembangkan resilience. Aspek ini merupakan bantuan dan
sumber dari luar yang meningkatkan resiliensi. Sumber-
sumbernya adalah adalah sebagai berikut :
a. Trusting relationships (mempercayai hubungan)
Orang tua, anggota keluarga lainnya, guru, dan teman-
teman yang mengasihi dan menerima remaja tersebut.
Anak-anak dari segala usia membutuhkan kasih sayang
tanpa syarat dari orang tua mereka dan pemberi perhatian
primer (primary care givers), tetapi mereka membutuhkan
kasih sayang dan dukungan emosional dari orang dewasa
lainnya juga. Kasih sayang dan dukungan dari orang lain
kadang-kadang dapat mengimbangi terhadap kurangnya
kasih sayang dari orang tua.
b. Struktur dan aturan di rumah
Orang tua yang memberikan rutinitas dan aturan yang
jelas, mengharapkan remaja mengikuti perilaku mereka,
dan dapat mengandalkan anak untuk melakukan hal
tersebut. Aturan dan rutinitas itu meliputi tugas-tugas yang
diharapkan dikerjakan oleh anak. Batas dan akibat dari
perilaku tersebut dipahami dan dinyatakan dengan jelas.
Jika aturan itu dilanggar, anak dibantu untuk memahami
29

bahwa apa yang dia lakukan tersebut salah, kemudian
didorong untuk memberitahu dia apa yang terjadi, jika
perlu dihukum, kemudian dimaafkan dan didamaikan
layaknya orang dewasa. Orang tua tidak mencelakakan
anak dengan hukuman, dan tidak ada membiarkan orang
lain mencelakakan anak tersebut.
c. Role models
Orang tua, orang dewasa lain, kakak, dan teman sebaya
bertindak dengan cara yang menunjukkan perilaku remaja
yang diinginkan dan dapat diterima, baik dalam keluarga
dan orang lain. Mereka menunjukkan bagaimana cara
melakukan sesuatu, seperti berpakaian atau menanyakan
informasi dan hal ini akan mendorong anak untuk meniru
mereka. Mereka menjadi model moralitas dan dapat
mengenalkan remaja tersebut dengan aturan-aturan agama.
d . Dorongan agar menjadi otonom
Orang dewasa, terutama orang tua, mendorong anak
untuk melakukan sesuatu tanpa bantuan orang lain dan
berusaha mencari bantuan yang mereka perlukan untuk
membantu menjadi otonom. Mereka memuji remaja
tersebut ketika dia menunjukkan sikap inisiatif dan
otonomi. Orang dewasa sadar akan temperamen remaja,
sebagaimana temperamen mereka sendiri, jadi mereka
30

dapat menyesuaikan kecepatan dan tingkat tempramen
untuk mendorong anak untuk dapat otonom.
e. Akses pada kesehatan, pendidikan, kesejahteraan, dan
layanan keamanan.
Manusia secara individu maupun keluarga, dapat
mengandalkan layanan yang konsisten untuk memenuhi
kebutuhan yang tidak bisa dipenuhi oleh keluarganya yaitu
rumah sakit dan dokter, sekolah dan guru, layanan sosial,
serta polisi dan perlindungan kebakaran atau layanan
sejenisnya.
2. I Am
Faktor I Am merupakan kekuatan yang berasal dari dalam
diri sendiri. Faktor ini meliputi perasaan, sikap, dan keyakinan
di dalam diri anak. Ada beberapa bagian-bagian dari faktor dari
I Am yaitu :
a. Perasaan dicintai dan perilaku yang menarik
Seseorang tersebut sadar bahwa orang menyukai dan
mengasihi dia. Anak akan bersikap baik terhadap orang-
orang yang menyukai dan mencintainya. Seseorang dapat
mengatur sikap dan perilakunya jika menghadapi respon-
respon yang berbeda ketika berbicara dengan orang lain.
b. Mencintai, empati, dan altruistik
Seseorang mengasihi orang lain dan menyatakan kasih
sayang tersebut dengan banyak cara. Dia peduli akan apa
31

yang terjadi pada orang lain dan menyatakan kepedulian itu
melalui tindakan dan kata-kata. Remaja merasa tidak
nyaman dan menderita karena orang lain dan ingin
melakukan sesuatu untuk berhenti atau berbagi penderitaan
atau kesenangan.
c. Bangga pada diri sendiri
Manusia mengetahui dia adalah seseorang yang penting
dan merasa bangga pada siapakah dirinya dan apa yang bisa
dilakukan untuk mengejar keinginannya. Seseorang tidak
akan membiarkan orang lain meremehkan atau
merendahkannya. Ketika individu mempunyai masalah
dalam hidup, kepercayaan diri dan self esteem membantu
mereka untuk dapat bertahan dan mengatasi masalah
tersebut.
d. Otonomi dan tanggung jawab
Seseorang dapat melakukan sesuatu dengan caranya
sendiri dan menerima konsekuensi dari perilakunya
tersebut. Seseorang merasa bahwa ia bisa mandiri dan
bertanggung jawab atas hal tersebut. Individu mengerti
batasan kontrol mereka terhadap berbagai kegiatan dan
mengetahui saat orang lain bertanggung jawab.
e. Harapan, keyakinan, dan kepercayaan
Seseorang percaya bahwa ada harapan baginya dan
bahwa ada orang-orang dan institusi yang dapat dipercaya.
32

Anak merasakan suatu perasaan benar dan salah, percaya
yang benar akan menang, dan mereka ingin berperan untuk
hal ini. Mansusia mempunyai rasa percaya diri dan
keyakinan dalam moralitas dan kebaikan, serta dapat
menyatakan hal ini sebagai kepercayaan pada Tuhan atau
makhluk rohani yang lebih tinggi.
3. I Can
I can adalah kemampuan yang dimiliki individu untuk
mengungkapkan perasaan dan pikiran dalam berkomunikasi
dengan orang lain, memecahkan masalah dalam berbagai
seting kehidupan (akademis, pekerjaan, pribadi dan sosial) dan
mengatur tingkah laku, serta mendapatkan bantuan saat
membutuhkannya. Ada beberapa aspek yang mempengaruhi
faktor I can yaitu:
a. Berkomunikasi
Manusia mampu mengekspresikan pemikiran dan
perasaan kepada orang lain dan dapat mendengarkan apa
yang dikatakan orang lain serta merasakan perasaan orang
lain.
b. Pemecahan masalah
Seseorang dapat menilai suatu permasalahan, penyebab
munculnya masalah dan mengetahui bagaimana cara
mecahkannya. Anak dapat mendiskusikan solusi dengan
orang lain untuk menemukan solusi yang diharapkan
33

dengan teliti. Dia mempunyai ketekunan untuk bertahan
dengan suatu masalah hingga masalah tersebut dapat
terpecahkan.
c. Mengelola berbagai perasaan dan rangsangan
Individu dapat mengenali perasaannya, memberikan
sebutan emosi, dan menyatakannya dengan kata-kata dan
perilaku yang tidak melanggar perasaan dan hak orang lain
atau dirinya sendiri. Anak juga dapat mengelola
rangsangan untuk memukul, melarikan diri, merusak
barang, berbagai tindakan yang tidak menyenangkan.
d. Mengukur temperamen diri sendiri dan orang lain.
Individu memahami temperamen mereka sendiri
(bagaimana bertingkah, merangsang, dan mengambil resiko
atau diam, reflek dan berhati-hati) dan juga terhadap
temperamen orang lain. Hal ini menolong individu untuk
mengetahui berapa lama waktu yang diperlukan untuk
berkomunikasi, membantu individu untuk mengetahui
kecepatan untuk bereaksi, dan berapa banyak individu
mampu sukses dalam berbagai situasi.
e Mencari hubungan yang dapat dipercaya.
Idividu dapat menemukan seseorang misalnya orang
tua, saudara, teman sebaya untuk meminta pertolongan,
berbagi perasaan dan perhatian, guna mencari cara terbaik
34

untuk mendiskusikan dan menyelesaikan masalah personal
dan interpersonal.
2.2.4 Karakteristik resiliensi
Karakteristik resiliensi memiliki ciri-ciri khas. Menurut Wolin dan
Wolin (1999, dalam Rezki Rahayu, 2008), karakteristik resiliensi adalah
sebagai berikut:
1. Insight
Insight adalah kemampuan mental untuk bertanya pada diri sendiri
dan menjawab dengan jujur. Hal ini untuk membantu individu untuk
dapat memahami diri sendiri dan orang lain serta dapat menyesuaikan
diri dalam berbagai situasi. Insight adalah kemapuan yang paling
mempengaruhi resiliensi.
2. Kemandirian
Kemandirian adalah kemampuan untuk mengambil jarak secara
emocional maupun fisik dari sumber masalah dalah hidup seseorang.
Kemandiran melibatkan kemampuan untuk menjaga keseimbangan
antara jujur pada diri sendiri dengan peduli pada orang lain.
3. Hubungan
Seseorang yang resilien dapat mengembangkan hubungan yang
jujur, saling mendukung dan berkualitas bagi kehidupan atau
memiliki role model yang sehat.
4. Inisiatif
Inisiatif melibatkan keinginan yang kuat untuk bertanggung jawab
atas kehidupan sendiri atau masalah yang sedang dihadapi. Individu
35

yang resilien bersikap proaaktif, bukan kreatif, bertanggung jawab
dalam pemecahan masalah, selalu berusaha memperbaiki diri ataupun
situasi yang dapat diubah, serta meningkatkan kemampuan untuk
menghadapi hal-hal yang tidak dapat diubah.
5. Kreativftas
Kreatifitas melibatkan kemampuan memikirkan berbagai pilihan,
konsekuensi, dan alternatif dalam menghadapi tantangan hidup.
Individu yang resilien tidak terlibat dalam perilaku negatif, sebab ia
mampu mempertimbangkan konsekuensi dari tiap perilakunya dan
membuat keputusan yang benar.
6. Humor
Humor adalah kemampuan untuk melihat sisi terang kehidupan,
menertawakan diri sendiri, dan menemukan kebahagiaan dalam
situasi apapun. Individu yang resilien menggunakan rasa humornya
untuk memandang tantangan hidup dengan cara yang baru dan lebih
ringan.
7. Moralitas
Moralitas atau orientasi pada nilai-nilai dengan keinginan untuk
hidup secara baik dan produktif. Individu yang resilien dapat
mengevaluasi berbagai hal dan membuat keputusan yang tepat tanpa
rasa takut akan pendapat orang lain. Mereka juga dapat mengatasi
kepentingan diri sendiri dalam membantu orang yang membutuhkan.
Berdasarkan uraian diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa
karakteristik resiliensi merupakan kemampuan mental bertanya pada diri
36

sendiri, kemandirian yang dimiliki individu, hubungan yang saling
mendukung, inisiatif pada individu, kemampuan kreatif yang dimiliki
individu, kemampuan humor yang individu dalam menjalani kehidupan
serta orientasi nilai yang dimiliki.

2.2.5 Aspek-aspek resiliensi
Reivich dan Shatte (2002), memaparkan tujuh kemampuan yang
membentuk resiliensi, yaitu sebagai berikut :
1. Emotion Regulation
Regulasi emosi adalah kemampuan untuk tetap tenang di bawah
kondisi yang menekan (Reivich & Shatte, 2002). Hasil penelitian
menunjukkan bahwa orang yang kurang memiliki kemampuan untuk
mengatur emosi mengalami kesulitan dalam membangun dan menjaga
hubungan dengan orang lain. Hal ini bisa disebabkan oleh berbagai
macam faktor, di antara alasan yang sederhana adalah tidak ada orang
yang mau menghabiskan waktu bersama orang yang marah,
merengut, cemas, khawatir serta gelisah setiap saat. Emosi yang
dirasakan oleh seseorang cenderung berpengaruh terhadap orang lain.
Semakin kita terasosiasi dengan kemarahan maka kita akan semakin
menjadi seorang yang pemarah (Reivich & Shatte, 2002).
Tidak semua emosi yang dirasakan oleh individu harus dikontrol.
Tidak semua emosi marah, sedih, gelisah dan rasa bersalah harus
diminimalisir. Hal ini dikarenakan mengekspresikan emosi yang kita
rasakan baik emosi positif maupun negatif merupakan hal yang
37

konstruksif dan sehat, bahkan kemampuan untuk mengekspresikan
emosi secara tepat merupakan bagian dari resiliensi (Reivich &
Shatte, 2002).
Reivich dan Shatte (2002), mengungkapkan dua buah
keterampilan yang dapat memudahkan individu untuk melakukan
regulasi emosi, yaitu yaitu tenang (calming) dan fokus (focusing).
Dua buah keterampilan ini akan membantu individu untuk
mengontrol emosi yang tidak terkendali, menjaga fokus pikiran
individu ketika banyak hal-hal yang mengganggu, serta mengurangi
stres yang dialami oleh individu.
2.Impulse Control
Pengendalian impuls adalah kemampuan Individu untuk
mengendalikan keinginan, dorongan, kesukaan, serta tekanan yang
muncul dari dalam diri (Reivich & Shatte, 2002). Individu yang
memiliki kemampuan pengendalian impuls yang rendah, cepat
mengalami perubahan emosi yang pada akhirnya mengendalikan
pikiran dan perilaku mereka. Mereka menampilkan perilaku mudah
marah, kehilangan kesabaran, impulsif, dan berlaku agresif. Tentunya
perilaku yang ditampakkan ini akan membuat orang di sekitarnya
merasa kurang nyaman sehingga berakibat pada buruknya hubungan
sosial individu dengan orang lain.
Individu dapat mengendalikan impulsivitas dengan mencegah
terjadinya kesalahan pemikiran, sehingga dapat memberikan respon
yang tepat pada permasalahan yang ada. Menurut Reivich dan Shatte
38

(2002), pencegahan dapat dilakukan dengan dengan menguji
keyakinan individu dan mengevaluasi kebermanfaatan terhadap
pemecahan masalah. Individu dapat melakukan pertanyaan-pertanyaan
yang bersifat rasional yang ditujukan kepada dirinya sendiri, seperti
apakah penyimpulan terhadap masalah yang saya hadapi berdasarkan
fakta atau hanya menebak?, apakah saya sudah melihat permasalahan
secara keseluruhan?, apakah manfaat dari semua ini?, dll.
Kemampuan individu untuk mengendalikan impuls sangat terkait
dengan kemampuan regulasi emosi yang ia miliki. Seorang individu
yang memiliki skor Resilience Quotient yang tinggi pada faktor
regulasi emosi cenderung memiliki skor Resilience Quotient pada
faktor pengendalian impuls (Reivich & Shatte, 2002).
3. Optimism
Individu yang resilien adalah individu yang optimis, optimisme
adalah ketika kita melihat bahwa masa depan kita cemerlang (Reivich
& Shatte, 2002). Optimisme yang dimiliki oleh seorang individu
menandakan bahwa individu tersebut percaya bahwa dirinya memiliki
kemampuan untuk mengatasi kemalangan yang mungkin terjadi di
masa depan. Hal ini juga merefleksikan self-efficacy yang dimiliki oleh
seseorang, yaitu kepercayaan individu bahwa ia mampu menyelesaikan
permasalahan yang ada dan mengendalikan hidupnya. Optimisme akan
menjadi hal yang sangat bermanfaat untuk individu bila diiringi
dengan self-efficacy, hal ini dikarenakan dengan optimisme yang ada
seorang individu terus didorong untuk menemukan solusi
39

permasalahan dan terus bekerja keras demi kondisi yang lebih baik
(Reivich & Shatte, 2002).
Tentunya optimisme yang dimaksud adalah optimisme yang
realistis (realistic optimism), yaitu sebuah kepercayaan akan
terwujudnya masa depan yang lebih baik dengan diiringi segala usaha
untuk mewujudkan hal tersebut. Berbeda dengan unrealistic optimism
dimana kepercayaan akan masa depan yang cerah tidak dibarengi
dengan usaha yang signifikan untuk mewujudkannya. Perpaduan
antara optimisme yang realistis dan self-efficacy adalah kunci resiliensi
dan kesuksesan (Reivich & Shatte, 2002).
4. Causal Analysis
Causal analysis merujuk pada kemampuan individu untuk
mengidentifikasikan secara akurat penyebab dari permasalahan yang
mereka hadapi. Individu yang tidak mampu mengidentifikasikan
penyebab dari permasalahan yang mereka hadapi secara tepat, akan
terus menerus berbuat kesalahan yang sama.
Seligman (dalam Reivich & Shatte, 2002) mengidentifikasikan
gaya berpikir explanatory yang erat kaitannya dengan kemampuan
causal analysis yang dimiliki individu. Gaya berpikir explanatory
dapat dibagi dalam tiga dimensi: personal (saya-bukan saya),
permanen (selalu-tidak selalu), dan pervasive (semua-tidak semua).
Individu dengan gaya berpikir Saya-Selalu-Semua merefleksikan
keyakinan bahwa penyebab permasalahan berasal dari individu
tersebut (Saya), hal ini selalu terjadi dan permasalahan yang ada tidak
40

dapat diubah (Selalu), serta permasalahan yang ada akan
mempengaruhi seluruh aspek hidupnya (Semua). Sementara individu
yang memiliki gaya berpikir Bukan Saya-Tidak Selalu-Tidak semua
meyakini bahwa permasahalan yang terjadi disebabkan oleh orang lain
(Bukan Saya), dimana kondisi tersebut masih memungkinkan untuk
diubah (Tidak Selalu) dan permasalahan yang ada tidak akan
mempengaruhi sebagian besar hidupnya (Tidak semua).
Gaya berpikir explanatory memegang peranan penting dalam
konsep resiliensi (Reivich & Shatte, 2002). Individu yang terfokus
pada Selalu-Semua tidak mampu melihat jalan keluar dari
permasalahan yang mereka hadapi. Sebaliknya individu yang
cenderung menggunakan gaya berpikir Tidak selalu-Tidak semua
dapat merumuskan solusi dan tindakan yang akan mereka lakukan
untuk menyelesaikan permasalahan yang ada.
Individu yang resilien adalah individu yang memiliki
fleksibelitas kognitif. Mereka mampu mengidentifikasikan semua
penyebab yang menyebabkan kemalangan yang menimpa mereka,
tanpa terjebak pada salah satu gaya berpikir explanatory. Mereka tidak
mengabaikan faktor permanen maupun pervasif. Individu yang resilien
tidak akan menyalahkan orang lain atas kesalahan yang mereka
perbuat demi menjaga self-esteem mereka atau membebaskan mereka
dari rasa bersalah. Mereka tidak terlalu terfokus pada faktor-faktor
yang berada di luar kendali mereka, sebaliknya mereka memfokuskan
dan memegang kendali penuh pada pemecahan masalah, perlahan
41

mereka mulai mengatasi permasalahan yang ada, mengarahkan hidup
mereka, bangkit dan meraih kesuksesan (Reivich & Shatte, 2002).
5. Empathy
Empati sangat erat kaitannya dengan kemampuan individu untuk
membaca tanda-tanda kondisi emosional dan psikologis orang lain
(Reivich & Shatte, 2005). Beberapa individu memiliki kemampuan
yang cukup mahir dalam menginterpretasikan bahasa-bahasa
nonverbal yang ditunjukkan oleh orang lain, seperti ekspresi wajah,
intonasi suara, bahasa tubuh dan mampu menangkap apa yang
dipikirkan dan dirasakan orang lain. Oleh karena itu, seseorang yang
memiliki kemampuan berempati cenderung memiliki hubungan sosial
yang positif (Reivich & Shatte, 2002).
Ketidakmampuan berempati berpotensi menimbulkan kesulitan
dalam hubungan sosial (Reivich & Shatte, 2002). Individu-individu
yang tidak membangun kemampuan untuk peka terhadap tanda-tanda
nonverbal tersebut tidak mampu untuk menempatkan dirinya pada
posisi orang lain, merasakan apa yang dirasakan orang lain dan
memperkirakan maksud dari orang lain.
Ketidakmampuan individu untuk membaca tanda-tanda
nonverbal orang lain dapat sangat merugikan, baik dalam konteks
hubungan kerja maupun hubungan personal, hal ini dikarenakan
kebutuhan dasar manusia untuk dipahami dan dihargai. Individu
dengan empati yang rendah cenderung mengulang pola yang dilakukan
42

oleh individu yang tidak resilien, yaitu menyamaratakan semua
keinginan dan emosi orang lain (Reivich & Shatte, 2002).
6. Self-efficacy
Self-efficacy adalah hasil dari pemecahan masalah yang berhasil.
Self-efficacy merepresentasikan sebuah keyakinan bahwa kita mampu
memecahkan masalah yang kita alami dan mencapai kesuksesan. Self-
efficacy merupakan hal yang sangat penting untuk mencapi resiliensi
(Reivich & Shatte, 2002).
7. Reaching out
Sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya, bahwa resiliensi
lebih dari sekedar bagaimana seorang individu memiliki kemampuan
untuk mengatasi kemalangan dan bangkit dari keterpurukan, namun
lebih dari itu resiliensi juga merupakan kemampuan individu meraih
aspek positif dari kehidupan setelah kemalangan yang menimpa
(Reivich & Shatte, 2002).
Banyak individu yang tidak mampu melakukan reaching out, hal
ini dikarenakan mereka telah diajarkan sejak kecil untuk sedapat
mungkin menghindari kegagalan dan situasi yang memalukan. Mereka
adalah individu-individu yang lebih memilih memiliki kehidupan standar
dibandingkan harus meraih kesuksesan namun harus berhadapan dengan
resiko kegagalan hidup dan hinaan masyarakat. Hal ini menunjukkan
kecenderungan individu untuk berlebih-lebihan (overestimate) dalam
memandang kemungkinan hal-hal buruk yang dapat terjadi di masa
43

mendatang. Individu-individu ini memiliki rasa ketakutan untuk
mengoptimalkan kemampuan mereka hingga batas akhir.

2.3 Hubungan Konsep Diri dengan Resiliensi
Konsep diri terbentuk melalui proses belajar sejak masa pertumbuhan
seorang manusia dari kecil hingga dewasa. Lingkungan, pengalaman dan pola
asuh orang tua turut memberikan pengaruh yang signifikan terhadap konsep
diri yang terbentuk (Rini, 2002). Konsep diri memainkan peranan yang sangat
besar dalam menentukan keberhasilan hidup. Konsep diri ada yang sifatnya
positif dan negatif. Individu dikatakan mempunyai konsep diri positif akan
mampu menghargai dirinya dan melihat hal- hal positif yang dapat
dilakukannya demi keberhasilan dan prestasinya Sebaliknya individu dengan
konsep diri negatif akan cendrung bersikap pesimistis terhadap kehidupan dan
kesempatan yang dihadapinya (Wahyuni, 2007).
Dalam kehidupan terkadang manusia menemui kesengsaraan, masalah-
maslah yang menimbulkan stres yang tidak dapat untuk dihindari, sehingga
dibutuhkan kemampuan seseorang untuk menilai, mengatasi, dan
meningkatkan diri ataupun mengubah dirinya dari keterpurukan atau
kesengsaraan dalam hidup, karena setiap orang itu pasti mengalami kesulitan
ataupun sebuah masalah dan tidak ada seseorang ang hidup di dunia tanpa
suatu masalah ataupun kesulitan atau yang sering disebut dengan resiliensi
(Grotberg 2000).
Everall, et al., (2006, hal 462-463) memaparkan tiga faktor yang
mempengaruhi resiliensi, salah satunya adalah Faktor individu yang meliputi
44

kemampuan kognitif individu, konsep diri, harga diri, dan kompetensi sosial
yang dimiliki individu. Jika individu menganggap dirinya mampu melakukan
sesuatu maka individu tersebut akan berusaha untuk mencapai apa yang
diinginkannya, sehingga terdapat hubungan yang positif antara konsep diri
terhadap resiliensi.



















45

2.4 Kerangka Konseptual


















Keterangan : : Diteliti
: Tidak diteliti
Gambar 2.1 Kerangka konsep hubungan konsep diri dengan resiliensi
pada mahasiswa dalam menyusun skripsi di Program Studi
Ilmu Keperawatan angkatan 2009 Universitas Tribhuwana
Tunggadewi Malang.
Konsep
Diri:

-gambaran
diri
-ideal diri
-harga diri
-peran
-identitas
diri
Tingkat
perkembanga
n

Kematangan
Budaya

Lingkungan

Pengalaman
masa lalu

Stressor

Sumber
eksternal dan
internal

Usia, Keadaan
sakit, trauma

Pengalaman
sukses dan
gagal

Faktor yang
mempengaruhi
resliensi (Everall, et
al., (2006, hal 462-
463) :
1. Faktor individu :
- kemampuan
kognitif
- konsep diri
- harga diri
- kompetensi
sosial
2. Faktor keluarga
3. Faktor komunitas



Resiliensi:
-emosi
regulation
-impulse
control
-optimism
-causal
analysis
-empathy
-self efficacy
- reaching out



Kemampu
an
menyusun
skripsi
46

2.5 Hipotesis Penelitian
Hipotesis penelitian ini adalah H1: ada hubungan konsep diri
dengan resiliensi pada mahasiswa dalam menyusun skripsi di Program
Studi Ilmu Keperawatan angkatan 2009 Universitas Tribhuwana
Tunggadewi Malang.