Anda di halaman 1dari 110

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Perubahan pelayanan keperawatan mempunyai dua pilihan utama, yaitu
mereka melakukan inovasi dan berubah atau mereka yang diubah oleh suatu
keadaan dan situasi. Perawat harus mempunya keterampilan dalam proses
perubahan. Keterampilan pertama adalah proses keperawatan. Proses
keperawatan merupakan pendekatan dalam menyelesaikan masalah yang
sistematis dan konsisten dengan perencanaan perubahan. Keterampilan kedua
adalah ilmu teoritis di kelas dan mempunyai pengalaman praktik untuk
bekerja secara efektif dengan orang lain. (Nursalam, 2011)
Sebagai profesi, keperawatan dituntut untuk memiliki kemampuan
intelektual, interpersonal kemampuan teknis, dan moral. Hal ini bisa
ditempuh dengan meningkatkan kualitas perawat melalui pendidikan lanjutan
pada program pendidikan Ners. Dengan demikian, diharapkan terjadi
perubahan yang mendasar dalam upaya aktif untuk mensukseskan program
pemerintah yang berwawasan luas tentang profesi keperawatan. Perubahan
tersebut bisa dicapai apabila pendidikan tinggi keperawatan tersebut
dilaksanakan dengan memperhatikan perkembangan pelayanan dan program
pembangunan kesehatan seiring dengan perkembangan iptek bidang
kesehatan. Selan itu diperlukan juga proses pembelajaran , baik di institusi
pendidikan maupun pengalaman belaja klinik di rumah sakit dan komunitas.
(Nursalam, 2011)
Proses registrasi dan legislasi keperawatan mulai terjadi sejak diakuinya
keperawatan sebagai profesi, sejak tumbuhnya pendidikan tinggi keperawatan
(D3 Keperawatan dan Ners), serta sejak berlakunya undang-undang no.23
Tahun 1992 dan Permenkes No.1239/2001. Dengan demikian, UU praktik
keperawatan di masa depan diharapkan adalah bentuk pengakuan adanya
kewenangan dalam melaksanakan praktik keperawatan professional.
2

Pelaksanaan Permenkes No.1239/2001 tersebut masih perlu mendapatkan
persiapan-persiapan yang optimal oleh profesi keperawatan. Hal ini
disebabkan adanya beberapa kendala yang dihadapi, meliputi : belum ada
pemahaman tenteng wujud dan batasan dari praktik keperawatan sebagai
praktik keperawatan professional dan jenis serta sifat praktik keperawatan
professional yang harus dikembangkan.
Untuk itu manajemen keperawatan di masa depan perlu mendapatkan
prioritas utama dalam pengembangan leperawatan. Hal ini berkaitan dengan
tuntutan profesi dan tuntutan globalbahwa setisp perkembangan dan
perubahan memerlukan pengelolaan secara professional dengan
memperhatikan setiap perubahan yang terjadi di Indonesia. Perawat sebagai
profesi ang paling intens berinteraksi dengan pasien (24 jam sehari) memiliki
potensi untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dengan memenuhi
berbagai macam kebutuhan pasien.
Manajemen didefinisikan sebagai suatu proses dalam menyelesaikan
pekerjaan melalui orang lain. Sedangkan manajemen keperawatan adalah
suatu proses bekerja melalui anggota staf keperawatan untuk memberikan
asuhan keperawatan secara professional. Disini manajer keperawatan untuk
merencanakan, mengorganisir, memimpin, mengevaluasi saranadan prasarana
yang tersedia untuk memberikan asuhan keperawatan seefektif dan seefisien
mungkin bagi individu, keluarga dan masyarakat. ( Nursalam, 2011).
Proses manajemen keperawatan sejalan dengan proses keperawatan sebagai
satu metode pelaksanaa asuhan keperawatan secara professional, sehingga
diharapkan keduanya dapat saling menopang. Sebagaimana proses
keperawatan dalam manajemen keperawatan terdiri dari pengumpulan data,
identifikasi masalah, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi hasil. Karena
manajemen keperawatan mempunyai kekhususan terhadap mayoritas tenaga
daripada seorang pegawai, maka setiap tahapan didalam proses manajemen
lebih rumit dibandingkan proses keperawatan.
Pelayanan asuhan keperawatan yang optimal akan terus sebagai sutau
tuntutan bagi organisasi pelayanan kesehatan. Kualitas pelayanan kesehatan
3

pada saat ini melibatkan pengetahuan, keterampilan dan perilaku dari praktisi,
pasien, keluarga dan dokter. Saat mendefinisikan kualitas keperawatan, perlu
diperhitungkan nilai-nilai dasar keyakinan para perawat serta cara
mengorganisasikan asuhan keperawatan tersebut. Latar belakang dalam
pemberian tugas mutu asuhan keperawatan yang berorientasi teknik, mungkin
akan didefinisikan cukup berbeda dengan keperawatan ang lebih holistik dan
ada kemungkinan bahwa metode keperawatan hanya merupkan prosedur dan
teknik bukannya interpersonal dan kontekstual yang berkaitan dengan mutu
asuhan.
Model pemberian asuhan keperawatan yang saat ini sudah menjadi tren dalam
keperawatan Indonesia adalah asuhan keperawatan professional dengan
metode pemberian asuhan keperawatan modifikasi primer yang merupakan
modifikasi Primary Nursing. Salah satu kritik yang dikemukakan mengenai
model keperawatan ini terlalu kompleks dan teoritis, akan tetapi bila seluruh
pembicaraan mengenai model ini mendorong perawat untuk memperjelas
keyakinan dan pekerjaannya, meningkatkan kemampuannya dalam
mendiskusikan masalah tersebut yang melibatkan masalah politis dan pribadi
yang lebih terbuk, dan membantu para perawat tersebut untuk lebih
bertanggung gugat secara professional terhadap tindakannya, maka kita telah
mendapatkannya. (Salvage, 1985).
SP2KP adalah system pemberian pelayanan keperawatan professional yang
merupakan pengembangan dari MPKP (Model Praktik Keperawatan
Profesional) dimana dalam SP2KP ini terjadi kerjasama professional antara
perawat primer (PP) dan perawat asosiet (PA) serta tenaga kesehatan lainnya.
(Nursalam, 2011)
Konsep untuk SP2KP tim primer ini yaitu perawat primer sebagai perawat
professional harus mampu menggunakan berbagai teknik kepemimpinan,
pentingnya komunikasi yang efektif agar kontinuitas rencana keperawatan
terjamin. Perawat asosiet harus menghargai kepemimpinana supervisor atau
perawat primer. Peran kepala ruangan penting dalam model modifikasi tim
primer akan berhasil baik bila didukung oleh kepala ruangan.
4

Untuk mengantisipasi hal tersebut maka pengetahuan dan aplikasi yang baik
tentang manajemen keperawatan perlu ditingkatkan agar kualitas pelayanan
dapat ditingkatkan dengan parameter waktu rawat inap semakin pendek dan
tingkat kepuasan klien semakin baik. Pengetahuan tentang manajemen
keperawatan dan aplikasinya di lapangan ini juga sangat perlu dipelajari oleh
mahasiswa sebagai calon-calon perawat professional. Dasar dari penerapan
manajemen keperawatan ini adalah data-data yang diperoleh dari tatanan
ruangan yang kemudian dianalisa, dirumuskan masalah, dan selanjutnya
melanjutkan rencana strategi yang cocok untuk menumbuhkan Model Asuhan
Keperawatan SP2KP. Penerapan SP2KP ini meliputi beberapa hal antara lain:
1.1.1 Timbang terima
1.1.2 Pendokumentasian
1.1.3 Ronde keperawatan
1.1.4 Sentralisasi obat
1.1.5 Supervisi keperawatan
1.1.6 Penentuan model SP2KP yang diterapkan
Berdasarkan data yang ada dan dengan pertimbangan waktu dan tenaga, maka
dalam praktik manajemen keperawatan ini, kami mahasiswa/i Sekolah Tinggi
Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Banjarmasin program Profesi Ners A
periode tahun 2013/2014 kelompok 1 akan memfokuskan pada
pengaplikasian modelasuhan keperawatan SP2KP di ruangan Paru (Dahlia)
RSUD Uli Banjarmasin.

1.2 Strategi Pelaksanaan
1.2.1 Waktu Pelaksanaan
Stage manajemen keperawatan dilaksanakan sejak tanggal 01 Oktober
2014 s.d 01 November 2014.




5

1.2.2 Tempat Pelaksanaan
Pelaksanaan pembelajaran tahap profesi Ners stage manajemen
keperawatan dlaksanakan di Ruang Paru (Dahlia) RSUD Ulin
Banjarmasin.

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Setelah mengikuti proses pembelajaran klinik manajemen
keperawatan diharapkan terjadi peningkatan pengetahuan dan
pemahaman dalam mengaplikasikan prinsip-prinsip manajemen
keperawatan dalam melaksanakan model Sistem Pemberian Pelayanan
Keperawatan Profesional (SP2KP).

1.3.2 Tujuan Khusus
Setelah mengikuti proses pembelajaran klinik manajemen
keperawatan diharapkan mahasiswa mampu:
1.3.2.1 Menjelaskan system pengorganisasian SP2KP.
1.3.2.2 Menjelaskan pengkajian data, identifikasi dan analisa data
dengan menggunakan pendekatan analisa SWOT(SP2KP,
supervise, timbang terima, pendokumentasian).
1.3.2.3 Merumuskan masalah berdasakan hasil analisa yang
didapatkan
1.3.2.4 Menetukan rencana strategi yang akan dlakukan unuk
menyelesaikan masalah yang ditemukan
1.3.2.5 Melaksanakan model pegorganisasian pelayanan
keperawatan dengan model SP2KP.
1.3.2.6 Melaksanakan kegiatan role play timbang teria, supervise,
sentralisasi obat dan ronde keperawatan sesuai dengan
konsep SP2KP
1.3.2.7 Melakukan evaluasi (struktur, proses, hasil)

6

1.4 Praktikan
Pembelajaran tahap profesi Ners stage manajemen keperawatan dilaksanakan
di Ruang Paru (Dahlia) RSUD Ulin Banjarmasin oleh mahasiswa/i Sekolah
Tinggi Ilmi Kesehatan Muhammadiyah Banjarmasin program profesi Ners A
periode tahun 2013/2014 kelompok 1 yang terdiri dari 15 orang anggota
yaitu:
1.4.1 M. Muyassar Wajdi, S. Kep
1.4.2 Moch. Rizqi Shubhi Rahmat., S. Kep
1.4.3 Ahmad Ghazali, S. Kep
1.4.4 Agis Mawarti S. Kep
1.4.5 Amalia Annazah, S. Kep
1.4.6 Aisyah, S. Kep
1.4.7 Nurdiana, S. Kep
1.4.8 Lysna Hilma, A S. Kep
1.4.9 Muhammad Zaini, S. Kep
1.4.10 Rubiyati, S. Kep
1.4.11 Siti Hadijah, S. Kep
1.4.12 Vary Citra R., S. Kep
1.4.13 Rissa Roswita, S. Kep
1.4.14 Nur Hidayanti, S. Kep
1.4.15 Irwan, S. Kep

1.5 Batasan Masalah
Dalam makalah ini, kami membatasi pembahasan pada penerapan fungsi-
fungsi manajemen dalam pelaksanaan manajemen asuhan keperawatan di
Ruang Paru (Dahlia) RSUD Ulin Banjarmasin).





7

1.6 Waktu Pelaksanaan
Pelaksanaan praktik manajemen keperawatan professional dengan model
SP2KP (Sistem Pemberi Pelayanan Keperawatan Profesional) yang
dilaksanakan oleh kelompok 1 program profesi Ners A STIKes
Muhammadiyah dilaksanakan sejak tanggal 01 Oktober 2014 s.d 01
November 2014.

1.7 Tempat Pelaksanaan
Adapun tempat pelaksanaan praktik manajemen keperawatan professional
dengan model SP2KP ini dilaksanakn di ruangan Paru (Dahlia) RSUD Ulin
Banjarmasin.

1.8 Pendanaan
Pendanaan dalam penyelenggaraan praktik manajemen ini murni bersumber
dari kelompok (mahasiswa/i).

8

BAB 2
HASIL PENGKAJIAN

2.1 Profil / Gambaran Umum Rumah Sakit Umum Daerah Ulin
Rumah Sakit Ulin sebagi Rumah Sakit pusat rujukan di Kalimantan Selatan
sekaligus sebagai rumah sakit pendidikan, mempunyai beberapa ruangan
yang menjadi ruangan percontohan ubtuk ruang lainnya yang menerapkan
sistem/ metode SP2KP. RSUD Rumah Sakit Ulin Banjarmasin mempunyai
visi,misi dan Moto yaitu :
2.1.1 Visi
2.1.1.1 Terwujudnya Rumah Sakit Berstandar Internasional Dan
Terpercaya Tahun 2015.

2.1.2 Misi :
2.1.2.1 Menjadi Rumah Sakit kelas A pendidikan
2.1.2.2 Meningkatkan mutu layanan dan keselamatan pasien melalui
akreditasi rumah sakit dan ISO.
2.1.2.3 Menjadi pusat rujukan medis spesialis, sub spesialis, dan pusat
pelayanan unggulan.
2.1.2.4 Menjadi pusat pendidikan, pelatihan, peneliti, dan penapisan
tekhnologi kesehatan.
2.1.2.5 Meningkatkan akses pelayanan kesehatan bagi keluarga miskin
dan
2.1.2.6 Meningkatkan prasarana pelayanan medik secara bertahap
sesuai standar dan master plan rumah sakit.
2.1.3 Moto
2.1.3.1 Sehat Prima

2.2 Profil /gambaran Umum Ruang Dahlia (Paru)
Ruang dahlia (paru) merupakan ruang perawatan khusus penyakit paru baik
penyakit paru menular maupun tidak menular yang ada di RSUD Ulin
9

Banjarmasin yang digunakan mahasiswa sebagai tempat pembelajaran praktik
manajemen keperawatan.
2.2.2 Ruangan dahlia ini dibatasi oleh :
Sebelah Utara : Dinding Pagar
Sebelah Timur : Gedung Farmasi
Sebelah Selatan : Jalanan
Sebelah Barat : Tanah kosong (dimanfaatkan untuk tempat
berjemur pakaian pasien ).

2.2.3 Visi, Misi dan Moto Ruang Dahlia (Paru) Rumah Sakit Ulin
Banjarmasin yaitu :
2.2.3.1 Visi
Memberi Pelayanan Asuhan keperawatan dan pengobatan
dibidang penyakit paru untuk meningatkan derajat kesehatan
derajat kesehatan seluruh mayarakat secara optimal.
2.2.3.2 Misi
a. Memberikan pelayanan pengobatan dan asuhan
keperawatan dibidang penyakit paru yang nyaman dan
sesuai standar.
b. Memulihkan kesehatan dan meningkatkan produktivitas
kerja, mencegah kecacatan fisik dan mental.
c. Melaksanakan pendidikan dan penlitian sesuai prosedur
yang berlaku.
2.2.3.3 Falsafah
a. Memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu, rasa
nyaman dan aman serta professional.
b. Memberikan pelayanan kesehatan yang aman bagi
petugas.
2.2.3.4 Tujuan
Tercapainya pelayanan kesehatan yang optimal sesuai standar
rumah sakit Ulin Banjarmasin.
10

2.2.3.4 Moto
Profesional Akhlak mulia Rapi Usaha Bersama.

11

Gambar 2.1 Denah Ruang Paru (Dahlia) RSUD Ulin Banjarmasin































AULA
KAMAR
DOKTER
WC

RUANG MDR 2
RUANG OK PARU &
BRONKOSKOPY

KAMAR 3 KELAS 3 KHUSUS TB

KAMAR 1 KELAS 2 ASMA
B/NON TB

RUANG KARU

RUANG DOKTER

KAMAR 6 KELAS 3
ASMA BRONKIAL

MUSHOLLA

RUANG MDR 1
R. PERAWAT

KAMAR 2 KELAS 2 KHUSUS TB
WC
WC
WC
WC
WC
WC
12

Gambar 2.2 Struktur Organisasi keperawatan ruangan dahlia (Paru) RSUD Ulin
Banjarmasin

STRUKTUR ORGANISASI
PELAYANAN KEPERAWATAN RUANG DAHLIA (PARU)


























KATIM II
Nanda Amarullah, S.Kep, Ns
DIREKTUR
WAKIL DIREKTUR
KEPALA BIDANG KEPERAWATAN
KEPALA RUANGAN
Mahdalena, S. Kep, Ns
ADMINISTRASI
Hj. Nor Jamilah , AMG
KATIM I
Dian Handayani, S AMK
CLEANING SERVIS
(Supianor)
PEKARYA (Murniyati)
LOPER (Ahmad Fauzi)
ANGGOTA TIM I
Helda Iriani S. Kep, Ns
Ahmad Sapwan, AMK
Dian kartini, AMK
Nurul Istimah, AMK
Hary Muhardy, AMK
SUPERVISOR ASKEP
Murjani,S. Kep, Ns
ANGGOTA TIM II
Roby Ansari S.Kep,Ns
Sihnayati, S.Kep, Ns
Tati Hartati, AMK
Ahmad Yusuf, AMK
Abdul Rasyid, AMK
Zainal Hakim, AMK
KEPALA IRNA NON BEDAH
13

2.3 M1 (Man/Pasien Dan Ketenagakerjaan)
Berdasarkan hasil data yang didapat di ruang Paru dari Januari s.d Juli 2014,
jumlah pasien dari bulan Januari s.d Juli 2014 sebanyak 933 orang. Adapun
daftar 10 penyakit terbanyak yang ada di ruang Paru terhitung mulai Januari-
Juli 2014 adalah sebagai berikut:
2.3.1 Pasien
Table 2.1 Daftar 10 penyakit terbanyak di Ruang Paru Mulai Januari-
Juli 2014
No Nama Penyakit Jumlah Kasus Peringkat
1 TB Paru 221 1
2 CA Paru 132 2
3 Efusi Pleura 65 3
4 Pneumonia 65 4
5 Asma Bronkiale 50 5
6 LRTI 31 6
7 SOPT 28 7
8 Hemaptoe 27 8
9 Sepsis 24 9
10 PPOK 15 10
Sumber: Laporan bulan Januari s.d Juli 2014 ruang Paru RSUD Ulin
Banjarmasin

Gambar 2.3 Grafik 10 penyakit terbanyak di ruang Dahlia (Paru)
RSUD Ulin Banjarmasin mulai bulan Januari s.d Juli 2014

0
5
10
15
20
25
30
35
40
Low
High
14

Berdasarkan grafik diatas, diketahui bahwa penyakit terbanyak di
ruang Dahlia (Paru) RUSD Ulin Banjarmasin mulai Januari s.d Juli
2014 adalah TB Paru.

2.3.2 Mahasiswa Praktik
Mahasiswa yang berpraktik di Ruangan Dahlia (Paru) biasanya diikuti
oleh beberapa insitusi yang ada di Kalimantan Selatan. Adapun
institusi yang berpraktik sekarang diantaranya :
2.3.2.1 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Banjarmasin
(Program Studi D3 Keperawatan). Adapun jumlah mahasiswa
yang berpraktik di Ruang Dahlia (Paru) sebanyak 5 orang
dengan lama praktik 6 minggu, mulai dari tanggal 29
September s.d 10 November 2014.
2.3.2.2 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sari Mulia (Program Studi
S1 Keperawatan). Adapun jumlah mahasiswa yang berpraktik
di Ruang Dahlia (Paru) sebanyak 16 orang dengan lama
praktik 7 minggu mulai dari bulan September s.d Oktober
2014.
2.3.2.3 PSIK (Program Studi Ilmu Keperawatan) Universitas
Lambung Mangkurat. Adapun jumlah mahasiswa yang
berpraktik di Ruang Dahlia (Paru) sebanyak 26 orang dengan
lama praktik 9 minggu mulai dari bulan Juli s.d Oktober
2014.

2.3.3 Data jumlah tenaga diruang Dahlia RSUD BLUD Ulin Banjarmasin.
2.3.3.1 Keperawatan
Tabel 2.2 Perawat di Ruang Dahlia ( Paru )
N
o
Nama Pegawai
Pendidikan
Terakhir
Status
Kepegawaian
Keterangan
1. Mahdalena, S.Kep,Ns S.1 Keperawatan PNS Ka. Ruangan
2. Murjani, S.Kep,Ns S.1 Keperawatan PNS Supervisior
3. Nanda Amrullah, S.Kep,Ns S.1 Keperawatan PNS KATIM II
4. Helda Iriani, S.Kep,Ns S.1 Keperawatan PNS
5. Zainal Hakim, AMK D III Keperawatan PNS
15

6. Abdul Rasyid, AMK D III Keperawatan PNS
7. Dian Handrayani, AMK D III Keperawatan PNS KATIM I
8. Sihnayati, S.Kep,Ns S.1 Keperawatan Non PNS
9. Roby Anshari, S.Kep,Ns S.1 Keperawatan Non PNS
10 A Sapwan, AMK D III Keperawatan Non PNS
11 Tati Hartati, AMK D III Keperawatan Non PNS
12 Nurul Qotimah, AMK D III Keperawatan Non PNS
13 Harry Muhardi, AMK D III Keperawatan Non PNS
14 Ahmad Yusuf, AMK D III Keperawatan Non PNS
15 Dian Kartini, AMK D III Keperawatan Non PNS

2.3.3.2 Non Keperawatan
Tabel 2.3 Tenaga non keperawatan
No Nama pegawai
Pendidikan
terakhir
Status
Kepegawaian
Keterangan
1. Hj. Norjamilah, AMG D III Gizi PNS Admin
2. Ahmad Fauzi SLTA BLUD Loper
3. Murniyati - BLUD Pekarya
4. Supiannoor - BLUD Tenaga CS

2.3.3.3 Klasifikasi Ketenagaan Ruang Dahlia :
a. Sarjana Keperawatan Ns : 6 orang
b. Diploma III Keperawatan : 9 orang
2.3.3.4 Klasifikasi Ketenagaan berdasarkan status kepegawaian
Ruang Dahlia.
a. PNS ( Perawat ) : 7 orang
b. BLUD ( Perawat ) : 8 orang
c. PNS ( Tenaga Administrasi ) : 1 orang
d. BLUD ( Pekarya dan Cleaning Service ) : 3 orang
2.3.3.5 Pelatihan yang pernah diikuti
Tabel 2.4 Pelatihan yang pernah diikuti tenaga perawat
No Nama Jenis Pelatihan
1. Mahdalena, S.Kep,Ns - BCTLS
- DOTS TB
- HIV TB
- MDR TB
2. Murjani, S.Kep,Ns - BCTLS
- Bronkkoscopy
- DOTS TB
- Fungsional Perawat
- PPI
3. Tati Hartati, AMK - DOTS TB
- EKG
16

- 3S3D3 HP
4. Dian Handrayani, AMK - PPI
- Bronkoscopy
5. Helda Iriani, S.Kep,Ns - BCTLS
- Supervisor
- Asma Bronkhial
6. Nanda Amrullah, S.Kep.Ns - PPI
- MDR TB
- Asma Bronkhial
7. Akhmad Syafwan, AMK - EKG
- 3S3HP
- Asma Bronkhial
8. Roby Anshari - Asma Bronkhial
9. Nurul Qotimah - Asma Bronkhial
10. Harry Muhardi - Asma Bronkhial
11. Dian Katrini - Asma Bronkhial

2.3.4 Tingkat Ketergantungan Pasien
2.3.4.1 Nilai Standar Jumlah Perawat Pershift
Tabel 2.5 Nilai standar jumlah perawat pershift berdasarkan
klasifikasi pasien
Klasifikasi
Pasien
Tingkat Ketergantungan
Pagi Sore Malam
Total 0,36 0,36 0,20
Parcial 0,27 0,15 0,10
Minimal 0,17 0,14 0,07

2.3.4.2 Kebutuhan tenaga perawat diruang Dahlia ( Paru ) dari hasil
pengkajian tanggal 02 Oktober 2014 adalah sebagai berikut :
Tabel 2.6 Tingkat ketergantungan pasien dan kebutuhan
perawat pada tanggal 02 Oktober 2014 (Menurut
Rumus Douglas).
Klasifikasi
Pasien
Jumlah
Pasien
Pagi Sore Malam
Total 0 0 0,36 = 0 0 0,30 =
0
0 0,20 = 0
Partial 15 15 0,27 =
4,05
15 0,15
= 2,25
15 0,10 =
1,5
Minimal 0 0 0,17 = 0 0 0,14 =
0
0 0,07 = 0
Total 15 4,05 2,25 1,5
Berdasarkan table di atas, diketahui bahwa tingkat
ketergantungan pasien 15 orang adalah parsial care.

17

2.3.4.3 Daftar dinas shift dinas perawat Dahlia
Tabel 2.7 Daftar shift dinas perawat
Tanggal
Jumlah Kebutuhan Tenaga
Total
P S M Izin Libur Lepas Malam
2 Oktober 2014 7 2 2 - 3 2 16

2.3.4.4 Analisa kebutuhan tenaga kerja di Ruang Dahlia ( Paru )
tanggal 02 Oktober 2014 dengan klasifikasi tingkat partial
total 15 orang.
a. Kebutuhan jam perawatan :
1. Jam perawatan langsung
Parsial = 3,08 jam 15 orang = 46,2 jam = 2772
menit.
2. Jam perawatan tidak langsung
Partial = 35 menit 15 orang = 8,75 jam = 525
menit.
3. Jam penyuluhan
Partial = 15 menit 15 orang = 3,75 jam = 225
menit.
Jadi, total jam perawatan yang dibutuhkan dalam 1 hari
untuk 15 orang klien adalah 3522 menit atau 58,7 jam.
Sedangkan total jam perawatan untuk 1 klien dalam 1
hari adalah menit 3,9 jam ( 4 jam ).
2.3.4.5 Penentuan ruang Dahlia (Paru) berdasarkan jumlah klien
bulan Mei, Juni, Juli 2014 (pada saat ruangan dalam tahap
renovasi).
Mei = 393
Juni = 436
Juli = 363



18

BOR Bulan Mei Juli = Jumlah hari perawatan 100%
Bad Periode
= 1192 100%
26 92
= 1192 100%
2392
= 49,83 %
2.3.4.6 Penentuan standar kebutuhan tenaga kerja menurut Depkes :
Jumlah pasien : 15 orang
Tingkat ketergantungan berdasarkan jenis kasus :
Jam perawatan yang diperlukan / ruangan / perhari :
Rata rata jam perawatan / pasien / hari jumlah pasien =
3,9 15 = 58,5
Jumlah kerja efektif pershift : 7 jam/ hari
Jumlah jam perawatan yang diperlukan adalah :
Jumlah keperawatan efektif = 58,5 = 8,35 = 8 jam / perhari
Jam kerja efektif pershift 7

Penentuan standar kebutuhan tenaga kerja menurut PPNI 83

A 52 (mg) 7 (hr) (BOR TT)
TP = + 25 %
41 minggu 40 jam
Keterangan :
TP : Tenaga Perawat
A : Jumlah Jam Perawatan / 24 Jam
TT : Tempat Tidur
BOR : Bed Occupancy Rate

Tenaga Perawat di Dahlia

19

= 3,5 52 (minggu) 7 (hari) (TT BOR)
+ 25%
41 (minggu) 40 (jam)

= 3,5 52 7 (26 49,83 %)
+ 25 %
41 40
= 1274x12,95
+ 25 %
1640

= 10,05 +0,25

= 10,3 ( 10 perawat )

Berdasarkan perhitungan standar kebutuhan perawat menurut
lokakarya PPNI, jumlah tenaga perawat yang ada diruangan
Dahlia (Paru) sudah sesuai dengan standar yaitu berjumlah
10 orang.
2.3.4.7 Kebutuhan Perawat



Jadi, kebutuhan perawat dalam 1 hari adalah 8 orang. Pada
tanggal 2 Oktober 2014 jumlah perawat yang bertugas ialah
orang dengan rincian ;
a. Dinas pagi ada 7 orang
b. Dinas sore ada 2 orang
c. Dinas malam ada 2 orang
d. Libur ada 3 orang
e. Lepas dinas malam ada 2 orang
Jumlah jam perawatan 58,5 jam = 8,3 ( 8 perawat)
Jam kerja perawat perhari 7 Jam

20

Jadi kebutuhan perawat sudah sesuai dengan kebutuhan
ruangan.
2.3.4.8 Pembagian Perawat / Shift
Jumlah perawat untuk masing-masing shift menurut Wastrler
(swansburg, 1996) merekomendasikan jaga pagi 47%, jaga
sore 35%, jaga malam 17%.

a. Pagi 47% 8 orang = 3,7 orang = 4 orang
b. Sore 35% 8 orang = 2,8 orang = 3 orang
c. Malam 17% 8 orang = 1 orang
Dalam kondisi nyata di ruang Dahlia (Paru) sesuai hasil
Observasi, perhitungan tenaga sudah lebih dari standar
jumlah perawat. Disini hanya dinas sore yang kurang dari
standar jumlah perawat dan dinas malam sudah melebihi dari
standar perawat dan dinas malam sudah melebihi dari standar
perawat. Maka kekurangan ketenagaan tersebut terpenuhi
oleh mahasiswa yang sedang berpraktik diruang dahlia (paru)
pada tanggal 2 Oktober 2014 yaitu mahasiswa PSIK unlam
sebanyak 2 orang, STIK Sari Mulia 2 orang, STIKES
Muhammadiyah Banjarmasin Program Studi D3
Keperawatan 1 orang. Dari segi ketenagaan perawat di ruang
dahlia (paru) sudah cukup baik.









21




2.3.5 Alur pasien Masuk dan Keluar
Gambar 2.4 Alur pasien masuk dan keluar
POLIKLINIK IGD RUANG KEPERAWATAN



TPPO



RUANG RAWAT INAP



PULANG SEMBUH
PULANG PAKSA
PINDAH RUANGAN
MENINGGAL


ADMINISTRASI

2.4 M2 (Money)
Dari hasil wawancara pada tanggal 01 Oktober 2014 dengan pihak
administrasi yang dahlia didapatkan hasil sebagian besar sumber pembiyaan
ruangan berasal dari keuntungan rumah sakit sebagai Badan Layanan Umum
Daerah (BLUD) di bawah pengawasan provinsi Kalimantan Selatan.
Mayoritas pembiyaan pasien menggunakan BPJS (Badan Penyelengara
Jaminan Sosial) dan hanya sedikit pasien dengan status umum (biaya sendiri).
Anggaran dana untuk pembayaran gaji perawat yang PNS sudah diatur oleh
pihak pemerintah sedangkan pembayaran gaji non PNS diatur oleh pihak
22

rumah sakit sendiri yang langsung dikelola oleh pihak keuangan BLUD
RSUD Ulin Banjarmasin. Sedangkan jasa pelayanan medik dan jasa intensif
diberikan sesuai dengan pelayanan, tingkat kedudukan dan golongan perawat
sendiri.
Untuk pemeliharaan ruangan sarana dan prasaran serta alat kesehatan
dilakukan bersama-sama oleh seluruh yang bekerja di ruangan paru.
Sedangkan perbaikan dan pengadaan dana bagi ruangan (renovasi ruangan)
ruang dahlia, alat kesehatan,fasilitas kesehatan bahan habis pakai biasanya
dilaporkan dahulu ke bagian IPS (Instalasi Pengadaan Sarana) sebelum
mendapatkan dana dari pemerintah karena harus melewati waktu dan proses
yang lama maka untuk sementara menggunakan dana pribadi oleh pihak
keuangan ruang dahlia yang nantinya akan kembalikan lagi dana pribadi
pihak keuangan ruang dahlia dengan dana yang diberikan oleh pemerintah
yang dikelola oleh Rumah Sakit Ulin Banjarmasin.

Prosedur barang dan jasa belanja langsung yang dananya bersumber dari
BLUD RSUD ULIN Banjarmasin didapatkan dengan jalur pengusulan
melalui pengantar dari kepala ruangan yang diserahkan ke IRNA non bedah
untuk selanjutnya diproses oleh bagian tata usaha dengan disposisi dari
direktur dan terakhir dengan disposisi bagian umum.

2.5 M3 (Material)
Ruang Dahlia (paru) terdiri dari 1 buah ruangan kepala ruangan yang
bergabung dengan ruangan administrasi, 1 buah kamar dokter muda, 1 buah
kamar perawat jaga, 1 buah ruang perawat jaga (nurse station), 2 buah kamar
MDRTB (Multi Drug Resisten Tubercolusis), 4 buah ruang perawatan kelas
3, 1 buah kamar tindakan, 1 buah ruang OK paru, 1 buah ruang pertemuan/
aula, 1 buah gudang, dan 9 buah WC. Saat ini ruang Dahlia (paru) sedang
dalam tahap renovasi ruangan (gudang).
2.5.1 Alat Tenun
23

Tabel 2.8 Daftar barang atau alat tenun yang terdapat di ruang Dahlia
(Paru) RSUD Ulin Banjarmasin.
No. Nama Barang Jumlah Kondisi Ideal
1. Sprai 65 Baik 1:1
2. Sarung bantal 6\5 Baik 1:6
3. Selimut 10 2 Rusak 1:5
4. Perlak 10 Baik 1:5
5. Baju pasien 20 Baik 1:5
6. Baju tindakan 2 Baik 1:1
7. Duk fungsi WSD 2 Baik 1:1/3
8. Handuk besar 5 1 Rusak 1:3
9. Sarung O
2
0 - 1:1/3
10. Taplak meja 7 Baik 1:3

2.5.2 Alat kesehatan / perawatan
Tabel 2.9 Daftar barang atau alat kesehatan / perawatan yang
terdapat di ruang Dahlia (Paru) RSUD Ulin Banjarmasin
No. Nama Barang Jumlah
Keadaan
Baik Rusak
Rusak
Berat
1. Suction Pump 4 4
2. Suction Countinous Pump 3 2 1
3. Nebulizer ultrasonic 4 2 2
4. Nebulizer compresor 1 1
5. Spirometri 1 1
6. Broncoscopi set 1 1
7. Ekg 1 1
8. Infus pamp 4 4
9. Peakflow 1 1
10. Regulator 6 5 1
11. Ambubag 1 1
12. Lampu sorot 2 2
13. Infra red 1 1
14. Lampu UV 1 1
15. Lampu X-Ray 2 2
16. Tensimeter duduk 2 1 1
17. Timbangan badan 2 1 1
18. Brangkar 1 1
19. Kursi roda 3 2 1
20. Stetoskop 3 2 1
21. Sterilisasi elektrik 1 1
22. Standar infus 30 15 10 5
23. Kereta O
2
besar 4 4
24. Kereta O
2
kecil 1 1
25. Saturasi O
2
besar 1 1
24

26. Tong spatel 2 2
27. Tromol sedang 3 1 2
28. Tromol besar 1 1
29. Urinal 15 8 3 4
30. Pot sputum 3 3
31. Tabung O
2
kecil 1 1
32. Irrigator 1 1
33. Pinset cirurgis 6 6
34. Nasal kanul 10 5 5
35. Masker O
2
kanul 4 2 2
36. Klem anatomis 1 1
37. Klem lurus kecil 1 1
38. Korentang panjang 2 2
39. Bak instrumen besar 2 2
40. Bak instrumen sedang 2 2
41. Bak instrumen kecil 2 2
42. Bengkok 4 2 2
43. Klem lurus besar 1 1
44. Bed tindakan 2 2
45. Meja dressing 1 1
46. Meja untuk spirometri 1 1
47. Meja alat punksi 1 1
48. Gunting heacting 1 1
49. Gunting ujung tumpul 1 1

2.5.3 Alat rumah tangga
Tabel 2.10 Daftar barang atau alat rumah tangga yang terdapat di
Ruang Paru RSUD Ulin Banjarmasin
No. Nama barang Jumlah
Keadaan
Baik Rusak Rusak berat
1. Jam dinding 5 2 3
2. AC kamar dokter 2 1 1
3. AC kamar tindakan 2 2
4. AC aula 3 2 1
5. Bak sampah 10 10
6. Bantal 10 10
7. Gayung mandi 10 10
8. Kalkulator 1 1
9. Kursi kayu panjang 8 2 6
10. Kursi kerja putar 5 5
11. Kursi kerja lipat 17 17
12. Kursi plastik 12 10 2
13. kipas angin dinding 5 2 3
14. Kipas angin
gantung
5 1 4
15. Komputer billing 1 1
16. Komputer
administrasi
3 1 1 1
17. Lemari arsip 1 1
18. Lemari alat besi 2 2
25

19. Lemari linen kayu 1 1
20. Lemari besi kamar
pasien
25 10 10 5
21. Meja tulis 11 11
22. Meja komputer 2 2
23. Meja resepsionis 1 1
24. Meja makan pasien 10 10
25. Lampu emergency 3 3
26. Lampu senter 1 1
27. Meja kerja aula 6 6
28. Meja kerja dokter 4 2 2
29. Printer canon 2 1 1
30. Ranjang pasien 25 25
31. Sampiran 5 4 1
32. Telepon 1 1
33. Kasur busa 30 26 4
34. Trolly tindakan 3 3
35. Rak piring 1 1
36. Televisi 1 1
37. Kulkas 1 1
38. Exhausefan 12 8 4
39. Kabel listrik gulung 5 2 3
40. Locker obat 2 1 1
41. Meja layar FOB 1 1
42. Lampu UV 1 1
43. Alat baca rontgen 1 1
44. Lemari es untuk
menyimpan obat
1 1
45. Lemari kayu dan
kaca
2 1 1
46. Rak sepatu 2 1 1
47. Keranjang status 1 1

Berdasarkan perhitungan linen ( alat tenun) menurut DEPKES yaitu
1:3 jumlah linen yang tersedia masih belum mencukupi. Jumlah linen
yang tersedia baru 65 buah, sedangkan hasil perhitungan dari 25
tempat tidur yaitu : 25x 3 = 75 buah jadi jumlah kekurangannya
sejumlah 10 buah. Sudah terdapat poster ataupun pemberitahuan
tentang larangan anak anak untuk masuk ke ruang perawatan pasien
tetapi masih ada anak anak yang masuk keruangan pasien.

2.5.4 Prosedur tetap (SOP dan SAK)
2.5.4.1 Standar operasional prosedur (SOP) yang ada di ruang Dahlia
(Paru)
26

a. SOP Penerimaan pasien baru
b. SOP pasien keluar rawat inap
c. SOP pengaturan operan jaga
d. SOP pemindahan pasien dari kursi roda ke tempat tidur
e. SOP pemindahan pasien
f. SOP pengukuran tanda tanda vital
g. SOP pengukuran suhu tubuh
h. SOP pengelohan linen
i. SOP mengganti sprai pasien
j. SOP pemasangan infuse
k. SOP pemberian obat oral
l. SOP pemberian injeksi melalui intra vena
m. SOP pemberian injeksi intra vena lewat selang infuse
n. SOP pemberian obat intra muskuler (IM)
o. SOP pemberian injeksi intrakutan
p. SOP pemberian injeksi subkutan
q. SOP pemberian transfusi darah
r. SOP penanganan syok hypolemik
s. SOP pemasangan kateter pria
t. SOP pemasangan kateter wanita
u. SOP pemasangan NGT
v. SOP pemberian penyuluhan secara individu/ keluarga
w. SOP pengambilan dan penyediaan spesimen untuk
dikirim ke laboratorium bagi pasien rawat inap
x. SOP pengambilan darah untuk pemeriksaan kadar gula
darah sewaktu
y. SOP pemenuhan kebutuhan oksigen
z. SOP latihan nafas dalam
aa. SOP fisioterapi dada
bb. SOP postural drainage
cc. SOP inhalasi nebulizer
27

dd. SOP pengisapan lendir (suction)
ee. SOP batuk efektif
ff. SOP etika batuk dan bersin yang benar
gg. SOP aspirasi cairan pleura
hh. SOP pemasangan selang WSD
ii. SOP perawatan WSD
jj. SOP pleurodesis
kk. SOP bronkhoskopi
ll. SOP penggunaan alat EKG
mm. SOP spirometri
nn. SOP pemberian kompres hangat
oo. SOP pemberian kirbat esSOP pengambilan sputum BTA
pp. SOP penatalaksanaan pada pasien haemapto
qq. SOP melakukan asistensi pada tindakan torasentesis
rr. SOP mengkaji status oksigen dengan oksimetri nadi
ss. SOP suction
tt. SOP posisi fowler
uu. SOP posisi ortopnea
vv. SOP posisi trendelenburg
ww. SOP posisi telungkup (pronasi)
xx. SOP posisi lateral
2.5.4.2 Standar Asuhan Keperawatan (SAK) yang ada di ruang Dahlia
(Paru)
a. SAK kerusakan integritas jaringan lunak
b. SAK koping individu tidak efektif
c. SAK kurang pengetahuan dan kebutuhan informasi
d. SAK kecemasan
e. SAK nyeri
f. SAK pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan
g. SAK resiko tinggi penularan infeksi
h. SAK ketidakefektifan pola nafas
28

i. SAK gangguan pemenuhan aktivitas sehari-hari
j. SAK ketidakefektifan bersihan jalan nafas
Ruang Dahlia sudah memiliki SOP berjumlah 51 buah dan SAK 10
buah.


2.6 M4 (Metode)
2.6.1 Metode Asuhan Keperawatan / SP2KP
Metode asuhan keperawatan yang di terapkan pada ruang dahlia
adalah metode sistem pemberian pelayanan keperawatan professional
(SP2KP). Metode ini menggunakan tim yang terdiri dari anggota yang
berbeda-beda dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap
sekelompok pasien. Perawat ruangan dibagi menjadi 2 tim.
Hasil observasi pada tanggal 02 Oktober 2014 s.d 04 Oktober 2014
didapatkan bahwa model asuhan keperawatan di ruang dahlia
menggunakan SP2KP dengan model tim belum berjalan optimal, pada
pelaksanaannya di ruangan tidak sesuai dengan uraian tugas masing-
masing anggota tim, belum ada kejelasan yang tegas terhadap tugas,
peran dan wewenang yang jelas pada setiap anggota tim, misalnya
supervisor merangkap sebagai perawat asosiatif sehingga tidak lagi
sebagai uraian perawat tim, pada dasarnya ketua tim sebagai perawat
profesional cukup mampu melakukan berbagai teknik kepemimpinan.
Ketua tim melakukan pembuatan perencanaan, penugasan, supervisi
dan evaluasi. Ketua tim juga mengenal dan mengetahui kondisi pasien
dan dapat menilai tingkat kebutuhan pasien.

2.6.2 Penerimaan Pasien Baru
Penerimaan pasien baru merupakan hal yang pertama dilakukan
perawat ruangan, baik pasien baru masuk maupun pasien yang berasal
dari ruangan lain, meliputi serangkaian perkenalan, persetujuan oleh
perawat terhadap pasien berdasarkan standart operasional. Hasil
29

angket yang dibagikan kepada 8 orang sample perawat di dapatkan
perawat yang menerima pasien dan memperkenalkan diri pada pasien
serta keluarga sebesar 87,5% % kadang-kadang dilakukan, perawat
yang bertugas saat menerima pasien baru memperkenalkan siapa
perawat yang bertanggung jawab (kepala ruangan, perawat yang
bertugas dll) sebesar 100% kadang-kadang dilakukan, perawat yang
bertugas menjelaskan tentang penyakit yang diderita, terapi yang
diberikan, anjuran atau larangan saat masuk ruangan sebesar 75%
dilakukan, pasien dan keluarga diperkenalkan oleh dokter dan tenaga
non keperawatan ( misal : tenaga administrasi, ahli gizi dll ) sebesar
62,5% dilakukan, pasien dan keluarga diberikan penjelasan tentang
(Fasilitas, jam berkunjung, pengunjung pasien, waktu makan, cara
pembayaran dan sentralisai obat) sebesar 100% dilakukan, pasien dan
keluarga diperkenalkan dengan lingkungan dan ruangan (dapur, kamar
mandi, ruang dokter, dan ruang perawat, depo obat) sebesar 75%
dilakukan, pasien diberikan anjuran untuk tidak membawa barang
berharga sebesar 62,5% dilakukan, perawat yang memperkenalkan
dengan pasien lain ( bila ada) sebesar 50% tidak pernah dilakukan,
keluarga diberikan penjelasan tentang resiko tertularnya penyakit bagi
keluarga atau kerabat yang berkunjung sebesar 75% selalu dilakukan,
perawat yang bertugas menyarankan untuk menggunakan masker atau
penutup hidung bagikeluarga/kerabat yang berkunjung sebesar 87,5%
dilakukan. Penjelasan tentang larangan membawa anak-anak masuk
keruang perawatan selalu dilakukan namun kadang-kadang keluarga
pasien mengabaikan larangan tersebut.

2.6.3 Timbang Terima
Timbang terima dipimpin oleh kepala ruangan pada pergantian shift
dari malam ke pagi saja. Sedangkan pergantian shift dari pagi ke sore
dipimpin oleh ketua tim sebesar 87,5% dilakukan, timbang terima
dilaksanakan setiap pergantian shift sebesar 100% dilakukan,
30

pelaksanaan dimulai dari nurse station sebesar 75% dilakukan,
timbang terima dilanjutkan melihat langsung kondisi pasien sebesar
75% kadang-kadang dilakukan, hal-hal yang sifatnya khusus dicatat
dan diserah terimakan pada perawat shift berikutnya sebesar 100%
dilakukan, perawat shift berikutnya validasi data sebesar 100%
dilakukan, perawat menyapa pasien dan menanyakan kondisi/keluhan
yang dirasakan saat ini sebesar 100% dilakukan, waktu untuk
timbang terima tidak lebih dari 10 menit kecuali pasien kondisi khusus
sebesar 75% dilakukan, penyampaian dilakukan singkat dan jelas
sebesar 62,5% dilakukan, perawat menyebutkan identitas pasien 75%
dilakukan, perawat menyebutkan diagnosa medis sebesar 75%
dilakukan, perawat menyebutkan data objektif sebesar 87,5%
dilakukan, perawat menyebutkan data penunjang lain sebesar 87,5%
dilakukan, perawat menyebutkan tindakan keperawatan yang
dilaksanakan sebesar 75% dilakukan, perawat menyebutkan intervensi
kolaboratif dan juga menyebutkan persiapkan yang perlu dilakukan
dalam kegiatan selanjutnya sebesar 87,5% dilakukan, perawat kembali
ke nurse station untuk mendiskusikan hasil validasi data langsung
sebesar 75% dilakukan, perawat yang memimpin timbang terima
menyebutkan rencana kerja bagi shift berikutnya dan
mendokumentasikan pelaksnaan timbang terima di buku laporan oleh
ketua tim sebesar 50% dilakukan dan 50% kadang-kadang dilakukan.

Timbang terima adalah metode untuk mengkomunikasikan informasi
keperawatan dan merupakan fasilitas untuk menyampaikan informasi
penting tentang pasien dalam memberikan asuhan keperawatan sehari-
hari dan berkelanjutan. Timbang terima harus dilakukan seefektif
mungkin dengan menjelaskan secara singkat tentang keadaan pasien
saat itu, tindakan keperawatan yang sudah dan belum dilaksanakan,
masalah keperawatan yang mungkin muncul, intervensi kolaboratif
dan perkembangan pasien saat itu, tindakan keperawatan yang sudah
31

dan belum dilaksanakan, masalah keperawatan yang mungkin muncul,
intervensi kolaboratif, dan perkembangan pasien saat itu. Mekanisme
laporan di kerjakan ketika pergantian shift sebagai kesatuan proses
komunikaasi dalam menyampaikan informasi tentang kondisi pasien
saat itu, sebagai wujud professional perawat dan bentuk tanggung
jawab perawat kepada pasien. Informasi yang disampaikan harus
akurat, sehingga kesinambungan asuhan keperawatan dapat berjalan
dengan baik. Timbang terima dilakukan di nurse station yang diikiuti
oleh perawat dari kedua shift dinas, kemudian dilanjutkan dengan
kunjungan langsung ke pasien untuk validasi data dan memantau
kondisi pasien secara langsung.
Hasil observasi tanggal 02 Oktober 2014 s.d 04 Oktober 2014,
timbang terima diruang Dahlia dilakukan setiap pergantian shift
malam ke pagi (pukul 08.00 wita) yang diikuti oleh sebagian perawat
dan mahasiswa yang bertugas di masing-masing shift. Beberapa
kelebihan pelaksanaan timbang terima di Ruang Dahlia adalah
timbang terima dilaksanakan langsung oleh Kepala Ruangan. Isi
timbang terima meliputi nama dan ruangan pasien, diagnosa medis
dan kondisi pasien. Untuk masalah keperawatan, intervensi yang telah
dan belum dilakukan sudah laporkan secara detail. Terapi yang
diberikan, dan tidak semua dicatat dalam buku timbang terima, dan
belum erdapat format khusus timbang terima yang memuadahkan
perawat untuk melakukan timbang terima.
Pada saat timbang terima diperlukan suatu komunikasi yang jelas
tentang kebutuhan pasien terhadap apa yang sudah dilakukan dan
yang belum, serta respon pasien yang terjadi memang telah
dilaksanakan di Ruang Dahlia. Namun kegiatan perawat melakukan
timbang terima dengan berjalan bersama dengan perawat lainnya dan
menyampaikan kondisi pasien secara akurat didekat pasien belum
dilaksanakan. Selain itu juga kegiatan timbang terima belum terjadwal
32

pasti, karena kadang hanya dilakukan oleh shift malam ke shift pagi
saja, serta pada hari libur kadang-kadang dilakukan.

2.6.4 Ronde Keperawatan
Ronde keperawatan merupakan metode untuk menggali dan
membahas secara mendalam masalah keperawatan yang terjadi pada
pasien dengan melibatkan tim keperawatan, kepala ruangan, dokter,
ahli gizi dan melibatkan pasien secara langsung sebagai fokus
kegiatan. Berdasarkan hasil kuesioner dari jumlah sampel 8 orang
perawat didapatkan 100% perawat menjawab bahwa ronde
keperawatan kadang-kadang dilakukan di ruang Dahlia. Hasil
observasi tanggal 02 Oktober 2014 s.d 04 Oktober 2014 sudah ada
dilakukan timbang terima antara kepala ruangan dengan perawat jaga
setiap pagi, namun belum tampak diskusi kasus secara mendalam
dalam bentuk ronde keperawatan. Pembahasan kasus secara
mendalam terkadang dilakukan berbarengan dengan jadwal dokter
visite. Berdasarkan kuesioner didapatkan bahwa hanya kadang-kadang
saja perawat primer atau asosiasi menjelaskan keadaan dan data
demografi pasien. Selain itu, hanya kadang-kadang saja melaksanakan
ronde sesuai dengan prosedur pelaksanaan ronde keperawatan. Belum
ada jadwal kegiatan rutin pelaksanaan ronde keperawatan.

2.6.5 Sentralisasi Obat
Mengenai sentralisasi obat dengan responden perawat di ruang Dahlia
RSUD Ulin Banjarmasin di dapatkan bahwa keluarga/pasien
mendapatkan penjelasan kapan/bila mana obat tersebut akan habis
kadang-kadang dilakukan oleh perawat sebesar 50%. Saat pemberian
obat perawat menjelaskan macam-macam obat, kegunaan, jumlah
obat, dan efek samping kadang-kadang dilakukan sebesar 62,5%.
Sediaan obat yang ada dilanjutkannya di cek tiap pagi oleh perawat
33

shift yang ditunjuk dan didokumentasikan dalam buku jadwal
pemberian obat kadang-kadang dilakukan sebesar 62,5%.
Hasil kuesioner, dari 8 orang responden perawat sebanyak 60%
pengadaan sentralisasi obat sudah dilakukan sesuai dengan SOP,
terbukti dengan adanya tempat khusus obat masing-masing pasien.
Sedangkan pelaksanaan proses sentralisasi belum dilaksanakan
dengan optimal, selama ini hanya ada buku pencatatan injeksi dan
oral. Adapun alur penerimaan obat yang dilakukan perewat untuk
meminta persetujuan dari pasien serta surat pernyataan persetujuan
dilakukannya sentralisasi obat belum ada format khususnya, belum
ada buku serah terima obat.

2.6.6 Discharge Planning
Mengenai Discharge Planning dari hasil angket yang diberikan kepada
responden yaitu perawat di ruang Dahlia (Paru) RSUD Ulin
Banjarmasin, pada pernyataan sebagian besar pasien yang dilakukan
healt education, setiap pasien yang diajarkan perawatan mandiri di
rumah, kepala ruangan/perawat melakukan Discharge Planning
setelah pasien melakukan pelunasan administrasi yaitu 80 %
dilakukan. Sedangkan pada pernyataan setiap pasien pulang atas
kemauan sendiri dilakukan dischere planning dan melaksanakan
discharge planning 20 %.
Dari hasil observasi pada saat pengkajian tanggal 02 Oktober 2014 s.d
04 Oktober 2014, perencanaan pulang sudah dilaksanakan. Dari 5
orang pasien yang akan pulang sudah dilakukan Discharge Planning
oleh perawat di ruang Dahlia, dimana pasien diberiakn penjelasan
kapan waktu untuk kontrol ulang, dosis dan cara minum obat,
dianjurkan jangan sampai putus obat, dan sedikit tentang kondisi
penyakitnya. tetapi Discharge Planning masih dilakukan secara lisan
belum ada pendokumentasian. Brosur atau leflet tentang TB Paru
sudah ada diruangan tapi jarang diberikan ke pasien. Isi dari brosur
34

TB masih bersifat umum. Manajemen rumah sakit belum mempunyai
format khusus tentang Discharge Planning. Isi dari Discharge
Planning dapat membantu pasien pasca perawatan untuk dapat
menambah pengetahuan pasien dan keluarga karena meliputi
pemberian informasi tentang waktu kontrol dan obat yang harus di
minum (keteraturan minum obat) dan adanya leflet berguna bagi
pasien sebelum pulang sehingga nanti saat dirumah pasien bisa
melihat kembali leflet jika pasien lupa dengan informasi yang
diberikan perawat.
2.6.7 Supervisi
Dari hasil observasi yang dilakukan mahasiswa di dapatkan bahwa
supervisi ruangan dilakukan setiap hari oleh kepala ruangan dan
supervisor, di mana supervisi sering dilakukan secara in formal yaitu
oleh kepala ruangan maupun supervisor ruangan langsung ke Ketua
Tim atau pun perawat asosiatif yang berdinas dan telah dilakukan
pencatatannya.

2.7 M5 (Market)
2.7.1 Efiesiensi ruang rawat (BOR, LOS, BTO, TOI)
Tabel 2.11 Data Bulanan Ruang Dahlia
NO Bulan Jumlah
TT
Jumlah Hari
perawatan
Jumlah Px.
Keluar
Px. Meninggal
<48 jam >48 jam
1 Januari 25 233 30 - 6
2 Februari 25 219 54 - 3
3 Maret 25 449 79 2 3
4 April 25 347 66 2 4
5 Mei 25 393 68 4 5
6 Juni 25 436 90 1 10
7 Juli 25 363 76 1 11

2.7.2 BOR (Bed Occupancy Rate)
Adapun tingkat keefisiensian Ruang Dahlia (Paru) RSUD Ulin
Banjarmasin yang dihitung selama 3 bulan terakhir dari Mei, Juni, Juli
2014 adalah sebagai berikut:
Bulan Mei:
35

BOR (Bed Occupancy Rate)
393 X 100% = 37,8 %
775
Bulan Juni:
BOR (Bed Occupancy Rate)
436 X 100% = 38,1 %
750
Bulan Juli:
BOR (Bed Occupancy Rate)
363 X 100% = 46,7%
775
BOR 3 bulan ( Mei, Juni, Juli )
BOR (Bed Occupancy Rate)
1192 X 100% = 51,8%
2300
Dari hasil penghitungan selama 3 bulan (Mei, Juni, Juli 2014)
didapatkan hasil penghitungan BOR 51,8 % hasil ini kurang dari
standar normal yaitu 60-80 % dikarenakan ada renovasi ruangan
sehingga ada beberapa ruangan yang tidak bisa digunakan untuk rawat
inap.

2.7.3 LOS (Lengh Of Stay)
Adapun LOS yang didapatkan berdasarkan data laporan bulanan
Ruang Dahlia ( Paru) tahun 2014 yaitu pada 3 bulan ( mei, juni, juli)
dengan jumlah total hari perawatan selama 3 bulan, didapatkan LOS
dengan perhitungan sebagai berikut :
Bulan : Mei
393 = 5,1 hari = 5 hari
77 x 1
Bulan : Juni
436 = 4,3 hari = 4 hari
36

101 x 1
Bulan : Juli
363 = 4,1 hari = 4 hari
88 x 1
LOS 3 bulan ( Mei, Juni, Juli ):
1192 = 4,4 hari = 4 hari
266 x 1
Dari hasil penghitungan selama 3 bulan (Mei, Juni, Juli 2014)
didapatkan hasil penghitungan LOS didapatkan hasil rata-rata hari
perawatan pasien di ruangan Paru ( Dahlia) adalah 4 hari. Hasil ini
tidak sesuai standar normal yaitu lama hari perawatan (depkes) 6-9
hari.

2.7.4 BTO (Bed Turn Over)
Adapun data BTO didapat berdasarkan data laporan bulanan Ruang
Dahlia (Paru) tahun 2014 bulan Mei, Juni, Juli yaitu didapatkan BTO,
dengan perhitungan sebagai berikut :
BTO 3 bulan ( Mei, Juni, Juli )
266 = 10,6 = 11x / Bulan
25
Dari hasil penghitungan BTO selama 3 bulan (Mei, Juni, Juli 2014)
didapakan hasil 11x/bulan, hasil ini melebihi dari standar BTO
menurut Depkes yaitu 5x/bulan. Hal ini dikarenakan renovasi ruang
menyebabkan benyak tempat tidur yang kosong.

2.7.5 TOI (Trun Over Interval)
Adapun data TOI didapat berdasarkan data laporan tahun 2014 bulan
Mei, Juni, Juli, dengan jumlah tempat tidur sebanyak 26 buah, jumlah
pasien, perhitungan sebagai berikut:
Bulan Mei:
= (26 x 31) - 393
37

77
= 5,3 = 5 hari
Bulan: Juni
= (26 x 30) 436
101
= 3,4 = 3 hari



Bulan : Juli
= ( 26 x 31 ) 363
88
=5 = 5 hari

Perhitungan TOI selama tiga bulan ( Mei, Juni, Juli )
= (26 x 92 ) 1192
266
= 4,5 = 5 hari
Dari hasil penghitungan TOI selama 3 bulan (Mei, Juni, Juli) 2014
didapatakan hasil 5 hari. Hasil ini melebihi dari nilai normal (depkes)
1-3 hari. Hal ini kemungkinan disebabkan karena data yang di hitung
hanya 3 bulan terakhir saja, sehingga hasil dari perhitungan tidak
semuanya terdata.

2.7.6 GDR (Gross Death Rate) & NDR (Net Death Rate)
2.7.6.1 GDR (Gross Death Rate)
Menurut Depkes RI (2005) adalah angka kematian umum
untuk setiap 1000 penderita keluar.
GDR = (Jumlah pasien mati seluruhnya/jumlah pasien keluar
(hidup atau mati) x 1000
38

Indikator untuk mengetahui angka kematian keseluruhan
(3bulan, Mei, Juni, Juli). Nilai standar < 45%.




= 6 x 1000 = 22,5%
266


2.7.6.5 NDR (Net Death Rate)
Menurut Depkes RI (2005) adalah kematian 48 jam setelah
dirawat untuk tiap-tiap 1000 penderita keluar. Indikator ini
memberikan gambaran mutu pelayanan di Rumah Sakit
Ruang Paru (Dahlia).

Nilai standar <25 %



= 26 x 1000 = 97,7 %
266

2.7.7 Hasil evaluasi penerapan SAK (Instrumen A,B,C)
2.7.7.1 Instrumen A (Penerapan Standar Asuhan Keperawatan)
Data didapatkan dari 10 rekam medik (status pasien) yang
telah dirawat di Ruang Dahlia.

Tabel. 2.12 Pengkajian
No Aspek Yang
Dinilai
Kode Berkas Rekam Medik Pasien Ket
1 2 3 4 5 6 7 8
Jumlah pasien keluar mati > 48 jam
Jumlah pasien keluar hidup + mati
X 1000
Jumlah pasien keluar mati < 48 jam
Jumlah pasien keluar hidup + mati
x 1000

39



1





2




3




4
Pengkajian

Mencatat data
yang dikaji
sesuai dengan
pedoman
pengkajian

Data
dikelompokan
(bio-psiko-
sosial-spiritual)

Data dikaji
sejak pasien
masuk sampai
pulang

Masalah
dirumuskan
berdasarkan
kesenjangan
antara status
kesehatan
dengan norma
dan pola fungsi
kehidupan






































0





































0















































































75%




75%



75%




75%
SUB TOTAL 4 0 4 0 4 4 4 4
TOTAL 24
PROSENTASE 75%

Tabel. 2.13 Diagnosa
No Aspek Yang Dinilai Kode Berkas Rekam
Medik Pasien
Ket
1 2 3 4 5 6 7 8
40



1





2




3
Diagnosa

Diagnosa keperawatan
berdasarkan masalah
yang telah dirumuskan



Diagnosa keperawatan
mencerminkan FE/PES



Merumuskan diagnosa
keperawatan
aktual/potensal


























































































0































75%





75%





75%






SUB TOTAL 2 1 3 2 3 2 3 2
TOTAL 18
PROSENTASE 70%

Tabel 2.14 Rencana
No Aspek Yang
Dinilai
Kode Berkas Rekam Medik Pasien Ket
1 2 3 4 5 6 7 8


1





2
Rencana

Merumuskan
perencanaan
sesuai dengan
diagnosa yang
didapat saat
pengkajian
Menetapkan
rencana
keperawatan
sesuai dengan
prioritas

















0

















0












































75%





75%




41

masalah



SUB TOTAL 2 1 1 1 2 1 2 2
TOTAL 10
PROSENTASE 75%

Tabel 2.15 Tindakan
No Aspek Yang Dinilai Kode Berkas Rekam
Medik Pasien
Ket
1 2 3 4 5 6 7 8


1





2



3



4
Implementasi

Tindakan dilaksanakan
mengacu pada rencana
keperawatan



Perawat mengobservasi
respon klien terhadap
tindakan keperawatan

Revisi tindakan
berdasarkan hasil
evaluasi

Semua tindakan yang
telah dilaksanakan
dicatat ringkas dan
jelas


























0






















0







0























0



































0

















0








0


87,5%



50%



87,5%




87,5%






SUB TOTAL 4 3 3 3 3 4 3 2
TOTAL 25
PROSENTASE 78%

Tabel 2.16 Evaluasi
No Aspek Yang Dinilai Kode Berkas Rekam
Medik Pasien
Ket
1 2 3 4 5 6 7 8


1



2
Evaluasi

Evaluasi mengacu pada
tujuan
Menetapkan rencana

Hasil evaluasi dicatat









0










0









0













0













62,5%



87,5%
SUB TOTAL 2 1 1 2 1 2 1 2
TOTAL 12
PROSENTASE 75%
42


Tabel 2.17 Catatan asuhan keperawatan
No Aspek Yang
Dinilai
Kode Berkas Rekam Medik
Pasien
Ket
1 2 3 4 5 6 7 8



1



2







3





4











5

Catatan Asuhan
Keperawatan

Menulis pada
format yang
baku

Pencatatan
dilakukan sesuai
dengan tindakan
yang
dilaksanakan



Pencatatan
ditulis dengan
jelas, ringkas,
istilah yang
baku dan benar

Setiap
melakukan
tindakan/
kegiatan
perawat
mencantumkan
paraf/ nama
jelas dan
tanggal jam
dilakukannya
tindakan

Berkas catatan
keperawatan
disimpan sesuai
dengan
ketentuan yang
berlaku



































0























0
















0











0


























0














0















0











0


























0










































0

























































75%



75%







62,5%







75%









87,5%
SUB TOTAL 4 4 3 3 3 4 4 5
TOTAL 30
PROSENTASE 75%
Tabel 2.18 Rekapitulasi hasil evaluasi penerapan SAK
(Instrumen A)
No. Aspek yang dinilai % Hasil
43

1 Pengkajian 75
2. Diagnosa 75
3 Rencana 62,5
4 Tindakan 78
5 Evaluasi 75
6 Catatan keperawatan 75
Rata rata 73,4

Dari hasil observasi pendokumentasian asuhan keperawatan
pada status 8 persen yang telah dirawat selama atau lebih
dari 2 hari didapatkan hasil data 73,4% sudah dicatatan dan
lengkap, tetapi ada sekitar 30 % yang belum lengkap.

2.7.8 Instrumen B (Kepuasan Pasien)
Tabel 2.19 Hasil Kuesioner Kepuasan Pasien Sebelum Dilakukan
Intervensi
No Pertanyaan Ya Tidak
1. Perawat memperkenalkan diri kepada pasien/keluarga 82,5 12,5
2. Apakah perawat melarang anda atau pengunjung
merokok diruangan
62,5 37,5
3. Apakah perawat selalu menanyakan bagaimana nafsu
makan anda atau keluarga anda.
100 0
4. Apakah perawat pernah menanyakan pantangan dalam
hal makanan anda atau keluarga anda
37,5 62,5
5. Apakah perawat menyakan atau memperhatikan
beberapa jumlah makanan dan minuman yang biasa
anda dan keluarga habiskan.
25 75
6. Apabila anda atau keluarga anda tidak mampu makan
sendiri apakah perawat membantu menyuapinya.
37,5 62,5
7. Pada saat anda dipasang infuse apakah perawat selalu
memeriksa cairan atau tetesannya dan area sekitar
pemasangan jarum infuse.
100 0
8. Apabila anda dan keluarga mengalami kesulitan BAB
apakah perawat menganjurkan makan buah-buahan,
sayur, minum yang cukup dan banyak bergerak.
100 0
9. Pada saat perawat membantu anda dan keluarga waktu
BAB atau BAK, apakah perawat memasang sampiran
atau selimut, menutup pintu jendela, mempersilahkan
pengunjung keluar ruangan.
75 25
10. Apakah ruangan tidur anda dan keluarga selalu dijaga
kebersihannya dengan disapu dan dipel tiap hari.
87,5 12,5
11. Apakah lantai kamar mandi / Wc selalu: bersih, tidak
licin,tidak berbau, cukup terang.
62,5 37,5
12. Selama anda atau keluarga anda belum mampu mandi 37,5 62,5
44

(dalam keadaan istirahat total) apakah dimandikan oleh
perawat.
13. Apakah anda atau keluarga anda dibantu oleh perawat,
jika tidak mampu menggosok gigi, membersihkan
mulut, atau mengganti pakaian, atau menyisir rambut.
37,5 62,5
14. Apakah alat-alat tenun seperti sprai, selimut, dan lain-
lain diganti setiap kotor.
75 25
15. Apakah perawat pernah memberikan penjelasan akibat
dari: kurang bergerak, berbaring terlalu lama.
50 50
16. Pada saat anda atau keluarga anda masuk rumah sakit,
apakah perawat memberikan penjelasan tentang
fasilitas yang tersedia dan cara penggunaannya,
peraturan atau tata tertib yang berlaku di rumah sakit
62,5 37,5
17. Selama anda atau keluarga dalam perawatan, apakah
perawat: memanggil nama dengan benar
87,5 12,5
18. Selama anda atau keluarga anda dalam perawatan,
apakah perawat mengawasi keadaan anda secara teratur
pada pagi, sore maupun malam hari.
87,5 12,5
19. Selama anda atau keluarga anda dalam perawatan
apakah perawat segera member bantuan saat
diperlukan.
100 0
20. Apakah perawat sopan dan ramah 100 0
21. Apakah selama anda atau keluarga anda mengetahui
perawat yang bertanggung jawab setiap kali pergantian
dinas.
62,5 37,5
22. Apakah perawat selalu memberikan penjelasan
sebelum melakukan tindakan perawatan atau
pengobatan.
75 25
23. Aspakah perawat selalu bersedia mendengarkan atau
memperhatikan setiap keluhan anda atau keluarga
anda.
100 0
24. Dalam hal memberikan obat apakah perawat
membantu menyiapkan atau meminumkan obat.
50 50
25. Selama anda atau keluarga anda dirawat apakah
diberikan penjelasan tentang perawtan atayu
pengobatan atau pemeriksaan lanjutan setelah anda
atau keluarga anda diperbolehkan pulang.
62,5 37,5

Kesimpulan dari pernyataan terbuka pada angket kepuasan pasien:
sebagian besar responden (75 %) mengatakan cukup puas dan merasa
senang dengan pelayanan yang diberikan diruang Dahlia.
Hasil evaluasi persepsi pasien/keluarga terhadap mutu asuhan
keperawatan di Ruang Dahlia RSUD Ulin Banjarmasin (Instrumen B)
yang dilakukan tanggal 2-4 Oktober 2014 pada 8 paien/keluarga
pasien yang telah dirawat inap lebih dari 2 hari, adalah: 72,5%
pasien/keluarga menyatakan mutu pelayanan di Ruang Dahlia sudah
45

baik, tetapi masih ada beberapa item yang nilainya masih kurang
antara lain:
1) 12,5% perawat belum memperkenalkan diri kepada
pasien/keluarga pasien.
2) Baru 37,5% perawat yang menanyakan pantangan dalam hal
makanan pasien
3) Hanya 30 % perawat yang memperhatikan berapa jumlah makanan
dan minuman yang dihabiskan oleh pasien
4) Baru 37,5 % perawat yang membantu pasien dalam hal menyuapi
pasien
5) Baru 37,5% perawat yang membantu pasien dalam melakukan
proposal hygine pasien yaitu memandikan.
Keterangan
% Persepsi mutu askep = pernyataan Ya x 100%
pernyataan Ya + Tidak
Nilai persepsi Mutu askep dinyatakan baik bila > 75%.
Persepsi mutu askep = 145 x 100% = 72,5%
145 + 55
2.7.9 Instrumen C (Pelaksanaan Tindakan Keperawatan)
2.7.9.1 Observasi Pelaksanaan Tindakan Memberikan Oksigen di
Ruang Dahlia RSUD Ulin Banjarmasin
Tabel 2.20 Observasi Pelaksanaan Tindakan Memberikan
Oksigen
NO
JENIS
KEGIATAN
ASPEK YANG
DINILAI
OBSERVASI
1 2 3 4 5
1 Memberikan
Oksigen
a. Kriteria
Persiapan

1. Cek instruksi
dokter (dosis
dan cara
pemberian)
1 1 1 1 1
2. Beri tanda
dengan tulisan
0 0 0 0 0
3. Hubungkan
tabung O2 dan
Flowmeter
1 1 1 1 1
46

4. Botol pelembab
yang diisi
dengan 2/3 air
steril
1 1 1 1 1
5. Selang nasal
canula atau
masker
1 1 1 1 1
6. Memberikan
penjelasan
kepada pasien
1 1 1 1 1
b. Kriteria
Pelaksanaan

1. Cuci tangan 0 0 0 0 0
2. Mengatur posisi
pasien
1 1 1 1 1
3. Membuka
flowmeter dan
mengukur dosis
secara bertahap
1 1 1 1 1
4. Memasang
selang kanula
atau masker
pada pasien
1 1 1 1 1
5. Memperhatikan
reaksi pasien,
pernapasan, dan
nadi
1 1 1 1 1
6. Mencatat dalam
lembaran
catatan
perawatan
1 1 1 1 1
7. Cuci tangan 1 1 1 1 1
Sub Total 11 10 11 10 11
Total 53
Presentase 81,5%

PRESENTASE = TOTAL X 100% = 81,5 %
5 X ( 6 + 7 )
Nilai standar pelaksanaan tindakan keperawatan dinyatakan
baik bila > 75%.
2.7.9.2 Observasi Pelaksanaan Tindakan Pemasangan Infus di Ruang
Dahlia RSUD Ulin Banjarmasin.

Tabel 2.21 Observasi Pelaksanaan Tindakan Pemasangan
Infuse
NO
JENIS
KEGIATAN
ASPEK YANG DINILAI
OBSERVASI
1 2 3 4 5
47

2. Memasang
Infus
a. Kriteria Persiapan
1. Cuci tangan 0 1 1 1
2. Standar infuse 1 1 1 1 1
3. Cairan yang akan
diberikan
1 1 1 1 1
4. Infus set 1 1 1 1 1
5. Kapas 1 1 1 1 1
6. Alkohol 70 % 1 1 1 1 1
7. Kasa steril 0 0 0 0 0
8. Gunting 1 1 1 1 1
9. Plester 1 1 1 1 1
10. Pengalas 1 1 1 1 1
11. Bengkok 1 1 1 1 1
b. Kriteria Pelaksanaan
1. Cuci tangan 1 1 0 1 0
2. Pasien diberi
penjelasan
1 1 1 1 1
3. Posisi pasien supinasi /
terlentang
1 1 1 1 1
4. Siapkan area yang akan
dipasang
1 1 1 1 1
5. Memeriksa ulang
cairang yang diberikan
1 1 1 1 1
6. Keluarkan udara dari
selang infuse
1 1 1 1 1
7. Menentukan area yang
akan ditusuk
1 1 1 1 1
8. Pasang pengalas 0 0 0 0 0
9. Mendesinfeksi area
yang akan ditusuk
dengan diameter 5-10
cm
1 1 1 1 1
10. Menusuk jarum
infuse pada vena
yang telah ditentukan
1 1 1 1 1
11. Melakukan fiksasi 1 1 1 1 1
12. Menutup bagian yang
ditusuk dengan kasa
steril
0 0 0 0 0
13. Menghitung jumlah
tetesan sesuai dengan
kebutuhan
1 1 1 1 1
14. Memperhatikan
reaksi pasien
1 1 1 1 1
15. Catat waktu
pemasangan, jenis
cairan dan jumlah
tetesan
0 0 0 0 0
16. Pasien dirapikan 1 1 1 1 1
17. Alat-alat dibereskan 1 1 1 1 1
18. Cuci tangan 1 1 1 1 1
Sub Total 2
5
2
3
2
5
2
3
2
5
48

Total 121
Presentase 80%

2.7.9.3 Observasi Pelaksanaan Tindakan Pemberian Transfusi di
Ruang Dahlia RSUD Ulin Banjarmasin
Tabel 2.22 Observasi pelaksanaan tindakan pemberian
transfusi
NO
JENIS
KEGIATAN
ASPEK YANG
DINILAI
OBSERVASI
1 2 3 4 5
3 Memberikan
Transfusi
a. Kriteria Persiapan
1. Cek persetujuan
pasien / informed
consent
1 1 1 1 1
2. Cek tanda-tanda
vital
1 1 0 0 0
3. Kelengkapan
transfuse set
1 1 1 1 1
4. Cairan NaCl 0,9
%
1 1 1 1 1
5. Darah yang akan
diberikan sesuai
denga kebutuhan
1 1 1 1 1
6. Kapas alkohol 70
%
1 1 1 1 1
7. Kasa steril 1 1 1 1 1
8. Gunting 1 1 1 1 1
9. Plester 1 1 1 1 1
10. Pengalas 1 1 1 1 1
11. Bengkok 1 1 1 1 1
b. Kriteria
Pelaksanaan

1. Cuci tangan 0 0 0 0 0
2. Memberikan
penjelasan pada
pasien
1 1 1 1 1
3. Menyiapkan
area yang akan
ditusuk
1 1 1 1 1
4. Peneliti
meneliti
keadaan darah
dan suhu sesuai
dengan suhu
tubuh normal
1 1 1 1 1
5. Cek selang
label darah
dengan formulir
permintaan,
nama pasien,
golongan darah,
1 1 1 1 1
49

dan nama
tempat tidur
6. Memasang
infuse dengan
cairan NaCl 0,9
% sesuai
dengan
prosedur
pemasangan
infuse
1 1 1 1 1
7. Cek silang
dengan teman
sejawat
sebelum darah
dipasang
1 1 1 1 1
8. Memindahkan
selang sesuai
dengan
kebutuhan
1 1 1 1 1
9. Memperhatikan
reaksi pasien
1 1 1 1 1
10. Mencatat waktu
pemberian,
golongan darah,
dan jumlah
tetesan darah
0 0 0 0 0
11. Menghitung
jumlah tetesan
transfusi pada
kantong
1 1 1 1 1
12. Alat-alat
dibereskan
1 1 1 1 1
13. Cuci tangan 1 1 1 1 1
Sub Total 21 22 21 22 21
Total 107
Presentase 85%


2.7.9.4 Observasi Pelaksanaan Tindakan Pemberian Obat Melalui
Suntikan di Ruang Dahlia RSUD Ulin Banjarmasin.



Tabel 2.23 Observasi pelaksanaan tindakan pemberian obat
melalui suntikan
NO.
JENIS
KEGIATAN
ASPEK YANG
DINILAI
OBSERVASI
1 2 3 4 5
50

4. Memberikan
Obat
Melalui
suntikan IV
Perinfuse
a. Kriteria
Persiapan

1. Spuit
disposable
sesuai
kebutuhan
1 1 1 1 1
2. Kapas Alkohol
70%
1 1 1 1 1
3. Obat yang
diberikan
1 1 1 1 1
4. Pasien diberi
penjelasan
1 1 1 1 1
b. Kriteria
Pelaksanaan

1. Cuci tangan 0 0 0 0 0
2. Memperhatikan
prinsip Aseptik
1 1 1 1 1
3. Membaca Etiket
Obat
1 1 1 1 1
4. Membaca Dosis
Obat
1 1 1 1 1
5. Memasukkan
Obat ke dalam
spuit, kemudian
udara dalam
spuit
dikeluarkan
1 1 1 1 1
6. Mengatur posisi
pasien
1 1 1 1 1
7. Menentukan
daerah yang
akan disuntik
1 1 1 1 1
8. Mendesinfektan
kulit yang akan
disuntik sesuai
dengan jenis
suntikan
1 1 1 1 1
9. Memasukkan
obat sesuai
dengan teknik
penyuntikan1
1 1 1 1 1
10. Melakukan
aspirasi
1 1 1 1 1
11. Memasukkan
obat secara
perlahan-lahan
1 1 1 1 1
12. Memperhatikan 1 1 1 1 1
51

respon pasien
13. Mencabut
jarum perlahan-
lahan
1 1 1 1 1
14. Mendesinfeksi
kulit dengan
kapas alcohol
1 1 1 1 1
15. Mencatat
respon pasien
dan pemberian
obat
1 1 1 1 1
16. Mencuci tangan 1 1 1 1 1
19 19 19 19 19
Sub Total 95
Total 90,4%
Presentase

2.7.9.5 Observasi Pelaksanaan Tindakan Mengukur Tekanan Darah
di Ruang Dahlia RSUD Ulin Banjarmasin
Tabel 2.24 Observasi pelaksanaan tindakan mengukur
tekanan darah
NO.
JENIS
KEGIATAN
ASPEK YANG
DINILAI
OBSERVASI
1 2 3 4 5
5. Mengukur
Tekanan
Darah
a. Kriteria
Persiapan

1. Tensimeter 1 1 1 1 1
2. Stetoskop 1 1 1 1 1
3. Buku Catatan 1 1 1 1 1
4. Pasien diberi
penjelasan
terhadap
tindakan yang
akan dilakukan
1 1 1 1 1
b. Kriteria
Pelaksanaan

1. Cuci tangan 0 0 0 0 0
2. Lengan baju
pasien dibuka
atau digulung
1 1 1 1 1
3. Manset
tensimeter
dipasang pada
lengan atas
dengan pipa
karetnya berada
di sisi luar
lengan. Manset
1 1 1 1 1
52

dipasang tidak
terlalu kencang
atau terlalu
longgar
4. Pompa
tensimeter
dipasang
1 1 1 1 1
5. Denyut arteri
brachialis
diraba lalu
stetoskop
ditempatkan
pada daerah
tersebut
1 1 1 1 1
6. Skrup balon
dibuka
perlahan-lahan
sehingga air
turun perlahan-
lahan, sambil
memperhatikan
turunnya air
raksa,
dengarkan
bunyi denyutan
pertama /
systole dan
terakhir /
diastole
1 1 1 1 1
7. Respon pasien
dicatat
1 1 1 1 1
8. Pasien dan alat
dirapikan
1 1 1 1 1
9. Mencuci tangan 1 1 1 1 1
Sub Total 12 12 12 12 12
Total 60
Presentase 92,3%

2.7.9.6 Rekapitulasi Hasil Observasi Pelaksanaan Tindakan
Keperawatan (Standar VI) di Ruang Dahlia ( Paru ) RSUD
Ulin Banjarmasin


Tabel 2.25 Rekapitulasi Hasil Observasi Pelaksanaan
Tindakan
Keperawatan ( Standar VI )
53

No Aspek yang dinilai Hasil (%)
1 Memberikan Oksigen 81,5%
2 Memasang Infus 80%
3 Memberikan Transfusi 85%
4 Memberikan obat suntikan IV perinfus 90,4%
5 Mengukur tekanan darah 92,3%
Total (%) 81,1%

Berdasarkan data rekapitulasi hasil evaluasi pada pengkajian
instrumen C di ruang Dahlia (Paru) RSUD Ulin Banjarmasin
didapatkan hasil bahwa sebagian besar tindakan keperwatan
sudah dilakukan sesuai dengan SOP (Standar Operasional
Prosedur), tetapi ada beberapa persiapan alat dan pelaksanaan
tindakan yang belum sesuai dengan SOP yaitu:
a. Belum memberi tanda dengan tulisan di tabung oksigen
beberapa jumlah oksigen yang diberikan ke pasien
b. Saat pelaksanaan pemasangan oksigen, pemasangan infus,
pemberian suntikan intra vena, pemberian transfusi,
mengukur suhu, tekanan darah belum melakukan cuci
tangan
c. Belum mempersiapkan kasa steril dan juga pengalas saat
persiapan pemasangan infus maupun tindakan lainnya.
2.7.9.7 Kepuasan Kerja Karyawan
Tabel 2.26 Kepuasan kerja karyawan
No Pertanyaan
Jawaban
STS TS S SS
Budaya Organisasi
1. Rumah Sakit
memberikan
penghargaan
kepada
perawat
0 0 7 1
2. Rumah Sakit
memberikan
kesempatan
kepada
perawat untuk
memberikan
ide demi
kemajuan
pelayanan
0 1 6 1
54

3. Sejak bekerja
dirumah sakit
ini semangat
kerja dan
produktivitas
saya semakin
baik
0 0 8 0
4. Pengembangan
karir perawat
dirumah sakit
ini tidak jelas
1 0 7 0
5. Saya
merasakan
ketenangan
dalam bekerja
di tempat ini

0 0 7 1
6. Rumah Sakit
memberikan
kesempatan
untuk
melanjutkan
pendidikan
1 0 7 0
7. Rumah Sakit
memperhatika
n kesejahteraan
perawat

0 4 4 0
Total (%) 2
3,57%
5
8,93%
46
82,14%
3
5,36%
Kepemimpinan
8 Atasan
menuntut saya
bekerja sesuai
dengan standar
0 0 7 1
9 Atasan saya
dapat
mengatasi
masalah yang
terjadi di
ruangan
0 0 7 1
10 Atasan
memberikan
kesempatan
kepada saya
untuk
menyampaikan
gagasan dalam
memberikan
asuhan
keperawatan
0 0 7 1
11 Pendelegasian
yang dilakukan
0 0 7 1
55

kepada staf
sesuai
kompetensi
yang dimiliki
12 Atasan
memberikan
masukan
setelah
melakukan
penilaian
terhadap
pekerjaan yang
saya lakukan
0 0 7 1
13 Atasan
mengawasi
setiap tindakan
yang dilakukan
staf
0 0 7 1
14 Sebelum
menetapkan
keputusan,
atasan saya
biasanya
meminta
masukan dari
bawahan
0 0 5 3
Total (%) 0
0%
0
0%
47
83,93%
9
16,07%
Komunikasi
15 Sesama
perawat saling
berkomunikasi
dengan baik
dalam
melakukan
pekerjaan
0 1 5 2
16 Saya memiliki
hubungan yang
baik dengan
rekan kerja
0 0 5 3
17 Teman sesama
perawat saling
membantu
dalam
melakukan
pekerjaan
0 0 7 1
18 Diantara
sesama
perawat ada
saling
keterbukaan
0 5 3 0
19 Atasan saya
memperlakuka
n bawahan
bukan sebaagai
0 0 7 1
56

bawahan
tetapi sebgai
seorang rekan
20 Pola
komunikasi
yang terjadi di
unit kerja saya
umumnya
terbuka
0 0 7 1
21 Saya tidak
dapat
mengungkapka
n pendapat
saya tentang
keputusan
yang
dikeluarkan
oleh atasan
1 5 2 0
Total (%) 1
1,78%

11
19,64%
36
64,28%
8
14,28%
Ativitas Kerja
22 Saya
melakukan
pekerjaan
sesuai dengan
uraian tugas
0 0 6 2
23 Saya
melakukan
tugas sesuai
dengan
rencana
0 0 7 1
24 Saya bekerja
sesuai dengan
kompetensi
yang saya
miliki
0 0 6 2
25 Pekerjaan saya
penuh dengan
tantangan yang
menarik
0 0 7 1
26 Samangat kerja
saya tergolong
tinggi
0 0 7 1
27 Saya
menyenangi
pekerjaan yang
saya lakukan
saat ini
0 0 6 2
28 Saya
melakukan
pekerjaan
dengan
sungguh-
sungguh
0 0 8 0
57

29 Saya
menunggu
dengan tidak
sabar, kapan
tibanya saat
cuti
0 5 2 1
Total (%) 0
0%
5
7,81%

49
76,56%

10
15,62%
30 Gaji yang saya
terima sesuai
dengan
pekerjaan saya
4 1 3 0
31 Gaji yang saya
terima sesuai
dengan
harapan saya
5 1 2 0
32 Gaji yang saya
terima dapat
memenuhi
kebutuhan
hidup
0 5 3 0
33 Rekan-rekan
kerja saya
umumnya puas
dengan gaji
yang mereka
peroleh saat ini
6 0 2 0
34 Di rumah sakit
ini, perawat
yang bekerja
lebih keras
memang
memperoleh
insentif yang
memadai
1 4 2 1
Total (%) 16
40%
11
27,5%
12
30%
1
2,5%

Rekapitulasi Hasil kuesioner kepuasan perawat yang
didapatkan dari 8 orang sampel yang bekerja di Ruang Dahlia
(Paru) RSUD Ulin Banjarmasin.


Tabel 2.27 Rekapitulasi Hasil kuesioner kepuasan perawat
No
Pernyataan
Jawaban (%)
Total
STS TS S SS
58

1
Budaya
Organisasi
3,57%
3,57
%
82,14
%
5,36
%
100%
2 Kepemimpnan 0% 0%
83,93
%
16,07
%
100%
3 Komunikasi 1,78%
19,64
%
64,28
%
14,28
%
100%
4 Aktivitas Kerja 0%
7,81
%
76,56
%
15,62
%
100%
5 Kompensasi 40%
27,5
%
30% 2,5% 100%

2.7.9.8 Indikator mutu pelayanan dengan keselamatan pasien.
Observasi Keselamatan pasien (Patien Safety) dilakukan
selama 3 hari dari tanggal 2 4 Oktober dengan melihat 6
indikator angka kejadian :
Tabel 2.28 6 Indikator Keselamatan pasien (Patien Safety)
No Keselamatan Pasien Jumlah
Kejadian
1 Decubitus 0
2 Kesalahan pemberian obat oleh
perawat
0
3 Pasien jatuh 0
4 Cidera restrain 0
5 Infeksi Nasokomial 0
6 Flebitis 0
Berdasaran hasil observasi selama 3 hari, dari 6 indikator
Tidak terjadi decubitus,kesalahan pemberian obat, pasien
jatuh, cidera restrain, infeksi nasokomial, dan flebitis.
2.8 Analisis SWOT
Terlampir

2.9 Analisa Data
Data pengkajian data diatas, dilakukan analisa dengan menggunakan metode
analisa SWOT.


2.9.1 M1 (Man)
STRENGTH
(KEKUATAN)
WEAKNESS
(KELEMAHAN)
OPPORTUNITY
(KESEMPATAN)
THREATENED
(ANCAMAN)
Jumlah tenaga Kurang tegasnya Adanya Persaingan
59

perawat di Ruang
Dahlia sudah
mencukupi yaitu 13
orang.
Jenis ketenagaan
perawat yang
mencukupi sesuai
dengan tingkat
pendidikan S.1
keperawatan 6
orang, D3
keperawatan 9
orang.
Adanya tenaga non
keperawatan
Beban kerja tidak
terlalu berat
70% perawat
memperkenalkan
diri kepada pasien
atau keluarga
90% perawat di
ruang dahlia sopan
dan ramah.
70% perawat
mengatakan setuju
Rs memberikan
penghargaan
kepada perawat
berprestasi.
Semangat kerja dan
produktivitas
meningkat
90% perawat
memiliki semagat
yang tinggi
perawat terhadap
pengunjung yang
membawa anak-
anak masuk
keruang perawatan
pasien
Pemenuhan
kebutuhan dasar
yang masih kurang
optimal pada
pasien.
mahasiswa
praktik
manajemen dan
mahasiswa
praktik lainnya.
Adanya
kerjasama yang
baik antara pihak
klinik dan
akademik
Adanya
kesempatan
dalam mengikuti
pendidikan
lanjutan
Adanya tenaga
non keperawatan
antar institusi
pelayanan
kesehatan
Tuntutan
pelayanan yang
tinggi dari
masyarakat
Tingginya
kesadaran
hukum
pelayanan
kesehatan dari
masyarakat.

2.9.2 M2 (Money)
STRENGTH
(KEKUATAN)
WEAKNESS
(KELEMAHAN)
OPPORTUNITY
(KESEMPATAN)
THREATENED
(ANCAMAN)
Dana operasional
ruangan diperoleh
dari rumah sakit
Dana fasilitas
kesehatan
diperoleh dari
rumah sakit
Mayoritas
pembiayaan pasien
menggunakan
BPJS (Badan
Penyelenggara
Jaminan Sosial)
Panjangnya
birokrasi untuk
permintaan sarana
dan prasarana.

Pendanaan
BLUD, APBN,
APBD
RBA terjadwal 1
tahun
sebelumnya
Dana emergency
untuk alokasi
dana emergency.

Adanya
tuntutan dari
masyarakat
untuk
pelayanan
yang lebih
professional
dengan harga
terjangkau
Alokasi dana
untuk
penunjang
kesehatan
60




belum optimal

2.9.3 M3 (Material)
STRENGTH
(KEKUATAN)
WEAKNESS
(KELEMAHAN)
OPPORTUNITY
(KESEMPATAN)
THREATENED
(ANCAMAN)
Tersedianya
gedung yang
kondusif dan
sarana umum
(meja, kursi
lemari)
Tersedianya
sarana dan
prasarana untuk
pasien dan
tenaga
kesehatan.
Sebagian besar
perawat
diruangan
mampu
menggunakan
sarana dan
prasarana yang
ada
90% pasien dan
keluarga pasien
menyatakan bila
alat-alat tenun
seperti sprei, dll
diganti setiap
kotor
Memiliki nurse
station (dihapus)
Memiliki
dokumen SOP
dan SAK
Tersedianya alat
medis sesuai
dengan standar
dan kebutuhan
dan dalam
kondisi yang
baik
Sebagian besar
perawat belum
mencuci tangan
sebelum
melakukan
tindakan
keperawatan
Sarana dan
prasarana sudah
tersedia dengan
baik namun ada
beberapa yang
belum
mencukupi sesuai
standar ruangan
seperti kebutuhan
sprei/laken
Belum
tersedianya
perlak kecil
untuk melakukan
tindakan
keperawatan
Belum adanya
tanda dengan
tulisan pada
tabung oksigen
tentang jumlah
oksigen yang
diberikan
Adanya
kesempatan
untuk
perbaikan dan
alat-alat yang
tidak layak
pakai
Pendanaan
BLUD,
APBN, APBD
Adanya
ruangan
operasi (OK
kecil) di ruang
Dahlia

Adanya
peningkatan
harga alat-alat
medis
Adanya
tuntunan
masyarakat
yang tinggi
terhadap
ketersediaan
alat-alat yang
memadai.


2.9.4 M4 (Metode)
2.9.4.1 Penerapan Model SP2KP
61

STRENGTH
(KEKUATAN)
WEAKNESS
(KELEMAHAN)
OPPORTUNITY
(KESEMPATAN)
THREATENED
(ANCAMAN)
Adanya visi dan
misi ruangan yang
bisa dijadikan
acuan dalam
bekerja.
Penggunaan
SP2KP diruangan.
Adanya SOP dan
SAK di Ruangan.
Penilaian kepuasan
pelayanan yang
cukup baik.

Sudah ada model
SP2KP yang
digunakan, namun
peran dan
tanggung jawab
dalam
pelaksanaan
SP2KP belum
optimal
Model SP2KP
hanya
terimplementasi
pada pagi hari
Belum semua
perawat yang
berada di Ruang
Dahlia paham
tentang SP2KP.
Adanya
mahasiswa
praktik
manajemen
keperawatan.
Adanya
kerjasama yang
baik antara pihak
rumah sakit
dengan
akademik.
Adanya
kerjasama yang
baik dengan
PKMRS
Pelatihan tentang
manajemen
SP2KP.
Adanya
tuntutan
pelayanan
yang tinggi
dari
masyarakat.
Tingginya
kesadaran
masyarakat
terhadap status
kesehatan.
Persaingan
antara institusi
pelayanan
kesehatan.


2.9.4.2 Timbang Terima
STRENGTH
(KEKUATAN)
WEAKNESS
(KELEMAHAN)
OPPORTUNITY
(KESEMPATAN)
THREATENED
(ANCAMAN)
Kepala ruangan
memimpin
kegiatan timbang
terima setiap pagi.
Adanya laporan
masing-masing shif
jaga.
Merupakan
kegiatan rutin
setiap pagi.
Adanya kemauan
melaksanakan
timbang terima.
Timbang terima
dilakukan pada
pergantian shift
malam ke pagi,
shift pagi ke siang,
dan shift siang ke
malam.

Timbang terima
dilakukan di nurse
station hanya
kadang-kadang
saja ke kamar
pasien.
Isi timbang terima
lebih terfokus
kepada tindakan
kolaboratif/medis
hanya sebagai
yang berfokus
pada masalah
keperawatan
Adanya
mahasiswa yang
praktik di Ruang
Dahlia.
Adanya
kerjasama yang
baik dari perawat
dan mahasiswa
ners stage
manajemen.
Tuntutan
mendapatkan
pelayanan
lebih baik oleh
pasien dari
perawat yang
melayaninya
Meningkatnya
kesadaran
terhadap
tanggung
gugat dan
tanggung
jawab terhadap
pelayanan
yang diberikan
kepada
pasien/keluarg
a.

2.9.4.3 Ronde Keperawatan
62

STRENGTH
(KEKUATAN)
WEAKNESS
(KELEMAHAN)
OPPORTUNITY
(KESEMPATAN)
THREATENED
(ANCAMAN)
Ruang Dahlia
memiliki standart
pelayanan minimal
(SPM)
Masalah
keperawatan
terbanyak di Dahlia
adalah masalah
sistem respirasi
yang kemungkinan
besar bisa diadakan
ronde keperawatan.
Manfaat dilakukan
ronde keperawatan
adalah
meningkatkan
kemampuan untuk
memodifikasi
renpra dan
menumbuhkan
pemikiran tentang
tindakan
keperawatan yang
sesuai dengan
masalah klien.
SDM : Staf tenaga
perawat Dahlia
terdapat 6 orang
lulusan S1
Keperawatan dan 9
orang lulusan D3
Keperawatan.
Ronde keperawatan
belum berjalan
dengan optimal
Belum ada jadwal
rutin pelaksanaan
ronde keperawatan.
Tersedianya
kesempatan
untuk
melaksanakan
ronde
keperawatan saat
ada mahasiswa
praktik stage
manajemen.
Adanya
kerjasama yang
baik antara
perawat rumah
sakit dengan
mahasiswa S1
Keperawatan.
Tuntutan
masyarakat
untuk
mendapatkan
pelayanan
asuhan
keperawatan
semakin
tinggi.
Persaingan
dalam
pemberian
pelayanan
kesehatan
semakin kuat.

2.9.4.4 Sentralisasi Obat
STRENGTH
(KEKUATAN)
WEAKNESS
(KELEMAHAN)
OPPORTUNITY
(KESEMPATAN)
THREATENED
(ANCAMAN)
Tersedianya sarana
dan prasarana
penunjang kegiatan
sentralisasi obat
Kepala ruangan
mendukung proses
sentralisasi obat
Adanya kemauan
dalam sentralisasi
Adanya format
buku untuk
sentralisasi obat



Pelaksanaan
sentralisasi obat
belum optimal
Belum adanya
format
persetujuan
sentralisasi obat
bagi pasien
Belum adanya
buku serah terima
obat dari
keluarga kepada
perawat setelah
obat diambil daro
depo farmasi.
Adanya
mahasiswa
praktik
manajemen
Adanya
kerjasama yang
bak antara
perawat dan
mahasiswa
Adanya rencana
mahasiswa
praktik
manajemen
mengadakan
sentralisasi obat
Tuntutan
pasien untuk
mendapatkan
pelayanan
yang
professional
Belum
terjalinnya
kepercayaan
pasien dalam
pengelolaan
sentralisasi
obat
63




2.9.4.5 Dokumentasi Keperawatan
STRENGTH
(KEKUATAN)
WEAKNESS
(KELEMAHAN)
OPPORTUNITY
(KESEMPATAN)
THREATENED
(ANCAMAN)
Tersedianya
sarana
penunjang
administrasi
untuk tenaga
kesehatan
Tersedianya
format
pengkajian
persistem
Adanya format
untuk masalah
keperawatan
dalam bentuk
chek list
Adanya
kemauan dalam
pendokumentasi
an keperawatan









Ada sebagian status
pasien yang belum
lengkap
pendokumentasianya
Ada sebagian
tindakan
keperawatan yang
belum
terdokumentasikan
Belum adanya
pelatihan secara
khusus tentang
pendokumentasian
keperawatan.
Sebagian perawat
kurang kesadaran
untuk melengkapi
identitas
dokumentasi
(penandatanganan)
Kerjasama yang
baik dalam
pendokumentasian
antara perawat,
dokter, ahli gizi,
dan mahasiswa
Adanya mahasiswa
S1 kep praktik
manajemen untuk
mengembangkan
system
pendokumentasian
Adanya mahasiswa
praktik klinik
keperawatan yang
dapat dijadikan
rujukan
perkembangan
konsep dan asuhan
keperawatan
Kesempatan
mengikuti
pendidikan
lanjutan bagi
perawat ruangan
Akreditasi RS
terhadap system
pendokumentasian
Tingkat kesadaran
masyarakat
terhadap tanggung
gugat dan tanggung
jawab (tanggung
jawab hukum).


2.9.4.6 Discharge Planning
STRENGTH
(KEKUATAN)
WEAKNESS
(KELEMAHAN)
OPPORTUNITY
(KESEMPATAN)
THREATENED
(ANCAMAN)
Adanya surat
control berobat
lanjutan
Adanya
kegiatan
pendidikan
kesehatan yang
diberikan
kepada
pasien/keluarga
selama dirawat
dan saat akan
pulang
Tersedianya
Pelaksanaan
discharger planning
belum optimal
Leaflet tentang
TBC sudah ada tapi
masih belum semua
pasien
mendapatkanya
Pemberian
pendidikan
kesehatan bersifat
lisan
discharger planning
belum
Adanya mahasiswa
yang praktik
manajemen
Adanya kerjasama
yang baik antara
perawat dan
mahasiswa
Adanya kemauan
pasien terhadap
anjuran perawat
Tuntutan
masyarakat
untuk
mendapatkan
pelayanan
asuhan
keperawatan
semakin
tinggitingginya
kesadaran
terhdapa
pentingnya
kesehatan
Persaingan
64

leaflet/brosur
tentang TB paru








terdokumentasikan
dengan baik
leflet tentang 10
daftar penyakit
tertinggi di ruang
Dahlia masih belum
ada.
pemberian
pelayanan
kesehatan antar
masing-masing
institusi
kesehatan

2.9.4.7 Penerimaan Pasien Baru
STRENGTH
(KEKUATAN)
WEAKNESS
(KELEMAHAN)
OPPORTUNITY
(KESEMPATAN)
THREATENED
(ANCAMAN)
Adanya
kelengkapan
administrasi
penerimaan
pasien baru
Adanya inform
consent
penerimaan
pasien baru
Dilakukannya
pengkajian pada
pasien baru





Belum optimalnya
penjelasan tentang
fasilitas jam
berkunjung dan
tata tertib
pengunjung.
Belum optimalnya
pemberian
informasi tentang
resiko tertular
penyakit dan
anjuran
penggunaan
masker bagi
keluarga dan
pengunjung
Adanya mahasiswa
yang melakukan
praktik di ruang
dahlia
Sosialisasi
peenrimaaan pasien
baru berdasarkan
SOP
Adanya kerjasama
yang baik dari
perawat dan
mahasiswa
Tuntutan
masyarakat
untuk
mendapatkan
pelayanan
asuhan
keperawatan
semakin tinggi
Tingginya
kesadaran
terhadap
pentingnya
kesehatan

2.9.5 M5 (Market)
STRENGTH
(KEKUATAN)
WEAKNESS
(KELEMAHAN)
OPPORTUNITY
(KESEMPATAN)
THREATENED
(ANCAMAN)
Dari pertanyaan
terbuka pada
angket kepuasan
pasien: sebagagian
besar responden
(75%) mengatakan
cukup puas dan
merasa senang
dengan perawatan
yang diberikan oleh
perawat di Ruang
Dahlia.
Pasien yang
dirawat diruang
dahlia 72,5%
Masih ada sebagian
kecil pasien atau
keluarga pasien
yang kurang puas
dengan pelayanan
yang diberikan.
Perawat masih
kurang
memperhatikan
dalam hal jumlah
makanan yang
dihabiskan,
pantangan dalam
makanan, personal
hygine.
Adanya
mahasiswa yang
melakukan
praktik diruang
Dahlia
Kerjasama yang
baik antara
perawat dan
mahasiswa ners
stage
manajemen.
Adanya
perkembangan
IT untuk
mempromosika
Persaingan
rumah sakit
dalam
memberikan
pelayanan
kesehatan
Adanya
peningkatan
standar
masyarakat
yang harus
dipenuhi.
65

pasien merasa puas
terhadap pelayanan
kesehatan yang
diberikan
Sebagai tempat
praktik mahasiswa
keperawatan D3
dan S1
n rumah sakit

2.10 Identifikasi Masalah
2.10.4 M1 (Man)
2.10.4.1 Belum tegasnya perawat terhadap keluarga ataupun
pengunjung pasien yang membawa anak-anak dibawah usia
12 tahun masuk kekamar perawatan pasien
2.10.4.2 Pemenuhan kebutuhan dasar yang masih kurang optimal
pada pasien misalnya sekedar mengingatkan
pasien/keluarga pasien untuk melakukan personal hygene.

2.10.5 M2 (Money)
2.10.5.1 Untuk perbaikan dan pergantian sarana dan prasarana
sebelum mendapatkan dana dari pemerintah untuk sementara
menggunakan dana pribadi oleh pihak keuangan ruang dahlia
karena harus melewati waktu dan proses yang lama dan
nantinya akan dikembalikan lagi dana keuangan ruang dahlia
dengan dana yang diberikan oleh pemerintah yang dikelola
oleh Rumah Sakit Ulin Banjarmasin.

2.10.6 M3 (Material)
2.10.6.1 Sebagian besar perawat belum mencuci tangan sebelum
melakukan tindakan keperawatan
2.10.6.2 Belum tersedianya perlak kecil untuk memasang infus atau
untuk melakukan tindakan keperawatan lainnya.
2.10.6.3 Belum adanya tanda dengan telusian tentang jumlah oksigen
yang diberikan kepasien pada tabung oksigen.
66


2.10.7 M4 (Metode)
2.10.7.1 Penerapan Model
a. Kurang memahami tentang peran dan tanggung jawab
dalam pelaksanaan SP2KP.
b. Model SP2KP hanya terlaksana pada pagi hari.
c. Belum semua perawat yang berada di Ruang Dahlia
paham tentang SP2KP.

2.10.7.2 Penerimaan Pasien Baru
a. Kurang penjelasan tentang fasilitas jam berkunjung dan
tata tertib pengunjung.
b. Kurang pemberian informasi tentang resiko tertular
penyakit dan anjuran penggunaan masker bagi keluarga
dan pengunjung.

2.10.7.3 Model Dokumentasi
a. Kurang lengkapnya pendokumentasian dari saat pasien
masuk sampai pasien keluar.
b. Kurang lengkapnyadokumentasi asuhan keperawatan
mulai dari pengkajian sampai evaluasi.
c. Sebagian perawat kurang kesadaran untuk melengkapi
identitas dokumentasi (penandatanganan)

2.10.7.4 Ronde Keperawatan
a. Pengetahuan perawat tentang ronde keperawatan kurang
optimal karena karakteristik tenaga yang memenuhi
kualifikasi belum merata (lebih banyak D3 Keperawatan
dari pada S1 Keperawatan).
b. Ronde keperawatan belum berjalan optimal.
c. Belum ada jadwal rutin pelaksanaan ronde keperawatan.
67


2.10.7.5 Timbang Teriama
a. Timbang terima dilakukan di nurse stasion hanya kadang-
kadang saja ke kamar pasien.
b. Biasanya dilaksanakan pada hari kerja, untuk hari libur
kadang-kadang dilaksanakan.
c. Isi timbang terima belum berfokus pada masalah
keperawatan.
d. Timbang terima lebih berfokus masalah medis.

2.10.7.6 Sentralisasi Obat
a. Belum optimalnya pendokumentasi sentralisasi obat.
b. Belum adanya lembar persetujuan keluarga pasien untuk
dilakukannya sentralisasi obat.
c. Belum adanya buku serah terima obat dari keluarga
kepada perawat setelah obat diambil dari apotek.

2.10.7.7 Perencanaan Pulang/Discharge Plannng
a. Pelaksanaan Discharge Planning belum optimal.
b. Leflet yang tersedia masih bersifat umum.
c. Pemberian pendidikan kesehatan bersifat lisan.
d. Discharge Planning belum terdokumentasikan dengan
baik.
e. Pengadaan leflet tentang 10 daftar penyakit tertinggi di
ruang Dahlia masih belum ada.

2.10.8 M5 (Market)
2.10.8.1 Mengkaji ulang tingkat kepuasan pasien (Instrumen B)
setelah dilakukan intervensi
2.10.8.2 Mengkaji dan mengobservasi tingkat ketergantungan pasien
68

2.10.8.3 Berkerjasama dengan perawat ruangan dan juga mahaswa
praktik dalam hal membantu kebutuhan pasien seperti
personal hygine.




























69

BAB 3
PERMASALAHAN DAN PERENCANAAN KEGIATAN

3.1 Permasalahan
Dari hasil pengkajian selama 3 hari sejak 02 Oktober 2014 s.d 04 Oktober
2014, kelompok mengidentifikasi permasalahan sebagai berikut :
3.1.1 M1 (Man)
3.1.1.1 Kurang tegasnya perawat terhadap pengunjung yang
membawa anak-anak masuk keruang perawatan pasien
3.1.1.2 Pemenuhan kebutuhan dasar yang masih kurang optimal pada
pasien.

3.1.2 M2 (Money)
3.1.2.1 Panjangnya birokrasi untuk permintaan sarana dan prasarana.

3.1.3 M3 (Material)
3.1.3.1 Sebagian besar perawat belum mencuci tangan sebelum
melakukan tindakan keperawatan
3.1.3.2 Sarana dan prasarana sudah tersedia dengan baik seperti
tersedianya perlak kecil untuk melakukan tindakan
keperwatan namun masih belum dipergunakan
3.1.3.3 Belum adanya tanda dengan tulisan pada tabung oksigen
tentang jumlah oksigen yang diberikan
3.1.3.4 Belum adanya kikir ampul di Ruangan

3.1.4 M4 (Metode)
3.1.4.1 SP2KP
a. Sudah ada model SP2KP yang digunakan, namun peran
dan tanggung jawab dalam pelaksanaan SP2KP belum
optimal
b. Model SP2KP hanya terimplementasi pada pagi hari
70

c. Belum semua perawat yang berada di Ruang Dahlia
paham tentang SP2KP.

3.1.4.2 Dokumentasi
a. Ada sebagian status pasien yang belum lengkap
pendokumentasianya
b. Ada sebagian tindakan keperawatan yang belum
terdokumentasikan.
c. Sebagian perawat kurang kesadaran untuk melengkapi
identitas dokumentasi (penandatanganan)

3.1.4.3 Penerimaan pasien baru
a. Belum optimalnya penjelasan tentang fasilitas jam
berkunjung dan tata tertib pengunjung.
b. Belum optimalnya pemberian informasi tentang resiko
tertular penyakit dan anjuran penggunaan masker bagi
keluarga dan pengunjung

3.1.4.4 Timbang terima
a. Timbang terima sudah dilakukan di nurse station hanya
kadang-kadang saja kekamar pasien.
b. Isi timbang terima lebih terfokus kepada tindakan
kolaboratif/medis hanya sebagai yang berfokus pada
masalah keperawatan

3.1.4.5 Ronde Keperawatan
a. Ronde keperawatan belum berjalan dengan optimal
b. Belum ada jadwal rutin pelaksanaan ronde keperawatan



71

3.1.4.6 Sentralisasi obat
a. Pelaksanaan sentralisasi obat belum optimal
b. Belum adanya format persetujuan sentralisasi obat bagi
pasien
c. Belum adanya buku serah terima obat dari keluarga
kepada perawat setelah obat diambil daro depo farmasi.

3.1.4.7 Discharge planning
a. Pelaksanaan discharger planning belum optimal
b. Leaflet tentang TBC sudah ada tapi masih belum semua
pasien mendapatkanya
c. Pemberian pendidikan kesehatan bersifat lisan
d. discharger planning belum terdokumentasikan dengan
baik
e. leaflet tentang 10 daftar penyakit tertinggi di ruang
Dahlia masih belum ada.

3.1.5 M5 (Market)
3.1.5.1 Masih ada sebagian kecil pasien atau keluarga pasien yang
kurang puas dengan pelayanan yang diberikan
3.1.5.2 Perawat masih kurang memperhatikan dengan jumlah
makanan yang dihabiskan, pantangan dalam makanan,
personal hygiene, perawat kurang memberikan penjelasan
akibat dari kurang bergerak/berbaring terlalu lama, perawat
kurang memberikan penjelasan tentang fasilitas yang
tersedia, keluarga kurang mengetahui perawat yang
bertanggung jawab setiap kali pergantian dinas dan perawat
kurang membantu menyiapkan atau meminumkan obat.


72

3.2 Pengorganisasian
Berdasarkan aplikasi analisa situasi ruangan tempat aplikasi system
pemberian pelayanan keperawatan professional (SP2KP), maka kelompok
membuat rencana strategi berdasarkan analisa SWOT sebagai berikut :
3.2.1 pengorganisasian pengelolaan kelompok mahasiswa/i praktik.
Pengorganisasian kelompok ini ditujuan untuk memenuhi keutuhan
kelompok selama melaksanakan praktik manajemen keperawatan.
Pengorganisasian ini dilakukan dengan membentuk struktur kelompok
yang terdiri dari :
Ketua : M. Muyassar Wajdi, S.Kep
Wakil : Vary Citra Ramardany, S.Kep
Sekretaris : Nurdiana, S.Kep
Rissa Roswita, S.Kep
Bendahara : Aisyah, S.Kep
Perlengkapan : Ahmad Ghazali, S.Kep
Amalia Annazah, S.Kep
Muhammad Zaini, S.Kep
Moch. Risqi Shubhi. Rahmat., S.Kep
Humas : Irwan, S.Kep
Nur Hidayanti, S.Kep
Agis Mawarti, S.Kep
Dokumentasi : Rubiyati, S.Kep
Lysna Hilma. A., S.Kep
Siti Hadijah, S.Kep

3.2.2 Pengorganisasian Pengelolaan Ruangan
Ditujuakan untuk pelaksanaan peran fungsi pengelolaan ruangan
perawat selama praktik. Struktur organisasi pengeloaan ruangan
dibentuk berdasarkan rencana pelaksanaan SP2KP : kepala ruangan,
perawat primer (PP), perawat Asosiate (PA). penetapan tugas perawat
di atas dilakukan secara bergantian dengan prinsif setiap mahasiswa/i
73

akan mendapat kesempatan yang sama menduduki posisi dalam
struktur organisasi tersebut.

STRUKTUR ORGANISASI















Gambar 3.1 Struktur Organisasi Sistem Pemberian Asuhan
keperawatan Team Nursing (Marquis dan Huston, 1998:138).

Adapun dalam pengelolaan ruang rawat maka diselenggarakan
pengorganisasian dalam pembagian peran sebagai berikut :
3.2.2.1 Kepala ruangan
Melalui komunikasi : mengawasi dan berkomunikasi dengan
tim keperawatan maupun pelaksanaan mengenai asuhan
keperawatan yang diberikan pada pasien
Melalui supervisi :
a. Pengawasan langsung dilakukan dengan cara inspeksi
mengenal sendiri atau melalui laporan langsung secara lisan
KEPALA RUANGAN
KATIM
PP
KLIEN
PA
KATIM
PP
KLIEN
PA
SUPERVISOR
74

dan memperbaiki atau mengawasi kelemahan-kelemahan
yang ada pada saat itu juga.
b. Pengawasan tidak langsung dilakukan dengan cara
mengecek daftar hadir tim. Membaca dan memeriksa
rencana keperawatan serta catatan yang dibuat selama dan
sesudah proses keperawatan dilaksananakan
(pendokumentasian) mendengarkan laporan ketua tim
tentang pelaksanaan tugas
c. Mengevaluasi upaya pelaksanaan dan membandingkan
dengan rencana keperawatan yang telah disusun bersama
dengan tim keperawatan
d. Audit keperawatan
3.2.2.2 Ketua Tim
a. Membuat rencana asuhan keperawatan
b. Membuat penugasan supervisi dan evaluasi
c. Mengenal dan mengetahui kondisi pasien dan dapat menilai
tingkat kebutuhan pasien
d. Mengembangkan kemampuan anggota
e. Menyelenggarakan konferensi (pre dan paska)

3.2.2.3 Perawat Asosiate/perawat pelaksana
a. Memberikan asuhan keperawatan kepada pasien di bawah
tanggung jawabnya
b. Bekerja sama dengan perawat primer dan perawat asosiate
c. Memberikan laporan.
Pembagian peran ini secara rinci akan dilampirkan, setelah
pelaksanaan sistem pemberian pelayanan keperawatan
profesional.



75

3.3 Perencanaan
3.3.1 M1 (Man)
3.3.1.1 Bekerja sama dengan kepala ruangan, perawat ruang Dahlia
dan juga mahasiswa praktik untuk mensosialisasikan mencuci
tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan keperawatan.
3.3.1.2 Membuat poster tentang anjuran untuk mencuci tangan
sebelum dan sesudah masuk ke kamar pasien dan juga sebelum
dan sesudah melakukan tindakan ke pasien.
3.3.1.3 Menempel pemberitahuan cara mencuci tangan dengan
menggunakan cairan cuci tangan ataupun menggunaka air di
dekat wastafel.
3.3.1.4 Membuat poster tentang larangan anak-anak dibawah usia 12
tahun masuk ke dalam ruangan paru.
3.3.1.5 Bekerja sama dengan perawat ruangan dan juga mahasiswa
praktik untuk menengur/melarang keluarga pasien dan
pengunjung yang membawa anak-anak ke dalam ruang
perawatan.

3.3.2 M2 (Money)
3.3.2.1 Diadakannya RBA terjadwal setahun sebelum tahun anggaran
3.3.2.2 Disediakannya/disiapkan dana untuk kasus emergency/dana
tidak terduga.

3.3.3 M3 (Material)
Memberi tahukan tentang kekurangan laken/sprei ke kepala ruangan
3.3.3.1 Bekerja sama di dalam pengadaan perlak kecil untuk ruangan
3.3.3.2 Mensosialisasikan penggunaan perlak di dalam melakukan
tindakan kepada perawat runagan dan juga mahasiswa yang
praktik.
3.3.3.3 Membuat format untuk jadwal pemberian oksigen.
76

3.3.3.4 Bekerja sama dengan perawat ruangan, mahasiswa praktik
dalam penulisan jumlah oksigen yang diberikan pada pasien
pada format yang telah tersedia.

3.3.4 M4 (Metode)
3.3.4.1 Timbang terima merupakan cara menyampaikan cara
menerima suatu laporan yang berkaitan dengan keadaan klien.
Tujuan timbang terima adalah sebagai berikut :
a. Menyampaikan kondisi dan keadaan pasien.
b. Menyampaikan hal-hal yang sudah dilakukan dalam asuhan
keperawatan pada pasien.
c. Menyampaikan permasalahan pada pasien yang masih ada
dan yang sudah terselesaikan.
d. Menyampaikan hal-hal penting yang harus ditindak lanjuti
oleh dinas berikutnya.
e. Menyusun rencana untuk dinas selanjutnya.
Timbang terima yang efektif dapat dilakukan secara lisan atau
tulisan. Timbang terima yang baik bila semua perawat dapat
mengikuti perkembangan pasien secara kontinu dan dapat
meningkatkan kemampuan komunikasi perawat, kerjasama
yang bertanggung jawab antar anggota tim perawat. Ketentuan
dalam timbang terima itu adalah sebagai berikut :
a. Dilaksanakan pada setiap pergantian shift
b. Dipimpin oleh perawat primer sebagai penanggung jawab
c. Diikuti perawat, mahasiswa dinas yang telah maupun yang
akan berdinas
d. Terdapat unsur bimbingan dan pengarahan dari penanggung
jawab
e. Informasi yang disampaikan harus akurat, singkat,
sistematis, menggambarkan keadaan ruangan saat ini dan
tetap menjaga kerahasiaan pasien
77

f. Timbang terima yang dilakukan harus berorientasi pada
permasalahan keperawatan, rencana, tindakan, dan
perkembangan keselamatan pasien

g. Mekanisme timbang terima :











Deskripsi :
Timbang terima meliputi teknik timbang terima, pembuatan
alat sarana, penentuan materi timbang terima dan
pendokumentasian hasil timbang terima.











Kepala ruangan membimbing, mengarahkan dan
menyelesaikan masalah/problem solving
Diskusi di ners station (karu, perawat primer, staf
perawat) kondisi pasien
Timbang terima di samping pasien, karu,
perawat primer, staf perawat
78

Gambar 3.2 Alur Timbang Terima






























Pasien
Diagnosa
Keperawatan
(didukung Data)
Rencana Tindakan
Diagnosa Medis
Masalah Kolaboratif
Belum Dilakukan
Perkembangan/Keadaan
Pasien
Telah Dilakukan
Masalah
1. Teratasi
2. Belum Teratasi
3. Teratasi Sebagian
4. Muncul Masalah Baru
79

a. Rencana Kegiatan
Kegiatan role play timbang terima rencana dilaksanakan
mulai tanggal 08 Oktober 2014 s.d 23 Oktober 2014 dengan
rencana kegiatan antara lain :
1. Menyusun proposal dan format timbang terima serta
pengisian lebih menekankan segala aspek keperawatan.
2. Melakukan role play tentang timbang terima
3. Melaksanakan timbang terima setiap pergantian shift
dinas di ners station juga validasi data ke kamar pasien
untuk bersama-sama melihat keadaan dan kondisi
pasien.
4. Bekerja sama dengan kepala ruangan dan juga perawat
ruangan dalam hal pendokumentasian.
3.3.4.2 Ronde Keperawatan
Ronde keperawatan adalah kegiatan yang bertujuan untuk
mengatasi masalah keperawatan pasien yang dilaksanakan oleh
perawat selain melibatkan pasien untuk membahas dan
melaksanakan asuhan keperawatan. Pada kasus tertentu harus
dilakukan oleh perawat primer dan atau konselor, kepala
ruangan, perawat pelaksana dan melibatkan seluruh anggota
tim kesehatan (Nursalam, 2013).
Adapun rencana kegiatan ronde keperawatan dilaksanakan
pada hari jumat tanggal 24 oktober pukul 10.00 wita. Pasien
yang akan dijadikan kelolaan yaitu Ny. Y dengan diagnosa
Susp. Ca Paru + Efusi Pleura Dekstra (proposal dan laporan
kegiatan terlampir), kegiatannya antara lain:
a. Menentukan tim ronde keperawatan
b. Menentukan pasien kelolaan yang mempunyai masalah
keperawatan yang belum teratasi meskipun sudah dilakukan
tindakan keperawatan
80

c. Melakukan pengkajian sampai evaluasi terhadap pasien
kelolaan untuk ronde keperawatan
d. Membuat proposal ronde
e. Mempersiapkan pasien dan menyiapkan informed consent
f. Mengundang tenaga kesehatan lainnya untuk pelaksnaan
ronde
g. Diskusikan tentang diagnosis keperawatan, data yang
mendukung, asuhan keperawatan yang sudah dilakukan dan
hambatan selama perawatan
h. Bekerja dengan kepala ruangan untuk penjadwalan kegiatan
ronde keperawatan
3.3.4.3 Sentalisasi obat
Sentralisasi obat adalah pengelolalan obat dimana seluruh obat
yang akan diberikan kepada pasien kepada pasien diserahkan
pengelolaan seluruhnya oleh perawat (Nursalam,2007).
Kegiatan sentralisasi obat direncanakan dilaksanakan pada saat
kegiatan role play yaitu mulai tanggal 08 Oktober 2014 s.d
23 Oktober 2014, dengan rencana kegiatan antara lain:
a. Mengoptimalkan pelaksanaan sentralisasi obat
b. Bekerjasama dengan perawat ruangan, mahasiswa praktik
dalam hal sosialisasi pelaksanaan sentralisasi obat.
c. Mensosialisasikan penggunaan format persetujuan
(informed consent) pengelolaan sentralisasi obat.
d. Membuat dan mengisi buku serah terima obat.
3.3.4.4 Discharge Planning
Discharge planning atau perencanaan pulang merupakan
komponen sistem perawata berkelanjutan, pelayanan yang
diperlukan klien secara berkelanjutan, pelayanan yang
diperlukan klien secara berkelanjutan dan bantuan untuk
perawatan berlanjut pada klien dan membantu keluarga
menemukan jalan pemecahan masalah dengan baik, pada saat
81

tepat dan sumber yang tepat dengan harga terjangkau (Doenges
& Moorhouse).
Kegiatan Discharge Planning direncanaan dilakukan saat role
play yaitu mulai tanggal 08 Oktober 2014 s.d 23 Oktober
2014,dengan rencana kegiatan:
a. Membuat perencanaan tentang rencana pulang yang sesuai
standar
b. Melengkapi brosur/ leaflet tentang TB Paru
c. Mensosialisasikan kegiatan discharge planning dan
pemberian brosur/leaflet
d. Mendokumentasikan pelaksanaan rencana pulang.
3.3.4.5 Penerimaan pasien baru
Penerimaan pasien baru merupakan salah satu bentuk
pelayanan kesehatan yang komprehensif, melibatkan klien dan
keluarga, dimana sangat mempengaruhi mutu kualitas
pelayanan (Nursalam,2013). Rencana kegiatan yang akan
dilaksanakan antara lain :
a. Bekerjasama dengan perawat ruangan dan juga mahasiswa
praktik didalam menjelaskan tata tertib yang ada di
ruangan.
b. Memberikan informasi kepada pasien maupun keluarga
tentang risiko tertular penyakit dan menganjurkan pada
pasien maupun keluarga untuk menggunakan masker.
3.3.4.6 Dokumentasi keperawatan
a. Bekerjasama dengan perawat ruangan dan juga
mahasiswa praktik di dalam pendokumentasian asuhan
keperawatan
b. Melaksanakan pembuatan diagnosa berdasarkan PES
bersama perawat ruangan dan mahasiswa praktik.


82

3.3.4.7 M5 (Market)
a. Mengkaji ulang tingkat kepuasan pasien (instrument B)
setelah dilakukan intervensi
b. Mengkaji dan mengobservasi tingkat ketergantungan
pasien
c. Bekerjasama dengan perawat ruangan dan juga mahasiswa
praktik dalam hal membantu kebutuhan pasien seperti
personal hygiene























83

BAB 4
PELAKSANAAN DAN EVALUASI

4.1 Pelaksanaan
Pada bab ini kami uraikan tentang aplikasi model praktik keperawatan
profesional dalam manajemen keperawatan di ruang Dahlia (paru) BLUD
RSUD Ulin Banjarmasin. Role play manajemen keperawatan dilaksanakan
pada tanggal 8 oktober s.d 23 oktober 2014 di ruang Dahlia (paru) BLUD
RSUD Ulin Banjarmasin meliputi pelaksanaan SP2KP dengan melakukan
pendokumentasian proses keperawatan, penerimaan pasien baru, sentralisasi
obat, timbang terima, ronde keperawatan dan discharge planning.
4.1.1 M1 (Man)
Mahasiswa stage manajemen keperawatan kelompok 1 berjumlah 15
orang, yang di bagi dalam 3 shift dinas, yaitu dinas pagi, sore dan
malam.selain itu di tambah juga dengan mahasiswa lain yang
berpraktik di ruang Dahlia yaitu mahasiswa S1 NERS STIKES Sari
Mulia, mahasiswa DIII keperawatan STIKES Muhammadiyah
Banjarmasin , mahasiswa DIII keperawatan Pandan Harum.
Dukungan yang diberikan oleh kepala ruangan, supervisor, dan
petugas kesehatan di ruangan dahlia (paru) yang membantu dan
membimbing selama pelaksanaan stage manajemen keperawatan
dalam melaksanakan asuhan keperawatan kepada pasien di ruang
Dahlia (paru).
Kendala yang dihadapi adalah keterbatasan pengetahuan mahasiswa
stage manajemen tentang peran dan fungsinya dalam pelaksanaan role
play SP2KP dan adanya sebagian mahasiswa diluar stage manajemen
keperawatan yang belum memahami peran dan fungsi sebagai perawat
assosiatif/ perawat pelaksana.
4.1.1.1 Permasalahan
Dari data yang didapatkan pada ketenagaan mendapatkan
masalah yaitu:
84

a. Kurang tegasnya perawat terhadap pengunjung yang
membawa anak-anak (< 12 tahun) ke dalam ruang
perawatan pasien.
b. Pemenuhan kebutuhan dasar yang masih kurang optimal
pada pasien.
4.1.1.2 Pelaksanaan Kegiatan
Pelaksanaan kegiatan yang telah dilakukan oleh kelompok 1
stage manajemen adalah:
a. Membuat poster tentang larangan keluarga pasien duduk/
istirahat di bed kosong .
b. Membuat poster tentang larangan anak-anak dibawah usia
12 tahun masuk ke dalam ruangan Dahlia (Paru).
c. Bekerjasama dengan perawat ruangan dan juga mahasiswa
praktik untuk menegur/melarang pengunjunng / keluarga
pasien yang membawa anak-anak ke ruang perawatan.
d. Membuat poster tentang pemenuhan kebutuhan dasar pasien
(personal Hygene).
e. Bekerjasama dengan perawat ruangan dan juga mahasiswa
praktik untuk saling mengingatkan agar selalu memenuhi
kebutuhan dasar pasien baik sekedar menanyakan pasien
apakah hari ini sudah makan dan mengingatkan
pasien/keluarga untuk melakukan personal hygene pada
pasien di Ruang Dahlia (Paru).
4.1.1.3 Evaluasi Hasil Keperawatan
Terpasang poster larangan anak yang berusia kurang dari 12
tahun masuk ke kamar perawatan dan juga terpasang poster
tentang pemenuhan kebutuhan dasar pasien (personal Hygene)
yaitu peringatan jagalah kebersihan diri anda dan gosok gigi 3
kali sehari.


85

4.1.1.4 Dukungan dan Hambatan
a. Dukungan
Kegiatan ini mendapat dukungan dari perawat ruangan
maupun mahasiswa yang praktik di ruang Dahlia (Paru).
b. Hambatan
Ada sebagian keluarga pasien yang belum mematuhi aturan
/ tata tertib ruagan dengan membawa anak-anak masuk ke
dalam rungan pasien dengan alasan tidak ada keluarga yang
menunggu anaknya di rumah.

4.1.2 M2 (Money)
4.1.2.1 Permasalahan
Panjangnya birokrasi untuk permintaan sarana dan prasarana
4.1.2.2 Pelaksanaan Kegiatan
a. Mengadakan RBA terjadwal setahun sebelum tahun
anggaran, merinci sarana dan prasarana yang ingin/dibeli
sesuai keperluan.
b. Menyiapkan dan menyediakan dana untuk kasus
emergency/dana tidak terduga.
4.1.2.3 Evaluasi
Sudah terperincinya daftar sarana dan prasarana yang akan
dibeli sesuai kebutuhan untuk satu tahun yang akan datang
4.1.2.4 Dukungan dan Hambatan
a. Dukungan
Kegiatan ini mendapat dukungan pendanaan dari BLUD,
APBN dan APBD
b. Hambatan
Kegiatan ini dilakukan di ruangan sehingga mahasiswa
hanya mengobservasi


86

4.1.3 M 3 (Material)
Pelaksanaan dari perencanaan untuk memperbaiki sarana dan
prasarana di lakukan mulai tanggal 08 Oktober 2014, yang meliputi :
Memasang poster-poster di kamar- kamar pasien tentang menjaga
kebersihan, mencuci tangan, tata tertib, himbauan untuk tidak
membawa anak kecil, anjuran untuk memakai masker, menempel
tabel identitas pasien di dekat bed pasien.
Mensosialisasikan penggunaan perlak didalam melakukan tindakan
kepada perawat ruangan dan juga mahasiswa yang praktik.
Memasang lembar observasi jumlah oksigen yang diberikan kepada
pasien.
Melakukan kegiatan kerja bakti membersihkan ruangan
bekerjasama dengan perawat ruangan, mahasiswa stase
manajemen, mahsiswa lain yang praktik di ruang Dahlia (Paru).
Membersihan alat nebulizer.
Membersihkan kamar-kamar ruagan pasien dan melakukan cek
ulang terhadap fasilitas yang ada pada ruangan tersebut.
4.1.2.1 Permasalahan
a. Belum adanya tanda dengan tulisan pada tabung oksigen
tentang jumlah oksigen yang diberikan.
b. Belum adanya pemberitahuan cara mencuci tangan dengan
menggunakan air dan sabun.
c. Belum tersedianya kikir / gargaji ampul untuk membuka
obat injeksi
4.1.2.2 Pelaksanaan Kegiatan
a. Menempel pemberitahuan cara mencuci tangan dengan
menggunakan cairan cuci tangan ataupun menggunkan air
di dekat wastafel.
b. Bekerja sama dengan kepala ruangan, perawat ruang dahlia
dan juga mahasiswa praktik unntuk mensosialisasikan
87

mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan
keperawatan.
c. Mensosialisasikan penggunaan perlak didalam melakukan
tindakan kepada perawat ruangan dan juga mahasiswa yang
praktik.
d. Mensosialisasikan penggunaan perlak di dalam melakukan
tindakan kepada perawat ruangan dan juga mahasiswa
praktik.
e. Bekerjasama dengan perawat ruangan, mahasiswa praktik
dalam penulisan jumlah oksigen yang dibeikan pada pasien
4.1.2.3 Evaluasi
Sebagian besar perawat ruangan dan juga mahasiswa praktik
sudah mencuci tangan sebelum melakukan tindakan
keperawatan. Terpasang anjuran untuk mencuci tangan
sebelum dan sesudah ke kamar pasien di dekat wastafel.
Pelaksanaan tindakan keperawatan seperti memasang infus,
menyuntik pasien dan juga tindakan lainnya sudah
menggunakan perlak kecil yang telah disediakan. Telah
terpasang format jumlah pemberian oksigen di tabung. Untuk
pengadakan kikir/gergaji ampul untuk saat ini sudah tidak
tersedia lagi, dikarenakan saat ini beberapa jenis obat telah
dikemas di dalam vial dan sebagian yang menggunakan ampul
telah diberi tanda titik (.) sehingga memudahkan ampul obat
untuk di patahkan.
4.1.2.4 Dukungan dan hambatan
a. Dukungan
Kegiatan pengadaan sarana dan prasarana yang belum
tersedia mendapat dukungan dari kepala ruangan dan juga
perawat ruangan. Adanya kerjasama yang baik antara
perawat ruangan, mahasiswa stase manajemen dan juga
88

mahasiswa lainnya di dalam penggunaan sarana yang
tersedia.
b. Hambatan
Belum terbiasa dalam pengguaan sarana yang tersedia.

4.1.3 M 4 (Metode)
4.1.3.1 Penerimaan pasien Baru
Jumlah pasien baru masuk dari tanggal 08 Oktober 2014 s.d
22 Oktober 2014 adalah 32 orang. Penerimaan pasien baru
dilakukan menggunakan acuan SOP (Satuan Operasional
Prosedur) penerimaan pasien baru yang disusun saat
perencanaan.
Tabel 4.1 Rekapitulasi penerimaan pasien 08 Oktober 2014
s.d 22 Oktober 2014
No Tanggal Nama pasien
Perawat penerima
pasien
1. 09-10-2014 Tn. N Amalia A
2. 10-10-2014 Tn. K Nurdiana
3. 10-10-2014 Tn. J Aisyah
4. 12-10-2014 Ny. S Nur Hidayanti
5. 12-10-2014 Ny. A Nur Hidayanti
6. 13-10-2014 Ny.R Citra
7. 14-10-2014 Tn. A Nur Hidayanti
8. 14-10-2014 Tn A Rissa R
9 14-10-2014 Tn. P Rissa R
10 15-10-2014 Tn. S Agis Mawarti
11 17-10-2014 Tn.M Agis Mawarti
12 15-10-2014 Ny. S Rissa R
13 16-10-2014 Tn. L Rubiyati
14 16-10-2014 Tn. B Nur Hidayanti
15 16-10-2014 Tn. M Agis Mawarti
16 16-10-2014 Ny S Agis Mawarti
17 18-10-2014 Tn. M Amalia A
18 18-10-2014 Ny. R Amalia A
19 18-10-2014 Tn. A Amalia A
20 19-10-2014 Tn. J Vary Citra R
27 20-10-2014 Ny K M. Muyassar W
28 20-10-2014 Tn. T M. Muyassar W
29 20-10-2014 Tn. S M. Muyassar W
30 21-10-2014 Tn M Moch. Rizqi Shubhi R
31 22-10-2014 Tn. J Nur Hidayanti
32 22-10-2014 Tn. N Amalia A

89

4.1.3.2 Timbang terima
Pelaksanaan role play timbang terima pasien mulai
dilaksanakan oleh kelompok 1 stase manajemen pada tanggal
08 oktober 2014 s.d 22 Oktober 2014. Kegiatan role play
setiap hari dibimbing oleh pembimbing lahan (CI ) yaitu
kepala ruang Dahlia ( Paru ). Kegiatan ini diikuti oleh
mahasiswa stase manajemen, perawat ruangan, dan juga
mahasiswa lain yang sedang praktik di Ruang Dahlia ( Paru ).
Dalam kegiatan timbang terima, perawat primer yang bertugas
pada shift malam melakukan timbang terima (overan ) kepada
ketua tim yang bertugas pada shift pagi, begitu juga dari
perawat yang dinas shift pagi ke shift sore dan dari shift
siang/sore ke shift malam, baik secara tertulis maupun secara
lisan. Materi terimakan adalah jumlah pasien yang dirawat,
tingkat ketergantungan pasien, masalah keperawatan yang
sudah dilaksanakan maupun yang belum dilaksanakan, rencana
tindakan serta perkembangan pasien. Timbang terima diawali
dengan penyampaian informasi perkembangan pasien di nurse
station oleh perawat yang dinas, setelah itu dilanjutkan
berdoa bersama sebelum memulai kegiatan, dan dilanjutkan
dengan memvalidasi data yang telah disampaikan langsung ke
kamar pasien. Setelah mevalidasi data ketua tim (perawat
primer) mendelegasikan rencana tindakan pada pasien kelolaan
kepada perawat pelaksana ( PA).
a. Hambatan
1. Ada beberapa perawat ruangan dan juga mahasiswa yang
datang terlambat saat akan dilakukan timbang terima
dengan alasan yang bisa diterima oleh anggota yang lain.
2. Keterbatasan pengetahuan mahasiswa yang sedang
praktik stase manajemen tentang pelaksanaan timbang
90

terima yang baik dan benar sesuai SOP, sehingga
terkadang pelaksanaan timbang terima kurang optimal.
b. Dukungan
1. Pembimbing lahan membimbing dan memberikan
mengarahkan dalam pelaksanaan role play timbang
terima dan juga memberi masukan-masukan demi
perbaikan pelaksanaan timbang terima.
2. Adanya kerjasama dan partisipasi perawat ruangan
dalam kegiatan timbang terima.
3. Adanya kerjasama dari pasien dan keluarga didalam
pelaksanaan timbang terima terutama didalam kegiatan
validasi data dikamar pasien.
4. Adanya kerjasama dan partisipasi dari mahasiswa lain
yang praktik di Ruang dahlia ( paru ) dalam pelaksanaan
tembang terima.

4.1.3.3 Ronde Keperawatan
a. Pelaksanaan
Pelaksanaan Ronde keperawatan dilakukan pada hari
Jumat, 24 Oktober 2014 sebelumnya dilakukan pengkajian
pada pasien yang memenuhi kriteria yang ditentukan.
Pengkajian dilakukan selama 3 hari dari tanggal 20 Oktober
s.d 23 Oktober 2014 dengan pasien yang bernama Tn.Y
dengan diagnosa medis yaitu Susp CA Paru + Efusi Pleura.
b. Pengorganisasian
Kepala Ruangan : Rubiyati, S. Kep
Ketua Tim I ( PP ) : Siti Hadijah, S. Kep
Ketua Tim II ( PP ) : Nur Hidayanti, S. Kep
Perawat Pelaksana ( PP ) : Amalia A, S. Kep
Penanggung jawab : M. Muyassar W, S. Kep
Dokumentasi : Vary Citra R, S. Kep
91

Pembimbing akademik : Yustan Azidin,Ns., M. Kep
Pembimbing Klinik : Mahdalena,Ns.,MM
c. Hambatan
1. Masih kurangnya pengetahuan mahasiswa stase
management tentang penyakit dan komplikasi yang
diderita pasien yang akan dilakukan ronde sehingga
pengkajian yang dilakukan masih belum menyeluruh.
2. Masih kurangnya pengetahuan mahasiswa stase
management terhadap diagnosa pasien Susp CA Paru +
Efusi Pleura dengan komplikasinya sehingga dalam
penentuan diagnosa keperawatan dan pelaksanaan
tindakan keperawatan yang tepat.
3. Terlambatnya waktu dalam memulai kegiatan ronde
dikarenakan kesibukan dari peserta dan tim konselor
yang akan mengikuti kegiatan ronde sehingga waktu
pembahasan agak berkurang.
4. Minimnya pengetahuan mahasiswa stase manajemen
tentang pelaksanaan ronde keperawatan sehingga
kegiatan yang dilakukan belum optimal dan kurang
sesuai dengan SOP.
d. Dukungan
1. Adanya kerjasama yang baik serta partisipasi dari pihak
dokter spesial paru/resident, konselor gizi, Kabid
Keperawatan, IRNA Non Bedah, kepala ruangan Dahlia,
supervisor ruang Dahlia, dan juga pembimbing klinik
dalam pelaksanaan ronde keperawatan.
2. Adanya kemauan dari mahasiswa stase manajemen untuk
bersama-sama membahas masalah yang belum bisa
teratasi demi kebaikan status kesehatan pasien tersebut
92

3. Adanya kerjasama yang baik antara pasien dan
keluarganya dalam proses berjalannya ronde
keperawatan.
4.1.3.4 Sentralisasi Obat
a. Persiapan
1. Pembuatan format persetujuan sentralisasi obat.
2. Pembuatan buku serah terima.
3. Pembuatan format pendokumentasian pemberian obat
baik injeksi maupun oral.
4. Sosialisasi pelaksanaan sentralisasi obat.
b. Pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan dilakukan selama kegiatan role play
manajemen dari tanggal 8 oktober s.d 22 Oktober 2014.
Kegiatan dimulai dengan penjelasan tentang sentralisasi
obat dan juga tujuannya kepada pasien/keluarga pasien,
setelah pasien/keluarga setuju dan menandatangani
lembaran persetujuan dilakukannya sentralisasi obat,
dimana obat apotik/depo farmasi yang diambil oleh
keluarga dicatat jumlah, dosisnya dibuku serah terima obat
dan di tanda tangani oleh keluarga.
Pelaksanaan sentralisasi obat telah dilaksanakan secara
optimal dimana telah disediakannya lembar persetujuan
sentralisasi obat yang di tanda tangani oleh pasien ataupun
keluarganya, tersedianya buku serah terima obat, dann
pengisian di status pasien. Dimana kegiatan ini dapat
terlaksana berkat dukungan dari kepala ruangan dahlia,
kerjasama dengan perawat ruangan dan juga dengan
mahasiswa yang praktik di ruang dahlia.
c. Hambatan
1. Belum terbiasa dengan format persetujuan sentralisasi
obat.
93

2. Terjadi ketidakseimbangan jadwal atau resep yang
datang tidak tepat waktu.
d. Dukungan
1. Pasien dan keluarga menerima proses sentralisasi obat.
2. Adanya kerjasama dengan perawat ruangan dan
mahasiswa praktik dalam pelaksanaan sentralisasi obat.
3. Seluruh obat yang diresepkan telah diserahkan ke
perawat.
4. Peminjam jenis obat yang belum ada. Penggantian
dilakukan segera setelah obat diresepkan dan diserahkan
ke perawat.
5. Bahan habis pakai dilakukan program penggunaan 1 kali
pakai langsung dibuang.
6. Berkolaborasi dengan medis untuk perubahan jenis obat
yang sesuai.
4.1.3.5 Discarge Planning
Pelaksanaan discarge planning dilakukan mulai tanggal 08
Oktober 2014 s.d 22 Oktober 2014 Dilaksanakan pada pasien
yang rencana diperbolehkan untuk pulang.
a. Hambatan
1. Masih kurangnya beberapa materi penyuluhan terkait
2. Minimnya pengetahuan mahasiswa stase manajemen
dalam hal discarge planning.
b. Dukungan
1. Adanya kerjasama yang baik antara perawat ruangan
dengan mahasiswa stase manajemen didalam
pelaksanaan discarge planning.
2. Tersedianya leaflet tentang TB paru, Ca Paru, dan Efusi
Pleura.
3. Pasien dan keluarga dapat memperhatikan semua materi
yang diberikan.
94

4.1.3.6 Dokumentasi
Sesuai dengan diadakannya role play oleh kelompok 1 yang
menangani ruang perawatan dahlia kelas 3 khusus kamar I
Non infeksius dan Kamar II Infeksius di mana pada kamar
tersebut berisi 10 bed maka kelompok juga memiliki
dokumentasi perawatan tersendiri khusus untuk pasien-pasien
kelolaan tersebut. Perancanaan penyusunan dokumentasi
keperawatan khususnya untuk perawatan pasien ruang paru,
maka kelompok melakukan uji coba pendokumentasian asuhan
keperawatan yang efektif kepada setiap pasien. Kelompok
melakukan uji coba pendokumentasian asuhan keperawatan
dengan SOAPIER. Adapun pelaksanaannya dimulai tanggal 8
Oktober s.d 22 Oktober 2014. Pengisian intervensi dilakukan
oleh perawat primer dan dilaksanakan oleh perawat primer.
Pengisian SOAPIER sesuai dengan masalah keperawatan yang
ada pada pasien tersebut. Selain itu juga pendokumentasian
dilakukan oleh mahasiswa dengan mengisi dokumentasi
keperawatan di status pasien, dan membuat laporan dinas di
setiap shift.

4.1.4 M5 (Market)
1. Instrumen A (Pendokumentasian Asuhan Keperawatan)
Hasil Evaluasi Penerapan SAK
a. Hasil evaluasi penerapan standar asuhan keperawatan
1) Pengkajian
No Aspek Yang Dinilai Before After


1



2

Pengkajian

Mencatat data yang dikaji
sesuai dengan pedoman
pengkajian

Data dikelompokan (bio-
psiko-sosial-spiritual)


75%



75%



100%



100%

95

3


4
Data dikaji sejak pasien
masuk sampai pulang

Masalah dirumuskan
berdasarkan kesenjangan
antara status kesehatan
dengan norma dan pola
fungsi kehidupan
75%


75%
100%


100%
PERSENTASE 75% 100%

Dari tabel di atas, dapat dilihat terjadi peningkatan dari aspek
pengkajian asuhan keperawatan yang terjadi di Ruang Dahlia
RSUD Ulin Banjarmasin, dimana sebelum dilakukan
manajemen penerapan SAK nilai persentase keseluruhan adalah
75% dan setelah dilakukan manajemen penerapan SAK nilai
persentase keseluruhannya menjadi 100%.

2) Diagnosa
No Aspek Yang Dinilai Before After


1



2


3
Diagnosa

Diagnosa keperawatan
berdasarkan masalah yang
telah dirumuskan

Diagnosa keperawatan
mencerminkan FE/PES

Merumuskan diagnosa
keperawatan actual /
potensal
75%




75%



75%
100%




100%



100%
PERSENTASE 75% 100%

Dari tabel di atas, dapat dilihat terjadi peningkatan dari aspek
diagnosa keperawatan asuhan keperawatan yang terjadi di
Ruang Dahlia RSUD Ulin Banjarmasin, dimana sebelum
dilakukan manajemen penerapan SAK nilai persentase
keseluruhan adalah 75% dan setelah dilakukan manajemen
penerapan SAK nilai persentase keseluruhannya menjadi 100%.


96

3) Rencana
No Aspek Yang Dinilai Before After


1




2
Rencana

Merumuskan perencanaan
sesuai dengan diagnosa
yang didapat saat
pengkajian

Menetapkan rencana
keperawatan sesuai dengan
prioritas masalah
75%




75%
100%




100%
PERSENTASE 75% 100%

Dari tabel di atas, dapat dilihat terjadi peningkatan dari aspek
rencana asuhan keperawatan yang terjadi di Ruang Dahlia
RSUD Ulin Banjarmasin, dimana sebelum dilakukan
manajemen penerapan SAK nilai persentase keseluruhan adalah
75% dan setelah dilakukan manajemen penerapan SAK nilai
persentase keseluruhannya menjadi 100%.

4) Tindakan
No Aspek Yang Dinilai Before After


1



2



3




4
Implementasi

Tindakan dilaksanakan
mengacu pada rencana
keperawatan

Perawat mengobservasi
respon klien terhadap
tindakan keperawatan

Revisi tindakan
berdasarkan hasil evaluasI

Semua tindakan yang telah
dilaksanakan dicatat
ringkas dan jelas


87,5%



50%



87,5%



87,5%


87,5%



62,5%



75%



75%
PERSENTASE 78% 75%

Dari tabel di atas, dapat dilihat terjadi penurunan dari aspek
tindakan asuhan keperawatan yang terjadi di Ruang Dahlia
97

RSUD Ulin Banjarmasin, dimana sebelum dilakukan
manajemen penerapan SAK nilai persentase keseluruhan adalah
78% dan setelah dilakukan manajemen penerapan SAK nilai
persentase keseluruhannya menjadi 75%.

5) Evaluasi
No Aspek Yang Dinilai Before After


1


2
Evaluasi

Evaluasi mengacu pada
tujuan

Hasil evaluasi dicatat


62,5%


87,5%


87,5%


100%
PERSENTASE 75% 94%

Dari tabel di atas, dapat dilihat terjadi peningkatan dari aspek
evaluasi asuhan keperawatan yang terjadi di Ruang Dahlia
RSUD Ulin Banjarmasin, dimana sebelum dilakukan
manajemen penerapan SAK nilai persentase keseluruhan adalah
62,5% dan setelah dilakukan manajemen penerapan SAK nilai
persentase keseluruhannya menjadi 94%.

6) Catatan Asuhan Keperawatan
No Aspek Yang Dinilai Before After



1


2



3



4




Catatan Asuhan
Keperawatan

Menulis pada format yang
baku

Pencatatan dilakukan
sesuai dengan tindakan
yang dilaksanakan

Pencatatan ditulis dengan
jelas, ringkas, istilah yang
baku dan benar

Setiap melakukan tindakan
/ kegiatan perawat
mencantumkan paraf /
nama jelas dan tanggal jam
dilakukannya tindakan



75%


75%



62,5%



75%







100%


100%



100%



100%




98

5 Berkas catatan
keperawatan disimpan
sesuai dengan ketentuan
yang berlaku
87,5% 62,5%
PERSENTASE 75% 94%

Dari tabel di atas, dapat dilihat terjadi peningkatan dari aspek
catatan asuhan keperawatan yang terjadi di Ruang Dahlia RSUD
Ulin Banjarmasin, dimana sebelum dilakukan manajemen
penerapan SAK nilai persentase keseluruhan adalah 75% dan
setelah dilakukan manajemen penerapan SAK nilai persentase
keseluruhannya menjadi 94%.

7) Rekapitulasi Hasil Evaluasi Penerapan SAK (Instrumen A)
No. Aspek yang dinilai Before After
1 Pengkajian 75% 100%
2. Diagnosa 75% 100%
3 Rencana 62,5% 100%
4 Tindakan 78% 75%
5 Evaluasi 75% 94%
6 Catatan keperawatan 75% 94%
Rata rata 73,4% 88%


2. Instrumen B (Kepuasan Pasien). Hasil kuesioner kepuasan pasien
setelah dilakukan intervensi.
No Pertanyaan
Before After
Ya Tidak Ya Tidak
1.
Perawat memperkenalkan diri
kepada pasien/keluarga
7 Orang
(82,5%)
1Orang
(12,5%)
6 Orang
(70%)
2 Orang
(30%)
2.
Apakah perawat melarang anda
atau pengunjung merokok
diruangan
5 Orang
(62,5%)
3 Orang
(37,5%)
7 Orang
(87,5%)
1 Orang
(12,5%)
3.
Apakah perawat selalu
menanyakan bagaimana nafsu
makan anda atau keluarga anda.
8 Orang
(100%)
0 Orang
(0%)
5 Orang
(62,5%)
3 Orang
(37,5%)
4.
Apakah perawat pernah
menanyakan pantangan dalam hal
makanan anda atau keluarga anda
3 Orang
(37,5%)
5 Orang
(62,5%)
5 Orang
(62,5%)
3 Orang
(37,5%)
5. Apakah perawat menyakan atau 2 Orang 6 Orang 5 Orang 3 Orang
99

memperhatikan beberapa jumlah
makanan dan minuman yang biasa
anda dan keluarga habiskan.
(25%) (75%) (62,5%) (37,5%)
6.
Apabila anda atau keluarga anda
tidak mampu makan sendiri
apakah perawat membantu
menyuapinya.
3 Orang
(37,5%)
5 Orang
(62,5%)
4 Orang
(50%)
4 Orang
(50%)
7.
Pada saat anda dipasang infuse
apakah perawat selalu memeriksa
cairan atau tetesannya dan area
sekitar pemasangan jarum infuse.
8 Orang
(100%)
0 Orang
(0%)
8 Orang
(100%)
0 Orang
(0%)
8.
Apabila anda dan keluarga
mengalami kesulitan BAB apakah
perawat menganjurkan makan
buah-buahan, sayur, minum yang
cukup dan banyak bergerak.
8 Orang
(100%)
0 Orang
(0%)
8 Orang
(100%)
0 Orang
(0%)
9.
Pada saat perawat membantu anda
dan keluarga waktu BAB atau
BAK, apakah perawat memasang
sampiran atau selimut, menutup
pintu jendela, mempersilahkan
pengunjung keluar ruangan.
6 Orang
(75%)
2 Orang
(25%)
5 Orang
(62,5%)
3 Orang
(100%)
10.
Apakah ruangan tidur anda dan
keluarga selalu dijaga
kebersihannya dengan disapu dan
dipel tiap hari.
7 Orang
(87,5%)
1 Orang
(12,5%)
8 Orang
(100%)
0 Orang
(0%)
11.
Apakah lantai kamar mandi / Wc
selalu: bersih, tidak licin,tidak
berbau, cukup terang.
5 Orang
(62,5%)
3 Orang
(37,5%)
5 Orang
(62,5%)
3 Orang
(37,5%)
12.
Selama anda atau keluarga anda
belum mampu mandi (dalam
keadaan istirahat total) apakah
dimandikan oleh perawat.
3 Orang
(37,5%)
5 Orang
(62,5%)
4 Orang
(50%)
4 Orang
(50%)
13.
Apakah anda atau keluarga anda
dibantu oleh perawat, jika tidak
mampu menggosok gigi,
membersihkan mulut, atau
mengganti pakaian, atau menyisir
rambut.
3 Orang
(37,5%)
5 Orang
(62,5%)
4 Orang
(50%)
4 Orang
(50%)
14.
Apakah alat-alat tenun seperti
sprai, selimut, dan lain-lain diganti
setiap kotor.
6 Orang
(75%)
2 Orang
(25%)
8 Orang
(100%)
0 Orang
(0%)
15.
Apakah perawat pernah
memberikan penjelasan akibat
dari: kurang bergerak, berbaring
terlalu lama.
4 Orang
(50%)
4 Orang
(50%)
7 Orang
(87,5%)
1 Orang
(12,5%)
16.
Pada saat anda atau keluarga anda
masuk rumah sakit, apakah
perawat memberikan penjelasan
tentang fasilitas yang tersedia dan
cara penggunaannya, peraturan
atau tata tertib yang berlaku di
rumah sakit
5 Orang
(62,5%)
3 Orang
(37,5%)
6 Orang
(75%)
2 Orang
(25%)
17.
Selama anda atau keluarga dalam
perawatan, apakah perawat:
7 Orang
(87,5%)
1 Orang
(12,5%)
8 Orang
(100%)
0 Orang
(0%)
100

memanggil nama dengan benar
18.
Selama anda atau keluarga anda
dalam perawatan, apakah perawat
mengawasi keadaan anda secara
teratur pada pagi, sore maupun
malam hari.
7 Orang
(87,5%)
1 Orang
(12,5%)
8 Orang
(100%)
0 Orang
(0%)
19.
Selama anda atau keluarga anda
dalam perawatan apakah perawat
segera member bantuan saat
diperlukan.
8 Orang
(100%)
0 Orang
(0%)
8 Orang
(100%)
0 Orang
(0%)
20.
Apakah perawat ramah dan sopan? 8 Orang
(100%)
0 Orang
(0%)
8 Orang
(100%)
0 Orang
(0%)
21.
Selama anda atau keluarga anda
mengetahui perawat yang
bertanggung jawab setiap kali
pergantian dinas.
8 Orang
(100%)
0 Orang
(0%)
8 Orang
(100%)
0 Orang
(0%)
22.
Apakah perawat selalu
memberikan penjelasan sebelum
melakukan tindakan perawatan
atau pengobatan.
6 Orang
(75%)
2 Orang
(25%)
6 Orang
(75%)
2 Orang
(25%)
23.
Aspakah perawat selalu bersedia
mendengarkan atau
memperhatikan setiap keluhan
anda atau keluarga anda.
8 Orang
(100%)
0 Orang
(0%)
7 Orang
(87,5%)
1 Orang
(12,5%)
24.
Dalam hal memberikan obat
apakah perawat membantu
menyiapkan atau meminumkan
obat.
4 Orang
(50%)
4 Orang
(50%)
5 Orang
(62,5%)
3 Orang
37,5%)
25.
Selama anda atau keluarga anda
dirawat apakah diberikan
penjelasan tentang perawtan atayu
pengobatan atau pemeriksaan
lanjutan setelah anda atau keluarga
anda diperbolehkan pulang.
5 Orang
(62,5%)
3 Orang
(37,5%)
6 Orang
(75%)
2 Orang
(25%)


a. Kesimpulan dari pertanyaan terbuka pada angket kepuasan
pasien sebagian besar responden mengatakan perawat yang
bekerja di ruang Dahlia baik dan ramah
b. Hasil evaluasi persepsi pasien/keluarga terhadap mutu asuhan
keperawatan di Ruang Dahlia RSUD Ulin Banjarmasin
(Instrumen B) yang dilakukan pada tanggal 19 22 Oktober
2014 pada 8 pasien/keluarga pasien yang telah dirawat inap
lebih dari 2 hari, adalah 79.5 % pasien/keluarga pasien
menyatakan mutu pelayanan di Ruang Dahlia (Paru) sudah baik,
101

tetapi masih ada beberapa item yang nilainya masih kurang
antara lain :
1) 50 % perawat kurang membantu pasien dalam melakukan
menyuapi pasien, hal ini dikarenakan sebagian besar pasien
yang di rawat ruang Dahlia (Paru) tingkat
ketergantungannya parsial care, sehingga pasien masih bisa
melakukan makan sendiri tanpa bantuan dan terkadang
keluarga yang menyuapi pasien.
2) 50% perawat yang membantu pasien dalam melakukan
personal hygiene pasien yaitu membantu memandikan /
menyeka pasien, hal ini dikarenakan sebagian besar
pasien yang di rawat ruang Dahlia (Paru) tingkat
ketergantungannya parsial care. Ada sebagian pasien
yang mandi ke kamar mandi sendiri dan ada juga
pasien di seka/ dimandikan oleh keluarganya.

Keterangan :



Nilai Persepsi Mutu Askep dinyatakan baik bila > 75%




3. Instrumen C (Penerapan SAK)
Instrumen C (Pelaksanaan Tindakan Keperawatan)
No Aspek yang dinilai Presentasi
Before After
1 Memberikan Oksigen 81,5% 95%
2 Memasang Infus 80% 99%
3 Memberikan Transfusi 85% 96%
4 Memberikan obat suntikan IV
perinfus
90,4% 94%
% Persepsi Mutu Askep = Pertanyaan Ya
Pertanyaan Ya+Tidak

X 100
%
Persepsi mutu Askep = 159
159 + 41

X 100 % = 79,5 %
102

5 Mengukur tekanan darah 92,3% 100%
Total (%) 81,1% 97%

Instrumen C (Pelaksanaan Tindakan Keperawatan) sebelum
dilakukan intervensi yaitu pelaksanan SAK 81,1%, sedangkan
sesudah dilakukan intervensi meningkat menjadi 97% sudah
sesuai dengan SOP.

4.2 Evaluasi
Berdasarkan rencana yang telah disusun, maka kegiatan yang dilaksanakan
adalah sebagai berikut :
Tabel 4.2 Kegiatan Mahasiswa Perawatan Selama Menjalani Stage
Manajemen di Ruangan Perawatan Dahlia (Paru) RSUD Ulin Banjarmasin
Tanggal Kegiatan
01 Oktober 2014


02 Oktober 2014


07 Oktober 2014

08 Oktober 2014 s.d 22
Oktober 2014










08 Oktober 2014 s.d 22
Oktober 2014



08 Oktober 2014 s.d 22
Oktober 2014
24 Oktober 2014


25 Oktober 2014
Orientasi ruangan dan perkenalan, pembuatan struktur
organisasi kelompok

Pengumpulan data, analisa situasi dan perumusan
masalah ruang dahlia(paru)

Desiminasi awal manajemen keperawatan.

Penyusunan jadwal dinas dan rancangan pembagian
peran dalam penerapan SP2KP , penyusunan format
pengkajian khusus ruang Dahlia dan sistem
dokumentasi asuhan keperawatan, penyusunan format
timbang terima, proposal prosedur pelaksanaan
timbang terima, proposal prosedur pelaksanaan ronde
keperawatan, proposal prosedur pelaksanaan discharge
planning, proposal prosedur pelaksanaan sentralisasi
obat, proposal prosedur penerimaan pasien baru, serta
penyusunan format penunjang kegiatan lainnya,
misalnya format kegiatan harian.

Penyelenggaraan rotasi dinas dalam 24 jam, penerapan
SP2KP meliputi aplikasi peran, pendelegasian tugas,
dan proses pendokumentasian keperawatan
(penyelenggaraan rotasi dinas dalam 24 jam).

Pelaksanaan timbang terima setiap kali pergantian shift

Penyelenggaraan ronde keperawatan


Evaluasi penerapan SP2KP

103

4.2.1 Evaluasi Hasil
Berdasarkan tujuan penyelenggaraan model praktik keperawatan
profesional (SP2KP) yang dilaksanakan oleh kelompok 1 (satu)
mahasiswa stage manajemen STIKES Muhammadiyah
Banjarmasin di ruang perawatan Dahlia (paru) RSUD Ulin
Banjarmasin, dapat dievaluasi bahwa setelah mengikuti praktik
pembelajaran klinik keperawatan, mahasiswa mampu menjelaskan
dan menerapkan suatu model praktik keperawatan profesional
(SP2KP) dengan metode modifikasi tim-primer dengan perincian
sebagai berikut :
4.2.1.1.Mahasiswa mampu menerapkan pelaksanaan SP2KP
dengan model modifikasi tim-primer nursing sesuai job
deskripsi yang telah ditentuakan.
4.2.1.2.Mahasiswa mampu menganalisis tingkat ketergantungan
pasien dan kebutuhan tenaga keperawatan.
4.2.1.3.Mahasiswa mampu melaksanakan proses asuhan
keperawatan terhadap pasien secara komprehensif dan dapat
mendokumentasikan setiap kegiatan atau implementasi
keperawatan yang dilakukan.
4.2.1.4.Mahasiswa mampu melaksanakan timbang terima pasien
dan ronde keperawatan secara langsung kepada pasien
sesuai dengan teori manajemen keperawatan yang ada.









104

BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
5.1.1 M1 (Man)
Ruangan Dahlia (Paru) merupakan ruangan perawatan khusus saluran
pernafasan baik penyakit menular maupun tidak menular dengan
kapasitas tempat tidur 25 tempat tidur dengan tenaga keperawatan
berjumlah 13 perawat dan jumlah tenaga keseluruhan berjumlah 15
orang perawat termasuk kepala ruangan dan supervisor.

5.1.2 M2 (Money)
Setelah dilakukan manajemen keperawatan di ruang Dahlia Paru,
didapatkan bahwa telah dijalankannya Rencana Belanja Anggaran
setahun sebelum tahun anggaran dilaksanakan. Juga telah diadakannya
biaya untuk dana emergency/dana tidak terduga untuk kejadian yang
mendadak. Sehingga untuk permintaan sarana dan prasarana yang
telah dianggarkan bisa didapatkan lebih cepat daripada sarana dan
prasarana yang sebelumnya tidak dianggarkan.

5.1.3 M3 (Material)
Setelah dilakukannya observasi oleh mahasiswa manajemen kelompok
1 STIKES Muhammadiyah Banjarmasin program profesi ners A di
Ruang Dahlia (Paru), didapatkan semua sarana dan prasarana untuk
melakukan tindakan keperawatan sudah mencukupi, serta untuk SOP
di ruangan sudah dilengkapi oleh mahasiswa stage manajemen
kelompok 1 STIKES Muhammadiyah Banjarmasin program profesi
ners A.



105

5.1.4 M4 (Metode)
5.1.4.1 Penerimaan Pasien Baru
Setelah dilaksanakan manajemen keperawatan di ruang dahlia
(paru) BLUD RSUD Ulin Banjarmasin yang pengorganisasian
dimulai dari tanggal 08 Oktober 2014 s.d 22 Oktober 2014
oleh mahasiswa stage manajemen kelompok 1 STIKES
Muhammadiyah Banjarmasin program profesi ners A di Ruang
Dahlia (Paru) sebanyak 32 pasien perawat menerima pasien
baru sesuai dengan acuan SOP.
5.1.4.2 Timbang Terima
Pelaksanaan timbang terima pasien dilakukan pada tanggal 08
Oktober 2014 s.d 22 Oktober 2014 dengan pengawasan CI
maupun pengawasan kepala ruangan, kegiatan timbang terima
dilakukan di nurse station dan juga dilanjutkan memvalidas
data ke kamar pasien.
5.1.4.3 Ronde Keperawatan
Pelaksanaan ronde keperawatan dilakukan pada Jumat, 24
Oktober 2014 pukul 10.00 WITA, pada pasien Ny. Y yang
berada diruangan paru yaitu pada pasien kamar VI bed 1
dengan diagnosa medis Efusi Pleura + Susp CA Paru yang
dihadiri oleh kepala bidang keperawatan, kepala ruangan,
pembimbing akademik, konselor gizi.

5.1.4.4 Sentralisasi Obat
Kegiatan sentralisasi obat sudah berjalan dengan baik dan
dilakukan pendokumentasian seperti buku persetujuan untuk
dilakukan serah terima obat.

5.1.4.5 Discarge Planning
Kegiatan Discarge Planning dilaksanakan mulai tanggal 08
Oktober 2014 s.d 22 Oktober 2014 yaitu dilaksanakan pada
106

pasien di Kamar I dan Kamar II dengan rencana pulang di
dapatkan sebanyak 4 pasien dengan diagnosa medis yang
berbeda dan menyediakan 10 leaflet (TB Paru, Ca Paru, Efusi
Pleura, RLTI, Sepsis, HF, Pneumonia, Asma Bronkhiale,
PPOK, dan SOPT).

5.1.4.6 Dokumentasi
Kegiatan pendokumentasian asuhan keperawatan dengan
SOAPIER dilaksanakan mulai tanggal 08 Oktober 2014 s.d 22
Oktober 2014 dan Pendokumentasian asuhan keperawatan
sudah dilengkapi dengan tanda tangan penanggung jawab
setiap shift dinas.

5.1.5 M5 (Market)
5.1.5.1 Instrumen A
Terjadi peningkatan nilai rata-rata penerapan asuhan
keperawatan di Ruang Dahlia RSUD Ulin Banjarmasin,
dimana sebelum dilakukan manajemen penerapan SAK nilai
rata-rata keseluruhan dari beberapa aspek adalah 73,4% dan
setelah dilakukan manajemen penerapan SAK nilai persentase
keseluruhannya menjadi 88%.
5.1.5.2 Intrumen B (Kepuasan Pasien)
Kesimpulan dari instrumen B dimana hasil kuesioner
kepuasan pasien sebelum dilakukan intervensi didapatkan
72,5% pasien / keluarga pasien menyatakan mutu pelayanan di
Ruang Dahlia (Paru) sudah baik, tetapi masih ada beberapa
item yang masih kurang, sedangkan hasil kepuasan pasien
sesudah dilakukan intervensi meningkat menjadi 79,5% pasien
/ keluarga menyatakan mutu pelayanan sudah baik.

5.1.5.3 Instrumen C
107

5.2 Saran
5.2.1 Bagi rumah sakit
Diharapkan kepada pihak rumah sakit dapat melakukan pengembangan
staf secara berkala dan bertahap baik secara formal maupun informal,
dalam bentuk dukungan moral maupun material untuk mengikuti
pendididkan ataupun pelatihan, terutama peningkatan jenjang
pendidikan dan peningkatan fasilitas safety pasien untuk ruang Dahlia
(Paru) misalnya tempat tidur yang dilengkapi dengan pagar pembatas,
regulator oksigen mengingat ruang Dahlia (Paru) merupakan ruang
dengan masalah kegawatan nafas dan penyediaam leaflet discharge
planning dari 10 kasus terbanyak di ruang dahlia (paru).
5.2.2 Ruangan paru
Setalah diadakan stage manajemen diharapkan kepada kepala ruangan
untuk memberikan motivasi kepada stafnya untuk melaksanakan serah
terima sesuai dengan prosedur. Hendaknya ronde keperawatan di
adakan minimal tiap bulan sekali. Aspek legalitas diharapkan ada dalam
sentralisasi obat yaitu berupa informed consent persetujuan sentralisasi
obat dan lembar serah terima obat dari keluarga pasien kepada perawat
serta sentralisasi obat tidak hanya obat injeksi tapi juga obat oral untuk
menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, dan dalam proses
pendokumentasian keperawatan agar lebih diperhatikan dan tidak
disepelekan.
5.2.3 Bagi perawat Ruangan paru
Setelah dilakukan manajemen keperawatan dengan berkolaborasi
dengan mahasiswa STIKES Muhammadiyah Banjarmasin, Ners Sari
Mulia, Akademi Pandan Harum diharapkan untuk dapat lebih
meningkatkan mutu dan usaha dalam pemberian pelayanan asuhan
keperawatan yang profesional dan komprehensif sehingga dapat
memberikan kepuasan pada pasien dan keluarganya. Serta pemberian
pelayanan terhadap bio-psiko-sosio-spritual dan kultural pasien dapat
terpenuhi secara baik.
108

Dalam pelaksanaan timbang terima pasien para perawat diruangan
dapat melaksanaan secara rutin dan dapat hadir sebelum jam pergantian
shift berakhir. Untuk masalah yang dibahas dalam timbang terima
sebaik lebih fokus pada masalah keperawatan pasien dan rencana
tindakan yang dilakukan pada hari itu. Perawat di ruang perawatan paru
juga perlu lebih sering diberikan sosialisasi dalam ronde keperawatan
pada pasien dengan kasus-kasus yag kronis dan masalah komplikasi
yang rumit minimal satu bulan sekali sehingga dapat meningkatkan dan
mengembangkan pengalaman serta pengetahuan perawat terhadap
asuhan keperawatan yang komprehensif.

5.2.4 Bagi institusi pendidikan
Diharapkan institusi pendidikan agar membekali ilmu manajemen
keperawatan lebih banyak lagi dan juga memberikan waktu yang lebih
bagi mahasiswa dalam melaksanakan tugas praktik dilahan praktik guna
kelak dapat memberikan bekal bagi mahasiswa sebelum terjun ke dunia
kerja.
5.2.5 Bagi Mahasiswa stage manajemen keperawatan selanjutnya
Dengan dilaksanakannya stage manajemen keperawatan diruang
perawatan paru diharapkan mahasiswa keperawatan pada stage
manajemen keperawatan selanjutnya dapat meningkatkan pelayanan
keperawatan yang lebih komprehensif dan memberikan saran atau
metode baru dalam pengorganisasian rencana kegiatan SP2KP dengan
pengaturan rencana kegiatan, sistem ketenagaan, sistem pemberian
asuhan keperawatan, supervisi keperawatan, ronde keperawatan, dan
timbang terima diruang perawatan paru dengan lebih baik dan
terorganisir secara rapi dari yang sudah kami laksanakan sehingga dapat
tercipta manajemen keperawatan yang dapat memuaskan pasien dalam
pemberian pelayanan keperawatan.


109









DAFTAR PUSTAKA

Asmuji. 2012. Manajemen Keperawatan (Konsep dan Aplikasi). Jakarta :
Ar Ruzz Media.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2003. Pedoman Instrumen Akreditasi
Rumah Sakit. Jakarta : Direktorat Jenderal Pelayanan Medik Depkes RI.
Gillies, DA. 1989. Nursing Management System Approach. W.B Sanders,
Phidelphia.
Instalasi Rawat Inap. 2012. Data Performance Ruan Rawat Inap. Rumah Sakit
Ulin Banjarmasin.
Nanda Nic-Noc, 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa
Medis. Yogyakarta : Media Action.
Nursalam, 2013. Manajemen Keperawatan : Aplikasi Dalam Praktik
Keperawatan Profesional. Edisi 3. Jakarta : Salemba Medika.
Rosyidi, Kholid, 2013. Manajemen Kepemimpinan Dalam Keperawatan. Jakarta:
Trans Info Media.
Sitorus, Ratna. 2006. Model Praktik Keperawatan Profesional di Rumah Sakit.
Jakarta : EGC.
Winarti, Arini Sri, 2012. Panduan Praktik Manajemen Keperawatan. Yogyakarta:
Fitramaya.
110