Anda di halaman 1dari 15

Oil revenues, tax and policy

Oleh : Imron Rosidin 1

Keberlimpahan minyak di Indonesia adalah anugerah yang akan berubah


menjadi kutukan saat pengelolaannya bagi kesejahteraan masyarakat tidak
dilakukan dengan baik. Otonomi daerah yang memungkinkan pemerintah
daerah melakukan pengelolaan sumber daya alam termasuk minyak, belum mampu menjawab usaha-
usaha pembangunan bagi masyarakat ke arah yang lebih baik. Demikian halnya dengan penggunaan
anggaran pembangunan dan peningkatan kapital pemerintah yang bersumber dari pajak, belum mampu
memperbaiki pendapatan per kapita dan memperbaiki laju pertumbuhan pendapatan domestik bruto.

Korupsi merupakan paradok yang menyertai pengelolaan sumber daya alam migas dan otonomi daerah.
Penanggulangan korupsi menunjukan tanda ke arah yang lebih baik, namun belum mampu secara
mendasar memperbaiki nilai investasi di sektor publik dan badan usaha milik negara yang dibuktikan
dengan masih rendahnya pendapatan per kapita serta domestik bruto. Badan usaha milik daerah dan
pelayanan umum selayaknya menjadi garda terdepan bagi pemerintah daerah dalam pembangunan,
namun kenyataannya badan ini masih berkinerja produksi buruk bagi pendapatan per kapita.

Sebagai negara, Indonesia masih menjadi sumber eksploitasi bagi negara-negara maju yang melalui
kebijakan makronya terus menerus mensuplai kebutuhan pasar akan minyak. Paradok lain dari negeri
berlimpah minyak. Bagaimana kondisi ini mampu digambarkan?, inilah tujuan dari makalah ini dengan
melakukan simulasi-simulasi berdasarkan kondisi dan data yang ada dan tengah berlangsung.

Simulasi menggunakan Powersim Constructor akan menskenariokan ketersediaan minyak (O) yang
habis sebagai sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui (non renewable) dan pendapatan yang
dihasilkannya (Or) berkaitan dengan kapital sektor pelayanan publik (C1), kapital sektor badan usaha
milik daerah (C2) dan kapital sektor swasta (C3) dengan melihat perubahan-perubahan yang terjadi
pada laju pertumbuhan produk domestik brotu (GRQ), produk domestik bruto (Q) dan pendapatan per
kapita (QPcap). Dengan demikian perlu juga untuk menggambarkan hasil simulasi yang terjadi pada
pendapatan yang dihasilkan dari sektor pelayanan mum), pendapatan sektor badan usaha milik daerah
(Q2) dan pendapatan pada sektor swasta (Q3). Kebutuhan invetasi pada sektor pelayanan publik (I1),
investasi pada sektor badan usaha milik daerah (I2) dan investasi yang terjadi pada sektor swasta (I3).

1
Studi Pembangunan - SAPPK Institute Teknologi Bandung. 3 Muharam 1431 Hijriah. 2009
Flow diagram untuk model simulasi tugas saat ini dapat digambarkan sebagai berikut :
Ps s1
b1
pc C2
Dc I1 C1 D1 I2 D2

U1
t1
Dr Di2

Di1 t2
Dc
D L Di1 Di2
C g2
g1 D
Ef R M
Dr PL
Pr
T p M
frob
plossfst L
LOSSF Orev prh prs
D2
FRO froa
prst
plossfh totda
s3
plossfs
O
Op
DOP
DOP
Er
Rr GDOP
r1
FGI3
Od C3
D1
nc s2 fGDOP

T
C1 I3 D3
KOR1 tr
t3
I1
DQ1DT Q3 KOR3
D2 KOR1 Q1

DQDT KOR2
DQ2DT Q C2
Q2
GRQ
I2
fGP
Populasi

QPAC
KOR2 KOR3

DQ3DT FGI3N t3 GP
FGI3
Q1
lw13
I3 D3
tTRQ1 fGP

lw23 TRQ1

tTRQ2
Q2
TRQ2

Gambar 1. Flow diagram model 3 sektor


Persamaan yang digunakan pada flow diagram di atas adalah:
init C1 = 10
flow C1 = -dt*D1
+dt*I1
init C2 = 2.5
flow C2 = -dt*D2
+dt*I2
init C3 = 2
flow C3 = +dt*I3
-dt*D3
init DOP = 2
flow DOP = +dt*GDOP
init O = 200
flow O = -dt*OP
init Populasi = 250
flow Populasi = +dt*GP
aux D1 = C1/t1
aux D2 = C2/t2
aux D3 = C3/t3
aux GDOP = DOP*fGDOP
aux GP = Populasi*fGP
aux I1 = D*Di1/(Di1+(Di2+L)*s1)
aux I2 = D*Di2/(Di1+Di2+L)
aux I3 = FGI3*C3
aux OP = s3*MIN(DOP*Er,Od)+(1-s3)*(DOP*Er)
aux C = MIN(Ef*Dc,R)
aux D = R-C
aux Dc = b1*C1
aux Di1 = g1*C1+D1
aux Di2 = g2*C2+D2
aux DQ1DT = (I1-D1)/KOR1
aux DQDT = DQ1DT+DQDT2+DQDT3
aux DQDT2 = (I2-D2)/KOR2
aux DQDT3 = (I3-D3)/KOR3
aux Dr = Di1+Dc+(Di2+L)*s1
aux Ef = GRAPH(R/Dr,0,0.25,[0,0.5,0.8,0.95,1"Min:0;Max:1;Zoom"])
aux Er = s2*r1+(1-s2)
aux FGI3 = FGI3N+(MAX(0,lw13*TRQ1))+(MAX(0,Iw23*TRQ2))
aux FGI3N = fGP+(1/t3)
aux FRO = IF(TIME<totda,frob,froa)
aux GRQ = DQDT/Q
aux L = IF(PL>0,0,-PL)
aux LOSSF = IF(TIME<plossfst,plossfh,plossfs)
aux M = IF(PL<0,0,PL)
aux Orev = p*OP*FRO
aux PL = PR*C2
aux PR = IF(TIME<prst,prh,prs)
aux Ps = U1*C1*pc
aux Q = Q1+Q2+Q3
aux Q1 = C1/KOR1
aux Q2 = C2/KOR2
aux Q3 = C3/KOR3
aux QPAC = Q/Populasi
aux R = (Orev+T+(M+D2)*s1)*(1-LOSSF)
aux r1 = GRAPH(Rr,0,0.25,[0,0.45,0.75,0.92,1"Min:0;Max:1;Zoom"])
aux Rr = (O/DOP)/nc
aux T = Q*tr
aux TRQ1 = TREND(Q1,tTRQ1,(0.95*Q1))
aux TRQ2 = TREND(Q2,tTRQ2,(0.95*Q2))
aux U1 = C/Dc
const b1 = 0.2
const fGDOP = 0.01
const fGP = 0.01
const froa = 0.01
const frob = 0
const g1 = 0.05
const g2 = 0.1
const Iw23 = 0.01
const KOR1 = 2
const KOR2 = 3
const KOR3 = 5
const lw13 = 0.01
const nc = 20
const Od = 5
const p=1
const pc = 1
const plossfh = 0.2
const plossfs = 0.1
const plossfst = 2010
const prh = -0.1
const prs = 0
const prst = 2010
const s1 = 1
const s2 = 1
const s3 = 0
const t1 = 20
const t2 = 20
const t3 = 20
const totda = 2000
const tr = 0.05
const tTRQ1 = 10
const tTRQ2 = 10

Selanjutnya, berdasarkan makalah Public finance, oil revenue expenditure and economic
performance: a comparative study of four countries, yang di tulis oleh Ali N. Mashayekhi
(1998) simulasi ini akan mempengaruhi dua hal yang menurut Mashayekhi sangat berpengaruh
terhadap laju pertumbuhan produk domestik brotu (GRQ), produk domestik bruto (Q) dan
pendapatan per kapita (QPAC) yang selanjutnya akan memperlihatkan kondisi kapital pada
tiga sektor Dua faktor yang dimaksud adalah :
1. Pajak (T) yang diberlakukan kepada sektor swasta sebagai upaya untuk memperbaiki
pendapatan pendapatan negara ( R) disertai dengan keberhasilan menekan terjadinya
korupsi (LOSSF) menyusul diberlakukannya undang-undang otonomi daerah yang
memungkinkan pemerintahan daerah mengelola dan mengalokasikan anggaran untuk
membangun kapital pada sektor pelayanan umum.
2. Nilai s3 yang menunjukan adanya keterpaksaan atau tidak untuk melakukan eksport
minyak (migas) karena desakan pasar atau kebutuhan negara lain terhadap minyak yang
diakibatkan oleh kesepakatan-kesepakatan kerja sama yang mengikat negara-negara
anggota, contohnya kesepakatan ambang ijin pembuangan emisi di Copenhagen. Asumsi
dasar saat nilai S3 dirubah adalah nilai S2 yang menunjukan adanya kebijakan pembatasan
produksi minyak berdasarkan ketersediaan (oil reserve restrections) tidak diberlakukan
sebagai jawaban kebutuhan pasar terhadap minyak dimana pemerintah kehilangan kontrol
terhadap produksi minyak (s2 = 0)
Namun sebelum memulai melakukan perubahan terhadap nilai T dan s, perlu disampaikan
sebelumnya simulasi yang menggambarkan initial condition berdasar flow diagram yang telah
disampaikan di atas.
Initial condition
Grafik hasil simulasi dalam initial condition di gambarkan sebagai berikut :

200
6

150 5

4
O

Q
100
3
50
2

0 1
2.000 2.020 2.040 2.060 2.080 2.100 2.000 2.020 2.040 2.060 2.080 2.100
Time Time

6,93889e-18 5

-0,01 4
GRQ

1
-0,02 3 Dr
1
2 R
-0,03 2
1 1
-0,04
1
0 2 2 2 12 12 1
2.000 2.020 2.040 2.060 2.080 2.100 2.000 2.020 2.040 2.060 2.080 2.100
Time Time

-0,02 0,020
QPAC

-0,04 0,015
PR

-0,06
0,010
-0,08
0,005
-0,10
2.000 2.020 2.040 2.060 2.080 2.100 2.000 2.020 2.040 2.060 2.080 2.100
Time Time

Gambar 2. Grafik O, Q, GRQ, Dr-R, PR, dan QPAC


Pada kondisi awal simulasi, model disimulasikan selama 100 tahun. Stok minyak (O) pada
akhir simulasi habis. Hal ini diasumsikan bahwa cadangan minyak habis (sumber daya tak
terbarukan) dan ada keterbatasan pencarian sumber cadangan minyak baru serta eksploitasi
secara terus menerus selama kurun waktu simulasi karena permintaan pasar ekspor dan
konsumsi domestik.
Pada kondisi ini, produksi total (Q), pendapatan per kapita (QPAC), dan pendapatan total
pemerintah (R) mengalami penurunan (decline) di akhir masa simulasi. Pada 10 tahun awal
simulasi, BUMD (C2) di set mengalami kerugian, kemudian mulai tahun 2010 BUMD di set
tidak mengalami kerugian atau pun keuntungan, nilai rasio laba/rugi = 0. Kondisi BUMD yang
mengalami kerugian tentu saja menambah beban anggaran rutin pemerintah. Rasio bagi hasil
pendapatan minyak antara pusat dan daerah diasumsikan sebesar 1%, yang artinya pemerintah
daerah hanya mendapatkan 1 % dari pendapatan total minyak daerah.

0,20

0,01005
0,15

LOSSF
FRO

0,01000

0,10
0,00995

0,05
2.000 2.020 2.040 2.060 2.080 2.100 2.000 2.020 2.040 2.060 2.080 2.100
Time Time

6 2 2,0 2

5
1,5
4
3 C 1,0 C
2 1 1
2 Q 2 Dc
2 0,5 2
1 2 2
2 2 1
1 2
0 1 1
1 1 1 1 0,0 1 12 12 1
2.000 2.020 2.040 2.060 2.080 2.100 2.000 2.020 2.040 2.060 2.080 2.100
Time Time

1 1
5
0,3 1
4 4
R 1
1
0,2 1 3 12
Orev 2 DOP
4 2 12 1
2 12
0,1 14 D OP
3 2
1 1 1
4 1 C
4 4 2
2 2 2
0,0 2 3 3 3 3 23 2 2
2.000 2.020 2.040 2.060 2.080 2.100 2.000 2.020 2.040 2.060 2.080 2.100
Time Time

Gambar 3. Grafik FRO, LOSSF, C-Q, C-Dc, R-Orev-D-C, dan DOP-OP


Korupsi yang terjadi pada awalnya sebesar 20% sejak tahun 2000 hingga tahun 2010. Mulai
tahun 2010 diasumsikan tingkat korupsi menurun menjadi 0% hingga akhir masa simulasi.
Pendapatan dari sektor minyak (Orev) menurun karena produksi minyak (OP) juga menurun
dan cadangan minyak (O) habis. Di sisi lain, produksi minyak yang diinginkan (DOP) terus
meningkat secara eksponensial.

Simulasi pertama

0,30 3
0,3
0,25 3

0,2 3
0,20 I1
3 1
T

3 I2
0,15 2
0,1 3
0,10 I3
3
0,05 0,0 1 2 12 12 1
12 12
2.000 2.020 2.040 2.060 2.080 2.100 2.000 2.020 2.040 2.060 2.080 2.100
Time Time

Gambar 4. Grafik T dan I1-I2-I3


Penerimaan di sektor pajak (T) mengalami penurunan seiring dengan menurunnya produksi
dan pendapatan minyak. Nilai Investasi di sektor swasta (I3) paling tinggi, yang semakin
meningkat membentuk grafik eksponensial. Investasi di sektor pelayanan publik (I1) dan
sektor BUMD (I2) baru mengalami peningkatan mulai tahun ke 60 masa simulasi, dan
besarnya tidak terlalu signifikan. Hal ini ada indikasi bahwa pemerintah tidak menitikberatkan
pada sektor investasi usaha yang dikelolanya, terlihat pula dalam alokasi dana pembangunan
(D) yang tidak terlalu besar, jauh dibandingkan alokasi dana anggaran rutin (C). Investasi di
sektor pelayanan publik dan perusahaan pemerintah bisa berasal dari anggaran pemerintah
(anggaran rutin dan anggaran pembangunan), pinjaman dalam dan luar negeri, serta dana hibah
luar dan dalam negeri. Dari anggaran pemerintah (D dan C) sendiri tergantung besarnya
penerimaan total pemerintah (R), yang berasal dari sektor minyak (Orev), Pajak (T), dan laba
perusahaan pemerintah (M). Adanya korupsi tentu saja akan mengurangi pendapatan
pemerintah.
Kondisi perekonomian seperti dalam initial condition ini merupakan keadaan perekonomian
yang tidak berkelanjutan, karena tingkat kebergantungan terhadap pendapatan sektor minyak
tinggi, sehingga ketika cadangan dan produksi minyak turun, pertumbuhan perekonomian
menurun pula. Diasumsikan bahwa pada akhir kondisi ini tidak ada tingkat pertumbuhan
ekonomi maupun pembangunan. Produksi menurun dan tingkat pendapatan per kapita turun.

Dari keadaan perekonomian (initial condition) di atas, yang akan dilakukan selanjutnya adalah
simulasi beberapa skenario untuk meningkatkan dan memperbaiki kondisi perekonomian
dengan mengubah beberapa parameter sehingga di dapat rekomendasi yang bisa dilakukan
untuk menciptakan sistem perekonomian berbasis minyak yang berkelanjutan. Berikut
beberapa skenario simulasi pada model. Simulasi ini dilakukan dengan mengubah rasio pajak
kepada sektor tiga, yaitu sektor swasta yang pada simulasi sebelumnya menunjukan kurang
menopang laju pertumbuhan pendapatan pemerintah dan pendapatan yang rendah akibat rasio
yang besar. Simulasi pada sektor pajak dilakukan dengan menguvah nilai tr sebagai dasar rasio
pajak yang dikenankan terhadap recurrent budget yang sebelumnya bernilai 0.05 menjadi
persamaan:GRAPH(TIME,2000,10,[0.05,0.05,0.075,0.075,0.1,0.1,0.1,0.1,0.15,0.15,0.15"Min:
0;Max:1"]).

Hasil simulasi (Gambar 5) menunjukan peningkatan pendapatan pemerintah searah dengan


kenaikan pendapatan pajak yang diberlakukan. Peningkatan anggaran pembangunan ini sangat
mempengaruhi besaran anggaran rutin. Kondisi inilah yang pada akhirnya memicu peningkatan
nilai investasi di sektor pelayanan umum dan badan usaha milik daerah, namun peningkatan
yang rendah terjadi di sektor swasta. Meskipun sektor swasta tidak mengalami peningkatan
nilai investasi yang besar bila dibandingkan dengan dua sektor lainnya, namun hasil simulasi
selama 20 tahun menunjukan adanya kondisi yang lebih baik ditandai dengan peningkatan nilai
Q di awal simulasi. Hasil simulasi terhadap sektor pajak dan produksi dapat dilihat melalui
gambar di bawah ini:
0,3 5 61
56 1
I1
56 5 2
0,2 I1
56 2
56 4

Q
0,1 5 6 3
I2
3
2 44 I2
0,0 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 1 4 1
3 2 2
I3
5 12
-0,1 1 2 1
I3 12 1
2.000 2.020 2.040 2.060 2.080 2.100 6 2.000 2.020 2.040 2.060 2.080 2.100
Time Time

Gambar 5. Grafik I dan Q pada simulasi T


Simulasi pada sektor pajak akhirnya menunjukan dengan tegas bahwa pendapatan perkapita
masyarakat tidak mengalami kenaikan bahkan secara umum justeru menurun sampai akhir
waktu simulasi. Kondisi ini tentu saja sangat dapat difahami, sebab kenaikan pajak yang
dikenakan pada sektor produksi tidak berbanding dengan nilai produksinya yang berarti
menjadi beban bagi masyarakat. Peningkatan pajak akan memicu sikap sektor swasta untuk
menaikan harga produksi guna menutup kewajiban pajak. Kenaikan harga produksi tentunya
akan dibuktikan dengan menaikan harga barang dan jasa dari sektor ini.
1

0,020
2
QPAC

0,015

0,010
1
2
0,005
12
12 12 2
2.000 2.020 2.040 2.060 2.080 2.100
Time

Gambar 6. Grafik QPAC pada simulasi T


Kenaikan pajak yang terjadi pada simulasi ini akankah memicu terjadinya kenaikan korupsi
searah dengan keterbukaan pemerintah daerah melalui otonomi daerah untuk melakukan
pengelolaan keuangannya sendiri?. Dalam kondisi awal model ini, BUMD diskenariokan
merugi pada 10 tahun pertama simulasi, kemudian mulai tahun 2010 BUMD dikondisikan
tidak mengalami laba atau pun rugi. Hal ini tentu saja menjadi beban anggaran pemerintah
daerah.
Pada simulasi kali ini, BUMD dikondisikan memperoleh keuntungan. Keuntungan BUMD ini
akan menambah pendapatan daerah, dan diharapkan mampu mengurangi kebergantungan
pemerintah terhadap penerimaan di sektor minyak untuk membiayai pengeluarannya. Dalam
hal ini komponen yang diubah adalah rasio laba rugi perusahaan pemerintah (PR). Konstanta
PR terdiri atas: prst, prs, dan prh. Nilai konstanta dalam simulasi 4 adalah prst = 2010, prh = -
0.1, dan prs = 0.3. simulasi yang dilakukan menunjukan hasil :

6 61
0,6

0,5
5 2
R
1
0,4 2
2
R 4

Q
1 6
D
0,3 2 3 3
5 D
4 1
0,2 2
1 2
6 2 C 2
5 5
2 2
0,1 15 6 C 12
1 5
1
6
45
1
6 1 12 12 1
0,0 3 4 4 3 2.000 2.020 2.040 2.060 2.080 2.100
34 34 3
2.000 2.020 2.040 2.060 2.080 2.100
Time Time

Gambar 7. Grafik perbandingan R, D, C pada simulasi T dan kondisi Q


Produksi minyak masih memberikan kontribusi yang baik dan memberikan keuntungan bagi
badan usaha milik daerah, ini bisa dilihat pada Gambar 7 grafik perbandingan R, D dan C yang
menunjukan adanya peningkatan pendapatan di sektor badan usaha milik daerah naik
kemudian turun secara eksposional. Penurunan ini juga diikuti oleh menurunnya alokasi
anggaran rutin ( C) pemerintah, namun tidak terhadap anggaran pembangunan (D) yang terus
naik setelah pada 40 tahun permulaan simulasi mengalami penurunan. Dapat dilihat juga
kondisi sektor produksi (Q) yang tidak mengalami perubahan mendasar meskipun pada tahun
2050 mengalami kenaikan.
0,010 1 2 12 12 12 12 1 0,20

0,15
LOSSF
FRO

0,005 0,10

0,05

0,000 0,00
2.000 2.020 2.040 2.060 2.080 2.100 2.000 2.020 2.040 2.060 2.080 2.100
Time Time

Gambar 8. Grafik perbandingan otonomi daerah (FRO) dan korupsi (LOSSF)


Telah dikemukakan sebelumnya, kondisi produksi sektor produksi (Q) yang tidak mengalami
perubahan mendasar. Korupsi dan upaya penanggulangannya, meskipun mengalami penurunan
tetap memerlukan waktu untuk efektifitasnya di awal-awal pemberlakuan otonomi daerah
tahun 2000. Penurunan angka korupsi terjadi setelah otonomi daerah diberlakukan dengan
tetap tidak memberikan perubahan yang berarti pada sektor produksi. Pendapatan per kapita
(QPAC) tetap mengalami penurunan di saat yang sama otonomi daerah diberlakukan dan
upaya penanggulangan korupsi terjadi (Gambar 9). Namun seperti yang ditunjukan
sebelumnya, penurunan ini tidak disebabkan otonomi daerah dan penanggulangan korupsi,
melainkan kenaikan pajak yang memicu sektor swasta menaikan ongkos produksinya.
1

0,020
2
QPAC

0,015

0,010
1
2
0,005
12
12 12 2
2.000 2.020 2.040 2.060 2.080 2.100
Time

Gambar 9. Grafik QPAC pada simulasi T

Simulasi kedua
Simulasi ini dilakukan dengan tidak hanya memahami eksponen “s” dalam Powersim
Constructor hanya sebatas instrumen panel yang berfungsi menghubungkan dampak produksi
minyak pada saat di eksport dan produksi minyak saja, namun lebih kepada adanya kebijakan
yang memungkinkan pembatasan secara praktis saat eksplorasi dan pengambilan keputusan
pemerintah untuk memenuhi kebutuhan minyak di pasar. Keterbatasan ketersediaan minyak
(s2) menegaskan bahwa cadangan minyak secara normal tetap akan habis. Kondisi ini tidak
dapat dihindarkan, namun sikap eksplorasi pemerintah dan masyarakat menunjukan seolah-
olah minyak tidak akan habis, setidaknya untuk waktu yang cukup lama tanpa menyadari
dampak jangka panjang yang dialaminya. Pada simulasi ini, nilai s2=1 akan diubah bernilai 0
untuk mewakili sikap eksplorasi pemerintah dan masyarakat yang sedemikian belum benar-
benar komitmen terhadap keterbatasan minyak yang didasarkan untuk memenuhi kebutuhan
pasar (s3=0).
3 5 1
0,3
3 4

0,2 3 3
I1 Q1
3 1 1
3 I2 2 Q2
0,1 3 2 1 2
I3 1 3 Q3
3 2 3 3 3
3 13
12 1 3 2 12
0,0 1 2 12 12 12 2 12 1
2.000 2.020 2.040 2.060 2.080 2.100 2.000 2.020 2.040 2.060 2.080 2.100
Time Time

Gambar 10. Grafik perbandingan I dan Q pada simulasi s2=0, s3=0


Terlihat pada gambar 10, nilai investasi swasta meningkat secara drastis akibat meningkatnya
produksi di sektor ini, namun produksi sektor pelayanan umum dan badan usaha milik daerah
benar-benar jatuh. Sektor swasta dengan demikian mengabaikan kenyataan bahwa minyak
akan habis dan ini akan menjatuhkan produksi dari dua sektor lainnya. Pada saat sektor swasta
melakukan produksi minyak sedemikian rupa, kondisi anggaran rutin (C) mengalami
penurunan drastis dan anggaran pembangunan (D) baru akan mulai mengalami kenaikan
setelah 60 tahun kemudian (Gambar 11), itupun dengan kenaikan yang rendah, demikian pula
yang terjadi pada total pendapatan pemerintah (R).
1 1
5
0,3
4 2
R 1
1 4
0,2
1 Orev 2 DOP
2 1 1
4
1 D OP
0,1 14 1 3 3 12 2
14 4
2 23 2
4
C 12
2 2
0,0 2 3 3 3 3 2 12
2.000 2.020 2.040 2.060 2.080 2.100 2.000 2.020 2.040 2.060 2.080 2.100
Time Time

Gambar 11. Grafik R, Orev, D, dan C pada simulasi s2=0, s3=0


Laju pertumbuhan produk domestik bruto (GRQ) boleh saja mengalami kenaikan drastis pada
60 tahun simulasi ini, namun pendapatan per kapita (QPAC) menunjukan kondisi sebaliknya,
penurunan yang drastis di tahun yang sama (Gambar 12).
0,01
6,93889e-18 0,020
-0,01

QPAC
0,015
GRQ

-0,02
0,010
-0,03
0,005
-0,04

2.000 2.020 2.040 2.060 2.080 2.100 2.000 2.020 2.040 2.060 2.080 2.100
Time Time

Gambar 12. GRQ dan QPAC pada simulasi s2=0, s3=0


Simulasi selanjutnya akan mewakili kondisi dimana pemerintah, oleh karena kebijakan makro
yang mengikat, terpaksa melakukan eksport migas untuk memenuhi kebutuhan pasar (s3=1)
yang dengan demikian pemerintah kehilangan kontrol terhadap pembatasan ekspor minyak
dimana tetap bernilai 0. Hasil simulasi menunjukan seperti apa yang digambarkan pada grafik
di bawah ini:

1 1
5 2
0,3
4 2
R 1
1 4
0,2
1 Orev 2 DOP
2 1 1
4
D OP
0,1 14
1
1 3 3 12 2
14 4
2 23 2 4
C 12
2 2
0,0 2 3 3 3 3 2 12
2.000 2.020 2.040 2.060 2.080 2.100 2.000 2.020 2.040 2.060 2.080 2.100
Time Time

Gambar 13. Grafik R, Orev, D, dan C pada simulasi s2=0, s3=1


Simulasi memunjukan tidak ada kenaikan yang cukup berarti pada anggaran rutin (C),
anggaran pembangunan (D) dan total pendapatan pemerintah (R) pada saat memenuhi
kebutuhan pasar akan minyak. Kondisi lain menunjukan bagaimana produksi minyak (OP)
tidak dapat terus-menerus memenuhi kebutuhan pasar seperti apa yang disyaratkan oleh
kebijakan ekonomi makro. Pengaruh kebijakan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan pasar
akan minyak tidak memberikan dampak yang mendasar untuk meningkatkan laju pertumbuhan
domestik bruto (GRQ) begitupula pada pendapatan perkapita (QPAC), ini ditunjukan oleh
gambar 14 di bawah ini:
0,01

6,93889e-18 0,020
-0,01

QPAC
GRQ

0,015
-0,02
0,010
-0,03
0,005
-0,04

2.000 2.020 2.040 2.060 2.080 2.100 2.000 2.020 2.040 2.060 2.080 2.100
Time Time

Gambar 14. GRQ dan QPAC pada simulasi s2=0, s3=1


Kesimpulan
1. Sektor pajak akan sangat memberikan masukan yang mendasar apabila investasi pada
sektor swasta dapt dilakukan secara maksimal melalui sistem pajak yang baik dan
proporsional, tentunya ini harus dimulai dengan menarik investor masuk ke daerah di iringi
pula dengan perbaikan pengelolaan badan usaha milik daerah agar memiliki kinerja
produksi baik sehingga dana operasionalisasi yang bersumber dari pajak mampu digunakan
dengan efektif
2. Melakukan upaya untuk memperbaiki nilai bagi hasil antara pusat dan daerah yang
memungkinkan daerah memiliki pengelolaan penuh sebenarnya terhadap minyak yang
dimilikinya. Hal ini dapat dilakukan salah satunya dengan komitmen untuk menurunkan
angka korupsi dan meningkatkan penghasilan sektor pajak di daerah
3. Kenyataan bahwa minyak akan habis harus dibuktikan dengan tindakan-tindakan eksplorasi
yang tidak sporadis hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar, sebab tindakan sporadis
eksplorasi tidak cukup memberikan dampak bagi peningkatan PDB dan pendapatan per
kapita