Anda di halaman 1dari 4

Kaku Kuduk (nuchal (neck) rigidity)

Kaku kuduk merupakan gejala yang sering dijumpai pada kelainan rangsang selaput
otak. Kita jarang mendiagnosis meningitis tanpa gejala ini.
Untuk memeriksa kaku kuduk dapat dilakukan hal berikut: tangan pemeriksa
ditempatkan di bawah kepala pasien yang sedang bebaring. Kemudian kepala ditekukkan
(fleksi) dan diusahakan agar dagu mencapai dada. Selama penekukan ini diperhatikan adanya
tahanan. Bila terdapat kaku kuduk kita dapatkan tahanan dan dagu tidak mencapai dada.
Kaku kuduk dapat bersifat ringan atau berat. Pada kaku kuduk yang berat, kepala tidak dapat
ditekuk, malah sering kepala terkedik ke belakang. Pada keadaan yang ringan, kaku kuduk
dinilai dari tahanan yang dialami waktu menekukkan kepala.
Pada pasien yang pingsan (koma) kadang-kadang kaku kuduk menghilang atau
berkurang. Untuk mengetahui adanya kaku kuduk pada penderita dengan kesadaran yang
menurun, sebaiknya penekukkan kepala dilakukan sewaktu pernapasan pasien dalam keadaan
ekspirasi, sebab bila dilakukan dalam keadaan inspirasi, biasanya (pada keadaan normal) kita
juga mendapatkan sedikit tahanan, dan hal ini dapat mengakibatkan salah tafsir.
Selain dari rangsang selaput otak, kaku kuduk dapat disebabkan oleh miositis otot
kuduk, abses retrofaringeal, atau artritis di servikal.
Pada kaku kuduk oleh rangsang selaput otak, tahanan didapatkan bila kita
menekukkan kepala, sedangkan bila kepala di rotasi, biasanya dapat dilakukan dengan
mudah, dan umumnya tahanan tidak bertambah. Demikian juga gerak hiperekstensi dapat
dilakukan.
Hal ini mungkin tidak demikian pada kelainan tersebut diatas. Untuk menilai adanya
tahanan saat rotasi kepala, letakkan tangan anda pada dahi pasien kemudian secara lembut
dan perlahan-lahan anda putar kepalanya dari satu sisi ke sisi lainnya, dan nilai tahanannya.
Pada iritasi meningeal, pemutaran kepala dapat dilakukan dengan mudah dan tahanan tidak
bertambah. Untuk menilai keadaan ekstensi kepala, angkat bahu pasien dan lihat apakah
kepala dapat dengan mudah jatuh ke belakang. Pada keadaan iritasi selaput otak, tes rotasi
kepala dan hiperekstensi kepala biasanya tidak terganggu, sedangkan pada kelainan lain
(misalnya miositis otot kuduk, artritis servikalis, tetanus, peyakit parkinson) biasanya
terganggu. Selain itu, tanda Kernig positif pada rangsang selaput otak, namun tidak
demikian pada kelainan lain tersebut diatas.
Tanda Lasegue
Untuk pemeriksaan ini dilakukanhal berikut: pasien yang sedang berbaring diluruskan
(ekstensi) kedua tungkainya. Kemudian satu tungkai diangkat lurus, dibengkokkan (fleksi)
pada persendian panggulnya. Tungkai yangsatu lagi harus selalu berada dalam keadaan
ekstensi (lurus). Pada keadaan normal, kita dapat mencapai sudut 70 derajat sebelum timbul
rasa sakit dan tahanan. Bila sudah timbul rasa sakit dan tahanan sebelum kita mencapai 0
derajat, maka disebut tanda Lasegue positip. Namun demikian, pada pasien yang sudah lanjut
usianya diambil patokan 60 derajat. Tanda lasegue positif ditemukan pada kelainan berikut:
rangsang selaput otak, isialgia, dan iritasi pleksus lumbosakral (misalnya hernia nukleus
pulposus lumbalis)

Tanda Kernig
Pada pemeriksaan ini, penderita yang sedang berbaring difleksikan pahanya pada
persendian panggul sampai membuat sudut 90 derajat. Setelah itu tungkai bawah
diekstensikan pada persendian lutut. Biasanya kita dapat melakukan ekstensi ini sampai sudut
135 derajat, antara tungkai bawah dan tungkai atas. Bila tedapat tahanan dan rasa nyeri
sebelum tercapai sudut ini, maka dikatakan bahwa tanda kernig positip. Sebagaimana halnya
dengan tanda Lasegue, maka tanda kernig positif pada kelainan rangsang selaput otak, dan
iritasi akral lumbosakral dan pleksusnya (misalnya pada HNP-lumbal). Pada meningitis
tandanya biasanya positif bilateral, sedangkan pada HNP-lumbal dapat unilateral.

Tanda Brudzinski I (Brudzinskis neck sign)
Untuk memeriksa tanda ini dilakukan hal berikut: dengan tangan yang di tempatkan
dibawah keapala pasien yang sedang berbaring , kita tekukkan kepala sejauh mungkin sampai
dagu mencapai dada. Tangan yang satu lagi sebaiknya ditempatkan di dada pasien untuk
mencegah diangkatnya badan. Bila tanda Brudzinski positip, maka tindakan ini
mengakibatkan fleksi kedua tungkai. Sebelumnya perlu diperhatikan apakah tungkainya tidak
lumpuh. Sebab jika lumpuh, tentulah tungkai tidak akan difleksikan.

Tanda Brudzinski II (Brudzinskis contralateral neck sign)
Pada pasien yag sedang berbaring, satu tangkai difleksikan pada persendian panggul,
sedang tungkai yang satu lagi berada dalam keadaan ekstensi (lurus). Bila tungkai yang satu
ini ikut pula terfleksi, maka disebut tanda Brudzinski II positip. Sebagaimana dalam
memeriksa adanya tanda Brudzinski I, perlu diperhatikan terlebih dahulu apakah terdapat
kelumpuhan pada tungkai.