Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Sebagaian besar hewan kemungkinan tidak memiliki perasaan
sadar akan reproduksi sebagai suatu fungsi penting dalam kehidupan
mereka. Hewan juga tidak memiliki rasa ketertarikan yang terus-menerus
terhadap anggota hewan lain yang merupakan lawan jenisnya. Hewan
dalam melestarikan atau mempertahankan jenisnya, mau tidak mau maka
hewan tersebut harus melalui suatu proses yaitu perilaku kawin. Dalam
dunia vertebrata, beberrapa peneliti telah mempelajarinya mulai dari ikan
sampai mamalia, tetapi yang paling banyak diselidiki adalah aves dan
mamalia.
Perkawinan adalah suatu usaha untuk memasukan sperma ke dalam
alat kelamin betina. Perkawinan alami dilakukan oleh seekor pejantan
yang langsung memancarkan sperma kedalam alat reproduksi betina
dengan cara kopulasi. Terlebih dahulu pejantan mendeteksi kondisi berahi
betina dengan menjilati atau membau di sekitar organ reproduksi betina
bagian luar setelah itu pejantan melakukan penetrasi.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana perkawinan alam pada ternak?
2. Bagaimana tingkah laku perkawinan alam ternak?

C. TUJUAN
1. Mengetahui bagaimana perkawinan alam pada ternak.
2. Mengetahui bagaimana tingkah laku perkawinan alam ternak.

BAB II
PEMBAHASAN

A. PERKAWINAN ALAM
Perilaku kawin pada hewan-hewan merupakan hal yang paling
kompleks, tapi paling banyak menarik perhatian para ahli. Bagi hewannya
sendiri harus dianggap paling penting karena tanpa perkawinan, jenisnya
tidak mungkin bertahan. Pada hewan tingkat rendah, perilaku kawin
hampir seluruhnya dipengaruhi oleh rangsang-rangsang hormonal. Tetapi
tidak demikian halnya pada hewan-hewan yang tingkat tinggi. Pengaruh
luar, seperti belajar dan pengalaman, banyak ikut menentukan.
Banyak hewan yang fertile sepanjang tahun, tetapi banyak pula
yang memiliki musim-musim kawin tertentu. Kebersamaan atau
sinkronisasi antara hewan jantan dan betina sangat diperlukan untuk
terjadinya perkawinan. Musim kawin beberapa hewan yang tergolong
mamalia, ternyata dipengaruhi oleh perubahan panjang jam siang setiap
hari. Hal ini terjadi misalnya pada domba, kambing, kucing, yang dapat
berubah musim kawinnya dengan memanipulasi kondisi sinar.
Dijelaskan dalam migrasi, bahwa cahaya mempunyai pengaruh
pada permulaan timbulnya kegiatan kelamin, melalui kegiatan hipofisa
terlebih dahulu. Pada tikus-tikus betina yang sedang estrus, keinginan
berkelamin mencapai maksimum pada malam hari. Kenyataan ini
menyebabkan orang berpikir, bahwa perubahan gelap dan terang mungkin
memegang peranan.
Kalau memperhatikan dua anak ekor hewan, misalnya anak ayam,
maka bukan saja kedua hewan itu tidak menunjukkan perbedaan satu sama
lain, tetapi untuk membedakan mana yang jantan dan betina pun sudah
sukar. Tetapi keadaan ini akan berubah dengan segera, setelah bekerjanya
kelenjar-kelenjar kelamin dan adanya hormone kelamin. Bukan saja
tingkah lakunya yang berbeda, tetapi ciri-ciri luarnyapun telah
menunjukkan perbedaan yang nyata pada kebanyakan hewan. Hormone
kelamin betina akan memberikan cirri-ciri kebetinaan, sedang hormone
kelamin jantan akan memberikan cirri-ciri kejantanan.
Pada umumnya semua hewan jantan, memiliki sekuen kawin yang
sama. Hewan-hewan itu agresif mendekati hewan betina, mengelus leher
dengan kepala dan mulutnya, mencium kepala, daerah leher dan mulutnya
kemudian menaikinya dan kopulasi terjadi. Tetapi tingkah laku ini hilang
sama sekali, bila hewan-hewan itu dikebiri. Sedangkan hewan-hewan
betina akan berlaku seperti itu pada hewan-hewan lain, bila kepada hewan
betina itu diberikan testosterone. Tingkah laku menggandeng dan
mengelilingi betina dari burung merpati dan penguin jantan, seluruhnya
dipengaruhi oleh testosterone. Bila hewan betina yang diam ketika
dikelilingi hewan jantan, diberi testosterone, maka hewan betina tersebut
akan melakukan perilaku yang sama terhadap hewan lain seperti apa yang
dilakukan hewan jantan.
Upaya peningkatan populasi ternak sapi dapat dilakukan dengan
intensifikasi kawin alam melalui distribusi pejantan unggul terseleksi dari
bangsa sapi lokal atau impor dengan empat manajemen perkawinan, yakni:
1. perkawinan model kandang individu
2. perkawinan model kandang kelompok/umbaran
3. perkawinan model rench (paddock)
4. perkawinan model padang pengembalaan
Pejantan yang digunakan berasal dari hasil seleksi sederhana, yaitu
berdasarkan penilaian performans tubuh dan kualitas semen yang baik,
berumur lebih dari dua tahun dan bebas dari penyakit reproduksi seperti
EBL dan IBR.


Cara kawin alam ini dianjurkan dengan pertimbangan
1. secara alamiah ternak sapi potong memiliki kebebasan hidup, sehingga
mendukung perkembangbiakannya secara normal
2. secara alamiah ternak sapi jantan mampu mengetahui ternak sapi betina
yang berahi
3. penanganan perkawinan secara kawin alam memerlukan biaya yang sangat
murah, tanpa adanya campur tangan manusia
4. metode kawin alam sangat efektif dan efisien, sehingga dapat digunakan
sebagai pola usaha budidaya ternak mulai dari cara intensif, semi intensif
dan ektensif, bahkan juga dilakukan di beberapa perusahaan.

a. Perkawinan di kandang invidu (sapi diikat)

Kandang individu adalah model kandang dimana setiap ekor sapi
menempati dan diikat pada satu ruangan; antar ruangan kandang individu
dibatasi dengan suatu sekat. Kandang invidu di peternak rakyat, biasanya
berupa ruangan besar yang diisi lebih dari satu sapi, tanpa ada penyekat
tetapi setiap sapi diikat satu persatu. Model Perkawinan kandang individu
dimulai dengan melakukan pengamatan birahi pada setiap ekor sapi induk
dan perkawinan dilakukan satu induk sapi dengan satu pejantan (kawin
alam) atau dengan satu straw (kawin IB).
Biasanya kandang individu yang sedang bunting beranak sampai
menyusui pedetnya. Pengamatan birahi dapat dilakukan setiap hari pada
waktu pagi dan sore hari dengan melihat gejala birahi secara langsung
dengan tanda-tanda estrus. Apabila birahi pagi dikawinkan pada sore hari
dan apabila birahi sore dikawinkan pada besuk pagi hingga siang.
Persentase kejadian birahi yang terbanyak pada pagi hari. Setelah 6-12 jam
terlihat gejala birahi, sapi induk dibawa dan diikat ke kandang kawin yang
dapat dibuat dari besi atau kayu, kemudian didatangkan pejantan yang
dituntun oleh dua orang dan dikawinkan dengan induk yang birahi tersebut
minimal dua kali ejakulasi.
Setelah 21 hari (hari ke 18-23) dari perkawinan, dilakukan
pengamatan birahi lagi dan apabila tidak ada gejala birahi hinggga dua
siklus (42 hari) berikutnya, kemungkinan sapi induk tersebut berhasil
bunting. Untuk meyakinkan bunting tidaknya, setelah 60 hari sejak di
kawinkan, dapat dilakukan pemeriksaan kebuntingan dengan palpasi
rektal, yaitu adanya pembesaran uterus seperti balon karet (10-16 cm) dan
setelah hari ke 90 sebesar anak tikus. Induk setelah bunting tetap berada
dalam kandang individu hingga beranak, namun ketika beranak diharapkan
induk di keluarkan dari kandang individu selama kurang lebih 7-10 hari
dan selanjutnya dimasukkan ke kandang invidu lagi.

b. Perkawinan kandang kelompok

Kandang terdiri dari dua bagian, yaitu sepertiga sampai setengah
luasan bagian depan adalah beratap/diberi naungan dan sisanya di bagian
belakang berupa areal terbuka yang berpagar sebagai tempat pelombaran.
Ukuran kandang (panjang x lebarnya) tergantung pada jumlah ternak yang
menempati kandang, yaitu untuk setiap ekor sapi dewasa membutuhkan
luasan sekitar 20 30 m2. Bahan dan alatnya: dibuat dari semen atau batu
padas, dinding terbuka tapi berpagar, atap dari genteng serta dilengkapi
tempat pakan, minum dan lampu penerang.
Manajemen perkawinan model kandang kelompok dapat dilakukan
oleh kelompok tani atau kelompok perbibitan sapi potong rakyat yang
memiliki kandang kelompok usaha bersama (cooperate farming system)
dengan tahapan sebagai berikut:
Induk bunting tua hingga 40 hari setelah beranak (partus) diletakkan pada
kandang khusus, yakni di kandang bunting dan atau menyusui. Setelah 40
hari induk dipindahkan ke kandang kelompok dan dicampur dengan
pejantan terpilih dengan kapasitas sapi sebanyak 10 ekor betina (induk
atau dara) dan dikumpulkan menjadi satu dengan pejantan dalam waktu 24
jam selama dua bulan.
Setelah dua bulan dikumpulkan dengan pejantan dilakukan
pemeriksaan kebuntingan (PKB) dengan cara palpasi rectal terhadap
induk-induk sapi tersebut (perkawinan terjadi secara alami tanpa diketahui
yang kemungkinan pada malam hari atau waktu tertentu yang tidak
diketahui.

c. Perkawinan model mini
Sapi induk yang positif bunting dipisah dari kelompok tersebut dan
diganti dengan sapi yang belum bunting atau hasil pemeriksaan
kebuntingan dinyatakan negatif. Bahan dan alat berupa ren berpagar 30 x 9
M2 yang dilengkapi dengan tempat pakan dan minum beralaskan lantai
paras dan berpagar serta dilengkapi juga tempat pakan hay, diantaranya
jerami padi kering atau kulit kedele kering.
Kapasitas kandang dapat berisi satu ekor pejantan dengan 30 ekor
induk (1:30) dengan pemberian pakan secara bebas untuk jerami kering
dan 10 % BB rumput, 1 % BB untuk konsentrat diberikan secara bersama-
sama dua kali sehari pada pagi dan sore. Induk setelah 60 hari melahirkan
dipindahkan ke areal rench dan dicampur dengan pejantan terpilih dengan
kapasitas sapi sebanyak 30 ekor betina (induk atau dara) dan dikumpulkan
dengan satu pejantan dalam sepanjang waktu (24 jam) selama dua bulan;
Setelah dua bulan dikumpulkan dengan pejantan dilakukan pemeriksaan
kebuntingan dengan cara palpasi rektal terhadap induk sapi (perkawinan
terjadi secara alami tanpa diketahui yang kemungkinan pada malam hari
atau waktu tertentu yang tidak diketahui);

d. Perkawinan model padang pengembalaan
Pada model ini kapasitas areal angonan sangat luas dan dapat
diangon hingga ratusan ekor betina dan beberapa pejantan, yakni hingga
60-100 ekor induk dengan 2-3 pejantan (rasio betina : pejantan 100:3
dengan memperoleh hijauan pakan rumput atau tanaman hutan). Di sini
pergantian pejantan dilakukan setiap setahun sekali guna menghindari
kawin keluarga.
Nafsu kawin
Nafsu kawin dapat ditandai dengan respon pejantan pertama kali
melihat betina berahi dan jumlah menaiki. Rival dan Chenoweth (1982)
menyatakan bahwa domba jantan yang tidak mempunyai respon terhadap
betina berahi dikelompokan kepada domba jantan dengan nafsu kawin
rendah. Soenaryo (1988) menyaakan bahwa pejantan yang mempunyai
nafsu kawin lemah atau tidak ada sama sekali adalah patologik dan
merupakan infertilitas. Beragamnya nafsu kawin dapat dipengaruhi oleh
beragamnya umur ternak, kesehatan dan tingkat kegemukan.
Faktor-faktor seperti rangsangan penciuman yang dikeluarkan oleh
ternak betina berahi yang berasal dari urine atau dari berbagai bagin tubuh
yakni alat keamin luar, moncong dan lain sebagainya dapat merangsang
pejantan untuk mengawini betina (Toelihere, 1981) Hasil pengamatan
hastono et al (1977)menunjukan bahwa dengan meningkatnya umur pada
kambing PE jantan, respon untuk menaiki betina berahi semakin cepat.
Banyak sedikitnya jumlah menaiki dipengaruhi beberapa hal. Salah satu
diantaranya adalah ukuran tubuh pejantan yang terlalu besar dibanding
dengan betina berahi yang dikawininya sehingga pejantan mengalami
kesulitan untukmelakukan perkawinan (Setiadi, 990).
Hastono et al (1997) melaporkan bahwa semakin besar jumlah
kambing PE betina berahi dalam satu kelompok, maka respon kambing PE
jantan untuk menaiki kambing betina berahi semakin tinggi. Apabila
hanya satu ekor betina berahi yang dikawini, nafsu kawin pada ternak
jantan akan turun. Seperti yang diutarakan Toelihere (1981) bahwa apabila
domba jantan dikawinkan secara terus menerus dengan betina yang sama
akan mengalami kepuasan seksual. Devandra dan burn (1994) menyatakan
bahwa salah satu penyebab kegagalan reproduksi adalah karena cekaman
panas yaitu dapat berupa nafsu kawin dan fertilitas yang rendah pada
hewan jantan. Sebaliknya, hasil penelitian Rival dan Chenoweth (1982)
menunjukan bahwa nafsu kawin tidak dipengaruhi oleh waktu, yaitu pagi
hari dari jam 6.30-10.00 dan sore hari dari jam 14.30-18.00.
Kemampuan kawin
Salah satu faktor yang mempengaruhi kemampuan kawin adalah
bangsa (Toelihere, 1981). Beberapa indikator yang dapat dijadikan
patokan untuk menilai kemampuan kawin pada ternak yaitu, ejakulasi
pertama, jumlah ejakulasi, selang ejakulasi,. Akan tetapi yang paling
penting untuk menilai kemampuan kawin adalah berapa kali seekor
pejantan dapat melakukan peerkawinan dalam satuan waktu tertentuyang
ditandai dengan banyaknya jumlah ejakulasi. Toelihere (1981)
menyatakan bahwa ragsang visual memegang peranan penting dalam
pengendalian aspek-aspek tertentu dari kelakuan kelamin, yaitu pejantan di
stimulir oleh kehadiran seekor betina yang sedang berahi. Lebih lanjut
hasil pengamatan Kilgour yang di kutip oleh Fowler (1984) disebutkan
bahwa kemampuan kawin domba jantan dilapangan lebih baik bila
dibanding dengan di dalam kandang.
Perkins et al (1992) menyatakan bahwa domba jantan yang
mempunyai kemampuan kawin tinggi apabila dalam waktu 30 menit
miimal 6 kali ejakulasi, sedangkan yang rendah maksimum 2 kali
ejakulasi. Edward et al (1992) domba jantan mempunyai penampilan
seksual yang tinggi apabila rata-rata jumlah ejakulasi 5.5 kali atau lebih,
sedangkan yang rendah rata-rata3.5 kali atau kurang dalam waktu 30
menit. Edward et al (1996) menyatakan bahwa domba jantan yang
berumur 2 tahun 9 bulan untuk mencapai 6 kali ejakulasi membutuhkan
waktu rata-rata 29 menit bagi yang berpenampilan seksual tinggi,
sedangkan yang rendah memerlukan waktu rata-rata 77.6 menit untuk
mencapai 6 kali ejakulasi.
Toelihere (1981) dikatakan bahwa timbulnya kembali aktivitas
seksual yang berbeda-beda itu tergantung jenis, bangsa, dan individual
ternak. Lebih lanjut dikatakan nahwa apabila kondisi iklim memuaskan,
waktu siang atau malam tidak mempengaruhi aktivitas seksual, akan tetapi
pada keadaan tertentu perkawinan banyak terjadi di malam hari. Ashmawy
(1979) dalam devendra dan burn (1994) mendapatkan pada kambing
baladi di mesir bahwa jumlah ejakulasi dan waktu kelelahan berbeda
secara nyata antara musim. Pada musim semi jumlah ejakulasi rendah dan
cepat lelah. Jumlah ejakulasi dapat ditingkatkan dengan meningkatkan
frekuensi kawin yaitu dengan jalan menukar betina berahi yang
dikawininya.
Toelihere (1981) menyatakan bahwa frekuensi kawin berbeda-beda
menurut iklim, jenis bangsa, individu, seks ratio dan ruangan yang
tersedia. Selanjutnya faktor lainnya yang berpengaruh terhadap
kemampuan kawin adalah umur ternak. Hastono et al (1997) melaporkan
bahwa semakin besar jumlah kambing PE betina birahi dlam satu
kelompok, maka respon kambing PE jantan untuk ejakulasi semakin
tinggi. Synot et al (1981) yang di kutip tilbrook (1984) dalam setiadi
(1990) melaporkan bhwa domba-domba jantan yang ditempatkan dalam
kandang yang berisi 8 ekor betina birahi, rata-rata terjadi 12 kali ejakulasi
per hari.
B. TINGKAH LAKU PERKAWINAN ALAM TERNAK
1. Sapi
Perkawinan alami dilakukan oleh seekor pejantan yang langsung
memancarkan sperma kedalam alat reproduksi betina dengan cara
kopulasi. Terlebih dahulu pejantan mendeteksi kondisi berahi betina
dengan menjilati atau membau di sekitar organ reproduksi betina bagian
luar setelah itu pejantan melakukan penetrasi. Tanda tanda birahi pada
sapi betina adalah :
ternak gelisah
sering berteriak
suka menaiki dan dinaiki sesamanya
vulva : bengkak, berwarna merah, bila diraba terasa hangat (3 A
dalam bahasa Jawa: abang, abuh, anget, atau 3 B dalam bahasa
Sunda: Beureum, Bareuh, Baseuh)
dari vulva keluar lendir yang bening dan tidak berwarna
nafsu makan berkurangGejala
gejala birahi ini memang harus diperhatikan minimal 2 kali sehari
oleh pemilik ternak.

Jika tanda-tanda birahi sudah muncul maka pemilik ternak tersebut
tidak boleh menunda laporan kepada petugas. Betina-betina yang berahi
mempunyai vulva yang lembab, lender bening seringkali nampak keluar
dari vulva. Betina yang dalam fase lain dalam siklus berahi bisa jadi
menaiki betina lain, tetapi tidak mau jika dinaiki, oleh karena itu betina
diam dinaiki merupakan tanda tunggal yang kuat bahwa betina dalam
keadaan berahi. Jika seekor betina memasuki siklus berahi, manakala
betina tersebut dalam keadaan fertile, dimana betina ini berovulasi atau
melepas sel telur dari ovariumnya.
Waktu terbaik unatu menginseminasi dalah jika betina dalam keadaan
standing heat, yaitu sebelum terjadi ovulasi. Satu hal yang dianjurkan
untuk mengadakan pendeteksian berahi adalah denga cara menempatkan
sapi-sapi dara atau induk pada sebuah padang penggembalaan deteksi
berahi. Padang penggembalaan ini seyogyanya cukup luas, memungkinkan
betina-betina bisa kesana-kemasi dan bebas merumput, namun juga tidak
terlalu luas, sehingga operator dapat mengadakan deteksi berahi dengan
mudah.
Satu kunci sukses dalam deteksi berahi adalah lamanya waktu untuk
mengamati betina-betina, memeriksa tanda-tanda berahi, adalah
dianjurkan bagi operator meluangkan waktu selama minimal 30 menit
pada pagi hari dan 30 menit pada sore hari. Operator juga dianjurkan
memperhatikan betina-betina pada waktu-waktu yang sama setiap hari.
Jadi, mempelajari mengenal tanda-tanda berahi dan mengetahuinya betina-
betina yang sedang berahi merupakan kunci suksesnya satu program IB.
2. Kuda
Kuda merupakan hewan yang bersifat nomadik dan bersemangat
tinggi. Dalam keadaan liar efisiensi reproduksi kuda dapat mencapai 90 %
atau lebih tetapi dalam kondisi domestic dengan adanya campur tangan
manusia tingkat efisiensi reproduksinya sangat menurun. Hal itu
disebabkan oleh kurangnya kesempatan latihan fisik, penyakit serta
manajemen pemeliharaan yang belum baik. Seekor kuda betina dara akan
mencapai pubertas pada umur 12 sampai 15 bulan, tetapi lebih baik
dikawinkan setelah mencapai umur 2 tahun karena kuda betina yang
dikawinkan pada umur yang muda tingkat kebuntingannya rendah. Siklus
estrus seekor kuda betina rata-rata 21 hari dengan kisaran waktu antara 10
sampai 37 hari. Periode birahinya rata-rata 4 sampai 6 hari.
Tanda-tanda birahi kuda meliputi gelisah, ingin ditemani kuda lain,
urinasi berulang kali serta pembengkakan dan pergerakan vulva. Saat
kawin ovulasi terjadi pada saat-saat akhir periode estrus. Telur yang
dihasilkan dapat hidup selama 6 jam sedangkan sperma pejantan dapat
bertahan hidup sekitar 30 jam dalam saluran reproduksi betina. Rata-rata
masa kebuntingan kuda 335 hari dengan kisaran 315 sampai 350 hari.
Pemeriksaan kebuntingan dapat dilakukan dengan melakukan palpasi
rectal sekitar 60 hari setelah kawin. Tanda-tanda awal kelahiran berupa
membesarnya ambing, otot-otot vulva berelaksasi, ligamentum pelvis
berelaksasi, menjauhi kuda lain (menyendiri ), gelisah.
Perilaku kawin kuda sangat berbeda dari hewan lain. Kuda
bertanggung jawab atas segalah sesuatu dalam reproduksi, termasuk
periode kehamilan, laktasi, kelahiran dan siklus estrus. Kuda memiliki dua
ovarium dari 7-8 cm panjangnya. Seorang peternak kuda harus mengetahui
siklus reproduksi ternak kudanya. Kuda betina dan kuda jantan pasangan
satu sama lain pada waktu tertentu dan kesempatan. Perilaku perkawinan
kuda menunjukkan bahwa mereka tidak biasanya pasangan dalam
lingkungan sosial. Kuda-kuda membutuhkan banyak ruang terbuka untuk
pasangan. Perkembangbiakan kuda sangat berbeda dari perkawinan
mereka. Persis seperti anjing, ketika kuda yang dibesarkan, maka pasangan
dipilih dengan sangat hati-hati. Selain itu, pasangan ini dipilih dengan
melihat kualitas dan sifat bahwa kuda telah.
Sifat-sifat kuda dalam kombinasi dari sifat-sifat kuda betina itu adalah
apa yang membuat pasangan ideal untuk terjadi. Dalam lingkungan alam,
kuda bisa kawin dengan mudah. Dalam penangkaran, mungkin diperlukan
waktu beberapa hari untuk satu pasang kuda untuk kawin. Karena
lingkungan yang terkendali, menjadi lebih sulit bagi kuda-kuda untuk
kawin. Namun, salah satu ciri klasik dari hewan kuda adalah bahwa ketika
diperbolehkan untuk kawin pada mereka sendiri, mereka tidak salib
berkembang biak. Ada beberapa jenis kuda dan berbagai macam warna di
dalamnya. Hanya kuda pasangan dalam keturunan mereka. Ini juga bisa
menjadi salah satu alasan untuk ragu dalam pemeliharaan dengan breeds
lainnya.
3. Kambing
Tingkah laku reproduksi kambing ini menyangkut periode estrus
(birahi) dan masa kawin yang paling baik untuk kambing. Beberapa
tingkah laku atau ciri-ciri kambing betina dewasa sedang mengalami birahi
antara lain:
Kambing mengembek (mengembik) lebih banyak dari biasanya
walaupun pakan hijauan makanan ternak tersedia di dekatnya.
Kambing betina dewasa terlihat gelisah.
Kambing betina yang birahi sering menggesek-gesekkan badannya
ke dinding kandang.
Vulva kambing betina membengkak dari biasanya. Dalam hal ini
peternaklah yang dapat memantau secara pasti sebab merekalah
yang paling sering berinteraksi dengan kambing tersebut.
Vulva terlihat memerah atau lebih merah dari biasanya.
Kambing betina yang sedang birahi akan tenang bila didekati
pejantan (bandot). Terkadang ada beberapa kambing betina akan
menganjak (menaiki) kawanan kambing didekatnya.
Tingkah laku kambing yang sedang birahi lainnya yang paling sering
terlihat adalah menurunnya nafsu makan. Sebenarnya bila memelihara
kambing betina dan jantan sekaligus dalam satu kandang, pola dari tingkah
laku reproduksi ini tidak terlalu penting. Namun bila peternak kambing
ingin mengembang biakkan kambing dengan inseminasi buatan (Artificial
insemination) maka perilaku birahi pada kambing harus dipahami sedetai
mungkin. Sebab 75 % tingkat keberhasilan dari inseminasi ternak kambing
maupun inseminasi sapi bergantung pada penentuan masa birahi yang
tepat. Selain dari menentukan birahi pada kambing peternak juga
sebaiknya mengetahui lama masa birahi dan lama periode satu birahi ke
estrus lainnya. hal ini penting agar masa reproduksi dapat diatur seoptimal
mungkin.
Babi
Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa introduksi pejantan ke
sekelompok babi betina yang sebelumnya tidak berkontak dengan
pejantan, merangsang dan menyebabkan sebagian babi betina tersebut
berahi pada umur 4 bulan. Betina yang berahi biasanya adalah agresor
pencari pejantan. Bila mereka bertemu, tingkah laku kawin dan bercumbu
sampai kopulasi, terlihat perilaku kopulasi sebagai berikut :
Kontak cungur ke cungur.
Pejantan mencium alat kelamin betina (vulva).
Betina mencium alat kelamin jantan (penis).
Kontak kepala ke kepala, lagu bercanda, pejantan menggerut dan
mulut berbuih dan kencing secara ritmik.
Pejantan berusaha menaiki betina tetapi betina menolak.
Pejantan berusaha meraih betina
Betina memperlihatkan respons tak bergerak (immobilitas).
Pejantan naik dan berkopulasi, perkawinan berlangsung 10 20
menit.
Peranan pejantan merangsang sikap mau kawin dari betina sangat
penting. Sekitar 50% betina berahi biasanya akan berespons terhadap uji
naik oleh pemelihara. Respons ini meningkat melampaui 90% bila
pejantan hadir, atau bau pejantan tercium ataupun kehadiran pejantan
terdengar oleh betina berahi. Ludah pejantan mengandung senyawa berbau
yang merangsang betina berahi untuk menunjukkan sikap sedia kawin.
Ejakulasi betina biasanya didepositkan melalui corong serviks uterus
yang sedang relax. Pada saat perkawinan kelenjar pituitary betina
mengeluarkan hormone oksitoksin yang menimbulkan kontraksi ritmik
uterus. Kontraksi ini membantu transportasi sel-sel sperma ke tuba fallopi
untuk menunggu pengeluaran ovum dari folikel yang masak. Setelah
mencapai pubertas, biasanya babi betina menunjukkan berahi, atau estrus,
setiap 18- 22 hari ( rata-rata 21 hari) kecuali siklus ini disela oleh
kebuntingan atau kelainan reproduksi.

BAB III
KESIMPULAN

Perilaku kawin pada hewan-hewan merupakan hal yang paling
kompleks, tapi paling banyak menarik perhatian para ahli. Bagi hewannya
sendiri harus dianggap paling penting karena tanpa perkawinan, jenisnya
tidak mungkin bertahan. Upaya peningkatan populasi ternak sapi dapat
dilakukan dengan intensifikasi kawin alam melalui distribusi pejantan
unggul terseleksi dari bangsa sapi lokal atau impor dengan empat
manajemen perkawinan, yakni:
1. perkawinan model kandang individu
2. perkawinan model kandang kelompok/umbaran
3. perkawinan model rench (paddock)
4. perkawinan model padang pengembalaan
Setiap hewan memiliki ciri perilaku kawin yang berbeda-beda dengan
jenis hewan lainnya, baik dari cara percumbuannya maupun dari system
perkawinannya

DAFTAR PUSTAKA

Toelihere, M.R.1981. Fisiologi Reproduksi Pada Ternak. Angkasa, Bandung
Campbell, 2004. Biologi Jilid III. Erlangga
Rival, M.D. dan P.J. chenoweth. 1982. Libido Testing of Ram. Animal production
in Australia. proceeding of the Australian Society of Animal Production
volume 143.
Soenaryo.1998. Fertilitas dan Infertilitas Pada Sapi Tropis. CV baru, Jakarta
Hastono, I.G.M. dkk. 1997. Pengaruh Umur Terhadap Kinerja Seksual Pada
Kambing Jantan Peranakan Etawah. Prosiding seminar nasional peternakan
dan veteriner Bogor jilid 2.
Devandra dan Burn. 1994. Produksi Kambing di Daerah Tropis. Terjemahan
Harya Putra. ITB Bandung. Hal 117-120
Edward, O. dkk. 1992. Measures of Libido and Their Relation to Serving
Capacity in The Ram. J. Anim sci. 1992.30:3776-3780
Edward, O. dkk. 1996. Pepeaten Mating With Individual Ewes by Rams Differing
in Sexual Performance. J. Anim sci. 1996.74:542-544


MAKALAH REPRODUKSI TERNAK
PERKAWINAN ALAM

KELOMPOK 6
RULLY AGUNG NUGRAHA 200110130242
ABDUL RAHMAN 200110130249
ALDILLA RIFQI M 200110130250
CITRA FARADITA UTAMI 200110130273
INDRA PERMANA 200110130274






FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG
2014