Anda di halaman 1dari 3

F.

Organ Terkaid Lainnya


Otak
Akibatnya ia tergantung pada kelancaran dan suplai dari pembuluh darah di otak. Ketika
aliran darah di otak terganggu, kesadaran akan hilang dalam waktu 10 detik. Ada beberapa
mekanisme yang menyebabkan aliran darah di otak terganggu.
Pertama, gangguan dari organ yang bertugas memompa darah, yakni jantung. Kedua,
gangguan pada pipa penyalurnya, yakni pembuluh darah. Tidak seperti pipa PDAM yang
tidak elastis, diameter pembuluh darah bisa melebar dan menyempit. Apabila terjadi
penurunan tahanan yang mendadak, diameternya bisa melebar seketika.
Akibatnya darah tidak tersalurkan dengan baik ke otak, karena terkumpul di tempat lain.
Begitu juga kalau ada sumbatan sementara pada pembuluh darah di otak atau penurunan
volume darah tubuh. Semuanya menyebabkan aliran darah ke otak berkurang.
Penyebab
Nah, secara garis besar, penyebab pingsan dibagi menjadi dua. Akibat kelainan jantung
(cardiac syncope) dan penyebab bukan kelainan jantung. Pembagian ini sangat penting,
karena berhubungan dengan tingkat risiko kematian selanjutnya seperti yang telah disebut di
atas.Studi yang sama juga menunjukkan bahwa pada pingsan akibat kelainan jantung, tingkat
kematian dalam satu tahun mencapai 18-33 persen. Bandingkan dengan pingsan sebab
kelainan bukan jantung yang hanya 0-12 persen. Karena itu, meskipun kelainan jantung
hanya mendasari sekitar 20 persen dari keseluruhan kasus pingsan, tetapi sejak awal langkah
pertama yang harus dilakukan adalah menyingkirkan ada tidaknya kelainan jantung yang
mendasari.Bagaimana caranya? Dari wawancara yang baik, pemeriksaan fisik dan
elektrokardiografi (EKG), bisa diduga kemungkinan kelainan jantung yang mendasari.
Riwayat penyakit jantung apapun sebelumnya, pingsan yang terjadi saat aktivitas ekstra
berat, atau malah sebaliknya saat santai dalam posisi tidur, diawali dengan berdebar-debar,
sering sesak napas sebelumnya, dan riwayat keluarga meninggal mendadak, semuanya
menjurus ke penyebab dari jantung.Apalagi bila didapatkan kelainan jantung dari
pemeriksaan fisik dan EKG. Ada dua kelainan jantung yang sering menjadi penyebab
pingsan.Pertama adanya hambatan pada aliran darah di pompa jantung. Seperti pada pompa
air yang katupnya rusak, fungsi pompa jantung pun bisa terganggu dan volume darah yang
dihasilkan menurun.Penurunan jumlah darah yang dikeluarkan oleh jantung ini akan
menyebabkan penurunan perfusi otak dan memicu pingsan. Hal ini terjadi pada kondisi
penyempitan katup- katup jantung, kelainan otot jantung, penumpukan cairan di selaput
jantung, tumor dalam jantung, dan lain-lain.
Kedua adalah gangguan irama jantung (aritmia). Bayangkan apabila irama jantung tiba-tiba
melambat. Tentu saja terjadi penurunan aliran darah di otak. Begitu pula jika ia memompa
terlalu cepat. Pengisian ruang-ruang jantung menjadi tidak maksimal, dan kekuatan pompa
menurun drastis. Contoh melambatnya irama adalah sick sinus syndrome (SSS).
Pada SSS terjadi kerusakan sinus, suatu titik dengan otoritas tertinggi dari jantung yang
bertugas mengatur irama jantung. Kerusakan ini bisa terjadi akibat proses menua, penurunan
pasokan oksigen, atau infeksi. Apabila si jendral pengatur sakit, maka ada beberapa saat di
mana irama jantung melambat atau malah terlalu cepat. Saat jantung berhenti berdetak
beberapa saat itulah pingsan menjelma.
Karena itu, sangatlah penting untuk mengetahui seberapa besar risiko jadinya gangguan
irama jantung pada seseorang yang mengalami episode pingsan. Adanya riwayat penyakit
jantung koroner, gagal jantung, kelainan katup, pemakaian alat pacu jantung atau kelainan
jantung bawaan memperkuat dugaan bahwa penyebab pingsan berasal dari kelainan jantung.
Begitu juga faktor lain seperti hipertensi, diabetes, dan riwayat anggota keluarga dengan
penyakit jantung atau meninggal mendadak. Perlu dipikirkan juga gangguan irama jantung
yang disebabkan obat-obatan jantung yang dikonsumsi.
Pingsan dengan kecurigaan akibat kelainan jantung memerlukan pemeriksaan lanjutan.
Konsultasi dengan dokter jantung sangat mendesak. Ekhokardiografi, monitor EKG, dan
pemeriksaan elektrofisiologi mungkin diperlukan untuk memastikan diag-nosa dan
menentukan terapi selanjutnya.
Bukan Jantung
Bagaimana bila dari hasil wawancara, pemeriksaan fisik dan EKG tidak mengarah ke
kelainan jantung? Maka langkah diagnostik akan ditujukan pada sebab lain. Pingsan bisa
disebabkan oleh mekanisme vasovagal (vasovagal syncope) atau disebut neurocardiogenic
syncope.
Prosesnya terjadi akibat stimulasi berlebihan dan keliru dari sistem saraf vagus (saraf ke-10),
yang mengakibatkan respon penurunan tekanan darah secara tiba-tiba dengan atau tanpa
berkurangnya frekuensi denyut jantung.
Tiadanya riwayat penyakit jantung, pingsan yang berulang-ulang, terdapat episode kepala
terasa ringan, pandangan kabur dan mual muntah 1-2 menit sebelumnya mengarahkan pada
pingsan jenis ini.
Contohnya pada kondisi stres emosional, nyeri yang sangat, berdiri terlalu lama, aktivitas di
lingkungan yang terlalu panas, batuk, serta saat buang air kecil dan besar. Pingsan jenis ini
juga terjadi akibat terlalu pekanya sinus karotis pada leher hingga merangsang reflek saraf
vagus, misalnya pada penggunaan baju dengan kerah yang terlalu ketat.
Hipotensi ortostatik, suatu kondisi penurunan tekanan darah dengan perubahan posisi,
menjadi salah satu sebab terbanyak dari pingsan. Terutama pada usia muda dan tanpa riwayat
penyakit jantung. Saat kita berdiri, lebih dari 0,5 liter darah berpindah ke perut dan kaki.
Seharusnya tubuh merespon penurunan volume darah tersebut dengan meningkatkan
kontraktilitas otot jantung, penambahan frekuensi denyut jantung, dan peningkatan tahanan
pembuluh darah. Proses menua, diabetes, gagal ginjal, alkohol, infeksi, kekurangan vitamin
B12, dan obat-obat tertentu menganggu proses adaptasi tersebut.
Apalagi bila didapatkan penurunan volume cairan tubuh seperti pada kondisi diare, atau
peningkatan dosis obat anti hipertensi. Kemungkinan penyebab pingsan yang lain masih
sangat banyak.
Kelainan pembuluh darah di otak yang menyebabkan sumbatan sementara bisa memunculkan
gejala awal sebagai pingsan.
Penurunan kadar gula darah, kekurangan oksigen, dan hiperventilasi yang ditandai napas
cepat dan dalam yang biasanya berhubungan dengan faktor psikologis juga menjadi pemicu
pingsan.