Anda di halaman 1dari 14

Nama Kelompok :

1. Abdul Syukur (013-03-001)


2. Adi Saputra (013-03-002)
3. Ahmad Naswian N (013-03-003)
4. Ainul Mardiyah (013-03-004)
5. Akbar (013-03-005)
6. Amiruddin (013-03-006)
7. Ardi Wiranata (013-03-007)


LAPORAN PRAKTIKUM
PENGELASANN






POLITEKNIK BOSOWA 2014
Kampus 1 - Jalan Lanto Dg. Pasewang No.39-41, Makassar-Sulawesi-Selatan 90123
Telp. +62 411 855 123, Faks. +62 411 855 223
Email:info@politeknik-bosowa.ac.id, Website: www.politeknik-
bosowa.com


LAPORAN PRAKTIKUM PENGELASAN
KATA PENGANTAR i

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya ucapkan atas kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan karunia-Nya saya masih diberi
kesempatan untuk menyelesaikan Laporan Praktikum Pengelasan. Tidak lupa saya ucapkan terimakasih kepada dosen
pembimbing dan teman-teman yang telah memberikan doa dan dukungan dalam menyelesaikan Laporan Praktikum ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan Laporan Praktikum ini masih banyak kekurangan, oleh sebab itu
penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Dan semoga dengan selesainya Laporan Praktikum ini
dapat bermanfaat bagi pembaca dan teman-teman. Terima Kasih


Penulis

Makassar, 20 Juni 2014













LAPORAN PRAKTIKUM PENGELASAN
DAFTAR ISI ii

DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR ............................................................................................................................................ i
DAFTAR ISI ................................................................................................................................................... ii
PRAKTKUM I .................................................................................................................................................. 1
MENGENAL PENGELASAN DAN TEKHNIK DASAR PENGELASAN ........................................................................................ 1
1.1 TUJUAN ........................................................................................................................................... 1
1.2 DASAR TEORI .................................................................................................................................... 1
1.3 ALAT DAN BAHAN ................................................................................................................................ 5
1.4 LANGKAH KERJA ................................................................................................................................. 6
1.5 ANALISIS ......................................................................................................................................... 6
1.6 KESIMPULAN ..................................................................................................................................... 7
PRAKTKUM II ................................................................................................................................................. 8
PENGELASAN POSISI 1F DAN 2F ........................................................................................................................... 8
2.1 TUJUAN ........................................................................................................................................... 8
2.2 DASAR TEORI .................................................................................................................................... 8
2.3 ALAT DAN BAHAN ................................................................................................................................ 9
2.4 LANGKAH KERJA ................................................................................................................................. 9
2.5 ANALISIS ....................................................................................................................................... 10
2.6 KESIMPULAN ................................................................................................................................... 10



LAPORAN PRAKTIKUM PENGELASAN
PRAKTIKUM I 1

PRAKTKUM I
MENGENAL PENGELASAN DAN TEKHNIK DASAR PENGELASAN

1.1 TUJUAN
Setelah melakukan praktikum ini Anda diharapkan mampu mengenal cara pengelasan yang sesuai dengan
prosedur pengelasan.
1.2 DASAR TEORI
Pengelasan (welding) adalah salah salah satu teknik penyambungan logam dengan cara mencairkan
sebagian logam induk dan logam pengisi dengan atau tanpa tekanan dan dengan atau tanpa logam
penambah dan menghasilkan sambungan yang kontinyu.
Lingkup penggunaan teknik pengelasan dalam kontruksi sangat luas, meliputi perkapalan, jembatan, rangka
baja, bejana tekan, pipa pesat, pipa saluran dan sebagainya.
Disamping untuk pembuatan, proses las dapat juga dipergunakan untuk reparasi misalnya untuk mengisi
nlubang-lubang pada coran. Membuat lapisan las pada perkakas mempertebal bagian-bagian yang sudah
aus, dan macam macam reparasi lainnya.
Pengelasan bukan tujuan utama dari kontruksi, tetapi hanya merupakan sarana untuk mencapai ekonomi
pembuatan yang lebih baik. Karena itu rancangan las dan cara pengelasan harus betul-betul
memperhatikan dan memperlihatkan kesesuaian antara sifat-sifat lasdengan kegunaan kontruksi serta
kegunaan disekitarnya.
Prosedur pengelasan kelihatannya sangat sederhana, tetapi sebenarnya didalamnya banyak masalah-
masalah yang harus diatasi dimana pemecahannya memerlukan bermacam-macam penngetahuan.
Karena itu didalam pengelasan, penngetahuan harus turut serta mendampingi praktek, secara lebih
bterperinci dapat dikatakan bahwa perancangan kontruksi bangunan dan mesin dengan sambungan las,
harus direncanakan pula tentang cara-cara pengelasan. Cara ini pemeriksaan, bahan las, dan jenis las
yang akan digunakan, berdasarkan fungsi dari bagian-bagian bangunan atau mesin yang dirancang.
Berdasarkan definisi dari DIN (Deutch Industrie Normen) las adalah ikatan metalurgi pada sambungan
logam paduan yang dilaksanakan dalam keadaan lumer atau cair. Dari definisi tersebut dapat dijabarkan
lebih lanjut bahwa las adalah sambungan setempat dari beberapa batang logam dengan menggunakan
energi panas. Pada waktu ini telah dipergunakan lebih dari 40 jenis pengelasan termasuk pengelasan yang
dilaksanakan dengan cara menekan dua logam yang disambung sehingga terjadi ikatan antara atom-atom
molekul dari logam yang disambungkan.klasifikasi dari cara-cara pengelasan ini akan diterangkan lebih
lanjut.

Pada waktu ini pengelasan dan pemotongan merupakan pengelasan pengerjaan yang amat penting dalam
teknologi produksi dengan bahan baku logam. Dari pertama perkembangannya sangat pesat telah banyak
teknologi baru yang ditemukan. Sehingga boleh dikatakan hamper tidak ada logam yang dapat dipotong dan


LAPORAN PRAKTIKUM PENGELASAN
PRAKTIKUM I 2

di las dengan cara-cara yang ada pada waktu ini.
Dalam bab ini akan diterangkan beberapa cara penngelasan dan pemotongan yang telah banyak digunakan
sedangkan penerapannya dalam praktek akan diterangkan dalam bab-bab yang lain.

KLASIFIKASI CARA-CARA PENGELASAN DAN PEMOTONGAN
Sampai pada waktu ini banyak sekali cara-cara pengklasifikasian yang digunakan dalam bidang las, ini
disebabkan karena perlu adanya kesepakatan dalam hal-hal tersebut. Secara konvensional cara-cara
pengklasifikasi tersebut vpada waktu ini dapat dibagi dua golongan, yaitu klasifikasi berdasarkan kerja dan
klasifikasi berdasarkan energi yang digunakan.
Klasifikasi pertama membagi las dalam kelompok las cair, las tekan, las patri dan lain-lainnya. Sedangkan
klasifikasi yang kedua membedakan adanya kelompok-kelompok seperti las listrik, las kimia, las mekanik
dan seterusnya.
Bila diadakan pengklasifikasian yang lebih terperinci lagi, maka kedua klasifikasi tersebut diatas dibaur
dan akan terbentuk kelompok-kelompok yang banyak sekali.
Diantara kedua cara klasifikasi tersebut diatas kelihatannya klasifikasi cara kerja lebih banyak digunakan
karena itu pengklasifikasian yang diterangkan dalam bab ini juga berdasarkan cara kerja.

Berdasrkan klasifikasi ini pengelasan dapat dibagi dalam tiga kelas utama yaitu : pengelasan cair,
pengelasan tekan dan pematrian.
1. Pengelasan cair adalah cara pengelasan dimana sambungan dipanaskan sampai mencair dengan sumber
panas dari busur listrik atau sumber api gas yang terbakar.
2. pengelasan tekan adalah pcara pengelasan dimana sambungan dipanaskan dan kemudian ditekan hingga
menjadi satu.
3. pematrian adalah cara pengelasan diman sambungan diikat dan disatukan denngan menggunakan
paduan logam yang mempunyai titik cair rendah. Dalam hal ini logam induk tidak turut mencair.

Pemotongan yang dibahas dalam buku ini adalah cara memotong logam yang didasarkan atas mencairkan
logam yang dipotong. Cara yang banyak digunakan dalam pengelasan adalah pemotongan dengan gas
oksigen dan pemotongan dengan busur listrik.
Pengelasan yang paling banyak ndigunakan pada waktu ini adalah pengelasan cair dengan busur gas.
Karena itu kedua cara tersebut yaitu las busur listrik dan las gas akan dibahas secara terpisah.
Sedangkan cara-cara penngelasan yang lain akan dikelompokkan dalam satu pokok bahasan. Pemotongan,
karena merupakan masalah tersendiri maka pembahasannya juga dilakukan secara terpisah.
Dibawah ini klasifikasi dari cara pengelasan :
a) Pengelasan cair

Las gas
Las listrik terak
Las listrik gas
Las listrik termis
Las listrik elektron
Las busur plasma


LAPORAN PRAKTIKUM PENGELASAN
PRAKTIKUM I 3

b) Pengelasan tekan

Las resistensi listrik
Las titik
Las penampang
Las busur tekan
Las tekan
Las tumpul tekan
Las tekan gas
Las tempa
Las gesek
Las ledakan
Las induksi
Las ultrasonic

c) Las busur
Elektroda terumpan

d) Las busur gas
Las m16
Las busur CO2

e) Las busur gas dan fluks
Las busur CO2 dengan elektroda berisi fluks
Las busur fluks
Las elektroda berisi fluks
Las busur fluks
o Las elektroda tertutup
o Las busur dengan elektroda berisi fluks
o Las busur terendam
Las busur tanpa pelindung
o Elektroda tanpa terumpan
Las TIG atau las wolfram gas
Dalam pengelasan, hal yang penting untuk diperhatikan adalah K3 las. Alat keselamatan kerja las sangan
vital untuk digunakan. Penggunaan alat keselamatan kerja las ini akan memberikan jaminan keselamatan
kepada juru las sehimgga akan meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil pengelasan. Macam-macam
alat keselamatan kerja antara lain :



LAPORAN PRAKTIKUM PENGELASAN
PRAKTIKUM I 4

Apron

Gambar 1.1
Apron berfungsi untuk melindungi dada dari sinar ultraviolet, infra red, percikan bunga api las dan
benda-benda tajam.
Helm las/topeng las

Gambar 1.2
Helm las digunakan untuk melindungi mata dari sinar laser dan infra red saat mengelas sekaligus
menhindari radiasi panas las serta percikan api. Pada helm las tertentu didesain lengkap dengan
masker hidung yang berfungsi untuk melindungi dengan asap api las yang dapat mengganggu bahkan
merusak alat pernapasan.
Kaca las

Gambar 1.3


LAPORAN PRAKTIKUM PENGELASAN
PRAKTIKUM I 5

Kaca las berfungsi untuk melindungi mata dari sinar las yang menyilaukan, sinar ultraviolet dan infra
red. Nyala-nyala tersebut sangat mampu untuk merusak penglihatan mata juru las bahkan dapat
mengakibatkan kebutaan. Pemilihan kacamata las disesuaikan dengan besar kecilnya arus
pengelasan
Sarung tangan

Gambar 1.4
Sarung tangan berfungsi untuk melindungi tangan dari sengatan listrik, panas logam dan benda-
benda tajam
Sepatu kulit

Gambar 1.5
Sepatu kulit ini terbuat dari bahan kulit yang pada ujung sepatu terdapat logam pelindung dengan
kapasitas 2 ton. Sepatu ini akan melindungi juru las dari sengatan listrik, kejatuhan benda, benda
pana maupun benda tajam.

1.3 ALAT DAN BAHAN
Mesin Pengelasan
Helm Las
Masker
Kacamata Las


LAPORAN PRAKTIKUM PENGELASAN
PRAKTIKUM I 6

Apron lengan
Apron Badan
Sarung tangan Las
Sepatu Safety
Elektroda Diameter 0,26 mm

1.4 LANGKAH KERJA
1. Siapkan Alat dan Bahan yang akan digunakan
2. Nyalakan mesin Las, Atur Ampere pada posisi 80 Ampere karena menggunakan elektroda yang
berdiameter 0,26 mm.
3. Pakailah Alat Pelindung Diri berupa masker, Apron Lengan, Apron Badan, Kaos tangan Las dan Helm
Las.
4. Siapkan plat-plat yang akan digunakan untuk latihan mengelas.
5. Ambil elektroda yang berdiameter 0,26 mm, kemudian jepitkan pada ujung penjepit mesin las.
6. Tutup helem las sebelum melakukan pengelasan agar mata tidak melihat langsung sinar las ketika
menyala.
7. Goreskan elektroda pada sekitar plat-plat besi yang akan dilas.
8. Atur nyala lektroda , usahakan elektrode dengan plat besi jaraknya tidak terlalu tinggi, usahakan
geseran peNgelasan seacra konstan.
9. Setelah selesai pengelasan rapikan alat dan bahan, kemudian bereskan area kerja.
1.5 ANALISIS
Cara menyalakan api las yaiutu dengan cara menggesekkan elektroda pada pelat logam/besi atau dengan
cara menumbuk pelat dengan elektroda. Saat api las sudah menyala, hal yang harus diperhatikan agar
hasil pengelasan bagus yaitu :
1. Kemiringan Elektroda
Pada saat api las menyala, kemiringan elektrodanya yaitu 75 dari pelat logam/besi
2. Jarak antara Elektroda dan Pelat Logam/Besi
Saat api las menyala, jarak antara elektroda denga pelat yaitu disesuaikan dengan panjang diameter
kawat besi elektroda. Misalnya panjang diameter kawat elektroda yaitu 2,5 mm, maka jarak antara
pelat logam/besi dan elektroda yaitu 2,5mm.
3. Kecepatan


LAPORAN PRAKTIKUM PENGELASAN
PRAKTIKUM I 7

Saat mengelas dari satu tempat ke tempat lain yaitu jalannya elektroda. Tidak boleh terlalu cepat
karena akan menyebabkan hasil pengelasan yang tipis

1.6 KESIMPULAN
Pengelasan adalah suatu tekhnik untuk menyambungkan logam dengan mencairkan sebagian logam pengisi
dan induk dengan atau tidak dengan logam penambah serta menghasilkan sambungan kontinyu.
Sebelum pengelasan, hal yang harus diperhatikan yaitu :
1. Alat perlindungan diri sudah digunakan, untuk mencegah terjadinya kecelakaan
2. Pengaturan besar arus yang digunakan sudah tepat
Saat pengelasan, ada juga beberapa hal yang harus diperhatikan :
1. Kemiringan elektroda
2. Jarak antara elektroda dan plat besi
3. Kecepatan gerak


LAPORAN PRAKTIKUM PENGELASAN
PRAKTIKUM II 8

PRAKTKUM II
PENGELASAN POSISI 1F DAN 2F

2.1 TUJUAN
1. Mahasiswa mengetahui apa itu posisi pengelasan
2. Mahasiswa dapat menggunakan alat pengelasan
3. Mahasiswa mengetahui tekhnik dasar pengelasan dengan posisi 1F dan 2F
2.2 DASAR TEORI
Posisi pengelasan atau sikap pengelasan adalah pengaturan posisi dan gerakan arah dari pada elektroda
sewaktu mengelas. Adapun posisi pengelasan ada empat macam yaitu ;

Gambar 2.1
a. Posisi dibawah tangan
Suatu cara pengelasan yang dilakukan pada permukaan rata/datar dan dilakukan dibawah tangan.
Kemiringan elektroda las sekitar 10 - 20 terhadap garis pertikal
b. Posisi datar (horizontal)
Mengelas dengan horizontal biasa juga disebut dengan mengelas merata dimana kedudukan benda
kerja dibuat tegak dan arah elektroda mengikuti horizontal
c. Posisi tegak (vertikal)
Mengelas posisi tegak adalah apabila dilakukan arah pengelasannya keatas atau kebawah.
Pengelasan ini termasuk pengelasan yang paling sulit karena bahan cair yang mengalir dan
menumpuk dibawah dapat diperkecil dengan kemiringan elektroda sekitar 10 - 15
d. Posisi diatas kepala (over head)
Posisi pengelasan ini sangat sukar dan berbahaya karena bahan cair yang banyak berjatuhan dapat
mengenai juru las, oleh karena itu diperlukan perlengkapan yang serba lengkap seperti APD atau K3
las. Mengelas dengan posisi ini benda kerja terletak pada bagian atas juru las dan kedudukan
elektroda 5 - 20 terhadap garis vertikal


LAPORAN PRAKTIKUM PENGELASAN
PRAKTIKUM II 9


Keterangan pengelasan pada pelat :
1F
Pengelasan 1F, benda kerja dimiringkan 45 sehingga bagian yang akan di las membentuk V
2F
Pengelasan 2F, posisi benda kerja tegak lurus. Kemiringan elektroda 45 terhadap garis vertikal
dan 10 - 20 terhadap garis vertikal kearah jalannya elektroda



2.3 ALAT DAN BAHAN
Mesin Pengelasan
Helm Las
Masker
Kacamata Las
Apron lengan
Apron Badan
Sarung tangan Las
Sepatu Safety
Elektroda Diameter 0,26 mm
2.4 LANGKAH KERJA
1. Siapkan Alat dan Bahan yang akan digunakan
2. Nyalakan mesin Las, Atur Ampere pada posisi 80 Ampere karena menggunakan elektroda yang
berdiameter 0,26 mm.
3. Pakailah Alat Pelindung Diri berupa masker, Apron Lengan, Apron Badan, Kaos tangan Las dan Helm
Las.
4. Siapkan plat-plat yang akan digunakan untuk latihan mengelas.
5. Ambil elektroda yang berdiameter 0,26 mm, kemudian jepitkan pada ujung penjepit mesin las.
6. Tutup helem las sebelum melakukan pengelasan agar mata tidak melihat langsung sinar las ketika
menyala.
7. Goreskan elektroda pada sekitar plat-plat besi yang akan dilas.
8. Atur nyala lektroda , usahakan elektrode dengan plat besi jaraknya tidak terlalu tinggi, usahakan
geseran pegelasan seacra konstan.


LAPORAN PRAKTIKUM PENGELASAN
PRAKTIKUM II 10

9. Setelah selesai pengelasan rapikan alat dan bahan, kemudian bereskan area kerja.
2.5 ANALISIS
Pengelasan 1F dilakukan dengan cara memiringkan benda kerja 45 lalu dilakukan pengelasan dari atas.
Sedangkan, pengelasan 2F dilakukan dengan posisi benda kerja tegak lurus dan kemiringan elektroda 45.
Selain 1F dan 2F, ada juga pengelasan dengan posisi 3F dan 4F. Lihat gambar dibawah ini

Gambar 2.2

2.6 KESIMPULAN
Pengelasan posisi 1F dan 2F digunakan pada saat ingin menyambungkan benda kerja agar berbentuk tegak
lurus. Hal yang harus diperhatikan saat pengelasan 1F dan 2F adalah kemirigan benda kerja dan
kemiringan dari elektroda.


LAPORAN PRAKTIKUM PENGELASAN
PRAKTIKUM II 11