Anda di halaman 1dari 12

Faktor Pendorong dan Penghambat Pembangunan

Dalam proses pembangunan ditemukan adanya faktor pendorong dan penghambat atas
jalannya proses pembangunan itu sendiri. Berikut ini uraian singkatnya:

Faktor pendorong
1. Nilai-nilai budaya
a. berorientasi pada kemampuan sendiri
b. sifat tahan penderitaan
c. berorientasi pada usaha
d. sikap toleransi
e. gotong royong

2. Sikap mental
a. penilaian tinggi terhadap unsur-unsur yang membawa kebaikan
b. penilaian tinggi terhadap hasil karya orang lain
c. ingin menguasai alam dengan kaidah yang benar
d. berorientasi masa depan
e. penilaian tinggi terhadap kerjasama

Faktor penghambat
1. sikap tradisionalistis
2. Vested Interest
3. prasangka buruk terhadap sesuatu yang baru
4. kekhawatiran terjadi kegagalan pada integrasi budaya
5. hambatan yang bersifat ideologis
6. komunikasi yang belum lancar
7. tingkat pendidikan rendah



selain itu, terdapat pula sikap mental yang tidak cocok untuk pembangunan, seperti:

a. sikap pasrah menerima
b. sikap kurang disiplin
c. sikap kurang suka kerja keras
d. sikap kurang jujur
e. sikap hidup boros
f. sikap ketergantungan terhadap orang lain
g. sikap prasangka buruk terhadap pembaruan
h. sikap mengisolasi terhadap pembaruan


VII
FAKTOR PENDORONG DAN PENGHAMBAT PEMBANGUNAN
KESEHATAN INDONESIA



A. PEMBANGUNAN KESEHATAN
Berdasarkan data SDKI 2002 - 2003, kondisi dan status kesehatan Perempuan
Indonesia masih rendah. Hal ini terlihat dari Indikator Angka Kematian Ibu (AKI) Angka
Kematian Ibu atau Maternal Mortality Rate (MMR) di Indonesia untuk periode tahun1998-
2002, adalah sebesar 307 per 100.000 kelahiran hidup.. AKI di Indonesia masih berada di
posisi tertinggi dibandingkan negara-negara lain di ASEAN. Adapun faktor penyebabnya
adalah status kesehatan reproduksi ibu yang buruk, status gizi ibu sebelum dan selama
kehamilan yang rendah, kurangnya tingkat pendidikan ibu,dan rendahnya tingkat ekonomi
keluarga.
Isu lain adalah rentannya perempuan terhadap Penyakit menular ( HIV/AIDS) terutama
daerah padat penduduk, perbatasan dan daerah wisata karena kurangnya pengetahuan
HIV/AIDS dan kurangnya akses pelayanan pencegahan dan Kekerasan Terhadap
Perempuan. Masih banyaknya penyakit infeksi dan menular yang disebutkan diatas,
menyebabkan beban ganda (double burden)yang ditanggung semakin berat ,karena penyakit
degenerative dan life style tergolong tinggi. Revrisond bawsir dkk (1999), dalam bukunya
pembangunan tanpa perasaanmenyebutkan bahwa pelayanan kesehatan kita belum
menjangkau seleruh lapisan masyarakat alias tidak merata,diperparah lagi subsidi sector
kesehatan malah dinikmati kalangan berpunya.
Ironisnya, masyarakat, media massa, politikus bahkan insan kesehatan masih
memandang hak kesehatan hanya pada hak untuk memperoleh pelayanan kuratif dirumah
sakit dan puskesmas .Padahal,hak untuk menikmati hidup sehat jauh lebih luas daripada
sekedar hak akan pelayanan kuratif.salah satu jaminan dari Negara bahwa segala akses
informasi tentang kesehatan dan ketersediannya harus terpenuhi bagi segala lapisan
masyarakat.
Kesehatan perempuan sebagai sebuah investasi merupakan cerminan dari pentingnya
SDM yang produktif. Di beberapa Negara maju yang menggunakan konsep sehat produktif,
sehat adalah sarana atau alat untuk hidup sehari-hari secara produktif. Upaya kesehatan harus
diarahkan untuk dapata membawa setiap penduduk memiliki kesehatan yang cukup agar bisa
hidup produktif.
Selama ini, pemerintah masih memandang sektor kesehatan sebagai sektor konsumtif,
kesehatan tidak dilihat sebagai investasi, tetapi hanya dilihat sebagai sector kesejahteraan
yang dinilai menjadi beban biaya. Bukti nyatanya adalah alokasi belanja kesehatan
pemerintah yang sangat rendah, hanya sekitar 2-3% dari total belanja Negara. Namun
ironisnya, pelayanan kesehatan malah menjadi sumber pendapatan pembangunan.
Disini membuktikan pemerintah menerapkan standar ganda dalam bidang kesehatna.
Disatu sisi, belanja kesehatan dianggap beban dan tidak diprioritaskan. Disisi lain, pelayanan
kesehatan dijadikan sumber pendapatan. Artinya pembangunan Negara ini disokong dari
uang rakyat yang sakit. Sehingga masuk akal bila ada orang usil mengatakan bila
pemerintah ingin mendapat sumber pendapatan yang besar sebar saja kuman atau virus
kepada masyarakat, agar masyarakat menjadi sakit dan kemudian mereka berobat ke rumah
sakit pemerintah.
Padahal dengan rendahya alokasi belanja kesehatan akan menghasilkan indicator
kesehatan yang rendah. Jika dibandingkan dengan Negara ASEAN, Indonesia terendah dalam
belanja kesehatan. Dalam laporan kesehatan WHO tahun 1999, Indonesia hanya
mengeluarkan 1,8% dari produk domestik brutonya (PDB) untuk belanja kesehatan.
Sementara Negara ASEAN lain yang memiliki PDB perkapita lebih tinggi mengeluarkan
porsi lebih besar untuk kesehatan. Maka tidak mengherankan bila indicator kesehatan
Indonesia, terendah di antara Negara ASEAN, karna kita menanam modal lebih kecil, maka
kita mendapat hasil yang sedikit.
Menurut Thabrany (1999),terdapat lorelasi negative antara status kesehatan dengan
pendapatan perkapita di kemudian hari,jika factor lain konstan. Negara-negara yang
diawal 70-an memiliki AKB tinggi,tidak memiliki AKB tinggi,tidak memiliki pendapatan
perkapita tinggi di tahun 1991lingkungan eksekutif, legisletif, maupun dari masyarakat
termasuk swasta. Kunci sukses lainnya di tengah keterbasan sumber daya dalam hal
pembiayaandan tenaga adalah memprioritaskan bidang bidang pembangunan kesehatan ,
seperti kesehatan Ibu dan Anak.
Kondisi tersebut diatas menunjukan ,kesehatan sebagai salah satu unsur Utama SDM
dan sebagai modal tahan lama bagi pembangunan kesehatan Indonesia sama sekali belum
dianggap penting oleh para pembuat keputusan. Padahal adagium di lingkungan internasional
yang menyebutkan Health is not everything, but without health, everything is nothing
merupakan cerminan dari urgensitas kesehatan dalam suatu pengembangan masyarakat dan
pembangunan secara nasional.maka diharapkan bagi pemerintah untuk memahami keadaan
tersebut dan menyusun paradigma yang menyokong Pembangunan dengan meningkatkan
kesehatan agar menghasilkan SDM yang berkualitas.

B. PERMASALAHAN UMUM KESEHATAN
1. Disparitas status kesehatan
Disparitas adalah perbedaan; jarak: ada -- upah yg diterima oleh para pekerja pabrik
itu. Di Indonesia yang sungguh kaya luar biasa ini,status Menghalangi pemiliknya untuk
mendapatkan hak kesehatan yang layak. , masyarakat, media massa, politikus bahkan insan
kesehatan masih memandang hak kesehatan hanya pada hak untuk memperoleh pelayanan
kuratif dirumah sakit dan puskesmas . "Meskipun secara nasional kualitas kesehatan
masyarakat telah meningkat namun disparitas antar tingkat sosial ekonomi dan antar wilayah
masih cukup tinggi," katanya.
Padahal, hak untuk menikmati hidup sehat jauh lebih luas daripada sekedar hak akan
pelayanan kuratif.salah satu jaminan dari Negara bahwa segala akses informasi tentang
kesehatan dan ketersediannya harus terpenuhi bagi segala lapisan masyarakat.Belum
Dipenuhi oleh Negara.Selama ini Kesehatan Dianggap sebagai barang yang mahal,
Kesehatan Di Indonesia hanya untuk kalangan berpunya orang miskin dilarang
sakitdisini.tragis, mengingat Kekayaan Indonesia yang luar biasa banyak. Kemana hasil-
hasil bumi Indonesia.
Mukhlas,52 th adalah salah satu warga miskin yang telah bertahun-tahun menyimpan
hutang kepada rumah sakit Negara karena tidak mempunyai biaya pengobatan,5 th yang lalu
dia terjatuh dari pohon kelapa.biaya pengobatan yang semakin hari dirasakan semakin berat
membuat sebagian Warga negeri ini menjadi Enggan memperdulikan kesehatannya. Mereka
cenderung acuh tak acuh terhadap kesehatan. Padahal buila ditilik kembali kesehatan adalah
Pilar Negara untuk memajukan Negara. Kapan Kesehatan akan menjadi barang yang
Murah,bahkan gratis.

2. Beban Ganda penyakit
Bagi masyarakat Indonesia khususnya,penyakit memiliki beban ganda,yang pertama
adalah rasa sakit yang diderita dan Uang yang cukup banyak untuk mengatasi masalah
penyakit yang dideritanya.hal ini memberikan dampak negative pada Pasien yang
bersangkutan,karena keterbatasan Dana,mereka mendapakan keterbatasan Pelayanan
kesehatan.

3. Kinerja Pelayanan yang rendah
JAKARTA - Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat, Agung Laksono,
menilai kinerja pelayanan kesehatan masih rendah terutama di daerah tertinggal, terpencil,
perbatasan dan pulau-pulau terluar. "Padahal kinerja kesehatan merupakan salah satu faktor
penting dalam upaya peningkatan kualitas kesehatan penduduk," katanya, malam ini. Agung
Laksono, menjelaskan hal itu merupakan tantangan pembangunan kesehatan di Indonesia
yang memerlukan dukungan semua elemen bangsa.
"Rendahnya kualitas pelayanan kesehatan yang ditandai dengan masih dibawah
standarnya kualitas pelayanan sebagian rumah sakit daerah serta keterbatasan tenaga
kesehatan juga menjadi tantangan yang harus segera diatasi," katanya. Dikatakan, hingga saat
ini jumlah dan distribusi dokter, bidan serta perawat belum merata dimana disparitas rasio
dokter umum per 100.000 penduduk antar wilayah masih tinggi."Indonesia mengalami
kekurangan pada hampir semua tenaga kesehatan yang diperlukan," katanya.

4. Perilaku masyarakat yang kurang mendukung hidup Bersih
Dewasa ini sikap masyarakat Indonesia juga sama buruknya dengan system yang
mengatur kesehatan.Jika anda berkunjung ke Jakarta missalnya,lihatlah sungai disana kini
sungai di Jakarta mengalami perubahan fungsi,fungsi sungai bukan lagi menjadi tata perairan
kota tapi tempat sampah umum. Belum lagi ada masyarakat yang MCK di sungai, begitu pula
di sebagian wilayah pedesaan Indonesia kesadaraan akan pentingnya kesehatan belum kita
temukan di masyarakat kita.

5. Rendahnya Kondisi kesehatan lingkungan
Rendahnya Pembangunan Ekonomi yang belum merata adalah biang keladi pokok
masalah ini.hal tersebut menimbulkan kesenjangan soasial Baik Papan,sandang dan pangan.
Pertanyaan mengapa kesehatan lebih banyak dialamai oleh orang tak berpunya,mungkin
jawabannya adalah karena lingkungan tempat tinggal yang buruk.

C. LANGKAH LANGKAH YANG HARUS DITEMPUH
1. Pembangunan Berwawasan Kesehatan
A.internal
1.) memperbaiki kinerja pelayanan kesehatan
Seiring berkembangnya Pengetahuan dan kebutuhan masyarakat tentang arti kesehatan,maka
para pelaku kesehatan dituntut untuk memberikan pelayanan kesehatan yang lebih baik,oleh
karena itu semua pihak yang bekerja dalam kesehatan disarankan untuk meningkatkan
kualitas dan kuantitasnya, baik dengan pendidikan normal, pendidikan informal, seminar
seminar kesehatan. Dan selalu mengakses informasi ter-update.langkah langkah ini
diharapkan bisa memajukan kesehatan Indonesia.

2.) mengelola masyarakat
Pembangunan Diarahkan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup
sehat tujuannya adalah Mengubah perilaku masyarakat. Diselenggarakan dengan dasar-
dasar perikemanusiaan, pemberdayaan dan kemandirian, adil dan
meratadikarenakan Masyarakat sebagai penentu kesehatannya sendiri . Memperhatikan
dinamika kependudukan, epidemiolog, ekologi, kemajuan iptek, serta globalisasi dan
demokratisasi hal ini Berurusan dengan pengaruh dari sektor lain.

B. Eksternal
1.) diluar system kesehatan
Banyaknya factor lambatnya pembangunan kesehatan di Indonesia, perlu segera di
atasi.faktor dari luar pelaku kesehatan adalah para pasien ataupun sasaran kesehatan yaitu
masyarakat.dilihat dari segi perekonomian Indonesia saja telah dapat dilihat kesenjangan
yang terjadi,di harapkan Departemen kesehatan, masyarakat, dan para pelaku kesehatan lebih
peduli juga terhadap masalah masalah ini.kebiasaan masyarakat miskin yang cenderung
jorok, bukan tanpa alasan, adalah karena kesterbatasan mereka,sementara sikap acuh mereka
disebakan oleh minimnya pengertahuan masyarakat tentang kesehatan.Pelaku kesehatan di
harapkan mengadakan penyuluhan-penyuluhan,serta pemberdayaan masyarakat, bukan hanya
di kota, tapi terlebih didesa desa pedalaman.

2.) Determinan kesehatan
Untuk merealisasikan tujuan-tujuan diatas tersebut perlu ditingkatkan sector social ekonomi,
budaya positif dan lingkungan yang sehat.Perilaku gaya hidup dipengaruhi oleh :
Pendidikan
Pertanian
Industry pangan
Lingkungan kerja
Pekerjaan
Air besih dan sanitasi
Serta pelayanan kesehatan perumahan
Semua itu perlu ditingkatkan guna kemajuan dan peningkatan pembangunan
kesehatan.namun hal yang terpenting untuk meningkatkan kesehatan SDM Indonesia adalah
factor genetic dan kondisi awal kehidupannya.yang bersangkutan dengan Ibu hamil,masa
kehamilan dan kelahiran.peningkatan dalam hal ini sangatlah penting untuk di perhatikan
oleh semua masyarakat Indonesia.


Latar Belakang.
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi yang banyak membawa
perubahan terhadap kehidupan manusia baik dalam hal perubahan pola hidup maupun tatanan
sosial termasuk dalam bidang kesehatan yang sering dihadapkan dalam suatu hal yang
berhubungan langsung dengan norma dan budaya yang dianut oleh masyarakat yang
bermukim dalam suatu tempat tertentu.
Pengaruh sosial budaya dalam masyarakat memberikan peranan penting dalam mencapai
derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Perkembangan sosial budaya dalam masyarakat
merupakan suatu tanda bahwa masyarakat dalam suatu daerah tersebut telah mengalami suatu
perubahan dalam proses berfikir. Perubahan sosial dan budaya bisa memberikan dampak
positif maupun negatif.
Hubungan antara budaya dan kesehatan sangatlah erat hubungannya, sebagai salah satu
contoh suatu masyarakat desa yang sederhana dapat bertahan dengan cara pengobatan
tertentu sesuai dengan tradisi mereka. Kebudayaan atau kultur dapat membentuk kebiasaan
dan respons terhadap kesehatan dan penyakit dalam segala masyarakat tanpa memandang
tingkatannya. Karena itulah penting bagi tenaga kesehatan untuk tidak hanya
mempromosikan kesehatan, tapi juga membuat mereka mengerti tentang proses terjadinya
suatu penyakit dan bagaimana meluruskan keyakinan atau budaya yang dianut hubungannya
dengan kesehatan.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian kesehatan?
2. Bagaimana hubungan kebudayaan dan pengobatan tradisional?
3. Bagaimana konsep sehat dan sakit menurut budaya masyarakat?
4. Apa faktor pendorong dan penghambat?
5. Bagaimana solusi peranan pengobatan tradisional dalam pelayanan kesehatan?
C. Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui pengertian kesehatan.
2. Untuk mengetahui Bagaimana hubungan kebudayaan dan pengobatan tradisional.
3. Untuk mengetahui Bagaimana konsep sehat dan sakit menurut budaya masyarakat.
4. Untuk mengetahui faktor pendorong dan penghambat.
5. Untuk mengetahui Bagaimana Solusi Peranan pengobatan tradisional dalam pelayanan
kesehatan.




BAB III
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kesehatan
Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap
orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Pemeliharaan kesehatan adalah upaya
penaggulangan dan pencegahan gangguan kesehatan yang memerlukan pemeriksaan,
pengobatan dan/atau perawatan termasuk kehamilan dan persalinan. Pendidikan kesehatan
adalah proses membantu sesorang, dengan bertindak secara sendiri-sendiri ataupun secara
kolektif, untuk membuat keputusan berdasarkan pengetahuan mengenai hal -hal yang
mempengaruhi kesehatan pribadinya dan orang lain.
Definisi yang bahkan lebih sederhana diajukan oleh Larry Green dan para koleganya yang
menulis bahwa pendidikan kesehatan adalah kombinasi pengalaman belajar yang dirancang
untuk mempermudah adaptasi sukarela terhadap perilaku yang kondusif bagi kesehatan. Data
terakhir menunjukkan bahwa saat ini lebih dari 80 persen rakyat Indonesia tidak mampu
mendapat jaminan kesehatan dari lembaga atau perusahaan di bidang pemeliharaan
kesehatan, seperti Akses, Taspen, dan Jamsostek. Golongan masyarakat yang dianggap
'teranaktirikan' dalam hal jaminan kesehatan adalah mereka dari golongan masyarakat kecil
dan pedagang. Dalam pelayanan kesehatan, masalah ini menjadi lebih pelik, berhubung
dalam manajemen pelayanan kesehatan tidak saja terkait beberapa kelompok manusia, tetapi
juga sifat yang khusus dari pelayanan kesehatan itu sendiri.
UU No.23,1992 tentang Kesehatan menyatakan bahwa: Kesehatan adalah keadaan sejahtera
dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan hidup produktif secara sosial dan ekonomi.
Dalam pengertian ini maka kesehatan harus dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh terdiri
dari unsur-unsur fisik, mental dan sosial dan di dalamnya kesehatan jiwa merupakanbagian
integral kesehatan.
B. Kebudayaan dan Pengobatan Tradisional
Masing-masing kebudayaan memiliki berbagai pengobatan untuk penyembuhan anggota
masyarakatnya yang sakit. Berbeda dengan ilmu kedokteran yang menganggap bahwa
penyebab penyakit adalah kuman, kemudian diberi obat antibiotika dan obat tersebut dapat
mematikan kuman penyebab penyakit. Pada masyarakat tradisional, tidak semua penyakit itu
disebabkan oleh penyebab biologis. Kadangkala mereka menghubung-hubungkan dengan
sesuatu yang gaib, sihir, roh jahat atau iblis yang mengganggu manusia dan menyebabkan
sakit.
Banyak suku di Indonesia menganggap bahwa penyakit itu timbul akibat guna-guna. Orang
yang terkena guna-guna akan mendatangi dukun untuk meminta pertolongan. Masing-masing
suku di Indonesia memiliki dukun atau tetua adat sebagai penyembuh orang yang terkena
guna-guna tersebut. Cara yang digunakan juga berbeda-beda masing-masing suku. Begitu
pula suku-suku di dunia, mereka menggunakan pengobatan tradisional masing-masing untuk
menyembuhkan anggota sukunya yang sakit.
Suku Azande di Afrika Tengah mempunyai kepercayaan bahwa jika anggota sukunya jari
kakinya tertusuk sewaktu sedang berjalan melalui jalan biasa dan dia terkena penyakit
tuberkulosis maka dia dianggap terkena serangan sihir. Penyakit itu disebabkan oleh serangan
tukang sihirdan korban tidak akan sembuh sampai serangan itu berhenti.
Orang Kwakuit di bagian barat Kanada percaya bahwa penyakit dapat disebabkan oleh
dimasukkannya benda asing ke dalam tubuh dan yang terkena dapat mencari pertolongan ke
dukun. Dukun itu biasa disebut Shaman. Dengan suatu upacara penyembuhan
maka Shamanakan mengeluarkan benda asing itu dari tubuh pasien.[1]
C. Konsep Sehat dan Sakit Menurut Budaya Masyarakat
Konsep sehat dan sakit sesungguhnya tidak terlalu mutlak dan universal karena ada faktor
faktor lain diluar kenyataan klinis yang mempengaruhinya terutama faktor sosial budaya.
Kedua pengertian saling mempengaruhi dan pengertian yang satu hanya dapat dipahami
dalam konteks pengertian yang lain.
Banyak ahli filsafat, biologi, antropologi, sosiologi, kedokteran, dan lain-lain bidang ilmu
pengetahuan telah mencoba memberikan pengertian tentang konsep sehat dan sakit ditinjau
dari masing-masing disiplin ilmu. Masalah sehat dan sakit merupakan proses yang berkaitan
dengan kemampuan atau ketidakmampuan manusia beradaptasi dengan lingkungan baik
secara biologis, psikologis maupun sosio budaya.
Definisi sakit: seseorang dikatakan sakit apabila ia menderita penyakit menahun (kronis),
atau gangguan kesehatan lain yang menyebabkan aktivitas kerja/kegiatannya terganggu.
Walaupun seseorang sakit (istilah sehari -hari) seperti masuk angin, pilek, tetapi bila ia tidak
terganggu untuk melaksanakan kegiatannya, maka ia di anggap tidak sakit.[2]
Masalah kesehatan merupakan masalah kompleks yang merupakan resultante dari berbagai
masalah lingkungan yang bersifat alamiah maupun masalah buatan manusia, social budaya,
perilaku, populasi penduduk, genetika, dan sebagainya. Derajat kesehatan masyarakat yang
disebut sebagai psycho socio somatic health well being , merupakan resultante dari 4 faktor
yaitu:
1. Environment atau lingkungan.
2. Behaviour atau perilaku, Antara yang pertama dan kedua dihubungkan dengan ecological
balance.
3. Heredity atau keturunan yang dipengaruhi oleh populasi, distribusi penduduk, dan
sebagainya.
4. Health care service berupa program kesehatan yang bersifat preventif, promotif, kuratif, dan
rehabilitatif.
Dari empat faktor tersebut di atas, lingkungan dan perilaku merupakan faktor yang paling
besar pengaruhnya (dominan) terhadap tinggi rendahnya derajat kesehatan masyarakat.
Tingkah laku sakit, peranan sakit dan peranan pasien sangat dipengaruhi oleh faktor -faktor
seperti kelas social, perbedaan suku bangsa dan budaya. Maka ancaman kesehatan yang sama
(yang ditentukan secara klinis), bergantung dari variable-variabel tersebut dapat
menimbulkan reaksi yang berbeda di kalangan pasien.
Istilah sehat mengandung banyak muatan kultural, social dan pengertian profesional yang
beragam. Dulu dari sudut pandangan kedokteran, sehat sangat erat kaitannya dengan
kesakitan dan penyakit. Dalam kenyataannya tidaklah sesederhana itu, sehat harus dilihat dari
berbagai aspek. WHO melihat sehat dari berbagai aspek. WHO mendefinisikan pengertian
sehat sebagai suatu keadaan sempurna baik jasmani, rohani, maupun kesejahteraan social
seseorang. Sebatas mana seseorang dapat dianggap sempurna jasmaninya?
Oleh para ahli kesehatan, antropologi kesehatan di pandang sebagai disiplin biobudaya yang
memberi perhatian pada aspek-aspek biologis dan sosial budaya dari tingkah laku manusia,
terutama tentang cara-cara interaksi antara keduanya sepanjang sejarah kehidupan manusia
yang mempengaruhi kesehatan dan penyakit. Penyakit sendiri ditentukan oleh budaya: hal ini
karena penyakit merupakan pengakuan sosial bahwa seseorang tidak dapat menjalankan
peran normalnya secara wajar.
Seorang pengobat tradisional yang juga menerima pandangan kedokteran modern,
mempunyai pengetahuan yang menarik mengenai masalah sakit-sehat. Baginya, arti sakit
adalah sebagai berikut: sakit badaniah berarti ada tanda-tanda penyakit di badannya seperti
panas tinggi, penglihatan lemah, tidak kuat bekerja, sulit makan, tidur terganggu, dan badan
lemah atau sakit, maunya tiduran atau istirahat saja.[3]
Persepsi masyarakat mengenai terjadinya penyakit berbeda antara daerah yang satu dengan
daerah yang lain, karena tergantung dari kebudayaan yang ada dan berkembang dalam
masyarakat tersebut. Persepsi kejadian penyakit yang berlainan dengan ilmu kesehatan
sampai saat ini masih ada di masyarakat; dapat turun dari satu generasi ke generasi
berikutnya dan bahkan dapat berkembang luas.
Berikut ini contoh persepsi masyarakat tentang penyakit malaria, yang saat ini masih ada di
beberapa daerah pedesaan di Papua (Irian Jaya). Makanan pokok penduduk Papua adalah
sagu yang tumbuh di daerah rawa -rawa. Selain rawa-rawa, tidak jauh dari mereka tinggal
terdapat hutan lebat. Penduduk desa tersebut beranggapan bahwa hutan itu milik penguasa
gaib yang dapat menghukum setiap orang yang melanggar ketentuannya.
Pelanggaran dapat berupa menebang, membabat hutan untuk tanah pertanian, dan lain-lain
akan diganjar hukuman berupa penyakit dengan gejala demam tinggi, menggigil, dan muntah.
Penyakit tersebut dapat sembuh dengan cara minta ampun kepada penguasa hutan, kemudian
memetik daun dari pohon tertentu, dibuat ramuan untuk di minum dan dioleskan ke seluruh
tubuh penderita. Dalam beberapa hari penderita akan sembuh.
Persepsi masyarakat mengenai penyakit diperoleh dan ditentukan dari penuturan sederhana
dan mudah secara turun temurun. Misalnya penyakit akibat kutukan Allah, makhluk gaib,
roh-roh jahat, udara busuk, tanaman berbisa, binatang, dan sebagainya. Pada sebagian
penduduk Pulau Jawa, dulu penderita demam sangat tinggi diobati dengan cara menyiram air
di malam hari. Air yang telah diberi ramuan dan jampi-jampi oleh dukun dan pemuka
masyarakat yang disegani digunakan sebagai obat malaria.
D. Faktor Pendorong Dan Penghambat
a. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Pengobatan dalam Masyarakat
Perilaku yang dinyatakan di atas adalah berkaitan dengan upaya atau tindakan individu ketika
sedang sakit atau kecelakaan. Tindakan atau perilaku ini bisa melalui dengan cara mengobati
sendiri sehingga mencari pengobatan ke luar negeri.
Menurut Blum(1974) yang dipetik dari Notoadmodjo(2007), faktor lingkungan merupakan
faktor utama yang mempengaruhi kesehatan individu, kelompok, atau masyarakat manakala
faktor perilaku pula merupakan faktor yang kedua terbesar. Disebabkan oleh teori ini, maka
kebanyakan intervensi yang dilakukan untuk membina dan meningkatkan lagi kesehatan
masyarakat melibatkan kedua faktor ini. Menurut Notoadmodjo juga mengatakan mengikut
teori Green(1980), perilaku ini dipengaruhi oleh 3 faktor utama, yaitu:
1. Faktor predisposisi yang mencakup pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap kesehatan,
tradisi dan kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan, sistem
nilai yang dianuti masyarakat, tingkat pendidikan, tingkat sosial ekonomi dan sebagainya.
2. Faktor pemungkin yang mencakup ketersediaan sarana dan prasarana atau fasilitas kesehatan
bagi masyarakat contohnya fasilitas pelayanan kesehatan.
3. Faktor penguat pula mencakup pengaruh sikap dan perilaku tokoh yang dipandang tinggi
oleh masyarakat contohnya tokoh masyarakat dan tokoh agama, sikap dan perilaku para
petugas yang sering berinteraksi dengan masyarakat termasuk petugas kesehatan. Selain itu,
faktor undang-undang dan peraturan-peraturan yang terkait dengan kesehatan juga termasuk
dalam faktor ini.[4]
Aspeksosial (mitos) yang berkembang di masyarakat yang berkaitan dengan kesehatan anak :
1. Dukun sebagai penyembuh
Masyarakat pada beberapa daerah beranggapan bahwa bayi yang mengalami kejang-kejang
disebabkan karena kemasukan roh halus, dan dipercaya hanya dukun yang dapat
menyembuhkannya.
2. Timbulnya penyakit sebagai pertanda
Contoh Demam atau diare yang terjadi pada bayi dianggap pertanda bahwa bayi tersebut
akan bertambah kepandaiannya, seperti sudah bisa untuk berjalan.
3. Kesehatan anak juga dipengaruhi oleh faktor budaya dan sosial.
Dimana hingga kini masyarakat baik di perkotaan maupun pedesaan masih menjalankan
kepercayaan tersebut. Hal tersebut disebabkan karena kebiasaan yang telah turun temurun
terjadi .
Tetapi ada baik nya jika masyarakat juga mempertimbangkan dengan pemahaman menurut
para medis karena para medis lebih memahami tentang mana yang baik dalam tumbuh
kembang kesehatan anak.
b. Faktor Penghambat Pengobatan Dalam Masyarakat
Belum..............................................



E. Solusi Peranan pengobatan tradisional dalam pelayanan kesehatan.
Kebijakan peningkatan peran pengobatan tradisional dalam system pelayanan kesehatan,
yaitu :
1. Pengobatan tradisional perlu dikembangkan dalam rangka peningkatan peran serta
masyarakat dalam pelayanan kesehatan primer.
2. Pengobatan tradisional perlu dipelihara dan dikembangkan sebagai warisan budaya bangsa,
namun perlu membatasi praktek-praktek yang membahayakan kesehatan.
3. Dalam rangka peningkatan peran pengobatan tradisional, perlu dilakukan penelitian,
pengujian dan pengembangan obat-obatan dan car-cara pengobatan tradisional.
4. Pengobatan tradisional sebagai upaya kesehatan nonformal tidak memerlukan izin, namun
perlu pendataan untuk kemungkinan pembinaan dan pengawasannya. Masalah pendaftaran
masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
5. Pengobatan tradisional yang berlandaskan pada cara-cara organobiologik, setelah diteliti,
diuji dan diseleksi dapat diusahakan untuk menjadi bagian program pelayanan kesehatan
primer. Contoh : dukun bayi, tukang gigi, dukun patah tulang. Sedangkan cara-cara
psikologik dan supranatural perlu diteliti lebih lanjut, sebelum dapat dimanfaatkan dalam
program.
6. Pengobatan tradisional tertentu yang mempunyai keahlian khusus dan menjadi tokoh
masyarakat dapat dilibatkan dalam upaya kesehatan masyarakat, khususnya sebagai
komunikator antara pemerintah dan masyarakat.[5]


BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Untuk menyimpulkan pandangan-pandangan mengenai pengobatan tradisional, saya yakin
bahwa jika di nilai dari banyak fungsi yang di harapkan dapat memenuhi oleh pengobatan
dan keterbatasan-keterbatasan yang ada pada penelitian medis yang sistematik dalam
masyarakat-masyarakat tersebut, maka system-sistem medis tradisional, yang di lihat sebagai
sarana adaptif, telah berhasil dengan baik. Mereka telah muncul sejak ribuan tahun yang lalu,
telah memberikan harapan dan penyembuhan kepada yang sakit, mereka menangani juga
penyakit-penyakit sosial, dan mereka telah memberikan sumbangan terhadap penambahan
populasi dunia secara lambat.
Saya juga percaya bahwa beda dengan pengobatan ilmiah ,baik dari aspek-aspek preventif
dan , klinisnya, serta semua kekurangan dalm perawatan kesehatannya maka pengobatan
tradisional adalah cara kurang memuaskan dalam memenuhi kebutuhan kesehatan dari
penduduk masa kini. Hal ini bukanlah merupakan penilaian kami saja melainkan keputusan
para penilai utama, konsumen-konsumen tradisional yang semakin meningkat dalam memilih
antara pengobatanya sendiri dengan pengobatanya ilmiah lain.
B. Saran
Saya para penulis dapat berharap kepada para pembaca, setelah membaca makalah
ini. Para pembaca apalagi para mahasiswa keperawatan dapat mengaplikasikanya nanti. dapat
mengetahui bagaiman system medis tradisional ,apalagi sisi positif dan negatif dari
pengobatan system tradisional.




DAFTAR PUSTAKA
Uciha Itachi , 2013 Pengaruh Nilai Sosial Budaya Terhadap Keshatan, 2012http://macrofag.blogspot.com/
Robertha Natalia Gracia, 2010 Hubungan Aspek Sosial Terhadap Pembangunan
Kesehatan,http://roberthanatalia.blogspot.com/
Supardi, S., Feby Nurhadiyanto Arief, Sabarijah WittoEng. 2003. Penggunaan Obat Tradisional Buatan
Pabrik dalam Pengobatan Sendiri di Indonesia. Jurnal bahan alam Indonesia, Volume 2 Nomor4.
Supardi, S., Mulyono Notosiswoyo, Nani Sukasediati, Winarsih, Sarjaini Jamal, M.J Herman.
1997. Laporan Penelitian Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penggunaan Obat dan Obat
Tradisional Dalam Pengobatan Sendiri di Pedesaan. Jakarta: Pusat Penelitian dan
Pengembangan Farmasi Badan Litbangkes.
Supardi, S., Feby Nurhadiyanto Arief, Sabarijah WittoEng. 2003. Penggunaan Obat
Tradisional Buatan Pabrik dalam Pengobatan Sendiri di Indonesia. Jurnal bahan alam
Indonesia, Volume 2.
Sugeng, Dwi. (2007). Pengobatan Alternatif. Yogyakarta: PT. Media Abadi.





[1]Uciha Itachi , Pengaruh Nilai Sosial Budaya Terhadap Keshatan, 2012 http://macrofag.blogspot.com/ di akses tanggal 04
April 2013 Jam 03.38.
[2]Robertha Natalia Gracia, Hubungan Aspek Sosial Terhadap Pembangunan Kesehatan,
2010http://roberthanatalia.blogspot.com/di akses tanggal 04 April 2013 Jam 03.38.
[3] Supardi, S., Feby Nurhadiyanto Arief, Sabarijah WittoEng. 2003. Penggunaan Obat Tradisional Buatan Pabrik dalam
Pengobatan Sendiri di Indonesia. Jurnal bahan alam Indonesia, Volume 2 Nomor4, halaman 136-141.
[4] Supardi, S., Mulyono Notosiswoyo, Nani Sukasediati, Winarsih, Sarjaini Jamal, M.J Herman. 1997. Laporan Penelitian
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penggunaan Obat dan Obat Tradisional Dalam Pengobatan Sendiri di
Pedesaan. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi Badan Litbangkes, 52 hlm.
[5] Sugeng, Dwi. Pengobatan Alternatif. Yogyakarta: PT. Media Abadi. (2007). Hal 27