Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH KASUS 4

MODUL ORGAN FORENSIK


KELOMPOK IX



030. 10. 179 Mirad Aditya
030. 10. 189 Muhammad Dainul M.
030. 11. 009 Ady Fitrah Saragih
030. 11. 019 Amanda Shabrina Putri
030. 11. 129 Herdandy Driya P.
030. 11. 139 Imam Kurniawan




030. 11. 209 Nani Oktapiani
030. 11. 259 Rokhim Suryadi
030. 11. 289 Tri Wendha Setia Ningsih
030. 12. 159 Marsella N. Karauwan
030. 12. 189 Ni Ketut Putri Angga D.













JAKARTA
Selasa, 28 Oktober 2014
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TRISAKTI

1

DAFTAR ISI


BAB I : PENDAHULUAN 2

BAB II ISI : SKENARIO KASUS 3

BAB III : PEMBAHASAN
1. ETIK PROFESI KEDOKTERAN 4
2. PROSEDUR MEDIKOLEGAL 5
3. ASPEK HUKUM
4. REKAM MEDIS
5. PROSEDUR TINDAKAN MEDIS
6. PROSEDUR TERAPI

BAB IV : KESIMPULAN

BAB V :DAFTAR PUSTAKA













2


BAB I
PENDAHULUAN

Sejalan dengan kemajuan teknologi, masyarakat menjadi lebih kritis dalam menilai
setiap tondakan medis yang diperolehnya. Sehingga hubungan dokter-pasien dimana dokter dan
pasien adalah pihak-pihak yang bebas. Yang meskipun memiliki perbedaan kapasitas dalam
membuat keputusan tetapi tetap saling menghargai. Dokter akan mengemban tanggung jawab
atas segala keputusan teknis, sedangkan pasien tetap memegan kendali keputusan penting,
terutama yang terkait dengan nilai moral dan gaya hidup pasien. Hubungan kontrak
mengharuskan terjadinya pertukaran informasi dan negosiasi sebelum terjadinya kesepakatan.
Dokter harus menghargai setiap keputusan pasien.

Persetujuan yang berdasarkan pengetahuan merupakan salah satu konsep inti etika
kedokteran saat ini. Hak pasien untuk mengambil keputusan mengenai perawatan kesehatan
mereka telah diabadikan dalam aturan hukum dan etika di seluruh dunia. Deklarasi Hak-hak
Pasien dari World Medical Association menyatakan:

Pasien mempunyai hak untuk menentukan sendiri, bebas dalam membuat keputusan yang
menyangkut diri mereka sendiri. Dokter harus memberi tahu pasien konsekuensi dari keputusan
yang diambil. Pasien dewasa yang sehat mentalnnya memiliki hak untuk memberi ijin atau tidak
memberi ijin terhadap prosedur diagnosa maupun terapi. Pasien mempunyai hak untuk
mendapatkan informasi yang diperlukan untuk mengambil keputusannya. Pasien harus paham
dengan jelas apa tujuan dari suatu tes atau pengobatan, hasil apa yang akan diperoleh, dan apa
dampaknya jika menunda keputusan.



.







BAB I I

2
LAPORAN KASUS

Seorang pasien berumur 62 tahun datang ke rumah sakit dengan karsinoma kolon
yangtelah terminal. Pasien masih cukup sadar, berpendidikan cukup tinggi. Ia memahami
benarposisi kesehatannya dan keterbatasan kemampuan ilmu kedokteran saat ini. Ia juga
memilikipengalaman pahit sewaktu kakaknya menjelang ajalnya dirawat di ICU dengan
peralatanbermacam-macam tampak sangat menderita, dan alat-alat tersebut tampaknya
hanyamemperpanjang penderitaannya saja. Oleh karena itu, ia meminta kepada dokter apabila
diamendekati ajalnya agar menerima terapi yang minimal saja (tanpa antibiotika, tanpa
peralatanICU, dan lain-lain), dan ia ingin mati dengan tenang dan wajar. Namun, ia tetap
setujuapabila ia menerima obat-obatan penghilang rasa sakit bila memang dibutuhkan.



















BAB III

2
PEMBAHASAN

1. Etika profesi kedokteran

Etika adalah disiplin ilmu yang mempelajari baik buruk atau benar-salahnya suatu sikap atau
perbuatan seseorang individu dilihat dari mortalitas. Penilaian baik buruk dan benar salah dari
sisi moral tersebut menggunakan pendekatan teori etika yang cukup banyak jumlahnya. Terdapat
dua teori etika yang paling banyak dianut orang adalah teori deontologi dan teleologi. Secara
ringkas dapat dikatakan bahwa,
a. Deontologi mengajarkan bahwa baik buruknya suatu perbuatan harus dilihat dari
perbuatannya itu sendiri , sedangkan
b. Teleologi mengajarkan untik menilai baik buruk tindakan dengan melihat hasilnya atau
akibatnya.

Beauchamp and childress ( 1994 ) menguraikan 4 kaidah dasar moral :
1. Prinsip otonomi : yaitu prinsip moral yang menghargai hak-hak pasien,
terutama hak otomi pasien
2. Prinsip beneficence : yaitu prinsip moral yang mengutamakan tindakan yang
ditunjukan kekebaikan pasien
3. Prinsip non-maleficence : yaitu prinsip moral yang melarang tindakan yang
memperburuk keadaan pasien
4. Prinsip Justice : prinsip moral yang mementingkan fairness dankeadilan
dalam bersikap maupun dalam mendistribusikan sumber daya

Aspek Etika

Pasal 344 KUHP

Barang siapa merampas nyawa orang lain atas permintaan orang itu sendiri yang jelas dinyatakan
dengan kesungguhan hati , daiancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.

Dijelaskan dalam Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI) dalam pasal 7d, yang berbunyi:
Setiap dokter harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup makhluk insani.
Pada bagian penjelasan KODEKI pasal 7d tersebut, dijelaskan mengenai euthanasia aktif dan
pasif, di mana euthanasia aktif memang sudah jelas dilarang untuk diberlakukan di Indonesia,
sedangkan euthanasia pasif dikatakan masih berupa wilayah abu-abu. Berikut adalah
keterangan yang tertera dalam KODEKI mengenai euthanasia: Kita di Indonesia sebagai umat
yang beragama dan berfalsafah/berasaskan Pancasila percaya pada kekuasaan mutlak dari Tuhan
Yang Maha Esa. Segala sesuatu yang diciptakannya serta penderitaan yang dibebankan kepada
makhluknya mengandung makna dan maksud tertentu. Dokter harus mengerahkan segala
kepandaiannya dan kemampuannya untuk me r i n g a n k a n penderitaan dan memelihara
hidup akan tetapi t i d a k u n t u k me n g a k h i r i n y a .
Dijelaskan pula bahwa pasal 7d tersebut mengacu pada Sumpah Dokter dan pada Pancasila sila
pertama. Berikut adalah pedoman bagi dokter jika dihadapkan pada keadaan di mana seorang

2
pasien telah menjelang akhir hayatnya, dan ketika ilmu dan teknologi kedokteran sudah tidak
berdaya lagi untuk memberikan kesembuhan:
1. Dalam keadaan di mana ilmu dan teknologi kedokteran sudah tidak dapat lagi diharapkan
untuk memberi kesembuhan, maka upaya perawatan pasien bukan lagi ditujukan untuk
memperoleh kesembuhan melainkan harus lebih ditujukan untuk memperoleh
kenyamanan dan meringankan penderitaan
2. Bahwa tindakan menghentikan usia pasien pada tahap menjelang ajalnya, tidak dapat
dianggap sebagai suatu dosa, bahkan patut dihormati.
Namun demikian dokter wajib untuk terus merawatny , sekalipun pasien dipindah ke fasilitas lainnya.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa menurut Kode Etik Kedokteran Indonesia, seorang
dokter harus tetap mengupayakan peringanan atas penderitaan pasien, namun tidak
diperbolehkan untuk mengakhiri nyawa sang pasien tersebu

2. Aspek medikolegal
Persetujuan tindakan medik
Peraturan menteri kesehatan No 585/MenKes/Per/IX/1989 tentang persetujuan
tindakan medis
Pasal 1. Pemenkes No 585/MenKes/Per/IX/1989
1. Persetujuan tindakan medik/informed consent adalah persetujuan yang diberikan
olehpasien atau keluarganya atas adsar penjelasan mengenai tindakan medik yang akan dilakukan
terhadap pasien tersebut;
2. Tindakan medik adalah suatu tindakan yang akan dilakukan terhadap pasien berupa
diagnostik atau terapeutik;
3. Tindakan invasif adalah tindakan medik yang langsung dapat mempengaruhi keutuhan
jaringan tubuh;
4. Dokter adalh dokter umum/spesialis dan dokter gigi/dokter gigi spesialis yang bekerjadi
rumah sakit, puskesmas, klinik, atau praktek perorangan atau bersama.

Pasal 2. Pemenkes No 585/MenKes/Per/IX/1989
1. Semua tindakan medis yang akan dilakukan terhadap pasien harus mendapat persetujuan.
2. Persetujuan dapat diberi secara bertulis atau lisan
3. Persetujuan sebagaiman dimaksud ayat (1) diberikan setelah pasien mendapatin formasi
yang adekuat tentang perlunya tindakan medik yang bersangkutan serta risiko yang dapat
ditimbulkannya.
4. Cara penyampaian dan isi informasi harus disesuaikan dengan tingkat pendidikan serta
kondisi dan situasi pasien


Pasal 3. Pemenkes No 585/MenKes/Per/IX/1989
1. Setiap tindakan medis yang berisiko tinggi harus dengan persetujuan bertulis yangditanda
tangani oleh yang berhak memberikan persetujuan.

Pasal 4. Pemenkes No 585/MenKes/Per/IX/1989
2. Informasi tentang tindakan medik harus diberi kepada pasien, baik diminta maupuntidak
diminta.2.

2

3. Dokter harus memberikan informasi selengkap-lengkapnya, kecuali bila doktermenilai
bahwa informasi tersebut dapat merugikan kepentingan kesehatan pasien ataupasien
menolak diberikan informasi.

Pasal 5. Pemenkes No 585/MenKes/Per/IX/1989
1. Informasi yang diberikan mencakup keuntungan dan kerugian dari tindakan medik yang
kan dilakukan, baik diagnostik maupun terapeutik.
2. Informasi diberikan secara lisan.
3. Informasi harus diberiakn jujur dan benar kecuali bila dokter menilai bahwa hal itudapat
merugikan kepentingan kesehatan pasien,
4. Dalam hal dimaksud dalam ayat (3) dokter dengan persetujuan pasien dapatmemberikan
informasi tersebut kepada keluarga terdekat pasien.


Pasal 8. Pemenkes No 585/MenKes/Per/IX/1989
1. Persetujuan diberiakan oleh pasien dewasa yang berada dalam keadaan sedar dan sehat
mental,
2. Pasien dewasa yang dimaksud ayat (1) adalah yang telah berumur 21 tahun atau telah
menikah.


Panitia Pertimbangan Dan Pembinaan Etik Kedokteran
Peraturan menteri kesehatan No 554/MenKes/Per/XII/1982 tentang Panitia
pertimbangan dan Pembinaan Etik Kedokteran

Pasal 8 Permenkes No 554/MenKes/Per/XII/1982
Panitia Pertimbangan Dan Pembinaan Etik Kedokteran (P3EK) Pusat dalam persoalan
Etik Kedokteran dan khusunya dalam menangani pelanggaran kode etik masing-
masingbekerjasam dengan IDI atau PDGI.


Pasal 22 Permenkes No 554/MenKes/Per/XII/1982
1. P3EK Propinsi dalam hal sebagaimana dimaksud dalam pasal 19 ayat (2) mengusulkan
kepada Kakanwil DepKes Propinsi untuk mengambil tindakan yang diperlukan terhadap
dokter atau dokter gigi yang bersngkutan,
2. Kakanwil DepKes Propinsi dapat mengambil tindakan berupa peringatan atau tindakan
administratif terhadap dokter atau dokter gigi sesuai dengan berat ringannya pelanggaran.

Dalam aspek hukum kesehatan, hubungan dokter dengan pasien terjalin dalam
ikatantransaksi atau kontrak terapeutik. Tiap-tiap pihak, yaitu yang memberi pelayanan
(medical providers) dan yang menerima pelayanan (medical receivers) mempunyai hak dan kewajiban
yang harus dihormati. Dalam ikatan demikianlah masalah Persetujuan Tindakan Medik atauyang
sekarang disebut Persetujuan Tindakan Kedokteran (PTM) ini timbul. Artinya, di satupihak
dokter (tim dokter) mempunyai kewajiban untuk melakukan diagnosis, pengobatan,dan tindakan
medik yang terbaik menurut jalan pikiran dan pertimbangannya (mereka), dandi lain pihak

2
pasien atau keluarga pasien memiliki hak untuk menentukan pengobatan atautindakan medik apa
yang akan dilaluinya.

Masalahnya adalah, tidak semua jalan pikiran dan pertimbangan terbaik dari dokterakan
sejalan dengan apa yang diinginkan' atau dapat diterima oleh pasien atau keluargapasien. Hal ini dapat terjadi
karena dokter umumnya melihat pasien hanya dari segi medik saja, sedangkan pasien mungkin
melihat dan mempertimbangkan dari segi lain yang tidak kalah pentingnya, seperti keuangan,
psikis, agama, dan pertimbangan keluarga.Perkembangan terakhir di Indonesia mengenai PTM
adalah ditetapkannya PeraturanMenteri Kesehatan No. 585/Menkes/Per/IX/1989 tentang
Persetujuan Tindakan Medik (informed consent).

Yang dimaksud dengan informed consent adalah persetujuan yang diberikan olehpasien atau
walinya yang berhak kepada dokter untuk melakukan suatu tindakan medisterhadap pasien
sesudah pasien atau wali itu memperoleh informasi lengkap dan memahamitindakan itu.
Dengan kata lain,

3. ASPEK HUKUM
PERMENKES No.1419/MENKES/PER/2005 tentang Penyelenggaraan Praktik Dokter
dan Dokter Gigi pasal 17) Dokter atau dokter gigi dalam memberikan pelayanan tindakan
kedokteran atau kedokteran gigi terlebih dahlu harus memberika penjelasan kepada pasien
tentang tindakan kedokteran yang akan dilakukan dan mendapat persetujuan pasien.
Pasien berhak menolak tindakan yang dilakukan terhadap dirinya dan mengakhiri
pengobatan serta perawatan atas tanggung jawab sendiri sesudah memperoleh informasi yang
jelas tentang penyakitnya.
Pemberian obat-obatan juga harus dengan persetujuan pasien dan bila pasien meminta
untuk dihentikan pengobatan, maka terapi harus dihentikan kecuali dengan penghentian terapi
akan mengakibatkan keadaan gawat darurat atau kehilangan nyawa pasien. Dalam Pedoman
Penegakkan Disiplin Kedokteran tahun 2008 seorang dokter dapat dikategorikan melakukan
bentuk pelanggaran disiplin kedokteran apabila tidak memberikan penjelasan yang jujur, etis,
dan memadai (adequate information) kepada pasien atau keluarganya dalam melakukan praktik
kedokteran.

Hak Pasien atas Informasi Penyakit dan Tindakan Medis dari Aspek Hukum Kedokteran.

2
Merima pelayanan praktik kedokteran mempunyai hak mendapatkan penjelasan secara
lengkap tentang tindakan medis yang akan diterimanya (Undan-Undang No. 29 tahun 2004
tentang Praktik Kedokteran pasal 52). Penjelasan tersebut sekurang-kurangnya mencakup :
1. Diagnosis dan tata cara tindakan medis
2. Tujuan tindakan medis yang dilakukan
3. Alternatif tindakan lain dan resikonya
4. Resiko dan komplikasi yang mungkin terjadi
5. Prognosis terhadap tindakan yang dilakukan. (Pasal 45 ayat 3).
Dalam praktek kedokteran dikenal dua macam euthanasia yaitu:
a. Euthanasia pasif: Ialah tindakan dokter mempercepat kematian pasien dengan
memberikan suntikan ke dalam tubuh pasien tersebut. Alasan yang lazim dikemukakan
dokter ialah bahwa pengobatan yang diberikan hanya akan memperpanjang penderitaan
pasien, tidak mengurangi keadaan sakitnya yang memang sudah parah.
5

b. Euthanasia pasif:
Tindakan dokter berupa penghentian pengobatan pasien yang menderita sakit keras,
yang secara medis sudah tidak mungkin lagi dapat disembuhkan. Penghentian
pemberian obat ini berakibat mempercepat kematian pasien. Alasan yang lazim
dikemukakan ialah karena keadaan ekonomi pasien yang terbatas, sementara dana yang
dibutuhkan untuk biaya pengobatan cukup tinggi, sedangkan fungsi pengobatan
menurut perhitungan dokter sudah tidak efektif lagi.
Tindakan upaya dokter menghentikan pengobatan terhadap pasien yang menurut
penelitian medis masih mungkin bisa sembuh. Umumnya alasannya adalah
ketidakmampuan pasien dari segi ekonomi padahal biaya pengobatannya yang
dibutuhkan sangat tinggi.
5

Secara yuridis formal dalam hukum pidana positif di Indonesia hanya dikenal satu bentuk
euthanasia, yaitu euthanasia yang dilakukan atas permintaan pasien atau korban itu sendiri
(voluntary euthanasia).
5

Pasal 344 KUHP. Yang menyatakan : Barang siapa merampas nyawa orang lain atas
permintaan orang itu sendiri yang jelas dinyatakan dengan kesungguhan hati diancam dengan

2
pidana penjara palinglama dua belas tahun.
6
Maka disimpulkan, bahwa pembunuhan atas
permintaan korban sekalipun tetap diancam pidana bagi pelakunya. Dengan demikian, dalam
konteks hukum positif di Indonesia euthanasia tetap dianggap sebagai perbuatan yang dilarang
dan tidak dimungkinkan dilakukan pengakhiran hidup seseorang sekalipun atas permintaan
orang itu sendiri. Perbuatan tersebut tetap dikualifikasi sebagai tindak pidana, yaitu sebagai
perbuatan yang diancam dengan pidana bagi siapa yang melanggar larangan tersebut
5
. Dalam
ketentuan Pasal 338 KUHP secara tegas dinyatakan,
Barang siapa sengaja merampas nyawa orang lain diancam, karena pembunuhan dengan
pidana penjara paling lama lima belas tahun.
6

Pasal 340 KUHP menyatakan, Barang siapa dengan sengaja dan dengan rencana lebih
dulu merampas nyawa oranglain diancam, karena pembunuhan berencana, dengan pidana mati
atau pidana penjaraseumur hidup atau selama waktu tertentu paling lama dua puluh tahun.
6

Pasal 356 (3) KUHP Penganiayaan yang dilakukan dengan memberikan bahan yang
berbahaya bagi nyawa dan kesehatan untuk dimakan atau diminum.
6

Pasal 304 KUHP dinyatakan, Barang siapa dengan sengaja menempatkan atau
membiarkan seorang dalam keadaan sengsara, padahal menurut hukum yang berlaku baginya
atau karena persetujuan, dia wajib memberikan kehidupan, perawatan atau pemeliharaan
kepada orang itu, diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau
denda paling banyak tiga ratus rupiah
6
.
Pasal 306 (2) KUHP dinyatakan, Jika mengakibatkan kematian, perbuatan tersebut
dikenakan pidana penjara maksimal sembilan tahun.
6

KUHP hanya melihat dari sisi dokter sebagai pelaku utama euthanasia, khususnya
euthanasia aktif dan dianggap sebagai pembunuhan berencana, atau dengan sengaja
menghilangkan nyawa seseorang. Akibatnya, dokter sering dipersalahkan dalam tindakan
euthanasia, tanpa melihat latar belakang dilakukannya euthanasia tersebut, tidak peduli apakah
tindakan tersebut atas permintaan pasien itu sendiri atau keluarganya, untuk mengurangi
penderitaan pasien dalam keadaan sekarat atau rasa sakit yang sangat hebat yang belum
diketahui pengobatannya.
5

Di lain pihak, hakim dapat menjatuhkan pidana mati bagi seseorang yang masih segar
bugar yang tentunya masih ingin hidup, dan tidak menghendaki kematiannya seperti pasien yang
sangat menderita tersebut, tanpa dijerat pasal-pasal dalam undang-undang dalam KUHP.

2
Beberapa pasal KUHP yang berkaitan dengan euthanasia antara lain 338, 340, 344, 345, dan 359.
Hubungan hukum dokter-pasien juga dapat ditinjau dari sudut perdata, antara lain pasal 1313,
1314, 1315, dan 1319 KUH Perdata.
5,6
Secara formal tindakan euthanasia di Indonesia belum
memiliki dasar hukum sehingga selalu terbuka kemungkinan terjadinya penuntutan hukum
terhadap euthanasia yang dilakukan.
Ikatan Dokter Indonesia (IDI) berperan dalam menghadapi perkembangan iptekdok, telah
menyiapkan perangkat lunak berupa SK PB IDI no.319/PB/4/88 mengenai
Pernyataan Dokter Indonesia tentang Informed Consent. Disebutkan di sana, manusia
dewasa dan sehat rohani berhak sepenuhnya menentukan apa yang hendak dilakukan terhadap
tubuhnya. Dokter tidak berhak melakukan tindakan medis yang bertentangan dengan kemauan
pasien, walau untuk kepentingan pasien itu sendiri. Kemudian SK PB IDI no.336/PB/4/88
mengenai Pernyataan Dokter Indonesia tentang Mati. Sayangnya SKPB IDI ini tidak atau
belum tersosialisasikan dengan baik di kalangan IDI sendiri maupun di kalangan pengelola
rumah sakit. Sehingga, tiap dokter dan rumah sakit masih memiliki pandangan dan kebijakan
yang berlainan.
5

Masalah euthanasia dapat menyangkut dua aturan hukum, yakni pasal 338 dan 344
KUHP.
5
Dalam hal ini terdapat apa yang disebut concursus idealis yang diatur dalam pasal 63
KUHP, yang menyebutkan bahwa:
(1) Jika suatu perbuatan masuk dalam lebih dari satu aturan pidana, maka yang dikenakan
hanya salah satu diantara aturan-aturan itu, jika berbeda-beda yang dikenakan yang memuat
ancaman pidana pokok yang paling berat.
(2) Jika suatu perbuatan yang masuk dalam suatu aturan pidana yang umum diatur pula
dalam aturan pidana yang khusus, maka hanya yang khusus itulah yang dikenakan. Pasal 63 (2)
KUHP ini mengandung asas lex specialis derogat legi generalis, yaitu peraturan yang khusus
akan mengalahkan peraturan yang sifatnya umum.
4. REKAM MEDIS

Dalam pelayanan kedokteran/kesehatan, terutama yang dilakukan para dokter baik
dirumah sakit maupun praktik pribadi, peran pencatatan rekam medis (RM) sangat penting dan
sangat melekat dengan kegiatan pelayanan tersebut. Dengan demikian, ada ungkapan bahwa

2
rekam medis adalah orang ketiga pada saat dokter menerima pasien. Hal tersebut dapat dipahami
karena catatan demikian akan berguna untuk merekam keadaan pasien, hasil pemeriksaan serta
tindakan pengobatan yang diberikan pada waktu itu. Catatan atau rekaman itu menjadi sangat
berguna untuk mengingatkan kembali dokter tentang keadaan, hasil pemeriksaan, dan
pengobatan yang telah diberikan bila pasien datang kembali untuk berobat ulang setelah
beberapa hari, beberapa bulan, bahkan setelah beberapa tahun kemudian. Dengan adanya rekam
medis, ia bisa mengingat atau mengenali keadaan pasien saat diperiksa sehingga lebih mudah
melanjutkan strategi pengobatan dan perawatannya. Namun, kini makin dipahami bahwa peran
rekam medis tidak terbatas pada asumsi yang dikemukakan di atas, tetapi jauh lebih luas. Oleh
karena itu, para tenaga kesehatan masa kini harus memahami dengan baik hal-hal yang berkaitan
dengan rekam medis.

Dalam Undang-undang Kesehatan, walaupun tidak ada bab yang mengatur tentang
rekam medis secara khusus, secara implisit Undang-undang ini jelas membutuhkan adanya
rekam medis yang bermutu sebagai bukti pelaksanaan pelayanan kedokteran/ kesehatan yang
berkualitas.

Kewajiban dokter untruk membuat rekam medis dalam pelayanan kesehatan dipertegas
dalam UUPK seperti terdapat pada pasal 46: (1). Setiap dokter atau dokter gigi dalam
menjalankan praktik kedokteran wajib membuat rekam medis. (2) Rekam medis sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) harus segera dilengkapi setelah pasien selesai menerima pelayanan
kesehatan. Setiap catatan rekam medis harus dibubuhi nama, waktu, dan tanda tangan petugas
yang memberikan pelayanan atau tindakan. Selanjutnya dalam pasal 79 diingatkan tentang sanksi
hukum yang cukup berat, yaitu denda paling banyak Rp.50.000.000,- bila dokter terbukti sengaja
tidak membuat rekam medis. Dalam Permenkes No. 749a/Menkes/Per/XII/1989 tentang RM,
disebut pengertian RM adalah berkas yang berisi catatan dan dokumen tentang identitas pasien,
pemeriksaan, pengobatan, tindakan, dan pelayanan lain kepada pasien pada sarana pelayanan
kesehatan.

Isi RM
Di rumah sakit didapat dua jenis RM, yaitu:
RM untuk pasien rawat jalan
RM untuk pasien rawat inap

Untuk pasien rawat jalan, termasuk pasien gawat darurat, RM memiliki informasi pasien,
antara lain:
a.. Identitas dan formulir perizinan (lembar hak kuasa)
b. Riwayat penyakit (anamnesis) tentang :
- keluhan utama
- riwayat sekarang
- riwayat penyakit yang pernah diderita
- riwayat keluarga tentang penyakit yang mungkin diturunkan
c. Laporan pemeriksaan fisik, termasuk pemeriksaan laboratorium, foto rontgen, scanning,
MRI, dan lain lain.

d. Diagnosis dan/atau diagnosis banding

2
e. Instruksi diagnostik dan terapeutik dengan tanda tangan pejabat kesehatan yang
berwenang.

Untuk rawat inap, memuat informasi yang sama dengan yang terdapat dalam rawat jalan,
dengan tambahan :
- Persetujuan tindakan medic
- Catatan konsultasi



- Catatan perawat dan tenaga kesehatan lainnya
- Catatan observasi klinik dan hasil pengobatan
- Resume akhir dan evaluasi pengobatan.

Secara umum kegunaan RM adalah:
a. Sebagai alat komunikasi antara dokter dan tenaga kesehatan lainnya yang ikut
ambil bagian dalam memberi pelayanan, pengobatan dan perawatan pasien.
Dengan membaca RM, dokter atau tenaga kesehatan lainnya yang terlibat dalam
merawat pasien (misalnya, pada pasien rawat bersama atau dalam konsultasi)
dapat mengetahui penyakit, perkembangan penyakit, terapi yang diberikan, dan
lain-lain tanpa harus berjumpa satu sama lain. Ini tentu merupa-kan sarana
komunikasi yang efisien.
b. Sebagai dasar untuk perencanaan pengobatan/perawatan yang harus diberikan
kepada pasien. Segala instruksi kepada perawat atau komunikasi sesama dokter
ditulis agar rencana pengobatan dan perawatan dapat dilaksanakan.
c. Sebagai bukti tertulis atas segala pelayanan, perkembangan penyakit dan
pengobatan selama pasien berkunjung/dirawat di rumah sakit. Bila suatu waktu
diperlukan bukti bahwa pasien pernah dirawat atau jenis pelayanan yang
diberikan serta perkembangan penyakit selama dirawat, tentu data dari RM dapat
mengungkapkan dengan jelas.
d. Sebagai dasar analisis, studi, evaluasi terhadap mutu pelayanan yang diberikan
kepada pasien. Baik buruknya pelayanan yang diberikan tercermin dari catatan
yang ditulis atau data yang didapati dalam RM. Hal ini tentu dapat dipakai
sebagai bahan studi ataupun evaluasi dari pelayanan yang diberikan.
e. Melindungi kepentingan hukum bagi pasien, rumah sakit maupun dokter dan
tenaga kesehatan lainnya. Bila timbul permasalahan (tuntutan) dari pasien kepada
dokter maupun rumah sakit, data dan keterangan yang diambil dari RM tentu
dapat diterima semua pihak. Di sinilah akan terungkap aspek hukum dari RM
tersebut. Bila catatan dan data terisi lengkap, RM akan menolong semua yang
terlibat. Sebaliknya, bila catatan yang ada hanya sekedarnya saja, apalagi kosong
pasti akan merugikan dokter dan rumah sakit. Penjelasan yang bagaimanapun
baiknya tanpa bukti tertulis, pasti sulit dipercaya,
f. Menyediakan data-data khusus yang sangat berguna untuk keperluan penelitian
dan pendidikan. Setiap penelitian yang melibatkan data klinik pasien hanya dapat
diper-gunakan bila telah direncanakan terlebih dahulu. Oleh karena itu, RM di

2
rumah sakit pendidikan biasanya tersusun lebih rinci karena sering digunakan
untuk bahan penelitian.











g. Sebagai dasar di dalam perhitungan biaya pembayaran pelayanan medik pasien.
Bila pasien mau dipulangkan, bagian administrasi keuangan cukup melihat RM,
dan segala biaya yang harus dibayar pasien/keluarga dapat ditentukan.
h. Menjadi sumber ingatan yang harus didokumentasikan, serta sebagai bahan
pertanggungjawaban dan laporan.

Data dan infomasi yang didapat dari RM sebagai bahan dokumentasi, bila diperlukan
dapat digunakan sebagai dasar untuk pertanggungjawaban atau laporan kepada pihak
yang memerlukan masa mendatang.


5. PROSEDUR TINDAKAN MEDIS

INFORMED CONSENT
Informed consent adalah suatu proses yang menunjukkan komunikasi yang efektif antara
dokter dengan pasien, dan bertemunya pemikiran tentang apa yang akan dan apa yang
tidak akan dilakukan terhadap pasien.
Informed consent memiliki 3 elemen :
1. Threshold elements
Elemen ini sebenarnya tidak tepat di anggap sebagai elemen, oleh karena sifatnya lebih
kearah syarat, yaitu pemberi consent haruslah seseorang yang kompeten. Kompeten disini
diartikan sebagai kapasitas untuk membuat keputusan (medis)
2. Information elements
Elemen ini terdiri dari dua bagian, yaitu disclosure (pengungkapan) dan understanding
(pemahaman), yang berisikan informasi sedemikian rupa agar pasien dapat mencapai
pemahaman yang adekuat. Dalam hal ini, ada 3 standar :
a) Standar praktek profesi
b) Standar subjektif
c) Standar pada reasonable person
3. Consent elements
Elemen ini terdiri dari 2 bagian, yaitu voluntariness (kesukarelaan, kebebasan) dan
authorization (persetujuan). Consent dapat diberikan dengan dinyatakan (expressed) dan
tidak dinyatakan (implied)

2
Suatu informed consent harus meliputi :
1. Dokter harus menjelaskan pada pasien mengenai tindakan, terapi dan penyakitnya
2. Pasien harus diberitahu tentang hasil terapi yang diharapkan dan seberapa besar
kemungkinan keberhasilannya
3. Pasien harus diberitahu mengenai beberapa alternatif yang ada dan akibat apabila
penyakit tidak di obati
4. Pasien harus diberitahu mengenai risiko apabila menerima atau menolak terapi
Prosedur tindakan medis secara urutannya :
1. Anamnesis
2. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan abdomen dan rektal
3. Pemeriksaan penunjang
- Pengujian darah samar, darah rutin dan urinalisa
- Edema barium
- Kolonoskopi
- Biopsi
- USG
- CT-scan
- Pemeriksaan antigen karsinoembrionik (CEA)
4. Penatalaksanaan
Medika mentosa :
a) Kemoterapi
b) Agen biologic
Contoh obat yang digunakan adalah bevacizumab (avastin)
c) Radoterapi
d) Terapi simptomatik
Non-medika mentosa :
a) Pembedahan
b) Diet/pola makan

5. Prognosis
Prognosis tergantung dari ada tidaknya metastasis jauh, yaitu klasifikasi tumor dan
tingkat keganasan sel tumor. Untuk tumor yang terbatas pada dinding usus tanpa
penyebaran, angka kelangsungan hidup lima tahun adalah 80%, yang menembus dinding
tanpa penyebaran 75%, dengan penyebaran kelenjar 32%, dan dengan metastasis jauh
1%. Bila disertai diferensiasi sel tumor buruk, prognosisnya sangat buruk,






6. PROSEDUR TERAPI

2
Perawatan pasien tergantung pada tingkat staging kanker itu sendiri. Terapi
akan jauh lebih mudah apabila kanker dapat dideteksi pada stadium dini
Tingkat kesembuhan kanker pada stadium 1 dan 2 masih sangat baik, tetapi
jika kanker dideteksi atau ditemukan pada stadium lanjut, atau ditemukan
pada stadium dini tetapi tidak diobati akan jauh lebih sulit untuk dapat
sembuh.

Kalsifikasi stadium kanker usus (karsinoma kolon) :
- Stadium I : kanker ditemukan didalam dinding kolon.
- Stadium II :kanker sudah menyebar kelapisan otot kolon.
- Stadium III : kanker telah menyebar ke kelenjar -kelenjar limfe.
- Stadium IV : kaker telah menyebar keorgan lain disekitarnya.

Tujuan pengobatan pada kanker terbagi atas:
- Pengobatan kuratif : pengobatan dengan upaya yang ditujukan untuk
mencapai kesembuhan.
- Pengobatan paliatif : pengobatan yang ditujukan pada penderita kanker yang
sudah tidak mungkin kembali dicapainya kesembuhan.









BAB IV

2
KESIMPULAN

Seorang dokter haruslah memastikan dirinya berada dalam keadaa yang optimal
dengan senantiasa menerapkan etik profesi kedokteran yang berlandaskan kosep
dasar moral yaitu prinsip otonomi , prinsip beneficence, prinsip non- maleficence,
dan prinsip justice. Suatu tindakan medis terhadap pasien tanpa memperoleh
persetujuan terlebih dahulu dari pasien tersebut dapat dianggap sebagai
penyerangan atas hak orang l ain atau melanggar hokum. Namun, euthanasia dari
segi hokum yang antaranya dibahas pada pasal 338, 340, 344, 345, dan 359, tetap
dianggap sebagai perbuiatan yang dilarang dan tidak dimungkinkan dilakukan
pengakhiran hidup seseorang sekalipun at as permintaan orang itu sendiri .
perbuatan tersebut tetap diklasifi kasikan sebagai tindakan pidana, yaitu sebagai
perbuatan yang diancam dengan pidana bagi siapa yang melanggar larangan tersebut
beberapa pasal KUHP yang berkaitan dengan euthanasia.











BAB V

2
DAFTAR PUSTAKA

1. Peraturan Perundang-undangan Bidang Kedokteran. 2
nd
ed. Jakarta: Bagian
Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran UI;1994.

2. Sampurna B, Syamsu Z, Siswaja TD. Bioetik dan Hukum Kedokteran:
Pengantar bagi Mahasiswa Kedokteran dan Hukum. Jakarta: Pustaka
Dwipar; 2005. 4.

3. Sjamsuhidajat. Alwy S. Manual Rekam Medis. 1st ed. Jakarta: Konsil
Kedokteran Indonesia; 2006. 5.

4. Wiradharma D. Hak-Hak dan Kewajiban Pasien: Hukum Kedokteran.
Jakarta: Binarupa Aksara;1996
















2