Anda di halaman 1dari 7

!"#$%" "'"(#)$!

*+,"#-(
!"#$%&' )&%*'+ ,%-'. /"012" !%3#"010"..4&'$ 5!67 8 9'/"#-' 2%&' :%&'%-' 2%0% 2"#3%# !;6<;=

,./. 0 %123. )45.62 7869.
,-! 0 :;<:<;;;=
1. PENDAHULUAN
Survey geofisika dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai distribusi parameter-
parameter fisik bawah permukaan seperti kecepatan gelombang elastik, rapat massa, kemagnetan,
kelistrikan dan lain lain. Dalam survey geofisika dengan menggunakan metoda elektromagnetik
(EM) sifat fisik yang dapat ditemukan adalah konduktivitas atau resistivitas (tahanan-jenis)
batuan.
Dari hasil penelitian, kita dapat melihat adanya hubungan antara tahanan-jenis dengan porositas,
kandungan fluida (air atau gas) dan temperatur formasi batuan. Pengaruh masing-masing faktor
tersebut terhadap tahanan-jenis formasi batuan sangat kompleks. Oleh sebab itu, salah satu
metoda untuk menentukan parameter fisis tersebut, dibutuhkan metoda EM yang dapat digunakan
untuk keperluan eksplorasi sumber daya alam seperti mineral, minyak dan gas bumi, geotermal
dan keperluan studi lingkuan yang lain.
Metoda magnetotellurik (MT) merupakan salah satu metoda eksplorasi geofisika yang bersifat
pasif memanfaatkan medan elektromagnetik alam sebagai sumber gelombang atau energy untuk
mengetahui struktur tahanan jenis bawah permukaan. Medan EM di alam ditimbulkan oleh
berbagai proses fisik yang cukup kompleks sehingga spektrum frekuensinya sangat lebar (10
-5
Hz
10
4
Hz). Metode Magnetotellurik bergantung pada fenomena listrik-magnet terutama terhadap
konduktivitas bumi, yang berasal dari aktivitas petir(>1Hz), resonansi lapisan ionosfer bumi
(<1Hz) dan bintik hitam matahari (<<1Hz).
Prinsip kerja metode magnetotellurik adalah proses induksi elektromagnetik yang terjadi pada
anomaly bawah permukaan. Medan EM yang menembus bawah permukaan akan menginduksi
anomaly konduktif bawah permukaan bumi yang menghasilkan medan listrik E dan medan
magnetic sekunder H (arus eddy) yang nanti direkam oleh alat magnetotellurik. Informasi
mengenai konduktivitas medium yang terkandung dalam data MT dapat diperoleh dari
penyelesaian persamaan Maxwell.

2. PENURUNAN PERSAMAAN MAXWELL
! x E = "
!!
!!
(1a)
! x H = j +
!!
!!
(1b)
!#D = q (1c)
!#B = 0 (1d)



dimana :
E : medan listrik (Volt/m)
B : fluks atau induksi magnetik(Weber/m
2
atauTesla)
H : medan magnet (Ampere/m)
j : rapat arus (Ampere/m
2
)
D : perpindahan listrik (Coulomb/m
2
)
q : rapat muatan listrik (Coulomb/m
3
)

Hubungan antara intensitas medan dengan fluks yang terjadi pada medium dinyatakan oleh
persamaan :
B = !H (2a)
D = !E (2b)
j = !E =
!
!
(2c)
dimana :
!: permeabilitas magnetik (Henry/m)
!: permitivitas listrik (Farad/m):
!! konduktivitas (Ohm
-1
/m atau Siemens/m)
!: tahanan-jenis (Ohm.m)
Untuk menyederhanakan masalah,kita asumsikan pendekatan yang dilakukan sifat fisik medium
diasumsikan tidak bervariasi terhadap waktu dan posisi (homogen isotropik) sehingga
akumulasi muatan seperti pada persamaan (1c) tidak akan terjadi, sehingga :
! x E = -
!!!
!!
(3a )
! x H = !E + !
!!
!!
(3b)
!!E = 0 (3c)
!!H = 0 (3d)
Dalam persamaan (3) tampak pada seluruh persamaan hanya menggunakan variable E dan H.
Dengan operasi curl pada persamaan (3a) dan (3b) didapat :
! ! ! ! ! ! !!"
!!
!"
! !"
!
!
!
!"
!
(4a)
! ! ! ! ! ! !!"
!!
!"
! !"
!
!
!
!"
!
(4b)

Dengan menggunakan identitas vector :
! ! ! ! ! ! !!! ! ! !
!
! ; didapat Persamaan gelombang Helmholtz untuk E dan H :
!
!
! ! !"
!!
!"
! !"
!
!
!
!"
!
(5a)
!
!
! ! !"
!!
!"
! !"
!
!
!
!"
!
(5b)
Dimana E dan H adalah suatu fungsi dalam ruang dan waktu :
E(r,t) = Eo (r) e
iwt
(6a)
H(r,t) = Ho (r) e
iwt
(6b)
Dimana :
Eo = amplitude medan listrik
Ho = amplitudo medan magnet
w= frekuensi gelombang elektromagnetik

Sehingga persamaan Helmholtz (Persamaan 5 sebelumnya) menjadi :
E = ( iw!" w
2
!" ) E (7a)
H = (iw!" - w
2
!") H (7b)
Pada kondisi umum dalam eksplorasi geofisika suku yang mengandung ! (perpindahan listrik)
dapat diapaikan terhadap suku yang mengandung ! (konduksi listrik). Sebab nilai
w!" >> w
2
!. Sehingga :
E = ( iw!" )E = k
2
E (8a)
H = ( iw!" )H = k
2
H (8b)
Dimana k = ! !"!!! = ! ! !!"
Dengan ! ! ! =
!!!!
!

Dengan melakukan pendekatan model bumi yang halfspace homogenous isotropic, dimana
diskontinuitas tahanan jenis hanya terjadi pada batas udara dengan bumi. Sehingga komponen
horizontal medan listrik dan medan magnet hanya bervariasi terhadap kedalaman, didapat
persamaan :
!
!
!"
!!
!
= !
!
!" (9)
Solusi elementernya adalah :
Ex= A e
-kz
+ Be
kz
(11a)

Ex = A !
!!"#
!
!!"
+ B !
!"#
!
!"
(11b)
Dimana x dan y adalah sumbu koordinat kartesian dengan z adalah kedalaman positif (vertical ke
bawah)
Eksponensial sendiri yang mengandung :
- komponen imajiner : menyatakan variasi sinusoidal gelombang EM terhadap kedalaman
- komponen real : menyatakan factor atenuasi menurut kedalaman
Dengan dekomposisi persamaan 3a, 6b dan 11a dari medan magnet berikut :
Hy = !
!
!"#$

!"#
!"

Hy = !
!
!"#!
A e
-kz
+ Be
kz
(12)
Sehingga persamaan 12 merupakan solusi persamaan difusi untuk medan magnet pd persamaan
8b.
Untuk bumi homogen, nilai B adalah = 0. Sebab sumber medan EM bersifat ekstem dimana
nilainya akan =0 di kedalaman tak hingga. Sedangkan A nilainya bernilai, sebab menyatakan
atenuasi gelombang EM terhadap kedalaman (z+ arahnya ke bawah).
- Impedansi : Adalah perbandingan anatara medan listrik dan medan magnet yang saling
tegak lurus.
Dari persamaan 11 dan 12 :
Zxy =
!"
!"
= !"#!! (13a)
Zyx =
!"
!"
= ! !"#!! (13b)
Untuk impedansi bumi Homogen,impedansinya adalah impedansi intrinstik (Zo) dimana :
Zo = Zxy =
!"
!"
= !"#!!
Sehingga didapat resisitivitas dan fasanya :
1. Resisitivitas (!! =
!
!"!
!!!!
!
(14a)
2. Fasa = tan
-1
!
!" !"
!" !"
!

(14b)
- Skin Effect dan Penetration Depth
1. Skin effect adalah eksponensial dari gelombang EM yang teratenuasi oleh kedalaman
lapisan tanah
2. Skin depth(" ) didefinisikan sebagai kedalaman medan pada suatu medium homogen
dimana amplitude gelombang EM telah tereduksi menjadi 1/e.
A(") = Ae
-#"

" =
!
!"!
!!
=
!!
!"#
(15)
TEKNIK PEMODELAN
Pada kali ini akan dicari kurva resistivitas semu dan fasa terhadap frekuensi berdasarkan
pemodelan pada data berikut :
!
:
!
:
>;;;;

41/?/

1 @ AB /
!
<
;CD

41/?/

1 @ E; /


!
!
E<;;

41/?/

1 @ :<; /

Gambar 1. Model 1D lapisan bawah permukaan yang terdiri 3 lapisan horizontal homogen, dimana lapisan terakhir
adalah half-space dengan ketebalan tak berhinga

Teknik yang digunakan dalam memodelkan kurva resistivitas semu terhadap frekuensi dan
kurva fasa terhadap frekuensi adalah dengan pemodelan forward (forward modeling). Teknik ini
dilakukan dengan menghitung respon dari suatu model untuk dibandingkan dengan data
impedansi (resistivitas semu dan fasa) pengamatan. Dengan cara coba-coba, dapat diperoleh suatu
model yang responnya paling cocok dengan data, sehingga model tersebut dapat dianggap
mewakili kondisi bawah permukaan. Model 1D berupa model berlapis horizontal, dimana model
ini terdiri dari beberapa lapisan. Setiap lapisan memiliki tahanan jenis yang homogen. Dalam hal
ini, parameter model 1D adalah tahanan jenis dan ketebalan tiap lapisan.
Kode Program Menggunakan Matlab
1. Koding Pemrograman untuk Perumusan Fungsi Resistivitas Semu dan Fasa
function [resistivitassemu, fasa] = fungsi(rho, tebal, frek)
mu = 4*pi*1E-7; %Deklarasi Permeabilitas ruang vakum(H/m)
w = 2 * pi * frek; % Deklarasi Frekuensi Sudut (Radian)
n=length(rho);

%Banyaknya Layer yaitu lapisan j, lapisan 1, lapisan 2 dan lapisan 3.

impedansi = zeros(n,1); % mendeklarasikan impedansi
Zn = sqrt(sqrt(-1)*w*mu*rho(n)); % Zn - Impedansi Lapisan Dasar untuk
memulai rekursi
impedansi(n) = Zn;

% lakukan iterasi untuk menghitung impedansi dan parameter fisis lainnya
untuk tiap-tiap lapisan.
for j = n-1:-1:1
rho = rho(j);
ketebal = tebal(j);
induksij = sqrt(sqrt(-1)* (w * mu * (1/rho))); % induksij-
ParameterInduksi
impij = induksij * rho; % impijj - Impedansi Intrinsik
ej = exp(-2*ketebalan*induksij); % ej - Faktor Eksponensial
x = impedansi(j + 1);
rj = (impijj - x)/(impijj + x); % rj - Koefisien Refleksi
re = rj*ej; % re - Earth R.C.
implj = impij * ((1 - re)/(1 + re)); % implj - Impedansi Layar
impedansi(j) = Zj;
end

Z = impedansi(1);
absZ = abs(Z);
resistivitassemu = (absZ * absZ)/(mu * w); % deklarasi persamaan untuk
mendapat nilai resistivitas semu
fasa = atan2(imag(Z),real(Z)); % deklarasi persamaan untuk mendapat nilai
fasa


2. Lalu buat koding untuk memplot hasil pada kodingan sebelumnya dengan terlebih dahulu
menginput nilai resistivitas pada tiap lapisan, ketebalan dan frekuensi gelombang sehingga
dapat membentuk grafik resistivitas semu terhadap frekuensi

clear all;
clc;
figure(1);
close;

rho = [30000 0.9 4200]; %nilai resistivitas yang diinput
tebal = [65 40 120]; %nilai resistivitas yang diinput
log = -5:0.1:4;
frek = 10.^log;

resistivitassemu = zeros(length(frek),1);
fasa = zeros(length(frek),1);
for i = 1:length(frek);
[resistivitassemu(i) fasa(i)] = fungsi(rho, tebal, frek(i));
end

%koding untuk plot grafik untuk Resistivitas Semu dan Fasa
figure(2);
subplot(2,1,1);
loglog(frek,resistivitassemu,
'bs','LineWidth',1,'MarkerSize',2,'MarkerFaceColor','b');
grid on
ylabel('Resistivitas Semu (Ohm m)');
xlabel('Frekuensi (Hz)');
title('Grafik Resistivitas Semu(Ohm m) Terhadap Frekuensi(Hz)');
subplot(2,1,2);
loglog(frekuensi,fasa, '-
bs','LineWidth',1,'MarkerSize',2,'MarkerFaceColor','b');
grid on
ylabel('Fasa (rad)');
xlabel('Frekuensi (Hz)');
title('Grafik Fasa(Ohm m) Terhadap Frekuensi(Hz)');


3. Setelah di-run tampak hasil plot grafik resistivitas semu terhadap frekuensi yaitu :

Dalam skala lebih besar :