Anda di halaman 1dari 106

KEBIJAKAN & PROSEDUR PENERAPAN

PROGRAM
ANTI PENCUCIAN UANG,
PRINSIP MENGENAL NASABAH DAN
PECEGAHAN PENDANAAN
TERORIS
PENDAHULUAN
Dalam persaingan jasa keuangan semua
bank/BPR berupaya untuk meningkatkan layanan
dan pengembangan produk yang ditunjang
teknologi untuk kenyamanan dan kesetiaan
nasabah.
Dalam kenyataan diantara nasabah yang baik ada
saja nasabah yang beritikad buruk melakukan
tidak kejahatan yang merugikan seperti reputasi,
sanksi dan hilangnya potensi keuntungan
bank/BPR. Ada beberapa hal yang melater
belakangi kejahatan tersebut
LATAR BELAKANG
1. Perkembangan bidang pengetahuan dan teknologi mendorong
pula perkembangan aneka ragam kejahatan
2. Kejahatan dalam suatu wilayah negara maupun lintas batas
negara semakin berkembang, yaitu illegal logging,
perdagangan obat terlarang, penyelundupan barang, tenaga
kerja, terorisme, penyuapan, korupsi dan kejahatan kerah
putih lainnya. Tindak kejahatan ini melibatkan dan
menghasilkan uang dengan jumlah besar.
3. Terdapat berbagai modus yang dilakukan pelaku kejahatan
untuk menyembunyikan/menyamarkan asal usul harta, salah
satunya dgn memasukkan hasil tindak pidana ke dalam sistem
keuangan (financial system), terutama ke sistem perbankan.
4. Dengan demikian asal usul harta kekayaannya tidak dapat
dilacak oleh penegak hukum/PPATK, modus ini disebut
pencucian uang (Money Laundering).
LATAR BELAKANG (LANJUTAN)
5. Untuk menangkal masuknya uang hasil kejahatan, bank
harus mengurangi risiko, agar bank tidak dimanfaatkan
oleh penjahat sebagai sarana pencucian uang
6. Bank mengurangi risiko dengan cara mengenal,
mengetahui identitas nasabah, memantau transaksi dan
memelihara profil nasabah, serta melaporkan adanya
transaksi keuangan yang mencurigakan (suspicious
transactions) yang dilakukan oleh pihak yang meng
gunakan jasa bank/BPR Contoh Aplikasi pembukaan rekening.
7. Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah (PMN)/ dikenal
umum dengan Know Your Customer Principle (KYC
Principle) ini didasari pertimbangan bahwa KYC tidak saja
penting dalam APU, juga dalam rangka penerapan
prudential banking
DASAR HUKUM
1. UU No 15 Tahun 2002, tentang Tindak Pidana
Pencucian Uang sebagaimana telah diubah dengan
Undang - Undang No. 25 Tahun 2003
2. Peraturan BI No.5/23/PBI/2003 tgl. 23 Oktober 2003
tetang Prinsip Mengenal Nasabah (KYC Principles) bagi
Bank Perkeditan Rakyat
3. Keputusan Kepala PPATK No.2/1/KEP.PPATK/2003,
tentang Pedoman Umum Pencegahan dan
Pemberatasan Tindak Pidana Pencucian Uang bagi
Penyedia Jasa Keuangan
4. Keputusan Kepala PPATK No.2/4/KEP.PPATK/2003, ttg
Pedoman Identifikasi Transaksi Keuangan
Mencurigakan bagi Penyedia Jasa Keuangan
DASAR HUKUM (lanjutan)
5. Keputusan Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis
Transaksi Keuangan No.2/6/KEP.PPATK/2003, tentang
Pedoman tatacara Pelaporan Keuangan Mencurigakan
bagi Pengelola Jasa Keuangan
6. Keputusan Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis
Transaksi Keuangan No.3/1/KEP.PPATK/2004, tentang
Pedoman Pelaporan Transaksi Keuangan Tunai dan
Tata Cara Pelaporan bagi Penyedia Jasa Keuangan
dan No.3/9/KEP.PPATK/2004
7. Peraturan BI No 12/20/PBI/2010 tgl. 4-10-2010
tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang
(APU) dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (PPT)
bagi BPR dan BPRs
perbuatan lainnya atas harta kekayaan yang
diketahuinya atau patut diduga merupakan hasil tindak
pidana, dengan maksud untuk menyembunyikan, atau
menyamarkan asal-usul harta kekayaan sehingga seolah-
olah menjadi harta kekayaan yang sah.
Definisi PENCUCIAN UANG ADALAH
UU No.15 Thn 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian
Uang telah diubah dengan UU No. 25 Tahun 2003:
1. perbuatan,
2. menempatkan,
3. mentransfer,
4. membayarkan,
5. membelanjakan,
6. menghibahkan,
7. menyumbangkan,
8. menitipkan
9. membawa keluar negeri
10.menukarkan
Definisi HASIL TINDAK PIDANA Adalah
Harta kekayaan yang diperoleh dari Tindak Pidana :
1. Korupsi
2. Penyuapan
3. Penyelundupan barang
4. Penyelundupan tenaga kerja
5. Penyelundupan imigran
6. Di bidang perbankan
7. Di bidang pasar modal,
8. Di Bidang asuransi
9. Narkotika, psikotropika
10. Perdagangan manusia
11. Perdagangan senjata gelap
12. Penculikan

13. Terorisme
14. Pencurian Penggelapan
15. Penupuan
16. Pemalsuan uang
17. Perjudian
18. Prostitusi
19. Di bidang perpajakan
20. Di bidang perhutanan
21. Di bidang lingkungan Hidup
22. Di bidang kelautan
23. Tindak pidana lainnya yang
dianjam pidana 4 th/lebih

1. Dengan sengaja menempatkan, mentransfer, membayarkan atau
membelanjakan, menghibahkan, menyumbangkan, menitipkan,
membawa ke luar negeri, menukarkan, atau perbuatan lainnya
dengan mata uang/surat berharga lainnya atas harta kekayaan
yang diketahuinya/patut diduga merupakan hasil tindak pidana,
2. Percobaan, pembantuan atau pemufakatan jahat untuk
melakukan tindak pidana pencucian uang
3. Menerima atau menguasai, penempatan, pentransferan,
pembayaran, hibah, sumbangan, penitipan atau penukaran harta
kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan
hasil tindak pidana
4. Memberikan bantuan, kesempatan, sarana atau keterangan
untuk terjadinya tindak pidana pencucian uang.
Atas perbuatan tersebut akan dipidana dengan pidana yang sama
dengan pelaku tindak pidana pencucian uang
KATAGORI TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG
PENDANAAN TERORIS adalah
Penggunaan harta kekayaan secara langsung atau tidak
langsung untuk kegiatan terorisme sebagaimana dimaksud
dalam UU Tindak Pidana Pencucian Uang, termasuk upaya-
upaya setiap orang yang dengan sengaja memberikan :
1. bantuan atau
2. kemudahan dengan cara memberikan atau
3. pinjaman uang atau
4. pinjaman barang atau
5. harta kekayaan lainnya
kepada pelaku tindak pidana terorisme sebagaimana
dimaksud UU No 15 Th 2003 tentang Penetapan Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun
2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme
1. Anti pencucian uang (APU) dan Pencegahan Pendanaan Teroris
(PPT)
2. Transaksi Keuangan Mencurigakan (Suspicious Transaction) adalah
transaksi keuangan mencurigakan sebagaimana dimaksud dalam
UU Tindak Pidana Pencucian Uang.
3. Nasabah adalah pihak yang menggunakan jasa BPR/BPRS dan
memiliki rekening pada BPR/BPRS.
4. Walk in Customer (WIC) adalah pengguna jasa BPR/BPRS yang
tidak memiliki rekening pada BPR/BPRS, tidak termasuk pihak yang
mendapatkan perintah/penugasan dari Nasabah untuk melakukan
transaksi atas kepentingan Nasabah.
5. Beneficial Owner adalah setiap orang yang memiliki dana, yang
mengendalikan transaksi nasabah atau WIC, yang memberikan
kuasa atas suatu transaksi dan/atau yang melakukan pengendalian
melalui badan hukum/perjanjian.
ISTILAH DALAM APU, PMN DAN PPT
6. Politically Exposed Person (PEP) adalah orang yang mendapatkan
kepercayaan, kewenangan publik, Penyelenggara Negara sebagaimana
dimaksud UU mengatur Penyelenggara Negara, dan/atau anggota partai
politik yang memiliki pengaruh terhadap kebijakan dan partai politik.
7. Customer Due Dilligence (CDD) adalah kegiatan identifikasi, verifikasi,
dan pemantauan yang dilakukan BPR /dan BPRS untuk memastikan
bahwa transaksi dilakukan sesuai dengan profil pengguna jasa bank.
8. Enhanced Due Dilligence (EDD) adalah CDD & kegiatan lain yang
dilakukan oleh BPR/BPRS untuk mendalami profil calon Nasabah,/
Beneficial Owner tergolong berisiko tinggi termasuk Politically Exposed
Person terhadap kemungkinan pencucian uang & pendanaan terorisme.
9. Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) adalah PPATK
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang yang mengatur
mengenai Tindak Pidana Pencucian Uang.
10. Rekomendasi Financial Action Task Force (FATF) adalah rekomendasi
standar pencegahan dan pemberantasan pencucian uang dan
pendanaan terorisme yang dikeluarkan oleh FATF.
ISTILAH DALAM APU, PMN DAN PPT (lanjutan)
11. Lembaga Negara/Pemerintah adalah :Lembaga yang memiliki
kewenangan di bidang eksekutif, yudigatif dan legislatif
12. BPR penerima adalah BPR yang menerima perintah
pemindahan dana.
13. BPR pengirim adalah BPR yang mengirimkan perintah
pemindahan dana.
14. Petugas administrasi dana pihak III adalah pegawai BPR
ditugaskan untuk melakukan pencatatan, penelitian,
kelengkapan, keabsahan persyaratan, penyimpanan berkas-
berkas pencatatan transaksi setiap nasabah penyimpan dana.
15. Petugas administrasi kredit adalah pegawai BPR ditugaskan
untuk melakukan pencatatan, penelitian, kelengkapan,
keabsahan persyaratan, penyimpanan berkas-berkas
pencatatan transaksi dari setiap nasabah peminjam dana.
ISTILAH DALAM APU, PMN DAN PPT (lanjutan)
Harta kekayaan yang diketahui atau patut diduga
merupakan hasil tindak pidana, dipidana penjara paling
singkat 5 tahun dan paling lama 15 tahun dan denda
paling sedikit Rp. 100 jt dan paling banyak Rp. 15
Milyar

SANKSI TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG
Setiap orang yang menerima atau menguasai :
1. penempatan,
2. pentransferan,
3. pembayaran,
4. Hibah
5. sumbangan,
6. penitipan, atau
7. penukaran
TAHAPAN Pencucian UANG Yaitu

Penetapan
(Placement)
Transfer
(Layering),
Penggunaan harta
kekayaan (Integration)
Menempatkan
uang berasal dari
tindak pidana ke
sistem
keuangan/ upaya
menempatkan
uang giral
(cheque, wesel
bank, CD, dll) ke
perbankan.
Mentransfer harta
kekayaan yang
berasal dari tindak
pidana (dirty
money) yang telah
berhasil
ditempatkan pada
Penyedia Jasa
Keuangan/bank /ke
Penyedia Jasa
keuangan lainnya.
Menggunakan harta
kekayaan yang berasal dari
tindak pidana yang masuk ke
dalam sistem keuangan
melalui penempatan/transfer
sehingga seolah-olah
menjadi harta halal (clean
money), untuk kegiatan
bisnis yang halal atau untuk
membiayai kembali kegiatan
kejahatan.
Definisi PRINSIP MENGENAL NASABAH
Prinsip yang diterapkan bank untuk mengetahui
identitas nasabah, mematau kegiatan transaksi
nasabah termasuk pelaporan transaksi yang
mencurigakan
UNSUR -UNSUR Prinsip MENGENAL NASABAH
1. Identitas nasabah (Customer Due Dilligence
dan Enhanced Due Dilligence)
2. Pemantauan kegiatan transaksi nasabah
3. Pelaporan transaksi
Menerapkan PMN dan UU No.15 TPPU
Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah dan UU No.15
tentang Tindak Pidana Penucian Uang :
1. Menproleh informasi detail mengenai calon nasabah
2. Mengenal nasabah dan memahami pola kebiasaan
transaksi yang dilakukan nasabah
3. Mengetahui transaksi nasabah yang tidak
normal/mencurigakan
4. Melindungi reputasi dan integritas bank
5. Menfasilitasi kepatuhan terhadap ketentuan
6. Melindungi bank dari ancaman digunakan sebagai
sarana dan sasaran tindak pidana pencucian uang
7. Mengurangi risiko reputasi, risiko operasional, dan
risiko hukum
Tujuan Menerapkan PMN dan UU No.15 TPPU
TAMPAK Apabila BANK/BPR TIDAK Penerapan Prinsip
Mengenal Nasabah :
1. Transaksi-transaksi dari BANK/BPR bersangkutan
dengan bank lain, bank koresponden, masyarakat,
pemerintah dianggap sebagai pencucian uang
(money laundering)
2. Bank/BPR lain tidak akan mau berhubungan bisnis
lagi dengan bank/BPR bersangkutan
3. Akan mempengaruhi kinerja dan tingkat kesehatan
bank/BPR bersangkutan
4. Nasabah ketakutan dan akan enggan dan engkang
dari bank/BPR bersangkutan.
MODUS PENCUCIAN UANG
1. Smurfing, yaitu upaya menghindari pelaporan dengan memecah-mecah
transaksi yang dilakukan banyak pelaku.
2. Structuring, yaitu upaya menghindari pelaporan dengan memecah-mecah
transaksi sehingga transaksi menjadi lebih kecil.
3. U Turn, yaitu upaya mengaburkan asal usul hasil kejahatan dengan
memutarbalikkan transaksi untuk kemudian dikembalikan ke rekening
asalnya.
4. Cuckoo Smurfing, yaitu upaya mengaburkan asal usul sumber dana dengan
mengirimkan dana-dana dari hasil kejahatannya melalui rekening pihak
ketiga yang menunggu kiriman dana dari luar negeri dan tidak menyadari
bahwa dana yang diterimanya tersebut merupakan proceed of crime.
5. Pembelian aset/barang-barang mewah, yaitu menyembunyikan status
kepemilikan dari aset/ barang mewah termasuk pengalihan aset tanpa
terdeteksi oleh sistem keuangan.
6. Pertukaran barang (barter), yaitu menghindari penggunaan dana tunai
atau instrumen keuangan sehingga tidak dapat terdeteksi oleh system
keuangan.


MODUS PENCUCIAN UANG (LANJUTAN)
7. Underground Banking/Alternative Remittance Services, yaitu
kegiatan pengiriman uang melalui mekanisme jalur informal
yang dilakukan atas dasar kepercayaan.
8. Penggunaan pihak ketiga, yaitu transaksi yang dilakukan
menggunakan identitas pihak ketiga dengan tujuan
menghindari terdeteksinya identitas dari pihak yang sebenarnya
pemilik dana hasil tindak pidana.
9. Mingling, yaitu mencampurkan dana hasil tindak pidana dengan
dana hasil kegiatan usaha legal dengan tujuan untuk
mengaburkan sumber asal dananya.
10. Penggunaan identitas palsu, yaitu transaksi yang dilakukan
dengan menggunakan identitas palsu sebagai upaya
mempersulit terlacaknya identitas dan pendeteksian
keberadaan pelaku pencucian uang.
Sisdur Tingkat Profil Risiko
Profil Risiko
Identitas
Struktur
Kepemilikan
Lokasi Usaha
JML
Transaksi
Kegiatan
Usaha
Profil Nasabah


Lainnya
Identitas Nasabah
RENDAH SEDANG TINGGI



Identitas
Nasabah
Memiliki kartu
identitas yang
masih berlaku
dan nasabah
bertempat
tinggal sesuai
dng informasi
dalam kartu
identitas


Data/informasi
identitas calon
nasabah
kadaluarsa,
namun
nasabah tetap
kooperatif
melakukan
updating.


Data/informasi identitas
calon nasabah palsu atau
asli tapi palsu, misalnya
kartu ID tidak dikeluarkan
oleh pihak yang
berwenang, data tidak
benar, dll.
Nasabah yang pada saat
pembukaan rekening
menggunakan alamat
yang wilayahnya berada
diluar wilayah Indonesia
KEBIJAKAN SISTEM PROSEDUR Penerimaan NASABAH
Dengan adanya (berdasarkan) dokumen yang
diserahkan calon nasabah kepada BANK/BPR,
BANK/BPR wajib melakukan IDENTIVIKASI and
VERIFIKASI terhadap calon nasabah tersebut
Calon Nasabah yang dapat DITERIMA Bank/BPR :
1. Perorangan,
2. Badan Usaha,
3. Badan Hukum,
4. Dan Lainnya sesuai ketentuan
KEBIJAKAN SISTEM PROSEDUR Penerimaan
NASABAH
HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN BANK/BPR/s DALAM
Penerimaan Calon NASABAH :
1. Meneliti dan melihat dan analisa kebenaran dokumen
2. Mencocokkan dokumen fotocopy dengan aslinya,
3. Bertemu/tatap muka dengan calon nasabah sebelum
diproses,
4. Melakukan identivikasi dan verifikasi lebih yang lebih ketat
(extensive due diligence /EDC) terhadap calon nasabah :
a. Calon nasabah sendiri mempunyai risiko tinggi karena
kewarganegaraan, kedudukan/jabatan dan kegiatan
b. Calon nasabah usahanya/kegiatannya potensial sebagai
sarana pencucian uang (High Rish Business) dan
c. Calon nasabah berasal dari negaraberisiko tinggi (High Risk
Countries)
DOKUMENTASI Profil NASABAH
1. Data base calon/nasabah lengkap sekurang-kurangnya data yang
ada identitas, pekerjaan/usaha, kewarga negaraan, jumlah
penghasilan, rekening yang dimiliki, aktifitas rekening, tujuan
pembukaan rekening, tujuan permohonan keredit.
2. File data dan penyimpanan dokumen digunakan media yang
aman, tahan sesuai kebutuhan bank, dan dapat mudah diakses
setiap saat oleh unit kerja yang terkait
3. Data base wajib dikinikan apabila ada informasi baru. Pengkinian
dimaksudkan untuk membantu penelusuran dan analisa
transaksi secara individu untuk kepentingan bank, BI dan PPATK
4. Data base harus mampu mendukung penyusunan laporan dan
penyediaan informasi yang diperlukan bank, BI dan PPATK
5. Bank wajib memelihara dokumen/data yang berkaitan dgn
identitas nasabah sekurang-kurangnya 5 tahun dari penutupan
rekening dan tunduk pada UU No.8 th 1997 ttg dokumen
perusahaan
Lokasi Usaha dan Profil Nasabah
RENDAH SEDANG TINGGI
Lokasi
Usaha

Lokasi usaha
dekat dengan
bank/diketahui
oleh bank.
Lokasi usaha
berjauhan
dengan
lokasi bank
Lokasi usaha nasabah
berada di zona
perdagangan bebas

Profil
Nasabah


Petani Pegawai
Perusahaan
Tergolong sebagai
Politically Exposed
Persons/PEP.
Memenuhi kriteria PPATK
(high risk selain PEP).
Pegawai dariperusahaan
yang tergolong berisiko
tinggi, misal shell
company.
Jumlah Tranasaksi dan Struktur Kepemilikan
RENDAH SEDANG TINGGI
Jumlah
Transaksi

Nilai transaksi
rendah, misal
dibawah Rp 5 juta

Peningkatan jumlah
transaksi tidak
significant/significant
namun didukung
dengan dokumen
memadai/ masih
tergolong wajar.
Transaksi tunai
dalam jumlah
besar

Struktur
Kepemilik
an

Tidak memiliki
pengendalian dan
komposisi
pemegang saham
tersedia dalam
data publik.
Informasimengenaip
emegang saham
tidaktersediadalamda
ta publik.
Perusahaan
dengan
pemegang
saham
berbentuk
anomim

KEBIJAKAN SISTEM PROSEDUR Penerimaan
NASABAH
Daftar Calon Nasabah Berisiko Tinggi (High Risk
Customers) :
1. Warga Negara Asing (WNA),
2. Warga yang mempunyai kedudukan sebagai penyelenggara
negara/pemerintahan/Partai Politik (Politically Exposed Person)
a. Pejabat negara pada lembaga tertinggi Negara (MPR)
b. Pejabat negara pada lembaga tinggi Negara (DPR, MA, DPA, dll)
c. Menteri, Duta besar, Gubernur, Wkl. Gubernur dll
d. Bupati, Walikota dll
e. Direksi/Komisaris/Pejabat struktural BUMN/BUMD
f. Pimpinan BI, Pimpinan Bank termasuk pegawai bank
g. Pimpinan Perguruan Tinggi Negeri (PTN)
h. Pejabat eselon I dilingkungan sipil, Meliter dan kepolisian
i. Jaksa, Hakim, Panitera pengadilan, penyidik
j. Pimpinan/Bendaharawan proyek dll
3. Mempunyai kegiatan usaha yang rawan
Kegiatan Usaha dan Lainnya
RENDAH SEDANG TINGGI
Kegiatan
Usaha

Pedagang
sayur
dipasar
tradisional

Pedagang
Valuta Asing
atau
pengiriman
Uang.
Kegiatan usaha yang
berbasis uang tunai seperti
mini market, jasa
pengelolaan parkir, rumah
makan, Stasiun Pengisian
Bahan Bakar (SPBU),
pedagang isi pu
Lainnya

Tidak
terdapat
informasi
Lainnya
Memiliki
usaha lainnya
disamping
sebagai
karyawan
perusahaan.
Mempunyai nama dan
kewarganegaraan mirip
dengan anggota teroris


KEBIJAKAN SISTEM PROSEDUR Penerimaan
NASABAH
Daftar Calon Nasabah Mempunyai Bisnis Berisiko
Tinggi (High Risk Business ) :
1. Lembaga keuangan Bank dan Non Bank
2. Shell Banks (Bank Asing), Bearer Corporation (Pers.
Asing)
3. Kasino
4. Agen perjalanan
5. Perusahaan Ekspor dan Impor
6. Pedagang Perhiasan, Logam mulia, permata
7. Broker dan dealer
8. Pedagang barang antik dan seni
9. Internet banking
10.Real Estate
KEBIJAKAN SISTEM PROSEDUR Penerimaan
NASABAH
Daftar Calon Nasabah Berasal dari negara Berisiko
Tinggi dan pusat penghasil Narkoba :
1. Mexico,
2. USA
3. Guatemala
4. Jamaica
5. Colombia
6. Peru
7. Bolivia
8. Paraguay
9. Brasil
10. Maroko
11. Ghana
12. Nigeria
13. South Africa
14. Kenya
15. Hungary
16. Turkey
17. Syria
18. Iran
19. Afghanistan
20. Pakistan
21. India
22. Nepal
23. Myanmar
24. Thailand dan Laos
PENOLAKAN CALON NASABAH
1. Bank/BPR WAJIB menolak calon nasabah yang yang tidak
memenuhi kreteria yang telah di tetapkan :
a. Calon nasabah yang tidak dapat memberi informasi yang
telah ditetapkan sesuai PMN
b. Calon nasabah yang tidak dapat menyerahkan dokumen
pendukung
c. Calon nasabah menyerahkan dokumen pendukung
namun tidak dapat menperlihatkan aslinya
d. Identitas beneficial owner diragukan tidak dapat diyakini
e. Calon nasabah diketahui menggunakan identitas dan atau
memberikan informasi yang tidak benar
f. Calon nasabah menggunakan rekening orang/badan lain
2. Bank/BPR dapat menolak untuk melaksanakan transaksi dan
atau mengakhiri hubungan karena penggunaan rekening/
permohonan kredit tidak sesuai dgn tujuan semula
PERSETUJUAN CALON NASABAH
1. Persetujuan terhadap calon nasabah diberikan
pejabat bank/BPR berdasarkan wewenang jabatan
atau kepangkatan setelah diyakini kebenarannya
tentang identitas, kelengkapan dokumen
2. Persetujuan terhadap calon nasabah yang
tergolong dalam nasabah berisiko tinggi,
usaha/kegiatan nasabah beriko tinggi atau calon
nasabah berasal dari negara berisiko tinggi,
penggunaan kredit tdk sesuai peruntukan (PPT)
disetujui oleh pejabat yang berwenang setingkat
lebih tinggi berdasarkan keyakinan dan ketentuan
yang berlaku
Identifikasi NASABAH Walk-in Customer (WIC)
Prinsip Mengenal Nasabah bagi Walk-in Customer
yang bertransaksi dengan nominal Rp. 100 jt ke
atas per transaksi wajib melakukan :
a. Mengisi formulir Prinsip Mengenal Nasabah
secara lengkap
b. Termasuk mengenai informasi sumber dan
tujuan penggunaan dana (keterangan
transaksi) termasuk tanda tangan dari WIC
c. Melampirkan identitas diri (foto copy) KTP,
SIM atau identitas lainnya, WNA (Passport,
KIMS)
Pemantauan dan Identifikasi Transaksi NASABAH
Kegiatan pemantauan sekurang-kurangnya mengenai :
1. Pemantauan rekening, meliputi pemantauan terhadap
mutasi rekening, secara periodik untuk mengidentifikasi
kemungkunan adanya mutasi yang tidak sesuai dengan
profil nasabah (Nasabah yang mempunyai risiko tinggi)
2. Pemantauan Transaksi, pemantauan terhadap setiap
transaksi baik tunai maupun non tunai untuk
mengidentifikasi adanya transaksi yang tidak sesuai dengan
profil nasabah
3. Pemantauan transaksi Walk-in Customer, pemantauan
terhadap transaksi yang dilakukan Walk-in Customer
dengan jumlah diatas Rp. 100 jt mengidentifikasi transaksi
yang mencurigakan
Pemantauan dan Identifikasi Transaksi NASABAH
Tujuan pemantauan Transaksi dan Pemantauan mutasi
Rekening :
1. Untuk mengenal dan memahami kraktertik (pola) transaksi
nasabah
2. Untuk mengidentifikasi transaksi nasabah yang tidak wajar atau
menyimpang dari profil dan karekteristik transaksi nasabah
3. Pemantauan transaksi dan rekening dilakukan untuk
mengidentifikasi adanya transaksi yang wajib dilaporkan
kepada PPATK terutama :
a. Transaksi tunai (Cash Transaction)
b. Transaksi keuangan mencurigakan (Suspicius transaction)
Agar diproleh pemantauan dan identifikasi yang akurat wajib
dilakukan pengkinian profil nasabah (diedit/dievaluasi) setiap
ada perubahan data nasabah
Pemantauan dan Identifikasi Transaksi NASABAH
Transaksi Keuangan Tunai (Cash Transaction) yang
wajib dilaporkan sebagai Cash Transaction Report
(CTR)/Laporan Transaksi Keuangan Tunai (LTKT) yaitu
transaksi dengan kreteria :
1. Transaksi penarikan/penyetoran /pembayaran/
penerimaan dengan menggunakan uang tunai
kertas maupun logam
2. Berjumlah komulatif sebesar Rp. 500 jt atau lebih
atau setara dengan itu dan
3. Dilakukan dalam satu kali atau beberapa kali
transaksi dalam satu hari kerja
4. Kalau tidak dilaporkan sanksinya pidana
Pemantauan dan Identifikasi Transaksi NASABAH
Transaksi Keuangan Mencurigakan (Cuspicious Transaction) :
1. Transaksi keuangan yang menyimpang dari profil,
karakteristik/pola kebiasaan transaksi nasabah bersangkutan
2. Transaksi keuangan nasabah yang patut diduga dilakukan
dengan tujuan untuk menghindari pelaporan transaksi
transaksi yang bersangkutan yang wajib dilakukan PJK sesuai
ketentuan
3. Transaksi keuangan yang dilakukan atau batal dilakukan
dengan menggunakan harta kekayaan yang diduga berasal
dari hasil tindak pidana
Ciri-ciri umum transaksi keuangan mencurigakan :
1. Tidak memiliki tujuan ekonomis dan bisnis yang jelas
2. Menggunakan uang tunai dengan jumlah reletif besar dan atau
dilakukan secara berulang-ulang diluar kewajaran
3. Aktivitas transaksi nasabah diluar kebiasaan dan kewajaran
Pemantauan dan Identifikasi Transaksi NASABAH
Transaksi Keuangan yang DIKECUALIKAN dari kewajiban
Pelaporan
1. Dikecualikan tanpa mengajukan permohonan pengecualian
a. Transaksi antar bank
b. Transaksi dengan pemerintah, transaksi menggunakan
rekening milik pemerintah untuk dan atas nama pemerintah
baik pusat maupun daerah, depertemen, non depertemen,
lemabaga pemerintah lainnya
c. Transaksi dengan BI
d. Transaksi pembayaran gaji, pembayaran pensiunan yang
secara rutin dilakukan
e. Transaksi yang ditetapkan oleh Kepala PPATK diantaranya :
Transaksi antar PJK dalam rangka kegiatan usaha
Transaksi rutin dilakukan harian, mingguan, bulanan dari
jenis usaha atau pihak-pihak seperti pengelola jalan tol,
SPBU, Toko modern, Maskapai penerbangan, rumah sakit dll
Pemantauan dan Identifikasi Transaksi NASABAH
Transaksi Keuangan Tunai yang dikecualikan
dari kewajiban pelaporan, maka bank harus :
1. Membuat file dan menyimpan data dan daftar
transaksi yang dikecualikan
2. Memelihara dan melakukan pengkinian profil
nasabah sesuai PMN
3. Melakukan pemantauan dan evaluasi, editing
secara berkala
4. Memelihara dokumen transaksi sesuai ketentuan
untuk memeudahkan penelusuran setiap saat
5. Membuat laporan jika dicurigai ada ungsur-ungsur
transaksi keuangan mencurigakan.
Pengkinian DATA Profil NASABAH
Apabila ada perubahan data/profil/pembaharuan
nasabah harus dilakukan updating/editing
terhadap file menyangkut :
1. Nama nasabah,
2. Tempat tgl lahir
3. Kewarganegaraan
4. Alamat
5. No. Telepon/HP
6. Jenis Usaha (TDP, SIUP, dll, tgl. Jth tempo)
7. Pekerjaan (bidang usaha)
8. Alamat tempat kerja/alamat perusahaan
9. Penghasilan
10.Nama gadis ibu kandung
Direksi Bank/BPR/s, Pejabat bank/BPR/s, Pengawai
bank/BPR dilarang memberitahukan kepada
nasabah/orang lain baik secara langsung mapun tidak
langsung dengan cara apapun mengenai Laporan
Transaksi Keuangan Mencurigakan (LTKM) yang sedang
disusun atau telah dilaporkan kepada PPATK

Pelangaran terhadap ketentuan di atas dipidana
penjara paling singkat 3 tuhun, paling lama 5 tahun
dan denda paling sedikit Rp. 100 jt dan paling banyak
Rp. 1 milyar
ANTI TIPPING Off
Perlindungan PELAPOR dan SAKSI
1. Perlindungan bagi pelapor
a. Pelaksanaan pelaporan dikecualikan dari dari ketentuan rahasia bank
b. Pelapor tidak dapat dituntut baik secara pidana maupun perdata atas
kewajiban pelaksanaan pelaporan
c. PPATK, Penyidik, Penuntut umum atau hakim wajib merahasiakan
identitas pelapor
d. Setiap barang yang dilaporkan terjadi dugaan tindak pidana pencucian
uang, wajib diberikan perlindungan khusus oleh negaradari
kemungkinan ancaman yg membahayakan diri, jiwadan/atau hartanya
termasuk keluarganya
2. Perlindungan bagi saksi
3. Setiap orang yang memberikan kesaksian dalam pemeriksaan tindak
pidana pencucian uang wajib diberikan perlindungan khusus oleh
negara dari kemungkinan ancaman yang membahayakan
membahayakan diri, jiwadan/atau hartanya termasuk keluarganya
4. Saksi tidak dapat dituntut baik secara pidana maupun perdata atas
kewajiban pelaksanaan pelaporan
PELAKSANAAN APU dan PPT PERAN AKTIF, PENGAWAS
Komisaris dan TANGGUNGJAWAB Direksi
Komisaris Direksi Unit Kerja
1. Menyetui
Kebijakan
dan SISDUR,
2. Mengawasi
pelaksanaan
program APU,
PMN dan PPT)

1. Direksi melaksana kan
kebijakan sisdur dan
bertanggungjawab
terhadap program
APU, PMN dan PPT
2. Membuat Kebijakan
dan prosedur APU,
PMN dan PPT
3. Mengevaluasa
pelaksanaan APU, PMN
dan PPT
4. Membuat dan
menyetujui laporan
1. melaksanak
an
kebijakan
dan SISDUR
2. Menerima
laporan
3. Membuat
laporan
4. Memberi
masukan

1. Bank/BPR wajib menyampaikan laporan Transaksi
Keuangan Mencurigakan, laporan transaksi keuangan
tunai, dan laporan lain kepada PPATK sebagaimana diatur
dalam Undang-Undang yang mengatur mengenai Tindak
Pidana Pencucian Uang.
2. Kewajiban Bank/BPR untuk melaporkan Transaksi
Keuangan Mencurigakan dan transaksi yang diduga terkait
dengan kegiatan terorisme/pendanaan terorisme.
3. Bank/BPR wajib menyampaikan laporan Transaksi
Keuangan Mencurigakan kepada PPATK paling lambat 3
(tiga) hari kerja setelah BPR mengetahui adanya unsur
Transaksi Keuangan Mencurigakan.
4. Penyampaian laporan berpedoman pada ketentuan
PPATK.
Laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan ke PPATK
1. Bank/BPR harus mempunyai sistem pengendalian
intern, yang dapat memastikan bahwa penerapan
Program APU, PNM dan PPT oleh unit-unit kerja
terkait telah sesuai dengan kebijakan dan prosedur
yang ditetapkan.
2. Sistem Pengendalian Intern harus mampu secara
tepat waktu mendeteksi kelemahan dan
penyimpangan yang terjadi dalam penerapan
Program APU, PNM dan PPT dengan tujuan untuk
meminimalkan potensi risiko yang dihadapi
Bank/BPR.

PENGENDALIAN INTERNAL
INTERNAL AUDIT
SKAI sebagai satuan kerja yang melaksanakan
pengendalian/pemeriksaan intern harus memiliki kewenangan
dan sarana yang memadai mencakup hal-hal sbb:
1. Memiliki program dan prosedur audit berbasis risiko yang
mencakup uji kepatuhan dengan fokus pada CDD,
operasional, produk dan jasa yang berisiko tinggi;
2. Menilai kecukupan proses yang berlaku di bank/BPR
dalam mengidentifikasi dan melaporkan transaksi yang
mencurigakan;
3. Mengkomunikasikan temuan pemeriksaan kepada Direksi
dan/atau manajemen dengan tepat waktu;
4. Merekomendasikan upaya-upaya perbaikan terhadap
kekurangan yang ada.

INTERNAL AUDIT
Kebijakan dan Prosedur Memuat
UMUM PELAKSANAN CDD VERIFIKASI DOK
1. Penerapan prog. APU +PPT
2. Ada Kebijakan SISDUR disetujui
Dewan Komisaris
3. Sisdur berbasis teknologi untuk
tidak disalah gunakan
4. Admin Dana+Kredit Melakukan CDD
5. CDD thd penerima kuasa +transaksi
tdk wajar
6. CDD pada Nasabah lama
7. Penerimaan nasabah Pendekatan
risiko APU+PPT
8. Pengelompokan nasabah
berdasarkan tingkat risiko
9. Ketentuan katagori risiko
10. Meminta info pada nasbah+WIC
11. Melalukan tatap muka dgn nasabah
12. Perhatian pada negara yg tdk
rekomendasi FATF
13. Tidak ada rekening anonim/fiktif
1. Info calon nasabah
Perseorangan
2. Info Calon Nasabah
perusahaan
3. Dokumen
pendukung
perseorangan+Peru
sahaan (Identitas,
spesimen)
4. Info calon Nasabah
Bank dan dokumen
5. Info calon Nasabah
yayasan dan
dokumen
6. Info Calon Nasabah
Lembaga
Negara/Pemerintah
dan Dokumen
1. BPR wajib
memverifikasi
dokumen
2. BPR melakukan
wawancara /meneliti
kebenaran dokumen
3. Ada keraguan dapat
meminta dokumen
dukung lain
4. Wajib menyelesaikan
proses verifikasi
identitas
5. Dapat menerima calon
nasabah sebelum
verifikasi selesai
6. Verifikasi calon
nasabah diselesaikan
untuk perseorangan
selesai 14 hari
perusahaan 90 hari
Kebijakan dan Prosedur Memuat
PENGKINIAN DATA PEMANTAUAN
DOK
PEMINDAHAN
DANA
PENUTUPAN/ PENO
LAKAN TRANSAKSI
1. BPR wajib peng
kinian data nasabah
perseorang, perusa
haan & dokumen
2. BPR wajib memeli
hara daftar teroris
3. Melakukan Peman
tauan berkesinam
bungan & identifikasi
4. Minta latar belakang
dan tujuan transaksi
tdk sesuai dengan
profil nasabah
5. Memiliki sistem pen
catatan dapat meng
identifikasi dan
analisa.
1. BPR wajib me
lakukan pe
mantauan do
kumen
2. Dokemen
mencakup
identitas, info
transaksi, baik
perseorangan
/perusahaan
3. BPR wajib
memberi info/
dokumen pd
BI lembaga
otoritas/ lain
nya yang
berwenang
1. Melakukan pemin
dahan dana di
lakukan BPR di
rek. BPR di bank
umum
2. Jika pemindahan
dana tdk dila
kukan dgn pende
katan risiko, pe
mindahan dapat
ditolak/pembatala
n/ mengakhiri
hubungan
3. Jika ada indikasi
pemindahan dana
mencurigakan
dapat melaporkan
ke PPATK
1. Nasabah yg tidak
memenuhi keten
tuan yang ditetap
kan wajib menolak
2. Menolak/membata
lkan transaksi/
menutup hubu
ngan jika ada
keraguan, info tdk
benar.
3. BPR wajib
melaporkan jika
ada transaksi yang
mencurigakan ke
PPATK



Kebijakan dan Prosedur Memuat
BENEFICIAL OWNER POLITICALLY EXPOSED
PERSON
CCD SEDERHANA
1. Memastikan calon nasabah/
WIC mewa kili Beneficial
owner
2. Calon nasabah/WIC/Benefici
al owner melalui prosedur
CDD
3. BPR wajib mempro leh bukti
identitas, kebeneran sumber
dana Beneficial owner
4. Identitas Beneficial owner
telah diverifikasi
5. Bila ragu kebenaran identitas
Beneficial owner BPR wajib
menolak
6. Beneficial owner lembaga
negara/pemerintah, perusa
haan terdaftar di bursa efek
tdk wajib meminta identitas
1. BPR wajib meneliti calon
nasabah
2. Calon nasabah PEP wajib
melakukan EDD
3. Nasabah PEP risiko tinggi
dibuat daftar sendiri
4. Termasuk nasabah yang
menerima kiriman dari negara
berisiko tinggi
5. BPR melakukan hubungan
dengan PEP direksi/ pejabat
eksekutif bertang gungjawab
6. Direksi/pejabat eksekutif ber
wenang memberi persetu juan/
menolak/ menghentikan hub
dengan nasabah PEP
7. BPR wajib meminta dokumen
tambahan, kebenaran profil,
menganalisa nasabah
1. BPR dapat mene
rapkan CDD yang
sederhana thd nasa
bah risiko rendah
2. Diketahui ada indi
kasi transaksi keua
ngan tdk wajar wajib
melakukan CDD
3. BPR wajib menyim
pan nasabah diperla
kukan CDD
4. Nasabah Pereorang
an/perusahaan wajib
minta dokumentasi
tambahan
5. Transaksi terdapat
dugaan pencian
uang/PPT CCD seder
hana tdk berlaku
Kebijakan dan Prosedur Memuat
PELAKSANAAN
CDD PIHAK III
PENGENDALIAN
INTERNAL
SDM &
PELATIHAN
PELAPORAN
1. BPR dapat meng
gunkan CDD yg
dilakukan pihak
III
2. CDD yang dihasil
kan pihak III ber
dasarkan keten
tuan standar
3. BPR dapat me
mastikan hasil
CDD cukup iden
titas & verifikasi
4. CDD pihak III da
pat
dipertanggung
jawabkan dalam
tatausaha doku
men
1. BPR memiliki
pengendaliann
intern efekif
2. Adanya batasan
wewenang dan
tanggungjawab
3. Adanya fungsi
pemisahan anta
ra pelaksana dgn
pengawas pelak
sanaan APU,
PNM dan PPT
4. Adanya
pemantauan thd
efektivitas pelak
sanaan APU,
PNM dan PPT

1. BPR wajib me
lakukan penya
ringan pegawai
baru/screening
mengindari
BPR sebagai
media APU,
PNM dan PPT
2. BPR wajib me
laksanakan pe
latihan
3. Pelatihan
dapat dilaku
kan in house
training, ikut
pihak lain, sara
na elektronik
1. Pelaporan ttg pedoman
pelaksanaan Apu dan
PPT tertuang dalam SK
Direksi dilaporkan ke BI
2. BPR wajib menyampai
kan laporan Transaksi
Keuangan Mencuriga
kan, transaksi tunai
dan lain kepada PPATK
3. Paling lambat 3 hari
kerja sejak diketahui
adanya transaksi keua
ngan mencurigakan
4. Laporan disamapaikan
berpedoman pada
ketentuan PPATK

Kebijakan dan Prosedur Memuat
KETENTUAN LAIN PENUTUP
1. BPR melakukan tindakan yang
diperlukan untuk mencegah
penyalahgunaan teknologi
dalam berbagai modul
pencucian uang atau skema
pendanaan teroris
2. BPR wajib bekerjasama
dengan penegak hukum dan
otoritas yang berwenang
dalam rangka pemberantasan
pencucian uang dan
pendanaan teroris
1. OP harus disosialisasikan agar
dapat di pahami dan
dilaksanakan
2. Kebijakan dan SOP sudh
disahkan dewan Komisaris dan
berlaku sejak ditetapkan.

SANKSI Berdasarkan UU No.15 Tindak Pidana
Pencucian Uang
Bank dengan sengaja tidak menyampaikan laporan
transaksi keuangan yang mencurigakan dan transaksi
tunai kepada PPATK dikenakan pidana denda paling
sedikit Rp. 250 juta dan paling banyak 1 milyar
Setiap orang yang menerima atau menguasai :
1. penempatan,
2. pentransferan,
3. pembayaran,
4. Hibah
5. sumbangan,
6. penitipan, atau
7. penukaran
Harta kekayaan yang diketahui atau patut diduga merupakan hasil tindak
pidana, dipidana penjara paling singkat 5 tahun dan paling lama 15
tahun dan denda paling sedikit Rp. 100 jt dan paling banyak Rp. 15
Milyar. KETENTUAN di ATAS tidak berlaku Bagi BANK yang
melaksanakan kewajiban pelaporan transaksi keuangan mencurigakan.
IGIN SUKSES
KONSEP DIRI, IMPIAN

KERJA KERAS, TEAM
PEDULI DIRI, KELUARGA ,&TEAM
Konsep yang diharapkan membawa perubahan adalah
1. Pemiliki Impian
2. Konsep Menghargai diri sendiri
3. Keluarga, perusahaan
4. Sikap Positip
5. Jujur
6. Disiplin
Tidak menghargai diri sendiri, keluarga
dan Perusahaan konsep yang salah
Jika jawabannya SUDAH.. Coba amati dan
sadari apa sudah yang diperbuat dan dikerjakan
.......... Untuk mencapai impian
Coba evaluasi dan tanya diri, sudahkah kita
bekerja keras dengan semangat tanpa lelah ?
IMPIAN terlalu tinggi, tetapi kita terlalu santai dan
MALAS untuk mewujudkannya !
Coba kita renungkan APAKAH AKU TerLALU
SANTAI, MALAS, TIDAK JUJUR, TIDAK DISIPLIN
serta Tidak Bersikap Positip pada DIRI,
PERUSAHAAN ?
Masih ada waktu merubahnya !
Semuanya tertunda, impian Tinggal
kenangan dan hayalan belaka ? Sikap pasif
BERARTI Kita Tidak Menghargai DIRI-
Sendiri, KELURGA dan PERUSAHAAN
Ubah Konsep DIRI, Imbasnya
pada DIRI, Keluarga dan
PERUSAHAAN
Berikan PENGHARGAAN pada DIRI-MU sendiri
1. Pertama dengan ujudkan mimpi-MU, bekerja KERAS,
Pimpin diri-MU,
2. Kedua SEMANGAT JUANG-MU Tak Pernah LELEH,
3. Ketiga menjunjung tinggi KEJUJURAN dalam
bertindak, berbuat dan berbicara
4. Keempat selalu bersikap POSITIP dalam mengerjakan
sesuatu
5. Kelima DISIPLIN dasar keberhasilan
6. Keenam, mungkin kamu akan menjadi pemimpin
Bank, bahkan Memiliki-NYA semua serba mungkin,
JIKA terlaksana dengan BAIK
KIta memerlukan AKTUALISASI diri =>
KOSNSEP aktualisasi dapat diraih jika
memiliki KEPERCAYAAN DIRI. Coba kita ukur
tinggi rendahnya percaya diri KITA (ukur)
BERCERMINLAH pada HASIL kepercayaan
diri Pada penerapan konsep, sambil
mengenal sikap AKAN TERCERMIN
PRODUKTIVITAS
1. Kejujuran
2. Mencintai Pekerjaan
3. Bekerja dengan semangat
4. Kreatif dan Inovatif
5. Bertanggungjawab pada keputusan
6. Mempunyai integritas yang tinggi sesuai sistem
7. Mempunyai relasi yang luas dan realistis
8. Hubungan kerja yang harmonis
9. Keluarga yang harmonis
10.Sikap, Sifat dan berpikir POSITIP
11.Jangan lupa Bertaqwa kepada TUHAN dan
bersyukur
Siapa TEAM :

1. Memegang Saham
2. Manajemen
3. Karyawan/diri sendiri
4. Nasabah
5. Lingkungan

1. Memberikan masukan (feedback)
2. Berikan ruang gerak bila atasan
sedang BAD MOOD
3. Jangan pernah MENCELA,
tunjukkan KESETIAAN
4. Menerima PERBEDAAN dan Tetap
Saling MENGHORMATI
5. Memberi pelayanan dengan Etika

1. Meningkatkan Good Corporate Governance (GCG) terutama dalam
pelaksanaan operasional perkreditan.
2. Memastikan penerapan prinsip kehati-hatian dan azas-azas perkreditan
yang sehat dalam pelaksanaan perkreditan .
3. Meminimais risiko terhadap bentuk pengikatan agunan yang dapat
digunakan sebagai faktor pengurang dalam pembentukan PPAP
sebagaimana diatur dalam PBI No. 13/26/2011.
4. Prinsip kehati-hatian dan asas-asas perkreditan yang sehat secara
konsisten dan berkesinambungan dalam rangka mitigasi risiko atas
setiap pemberian kredit.
5. Untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan wewenang oleh berbagai
pihak dalam pemberian kredit yang dapat merugikan
6. Untuk mencegah terjadinya praktek pemberian kredit tidak
bertanggungjawab

1. Sebagai pedoman bagi BPR dalam setiap pelaksanaan
pemberian kredit yang memuat semua aspek perkreditan
memenuhi prinsip kehati-hatian dan asas-asas
perkreditan yang sehat, antara lain dalam proses
pemberian kredit secara individual, pemantauan
portofolio perkreditan secara keseluruhan, dan dalam
pelaksanaan penanganan kredit bermasalah.
2. Sebagai standar atau ukuran dalam pelaksanaan
pengawasan pemberian kredit pada semua tahapan
proses perkreditan secara individual.

1. Prinsip Kehati-hatian dalam Perkreditan;
2. Organisasi dan Manajemen Perkreditan;
3. Kebijakan Persetujuan Kredit;
4. Dokumentasi dan Administrasi Kredit;
5. Pengawasan Kredit; dan
6. Penanganan Kredit Bermasalah;
7. Memberikan informasi dengan lengkap dan jelas
mengenai kredit yang ditawarkan meliputi:
Informasi mengenai karakteristik kredit yang
ditawarkan meliputi nama kredit yang ditawarkan,
manfaat dan risiko yang melekat, persyaratan kredit,
biaya-biaya, perhitungan bunga dan jangka waktu
kredit dan
Kejelasan mengenai bentuk dan isi Perjanjian Kredit
dan pengikatan agunan.

1. Kebijakan Pemberian Kredit
2. Kebijakan Penilaian Agunan
3. Kredit pada Pihak terkait
4. Pemberian Kredit Pada Sektor Ekonomi dan
Risiko Tinggi
5. Pemberian Kredit Yang Perlu Dihindari


1. kredit untuk tujuan tidak jelas arah dan tujuannya ;
2. kredit diberikan tanpa informasi keuangan yang
cukup; Informasi keuangan yang tidak mencukupi
Repaymen capacity
3. kredit yang memerlukan keahlian analisa khusus;
dan
4. kredit kepada debitur bermasalah dan/atau debitur
dengan kolektibilitas kurang lancar, diragukan dan
macet


1. Sepakat kedua belah pihak
2. Cakap berbuat hukum (cukup umur, tidak dibawah
pengapuan, tidak sakit jiwa)
3. Berdomisili diwilayah kerja atau berdomisili seluruh Bali
dengan pertimbangan yang wajar.
4. Tidak penah menunggak/bermasalah
5. Tidak nasabah yang tergolong bermasalah di lembaga
keuangan lain
6. Agunan yang diserahkan tidak bermasalah karena
tersangkut sengketa hukum atau fhisik agunan tidak ada
lagi.
7. Memenuhi kelayakan analisa kredit yang telah ditetapkan
8. Dapat opini baik dari komite kredit


1. Dewan Komisaris
2. Direksi
3. Kabag. Kredit
4. A/O
5. Adm. Kredit
Sampai Jumpa
Sayonara Sayonara






Pada panci yang pertama,
masukkan beberapa buah wortel



Pada panci yang kedua,
masukkan beberapa buah telur



Pada panci yang ketiga,
masukkan beberapa biji kopi yang
sudah dihaluskan menjadi bubuk kopi



Panaskan ketiga panci tersebut
selama 15 menit
Keluarkan isi dari ketiga panci tersebut
Wortel yang sebelumnya keras,
Sekarang berubah jadi empuk
Telur yang sebelumnya lunak
di bagian dalamnya,
sekarang menjadi keras
Tapi..air panas sudah
berubah warnanya dan
mempunyai bau kopi
yang sangat harum
Bubuk kopi sudah
menghilang
SEKARANG pikirkan tentang Pekerjaan
Pekerjaan itu
tidak selamanya mudah

Pekerjaan itu
tidak selamanya nyaman

Bahkan kadang-kadang
pekerjaan menjadi sangat
susah
Kita bekerja sangat keras,
tapi tidak mendapatkan hasil yang memuaskan
Apa yang terjadi pada saat kita menghadapi
kesulitan?
Keadaan tidak berubah
seperti yang kita
inginkan

Orang-orang tidak
memperlakukan kita
seperti yang kita
harapkan

Sekarang pikirkan tentang ketiga panci itu?
Air yang mendidih
bagaikan masalah di pekerjaan kita.
Kita dapat menjadi seperti wortel
Kita maju dengan
kuat dan tegas.
Tapi kita keluar
dengan lemah dan
lunak
Hilanglah semangat
juang di diri kita
Apakah kita mau menjadi wortel ?!?!
Kita menjadi sangat
lelah
Kita kehilangan harapan
Kita menyerah
Kita dapat menjadi seperti telur.
Kita memulai
dengan hati yang
tulus dan sensitif
Kita berakhir
dengan sangat
egois dan cuek
Tidak ada lagi
kehangatan di diri kita
Apakah kita mau menjadi telur ?!?!
Kita membenci orang lain
Kita membenci diri kita
sendiri
Kita dapat menjadi Bubuk Kopi.
BUBUK KOPI
yang mengubah air
Air tidak
mengubah bubuk
kopi
Air menjadi berubah karena adanya
bubuk kopi


Lihatlah.
Ciumlah.
Minumlah.


Makin PANAS airnya, makin ENAK
rasanya.
Kita dapat menjadi Bubuk Kopi
Kita membuat sesuatu yang baik
dari tantangan yang kita hadapi.

Kita belajar hal-hal baru.
Kita tumbuh dengan kerja sama
team dilandasi norma dan etika
Kita mempunyai Semangat
Baru, Pengalaman Lama
Menjadi Cermin untuk Maju
Kita membuat dunia di sekeliling kita
menjadi LEBIH BAIK, Lebih KUAT
toleran
handle with care
Kita Harus bersenyum , dan ceria
kita bekerja lebih keras.
Kita tidak boleh menyerah.
Kita harus sabar.
Kita harus tetap bersemangat.
Masalah dan kesulitan memberi
kesempatan kepada kita untuk
menjadi lebih kuat dan lebih
baik dan lebih mampu.
Jadi, kita akan menjadi apa setelah ini ?

Menjadi seperti wortel

atau telur

atau biji kopi?
Jadilah seperti BIJI KOPI OK !!!
???
BAGAIMANA
Sampai Jumpa
Sayonara Sayonara