Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM SINTESIS SENYAWA ORGANIK

Judul : Sintesis Asam Asetil Salisilat


TujuanPercobaan : Mempelajari reaksi asetilasi asam salisilat menjadi aspirin.
Pendahuluan
Asam asetil salisilat mempunyai nama lain asetosal, asam salisilat asetat dan yang
paling terkenal adalah aspirin (brandname produk dari Bayer). Serbuk atau kristal asam
asetil salisilat dari tidak berwarna sampai berwarna putih. Asam asetil salisilat stabil dalam
udara kering tapi terdegradasi perlahan jika terkena uap air menjadi asam asetat dan asam
salisilat. Nilai titik lebur dari asam asetil salisilat adalah 135
0
C (Lenggana, 2010).

Gambar 1. Struktur Asam asetil salisilat
Asam asetil salisilat adalah obat anti-nyeri tertua yang sampai saat ini paling banyak
digunakan diseluruh dunia. Zat ini juga berkhasiat anti demam kuat dan pada dosis rendah
sekali (40 mg) berdaya menghambat agregasi trombosit. Dosis yang lebih besar daripada
dosis normal (di atas 5g sehari) dari obat ini juga berkhasiat antiradang akibat gagalnya
sintesa progtasglandin-E (PgE
2
). Penggunaannya selain sebagai analgetikum, asam asetil
salisilat banyak digunakan sebagai alternatif antikoagulasia sebagai obat pencegah infark
kedua setelah terjadi serangan. Hal ini berkat daya antitrombotisnya. Obat ini juga efektif
untuk profilaksis serangan stroke kedua setelah menderita TIA (Transient Ishaemic Attack =
serangan kekurangan darah sementara di otak), terutama pada pria (Tjay, 2002).
Asam asetil salisilat merupakan suatu senyawa ester dimana ester ini merupakan
senyawa turunan asam karboksilat. Asam asetil salisilat merupakan senyawa turunan
karboksilat yang gugus OH dari karboksilnya diganti dengan gugus OR dari alkohol. Ester
Paraf Asisten
dapat dibuat dari asam dengan alkohol, atau dari anhidrida asam dengan alkohol. Sintesis
ester dengan metode seperti ini disebut juga dengan esterifikasi (Wilbraham, 1992).
Aspirin atau asam asetil salisilat dapat disintesis melalui suatu proses reaksi
esterifikasi. Esterifikasi merupakan suatu reaksi antara asam karboksilat dengan alkohol
membentuk suatu ester. Esterifikasi dari sintesis aspirin dapat dilakukan dengan cara
mereaksikan asam asetat yang memiliki gugus COOH dan asam salisilat memiliki gugus
OH. Asam asetat dapat diganti dengan senyawa yang lain yang memiliki gugus COOH
seperti asetat anhidrida. Sintesis aspirin tidak akan menghasilkan produk yang baik apabila
suasananya berair. Hal ini dikarenakan asam asetil salisilat yang terbentuk akan terhidrolisa
menjadi asam salisilat berair (Horizon, 2011).
Pencampuran asam salisilat dengan asetat anhidrida dalam sintesis aspirin
menyebabkan reaksi kimia yang mengubah gugus OH dari asam salisilat menjadi gugus
asetil (R-OCOCH
3
). Reaksi ini sintesis aspirin ini juga disebut dengan reaksi asetilasi. Reaksi
asetilasi membutuhkan suatu katalis dalam proses reaksinya. Katalis yang digunakan adalah
asam kuat seperti asam sulfat. Asam sulfat berfungsi sebagai donor proton sehingga ikatan
pada asetat anhidrida lebih mudah terbuka lalu bergabung dengan asam salisilat yang telah
terdeprotonasi. Setelah proses pengikatan selesai, ion SO
4
2-
kembali mengikat proton H
+
yang
berlebih (Horizon, 2011).
Asam salisilat dalam sintesis aspirin berperan sebagai alkohol karena mempunyai
gugus

OH, sedangkan asam asetat anhidrat berperan sebagai anhidrida asam. Anhidrida
asam menyediakan gugus asetil yang akan menggantikan gugus OH dari asam salisilat.
Hasil samping dari reaksi ini adalah asam asetat. Asam asetat yang merupakan hasil samping
dari reaksi ini akan terhidrasi membentuk anhidrida asam asetat. Anhidrida asam asetat akan
kembali bereaksi dengan asam salisilat membentuk aspirin. Reaksi akan berhenti setelah
asam salisilat habis karena adanya asam sulfat pekat (Horizon, 2011).









Mekanisme Reaksi
O CH
3
O
C H
3
O
+
..
HSO
4
-
+
C H
3
O CH
3
OH
+
O
COOH
OH
+
C H
3
O CH
3
OH
+
O
..
COOH
O
+
O
CH
3
OH
CH
3
O
H
H OSO
3
H
COOH
O
+
O
CH
3
OH
CH
3
O
H
HSO
4
-
COOH
O O
CH
3
OH
CH
3
O

COOH
O O
CH
3
OH
CH
3
O
H OSO
3
H
COOH
O O
+
CH
3
CH
3
O
OH
H
COOH
O O
+
CH
3
CH
3
O
OH
H
COOH
O CH
3
OH
+
+
O
OH
C H
3
COOH
O CH
3
OH
+
HSO
4
-
+
O
OH
C H
3
COOH
O CH
3
O
+
O
OH
C H
3
+
H
2
SO
4

Alat
Labu leher tiga 250 mL, set alat refluks, termometer, corong Buchner, pipet tetes, pengaduk,
beaker glass, erlenmeyer 250 ml, cawan petri, gelas ukur 100 ml, batu didih, kertas saring,
pompa vakum, melting point tester.
Bahan
Asam salisilat kering (hasil hidrolisis ester pada minyak gondopuro), asam asetat anhidrida,
asam sulfat pekat, aquades, alkohol 96 %, besi (III) klorida.

ProsedurKerja
a. Skema kerja

- dimasukkan ke dalam labu alas bulat 250 ml dan ditambahkan 15 gr (14
ml) asam asetat anhidrida
- ditambahkan 10 tetes asam sulfat pekat dan digojog hingga terjadi
pencampuran sempurna
- dipanaskan dengan refluks pada suhu 50-60
o
C sambil diaduk selama 15
menit
- dinginkan labu sambil tetap diaduk dan ditambahkan 150 ml air dingin
- disaring menggunakan penyaring buchner dengan bantuan pompa vakum
lalu dicuci kristal dengan air dingin hingga tidak bereaksi asam lagi
- dilakukan rekristalisasi asam asetil salisilat dengan pelarut yang
merupakan campuran 30 ml alkohol 96% dan 75 ml aquades
- ditambahkan sedikit demi sedikit campuran alkohol-air yang panas kepada
kristal asam asetil salisilat hingga tepat larut, kemudian disaring segera
menggunakan kertas saring pada corong dan didinginkan filtratnya hingga
diperoleh kristal berbentuk jarum.
- disaring kristal menggunakan kertas saring.
- diambil sedikit kristal dan dilakukan test dengan pereaksi besi (III) klorida
- dikeringkan kristal asam asetil salisilat yang diperoleh, ditimbang dan
ditentukan titik lelehnya


b. Prosedur Kerja
10 g asam salisilat dan 15 g (14 ml) asam asetat anhidrida dimasukkan ke dalam labu
alas bulat 250 ml. Kemudian dari campuran tersebut ditetesi 10 tetes asam sulfat pekat dan
digojog hingga terjadi pencampuran sempurna. campuran tersebut dipanaskan dalam refluks
pada suhu 50-60C sambil diaduk selama 15 menit. Setelah itu hasil pemanasan
10 gram Asam Salisilat
Hasil
dinginkan sambil tetap diaduk dan tambahkan 150 ml air dingin. Hasil pendinginan disaring
menggunakan corong Buchner dengan bantuan pompa vakum. Kristal yang menjadi residu
dicuci dengan air dingin hingga tidak bereaksi dengan asam lagi.
Setelah itu dilakukan rekristalisasi dari kristal asam asetil salisilat yang terbentuk. Pelarut
yang digunakan untuk rekristalisasi ini adalah etanol-air. campuran eatnol-air dipanaskan
kemudian ditambahkan sedikit demi-sedikit campuran etanol-air yang panas tersebut kepada
kristal asam asetil salisilat hingga tepat larut, kemudian hasilnya disaring segera
menggunakan kertas saring dan filtratnya didinginkan hingga diperoleh kristal yang
berbentuk jarum. Kristal tersebut kemudian disaring menggunakan kertas saring dan
kemudian dikeringkan dalam oven. Kristal yang telah kering kemudian diuji kemurniannya
dengan menggunakan FeCl
3
, diuji titik lelehnya dan ditimbang.

Waktu yang dibutuhkan
No. Perlakuan Waktu
1. Preparasi alat dan bahan 15 menit
2.
Penambahan asetat anhidrida dan asam
sulfat
15 menit
3. Pemanasan dalam refluks 15 menit
4. Pendinginan dan penambahan air dingin 7 menit
5.
Penyaringan pada corong buchner dan
pencucian kristal
10 menit
6. Rekristalisasi 35 menit
7. Pengeringan kristal 3 menit
8. Pengujian menggunakan besi (III) klorida 5 menit
9. Penentuan titik leleh 10 menit
Total waktu 132 menit




Data dan Perhitungan
a. Data
No. Perlakuan Perubahan
1. 10 g asam salisilat + 14 mL asam asetat
anhidrida
Terbentuk larutan keruh
2. Ditambah H
2
SO
4
Larutan menjadi bening
3. Digojok Larutan menjadi putih keruh
4. Dipanaskan dengan refluk 15 menit Warna putihnya menghilang dan
larutan menjadi bening
5. Didinginkan sambil diaduk Terbentuk endapan putih
6. Ditambah 150 mL air dingin Terbentuk endapan putih
7. Disaring - Residu = endapan putih
- Filtrat = larutan bening
8. Residu ditambah pelarut etanol-air panas Residu yang berupa endapan putih
melarut
9. Hasil pelarutan disaring panas - Residu = endapan putih
- Filtrat = larutan agak keruh
10. Filtrat didinginkan Terbentuk kristal seperti jarum
11. Disaring - Residu = kristal seperti jarum
- Filtrat = larutan bening
12. Residu berupa kristal dikeringkan dalam
oven
Terbentuk kristal berwarna putih dan
berbentuk seperti jarum
13. Titik leleh
14. Uji kemurnian dengan FeCl
3
Berwarna ungu

b. Perhitungan
1. Perhitungan massa asam asetil salisiltat secara teoritis
Diketahui:
- Mr asam salisilat = 138,12 g/mol - Mr asam asetat anhidrat = 102,08 g/mol
- Massa asam salisilat = 10 g - Massa asam asetat anhidrat = 15 g
- Mol asam salisilat : - Mol asam asetat anhidrat:
mol 0,072
/ 12 , 138
10

Mr
m
Mol

mol g
g

mol 0,147
/ 08 , 102
15

Mr
m
Mol

mol g
g

mol 0,072 mol 0,075 mol 0 S
mol 0,072 mol 0,072 mol 0,072 R
- mol 0,147 mol 0,072 M
O H C O CO) (CH O H C
4 8 9 2 3 3 6 7


- Mr asam asetil salisilat = 152, 15 g/mol
- Mol asam asetil salisilat = 0,072 g
- Massa kristal asam asetil salisilat:
g 12,97
072 , 0 / 157 , 180
mol Mr m



g mol g
- Massa asam asetil salisilat dari percobaan = 1,08 g
2. Perhitungan Rendemen
% 3 , 8
% 100
g 12,97
g 08 , 1

% 100
teoritis massa
percobaan massa
Rendemen




Hasil
Sintesis asam asetil salisilat dari reaksi esterifikasi asam salisilat dengan asam asetat anhidrat
yang telah dilakukan dalam percobaan ini menghasilkan kristal berbentuk jarum berwarna
jarum dengan massa 1,08 gram. hasil yang didapatkan ini merupakan hasil dari proses
pemanasan selam kurang lebih 15 menit kemudian melalui proses rekristalisasi selama
kurang lebih 35 menit dan juga melaui proses pengeringan selama 20 menit. Titik leleh dari
kristal asam asetil salisilat yang didapatkan adalah sebesar 155C. Hasil ini tidak sesuai
dengan titik leleh dari literatur. Berdasarkan literatur titik leleh asam asetil salisilat adalah
sebesar 135C. Hasil uji kemurnian kristal asam asetil salisilat dengan menggunakan
menggunakan FeCl
3
adalah terbentuk warna ungu. Hal ini menunjukkan bahwa kristal yang
didapatkan belum murni asam asetil salisilat. Berikut ini adalah gambar dari proses sintesis
asam asetil salisilat:
No. Gambar Prosedur Hasil
1. - Asam salisilat + asam
asetat anhidrida
Berwarna putih
2.

Penambahan 10 tetes
H
2
SO
4
pekat
Keluar asap, warna
berubah menjadi tak
berwarna
3.

Digojog Berubah menjadi kuning
dan kemudian berubah lagi
jadi putih
4.

Refluks 15 menit Warna putihnya
menghilang menjadi tak
berwarna
5.

Didinginkan sambil diaduk Terbentuk endapan putih
6. - Ditambahkna 150 mL air Terbentuk endapan putih
7.

Disaring, residu
ditambahkan dengan
etanol:akuades panas
Larut
8.

Disaring, filtratnya
didinginkan
Terbentuk Kristal seperti
jarum
9.

Pengeringan Terbentuk Kristal jarum
10. - Titik leleh 155
0
C
11.

Uji kemurnian Berwarna ungu

Pembahasan
Percobaan yang dilakukan dalam praktikum kali ini adalah sintesis asam asetil salisilat
atau aspirin dengan cara mereaksikan asam salisilat dengan asetat anhidrida. Reaksi
pembuatan aspirin ini merupakan reaksi esterifikasi. Esterifikasi merupakan reaksi antara
asam karboksilat dengan sutau alkohol membentuk suatu ester dimana dalam reaksi ini dapat
menggunakan asam asetat sebagai asam karboksilatnya karena mengandung gugus COOH
dan asam salisilat sebagai alkoholnya karena mengandung gugus OH. Namun, dalam
pembuatan aspirin ini yang dipakai adalah asetat anhidrida bukan asam asetat karena jika
digunakan asam asetat sebagai pereaksi akan terbentuk air sebagai produk sampingnya.
Sehingga memungkinkan terjadinya hidrolisis menjadi asam salisilat berair. Reaksi sintesis
aspirin ini merupakan reaksi esterifikasi dimana reaksi yang terjadi tergolong reaksi asetilasi.
Asetilasi merupakan reaksi terjadinya pergantian atom H pada gugus OH dari asam salisilat
dengan gugus asetil (-COOH) dari asam asetat anhidrida. Mekanisme yang terjadi dalam
reaksi ini adalah adisi diikuti dengan eliminasi sehingga secara keseluruhan merupakan reaksi
subtitusi. Reaksi subtitusinya termasuk reaksi SN2, dalam hal ini yang bertindak sebagai
nukleofil adalah asetat anhidrida. Reaksi asetilasi dalam sintesis aspirin membutuhkan suatu
katalis untuk mempercepat reaksi. Katalis yang digunakan adalah asam sulfat pekat, jika
digunakan asam sulfat encer maka akan terjadi hidrolisis menjadi asam salisilat karena air
dalam asam sulfat encer cukup untuk menghidrolisis asam asetil salisilat yang terbentuk
sehingga yang digunakan adalah asam sulfat pekat.
Tahap pertama yang dilakukan adalah mencampurkan 10 gram asam salisilat dengan 15
gram asetat anhidrat kemudian ditetesi dengan 10 tetes H
2
SO
4
. Setelah itu, labu digojok di
dalam lemari asam agar zat bereaksi sempurna dan dihasilkan larutan berwana putih keruh.
Setelah itu dipanaskan menggunakan refluks pada suhu 50-60C. Pemanasan dilakukan pada
suhu 50-60C karena reaksi asetilasi sudah berlangsung pada kisaran suhu ini. Fungsi dari
pemanasan ini adalah untuk mempercepat reaksi. Reaksi asetilasi pembuatan aspirin dimulai
saat pencampuran ini. Atom H dari H
2
SO
4
memprotonasi salah salah satu oksigen karbonil
dari asetat anhidrida untuk mengaktifkan atom C karbonil agar dapat diserang oleh nukleofil.
Setelah itu gugus OH dari asam salisilat berperan sebagai nukleofil menyerang atom C
karbonil dari asetat anhidrida yang telah dikativkan. Atom H dari gugus OH asam salisilat
yang menyerang atom C karbonil kemudian diprotonasi. Berikut ini adalah reaksinya:
O CH
3
O
C H
3
O
+
..
HSO
4
-
+
C H
3
O CH
3
OH
+
O
COOH
OH
+
C H
3
O CH
3
OH
+
O
..
COOH
O
+
O
CH
3
OH
CH
3
O
H
H OSO
3
H
COOH
O
+
O
CH
3
OH
CH
3
O
H
HSO
4
-
COOH
O O
CH
3
OH
CH
3
O

Atom O dari ..... kemudian diprotonasi sehingga terbentuklah gugus pergi yang baik. Gugus
pergi yang terbentuk adalah asam asetat dan setelah gugus pergi tereliminasi terbentuklah
kation asam asetil salisilat. Atom H dari asam asetil salisilat ini kemudian dideprotonasi
sehingga terbentuk asam asetil salisilat. Berikut adalah reaksinya:
COOH
O O
CH
3
OH
CH
3
O
H OSO
3
H
COOH
O O
+
CH
3
CH
3
O
OH
H
COOH
O O
+
CH
3
CH
3
O
OH
H
COOH
O CH
3
OH
+
+
O
OH
C H
3
COOH
O CH
3
OH
+
HSO
4
-
+
O
OH
C H
3
COOH
O CH
3
O
+
O
OH
C H
3 +
H
2
SO
4

Campuran yang telah dipanaskan tersebut kemudian didinginkan pada suhu kamar dan
kemudian ditambahkan 150 mL air dingin. Penambahan air dingin ini bertujuan untuk
membentuk kristal. Hasil yang didapatkan adalah endapan berwarna putih. Hasil ini
kemudian disaring dalam corong Buchner. Residu yang dihasilkan dari penyaringan
menggunakan corong Buchner ini adalah kristal berwarna putih. Residu yang dihasilkan ini
kemudian dicuci dengan air dingin. Tujuan dari penyaringan dan pencucian ini adalah untuk
memisahkan kristal asam asetil salisilat dengan zat pengotornya.
Kristal asam asetil salisilat yang dihasilkan dari proses penyaringan tersebut kemudian
direkristalisasi. Tujuan dilakukan rekristalisasi adalah untuk mendapatkan kristal asam asetil
salisilat yang murni yang telah terpisah dari pengotornya. Pelarut yang digunakan untuk
rekristalisasi asam asetil salisilat ini adalah campuran etanol-air. Pelarut etanol-air dipilih
sebagai pelarut rekristalisasi aspirin karena pelarut ini hanya dapat melarutkan kristal aspirin
hanya dalam keadaan panas dan dalam keadaan panas ini pelarut tersebut tidak dapat
melarutkan zat-zat pengotornya. Selain itu, pelarut ini memiliki titik didih yang rendah
sehingga memudahkan proses pengeringan yang terbentuk. Tahap awal yang dilakukan pada
saat rekristalisasi yaitu pelarut etanol-air dipanaskan kemudian setelah dipanaskan pelarut ini
ditambahkan sedikit demi sedikit ke kristal asam asetil salisilat hingga semua kristal melarut.
Setelah semua kristal melarut, larutan tersebut kemudian disaring panas-panas untuk
memisahkan kembali zat pengotor dengan filtrat aspirin yang kemungkinan masih terdapat
dalam larutan. Fungsi menyaring dalam keadaan panas adalah untuk menghindari
terbentuknya kembali endapan kristal aspirin pada suhu kamar sehingga menyebabkan aspirin
tidak ikut tersaring. Filtrat yang dihasilkan dari proses penyaringan ini kemudian didinginkan
dalam air dingin. Tujuannya adalah untuk membentuk kristal aspirin kembali. Proses
pendinginan yang dilakukan akan memengaruhi bentuk kristal yang didapatkan. Bila
penurunan suhu cepat, maka kecepatan pertumbuhan inti lebih cepat dari kecepatan
pertumbuhan kristal, maka kristalnya kecil, rapuh, dan banyak. Sedangkan Bila penurunan
suhu perlahan, kecepatan pertumbuhan kristal lebih cepat dari pertumbuhan inti, maka
kristalnya besar, liat, dan elastis. Kristal yang didapatkan dari proses pendinginan dalam
percobaan ini berbentuk seperti jarum, kecil dan rapuh. Hal ini dikarenakan penurunan suhu
yang dilakukan saat proses pendinginan tidak dilakukan secara perlahan. Kristal aspirin yang
didapatkan ini kemudian dikeringkan dalam oven. Setelah pengeringan ini didapatkan kristal
berwarna putih, bebrbentuk seperti jarum dan memiliki massa sebesar 1,08 gram.
Uji kemurnian dari kristal aspirin yang didapatkan dilakukan dengan uji titik leleh dan uji
dengan FeCl
3
. Hasil uji titik leleh kristal asam asetil salisilat dari percobaan adalah sebesar
155C. Hasil ini tidak sesuai dengan literatur. Titik leleh asam asetil salisilat berdasarkan
literatur adalah 135C. Hal ini menunjukkan bahwa kristal asam asetil salisilat yang
didapatkan dari percobaan masih belum murni, masih terdapat zat pengotor dan kemungkinan
masih mengandung asam salisilat yang tidak bereaksi menghasilkan asam asetil salisilat.
Uji kemurnian yang kedua dilakukan dengan menggunakan FeCl
3
. Berdasarkan
literatur, FeCl
3
akan membentuk kompleks yang berwarna ungu jika ditambahkan dalam
asam salisilat. Kompleks ini hanya bisa terjadi antara asam salisilat dengan FeCl
3
karena
dalam molekul asam salisilat atom O (nukleofil) dalam gugus OH akan menyerang atom Fe
dengan melepaskan atom H untuk membentuk kompleks antara Fe
3+
dengan asam salisilat.
Sedangkan aspirin tidak dapat membentuk kompleks berwarna ungu karena struktur dari
aspirin tidak memiliki gugus OH. Hasil uji kemurnian menggunakan FeCl
3
pada kristal asam
asetil salisilat yang didapatkan adalah terbentuk warna ungu. Terbentuknya warna ungu ini
menunjukkan bahwa dalam kristal tersebut masih terkandung asam salisilat. Ketidakmurnian
kristal asam asetil salisilat yang didapatkan ini kemungkinan karena reaksi yang terjadi antara
asam salisilat dengan asam asetat anhidrida kurang sempurna. Selain itu, ketidakmurnian ini
disebabkan oleh pengeringan kristal yang kurang sempurna, sehingga masih tersisa air yang
dapat menghidrolisis asam asetil salisilat menjadi asam salisilat. Titik leleh yang dihasilkan
dari percobaan adalah sebesar 155C, titik leleh yang didapatkan tidak sesuai dengan literatur.
Berdasarkan literatur titik leleh asam asetil salisilat adalah sebesar 135C. Hal ini
menunjukkan bahwa asam asetil salisilat yang didapatkan dari percobaan belum murni.
Rendemen yang didapatkan dari percobaan sintesis asam asetil salisilat adalah sebesar 8,3%.
Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa asam asetil salisilat
dapat disintesis melalui proses asetilasi yang menggunakan asam salisilat dan asetat anhidrida
sebagai pereaksinya. Reaksi asetilasi dalam sintesis aspirin ini merupakan reaksi penggantian
gugus OH dari asam salisilat dengan gugus asetil dari asetat anhidrida sehingga dihasilkan
asam asetil salisilat. Reaksi asetilasi sintesis aspirin ini menggunakan katalis H
2
SO
4
sebagai
katalis untuk mempercepat reaksi. Uji menggunakan FeCl
3
memberikan hasil warna ungu dan
uji titik leleh menunjukkan bahwa kristal yang didapatkan sebesar 155C. Hal ini
menunjukkan bahwa kristal yang didapat belum murni kristal asam asetil salisilat. Rendemen
yang didapatkan dari percobaan sebesar 8,3%.

Referensi
Horizon. 2011. Penuntun Praktikum Kimia Organik II. Jambi: Universitas Jambi.
Lenggana, Tirta. 2010. Validasi Penetapan Kadar Asaam Asetil Salisilat (Asetosal) Dalam
Sediaan Tablet Berbagai Merek Menggunakan Kolorimetri. [Serial Online].
http://etd.eprints.ums.ac.id/9569/4/K10006020.pdf. [diakses tanggal 13 September
2014].
Tim Kimia Organik. 2014. Petunjuk Praktikum Sintesis Senyawa Organik. Jember: FMIPA
Universitas Jember.
Tjay, Tan Hoan. 2002. Obat-Obat Penting. Jakarta:Penerbit Gramedia.
Wilbraham, Antony C. 1992. Pengantar Kimia Organik dan Hayati. Bandung: Penerbit
ITB.

Saran
- Sebaiknya alat sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam kegiatan praktikum lebih
disiapkan lagi agar praktikum berjalan dengan lancar, contohnya ketersediaan air kran
yang digunakan dalam proses refluks.
- Sebaiknya suhu dijaga konstan saat melakukan refluks agar hasil yang didapatkan sesuai
dengan yang diinginkan.
NamaPraktikan
Handariatul Masruroh (121810301003)