Anda di halaman 1dari 10

Ceftriaxone 1 gram injeksi

Cara Kerja Obat:


Ceftriaxone merupakan golongan sefalosporin yang mempunyai spektrum luas dengan waktu paruh eliminasi 8
jam. Efektif terhadap mikroorganisme gram positif dan gram negatif. Ceftriaxone juga sangat stabil terhadap
enzim beta laktamase yang dihasilkan oleh bakteri.
Farmakodinamik
Ceftriaxone adalah golongan cefalosporin dengan spektrum luas, yang membunuh bakteri dengan menghambat
sintesis dinding sel bakteri. Ceftriaxone secara relatif mempunyai waktu paruh yang panjang dan diberikan
dengan injeksi dalam bentuk garam sodium.
.Farmakokinetik
Ceftriaxone secara cepat terdifusi kedalam cairan jaringan, diekskresikan dalam bentuk aktif yang tidak berubah
oleh ginjal !"#$% dan hati !&#$%. 'etelah pemakaian ( g, konsentrasi aktif secara cepat terdapat dalam urin dan
empedu dan hal ini berlangsung lama, kira)kira (*)*& jam. +ata)rata waktu paruh eliminasi plasma adlah 8 jam.
,aktu paruh pada bayi dan anak)anak adalah ",- dan (*,- jam pada pasien dengan umur lebih dari .# tahun.
/ika fungsi ginjal terganggu, eliminasi biliari terhadap Ceftriaxone meningkat.
Indikasi:
0ntuk infeksi)infeksi berat dan yang disebabkan oleh kuman)kuman gram positif maupun gram negatif yang
resisten terhadap antibiotika lain 1
) 2nfeksi saluran pernafasan
) 2nfeksi saluran kemih
) 2nfeksi gonoreal
) 'eptisemia bakteri
) 2nfeksi tulang dan jaringan
) 2nfeksi kulit
Kontraindikasi :
3ipersensitif terhadap cephalosporin dan penicillin !sebagai reaksi alergi silang%.
Dosis:
(. 4ewasa dan anak)anak diatas (* tahun 1
()* g sekali sehari secara intra5ena
4osis lebih dari & g sehari harus diberikan dengan inter5al (* jam.
*. ayi dan anak)anak di bawah (* tahun 1
) ayi (& hari 1 *# 6 -# mg7kg berat badan sekali sehari
) ayi (- hari s7d (* tahun 1 *# 6 8# mg7kg berat badan sekali sehari
) 8nak)anak dengan berat badan -# kg atau lebih 1 dapat digunakan dosis dewasa melalui infus paling sedikit 9
:# menit.
;ada penderita dengan gangguan fungsi ginjal, kliren creatinin tidak lebih dari (# ml7menit, dosis tidak lebih
dari * g sehari.
Peringatan dan Perhatian :
) ;ada pasien dengan gangguan fungsi ginjal dan hati yang berat, kadar plasma obat perlu dipantau.
) 'ebaiknya tidak digunakan pada wanita hamil !khususnya trimester 2%.
) <idak boleh diberikan pada neonatus !terutama prematur% yang mempunyai resiko pembentukan ensephalopati
bilirubin.
) ;ada penggunaan jangka waktu lama, profil darah harus dicek secara teratur.
Efek Samping :
) =angguan pencernaan1 diare, mual, muntah, stomatitis
) +eaksi kulit1 dermatitis, pruritus, urtikaria, edema, eritema multiforme, dan reaksi anafilaktik
) 3ematologi1 eosinofil, anemia hemolitik, trombositosis, leukopenia, granulositopenia
) =angguan sistem saraf pusat1 sakit kepala
) Efek samping lokal1 iritasi akibat dari peradangan dan nyeri pada tempat yang diinjeksi
) =angguan fungsi ginjal1 untuk sementara terjadi peningkatan 0>
) =angguan fungsi hati1 untuk sementara terjadi peningkatan '=?< dan '=;<
Omeprazole
.1 @emasan A >o +eg 1.
?meprazole *# mg !( box berisi : strip B (# kapsul%, >o. +eg 1 =@C#-#8-(*"#(8(.
.1 Farmakologi 1.
?meprazole merupakan antisekresi, turunan benzimidazole, yang bekerja menekan sekresi asam lambung
dengan menghambat 3D7@D)8<;ase !pompa proton% pada permukaan kelenjar sel parietal gastrik pada p3 E &.
?meprazole yang berikatan dengan proton !3D% secara cepat akan diubah menjadi sulfonamida, suatu
penghambat pompa proton yang aktif. ;enggunaan omeprazole secara oral menghambat sekresi asam lambung
basal dan stimulasi pentagastrik.
.1 2ndikasi 1.
;engobatan jangka pendek tukak duodenal dan yang tidak responsif terhadap obat)obat antagonis
reseptor 3*.
;engobatan jangka pendek tukak lambung.
;engobatan refluks esofagitis erosif 7 ulceratif yang telah didiagnosa melalui endoskopi.
;engobatan jangka lama pada sindroma Follinger Ellison.
.1 @ontra 2ndikasi 1.
;enderita hipersensitif terhadap omeprazole.
.1 4osis 1.
4osis yang dianjurkan *# mg atau &# mg, sekali sehari, kapsul harus ditelan utuh dengan air !kapsul tidak
dibuka, dikunyah, atau dihancurkan%. 'ebaiknya diminum sebelum makan.
;enderita dengan gejala tukak duodenal 1 lama pengobatan memerlukan waktu * minggu, dan dapat
diperpanjang sampai * minggu lagi.
;enderita dengan gejala tukak lambung atau refluks esofagitis erosif 7 ulseratif 1 lama pengobatan
memerlukan waktu & mimggu, dan dapat diperpanjang sampai & minggu lagi.
;enderita yang sukar disembuhkan dengan pengobatan lain, diperlukan &# mg sekali sehari.
;enderita sindroma Follinger Ellison dosis awal *#)("# mg sekali sehari, dosis ini harus disesuaikan
untuk masing)masing penderita. 0ntuk dosis lebih dari 8# mg sehari, dosis harus dibagi * kali sehari.
.1 Efek 'amping 1.
?meprazole umumnya dapat ditoleransi dengan baik. ;ada dosis besar dan penggunaan yang lama,
kemungkinan dapat menstimulasi pertumbuhan sel ECC !enterochromaffin)likecells%. ;ada penggunaan jangka
panjang perlu diperhatikan adanya pertumbuhan bakteri yang berlebihan di saluran pencernaan.
.1 ;eringatan dan ;erhatian 1.
;ada wanita hamil, wanita menyusui dan anak6anak sebaiknya dihindari bila penggunaannya dianggap tidak
cukup penting.
.1 2nteraksi ?bat 1.
?meprazole dapat memperpanjang eliminasi obat)obat yang dimetabolisme melalui sitokrom ;)&-#
dalam hati yaitu diazepam, warfarin, fenitoin.
?meprazole mengganggu penyerapan obat)obat yang absorbsinya dipengaruhi p3 lambung seperti
ketokonazole, ampicillin dan zat besi.
Ondansetron
?ndansetron termasuk kelompok obat 8ntagonis serotonin -)3<:, yang bekerja dengan menghambat secara
selektif serotonin -)hydroxytriptamine !-3<:% berikatan pada reseptornya yang ada di C<F !chemoreseceptor
trigger zone% dan di saluran cerna.
'erotonin -)hydroxytriptamine !-3<:% merupakan zat yang akan dilepaskan jika terdapat toksin dalam saluran
cerna, berikatan dengan reseptornya dan akan merangsang saraf 5agus menyampaikan rangsangan ke C<F dan
pusat muntah dan kemudian terjadi mual dan muntah.
?ndansetron dibandingkan dengan obat anti mual dan muntah yang lain adalah1
'angat efektif mengatasi mual dan muntah yang hebat. +elatif lebih aman karena tidak menimbulkan reaksi
ekstrapyramidal,
+elatif aman digunakan untuk anak dan kasus hyperemesis gra5idarum pada ibu hamil. Gempercepat
pengosongan lambung
Efek samping ?ndansetron yang relatif sering ditemukan adalah sakit kepala, pusing dan susah buang air besar.
<etapi terkadang efek samping ini hilang dengan sendirinya tanpa perlu pengobatan khusus.
/ika obat anti mual dan muntah yang lain tidak dapat mengatasi mual dan muntah, maka ?ndansetron adalah
obat yang paling tepat untuk mengatasi derita akibat mual dan muntah
?ndansetron dalam bentuk sediaan injeksi &mg7* ml dan 8 mg7&ml dikategorikan sebagai produk baru
2ndofarma !2>8F%. ;adahal jika kita bandingkan ?ndansetron 2>8F dengan produk lain dengan komposisi yang
sama telah hadir di pasar farmasi sejak awal tahun *###)an, sehingga sebenarnya ?ndansetron 2>8F bukan
merupakan produk baru di pasar farmasi. ?ndansetron dengan sediaan tablet & mg dan 8 mg.
?ndansetron adalah antagonis reseptor -3<: yang poten dan selektif.
;emberian obat)obat kemoterapi dan radioterapi dapat menyebabkan pelepasan -3<: ke dalam usus halus yang
akan merangsang refleks muntah dengan mengaktifkan serabut afferen 5agal lewat reseptor -3<:. ?ndansetron
menghambat dimulainya refleks ini. 8ktifasi serabut afferen 5agal juga dapat menyebabkan pelepasan -3<:
dalam area postrema, yang berlokasi di dasar 5entrikel keempat.dan ini juga dapat merangsang emesis7muntah
melalui mekanisme sentral. @arenanya efek ?ndansetron dalam penanganan mual dan muntah yang diinduksi
oleh kemoterapi dan radioterapi sitotoksik ini mungkin disebabkan oleh antagonisme reseptor -3<: pada neuron
yang berlokasi di sistem saraf pusat maupun di sistem saraf tepi. ;ada percobaan psikomotor, ?ndansetron tidak
mengganggu tampilan dan juga tidak menyebabkan sedasi. ?ndansetron tidak mengganggu konsentrasi
prolaktin dalam plasma.
8dapun nama dagang ?ndansentron yang ada dipasaran adalah Cedantron, 4antroxal, Entron, Frazon, 2n5omit,
Cametic, >arfoz, ?nda5ell, ?netic &, <ro5ensis, Homceran, Hometraz, Hometron, Fantron, Fofran
Indikasi Ondansenteron adalah :
0ntuk untuk menangani mual dan muntah yang diinduksi oleh obat kemoterapi dan radioterapi
sitotoksik.
;encegahan mual dan muntah pasca operasi.
>arfoz sebaiknya tidak digunakan pada keadaan mual atau muntah karena sebab lain.
Kontraindikasi
>arfoz jangan diberikan kepada penderita yang hipersensitif atau alergi terhadap ?ndansetron.
Efek samping
Efek samping yang biasanya terjadi adalah sakit kepala, sensasi kemerahan atau hangat pada kepala dan
epigastrium.
Efek samping yang jarang terjadi dan biasanya hanya bersifat sementara adalah peningkatan
aminotransferase yang asimtomatik.
?ndansetron juga dapat meningkatkan waktu transit usus besar dan dapat menyebabkan konstipasi pada
beberapa penderita.
8da beberapa laporan tentang terjadinya reaksi hipersensitif yang cepat.
@ehamilan. ;ada hewan percobaan ?ndansetron tidak bersifat teratogenik. elum ada percobaan yang
dilakukan pada manusia. 'ama seperti obat)obat lainnya, sebaiknya ?ndansetron tidak digunakan pada
kehamilan, terutama pada trimester pertama, kecuali bila manfaat yang di dapat melebihi dan resiko
yang mungkin akan terjadi.
,anita menyusui. ;ercobaan pada tikus membuktikan adanya ekskresi ?ndansetron pada 8'2. ?leh
karena itu, ibu)ibu yang mendapat ?ndansetron dianjurkan untuk tidak menyusui.
Ondansetron dapat menimblkan ganggan irama jantng ?bat ondansetron, salah satu antiemetik
pada kemoterapi, terbukti memiliki risiko untuk gangguan irama jantung. F48 melaporkan bahwa pada
kondisi)kondisi tertentu penggunaan ondansetron harus lebih hati)hati dan perlu dilakukan monitoring
dengan memantau gambaran E@=. @ondisi)kondisi yang disarankan lebih hati)hati dalam
menggunakan ondansetron antara lain pasien dengan bakat gangguan irama jantung yaitu pasien
dengan kongenital long I< syndrome, gangguan mineral misalnya hipokalemia, hipomagnesia, gagal
jantung, bradikardia dan penggunanaan bersama obat)obatan yang mengakibatkan pemanjangan
inter5al I<.
!EP"OSPI#OSIS
P$"O%ISIO!O&I
'

Ceptospira masuk ke dalam tubuh melalui luka di kulit atau menembus jaringan mukosa seperti
konjungti5a, nasofaring, dan 5agina. 'etelah menembus kulit atau mukosa, organism ini ikut aliran darah dan
menyebar ke seluruh tubuh. Ceptospira juga dapat menembus jaringan seperti serambi depan mata dan ruang
subarachnoid tanpa menimbulkan reaksi peradangan uyang berarti.
Faktor yang bertanggung jawab untuk 5irulensi leptospira masih belum diketahui. 'ebaliknya Ceptospira
yang 5iruen dapat bermutasi menjadi tidak 5irulen. Hirulensi tampaknya berhubungan dengan resistensi
terhadap proses pemusnahan di dalam serum oleh neutrofil. 8ntibodi yang terjadi meningkakan klirens
leptospira dari darah melalui peningkatan opsonisasi dan dengan demikian mengaktifkan fagositosis.
eberapa penemuan menegaskan bahwa leptospira yang lisis dapat mengeluarkan enzim, toksin, atau
metabolit lain yang dapat menimbulkan gejal)gejala klinis. 3emolisis pada leptospira dapat terjadi karena
hemolisin yang tersirkulasi diserap oleh eritrosit, sehingga eritrosit tersebut lisis, walaupun di dalam darah
sudah ada antibody.
4iatesis hemoragik pada umumnya terbatas pada kulit dan mukosa, pada keadaan tertentu dapat terjadi
perdarahan gastrointestinal atau organ 5ital dan dapat menyebabkan kematian. eberapa peneliti mencoba
menjelaskan bahwa proses hemoragik tersebut disebabkan rendahnya protombin serum dan trombositopenia.
>amun terbukti, walauoun aktifitas protombin dapat dikoreksi dengan pemberian 5it @, beratnya diastesis
hemoragik tidak terpengaruh. /uga trombositopeniatidak selalu ditemukan pada pasien dengan perdarahan. /adi,
diastesis hemoragik ini merupakan refleksi dari kerusakan endothelium kapiler yang meluas. ;enyebab
kerusakan endotel ini belum jelas, tapi diduga disebabkan oleh toksin.
eberapa teori menjelaskan terjadinya ikterus pada leptospirosis. <erdapat bukti yang menunjukan bahwa
hemolisis bukanlah penyebab ikterus. 4isamping itu, hemoglobnuria dapat ditemukan pada awal perjalanan
leptospirosis, bahkan sebelum terjadinya ikterus. >amun akhir) akhir ini ditemukan bahwa anemia hanya ada
pada pasien leptospirosis dengan ikterus. <ampaknya hemolisis hanya terjadi pada kasus leptospirosis berat dan
mungkin dapat menimbulkan ikterus pada beberapa kasus. ;enurunan fungsi hati juga sering terjadi, namun
nekrosis sel hati jarang terjadi sedangkan '=?<, '=;< hanya sedikit meningkat. =angguan fungsi hati yag
sering mencolok adalah 1 ikterus, gangguan faktor pembekuan, albumin serum menurun, globulis serum
meningkat.
=agal ginjal merupakan penyebab kematian yang penting pada leptospirosis. ;ada kasus yang meninggal
pada minggu pertama perjalanan penyakit, terlihat pembengkakan atau nekrosis sel epitel tubulus ginjal. ;ada
kasus yang meninggal pada minggu ke * terlihat banyak focus nekrosis pada epitel tubulus ginjal. Edangkan
yang meninggal setelah hari ke (* ditemukan sel radang yang menginfiltrasi seluruh ginjal ! medulla dan
korteks%. ;enurunan fungsi ginjal disebabkan oleh hipotensi, hipo5olemia dan kegagalan sirkulasi. =angguan
aliran darah ke ginjal menimbulkan nefropati pada leptospirosis. @adang 6 kadang dapat terjadi insufisiensi
adrenal karena perdarahan pada kelenjar adrenal.
=angguan fungsi jantung seperti miokarditis, perikarditis, dan aritmia dapat menyebabkan hipoperfusi pada
leptospirosis. =angguan jantung ini terjadi sekunder karena hipotensi, gangguan elektrolit, hipo5olemia atau
uremia. Gyalgia merupakan keluhan umum pada leptospirosis, hal ini disebabkan oleh 5akuolisasi sitoplasma
pada myofibril. @eadaan lain yang dapat terjadi adalah pneumonia hemoragik akut, hemoptisis, meningitis,
meningoencephalitis,encephalitis, radikulitis, mielitis dan neuritis perifer. ;eningkatan titer antibody di dalam
serum tidak disertai peningkatan leptospira !hampir tidak ada% di dalam cairan bola mata selama berbulan 6
bulan.
I( )$*I%ES"$SI K!I*IK

Ceptospirosis merupakan penyakit infeksi sistemik akut yang ditandai dengan 5askulitis yang menyeluruh.
@arakteristik perjalanan penyakitnya adalah bifasik. @asus subklinis seringkali ditemukan. Gasa inkubasinya .)
(* hari, bahkan ada yang *)*# hari.
4alam perjalanan penyakitnya dibedakan dalam * fase 1
Fase 2 atau fase septikemia, berlangsung &). hari. ;ada akhir fase ini, leptospira menghilang dari darah,
dari cairan serebrospinal dan jaringan lain, kecuali caian aJueous humor mata dan parenkim ginjal.
Fase 22, ditandai dengan meningkatnya titer antibody leptospira secara cepat, oleh sebab itu fase ini disebut
fase imun. Fase 22 berlangsung &):# hari. ;eran antibiotic sedikit sekali pada fase imun ini. Geningitis,
gangguan hati dan ginjal, akan mencapai puncaknya pada fase ini.
eberapa peneliti menyebutkan adanya fase ke : atau fase kon5alesens. Fase ini terjadi antara minggu ke * dan
ke &, pada saat ini demam dan nyeri dapat timbul kembali. ;atogenesis fase ini belum diketahui pasti.
Ceptospira pada saat kehamilan dihubungkan dengan meningkatnya kematian janin. @asus leptospirosis dapat
mengalami ikterus !(#$# dan anikterus !K#$%
CE;<?';2+?'2' 8>2@<E+2@
Fase septikemia didahului oleh demam, malaise, nyeri otot, nyeri kepala, dan nyeri abdomen. =ejala ini
menghilang dengan lisisnya leptospira. ;ada pemeriksaan fisik didapatkan nyeri otot ! betis, pinggang, dan
abdomen %, keluhan pada konungti5a, yaitu fotofobia, nyeri mata, perdarahn konjungti5a, dehidrasi,
limpadenopati menyeluruh, hepatosplenomegali, ruam kulit. +uam tampak jelas pada bagian badan. 4isaming
gejala tersebut, dapat ditemukan pula faringitis, arthritis, parotitis dan orkitis, epididimitis, prostatitis, artralgia
dan otitis media. 3ipotensi jarang ditemukan pada leptospirosis anikterik. ;ada anak dapat ditemukan dilatasi
kandung empedu non obstrukstif.
Fase 2mun pada kasus leptospirosis anikterik ditandai oleh demam, u5eitis, ruam, nyeri kepala dan
meningitis. 4emam tidak setinggi saat terjadi septikemia dan berlangsung singkat. <anda khas untuk fase imun
pada leptospirosis anikterik adalah adanya meningitis. 3al ini digambarkan dengan adanya pleiositosis pada
CC' dengan atau tanpa gejala meningeal. ;leiositosis CC' dapat menetap *): bulan, tetapi biasanya menghilang
dalam .) *( hari.
ersamaan dengan meningginya antibody, Ceptospira menghilang dari CC' terjadi pada minggu ke *
perjalanan penyakit, reaksi meningeal dapat ditemukan pada lebih kurang 8#$ pasien, namun hanya -#$ yang
menunjukan tanda meningitis. 8el leukosit ;G> lebih banyak ditemukan pada awal fase imun selanjutnya
mononuclear lebih mendominasi. @onsentrasi protein dan glukosa biasanya normal. Encefalitis, neuritis perifer,
nistagmus, radikulitis, kejang, gangguan penglihatan, mielitis atau sidrom yang menyerupai =uillain arre dapat
timbul pada timbul pada atau setelah fase imun.
=ejala lain yang khas pada fase imun pada leptspirosis anikterik adalah leptospiuria.3al ini tidak
berkaitan dengan gangguan fungsi ginjal. erbeda dengan binatang, berbeda dengan binatang, manusia
bukanlah reser5oir leptospira. Ceptospiuria pada manusia bersifat sementara. ;ada leptospirosis anikterik,
proteinuria, piuria, hematuria mikroskopik, dan azotemia ringan atau sedang dapat ditemukan.
CE;<?';2+?'2' 2@<E+2@ ! '2>4+?G ,E2C%
Ganifestasi leptospirosi yang berat ini terjadi pada kurang lebih (# $ kasus. =ejala awalnya serupa dengan
leptoospirosi anikterik. Lang berbeda adalah pada fase imun, yaitu dapat terjadi gangguan fungsi hati, gangguan
fungsi ginajl, kegagalan sirkulasi, gangguan kesadaran, sehingga angka mortalitas tinggi !-)(#$%. =ejala ikterus
dan azotemia dapat demikian berat sehingga cri bifasik perjalan penyakitnya tidak jelas. 4itemukan demam
yang menetap antara fase septikemi dan fase imun. 4emam pada fase imun lebih tinggi dan lebih lama daripada
demam leptospirosis anikterik. 2kterus tampak mulai hari ke : atau mulai minggu ke *. @adar bilirubin dapat
mencapai "#)8# mg7dl, tapi sebagian besar kurang dari *#mg7dl. ilirubin direk maupun indirek dapat
meningkat. ;eningkatan alkali phospatase, penurunan akti5itas protombin plasma, penurunan albumin serum,
dan hipoprotombinemia dapat dicegah dengan pemberian 5itamin @.
=angguan fungsi ginjal, kegagalan sirkulasi, dan penyulit perdarahan terjadi pada kasus dengan gejala ikterus
yang berat. ;ada fase septikemia, kelainansedimen urine ditemukan pada 8#$ kasus. ;roteinuria paling sering
sitemukan dan biasanya ringan. 3ematuria makroskopik dan mikroskopik juga sering ditemukan. 3al ini
menggambarkan diastesis hemoragik dan bukan kerusakan glomerolus. ?liguria dan anuria lebih sering terjadi
setelah minggu pertama, tapi dapat pula terjadi karena hipotensi, syok, dan kekurangan cairan. =angguan
jantung pada umumnya jarang, dan dapat berua gagal jantung kongestif dan kolaps kardi5askular. =ambaran
E@= abnormal dan non spesifik dapat ditemukan pada kasus ikterik yang berat, dan terapi yang terbaik adalah
pembatasan cairan, kecuali terjadi hipotensi.
II( DI$&*OSIS
+

Cangkah untuk menegakkan diagnosis dilakukan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan laboratorium. ;ola klinis leptospirosis tidak sama, tergantung dari 1 jenis kuman leptospira,
kekebalan seseorang, kondisi lingkungan dan lain)lain.
$( $namnesis
;ada anamnesis identitas pasien, keluhan yang dirasakan dan data bepidemiologis penderita
harus jelas karena berhubungan dengan lingkungan pasien.
2dentitas pasien ditanyakan1 nama,umur, jenis kelamin, tempat tinggal, jenis pekerjaan, dan jangan
lupa menanyakan hewan peliharaan maupun hewan liar di lingkungannya, karena berhubungan
dengan leptospirosis.
,( Pemeriksaan fisik
=ejala klinik menonjol yaitu1 ikterik, demam, mialgia, nyeri sendi serta conjungti5al
suffusion.Conjungti5al suffusion dan mialgia merupakan gejala klinik yang paling sering
ditemukan. Conjungti5al suffusion bermanifestasi bilateral di palpebra pada hari ke : paling
lambat hari ke ., terasa sakit dan sering disertai perdarahan konjungti5a unilateral ataupun bilateral
yang disertai fotofobia dan injeksi faringM faring terlihat merah dan bercak)bercak.Gialgia dapat
sangat hebat, pemijatan otot betis akan menimbulkan nyeri hebat dan hiperestesi kulit.@elainan
fisik lain yang ditemukan yaitu1 hepatomegali, splenomegali, kaku kuduk, rangsang meningeal,
hipotensi, ronki paru dan adanya diatesis hemoragi. 4iatesis hemoragi timbul akibat proses
5askulitis difus di kapiler disertai hipoprotrombinemia dan trombositopenia, uji pembendungan
dapat positif. ;erdarahan sering ditemukan pada leptospirosis ikterik dan manifestasi dapat terlihat
sebagai petekie, purpura, perdarahan konjungti5a, dan ruam kulit. +uam kulit dapat berwujud
eritema, makula, makulopapula ataupun urtikaria generalisata maupun setempat pada badan,
tulang kering atau tempat lain.
C( Pemeriksaan laboratorim
;emeriksaan laboratorium umum
<ermasuk pemeriksaan laboratorium umum yaitu1
(% ;emeriksaan darah
;ada pemeriksaan darah rutin dijumpai leukositosis, normal atau menurun, hitung jenis
leukosit, terdapat peningkatan jumlah netrofil. Ceukositosis dapat mencapai *".### per
mm: pada keadaan anikterik.Gorfologi darah tepi terlihat mielosit yang menandakan
gambaran pergeseran ke kiri.Faktor pembekuan darah normal. Gasa perdarahan dan masa
pembekuan umumnya normal, begitu juga fragilitas osmotik eritrosit keadaannya normal.
Gasa protrombin memanjang pada sebagian pasien namun dapat dikoreksi dengan 5itamin
@. <rombositopenia ringan 8#.### per mm: sampai (-#.### per mm: terjadi pada -# $
pasien dan berhubung dengan gagal ginjal, dan pertanda penyakit berat jika hitung
trombosit sangat rendah yaitu -### per mm :. Caju endapan darah meningi, dan pada
kasus berat ditemui anemia hipokromia mikrositik akibat perdarahan yang biasa terjadi
pada stidium lanjut perjalanan penyakit.

*% ;emeriksaan fungsi ginjal
;ada pemeriksaan urin terdapat albuminuria dan peningkatan silinder ! hialin, granuler
ataupun selular% pada fase dini kemudian menghilang dengan cepat. ;ada keadaan berat
terdapat pula bilirubinuria, yang dapat mencapai ( g7hari dengan disertai piuria dan
hematuria. =agal ginjal kemungkinan besar akan dialami semua pasien ikterik. 0reum
darah dapat dipakai sebagai salah satu faktor prognostik, makin tinggi kadarnya makin
jelek prognosa. ;eningkatan ureum sampai di atas &## mg7dC. ;roses perjalanan gagal
ginjal berlangsung progresif dan selang : hari kemudian akan terjadi anuri total. =anguan
ginjal pada pasien penyakit ,eil ditemukan proteinuria serta azotemia, dan dapat terjadi
juga nekrosis tubulus akut. ?liguria1 produksi urin kurang dari "## mC7hariM terjadi akibat
dehidrasi, hipotensi.
:% ;emeriksaan fungsi hati
;ada umumnya fungsi hati normal jika pasien tidak ada gejala ikterik. 2kterik disebabkan
karena bilirubin direk meningkat. =angguan fungsi hati ditunjukkan dengan meningkatnya
serum transaminase !serum glutamic oxalloacetic transaminase N '=?< dan serum
glutamic pyru5ate transaminase N '=;<%. ;eningkatannya t idak pasti, dapat tetap normal
ataupun meningkat * 6 : kali nilai normal. erbeda dengan hepatitis 5irus yang selalu
menunjukkan peningkatan bermakna '=;< dan '=?<. @erusakan jaringan otot
menyebabkan kreatinin fosfokinase juga meningkat. ;eningkatan terjadi pada fase)fase
awal perjalanan penyakit, rata)rata mencapai - kali nilai normal. ;ada infeksi hepatitis
5irus tidak dijumpai peningkatan kadar enzim kreatinin fosfokinase.
;emeriksaan laboratorium khusus
;emeriksaan laboratorium khusus untuk mendeteksi keberadaan kuman leptospira
dapat secara langsung dengan mencari kuman leptospira atau antigennya dan secara tidak
langsung melalui pemeriksaan antibodi terhadap kuman leptospira dengan uji serologis
(% ;emeriksaan langsung1
a% ;emeriksaan mikroskopik dan immunostaining
;emeriksaan langsung dapat mendeteksi kuman leptospira dalam darah, cairan prtoneal
dan eksudat pleura dalam minggu pertama sakit, khususnya antara hari ke : 6 ., dan di
dalam urin pada minggu ke dua, untuk diagnosis definitif leptospirosis.
'pesimen urin diambil dengan kateter, punksi supra pubik dan urin aliran tengah, diberi
pengawet formalin (# $ dengan perbandingan (1&. ila jumlah spesimen banyak
dilakukan dua kali pemusingan untuk memperbesar peluang menemukan kuman
leptospira. ;emusingan pertama dilakukan pada kecepatan rendah, misalnya (### g
selama (# menit untuk membuang sel, dilanjutkan dengan pemusingan pada kecepatan
tinggi antara :### 6 &### g selama *# 6 :# menit agar kuman leptospira terkonsentrasi,
kemudian satu tetes sedimen !(# )*# mC% diletakkan di atas kaca obyek bersih dan diberi
kaca Openutup agar tersebar rata.
'elain itu dapat dipakai pewarnaan +omanowsky jenis =iemsa, dan pewarnaan perak
yang hasilnya lebih baik dibanding =ram dan =iemsa !kuman leptospira lebih jelas
terlihat%.
;ewarnaan imunofluoresein lebih disukai dari pada pewarnaan perak karena kuman
leptospira lebih muda terlihat dan dapat ditentukan jenis sero5ar. @elebihan pewarnaan
imunofluoresein dapat dicapai tanpa mikroskop fluoresein dengan memakai antibodi
yang telah dilabel enzim, seperti fosfotase dan peroksidase atau logam seperti emas.
b% ;emeriksaan molekuler
;emeriksaan molekuler dengan reaksi polimerase berantai untuk deteksi 4>8 kuman
leptospira spesifik dapat dilakukan dengan memakai primer khusus untuk memperkuat
semua strain patogen. 'pesimen dari * ml serum, - mC darah tanpa antikoagulan dan (#
mC urin.
C, dry 'pesimen tersebut dikirim pada suhu 6 .# C dalam waktu singkat. 0rin
dikirim ice, atau suhu & C. pada suhu &
c% iakan
'pesimen diambil sebelum pemberian antibiotik. 3asil optimal bila darah, cairan
serebrospinal, urin dan jaringan postmortem segera ditanam ke media, kemudian dikirim
ke laboratorium pada suhu kamar.
d% 2nokulasi hewan percobaan
@uman leptospira 5irulen dapat menginfeksi hewan percobaan, oleh karena itu hewan
dapat dipakai untuk isolasi primer kuman leptospira. 0mumnya dipakai golden hamsters
!umur & 6 " minggu% dan marmut muda ! (-# 6 (.- g%, yang bukan karier kuman
leptospira.
*% ;emeriksaan tidak langsung 7 serologi
erbagai jenis uji serologi dapat dilihat seperti pada tabel &.
/enis uji serologi1
Gicroscopic agglutination test !G8<% Gicroscopic slide agglutination test
!G'8<%
0ji carik celup1
(. CE;<? 4ipstick
*. Cepto<ek Cateral Flow Enzyme linked immunosorbent assay !EC2'8%
8glutinasi lateks @ering
!Cepto<ek 4ri 6 4ot% Gicrocapsule agglutination test
2ndirect fluorescent antibody test !2F8<% ;atoc 6 slide agglutination test !;'8<%
2ndirect haemagglutination test !238% 'ensitized erythrocyte lysis test !'EC%
0ji 8glutinasi lateks Counterimmunelectrophoresis !C2E%
Complement fixation <est !CF<%
D( Pemeriksaan #adiologi
;ada leptopirosis berat, lebih sering ditemukan abnormalitas gambaran radiologis paru
daripada berdasarkan pemeriksaan fisik berupa gambarab hemoragik al5eolar yang menyebar.
8bnormalitas ini terjadi :)K hari setelah onset. 8bnormalitas radiografi ini paling sering terlihat
pada lobus bawah paru.
III( PE*&O,$"$*
'
8ntibioik sebaiknya diberikan sebelum organism merusak endotel pembuluh darah dan berbagai organ
atau jaringan. @esulitan melihat hasil pengobatan adalah fakta bahwa fakta umumnya Ceptospira merupakan
penyakit self limiting dengan prognosis yang cukup baik. ahkan pasien dengan Ceptospirosis ikterus yang
berat dapat sembuh tanpa pengobatan yang spesifik. eberapa peneliti menunjukan tak jelasnya efek antibiotic
terhadap beratnya penyakit , atau pencegahan terjadinya gangguan susunan saraf pusat, hati, ginjal, organism
dalam cairan serebrospinal tidak terpengaruh oleh pengobatan.
;engobatan yang harus diberikan adalah ;enisilin =")8 juta 07m*7hari secara i5 dalam " dosis selama
. hari atau tetrasiklin (#)*# mg7kgbb7hari i5 dalam & dosis selama .hari. 'elain itu hal yang perlu diperhatikan
adalah perawatan suportif. ;emasukan cairan dan balans elektrolit harus diperhatikan. @eadaan seperti gagal
ginjal akut, dehidrasi dan kegagalan sirkulasi memerlukan penanganan yang spesifik dan cermat.
I-( P#O&*OSIS
'
;rognosis leptospirosis umumnya baik, tergantung dari 5irulensi kuman dan daya tahan tubuh
penderita. 0sia juga berpengaruh terhadap meningkatnya mortalitas. ;ada anak angka kematian lebih rendah
dibandingkan orang dewasa, mortalitas pada kasus diatas -( tahun adalah -" $. ;ada kasus Ceptospirosis
anikterik, mortalitasnya dapat mencapai (-)&# $. ;rognosis jangka panjang pada kasus leptospirosis dengan
gagal ginjal akut adalah baik. 4aya filtrasi glomerolus dapat kembali normal, namun beberapa kasus masih
menunjukan disfungsi tubular, seperti gangguan kapasitas konsentrasi ginjal.