Anda di halaman 1dari 10

HADITS HUKUM WALI DALAM PERNIKAHAN

Ali Farhan al-lamonjani1

‫رضضضي اللضضه‬- ِ‫ن أ َب ِي ْه‬ ْ َ‫سى ع‬َ ‫مو‬


َ َ ‫ ع‬,َ‫ع َن أ َبي بردة‬.1
ُ ‫ن أِبي‬ْ َ ُْ ِ ْ
َ ّ ‫س ضل‬
:‫م‬ ِ ْ ‫ه عَل َي‬
َ َ‫ه و‬ ُ ‫صّلى الل‬ ِ ّ ‫ل الل‬
َ ‫ه‬ ُ ‫سو‬
ُ ‫ل َر‬َ ‫ َقا‬:‫ل‬َ ‫ َقا‬-‫عنهما‬
2
ٍ ‫ي‬
” ّ ِ ‫ح إ ِل ّ ب ِوَل‬ َ ِ‫" ل َ ن‬
َ ‫كا‬
Artinya: “Dari Abu Burdah, dari Abu Musa dari ayahnya –radliyallâhu
'anhuma-, dia berkata, Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam bersabda,
“Tidak (shah) pernikahan kecuali dengan wali.”

ّ ِ ‫ح إ ِل ّ ب ِوَل‬
‫ي‬ َ ِ ‫ ل َ ن‬:‫عا‬
َ ‫كا‬ ً ْ‫مْرفُو‬
َ ‫صْين‬ ُ ْ ‫ن ال‬
َ ‫ح‬ ِ ْ‫ن ب‬
َ ‫مَرا‬ ْ ‫ع‬ِ ‫ن‬ْ َ ‫ع‬.2
3
‫ن‬
ِ ْ ‫شاهِد َي‬َ َ‫و‬
Dari ‘Imran bin al-Hushain secara marfu’ : “Tidak (shah) pernikahan kecuali
dengan seorang wali dan dua orang saksi.”

‫ه‬
ِ ‫ل اللضض‬ ُ ْ‫سو‬ ُ ‫ل َر‬َ ‫ َقا‬:‫ت‬ ْ َ ‫ه ع َن َْها َقال‬
ُ ‫ي الل‬
َ ‫ض‬
ِ ‫ة َر‬ َ ِ ‫عائ‬
َ ‫ش‬ َ ‫ن‬
ْ َ‫وَع‬.3
َ ‫ "أ َيما ا‬: ‫صّلى الله ع َل َيه وسل ّم‬
‫ن‬ِ ْ ‫ر إ ِذ‬
ِ ‫ت ب ِغَْيضض‬
ْ ‫ح‬َ َ ‫ة ن َك‬
ٍ ‫مَرأ‬
ْ َ ّ َ َ َ ِ ْ ُ َ
‫مضضا‬ َ ‫ل ب ِهَضضا فَل َهَضضا ْال‬
َ ِ ‫مهْضُر ب‬ َ ‫خض‬ ْ ِ ‫ فَإ‬،‫ل‬
َ َ‫ن د‬ ٌ ِ ‫حَها َباط‬ ُ ‫كا‬ َ ِ ‫وَل ِي َّها فَن‬
‫ي‬
ّ ‫ن وَل ِض‬ ُ ‫طا‬َ ْ ‫س ضل‬
ّ ‫جُرْوا َفال‬ ْ ‫نا‬
َ َ ‫ش ضت‬ ِ ِ ‫ فَ ضإ‬،‫جَها‬ِ ‫ن فَْر‬ ْ ‫م‬ ِ ‫ل‬ ّ ‫ح‬
َ َ ‫ست‬ْ ‫ا‬
ُ َ‫ي ل‬
" . 4‫ه‬ َّ ِ ‫ن ل َ وَل‬ ْ ‫م‬ َ
Artinya: “Dan dari ‘Aisyah radliyallâhu 'anha, dia berkata, Rasulullah

1 Mahasiswa Tafsir Hadits, Fakiltas Ushuluddin, UIN yogya, asli Kabupaten Lamongan dan alumni ponpes
Sunan Drajat, Paciran, Lamongan
2 Sofwer Maktabah Assamilah, di akses pada 21 Maret 2009
3 Sofwer Maktabah Assamilah
4 Sofwer Maktabah Assamilah

1
Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam bersabda, “Siapa saja wanita yang menikah
tanpa idzin walinya, maka pernikahannya batil; jika dia (suami) sudah
berhubungan badan dengannya, maka dia berhak mendapatkan mahar sebagai
imbalan dari dihalalkannya farajnya; dan jika mereka berselisih, maka sultan
(penguasa/hakim dan yang mewakilinya-red.,) adalah wali bagi orang yang
tidak memiliki wali.”

Keterangan Hadits

Hadits pertama dari kajian ini diriwayatkan oleh Imam


Ahmad dan empat Imam hadits, pengarang kitab-kitab as-
Sunan (an-Nasaiy, at-Turmudziy, Abu Daud dan Ibn Majah).
Hadits tersebut dinilai shahîh oleh Ibn al-Madiniy dan at-
Turmudziy serta Ibn Hibban yang menganggapnya memiliki
‘illat (cacat), yaitu al-Irsal (terputusnya mata rantai jalur
transmisinya setelah seorang dari Tabi’in, seperti bila seorang
Tab’iy berkata, “Rasulullah bersabda, demikian…”).

Hadits kedua dari kajian ini diriwayatkan juga oleh Imam


Ahmad dari al-Hasan dari ‘Imran bin al-Hushain secara marfu’
(sampai kepada Rasulullah).
Menurut Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman al-Bassam,
kualitas hadits ini adalah Shahîh dan dikeluarkan oleh Abu
Daud, at-Turmudziy, ath-Thahawiy, Ibn Hibban, ad-Daruquthniy,
al-Hâkim, al-Baihaqiy dan selain mereka. Hadits ini juga dinilai
shahîh oleh Ibn al-Madiniy, Ahmad, Ibn Ma’in, at-Turmudziy,
adz-Dzuhliy, Ibn Hibban dan al-Hâkim serta disetujui oleh Imam
adz-Dzahabiy. Ibn al-Mulaqqin di dalam kitab al-Khulâshah
berkata, “Sesungguhnya Imam al-Bukhariy telah menilainya
shahîh dan juga dijadikan argumentasi oleh Ibn Hazm.” Al-
Hâkim berkata, “Riwayat mengenainya telah shahih berasal
dari ketiga isteri Nabi Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam; ‘Aisyah,
Zainab dan Ummu Salamah.” Kemudian dia menyebutkan 30
orang shahabat yang semuanya meriwayatkannya.

Syaikh al-Albaniy berkata, “Tidak dapat disangkal lagi,


hadits tersebut berkualitas Shahîh sebab hadits yang
diriwayatkan oleh Abu Musa tersebut dinilai shahih oleh banyak
ulama. Jika, digabungkan lagi dengan riwayat pendukung dari
sisi matan (Tâbi’) dan sebagian riwayat pendukung dari sisi
sanad (Syâhid) yang kualitasnya tidak lemah sekali, maka hati
kita menjadi tenang untuk menerimanya.”

Sedangkan hadits yang ketiga dari kajian ini, kualitasnya


adalah Hasan. Hadits tersebut dikeluarkan oleh Imam Ahmad,
asy-Syafi’iy, Abu Daud, at-Turmudziy, Ibn Majah, ad-
Daruquthniy, al-Hâkim dan al-Baihaqiy serta selain mereka dari
jalur yang banyak sekali melalui Ibn Juraij dari Sulaiman bin
Musa dari az-Zuhriy dari ‘Urwah dari ‘Aisyah. Rijâl (Para
periwayat dalam mata rantai periwayatan) tersebut semuanya
Tsiqât dan termasuk Rijâl Imam Muslim.

Hadits ini dinilai shahih oleh Ibn Ma’in, Abu ‘Awânah dan Ibn
Hibban. Al-Hâkim berkata, “Hadits ini sesuai dengan syarat
yang ditetapkan asy-Syaikhân (al-Bukhariy dan Muslim),
diperkuat oleh Ibn ‘Adiy dan dinilai Hasan oleh at-Turmudziy.
Hadits ini juga dinilai Shahîh oleh Ibn al-Jawziy akan tetapi
beliau menyatakan bahwa terdapat ‘illat, yaitu al-Irsâl akan
tetapi Imam al-Baihaqiy menguatkannya dan membantah
statement Ibn al-Jawziy tersebut. Maka berdasarkan hal ini,

3
hadits ini kualitas isnadnya Hasan. Wallahu a’lam.”5

penjelasan lain tentang hadits-hadits hukum wali dalam


pernikahan

1) Keberadaan wali dalam suatu pernikahan merupakan


syarat shahnya sehingga tidak shah suatu pernikahan
kecuali dengan adanya wali yang melaksanakan ‘aqad
nikah. Ini adalah pendapat tiga Imam Madzhab; Malik, asy-
Syaf’iy dan Ahmad serta jumhur ulama. Dalil pensyaratan
tersebut adalah hadits diatas yang berbunyi (artinya),
“Tidak (shah) pernikahan kecuali dengan wali.”
Al-Munawiy berkata di dalam kitab Syarh al-Jâmi’ ash-
Shaghîr, “Hadits tersebut hadits Mutawatir.” Hadits ini
dikeluarkan oleh al-Hâkim dari 30 sumber. Sedangkan
hadits ‘Aisyah diatas (no.3 dalam kajian ini) sangat jelas
sekali menyatakan pernikahan itu batil tanpa adanya wali,
dan bunyinya (artinya), “Siapa saja wanita yang menikah
tanpa idzin walinya, maka pernikahannya batil (tiga kali).”

2) ‘Aqad nikah merupakan sesuatu yang serius sehingga


perlu mengetahui secara jelas apa manfa’at pernikahan
tersebut dan mudlaratnya, perlu perlahan, pengamatan
yang seksama dan musyawarah terlebih dahulu.
Sementara wanita biasanya pendek pandangannya dan
singkat cara berpikirnya alias jarang ada yang berpikir
panjang sehingga dia memerlukan seorang wali yang
memberikan pertimbangan akan ‘aqad tersebut dari
aspek manfa’at dan legitimasi hukumnya. Oleh karena itu,

5 Al-Mahallî, Jalâluddîn, Syarh Minhâjuth Thâlibîn, Bayrût: Dârul Fikr, t.t., jld. 3, h. 224
adanya wali termasuk salah satu syarat ‘aqad
berdasarkan nash yang shahih dan juga pendapat Jumhur
ulama.

3) Seorang wali disyaratkan sudah mukallaf, berjenis kelamin


laki-laki, mengetahui manfa’at pernikahan tersebut dan
antara wali dan wanita yang di bawah perwaliannya
tersebut seagama. Siapa saja yang tidak memiliki
spesifikasi ini, maka dia bukanlah orang yang pantas
untuk menjadi wali dalam suatu ‘aqad nikah.

4) Wali adalah seorang laki-laki yang paling dekat


hubungannya dengan si wanita; sehingga tidak boleh ada
wali yang memiliki hubungan jauh menikahkannya selama
wali yang lebih dekat masih ada. Orang yang paling dekat
hubungannya tersebut adalah ayahnya, kemudian
kakeknya dari pihak ayah ke atas, kemudian anaknya ke
bawah, yang lebih dekat lagi dan lebih dekat lagi,
kemudian saudara kandungnya, kemudian saudaranya se-
ayah, demikian seterusnya berdasarkan runtut mereka di
dalam penerimaan warisan. Disyaratkannya kedekatan
dan lengkapnya persyaratan-persyaratan tersebut pada
seorang wali demi merealisasikan kepentingan pernikahan
itu sendiri dan menjauhi dampak negatif yang
ditimbulkannya.

5) Bila seorang wali yang memiliki hubungan jauh


menikahkan seorang wanita padahal ada wali yang
memiliki hubungan lebih dekat dengannya, maka hal ini
diperselisihkan para ulama:

5
6) Pendapat pertama mengatakan bahwa pernikahan
tersebut Mafsûkh (batal).
Pendapat Kedua menyatakan bahwa pernikahan itu boleh.

7) Pendapat Ketiga menyatakan bahwa terserah kepada wali


yang memiliki hubungan lebih dekat tersebut apakah
membolehkan (mengizinkan) atau menfasakh
(membatalkan) nya.

8) Sebab Timbulnya Perbedaan

9) Sebab timbulnya perbedaan tersebut adalah:

10)“Apakah tingkatan perwalian yang paling dekat dalam


suatu pernikahan merupakan Hukum Syar’iy yang murni
dan mutlak hak yang terkait dengan Allah sehingga
pernikahan tidak dianggap terlaksana karenanya dan
wajib difasakh (dibatalkan)”,
Ataukah “ia merupakan Hukum Syar’iy namun juga
termasuk hak yang dilimpahkan kepada wali sehingga
pernikahan itu dianggap terlaksana bilamana
mendapatkan persetujuan si wali tersebut; bila dia
membolehkan (mengizinkan), maka boleh hukumnya dan
bila dia tidak mengizinkan, maka pernikahan itu batal
(fasakh).”

11)Perbedaan Para Ulama

12) Sebagaimana yang telah dipaparkan diatas bahwa adanya

seorang wali merupakan syarat shah suatu akad nikah.


Dan ini adalah pendapat Jumhur Ulama, diantaranya Tiga
Imam Madzhab.6

Sementara Imam Abu Hanifah dan pengikutnya berpendapat


bahwa hal itu bukanlah merupakan syarat.

Dalil-dalil yang dikemukakan oleh pendapat terakhir ini


banyak sekali namun masih dalam koridor permasalahan
khilafiyyah yang amat panjang.

Diantara dalil mereka tersebut adalah mengqiyaskan


(menganalogkan) nikah dengan jual beli. Dalam hal ini,
sebagaimana seorang wanita berhak untuk memanfa’atkan
dan menjual apa saja yang dia maui dari hartanya, demikian
pula dia berhak untuk menikahkan dirinya sendiri. Namun
para ulama mengatakan bahwa ini adalah Qiyâs Fâsid (Qiyas
yang rusak alias tidak sesuai dengan ketentuan) karena tiga
faktor:

Pertama, karena ia merupakan Qiyas yang bertentangan


dengan Nash sehingga menurut kaidah ushul, Qiyas seperti
ini tidak boleh dan tidak berlaku.
Kedua, Dalam Qiyas itu harus ada kesamaan antara dua
hukum dari kedua hal yang diqiyaskan tersebut, sementara
disini tidak ada. Dalam hal ini, nikah merupakan hal yang
serius, perlu pandangan yang tajam dan kejelian terhadap
konsekuensi-konsekuensinya, namun berbeda halnya
dengan jual beli yang dilakukan dengan apa adanya, ringan
dan kecil permasalahannya .

Ketiga, bahwa akad terhadap sebagian suami bisa menjadi


‘aib dan cela bagi seluruh keluarga, bukan hanya terhadap
6 Abû Bakr, as-Sayyid, I’ânatuth Thâlibîn, jld 3, h. 311

7
isterinya semata. Jadi, para walinya ikut andil di dalam
proses persemendaan (perbesanan), baik ataupun buruknya.

Dalam hal ini, Abu Hanifah membantah hadits ini dengan


beragam jawaban:

Pertama, Terkadang beliau mengeritik sanad (jalur transmisi)


hadits yang menurutnya terdapat cacat, yaitu adanya
perkataan Imam az-Zuhriy kepada Sulaiman bin Musa, “Saya
tidak mengenal hadits ini.”

Kedua, mereka mengatakan bahwa lafazh “Bâthil” di dalam


teks hadits tersebut dapat dita’wil dan maksudnya adalah
“Bishodadil Buthlân wa mashîruhu ilaihi.” (Maka
pernikahannya akan menuju kebatilan dan berakibat seperti
itu).

Ketiga, mereka berkata bahwa sesungguhnya yang


dimaksud dengan wanita (Mar`ah) di dalam teks hadits
tersebut adalah wanita yang gila atau masih kecil (di bawah
umur)…

Dan bantahan-bantahan lainnya yang tidak kuat dan sangat


jauh dimana para ulama juga menanggapinya satu per-satu.

Tanggapan Terhadap Bantahan Tersebut

Terhadap Bantahan Pertama, bahwa sebenarnya hadits


tersebut memiliki banyak jalur yang berasal dari para Imam-
Imam Besar Hadits dan periwayat, bukan seperti yang
dikatakan oleh Abu Hanifah melalui perkataan Imam az-
Zuhriy tersebut.
Terhadap Bantahan Kedua, bahwa ta’wil tersebut tidak tepat
dan amat jauh dari sasaran.

Terhadap Bantahan Ketiga dan seterusnya, bahwa nash-nash


tentang hal itu amat jelas sehingga tidak membutuhkan
ta’wil-ta’wil semacam itu.

Dalil-Dalil Pensyaratan Wali

Diantara dalilnya adalah hadits yang telah dipaparkan diatas,


dan mengenainya:

a. ‘Aliy al-Madiniy berkata, “Shahîh”. Pensyarah berkata, “Ia


dinilai Shahîh oleh al-Baihaqiy dan para Huffâzh .”

b. Adl-Dliyâ` berkata, “Sanad para periwayatnya semua


adalah Tsiqât.”

c. Hadits tersebut juga telah dikeluarkan oleh al-Hâkim dan


bersumber dari 30 orang shahabat.

d. Imam al-Munawiy berkata, “Ia merupakan hadits


Mutawatir.”

Dalil lainnya:

- Bagi siapa yang merenungi kondisi ‘aqad nikah dan hal-hal


yang dibutuhkan padanya seperti perhatian serius, upaya
mencari mashlahat dan menjauhi dampak negatif dari
pergaulan suami-isteri, kondisi suami dan ada tidaknya
kafâ`ah (kesetaraan), pendeknya pandangan dan

9
dangkalnya cara berfikir wanita serta mudahnya ia tergiur
oleh penampilan, demikian pula bagi siapa yang mengetahui
kegigihan para walinya dan keinginan mereka untuk
membahagiakannya serta pandangan kaum lelaki yang
biasanya jauh ke depan….barangsiapa yang merenungi hal
itu semua, maka tahulah kita akan kebutuhan terhadap apa
yang disebut Wali itu.

1. Manakala kita mengetahui bahwa pernikahan tanpa wali


hukumnya Fâsid (rusak), lalu jika ia terjadi juga, maka ia
tidak dianggap sebagai pernikahan yang sesuai dengan
syari’at dan wajib difasakh (dibatalkan) melalui hakim
ataupun thalaq/cerai oleh sang suami.

Sebab, pernikahan yang diperselisihkan hukumnya perlu


kepada proses Fasakh atau Thalaq, berbeda dengan
pernikahan Bâthil yang tidak membutuhkan hal itu.7

Rujukan
• Sofwer Maktabah Assamilah, di akses pada 21 Maret 2009
• Al-Mahallî, Jalâluddîn, Syarh Minhâjuth Thâlibîn, Bayrût: Dârul Fikr,
t.t., jld. 3, h. 224
• K.h. Imam Subarno Menikah Sumber Masalah (Gama Media;Yogyakarta
2004) hlm 24

7 K.h. Imam Subarno Menikah Sumber Masalah (Gama Media;Yogyakarta 2004) hlm 9