Anda di halaman 1dari 18

Jihad “Harby”

Fi Sabilillah
Disusun untuk memenuhi tugas makalah
Mata Kuliah Fiqh
Dosen Pengampu: Afdawaiza, S.Ag., M.Ag.

Oleh:
• Ali Farhan ( 07530007 )

JURUSAN TAFSIR HADITS


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2008

1
BAB I
PENDAHULUAN
Islam adalah risalah untuk semua zaman dan generasi, bukan risalah yang
terbatas oleh masa atau masa tertentu dimana implementasinya berakhir seiring
dengan berakhirnya zaman tadi. Tidak ada seorang Nabi punsebelum Nabi
Muhammad Saw. yang menyatakan bahwa risalahnya adalah risalah penutup dan tidak
ada lagi Nabi sesudahnya. Bahkam Taurat memberikan kabar gembira tentang
datingnya Nabi yang akan dating setelah Musa a.s. Dan Injil pun menyampaikan kabar
gembira tentang Nabi yang akan datang setelah Isa a.s. dan dialah yang akan
menjelaskan dan menyempurnakan semua kebenaran serta tidak berbicara dari dirinya
sendiri (apa yang diampaikannya adalah wahyu).1
Selama kurang lebih dua puluh tiga tahun Nabi Muhammad Saw. menyeru
kepada manusia untuk dapat menerima ajaran Islam dengan sempurna, dan selama itu
pula tantangan dan hambatan senantiasa menyertai jalan dakwah mulia beliau. Dengan
segala karunia dan bimbingan Allah, Tuhan semesta alam, serta dengan pengerahan
seluruh daya dan upaya, jiwa dan raga, beliau mampu merasuki nurani di setiap umat
yang memilihnya.
Dengan hadirnya Islam, yang notabene sebagai ajaran baru pada saat itu,
tentunya menghadirkan berbagai respon yang datang dari masyarakat Arab khususnya.
Kaum (kafir dan muyrik) Quraisy yang berabad abad telah menjiwai dan
melaksanakan ritual-ritual keagamaannya merasa terusik dengan munculnya Islam
sebagai ajaran baru. Bagi mereka, Islam adalah ancaman terbesar yang akan segera
mambumihanguskan tradisi nenek moyang mereka, alias sebuah ancaman dan
penghinaaan besar. Dengan segala usaha dan upaya licik mereka, Islam yang datang
melalui Rasul Muhammad hendak mereka lenyapkan. Dengan adanya perlawanan dan
ancaman dari Kaum Kafir ini, tentunya Umat Islam tidak hanya tinggal diam atau
menuggu hingga mereka, kaum kafir, kecapean memburu Nabi beserta para
pengikutnya. Maka setelah kondisi dan situasi umat Islam memungkinkan untuk
menyerang dalam bentuk “Jihad fi Sabilillah”2 melalui wahyu ketuhanan, bergeraklah
mereka menuju medan perjihadan.

1
Yusuf Al Qardhawi, Al Khashais Al ‘Ammah Li Al Islam, terj. Rafi Munawwar dan Tajuddin,
Karakteristik Islam: Kajian Analitik (Surabaya: Risalah Gusti, 1996), hlm.117
2
Untuk selanjutnya, selain beberapa catatan yang tertulis, kita pakai pengertian ini (jihad) sebagai
“jihad harby”. Penggunaan istilah ini penyusun buat untuk dapat secara langsung dan lebih mudah
membaca jihad dalam arti berperang melawan kaum kafir.

2
Memang, ketika kita membaca, dalam arti mengkaji permasalahan “jihad”
terutama pada akhir-akhir ini akan ditemukan berbagai argument pro dan kontra.
Terkait dengan asumsi serta pengetahuan masing-masing individu mengenai makna
jihad itu sendiri. Namun tanpa melepaskan diri dari nilai murni jihad sebagaimana
dijelaskan oleh para Ulama, pada makalah ini, kami para penyusun hendak mencoba
menguraikan sedikit perjalanan jihad dalam arti berperang melawan kafir, yang kami
beri istilah dengan Jihad Harby.

3
BAB II
PENBAHASAN
A. Pengertian
Kata “jihad” berasal dari bahasa Arab yang artinya berjuang atau perjuangan yang
di lakukan dengan sungguh-sungguh atau dengan kata lain, jihad adalah pengerahan
segenap kekuatan baik berupa perkataan maupun perbuatan, dalam peperangan dalam
rangka menegakkan kalimat Allah. Jihad dalam pengertian yang kedua tersebut adalah
definisi secara terminologi
Selain kedua pengertian tersebut, jihad juga memiliki definisi-definisi lain.
Diantaranya:
1. Memerangi hawa nafsu
2. Melakukan amar ma’ruf.
3. Mencegah kemungkaran.
4. Mencegah segala bentuk kerusakan.
5. Berusaha menciptakan kemaslahatan umum.
6. Jujur dalam kesabaran.
7. Membenci kemunafikan
Dalam salah satu haditsnya, Nabi Muhammad pernah bersabda:
Artinya:”jihad itu ada empat jenis, amar ma’ruf (memerintahkan kepada kebajikan),
nahy anil- mungkar (mencegah dari kemungkaran), jujur dalam kesabaran dan
membenci kemunafikan.(HR. Abu Na’im)3
Al Ustadz Prof. Dr. M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa secara garis besar jihad
bisa didefinisikan sebagai mempertaruhkan hidup seseorang dan segala sesuatu yang
dimilikinya untuk mengabdikan dirinya pada jihad fisabilillah yang berdasarkan pada
syariat Islam. Dalam hukum Islam, makna jihad sangat luas, yaitu segala bentuk
maksimal untuk penerapan ajaran Islam dan pemberantasan kezaliman, baik terhadap
diri sendiri maupun masyarakat dengan tujuan mencapai ridha Allah Swt.
Jadi, dalam pengertian yang lebih luas, jihad mencakup seluruh ibadah yang bersifat
lahir dan batin dan cara mencapai tujuan yang tidak kenal putus asa, menyerah,
kelesuan, dan pamrih, baik melalui perjuangan fisik, emosi, harta benda, tenaga,
maupun ilmu pengetahuan sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw
selama periode Makkah dan Madinah. Selain jihad dalam pengertian umum, ada

3
Abdul Baqi Ramdhun, Al jihadu sabiluna, Ter. Darsim Ermaya Imam Fajaruddin, Jihad jalan kami
(Solo: era intermedia, 2002). Hlm 11

4
pengertian khusus mengenai jihad, yaitu memerangi kaum kafir untuk menegakkan
Islam dan inilah yang sering dipakai oleh sebagian umat Islam dalam memahami
makna jihad.4
B. Syarat-syarat jihad
Jihad dalam Islam berbeda dari berbagai bentuk dan jenis peperangan lain, sebab
jihad dalam islam memiliki bagian karakteristik tersendiri yang membedakannya dari
perang-perang lain. Dikatakan berbeda sebab jihad dalam islam terikat oleh beberapa
persyaratan dan kaidah. Jika syarat dan kaidah itu tidak terpenuhi, maka atribut jihad
di jalan Allah menjadi gugur. Diantara syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut:
1. Jihad atau peperangan dinamakan jihad di jalan Allah mana kala dilakukan
dengan penuh keikhlasan dan untuk menegakkan kalimat-Nya, bukan karena riya,
sum’ah, Syirik, Munafik, dan sebagainya.
Rosulallah bersabda:” Sesungguhnya Allah tidak menerima amal hambanya,
kecuali dilakukan karena keikhlasan kepadanya dan dalam rangka mengharap
ridlonya.
2. Peperangan hanya boleh dilakukan setelah agama Islam di sampaikan kepada
kaum kafir dan mengajak mereka dalam keimanan. Jika mereka tetap bergeming
atau tidak mau menerima ajaran Islam, barulah di perangi, agar mereka menyadari,
atas dasar apakah mereka di perangi.
3. Antara umat Islam dengan kaum kafir tidak ada perjanjian damai. Sebab Allah
dan Rasul-Nya memerintahkan agar perjanjian dengan siapapun harus
disempurnakan sampai batas waktu yang disepakati, akan tetapi jikalu mereka
membatalkan tau melanggar perjanjian tersebut maka barulah mereka boleh di
perangi,
   
   
  
 
   
Artiny: “Jika mereka merusak sumpah (janji)nya sesudah mereka
berjanji, dan mereka mencerca agamamu, Maka perangilah
pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, Karena Sesungguhnya
4
M. Quraish Shihab, Wawasan Al Qur’an (Bandung: Mizan, 1996), hlm. 501

5
mereka itu adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya,
agar supaya mereka berhenti”.
4. Peperangan itu dilakukan karena mengharap kemenangan
kekuatan dan kejayaan Islam berdasarkan ijtihad sang pemimpin
atau yang berkompetan, namun kalau peperangan itu tidak akan
di menagakan ummat Islam, maka peperangan itu tidak boleh
dilakukan. Sebab hal itu, sama saja dengan bunuh diri dan
menjerumuskan diri dalam lautan kehancuran.5
C. Tujuan dan Tahapan Jihad
Tujuan terbesar dari jihad atau berperang dalam Islam adalah membebaskan
manusia dari perbudakan agar mereka menghamba hanya kepada Allah SWT.Namun
Islam tidak sekali-kali menjadikan “perang” sebagai tujuan, bahkan tidak mengizinkan
kepada umatnya melainkan untuk meraih suatu tujuan utama yang besar, yaitu
perdamaian, ketentraman, dan kemaslahatan umat.6
Perintah jihad di turunkan secara bertahap sesuai dengan perkembangan
masyarakat islam di masa-masa awal turunnya risalah kenabian Muhammad saw.
Instruksi ini di turunkan secara bertahap sesuai dengan perkembangan kondisi
masyarakat Islam yang selalu mengalami transisi dari satu perkembangan ke
perkembangan lain hingga berakhir dan sempurnalah risalah kenabian Muhammad
saw. Adapun fase-fase ersebut adalah:
1.larangan berperang
Pada masa periode awal dakwah islam di makkah yang berlangsung selama kurang
lebih 13 tahun, jihad di lakukan dengan cara mengajak manusia kepada islam
menjelaskan kepada mereka agar memahaminya dengan benar, mencintainya dengan
sepenuh hati dan di amalkan dengan penuh keikhlasan. Untuk itu maka jihad pada
masa ini di lakukan dengan mengemukakan nilai-nilai rasionalitas berdasarkan
argument yang logis dengan cara hikmah dan mauidloh hasanah (nasihat yang baik),
dan dengan perdebatan yang baik di sertai dengan perdebatan yang baik di sertai
dengan kesabaran atas segala resiko yang muncul, dan dihiasi dengan sifat pemaaf
atas segala kesalahan dan permusuhan yang di hempaskan oleh musuh. Jadi pada masa

5
Abdul Baqi Ramdhun, Al jihadu sabiluna, Ter. Darsim Ermaya Imam Fajaruddin, Jihad jalan kami
(Solo: era intermedia, 2002). hlm 104
6
Debby M. Nasution, Kedudukan Militer dalam Islamdan Peranannya pada Masa Rasulullah Saw.
(Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2003), hlm.36

6
ini, jihad tidak di lakukan dengan menghunus pedang, dan tidak pula dengan
mengumandangkan peperangan kepada musuh. Hal ini disebabkan oleh realitas bahwa
gerakan dakwah pada kala itu masih pada tahap-tahap permulaan masih dalam fase-
fase perkembangan dan pembentukan. Selain pertimbangan itu, jihad dengan cara itu
juga di lakukan karena kondisi kaum mukmin masih relative lemah, sedikit jumlahnya,
terbatas pada penduduk kota Makkah al-Mukkarromah, serta mayoritas mereka adalah
kaum fuqara wa masakin.
Berikut adalah beberapa ayat dan hadits yang menjelaskan jenis jihad yang telah
kita bicarakan.
.Allah berfirman,
       
 
  
     
    
   
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845] dan pelajaran yang
baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah
yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang
lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.
   
    
    
   
10. Dan Bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan
jauhilah mereka dengan cara yang baik. 11.Dan biarkanlah Aku
(saja) bertindak terhadap orang-orang yang mendustakan itu, orang-
orang yang mempunyai kemewahan dan beri tangguhlah mereka
barang sebentar.
   
   
“Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah
terhadap mereka dengan Al Quran dengan jihad yang besar”

7
Yang perlu diperhatikan pada fase ini, bentuk jihad yang di
perintahkan adalah sebagai berikukt:
a. Jihad Al-Nafsi (Mengendalikan jiwa) dengan cara membentuk,
membersihkan dan memperbaikinya, sehingga menjadi selalu
tenang, aman, damai, dan memiliki kualitas keimanan yang
mapan dan kuat.
b. Jihad Al-dakwah, dengan cara mempelajri islam, mengajarkan
kepada orang lain, menjelaskan, dan menyebarluaskannya
kepada segenap ummat.
c. Jihad al Shabr wa al mushabarah, (bersabar) atas segala resiko
yang muncul, serta bersabar dalam segala penderitaan. Ini di
hiasi dengan sifat pemaaf dan lemah lembut, tidak suka balas
dendam, tidak menhunus pedang maupun menyandang senjata,
dan tidak mengibarkan bendera peperangan terhadap musuh.
2. Izin Berperang
Setelah kaum mslimin bersama Rosulallah saw hijrah ke
Madinah tepatnya pada tahun kedua (hijriyah) turunlah perintah
jihad dalam bentuk perang. Hanya saja perinyah perang ini kepada
orang-orang yang memerangi saja. Sedangkan orang-orang yang
tidak memerangi islam tidak boleh di perangi. Berdasarkan perintah
ini maka orang-orang yang tidak memerangi umat islam tidak boleh
di perangi, demikian juga, ummat islam tidak di perkenankan untuk
memulai megibarkan api peperangan terhadap orang-orang
kafiryang tidak mendahului melakukan peperangan terhadap orang
islam.7
Dengan demikian, jihad dengan fase ini bersifat defensive,
bukan ofensiv. Pada fase ini, umat islam tidak diperkenankan
memulai peperangan, peperangan hanya sebagai langkah
pertahanan saja untuk mempertahankan diri, menghalang-halangi
dan mengantisipasi segala kemungkinan serangan musuh atau
kemungkinan-kemungkinan lainnya yang tidak di inginkan. Instruksi
jihad yang bersifat defensive ini di maksudkan untuk menjaga
7
Debby M. Nasution, Kedudukan Militer dalam Islamdan Peranannya pada Masa Rasulullah Saw.
(Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2003), hlm.17

8
stabilitas umat islam agar tidak hancur akibat serangan orang-orang
kafir dan akibat sedikitnya jumlah mereka kala itu. Dengan adanya
intruksi jihad dalam bentuk peperangan ini, maka penganiayaan,
penyiksaan, dan tindakan-tindakan destruktif lainnya dari orang-
orang kafir berkurang.
Allah berfirman:
   
   
     
“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu,
(tetapi) janganlah kamu melampaui batas, Karena Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al-
Baqarah 190)

  


    
   
“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi,
Karena Sesungguhnya mereka Telah dianiaya. dan Sesungguhnya
Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu,” (Al-Hajj:39)
3. Jihad Secara Ofensif.
Berikutnya turunlah ayat-ayat yang memerintahkan kaum
muslimin untuk berjihad memerangi orang kafir, dan musyrik. Izin
tersebut di turunkan ketika sikap kaum kafir sudah di luar batas pri
kemanusiaan terhadap Nabi dan kaum muslimin. Mereka
menganiaya, menyakiti dan menyiksa orang-orang musllim, dengan
demikian izin tersebut bukan merupakan kewajiban melainkan
dengan kata lain, izin memerangi kaum kafir tersebut tidak berarti
wajib.
   
     
     
   
   

9
  
     
    
    
   
  
  
   
   
 
Artinya:
“(yaitu) orang-orang yang Telah diusir dari kampung halaman
mereka tanpa alasan yang benar, kecuali Karena mereka berkata:
"Tuhan kami hanyalah Allah". dan sekiranya Allah tiada menolak
(keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah
Telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah
ibadat orang Yahudi dan masjid- masjid, yang di dalamnya banyak
disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang
menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha
Kuat lagi Maha Perkasa,”(Al-hajj: 40)
“(yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di
muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan
zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang
mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan”. (Al-hajj: 41)
Begitu pula firman Allah swt, dalam surat At-taubah ayat 36
  
   
   
 
“...Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana
merekapun memerangi kamu semuanya, dan Ketahuilah

10
bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa” (At-taubah:
36)
Ayat-ayat tersebut merupakan ayat-ayat yang berkenaan
dengan perintah perang sesudah situasi dan kondisi kaum mslimin
memungkinkan, dalam artian setelah kaum muslimin memiliki
kekuatan yang cukup untuk melakukannya.
D. Adab Jihad Fi Sabilillah
Islam adalah agama yang sarat dengan budi yang luhur, bahkan
Islam sendiri manjadikan Akhlak sebagai salah satu skema
sistematika pokok-pokok ajaran setelah Akidah dan Syari’ah,
sebagaiman tergambarkan dalam Ihsannya. 8
Bakan dalam usaha
peperangan pun Muslim dianjurkan bahkan diwajibkan untuk
memenuhi tata cara serta adab yang semestinya dilakukan, antara
lain sebagai berikut.
1. Menyeru kaum kafir (da’wah bil lisan) untuk
memeluk agama islam sebelum memerangi mereka. Hakikat
ajaran agama Islamharus di jelaskan terlebih dahulu kepada
mereka, se hingga mereka memahami maksud dan tujuan oran
Islam.
2. Harus memenuhi dan menepati segala bentuk
perjanjian yang terjadi antara kaum muslimin dengan kaum kafir
dan di larang melakukan tipu daya, mengingkari, dan
menghianati perjanjian tersebut.
3. Harus menjaga kehormatan darah manusia,
kecualu karena ada alasan yang hak, dan tidak boleh menyakiti
serta mengganggu kaum yang lemah dari penduduk negeri yang
di peringati selama mereka tidak berpartisipasi dalam berbagai
bentuk usaha menghancurkan islam dan umat islam.
4. Tidak merusak atau menyakiti orang-orang
yang telah terbunuh, mereka tetap harus di hormati, serta tidak
melakukan kerusakan seperti pembakaran, pembantaian,
penebangan pepohonan.
8
Endang Saifuddin Anshari, Wawasan Islam: Pokok-pokok Pikiran tentang Paradigma dan Sistem
Islam (Jakarta: Gema Insani, 2004), hlm. 47

11
5. Memberikan perlindungan perlindungan kepada
orang (musuh) yang meminta perlindungan atau permintan
perjanjian damai.
6. Berbuat baik terhadap para tawanan serta
memperlakukan ahli dimmah dengan adil dan menaruh belas
kasih kepada mereka, sebab mereka adalah komunitas kaum
kafir yang bermukim di wilayah Islam berdasarkan perjanjian
diantara mereka dengan pemerintahan Islam. Oleh sebab itu,
mereka berhak mendpatkan jaminan keamanan, baik keamanan
yang menyangkut jiwa, harta, kehormatan, keturunan, maupun
agama mereka.
E. “Fitna” sebagai Salah Satu Fenomena Pemahaman
Jihad Asing
Firman Allh SWT,
  
 
  
   
  
   
   
     
   
  
   
  
    
 
Artinya:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta
berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang
yang memberikan tempat kediaman dan pertoIongan (kepada

12
orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-
melindung dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum
berhijrah, Maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi
mereka, sebelum mereka berhijrah. (akan tetapi) jika mereka
meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama,
Maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum
yang telah ada Perjanjian antara kamu dengan mereka. dan Allah
Maha melihat apa yang kamu kerjakan.”
Hampir bisa dipastikan, istilah “jihad” merupakan salah satu konsep Islam yang
sering disalahpahami oleh orang-orang Islam sendiri dan pengamat Barat umumnya
yang hanya mengartikan jihad dengan perang. Termasuk, peristiwa factual yang baru
saja terjadi di dunia ini, yaitu adanya video “Fitna” sebagai salah satu gambaran
pemahaman jihad oleh Barat (sebut Geert Wilders). Anggota parlemen Belanda yang
tidak lain adalah Ketua Partai Kebebasan Belanda (PVV) telah memunculkan
perdebatan dan ketegangan baru di berbagai kalangan, terutama karena mengangkat
isu-isu bernuansa keagamaan, yakni implementasi isi ajaran Alquran oleh sekelompok
kecil Islam garis keras.
Dalam video berdurasi 15 menitan ini ditayangkan beberapa ayat al Qur’an terkait
dengan jihad dalam arti peperangan. Sebenarnya, bagi umat Islam yang mengetahui
keluhuran serta kebenaran ajarannya, akan terasa sangat tidak menarik ketika melihat
rangkaian potongan gambar dan video rekaman ceramah para da’i –yang tidak
diketahui konteks sebenarnya- sebagai gambaran dari ayat yang telah disampaikan
sebelumnya.
Sedikit keterangan, disebutkan pada awal ayat yang muncul pada video tersebut
adalah QS Al Anfal ayat 60. “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa
saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang
dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang
orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya.
apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup
kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).”
Singkat penjelasan dari kami, hal yang seharusnya diperhatikan juga adalah pada
ayat setelahnya QS Al Anfal ayat 61. Dan jika mereka condong kepada perdamaian,
Maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya
Dialah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui. Ayat 61 Surat Al Anfal tersebut

13
secara jelas telah menggambarkan sikap Islam yang cinta terhadap perdamaian
“lissalmi”, meskipun jikalau mereka para musuh yang telah meminta jalan damai. Hal
ini terjadi pada pula pada masa Nabi Saw. bahwa siapapun dari umat muslim yang ada
di medan peperangan melawan kaum kafir dan musyrik dan menemukan mereka
bersikap damai (atau meminta ampun) sebelum pedang dihunuskan kepadanya, maka
ia diampuni.
Harus diakui, dari sisi etika kemanusiaan pembuatan dan beredarnya film Fitna itu
sangat tidak berperadaban, kecuali menebar virus kebencian antara umat Islam dan
non-Islam khususnya dan relasi sosial sesama umat manusia pada umumnya di
berbagai belahan dunia. Apa kalau bukan upaya untuk menebar virus kebencian?
Faktanya dalam film itu Geert Wilders mengawali skenarionya dengan kartun Nabi
Muhammad yang pernah beredar di media massa Denmark dan ditentang oleh seluruh
umat Islam di dunia. Ini jelas skenario pengulangan sejarah untuk memperkuat narasi
sentimen kebencian.
Pidato oleh seorang ulama yang diselingi dengan visualisasi perilaku kekerasan
oleh sebagian umat Islam di berbagai penjuru dunia hanyalah instrumen untuk
menggambarkan bahwa Islam sarat dengan kekerasan dan antitoleransi. Dalam
konteks ini, jelas Geert Wilders telah melakukan pelecehan dan atau penghinaan
terhadap agama Islam dan Kitab Suci Alquran.
Kemudian dari sini, sebenarnya ini upaya untuk memutarbalikkan fakta
teologis dalam Islam sebagai agama yang sarat dengan kekerasan. Padahal, Islam
secara doktrinal tidak pernah mengajarkan kekerasan. Dalam relasi sosial
kemasyarakatan, doktrin teologis Islam sangat menghormati hak asasi manusia
(HAM). Dalam arti kata, Alquran secara substansial tidak melarang umat Islam
membangun hubungan sosial dengan masyarakat non-Islam, baik secara politik,
ekonomi, maupun sosial budaya.
Bahkan, dalam Piagam Madinah, Nabi Muhammad SAW sangat menekankan
pentingnya kehidupan bersama meski dalam perbedaan keyakinan/agama, membangun
pola hidup gotong-royong dalam menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan yang
dihadapi. Ini menegaskan pentingnya sikap keterbukaan dan memberi kebebasan bagi
setiap anggota masyarakat untuk menganut suatu agama sesuai dengan keyakinannya
masing-masing. Dengan demikian, bukankah Islam adalah agama yang sangat
akomodatif dengan ruang terbuka demi bersemainya sikap toleransi antarumat
beragama?

14
Mengacu pada kerangka pemikiran ini, Geert Wilders dapat dinilai sama sekali
tidak mengetahui tentang doktrin teologis Islam. Sikapnya yang merasa tidak bersalah
dan tidak pula berkenan meminta maaf terhadap umat Islam di seluruh penjuru dunia
atas pembuatan film yang merusak citra Islam itu adalah fakta sosial bahwa penebar
kebencian yang bisa melahirkan kekerasan dan juga terorisme di era modern kini bisa
jadi bergeser.
Untuk itu, adalah benar jika berbagai tokoh/pemimpin Islam menyerukan agar
umat Islam tidak terpancing dengan membalas protes yang disertai dengan kekerasan
atau anarkisme. Biarkan Geert Wilders terus bernyanyi meniupkan peluit kebencian.
Yang akan membela Islam kini tidak hanya umat Islam itu sendiri. Oleh sebab itu,
sekali lagi, sebaiknya kita tidak terpancing. Protes harus dilakukan secara santun
dengan etika kemanusiaan yang adil dan beradab, ramah, dan mencerahkan.
Artinya, kebencian tidak boleh dibalas dengan kebencian untuk menunjukkan
kepada khalayak bahwa Islam itu agama kemanusiaan yang membawa rahmat bagi
semesta alam. Dalam konsep Islam fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. Jelas
kini bahwa yang dilakukan Geert Wilders itu menunjukkan adanya gerakan sempalan
dalam agama non-Islam dengan metode naratif yang dapat memicu lahirnya
radikalisme, kekerasan, anti-toleransi antarumat beragama, dan juga terorisme. Inilah
terorisme sejati dan perilaku sosial yang tidak berperadaban di era modern.
Menyikapi problematika beredarnya film Fitna Geert Wilders yang menyulut
emosi dan kebencian umat manusia maupun kian mengkristalnya aksi kekerasan
akibat invasi Amerika Serikat dan sekutunya di Irak, menurut salah seorang anggota
ICMI perlu dibangun dialog antarperadaban, antara Islam dan non-Islam atau negara-
negara Barat pada umumnya. Sangatlah disayangkan memang, betapapun secara resmi
Pemerintah Belanda telah meminta maaf kepada seluruh umat Islam di dunia dan
mengecam beredarnya film Fitna, tetapi secara institusional ternyata Pemerintah
Belanda tidak bersedia untuk mengadili Geert Wilders sebagai aktor intelektual di
balik merebaknya virus kebencian itu. Padahal, secara politik sangatlah merugikan
Pemerintahan Belanda.
Memang dalam hal ini kita dapat memahami sikap politik Pemerintah Belanda
karena terbentur dengan aturan dalam konstitusi negara. Namun, bukan berarti tidak
ada jalan keluar yang bisa ditempuh. Salah satunya, Pemerintah Belanda dapat
memfasilitasi ruang untuk membangun dialog agar kesalahpahaman yang dapat
berakibat fatal tidak terulang di kemudian hari. Dialog harus dibangun, bukan saja

15
dalam konteks beredarnya film Fitna Geert Wilders, tetapi juga harus dilakukan
antarperadaban di dunia.

BAB III
PENUTUP
“Jihad Harby” dalam Islam memiliki karakteristik, syarat, serta tujuan tertentu
sejatinya tidak berusaha menghadirkan hal-hal yang bersifat kekerasan, Islam
mengajarkan perdamaian, kasih sayang, serta toleransi antar manusia,. Baik terhadap
sesama muslim maupun dengan non-Muslim. Peperanagn tidak akan terjadi kecuali
memang keputusan itu telah dipilih dan diperintahkan, tentunya setelah melihat
kondisi yang mengharuskan dilakukannya jihad harby.
Menurut hasil diskusi penyusun, dalam konteks Negara Indonesia misalnya, ada
baiknya jika kita memahami jihad yang kiranya cukup relevan dengan situasi dan
kondisi saat ini adalah jihad dalam arti berusaha dengan sungguh-sungguh untuk
memerangi hawa nafsu, melakukan amar ma’ruf, mencegah kemungkaran, mencegah
segala bentuk kerusakan, berusaha menciptakan kemaslahatan umum, jujur dalam
kesabaran, serta membenci kemunafikan.

16
Kemudian dalam menyikapi upaya serta usaha perusakan citra baik Islam oleh para
fanatisis sempit dan gempuran budaya-budaya asing, umat Islam diharapkan untuk
dapat mempelajari lebih mendalam tentang Islam. Sebagai jawaban atas hal-hal
tersebut, baik berupa ungkapan maupun tindakan yang sesuai dengan nilai-nilai islami,
tidak berdasarkan emosi, bersifat anarkis serta arogansi belaka yang justeru dapat
berbalik merusak Diri Islam sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Baqi Ramdhun, Al Jihadu Sabiluna, terj. Darsim Ermaya Imam Fajaruddin,
Jihad Jalan Kami (Solo: era intermedia), 2002
Debby M. Nasution, Kedudukan Militer dalam Islam dan Peranannya pada Masa
Rasulullah Saw. (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya), 2003
Endang Saifuddin Anshari, Wawasan Islam: Pokok-pokok Pikiran tentang Paradigma
dan Sistem Islam (Jakarta: Gema Insani), 2004
M. Quraish Shihab, Wawasan Al Qur’an (Bandung: Mizan), 1996
M. Yusuf Al Qardhawi, Al ‘Aqlu Wal ‘Ilmu Fil Qur’anil Karim, terj. Abdul Hayyie Al
Katani dkk., Al Qur’an Berbicara tentang Akal dan Ilmu Pengetahuan (Jakarta:
Gema Insani), 2001
M. Yusuf Al Qardhawi, Al Khashaish Al ‘Ammah Li Al Islam, terj. Rofi’ Munawwir
dan Tajuddin, Karakteristik Islam: Kajian Analitik (Surabaya: Risalah Gusti), 1996

17
18