Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIK

PENENTUAN TITIK BEKU LARUTAN










Nama : Ratna Wahyu N
NIM : 121810301029
Kelompok : I (Satu)
Asisten : Putri Zakiah B










LABORATORIUM KIMIA FISIKA
JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS JEMBER
2014
BAB 1. PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Larutan merupakan kata lain dari campuran homogen, disebut campuran
homogen dikarenakan komponen penyusunnya sulit dipisahkan secara fisik. Larutan
tersusun atas zat terlarut dan pelarut. Larutan memiliki jumlah pelarut selalu lebih
besar dari zat terlarutnya. Sifat koligatif larutan merupakan salah satu sifat larutan
yang dipengaruhi oleh penambahan zat lain yang tidak tergantung pada jenis zatnya
namun pada jumlah partikel-partikelnya.
Titik beku merupakan suhu dimana tekanan uap cairan sama dengan tekanan uap
padatannya. Titik beku larutan lebih rendah daripada titik beku pelarut murni. Hal ini
disebabkan karena zat pelarutnya harus membeku telebih dahulu baru zat terlarutnya.
Jadi larutan akan membeku lebih lama daripada pelarut. Setiap larutan memiliki titik
beku yang berbeda. Titik beku suatu cairan akan berubah jika tekanan uap berubah,
biasanya diakibatkan oleh masuknya suatu zat terlarut atau dengan kata lain, jika
cairan tersebut tidak murni maka titik bekunya berubah (nilai titik beku akan
berkurang). Titik beku pelarut murni berada pada suhu 0 C , tapi dengan adanya zat
terlarut misalnya saja gula yang ditambahkan ke dalam air maka titik beku larutan
tidak ini tidak akan sama dengan 0 C lagi, melainkan akan turun menjadi dibawah 0
C. Hal ini menunjukkan bahwa penambahan zat terlarut ke dalam zat pelarut murni
menyebabkan terjadinya penurunan titik beku, sehingga dalam praktikum kali ini
dilakukan untuk mengetahui pengaruh adanya zat terlarut terhadap penurunan titik
beku pelarut dan untuk menentukan besarnya berat molekul zat terlarut non volatil.
Aplikasi penurunan titik beku larutan dalam kehidupan sehari-hari yaitu
pembuatan es puter. Pembuatan es puter ini memanfaatkan campuran antara es
dengan garam yang sudah berada pada suhu yang lebih rendah. Oleh karena itu, untuk
mengetahui cara menentukan tetapan titik beku dan menentukan berat molekul zat
non volatil dilakukan percobaan Penurunan Titik Beku Larutan ini.

1.2 Tujuan Praktikum
- Menetukan tetapan penurunan titik beku molal pelarut
- Menentukan berat molekul zat non volatil yang tidak diketahui























BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 MSDS (Material Safety Data Sheet)
2.1.1 Asam cuka atau Asam Asetat
Asam asetat merupakan senyawa organik yang rumus molekulnya
CH
3
COOH. Nama IUPAC dari asam asetat adalah asam etanoat. Massa molar asam
asetat yaitu 60,05 g/mol. Asam asetat ini berupa cairan yang tidak berwarna dan
bersifat higroskopis. Asam asetat ini merupakan asam karboksilat yang sederhana dan
memiliki titik didih sebesar 118,1
0
C dan titik lebur sebesar 16,5
0
C. Larutan asam
asetat dalam air merupakan sebuah asam lemah, artinya hanya terdisosiasi sebagian
menjadi ion H
+
dan CH
3
COO
-
. Asam asetat merupakan pereaksi kimia dan bahan
baku industri yang penting. Asam asetat digunakan dalam produksi polimer seperti
polietilena tereftalat, selulosa asetat, dan polivinil asetat, maupun berbagai macam
serat dan kain. Dalam industri makanan, asam asetat digunakan sebagai pengatur
keasaman (Sciencelab, 2014).

2.1.2 Naftalena
Naftalena adalah hidrokarbon kristalin aromatik berbentuk padatan berwarna
putih dengan rumus molekul C
10
H
8
dan berbentuk dua cincin benzena yang bersatu.
Senyawa ini bersifat volatil, mudah menguap walau dalam bentuk padatan. Uap yang
dihasilkan bersifat mudah terbakar. Naftalena paling banyak dihasilkan dari destilasi
tar batu bara, dan sedikit dari sisa fraksionasi minyak bumi. Sifat fisika lain dari
naftalena yaitu massa molar sebesar 125,17 g/mol dengan kepadatan sebesar 1,14
g/cm3. Naftalena dapat larut dalam air sekitar 30 mg/L dan titik didih serta titik
leburnya adalah sebesar 218
o
C dan 80,26
o
C (Sciencelab, 2014).

2.1.3 Aquades
Aquades disebut juga Aqua Purificata (air murni) H
2
O dengan. Air murni
adalah air yang dimurnikan dari destilasi. Satu molekul air memiliki dua hidrogen
atom kovalen terikat untuk satu oksigen. Aquades merupakan cairan yang jernih,
tidak berwarna dan tidak berbau. Aquades juga memiliki berat molekul sebesar 18,0
g/mol dan PH antara 5-7. Rumus kimia dari aquades yaitu H
2
O. Titik didih aquades
sebesar 100
0
C dan titik bekunya sebesar 0
0
C. Ionisasi aquades menghasilkan ion
H
3
O
+
dan ion OH
-
(Sarjoni, 2003).
Aquades ini memiliki allotrop berupa es dan uap. Senyawa ini tidak berwarna,
tidak berbau dan tidak meiliki rasa. Aquasdes merupakan elektrolit lemah. Air
dihasilkan dari pengoksidasian hidrogen dan banyak digunakan sebagai bahan pelarut
bagi kebanyakan senyawa dan sumber listrik (Sarjoni, 2003).

2.1.4 Garam dapur
Natrium klorida merupakan suatu senyawa kimia dengan rumus kimia NaCl.
Senyawa ini merupakan suatu garam karena dengan pH sekitar 7,0. Senyawa ini
berbentuk kristal putih tidak berbau dan tidak berwarna. Titik didih NaCl sebesar
1465 C dan memiliki titik leleh sebesar 801 C. Senyawa ini larut dalam air dengan
kelarutannya sebesar 35,9 g/100 mL. Selain itu, natrium klorida memiliki densitas
sebesar 2,16 g/cm
3
(Sciencelab, 2014).

2.2 Dasar Teori
Larutan merupakan suatu campuran yang homogen dan dapat berwujud
padatan, maupun cairan. Akan tetapi larutan yang paling umum dijumpai adalah
larutan cair, dimana suatu zat tertentu dilarutkan dalam pelarut berwujud cairan yang
sesuai hingga konsentrasi tertentu (Brady, 2003 ).
Titik beku larutan ialah temperatur pada saat larutan setimbang degan
pelarut padatnya. Larutan akan membeku pada temperature lebih rendah dari
pelarutnya. Alat yang biasa dipakai untuk menetapkan T
f
ialah alat dari Beckman
(Sukardjo, 2002).
Titik beku adalah suhu pada perpotongan garis tekanan tetap pada 1 atm
dengan kurva peleburan. Sedangkan titik didih adalah suhu pada perpotongan garis
tekanan tetap pada 1 atm dengan kurva penguapan. Penurunan titik beku dan
peningkatan titik didih, sama seperti penurunan tekanan uap sebanding dengan
konsentrasi fraksi molnya (Pettruci, 1987).
Penurunan energi bebas ini mengikuti persamaan Nernst.
G
o
1
- G
o
x
= RT ln x (1)
G
o1
- G
o
x
= Penurunan energi bebas pelarut
dimana, R= tetapan gas umum, T= suhu mutlak, x= fraksi mol pelarut dalam larutan.
Penurunan energi bebas ini akan menurunkan kemampuan zat pelarut untuk berubah
menjadi fasa uapnya, sehingga tekanan uap pelarut dalam larutan akan lebih rendah
bila dibandingkan dengan tekanan uap pelarut yang sama dalam keadaan murni.
Pengaruh penurunan tekanan uap terhadap titik beku larutan mudah dipahami
dengan bantuan diagram fasa gambar 2.1.

Gambar 2.1 Diagram fasa
dalam diagram ini terlihat bahwa titik beku larutan T
f
lebih rendah dibandingkan
dengan titik beku pelarut murni T
0
f
. Dari uraian di atas jelas bahwa penurunan titik
beku larutan besarnya tergantung pada fraksi mol pelarut:
Tf = T
0
f
-T
f
(2)
(Tim Kimia Fisik, 2014).
Suhu dimana fase padat dan fase cair suatu zat dapat berada dalam keadaan
seimbang pada tekanan satu atmosfer disebut titik beku cairan, atau suhu di mana
bentuk padatan dan cairan suatu zat mempunyai tekanan uap sama. Titik beku larutan
lebih rendah daripada titik beku pelarutnya yang murni. Perbedaan titik beku larutan
dan pelarut murninya (T
f
) disebut depresi titik beku (Arifin, 1993).
Pelarut murni akan terkristalisasi lebih dahulu sebelum ada zat terlarut yang
mengkristalisasi jika larutan encer didinginkan,. Suhu dimana kristal-kristal pertama
dalam keseimbangan dengan larutan disebut titik beku larutan. Titik beku larutan
demikian selalu lebih rendah dari titik beku berbanding lurus dengan banyaknya
molekul zat terlarut (atau molnya) di dalam massa tertentu pelarut, jadi penurunan
titik beku T
f
dapat dituliskan sebagai berikut:


..(3)
m ialah molaritas larutan. Jika persamaan ini berlaku sampai konsentrasi 1 molal,
penurunan titik beku larutan 1 molal setiap non elektrolit yang tersebut di dalam
pelarut itu ialah K
f
yang karena itu dinamakan tetapan titik beku molal (molal freeze
point constant) pelarut itu. Nilai numerik K
f
adalah khas pelarut itu masing-masing
(Syukri, 1999).
Proses pembekuan suatu zat cair terjadi bila suhu diturunkan sehingga jarak
antar partikel sedemikian dekat satu sama lain dan akhirnya bekerja gaya tarik
menarik antar molekul yang sangat kuat. Adanya partikel-partikel dari zat terlarut
akan menghasilkan proses pergerakan molekul-molekul pelarut terhalang, akibatnya
untuk mendekatkan jarak antar molekul diperlukan suhu yang lebih rendah.
Perbedaan suhu adanya partikel-partikel zat terlarut disebut penurunan titik beku.
Ketika zat non volatil ditambahkan ke dalam larutan maka akan terjadi penurunan
titik beku larutan tersebut (Kusmawati, 1999).
Gejala penurunan titik beku analog dengan peningkatan titik didih. Jika zat
terlarut mengkristal bersama pelarut, maka situasinya akan lebih rumit. Pelarut padat
murni berada dalam kesetimbangan dengan tekanan tertentu dari uap pelarut,
sebagimana ditentukan oleh suhunya. Pelarut dalam larutan berada dalam
kesetimbangan dengan tekanan tertentu dari uap pelarut. Adanya zat padat dan
pelarut air dalam larutan bersama-sama, mereka harus memiliki tekanan uap yang
sama. Ini berarti bahwa suhu beku larutan dapat diidentifikasi selagi suhu ketika
kurva tekanan uap pelarut padat murninya berpotongan dengan kurva larutan. Jika zat
terlarut ditambahkan ke dalam larutan, tekanan uap pelarut turun dan titik beku.
Selisih dengan demikian bertanda negatif dan penurunan titik beku dapat diamati
(Oxtoby, 2001).
Zat terlarut harus diketahui agar bisa ditentukan ketergantungan sifat
koligatif larutan dengan konsentrasinya. Susunan kimia zat terlarut tidak menjadi
masalah, tetapi konsentrasi partikel zat terlarutnya yang penting. Karena itu, kita
dapat menggunakan gejala-gejala ini untuk menghitung massa molekul zat. Cara
untuk mendapatkan massa molekul suatu zat dalam percobaan harus ditentukan dua
macam nilai yaitu, massa dari zat dan jumlah molnya. Sesudah diketahui maka
perbandingan antara jumlah gram dan molnya merupakan harga dari massa molekul
zat (BM). Jika harga penurunan titik beku Tb, serta konstanta penurunan titik beku
diketahui maka dapat dihitung molalitas zat dalam larutan dengan menggunakan
persamaan:
(4)
Molalitas yang didapat menyatakan jumlah mol solut per kg solven. Jadi, harga
perbandingan ini dengan jumlah kilogram solven yang sebenarnya ada dalam larutan
akan didapat jumlah mol solut dalam larutan yang kita cari tersebut. Akhirnya massa
molekul atau berat molekul (Mr) adalah perbandingan gram solut dan mol solut
(Brady, 1999).
Larutan yang mengandung zat terlarut non volatil dapat menurunkan tekanan
uap pelarut. Semakin tinggi konsentrasinya maka semakin besar penurunan tekanan
uapnya. Biasanya bila berbicara tentang titik beku atau titik didih, orang sepakat
bahwa itu berlaku untuk kondisi 1 atm. Istilah yang lebih eksak untuk titik itu adalah
titik beku dan titik beku normal. Dalam lampiran kita dapat mempunyai harga-harga
T
f
dan T
b
untuk sejumlah zat. Metode untuk menduga T
b
biasanya kurang baik.
Seperti yang diungkapkan oleh Bondi sfus lebih besar bila molekul dapat memiliki
sejumlah orientasi dalam fase cair dibanding dalam wujud padatnya. Jadi sfus lebih
kecil untuk molekul sferik, kauk dan T
f
lebih tinggi dari pada untuk molekul
berukuran sama yang anisometrik dan lentur. Bagaimanapun Eston mengusulkan
penggunaan metode interpolasi untuk mengkorelasikan titik-titik beku pada deret
homolog. Deret yang seperti itu, Eston membuat grafik (T
b.
T
f
) / T
f
Vs berat molekul.
Kecuali barang kali untuk anggota pertama deret grafik tersebut menghasilkan sebuah
garis lurus (Reis, 1999).
Perubahan suhu berbanding lurus dengan perubahan tekanan uap untuk
konsentrasi zat terlarut yang cukup rendah, penurunan titik beku berkaitan dengan
molalitas total melalui persamaan berikut ini:
T
f
= T
f
o
- T
f
= K
f
m(5)
K
f
adalah tetapan positif yang hanya bergantung pada sifat pelarut. Gejala penurunan
titik beku menyebabkan kenyataan bahwa air laut yang mengandung garam terlarut
memiliki titik beku yang lebih rendah daripada air segar. Larutan garam pekat
memiliki titik beku yang lebih rendah lagi. Pengukuran titik beku seperti halnya
peningkatan titik didih yang dapat digunakan untuk menentukan massa molar zat
yang tidak diketahui. Jika suatu zat berdisosiasi dalam larutan maka molalitas total
semua spesies yang ada (ionik atau netral) harus digunakan dalam perhitungan
(Norman, 2001).








BAB 3. METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Bahan
- Asam cuka glasial
- Naftalen
- Zat X
- Garam dapur
- Es batu
- Akuades
3.1.2 Alat
- Gelas beaker
- Erlenmeyer
- Gelas ukur 100 cc
- Stopwatch
- Batang pengaduk
- Tabung gelas

3.2 Skema Kerja
3.2.1 Persiapan

- Diisikan ke dalam gelas E secukupnya.
- Diisikan air secukupnya pada tabung D.
- Diambil pelarut sebanyak 20 mL dan dimasukkan ke dalam tabung gelas B.
- Digunakan pelarut asam cuka glasial.

Air, es, garam
Hasil
3.2.2 Penentuan Tetapan Penurunan Titik Beku Molal










3.2.3 Penentuan Berat Molekul Zat X







Asam Cuka Glasial
Hasil
- Dicatat suhu pada termometer A tiap-tiap menit setelah 20
mL asam cuka glasial pada dimasukkan dalam tabung B.
- Diamati pelarut sudah membeku atau belum ketika suhu
sudah mulai tetap.
- Diulang langkah kedua langkah tersebut sekali lagi dan
dicatat titik beku pelarut murni T
o
f
.
- Dibiarkan pelarut mencair kembali.
- Dimasukkan naftalen (BM=128) sebagai zat pelarut.
- Dilakukan percobaan seperti ketiga langkah awal dan
dicatat T
f
(titik beku larutan).
- Diperoleh T
f
= T
o
f
- T
f

Zat X
Hasil
- Ditambahkan 2 gram zat x pada larutan hasil pada skema
2.2.2 setelah dibiarkan mencair.
- Diamati T
f
campuran seperti pada skema kerja 2.2.2.
- Dihitung T
f

- Dihitung berat molekul zat x tersebut
3.2.4 Gambar Alat

Keterangan:
A. Termometer Alkohol
B. Tabung gelas I
C. Pengaduk
D. Tabung gelas II
E. Tabung gelas III












BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Percobaan
4.1.1 Pengukuran Titik Beku Asam Asetat Glasial
Suhu awal = 28
o
C
Menit ke- Temperatur (
o
C)
1 21
2 19
3 18
4 17
5 16,5
6 16
7 16
8 16
9 16
4.1.2 Pengukuran Titik Beku Asam Asetat Galsial Setelah Penambahan Naftalen
Suhu awal = 28
o
C
Menit ke- Temperatur (
o
C)
1 21
2 16
3 15
4 14,5
5 14
6 14
7 14


4.1.3 Pengukuran Titik Beku Asam Asetat Glasial Setelah Penambahan Naftalen
dan Zat X
Suhu awal = 27
o
C
Menit ke- Temperatur (
o
C)
1 17
2 14
3 13
4 12,5
5 12,5


4.2 Pembahasan
Percobaan kali ini adalah penentuan titik beku larutan. Larutan mempunyai
sifat-sifat yang berbeda dari pelarutnya. Salah satu sifat penting dari suatu larutan
adalah penurunan titik beku. Titik beku adalah temperatur tetap dimana suatu zat
tepat mengalami perubahan wujud dari cair ke padat. Setiap zat yang mengalami
pembekuan memiliki tekanan 1 atm. Penambahan zat terlarut nonvolatil ke dalam
suatu pelarut menyebabkan terjadinya penurunan titik beku. Bahan yang dipakai
dalam percobaan ini adalah asam cuka glasial, naftalen dan zat X yang akan dicari
berat molekulnya. Larutan mempunyai sifat-sifat yang berbeda dari pelarutnya.
Keberadaan partikel-partikel zat pelarut mengalami proses pengaturan molekul-
molekul dalam pembentukan susunan kristal padat, sehingga diperlukan suhu yang
lebih rendah untuk mencapai susunan kristal padat dari fasa cairnya. Hal ini lah yang
menyebabkan terjadinya penurunan titik beku suatu larutan yang keadaannya
ditambahkan zat terlarut.
Titik beku merupakan salah satu sifat koligatif larutan selain tekanan uap, titik
didih, dan tekanan osmosis. Sifat koligatif ini berbanding lurus dengan banyaknya
partikel yang ada dalam larutan atau konsentrasi. Banyaknya partikel yang ada dalam
larutan untuk menentukan penurunan titik didih larutan umumnya menggunakan
satuan molalitas. Molalitas yaitu banyaknya zat terlarut dalam 1 kg pelarut. Oleh
karena itu, selisih daru titik beku larutan juga akan berbanding lurus dengan
banyaknya partikel dalam larutan.
Percobaan kali ini diawali dengan melakukan pengukuran titik beku larutan..
langkah pertama yang dilakukan yaitu menghancurkan es batu dan memasukkannya
ke dalam bealer gelas besar yang sudah diberi garam. Penambahan garam ini
berfungsi untuk menurunkan titik beku es jadi es tidak akan membeku pada suhu 0
o
C.
Fungsi dari menurunkan titik beku es yaitu agar es tidak cepat meleleh dan mengatasi
pengukuran titik beku larutan yang akan diuji apabila penurunan suhunya melewati
0
o
C. Beaker glass berfungsi untuk mencegah agar proses pendinginan berjalan terlalu
cepat. Garam yang digunakan adalah garam dapur yang strukturnya kristalnya kasar
bukan yang halus. Meskipun masih banyak zat atau bahan yang dapat digunakan
untuk menurunkan suhu es, namun garam lebih dipilih karena mudahnya garam
diperoleh dan harganya relatif murah. Selanjutnya dimasukkan sebuah beaker gelas
yang lebih kecil. Selanjutnya diambil 20 mL larutan asam asetat glasial yang sudah
diukur suhu awalnya. Kemudian setiap satu menit suhu asam asetat glasial diukur dan
dihentikan ketika sudah didapatkan suhu yang konstan dan semua bagian zat sudah
menjadi padat. Data perubahan titik beku asam asetat glasial pada setiap waktu akan
disajikan dalam bentuk grafik seperti di bawah ini:

Berdasarkan grafik tersebut, titik beku asam asetat glasial adalah 16
o
C. Menurut
literatur, suhu asam asetat glasial adalah 16,7
o
C. Jadi hasil percobaan ini tidak terlalu
menyimpang dari literatur.
Percobaan selanjutnya dilakukan langkah yang sama seperti di atas. Bedanya
yaitu asam asetat glasial yang sudah membeku dicairkan kembali. Ketika asam asetat
glasial sudah cair, ditambahkan sebanyak 2 gram naftalen. Data yang diperoleh dari
percobaan akan disajikan dalam bentuk grafik seperti di bawah ini:


Berdasarkan grafik di atas diketahui bahwa penurunan titik beku asam asetat glasial
adalah 14
o
C setelah ditambahkan dengan naftalen. Penambahan naftalen ini dapat
menurunkan titik beku asam asetat glasial. Penurunan ini diakibatkan oleh adanya
0
5
10
15
20
0 1 2 3 4 5 6
S
u
h
u

(

C
)

Waktu (Menit)
Grafik Penurunan Titik Beku
CH
3
COOH
Series1
0
5
10
15
20
0 1 2 3 4 5 6
S
u
h
u

(

C
)

Waktu (Menit)
Grafik Penurunan Titik Beku CH
3
COOH
Setelah Penambahan Naftalen
Series1
partikel naftalen yang menghalangi interaksi molekul asam asetat glasial untuk
menjadi padat. Naftalen melemahkan interaksi molekul antar molekul dalam asam
asetat sehingga asam asetat terganggu dan suhu yang digunakan untuk membeku
menjadi semakin kecil. Dengan demikian, titik beku larutan asam asetat glasial akan
menurun setelah terjadi penambahan naftalen. Berdasarkan perhitungan nilai Kf dari
asam asetat glasial sebesar 2,68 gK/mol. Hasil pengamatan tentang penurunan titik
beku larutan, diperoleh titik beku asam asetat glasial atau asam cuka ini adalah 2K,
dan Kf dari asam asetat glasial itu sendiri adalah 2,68 gK/mol. Harga Kf asam asetat
glasial yang diperoleh pada praktikum kali ini sedikit berbeda dengan Kf asam asetat
secara teori, dimana harga Kf asam asetat secara teori adalah 3,9 KKg/mol.
Percobaan terakhir digunakan untuk menentukan berat molekul dari zat X.
Langkah yang dilakukan dalam percobaan sama dengan perlakuan penambahan
naftalen. Bahan yang digunakan adalah asam asetat dan naftalen yang sudah
membeku dicairkan kembali dan ditambahkan dengan 2 gram zat X. Data yang
diperoleh disajikan dalam bentuk grafik sebagai berikut:

Berdasarkan grafik di atas dapat dijelaskan bahwa pada menit pertama suhu larutan
17
o
C dan suhu konstan diperoleh sekitar 12,5
o
C. Penambahan zat kembali ke dalam
larutan asam asetat glasial yang bercampur dengan naftalena membuat titik beku
larutan ini menjadi lebih rendah. Hasil ini sesuai dengan teori yang ada dimana
0
5
10
15
20
0 1 2 3 4 5 6
S
u
h
u

(

C
)

Waktu (Menit)
Grafik Penurunan Titik Beku CH
3
COOH
Setelah Penambahan Zat X
Series1
semakin banyak zat yang terlarut dalam suatu larutan maka semakin menurun titik
beku larutannya.
Penentuan berat molekul zat X dilakukan dengan cara menggunakan data
perubahan titik beku di atas dan menggunakan rumus seperti di bawah ini:

{(


) (

)}
Berdasarkan hasil perhitungan, berat molekul zat X yang diperoleh yaitu 72,99 g/mol.
Hasil ini jauh berbeda dengan literatur, sebab zat X yang digunakan adalah NaCl
yang memiliki berat molekul 58,5g/mol. Perbedaan ini bisa saja disebabkan oleh
human error ataupun dari bahan yang digunakan mungkin telah terkontaminasi,
sehingga sulit didapat hasil yang sesuai dengan literatur.











BAB 5. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum penentuan titik beku larutan ini
antara lain:
- Nilai Kf larutan asam asetat glasial yang diperoleh pada percobaan ini adalah
2,68 g.K/mol.
- Berat molekul zat X yang digunakan dalam percobaan ini yaitu 72,99 g/mol.

5.2 Saran
Saran untuk praktikum penentuan titik beku larutan ini antara lain:
- Sebaiknya beaker gelas yang digunakan untuk tempat es batu berukuran lebih
besar lagi agar mudah mengisi dan mengatur es batu yang digunakan.
- Sebaiknya penambahan es batu pada setiap percobaan dibuat konstan agar
temperatur yang dihasilkan sesuai dengan harapan.
- Sebaiknya pembacaan termometer dilakukan lebih teliti lagi.


DAFTAR PUSTAKA

Arifin. 1993. Diktat Kuliah: Kimia Dasar I (Kimia Anorganik). Banjarbaru: Pustaka.
Brady, James.E. 1999. Kimia Universitas Asas dan Struktur. Jakarta: Bina Rupa
Aksara.
Brady, James.E. 2003. Kimia Universitas Asas dan Struktur. Jakarta: Bina Rupa
Aksara.
Kusmawati, T.M. 1999. Sains Kimia. Jakarta: Bumi Aksara.
Material Safety Data Sheet. 2014. MSDS Asam Asetat [serial online].
http://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9922769 [diakses tanggal 15
September 2014 pukul 13.52 WIB].
Material Safety Data Sheet. 2014. MSDS Naftalen [serial online].
http://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9927671 [diakses tanggal 15
September 2014 pukul 13.57 WIB].
Material Safety Data Sheet. 2014. MSDS Natrium Klorida [serial online].
http://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9927593 [diakses tanggal 15
September 2014 pukul 14.00].
Norman. 2001. Prinsip-prinsip Kimia Modern. Jakarta: Erlangga.
Oxtoby, David W. 2001. Kimia Dasar, Prinsip dan Terapan Kimia Modern. Jakarta:
Erlangga.
Petrucci, Ralph M., 1987. Kimia Dasar Edisi Keempat Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Reis. 1999. Sifat-Sifat Gas dan Zat Cair. Jakarta: Gramedia.
Sarjoni, 2003. Kamus Kimia. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Syukri. 1999. Kimia Dasar Jilid 1. Bandung: ITB.
Tim Kimia Fisika. 2014. Penuntun Praktikum Kimia Fisik II. Jember:
Laboratorium Kimia Fisika Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas Jember.


LAMPIRAN

1. Penentuan titik beku larutan Asam Cuka Glasial
T
o
f = 16
o
C = 289 K
Tf = 14
o
C = 287 K
Tf = T
o
f - Tf = 289 K 287 K = 2 K



Sehingga:



2. Penentuan Massa Zat X
T
o
f asam cuka = 289 K
Tf zat x = 12,5
o
C = 285,5 K
Tf
2
= T
o
f asam cuka T
o
f zat X
Tf
2
= 289 K 285,5 K = 3,5 K

{(


) (

)}


{(


) (

)}
(

)
1.5 K = 127.74 (

)
1.5 K = (

)

1.5 K =


- 2,00
3.5 X

= 255,48


= 72,99 gr/mol