Anda di halaman 1dari 14

TL-4102 DESAIN TEKNIK LINGKUNGAN II

PENGOLAHAN LIMBAH PADAT





Oleh : Kelas 01 / Kelompok A


Anggota Kelompok :

Raihana Nabila 15311025
Muhadjadi Bastian 15311037








PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2014

2.1 Karakteristik Limbah Rumah Tangga
Dalam menentukan pengolahan limbah yang sesuai, perlu diperhatikan beberapa
karakteristik limbah yang diolah yang disebut proxymate analysis. Karakteristik yang perlu
diketahui tersebut antara lain moisture content, fixed carbon, volatile matter, serta non-
combustible matter dan energy content. Nilai dari setiap karakteristik tersebut dapat dilihat
pada Tabel 2.1 dan Tabel 2.2.

Moisture content atau kadar kelembapan merupakan nilai yang didapat dari perbandingan
berat air yang terkandung dengan berat kering suatu material. Sedangkan yang dimaksud
fixed carbon adalah nilai total kandungan unsur karbon dalam suatu contoh material.
Volatile matter merupakan bagian material yang terbakar dan menguap jika dipanaskan
dalam kondisi tertentu, sedangkan yang dimaksud non-combustible matter adalah jumlah
unsur-unsur yang tidak dapat terbakar atau menyala. Karakteristik terakhir adalah energy
content, yang merupakan jumlah energi yang didapat dari hasil pengolahan.

Tabel 2.1 Nilai Proxymate Analysis Limbah Rumah Tangga (Tchobanoglous, 1993)
Type of
waste
Proxymate analysis,
% by weight
Energy content, Btu/lb
Moisture
Volatile
Matter
Fixed
Carbon
Non-
combustible
As collected Dry
Food waste 70.0 21.4 3.6 5.0 16,135 16,466
Paper 10.2 75.9 8.4 5.4 6,799 7,571
Cardboard 5.2 77.5 12.3 5.0 7,042 7,428
Plastics 0.2 95.8 2.0 2.0 14,101 14,390
Textiles 10.0 66.0 17.5 6.5 7,960 8,844
Rubber 1.2 83.9 4.9 9.9 10,890 11,022
Yard wastes 60.0 30.0 9.5 0.5 2,601 6,503
Glass 2.0 - - 96-99+ 84
b
86
Metals 5.0 - - 94-99+ 301
b
319

Tabel 2.2 Komposisi Kandungan Unsur-unsur Limbah Rumah Tangga (Tchobanoglous, 1993)
Type of
waste
Percent by weight (dry basis)
Carbon Hydrogen Oxygen Nitrogen Sulfur Ash
Food
waste
48.0 6.4 37.6 2.6 0.4 5.0
Paper 43.5 6.0 44.0 0.3 0.2 6.0
Cardboard 44.0 5.9 44.6 0.3 0.2 5.0
Plastics 60.0 7.2 22.8 - - 10.0
Textiles 55.0 6.6 31.2 4.6 0.15 2.5
Rubber 78.0 10.0 - 2.0 - 10.0
Yard
wastes
47.8 6.0 38.0 3.4 0.3 4.5
Glass
b
0.5 0.1 0.4 <0.1 - 98.9
Metals
b
4.5 0.6 4.3 <0.1 - 90.5


2.2 Tahapan Fase Terbentuknya Gas Pada Teknologi Landfill
Pada awalnya sampah yang ditimbun akan mengalami proses degradasi secara aerob. Tetapi
sejalan dengan teknik operasional yang saat ini dianut, yaitu sampah ditimbun lapis perlapis
dan setiap periode tertentu ditutup dengan tanah penutup, maka kondisi aerob tidak dapat
lama bertahan dalam. Kondisi yang paling dominan kemudian adalah kondisi anaerob,
sehingga memunculkan timbulnya gas-bio, khususnya gas metana (CH
4
) dan CO
2
.

Kondisi aerob sebetulnya diinginkan, mengingat membawa keuntungan antara lain:
Relatif tidak menimbulkan bau,
Proses degradasi lebih cepat,
Lindi yang dihasilkan akan lebih ringan
Memungkinkan kondisi eksotermis

Namun hal ini sulit dicapai pada kondisi pengoperasian yang biasa. Beberapa usaha yang
sudah dirintis adalah menerapkan lahan-urug semi aerob atau lahan-urug aerob dengan
suplai udara. Dalam kondisi anaerob, materi organik umumnya akan terurai tahapan :
Likuifaksi/hidrolisa
Asidogenes
Asetogenes
Metanogenes

Produk akhir dari proses anaerob adalah pembentukan gas metan (CH
4
). Produk yang
dihasilkan sebelum terbentuknya fase metanogen adalah asam-asam organik yang
menyebabkan leachate (lindi) dari timbunan tersebut bercirikan COD atau BOD yang tinggi
dengan pH yang rendah, serta penyebab timbulnya bau khas sampah yang membusuk. Bila
tahap ini lebih dipersingkat lagi keberadaanya dalam sistem, dengan mengkonversi segera
asam-asam tersebut menjadi metan, maka beban organik dalam lindi akan menjadi
berkurang, yang secara tidak langsung akan mengurangi kelarutan mineral dalam lindi.

Gambar 2.1 Tahapan proses degradasi materi organik secara anaerobik (Demeyer)

Stanforth at al (1979) memperkenalkan model proses degradasi yang dapat terjadi dalam
sebuah lahan-urug, berdasarkan teori klasik dari proses degradasi materi organik. Model
tersebut membagi proses degradasi menjadi 2 fase, yaitu :
a) Fase aerob, ditandai oleh likuifaksi dan hidrolisa materi organik, yang mengakibatkan
turunya pH dan larutnya mineral-mineral (I dan II)
b) Fase anaerob, dibagi menjadi 2 tahap, yaitu (III dan IV):
Tahap 1 : setelah oksigen berkurang, maka bakteri anaerob fakultatif menjadi dominan,
likuifaksi terus berlangsung, sejumlah besar asam-asam volatil serta CO2 akan dihasilkan
dari sistem ini, dan materi anorganik akan lebih banyak lagi larut, terutama karena turunnya
pH.
Tahap 2 : fase ini bisa berlangsung karena meningkatnya alkalinitas sehingga pH menjadi
naik, dan memungkinkan bakteri-bakteri metan dapat hidup; asam-asam volatil akan
dikonversi menjadi metan dan CO2, dan materi organik terlarut menjadi berkurang karena
kelarutannya menjadi berkurang akibat pH yang naik.


Gambar 2.2 Tahapan proses biodegradasi materi organik dalam landfill (Stanforth)

Jenis-jenis gas yang terbentuk dalam landfill beserta jumlahnya dapat dilihat pada Tabel 2.1.
Metana dan karbon dioksida merupakan gas utama yang terbentuk dan memiliki komposisi
paling besar, sedangkan gas-gas lain hanya dalam jumlah kecil.

Tabel 2.3 Tipe Konstituen yang Ditemukan dalam Landfill (Tchobanoglous, 1993)


Dari fase-fase di atas, persamaan umum degradasi limbah pada keadaan anaerob dapat
dituliskan sebagai berikut.

Untuk limbah yang memiliki kecepatan degradasi tinggi seperti sisa makanan, kertas, dan
kardus maka persamaan reaksinya menjadi seperti berikut :
C
68
H
111
O
50
N + 16H
2
O 35CH
4
+ 33CO
2
+ NH
3
Sedangkan limbah yang memiliki kecepatan degradasi rendah seperti kain, kulit, karet, dan
kayu persamaan reaksinya dapat ditulis sebagai berikut :
C
20
H
29
O
9
N + 9H
2
O 11CH
4
+ 9CO
2
+ NH
3


2.3 Faktor-Faktor Berpengaruh Dalam Proses Biogas Pada Landfill
Percepatan stabilitas materi organik dalam kondisi anaerob dalam sebuah landfill, secara
langsung memacu percepatan produksi gas bio. Beberapa faktor tersebut akan diuraikan
secara umum berdasarkan pustaka-pustaka terkait di bawah ini:

A. Temperatur
Produksi gas bio mengenal 2 zone temperatur optimum sesuai aktivitas 2 mikroflora yang
berbeda, yaitu :
antara 36
0
40
0
C dikenal sebagai zone mesofilik,
antara 55
0
60
0
C dikenal sebagai zone termofilik
Dengan simulasi lahan-urug pada kondisi laboratorium, Damanhuri (1987) mendapatkan
bahwa produktivitas metan adalah 0,006-0,007 L/kg MV/hari pada temperatur 20
0
C,
sedangkan pada temperatur 37
0
C menghasilkan produktivitas sebesar 2,38-2,413 L/kg
MV/hari. Kenyataannya di lapangan, pengaturan temperatur praktis sulit dilaksanakan.
Namun hal ini menunjukkan bahwa pada kondisi Indonesia yang mempunyai temperatur
udara relatif lebih tinggi, akan diperoleh produktivitas gas bio yang lebih baik dibandingkan
pada daerah yang beriklim dingin.

B. Kelembaban
Laju produksi gas bio akan bertambah dengan bertambahnya kelembaban. Tambah tinggi
kelembaban, akan tambah tinggi produktivitas gasbio. Adanya kelembaban disamping
merupakan kebutuhan mikroorganisme, juga berfungsi untuk mendistribusikan nutrisi
dalam timbunan sampah. Jumlah air serta aliran air merupakan dua parameter yang
berbeda, dimana gerakan air ternyata juga mempengaruhi laju produktivitas gas bio dalam
sebuah lahan-urug.

C. Faktor pH dan potensial redoks
Efek pH pada proses metanisasi sudah banyak diketahui. Produksi metan akan baik pada
kondisi netral. Turunnya pH, misalnya akibat akumulasi asam-asam volatil, akan merupakan
penghalang bagi aktivitas metanogenes.
Penelitian laboratorium dalam rangka mengoptimumkan kondisi lahan-urug banyak
dilakukan dari sudut pengaturan pH ini, baik pada sampah sebelum ditimbun dalam lah urug
artifisial, maupun pada lindi yang diresirkulasi ke dalam timbunan sel. Hasil-hasil yang
diperoleh menunjukkan hal yang positif, terutama untuk mempercepat mulainya tahap
metanogenes dalam sistem tersebut.
Hasil yang diperoleh dalam skala laboratorium atau pilot menimbulkan idea baru dalam
pengelolaan sebuah lahan-urug, misalnya dengan konsep accelerated landfill, dimana dari
awal operasinya telah diharapkan timbulnya kondisi lingkungan yang mendukung aktivitas
metanogenes, misalnya dengan pengolahan pendahuluan ataupun teknik lain yang aplikatif
di lapangan.

D. Nutrisi
Untuk pengembangan dan sintesis selnya, mikroorganisme membutuhkan substrat nutrisi,
yang pada dasarnya berlimpah dalam sampah. Untuk hidup dan pertumbuhannya, bakteri
menggunakan kira-kira 30 bagian karbon untuk 1 bagian nitrogen. Nilai C/N biasanya
terletak antara 20-35, sedang nilai C/P yang ideal terletak sekitar 150.
Konsep resirkulasi lindi secara tidak langsung bertujuan untuk mendistribusikan nutrisi siap
pakai, dan sekaliguis merupakan seeding mikroorganisme ke seluruh sel-sel sampah dalam
timbunan. Disamping itu, resirkulasi bersasaran memasok air dan sekaligus
mendistribusikan secara baik ke seluruh lapisan sel-sel timbunan sampah.

E. Pemotongan
Dalam reaktor anaerob biasa, pengurangan ukuran materi biasanya akan mendorong lebih
banyak produski metan karena adanya peningkatan luas permukaan substrat yang dapat
kontak dengan mikroorganisme, misalnya akibat pemotongan bahan tersebut.
Namun penelitian yang dilakukan oleh De Walle (1978) menunjukkan bahwa pemotongan
sampah sampai faktor 10 akan menaikkan produksi gas bio dengan faktor 4,4 tanpa
timbulnya gas metan. Buivid et al (1981) mengamati bahwa produksi metan adalah lebih
kecil sebanyak 3,2 kali pada sampah yang mempunyai ukuran 10-15 cm, dibandingkan
sampah yang mempunyai ukuran 20-35 cm. Agaknya pemotongan sampah pada sebuah
lahan-urug lebih banyak mendorong fase hidrolisa, sehingga lebih banyak timbulnya asam-
asam volatil. Bila kondisi ini tidak diikuti dengan kondisi yang memungkinkan timbulnya
aktivitas mikroorganisme metanogen, maka gas bio yang dihasilkan akan miskin metan.

F. Densitas
De Walle (1978) menyatakan bahwa kenaikan densitas timbunan sampah akan menurunkan
luas permukaan luas permukaan efektif yang dapat kontak dengan mikroorganisme,
sehingga akan mengurangi produksi gas bio. Sebaliknya Buivid et al (1981) berpendapat
bahwa pemadatan timbunan sampah justru akan lebih mempercepat produksi metan
karena mengurangi masuknya oksigen ke dalam sistem. Kedua pendapat tersebut belum
pernah dikonfirmasi dalam lahan-urug yang dioeperasikan pada kondisi berbeda secara
nyata di lapangan.

2.4 Desain dan Perhitungan Reaktor Landfill Gas
Landfill merupakan istilah yang digunakan dalam proses menimbun limbah padat maupun
sisa limbah padat dalam suatu lahan urug. Terdapat beberapa istilah yang menggambarkan
elemen-elemen yang menyusun landfill, yaitu :
Cells : merupakan volume material yang ditimbun dalam landfill pada satu periode
operasi, biasanya satu hari.
Daily cover : terdiri dari 6-12 inchi tanah maupun material alternatif seperti kompos
yang melapisi permukaan landfill di akhir setiap periode operasi.
Lift : lapisan gabungan dari sel-sel seluas area aktif landfill.
Benches : digunakan untuk menjaga kestabilan kemiringan landfill, atau sebagai area
penempatan saluran drainase.
Leachate : cairan yang terbentuk di bawah permukaan landfill yang mengandung
berbagai konstituen kimia sebagai hasil reaksi kimia dalam landfill.
Environmental monitoring : mencakup aktivitas-aktivas seperti pengumpulan dan
analisis air serta sampling udara yang bertujuan untuk mengawasi pergerakan gas-
gas landfill dan lindi pada area landfill.


Gambar 2.3 Desain Landfill Sederhana

Sumur ekstraksi gas merupakan salah satu upaya aktif dalam mengontrol gas yang
terbentuk pada landfill. Pada instalasi dapat digunakan sumur ekstraksi gas baik yang
berjenis vertikal maupun horizontal.


Gambar 2.4 Gambar Umum Sumur Ekstraksi Gas Pada Landfill

Perhitungan
1. Menghitung estimasi area landfill yang diperlukan
Asumsi yang digunakan :
Population sebanyak 31.000 orang
Timbulan limbah padat = 6,4 lb/capita.d
Berat spesifik limbah padat terkompaksi dalam landfill = 800 lb/yd
3

Kedalaman rata-rata limbah padat terkompaksi = 200 ft

Jawab :
a. Laju timbulan sampah
= (31.000 orang) x (6,4 lb/cap.d) / (2000 lb/ton)
= 99,2 ton/d (89.994 kg/d)
b. Volume yang dibutuhkan per hari
= (99.2 ton/d) x (2000 lb/ton) / (800 lb/yd
3
)
= 248 yd
3
/d (190 m
3
/d)
c. Area yang dibutuhkan per tahun
= (248 yd
3
/d ) x (365 d/yr) x (227 ft
3
/yd
3
) / ((20 ft) x (43,650 ft
2
/acre))
= 2.81 acre/yr (1.14 hectare/yr)
Catatan : Area sebenarnya yang dibutuhkan akan lebih besar dibandingkan hasil
perhitungan, dikarenakan terdapat tambahan area seperti untuk akses jalan, kantor,
bangunan pendukung, dan sebagainya. Tambahan tersebut berkisar antara 20-40% dari area
hasil perhitungan.
2. Menghitung jumlah gas yang diproduksi
Asumsi :
Berat kering limbah = 44,8 lb
Berat spesifik CH
4
dan CO
2
adalah 0,0448 and 0,1235 lb/ft
3


Jawab :
Menggunakan persamaan reaksi limbah yang mudah terdagradasi, maka :
C
68
H
111
O
50
N + 16H
2
O 35CH
4
+ 33CO
2
+ NH
3

1741 288 560 1452 17


a. Jumlah gas metana yang diproduksi =


ft
3
pada kondisi STP
b. Jumlah gas karbon dioksida yang diproduksi =


ft
3
pada kondisi
STP

2.5 Kelebihan dan Kelemahan dari Reaktor Landfill Gas
Pemanfaatan biogas memegang peranan penting dalam manajemen limbah karena metana
merupakan gas rumah kaca yang lebih berbahaya dalam pemanasan global bila
dibandingkan dengan karbon dioksida. Karbon dalam biogas merupakan karbon yang
diambil dari atmosfer oleh fotosintesis tanaman, sehingga bila dilepaskan lagi ke atmosfer
tidak akan menambah jumlah karbon di atmosfer bila dibandingkan dengan pembakaran
bahan bakar fosil (Yudha et al.,2009).

Dalam proses pengolahan biogas pada landfill, terdapat beberapa kelebihan di antaranya
adalah:
1. Dapat menerima berbagai jenis limbah
2. Tidak memerlukan pengolahan lanjutan jika dibandingkan dengan teknologi
insenerasi ataupun komposting
3. Biaya instalasi lebih rendah dibanding teknologi lainnya
4. Menurut estimasi Frerote adalah bahwa hanya 20-25% gas yang dapat dimanfaatkan
(ditangkap) dengan produksi taksiran = 30-40 L biogas/kg MS. Taksiran Mouton = 30-
40 L biogas/kg MS. Sedangkan perkiraan kasar di landfill (USA) = 20-25 mL/kg
MS/hari.
5. Nilai kalori dari 1 meter kubik biogas sekitar 6.000 watt jam yang setara dengan
setengah liter minyak diesel. Oleh karena itu biogas sangat cocok digunakan sebagai
bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan pengganti minyak tanah, LPG, butana,
batu bara, maupun bahan-bahan lain yang berasal dari fosil. Bila terbakar akan relatif
lebih bersih daripada batu bara, dan menghasilkan energi yang lebih besar dengan
emisi karbon dioksida yang lebih sedikit.
6. Produksi tenaga listrik melalui sistem konversi termal yang melibatkan gas engine
dan boiler untuk menghasilkan uap air yang akan menggerakkan turbin.
7. Pendukung sistem perpipaan gas
8. Pengganti bahan bakar fosil
9. Dihasilkan produk yang tersintesis seperti methanol
10. Metana yang diproduksi di landfill dapat merepresentasikan bahaya terhadap daerah
sekitar

Adapun kelemahannya di antaranya adalah :
1. Gangguan bau terhadap lingkungan sekitar
2. Biaya operasional dan pemeliharaan besar
3. Memiliki tingkat kebocoran yang tinggi metana khususnya pada musim kemarau jika
terjadi perengkahan tanah penutup
4. Memerlukan lahan yang besar
5. Menimbulkan permasalahan baru di lingkungan seperti berpotensi menyebabkan
pencemaran tanah dan air tanah
6. Biogas yang dihasilkan terdiri dari gas metana yang mudah terbakar dan dapat
menyebabkan oksigen defisiensi di lingkungan (asphyxiation) serta resiko meledak
7. Bila ventilasi tidak benar bisa menyebabkan pemanasan global melalui metana yang
merupakan gas rumah kaca. Metana berkontribusi 21 kali lebih banyak dibandingkan
CO
2
pada efek rumah kaca, karena koefisien penyerapan kuat molar radiasi
inframerah dan waktu tinggal lebih lama di atmosfer (Batool dan Chuadhry, 2008;
Christophersen et al, 2001.).
8. Isu kesehatan dan dampak toksik
9. Material organik yang terlepas (volatile organic compounds) dan gas lain hasil proses
dekomposisi mungkin dapat menimbulkan bahaya serta dapat menyebabkan
photochemical smog.
10. Dalam beberapa kasus, gas landfill mengandung siloksan. Selama proses
pembakaran, silikon yang terkandung dalam siloksan tersebut akan dilepaskan dan
dapat bereaksi dengan oksigen bebas atau elemen-elemen lain yang terkandung
dalam gas tersebut. Akibatnya akan terbentuk deposit (endapan) yang umumnya
mengandung silika (SiO
2
) atau silikat (Si
x
O
y
), tetapi deposit tersebut dapat juga
mengandung kalsium, sulfur belerang, zinc (seng), atau fosfor. Deposit-deposit ini
(umumnya berwarna putih) dapat menebal hingga beberapa millimeter di dalam
peralatan serta sangat sulit dihilangkan baik secara kimiawi maupun secara mekanik.

2.5 Kegunaan Hasil Proses Pengolahan Limbah
Salah satu kegunaan biogas sebagai hasil proses pengolahan limbah dengan landfill adalah
dapat digunakan sebagai pengganti bahan bakar gas untuk kebutuhan sehari-hari. Jika
dibandingkan dengan bahan bakar gas lainnya maka nilai biogas adalah sebagai berikut.

Tabel 2.4 Perbandingan Nilai Kalor Berbagai Macam Bahan Bakar


Jika dilihat maka nilai kalori biogas setengah dari LPG dan bisa digunakan sebagai pengganti
LPG dan dianjurkan sebagai penghematan sumber daya alam tak terbaharui.
Selain sebagai bahan bakar gas pengganti untuk kebutuhan sehari-hari, biogas yang
dihasilkan dari landfill dapat digunakan untuk pembangkit listrik. Di Amerika, pada
Desember 2008, 485 proyek untuk mengumpulkan Landfill Gas (LFG) terdapat di 43 negara
bagian. Proyek-proyek ini mensupply 12 milyar kWh pertahun dan 255 milyar cubic feet per
hari LFG untuk komersial dan rumah penduduk dan penghangat air. Energi yang dihasilkan
cukup banyak untuk memenuhi kebutuhan 870.000 rumah dan memanasi sekitar 534.000
penghangat air.


Pustaka
Damanhuri. 2008. Landfilling Limbah. Diktat Kuliah. Bandung: FTSL ITB. (diakses tanggal 1
Oktober 2014 pukul 19.30)
Glover, Brian. June 2009. Biogas Capture and Utilization : An Effective, Affordable Way to
Reduce Greenhouse Gas Emissions and Meet Local Energy Needs.
Abbasi, Tasneem. Biogas Energy. Springer.
Tchobanoglous, et al. 1993. Integrated Solid Waste Management. Mc-Graw Hill.